Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 64

Sejarah Nasional Indonesia: Keterlibatan Kecamatan Panggul sebagai Wilayah Wengker Kidul

0

Indonesia mempunyai segudang sejarah yang tidak akan ada habisnya jika ingin menelisiknya. Salah satunya adalah kebudayaan yang menjadi bagian dari sejarah Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Ada tiga unsur kebudayaan yaitu sistem teknologi, sistem mata pencaharian, dan sistem religi untuk menjelaskan keterkaitan temuan artefak manusia zaman dahulu di Kecamatan Panggul yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul masa kini. Jika dipelajari lebih dalam, sejarah perkembangan kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul dapat dikatakan sebagai kehidupan masyarakat kompleks.

KampusDesa–Kecamatan Panggul merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Trenggalek dengan wilayah terluas dibanding kecamatan lain. Memiliki 17 desa, secara geografis-astronomis berada di garis 8,2490 LS dan 111,4546 BT dengan ketinggian 13 mdpl (BPS, 2013). Menurut data BPS Kabupaten Trenggalek tahun 2013, jumlah penduduk Kecamatan Panggul terhitung sebanyak 82.329 jiwa. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan yang terkenal dengan Goa zaman Pra-Aksaranya, sehingga menurut buku Sejarah Trenggalek, Kecamatan Panggul pernah dilalui oleh Manusia Pacitan ketika bermigrasi ke Wajak Tulungagung.

Gambaran sosial-ekonomi masyarakat Kecamatan Panggul, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Letak geografis memang memiliki pengaruh yang sangat signifikan dengan mata pencaharian suatu masyarakat yang menempati daerah tersebut. Lahan pertanian dan keberadaan Samudra Hindia menjadikan Kecamatan Panggul sebagai daerah agraris sekaligus maritim. Layaknya konsep kehidupan masyarakat Kerajaan Majapahit, keberadaan Pasar Panggul menjadi pusat kegiatan sosial-ekonomi masyarakat. Tentu saja hal ini berawal dari pasar, hasil pertanian dan perikanan dapat diperjual-belikan.

Manusia menghasilkan kebudayaan dengan tujuan untuk mempermudah sekaligus sebagai pembatas antara tindakan yang boleh atau yang tidak boleh dilakukan.

Menurut ilmu Antropologi dalam Koentjaraningrat (2002) mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Maka tidak heran mengapa ada istilah “Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna,” karena semua wujud tindakannya, yang kemudian menjadi kebiasaan, dan diwariskan secara turun-temurun, hanya bisa dihasilkan oleh manusia melalui prosesnya yaitu belajar dan berpikir. Manusia menghasilkan kebudayaan dengan tujuan untuk mempermudah sekaligus sebagai pembatas antara tindakan yang boleh atau yang tidak boleh dilakukan.

Ilmu Antropologi membagi kebudayaan dalam beberapa unsur sekaligus sebagai inti pembangun terciptanya suatu gagasan, sehingga dapat disebut sebagai hasil kebudayaan yaitu budaya suatu bangsa. Menurut ilmu Antropologi, terdapat tujuh unsur kebudayaan, di antaranya bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Namun dalam tulisan ini, hanya akan diambil tiga unsur kebudayaan, yaitu sistem teknologi, sistem mata pencaharian, dan sistem religi untuk menjelaskan keterkaitan temuan artefak manusia zaman dahulu di Kecamatan Panggul yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul masa kini.

Teknologi yang ditemukan di Desa Gayam, Kecamatan Panggul adalah alat-alat yang terbuat dari tanah atau gerabah, batu, keramik China, dan uang logam. Alat dari tanah atau gerabah yang ditemukan sebagian besar dalam bentuk pecahan-pecahan sehingga belum dapat direkonstruksi bentuk dan fungsi dari alat tersebut. Selain gerabah, juga ditemukan keramik China dengan bentuk masih utuh, bentuknya mirip mangkok makan, dan salah satunya terdapat lukisan ikan Koi, yang melambangnya keselarasan hidup dalam filosofi China.

Salah satu gerabah yang ditemukan dalam keadaan utuh

Alat-alat yang digunakan oleh suatu masyarakat yang mendiami suatu daerah disesuaikan dengan sistem mata pencahariannya. Berdasarkan penemuan di Desa Gayam, Kecamatan Panggul, dapat disimpulkan bahwa mata pencaharian masyarakatnya adalah petani. Hal ini sesuai dengan ditemukannya Pundhen, yang disebut dengan Pundhen Mbah Gambang yang hingga saat ini masih diberi sesaji pada saat akan melakukan penanaman padi atau setiap malam Rabu Legi dalam pasaran Jawa. Benda yang ditemukan, sebagian besar berasal dari area persawahan masyarakat. Selain hubungannya dengan Pundhen tersebut, penemuan lain yang tidak dapat dipindahkan dapat ditemui di area persawahan yaitu Watu Lumpang dan Sumur Gerabah.

Keramik China dengan lukisan ikan Koi, simbol keselarasan hidup dalam filosofi China

Sebelum mengenal agama, masyarakat Indonesia sudah mengenal sistem kepercayaan. Animisme dan Dinamisme menjadi salah satu agama lokal masyarakat Indonesia. Setelah agama-agama mulai masuk ke wilayah Indonesia, agama lokal tidak dihapuskan, akan tetapi dilakukan akulturasi dengan agama baru. Agama Hindu-Budha diperkirakan masuk ke wilayah Indonesia pada abad ke V M, tepatnya di Pulau Jawa. Kerajaan Singhasari dan Majapahit menjadi kerajaan Hindu-Budha di Jawa Timur yang terkenal akan strategi penaklukkan wilayah lain, sehingga banyak wilayah yang takluk di bawah kekuasaannya. Tidak mengherankan jika benda-benda yang ditemukan di Desa Gayam, Kecamatan Panggul masih bisa disebut sebagai pengaruh dari kebudayaan Kerajaan Singhasari-Majapahit.

