Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 65

Rahasia Menghadapi Sesuatu Di luar Dugaan

0

Setiap manusia tentu mempunyai harapan agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Namun demikian, terkadang harapan tersebut terhenti sejenak karena adanya sesuatu di luar dugaan. Tidak mudah memang menyelesaikan masalah yang tiba-tiba hadir tanpa permisi. Apalagi jika kita tidak mempunyai cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada. Di sinilah pentingnya sebuah ‘cara’ untuk menghadapi berbagai hal di luar prediksi kita.

KampusDesa–Menjadi manusia saja sudah multifungsi, bisa menulis, membaca, melihat dan mendengar, apalagi dengan berbagai amanah.ย Bertakdir menjadi seorang perawat fungsional adalah amanah kesekian yang diemban. Mengapa? Sebab ada amanah yang lebih dulu tuntas. Seperti dahulu bagaimana menjadi anak yang baik dan berbakti.

Jika bukan panggilan jiwa, mungkin sulit sekali diri ini berdamai untuk menerima kodrat sebagai perawat.

Bicara soal perawat, tentu berkaitan dengan karir dan ke-profesional-an. Banyak yang menginginkan karir menjadi perawat, padahal menjadi perawat itu bukan hal yang mudah. Kalau bukan petinggi rasanya sulit sekali untuk merawat dengan tulus, apalagi hampir semua yang masuk ke rumah sakit sedikit yang pakai umum. Memang sih, yang kita kepoin adalah riwayat penyakit, pola hidup sehatnya dan semua hal yang berkaitan dengan kesehatan. Tetapi, jika bukan panggilan jiwa, mungkin sulit sekali diri ini berdamai untuk menerima kodrat sebagai perawat.

Problematika yang dihadapi tidak lain adalah dari diri sendiri, bagaimana kita bisa tetap semangat, tumbuh, menebar kebaikan dan kebermanfaatan dengan berada di posisi sebagai perawat fungsional. Simpelnya menempatkan diri pada posisinya. Jika di tempat dinas sebagai seorang perawat atau tenaga kesehatan, lain halnya di rumah yang menjadi suami atau istri, ayah atau ibu, mertua atau menantu, dan sebagainya.

Belum lagi beberapa hal yang timbul dari lingkungan. Seringkali dihadapi dengan berbagai stressor dari luar berupa kemacetan, misalnya. Bisa juga internal, yang mana ada kesenjangan dalam hubungan keluarga sendiri. Tetapi, ketika segaram itu dikenakan dan melekat dengan kulit, kita bisa apa? Selain menerima kenyataan, menghadapi dan berusaha meninggalkan beban yang dipikul dengan mengenal dan menempatkan diri pada amanah yang telah menanti di depan mata, seperti tugas perawat misalnya.

Andai rasa sabar dan syukur hilang, mungkin hidup ini telah berlalu bagai sembilu yang membunuh.

Tidak jarang tubuh merasakan lelah yang amat sangat karena pekerjaan rumah yang tak pernah usai. Belum lagi dengan berbagai sikap orang lain, yang memberikan respon tak diinginkan. Padahal, susah payah bagun dini hari agar keluarga dapat terurus lagi terawat sebelum merawat pasien. Namun, inilah realita hidup yang sesungguhnya. Andai rasa sabar dan syukur hilang, mungkin hidup ini telah berlalu bagai sembilu yang membunuh.

Perawat. Dunia perawat mengurusi manusia, menuntut jiwa besar menghadapi orang lain

Sebetulnya, tidak ada orang yang benar-benar senang dengan perubahan dan pepisahan. Walaupun memang, dari perpisahan mengundang pertemuan baru dan dari perubahan menghasilkan gagasan baru. Tapi, tetap saja rasanya berat jika legowo itu sempit. Untunglah bibir masih dapat tersenyum, menerima pasien baru dengan tangan lebat yang siap membantu dan merawat.

Meskipun senyum itu mudah, akan menjadi sulit jika terpaksa. Penting sekali menanamkan dan terus memupuk rasa sabar lagi ikhlas. Bukan hanya itu, banyak teman sejawat yang menjawab dengan berbagai variasi saat ditanya bagaimana rasanya jaga dengan bed full atau kosong sebagian?

“Enakkan full, jadi nggak ribet buat nerima pasien masuk,” atau ada juga yang menjawab, “Gapapa sih kosong, kan kerjaannya lebih ringan,” dan ada pula yang membuatku bingung dengan jawabannya, “Full bed boleh asalkan semua pasien berada ditarap partial care, jadi walaupun capek, nggak sampai ribet. Pun kalau sebagian kosong atau hanya ada beberapa pasien dengan total care, tidak masalah.”

Ternyata banyak cara pandang yang didapat dengan berbagai pendapat. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah memilah dan memilih pendapat yang paling relevan dengan diri kita. Maha Baik Tuhan yang senantiasa menyajikan sebuah cara untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada. Maka, bersyukurlah, tersenyumlah dan bersabarlah. Karena balasan untuknya adalah surga. Sungguh tiada yang sia-sia jika kita menumpahkan segala keluh kesah kepada-Nya.

ุฃููˆู’ู„ูŽุฆููƒูŽ ูŠูุฌู’ุฒูŽูˆู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุบูุฑู’ููŽุฉูŽ ุจูู…ูŽุง ุตูŽุจูŽุฑููˆุง

โ€œMereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka.โ€ (QS.al-Furqan:75).

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Forward Buta, Nabi Katakan Pembohong

0

Suka mem-forwad pesan dan memviralkan! Padahal pengetahuan tentang sumber pesan tersebut belum tahu kebenarannya dan keasliannya dari siapa? Kejujuran atau maksud tersembunyi dari sebuah pesan terkadang sering tidak dikenali. Menelan mentah-mentah informasi/pesan digital dan membagikannya begitu saja, menurut Nabi Muhammad lebih dekat dengan istilah mentalitas pembohong.

Kampusdesa–Tahun 2019 disebut dengan tahun politik. Imformasi yang dikonsumsipun juga sangat banyak terkait dengan aneka kebutuhan kampanye dan berbagai pesan menarik simpatisan. Trending topik di beberapa akun menjadi tolak ukur publik. Trending topik menjadi tuhan-tuhan kecil yang diperebutkan dengan berbagai tujuan, mulai dari mengenalkan figur, memecah perhatian, meningkatkan sentimen, bahkan membuat narasi prasangka untuk memperoleh keuntungan mendulang suara. Aneka hastag (#) diciptakan sebagai senjata kata-kata agar mudah mengkapitalisasi pesan dalam berbagai indexs pencarian dan menyedot informasi berdasarksn kata kunci tertentu. Hastag dikembangkan dari aneka status media sosial, baik dengan batasan kata atau status tulisan yang panjang dan lebih menarik disertai pesan video. Maka pesan politik bisa mudah didapatkan apalagi berujung viral, bisa juga jadi sumber pendapatan. Lumayan kan dibuat menambah dana kampanye. Surplus.

