Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 57

Analogi Jalan Normal vs Jalan Pintas

Keunikan manusia terletak pada karakter mereka yang berbeda beda. Setiap karakter memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Tujuan, impian  hingga cita cita juga merupakan bagian dari masalah indivu yang perlu diperjuangkan. Pepatah mengatakan apabila kamu menginginkan sesuatu maka ikutilah jalan yang mendekatkanmu pada impian itu.

Kampusdesa.or.id — Dalam tulisan saya kali ini akan saya jelaskan tentang dua jenis jalan yang bisa dan biasa kita lewati dalam upaya kita mencapai tujuan. Yang pertama, dengan jalan normal dan yang kedua dengan jalan pintas. Akan saya jelaskan satu persatu kedua jalan tersebut disertai analogi yang bisa kita petik hikmahnya berikut ini.

Jalan normal adalah jalan yang biasa dan banyak digunakan oleh seseorang untuk dilalui. Karena dilintasi oleh banyak orang, tentu kita harus ekstra sabar dalam melewatinya, perlu antri dan bergantian. Jalan normal biasanya melewati prosedur yang berliku dan agak sedikit merepotkan. Misalnya saat kita naik mobil, ketika di depan kita ada mobil berhenti, entah karena mogok atau memang sengaja berhenti menghalangi, kita harus rela berdiam diri untuk menunggu mobil itu dipindahkan atau berjalan kembali, sehingga kita bisa melanjutkan perjalanan. Itulah ibarat kalau kita melewati jalan normal.

Jalan normal ada dua, yaitu jalan umum dan jalan khusus. Jalan umum memang sudah disediakan untuk khalayak umum dan tidak perlu membayar dengan konsekuensi bermacet-macet ria, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke tujuan. Sedangkan jalan khusus biasa disebut juga dengan jalan tol, adalah jalan bebas hambatan yang berbayar tetapi minim akan resiko macet, sehingga perjalanan akan cepat sampai tujuan. Namun meskipun begitu, kita juga tidak boleh serta merta memacu mobil dengan kecepatan sangat tinggi, karena akan menimbulkan potensi kecelakaan bahkan akan ditilang di pintu keluar tol, jikalau kita melakukannya.

Jalan kedua yang kita bahas adalah jalan pintas. Jalan pintas adalah jalan alternatif dari jalan normal yang mungkin bisa kita lewati. Jalan pintas berbeda dengan jalan normal. Biasanya jalan pintas memiliki ukuran lebih kecil dan berjarak lebih dekat daripada  jalan normal.  Biasanya akan cepat sampai ke tempat tujuan jika melewati jalan pintas ini. Namun jalan pintas agak beresiko tinggi, jika kita tidak hati-hati dalam melewatinya.

Saya teringat masa kecil dulu saat berangkat sekolah dengan jalan kaki bersama teman-teman. Untuk bisa lebih cepat sampai ke sekolah, saya bersama kawan kawan sering melewati jalan pintas, yaitu sebuah pematang sawah yang licin. Kalau saya tidak berhati-hati dalam berjalan, tentu saya akan terperosok di sawah. Tak bisa dipungkiri sepatu saya akan menjadi kotor dan berlumpur. Saya dan beberapa teman beberapa kali juga pernah terperosok ke sawah. Sedih bercampur lucu itulah yang kami rasakan, tertawa bersama menikmati kekonyolan kala itu merupakan bumbu indah masa kecil yang tak terlupakan untuk dikenang.

Selain itu, jalan pintas ada dua jenis. Ada jalan pintas yang legal dan ada jalan pintas yang ilegal. Jalan pintas legal adalah jalan pintas yang memang sudah disediakan untuk dilalui secara khusus oleh orang-orang tertentu, sesuai dengan aturan dan perundangan yang berlaku. Sedangan jalan pintas ilegal adalah jalan yang bisa kita lalui, tetapi menyalahi aturan dan perundangan yang berlaku. Misalnya kita pergi ke shopping atau sekedar cuci mata ke Mall, banyak jalan pintas yang bisa kita lewati untuk menuju ke tujuan kita di Mall. Ketika kita melewati jalan pintas yang sudah disediakan itulah jalan pintas legal, sedangkan kalau kita berjalan potong kompas, melewati jalan milik toko atau gerai di Mall, itu namanya kita melewati jalan pintas ilegal.

Untuk mewujudkan mimpi dan harapan kita dalam hal apapun itu, kedua jalan tersebut bisa menjadi pilihan untuk dilewati. Terserah kita mau pilih yang mana, jalan pintas atau jalan normal. Semuanya ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hal terpenting sebelum kita menentukan rute perjalanan adalah memikirkan dalam-dalam segala kemungkinan baik buruk yang bisa terjadi apabila melewati jalan yang akan kita pilih tersebut, lalu pilihlah resiko yang paling sedikit, jika diperlukan sertakan solusi untuk menyelesaikan kendala saat diperjalanan nanti.

Untuk mewujudkan mimpi dan harapan kita dalam hal apapun itu, kedua jalan tersebut bisa menjadi pilihan untuk dilewati. Terserah kita mau pilih yang mana, jalan pintas atau jalan normal.

Misalnya saya mencontohkannya pada seseorang yang ingin sukses dan kaya raya. Jikalau ia memakai jalan normal umum, tentu membutuhkan waktu tertentu dengan penuh kesabaran dan perjuangan dalam mengumpulkan uang. Lain soal apabila memakai jalan normal khusus atau jalan tol, misalnya dengan menemukan harta karun bajak laut atau mendapatkan warisan.

Sedangkan kalau melewati jalan pintas legal, misalnya adalah seseorang yang memperoleh harta bantuan, sumbangan, beasiswa, atau hadiah dari orang tertentu yang sah dan dibenarkan oleh hukum. Kalau melewati jalan pintas ilegal, yaitu ketika seseorang memperoleh harta dengan jalan mencuri, merampok, merampas, menipu dan kejahatan-kejahatan sejenisnya yang menyalahi aturan dan hukum yang berlaku. Inilah jalan yang sangat tidak saya sarankan.

Barangsiapa yang menanam, maka dia akan memanen. Kita bisa melakukan instropeksi terhadap diri kita sendiri, sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing terkait tentang pencapaian kita saat ini, entah dalam hal kekayaan, pekerjaan, jabatan, pendidikan, komunikasi, transportasi, cinta, materi, kesehatan, dan kebutuhan serta keinginan manusiawi lainnya. Juga terkait apapun hal fenomena yang terjadi dalam kehidupan ini. Apakah pencapaian kita yang terjadi dahulu/saat ini melewati “jalan normal” ataukah “jalan pintas”?. Kalaupun melewati “jalan normal”, apakah melewati “jalan umum” atau “jalan khusus”?. Andaikata melewati “jalan pintas”, apakah melewati “jalan pintas legal” atau “jalan pintas ilegal”?. Yang bisa menjawab adalah hati nurani kita sendiri dengan segala daya imajinasi yang kita miliki.