Salah satu batu lumbung yang ditemukan di area persawahan masyarakat

Jika melihat ke belakang, hubungan Indonesia dengan China mulai tumbuh subur ketika Kerajaan Majapahit memerintah Jawa atau lebih luas seluruh wilayah Nusantara. Ekspansi China ke Jawa dimulai ketika Kerajaan Singhasari memerintah Jawa di bawah Raja Kertanegara, namun usaha China ketika itu belum berhasil. Perdagangan dengan China dimulai ketika Kerajaan Majapahit memerintah Jawa dan Nusantara ketika Laksamana Cheng Ho berlayar ke Nusantara untuk berdagang dan menjalin kerjasama. Hubungan tersebut dipererat dengan pernikahan Raja Brawijaya V dengan Putri Campa yang masih keturunan China.

Kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul saat ini memang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kehidupan masyarakat masa lalu.

Jika dipelajari lebih dalam, sejarah perkembangan kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul dapat dikatakan sebagai kehidupan masyarakat kompleks. Kehidupan masyarakat Kecamatan Panggul saat ini memang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kehidupan masyarakat masa lalu, jika kita mau mendalami bagaimana keterkaitannya dengan Sejarah Nasional Indonesia. Kecamatan Panggul sebagai jalur migrasi manusia zaman Pra-Aksara yang bermigrasi dari Pacitan menuju Wajak Tulunggagung, hingga keterlibatan Kecamatan Panggul pada zaman Hindu-Budha di bawah Kerajaan Singhasari-Majapahit, masa Islam di bawah Kasultanan Surakarta, Zaman Kolonial dan Pendudukan Jepang, hingga zaman awal Kemerdekaan. Sebagai masyarakat Panggul, penulis pribadi sangat bangga dengan keadaan sebenarnya dari Kecamatan Panggul jika melihat keterlibatannya dalam Sejarah Nasional Indonesia. Memang diperlukan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui dengan pasti keterlibatan Kecamatan Panggul sebagai wilayah Wengker Kidul di bawah Kerajaan Singhasari-Majapahit, sehingga dapat diketahui dengan pasti apa fungsi dari benda-benda temuan yang telah dibahas di atas.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Modernisasi dan Kearifan Lokal, Bisakah Beriringan?

0

Derasnya laju modernisasi di satu sisi memang memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia. Derap inovasi teknologi yang setiap hari membanjiri dunia kian memanjakan manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Namun, pada saat bersamaan modernisasi menimbulkan dampak yang tidak sederhana. Tidak sedikit kearifan lokal warisan leluhur yang kian tergerus dan hilang ditelan zaman. Haruskah demikian? Tidak bisakan keduanya berjalan beriringan?

KampusDesa-Kenyataan bahwa hidup terus berjalan memang tak bisa dinafikan. Dan setiap perjalanan pasti di dalamnya ada proses meninggalkan dan menemukan. Meninggalkan yang lama yang sudah tidak sesuai dengan konteks yang terus berkembang. Menemukan hal-hal yang baru yang relevan untuk masa sekarang dan masa depan. Tapi bisakah kita memadukan keduanya? Menemukan tanpa harus meninggalkan.

Beberapa waktu lalu saya diajak rekan mengunjungi mahasiswa yang sedang PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan. Kecamatan ini seperti wilayah utara Lmaongan yang lain, dipenuhi dengan tambak-tambak udang, lele, dan bandeng. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, mata dimanjakan dengan hamparan kolam-kolam air di kanan-kiri jalan.

Usai berkunjung ke madrasah tempat mahasiswa PPL, kami singgah di sebuah pasar sekadar untuk melepas dahaga. Makan bakso dan minum es degan. Pasar itu bernama Pasar Blawi. Sebuah pasar tradisional seperti pada umumnya. Sambil menikmati bakso, rekan saya bercerita tentang masa kecilnya.

Semasa kecilnya, untuk sampai di pasar ini masyarakat menggunakan perahu sebagai alat transportasi. Mereka memanfaatkan sungai yang membentang membelah wilayah Kecamatan Glagah dan sekitarnya. Bahkan katanya, perahu-perahu yang berlalu-lalang di sepanjang sungai ini tidak hanya perahu pribadi warga. Tapi juga perahu untuk angkutan umum. Bisa dibayangkan betapa sibuknya sungai ini.

Selain sebagai prasarana transportasi, sungai ini juga menjadi tumpuhan hidup masyarakat. Seperti mandi dan mencuci, mengairi tambak atau membuang air tambak ketika panen tiba, menjala atau memancing ikan, dan sebagainya. Anak-anak pada masa itu juga sangat gembira bermain di sungai.

Sekarang ini hampir tidak ada lagi masyarakat yang memanfaatkan perahu sebagai moda transportasi.

Namun, seiring berkembangnya zaman dan berputarnya roda kehidupan. Berbagai kearifan lokal masyarakat sepanjang sungai ini, perlahan mulai mengalami pergeseran. Lebih-lebih ketika kendaraan bermotor mulai memenuhi desa. Sekarang ini hampir tidak ada lagi masyarakat yang memanfaatkan perahu sebagai moda transportasi. Mereka lebih memilih motor karena alasan efektivitas dan efisiensi. Perahu kini hanya digunakan sebagai sarana untuk memberi makan ikan tambak saja. Hanya sedikit masyarakat yang masih bertahan menggunakan perahu.

Sedikit cerita dari rekan saya ini menggambarkan dinamika yang kita alami dalam hidup ini. Ketika budaya dan peradaban semakin berkembang dan maju, akan selalu ada budaya yang ditinggalkan. Hal ini memang sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Dan tak menjadi soal. Yang menjadi persoalan adalah ketika nilai-nilai adiluhung yang menjadi dasar filosofis budaya warisan leluhur turut pula ditinggalkan.

Kita justru bangga dan mengagung-agungkan apa-apa yang datang dari luar, yang sebenarnya kurang sesuai dengan jati diri kita.

Kita yang mengklaim diri sebagai manusia modern ini semakin hari semakin asing dengan nilai-nilai yang sebenarnya merupakan identitas diri kita sendiri. Kita justru bangga dan mengagung-agungkan apa-apa yang datang dari luar, yang sebenarnya kurang sesuai dengan jati diri kita.

