Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 63

Membumikan Keadilan dalam Keseharian

0

Keadilan tidak hanya hadir dalam sebuah perkara hukum dan ada di pengadilan. Keadilan berlaku dalam keseharian. Adil tidak hanya pada orang, tetapi adil juga menyangkut perilaku kita terhadap cara kita hidup. Perilaku yang cenderung mendatangkan kerusakan, sekecil apapun, itu adalah alamat cikal bakal lahirnya ketidakadilan. Misalnya membuang sampah sembarangan, bisa menjadi bagian dari

KampusDesa―Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi prinsip keadilan. Terdapat banyak sekali ayat al-Qur’an maupun hadits yang menekankan kepada umat Islam untuk senantiasa berlaku adil. Bahkan juga dikatakan, adil akan mendekatkan seorang muslim pada ketakwaan. Orang yang bertakwa akan menjadi manusia paling mulia di sisi Tuhannya.

jika keadilan benar-benar dijadikan pandangan dunia dan landasan hidup, konflik-konflik sosial-kemanusiaan yang menjamur hari ini tidak akan terjadi. Perdamaian, kesejahteraan, dan kebahagian hidup tidak akan menjadi sebuah retorika kosong belaka.

Namun sayang, prinsip dan ajaran fundamental ini justru kurang dipedulikan umat Islam. Padahal, jika keadilan benar-benar dijadikan pandangan dunia dan landasan hidup, konflik-konflik sosial-kemanusiaan yang menjamur hari ini tidak akan terjadi. Perdamaian, kesejahteraan, dan kebahagian hidup tidak akan menjadi sebuah retorika kosong belaka.

Secara sederhana, adil dapat diartikan “menempatkan sesuatu pada tempatnya,” lawannya adalah zalim, yang artinya “menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.”

Pengertian sederhana ini akan mempermudah kita untuk menakar apakah kita sudah berlaku adil atau belum. Atau jangan-jangan kita justru sudah berlaku sebaliknya, yaitu zalim. Merujuk pada pengertian ini, suatu perbuatan tidak harus bengis dan kejam untuk disebut zalim. Tapi, perbuatan apa saja yang memposisikan sesuatu tidak pada tempatnya dapat dikategorikan sebagai zalim.

Membuang sampah sembarangan, tidak menyirami tanaman, tidak merawat kebun, tidak merawat hewan peliharaan dengan baik, berkata kasar kepada orang lain, bohong, dan sebagainya juga merupakan bentuk dari kezaliman.

Bentuk-bentuk sederhana ini yang seringkali luput dari kesadaran kita. Keadilan dan kezaliman kita pahami sebagai konsep yang melangit. Padahal, perwujudan keduanya amat membumi. Sebagai pelajar misalnya, kita akan disebut pelajar yang adil jika kita bersedia dengan sungguh-sungguh melaksanakan tugas utama kita, yaitu belajar. Sebaliknya, jika kita mengabaikan tugas utama ini dan justru menenggelamkan diri dalam aktivitas lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan belajar, berarti kita telah menjadi seorang pelajar yang zalim. Konsep ini berlaku pada apapun peran kehidupan yang kita miliki.

Keadilan tidak hanya bertempat di pengadilan dan seputar penegakan hukum saja. Keadilan bertempat di semua sudut aktivitas hidup kita. Karenanya, sudah sewajarnya keadilan kita jadikan sebagai pondasi dan paradigma dalam menjalani hidup ini.

Keadilan tidak hanya bertempat di pengadilan dan seputar penegakan hukum saja. Keadilan bertempat di semua sudut aktivitas hidup kita. Karenanya, sudah sewajarnya keadilan kita jadikan sebagai pondasi dan paradigma dalam menjalani hidup ini. Dengan demikian, kebahagiaan yang kita dambakan dan impikan tidak sulit untuk diwujudkan. Baik itu kebahagiaan dunia yang fana, maupun kebahagian akhirat yang kekal.

Satu di antara indikator apakah kita sudah adil atau belum dalam menjalani hidup adalah dengan melihat bagaimana kita memaknai hidup ini dan bagaimana kita memposisikan semua komponen-komponennya.

Jika kita memaknai hidup sebagai tujuan utama, maka kita telah menzalimi diri kita sendiri. Cara pandang yang demikian ini akan mengakibatkan kita terjerumus ke dalam kebahagiaan yang sejatinya hanya fatamorgana belaka. Kita akan mengerahkan segala daya upaya hanya untuk memperturutkan nafsu belaka. Akibatnya, kita akan gila harta dan tahta.

Padahal dalam agama kita telah jelas diajarkan, bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara dan sebagai sarana untuk mengumpulkan bekal di kehidupan berikutnya. Yaitu saat kita kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, tujuan utama kita bukanlah hidup ini, melainkan kehidupan berikutnya di mana kita akan bersua dengan-Nya.

Ketidakadilan dalam memahami hidup inilah yang menjadi bidang bagi lahirnya berbagai konflik kehidupan. Ia akan menyebabkan manusia terjebak egoisme, keserakahan, kedengkian, dendam, syirik, ambisi yang berlebih, dan berbagai perilaku negatif lainnya. Naudzubillah min dzalik.[]

Sukimin Radja (2) Jiwa Kepemimpinan yang Selaras dengan Profesinya

0

Menjadi pemimpin sebaiknya berprinsip. Keteguhan pada prinsip menopang integritas diri. Bahkan jiwa kepemimpinan adalah tanggung jawab agar setiap orang yang mampu, akan dapat mengurus negeri ini, Kata Sukimin Radja. Menjadi pemimpin jangan suka mengunggul-unggulkan diri. Kata Dia, “bila dicar, barulah (dirimu) muncul. Bila ditunjuk, barulah (dirimu) mengiyakan. Hal ini sesuai dengan asas kepatuhan, seperti pepatah Bugis, mappasikoa atau mappasitinaja.

KampusDesa– Pria beranak tiga, yakni: Agusdiwana Suarni SE MAcc, Putri Dwi Suarni SSi SPd, dan AA Sutadi Saputra, ini memiliki semboyan unik. Senyumlah kepada semua orang, namun bukan kepada sembarang orang. Kepada putra-putrinya, Sukimin selalu menanamkan jiwa sosial dengan cara berorganisasi.

Sukimin memang dikenal memiliki kepekaan kepada sesama semenjak kecil. Ia pernah mengikuti pramuka. Bergabung dengan pramuka menciptakan sensasi tersendiri baginya. Kepemimpinannya terasah sekaligus teruji. Sebabnya, ia selalu menghadapi teman-temannya dengan berjuta karakter yang unik.

Integritas dan loyalitas sebagai kunci kepemimpinan senantiasa dijunjung tinggi olehnya.

Nah, di sinilah seorang pemimpin perlu memiliki seni memimpin. Misalnya dengan berlaku sabar, ikhlas, jujur, mampu menjadi teladan bagi sesama. Integritas dan loyalitas sebagai kunci kepemimpinan senantiasa dijunjung tinggi olehnya.