“Karena sesungguhnya, setiap dari kita adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita pimpin.”

Editor: Arif Maulana

Isi Raport Siswa Selalu Membosankan Apapun Kurikulumnya. Mengapa?

0

Laporan hasil belajar siswa seringkali hanya dilihat dari aspek kognisi. Aspek afeksi yang sejatinya justru mempunyai peran jauh lebih besar masih kerap dianaktirikan. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi kita semua, baik orang tua, pendidik, maupun lingkungan sekolah. Apalah arti nilai angka setinggi langit jika tidak diiringi dengan akhlak yang mulia?

KampusDesa–Saya diingatkan oleh facebook bahwa empat tahun lalu saya pernah menulis status facebook begini,

“Masih berharap dan sedang mencari sekolah formal yang bisa memberi apresiasi kepada kemampuan siswa dalam mengaplikasikan ilmunya di kehidupan nyata yang nampak pada cara berakhlak mulia kepada sesamanya dan berakhalak mulia kepada Sang Khaliq melalui semangatnya untuk senang beribadah sosial dan ritual yang benar dan tepat.

Klise, melihat raport siswa yang cuma begitu-begitu saja yang dilaporkan kepada orang tua. Ya tentang nilai mata pelajaran matematika, IPA, IPS, Fiqh, al-Quran, dan lain-lain. Demikian itu sebagai tolak ukur bagi siswa, bahwa ia peringkat sekian dari sekian siswa dalam kelasnya.

Belum saya temukan report siswa yang mendefinisikan peringkat kelas siswa dengan tolak ukur yang antara lain; ia yang gemar sholat dhuha, taat pada aturan sekolah, menghormati guru, menyayangi teman dan nilai-nilai moral lainnya.

Sehingga (mungkin) akhirnya masih banyak  moral-moral yang (sedikit) mengecewakan di masyarakat dan ternyata pelakunya include insan-insan yang dulunya rangking kelas.

Pendidik dan sekolah adalah salah satu tempat bersandarnya harapan orang tua agar anak-anaknya terdidik dan akhirnya menjadi makhluk-makhluk yang rohmatan lil ‘alamin.

Sadar betul, juga realistis tidak mudah menyusun instrumet penilaian semacam itu bagi para pendidik. Namun, menyadari bahwa pendidik dan sekolah adalah salah satu tempat bersandarnya harapan orang tua agar anak-anaknya terdidik dan akhirnya menjadi makhluk-makhluk yang rohmatan lil ‘alamin. Tidakkah instrument penilaian itu akan mudah disusun? Sekali lagi dengan mengingat, membayangkan tentang harapan orang tua yang disandarkan kepada pendidk dan sekolah.

Siswa-siswa itu memang sebagian besar waktunya di luar sekolah, lebih banyak di rumah dan lingkungan sekitarnya, tapi begitu hebatnya sekolah jika ia bisa memberi konstribusi besar terhadap kebaikan moral masyarakat dengan dimulai dari mengapresiasi ibadah sosial/ akhlak siswa juga ibadah ritual mereka dalam bentuk penilaian yang terukur dalam buku laporan siswa/ raport siswa”.

Tanggapan komentar dari akun atas nama Kentar Budhojo,

Pangkalnya dari orientasi kurikulum kita yang berbasis KKNI yang diimplementasikan dalam kurikulum berbasis kompetensi, membuat anak hanya seperti robot yang diperlukan dunia kerja, butuh kemampuan kerja yang terukur, yang kebanyakan hanya menyangkut pengetahuan (K3) dan kemampuan melakukan suatu kinerja standar (K4), sementara kaitannya dengan K1 (etika moral dan agama) dan K2 (kedewasaan dalam hidup bersosial di tengah manusia lain) kurang diperhatikan, atau malah tidak diperhatikan sama sekali.

Lalu saya tanggapi dalam komentar tersebut,

Pak, apa mungkin ya dunia kerja bisa diajak bekerjasama dalam hal ini, ya agar persyaratan untuk menjadi pegawai melalui proses penilaian ahlak, dan itu menjadi persyaratan utama?

Beliau menjawab,

karena “buruh” dianggap faktor produksi, atau lebih tepat “mesin produksi” yang penting kerja … kerja … kerja, tidak perlu akhlak karena menurut New Weberian … akhlak itu malah bisa menghambat kerja sebagai homo economicum.

Tanggapan saya,

Pak, berarti sistem pendidikan kita terjajah oleh gaya kapitalis? Orientasinya materi melulu. Padahal, materi juga akan mudah diperoleh dengan beretika yang baik. Kira-kira begitu?

Warna-warni kehidupan justru di hati bukan di otak.

Beliau yang menjabat dosen salah PTN di Malang ini membalas,

Panjenengan tidak merasakan? Standardisasi pendidikan menjadikan manusia kerja hanya untuk memenuhi standard yang kuantitatif, sementara itu pendidik yang mendidik dengan hatinya untuk menyentuh hati anak didiknya yang dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan cara yang hati-hati semakin langka karena sistemnya dibuat semuanya serba otak, serba rasional, serba logis; yang berbasis feeling dikatakan cengeng; padahal warna-warni kehidupan justru di hati bukan di otak.

Selanjutnya ada komentar dari akun atas nama Isa Ansori yang profilnya menjelaskan bahwa beliau anggota dewan pendidikan Jawa Timur. Berikut ini komentarnya,

Itu kembali kepada gurunya apakah didalam membuat indikator penilaian memasukkan variabel variabel moral dalam penilaiannya, kebanyakan guru kita dalam penilaiannya hanya melihat faktor kognisi lupa di sisi afeksi, apalagi gak pernah ada guru membuat indikator yang memuat capaian afeksi, monggo dimulai dari kita sendiri dengan membuat RPP yang partisipatif sehingga indikator afeksi juga bisa kita buat sebagai pijakan penilaian.

Dan dilanjutkan komentar beliau berikutnya setelah mendapatkan komentar balasan dari Pak Kentar Budhojo,

Karena tuntutannya seperti itu mas Isa Ansori Motivator Pendidikan.

Guru adalah profesi mulia seperti profesinya para nabi, jadi guru harus pandai pandai menyelipkan kebenaran dan ideologi pendidikan yang menjadikan murid bermartabat dan bertanggung jawab.