Kearifan lokal masyarakat Glagah yang kini mulai tenggelam sebagaimana diceritakan oleh rekan saya tersebut, semestinya menjadi perhatian pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait lainnya. Pemanfaatan sungai dengan perahu sebagai moda transportasi bukan hanya sekadar persoalan infrastruktur. Melainkan ada berbagai aspek sosial-budaya di dalamnya. Melalui sungai inilah dialektika masyarakat terbentuk. Ikatan komunal sebagai ciri khas masyarakat pedesaan akan menguat.

Pembangunan berbagai infrastruktur seperti jembatan, jalan, penggunaan kendaraan bermotor serta berbagai modernisasi lainnya tak perlu menjadi faktor penenggelam kearifan-kearifan lokal yang ada. Justru harusnya mampu disinergikan.

Dalam hal ini kita dapat mencontoh negara Jepang. Negara tempat asal bunga Sakura ini begitu maju dengan modernitas dan teknologinya namun tidak membunuh kearifan-kearisfan lokal warisan leluhur. Justru hal tersebut mereka jaga dan lestarikan hingga menjadi identitas di mata internasional.

Kearifan lokal bukan sekedar warisan budaya, melainkan juga sebagai identitas masyarakat. Dan sudah barang tentu perlu untuk dilestarikan supaya kita tidak lupa dari mana kita berasal dan kemana kita akan melabuhkan bahtera kehidupan.[]

Penerapan HOTS dalam Ujian Nasional, Perlukah?

0

Satu di antara komponen sistem pendidikan nasional yang sering diperdebatkan adalah Ujian Nasional (UN). Selalu ada saja permasalahan yang mengiringi penyelenggaraannya. Teranyar, gelombang protes dan kritik sinis mengalir deras lantaran kebijakan penerapan HOTS (High Order Thinking Skills) dalam soal UN. Mengapa demikian?

KampusDesa-Penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) selalu menarik untuk diperbincangkan. Hal ini tak lepas dari bebagai permasalahan yang mengiringinya. Berbagai permasalahan tersebut tak jarang juga menimbulkan gelombang protes dan kritik serta tanggapan sinis di sana-sini.

Bahkan pada titik ekstrimnya, tak sedikit kalangan yang menghendaki UN dihapus saja dari sistem pendidikan nasional. Menurut mereka UN tak layak menjadi standar kelulusan. Alasan utamanya UN tidak cukup representatif sebagai alat ukur kompetensi yang dimiliki siswa.

Mereka menilai penggunaan komputer telah menjadi biang kerok baru dalam pelaksanaan UN. Banyak sekolah, guru, dan peserta didik yang belum siap.

Misalnya mengenai kebijakan penggunaan komputer dalam UN. Banyak kalangan yang melancarkan protes terhadap kebijakan ini. Mereka menilai penggunaan komputer telah menjadi biang kerok baru dalam pelaksanaan UN. Banyak sekolah, guru, dan peserta didik yang belum siap. Apalagi ditambah permasalahan-permasalahan teknis seperti jaringan, arus listrik, dan sebagainya.

Terlepas berbagai permasalahan laten UN dan perdebatan-perdebatan yang menyertainya, ada satu hal menarik yang layak untuk kita soroti dan kita diskusikan bersama. Yaitu penerapan HOTS (High Order Thinking Skills) dalam soal-soal UN.

Diluncurkannya kebijakan ini adalah dalam rangka untuk mengejar ketertinggalan kita dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Program yang diluncurkan oleh OrganizatiOn for Economic Cooperation and Development (OECD) ini bertujuan untuk mengukur pencapaian pendidikan di seluruh dunia.

Indonesia saat ini berada pada urutan 66 dari 72 negara untuk kemampuan literasi dengan skor 397. Urutan 65 dari 72 negara untuk kemampuan matematika dengan skor 386. Dan, urutan 64 dari 72 negara untuk sains dengan skor 403. (www.antaranews.com).

Namun, banyak kalangan yang kurang setuju dengan kebijakan ini lantaran banyaknya kesulitan yang dialami peserta didik. HOTS menekankan pada penalaran. Sehingga soal-soal UN yang menggunakan sistem HOTS akan berbeda dengan soal-soal sebelumnya. Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menjawab soal semakin bertambah. Padahal batas waktu pengerjaan soal tetap sama.

Selain itu, penerapan HOTS juga bertujuan agar peserta didik menguasai lima kompetensi yang menjadi ruh dari kurikulum nasioanal. Lima kompetensi tersebut adalah berpikir kritis (criticial thinking), kreatif dan inovasi (creativity and innovation), kemampuan berkomunikasi (communication skill), kemampuan bekerja sama (collaboration) dan kepercayaan diri (confidence).

Menurut Mendikbud, Muhadjir Efendi, sebagaimana dilansir www.kompas.com penyebab munculnya protes terkait sulitnya soal UNBK pada dasarnya  tidak hanya disebabkan oleh penerapan HOTS. Melainkan ada banyak faktor lain, misalnya kisi-kisi belum disosialisasikan oleh sekolah, guru yang belum paham dan belum siap, dan peserta didik yang menganggap soal UNBK sama dengan tahun lalu.

Kita tengah berada di era global village. Antara satu bangsa dengan bangsa lain tidak lagi ada sekat yang rigid seperti dulu. Sehingga dibutuhkan kemampuan yang tinggi untuk berkomunikasi.

Di balik pro-kontra penerapan HOTS dalam UNBK di atas, sebenarnya jika dicermati dengan seksama, kebijakan tersebut memang seharusnya diterapkan. Mengapa demikian? Pertama, zaman terus berkembang. Tuntutan hidup pun semakin beragam dan meningkat. Kita tengah berada di era global village. Antara satu bangsa dengan bangsa lain tidak lagi ada sekat yang rigid seperti dulu. Sehingga dibutuhkan kemampuan yang tinggi untuk berkomunikasi.

lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tuntutan dan tantangan zaman yang terus berkembang.

Kedua, derasnya laju perkembangan IPTEKS. Kemajuan IPTEKS telah mengubah gaya hidup manusia. Berbagai inovasi teknologi di samping mempermudah manusia, juga semakin membuat persaingan hidup lebih ketat. Dengan demikian, lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tuntutan dan tantangan zaman yang terus berkembang.

