Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 58

S3 dan Profesor, Amanah yang Segera Ditindaklanjuti

0

Setiap tugas baru selalu ada tantangan baru. Tidak bisa dipungkiri, jabatan hanya sebagai peluang duduk dan berpindah status kelembagaan. Apalah artinya manakala tidak melahirkan perubahan. Menjadi pemimpin yang dilantik adalah tantangan dalam melanjutkan jejak sholih sebelumnya dan tantangan untuk perbaikan lebih lanjut.

Kampus Desa, Makassar –- “Sebagai pejabat struktural tertinggi, haruslah mendukung para dosen di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar untuk segera mencapai jabatan fungsional tertinggi (yakni: profesor) dan mendapatkan pendidikan tertinggi (yaitu: S3),” demikian amanah Prof Dr H Abdul Rahman Rahim SE MM, Rektor Unismuh Makassar, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Pelantikan Dekan FKIK dan tiga Kaprodi di Unismuh Makassar di depan sekitar sembilan puluhan hadirin. Para peserta datang berbekalkan undangan menghadiri pelantikan Nomor 0608/05/A.1-II/VI/40/2019 tanggal 11 Juni 2019 M.

Rektor menyatakan bahwa terkait Pakta Integritas, berat dan banyak sekali hal yang harus dilakukan oleh pejabat yang baru saja dilantik. Keluarga sebaiknya memaklumi kalau jam (kebersamaan – red.) di rumah menjadi berkurang. Prestasi mahasiswa perlu menjadi perhatian, terutama IPK dan masa studi. Bekerja haruslah mempersembahkan yang terbaik. Riset dan pengabdian masyarakat harus dijalankan dosen dan mahasiswa. Ada banyak sumber dana eksternal maupun internal. Berbagai sumber pendanaan tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk mendukung Pakta Integritas. Perlu peningkatan sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya sarana prasarana.

Dalam bidang pembinaan kemahasiswaan, mahasiswa haruslah inovatif, kolaboratif, produktif, cerdas, beretika, berakhlak mulia, memiliki soft skills, dan kemandirian di bidang enterpreneurship. Di bidang Al Islam Kemuhammadiyahan, perlu segera merealisasikan visi dan misi Muhammadiyah. Salah satu indikator nyata adalah masjid tumpah ruah di waktu sholat. Maksudnya, saat waktu sholat tiba, masjid di Unismuh dipenuhi ribuan dosen, mahasiswa, dan civitas akademika Unismuh Makassar. Kapasitas masjid sekitar empat ribu jamaah.

Rektor Unismuh juga menjelaskan beberapa indikator keberhasilan pemimpin di Unismuh Makassar. Pertama, berhasil menciptakan masyarakat madani nan Islami. Kedua, kebersinambungan kegiatan Tahsinul Quran. Maksudnya, minimal tiga hari dalam seminggu terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran. Ketiga, tercipta budaya saling menebarkan salam dan mendahului untuk memulai mengucapkan salam. Keempat, menciptakan civitas akademika yang tidak merokok. Hal ini perlu dimulai dari pimpinan, termasuk para dekan. Kelima, sampah tidak berserakan. Sampah dapat ditemukan hanya di tempatnya, karena kebersihan sebagian dari iman. Keenam, enterpreneurship. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan sangat berpotensial dalam hal ini. Misalnya mendirikan rumah sakit dan klinik-klinik pengobatan. Di luar negeri, perguruan tinggi yang memiliki fakultas kedokteran, maka pendapatannya 70-80% berasal dari pengelolaan dana rumah sakit.

Pakta Integritas

Ada delapan Pakta Integritas tertanggal 14 Juni 2019, yang dinyatakan oleh dekan dan para Kaprodi selaku pemegang amanah. Pertama, menjalankan amanah dengan integritas tinggi, secara profesional, dengan jiwa enterpreneur yang menjadi budaya organisasi yang di bangun di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Kedua, menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkan lima program strategis Unismuh, yakni: meningkatkan kualitas seluruh produk Unismuh, meningkatkan kualitas sumber daya Unismuh, meningkatkan pembinaan kemahasiswaan dan alumni, meningkatkan pengkajian dan pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, meningkatkan kualitas dan kuantitas kerjasama. Ketiga, bersedia meningkatkan capaian program strategis berdasarkan Indeks Key Performance Indicator tahunan setiap satu tahun sesuai masa jabatan.

Keempat, bersedia secara bersama-sama membangun budaya organisasi, yaitu: integritas, profesional, dan enterpreneurship dalam menjalankan amanah Unismuh. Kelima, bersedia dan mengajak warga Civitas Akademika lainnya untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid kampus Universitas Muhammadiyah Makassar dan mengikuti Tahsinul Qira’ah sesuai jadwal di unit masing-masing. Keenam, bersedia mengampu mata kuliah maksimal 8 SKS per semester dan membimbing. Ketujuh, bersedia mengundurkan diri dari jabatan apabila tidak dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan amanah. Kedelapan, bersedia memantau, mengawasi, mengontrol, dan membina dalam kaitannya dengan perilaku mahasiswa. Pakta Integritas ini telah dinyatakan dengan penuh kesadaran dan kesungguhan hati tanpa ada paksaan dari siapapun juga untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Pejabat yang Dilantik

Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Nomor: 057, 058, 059, dan 060 Tahun 1440 H/2019 M tentang Pengangkatan Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Ketua Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Ketua Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Ketua Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar, maka ada empat pejabat dilantik di kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WITA dan berlangsung sekitar 100 menit itu.

Mereka adalah dr H Mahmud Ghaznawie PhD SpPA(K) sebagai Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan masa bakti 2017 – 2021, Ratna Mahmud Skep Ns MKes sebagai ketua program studi keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan masa bakti 2019 – 2022, Daswati Ssi IT MKeb, ketua program studi kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan masa bakti 2019 – 2022, Muhyiddin AM Hayat S Kom MT ketua program studi teknik informatika Fakultas Teknik masa bakti 2019 – 2022.

Keputusan tersebut ditetapkan di Makassar dan berlaku sejak tanggal 10 Dzulqaidah 1440 H/23 Juli 2019 M,  dengan ketentuan apabila kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam surat keputusan ini, akan diadakan perubahan dan perbaikan sebagaimana mestinya.

Nasihat untuk Pejabat

Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Ir HM Saiful Saleh MSi, juga memberikan beberapa nasihat untuk empat pejabat yang baru dilantik. Perlu kerjasama tim untuk membangun Unismuh. Penentu kecepatan tim adalah mereka yang paling lemah, bukan mereka yang terkuat. Pelajarilah formasi burung yang sedang terbang.

“Milikilah qanaah, yakni rasa menerima. Implementasinya adalah rasa syukur. Teruslah berusaha melakukan peningkatan, terutama dalam hal kebaikan. Bersikaplah wara’. Artinya, terus waspada dan berhati-hati. Waspadailah godaan duniawi. Sekarang ini, kejujuran adalah barang langka. Semakin orang tidak mau jujur, semakin detail poin-poin Pakta Integritas dirumuskan,” nasihat pria kelahiran Parepare, 5 Maret 1960.

Kegiatan yang berlangsung di Aula kedokteran lantai 1 Unismuh Makassar itu berlangsung dengan tenang dan khidmat. Di akhir acara, para hadirin antusias bersalaman dengan para pejabat yang dilantik dan berswafoto bersama mereka.

Ngece Pahlawan Devisa

0

Tulungagung mencapai triliunan rupiah yang hanya diperoleh dari pengiriman uang pekerja migran. Gelimang uang ini sudah menggoyang daya tarik sekian lama bagi setiap angkatan kerja desa yang ingin cepat meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Namun, seorang anak petani bernama Nirwan, bisa membanggakan diri di depan temannya jebolan TKI Malaysia. Dia katakan, tidak kalah lo, meski saya menekuni pertanian, saya pun bisa beli mobil, sedangkan kamu belum juga punya mobil.”

kampusdesa.or.id–Petani muda di desa yang kotanya mendulang devisa dari TKI, berseloroh pada seorang pemuda jebolan Malaysia, “apa to hasilmu selama ini kerja ke luar negeri, apalagi harus meninggalkan anak dan istrimu serta keluargamu, rizkimu terlalu lama kamubkumpulkan. Saya saja yang mengolah lahan sawah di sini dengan menanam semangka, melon dan beberapa hasil tani di sini, tidak kalah dengan kamu. Saya bisa membeli mobil dan bisa mendulang rupiah berjuta-juta rupiah. Tak kurang rezeki yang bisa saya kembangkan untuk menafkahi keluarga, membangun rumah dan kebutuhan lainnya.” Kisah Khoirul menceritakan temannya yang sukses sebagai petani di Kecamatan Kalidawir Tulungagung.