Jawab Pak Isa Ansori,

Inggih bapak Kentar Budhojo, tapi sebetulnya ruang kelas itu kalau dipahami sebagai ladang jihad, maka guru tidak boleh seratus persen mengikuti aturan yang tidak baik dalam penilaian, guru adalah profesi mulia seperti profesinya para nabi, jadi guru harus pandai pandai menyelipkan kebenaran dan ideologi pendidikan yang menjadikan murid bermartabat dan bertanggung jawab, saya masih berkeyakinan kalau murid dilibatkan dalam proses perencanaan pembelajaran maka dia akan menjadi anak yang bertanggung jawab.

Nah, sampai sekarangpun tetap demikiankan? Raport siswa yang diterimakan tiap akhir semester, meskipun berorientasi pada pendidikan karakter ada KI-1 sebagai pengejawantahan nilai moral, tetap rasanya garing tidak berdampak kepada hasil laku yang berubah secara signifikan.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Reformasi Pedagogy: Kunci Pendidikan Hadapi Revolusi Industri

0

Sejak dicetuskan, istilah revolusi industri 4.0 telah banyak menyita perhatian berbagai sektor publik. Tak terkecuali sektor pendidikan. Sebagai tumpuan harapan penyemai generasi masa depan, pendidikan memiliki tuntutan dan tanggungjawab yang tidak sederhana. Ia harus mampu mencetak manusia Indonesia 4.0 agar bangsa ini mampu bicara banyak dalam kancah persaingan global. Reformasi pedagogy menjadi kuncinya.

Kampusdesa—Sebagai satu di antara kekuatan ekonomi paling potensial di negara dunia ketiga, Indonesia selalu menjadi “gadis seksi” bagi negara-negara adidaya, baik Eropa, Amerika, maupun lainnya. Keseksian Indonesia tentu tidak lepas dari kekayaan sumber daya alamnya (SDA) yang begitu melimpah. Namun tidak diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kapabilitas untuk mengelolanya.

Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia justru banyak dinikmati negara-negara lain, alih-alih dirinya sendiri

Memasuki era revolusi industri 4.0 sekarang ini ketimpangan tersebut kian nyata terasa. Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia justru banyak dinikmati negara-negara lain, alih-alih dirinya sendiri. Kenyataan akan semakin pahit manakala bonus demografi yang kini mulai tampak dan terasa tak dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

Sebagaimana diketahui, pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa (www.bappenas.go.id).

Peningkatan kualitas SDM menjadi hal yang mutlak diperlukan Indonesia. Kualitas di sini mencakup segala dimensi manusia (afeksi, kognisi, dan psikomotor)

Agar bonus ini benar-benar menjadi bonus, artinya menjadi berkah, bukan bencana, maka diperlukan langkah strategis untuk mengelolanya. Peningkatan kualitas SDM menjadi hal yang mutlak diperlukan Indonesia. Kualitas di sini mencakup segala dimensi manusia (afeksi, kognisi, dan psikomotor).

Pendidikan menjadi garda terdepan dalam upaya mewujudkan hal ini. Melalui pendidikan, diharapkan generasi Indoensia di tahun 2030-2040 mampu menjadi generasi emas yang akan membawa Indonesia tampil menjadi negara yang disegani dunia. SDM yang pada masa itu berlimpah, benar-benar menjadi kekuatan dan nilai lebih bagi Indonesia di mata global. Dengan demikian, pendidikan yang berkualitas menjadi poin kunci di sini.

Reformasi Pedagogy

Sewaktu menjadi narasumber dalam Annual Conference on Islamic Education yang dihelat oleh Perkumpulan Prodi PAI Se-Indonesia di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dede Rosyada mengatakan bahwa tantangan pendidikan di era 4.0 hari ini adalah bagaimana menghasilkan outcome yang inklusif, mampu berkomunikasi lintas etnik dan budaya, kreatif, dan inovatif.

Inklusif artinya memiliki sikap terbuka (menerima, menghargai, dan menjamin keberlangsungan identitas masing-masing) terhadap perbedaan. Hal ini tentu dibutuhkan oleh lulusan pendidikan, mengingat dunia di era globalisasi sekarang ini hampir tak lagi memiliki sekat atau batasan kultural yang jelas. Dunia telah sedemikian menjelma menjadi perkampungan global (global village).

Sebagai implikasi dari sikap inklusif, lulusan pendidikan juga harus mampu berkomunikasi lintas etnik, kultural, dan agama. Hal ini akan memungkinkan mereka mampu menjalin network lintas bangsa dan agama. Sebagaimana semangat yang diusung oleh globalisasi.

Dunia kerja kini tak lagi mempersoalkan “Anda lulusan mana?” tapi “Anda bisa apa?” artinya, kompetensi lebih diutamakan daripada selembar ijazah dan transkrip yang sarat dengan angka-angka

Tantangan berikutnya adalah mewujudkan lulusan yang kreatif. Dunia kerja kini tak lagi mempersoalkan “Anda lulusan mana?” tapi “Anda bisa apa?” artinya, kompetensi lebih diutamakan daripada selembar ijazah dan transkrip yang sarat dengan angka-angka. Lihat saja bagaimana para gamers, web developer, youtuber, hijaber, dan sebagainya. Tak ada yang mempersoalkan mereka lulusan mana.

Terakhir, pendidikan harus mampu melahirkan lulusan yang inovatif. Agar mampu “bicara banyak” di era 4.0, maka harus memiliki kepekaan dalam membaca peluang. Ketatnya persaingan dunia hingga melahirkan disruptive innovation harus menjadi perhatian serius dunia pendidikan hari ini.

Prof. Dede kemudian memberikan tawaran yaitu dengan melakukan reformasi pedagogy. Terdapat sepuluh langkah yang perlu dilakukan oleh praktisi pendidikan untuk menjawab keempat tantangan di atas; open up the lesson, think outside the classroom box, get personal, tap in to students digital expertise, get real with the project, expect student to be a teacher, help teacher to be student, measure what matters, dan work with families not just the children.[]

Ribut: Selisih Satu

0

Pesta demokrasi khususnya Pilkades menyita perhatian warga setempat. Time Line kegiatan yang padat tak memadamkan semangat para partisipan untuk menyelesaikan amanah dengan penuh tanggung jawab. Demi menjaga ketertiban dan kerukunan, pengendalian diri dari  seluruh pihak terkait sangat dibutuhkan manakala ditemui berbagai permasalahan dalam proses penghitungan suara. 