Tentu kita tidak berharap selamanya menjadi konsumen dan penontn saja sebagaimana kita rasakan selama ini. Kelima kompetensi di atas merupakan kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki peserta didik di abad 21 ini agar di hari kemudian mereka tidak hanya survive, tapi mampu “bicara banyak” di pentas persaingan global.

Jika kita mengharapkan tujuan pendidikan nasional yang telah jelas termaktub dalam UU No. 20 tahun 2003 yakni terwujudnya manusia Indonesia yang tidak hanya beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melainkan juga berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggungjawab, maka sudah seharusnya berbagai upaya perbaikan sistem pendidikan nasional kita dukung bersama.

Mustahil terwujud sistem pendidikan yang berkualitas manakala tidak ada sinergi antara pemerintah, sekolah, peserta didik, dan masyarakat. Penerapan HOTS bukanlah hantu, monster, atau malapetaka yang menakutkan. Asal kita menyikapinya dengan pikiran terbuka, hal itu justru menjadi batu loncatan untuk meningkatkan mutu lulusan pendidikan kita.[]

Sukimin Radja (1), Polisi Berprestasi, Bersahaja, Berakhlak Mulia

0

Selalu ada tantangan dalam menjalani kehidupan. Harapan kadang berbalik. Sukimin, seorang AKBP (Purn) Polisi adalah sosok yang mampu mengahadapi titik balik itu. Harapan menikahi perempuan pujaan hatinya untuk selalu bahagia sepanjang masa, ternyata diuji tidak lama setelah menikah. Di usia pernikahan tiga bulanan, ujiannya datang. Si pujaan hatinya mengalami sakit dan Sukimin ternyata tidak bergeming. Dia tetap seorang polisi yang setia meskipun peluang poligami mungkin saja bisa dilakukan. Kesetiaan adalah modal dari kemauan untuk tetap jujur dalam kemanusiaan.

KampusDesa — Jujur, pekerja keras, kreatif, professional, dan percaya diri. Inilah lima jatidiri yang paling tepat di dalam menggambarkan AKBP (Purn) Sukimin Radja SHI. Sosok polisi ideal ini kehadirannya senantiasa ri Uddani (dirindukan) keluarga dan ri Purennu (dipercaya) masyarakat. Tujuan hidupnya teramat mulia. Hidup penuh keberkahan dan bermanfaat bagi umat.

Terlahir dari seorang ibu rumah tangga dan petani, Sukimin bertekad membaktikan dirinya demi kejayaan negeri. Menjadi polisi. Inilah caranya mengabdikan diri kepada ibu pertiwi.

Menjadi polisi memang menjadi cita-cita Sukimin sejak kecil. Alasannya, polisi itu gagah dan berani. “Sejak kecil polisi juga selalu ada di dekat rumah. Namanya, polisi Bimmas (polisi Pembina masyarakat – red),” ujarnya ramah.

Saat ditanya dukungan orangtua, pria pria yang memiliki saudara kandung bernama Syamsuddin Raja dan Sukaedah, S. Pd ini menjelaskan kalau kedua orangtuanya mendukung dirinya. Hal itu dibuktikan dengan perhatian orangtua saat ia mendaftar. Orangtua ikut menemani, membantu, dan mengurusinya saat mendaftar. “Alhamdulillah atas dukungan dan doa kedua orang tua, saya dinyatakan LULUS, lalu mengikuti pendidikan selama sembilan bulan di SPN BATUA pada periode tahun 1981-1982,” jelasnya.

Simulakra Kehidupan

Kamis, 27 Februari 1960. Desa Caramming menjadi saksi bisu atas lahirnya Sukimin Radja. Desa itu terletak di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kedua orangtuanya telah mengasuhnya sejak kecil, anak-anak, hingga remaja.

Pria yang terlahir dari pasangan Radjanung dan Djintang ini benar-benar memperhatikan aspek pendidikan. Ia giat dan rajin menimba ilmu. Jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, dan SMA dilaluinya dengan semangat dan penuh perjuangan. Sukimin menempuh jenjang pendidikan dasar di SD Lamanda (1966-1972), melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah di SMEP Bonto Tiro (1973-1976), meneruskan ke jenjang pendidikan atas di SMAN 1 Bulukumba (1977-1980). Jenjang pendidikan sarjana strata pertama (S-1), ditempuh Sukimin di STAI YAPNAS Jeneponto (2002-2006).

Adapun jenjang pendidikan Kepolisian, Sukimin menempuh Seba Wamil di SPN Batua Makassar (tahun 1991-1992), melanjutkan ke Setukpa POLRI di Sukabumi (tahun 1997-1998), meneruskan di Dikjur Polri Bimmas Polri di Airud Polri Jakarta (tahun 1984-1985), kemudian mengikuti Peningkatan Kemampuan Gadik di Kinasi Bogor Jawa Barat (tahun 2014). Semangat belajar dan memperoleh pengetahuan ini terus berlanjut hingga kini.

Ada momentum yang amat dikenang Sukimin hingga kini. Masa inspiratif itu adalah saat bersekolah di SMA. Seorang guru Kimianya, Husain Malle, selalu menginspirasi murid-muridnya untuk menjadi anak bangsa yang baik, jujur, bekerja dengan ikhlas dan penuh integritas saat mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.

Kerasnya kehidupan benar-benar mendewasakan Sukimin. Di masa remaja, ia telah membantu kedua orangtuanya berdagang kacang tanah dan jagung. Rasa gengsi tidak menghalanginya untuk menaklukkan kehidupan.

Kerasnya kehidupan benar-benar mendewasakan Sukimin. Di masa remaja, ia telah membantu kedua orangtuanya berdagang kacang tanah dan jagung. Rasa gengsi tidak menghalanginya untuk menaklukkan kehidupan. Ia rela menyewa truk Binaraya, lalu  mengemudikannya menuju Makassar. Jauhnya perjalanan selama tiga hari tiga malam tidak melunturkan semangatnya. Tidak masuk sekolah selama sepekan sudah merupakan hal biasa baginya. Itu dilakukan demi menunjukkan baktinya kepada kedua orangtuanya. Bagi Sukimin, Cintakasih dan perhatian kedua orangtuanya merupakan kenangan terindah di dalam hidup dan kehidupannya.