Sebagai masyarakat digital, kesenangan kita bertambah. Pesan atau video itu seperti jamu menitan yang membikin kita senyum, tertawa ha ha hi hi sendirian. Kalau zaman pra-digital, yang senyum-senyum dan tertawa sendirian mesti dicap miring alias tidak penuh pikirannya. Kita juga sering peragakan dengan jari telunjuk diiringkan di depan kening, pertanda orang yang kita simbolkan begitu sebagai sosok yang tidak tegak (jawa: jejeg). Tapi era digital menjadikan senyuman dan tertawa sendirian bagian pertanda sehat. Wong dengan sendirian saja bisa tertawa, berarti kan gembira. Nah, dipikir-pikir kalau menyembuh orang gila di era digital sepertinya lebih mudah. Orang gila tersebut cukup dikasih smartphone, maka senyuman dan tertawaannya sudah selevel orang normal kan. Berarti era digital cukup membantu para orang depresi dan gila setara dengan orang normal. Heeeโ€ฆ

Iki wolak walike zaman memunculkan perilaku baru yang waras dan tidak waras bergeser. Betulkah demikian yang Anda rasakan? Kalau pembaca tidak setuju, yo wis benโ€ฆ Eh, kasar sekali nada saya. Maafkan ya kalau terlalu slengekan. Dilanjutkan saja ya pembahasan ini. Begini titik wolak walike zaman. Kita memang mudah mendapatkan informasi. Meski terkesan gratisan. Nah lagi-lagi kita sudah terlena oleh kepentingan provider penyedia paket data. Saat sudah punya paket data kita lupa juga kalau sebenarnya kita telah membayar informasi dan pesan yang kita forward ke orang lain.

Kembali ke pokok persoalan mengenai pesan digital. Banyak sekali pesan yang diproduksi orang dan yang menyebarkannya. Apalagi kalau sudah menyangkut sentimen sara, agama dan personal, serta sudah menyinggung kebutuhan identitas dan kepentingan eksistensi masyarakat. Pesan yang diterima nyaris ditelan mentah-mentah dan langsung dibagikan secara berjamaah. Pesan itu akan viral. Yah yang untung pemilik jasa pulsa.

Dari berbagai amatan isi pesan (content digital) sering sekali pesan itu diinjeksi emosi ketakutan, kebencian, pembenaran dan serangan halus terhadap sosok atau etnik dan agama. Biasanya pesan-pesan demikian itu lebih banyak bergenre cerita, potongan-potongan berita, bahkan berupa video yang diedit sehingga jikalau diterima tanpa kritik, bisa jadi masyarakat digital terjebak pada pemahaman yang salah.

Jika meneruskan pesan tersebut ke orang lain dan pembagi pesan tersebut merasa menjadi lebih baik, lebih merasa agamis, hal itu akan menguasai mentalitas taqlid pesan dan menyesatkan pikiran.

Jika penerima pesan tidak kritis, informasi itu akan mendikte pikiran pembaca dan mudah membenarkan seluruh informasi sehingga ketika dirasa pesan itu cocok, membela, bahkan menyentuh emosi pembaca maka seseorang tersebut akan mudah melakukan pembenaran. Apalagi jika meneruskan pesan tersebut ke orang lain dan pembagi pesan tersebut merasa menjadi lebih baik, lebih merasa agamis, hal itu akan menguasai mentalitas taqlid pesan dan menyesatkan pikiran.

Mengapa demikian? Pikiran seseorang itu mudah terbentuk dari proses penyerapan informasi yang bertubi-tubi meskipun tidak begitu disengaja. Justru ini yang lebih berbahaya. Ketika seseorang lebih suka membagi informasi itu, berarti dia sedang merekam pembenaran pesan tersebut dan membentuk cara berpikirnya.

Obyek bacaan lama kelamaan akan membentuk pandangan, sikap dan perilaku tertentu yang mengubah seseorang. Oleh karena itu, sangat relevan jika pengaruh pesan-pesan yang dibaca kemudian diteruskan (diforward) ke orang lain menunjukkan penerima telah menyepakati isi pesan, lama kelamaan akan mempolarisasi proses berpikir pembaca pada sebuah kebenaran yang tidak memiliki acuan jelas.

Hasil penelitian psikologi menemukan bacaan bergenre cerita pendek secara perlahan-lahan akan membentuk perubahan pandangan dan sikap terhadap orientasi seksual seseorang dan perilaku menyintai obyek sebuah sosok di dalam komik (Saputri, 2013;  Chusnawati, 2014). Penelitian ini membuktikan bahwa obyek bacaan lama kelamaan akan membentuk pandangan, sikap dan perilaku tertentu yang mengubah seseorang. Oleh karena itu, sangat relevan jika pengaruh pesan-pesan yang dibaca kemudian diteruskan (diforward) ke orang lain menunjukkan penerima telah menyepakati isi pesan, lama kelamaan akan mempolarisasi proses berpikir pembaca pada sebuah kebenaran yang tidak memiliki acuan jelas.

Lebih dekat sebagai pembohong

Realitas ini ternyata sudah menjadi pengalaman dan perimgatan yang didengungkan nabi. Nabi Muhammad mengingatkan kepada umat Muslim dan dapat diperluas kepada umat manusia bahwa barang siapa merima kabar berita dan langsung disebarluaskan, besar kemungkinan orang itu lebih dekat sebagai pembohong. Ini dapat disejajarkan dengan cara penyebaran informasi masyarakat digital yang lebih longgar forward pesan. Apalagi kalau ada pesan agama. Masyarakat beragama yang aktif bermedia sosial tanpa pikir panjang, forward saja. Toh ini ada dalilnya. Pasti isinya baik. Apalagi itung-itung ada pesan, jika Anda orang beragama maka menyebarkan pesan ini bagian dari ibadah. Wusโ€ฆ. langsung main forward.

Gejala ini juga menjangkiti di kalangan terdidik yang seharusnya bisa berpikir kritis, bahkan selevel profesor-pun kok yo iso-isone main forward ketika menerima pesan yang memihak dan bahaya, seperti memojokkan identitas agama. Padahal kalau dipikir-pikir mereka tidak sulit menulis ssndiri lalu dibagikan. Sik-sik, jangan-jangan hasrat ibadah kita menggebu-gebu, ingin segera mendapat pahala dan mumpung ada konten ibadah, langsung saja diforward, ringan, tidak perlu butuh berpikir, apalagi menulis konten yang lebih orisinil.

Bagaimana kok bisa. Padahal kalangan terdidik seharusnya lebih kritis dan otonom untuk memproduksi konten keagamaan atau konten sendiri yang dapat dibagikan ke masyarakat digital. Masyarakat digital menjadi instan dan gegabah tanpa mampu menyeleksi dan mengkaji orisinalitas pesan. Pesan yang terkadang dibumbui oleh dalil-dalil agama tetapi sebenarnya hanya menguatkan pesan tersembunyinya untuk menabur kebencian, keekslusifan dan keberpihakan yang buta. Inilah alasan mengapa Nabi kemudian memberikan penjelasan sebagai berikut,

(ุนู† ุฃุจู‰ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุต. ูƒูŽููŽู‰ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ูƒูŽุฐูุจู‹ุงโ€˜ ุฃู†ู’ ูŠูุญูŽุฏู‘ูุซูŽ ุจููƒูู„ู‘ู ู…ูŽุง ุณูŽู…ูุนูŽ (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…

Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar” (HR. Muslim).