Kampusdesa.or.id–Minggu, 30 Juni 2019 merupakan hari bersejarah bagi Kabupaten Malang. Hari ini dilaksanakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) secara serentak di 237 desa. Beberapa hari terakhir tentunya warga desa sama-sama sibuk. Warga sibuk mengikuti sosialisasi pelaksanaan Pilkades, kampanye calon maupun mencari informasi kesana kemari tentang calon yang layak untuk dipilih. Apalagi panitia penyelenggara, tentunya lebih sibuk lagi karena harus menyiapkan segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan mulai persiapan, pelaksanaan sampai pelantikan Kepala Desa.

Masing-masing desa yang menyelenggarakan Pilkades, tentunya sangat berbeda tingkat kesulitan dan permasalahannya. Diantara hal yang mempengaruhi kesulitan panitia adalah jumlah hak pilih, tingkat kemampuan dan partisipasi masyarakat serta tingkat fanatisme pendukung masing-masing calon.

Salah satu hal paling krusial lagi adalah saat penghitungan suara. Ini adalah hal pokok dalam Pemungutan suara. Adapun yang mempengaruhi tingkat kesulitan penghitungan suara adalah jumlah surat suara yang disediakan panitia, surat undangan yang masuk, surat suara keluar, jumlah surat suara sah dan surat suara rusak. Kesemuanya jika sudah sesuai maka pelaksanaan penghitungan surat suara dianggap selesai.

Satu hal lagi yang menjadi masalah bagi panitia adalah ketika perolehan suara tertinggi antara dua atau lebih calon jumlahnya sama. Maka, sesuai perundangan yang berlaku, dicari penyebaran pemilih di masing-masing wilayah Pedukuhan. Jika ada calon yang tidak dapat suara di salah satu Pedukuhan, berarti pemenangnya yang paling banyak dapat dukungan dari jumlah Pedukuhan. Jika semua calon dapat suara dari semua Pedukuhan, maka menentukan pemenangnya dengan mencari pedukuhan mana yang hak pilih yang hadir terbanyak dan yang mendapat suara terbanyak adalah pemenangnya.

Desa penulis, Wirotaman, hari ini merupakan salah satu diantara desa yang melaksanakan Pilkades. Diantara desa yang ada di Ampelgading, desa Wirotaman termasuk desa dengan jumlah hak pilih paling sedikit. Hak pilih hanya 3099 jiwa. Disamping itu, berdasarkan informasi dari Babinsa, Wirotaman termasuk wilayah yang sangat kondusif warganya walaupun calon kepala desanya hanya 2 orang. Kedua calon sama-sama mantan kepala desa yang lalu. Sampai menjelang pelaksanaan pemilihan, bahkan saat pelaksanaan, kondisi tiada hal yang mengkhawatirkan.

Namun, apa yang terjadi di desa penulis sangat dramatis dan mencengangkan. Kondisi politik yang semula kondusif, adem ayem, damai, berubah drastis ketika penghitungan suara selesai. Sesudah hasil perolehan suara kedua calon diketahui, hasilnya sangat mengejutkan seluruh hadirin. Antara kedua calon selisih suara hanya terpaut satu suara untuk kemenangan nomer urut 1. Perolehan suara sebanyak 1224 suara untuk nomer urut 1 dan 1223 suara untuk nomer urut 2. Karena ternyata tidak ada kesesuaian antara surat undangan masuk dan surat suara keluar, lebih banyak surat suara keluar sebanyak 2 lembar, akhirnya diadakan penghitungan ulang.

Penghitungan suara yang semula dilakukan di 4 tempat karena dihitung berdasarkan jumlah RW(Rukun Warga), untuk penghitungan ulang dilakukan satu persatu secara bergantian. Kondisi warga yang semula tenang menjadi ribut dan tegang. Ucapan saling hujat, protes dan intrupsi sering terdengar ditengah penghitungan suara. Akhirnya, tenaga keamanan yang semula hanya 6 orang, dalam waktu beberapa saat berdatangan puluhan orang baik dari Kepolisian maupun TNI AD. Suasana semakin panas ketika pada hitungan kotak pertama ternyata ada perbedaan. Ada tambahan 1 suara untuk calon nomer urut 2. Dengan demikian akhirnya jumlah perolehan sama 1224 suara atau draw.

Penghitungan kotak kedua sangat mendebarkan, namun ternyata tidak ada perubahan dengan penghitungan awal. Kotak ketiga yang paling membuat ribut. Ternyata justru ada dua kesalahan penghitungan. Nomer urut 1 justru suara berkurang 1 suara, sedangkan nomer urut 2 tambah 1 suara. Akhirnya suara calon selisih 2 suara untuk kemenangan nomer urut 2.

Ini yang paling mendebarkan, pada penghitungan kotak keempat atau terakhir, calon nomer urut 1 tambah 2 suara, sementara calon nomer urut 2 justru suara berkurang 2 suara. Jumlah akhir perolehan suara untuk calon nomer urut 1 sebanyak 1225 suara dan nomer urut 2 sebanyak 1223 suara. Dengan demikian pemenang dari Pilkades di desa penulis adalah nomer urut 1. Setelah penghitungan selesai, Alhamdulillah, ternyata suasana justru malah hening. Semua pendukung kedua calon mampu mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang memancing situasi yang tidak kondusif.

Sampai jam menunjukkan pukul 22.10 malam, proses penyelesaian administrasi Pilkades belum selesai. Namun, Penulis sebagai yang punya hajat, sebagai anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa), merasa bersyukur bahwa kendala penghitungan suara akibat human eror(kesalahan manusia) teratasi dan menjadi lebih klier masalahnya. Tahapan selanjutnya adalah melaporkan kepada panitia tingkat kecamatan dan Kabupaten. Semoga tiada kendala dan segera bisa disahkan oleh Pemerintah Kabupaten Malang.

Selikuran Modern

0

Tradisi Barokahan adalah tradisi dimana umat Islam, anggota jama’ah, membawa nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauknya ke masjid atau musholla. Seiring perjalanan waktu, dengan perkembangan zaman, tradisi barokahan ini juga mengalami perkembangan. Walaupun ada beberapa perbedaan tradisi dahulu dengan sekarang, utamanya segi tempat nasi, namun hakikatnya tetap sama. Bagi Masyarakat yang melestarikan tradisi Selikuran ini yang penting adalah niatnya.

KampusDesa–Malam ini, sabtu malam minggu, 25 Mei 2019 adalah malam istimewa bagi umat Islam. Malam ini adalah awal malam 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Malam ini bertepatan dengan malam puasa tanggal 21 Ramadhan. Jumhur(mayoritas) ulama sepakat bahwa malam 10 hari terakhir adalah kemungkinan besar turunnya malam yang paling mulia, yaitu malam Lailatul Qodar. Malam itu kemungkinan datangnya dimulai pada malam tanggal 21 Ramadhan.