Candradimuka Asmara

Kehidupan romansa Sukimin cukup unik. Penggemar kuliner ikan bakar dan jus buah ini mengaku tidak mengenal dan tidak pernah berpacaran. Setelah wisuda, ia telah dijodohkan oleh orangtua dengan sepupu. Sepupu itu sedang berkuliah di Makassar. Rupanya takdir berkata lain. Allah telah mempersiapkan perempuan lain yang lebih baik bagi Sukimin.

Kali kedua ini juga dijodohkan. Uniknya, perempuan itu juga belum begitu kenal. Karena sudah berjodoh, rumah tangga Sukimin hingga sekarang tetap harmonis. Allah telah menyatukan keduanya dalam Cintakasih nan abadi hingga akhir hayat.

Asmara itu ibarat logam mulia. Ditempa dengan api barulah menjadi emas. Seperti itulah ujian asmara. Romantika cinta di dalam berumah tangga telah menempa Sukimin Radja menjadi pria sesungguhnya.

Betapa tidak? Istrinya, St Yarni, yang semula bagai bidadari surga, dalam waktu tiga bulan usai menikah, mendadak memiliki muka yang saat dipandang cenderung kurang menyenangkan. Terlebih lagi, bagi wanita, muka ibarat mahkota.

Puluhan tahun, penyakit tanpa penyebab dan solusi pasti itu terus diderita. Hanya kekuatan doa, cinta, kesetiaan, dan tahajudlah yang membuat St Yarni masih mampu bertahan hingga kini.

Sukimin tetaplah pria setia. Tak terbersit sedikitpun keinginan di benaknya untuk menikah lagi. Padahal saat itu, kalaulah dirinya mau, banyak sekali wanita jelita yang siap untuk dimadu atau dinikahi resmi.

Berbagai upaya telah dicoba. Mulai dari sistem pengobatan tradisional, modern, hingga spiritual. Banyak ahli juga telah didatangi, namun semuanya angkat tangan. Ada yang menduga, istrinya terkena guna-guna. Diuji demikian, Sukimin tetaplah pria setia. Tak terbersit sedikitpun keinginan di benaknya untuk menikah lagi. Padahal saat itu, kalaulah dirinya mau, banyak sekali wanita jelita yang siap untuk dimadu atau dinikahi resmi.

“Dulu aku bertemu denganmu dalam kondisi cantik jelita. Kini ketika kecantikanmu memudar akibat penyakit yang kau derita, diriku tetap setia.” Begitulah semboyan setia ala polisi Sukimin. Ia tidak merasa malu saat pergi menghadiri acara resmi bersama istrinya. Begitulah memang lika-liku laki-laki di dalam kehidupan berumah tangga (bersambung).dja (1), Polisi Berprestasi, Bersahaja, Berakhlak Mulia

Pengalaman dan Pengetahuan (Being and Knowing)

0

Tim In Loco Parentis menyelenggarakan lokakarya kecil dengan tujuan untuk mengembangkan sekolah ramah kecerdasan anak. Kegiatan ini ditindak-lanjuti dengan asesmen psikologis dan pertemuan antara tim dengan para wali murid. Di sini, tim In Loco Parentis tidak hanya hadir sebagai ahli berbekal kompetensi dan dengan empati, tetapi juga hadir sebagai ahli berbekal kesanggupan introspeksi.

KampusDesa–Setahun lalu, tepatnya 3 Februari 2018, In Loco Parentis dan Sekolah Garasi (Madrasah Ibtidaiyah Amanah) menyelenggarakan lokakarya kecil bagi para guru dengan tema pokok mengembangkan sekolah ramah kecerdasan anak. Tim In Loco Parentis terdiri dari Dr. Sakban Rosidi Saminu, M.Si., Dr. Rofiqah Rosidi, M.Pd., Hadi Purnomo, S.Pd., S.Psi., dan Suprapto Akang Ato., S.Pd., dan Gilang AL Rosidi.

Kegiatan ini ditindak-lanjuti dengan asesmen psikologis terhadap siswa kelas 1, 2, dan 3, dengan piranti CFIT, SPM, dan CPM. Setelah data diolah dan dikategorisasikan, rekomendasi pedagogis berpendekatan psikologi positif dirumuskan menurut golongan kecerdasan anak. Rekomendasi untuk pengelolaan pendidikan, disampaikan kepada pimpinan lembaga dan para guru madrasah.

Ada tiga golongan kecerdasan anak yang direkomendasikan pedagogis menurut pendekatan psikologi positif.

Golongan pertama, direkomendasikan untuk dilayani melalui program kelas percepatan (acceleration class program). 

Golongan kedua, direkomendasikan untuk dilayani melalui program kelas konvensional (conventional class program). 

Golongan ketiga, direkomendasikan untuk dilayani melalui program pendidikan khusus (special education program). 

Dengan ungkapan lain, Madrasah Ibtidaiyah Amanah direkomendasikan untuk menerapkan pola sekolah inklusi, yang mendidik kelompok pencilan atas atau siswa sangat cerdas, kelompok tengah atau siswa berkecerdasan normal, tetapi juga mendidik kelompok pencilan bawah atau siswa difabel dan atau berkebutuhan khusus.

Kesempatan membagikan hasil asesmen psikologis kepada orangtua siswa, 2 Februari 2019, dirancang sekaligus untuk melaksanakan program keayah-bundaan sekolah (school parenting program). Bisa dibayangkan, di hadapan kami ada sejumlah orangtua yang putra atau putrinya tergolong Genius, Very Superior, Superior, High average, Average, Low Average, Borderline, hingga Mentally Defective. 

Kami tidak hanya hadir sebagai ahli berbekal kompetensi dan dengan empati, tetapi juga hadir sebagai ahli berbekal kesanggupan introspeksi.