Dalam memimpin, pria pengidola Jenderal Yusuf ini senantiasa membaur, membersamai semuanya, berkomunikasi efektif, juga memberikan motivasi dan solusi. Contoh sederhana namun nyata: saat bepergian, bawahan perlu tahu. Bila bawahan memerlukan, kita haruslah ada di tempat.

Hingga kini, ia masih suka berorganisasi. Salah satunya ditunjukkan dengan menjadi dewan penasihat Masjid Abu Bakar di Perum Graha Surandar Permai, Paccinongang, Gowa.

Seorang pemimpin itu haruslah senantiasa menjunjung tinggi kejujuran dan kesucian hati.

Berbicara kepemimpinan, Sukimin menganut filosofi kepemimpinan ala Bugis. Pertama, taro ada taro gau. Maksudnya, satunya perkataan dan perbuatan. Pemimpin perlu berhati-hati saat berbicara, berpikir mendalam sebelum berkata dan bertindak. Kedua, duami kuala sappo, unganna panasa’e, belo kanukue. Terjemahan secara harfiah: dua hal yang kujadikan pagar, yaitu: bunga nangka dan hiasan kuku. Maknanya, seorang pemimpin itu haruslah senantiasa menjunjung tinggi kejujuran dan kesucian hati. Hati yang bersih atau hati suci ini; dalam terminologi Bugis dikenal pula dengan sebutan ati macinnong atau ati madeceng.

Ketiga, eppa tanranna to madeceng kalawing ati. Seuani, passu’i ada na patuju. Maduanna, matuoi ada na sitinaja. Matellunna, duppai ada napasau. Ma’eppana, moloi ada na padapi. Mutiara ini tercantum di dalam lontara paseng toriolota. Maknanya, ada empat karakteristik orang berhati suci/baik; mengucapkan kebenaran (kata-kata yang benar), menyampaikan kewajaran (kata-kata yang wajar), menunjukkan kewibawaan (menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang sopan, santun, penuh kelemahlembutan), mengimplementasikan (melakukan perkataannya di kehidupan sehari-hari dan mencapai sasaran).

Kearifan lokal Bugis ini mengajarkan kepada kita untuk tidak serakah menduduki jabatan tinggi atau terlalu berambisi terhadap posisi tertentu.

Keempat, aja’ muangoai onrong, aja’to muacinnai tanre tudangeng. De’tu mulle’i padecengi tana. Ri sappa’po muompo, ri jello’po muakkengau. Kearifan lokal Bugis ini mengajarkan kepada kita untuk tidak serakah menduduki jabatan tinggi atau terlalu berambisi terhadap posisi tertentu. Jangan sampai dirimu tidak mampu mengurus negeri. Bila dicari, barulah (dirimu) muncul. Bila ditunjuk, barulah (dirimu) mengiyakan. Hal ini sesuai dengan asas kepatutan. Istilah Bugisnya, mappasikoa atau mappasitinaja. Kelima, maccai na malempu, waraniwi na magetteng. Artinya, cendekia (cerdas) serta jujur, berani serta teguh pendirian. Kelima filosofi ini senantiasa diimplementasikan Sukimin di dalam kehidupan sehari-hari.

Jiwa Petualang Berbuah Bintang

Sukimin memiliki tempat tugas yang berpindah-pindah. Inilah yang menjadikan jiwa petualangnya semakin terasah. Tahun 1982-1991, ia bertugas di Polres Pangkep. Tahun 1991-1997, ia berdinas di Polres Bulukumba. Tahun 1997-1998, ia menempuh Pendidikan Setukpa di Sukabumi. Tahun 1999-2000, ia ditugaskan di Polres Bantaeng. Tahun 2001-2003, ia mengabdikan diri di Polres Jeneponto. Tahun 2004-2013, ia kembali berkantor di Polres Bulukumba. Tahun 2013-2018, ia menjadi guru bagi polisi di SPN Batua Makassar.

Pencapaian karir Sukimin boleh dikatakan gemilang. Saat menjadi AKP (Ajun Komisaris Polisi) di tahun 2004, pria bersahaja ini menduduki beberapa posisi penting, misalnya: Kapolsek Gangking Polres Bulukumba (tahun 2004 – 2006), Kasat Sabhara Polres Bulukumba (tahun 2006 – 2008), Kapolsek Ujungloe Polres Bulukumba (tahun 2008 – 2010), Kapolsek Gantarang Polres Bulukumba (tahun 2010 – 2013).

Menjadi Kapolsek tentunya memiliki dinamika kehidupan tersendiri. Ada kalanya bersuka, ada masanya berduka. Kekalutan pikiran terutama saat menghadapi kasus pembunuhan dan demonstrasi massa. Ketika itulah pria penyuka film Rhoma Irama ini mencurahkan segenap pikiran, tenaga, dan waktunya untuk berkoordinasi dengan semua pihak.

Keberuntungan rupanya senantiasa memihak Sukimin. Hal itu terbukti dari saat ia mendapatkan amanah berupa kenaikan pangkat menjadi Kompol dan AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) Gadik Muda SPN Batua Polda Sulawesi Selatan pada tahun 2013 hingga tahun 2018. Pada tahun 2018, Sukimin memasuki masa purnawirawan. Periode purnatugas bukan berarti bebas, melainkan ia semakin bersemangat di dalam melayani rakyat serta mengabdikan diri kepada masyarakat.

Roda kehidupan senantiasa berputar. Terkadang berada di atas, terkadang berada di bawah. Momentum emas perjuangan hidup Sukimin dirasakan saat menerima penghargaan Bintang Nararya dalam upacara yang dirangkaikan dengan HUT Bhayangkara di Mapolda Sulawesi Selatan. Peristiwa bersejarah dalam kehidupan Sukimin yang dihadiri ribuan peserta upacara beserta tamu undangan itu terjadi pada tanggal 1 Juli 2014.

Virginia, Aku Mencintaimu seperti Aku Mencintai Regina dan Zakiyah

0

Perdebatan boleh dan tidak perayaan Valentin, dipengaruhi oleh sejarah Valentin yang berkembang menjadi prasangka keagamaan. Lebih dari perdebatan tersebut, kasih sayang menjadi modal hubungan kemanusiaan yang harmoni. Apakah pelarangan tersebut akhirnya melupakan pesan kasih sayang? Valentin perlu dimaknai lebih merdeka, bukan tentang impor, apalagi diperkeras dengan sentimen agama

KampusDesa– Seperti biasa, dia langsung saja masuk rumah. Tapi hari itu terlihat ada yang lain di wajahnya. Ada semacam guratan kekhawatiran dan kebingungan. Saya menyambut dan menyapanya seperti hari-hari sebelumnya. Dia hanya melihatku dengan diam. Tampak sekali ada sesuatu yang ingin dikatakan. Bahkan saat dia duduk di sampingku, dia hanya bungkam.