Segala sesuatu mempunyai waktu dan tempatnya (Ahli Hikmah).

Bagi sebagian masyarakat Muslim Jawa, termasuk di wilayah penulis, malam tanggal 21 Ramadhan juga merupakan malam spesial. Kedatangannya sangat dirindukan dan dinantikan. Ketika malam itu datang disambut dengan suka cita dan penuh semangat. Diantara kesukacitaan dan semangat itu diwujudkan dalam bentuk tradisi “Selikuran”. Dalam tradisi ini ada kegiatan khusus yang dilakukan yaitu “Barokahan”.

Tradisi Barokahan adalah tradisi dimana umat Islam, anggota jama’ah, membawa nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauknya ke masjid atau musholla. Sesudah pelaksanaan sholat Tarawih dan Witir, nasi lengkap itu dimakan bersama atau kenduri. Jika nasi dan lauk ada sisa, jama’ah yang berkenan bisa membawa pulang sebagai “Berkat”.

Dari waktu ke waktu ternyata ada pergeseran dalam tradisi Barokahan.

Berdasarkan pengamatan penulis, dari waktu ke waktu ternyata ada pergeseran dalam tradisi Barokahan ini. Perubahan itu dalam hal alat yang digunakan untuk membawa nasi Barokahan. Dulu waktu penulis masih usia anak-anak, anggota jama’ah membawa nasi ke masjid atau musholla menggunakan “encek”. Encek adalah tempat nasi dan perlengkapannya yang terbuat dari pelepah pisang atau kulit batangnya.

Teknis pembuatan encek ialah, pelepah atau kulit batang itu dibentuk segi empat dan di rakit dengan rautan bambu. Besar kecilnya disesuaikan dengan sedikit banyaknya nasi yang akan dibawa. Lalu, diatas encek di tutup dengan daun pisang yang ditata menutupi encek.  Kemudian nasi ditaruh diatas daun pisang itu. Diatas nasi ditutup lagi dengan daun pisang yang lebih kecil sebagai pembatas. Diatas daun pembatas itu sebagai tempat aneka lauk pauk. Diatas lauk pauk diberi lagi daun pisang merata dan menutupi seluruh nasi, bahkan lebih luas dari encek, sebagai penutup encek. Adakalanya, seluruhnya tidak menggunakan daun pisang, namun menggunakan daun pohon jati. Agar daun encek tidak jatuh maka setiap sudut encek “ditubles” atau ditusuk dengan potongan lidi daun kelapa atau “Bithing” yang dibuat runcing.

Cara makan nasi barokahanpun terbilang unik. Mengambil nasi dan lauk ke dalam encek tanpa menggunakan alat(enthong) namun langsung menggunakan tangan. Makanpun juga tanpa menggunakan sendok. Bahkan kadang juga tanpa cuci tangan.

Seiring perjalanan waktu, dengan perkembangan zaman, tradisi barokahan ini juga mengalami perkembangan. Untuk cara makan jama’ah tidak banyak mengalami perubahan, hanya tempat nasi atau encek yang berubah. Kini jama’ah membawa nasi barokahan dengan tempat yang berbeda-beda.

Dalam beberapa tahun terakhir sudah tidak ada lagi yang membawa encek berbahan pelepah daun pisang atau kulit batangnya. Mayoritas sudah menggunakan panci baik itu bentuk “manci” atau “lengser” terbuat dari logam. Sebagian lagi menggunakan manci atau talam yang berbahan plastik. Adapula yang menggunakan kotak nasi dari kertas atau kotak berbahan foom. Untuk jenis yang terakhir ini biasanya hanya satu dua orang saja. Dari perbedaan tersebut ternyata masih ada yang tetap yaitu alas yang digunakan dan penutup atas. Mayoritas masih menggunakan daun pisang. Namun sebagian sudah menggunakan kertas minyak.

Adalagi yang lebih unik, kadang kala jama’ah tidak membawa nasi barokahan namun membawa kue kering atau kue basah. Bahkan kadang juga ditemui jama’ah yang membawa roti atau jenis jajanan yang lain. Hal ini biasanya dilakukan karena tidak sempat memasak atau tahu informasi barokahan secara mendadak sehingga cari mudahnya dengan membeli makanan jadi untuk barokahan.

Bagi Masyarakat yang melestarikan tradisi Selikuran ini yang penting adalah niatnya.

Walaupun ada beberapa perbedaan tradisi dahulu dengan sekarang, utamanya segi tempat nasi, namun hakikatnya tetap sama. Bagi Masyarakat yang melestarikan tradisi Selikuran ini yang penting adalah niatnya. Niatnya adalah saling berbagi dan bersedekah. Disamping itu nilai kebersamaan juga menjadi tujuan utama. Adapun masalah perbedaan tempat nasi atau encek itu menurut penulis hanya karena perbedaan kesempatan dan kemampuan saja. Disamping itu dengan menggunakan bahan jadi bentuk panci logam, plastik atau kotak kertas dan foom, waktu lebih efisien dari pada masih harus membuat dari pelepah dan kulit batang pisang. Sehingga jama’ah waktunya lebih hemat. Wallahu A’lam.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Beragama Tekstual dan Taqlid Buta, Mahasiswa Beresiko Terpapar Radikalisme

0

Radikalisme kampus marak. Ada yang latah sedemikian menjadi banyak yang cemas. Sajian riset psikologi berikut ini lebih komplit dalam melihat potensi radikalisme di kampus, tidak hanya parsial, tetapi melibatkan dinamika psikologis skema keberagamaan. Ternyata, resiko radikalisme ada di cara meyakini teks dan guru, dosen, atau ustadznya yang dominan membentuk mereka radikal, toleran, pluralis, atau Pancasilais

kampusdesa.or.id — Sejumlah riset mahasiswa yang terpapar radikalisme sudah lumayan banyak dihadirkan. Bahkan bisa dibilang riset jenuh dan bahkan latah karena sudah sering viral. Kegetiran ini menjadikan kami mencoba untuk melihat lebih lengkap dalam peta sumberdaya keagamaan mahasiswa. Kebetulan kami diberi akses untuk melihat seberapa mahasiswa baru di sebuah Universitas Keagamaan di Malang rentan terpapar radikalisme. Kami mencoba melihat dengan pendekatan psikologi yang sangat jarang digunakan dalam berbagai penelitian yang tersebar viral di lini media sosial tentang radikalisme mahasiswa.