Sungguh tidak mudah menjelaskan kenyataan demikian secara bersamaan, apalagi mengingatkan orangtua berputra genius dan membesarkan hati orangtua berputra mentally defective. Dengan pertimbangan demi kebaikan, maka kami tidak hanya hadir berbekal kualifikasi dan kompetensi, tetapi juga sebagai keluarga berputra difabel. Maka kami jadi ingat pertanyaan epistemologis Brian Fay, ‘Have One to be One to Know One?”. Walhasil, kami tidak hanya hadir sebagai ahli berbekal kompetensi dan dengan empati, tetapi juga hadir sebagai ahli berbekal kesanggupan introspeksi.

Tidak lupa terimakasih kepada Hadi Purnomo, para guru, kepala sekolah, dan sahabat senior saya, Mas Kentar Budhojo, atas segala jasa baiknya. Semoga bagi kita tidak sekadar bermakna kerja, tetapi juga bermakna karya. Mohon maaf pula atas “kesombongan” kami, karena menyebut diri sebagai ahli.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Kisah Persahabatan Santri dan Tokoh PKI

0

Sahabat sejati layaknya kekasih yang tidak terpisahkan oleh apapun. Sebagaimana mutiara kata dari Ellen Hubbard bahwa “seorang sahabat adalah seseorang yang mengetahui tentang dirimu dan tetap mencintaimu”. Hal ini dibuktikan oleh persahabatan antara dua insan yang saling menjaga satu sama lain. Meskipun mempunyai perbedaan dalam pandangan politik, keduanya tetap berusaha melindungi keselamatan sahabatnya di tengah badai yang tengah menerjang.

KampusDesa–Waktu sudah hampir tengah malam. Kami berdua masih duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi. Hawa dingin lereng Lawu Ngawi membuat malam itu menjadi terasa hening.

Jagongan malam ini sebetulnya seperti biasa yang kami lakukan saat kami bertemu. Tapi, malam ini ada yang mendesir di hati. Bukan semata-mata karena hembusan angin malam yang membawa sisa-sisa air hujan. Saya seperti masuk ke dalam sebuah lorong yang tidak terlukiskan saat dia berkisah tentang sebuah persahabatan yang mendalam antara dua orang sahabat. Kisah ini terjadi di sebuah desa di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kisahnya terjadi pada pertengahan tahun 60-an, saat geger politik menyapu seluruh negeri, di mana nyaris tidak ada satu pun desa yang luput dari prahara.

Persahabatan yang kuat ini membuat mereka terikat nyaris seperti dua saudara yang saling melindungi.

Ia berkisah tentang persahabatan mendalam antara dua pemuda desa: IS dan S. Sejak kecil mereka bersahabat. Ngaji bersama, sekolah bersama, main bersama. Ketika usia keduanya beranjak remaja, mereka berdua berangkat nyantri di sebuah pesantren. Persahabatan yang kuat ini membuat mereka terikat nyaris seperti dua saudara yang saling melindungi.

Saat mereka kembali pulang ke desa, mereka menempuh jalan politik yang berbeda. IS menjadi tokoh NU (saat itu NU adalah partai politik), sedang S memilih PKI sebagai kendaraannya dalam berjuang di dunia politik. Sebagai tokoh yang berbeda politik, mereka berdua tidak terelakkan sering berhadapan sebagai rival. Sekalipun demikian, rivalitas politik itu tidak pernah sanggup meluruhkan persahabatan yang telah terjalin begitu lama dan indah.

IS yang seorang haji dan lurah desa adalah juga tuan tanah yang menguasai lahan pertanian berhektar-hektar luasnya. Di mata PKI, IS jelas adalah salah satu dari tujuh setan desa yang harus dimusnahkan. Sejak Ketua PKI DN Aidit menyerukan pengganyangan tujuh setan desa pada April 1964, IS tentu menjadi incaran dari para tokoh dan pengikut PKI lokal.

Sekalipun demikian, S sama sekali tidak berniat mencelakai IS. Tak pernah! IS adalah sahabatnya, saudaranya. Bahkan, setiap ada situasi genting yang menyangkut keselamatan IS, S selalu memberi tahu agar IS bisa menyelamatkan diri.

Apa yang dilakukan S ini jelas menunjukkan kedalaman persahabatan yang indah ini. Dia mempertaruhkan karir dan keselamatannya untuk menyelamatkan sahabatnya yang secara politik berhadapan dan bersaing dengannya. Di mata IS, apa yang dilakukan S atas dirinya adalah sebuah budi yang bagaimanapun juga harus dibalas.

Saat pecah G30S yang di bulan-bulan berikutnya diikuti dengan pembunuhan para tokoh dan pengikut PKI di seluruh pelosok negeri, gantian S menjadi pihak yang terancam. Ancaman ini tidak lagi menjadi kabar burung saat tentara mulai masuk ke desanya.

IS dikenal sebagai seorang lurah desa yang sangat berwibawa. Dia tidak hanya menggenggam otoritas politis sebagai seorang lurah, dia juga tokoh Islam yang sangat disegani. Dengan kewibawaannya, dia berhasil menyelamatkan banyak warganya yang menjadi pengikut PKI dari incaran para tentara. Akan tetapi, nyaris tak mungkin untuk menyelamatkan S dari sapuan militer yang telah masuk ke desa-desa.

Persahabatan yang tulus harus tetap dijaga.

Tapi, hutang itu harus dibalas; persahabatan yang tulus harus tetap dijaga. Diam-diam, IS meminta S untuk melarikan diri saat masih ada waktu. IS akan mengamankannya sejauh yang dia bisa. Ketika akhirnya S lari dari desanya dan selamat dari korban tragedi politik ’65, IS bersyukur bahwa di saat yang paling menentukan, dia masih bisa menunjukkan makna persahabatan yang telah terjalin sejak usia bocah.

Tahun berganti tahun. Waktu akhirnya menunjukkan bahwa S betul-betul selamat. Sekalipun sejarah tidak lagi bisa memberi kesempatan dua sahabat ini untuk saling melompat riang bersama seperti saat masih bocah, namun kebahagiaan IS tak mungkin disembunyikan saat melihat sahabatnya selamat pulang kembali ke kampung halaman.