Ribuan hektar sawah membentang di sepanjang desa-desa di kecamatan Kalidawir. Khoirul yang tamatan Tsanawiyah ini pun juga anaknya petani dan ibunya seorang pedagang mracang sembako di dua pasar tradisional. Lingkungan asuh Khoirul tak lekang oleh inspirasi petani dan wirausaha, tetapi mengapa kok dia tidak terjun saja ke pertanian dan belakar berwirausaha.

Sambil terkekeh serasa mengungkapkan hasil kecean temannya, Khoirul melanjutkan kisahnya. “Duh, saya diece gitu Kang. Nirwan memang berani dan melalui pengalamannya bergaul dengan para petani, Nirwan memang pemuda yang dulu suka mencoba-coba profesi sebagai peternak sapi dan latihan mengolah sawah. Nirwan memang hanya punya sawah 10 ru milik ayahnya. Sawah ini awalnya hanya ditanami sesuai musim saja dan hasilnya ya paling hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Tidak bisa hasilnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dirinya sendiri.”

Khoirul kemudian mengambil kacang goreng untuk dimakan. Sembari dia lanjutkan ceritanya. “Lah, Nirwan pemuda yang memang tidak punya pilihan selain dipaksa oleh bapaknya ikut membantu mengolah sawah. Kalau saya, memang tidak begitu hobi membantu bapak saya di sawah. Wong hasilnya begitu-begitu saja. Tambah hitam. Saya nanti jadi perjaka yang tidak laku ditaksir cewek. Bahaya to,” Khoirul pun terkekeh sambil memandang istrinya yang masih muda dan cantik. Istrinya pun memukul ringan pundak Khoirul.

“Ya, tidak ada pilihan lain kecuali saya harus ngurus menjadi TKI agar bisa melamar gadis pujaan saya nantinya. Kalau saya ikut bapak mengolah sawah, kapan saya bisa membanggakan sebagai perjaka yang berani melamar gadis pujaan hati saya. Hitung-hitung kakak saya dan pakde saya juga berada di Malaysia. Saya juga berminat setelah melihat teman-teman saya sukses, membeli sepeda motor dan mobil serta bisa tampil necis, seperti orang kaya….” Khoirul berusaha meyakinkan dirinya bahwa hasil dari kerja di Malaysia sama menghasilkan rizki yang sepadan juga dengan percaya dirinya teman petani tersebut.

“Tapi dia bisa kreatif kan Rul. Dia tidak meninggalkan keluarganya. Tidak perlu jauh keluarga, dia-pun tetap bisa mendapatkan penghasilan justru melebihi kemampuanmu dari Malaysia. Dia sudah bisa membeli mobil dan penghasilannya bisa ratusan juta rupiah saat panen semangka. Itu artinya, dia menang ketimbang dirimu Rul.” Sahut saya sembari mencoba melakukan kritisi terhadap pembelaannya.

“Ha ha ha ha…. Iya deh. Saya jadi orang kesepian di Malaysia. Memang tidak bisa berkumpul dengan keluarga dan tidak bisa bertemu dengan para gadis desa. He he he, sahut Khoirul yang memang mulai mengakui bahwa dirinya tidak seberuntung, bahkan nilai finansial yang didapat memang tidak sebanyak Nirwan. Tapi karena ini jalan yang saya pilih dan saya kurang kreatif dan tidak sabar ingin punya uang banyak, saya memutuskan untuk ke Malaysia.” Khoirul mencoba untuk meyakinkan bahwa Malaysia memang jalan kekayaan finansial yang dipilihnya.

Khoirul memang tidak sendiri diantara para pemuda desa. Bahkan, kakaknya sudah di Malaysia lebih dulu dan adiknya pun juga pendulang devisa di Malaysia. Tidak hanya itu saja, Pakde mereka sudah puluhan tahun mendulang rezeki di Malaysia. Tulangpunggung para pemuda Kalidawir dan sekitarnya, termasuk para keluarga di sekitar kecamatan itu, baik laki-laki atau perempuan, memang banyak yang menjadi TKI dan merantau. Di desa asal saya sendiri, sederet tetangga saya, kiri, kanan, depan dan belakang hampir dipastikan pernah pergi menjadi TKI. Ada yang di Malaysia, Arab, Hongkong, Brunei dan Taiwan.

Khoirul melanjutkan ceritanya, “tetapi memang bedanya, Nirwan memang tidak punya cukup modal untuk pergi ke Malaysia. Dia tidak bisa mengelak untuk membantu bertani ayahnya dan merawat sapi. Proses ini juga lumayan panjang. Kalau saya bandingkan saya yang tidak tekun, barangkali Nirwan paling juga akan ke Malaysia. Dia terpaksa terjun ke pertanian dan peternakan.”

“Tetapi karena Nirwan tekun dan kemudian sebagai anak muda yang senang bergaul, dia mulai bertemu teman dan menemukan contoh inspiratif cara bertani yang sukses. Nirwan waktu itu berpikir, saya sebaiknya pergi ke Malaysia saja. Toh, sawah yang dimiliki bapak hasilnya tidak seberapa. Impas dengan biaya dan pupuk yang sangat mahal. Nirwan sudah bertanya ke beberapa temannya yang juga ingin melancong ke luar negeri. Tetapi karena desakan ayahnya yang melarang dia pergi ke Malaysia, dan dia tidak bisa lepas dari rutinitas setiap pagi ke sawah dengan bapaknya, Nirwan seperti tidak punya pilihan. Padahal Nirwan sudah bersitegang dengan orang tuanya karena pilihan tersebut. Konflik ini menjadikan Nirwan sempat meninggalkan rumah untuk beberapa hari, dan menelantarkan sawah dan sapinya.” Nampak Khoirul bersedih sembari menurunkan nada bicaranya.

Khoirul menarik napas dan melanjutkan ceritanya. “Kegalauan Nirwan tidak begitu panjang karena dia bisa melupakan dengan tetap pergi ke sawah dan merawat sapinya, meskipun sempat dia tinggalkan beberapa waktu karena kegalauan dirinya menghadapi hasrat segera ingin mendapat uang banyak dan terkurung dengan terik matahari di sawah setiap hari dan harus merumput dan merawat sapi bapaknya. Namun, Nirwan tidak kuper dan suka bertemu dengan para petani yang dia lihat sudah sukses menanam jenis tanaman pertanian unggul, seperti semangka dan beberapa komoditas lainnya. Dia habiskan waktunya sembari bermain setelah tugas di sawah dan merumputnya selesai, digunakan waktunya belajar ke petani yang dilihatnya sukses.

Khoirul malnjutkan pembicaraannya. “Sepetak sawah bapaknya kemudian dia jadikan sebagai uji-coba.” Tidak berjalan mulus. Kadang untung banyak dan kadang untung sedikit. Tetapi dasar Nirwan tidak punya pilihan dan jiwa petaninya mulai terbentuk, persinggungannya dengan para petani sukses menjadikan dia tetap sabar dan teguh mencoba. Saat saya tinggal ke Malaysia, saya tidak tahu lagi cerita-cerita pertanian Nirwan.”

“Saya sudah lama kehilangan komunikasi dengan Nirwan, dan sudah tidak saya pedulikan. Kalidawir dan Tulungagung menjadi memori kerinduanku di negeri Jiran. 10 tahun saya memendam kangen dengan kampung halaman. 3 tahun terakhir saya kehilangan pujaan hati saya saat di Malaysia. Padahal saya sudah meniatkan akan pulang melamar gadis yang saya perjuangkan setelah modal kerja saya cukup membuat rumah dan menyambung hidup saat menikah.”

Khoirul berkaca-kaca bercerita pujaan hatinya, tetapi dia tahan agar istri yang disampingnya tidak curiga atau cemburu.  Saya pun menimpali, “looh, saya kira istrimu ini, gadis desa yang kau puja-puja itu Rul.”

“Waduh Kang, jangan buka rahasia deh,” sahut Khoirul. Kami pun tertawa bersama sembari memandang istri Khoirul yang sedikit menunjukkan wajah cemberut. Sembari berusaha memadamkan kecemburuan istrinya, khoirul segera menyahut. “Alhamdulillah, saya dapat kenalan orang di Malaysia, dan punya gadis cantik, yang akhirnya saya beranikan diri melamarnya karena saya tidak ingin sakit hati yang kedua. Saya dapat ganti istri saya ini Kang, dan lebih cuanttik.”