Lantas kami laksanakan survey menggunakan parameter psikologi dengan memodifikasi alat ukur skema keberagamaan dari Streib, Hood, dan Klein, 2010). Pengunaan pendekatan psikologi menjadi tidak latah karena yang dilihat dengan kacamata dinamis pada pribadi seseorang, bukan per-pertanyaan yang dicari presentasinya lalu diambil kesimpulan secara parsial. Pendekatan psikologi lebih berbobot karena penilaian potensi radikalisme ditimbang dari kesalingkaitan antar dimensi yang mempengaruhi kecenderungan dominan setelah dimensi itu diambil proporsinya dari dimensi yang lain sehingga antardimensi itu saling mengendalikan, lantas kesimpulan dominan diputuskan seberapa potensi radikalisme itu ada.

Contohnya, setiap orang itu berpotensi ada hal yang tidak baik. Tetapi ketika yang tidak baik itu dipengaruhi oleh yang baik dan lebih kuat, potensi berbuat baiknya akan lebih tinggi. Nah, ketika mahasiswa menjawab sepakat penyesatan, maka tidak bisa jawaban itu langsung diambil kesimpulan bahwa mahasiswa berpotensi suka menyesatkan perbedaan pendapat. Itu parsial. Tapi perlu kondisi itu juga harus dibanding apakah ketika dimensi positifnya dihadirkan, maka apakah potensi penyesatan itu dominan atau positifnya yang dominanlah yang bisa menentukan penilaian akhirnya. Meski seseorang ada yang sependapat penyesatan tetapi kendali positifnya lebih dominan, maka dia tetap lebih dominan positifnya.

Begitulah cara kerja pendekatan psikologisnya sehingga konfirmasi antara yang tidak mendukung dan mendukung sudah terkonfirmasi secara berimbang. Dasar ini akan lebih berbobot untuk membuat kesimpulan psikologis tentang potensi radikalisme.

Apa hasilnya? Setelah kami (saya sendiri, Fathul Lubabin Nuqul, Yusuf Ratu Agung, dan Isroqunnajah), membaca kesimpulan survey dengan menggunakan pengukuran Skema Keberagamaan Streib, dkk pada 2644 mahasiswa baru di sebuah universitas tahun 2018 lalu secara ringkas dapat kami sajikan temuannya sebagai berikut.

Waspada terpapar radikalisme

Secara keseluruhan, Maba sangat kecil terpapar radikalisme keberagamaan yakni 1 persenan, mereka dominan adalah mahasiswa beresiko intoleran dan lebih kuat menolah keragaman agama, dan bahkan Pancasila yang berbhineka. 1 persenan itu kira-kira 32 mahasiswa yang dominan mudah dan terpapar radikalisme. Mereka lebih banyak tersebar di fakultas eksakta dan sebagian ada yang di fakultas yang dekat dengan kajian keagamaan. Namun, mereka masih maba lo. Jadi, kecenderungan mereka terpapar radikalisme didasari oleh latar-belakang bawaan, belum mendapat wawasan keagamaan yang lebih lengkap di kampus.

Di depan para sivitas akademik pemangku kebijakan kampus

Mengapa waspada terpapar radikalisme? Kita tahu bahwa pinangan calon anggota radikalis tidak membutuhkan pasukan yang banyak. Sedikit tetapi militans sudah cukup sebagai pengantin radikalis dan teroris. Cukuplah kiranya 1 persenan tersebut mensuplay para kelompok radikalis. Nah, kewaspdaan ini kami sampaikan kepada para pejabat yang memiliki wewenang untuk melakukan prevensi terhadap mahasiswa baru, termasuk pejabat yang membidani pembinaan kemahasisswaan, para dekan, dan mundhir ma’had.

Bentuk radikalisme yang kami ukur antara lain, bahwa mahasiswa yang 1 persenan tersebut tidak berpikir rasional untuk menerima perbedaan dan cenderung memiliki dinamika psikologis intolerans. Selain itu, mereka akan cenderung kurang bisa membangun perjumpaan dengan agama lain sebagai bagian dari semangat pluralisme. Bahkan cenderung lemah dalam mengembangkan kebijaksanaan untuk mengapresiasi secara kreatif perjumpaan-perjumpaan lintas iman. Kami tambahkan juga pengukuran mengenai sensitifas kebhinekaan pun juga sama. Sangat kecil mahasiswa yang tidak mengakui bahwa nilai-nilai agama yang selaras dengan Pancasila, keragaman dan inklusifisme keberagamaan sebagai bagian dari kehidupan berbhineka.

Nah, 1 %-an ini jika disisir dan ditemukan oleh kelompok radikalis yang ada di kampus UIN, maka mereka yang beresiko radikalisme yang menjadi sumberdaya potensial bagi calon-calon anggota keagamaan tersebut. Oleh karena itu, para pejabat kami sarankan untuk waspada dan tetap membangun prevensi sejak dini karena tema riset kami deteksi dini. Deteksi dini berarti menemukan sampai ke akar resiko mahasiswa yang potensial terpapar radikalisme.

Tekstual dan taqlid, potensi radikalisme yang patut diwaspadai

Menarik menyimak khusus data deskriptif mengenai keyakinan mahasiswa terhadap kebenaran teks dan gurunya. Studi kami menemukan, keberagamaan mahasiswa yang tekstualis dan taqlid terhadap guru atau ustadz lebih bervariasi nilai ukur psikologisnya. Temuan ini berbeda dengan yang 1 persenan tadi. Bahkan, mahasiswa baru ditemukan masih berada dalam cara keberagamaan tekstualis dan taqlid buta pada guru. Hasilnya mencengangkan. Mahasiswa baru yang cenderung tekstualis dan taqlid buta mencapai 32% cenderung tinggi dan 37% tinggi. Artinya, mereka adalah mahasiswa yang tekstualis dan taqlidnya bisa dikatakan buta.

Mahasiswa yang lebih terbuka, yakni mahasiswa yang juga mengakses teks dan pengajaran dari guru sekaligus memiliki wawasan yang luas dalam mencerna pemahaman keagamaan lebih rendah yakni 6% dan 7% (lebih terbuka dan berwawasan ilmiah).

Lebih mengerikan, secara faktual di pengukuran tekstualis dan taqlid ini, kami sodorkan dua pertanyaan ambigu, memerangi orang kafir itu jalan puncak mencapai surga dan kita sandingkan dengan, Alquran dan Hadits dapat dijelaskan dengan menggunakan keilmuan modern dan kekinian, tidak hanya ilmu terhadulu saja, maka mahasiswa tersebut hampir 18* (475 mahasiswa). Sedangkan mahasiswa yang lebih terbuka, yakni mahasiswa yang juga mengakses teks dan pengajaran dari guru sekaligus memiliki wawasan yang luas dalam mencerna pemahaman keagamaan lebih rendah yakni 6% dan 7% (lebih terbuka dan berwawasan ilmiah).