Akhirnya kedua sahabat ini sampai di ujung usianya. Saat IS dipanggil Allah lebih dahulu, S datang menghormati jenazahnya dengan air mata yang meleleh di pipi. Saat beberapa tahun kemudian S hendak menyusul sahabatnya ke alam baka, dia meminta agar dia didampingi putra IS untuk menemui Allah. Dia akhirnya meninggal dalam damai setelah dibacakan surah Yasin tiga kali oleh putra sahabatnya itu.

“Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan”. Gus Dur

Malam telah melampaui batasnya. Cangkir tinggal menyisakan endapan kopi yang tidak mungkin disesap lagi. Saya berpamit untuk pulang. Tapi sesampai di rumah, saya tidak bisa tidur. Hati saya bercampur antara kesedihan dan keteduhan. Sebenarnya, saya tidak bisa dengan tepat melukiskan kecamuk hati saya. Berputar-putar di otak saya perkataan Gus Dur bahwa “yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan”.

Untuk memaksa mata saya agar terlelap, saya mengambil novel lama karya Ignazio Silone, “Roti dan Anggur”, yang mengisahkan “persahabatan” antara seorang pastor dengan muridnya yang menjadi aktifis gerakan kiri di era fasisme Italia. Saya membacanya hingga tidak sadar saya telah tertidur. Ketika saya terbangun karena azan subuh yang menggema dari masjid dekat rumah, saya mendapati Ignazio Silone masih terdekap di dada.[]

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Membangkitkan Kesadaran Sains Sejak Dini

0

Sekolah atau guru barangkali lupa atau terlena, berjibaku dengan aneka hapalan rumus sains dan menguji kebenarannya di akhir semester. Apa gunanya rumus dan kebenaran itu pada dunia pembelajar, jika kemudian mereka buta terhadap kenyataan sains yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari? Camps Literasi Sains Kampus Desa diselenggarakan untuk membuka mata siswa bahwa sains itu bisa disentuh, bahkan bisa dipraktikkan dengan penuh gembira. Berminat menjadi relawan sains Kampus Desa, atau Sekolah Anda agar guru-gurunya mampu mereproduksi sains menjadi bahan out-bond yang menakjubkan, hubungi kantor atau media sosial kami.

Malang, KampusDesa–Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku,budaya dan agama yang menjadi identitas daerah masing-masing. Setiap daerah tersebut tentunya mempunyai ciri khas tersendiri. Terutama dalam hal adat istiadat atau sosial budaya yang setiap harinya di gunakan dalam bermasyarakat. Budaya-budaya tersebut dapat di aplikasikan dalam bentuk dolanan (bermain) dalam dunia anak-anak. Tentunya di berbagai daerah terdapat bermacam-macam dolanan yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Namun, tidak banyak dari anak-anak yang mengetahui jika dolanan yang mereka gunakan merupakan aplikasi dari ilmu-ilmu sains.

Selama ini saya hanya bisa meminta dan menuntut kepada negara namun belum bisa memberikan kontribusi yang besar untuk bangsa dan negara ini. Maka dari itu saya berniat untuk menjadi relawan sains dengan bergabung pada tim tersebut.

Hal itu membuat saya tertarik untuk tergabung dalam tim literasi sains. Karena saya teringat pada satu pepatah, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu tapi tanyakanlah apa yang  sudah kamu berikan kepada negaramu.” Selama ini saya hanya bisa meminta dan menuntut kepada negara namun belum bisa memberikan kontribusi yang besar untuk bangsa dan negara ini. Maka dari itu saya berniat untuk menjadi relawan sains dengan bergabung pada tim tersebut.

Meniup balon dengan senyawa kimia. Senyawa kimia diambil dari bahan obat-obatan yang dijual dipasaran (apotik). Ketika hendak membusa, segeralah lubang balong dipasang di

Salah satu daerah yang menjadi sasaran relawan tim sains kali ini adalah Kantor Kelurahan Cemorokandang, JL. Raya Cemorokandang, Cemorokandang, Sawojajar, Kedungkandang, Kota Malang. Kegiatan ini di ikuti oleh siswa/i SD dari berbagai kecamatan yang ada di kota Malang. Adanya tim ini bertujuan untuk memberikan pendidiikan literasi sains, dimana dalam setiap kegiatannya terdapat ilmu sains yang diaplikasikan dalam bentuk permainan-permainan. Tim ini terdiri dari 20-30 Mahasiswa dari berbagai Universitas yang ada di Malang. Mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut tergabung dari berbagai jurusan, yakni fisika, kimia, biologi, matematika, teknik, dan sebagainya.

Mengapa harus permainan yang diberikan? Bukan pelajaran atau rumus-rumus? Usia anak-anak merupakan tahapan dimana keaktifan anak sangatlah tinggi, mereka lebih suka bermain dari pada belajar. Maka dari itu relawan sains memberikan permainan yang sekaligus terdapat pembelajaran di dalamnya. Mereka akan merasa gembira dan tentunya pelajaran akan mudah dipahami dan diingat.

Adapun permainan-permainan yang di berikan kepada siswa/i sangat beragam. Di antaranya adalah Jeruk Bola, Sulap Air, Balon Ajaib, Roket Air, Rainbow Walking, Tata surya dan lain sebagainya. Setiap permainan tersebut adalah aplikasi dari ilmu-ilmu sains. Misalnya penerapan ilmu kimia yang terdapat pada permainan jeruk bola, bola tersebut pecah jika ditetesi dengan air jeruk, karena air jeruk mengandung zat asam dengan kadar yang sangat tinggi, sedangkan balon akan mudah pecah jika terkena zat asam yang tinggi.

Adapun penerapan ilmu fisika yaitu terdapat pada Rocket Air. Roket Air tersebut terbuat dari botol bekas yang kemudian diisi dengan air. Roket bisa terbang ketika dipompa, karena roket menerima tekanan dari pompa yang berupa gas dan mengakibatkan roket bisa terbang.