“Ha ha ha.” Suara diam pecah dan kami tertawa bersama. Istri Khoirul memukul ringan tangannya sembari tersipu malu.

Koirul langsung merebut pembicaraan. “Nirwan sekarang sukses dan sombong ke saya, setelah sekian lama saya tidak bertemu. Setelah saya agak lama di rumah mengurus pernikahan dan melanjutkan menjadi kepala rumah tangga dengan istri yang saya kagumi ini, saya sering ngobrol dan berjumpa dengan Nirwan di beberapa tempat warung kopi.”

Nirwan selalu ngece (menggoda dan membully saya). “Rul, podo panase, podo kerjone, tetapi setelah saya bisa menyewa sawah-sawah di sini untuk saya kembangkan menjadi pertanian semangka, hasilnya bisa saya gunakan untuk membeli mobil dan mulai membangun rumah. Saya tidak harus repot dan meninggalkan keluarga, teman-teman saya dan bisa melamar gadis pujaan hati saya. Mengapa harus jauh-jauh melancong ke Malaysia.” ejek Nirwan sembari Khoirul tertawa terbahak-bahak.

“Tapi kan saya juga sudah punya, rumah dan pasangan hidup saya yang juga cantik kan. Bedanya, kamu sudah punya mobil saja. Hee hee.” Khoirul mengakhiri ceritanya.

[BUTTON COLOR=”” SIZE=”” TYPE=”SQUARE” TARGET=”” LINK=””]CERITA INI FIKTIF, TETAPI SETING DAN INTI CERITA DIGUBAH DARI KISAH NYATA YANG SUDAH DIKEMBANGKAN KEDALAM ALUR CERITA PENDEK.[/BUTTON]

Menyikapi Sengkarut Zonasi PPDB 2019

0

Pemberlakuan sistem zonasi pada PPDB 2019 menuai kontroversi dan menjadi perdebatan panas hari-hari ini. Kritik tajam dari berbagai kalangan menghujam ke pemangku kepentingan yang menerbitkan kebijakan. Meski spirit yang diusung oleh kebijakan ini positif, namun kegaduhan di kalangan grassroot tetap tak terhindarkan. Usulan untuk penghapusan pun bermunculan. Di tengah sengkarut ini, diperkulan sikap yang tepat untuk menghadapi, agar permasalahan tak semakin menjadi-jadi.

KampusDesa—Kebijakan Kemendikbud kembali menuai kontroversi untuk kesekian kalinya. Kali ini yang menjadi perdebatan publik di tengah masyarakat, hingga menimbulkan pro dan kontra adalah kebijakan penerapan sistem zonasi pada PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) 2019.

Bahkan diberitakan harian Jawa Pos edisi Kamis (20/6), ratusan calon wali murid menyuarakan pendapat di Kantor Dinas Pendidikan Kota Surabaya Rabu malam. Mereka menuntut sistem zonasi dihapus karena dinilai tidak tepat sasaran. Bahkan mereka juga menuntut agar Mendikbud, Muhadjir Effendy diberhentikan dari jabatannya (www.merdeka.com). Berondongan protes serupa juga terjadi di daerah-daerah lain.

Akibatnya, nilai UN yang tinggi tak berpengaruh apa-apa untuk melanjutkan sekolah. Anak juga tidak bisa lagi leluasa memilih sekolah yang diminati

Sengkarut ini berpangkal dari pertimbangan utama diterima atau tidaknya calon peserta didik di sekolah yang dituju. Berbeda dengan sistem lama, sistem zonasi PPDB 2019 ini memprioritaskan jarak antara rumah calon peserta didik dengan sekolah sebagai acuan utama, bukan lagi nilai UN (Ujian Nasional). Akibatnya, nilai UN yang tinggi tak berpengaruh apa-apa untuk melanjutkan sekolah. Anak juga tidak bisa lagi leluasa memilih sekolah yang diminati.

Kebijakan ini diluncurkan sebagai bentuk upaya pemerataan pendidikan nasional. Sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU Sisdiknas Tahun 2003, bahwa akses terhadap pendidikan yang berkualitas adalah miliki semua warga negara Indonesia tanpa terkecuali.

Melalui kebijakan ini, diharapkan dikotomi sekolah favorit dan non-favorit dapat dieliminir. Sehingga antara peserta didik yang miskin dan kaya mempunyai akses dan kesempatan yang sama untuk menikmati fasilitas pendidikan yang disediakan negara. Selain itu, anak juga semaki dekat dengan sekolah. Sehingga pengawasan oleh tri pusat pendidikan (sekolah, orangtua, dan masyarakat) dapat berjalan dengan maksimal.

mindset masyarakat kita terkait pendidikan masih terpaku pada nilai (grade). Anak disebut cerdas dan pandai jika nilai akademiknya tinggi

Sebagaimana kita maklum bersama, mindset masyarakat kita terkait pendidikan masih terpaku pada nilai (grade). Anak disebut cerdas dan pandai jika nilai akademiknya tinggi. Anak dengan nilai tinggi harus masuk ke sekolah yang bonafide, yang favorit. Biaya yang tinggi tak lagi menjadi soal. Almamater anak yang favorit juga menjadi nilai prestige dan kebanggan tersendiri bagi orangtua.

Muncullah fenomena industrialisasi dan kapitalisasi pendidikan. Lembaga pendidikan dikelola dengan semangat profit oriented. Biaya semakin melangit selaras dengan layanan yang diberikan. Akhirnya, pendidikan yang berkualitas hanya miliki kalangan atas. Masyarakat kelas bawah harus puas dengan kualitas pendidikan yang seadanya bahkan jauh dari standar dan kelayakan.

Jurang ketimpangan inilah yang hendak dihapus oleh Kemendikbud melalui penerapan zonasi. Sehingga, layanan pendidikan berkualitas bukan hanya milik kaum elit, tapi milik semua. Kemendikbud ingin mewujudkan pendidikan yang bebas dari strata dan kelas sosial-kapital.

Sebelum diterapkan secara nasional, kebijakan ini juga sudah diuji coba di beberapa daerah oleh Kemendikbud. Sehingga, dapat kita katakan tidak ada kosa kata “asal-asalan” dalam penerapan kebijakan ini. Terkait kekurangan-kekurangan yang ada di dalamnya sudah barang tentu ada.

Bagaimanapun bentuk suatu kebijakan, selalu ada sisi kekurangan bahkan negatifnya. Dalam konteks Zonasi PPDB 2019 ini, beberapa hal yang barangkali kurang maksimal dikaji secara mendalam oleh Kemendikbud di antaranya adalah rasio sekolah dengan demografi wilayah, bentuk dan waktu sosialisasi, mindset masyarakat terkait sekolah berkualitas, kondisi geografis, sarana dan prasarana, kualitas dan daya tampung sekolah, letak sekolah, dan sebagainya.

Kebijakan zonasi tidak bisa dipukul rata begitu saja. Apalagi diterapkan secara kaku. Fleksibilitas mutlak diperlukan di sini, mengingat karakteristik antara satu daerah dengan lainnya seringkali berbeda

Kebijakan zonasi tidak bisa dipukul rata begitu saja. Apalagi diterapkan secara kaku. Fleksibilitas mutlak diperlukan di sini, mengingat karakteristik antara satu daerah dengan lainnya seringkali berbeda. Selain itu, perlu dipertimbangkan pula bagaimana kondisi sekolah-sekolah yang ada. Bagaimana sarana dan prasarananya, bagaimana fasilitas pendidikannya, jumlah dan kompetensi gurunya, dan seterusnya. Sehingga penerapan zonasi harusnya dilakukan bertahap.

Pada aras yang sama, sosialisasi ke masyarakat juga harus dimaksimalkan. Hal ini penting untuk mengubah mindset masyarakat. Masukan dari dinas-dinas pendidikan dan juga sekolah harus dijadikan bahan acuan. Hal ini karena merekalah yang ‘menguasai’ lapangan masing-masing.