Apa implikasi sebaran data tersebut. Ketika mereka lebih tekstualis dan taqlid, maka mahasiswa akan mudah terpapar informasi teks dan pengaruh orang lain lebih berpeluang sehingga mereka akan cenderung tergoda oleh hoaks dan pengaruh doktrinasi dari pemahaman kelompok radikalis. Resiko ini menjadi tantangan serius di era post-truth, era media sosial yang lebih mencairnya, bahkan tiada batas jelas (semu) antara yang benar dan yang salah.

Dinamika Psikologis Islam Toleran ala Maba

Menariknya lagi saat kami melakukan skematisasi interaksi antardimensi skema keberagamaan ala Streib tersebut. Kami temukan, tidak seluruh komponen di dalam pribadi mahasiswa sifatnya saling menguatkan antara keyakinan terhadap teks dan guru agamanya, toleransi, perjumpaan lintas iman, dan kebhinekaan (Pancasila). Ternyata semua tersebut tidak saling memperkuat pada pribadi mahasiswa baru. Interaksi yang paling nampak hanya keyakinan terhadap teks dan guru agama dengan perjumpaan lintas iman. Sementara tidak ada interaksi komponen personal mahasiswa pada komitmen toleransi, dan kebhinekaannya.

Dinamika internal skema keberagamaan dengan demikian menunjukkan bahwa keyakinan kebenaran teks dan pada guru hanya menguat secara negatif dengan dinamika perjumpaan lintas iman. Mahasiswa baru saling terbangun keberagamaannya dibentuk berdasarkan keyakinan terhadap teks dan gurunya dengan xenos (pemahaman mengapresiasi keragaman dan penerimaan perjumpaan lintas iman). Dua kecenderungan ini saling membentuk keberagamaan mahasiswa baru, meskipun dinamika kesalingterpautan keduanya hanya 4,2 %. Dengan begitu, keberagamaan Maba yang mampu mengapresiasi secara pluralisme keberagamaan dibangun bersamaan dengan model keyakinan Maba terhadap teks dan gurunya, begitu sebaliknya, bahwa pluralisme pun akan bersamaan berkembang dengan cara Maba memahami agamanya apakah secara tekstual dan takliq atau tidak (menggunakan basis pengetahuan keagamaan yang lebih luas dan rasional).

Toleransi, pluralisme, dan kebhinekaan merupakan dinamika lain yang tidak memiliki keterpautan internal dengan keyakinan mahasiswa baru terhadap cara pemahaman keagamaannya atas teks dan gurunya.

Adapun, toleransi, pluralisme, dan kebhinekaan merupakan dinamika lain yang tidak memiliki keterpautan internal dengan keyakinan mahasiswa baru terhadap cara pemahaman keagamaannya atas teks dan gurunya. Jadi, ketiganya bisa dikatakan adalah hal lain yang tidak serta merta ditentukan oleh keyakinan teks dan guru. Implikasinya adalah, ketika mahasiswa baru dibangun dengan mempengaruhi cara menerima teks-teks keagamaan dan oleh orang-orang yang mampu meyakinkan cara beragamanya seperti apa, maka toleransi, pluralisme, dan kebhinekaannya (Pancasilanya) dapat bisa dilemahkan sehingga justru potensi radikalisme Maba akan menjadi lebih rentan.

Dengan demikian, patut menjadi perhatian semua sivitas di kampus ini, bahwa kerentanan radikalisme dapat terbentuk tergantung pada kapasitas pembentukan keyakinan atas cara baca terhadap teks agama, buku bacaannya, lini media sosial yang dibacanya, dan seperti apa dosen, ustadz, teman, atau organisasi keagamaan mereka mempengaruhi pikiran keberagamaannya. Ini penting karena potensi itulah pijakan utama yang membentuk skema keberagamaan mahasiswa baru apakah akan dibentuk menjadi agamawan radikalis, fundamentalis, berpandangan politik kanan, atau calon ilmuan yang memiliki skema keberagamaan yang tolerans, pluralis, dan mampu menyelaraskan antara nilai-nilai agama dengan Pancasila.

Profil Peneliti :
MOHAMMAD MAHPUR, DOKTOR PSIKOLOGI SOSIAL, FOUNDER KAMPUS DESA INDONESIA DAN PENASIHAT GUSDURIAN MALANG.
FATHUL LUBABIN NUQUL, DOKTOR PSIKOLOGI SOSIAL, PSIKOLOG, DAN KETUA BAGIAN RISET DAN PENGEMBANGAN KEILMUAN ASOSIASI PSIKOLOGI FORENSIK INDONESIA
YUSUF RATU AGUNG, MAGISTER PSIKOLOGI SOSIAL DAN PEGIAT SENAM RADIASI TENAGA DALAM (RTD) DAN COSMIC LINK MALANG, SERTA KOMUNITAS DEVINE CIGARRETE

Lidah Itu Tajam, Ustadz

0

Perkataan seseorang adalah perwujudan dari apa yang ada di dalam batinnya. Dalam banyak hal, seseorang berhadapan dengan konsekuensi tertentu bermula dari perkataannya. Lisan yang baik tentu akan memberikan harmoni yang baik pula bagi orang yang ada di sekitarnya. Namun sebaliknya, apa yang terjadi jika lisan justru menebarkan hal-hal yang tidak semestinya diucapkan?

KampusDesa–Salah satu pepatah Jawa yang sering kita dengar adalah “ajining raga saka busana; ajining diri saka lati”. Artinya bebasnya adalah sebagai berikut: Nilai tubuh diukur dari pakaian yang membungkusnya, sedang nilai diri atau pribadi seseorang ditentukan bagaimana ia menjaga lisannya.

Kualitas diri seseorang ditentukan bagaimana seseorang menjaga perkataannya.

Pepatah di atas bisa dimaknai dengan cara sederhana, bahwa kemenarikan penampilan fisik seseorang salah satunya ditentukan dari pakaian yang dikenakannya. Jika kebagusan penampilan fisik bisa dilihat dari busana dan segala aksesoris yang yang melekat padanya, lalu bagaimana cara menilai kualitas pribadi seseorang. Orang Jawa menyatakan bahwa kualitas diri seseorang bisa dilihat dari apa yang keluar dari mulutnya. Kualitas diri seseorang ditentukan bagaimana seseorang menjaga perkataannya.