Orang yang mudah membagikan pesan berarti dia taqlid konten. Sementara sumber dari konten jarang dilacak, dibandingkan, dinalar argumentasinya, dicerna arah pesannya dan dikaji berdasarkan sumber-sumber otentik lainnya. Seperti semacam orang ghibah (menggunjing, rasan-rasan), apa yang didengar langsung diurai tanpa menimbang bagaimana fakta-fakta lain dikumpulkan untuk menarik kesimpulan. Nah, mudahnya seseorang memforward pesan tanpa seleksi, itu berarti menunjukkan kelemahan daya nalar seseorang dan mudah terpengaruh. Pribadi yang mudah terpengaruh akan rentan dengan informasi yang sentimentil sehingga lebih gampang membagikan.

Situasi ghibah menggambarkan mengapa informasi yang kita perloleh cenderung lebih dekat dengan kebohongan.

Coba kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, ghibah mengondisikan seseorang lebih gayeng kalau mendapat berita hangat dan langsung tebar informasi sehingga akan menggelembung menjadi isu publik dan pesan utamanya sudah jauh tidak dikenali, apalagi dicari fakta-fakta yang melengkapinya. Situasi ghibah menggambarkan mengapa informasi yang kita perloleh cenderung lebih dekat dengan kebohongan.

Hadits tersebut mengingatkan bahwa setiap orang diharuskan untuk mengenali pesan terlebih dahulu, dan mengkaji maksud pesan utama tersebut. Jika pesan tersebut telah teruji maka barulah penerima pesan diperbolehkan menyampaikan ke orang lain jika memang diperlukan. Tetapi jika pesan itu tidak penting untuk publik, apalagi indikasi pesan itu menimbulkan berbagai kesalahan tafsir tanpa kemudian memberikan ruang konfirmasi dan dialog kritis, maka pesan tersebut sebaiknya diendapkan hanya untuk konsumsi pribadi atau diendapkan untuk menghindari munculnya berbagai kesalahpahaman publik.

Suka Forward, Selamanya Tak Dipercaya Menjadi Pemimpin

Orang yang suka menyampaikan setiap apa yang didengarnya justru pribadinya menjadi pribadi yang rentan, dan sangat bertentangan dengan modal kepemimpinan. Imam Malik menyampaikan di dalam Hadits Riwayat Muslim bahwa seseorang yang suka memviralkan atau membagikan setiap berita yang didengarnya, dia tidak akan bisa dipercaya menjadi seorang pemimpin. Tidak tanggung-tanggung, tidak percaya ini berlaku selama-lamanya. “Dari Ibnu Wahb: Imam Malik berkata kepadaku: Ketahuilah, sesungguhnya orang yang menyampaikan setiap berita yang dia dengar itu tidak diterima. Seseorang tidak bisa jadi pemimpin selamanya, jika dia suka menyampaikan setiap yang dia dengar (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya). Berdasarkan riwayat ini, seseorang akan ternodahi mentalitasnya ketika dia lebih suka memviralkan (memforwardkan) pesan yang tidak tahu sumbernya (Jluntrungnya). Mbok ya ho, minimal dicek keaslian pesan itu.

Nah, pelajaran ini memberikan peringatan bahwa cara kita membagikan pesan sangat terkait dengan kredibilitas seseorang.

Pernah lo, ada sebuah pesan yang viral dan bersumber dari seorang profesor ternama dari perguruan tinggi tertentu. Setelah dicek, seorang profesor tersebut tidak pernah membuat pesan berantai tersebut. Nah, pelajaran ini memberikan peringatan bahwa cara kita membagikan pesan sangat terkait dengan kredibilitas seseorang. Kita tentu perlu mungkin tabayyun (mengecek kebenaran pesan itu) sehingga setiap orang harus terlatih untuk menyaring setiap informasi yang ingin dibagikan (Lihat QS. Al-Hujurat, 6).

Sudahlah, berhenti memviralkan pesan, lebih-lebih kalangan terdidik. Lebih baik membuat pesan dari tulisan asli kita sehingga bisa menjadi bahan diskusi. Itu lebih baik dan mencerdaskan daripada diantara kita memviralkan pesan ke group WA lantas geger dan sentimentil pesan-pesan kita. Inilah yang menjadikan kita semakin rentan dan tidak teruji jiwa kepemimpinan dari setiap masyarakat digital.

Sebongkah Batu (2) Literasi Lintas Generasi

0

Menjadi guru pada anak sendiri berbeda dengan peran guru di sekolah. Hubungan yang semakin biasa antara anak dan orang tua kalau digeser ke peran seperti pengganti guru di rumah, terkadang orang tua menjadi kurang otoritatif. Jika dengan gurunya, otoritas guru mujarab mendisiplinkan anak karena konsekuensi sosial dan formal menjadikan anak lebih taat terhadap aturan. Bagaimana fleksibilitas hubungan orang tua anak itu kemudian menjadi orang tua laksana guru, atau mentor bagi anaknya sendiri? Sesulit apa, atau Iin Wahyuni ternyata mampu keluar dari fleksibiltas tersebut dengan memosisikan dirinya sebagai orang tua sekaligus coach bakat menulils anaknya. 

KampusDesa–Lalu dari mana asal-usulnya istilah ‘sebongkah batu’ itu sehingga menjadi topik dan jembatan dalam pendampingan belajar antara saya dan si bungsu? Saya perlu momentum yang tepat untuk masuk dalam zona kepentingannya tanpa membuatnya ‘merasa digurui dan dikecilkan.’ Saat dia butuh pencerahan tentang penggunaan istilah ‘sebongkah batu’ secara tepat dalam tulisannya, maka saya pun mengambil peluang ini untuk menjelaskan tentang METAFORA yang belum dipahaminya dengan baik. Sekalian mengulas porsi atensi yang dia butuhkan dan sepakati dari arahan saya agar rangkaian perhatian itu tidak dipahaminya sebagai tekanan dan gangguan orang dewasa terhadap privasinya.

Anak lebih mudah patuh pada gurunya untuk mengerjakan semua tugas, juga mematuhi aturan yang disepakati bersama.

Pertimbangannya secara psikologis sikap anak pada orang tua berbeda dengan sikapnya pada gurunya, begitu pun sebaliknya. Anak lebih mudah patuh pada gurunya untuk mengerjakan semua tugas, juga mematuhi aturan yang disepakati bersama. Setiap orangtua bawaannya merajuk dan menawar. Anehnya orangtua pun tidak kalah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa orangtua lebih mampu sabar saat mengajari anak orang lain dibandingkan anak sendiri.

Berhadapan dengan darah daging sendiri, rasa pengertian orangtua acapkali menggerut, tuntutannya yang meninggi! Tak heran saat anak belajar bersama ibu, bawaannya sering ribut dan maunya cepat selesai. Bagaimana dengan kami? Serupalah. Apalagi jika waktu atau moodnya tidak klik. Gantian protes, gantian marah.

Dalam menjelaskan peran dan tugasnya, orangtua perlu merangkulnya dulu sebagai sahabat. Sok menguasai dan membatasi hanya membuat anak jengah lalu mogok.