Sejalan dengan ini, masyarakat juga harus bersedia membuka mindsetnya. Kegaduhan yang terjadi akhir-akhir ini harus dijadikan sebagai momentum evaluasi. Bukan untuk menghakimi. Hal yang harus dilakukan adalah mencari solusi terbaik dengan memetakan kekurangan-kekurangan yang ada dalam kebijakan ini, kemudian bersama mencari solusi.[]

Membaca Biografi, Membangun Cermin Diri

Membandingkan kisah hidup seseorang dapat menjadi cermin diri. Bahkan dapat menjadi pengukur antara proses perjalanan hidup kita dengan kesuksesan seseorang, ataupun catatan buruk seseorang. Membaca biografi menjadikan tambahan wawasan bagi kita untuk mencerna dan membandingkan sampai di titik mana kita bisa berproses menuju sukses, atau justru kita berusaha berhati-hati agar tidak mengulang keterpurukan seseorang menjadi jalan terjal kita. Anda juga suka membaca biografi?

kampusdesa.or.id — Salah satu hobi saya adalah membaca biografi seseorang atau tokoh-tokoh terkenal. Biasanya ketika mendengar atau melihat ada seorang yang masuk berita televisi, entah itu berita yang baik atau tidak baik, segera saya mencari tahu profil dari seseorang tersebut di mesin pencarian “Google”. Misalnya, beberapa saat yang lalu ada seorang artis yang tertangkap karena mengedarkan narkoba, tanpa banyak membuang waktu, saya pun mencari profil dan sepak terjang sang artis dalam perjalanan hidupnya di internet.

Juga ketika ada seorang bupati wanita yang terpilih di tahun 2018, sebut saja Bupati Purwakarta, Hj. Anne Ratna Mustika, S.E. Langsung timbul rasa penasaran di hati saya untuk mengetahui lebih detail siapa beliau. Ternyata beliau masih muda kalau dilihat dari sisi pencapaian jabatan sebagai seorang bupati. Hampir seumuran dengan saya, selisih tepat dua tahun, karena mempunyai ulang tahun yang sama. Kalau saya lahir pada 28 Januari 1984 kalau Ibu Bupati pada 28 Januari 1982, jadi kalau sekarang saya umur 35 tahun, beliau umur 37 tahun.

Bupati Purwakarta periode 2018-2023 ini adalah bupati wanita pertama Kabupaten Purwakarta, pada kontestasi pemilihan bupati dan wakil bupati Purwakarta Hj. Anne Ratna Mustika, SE berpasangan dengan H. Aming sebagai Wakil Bupati Purwakarta. Ibu dua anak dan sedang hamil anak ketiga itu adalah istri dari Kang Dedi Mulyadi, bupati Purwakarta periode sebelumnya. Wanita cantik dengan panggilan akrab Ambu Anne itu, dulunya adalah seorang Mojang Kabupaten Purwakarta pada tahun 2001 dan mewakili Kabupaten Purwakarta di Pasanggiri Mojang Jajaka Jawa Barat 2001.

Itu hanya salah satu contoh cerita singkat biografi seseorang yang saya baca, banyak orang-orang lain yang sering saya amati dan baca secara diam-diam biografinya, mulai dari orang biasa, pimpinan-pimpinan saya, artis, pejabat sampai biografi tokoh-tokoh dunia, baik yang sudah meninggal atau pun yang masih hidup.

Kalau di Kementerian Agama tempat saya berdinas, jika kita ingin mengetahui profil pegawai, ada namanya Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (Simpeg) di link web; simpeg.kemenag.go.id. Di web tersebut, biodata terkait kepegawaian para Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama bisa dilihat dengan cepat dan mudah, tinggal memasukkan Nomor Induk Pegawai (NIP), kita bisa mengetahui profil sang pegawai, diantaranya tentang; awal karirnya, kepangkatannya, jabatannya, sampai tanggal sang pegawai tersebut pensiun.

Pertanyaannya adalah, “mengapa saya suka kepo dengan orang-orang tersebut, dengan membaca profil atau biografi mereka?”. Jawabannya ada beberapa alasan, yang mungkin bisa membuat pembaca meniru hobi saya ini dan akan saya uraikan satu per satu di bawah ini;

Membaca profil dan biografi menuntun saya untuk ikut merenung dan berpikir. Ketika saya mengikuti pengalaman seseorang, otomatis saya akan ikut memikirkan beberapa hal yang berkaitan dengan pengalaman tersebut. Apa yang akan saya lakukan dan putuskan jikalau saya menjadi seseorang itu. Selain itu juga bahwa, dalam hidup ini banyak sekali hal yang patut disyukuri. Sehingga bisa lebih sadar juga jikalau saya punya hidup yang lebih beruntung.

Baca juga :

Pencapaian sukses manusia, bisakah diubah
Silaturahim dan Inspirasi Sukses untuk Anak

Dalam satu kisah seseorang yang saya baca, saya bisa melihat bagaimana cara pandangnya terhadap kehidupan. Bagaimana cara ia untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Inilah yang menunjukkan bahwa ia punya kelebihan dan kekurangan. Setiap orang pasti punya masalah, dengan mempelajari kehidupan biografi seseorang, saya bisa sadar bahwa setiap manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Kisah hidup seseorang yang bisa menjadi pelajaran berharga untuk orang lain. Salah satunya untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah seseorang tersebut lakukan. Hal tersebut bisa menjadi petunjuk bagi saya tentang kelebihan dan hal-hal yang baik untuk saya teladani, dan sebaliknya, kekurangan dan hal-hal tidak baik yang tidak semestinya saya tiru.

Untuk menjadi orang yang berhasil, seseorang pasti melakukan kerja keras dan berusaha dengan tak kenal putus asa. Tak jarang, usaha yang dilakukannya gagal berkali-kali. Bahkan bisa jadi mencapai titik terendah dalam hidup seseorang tersebut.

Saya bisa mengetahui pencapaian yang sudah diraih oleh seseorang dalam hidupnya. Untuk menjadi orang yang berhasil, seseorang pasti melakukan kerja keras dan berusaha dengan tak kenal putus asa. Tak jarang, usaha yang dilakukannya gagal berkali-kali. Bahkan bisa jadi mencapai titik terendah dalam hidup seseorang tersebut. Dari kisahnya ia pun berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. Inilah bukti, bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil. Pada umur berapa ia berhasil sukses, lalu saya cerminkan atau bandingkan pada diri saya pribadi, sebagai bagian dari upaya koreksi dan muhasabah diri.

Secara tidak langsung akan menularkan semangat dan kepercayaan diri saya. Misalnya biografi tokoh-tokoh politik, mereka banyak sekali mendedikasikan diri untuk masyarakat. Hal ini membuat diri tersadar untuk meneladani dan meniru, setidaknya dalam lingkungan sosial sekitar, agar dapat bermanfaat untuk orang lain. Selain itu, semangat kerja keras dan perjuangan yang mereka lakukan untuk mencapai kesuksesan berusaha saya tanamkan dalam diri. Bahwa kalau orang itu bisa sukses dan bermanfaat untuk orang lain dalam hidupnya, kenapa saya tidak?

Mengikuti melihat kilas balik kisah hidup seseorang dalam biografinya dengan perjalanan hidup seseorang tentu sangat menarik. Tidak hanya kesenangan saja yang dialami oleh seseorang. Namun, banyak diantaranya pengalaman getir dan pahit, yang bisa membuat seseorang menjadi sukses

Menimbulkan rasa pada diri dalam hal peningkatan kemampuan berempati, yaitu ketika saya merasakan kebahagiaan yang saya baca dalam suatu biografi dan mudah juga merasa terharu atau sedih ketika membaca pengalaman dan perjuangan hidup seseorang yang penuh liku-liku. Mengikuti melihat kilas balik kisah hidup seseorang dalam biografinya dengan perjalanan hidup seseorang tentu sangat menarik. Tidak hanya kesenangan saja yang dialami oleh seseorang. Namun, banyak diantaranya pengalaman getir dan pahit, yang bisa membuat seseorang menjadi sukses.

Sebagai pembaca biografi, setiap kali saya membaca kisah hidup seseorang, semakin saya menyadari, bahwa setiap masing-masing manusia mempunyai cerita hidup yang berbeda. Semoga dari tulisan saya ini, kita dapat mengambil hikmah pada setiap kisah, cerita dan kejadian dari seseorang. Insyaallah.

Konvensi Pendidikan VIII: Dalam Keberbedaan Merajut Kebersamaan Melalui Pendidikan

0

Keitka perbedaan makin sulit disikapi dan direspon, maka semakin rumit hubungan sosial kemanusiaan. Lantas bagaimana kalau anak dan guru di sekolah tidak respek dan berkutat saja pada semangat kompetisi. Prestasi pendidikan yang seharusnya  dapat menjadikan anak bermartabat, tetapi karena kompetitif, persaingan dan saling menegasikan akan mendominasi mental masa depan generasi. Nah, kita sikapi dan rencanakan bagaimana kita bisa keluar dari situ. Mari hadir di Konvensi Pendidikan VIII tanggal 06 – 07 Juli 2019 di Sekolah Rakyat 01 Petung Ulung Desa Margopatut Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk.

kampusdesa.or.id — Keterkoyakan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini sangatlah memprihatinkan. Rasa aku dan kamu, rasa kami dan mereka, rasa in-group dan out-group semakin dipertajam setiap hari dan batas-batas antar kelompok sosial menjadi semakin menjadi pemisah dengan intensnya ujaran-ujaran kebencian dalam berbagai bentuk komunikasi antar kelompok sosial. Pedihnya luka yang menganga oleh tindakan-tindakan masing-masing pihak menjadikan momentum Hari Raya Ied Fitri yang bernuansa saling memaafkan tidak bisa menghapus sekat-sekat keberbedaan,

Sebagai anak bangsa, saya sangar cemas dan prihatin. Sesuai bidang saya, saya ingin berbuat sesuatu untuk merekat kembali rasa gotong royong, rasa persatuan nasional. Untuk itulah, saya atas persetujuan saudara-saudara saya warga komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik (OLDWA) ingin mengangkat tema ini dalam Konvensi Pendidikan OLDWA VIII ini.