“Ada apa?,” tanyaku dengan lembut. Dia tetap diam. Tapi kegalauannya akhirnya memberi tenaga padanya untuk membuka mulut dan mengeluarkan suara.

“Kita tidak boleh merayakan Valentine. Kita tidak boleh mengucapkan ‘Selamat Valentine!,” ucapnya dengan muka cemberut yang bimbang.

Aku mengusap lembut rambutnya, memeluknya dan mengujaninya dengan ciuman. Sekalipun diam, jelas sekali dia menyukainya. Biasanya dia akan memnbalas pelukanku, bahkan menyodorkan pipinya untuk mendapatkan lebih banyak ciuman dariku. Tapi hari itu, dia tampak ragu, tidak tahu harus berbuat apa dengan limpahan cinta dariku.

Aku sudah bisa menduga apa yang terjadi. Sebagai seorang ayah, aku tahu ketika anakku mengatakan sesuatu sepulang sekolah. Hampir pasti, dia baru saja mendapatkan “didikan” tertentu di sekolahan, baik dari gurunya maupun teman sekolahnya. Hari itu adalah 14 Februari, Hari Valentine. Ketika dia datang dari sekolah dan mengatakan bahwa kami tidak boleh merayakan Valentine, aku memastikan itulah didikan yang dia dapatkan di hari itu.

Aku bertanya pelan, “Mengapa kita tidak boleh merayakan Valentine?”

Dia kemudian bercerita bahwa gurunya melarang siswa-siwa untuk merayakan Valentine karena kita seharusnya menyayangi orang setiap saat, bukan hanya di Hari Valentine, dan Valentine itu bukan budaya kita. Penjelasan yang tidak sedikit pun membuatku kaget karena itulah yang biasa kita dengar.

Aku tidak meresponnya secara langsung. Aku membiarkan waktu berlalu agak lama hingga keriangan kanak-kanaknya muncul kembali. Kami kemudian bermain, bercengkerama, berpelukan, dan melakukan apa saja sebagai wujud kami saling mencintai. Seharian aku melimpahinya cinta dan kasih sayang.

Saat menjelang tidur, seperti biasa, aku memberikan sebelah lenganku untuk menjadi bantalnya, dan tanganku yang lain mengusap-usap punggungnya. Saat akrab seperti itu, aku katakan padanya:

“Virginia, kita tidak harus saling mengucap sayang, karena yang lebih penting adalah kita saling menyayangi. Kita memang harus saling menyanyangi setiap saat, tidak hanya di hari Valentine. Kita juga harus memberi cinta dan sayang kepada siapa saja setiap saat.”

Tanganku tetap mengusap punggungnya dengan lembut.

“Nah, sekarang camkan! Jika kita harus saling menyayangi setiap saat, lalu mengapa kita tidak boleh mengucap sayang di tanggal 14 Februari? Itu sama seperti kita harus mencintai mama setiap saat tanpa harus melarang peringatan Hari Ibu.” Sesekali kurasakan geliat tubuhnya.

“Valentine memang bukan budaya kita. Tapi, lihatlah apa yang melekat pada tubuh kita, barang-barang di sekitar kita, hingga kebiasaan harian kita. Apakah semua berasal dari budaya kita?

Tidak, Virginia! Dalam hidup, kita belajar dari banyak tradisi. Ambil kebaikannya dan campakkan keburukannya, tak peduli dari mana pun datangnya. Kita akan menjadi manusia yang miskin budaya jika kita hidup dengan sikap tertutup. Kita menjadi berkembang karena diperkaya melalui persentuhan dengan budaya orang lain.”

Aku tidak tahu apakah dia tidak paham atau tidak dengan penjelasanku.

“Jika yang mereka khawatirkan adalah perbuatan dosa, tak perlu Valentine untuk menemukan dosa-dosa. Ketika papa selalu mengucapkan ‘Selamat Valentine’ ke kamu setiap tanggal 14 Februari, papa hanya ingin memiliki momentum untuk memperbarui cinta dan sayang papa ke kamu. Papa mencintai kamu seperti papa mencintai kakak Regina dan mama.”

Ketika akhirnya aku berhenti bicara, aku lihat dia sudah tertidur pulas. Aku yakin dia mungkin hanya sanggup mendengar dua kalimat pertama sebelum pada akhirnya tertidur. Tidak mengapa, aku hanya ingin mendidiknya agar tidak mengharamkan kasih sayang, agar dia tumbuh dengan mencintai orang-orang di sekelilingnya.

Aku juga tidak kuat menahan kantuk. Sebelum tidur, aku berdoa: “Ya Allah, jangan jadikan anakku sebagai manusia pembenci yang bangga menyerang orang-orang yang ingin merayakan kasih sayang. Amien!”[]

Merajut Asa Di Tanah Cendrawasih (Part 1)

0

Semula, aku tidak terlalu yakin masih ada manusia berhati malaikat seperti sosok pahlawan yang satu ini. Niatnya yang mulia tentu tidak berjalan mulus. Jauh dari keluarga, beradaptasi dengan tempat yang tidak pernah dijajaki sebelumnya hingga merasakan pahit manis di tempat pengabdian merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh Wahidudin, manusia berhati malaikat yang berasal dari Makassar.

KampusDesa–Di tengah terjalnya persaingan karir dikalangan pemuda, sang pahlawan ini rela mengabdikan diri di daerah Indonesia Timur. Postur tubuh rampingnya tidak menyurutkan semangatnya untuk menjadi guru di sebuah sekolah rintisan, yakni SD Inpres Memes, Distrik Venaha, Kab Mappi, Provinsi Papua. Sosok itu bernama Wahidudin, seorang pahlawan asal Makassar. Sudah setahun ini Wahidudin menjalani rutinitasnya sebagai tenaga pengajar di tanah Cendrawasih. Baginya, menjadi guru di daerah terpencil haruslah bermental baja, karena ia harus beradaptasi dengan keadaan lingkungan yang mirip di era 60-an saat Pak Soeharto pertama kali menjadi presiden.

“Saya tinggal di sana serasa hidup di zaman Soeharto pada periode pertamanya, karena tidak ada sinyal, tidak ada listrik, jadi kita hanya menggunakan pelita ketika malam.” Cerita Wahidudin ditemani dengan tawa renyahnya.

Apa yang diungkapan Wahidudin tidaklah berlebihan, sebab Distrik Venaha merupakan kampung terakhir di Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Jalan ber-aspal, lampu-lampu desa, kendaraan bermotor, bahkan minimarket yang sederhana pun tidak akan ditemui. Sebenarnya kampung tersebut memilik diesel yang bisa digunakan untuk bahan penerang. Akan tetapi hal itu hanya bisa beroperasi jika kucuran dana desa untuk kampung telah cair, itu pun listrik hanya berdurasi dari pukul 06.00 hingga pukul 10.00 WIT.

Minimnya sarana dan prasana juga dirasakan tenaga pengajar di daerah. Perjuangan yang berat dan beresiko merupakan tugas tambahan yang wajib dihadapi oleh para pahlawan tanda jasa di sana.