Proyek bersama anak-orangtua rawan molor alias tertunda bila tidak ada kesepakatan atau komitmen sejak awal. Anak perlu penjelasan yang gamblang, runut lagi masuk akal sebelum berhasil ditantang. Revisi dan masukan tidak diperkenankan menjadi kritik yang membentur egonya. Dalam menjelaskan peran dan tugasnya, orangtua perlu merangkulnya dulu sebagai sahabat. Sok menguasai dan membatasi hanya membuat anak jengah lalu mogok.

Sebentuk perhatian beragam nuansanya. Tergantung niatan, intensitas, fokus, ketersediaan waktu, semangat berbagi, mood pikiran, dan keadaan juga!
Ada yang intens, ada yang tipis-tipis. Ada fokus, ada yang sambil lalu. Ada yang menyediakan rentang waktu panjang ada yang singkat-singkat saja. Ada yang membawa misi belajar sambil bermain, ada yang sekedar mengisi waktu saja. Kadang dengan penuh kesabaran, sering pula mudah tersulut kemarahannya.

Berdasarkan penggambaran di atas, maka sebongkah batu bisa memiliki sekelompok frase sejenis tetapi berbeda intensitas makna, seperti berikut:

Sebongkah berlian
Segenggam batu
Sejumput kerikil
Seremah pasir

Dengan konteks pemahaman seperti ini, ternyata anak-anak lebih mudah memahami tentang NUANSA MAKNA tanpa harus menghafalkannya.

Seremah pasir, jika perhatian orangtua terhadap anak itu adalah sekedar menggugurkan kewajiban. ‘Say hello’ ringan tanpa sentuhan dan tatapan penuh kasih, langsung beralih fokus pada yang lain. Intensitasnya rendah.

Walau begitu, ternyata secara periodik anak pun butuh zona eksklusif pribadi.

“Aku hanya perlu seremah pasir deh Ma, kali ini!”

Warningnya saat dia ingin istirahat serta tidak ingin diganggu keasyikannya bermain. Tak mau tahu dengan definisi apa pun yang sudah disepakati. Untung saja kami telah merundingkan dengan matang jadwal atau agenda hariannya secara demokratis dan proporsional. Kala dia berpendapat, dia bisa mempertanggungjawabkan pilihannya.

Sejumput kerikil, jika orangtua sudah peduli tentang kabar, sekedar memberi ucapan sayang dan ngobrol sejenak. Namun topiknya nge-blurr. Garing-garing saja, karena kedua pihak yang sedang berinteraksi masih mencuri-curi waktu untuk ‘menengok’ subyek yang lain.

Segenggam batu, jika pada orangtua dan anak sudah muncul kebutuhan untuk saling bekerja sama dan melengkapi. Ada jalinan komunikasi, kesepahaman terhadap tujuan, pun keselarasan langkah. Visi-misi bersama menguat mengatasi segala tantangan di tengah jalan. Segenggam batu benar-benar akan bisa menjadi tembok rutinitas kebaikan yang sangat kuat! Sesekali wajar ada kesalahpahaman atau intonasi yang meninggi, namun semua itu hanyalah romantika kebersamaan. Dalam pengakuan orangtua sebagai guru pertama dan utama bagi anak.


Sebongkah berlian perhatian (bukan lagi batu), jika perhatian orangtua pada anaknya sampai pada level penghayatan yang sakral. Yaitu perhatian karena getaran cinta tanpa syarat tanpa pamrih. Sudah tidak lagi ditunggangi ambisi predikat, keuntungan materi maupun kebanggaan semu. Tidak kecewa jika perhatian itu tidak berbalas semestinya, atau hasilnya meleset jauh dari yang semestinya. Apalagi malu atas kegagalan-kegagalan yang terjadi. Ketulusan dari cinta yang berkilau seindah berlian. Dan secara alamiah berlian tidak akan terwujud tanpa dahsyatnya proses dan lamanya waktu.

Sebagai orangtua kita harus selalu belajar-berlatih agar saat mengajari atau membimbing anak tendensinya bukan agar anak kita tidak kalah dari si A atau si B. Senang jika kita bisa memamerkan kemampuan anak kita pada orang lain. Lalu marah dan kecewa berat saat anak kita gagal memenuhi harapan itu. Puas jika anak bisa meneruskan mewujudkan impian orangtua yang belum tercapai. Murka jika anak menolak atau memilih jalan sendiri.

Saat ego dikalahkan, kebijaksanaan pun terbit. Orangtua sepenuh hati mengasah potensi dan talenta anak-anaknya tanpa dibebani harapan mereka harus menjadi cerminan diri orangtuanya.

Saat ego dikalahkan, kebijaksanaan pun terbit. Orangtua sepenuh hati mengasah potensi dan talenta anak-anaknya tanpa dibebani harapan mereka harus menjadi cerminan diri orangtuanya. Indah saat orangtua mendampingi tumbuh-kembang anak-anaknya seprofesional seorang guru terhadap murid-muridnya. Saat berkomunikasi dengan anak-anaknya sefokus dan sesemangat pegawai kepada teman sejawatnya, atau bahkan atasannya. Jika kerja kerasnya belum menunjukkan hasil atau malah mengindikasikan hal sebaliknya, orangtua tidak akan marah atau berputus asa. Karena orangtua paham hanya Allah yang bisa memutuskan dan memberi hidayah.

Semoga kebersamaan yang berkualitas dan intens dengan anak-anaknya justru selalu menginspirasi dan meneguhkan semangat orangtua sebagai pembawa estafet nilai moral dan peradaban bagi generasi mendatang. Saat memberi totalitas perhatian justru menjadi kebutuhan bagi orangtua itu sendiri! Mengalahkan capek, bokek, sibuk, sakit serta sejuta alasan lainnya. Bak intan mengasah intan. Itulah harga dan pengorbanan untuk merubah seonggok arang menjadi sebongkah berlian. Siapa tahu melalui ketulusan yang bersahaja itu visi mulia orangtua malah terbingkai abadi dalam harapan anak-anaknyaโ€ฆ

Salam TintaMulia, Literasi Lintas Generasi

CAK: Antara Penghormatan dan Tradisi

0

Seringkali kita mengabaikan panggilan untuk orang yang lebih tua dengan menyebut namanya secara langsung. Bagi sebagian orang mungkin adalah hal yang biasa. Namun bagi sebagian yang lain, hal ini tentu dianggap ‘tidak sopan’. Apalagi di lingkungan pesantren, khususnya di Jawa. Panggilan ‘cak’ menjadi sebuah penghormatan bagi seorang adik kepada kakaknya. Selain sebagai penghormatan, panggilan ini sudah menjadi tradisi di kalangan santri.

KampusDesa–Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Berawal dari adanya Zawiyah yang diadakan oleh para ulama Sufi kemudian berkembang menjadi tempat pendidikan bagi para murid atau santri yang ingin menimba ilmu. Pada tahap perkembangan berikutnya, pesantren terus bermunculan di seluruh wilayah Indonesia dan tidak selalu didirikan oleh ulama tasawuf. Sampai sekarang keberadaan pesantren sudah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan yang ada di Indonesia.

Secara umum pesantren merupakan lembaga pendidikan “Tafaqquh Fiddin” atau lembaga pendidikan agama Islam. Di pesantren diajarkan berbagai fun atau cabang ilmu keislaman baik menyangkut aqidah, ibadah maupun muamalah. Termasuk diajarkan pula pengembangan bahasa, utamanya bahasa Arab. Disamping itu, yang tidak kalah penting adalah pengajaran dan pengembangan akhlak atau tata krama.