Salah satu sebab mengapa keterkoyakan dan keterkotakan kehidupan berbangsa ini selain masifnya ujaran-ujaran kebencian yang secara vulgar dipertontonkan di depan anak-anak, juga pendidikan kita tidak ramah terhadap keberbedaan.

Pendidikan yang Menafikan Perbedaan

Secara vertikal, anak memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang beragam Sedang cara horizontal, anak memiliki bakat, minat, potensi diri dan konteks kehidupan yang berbeda. Namun dalam proses pembelajaran disamakan semua.

Pembelajaran yang kami rintis di Sekolah Garasi yang memfasilitasi perbedaan anak dengan pendidikan luwes waktu (timeless learning oriented) dengan membentuk rombongan belajar yang homogen tingkat kemampuan dan keceoatan belajar membuat pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan anak

Standarisasi 8 dimensi pendidikan, sangat membunuh keberbedaan. Masing-masing anak yang unik, yang berbeda satu sama lain dalam satu kelas diproses dengan materi yang sama, dengan menggunakan metode pembelajaran yang sama dengan rentang waktu yang sama. Anak yang memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang tinggi disamakan dengan anak yang memiliki kemampuan sedang, bahkan juga dengan anak-anak disabilitas yang relatif lebih lambat. Dengan demikian maka layanan pembelajaran yang tersedia menafikan perbedaan karakteristik masing-masing anak. Pembelajaran yang kami rintis di Sekolah Garasi yang memfasilitasi perbedaan anak dengan pendidikan luwes waktu (timeless learning oriented) dengan membentuk rombongan belajar yang homogen tingkat kemampuan dan kecepatan belajar membuat pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan anak. Sementara layanan suplemen dan komplemen melalui kegiatan pengembangan diri mampu melayani kebutuhan belahar anak sesuai bakat, minat, potensi diri dan konteks lingkungan anak.

Coach Nafik Palil sedang memandu Succes Story Mutu Menejemen Pendidikan pada sejumlah peserta di kelas paralel pada Konvensi Pendidikan VII di Jombang

Pendididikan yang Kompetitif yang Menafikan Kolaboratif

Persaingan kehidupan yang ketat dan keras membuat orangtua dan sekolah/guru ingin menyiapkan anak dengan semangat dan jiwa yang kompetitif. Akibatnya pembelajaran diarahkan agar anak menjadi pemenang, menjadi juara dan menjadi the best than others, Perankingan prestasi belajar anak dan penghargaan kepada sang juara yang biasanya hanya diambil ranking/juara 1 sampai 3 itupun dalam matapelajaran tertentu terutama matematika, sains dan bahasa, membuat anak sekelas kecuali 3 orang juara dikorbankan menjadi pecundang yang terkikis rasa kepercayaan dirinya.

Perankingan prestasi belajar anak dan penghargaan kepada sang juara yang biasanya hanya diambil ranking/juara 1 sampai 3, itupun dalam mata pelajaran tertentu terutama matematik, sains dan bahasa, membuat anak sekelas kecuali 3 orang juara dikorbankan menjadi pecundang yang terkikis rasa kepercayaan dirinya.

Proses pembelajaran akhirnya bersifat kompetitif dan bukan kolaboratif dan kooperatif menjadikan anak lebih berorientasi memenangkan dirinya secara idividual dibanding secara kolegial bersama-sama. Orientasi keberhasilan belajar bukan pada apa yang terbaik yang bisa saya lakukan, namun pada yang terbaik dibanding teman-teman yang lain. Padahal dengan kemampuan yang beragam sesuai dengan jenis kecerdasan yang dikaruniakan Allah pada dirinya yang meskipun kurang memiliki kecerdasan di bidang matematika, sains dan bahasa namun bisa juga anak memiliki kecerdasan lain yang menonjol. Dan sebenarnya dengan kemampuan yang beragam itu bisa saling melengkapi dengan hasil yang ruar biasa.

Hal ini berakibat setelah anak menjadi dewasa maka orientasi hidupnya adalah menjadi terbaik dari yang lain, untuk itu harus bisa mengalahkan yang lain dan menjadi manusia yang egonya tinggi seperti yang kita saksikan dalam kehidupan keseharian masyarakat kita. Nafsu berkuasa menjadi lebih dominan, meraih kekuasaan dengan berbagai cara.

Undangan untuk Berbagi

Untuk itulah dalam Konvensi Pendidikan ke VIII ini komunitas OLDWA menganggap perlu untuk melakukan reformasi dan revolusi total pendidikan ke arah pendidikan yang ramah keberbedaan. Keberbedaan bukan menjadi faktor pemecah kebersamaan, namun malah menjadi faktor utama membentuk kebersamaan berbasis saling memerlukan dan saling melengkapi.

Untuk itulah kami mengundang baik anggota komunitas OLDWA maupun siapapun juga yang memiliki ide-ide kreatif dan pengalaman melaksanakan pendidikan (best pactice) pendidikan yang ramah keberbedaan untuk berkenan berbagi dalam kegiatan,

Konvensi Pendidikan VIII
Hari/Tanggal : Sabtu-Minggu, 06 – 07 Juli 2019
Tempat : Sekolah Rakyat 01 Petung Ulung Desa Margopatut Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk.
NARAHUBUNG : SITI NUR IMAMAH 0812-5971-3211 | ALI MUSYAFAK 0852-3556-619

Dipilihnya lokasi di Sekolah Rakyat ini karena Sekolah Rakyat yang dikembangkan oleh Bunda Siti Nur Imamah sendiri adalah suatu inovasi pendidikan yang ruaar biasa, yang ramah keberbedaan sesuai kebutuhan kontekstual masyarakat setempat.

Cak Mustofa Sam. Founder Kampung Doelanan memandu succes story pendidikan berbasis komunitas di Konvensi Pendidikan VII Jombang

Bentuk peran serta bisa berupa sahabat-sahabatku mempresentasikan di depan forum diskusi, menampilkan dalam pameran dalam stand pameran dan menjadi peserta aktif dalam acara diskusi dalam forum-forum yang ada di konvensi.

Forum-forum diskusi diadakan sesuai makalah yang masuk, paling tidak ada Forum Pleno yang mengkaji kebijakan pendidikan secara makro dengan keynote speakers sesuai tema dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan fokus teknik dan metode pembelajaran, pendidikan inklusif, pendidikan formal meliputi SD/MI, SMP/MTs dan SMA, pendidikan nonformal dan informal meliputi homeschooling, pendidikan kesetaraan, pendidikan vokasional dan PAUD. Jenis dan jumlah tema FGD disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta dan sangat luwes untuk dikurangi atau ditambah.

Konvensi ini seperti kegiatan-kegiatan Konvensi yang lalu, didanai secara mandiri gotong royong, masing-masing peserta semampu dan seiklasnya. Untuk yang memerlukan sertifikat peserta dan atau pemakalah hanya biaya cetak Rp. 25.000,- Bagi yang sudah hadir hari Sabtu dan ikut sarasehan rerasan pendidikan Sabtu malam Minggu sambil melekan di lokasi Konvensi, disediakan hotel berbintang sejuta di langit langsung.

Roundown acara sebagai berikut.