“ Guru-guru siap-siap saja jalan kaki ke sana, karena di sana kita tidak punya kendaraan, akses dari kota ke kampung itu hanya bisa dilalui menggunakan ketinting (perahu motor) karena yang ada hanya  jalur sungai, dan lokasi saya dengan sekolah itu bisa sampai 8 hingga 10 jam. ” Ungkapnya saat berbagi cerita kepada saya di Pare, Kediri (28/1/19).

Penduduk Distrik Venaha dikenal sangat ramah terhadap guru dan orang pendatang, itulah mengapa dalam keadaan yang serba terbatas Wahidudin mudah dalam menata hati, Ia dan kawan-kawan guru lainnya merasa nyaman dan  akrab berinteraksi dengan penduduk setempat.

Untuk memenuhi sandang pangan, warga Distrik Venaha masih sangat bergantung dengan alam. Tidak ada pasar di kampung, mereka mencari bahan sagu ke dalam hutan, menangkap ikan dan berburu, begitulah cara mereka bertahan hidup. Tidak jarang Wahidudin menerima sagu serta ikan segar dari wali murid anak didiknya. Maklum, sagu adalah makanan pokok warga setempat. Penduduk Distrik Venaha dikenal sangat ramah terhadap guru dan orang pendatang, itulah mengapa dalam keadaan yang serba terbatas Wahidudin mudah dalam menata hati, Ia dan kawan-kawan guru lainnya merasa nyaman dan  akrab berinteraksi dengan penduduk setempat.

Lain ladang lain belalang, tetap saja Wahidudin merindukan suasana yang familiar dengan tempat tinggal kelahirannya. Ia dan keempat anggota team-nya berkesempatan sebulan sekali pergi ke kota terdekat untuk menyetok kebutuhan mereka. Beras merupakan sembako yang mereka cukup-cukupkan atau dalam bahasa jawa di eman-eman. Layanan internet masih belum mampu menembus sudut-sudut ranting dibalik hijaunya alam Merauke. Sekali dalam 30 hari itulah Wahidudin bisa mengaktifkan kembali smartphone miliknya, berbagi kabar dengan keluarga dan kerabatnya. Meskipun berita yang ia dapat selalu out of date setidaknya ia tetap terhubung sebagai bagian dari warga Negara Republik Indonesia.

Hanya ada satu sekolah dasar di kampung Venaha, sedangkan untuk sekolah lanjutan hanya ada di salah satu kampung terdekat dan sisanya berada di kota.

Menurut Wahidudin, penghasilan orangtua siswa tidak bisa diprediksi. Mereka mendapatkan upah ketika ada proyek yang diselenggrakan oleh kampung melalui pembiayaan dana-dana desa. Ketika proyek sepi, maka sagu dan hasil bumi yang mereka kirimkan untuk anak-anak yang melanjutkan sekolah SMP atau SMA di kampung terdekat. Mau tidak mau murid-murid harus pandai pandai bercocok tanam di lahan sekitar. Perlu diketahui, hanya ada satu sekolah dasar di kampung Venaha, sedangkan untuk sekolah lanjutan hanya ada di salah satu kampung terdekat dan sisanya berada di kota.

“Jadi karena tidak selamanya sagu itu ada, kiriman itu ada, jadi pintar-pintarlah bercocok tanam di kota, entah pisang atau jadi kuli di pasar.” Imbuh pria berkulit sawo matang ini.

Kepala Sekolah SD Inpres Memes kebetulan bertempat tinggal di kota. Kadangkala dengan sukarela beliau menyampaikan titipan uang dari wali murid untuk anak-anaknya yang melanjutkan sekolah di kota. Bagaimanapun, hanya surat kertas serta kiriman hasil bumi yang sanggup menyampaikan pesan rindu antara mereka.

Program guru penggerak daerah terpencil diinisiasi oleh FISIPOL PPKK UGM bekerjasama dengan pemerintah Provinsi Papua, Wahidudin termasuk dari sekitar 200 guru berbakat yang bertugas di sana. Melalui apa yang dirasakan muwahidin dan rekan rekannya di wilayah Pedalaman Distrik Venaha, Papua. Kita semakin tahu bahwa ghirah (semangat) untuk mencerdaskan putra-putri bangsa memerlukan ikhtiar yang lebih kuat. (bersambung ke part 2) >>>

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Melestarikan Permainan Tradisional Melalui Gerakan Inspirasi

0

Kelas inspirasi (KI) merupakan sebuah kegiatan inspirasi yang dilakukan dalam rangka berbagi pengalaman dan inspirasi melalui berbagai macam profesi. Gerakan di bawah naungan Indonesia Mengajar ini juga bisa dikatakan sebagai wadah berbagi pengalaman mengajar bagi mereka-mereka yang tidak memiliki latar belakang di bidang pendidikan. Kegiatan ini bukan suatu komunitas tertentu, tetapi sebuah gerakan yang bertujuan untuk membantu mengembangkan dan memajukan pendidikan di Indonesia.

KampusDesa–‘Giat Literasi, Raih Mimpi’, begitulah jargon yang diusung pada kegiatan Kelas Inspirasi Trenggalek (KIGA) tahun ini yang berlokasi di Kecamatan Bendungan. Memasuki tahun ke-5 pelaksanaan Kelas Inspirasi di Kabupaten Trenggalek ini memiliki keunikan tersendiri dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu dengan mengusung tema Literasi. Hal ini tentu saja memiliki pertimbangan tersendiri, di mana literasi memang memiliki andil dalam proses pembelajaran siswa. Di samping itu, literasi sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan minat baca dan peningkatan keterampilan serta pengetahuan. Alasan lain yang turut menjadi pertimbangan, tidak lain karena rendahnya minat baca di Indonesia, sebagai sarana mendukung gerakan literasi sekolah, dan sebagai gerakan yang bergerak dalam bidang pendidikan maka sudah seharusnya kita bersinergi bersama mendukung program pemerintah.

Kelas inspirasi (KI) merupakan sebuah kegiatan inspirasi yang dilakukan dalam rangka berbagi pengalaman dan inspirasi melalui berbagai macam profesi. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan berbagai macam profesi kepada para siswa, terutama di sekolah-sekolah yang dirasa masih memerlukan motivasi belajar demi menumbuhkan semangat belajar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Kelas inspirasi tidak hanya mengenalkan suatu profesi tertentu, tetapi juga disertai dengan pembelajaran tentang pentingnya sebuah karakter bagi setiap peserta didik.