Pengembangan akhlak atau moral di pesantren sejauh ini banyak yang menilai lebih berhasil dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang lain. Hal ini dikarenakan pendidikan moral atau tata krama di pesantren tidak sekedar diajarkan, melainkan langsung dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan moralitas itu langsung bisa diketahui dan dijalani langsung oleh para santri. Apalagi peri kehidupan moral di pesantren langsung diteladankan oleh para kyai, ustadz, pengurus pesantren dan santri senior sebab semuanya hidup bersama selama 24 jam dalam satu lingkungan. Dengan demikian, santri sekalipun santri baru bisa langsung mengetahui bagaimana moralitas seorang santri kepada santri senior, kepada para ustadz, pengurus dan juga para kyai.

Salah satu tradisi menarik penanaman moral di pesantren, utamanya di Jawa adalah penggunaan panggilan “Cak” untuk para santri pria. Setiap menyapa teman, utamanya untuk teman santri yang lebih tua, selalu diawali dengan kata “Cak”. Para pengurus dan ustadz pun memanggil santri dengan panggilan cak.  Panggilan kepada teman yang tidak kenal pun cukup menggunakan kata Cak. Bahkan, para kyai pun memanggil santri juga tidak langsung memanggil namanya namun didahului dengan kata Cak.

“Cak”, dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata “Kakak”. Kata Cak berasal dari kata “Cacak” yang artinya kakak, yaitu saudara kandung yang lebih tua. Namun demikian, di pesantren kata Cak digunakan untuk panggilan kepada siapa saja, termasuk kepada teman yang usianya masih lebih muda.

Panggilan cak mengandung tiga makna, yakni sebagai bentuk penghormatan, menjalin keakraban, dan keteladanan dari orang yang terhormat.

Dari tradisi panggilan tersebut, jika kita cermati, ada beberapa makna yang terkandung di dalamnya yang patut untuk kita hayati sehingga bisa kita budayakan di lingkungan luar pesantren. Diantaranya mengandung makna:

Pertama, bentuk penghormatan.

Sudah menjadi pengetahuan setiap insan bahwa seseorang harus menghormati orang lain yang lebih tua. Penghormatan itu meliputi ucapan, sikap dan perbuatan. Jika ucapan, sikap dan perbuatan seseorang kepada orang yang lebih tua tidak sesuai maka seseorang itu bisa dikatakan sebagai orang yang tidak sopan. Diantara ucapan yang juga harus dijaga sebagai wujud penghormatan kepada orang yang lebih tua adalah dalam hal panggilan. Dalam budaya Jawa panggilan tidak boleh “jambal” atau tidak sopan misalnya dengan langsung panggil nama. Namun bisa menggunakan kata cak atau kang. Dalam tradisi pesantren,  penggunaan kata cak sebagai panggilan merupakan wujud rasa hormat kepada orang lain sekalipun bukan kakak kandungnya. Dengan pembiasaan sehari-hari tidak jambal,  diharapkan semua santri juga melakukan hal yang sama untuk menghormati sesama santri, utamanya yang lebih tua, setiap memanggil menggunakan kata Cak. Dengan demikian, setiap bertemu siapa saja santri tidak akan memanggil dengan panggilan “jambal”.

Kedua, menjalin keakraban.

Dibalik penghormatan, panggilan cak juga merupakan sarana menjalin keakraban diantara sesama santri. Walaupun sesama santri tiada saling kenal, apalagi di pesantren yang jumlah santrinya banyak,  ribuan atau puluhan ribu, panggilan cak merupakan panggilan akrab. Dengan panggilan cak akan terasa bahwa mereka satu nasib dan seperjuangan dalam pesantren. Dengan demikian seakan tiada sekat dan batas antara santri yang satu dengan lainnya.

Ketiga, keteladanan dari orang terhormat.

Santri senior, para ustadz dan pengurus pesantren serta kyai adalah orang yang dianggap terhormat di lingkungan pesantren.

Dalam tradisi pesantren, biasanya para ustadz, pengurus pondok dan juga kyai memanggil santri dengan panggilan cak ini mengandung makna keteladanan bagaimana menghormati orang lain,  bahkan kepada orang yang lebih muda. Dengan keteladanan ini diharapkan santri akan berfikir, orang yang lebih tua dan terhormat saja memanggil dengan panggilan yang sopan dan menghormati (tidak jambal) kepada yang usianya lebih muda, apalagi orang yang lebih muda harus lebih sopan dan hormat lagi kepada yang lebih tua, terlebih kepada para ustadz dan kyai.

Di tengah-tengah kondisi moralitas bangsa yang semakin memprihatinkan karena tata krama dalam kehidupan sehari-hari seakan semakin keropos, maka pembiasaan panggilan yang tidak jambal “cak” bisa menjadi alternatif penanaman karakter yang baik. Berawal dari pembiasaan sederhana ini, diharapkan lambat laun bisa meningkat kepada karakter baik selanjutnya. Wallahu a’lam bisshowab.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Sebongkah Batu (1) Seri Literasi Lintas Generasi

0

Mendampingi anak hingga memunculkan talenta membutuhkan sudut pandang. Tidak sekedar mencekoki dan memaksa mereka bersekolah atau dikursuskan di sana sini. Sudut pandang ini adalah cara membuat mindset tentang mengasuh bakat anak. Sebongkah batu kemudian menjadi mindset bagaimana sudut pandang anak dihujamkan sebagai cara pandang mendampingi bakat anak.

KampusDesa–Apakah satuan ukuran perhatian untuk anak-anak kita? Tidak mungkin kilogram, meter atau liter. Bagaimana kalau ‘sebongkah?’ Contoh kalimat: Anak-anak memerlukan sebongkah perhatian dari orangtuanya.

Lalu hati-pun tergelitik untuk mengejar dengan pertanyaan: sebanding dengan sebongkah tanah, sebongkah kayu ataukah sebongkah batu? Atau suruh saja Ananda memilih maunya yang mana.

Diskusi seperti ini bagus untuk kecerdasan berbahasa anak. Kita asah nilai rasa berbahasanya. Pengalaman sebongkah batu ini saya refleksikan melalui proses melek literasi pada anak bungsu saya.

Baca tulisan si bungsu di sini :

Harapan yang Dituliskan, Bisa Menjadi Kenyataan Meski Seolah Tidak Mungkin

Bukan lagi anak usia PAUD yang masih harus berlatih menggandeng huruf, si bungsu saya yang beranjak remaja malah harus diet kata. Kalau diminta menulis karangan sebanyak 3 halaman A4, dia bisa bablas 8 halaman. Tetapi hasilnya masih butuh editing sehingga belum siap diunggah betul.

Tantangan editingnya ada pada pilihan diksi, hubungan antar frase, rasionalitas gagasan, serta apalagi kalau bukan soal tata bahasa dan penulisan. Saya masih ingat awal dulu, saya memang lebih konsen untuk mengasah imajinasi dan menyuburkan mata air inspirasinya dibandingkan struktur berbahasanya.