Dramaturgi dalam Fenomena Peringatan Idul Fitri

Suka berfoto dengan pose penuh arti kebahagiaan. Momentum lebaran idul fitri tentunya Anda memiliki banyak kesempatan berswafoto bersama keluarga, teman, saudara dan aneka kesempatan bertemu dengan orang lain. Betulkah ekpresi berswafoto tersebut merupakan manifestasi keceriaan atau kebahagiaan yang sebenarnya, atau sebatas tipu daya yang menjadikan terlihat bahagia? Barangkali ada yang terjebak mutlak dalam skenario dramaturgi.

kampusdesa.or.id — Dari membaca judul tulisan saya di atas, mungkin menurut beberapa orang kurang familier terkait istilah dramaturgi. Karena itu akan saya jelaskan secara umum apa itu dramaturgi? Untuk penjelasan lebih mendetail atau khusus, bisa dipelajari oleh pembaca di forum-forum ilmiah, misalnya di seminar atau ruang kelas perkuliahan. Bisa juga dipelajari secara otodidak melalui Mbah Google, tinggal ketik kata kunci “dramaturgi” di mesin pencarian Google, pembaca bisa mendapatkan penjelasannya melalui link website yang tersedia.

Dramaturgi adalah teori yang mengemukakan bahwa teater dan drama memiliki arti yang sama dalam interaksi sosial dalam kehidupan manusia. Dramaturgi awalnya lahir dari Erving Goffman pada tahun 1959 yang termuat dalam karyanya yang berjudul “Presentasion of Self in Everyday Life.” Dramaturgi merupakan sandiwara kehidupan yang dimainkan oleh pribadi manusia sendiri. Bisa dikatakan, manusia hanya berperan sebagai aktor. Perbuatan dan kejadian yang terlihat adalah hasil manipulasi atau rekayasa saja, bukan kenyataan, fakta atau realitas aslinya.

Dalam perspektif dramaturgi, kehidupan ini ibarat teater, interaksi sosial yang mirip dengan pertunjukan di atas penggung, yang menampilkan peran-peran yang dimainkan para aktor. Untuk memainkan peran tersebut, biasanya sang aktor menggunakan bahasa verbal dan menampilkan perilaku noverbal tertentu serta mengenakan atribut-atribut tertentu, misalnya kendaraan, pakaian dan asesoris lainnya yang sesuai dengan perannya dalam situasi tertentu.

Apa yang diperlihatkan oleh manusia di depan umum yang terlihat oleh khalayak umum adalah cuma sandiwara atau permainan drama saja. Pada realitanya, tidak seperti yang terlihat.

Intinya, apa yang diperlihatkan oleh manusia di depan umum yang terlihat oleh khalayak umum adalah cuma sandiwara atau permainan drama saja. Pada realitanya, tidak seperti yang terlihat. Misalnya seseorang ketika di depan orang lain bicara dan bersikap dengan tegas, yang mengesankan orang ini adalah orang yang disiplin, cerdas dan pandai. Namun pada kenyataannya, ia pemalas dan ilmunya tidaklah seberapa. Ia bersandiwara di depan orang dengan sikap dan cara bicaranya, agar mendapatkan image dan tujuan tertentu.

Dalam kaitannya dengan fenomena Idul Fitri yang saya amati di media sosial, ada satu model kesamaan perilaku para netizen (penggiat media sosial), yaitu banyak diantara mereka mengunggah kebersamaan bersama seluruh keluarga, istri atau suami beserta anak-anak mereka. Dengan diberi caption ; “Selamat Idul Fitri 1440 H, Mohon Maaf lahir dan Batin”.

Ada juga yang mengunggah di media sosial kebersamaan bersama keluarga besar masing-masing saat silaturahmi, tak lupa dengan senyum tersungging dan gaya yang beraneka macam. Mengesankan kebahagian yang luar biasa bisa berkumpul bersama keluarganya masing-masing. Karena hampir semua orang melakukannya, ini saya sebut sebuah fenomena perilaku.

Pertanyaannya adalah, “apakah tujuan terselubung dibalik mereka mengunggah foto-foto tersebut?” apakah hanya sekedar mengucapkan selamat hari raya, atau ada tujuan yang lain? Nah, dalam hal inilah teori dramaturgi saya gunakan sebagai pisau analisis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kita semua, sebagai manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan. Manusia dengan lingkungan sosial yang berbeda-beda, kebutuhan yang berbeda, cara pikir berbeda, dan banyak perbedaan-perbedaan lainnya, memiliki satu kesamaan dalam hal tertentu. Diantaranya adalah, setiap manusia berharap ingin hidup bahagia, sukses, kaya, sehat, bermanfaat, dihormati dan lain sebagainya. Karena itu, demi menggapai hal tersebut beberapa orang rela berkorban dan berjuang dengan segala daya upayanya.

Akan tetapi, harapan dan impian yang ada tidaklah selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Kegagalan dan masalah selalu saja dan pasti menimpa setiap manusia sesuai dengan level manusia masing-masing. Adapun beberapa masalah yang biasa dialami oleh seseorang diantaranya adalah, masalah keuangan, kesehatan, keluarga, hubungan sosial, pendidikan, percintaan, kondisi psikologis dan masalah-masalah lainnya.

Hidup kita tidak selalu bahagia dan tersenyum. Banyak orang yang terlihat tersenyum di depan orang, namun pada kenyataannya hatinya sedih dan menangis. Inilah yang disebut dramaturgi.

Dalam kehidupan kita ini, harapan kita tidak selalu berhasil atau sesuai seperti yang inginkan. Hidup kita tidak selalu bahagia dan tersenyum. Banyak orang yang terlihat tersenyum di depan orang, namun pada kenyataannya hatinya sedih dan menangis. Inilah yang disebut dramaturgi. Beberapa orang berupaya membuat kesan yang terlihat oleh orang lain dengan melakukan drama (bermain peran). Ia berpura-pura seperti halnya pemain teater atau artis yang memerankan tokoh dalam skenario sutradara.

Pendekatan dramaturgi berintikan pandangan, bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamannya, ia ingin mengelola pesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukan bagi orang lain. Kaum dramaturgi memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran-peran mereka.

Hal inilah, yang saya amati dari fenomena perayaan Idul Fitri di media sosial. Mereka mengunggah foto kebersamaan bersama seluruh keluarganya, dibumbui dengan senyum yang tersungging di bibir. Sesungguhnya hal itu hanya drama saja. Mereka tidak benar-benar bahagia seperti yang terlihat secara kasat mata, tapi realitanya adalah mereka pura-pura bahagia atau berusaha membahagiakan hatinya, agar terlihat dan disangka oleh orang lain bahagia. Adakah yang mau menyanggah pernyataan saya ini? Dengan mengatakan, “saya benar-benar bahagia dengan kehidupan saya.”

Foto bersama sebuah keluarga. Dokumentasi Mohammad Mahpur

Di sisi lain, bukan berarti kita ini dirudung kesedihan dan kesusahan terus menerus. Hidup kita selalu ada masalah. Tidak seperti itu juga, karena sesungguhnya bahagia dan kesedihan adalah satu paket bagi setiap manusia untuk dialami, silih berganti. Sudah sunnatullah bagi kita sebagai manusia, kadang kala kita bahagia, kadang kala kita bersedih hati. Sebagai orang yang beriman, jikalau diberi kebahagiaan hendaknya kita bersyukur dan jikalau diberi kesusahan harusnya kita bersabar. Sebagaimana Hadis di bawah ini;

Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“ALANGKAH MENGAGUMKAN KEADAAN ORANG YANG BERIMAN, KARENA SEMUA KEADAANNYA (MEMBAWA) KEBAIKAN (UNTUK DIRINYA), DAN INI HANYA ADA PADA SEORANG MUKMIN; JIKA DIA MENDAPATKAN KESENANGAN DIA AKAN BERSYUKUR, MAKA ITU ADALAH KEBAIKAN BAGINYA, DAN JIKA DIA DITIMPA KESUSAHAN DIA AKAN BERSABAR, MAKA ITU ADALAH KEBAIKAN BAGINYA”.
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur”.

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur di saat bahagia dan bersabar di saat susah, bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur”.

Dalam al-Qur’an, Allah Swt memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah. Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemehakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (QS Luqmaan: 31).