Bahkan dari perkataan, seseorang bisa menciptakan surga dunia atau perang yang sangat mematikan.

Sepenting apakah menjaga mulut itu sehingga orang Jawa melekatkan harga diri kepadanya? Perkataan seseorang adalah perwujudan dari apa yang ada di dalam batinnya. Dalam banyak hal, seseorang berhadapan dengan konsekuensi tertentu bermula dari perkataannya. Seseorang dipercaya atau tidak dipercaya orang lain salah satunya karena apa yang dikatakannya. Bahkan dari perkataan, seseorang bisa menciptakan surga dunia atau perang yang sangat mematikan.

Merenungi filosofi masyarakat Jawa tentang nilai tubuh dan diri di atas, adalah menarik mengamati fenomena banyaknya orang yang dilabeli ustadz (biasanya berjubah, bersorban, dan beberapa embel-embel aksesoris lain) berkata ngawur dan dusta di depan umat yang memercayainya. Misalnya, ada seorang ustadz yang ke sana-kemari menyebarkan tuduhan bahwa RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual) adalah upaya legalisasi perzinahan. Ada juga seorang ustadz yang berapi-api menyatakan bahwa kematian anggota KPPS adalah karena diracun. Dan, masih banyak contoh-contoh kebohongan dan kedustaan lain yang semua itu keluar dari lisan orang yang selama ini dipanggil ustadz.

Lisan yang berdusta, menabar fitnah, dan mengobarkan permusuhan, memiliki daya rusak yang sangat dalam.

Setelah kebohongannya terbongkar, mereka dengan entengnya meminta maaf. Permintaan maaf, bagaimanapun juga, adalah sikap yang mulia. Namun, sadarkah para ustadz itu bahwa lisan yang berdusta, menabar fitnah, dan mengobarkan permusuhan, memiliki daya rusak yang sangat dalam. Daya rusak dusta seorang ustadz bahkan jauh lebih mematikan daripada kebohongan orang biasa karena yang pertama dianggap oleh umatnya sebagai manusia suci-panutan yang semua perkataannya merepresentasikan kebenaran titah Tuhan.

Inilah bahayanya jika kualitas seorang ustadz ditentukan dari penampilan fisiknya, bukan kualitas pribadinya. Fenomena “mendadak ustadz” ini mengkhawatirkan persis karena tingginya gairah orang beragama namun justru yang ditemukan adalah orang-orang yang hanya berbusana jubah dan surban tanpa diikuti dengan kualitas keilmuan yang mumpuni dan kepribadian yang mulia.

Sebegitu pentingnya sebuah perkataan hingga Nabi Muhammad dengan tegas bersabda: “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yaqul khairan a liyasmuth” (Barang siapa berimana kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik, atau diamlah!).

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Pesan Gus Dur Untuk Kita Semua

0

Siapa yang tidak mengenal Gus Dur, pengayom sejuta umat yang sangat disegani dari semua kalangan. Tidak semua orang bisa memahami jalan pikirannya. Bahkan seringkali dirinya dianggap ‘nyeleweng’ karena orang lain tidak mengerti maksud dari apa yang beliau kerjakan. Bagaimanapun, Gus Dur telah membuka mata hati kita bahwa dunia hanyalah fana, mudah sirna, dan tidak ada yang perlu dipertahankan mati-matian.

KampusDesa–Salah satu nilai dari laku hidup seorang Gus Dur yang sukar kita tiru adalah nilai kesatria. Beliau rela diturunkan inkonstitusional oleh oposisinya ketimbang harus ada pertumpahan darah sesama anak bangsa. Kecintaan beliau pada negara dan rakyatnya jauh lebih besar ketimbang cintanya pada dunia apalagi hanya sebatas jabatan presiden.

Bagi Gus Dur, agama adalah penguat sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gus Dur sangat menyukai kitab Al-hikam karya Ibnu Atho’illah Al-asykandari. Ajaran-ajaran tasawuf dari kitab Al-hikam diperaktikkannya untuk memimpin negara. Seringkali beliau juga mengutip kaidah ushul seperti; Tasharaf al-imam ala ra’iyah manutun bil maslahah (keputusan pemimpin harus mengikuti kemaslahatan rakyatnya). Bagi Gus Dur, agama adalah penguat sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan sebaliknya, untuk merusak tatanan kenegaraan.

Saat Gus Dur dilengserkan, banyak yang sakit hati dan ingin membela beliau. Baik kalangan santri, Ansor-Banser, pendekar-pendekar NU dan elemen nahdliyin pada umumnya semua siap pasang badan ke istana negara. Bahkan menurut pengakuan Gus Mus ada yang mengatas namakan dirinya pasukan berani mati. Tetapi dukungan yang sebegitu besarnya diredam oleh Gus Dur mencegah adanya konflik antar pendukung dan aparatur sipil negara. Bukan sebaliknya dimanfaatkan untuk mengamankan jabatan.

Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus di bela mati-matian.

Untuk menenangkan lautan massa di depan istana. Gus Dur keluar dengan begitu gagah menyapa para pendukungnya dengan mengenakan kaos dan celana kolor. Kejadian bersejarah, seakan Gus Dur memberikan pesan untuk para politisi dan seluruh rakyat Indonesia melalui cara berpakaianya. Bahwa tidak ada jabatan di dunia ini yang harus di bela mati-matian. Sebab yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan itu sendiri. Nilai-nilai Agama menjadi landasan Gus Dur berlaku arif bijaksana dan bersikap lapang dada, sungguh laku sufistik yang agung.

Agama dan Negara seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Sikap relegius disertai cinta terhadap nagara merupakan amanah para pendiri Nahdlatul Ulama termasuk kakek Gus Dur Hadratus syeikh Hasyim Asy’ari. Hadratus Syeikh berpesan Agama dan Negara seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Bukan sebaliknya Agama dijadikan alat untuk menentang negara, alias makar/bughot.

Mari belajar pada Gus Dur saudaraku. Demi keamanan bangsa Indonesia dan menghormati bulan suci Ramadhan. Tolong untuk para elit politik jangan memprovokasi massa, harap menjadi oase penenang. Massa pendukung juga tolong jangan bertindak membabi buta. Kita hidup di negara hukum, tempuh jalur hukum ikuti mekanismenya jika memang terjadi tindak kecurangan. Lapangkan dada & berjiwa kesatria meskipun pahit kenyataannya. Jadilah selaksa samudra yang menelan semua sampah, saudara-saudaraku.

Lampung, 22 Mei 2019

Editor : Faatihatul Ghyabiyyah