Saya khawatir kreatifitasnya jadi mandul kalau saya terlalu memberatinya dengan tetek-bengek aturan penulisan.

Saya khawatir kreatifitasnya jadi mandul kalau saya terlalu memberatinya dengan tetek-bengek aturan penulisan. Ngeri juga kalau sebentar-sebentar harus menginterupsi celotehannya hanya agar ucapannya sesuai EYD. Ketika sekarang dia telah terbiasa mengalirkan gagasannya secara mandiri, barulah saya harus maju sebagai editor pertamanya. Harus mau direcoki, melawan kejenuhan, serta bertahan hingga karyanya tuntas dari koreksi yang diperlukan.

Untuk kasus pendampingan pembelajaran seperti inilah ‘sebongkah batu’ sebagai perumpamaan istilah ‘totalitas perhatian’ yang saya jadikan bahan diskusi bersama dia, pun dengan para pembaca tulisan ini. Ya, siapapun yang menerima perhatian pasti menginginkan bentuk perhatian itu ‘solid dan bulat seperti batu.’ Bukan berhamburan seperti tanah atau lebih rapuh semacam kayu. Sepakat?

Salam TintaMulia

Sihir MOBA, Melemahkan Literasi Pemuda Tak Sehebat Bung Karno

0

Seperti narasi yang cantik, pemuda adalah main-idea dari sebuah alur cerita yang kita sebut negara. Tanpanya, sebuah bangsa tidak akan berawal dan juga tidak akan berakhir, begitu kira kira pentingnya kiprah pemuda. Saat ini, idealisme pemuda seperti itu nampaknya samar samar, sebab main bareng party untuk nge-push rank lebih asyik bagi mereka. Tak sadarkah kah mereka bagaimana founding fathers bangsa ini memperjuangkan kemerdekaan?

KampusDesa–Mari kita flash-back sejenak ke masa lalu, kenangan itu ada bukan untuk digalaui tapi dicari ada pesan apa dibalik hijrahnya sang waktu. Saya terinspirasi oleh dua tokoh pemuda Legenda bangsa. Dahulu ada seorang Raja Jawa yang tak bermahkota, ialah H.O.S Tjokroaminoto. Beliau adalah tokoh pergerakan sarekat Islam terbesar kala itu. Salah satu Muridnya yang terkemuka adalah Sukarno, anak dari seorang guru. Sangat enerjik! sukarno tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Dia bergelut dengan buku dan aktif menulis di surat kabar Oetoesan Hindia, soft skill lainnya dia belajar berorasi. H.O.S Tjokroaminoto berpesan kepada Bung Karno Muda, jika ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.

Jika ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.

Tahun demi tahun Sukarno belajar, jalan yang panjang tak membuatnya kehilangan arah untuk mencapai garis akhir yang ia cita-citakan, tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno mendeklarasikan Kemerdekaan Indonesia di mata dunia.

Seorang pemuda yang ingin memerdekakan bangsanya tidak akan jauh dari aktivitas membaca, menulis dan memunculkan Kharisma dari setiap kata yang diucapkan.

Mari kita cermati, rangkuman dari sejarah di atas adalah gambaran bahwa seorang pemuda yang ingin memerdekakan bangsanya tidak akan jauh dari aktivitas membaca, menulis dan memunculkan kharisma dari setiap kata yang diucapkan. Setelah 74 tahun, hari-hari seperti itu di tahun melenium ini seakan tergerus oleh hiburan dan fasilitas digital yang bebas. Bahkan mampu menyihir banyak orang tersihir. Bagaimana segelincir mahasiswa mengabdikan dirinya untuk dunia yang tak nyata, dari Fomophobia sampai game-multi player-online battle arena (MOBA) yang terinstal di smartphone mereka.

Hidup jauh dari orang tua merupakan kebebasan yang hakiki bagi sebagian pelajar yang kuliah di luar kota. Tidak ada yang sulit untuk beradaptasi dikota orang, asal kiriman lancar maka tak perlu ada yang ditakutkan. Ini tentang integritas, katanya mereka rela meninggalkan tanah kelahiran demi cita-cita, ingin tepat waktu menyandang gelar sarjana perguruan tinggi sambil foto berpose dua jari, mulia sekali. Tapi coba tengok aktivitas sehari-hari, seluruh waktu dihabiskan sambil tengkurap menghadap ke pojok tembok, segala daya upaya fokus terhadap apa yang ada di layar kaca. Content creator sampai berkata โ€œtangio lur, turumu mirengโ€!

Dalam perkuliahan, khususnya para veteran kampus memiliki waktu kuliah mungkin 2-3 jam saja perhari. Sisanya, 21 jam digunakan tanpa karuan untuk game online, pacaran, youtuban, bahkan nonton film full 24 episode. Beda zaman beda keadaan. Mungkin tempo dulu teknologi tidak seperti sekarang, pasti sebagian besar waktu mahasiswa digunakan untuk membaca dan bekerja, mungkin jika ada pemborosan waktu di zaman itu, paling-paling hanya sebatas merokok dan ngopi, itupun jika ada recehan satu rupiah.

Tapi saat ini sudah berbeda,yang paling digandrungi oleh sebagian mahasiswa adalah game, bisa mobile legend, POBG dan aktivitas streaming lainnya. Silahkan anda cek di wilayah kampus, di pinggir jalan atau di dalam cafe, anda akan mendapati gerombolan remaja duduk berhadap hadapan,salah satu dengkul kaki diangkat, kedua tangan memegang smartphone, kepala mereka tertunduk mejadikan mereka generasi menunduk, terhipnotis oleh sihir kecanggihan internet. Mulai dari charge hp, power bank, rokok dan kopi ijo pait sudah siap diatas meja. Tidak cukup hanya di situ, jika rokok habis tinggal beli lagi, kalau lapar tinggal pesan Go-Food, isi dompet merah dan biru milik mereka sungguh melenakan pemborosan waktu yang nikmat.

Sihir MOBA membuat pemuda saat ini menjadi generasi menunduk, mereka meringkas kehidupan dunia yang kompleks kedalam dunia permainan. Setiap mereka memenangkan point, sebenarnya mereka sedang kalah. Jutaan pemuda dunia sedang berprogres tetapi mereka asyik winner chicken dinner tak menghasilkan apa apa.

Membaca buku buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik pula.(buya hamka)

Game bisa digunakan sebagai sarana menghilangkan kejenuhan, tapi kita jangan terlalu sering bersembunyi dibalik argumen seperti itu. Cobalah membudidayakan merilekskan diri dengan membaca, tak harus bacaan yang menuntut konsentrasi tinggi. Cukup pilih bacaan yang sesuai selera namun tetap informatif. Karena membaca buku buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik pula (Buya Hamka).

Bagi saya game sih boleh saja, tapi kita harus sadar apa dan bagaimana prioritas seorang pelajar yang sesungguhnya. Sejatinya posisi pencari ilmu itu sangat dekat dengan buku, beradu argumen, mentradisikan literasi, menulis sebagai metode mengaktifkan imajinasi, berfikir kritis serta melahirkan akal sehat untuk menghadapi tantangan zaman. Mari berbenah, bentengi diri dari sihir MOBA dan selamat berprogres!