Jika kita amati, akhir-akhir ini pendidikan kita sedang mengalami goncangan-goncangan yang luar biasa. Mulai dari permasalahan kurikulum, hingga pelaksanaan pengajaran ketika di lapangan. Hal ini tidak hanya memberatkan para siswa, bahkan juga memberatkan pelaksana pendidikan itu sendiri seperti  guru-guru yang berinteraksi secara langsung dengan para siswa. Oleh karena itu, kegiatan seperti kelas inspirasi perlu diadakan di setiap daerah. Kelas inspirasi tidak hanya mengenalkan suatu profesi tertentu, tetapi juga disertai dengan pembelajaran tentang pentingnya sebuah karakter bagi setiap peserta didik. Hal ini disebabkan ilmu tidak akan ada gunanya tanpa disertai dengan kepribadian dan akhlak yang baik.

Kelas Inspirasi juga bisa dikatakan sebagai wadah berbagi pengalaman mengajar bagi mereka-mereka yang tidak memiliki latar belakang di bidang pendidikan.

Selain beberapa alasan di atas, Kelas Inspirasi juga bisa dikatakan sebagai wadah berbagi pengalaman mengajar bagi mereka-mereka yang tidak memiliki latar belakang di bidang pendidikan. Sebuah gerakan yang berada di bawah naungan Indonesia Mengajar ini memang dikhususkan bagi para praktisi di luar pendidikan. Tujuannya tidak lain untuk membagikan pengalaman kepada para siswa sesuai dengan bidang yang digelutinya, di antaranya Direktur, Legal Bank, Peer Leader, MC, Pemandu Wisata (Guide), Ahli Laboratorium, Fotografer, Perangkai Bunga maupun profesi-profesi lainnya masih banyak lagi. Dengan demikian, para siswa tidak hanya mengetahui profesi-profesi yang ada pada umumnya saja seperti dokter, guru, polisi, pilot, dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini bisa memberikan pengetahuan yang lebih bagi para siswa bahwa profesi sangat banyak macamnya.

Misalnya saja ketika kegiatan hari inspirasi yang diadakan oleh Kelas Inspirasi Trenggalek beberapa hari yang lalu, para panitia memilih daerah Bendungan sebagai tempat inspirasi tahun ini. Salah satu sekolah yang digunakan sebagai tempat inspirasi yaitu SDN 02 Botoputih. Memiliki siswa yang lumayan sekitar 71 siswa mulai dari kelas satu hingga kelas enam, membuat sekolah ini termasuk sekolah yang masih diminati masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke SDN 02 Botoputih, di samping SDN 04 Botoputih yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi walaupun kelas satu hanya memiliki empat siswa saja.

Jika diamati ketika hari inspirasi yang telah berlangsung hari senin tanggal 04 Februari 2019 kemarin, antusiasme tidak hanya dialami para siswa, bahkan juga para guru dan kepala sekolah ikut antusias berpartisipasi dalam kegiatan hari inspirasi tersebut. Kegiatan dimulai dengan upacara rutinan setiap hari senin, dilanjutkan dengan pengenalan kelas inspirasi serta pengenalan para relawan oleh koordinator relawan rombongan belajar (rombel) SDN 02 Botoputih. Opening hari inspirasi ditutup dengan ice breaking yang dilanjutkan dengan membentuk baris memanjang ke belakang setiap kelas, sembari bermain ular-ularan kemudian masuk kelas sesuai kelasnya masing-masing.

Kegiatan KI yang berlokasi di Kecamatan Bendungan dilaksanakan bukan tanpa alasan. Pasalnya, 14 kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang belum pernah didatangi teman-teman KI, ada beberapa tempat yang belum pernah didatangi yaitu salah satunya Kecamatan Bendungan. Di samping belum pernah didatangi, pemilihan tempat di Kecamatan Bendungan dijadikan sebagai ajang promosi wisata baru seperti Dilem Wilis, sebagaimana pelaksanaan refleksi pasca Hari Inspirasi (HI)  yang berada tepat di depan wisata Dilem Wilis, serta kuliner khas Kabupaten Trenggalek yaitu Nasi Gegok.

Permainan Gobak Sodor

Kegiatan inspirasi yang memfokuskan pada permainan tradisional kali ini berlangsung sangat menarik. Menurut Aprilia selaku PIC KIGA, permainan tradisional dipilih berdasarkan pengalaman dari KIGA 4 tahun lalu bahwa ternyata banyak yang belum mengetahui permainan-permainan tradisional, terlebih lagi melihat zaman yang semakin berkembang dengan adanya Revolusi Industri 4.0. Sehingga, pengenalan terhadap permainan-permainan tradisional sangat diperlukan demi permainan tradisional tetap lestari dan tidak dilupakan seiring perkembangan zaman yang semakin pesat. Sebagaimana permainan tradisional yang dilakukan siswa-siswi SDN 02 Botoputih setiap harinya seperti permainan kelereng, gobak sodor, dan lain sebagainya.

Permainan Kelereng

Kegiatan inspirasi berlangsung sekitar kurang lebih lima jam, mulai pukul 07.00 WIB hingga 12.00 WIB. Kegiatan closing digunakan untuk menuliskan cita-cita dalam bentuk banner pohon cita-cita rombel SDN 02 Botoputih. Setelah rangkaian kegiatan inspirasi terlaksana, momen foto bersama dilakukan sebagai simbol yang menandakan bahwa seluruh rangkaian kegiatan hari inspirasi selesai.

Tidak akan ada lagi persepsi ‘anak itu tidak bisa’, karena setiap anak memiliki keunggulannya masing-masing dan dalam bidangnya masing-masing.

Kegiatan kelas inspirasi yang diadakan oleh beberapa daerah memang dikhususkan pada tingkat sekolah dasar, dengan pertimbangan bahwa penanaman karakter serta pengenalan profesi harus dilakukan sejak usia dini. Hal ini disebabkan masa kanak-kanak dirasa sebagai masa awal yang sangat penting dalam pengenalan terhadap lingkungan sekitar, cita-cita, bahkan dunia. Dengan demikian, para siswa bisa memilih bidang apa yang akan menjadi cita-citanya, serta kompetensi unggul mana yang sesuai dengan minat dan prestasinya. Sehingga diharapakan, tidak akan ada lagi persepsi ‘anak itu tidak bisa’, karena setiap anak memiliki keunggulannya masing-masing dan dalam bidangnya masing-masing.

Kelas inspirasi selalu menjadi kegiatan inspiratif yang diminati banyak kalangan dari berbagai macam profesi yang ada di Indonesia khususnya. Kegiatan ini bukan suatu komunitas tertentu, tetapi sebuah gerakan yang bertujuan untuk membantu mengembangkan dan memajukan pendidikan di Indonesia. Semua orang bisa bergabung, dari kalangan manapun bisa berkontribusi dan mendedikasikan dirinya dalam rangka membangun pendidikan Indonesia yang berkarakter. Pendidikan harus memberikan bekal yang tidak hanya unggul dalam bidang ilmu pengetahuan saja, tetapi juga unggul dalam berkarakter dan berperilaku.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Sukimin Radja (3) Meraih Bintang Kesuksesan Membutuhkan Kunci Lo

0

Kesuksesan tidak jatuh tiba-tiba. Ada filosofi hidup, kebiasaan dan dimulai dari contoh model inspiratif. Kekayaan mengambil sudut pandang tentang kehidupan pun menjadikan Sukimin mampu menapaki proses menuju sukses dengan tekujmua? Sukimin Radja punya jawabannya.

KampusDesa– Meraih kejayaan dan kesuksesan itu memerlukan perjuangan. Demikian pula Sukimin. Pria yang menganggap kesuksesan adalah harga diri ini mengakui bahwa semua pencapaian dan prestasi yang diraihnya, semata merupakan anugerah dari Allah SWT. Tentunya diiringi doa dan dukungan istri, keluarga, rekan seprofesi, sahabat, teman, serta semua orang. Dirinya sendiri pun tak pernah membayangkan dapat meraihnya. Ia hanya berupaya secara istiqamah untuk melakukan yang terbaik, mendedikasikan kehidupan dan waktunya demi kemajuan umat, kesejahteraan rakyat, kejayaan Indonesia, serta kemuliaan peradaban.

Ia selalu meluangkan waktunya setiap hari untuk sholat tahajjud di sepertiga malam terakhir, membaca Al-Quran dilanjutkan memahami tafsirnya, mengikuti perkembangan informasi terbaru dengan cara menonton berita di televisi.

Saat ditanya tentang kunci kesuksesannya, Sukimin menyebutkan enam hal. Pertama, kejujuran. Kedua, kerja keras. Ketiga, rendah hati. Keempat, bermasyarakat. Kelima, menghargai orang lain. Keenam, belajar dari pengalaman. Dalam meraih kesuksesan, lelaki beristri St. Yarni ini mengakui ada beberapa hambatan seseorang saat berproses meraih kesuksesan. Misalnya: tidak sabar, mudah putus asa, banyak mengeluh dan menggerutu, terlalu bergantung pada orang lain.

Sukimin Radja. Menghadiri wisuda putrinya

Selain rida Allah, kesuksesan juga ditentukan oleh faktor manusia. Maksudnya, ada orang-orang penting yang berada di balik kesuksesan seseorang. Bagi penyuka lagu dangdut ini, mereka adalah orangtua, guru, dan pimpinan.

Sukimin memiliki banyak “guru kehidupan” yang inspiratif. Beberapa di antara mereka adalah pak Basri dan pak Ahmad (guru SD), pak Sapo’(guru SMP), Bapak Drs. Mallapiang (guru SMA), Bapak Drs. Geno Hariyanto, SH (Kapolres Bulukumba periode 1996 – 1997). “Guru kehidupan” yang disebutkan terakhir telah menginspirasi Sukimin menjadi perwira.

Manajemen Kehidupan

Kehidupan ini memerlukan kiat dan strategi tersendiri di dalam memaknai dan menjalaninya. Salah satu strategi efektif di dalam manajemen kehidupan adalah manajemen waktu.

“To do list (membuat daftar skala prioritas yang harus dilakukan setiap hari), istiqamah (konsisten), tidak suka menunda-nunda pekerjaan (deadliners), senang memulai pekerjaan lebih awal, mencintai profesinya.

Penyuka mobil favorit Toyota ini memiliki kiat manajemen waktu yang sederhana namun efektif meraih kesuksesan, berupa: “to do list (membuat daftar skala prioritas yang harus dilakukan setiap hari), istiqamah (konsisten), tidak suka menunda-nunda pekerjaan (deadliners), senang memulai pekerjaan lebih awal, mencintai profesinya.

Keluarga, teman, rekan, sahabat, atasan, bawahan bersepakat bahwa Sukimin seorang pribadi yang sederhana (bersahaja), penuh semangat, mudah bersosialisasi, percaya diri, sangat disiplin, profesional dalam menjalankan tugas, totalitas (penuh dedikasi), rajin bekerja, dan berkomitmen tinggi terhadap pekerjaan.

Ia memiliki visi dan misi yang amat mulia, yakni membangun bangsa dan mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Selain itu pria penyayang Burung Beo ini merupakan sosok polisi yang visioner dan futuristik. Betapa tidak? Ia memiliki visi dan misi yang amat mulia, yakni membangun bangsa dan mensejahterakan masyarakat Indonesia. Bila berdiskusi tentang konsep Indonesia Jaya, maka pria penyuka destinasi wisata Pantai Bira dan Apparalang ini langsung bersemangat.

Penyuka Alquran dan hukum pidana sebagai buku bacaan favorit ini berpandangan bahwa “Indonesia Jaya” dapat segera diwujudkan bila Indonesia memiliki sosok atau figur pemimpin yang suka bekerja (kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras), jujur, religius/agamis, berani, peduli dan tanggap akan kesulitan rakyatnya. Selain itu, pemerintah hendaklah memiliki berbagai program untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM), mengurangi pengangguran, serta membuat tatanan masyarakat yang adil, makmur, dan hidupnya menjadi semakin sejahtera.

Sosok Sukimin Radja dengan Seragam Kesatuannya

Petuah Bijak

Untuk generasi milenial, terutama yang juga ingin berkarir menjadi polisi, Sukimin berpesan agar menjadi pribadi yang senantiasa jujur, mengutamakan profesionalisme, penuh kreativitas, disiplin, suka bekerja keras, mencintai profesinya, penuh semangat, dan berdedikasi tinggi.

Prospek polisi di masa mendatang akan semakin bagus, cerah, dan sejahtera. Meskipun demikian, hendaklah jangan terlena. Tugas polisi menjadi semakin berat, karena tren kejahatan juga menjadi semakin canggih dan terus meningkat.

Hiduplah senantiasa bersama Allah SWT, mencintai dan membenci juga karena Allah SWT. Jalanilah kehidupan dan hidup ini dengan gembira karena kehidupan ini hanya sementara. (Profil inspiratif ini ditulis berdasarkan wawancara dan observasi langsung yang dilakukan oleh dr Dito Anurogo MSc, dosen FK Unismuh Makassar, penulis puluhan buku, Director Networking IMA Chapter Makassar)

TIDAK ADA CONFLICT OF INTEREST DI DALAM KEPENULISAN KISAH INSPIRATIF INI.

Ustadzah Muda Mencari Presiden

0

Temuan sejumlah penceramah, kerap para pendakwah agama langsung mempengaruhi jamaah memilih calon presiden A. Kalau sudah demikian, ceramahnya menjelek-jelekkan calon presiden B. Situasi ini menjadi gaduh dan mencemari kebebasan dalam menentukan pilihan. Beda dengan ustadzah ini. Dia tidak pernah mau menyebut pilihan calon tertentu, meski diminta jamaah. Dia hanya menyodorkan kaidah memilih pemimpin yang baik itu bagaimana. Selebihnya keputusannya tetap dikembalikan ke jamaah. Sejuk tanpa provokasi.

KampusDesa–Jangan dikira bahwa seorang ustadzah hanya tahu shalat istikharah ketika dia hendak mencari solusi dari masalah yang dihadapinya. Shalat istikharah sudah pasti dilakukan. Tapi seorang ustadzah juga tidak jarang mengambil keputusan yang sangat rasional sebagaimana ustadzah muda yang saya temui kali ini.

Saya mengenalnya cukup lama. Dia putri seorang kiai besar di negeri ini. Di samping pendidikan agama yang langsung didapatkan dari ayah ibunya, dia sendiri juga mendapatkan pendidikan formal yang cukup baik. Saat ini dia memiliki jamaah anak-anak muda yang sangat banyak. Di mana pun dia berkunjung, anak-anak muda selalu mengerumuninya untuk meminta nasehatnya.

Tidak seperti kebanyakan tokoh agama yang biasanya “mabok politik” dan dengan senang hati mengarahkan jamaahnya untuk memilih salah satu kandidat. Dia tidak pernah mau menyebut nama.

Dalam posisinya seperti itu dan saat situasi politik sedang hangat menjelang Pilpres, dia tidak bisa menghindar dari pertanyaan tentang “siapa presiden yang harus saya pilih” dari para jamaahnya. Tidak seperti kebanyakan tokoh agama yang biasanya “mabok politik” dan dengan senang hati mengarahkan jamaahnya untuk memilih salah satu kandidat. Dia tidak pernah mau menyebut nama.

Seperti hari itu, kami bertanya kepadanya “kami harus memilih siapa?” Dia tidak menjawab pertanyaan kami. Dia hanya memberi empat hal yang bisa kami jadikan pertimbangan dalam memilih seorang pemimpin, termasuk memilih presiden.

Pertama adalah karakter. Ini menyangkut tentang kualitas mental dan moral seseorang. Kalau kita kebingungan mencari seorang pemimpinan, kita dianjurkannya untuk melihat karakter para kandidat: apakah dia seorang pemarah atau penyabar, arogan atau rendah hati, keras kepala atau mau mendengar nasehat, dan sebagainya.

Pertimbangan kedua adalah itikad atau niat. Mungkin ini agak sedikit abstrak. Bagaimana kita mengetahui niat seseorang? Tapi menurut ustadzah kita ini, sekalipun niat ada di dalam hati, tapi setiap orang memiliki kesanggupan untuk menangkap, sesamar apapun, niat yang ada pada orang lain. Ini seperti kemampuan kita menangkap niat jahat seorang preman yang mendekati kita di terminal atau jalanan sepi. Berdasarkan pertimbangan akal sehat dan pengalaman dicampur dengan naluri, kita bisa menangkap niat jahat yang ada pada orang tersebut.

Yang ketiga adalah kapabilitas atau kemampuan. Menurutnya, tidak mungkin kita menyerahklan urusan negara kepada orang yang tidak memiliki kemampuan dalam menjalankan kerja-kerja pemerintahan. Karakter dan niat baik saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan kemampuan bekerja. Keinginan untuk bekerja dengan baik dan melakukan pekerjaan dengan baik itu dua hal yang berbeda. Melakukan pekerjaan dengan baik mempersyaratkan adanya kapabilitas.

Pertimbangan yang terakhir adalah track record atau rekam jejak. Kita bisa saja salah dalam menilai karakter, itikad, dan kapasitas seorang calon pemimpin, tapi kita bisa menemukan rekam jejaknya. Rekam jejak akan membuka siapa sesungguhnya dia. Nyaris tidak mungkin kita bisa memercayai seorang kandidat yang berapi-api menyatakan akan memberantas korupsi jika dia sendiri adalah seorang koruptor. Tidak mungkin kita percaya pada seorang kandidat yang di mana-mana berpidato akan memberantas kemiskinan jika dia selama ini mengeruk harta rakyat. Pun kita tak bisa diyakinkan bahwa dia akan menegakkan hukum jika masa lalunya berlepotan dengan pelanggaran hukum. Rekam jejak seseorang akan menolong kita untuk melihat konsistensi antara ucapan dan tindakan.

Sampai di akhir pertemuan, dia sama sekali tak mau menyebut nama, sekeras apapun di antara kami mendesaknya. Dia hanya tersenyum sambil mengatakan “gunakan empat pertimbangan yang sudah saya berikan. Insya Allah siapapun yang kamu pilih, dia adalah seorang pemimpin yang baik. Dan jangan lupa, tetap berdoalah kepada Allah agar kita tidak salah langkah dan diberi seorang pemimpin yang baik untuk menjaga Indonesia.”

Kami pun pulang dengan perasaan lega.

Mendesaknya Pendidikan Seksual Sejak Dini

0

Di era media sosial sekarang ini, pergaulan semakin terbuka dan bebas. Peluang terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual juga kian meningkat. Orangtua dan pendidik tidak bisa setiap saat mengawasi anaknya. Alhasil, maraknya fenomena seks bebas atau seks pra nikah jamak kita saksikan akhir-akhir ini. Bagaimanakah langkah untuk mencegahnya?

KampusDesa―Sore beberapa hari yang lalu, rumah saya kedatangan Pak Lek dari pihak Abah mertua. Di tengah gayengnya obrolan, topik pembicaraan tiba-tiba berganti membahas seorang gadis yang tak lain merupakan putri dari tetangga Pak Lek. Gadis ini melahirkan tanpa sepengetahuan orangtuanya. Mirisnya, bayi itu adalah hasil hubungan “gelap” antara si gadis dengan pacarnya. Lebih mengelus dada lagi, ternyata orangtua dari gadis itu adalah ustadz yang menjadi panutan masyarakat sekitar.

Bisa dibayangkan, betapa hancurnya hati orangtua gadis tersebut. Betapa malunya mereka. Dan juga tak mungkin bisa dihindari, mereka sekeluarga akan menjadi “makanan” bagi majelis gosip para tetangganya. Sampai kapan? Entah, mungkin seumur hidup. Padahal, gadis itu juga merupakan mahasiswa di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri ternama di Jawa Timur.

Hal lain yang juga tak kalah membuat heran adalah bagaimana mungkin kedua orangtua gadis ini tidak tahu-menahu bahwa putrinya sedang mengandung.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa sesungguhnya faktor yang mendasari gadis tersebut melakukan perbuatan amoral tersebut? Bagaimanakah seharusnya menyikapi fenomena ini?

Kasus di atas hanya secuil cuplikan dari fenomena yang melanda generasi muda negeri ini. Banyak kasus-kasus lain yang lebih miris, lebih tragis, dan lebih memprihatinkan lagi. Tak jarang kasus-kasus seperti ini berakhir mengenaskan, tak sedikit gadis yang lebih memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak kuat menanggung malu.

Tidak hanya belum maksimal,  pendidikan seksual juga belum populer di kalangan lembaga pendidikan kita. Bahkan menjadi bahan perdebatan. Padahal pendidikan seksual memainkan peran penting dalam membentengi generasi muda kita dari seks bebas dan bahaya kejahatan seksual.