Sains melatih anak bereksperimen dengan melaksanakan beberapa percobaan, memperkaya wawasan anak untuk selalu ingin mencoba dan mencoba
Memindah cairan dengan menggunakan tissue. Sifat tissue yang mudah menyerah secara cepat, dia mampu memindahkan air dari satu lokasi ke lokasi lain. Selain sifat tissue yang mampu menggerakkan air, ia juga mampu mentransformasi warna. Permainan sains ini menimbulkan ketakjuban, rasa suka dan menjadi pengalaman baru yang mencerahkan. Kebahagiaan dan ketakjuban akan merangsang memori jangka panjang anak-anak bahwa sains adalah fakta yang menyenangkan dan dapat diamati fungsinya dalam kehidupan nyata. Apakah Bapak/Ibu guru telah membawa anak-anak pada ketakjuban ketika belajar sains?

Faktanya, Banyak manfaat yang bisa diperoleh jika anak sejak dini telah diperkenalkan dengan sains. Sains melatih anak bereksperimen dengan melaksanakan beberapa percobaan, memperkaya wawasan anak untuk selalu ingin mencoba dan mencoba sehingga sains dapat mengarahkan dan mendorong anak menjadi seorang yang kreatif dan penuh inisiatif.

Sains membiasakan anak-anak mengikuti tahap-tahap eksperimen dan tak boleh menyembunyikan suatu kegagalan. Artinya, sains dapat melatih mental positif, berpikir logis, dan urut (sistematis). Di samping itu, dapat pula melatih anak bersikap cermat, arena anak harus mengamati, menyusun prediksi, dan mengambil keputusan.

Sebuah Pesan untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ‘Masa Kini’

0

Istilah guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa kini telah beralih untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Seiring dengan berkembangnya zaman, makna dari seorang guru seolah tidak lagi sesakral dahulu kala. Kian lama makna keikhlasan seorang ‘guru’ telah terkikis oleh waktu. Fenomena dekadensi moral pun tidak bisa dipungkiri telah menjamur di berbagai sudut kota. Lalu, benarkah jika hal ini terus berlarut-larut?

KampusDesa–Coretan berikut ini tidak bermaksud menyudutkan apalagi mendiskreditkan pendidik atau guru. Coretan ini hanya bertujuan sebagai bahan introspeksi diri saja. Agar sebagai agent of change, guru dapat terus meningkatkan kualitasnya.

Kerap kali terucap bahwa hasil pendidikan karakter generasi lampau lebih baik dibandingkan dengan hari ini.

Setiap pembicaraan mengenai pendidikan karakter, hampir selalu ada pembandingan antar-output pendidikan lintas generasi. Hasilnya, kerap kali terucap bahwa hasil pendidikan karakter generasi lampau lebih baik dibandingkan dengan hari ini. Padahal dari segi modernitas, kalah jauh.

Mengamini pendapat ini, muncullah gagasan untuk mengembalikan paradigma pendidikan ke masa lampau. Karena memang sudah terbukti dan teruji mampu menghasilkan manusia-manusia yang berkarakter kuat, memiliki skill matang, dan mampu berperan dalam kehidupan di masyarakat.

Pada titik ekstrimnya, ada yang mengatakan sistem pendidikan kita telah gagal. Semakin modern tatanan sistem pendidikan nasional, ternyata tidak cukup efektif menghasilkan output sebagaimana pendidikan masa lampau. Hal ini lalu dikaitkan dengan fenomena dekadensi moral yang menjangkiti generasi muda saat ini.

Benarkah anggapan demikian bisa diterima?

Tentu untuk membuktikannya dibutuhkan kajian mendalam dan menyeluruh. Namun sebenarnya secara sederhana dapat kita telisik mengapa para pendidik generasi lalu sukses dalam menanamkan karakter kepada murid-muridnya.

Tidak hanya mendo’akan, seorang guru juga melakukan tirakat untuk murid-muridnya.

Ada beberapa faktor yang saling berresonansi mewujudkan hal tersebut, satu di antaranya adalah keikhlasan pendidik untuk mendo’akan muridnya. Bahkan tidak hanya mendo’akan, mereka juga melakukan tirakat untuk murid-muridnya. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa do’alah yang akan menjadi washilah turunnya ridlo Allah SWT. Sehingga apa yang dipelajari oleh para murid dapat menjadi ilmu yang bermanfaat.

Barangkali hal sederhana inilah yang luput dari pengamatan kita. Seiring berkembangnya zaman, banyak orientasi hidup yang telah bergeser. Termasuk orientasi dalam mendidik. Dijadikannya guru sebagai profesi dengan berbagai derivasi kebijakan yang menyertainya di satu sisi ternyata melahirkan masalah baru. Keikhlasan dan ketulusan guru dalam mendidik menjadi terdegradasi.

Berbeda dengan zaman dahulu, kini tujuan utama menjadi guru telah bergeser untuk mendapatkan penghasilan.

Tujuan utama menjadi guru tidak lagi semata-mata untuk mengamalkan ilmu dan mendidik manusia. Namun telah bergeser untuk mendapatkan penghasilan. Sungguh pun hal ini sah-sah saja, mengingat konstitusi dan sistem pendidikan nasional juga mengamini. Namun ternyata telah menimbulkan dampak yang tidak sederhana.

Orientasi yang demikian akan menggiring guru melupakan tugas esensialnya sebagai pendidik. Mereka akan disibukkan oleh hal-hal administratif yang menjadi syarat utama kenaikan pangkat dan peningkatan kesejahteraan. Akibatnya, pembelajaran menjadi sambilan. Murid tidak terpenuhi hak-haknya.

Mirisnya, jika terjadi kenakalan atau perilaku menyimpang dari murid, semua sibuk mencari kambing hitam. Termasuk mengkambinghitamkan murid sendiri. Meski tidak menampik bahwa individu murid juga menjadi faktor terjadinya kenakalan dan perilaku menyimpang. Namun guru sebagai role model bagi murid tetap akan menjadi pihak yang paling disudutkan.

Akhirnya, mewujudkan generasi yang berkarakter kuat dan berbudi luhur tidaklah cukup hanya dengan konsep dan sistem pendidikan yang modern. Aspek spiritual berupa keikhlasan dan do’a dari para pendidik juga sangat diperlukan.

Omahe Mbah Alim, 02 Februari 2019

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah