Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 67

Kisah Tentang Perempuan-Perempuan Desa: Kecantikan, Pernikahan, dan Ketegantungan

0

Kecantikan adalah sebuah keberkahan. Keberkahan yang lumintu bagi siapa saja yang mempunyai paras cantik. Tetapi bagaimana ketika kecantikan masih dihantui oleh budaya patriakhi? Ya, dalam konteks budaya yang didominasi oleh kuasa laki-laki, kecantikan adalah komoditas yang dihargai dari segi kapital dan kecantikan juga modal yang menjadi ukuran kesejahteraan hidup. Bagaimana makna cantik menurut orang desa? Apakah masih benar merupakan komoditas yang dilihat dari nilai kapital dan terhubung dengan jembatan kekayaan yang mirip diperjualbelikan?

Kampusdesa–Selamat pagi alam yang indah dengan bagian bagiannya yang saling behubungan (warna, bentuk, ukuran, bau, dan lain-lain). Yang menanti sinar pagi yang belum jelas datangnya, meskipun keindahan pagi ini melebihi malam-malam yang belum luruh. Selamat pagi alam yang menghadirkan perempuan-perempuan yang kadang terbangun lebih dulu daripada lelaki…

Pagi ini saya ingin membicarakan kecantikan perempuan!

Tidak ada yang salah dengan kecantikan. Jarang laki-laki yang tidak menyukai perempuan yang cantik. Cantik secara fisik itu adalah suatu kondisi yang kadang sudah menjelaskan semuanya jika kita mengamati secara sekilas.

Hampir semua orang melihat perempuan cantik itu asik bahkan sebelum bercakap-cakap dan mendalami pikiran dan omongan-omongannya. Bahkan perempuan bodoh dan omongannya sering tak bermutu sekalipun, sekilas orangnya asik. Bahkan orang cantik tampaknya di depan mata amat menarik, seakan mereka menarik secara keseluruhan.

Tentunya ada perempuan cantik tapi pikirannya norak, terbelakang, ngomongnya tidak bermutu. Kadang diam begitu saja, karena keadaannya cantik, ya sudah menarik. Dan membuat banyak orang, terutama laki-laki tertarik. Terutama laki-laki yang hanya butuh perempuan dari sisi kecantikan fisiknya.

Daya tarik perempuan cantik dan seksi bagi lelaki yang hanya ingin mengeksploitasi perempuan dari segi fisiknya, ya memang sisi fisiknya itu. Keindahan tubuh (bentuk, warna, ukuran, bau, dan kesatuan antara semuanya dalam satu wujud) bisa menggoda hasrat seksual, yang bisa saja laki-laki ingin mendekat dan memiliki dan menguasai untuk melampiaskan hasrat seknya.

Dan laki-laki akan mendapatkannya dengan berbagai cara, entah dengan cara halus atau kasar, entah dengan cara rayuan maupun pemaksaan. Entah dengan cara baik atau licik. Dan seringkali harta dan kekayaan (kepemilikan) merupakan modal yang lebih efektif untuk mendekati para perempuan cantik.

Sebagian perempuan memang menganggap dirinya adalah kaum yang mempersiapkan diri untuk didatangi lelaki yang tepat. Semakin perempuan merasa cantik, kadang ia akan cenderung merasa bahwa ia punya daya tawar yang tinggi untuk memilih lelaki. Ada diantara perempuan ini yang akan telaten menunggu laki-laki yang lebih punya tanggungjawab dan modal besar untuk menghidupinya.

Di desa, kebanyakan perempuan yang merasa cantik ini amat mengidolakan pasangan yang punya pekerjaan mapan. Konon kabarnya, memiliki suami berseragam (terutama polisi) adalah dambaan paling besar bagi gadis-gadis yang cantik atau merasa cantik ini.

Bisa jadi mereka sedang dekat dengan lelaki, katakanlah yang menjadi pacarnya. Tapi sekaligus ia sedang mendalami bagaimana kesiapan lelaki yang dekat dengannya untuk menjadi pendamping yang memang bisa diandalkan dalam sebuah ikatan yang jangka panjang (pernikahan). Di desa, kebanyakan perempuan yang merasa cantik ini amat mengidolakan pasangan yang punya pekerjaan mapan. Konon kabarnya, memiliki suami berseragam (terutama polisi) adalah dambaan paling besar bagi gadis-gadis yang cantik atau merasa cantik ini. Benarkan? Luruskan jika salah!

Kecantikan bisa menjadi modal, bisa digunakan untuk meningkatkan daya tawar dalam pasar perjodohan. Tetapi benarkah bahwa kemudian para perempuan cantik akan selalu menjadi pasangan laki-laki kaya dan mapan pada akhirnya? Ternyata tidak juga. Ada juga perempuan yang ternyata mementingkan kualitas hubungan bukan berdasarkan seberapa ia bisa diberian “sogokan” material dari lelaki. Perempuan ini pada akhirnya akan menjatuhkan pilihan pada lelaki yang tidak begitu mampu memberinya materi-materi (uang dan fasilitas material).

Tapi masih saja banyak perempuan yang menganggap bahwa kalau ia diperhatikan dan dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya oleh lelaki, hal itu adalah bentuk kesuksesannya sebagai diri. Sebagian perempuan yang saling kenal bahkan bersaing untuk bisa tampil paling cantik dan kemudian bersaing untuk mendapatkan lelaki yang lebih hebat dalam ukuran material. Di daerah pedesaan, misalnya, saya masih menjumpai bahwa antara perempuan yang saling bertetangga akan bersaing mendapatkan suami mana yang lebih mapan dan kaya.

Celakanya, lingkungan tempat mereka hidup, terutama pandangan yang berkembang di kalangan kaum perempuannya, akan memberikan penilaian lebih tinggi bagi perempuan yang mendapatkan suami laki-laki yang mapan dan punya pekerjaan bagus. Dan seorang perempuan yang mendapatkan suami yang biasa-biasa saja dan buruk dalam hal ekonomi (pekerjaan, jabatan) akan menjadi bahan pergunjingan (terutama jika cara mendapatkan jodoh ini dengan cara-cara yang kurang baik).

Celakanya, ada kasus pula di mana seorang perempuan yang bersama ibunya berjuang keras untuk mendapatkan suami yang mapan (inginnya dinikahi “yang berkalung senjata” atau polisi atau ABRI), justru menjadi perawan tua. Karena jodoh lelaki idaman, yaitu lelaki punya jabatan da berseragam, justru tidak datang-datang. Perempuan ini justru keburu tua dan akhirnya malah kesulitan mencari jodoh.

Di daerah pedesaan yang cuacanya berlumuran ideologi patriarki, pemahaman bahwa perempuan hidup untuk menunggu jodoh lelaki yang menafkahi dan memenuhi hidupnya ini masih kuat—meskipun secara perlahan-lahan juga sudah mulai tergerus.

Di daerah pedesaan yang cuacanya berlumuran ideologi patriarki, pemahaman bahwa perempuan hidup untuk menunggu jodoh lelaki yang menafkahi dan memenuhi hidupnya ini masih kuat—meskipun secara perlahan-lahan juga sudah mulai tergerus. Tentu saja, kecantikan masih menjadi dambaan siapa saja. Perempuan memang selalu ingin cantik. Tapi sebagian dari mereka memang sudah mulai menyadari bahwa mereka akan berkembang sebagai manusia dengan cara mendapatkan penghasilannya sendiri dan ingin bekerja—tidak buru-buru nikah. Nikah yang buru-buru kadang juga justru merupakan keinginan orangtua yang cara pandangnya masih konservatif atau memang alasan ekonomi.

Yang dimaksud alasan ekonomi di sini adalah jika anak perempuan menikah, maka beban ekonomis akan berkurang. Karena anak tersebut akan hidup bersama lelaki yang akan menafkahinya. Itu harapannya, meskipun selalu tak semulus yang diharapkan. Karena pada kenyataannya, setelah anak menikah, ternyata juga perlu banyak sokongan material dari orangtua. Karena anak yang menikah tak selalu langsung mandiri.

Seorang gadis harus segera menikah bukan karena ia memang ingin segera menikah, tapi karena bapak dan ibunya ingin menggelar pesta pernikahan dan mendapatkan uang becekan (arisan).

Celakanya lagi, di desa, ada fenomena orangtua ingin segera menikahkan anaknya dengan obsesi agar ia segera bisa “nduwe gawe” dan mendapatkan arisan (becekan) dari orang-orang sekitarnya atau orang yang pernah “dibeceki.” Seorang gadis harus segera menikah bukan karena ia memang ingin segera menikah, tapi karena bapak dan ibunya ingin menggelar pesta pernikahan dan mendapatkan uang becekan (arisan).

Bukan si gadis yang menimbang-nimbang alasan menikah, tapi justru orangtualah yang punya alasan kuat agar anaknya segera menikah. Saya jadi teringat apa yang pernah ditulis Ayu Utami dalam novel “Saman” (hal. 127-128): “… mencari suami memang seperti melihat-lihat toko perabot untuk setelah meja makan yang pas buat ruangan dan keuangan. Kita datang dengan sejumlah syarat geometris dan budget. Sedangkan KEKASIH muncul seperti sebuah lukisan yang tiba-tiba membuat kita jatuh hati, kita ingin mendapatkannya dan mengubah seluruh desain kamar agar sesuai dengannya.”

Nah, ini yang mikir budget malah si orangtua!

Trenggalek, 17 Desember 2018

Harapan yang Dituliskan, Bisa Menjadi Kenyataan Meski Seolah Tidak Mungkin

0

Seperti tidak mungkin mencapai kesuksesan di saat kita terpuruk, atau sedang menghadapi kendala untuk meraih sesuatu. Bahkan kendala itu berupa berhenti total karena sedang sakit sehingga tidak mungkin melakukan kegiatan yang menambah pundi-pundi dalam berproses menuju sukses. Namun, impian yang dituliskan oleh seorang siswi kelas 7 homeschooling ini, telah menembus keterbatasannya. Meski terkendala sakit dan absen dari belajar, Nafisa tetap berhasil meraih prestasi puncak.

KampusDesa–Ini bukanlah cerita tentang Cinderella yang bertemu pangerannya atas bantuan penyihir baik. Tapi ini tentang kisah pengalaman seorang anak yang mendapati bahwa apa yang pernah dituliskannya untuk menjadi target harapan ternyata menjadi kenyataan. Padahal ada begitu banyak rintangan. Secara akal sulit untuk diwujudkan.

Saat itu saya masih mondok di PPSQ Asy-Syadzili Putri. Sekaligus saya adalah pelajar kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Karena sekolah saya yang masih setingkat MI tersebut, saya digolongkan santriwati kecil. Berhubung sudah kelas 6 saya dianggap oleh pengurus sebagai kakak paling tua di antara santriwati kecil lainnya dan diamanahi membantu mengurusi adik-adik.

Ternyata di sekolah saya juga ditunjuk sebagai ketua kelas. Selain itu, saya juga memimpin pramuka dan gerak jalan persiapan lomba 17 Agustus 2017. Yup! Amazing. Empat kepemimpinan sekaligus dalam periode setengah tahun. Lumayan menguras tenaga maupun pikiran.

Kegiatan saya di pondok setelah subuh adalah setoran hafalan. Setelah itu menuntut ilmu di sekolah hingga pukul 1 siang. Kembali ke pondok untuk istirahat hingga pukul 14.30, lanjut dengan kelas Diniyah. Jadwal diselang-seling dengan latihan gerak jalan pada sore hari di sekolah. Kembali ke pondok menjelang Maghrib, meneruskan pelajaran hingga pukul 09.00 malam. Begitulah kegiatan saya sehari-hari hingga akhir tahun 2017.

Menjelang UAS saya sering pusing, mual, panas dan batuk tak henti-henti. Ternyata saya kena gejala tifus. Di sela-sela penggemblengan persiapan try-out saya baru ikut ujian susulan UAS di bulan Januari 2018.

Setelah try-out selesai, gantian penggemblengan persiapan UN.  Saat itulah penyakit kambuh. Kali ini positif tifus diserta ISPA. Saya diharuskan istirahat di rumah, untuk sementara tidak bisa mengikuti kegiatan belajar di pondok. Jadinya harus bolak-balik dari Cemorokandang ke Pakis di hari-hari tertentu.

Semakin mendekati UN, kondisi badan saya bukannya membaik. Saya mendapat ujian sakit satu lagi, yaitu ditemukannya butiran pasir di saluran urin saya sehingga dokter betul-betul menekan agar saya istirahat total. Artinya saya tidak bisa masuk sekolah lagi dan mendapatkan pembekalan dari para guru.

Menjelang UN, sekolah mengadakan rekreasi untuk anak kelas 6. Saya ingin sekali ikut tapi orang tua melarang. Hingga saya protes dan menangis. Ternyata sehari sebelum pemberangkatan rekreasi kakak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Keluarga saya berkabung. Komplit sudah…

Ya sakit, ya sedih, bedrest-nya ditambah. Saat ujian susulan selalu dadakan, tanpa persiapan, tanpa belajar. Untungnya saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mengikuti UN hingga tuntas.

Diam-diam saya khawatir dan takut dengan hasil kelulusan dan peringkat nilai saya. Pada saat menerima undangan wisuda, ingin rasanya saya tak menghadirinya. Bagaimana kalau nilai saya jeplok dan tidak lulus gara-gara terlalu banyak absen?  Eh, malah guru saya memberikan tugas sebagai MC di acara itu.

Tibalah saat wisuda. Hasil kelulusan dan peringkat nilai pun disampaikan. Saya tidak punya harapan. Merasa deg-degan, takut dinyatakan tidak lulus. Hasilnya bikin shock. Saya dinyatakan mendapat peringkat 3 di kelas saya (kelas 6A). Dengan selisih 5 poin dengan anak peringkat 2.