Dramaturgi bukanlah sesuatu yang tidak baik untuk dilakukan. Sah-sah saja dan boleh-boleh saja dengan tujuan dan level tertentu. Namun semestinya kita perlu untuk berhati-hati agar tidak terjebak dalam kebahagiaan semu, yaitu kebahagiaan yang hanya terlihat di sebuah foto

Dramaturgi bukanlah sesuatu yang tidak baik untuk dilakukan. Sah-sah saja dan boleh-boleh saja dengan tujuan dan level tertentu. Namun semestinya kita perlu untuk berhati-hati agar tidak terjebak dalam kebahagiaan semu, yaitu kebahagiaan yang hanya terlihat di sebuah foto, namun kenyataan kehidupan fakta realitanya kita tidak bahagia dengan segala masalah yang menimpa diri kita. Sebagai penutup tulisan ini, saya berdo’a, agar kita semua selalu diberi kebahagiaan sejati dalam hidup dengan selalu bersyukur dan bersabar terhadap segala takdir yang diberikan oleh Allah Swt. Aamiin

Sholat Tarawih dalam Analogi Kepemimpinan

Belajar kepemimpinan bisa dilakukan dari mana saja. Belajar dari memaknai peristiwa keseharian pun bisa. Asalkan kita bisa mengambil hikmah dan membuat refleksi, maka aneka pelajaran kepemimpinan dapat kita dulang dengan kekayaan khazanah. Begitu pun di bulan puasa ini. 29 tarawih yang dilakukan berjamaah, mampu memberikan hikmah reflektif ikhwal kepemimpinan.

kampusdesa.or.id — Seperti tahun-tahun sebelumnya, beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, saya mendapatkan permohonan dari masjid dan musholla di dekat rumah, baik berupa surat maupun ucapan lisan untuk menjadi imam sholat tarawih. Dengan senang hati saya menerimanya, karena hal tersebut saya niatkan sebagai sebuah kesempatan untuk dapat bermanfaat untuk jama’ah dan sebagai upaya saya belajar dalam kepemimpinan.

Kenapa kok belajar tentang kepemimpinan? Ya.., menurut saya, menjadi imam sholat tarawih bisa dianalogikan dengan seni kepemimpinan dalam sebuah organisasi tertentu. Adapun pengalaman saya ketika menjadi imam maupun makmum sholat tarawih, saya menemukan beberapa hal yang sekaligus akan saya jelaskan satu per satu dengan analogi seni kepemimpinan, yaitu sebagai berikut;

  1. Imam sholat tarawih adalah hendaknya adalah orang yang paling fasih bacaannya.

Ketika saya menjadi makmum sholat tarawih dan mendengarkan bacaan fasih dari seorang imam dalam membaca ayat-ayat al-Qur’an, saya merasa sangat terkesan dan larut. Saya pun berkeinginan meniru fasihnya bacaan imam tersebut, pada saat saya melaksanakan jadwal yang sudah tertulis menjadi imam sholat tarawih.

Sebaliknya ketika suatu waktu, saya menjadi makmum sholat tarawih dan dipimpin oleh imam dengan bacaan ayat al-Qur’an yang kurang fasih, sikap saya yang pertama adalah saya berusaha memahami dan memaklumi hal tersebut. Masih untung orang tersebut mau menjadi imam sholat tarawih, banyak orang lain yang takut kalau menjadi imam sholat tarawih. Namun di sisi lain, saya belajar dari kesalahan imam itu, agar ketika jadwal saya menjadi imam sholat, bacaan ayat al-Qur’an yang saya baca bisa fasih dan tidak salah.

Kejadian di atas, dalam analogi kepemimpinan dapat dijelaskan bahwa, seorang yang dipilih untuk menjadi pemimpin hendaknya adalah orang punya kapasitas dan kemampuan untuk mempimpin, agar bisa memimpin dengan baik dan benar. Namun ketika ada seorang pemimpin yang memiliki kekurangan, tidak boleh serta merta kita notabene sebagai anak buah tidak mematuhinya, karena bagaimanapun dia adalah pemimpin. Baiknya hal itu kita jadikan sarana belajar dari kekurangan atau kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin tersebut, agar suatu ketika kita menjadi pemimpin, jangan sampai melakukan kesalahan yang sama.

  1. Menjadi imam sholat tarawih itu berat

Paling cepat biasanya membutuhkan waktu 30 menit untuk melakukan sholat tarawih dan witir berjama’ah. Dalam kaitannya dengan hal ini, tentu menjadi imam membutuhkan tenaga yang lebih ekstra, karena harus dengan suara keras membaca surat-surat atau ayat-ayat al-Qur’an. Selain secara jasmani akan timbul rasa haus, secara rohani seorang imam harus bertanggungjawab atas bacaan ayat al-Qur’an dan bacaan sholat yang dibaca oleh dirinya sendiri maupun yang dibaca oleh makmumnya. Maka dari itu, sang imam sholat harus pandai-pandai membagi waktu dalam sholat untuk memberi kesempatan makmumnya membaca surat al fatihah dan bacaan-bacaan sholat lainnya.

Hal ini dalam analogi kepemimpinan, saya artikan bahwa menjadi seorang pemimpin itu bukanlah tugas yang mudah dan enak. Pemimpin mempunyai tanggungjawab jasmani dan ruhani, juga tanggungjawab lahir dan batin dirinya sendiri sebagai seorang pemimpin maupun orang-orang yang dipimpinnya. Memimpin mempunyai resiko yang sangat berat, karena itu mesti kuat dalam menghadapi berbagai resiko memimpin dengan kepala dingin dan hati yang bersih, seraya selalu memohon petunjuk dari Allah Swt, agar selalu diberikan petunjuk sehingga dapat membuat keputusan yang benar, tepat dan selamat.

Selain itu juga, pemimpin harus memikirkan tentang bagaimana para orang-orang yang dipimpinnya bisa sejahtera dan bahagia. Pemimpin tidak boleh berbahagia di atas penderitaan anak buahnya, justru pemimpin harus berupaya mencari alternatif solusi dan memberi kesempatan anggotanya untuk maju dan berkembang.

Pemimpin juga perlu melakukan pengkaderan, sebagai bagian upaya regenerasi kepemimpinan. Ada adagium yang mengatakan, “pemimpin yang berhasil, adalah pemimpin yang bisa memberi jalan yang lapang bagi pemimpin selanjutnya. Pemimpin yang hebat, adalah pemimpin yang bisa mencetak kader pemimpin penggantinya yang bisa lebih hebat dari dirinya ketika memimpin.”

  1. Beraneka macam karakteristik jama’ah sholat tarawih

Pasti diantara kita sudah sangat paham, bahwasanya dalam sholat tarawih berjama’ah, ada bermacam-macam keinginan makmum. Ada yang ingin lambat atau pelan-pelan saja. Dengan alasan bahwa, selain agar khusu’ dan tuma’ninah dalam sholat tarawih, juga karena kondisi badan yang mudah capek kalau sholat tarawih dilakukan dengan cepat dikarenakan sudah tua atau sakit.

Ada pula makmum yang ingin sholat tarawih dilakukan dengan cepat-cepat. Agar segera selesai dan bisa beraktifitas yang lain, entah itu aktifitas; tadarus, makan, menonton televisi, ngobrol, santai-santai atau pun istirahat. Kelompok makmum dengan sifat seperti ini, akan merasa malas sholat tarawih jikalau imam sholat tarawih dalam memimpin sholat terlalu lama. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, ada beberapa makmum yang tidak sabar memilih untuk pergi meninggalkan masjid atau musholla, untuk melanjutkan sholat tarawih sendiri meninggalkan sang imam.

Dalam menyikapi karakteristik makmum seperti ini, seorang imam hendaknya bisa memahami dan bisa memenuhi keinginan makmum, tanpa melakukan pelanggaran atau kesalahan aturan menjadi imam sholat, serta tetap ada nilai komitmen dan tanggungjawab diri seorang imam untuk memenuhi syarat dan rukun shalat.

Pemimpin hendaknya bisa mengakomodir keinginan dan harapan anak buahnya tanpa harus kehilangan idealisme kepemimpinan.

Dari dua karakteristik jama’ah sholat tarawih yang saya sebutkan di atas, bisa dianalogikan dalam praktik kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Bahwasanya, seorang pemimpin harus paham tentang sifat-sifat dan karakteristik orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin hendaknya bisa mengakomodir keinginan dan harapan anak buahnya tanpa harus kehilangan idealisme kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak boleh semaunya sendiri, jika tidak ingin dibenci bahkan ditinggalkan oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Pemimpin hendaknya jangan memihak pada salah satu kubu, ketika ada dua kubu pada anak buahnya yang berbeda pendapat atau berkonflik, ia mesti berada di tengah sebagai mediator.

Pemimpin hendaknya jangan memihak pada salah satu kubu, ketika ada dua kubu pada anak buahnya yang berbeda pendapat atau berkonflik, ia mesti berada di tengah sebagai mediator. Pemimpin berupaya mencari win-win solution, terhadap permasalahan yang terjadi. Jangan sampai ada yang merasa dirugikan dan direndahkan, sehingga tercipta formulasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak yang berkonflik. Disinilah pentingnya seorang pemimpin memahami ilmu manajemen konflik.