Jika ditelisik, ada banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya kasus-kasus seperti ini. Satu di antaranya adalah belum maksimalnya pendidikan seksual untuk anak. Tidak hanya belum maksimal, pendidikan seksual juga belum populer di kalangan lembaga pendidikan kita. Bahkan menjadi bahan perdebatan. Padahal pendidikan seksual memainkan peran penting dalam membentengi generasi muda kita dari seks bebas dan bahaya kejahatan seksual.

Alih-alih menjelaskan, tak sedikit orangtua justru mengalihkan topik pembicaraan jika mendapatkan pertanyaan tentang seks dari anak.

Pendidikan seksual belum mendapat perhatian serius dari lembaga pendidikan kita, satu di antaranya disebabkan oleh masih adanya perasaan “tabu” membicarakan seks dengan anak. Alih-alih menjelaskan, tak sedikit orangtua justru mengalihkan topik pembicaraan jika mendapatkan pertanyaan tentang seks dari anak. Padahal kesadaran dan pemahaman mengenai fungsi-fungsi alat reproduksi sejak dini akan membuat anak nantinya lebih waspada dalam bergaul.

Perlu dipahami, pendidikan seksual bukan mengajarkan anak berhubungan seksual. Melainkan menjelaskan fungsi-fungsi alat vital sebagai alat reproduksi yang harus dijaga dan bagaimana menjaga kesehatannya. Tujuannya adalah untuk menyadarkan pentingnya kesehatan reproduksi sehingga kejahatan seksual dan penyakit menular dapat dicegah.

sudah saatnya pendidikan seksual menjadi perhatian dunia pendidikan kita. Bahkan sejak dini, anak harus sudah mulai diberi pemahaman tentang fungsi alat reproduksi.

Ketidakpahaman akan fungsi alat reproduksi tidak hanya berdampak pada terjadinya seks bebas, tapi juga kekerasan seksual dan penyimpangan orientasi seksual. Oleh karena itu, sudah saatnya pendidikan seksual menjadi perhatian dunia pendidikan kita. Bahkan sejak dini, anak harus sudah mulai diberi pemahaman tentang fungsi alat reproduksi.

Menyikapi fenomena memprihatinkan ini, lembaga-lembaga dunia seperti UNICEF, WHO, dan UNAIDS memberikan panduan bagi orangtua agar dapat melaksanakan pendidikan seksual kepada anak mereka. Secara garis besar, pendidikan seksual untuk anak dibagi menjadi 4 (empat) level; usia 5-8 tahun, 9-12 tahun, 12-15 tahun, dan 15-18 tahun ke atas. Dikutip dari www.theasianparent.com, berikut adalah rincian dari masing-masing level tersebut.

Pada usia 5-8 tahun, pendidikan seksual dapat dimulai dari;  (1) hal dasar; menjelaskan fungsi dan peran anggota keluarga. Menjelaskan bahwa setiap anggota keluarga harus saling menjaga. Menjaga keharmonisan komunikasi keluarga. Orangtua dan guru dapat membiasakan anak untuk bersikap terbuka dan bersedia menceritakan dan bertanya apa saja kepada orangtua.

(2) Mengajarkan anak berteman dengan siapapun. (3) Membiasakan anak mengekspresikan perasaan cinta dan kasih. Sederhana saja, misalnya “Aku sayang Ibu,” atau “aku sayang Ayah.” Membiasakan saling berbagi dengan saudara dan teman. (4) Kenalkan anak dengan perbedaan. Pahamkan kepada anak bahwa setiap orang punya keunikan masing-masing. Namun jangan sampai perbedaan menjadi halangan untuk berteman dan saling mengenal. (5) kenalkan anak dengan arti pernikahan. Ceritakan bahwa setiap orang bisa memilih pasangan atau dijodohkan. Jelaskan pula bahwa mereka lahir dari adanya buah cinta di antara orangtua.

Usia 9-12 tahun, anak mulai dijelaskan; (1) peran dan tanggungjawab anggota keluarga. (2) mulai melibatkan anak dalam pengambilan keputusan. Langkah ini akan membuat anak merasa dihargai dan mengajarkan mereka tanggungjawab. (3) Pahamkan mereka bagaimana berteman yang sehat. Jelaskan bahwa perkelahian, bullying, menghina dan sebagainya adalah bentuk-bentuk akhlak tercela yang wajib dihindari. (4) mulai jelaskan bagaiman alur terbentuknya keluarga dan tanggungjawab pernikahan.

Memasuki usia 12-15 tahun, anak sudah memasuki masa pubertas. Maka orangtua harus memahamkan pada anaknya; (1) pertemanan dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Oleh karena itu mereka harus berhati-hati dalam memilih teman. Jelaskan pula bahwa pertemanan yang terlalu dekat dapat berpotensi terjadinya hubungan seksual. Hubungan seksual yang terlalu dini akan berakibat buruk pada masa depan dan kesehatan mereka.

(2) ajak mereka waspada terhadap tindak pelecehan dan kekerasan. (3) pernikahan akan membawa bahagia jika dilandasi cinta, toleransi, penghargaan, dan tanggungjawab. Pada usia ini, orangtua juga dapat menjelaskan fungsi alat vital atau organ reproduksi manusia. Jelaskan secara detail dengan kata-kata yang jelas. Bahaya HIV/AIDS juga penting dijelaskan pada usia ini.

Adapun pada usia 15-18 tahun ke atas, orangtua dapat menjelaskan bahwa; (1) peran keluarga dapat mengalami perubahan jika ada anggota keluarga ada yang hamil, menolak menikah, atau menunjukkan penyimpangan orientasi seksual. Orangtua dapat menjelaskan apa itu LGBT, bagaimana dampaknya dan bagaimana respon masyarakat terhadapnya. Hindari stigmatisasi, tapi tunjukkan dan jelaskan mengapa Anda khawatir.

(2) aturan dan hukum terkait kekerasan dan pelecehan seksual. Jelaskan bahwa pelaku kejahatan seksual tidak mengenal usia, jenis kelamin, dan orientasi seksual. Bahaya kejahatan seksual bisa terjadi di mana saja. Jelaskan juga bahwa ada banyak organisasi dan institusi yang bisa membantu pendampingan korban kejahatan seksual.

(3) pernikahan tidak sesederhana kelihatannya. Jelaskan bahwa pernikahan sangat berharga dan akan membuat mereka menghadapi berbagai tantangan dan masalah hidup. Pernikahan tidak hanya soal cinta, tapi juga nafkah lahir dan batin. Jelaskan pula tujuan dan hakikat dari pernikahan.

Semakin hari, pergaulan anak akan semakin terbuka. Orangtua apalagi guru tidak setiap saat bisa mengawasi mereka. Kasus sebagaimana diuraikan di awal tulisan ini adalah satu di antara bukti bahwa lemahnya pengawasan dan kesadaran akan fungsi seksual dapat mengantarkan anak pada tindakan amoral seperti seks pra nikah. Karenanya, pendidikan seksual sejak dini mendesak untuk dilaksanakan.[]