Saat nama saya diumumkan. Saya tak maju ke depan. Pikir saya mungkin saya salah dengar. Jadi dengan wajah tanpa ekspresi dengan santainya saya tetap duduk manis. Sampai teman saya geram melihat tingkah saya. Ia menegur saya untuk maju ke depan. Saya benar-benar bingung. Bagaimana bisa? Apalagi beberapa waktu kemudian setelah Danem resmi diumumkan. Saya mendapat nilai tertinggi.

Suatu hari saya sedang bersih-bersih rumah. Saya pun menata rapi tumpukan buku yang berantakan. Tiba-tiba saya melihat sebuah buku batik berwarna hijau terjepit di dipan kasur. Seperti tak asing bagi saya. Saya menariknya. Terlihat sedikit usang. Ya saya ingat, Itu buku saya yang lama hilang.

Saya buka lembar demi lembar supaya tak ada yang terlewatkan. Secarik tentang masa lalu kembali saya ingat.  Senyum-senyum sendiri saat membacanya. Hingga ada tulisan besar di salah-satu lembaran itu.

Target Pencapaian 2018

Tulisan itu berwarna biru. Di bawahnya ada tulisan warna-warni yang ukurannya lebih lecil dari yang di atas. Tulisan saya sendiri. Banyak rangkaian kalimat yang menggambarkan harapan dan keinginan saya. Salah-satunya tertulis bahwa Di KELAS ENAM SAYA HARUS MASUK DALAM PERINGKAT 3 BESAR.

Suatu ketika di pondok saya pernah menonton video motivasi yang menyatakan bahwa ‘pikiran kita adalah magnet dari apa yang kita inginkan.’

Subhanallah, saya sempat melupakan semua ini. Suatu ketika saya pernah menonton video motivasi di pondok saya yang isinya menyatakan bahwa ‘pikiran kita adalah magnet dari apa yang kita inginkan.’ Mama juga mengajari saya untuk selalu menuliskan harapan-harapan saya di buku.

Harapan atau cita-cita yang kita tuliskan dan kita beri gambarannya akan mempermudah pencapaiannya. Allah akan menggerakkan alam semesta untuk membantu mengabulkan apa yang kita mau.

Harapan atau cita-cita yang kita tuliskan dan kita beri gambarannya akan mempermudah pencapaiannya. Allah akan menggerakkan alam semesta untuk membantu mengabulkan apa yang kita mau. Awalnya saya hanya coba-coba menuliskannya. Setiap akan dan bangun tidur saya melihatnya.  Sampai saya sakit dan melupakannya. Lalu banyak peristiwa pahit yang membuat semua harapan saya itu seolah-olah mustahil terjadi. Ternyata Allah mengijinkan yang terjadi SESUAI DENGAN HARAPAN YANG TELAH SAYA TULISKAN. Allahu Akbar! Alhamdulillah ya Rabb. Sekarang menjelang tahun 2019 saya ingin sekali kembali menuliskan harapan dan keinginan saya.

Cara Memberikan Bantuan Hidup Dasar pada Gawat Darurat / Pra Rumah Sakit

0

Bantuan hidup sangat penting untuk dipahami oleh siapa saja agar mampu melakukan tindakan dini sehingga seseorang dalam keadaan darurat bisa segera mendapatkan pertolongan. Pemahaman ini penting disajikan ke masyarakat agar bantuan hidup pada orang dalam keadaan darurat mampu ditopang oleh ketrampilan pertolongan darurat.

Kampusdesa–Bantuan hidup adalah suatu usaha di mana keadaan yang mengancam nyawa dapat terselamatkan dengan mempertahankan kehidupannya. Bantuan hidup dapat dibedakan menjadi dua; pertama, bantuan hidup dasar yang biasa disingkat BHD. Kedua, bantuan hidup lanjut atau BHL.

Bantuan hidup dasar merupakan dasar dalam mempertahankan  dan menyelamatkan penderita yang saat itu mengalami kondisi yang mengancam nyawa seperti didapati tanda-tanda henti jantung dan segera mengaktifkan sistem respon kegawatdaruratan. Kemudian segera lakukan RJP (Resusitasi Jantu Paru), dan lakukan segera defibrilasi dengan menggunakan AED (Automated External Defibrillator). Contohnya; menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirim mobil Ambulan dan meminta tolong pada orang terdekat.

Sedangkan bantuan hidup lanjut adalah penanganan dengan menggunakan alat dan pelaksanaan setelah resusitasi. Atau biasa juga dikenal dengan pra rumah sakit.

Hal yang perlu di ingat bahwa:

  • Orang yang henti jantung otomatis henti nafas, segera lakukan RJP
  • Orang yang henti nafas belum tentu henti jantung, berikan nafas bantuan

Cara melakukan RJP:

  • Cek nadi selama < 10 detik
  • Bila tidak teraba, mulai kompresi sebanyak 30 kali dan 2 kali ventilasi
  • Bila teraba, berikan 1 kali nafas tiap 5-6 detik, cek nadi kembali tiap 2 menit.

RJP yang berkualitas:

  • Kecepatan paling sedikit 100x/ menit
  • Kedalaman kompresi 2 inci atau 5 cm
  • Berikan dada recoil setiap setelah kompresi
  • Menimalkan interupsi terhadap kompresi dada
  • Hindari ventilasi atau nafas buatan yang berlebihan.

Resusitasi Jantung Paru (RJP)
RJP merupakan salah satu yang mendasari bantuan hidup dasar dan dapat bervariasi dalam pendekatan optimal terhadap RJP. Tergantung pada penolong, penderita atau korban dan sumber daya yang tersedia. Tetapi hal-hal yang mendasar tidak mengalami perubahan,  yaitu bagaimana melakukan RJP segera dan efektif. Mengingat hal ini terus menjadi prioritas, pedoman AHA 2010  untuk RJP mengalami perubahan yaitu dengan mendahulukan sirkulasi sebelum penatalaksanaan jalan nafas dan pernafasan (chest compression, airway dan breathing) [CAB]. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan praktik dunia nyata dalam rangka meningkatkan hasil RJP.

Prinsip-prinsip dasar terhadap RJP adalah kekuatan dari rantai keberhasilan, diantaranya Anda dapat mengikuti sebagaimana panduan di bawah ini,

Segera mengenali tanda-tanda henti jantung dan mengaktifkan sistem kegawat daruratan. Salah satu cara simple untuk mengatahui henti jantung adalah meraba nadi yang ada di leher (nadi karotis). Kemudian meminta tolong pada orang sekitar dan menghubungi rumah sakit terdekat untuk dibawakan mobil ambulance.

Segera lakukan RJP dengan penekanan pada kompresi dada. Pastikan pasien dalam keadaan berbaring, letakkan kedua telapak tangan saling bertumpuan, lengan sejajar lurus dengan tulang belakang (tujuannya agar penolong tidak mengalami cidera), beri tekanan di daerah bahu, biarkan telapak tangan yang menekan dada. Hitung 1 s/d 30, cek nafas, bila tidak ada berikan nafas buatan dengan sekali atau duakali hembusan yang besar. Namun, jika didapati ada hembusan nafas, cukup cek nadi selama kurang dari 10 detik, bila belum teraba lakukan terus secara bergantian dengan penolong yang lain.

Segera defibrilasi. Bila ternyata ambulan datang lebih cepat, maka segera alihkan pada pihak yang lebih menguasi seperti tim dari kegawat daruratan.

Bantuan hidup lanjut yang efektif. Tindakan di rumah sakit dengan menggunakan alat teknologi kesehatan yang lebih memadai, keamanan pasien dan perawat lebih dinaungi, hingga tak ada ancaman. Serta alat-alat medis yang terjaga sterilisasinya.

Perawatan henti jantung yang terintegrasi. Sebelum keluar dari IGD, pastikan dokter penanggung jawab dapat menilai kondisi pasien untuk di tempatkan ke ruang intensifkah atau ruang biasa.

Selain hal tersebut, ada baiknya Anda juga memahami apa saja kriteria untuk memulai dan mengakhiri RJP. Ada dua konteks, kapan Anda menentukan untuk memulai dan mengakhiri RJP

Saat berada di luar rumah sakit

Kreteria untuk tidak memulai RJP. Saat di luar rumah sakit, ada beberapa keterbatasan baik tenaga ahli atau alat yang tidak tersedia, maka kita bisa tidak memuali RPJ oleh karena beberapa alasan antara lain;

  • Tempat untuk melakukan RJP dapat meningkatkan resiko injury serius bahkan kematian bagi penolong maupun penderita. Jika korban ditemukan berada digenangan air, selokan, jurang, bawah kolong mobil atau tempat terpentalnya korban. Baiknya pindahkan dahulu ke tempat yang di mana korban dapat berbaring, penolong mampu memberikan bantuan hidup dasar dengan maksimal
  • Sudah terdapat tanda-tanda kematiaan biologis seperti kekakuan dan lebab pada mayat. Jika korban yang dipindahkan ternyata sudah kaku dan lebab dingin, dapat dipastikan kejadian sudah lebih dari 10 menit yang lalu.
  • Ada keterangan jelas bahwa penderita tidak perlu dilakukan RJP. Misalkan ambulan sudah datang lebih dulu

Kreteria untuk mengakhri RJP. Anda pada kondisi ini, boleh jadi Anda melakukan tindakan RJP dan ketika melihat tanda-tanda di bawah ini maka Anda dibolehkan mengakhiri RJP karena beberapa alasan antara lain;

  • Adanya respon dari penderita, bisa berupa gerak, teraba nadi dan bernafas
  • Tim bantuan lanjut datang
  • Penolong kelelahan, lingkungan berbahaya, atau kelangsungan usaha resusitasi berbahaya untuk penolong dan penderita
  • Terdapat tanda-tanda kematian

Saat berada di dalam rumah sakit

Kreteria untuk tidak memulai RJP. Ada kriteria saat mana RJP-pun tidak dilakukan untuk pasien. Diantara tanda-tandanya untuk dikenali adalah sebagai berikut;

  • Sudah terdapat tanda-tanda kematiaan biologis seperti kekakuan dan lebab pada mayat. Karena keterlambatan 10 menit, 1 dari 100 yang berhasil ditolong.
  • Ada keterangan jelas bahwa penderita tidak perlu dilakukan RJP. Dokter penanggung jawab mengatakan pasien sudah meninggal, atau keluarga pasien yang keberatan dan meminta untuk tidak dilakukan tindakan apapun yang menyakiti.

Ini hanyalah ringkasan dari buku panduan, jika kurang jelas dapat mengacu pada sumber resmi.

Daftar pustaka

TIM PENULIS YAYASAN AMBULANS GAWAT DARURAT 118. 2015. BUKU PANDUAN BASIC TRAUMA LIFE SUPPORT AND BASIC CARDIAC LIFE SUPPORT. YAYASAN AMBULANS GAWAT DARURAT 118: PT. AMBULANS SATU SATU DELAPAN.

Politik Praktis dan Distorsi Pengabdian

0

Kontestasi politik praktis di negeri ini kian hari kian memprihatinkan. Banyak kalangan menilai kontestasi yang berjalan tidak semakin menunjukkan kedewasaan berdemokrasi. Tapi justru semakin kekanak-kanakan. Ujaran kebencian, saling tuding, memberi sebutan buruk, black campaign, dan sebagainya merupakan sederet bukti akan hal ini. Selain itu, banyak pula hal-hal yang turut terdistorsi, seperti konsep pengabdian

KampusDesa–Melihat tingkah polah para politisi negeri ini membuat saya teringat perkataan Sujiwo Tejo dalam sebuah acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Ia mengkritisi gaya komunikasi para politisi yang meramaikan kontestasi pemilu 2019. Hal yang menurutnya memprihatinkan sekaligus menggelitik adalah seringnya para politisi itu mengatakan bahwa semua yang mereka lakukan adalah demi kepentingan bangsa dan negara. Menurut Sujiwo Tejo, perkataan seperti itu hari ini justru terdengar lucu. Masyarakat sudah banyak yang tidak mempercayainya.

Ketergelitikan Sujiwo Tejo ini memang ada benarnya. Betapa istilah-istilah yang dulunya memiliki makna yang dalam dan menggugah jiwa, hari ini telah banyak terdistorsi oleh ulah manusia sendiri. Satu di antaranya adalah istilah pengabdian.

Pengabdian berasal dari kata “abdi” (dalam bahasa Arab “abdun”) yang kalau kita merujuk pada KBBI berarti “hamba”. Dengan demikian, pengabdian berarti aktivitas penghambaan diri. Kata  ini pula yang merupakan akar kata ibadah. Yaitu aktivitas menghambakan diri kepada Tuhan dengan menjalankan segenap kewajiban dengan dasar ikhlas dan penuh kecintaan.

Jika merujuk arti tersebut, pengabdian dapat kita maknai sebagai kerelaan dan kesiapan melakukan dan memberikan apapun sebagai perwujudan kesetiaan, kecintaan, hormat, dan sayang yang dibungkus dengan keikhlasan. Dengan demikian dalam pengabdian tidak ada “udang di balik batu”. Orang yang mengabdi all out mentasyarufkan dirinya untuk apa yang dicintainya itu. Sehingga dengan sendirinya, pengabdian menegasikan riya’ atau pencitraan.

Dalam politik praktis negosiasi kepentingan, apapun bentuknya, sulit untuk dihindari. Deal-deal dan tawar menawar selalu terjadi. Bahkan sering kita dengar dalam tahun-tahun politik, transaksi “kursi” kementerian dan dewan atau kursi-kursi yang lain sudah menjadi hal yang wajar

Nah, apakah hal tersebut pas jika disandingkan dengan politik praktis? Entah mengapa rasanya nalar ini sulit menerima. Sebagaimana yang kita maklum bersama, bahwa dalam politik praktis negosiasi kepentingan, apapun bentuknya, sulit untuk dihindari. Deal-deal dan tawar menawar selalu terjadi. Bahkan sering kita dengar dalam tahun-tahun politik, transaksi “kursi” kementerian dan dewan atau kursi-kursi yang lain sudah menjadi hal yang wajar.

Karena realita inilah, maka ketika ada politisi yang mengumbar janji-janji politiknya bahwa semua yang dilakukannya adalah demi kepentingan bangsa, dan negara rasanya bibir ini sulit menahan diri untuk tidak tersenyum kecut. Akibatnya, kata-kata ini kini tak lagi mampu menggelorakan nasionalisme. Namun justru menjadi hal yang kian tabu dan abu-abu.

Apalagi jika kita melihat gaya kampanye para peserta pemilu dan para relawan mereka yang semakin kekanak-kanakan dan jauh dari kedewasaan berdemokrasi sekarang ini. Perang yang meraka lakukan bukanlah peraang program, tapi malah perang diksi. Mereka sibuk saling serang hinaan dan julukan-julukan buruk. Cebong, kampret, genderuwo, dan sontoloyo yang tidak tahu apa-apa harus jadi korban. Hal ini tentu semakin memantapkan kita bahwa sungguh sulit menerima janji politik atas nama pengabdian pada bangsa, dan negara yang keluar dari mulut mereka.

Mengapa mereka tak belajar pengabdian kepada kyai di pesantren? Yang telah mewakafkan dirinya untuk Tuhan dan umat. Atau kepada guru madrasah di pelosok desa sana? Yang rela digaji tak seberapa asal dapat mengamalkan ilmunya. Atau kepada sukarelawan di lokasi-lokasi bencana? Atau kepada para penggerak masyarakat desa yang sudah mewakafkan dirinya demi kepentingan bersama?

Jangan bicara mengabdi jika ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan perut sendiri.[]

Masalah Tak Jadi Masalah

0

Semua manusia pasti berhadapan dengan masalah. Maka masalah bukanlah hal yang eksklusif, yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Sehingga yang jadi persoalan bukanlah apa dan bagaimana masalah itu, tapi bagaimana cara kita menghadapi dan menyelesaikannya. Sehingga masalah tak perlu jadi masalah.

KampusDesa–Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang hidupnya steril dari masalah. Betapapun tinggi pangkatnya, betapapun kayanya ia, dan betapapun pintarnya, semua manusia pasti tak luput dari masalah dalam hidupnya. Terlepas bagaimana bentuk dan tingkat kerumitan masalah tersebut, yang jelas setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini membawa masalah masing-masing. Masalah ini tidak akan berhenti datang, sampai nyawa terlepas dari badan.

Ketika kita masih bayi, kita dihadapkan dengan susahnya berkomunikasi, bahkan dengan orangtua kita sendiri. Semua orang belum mengerti apa yang kita mau, karena kita belum bisa mengucapkan sepatah kata pun. Akibatnya, kita gunakan menangis sebagai senjata utama.

Menginjak usia kanak-kanak, masalah yang kita hadapi semakin meningkat kompleksitasnya. Kita sudah dihadapkan dengan masalah yang tidak hanya menyangkut diri kita sendiri, tapi juga orang lain. Pada usia remaja, tingkat kerumitan masalah semakin meningkat. Kita dihadapkan dengan masalah-masalah yang semakin abstrak dan rumit. Cita-cita, masa lalu, masa depan, asmara, relasi sosial, egoisme, dan sebagainya merupakan permasalahan yang mengakrabi kita di usia tersebut.

Pasca remaja, kita memasuki usia dewasa. Pikiran dan hati kita sudah matang pada usia ini. Namun, alih-alih menjadi sederhana, masalah yang datang kepada kita justru semakin berlipat. Baik kuantitasnya, besarnya, maupun tingkat kerumitannya. Keluarga, harga diri, karir, masa lalu, pernikahan, cita-cita, kebutuhan hidup, ketenangan jiwa, dan sebagainya merupakan masalah-masalah yang karib kita hadapi.

…kita selalu berhasil mengatasi masalah-masalah yang datang itu. Meskipun seringkali kita pesimis di awal, namun pada akhirnya masalah yang datang selalu dapat kita selesaikan.

Sungguh pun demikian, ternyata kita selalu berhasil mengatasi masalah-masalah yang datang itu. Meskipun seringkali kita pesimis di awal, namun pada akhirnya masalah yang datang selalu dapat kita selesaikan. Dengan demikian, nyatalah kata al-Qur’an bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan masalah melebihi kesanggupan mereka. Juga firman Allah yang mengatakan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Artinya, selalu ada jalan keluar di balik setiap masalah. Apapun itu.

Lebih pentingnya lagi, selalu ada banyak hikmah/pelajaran hidup yang dapat kita gali dari setiap masalah yang kita hadapi. Kita kemudian menjadi aware bahwa masalah yang datang ternyata disebabkan oleh ulah kita sendiri. Sehingga kita berupaya sekuat tenaga agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Melalui masalah pula, kita menjadi semakin dewasa dan matang. Kita semakin siap jika masalah yang serupa atau yang lebih besar datang di kemudian hari. Melalu masalah kita juga mampu menemukan hidup kita yang sebenarnya.

Selain itu, dengan adanya masalah, kita semakin mesra dengan Tuhan. Yang awalnya sebelum ada masalah, kita jarang memikirkan Tuhan. Setelah ada masalah, setiap hari kita memuja dan memohon kepada-Nya agar masalah kita segera terselesaikan. Kita semakin menyadari betapa terbatas dan kecilnya kemampuan kita. Cahaya iman pun semakin berpendar dalam hati kita. Semua berkat adanya masalah.

Sampai di sini jelas kiranya bahwa masalah merupakan anugerah dan nikmat Tuhan yang amat besar dan harus kita syukuri. Masalah merupakan bentuk pendidikan dari Tuhan agar kita semakin matang dan dewasa. Melalui masalah, Tuhan mendidik kita agar kita menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Pribadi yang siap siaga, cerdas, cermat, dan waspada.

Melalui masalah pula, Tuhan mengingatkan kita bahwa dalam hidup ini kita tidak akan bisa lepas dari campurtangan-Nya. Semua yang kita usahakan selalu membutuhkan pertolongan dari-Nya. Bahkan, tujuan kita hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah kembali kepada-Nya. Maka dari itu, sudah seharusnya Tuhan menjadi tujuan pertama dan utama dalam hidup ini. Itulah esensi hidup yang sesungguhnya. Akan salah hidup kita jika Tuhan tidak kita posisikan sebagai prioritas utama.

Datangnya masalah bukanlah masalah. Justru merupakan anugerah dan berkah. Masalah tidak untuk dihindari, tapi untuk dihadapi dan diselesaikan sesuai dengan kemampuan diri

Dengan demikian, datangnya masalah bukanlah masalah. Justru merupakan anugerah dan berkah. Masalah tidak untuk dihindari, tapi untuk dihadapi dan diselesaikan sesuai dengan kemampuan diri. Kepada Tuhan selalu berserah diri, supaya bahagia hingga di kehidupan nanti.[]

Teknik Lobi dan Negosiasi ala Fahruddin Achmad Pikat Peserta FLP Sulsel

0

Ada pemandangan unik di sore hari menjelang Maghrib di lantai dua, ruang Multimedia, Sekolah Islam Athirah, Kajaolaliddo, Makassar (15/12/2018). Puluhan peserta Forum Lingkar Pena (FLP) tekun menyimak penjelasan Fahruddin Achmad tentang “Teknik Lobi dan Negosiasi.”  Acara yang bertema “Sinergi Menuju Perubahan” ini merupakan salah satu kegiatan dalam rangka “Pelantikan dan Upgrading FLP Wilayah Sulsel.”

Makassar, KampusDesa – Alumnus Teknik Unhas itu secara memukau menjelaskan secara detail dan komprehensif tentang teknik lobi dan negosiasi. Mulai dari definisi, konsep dasar, fungsi, jenis, langkah, karakteristik, target kegiatan, strategi, kegiatan, kapan diperlukan dan tidak diperlukan, kunci, model, proses-progress, semua seluk-beluk serta pengalaman terkait lobi dan negosiasi. Tak heran jika berbagai pengalamannya berorganisasi membuatnya lihai dan mahir dalam teknik lobi dan negosiasi.

Lobi

Lobi adalah aktivitas komunikasi yang dilakukan individu atau kelompok, yang bertujuan memengaruhi pimpinan organisasi lain atau pejabat penting organisasi dan pemerintahan sehingga dapat memberikan keuntungan untuk diri sendiri ataupun organisasi dan perusahaan pelobi. Dalam konteks bisnis, lobi adalah upaya melakukan pemasaran atau penjualan produk dengan melakukan pendekatan kepada calon pembeli, baik perorangan maupun instansi.

Pemateri : Fahruddin Achmad

Lobi memiliki berbagai fungsi. Misalnya: untuk melindungi kepentingan organisasi, membuka komunikasi dengan berbagai pihak pengambil keputusan, membangun koalisi dengan organisasi lain, membangun tawar-menawar saling menguntungkan dengan penentu kebijakan.

Ada tiga jenis lobi. Pertama, lobi tradisional. Pelobi mendekati pengambil keputusan. Kedua, lobi akar rumput. Caranya dengan menggunakan masyarakat untuk mempengaruhi pengambil keputusan. Ketiga, lobi Political Action Committee. Strateginya, pelbagai komite dibentuk perusahaan-perusahaan besar agar wakilnya dapat duduk di parlemen atau pemerintahan.

“Lobi memiliki lima langkah. Pertama, memiliki informasi latar belakang, sifat, dan khas orang yang dilobi. Kedua, mengetahui motif-motif orang yang terlibat dalam lobi. Ketiga, mewaspadai jebakan. Keempat, menetralisasi sikap lawan. Kelima, memperbesar situasi media dan menyusun rancangan pendekatan media,” kata mantan ketua FLP Sulawesi Selatan ini dengan ramah.

Lobi memiliki beberapa karakteristik. Pertama, bersifat tidak resmi atau informal, dapat dilakukan di luar forum resmi. Kedua, dapat berupa obrolan atau dengan surat atau dengan media. Ketiga, pihak yang melobi harus aktif mendekati pihak  yang dilobi. Pelobi diharapkan tidak bersikap pasif atau menunggu pihak lain sehingga terkesan kurang siap dan tidak punya banyak bahan. Keempat, waktu dan tempat dapat kapan dan dimana saja dalam kondisi wajar, mendukung dan menciptakan suasana menyenangkan sehingga orang dapat bersikap rileks. Kelima, pihak yang melakukan lobi dapat beragam dan siapa saja yang bekepentingan dengan isu yang akan dilobikan. Bila diperlukan, maka dapat melibatkan pihak ketiga sebagai perantara.

Lobi memiliki tujuh strategi, yakni, lobi diri sendiri, strategi lima tahu, strategi bertindak, membangun kepercayaan, strategi tujuh hilangkan, strategi jangan berhenti, dan strategi lima pembuktian.

Adapun beberapa target kegiatan lobi antara lain: untuk memengaruhi kebijakan, menarik dukungan, memenangkan prasyarat kontrak terutama di dalam kegiatan atau bisnis, memudahkan urusan, memeroleh akses untuk kegiatan berikutnya, menyampaikan informasi untuk memperjelas kegiatan. Lobi memiliki tujuh strategi, yakni, lobi diri sendiri, strategi lima tahu, strategi bertindak, membangun kepercayaan, strategi tujuh hilangkan, strategi jangan berhenti, dan strategi lima pembuktian.

Peserta FLP tekun menyimak materi lobi dan negosiasi

Beberapa hal terpenting di dalam melakukan lobi. Pertama, mempersiapkan diri untuk memulai lobi dengan tujuan membangun kepercayaan. Kedua, berikan manfaat dan keuntungan bersama. Hindari terburu-buru mencari keuntungan. Ketiga, bicarakan hanya hal-hal yang penting. Keempat, pergunakan waktu seefektif mungkin. Kelima, pakailah bahasa sederhana yang mudah dimengerti.

Negosiasi

Negosiasi adalah proses tawar-menawar dengan jalan berunding untuk memberi atau menerima guna mencapai kesepakatan antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak (kelompok atau organisasi) yang lain. Negosiasi dapat pula berarti penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak-pihak yang bersangkutan.

Terdapat dua model negosiasi. Pertama, model negosiasi distributif (kompetitif). Negosiasi ini lebih menekankan pada prinsip kalah dan menang bagi kedua belah pihak yang terlibat pada kegiatan negosiasi. Tidak peduli terhadap kepentingan atau kepuasan orang lain; mengorbankan orang lain, dan berorientasi pada hubungan jangka pendek. Adapun ciri-ciri negosiator distributif, berupa: tawaran awal tidak masuk akal (ekstrem), kewenangan terbatas, mempermainkan emosi lawan, pantang memperlihatkan kelemahan, hampir tidak memberikan kelonggaran, mengabaikan batas waktu.

Kedua, model negosiasi integratif (kooperatif). Negosiasi model ini lebih mengedepankan prinsip menang dan menang antara kedua belah pihak yang terlibat pada kegiatan negosiasi. Kegiatan ini lebih memperhatikan kepentingan dan kepuasan orang lain dan berorientasi pada hubungan jangka panjang. Adapun ciri-ciri negosiator integratif, misalnya: menyesuaikan diri dengan kebutuhan orang lain, mencari titik temu dari setiap perbedaan, dan menyelaraskan setiap perbedaan.

Negosiasi dilakukan atas dasar lima hal. Pertama, pihak kita menginginkan sesuatu yang saat ini masih berada dalam kendali pihak mitra negosiasi. Kedua, pihak mitra negosiasi pun menginginkan sesuatu yang ada dalam kendali kita. Ketiga, untuk mendapatkan kesepakatan yang saling menguntungkan. Keempat, untuk menyelesaikan permasalahan dan mencari titik temu. Kelima, agar bisnis atau usahanya bisa tetap bertahan atau berjalan lancar.

“Negosiasi juga diperlukan di dalam empat hal. Pertama, saat tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksakan suatu hasil yang diinginkan. Kedua, saat terjadi konflik antar para pihak, yang masing-masing pihak tidak mempunyai cukup kekuatan atau mempunyai kekuasaan yang terbatas untuk menyelesaikannya secara sepihak. Ketiga, keberhasilan kita dipengaruhi oleh kekuasaan atau otoritas pihak lain. Keempat, tidak memiliki pilihan yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan,’’ ujar pria kelahiran Takalar, Agustus 1978 ini.

Arbono Lasmahadi (2005) menjelaskan bahwa negosiasi tidak diperlukan di dalam dua kondisi. Pertama, persetujuan atau kesepakatan bukan tujuan yang ingin dicapai oleh para pihak. Kedua, salah satu atau kedua belah pihak berniat untuk merugikan atau menghancurkan pihak lain.

Dalam melakukan negosiasi, ada empat strategi. Pertama, win-win. Strategi ini dipilih bila pihak-pihak yang berselisih menginginkan penyelesaian masalah yang diambil pada akhirnya menguntungkan kedua belah pihak. Strategi ini juga dikenal sebagai integrative negotiation. Kedua, win-lose. Strategi ini dipilih karena pihak-pihak yang berselisih ingin mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya dari penyelesaian masalah yang diambil. Dengan strategi ini, pihak-pihak yang berselisih saling berkompetisi untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Ketiga, lose-lose. Strategi ini dipilih biasanya sebagai dampak kegagalan dari pemilihan strategi yang tepat dalam bernegosiasi. Akibatnya pihak-pihak yang berselisih, pada akhirnya tidak mendapatkan sama sekali hasil yang diharapkan. Keempat, lose-win. Strategi ini dipilih bila salah satu pihak sengaja mengalah untuk mendapatkan manfaat dari kekalahan mereka.

Saat mengakhiri presentasi, pria yang di tahun 1990 pernah mengikuti Jambore Nasional Pramuka di Cibubur dan Kejurda Karate se-Sulsel di Makassar ini menjelaskan delapan kunci lobi dan negosiasi, yaitu: keluasan wawasan, penguasaan bahan, kesepakatan tim, strategi pilihan, kemampuan berkomunikasi, juru runding, penguasaan situasi, dan pilihan kesepakatan. “Dalam lobi dan negosiasi, intinya ada tiga hal; konsep, tim, dan strategi atau teknik berkomunikasi,” ujarnya kalem.

Tsunami di Banten Merupakan Salah Satu Kejadian Luar Biasa

0

Banten, KampusDesa–Indonesia kembali dilanda duka, peristiwa tsunami di Banten dan Lampung pada Sabtu malam (22/12/2018). Bertepatan pada hari ibu sekaligus acara Haul Akbar di Caringin, Banten.

Badan Meteorologi, Kloimatologi dan Geofisika (BMKG) membenarkan bahwa tsunami telah menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda. Tsunami terjadi pada pukul 21.27 WIB.

Para jamaah berdatangan dari berbagai penjuru

Seperti undangan yang diundang, banyak jamaah yang sudah berangkat dari hari sabtu menuju tempat lokasi Haul Akbar. Ada banyak jamaah yang menjauhi pinggir pantai Caringin, berbagai jamaah dari penjuru daerah terpencar. Sebagian ke tempat makam Syekh Mansyurudin, kabupaten Pandeglang, Banten. Sebagian lagi di makam Syekh Maulana Yusuf, Kota Serang, Banten.

Setelah mengetahui tenda dan sekitar tempat lokasi menjadi tersembunyi. Meski demikian, makam Waliyullah Asnawi Caringin tidak rusak sedikit pun. Pertanyaan mulai muncul. Apakah acara Haul Akbar tetap berlangsung? Menurut salah satu jamaah dari Bekasi, “Syekh Rohimuddin dan KH Nasrullah mengatakan untuk tetap melakukan haul kecil-kecilan, dihimbau bagi semua warga Banten untuk dapat hadir di pantai Caringin.”

Semua hasil, acara haul yang berjalan dengan sederhana dan dihadiri jamaah yang tidak terlalu banyak. Tidak hanya itu, salah satu dari KHM Djahari turut memberikan komentar atas kejadian minggu lalu, “Allah itu Maha Baik, tidak ingin satu daerah lebih banyak maksiatnya daripada ibadahnya.

Allah tidak ingin membatalkan acara Haul Akbar tahun ini, tetapi Allah ingin menunjukkan sebetulnya Allah murka, wong tempat kelahiran para Jawara Banten, pahlawan yang ikut serta dalam memerdekakan Indonesia, kok mengambil tempat maksiat.

Itu layak, masih untung bukan layak gempa. Ini termasuk kejadian luar biasa karena tsunami tidak didahului gemba bumi.Jadi, ini mah Allah sedang mengusir orang-orang yang baru kembali tahun di Banten, agar tidak terjadi maksiat yang merajalela, dan memulihkan keimanan para jamaah yang hadir, tetap aktif di lokasi acara atau pergi sendiri. Padahal sudah jelas kalau mati tidak bisa dilepaskan. ”Ujarnya sambil tersenyum.

Semua Apa Kata Mama

0

Orang tua memang menentukan perkembangan anak. Peran mereka penting karena menjadi sub-sistem yang akan membantu anak menemukan aneka kebutuhan perkembangannya dan memfasilitasi anak menuju tahap perkembangan yang berkualitas. Namun demikian menjadi terkesan orang tua minded ketika orang tua selalu menjadi penentu pikiran anak sehingga menjadikan anak tidak lagi memiliki kemerdekaan berpikir bahkan mengambil keputusan sendiri untuk pilihannya.

KampusDesa–Ibu adalah pemegang utama dalam proses pengasuhan anak, pembentuk karakter handal untuk anak-anaknya, menyayangi, mencintai, melindungi, membimbing, mengayomi, memelihara, merangkul, mendukung, memberikan kehangatan, memberikan kenyamanan, mengontrol dan memonitorng segala akivitas anak. dan setumpuk tugas seorang ibu yang tak akan muat dalam lembaran-lembaran ini jika harus tertulis seluruhnya. Dan sebegitu berat tugas-tugas lain yang harus dilaksanakan oleh seorang ibu.

Sudah menjadi tanggung jawab bagi seorang ibu untuk menjadi role model bagi anak-anaknya, namun akankah semua harus sempurna dilaksanakannya?

Saat ini panggilan ibu telah banyak bergeser menjadi mama, megikuti alur zaman yang kekinian. Tidak menjadi masalah dengan segala panggilan yang diajarkan, yang terpenting dan menjadi perhatian untuk anak adalah Mama yang selalu ada dan peduli pada anak.

Besarnya dominasi seorang ibu dalam membentuk karakter anak adalah karena memang sikapnya sebagai seorang perempuan yang memiliki kondrat lemah lembut dan penuh kasih sayang. Anak akan lebih tenang jika mereka didekat ibunya. Anak akan menjadi lebih tertunduk apabila cara mengajarinya dengan perasaan yang penuh dengan kasih dan sayang tidak hanya sekedar menegakkan ketegasan.

Nah, saat ini populernya adalah menjadi Mama yang ideal untuk anak, para Mama yang berlomba-lomba untuk memperlihatkan kehebatannya anaknya masing-masing, karena keinginan yang terlalu tinggi untuk menjadi Mama yang ideal, hingga segala kebutuhan anak dan segala keputusan pada anak adalah tanggung jawab mama. Penting memang menjadi seorang Mama yang dapat memenuhi segala kebutuhan anak, baik itu asah, asih dan asuh. Akan tetapi keinginan yang berlebih untuk menjadikan anak menjadi yang utama dalam segala hal yang tidak dibarengi dengan pengarahan yang tepat ini juga bukan pilihan yang sesuai.

Seorang Mama memang akan memilihkan yang terbaik untuk anaknya, namun akankah pilihan ini diambil dengan melihat kemampuan anak atau hanya sekedar obsesi seorang Mama ingin menjadikan anaknya ideal?

Menjadi Mama ideal memang dambaan untuk semua anak, bahkan juga akan menjadi dambaan bagi mama-Mama yang lainnya. Mama akan bangga ketika anaknya dipuji oleh mama-Mama yang lain karena kehebatan anaknnya, mendapat juara, memang lomba dan bahkan anak yang bisa dalam segala bidang adalah anak yang paling menjadi pusat perhatian bagi semua orang sehingga untuk menunjukkan bahwa anaknya adalah anak yang paling hebat. Seorang Mama inilah yang bekerja keras untuk menjadi penentu dari segala jadwal aktivitas anaknya. Tanpa banyak campur tangan anak didalamnya, namun akankah seperti ini yang dikatakan sebagai mama ideal? Hal ini justru tidak menunjukkan mama ideal namun keadaan seperti inilah adalah obsesi untuk menjadikan anak ideal.

Melihat kenyataan dari beberapa anak yang saat ini sedang belajar bersama-sama dengan saya, karena pengaruh kuat dari Mama-Mama mereka hingga mereka tidak mampu menentukan sendiri apa yang sebenarnya mereka inginkan. Tak mampu untuk mengungkapkan pendapatnya karena semua telah diatur oleh mama.

Saat ditanya, anak usia yang lebih dari 12 tahun, tidak memiliki gambaran cita-cita sama sekali, mereka mengatakan “tidak tau, mama.” Maknanya, mamalah yang menentukan mereka akan menjadi apa. Kemudian hal-hal kecilpun mampu menarik perhatian saya, jawaban-jawaban yang mereka berikan mengarahkan bahwa “semua kata mama.” Hampir sebagian besar keputusan kehidupan mereka adalah otoritas dari mamanya.

Realitanya, ada hal yang terjadi pada anak ketika mama adalah penentu dari segala kegiatannya, dan beberapa realita yang ditunjukkan tidak mengarah pada hal yang akan membuat anak semakin baik namun malah sebaliknya, karena sikap mama yang otoriter dan obsesi.

Kebiasaan yang terlalu mengekang anak inilah yang menjadikan dampak buruk bagi anak. Anak menjadi tak mampu untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, meskipun hanya untuk keputusan-keputusan kecil dalam aktivitas kesehariannya.

Kebiasaan yang terlalu mengekang anak inilah yang menjadikan dampak buruk bagi anak. Anak menjadi tak mampu untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, meskipun hanya untuk keputusan-keputusan kecil dalam aktivitas kesehariannya. Ketika kita sering mendengar kata “terserah” dari anak, hal ini dapat diartikan bahwa anak sering dipatahkan dalam pemenuhan keinginannya, sehingga dia akan menjadi malas untuk memutuskan karena keputusan yang pernah dia buat sebelumnya sering tidak diterima, malas yang menumpuk dan berkembangbiak inilah yang akan menjadi efek-efek negatif di kemudian harinya.

Ditambah tidak diarahkan bagaimana anak untuk memilih apa yang sedang dibutuhkan olehnya. Misalkan saja anak menjadi mulai malas untuk belajar, ini adalah pemberontakan ringan dari anak, jika anak tetap dikekang dan didekte dalam semua kegiatan tidak heran jika dia akan mulai malas untuk sekolah, dan tiba-tiba berhenti dari aktivitas yang mama jadwalkan, perasaan tertekan anak inilah yang mungkin saja belum dipahami oleh mama.

Karena obsesi menjadikan anak ideal, anak juga menjadi kurang mandiri, karena kembali lagi “semua, apa kata mama.” Hal inilah yang membuat anak tidak mencoba belajar untuk mempersiapkan dengan baik masa depannya. Karena semua aturan hidupkan telah dirancang sesuai apa kata mama. Kepercayaan dirinya melemah, konsep diri anak juga akan menjadi buruk, kerena sulitnya mengambil keputusan untuk dirinya membuat anak menjadi mudah kecewa dan putus asa.

Anak adalah miniatur orangtuanya, hal inilah mengapa orangtua perlu bijak dalam menanggapi semua kebutuhan anak. Memiliki rasa khawatir pada massa depan anak boleh, akan tetapi ketika kekhawatiran yang berlebih itu akan membuat seorang Mama menjadi diktator untuk anak jangan menyalahkan anak mulai bosan dengan aktivitas dan rutinitas yang mama buat karena ekspektasi mama sendiri.

Menjadi mama ideal memang perlu, namun memaksakan diri untuk menjadikan anak ideal tanpa melihat kemampuan yang dimiliki anak, mematangkan masa depan anak tanpa memberikan pelajaran pada anak untuk mencoba mempersiapkannya, bukanlah hal yang baik.

Menjadi mama ideal memang perlu, namun memaksakan diri untuk menjadikan anak ideal tanpa melihat kemampuan yang dimiliki anak, mematangkan masa depan anak tanpa memberikan pelajaran pada anak untuk mencoba mempersiapkannya, bukanlah hal yang baik. Tak dapat disebut mama ideal untuk keputusan yang mungkin saja baik namun memunculkan dampak-dampak negatif pada akhirnya.

Saat ini, anak akan memandang orangtua ideal ketika orangtua dapat realistis menghadapi perkembangan anak dengan lebih memahami jiwa anak dan lebih bersikap demokratis, memiliki kesamaan pendapat antara anak dan orangtua, tidak hanya pendapat dari orangtuanya saja.