Itulah beberapa hal yang bisa saya analogikan tentang kepemimpinan dari pengalaman menjadi imam maupun makmum sholat tarawih. Tentunya masih banyak hal-hal lain yang mungkin bissa dianalogikan untuk kepemimpinan, baik dari menjadi imam atau makmum shalat tarawih, maupun dengan kegiatan dan aktifitas lainnya. Semoga tulisan saya ini dapat diambil hikmahnya, umumnya bagi para pembaca, dan khususnya bagi diri saya sendiri. Insyaallah.

Narasi Alternatif Masjid yang Terkubur

0

Saat kecil menginjak remaja, masjid menjadi bagian dari rumah kedua. Saban malam kami saling bertemu di masjid dan menghabiskan mimpi di dalam masjid. Saya mendengar aneka kisah-kisah sempalan yang membekas. Masjid tempat storytelling, mengisahkan pengalaman atau fiksi di luar ubudiah. Di pojok dan sisi pinggir, masjid menjadi reproduksi kisah-kisah imajiner seputar perdemitan. Asyik dan bikin rindu akan suasana masjid yang lebih longgar dimaknai.

Kampusdesa.or.id — Di sudut masjid itu bergerombol anak-anak berkalung sarung. Semua kewajiban solat sudah diikuti dengan baik, atau bahkan kurang baik. Meskipun begitu, kurang baiknya tidak mereka pikir panjang karena mereka anggap sebagai kesenangan. Anak-anak ini tak tanggung karena masjid seperti rumah keduanya. Anak-anak ini mulai memojok bergerombol, mencari tempat yang istimewa.

Nampaknya bukan ingin mengaji membaca Alquran, tetapi mojok untuk memasrahkan menjadi audiens penceramah. Seusai solat, penceramah itu mendekati bocah yang bergerombol berkalung sarung dan terkesan ingusan. Terkesan bocah-bocah itu rindu dengan penceramah lokal itu.

“Bagaimana le, kabarmu, sudah makan kan.”

“Sudah pak,” sahut bocah itu dengan cepat yang seolah ingin mempercepat pembicaraan. Bocah-bocah ini tidak ingin pertanyaan itu sebagai basa-basi. Mereka hanya ingin ceramah itu yang segera didengar. Wow, sepertinya mereka sangat antusias. Taat betul bocah ini.

Sosok bapak ini mencoba berdialog ringan untuk masuk dalam sesi ceramahnya. Dia tidak ingin langsung masuk ke inti ceramah. Padahal bocah-bocah ini super menahan agar tidak ada basa-basi, tetapi bapak ini harus menerapkan situasi agar si bocah tersebut dipastikan punya perhatian, sehingga isi ceramahnya tidak ingin lepas dari perhatian.

Setelah terjalin komunikasi dan perhatian, bapak ini langsung memulai ceramah.

Namanya anak-anak, ternyata bapak tersebut justru mendakwahkan sebuah cerita.

“Saya itu pernah berjalan malam dalam kegelapan. Hanya berdua dengan pak Rido. Waktu itu saya melewati sebuah jalan yang disamping kiri kanan jalam sebuah tegal yang sepi. Jarak tegal itu kira-kira 200 meter baru ada rumah. Kira-kira ada di sekitar rumahnya pak Sonan.”

Suasana menjadi hening, Bocah-bocah itu mengencangkan sarungnya. Ada yang bergeser merapat ke teman sebelahnya. Ada yang menyangga dagu. Semua hanya terpana menatap bapak yang sedang bercerita itu. Tidak ada suara. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Maklum, di masjid desa itu memang sudah sepi kalau sudah selesai solat isya’. Hanya jeritan bocah-bocah itu saja yang menjadikan masjid lebih hidup saat malam hari.

“Saya kaget dan terdiam le,” lanjut bapak itu menyambung ceritanya.

“Dalam kesunyian dan kegelapan itu, sayup-sayup ada suara dokar dan kaki kuda. Saya terdiam dan berjalan pelan di samping pak Rido. Tapi pak Rido seolah tak mendengar dan santai saja jalannya. Tidak memperlambat jalan. Sementara saya agak tertinggal di belakang. Saya aneh saja rasanya. Mana mungkin malam begini ada dokar dan kuda berjalan di malam gulita begini,” gumam bapak ini sembari menurunkan suaranya ketika bercerita di hadapan bocah-bocah tersebut. Bocah-bocah itu semakin merapat karena merasa suara dokar itu ada di sekitarnya karena memang di masjid ini sudah sepi. Seolah malam semakin mencekam. Tak ada yang bersuara.

Bapak ini melanjutkan ceritanya. “Saat saya semakin tertinggal langkah dengan pak Rido, dokar dan kuda itu mendskat dan semakin nyata di pandangan saya. Semakin dekat saya semakin terasa aneh dan penuh ketakutan. Sementara pak Rido mencuekin saya hingga jarak saya dengannya kira-kira 10 meter.”

“Bulu kuduk saya merinding. Meski tidak befitu jelas, suara dokar dan kuda semakin dekat dari arah belakang. Semakin dekat di belakang saya. Saya tidak berani menoleh saking takutnya. Perlahan dokar dan kuda iti melintasi saya. Saya tercengang dan tidak bisa bicara apa-apa. Dokar dan kuda itu menyalip saya tetapi saya merasa aneh. Seharusnya dokar itu kan ada kusirnya. Tetapi kok dokar ini tanpa kusir. Meski terlihat remang-remang karena memang di desa ini belum ada listrik, maka dokar itu tidak begitu kelihatan. Cuma ada penerangan di dokar itu yang juga remang-remang. Tetapi saya yakin jika dokar itu melaju tanpa kusir.”

Bruak. Bocah-bocah itu kaget dan saling merapat, dan ada yang berpelukan, ada yang tengkurap dengan sarungnya. Suara kursi yang jatuh karena didesak oleh salah satu bocah yang agak ketakutan.

“Sudah-sudah, begitu saja kok takut,” sahut bapak sembari melanjutkan cerita.

Setelah dokar itu berlalu. Saya mendekati pak Rido dan bertanya pak Rid, kok bapak ini santai dan meninggalkan langkah saya. Eh pak, itu tadi dokarnya siapa kok tidak ada kusirnya. Malam begini mau kemana,” sahut saya lirih sambil memegang lengan pak Rido sembari berjalan lebih cepat.

“Itu tadi hantu dokar (medi dokat),” sahut pak Ridho yang sudah sering ditemui medi dokar di jalan tersebut.

‘Saya semakin ngeri mendengarnya. Saya akhirnya lari meninggalkan pak Ridho untuk segera pulang ke rumah duluan,” sembari bapak ini mengakhiri cerita. Sudah ya tidur sana, seru bapak penceramah ini ke bocah-bocah tersebut yang setiap malam tidur di masjid tersebut.

Penceramah itu bernama bapak Ahad. Sia ramah pada anak-anak yang suka tidur di masjid. Pak Ahad sangat senang dengan anak-anak yang menyukai tidur di masjid. Pak Ahad adalah bagian dari narator handal tentang perhantuan di masjid ini. Dia dikenal sebagai penceramah hantu. Dia memang sangat peduli pada anak-anak di masjid ini sehingga dia memikat anak-anak ini bukan hanya dengan aneka instruksi mengaji, tetapi dia warnai kegembiraan bocah-bocah itu dengan aneka cerita tentang dirinya.

Pak Ahad menjadi populer dan sisukai narasi-narasi horornya oleh anak-anak. Sebuah ceramah alternatif yang dirindukannya dari kejenuhan mengaji dan beribadah mahdah di masjid Al Anshori. Pertanyaannya, apakah kisah di sudut masjid ini masih hidup sekarang di tengah masjid yang bergerak semakin tertutup? Apakah ruang narasi alternatif tersebut masih hidup hingga sekarang, yang dulu di antara spirit lain masjid dihidupi oleh story telling lokal yang melengkapi daya pikat anak-anak seamngat bermalam di masjid.

Entahlah. Bagi saya, cerita tersebut menjadikan saya sendiri mengingat bagaimana kehidupan saya di masjid saat kecil dulu memberikan kesan masjid menjadi rumah kedua saya, bagian mendapatkan pengakuan sosial pertemanan dan tempat belajar saya membangun kisah hidup, tidak hanya ikhwal solat dan mengaji. Saya menemukan seni terhubung dengan orang lain.

Apakah narasi masjid ini sudah terkubur? Saya kira evolusi budaya dan pola Islamisme yang lebih eksklusif semakin meminggirkan narasi tersebut. Bahkan saat masjid tidak lagi menjadi rumah kedua bagi anak-anak, niscaya daya tarik eksotis ala desa tersebut-pun tidak lagi bisa hidup di masjid, karena, barangkali, sudah banyak tulisan di berbagai masjid bertuliskan, “dilarang tidur di dalam masjid.”