Mentalitas Orang Desa, Dukun Sebagai Penyebab Konflik

0

Percaya terhadap dukun untuk menyembuhkan penyakit masih menjadi sebuah pilihan bagi sebagian orang desa. Dengan hanya menerka-nerka, sang dukun mencoba untuk mencari tahu apa penyebab dari sakit yang diderita sang pasien. Alih-alih mendapatkan kesembuhan, terkadang hal ini justru menimbulkan berbagai prasangka yang kian menghantui. Jika prasangka yang mengerucut itu benar, mungkin bisa diselesaikan dengan baik-baik. Namun jika prasangka itu salah, siapa yang mau tanggung jawab?

KampusDesa–Alkisah, di sebuah dusun di salah satu desa ada orang sakit. Sakitnya memang sulit terdeteksi. Memang mendeteksi sakit itu mudah? Apalagi penyakit yang menyerang organ dalam. Sudah dibawa ke Rumah Sakit, dengan pertimbangan kemampuan keuangan tentunya, tidak juga memberikan tanda kesembuhan. Membawa ke dukun merupakan pilihan kedua, tentunya karena masyarakat yang masih memegang persepsi kuno ini memang menganggap dukun adalah solusi.

Bahkan ketika sakit awal-awal, juga sudah dimintakan “sababiyah” ke dukun. Tidak sembuh. Hanya dikasih kertas berisi huruf “kluwer-kluwer” di mana, kata dukunnya, kertas ini disuruh naruh di bawah bantal tempat tidur. Juga dikasih gula yang katanya sudah dikasih doโ€™a dan mantra, lalu sesampai di rumah disuruh meminumkan si sakit.

Sudah empat bulan ternyata sakit tidak kunjung sembuh. Akhirnya sudah empat dukun yang didatangi. Celakanya, dari keempat dukun, diagnosanya berbeda-beda. Sebenarnya bukan diagnosa, karena istilah “diagnosa” adalah istilah untuk menggambarkan tindakan menganalisa penyakit dengan metode ilmiah. Mulut keempat dukun, saya yakin, hanya asal “njeplak”.

Dukun satu bilang, katanya tanah yang ditempati rumah si sakit itu tanah yang jelek, yang kalau ditempati untuk rumah maka penghuninya akan sengsara, jauh dari rejeki, dan mungkin juga sakit-sakitan. Padahal, dukunnya sendiri yang tempatnya jauh dari rumah keluarga yang sakit juga tidak pernah tahu tanah yang dimaksud.

Dukun kedua tidak bilang apa-apa. Ia tipe dukun yang agak menjauhi analisa spekulatif. Dia hanya memberikan mantra dan garam yang sudah “dijapani,” lalu menyarankan agar si sakit sering diberi minuman dari Kunyit dan Madu. Sebelum pihak keluarga pulang, ia juga menyarankan agar sering ada yang ngaji dan baca Surat Yasin di rumah itu.

Dukun ketiga memberikan solusi yang agak unik. Ia menyuruh agar rumah penghuni yang sakit ditebari bunga tujuh rupa. Terus si punya rumah bikin Genduren “sambung tuwuh”, nyajikan “sekul suci ulam sari” dan “ubo rampe” layaknya orang Jawa. Tentunya ia juga memberi gula yang sudah dikasih doโ€™a di kamar kecil tempat ia praktik.

Yang paling parah adalah dukun keempat. Entah bagaimana ia bisa mengatakan bahwa penyebab sakit itu karena “digawe uwong” alias disebabkan oleh orang lain yang tidak suka alias benci. Bagaimana cara membuatnya sakit? Sudahlah, orang-orang sudah tahu soal mistik. Bagaimana mistik bekerja? Ya tidak tahu, tidak bisa menjelaskan.

Makanya, dengan gampangnya si dukun keempat ini memvonis bahwa sakit yang tidak sembuh itu dibuat oleh tetangganya. Tetangga yang mana? Kan banyak? Ada ratusan orang yang hidup di kampung si sakit. Dukun ngawur itu sok ngasih “Klu” alias kunci jawaban: “Yang menyebabkan kamu sakit ini adalah tetanggamu, rumahnya menghadap ke utara!”

Coba ditanya, siapa yang dimaksud? Kenapa hanya dikasih tahu bahwa yang dimaksud adalah yang rumahnya menghadap ke utara. Di sinilah, si keluarga pasien yang datang ke dukun itu pulang dengan pertanyaan (tebakan). Dia pulang membawa tebakan bersama keluarganya, mulai  berimajinasi bersama mencari siapa kira-kira orang yang telah berbuat jahat kepada keluarganya hingga anggota keluarganya sakit parah.

Dukun keempat inilah yang telah menjadi penyebab munculnya rasa benci yang dicari-carikan alamat untuk menumpahkan kebencian. Prasangka-prasangka berkembang. Akhirnya, prasangka langsung mengerucut pada satu orang. Dengan kasak-kusuk ia mulai menyebarkan isu bahwa keluarganya dijahati oleh orang yang sudah diidentifikasi itu.

Tradisi barbar, kuno, tua, ini menjadi fenomena masyarakat kita. Menilai tanpa bukti dan data. Mengembangkan asumsi untuk menghibur dari rasa susah karena penderitaan yang tak tertangani. Bahkan mencari musuh untuk membangun solidaritas keluarga yang sedang mengalami derita hanya dari dasar prasangka dan masukan dukun bejat. Dukun yang hanya ala kadarnya menilai tanpa bukti.

Ini sebenarnya satu kebiasaan buruk yang tanpa kita sadari menjadi karakter masyarakat kita, mungkin juga masyarakat Jawa yang barangkali peradabannya menjadi โ€œmengsleโ€ entah karena apa. Karena gerak historis yang cacat dari bentukan sejarah yang panjang akibat penindasan elit feodal dan dominasi ideologi mistiknya, atau karena penindasan imperialisme yang merusak karakter dan mental.

Dukun adalah orang yang eksis karena dipandang punya otoritas, tapi otoritas yang dimilikinya sama sekali lahir bukan dari kemampuannya memberikan rekomendasi-rekomendasi ilmiah

Kita harus hati-hati hidup di masyarakat yang penuh penilaian tidak objektif, kadang banyak gosip, dan seringkali tidak suka akan kejelasan dan kepastian atau yang suka mencari solusi dari spekulasi ngawur. Dukun adalah orang yang eksis karena dipandang punya otoritas, tapi otoritas yang dimilikinya sama sekali lahir bukan dari kemampuannya memberikan rekomendasi-rekomendasi ilmiah. Justru ia adalah orang-orang yang merusak peradaban dengan membuat dirinya dipuja oleh orang-orang yang punya masalah dan tidak bisa berpikir ilmiah.

Bahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ilmiah saja, soal di sekolah (ilmu pengetahuan), banyak orang yang pergi ke dukun. Si orangtua yang anaknya mau tes ujian nasional pergi ke dukun agar anaknya bisa mengerjakan soal ujian. Lucunya lagi, anaknya yang nakal juga dibawa ke dukun. Padahal anak nakal itu ya karena si orangtua tidak bisa mendidik dan lingkungannya tidak kondusif bagi perkembangan anak.

Kita tidak perlu takut. Yang perlu kita lakukan hati-hati dalam menjalani hidup dalam masyarakat sejenis ini. Karena bisa jadi, salah ucap atau salah bertindak, kita bisa disebut sebagai orang yang menjadi penyebab sakit atau penderitaan tetanggamu karena kamu juga dikira mendatangi dukun dan minta dukun itu untuk membuat derita bagi orang lain.

Subuh hari di Kaki Gunung Jabung, 12 Januari 2019

Haruskah Kakak Menjadi Role Model Adiknya ?

0

Sebagai orang yang terlahir lebih dulu memang akan terdapat banyak tanggung jawab yang harus dilakukannya bahkan semenjak ia masih anak-anak. Memiliki tugas mengasuh yang lebih muda dan mendapat kepercayaan untuk menggantikan dalam hal mengasuh adik ketika orangtua tidak ada. Perubahan perilaku orang tua pada seorang kakak yang pada dasarnya juga belum siap untuk menerima tangggung jawab baru inilah yang secara tidak langung sering dianggap beban oleh kakak.

kampus desa —ย Kenapa menjadi yang lebih tua itu adalah beban? kenapa kalau menjadi kakak pasti ada tuntutan? dan kenapa menjadi yang lebih tua itu adalah panutan?. Dalam hati kecil seorang kakak pasti pernah mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan ini.

Menjadi seorang kakak adalah beban bagi sebagian besar orang. kenapa beban? karena menjadi kakak banyak yang harus dilebih-lebihkan dari seorang adik. Meskipun hanya tarpaut beda umur tidak lebih dari satu tahun, โ€œadalah beban ketika seorang kakak dituntut harus lebih paham, lebih mengerti dan lebih segalanya dari adiknya. adalah beban ketika semua masalah adik adalah kakak yang menanggungโ€.

Sebagian orang tua memang bersikap demikian, kakak adalah panutan adik, dan adik harus mencontoh seorang kakak.

Yang sering kita lihat atau bahkan alami sendiri, ketika ada kakak adik bertengkar di rumah yang kena marah pertama adalah kakak, padahal adik yang menggoda. Ketika adik menangis saat bermain, yang tertuduh adalah kakak, meskipun bukan kakak yang membuatnya menangis. Sebagian orang tua memang bersikap demikian, mereka menanamkan bahwa kakak adalah panutan adik, dan adik harus mencontoh seorang kakak.

Bagi seorang kakak, kehadiran seorang adik saja sudah merupakan pengalaman yang dapat menjadi krisis berat baginya, karena ia harus rela untuk merelakan kasih sayang dan perhatian yang terbagi kepada adik. Karena inilah kehadiran adik menjadi pemicu peberontakan yang dilakukan oleh kakak.

kalau kalian juga seorang kakak, akankah kalian juga pernah mengalami hal ini?  di salahkan ketika ada pekerjaan yang tidak sesuai, kena marah kalau adik terluka atau dihukum ibu ketika tidak dapat mengajarkan adik untuk melakukan sesuatu dengan baik.

โ€œYang lebih tua harus bisa memberikan contoh yang baik bagi adiknyaโ€ (kata-kata ini seakan menjadi pedoman yang harus dipegang dan dilaksanakan secara paksa oleh para kakak), Kodratnya memang begitu. Anak akan mendapatkan perannya di rumah sesuai dengan urutan dalam posisi atau berdasarkan jenis kelaminnya. Hal ini akan menjadi baik ketika peran seorang anak di dalam sebuah keluarga sesuai dengan kemampuan dan keputusan bersama, namun akan menjadi sebuah masalah jika peran yang di dapatkan oleh anak benar-benar tidak diinginkan oleh anak. Lebih tepatnya memaksa anak untuk berperan, dan kebanyakan, paksaan ini terbebankan pada yang lebih tua.

Bisa jadi perilaku-perilaku yang seharusnya tidak muncul akan muncul jauh lebih parah di luar keiginan orangtua. Tuntutan-tuntutan yang semakin besar pada seorang kakak untuk selalu memberikan yang terbaik pada adiknya akan terbaikan begitu saja, di ganti dengan perilaku pemberontakan yang semakin menjadi-jadi.

Orang tua selalu menanamkan harapan anak yang lebih tua menjadi role model bagi anak yang lebih muda. Namun, ketika harapan ini tidak di dukung baik oleh orang tua, maka yang terjadi adalah hubungan saudara yang menjadi buruk dan tidak nyaman.

Orang tua selalu menanamkan harapan anak yang lebih tua menjadi role model bagi anak yang lebih muda. Namun, ketika harapan ini tidak di dukung baik oleh orang tua, maka yang terjadi adalah hubungan saudara yang menjadi buruk dan tidak nyaman.

Kita mengenalnya sebagai sibling rivalry, yaitu suatu sikap kompetisi, kecemburuan dan kebencian antara saudara kandung yang sering kali muncul saat hadirnya saudara yang lebih muda (Shaffer, 2002). Kecemburuan karena Ibu akan selalu membela adik dan menyalahkan kakak ketika mereka bertengkar, ibu akan memberikan lebih banyak waktuya pada adik dibandingkan pada kakak, inilah yang membuat kakak merasa tersaingi dalam hal pemberian kasih sayang.

Baca juga:

Kakak-Adik, Kok Ribut Terus? Tips Menghadapi Konflik Saudara Kandung

sibling rivalry ini akan menjadi semakin buruk ketika sikap orangtua yang kurang mengendalikan peran diantara saudara kandung pada anak-anaknya. Bisa jadi rasa benci, cemburunya akan merubahnya menjadi sikap yang nakal, mengejek adik, bertengkar dan sering menggangu adik. Namun, ketika hubungan antara saudara kandung ini mendapat arahan yang baik dan positif yaitu sikap orangtua yang mampu untuk memberikan batasan sikap antara kakak dengan adik ini akan membantu seorang kakak maupun adik dalam kemampuannya menyelesaikan konflik  dan masalah sosial dengan baik, relasi pertemanannya yang baik dan perasaan akan harga diri yang tinggi.

Tidak menjadi sebuah beban bagi kakak ketika dia diajarkan untuk bertanggung jawab yang baik pada adiknya, namun problem buruk akan bermunculan ketika kakak tidak mendapatkan arahan dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai kakak, yang pada dasarnya dia sendiri juga belum mampu mengarahkan sikapnya sendiri.

Tidak menjadi sebuah beban bagi kakak ketika dia di ajarkan untuk bertanggung jawab yang baik pada adiknya, namun problem buruk akan bermunculan ketika kakak tidak mendapatkan arahan dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai kakak, yang pada dasarnya dia sendiri juga belum mampu mengarahkan sikapnya sendiri. Seorang kakak harus mulai belajar menerima ketika semua tuntutan terbebankan padanya karena memang seseorang akan selalu dijadikan contoh karena dia telah mengalami masa yang belum dialami oleh yang lebih muda, sehingga ini yang menyebabkan persepsi yang tua harus lebih paham dan mengerti dari yang muda.

Baca Juga :

Orang Tua, Role Model Utama Bagi Anak

Kakak juga telah mengalami masa perkembangan baik secara fisik, kognitif maupun psikomotor yang lebih dahulu dibandingkan dengan seorang adik, sehingga inilah anggapan kakak harus menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya.