Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 56

Menguatkan Aksi Sosial Kemanusiaan dengan Bibit Sosiopreneurship

0

Pernahkah anda mendengar wise word  “agama itu bukan di baju melainkan di dalam hati, inti agama adalah kemanusiaan.” Kemudian “kemanusiaan itu tak mengenal batas negara dan agama, ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim.” Terimakasih kepada seluruh penggerak aksi kemanusiaan di negeri ini, kalianlah penegak Pancasila Sejati.

kampusdesa.or.id — “Kemanusiaan yang adil dan beradab” merupakan salah satu bunyi butir pancasila yang kerap kali dilantunkan sejak di lembaga pendidikan sekolah dasar. Nilai sila ke dua tersebut bukanlah sebuah semboyan yang diujarkan lewat lisan saja, namun sebagai tanggung jawab dalam prinsip bernegara. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya lembaga sosial kemanusiaan yang mewarnai negeri ini.

Menjadi masyarakat madani yang bisa memberikan umpan balik terhadap uluran kemanusiaan haruslah dimulai dengan aksi yang benar-benar berangkat dari hati, komunikasi, dan adanya follow up terhadap masyarakat yang bersangkutan. Hal ini akan memberikan bekas dalam gelombang angan-angan masyarakat tersebut. Pemberian material baik keilmuan maupun yang lainnya, disertai bumbu komunikasi dari hati ke hati, dan follow up mampu memberikan hasil masyarakat yang berdaya serta memiliki keinginan turut serta dalam aksi kemanusiaan.

Pemberian material baik keilmuan maupun yang lainnya, disertai bumbu komunikasi dengan hati, dan follow up mampu memberikan hasil masyarakat yang berdaya serta memiliki keinginan turut serta dalam aksi kemanusiaan.

Aksi kemanusiaan yang dilatarbelakangi dengan corak demikian, biasanya akan memberikan dampak kelangsungan eksistensi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga tidak sedikit para pemuda Indonesia terpanggil hatinya untuk ikut serta bahkan menggalang suatu aksi kemanusiaan setelah aktif mengikuti kegiatan suatu lembaga kemanusiaan. Bisa kita lihat gerakan Kemanusiaan berbasis IT seperti kitabisa.com, act.id, Laskar Sedekah, YOT (young on top berbagi) merupakan bentuk kepedulian pemuda terhadap bulir sila ke Dua Pancasila.

Begitu pula yang dilakukan oleh Siti Nur Imamah, dalam menggerakkan hatinya, ia memiliki prinsip “ Mencari Sangu Mati, Bukan Sangu Urip,“ sehingga volunteer yang turut serta membantu beliau dalam mengembangkan Sekolah Rakyat pun dicari yang ”sudah tidak sibuk mencari dangu urip, namun sangu mati.“ Perjuangan mengharumkan beberapa desa dan kecamatan di wilayah Nganjuk, bukan tidak memiliki permasalahan, namun setiap desa yang di dampinginya memiliki beragam masalah.

Siti Nur Imamah memiliki prinsip “Mencari Sangu Mati, Bukan Sangu Urip.” Sehingga volunteer yang turut serta membantu beliau dalam mengembangkan sekolah rakyat pun dicari yang ”Sudah Tidak Sibuk Mencari Sangu Urip, Namun Sangu Mati.”

Best Practice community yang di bangun oleh Siti Nur Imamah dengan menggali kekurangan apa di daerah yang bersangkutan lebih bisa berjalan dan diterima, dibandingkan kita mendatangkan suatu yang menurut kita mereka butuh. Hal ini terbukti dengan semakin berkembangnya delapan daerah desa berdaya dan 6 desa wisata di bawah pendampingan beliau yang terletak di beragam kecamatan di Nganjuk Raya.

Dengan taktik saling bersinergi bersama stakeholder setempat, baik dari RT, RW, Kepala Desa dan Masyarakat diajak urun rembuk bersama. Sehingga dapat diketahui, sebenarnya mereka membutuhkan apa, setelah itu  kita memberikan suatu pelatihan, ide, dan penyelesaian melibatkan masyarakat, sehingga mereka merasa memiliki kegiatan tersebut. Berdasarkan pengalaman yang telah terjadi, tak jarang permasalahan-permasalahan di satu titik ternyata menjadi solusi untuk titik lainnya.

Kurikulum yang dimiliki oleh sekolah rakyat adalah memahami tutur masyarakat, mengubah bahasa ilmiah yang bisa diterima setiap komponen masyarakat. Memanusiakan setiap obyek dan mitra yang ditemui. Sehingga dari Sekolah Rakyat menghasilkan beragam titik temu pendidikan karakter, misalnya integritas, kecerdasan sosial, tanggung jawab, etos kerja, gotong royong, self esteem, dan masih banyak lingkup pendidikan karakter yang diperoleh dari masyarakat dan terbungkus dalam kegiatan sekolah rakyat.

Kurikulum yang dimiliki oleh sekolah rakyat adalah memahami tutur masyarakat, mengubah bahasa ilmiah yang bisa diterima setiap komponen masyarakat. Memanusiakan setiap obyek dan mitra yang ditemui.

Dari satu sudut daerah ke daerah lain menemukan beragam karakter masyarakat, sehingga hal ini bisa berdampak pada diri sendiri, dan orang sekitar penggerak kegiatan kemanusiaan. Misalnya membawa kepribadian yang awalnya egosentri menjadi humble, yang awalnya komitmennya kurang, hingga akhirnya berubah selalu termotivasi dan memiliki komitmen yang tegas.

Selain berdampak pada kepribadian, keilmuan pun ikut serta mengikuti, semakin memiliki banyak  masalah, semakin lihai pula menyelesaiakan masalah. Inilah yang kemudian dalam taksonomi revisi Andersoon, menempatkan pendidikan tertinggi bukan dari sintesis saja, melainkan menempatkan kreativitas yang di dalamnya mampu menyelesaikan beragam masalah yang dihadapi.

Gerakan yang didampingi oleh ibu Imamah ini sebenarnya bisa ditiru, dengan cara ATM Bag (Amati, Tiru, Modifikasi dan Bagikan) sehingga setiap generasi yang terpanggil untuk ikut serta berkontribusi diranah sosial dan kemanusiaan, dapat mengeksekusinya.

Gerakan yang didampingi oleh ibu Imamah ini sebenarnya bisa ditiru, dengan cara ATM Bag (Amati, Tiru, Modifikasi dan Bagikan) sehingga setiap generasi yang terpanggil untuk ikut serta berkontribusi diranah sosial dan kemanusiaan, dapat mengeksekusinya. Namun, yang menjadi kendala ketika hendak membuat aksi maupun lembaga sosial kemanusiaan, Pemuda selalu berfikir tentang perlunya memiliki kematangan secara materi, baik finansial maupun administrasi, selain itu juga kematangan cara berpikir sehingga yang terjadi langkah mereka seakan-akan terikat di tengah-tengah untuk melanjutkan langkah, atau mandek di tengah jalan.

Selain itu, fenomena yang menyelimuti kepedulian masyarakat adalah kejar kerja secara material, celoteh akan ketidak-ada-gunaan membuat aksi dan lembaga kemanusiaan karena tidak menghasilkan sesuatu berupa materi terutama finansial. Kebutuhan finansial memanglah tidak bisa dipungkiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Coba kita tengok, suatu misal kita membeli furniture meja, apakah dibawahnya tidak ada ruangan kosongnya, atau tidak ada rongga sela-sela dalam kepadatan sofa, ”pasti ada“ jawabannya. Analogi ini sama halnya dalam aksi kemanusiaan, manakala semakin banyak orang yang kita bantu, semakin banyak pula kebaikan yang diulurkan di sekitar kita.

Dengan demikian, sering berkumpul dibarengi saling berjabat tangan, pikiran, dan semangat terhadap orang-orang yang sepemikiran, akan semakin menguatkan kebaikan budi serta aksi kemanusiaan yang akan dibangun. Karena semakin banyak relasi kemanusiaan yang terhimpun maka akan semakin menguatkan langkah perjuangan kita.

Hadirnya sosiopreneurship dalam aksi sosial dan kemanusiaan, merupakan ilmu yang perlu di sebarluaskan untuk merubah mental dan cara berfikir, bahwa entrepreneur itu tidak saja berupa saham, barang, yang berupa materi saja, namun kegiatan aksi sosial dan kemanusiaan merupakan salah satu dari preneurship.

Sosiopreneurship masih jarang di kenal dikalangan para orang tua, yang mengkhawatirkan putra-putrinya bergelut dalam aksi sosial kemanusiaan. Pasalnya stigma yang tertanam bahwa ikut serta dalam aksi sosial dan kemanusian hanya bagi mereka yang memiliki waktu luang, pengangguran, tidak memiliki prinsip untuk bekerja. Tentu, makna bekerja di sini akan lari kembali pada orientasi secara material. Hal ini pun di buktikan oleh Siti Nur Imamah selain ia seorang pengawas pendidikan yang bekerja di institusi, ia meluangkan waktunya di hari Sabtu dan Minggu untuk mendampingi masyarakat melalui Sekolah Rakyat yang dikelolanya.

Jika pemahaman makna sosiopreneurship dimiliki oleh beberapa orang tua dan anak muda, maka akan terselenggara aksi kemanusian yang selalu menumbuhkan kebesaran hati untuk sekitarnya. Dengan pola pikir yang demikian akan mengantarkan motif baru dan semangat untuk berkontribusi dan mengapresiasi aksi kemanusiaan yang ada di sekitar kita.

Aksi kemanusiaan tidak lagi menjadi figur mencari muka manis di panggung sandiwara. Terpanggilnya hati untuk ikut serta mengobati kesenjangan yang ada di setiap segmen masyarakat merupakan hal yang wajib sebagai prinsip tanggung jawab dalam hidup sosial dan bernegara.

Editor: Arif Maulana

Belajar Bukan Hanya dari Sekolah, Tapi Buku

0

Seorang kutu buku, sesibuk apapun, pasti bisa menyempatkan waktu, bahkan waktu itu banyak tersedia longgar bagi orang lain. Seorang yang benar-benar sibuk, masih ada waktu tersisa yang digunakan membaca. Bagi sebagian yang lain, meski banyak ruang kosong, tetapi serasa tidak punya waktu. Sesibuk apapun,

kampusdesa.or.id–Bagi sebagian orang yang sudah masuk kategori gila membaca, bukan hal yang luar biasa jika menghabiskan waktu berjam-jam kencan dengan buku. Bibir dan matanya bergerak, melarik setiap suku kata yang membaris kalimat. Mereka menikmatinya. Larut dalam setiap penggalan paragraf.

Lalu, apa kabarnya kita? Anak muda yang mengaku generasi milenial. Gadget jauh lebih menarik dan berwarna dari pada jilidan lembaran-lembaran. Yang kita tahu hanya sekedar berbalas pesan melalui aplikasi sosial media, atau mengunggah photo yang kita anggap paling hits dan menarik ratusan like. Tanpa sadar, berpuluh-puluh menit atau bahkan setengah hari hanya kita habiskan untuk mengotak-atik hp.

Bu Nyai pecinta wayang ini selalu tafakur berjam-jam saat membaca, tidak heran jika tulisan-tulisan yang beliau hasilkan syarat akan ilmu meski dikemas dalam bentuk cerita.

Kau tahu Khilma Anis? Penulis novel Hati Suhita yang belakangan ini booming di pasaran. Dia adalah wanita dengan segudang pekerjaan. Istri dan ibu dari dua anak, pemilik percetakan, pemilik toko, guru, sekaligus pengasuh pondok pesantren. Kegiatannya yang berjibun tidak menjadi alasan untuk tidak bermesraan dengan koleksi buku-bukunya. Bu Nyai pecinta wayang ini selalu tafakur berjam-jam saat membaca, tidak heran jika tulisan-tulisan yang beliau hasilkan syarat akan ilmu meski dikemas dalam bentuk cerita.

Aku banyak belajar bukan dari sekolah, tapi yah dari banyak membaca

“Aku banyak belajar bukan dari sekolah, tapi yah dari banyak membaca” Cerita bapak Hambali, laki-laki sepuh dengan segudang prestasi. Usia lanjut tidak menghalangi beliau untuk tetap membaca. Beliau datang ke PERPUSDA lebih dulu dari pada aku. Dengan langkah rentanya beliau berjalan menyusuri rak, dan kembali duduk dengan membawa kitab tebal, kumpulan hadis shohih bukhari.

Diskusi secara tidak sengaja dengan Bapak Hambali membuatku merasa kerdil. Di usia senjanya, beliau masih semangat berkarya. “Aku besok ke Jakarta, minta izin tulisanku. Aku nulis Al-Qur’an. Lengkap dengan terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa” tutur beliau dengan sumringah. Pencipta logo kabupaten Lamongan ini adalah potret cinta yang penuh pada lembaran-lembaran ilmu. Seorang ulama, sastrawan, budayawan, dan guru teladan kebanggaan Lamongan. Semoga sehat selalu dan panjang umur, Pak.

Bagaimana dengan kita? Sudah mesrakah dengan ilmu? Sudah berapa buku kita cumbu? Pemuda penggerak adalah pembaca. Dan pemimpin hari esok adalah pembaca

Aviatus Sholikha (Mahasiswa PAI Unisda Lamongan, Aktivis Literasi)

Perempuan di Balik Sekolah Rakyat dan Wisata Desa Petung Ulung Nganjuk

0

Menjadi perempuan inspiratif membutuhkan nyali. Mungkin jejak kehidupan yang sudah ada di benak perempuan membawa seorang perempuan, tetap terpenjara dalam peran domestik, atau peran yang dimainkan sebagai ibu, akhirnya mampu dijejakkan untuk mengayomi dan memantik perubahan masyarakat. Barangkali itu yang bisa disematkan pada sosok Siti Nur Imamah. Penggerak delapan Desa Wisata di Nganjuk.

kampusdesa.or.id–Alhamdulillah kegiatan rutin setengah tahunan Komunitas OLDWA menggelar pertemuan bernama Konvensi Pendidikan yang ke 8 di tahun 2019 ini sukses dilaksanakan di Petung Ulung Nganjuk.

Nama lokasinya saja Sekolah Rakyat membuat yang belum kenal mungkin membayangkan seperti di SD, karena SD dulu alih nama dari SR.

Belum lagi sang nyonya rumah, shohibul bait, bunda Siti Nur Imamah, meski sudah banyak yang mengenal nama dan kegiatannya di akun beliau dan akun Sekolah Rakyat Nganjuk, namun banyak yang belum tahu sepak terjang (nggak tahu, apakah bunda satu ini suka menyepak dan menerjang) sang tokoh di balik semua ini?

Saya mengenal beliau di satu malam di satu pertemuan di Nganjuk dalam acara Ngopi (Ngolah Pikir) dengan sahabat-sahabat pegiat Nganjuk, antara lain hadir mas Rego Agus R. Subagyo dan mbak Sulis D’Syamora Batik Kreasi. Dalam rembug yang gayeng itulah saya kenal beliau.

Provokatif. Wabup Nganjuk pun, mampu diajak berkolaborasi dan selalu bergaya skak mat, kalau sudah bicara kebijakan.

Pertama saja saya sudah kagum setengah urip, karena beliau perempuan, hidup di kota dengan pekerjaan yang supersibuk sebagai bu Guru MTsN di Nganjuk, ndalemnya di tengah kota yang nyaman, kok masih sempat-sempatnya memikirkan masyarakat di desa tertinggal.

Biasanya sehabis ngobrol dan seiring berlalunya waktu, pembicaraan menjadi hewes-hewes bablas angine, nggak berbekas. Berbeda dengan beliau, beberapa waktu kemudian saya mengetahui beliau langsung bergerak menembus batas-batas kacamata kuda dan bidang pekerjaannya. Beliau membangun Sekolah Rakyat, bukan seperti bayangan konvensional gedung sekolah dasar, namun lebih merupakan wadah pemuda-pemudi desa belajar memanfaatkan potensi diri dan lingkungannya di dusun Petung Ulung. Sekolah Rakyat di Petung Ulung menjadi sekolah pertama dari 8 Sekolah Rakyat ang didirikan Siti Nur Imamah.

Siti Nur Imamah (Tengah), bergiat mendorong kader/relawan perempuan untuk desa wisata

Rintisan pengembangan Sekolah Rakyat di Petung Ulung ini bukan tanpa hambatan. Mungkin karena baru pertama kali dan juga masyarakat setempat masih awam, perkembangannya tidak seperti yang diharapkan.

Beliau mengalihkan fokus kegiatannya di desa Kweden. Alhamdulillah potensi alam di Kweden lebih baik dan ditambah belajar dari kasus di Petung Ulung, maka kegiatan di Kweden sangat berhasil sehingga menjadi salah satu ikon wisata di Nganjuk yang terkenal dengan nama Kweden River Park dengan andalannya kegiatan arung jeram dan wisata kuliner

Berhasil di Kweden, beliau memalingkan perhatiannya ke desa Ngepung, desa tertinggal di pegunungan kapur yang terletak dekat perbatasan Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Bojonegoro. Beliau ingin mendayagunakan potensi zakat untuk membangun Ngepung ini, dan saat ini sedang dalam proses dengan hasil yang menggembirakan.

Rupanya beliau masih penasaran dan tidak kapok dengan hambatan-hambatan yang ditemui saat merintis pertama kali di Petung Ulung, dan berbekal pengalamanmya di dua lokasi baru, alhamdulillah di Petung Ulung mampu berkembang. Untuk itulah kita datang di Petung Ulung ini, untuk menemukenali satu best practice di bidang community development, jauh dari bidang disiplin ilmu yang ditekuni semasa kuliah dulu. Jian tidak linier blass dan nlenthang poll dengan hukum Newton, relativitas Einstein dan sebagainya yang dipelajarinya di Prodi Fisika di Unesa.

Itulah sekedar mengenal sekilas bund Siti Nur Imamah, wanita multitalenta, perempuan serba segalanya. Pidato di mimbar oke, panjak kendang oke, peragawati luwes gandhes, petualangan offroads tak pernah mengeluh, pengusaha berbakat, petani inggih mangga, namun yang sangat saya kagumi dari sang penantang zaman ini adalah komitmen dan kepeduliannya pada masyarakat miskin, untuk itu beliau berprinsip selama berjuang di jalan Allah, maka tiada beban berat yang dirasakan dalam membuat yang imposible menjadi I’m posible.

Selamat mengenal lebih dalam dengan Srikandi yang gemar memanah ini, sang tokoh Konvensi Penddikan VIII ini dengan sahabat-sahabatku rawuh, hadir sendiri di Konvensi Pendidikan VIII di Nganjuk tanggal 6 dan 7 Juli 2019.

Hati-Hati, Jangan Karena Alasan Mendisiplinkan Anak, Sekolah Menjadi Tak Ramah Anak

0

Sekolah dan disiplin menjadi salah kaprah ketika menjadikan anak berjarak dengan kemanusiaannya. Dia berubah menjadi mesin. Hati-hati, proses pendisiplinan akan berubah menjadi sistem hegemonik yang menjadikan anak bak robot. Rasa senangnya terabaikan dan pergi ke sekolah karena tuntutan orang lain. Begitu juga ekstra-kulikuler yang diwajibkan, tak lagi menjadi pilihan merdeka, tetapi berubah menjadi kewajiban yang tidak memberi saluran potensi.

kampusdesa.or.id–Ada fenomena sekolah yang membuat poin-poin penilaian (sistem point) kepada peserta didik dari sisi negatif semisal anak terlambat mendapat poin 10, anak berkelahi dapat poin 15 hingga anak mendapat poin sekian angka yang menjadi sebab ia dikembalikan kepada orang tuanya. Dengan konsep sekolah ramah anak, sebaiknya ada perubahan sistem poin tersebut yang sering terjadi di sekolah-sekolah terutama di tingkat SMP/ MTs dan SMA/MAN. Anak-anak yang awalnya dinilai dari hal-hal negatifnya, diubah dan dinilai dari hal-hal yang positif yang anak-anak lakukan.

Terkait dengan poin-poinnya apa saja, itu berdasarkan poin-poin yang sudah ada sebelumnya, hanya diubah menjadi bahasa positif. Contoh awalnya, anak datang terlambat dapat poin 10 diubah anak datang tepat waktu poin 10.

Pembahasan sistem poin ini ada di obrolan santai yang disampaikan kawan saya Ibu Bekti saat makan siang hari pertama dalam Konvensi Pendidikan VIII di Nganjuk 6 Juli 2019 lalu. Obrolan santai di cafe Sekolah Rakyat Wisata Petung Ulung tentang Sekolah Ramah Anak (SAR) ini mirip sekali dengan keluhan saya di sosial media soal sanksi sekolah kepada anak yang tak hadir di kegiatan ekstrakurikuler.

Anak itu memiliki minat dan bakat yang berbeda. Kalau kegiatan ekstra kurikuler yang dipatok sekolah adalah kegiatan yang tidak mereka minati, apa bisa mereka menjalani kegiatan dengan bahagia dan bersemangat? Ketidakhadirannya di sekolah janganlah keburu dianggap sebagai ketidakpatuhan sehingga harus dihukum di waktu lainnya.
SEDIH JUGA MENYAKSIKAN PESERTA DIDIK YANG MENJALANI SANKSI AKIBAT TIDAK IKUT KEGIATAN EKSTRA KURIKULER DI SEKOLAH YANG TIDAK MEREKA MINATI. EKSTRA KURIKULER YANG SAYA PAHAMI UNTUK MENGEMBANGKAN POTENSI MINAT DAN BAKAT PESERTA DIDIK BUKANLAH KEGIATAN PANTES-PANTESAN SAJA,  MENGGUGURKAN LABEL SEBAGAI SEKOLAH TIDAK PUNYA AKTIVITAS. KEGIATAN INI MESTINYA MEMBUAT ANAK SEMAKIN BERKARAKTER BAIK KARENA BAKAT DAN MINATNYA DIAKOMODASI. ANAK ITU MEMILIKI MINAT DAN BAKAT YANG BERBEDA. KALAU KEGIATAN EKSTRA KURIKULER YANG DIPATOK SEKOLAH ADALAH KEGIATAN YANG TIDAK MEREKA MINATI, APA BISA MEREKA MENJALANI KEGIATAN DENGAN BAHAGIA DAN BERSEMANGAT? KETIDAKHADIRANNYA DI SEKOLAH JANGANLAH KEBURU DIANGGAP SEBAGAI KETIDAKPATUHAN SEHINGGA HARUS DIHUKUM DI WAKTU LAINNYA.
SAATNYA SEKOLAH MENDATA MINAT DAN BAKAT PESERTA DIDIK YANG SERIUS. TIDAKLAH MUNGKIN ADA RATUSAN PESERTA DIDIK YANG MEMILIKI MINAT DAN BAKAT YANG SAMA DARI AKTIVITAS EKSTRA KURIKULER YANG JUMLAHNYA TIDAK LEBIH DARI 3 KEGIATAN.
JANGANLAH DIKIT-DIKIT SANKSI, DIKIT-DIKIT SANKSI, EVALUASILAH APA YANG TAK TEPAT DALAM PROGRAM SEKOLAH.
SUNGGUH SAYA SEDIH KALAU MENYAKSIKAN ANAK BERLARIAN MENGIKUTI KEGIATAN SEKOLAH KARENA MEREKA TAKUT DIHUKUM.  DAMPAK DARI HUKUMAN ITU MESKI TAK MENYAKITI FISIKNYA,  NYATANYA KEMUNGKINAN MENYAKITI MENTALNYA. DIPERMALUKAN DI DEPAN KAWAN-KAWANNYA,  DIKAPOKKAN DENGAN CARA-CARA YANG SEJATINYA GURU TERSEBUT JUGA TIDAK MAU JALANI ANDAI BELIAU DI MASA-MASA MENJADI PESERTA DIDIK DI SEKOLAH.
KAPAN SEKOLAH MENJADI INSTITUSI YANG PALING BERJASA DALAM MEMBENTUK KARAKTER BAIK DAN MENGEMBANGKAN MINAT DAN BAKAT PESERTA DIDIK HINGGA MENJADI PRESTASI YANG MELEJIT DAN MEMBANGGAKAN?

Status facebook yang saya tulis 31 Mei 2019 ini mendapat tanggapan positif dari akun atas nama Hindin Wahid,

SAYA SEPAKAT DENGAN INI,BU. EKSTRA KURIKULER DI SEKOLAH ADA UNTUK MENGAKOMODASI MINAT PESERTA DIDIK. SAYANGNYA PEMERINTAH MALAH MENGADAKAN EKSTRA KURIKULER WAJIB. WAJIB BERARTI HARUS DILAKSANAKAN OLEH SEKOLAH DAN DIIKUTI SEMUA PESERTA DIDIK TANPA KECUALI. BAHKAN NILAINYA MENJADI SYARAT KENAIKAN KELAS. PENDIDIKAN KARAKTER JUGA MENJADI ALASAN DIWAJIBKANNYA EKSTRA KURIKULER INI. ENTAH KARAKTER YANG MANA.

Saya tanggapi begini,

SEPERTI MISALNYA PRWAMUKA SEBAGAI EKTRAKUEIKULER WAJIB, KEMASAN KEGIATAN ADALAH KEPRAMUKAAN TAPI KEGIATANNYA KAN BISA LEBIH KEKINIAN GIH, PAK?
MASAK IYA, JAMAN SAYA SAMPAI JAMAN ANAK SAYA PRAMUKA ITU HANYA KEMAH, BIKIN DRAKBAR, ANEKA MACAM TEPUK DAN NYANYIAN, DAN PERMAINAN SANDI .
JAMAN SEKARANG ANAK-ANAK BERKATEGORI GENERASI Z, SEMUA SERBA INTERNET, PASTILAH SANGAT MUNGKIN ANEKA KEGIATAN BISA DIELABORASI DAN KOMBINASI DENGAN ERANYA INI.  PRAMUKA BERSINERGI DG INDUSTRI 4.0 MISALNYA. ANGGOTA PRAMUKA YANG PEKA TEKNOLOGI TIDAK HANYA SEBAGAI PENGGUNA TAPI JUGA MENJADI PENCIPTA PRODUK-PRODUK YANG BERMANFAAT UNTUK DIA DAN TEMANNYA.

Teman facebook saya dengan nama akun Indriyati Rodjan menambahkan macam-macam kegiatan Pramuka yang sesuai dengan perkembangan jaman.

ASTATIK BESTARI, PEMBINANYA MUSTI KREATIF MENDESAIN KEMASAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER WAJIB. PRAMUKA JUGA BISA DIARAHKAN BIKIN POSTER TENTANG PELESTARIAN LINGKUNGAN, JADI MENGAKOMODASI ANAK-ANAK YANG PUNYA TALENTA MELUKIS (KAYAK ANAK SAYA), PRAMUKA BISA MENGAKOMODIR KEGIATAN TEATER ATAU PARADE PUISI CINTA TANAH AIR ATAU APALAH APALAH, JADI MENGAKOMODIR ANAK-ANAK YANG SUKA TEATER, PRAMUKA BISA MENGAKOMODIR ANAK ANAK YANG PUNYA TALENTA DI BIDANG MUSIK JUGA. PRAMUKA JUGA BISA MENGAKOMODIR ANAK- ANAK YANG PUNYA TALENTA MENARI. BUKANKAH PAS JAMBORE NASIONAL ADA AJANG PERTUKARAN SENI BUDAYA ANTAR PROPINSI? ITU KATA ABANG DAN ADIK SAYA YANG DULU IKUT JAMBORE…HEHEHEHE.

Ada pula yang tidak sepaham dengan status saya, dan bekomentar seperti memberi klarifikasi atau penjelasan mengapa sekolah memberi sanksi kepada peserta didik yang tidak ikut ekstrakurikuler. Berikut ini komentar sanggahannya.

SETIAP SEKOLAH MEMANG PUNYA ATURAN TERSENDIRI UNTUK MENERAPKAN KEGIATAN EKSTRAKULIKULER. BERDASARKAN PENGALAMAN KEGIATAN YANG DIWAJIBKAN SAJA BANYAK SISWA YANG TIDAK MENGIKUTI, APALAGI KALAU KEGITAN TERSEBUT TIDAK DIWAJIBKAN. DIHUKUM MULAI TINGKAT RENDAH SAMPAI TINGKAT TINGGI TETAP SAJA MELANGGAR.
Contoh kecil dalam Pramuka, kegiatannya tidak hanya nyanyi dan tepuk tangan saja, akan tetapi sekarang kegiatan Pramuka lebih kreatif lagi. Seperti yang sering diikuti oleh anak-anak kami dalam event lomba tingkat kabupaten. Contoh lomba membuat kreasi-kreasi
yang berhubungan dengan kebudayaan lokal. Misalnya membuat miniatur Ringin Contong, desain baju dari bahan alam, poster, menyalin teks ke dalam tulisan aksara Jawa dan masih banyak yang lain
RATA-RATA MEREKA YANG TIDAK MENGIKUTI KEGIATAN DI SEKOLAH DISEBABKAN PENGARUH PERGAULAN YANG TIDAK BAIK DI LINGKUNGANNYA SEKITAR SEPERTI NONGKRONG TIDAK JELAS ATAU YANG LAIN. OLEH KARENA ITU PIHAK SEKOLAH MENERAPKAN KEBIJAKAN YANG TELAH DIPROGRAMKAN OLEH PEMERINTAH DENGAN HARAPAN MEREKA BISA MENYALURKN MINAT DAN BAKATNYA. CONTOH KECIL DALAM PRAMUKA, KEGIATANNYA TIDAK HANYA NYANYI DAN TEPUK TANGAN SAJA, AKAN TETAPI SEKARANG KEGIATAN PRAMUKA LEBIH KREATIF LAGI. SEPERTI YANG SERING DIIKUTI OLEH ANAK-ANAK KAMI DALAM EVENT LOMBA TINGKAT KABUPATEN. CONTOH LOMBA MEMBUAT KREASI-KREASI YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBUDAYAAN LOKAL. MISALNYA MEMBUAT MINIATUR RINGIN CONTONG, DESAIN BAJU DARI BAHAN ALAM, POSTER, MENYALIN TEKS KE DALAM TULISAN AKSARA JAWA DAN MASIH BANYAK YANG LAIN. DAN ALHAMDULILLAH ANAK-ANAK PRAMUKA MEMILIKI BAKAT-BAKAT YANG BISA DIKEMBANGKAN. ALHASIL MEREKA BERHASIL MENGGONDOL JUARA TINGKAT KABUPATEN.

Tentang Sekolah Ramah Anak (SRA)  saya cuplikan penjelasan Bu Bekti dari akun facebooknya yang ditulis pada 24 Mei 2019 sebagai berikut.

SRA ADALAH SEKOLAH RAMAH ANAK YANG SECARA DEFINISI ADALAH SEKOLAH YG AMAN, NYAMAN, SEHAT, ASRI, INDAH, INKLUSI TANPA KEKERASAN UNTUK MENCIPTAKAN GENERASI YANG TANGGUH BERAKHLAK MULIA
KONSEP SRA ADALAH HIJRAH HATI, MENGUBAH POLA PIKIR DAN CARA PANDANG SESEORANG DALAM MENDIDIK DAN MEMBIMBING ANAK. SESUAI DENGAN KONVENSI HAK ANAK
DIMANA DI DALAMNYA SEKOLAH WAJIB ADANYA PEMENUHAN ATAS HAK ANAK, HAK HIDUP, HAK TUMBUH KEMBANG, HAK PERLINDUNGAN DAN HAK PERTISIPASI
HAK HIDUP, SETIAP SEKOLAH BEKERJASAMA DENGAN ORANG TUA WAJIB MEMENUHI HAK HIDUP ATAS ANAK. HIDUP SELAMAT DI JALAN, HIDUP ATAS MAKANAN SEHAT, HIDUP ATAS AMAN BENCANA DAN PENGARUH BAIK NARKOBA MAUPUN ASAP ROKOK SERTA INFORMASI YANG TIDAK LAYAK.
HAK TUMBUH KEMBANG, SETIAP ORANG DEWASA DISATUKAN PENDIDIKAN WAJIB MEMAHAMI DAN MEMENUHI HAK TUMBUH KEMBANG ANAK. DIMANA DIDALAMNYA KITA HARUS BISA MENERIMA BAHWA SETIAP ANAK MEMPUNYAI KECERDASAN YANG BERBEDA SESUAI DENGAN 9 KECERDASAN, ANAK PUNYA GAYA BELAJAR YANG BERBEDA DAN ANAK PUNYA KEMAMPUAN KETUNTASA  MOTORIK SENSORIK YG BERBEDA YG BISA PENGARUH PADA TINGKAT KONSENTRASINYA.
HAK PERLINDUNGAN, SETIAP ORANG DEWASA DI SATUAN PENDIDIKAN BERHAK UNTUK MELINDUNGI ANAK DARI SEGALA MACAM ANCAMAN DAN BAHAYA BAIK SECARA FISIK MAUPUN MENTAL
HAK PARTISIPASI, SETIAP KITA HARUS MEMBERIKAN RUANG DAN WAKTU AGAR ANAK SELALU IKUT BERPARTISIPASI UNTUK PENGEMBANGAN KREATIVITAS DAN KRITIK ATAS APAPUN YANG ADA DI SEKITARNYA.
SRA BUKAN MEMBUAT BANGUNAN BARU, TETAPI LEBIH KEPADA RUH DIDALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

O ya,  Bu Bekti  adalah Fasilitator Nasional SRA dari KPPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak).

Kudapan Ilmu di Hamparan Sungai Petung Ulung

0

Urip iku Urup telah melekat dalam kamus hidup orang Jawa. Sebuah falsafah yang menganjurkan untuk hidup penuh makna. Manusia berharga jika ada ilmunya, dan ilmu akan bernilai jika ada amalnya. Disuatu pagi yang cerah, ruh-ruh kebajikan itu nampaknya bersinergi saling menguatkan, di sebuah desa, Jawa timur, Indonesia.

Kampusdesa.or.id–Mengalirnya mata air pegunungan di sepanjang sungai merupakan hal yang lumrah dilihat oleh khalayak umum, lain halnya dengan komunitas OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik) yang menyulap sungai menjadi pusaran sumber mata air keilmuan. Bengawan yang  terbentang dari kaki gunung Wilis melintasi Desa Margo Patut, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk dibanjiri oleh ratusan peserta dari segala penjuru dari dalam maupun luar kota. Tidak hanya peserta yang membludak, para praktisi pun beramai ramai menyerbu kudapan ilmu di hamparan sungai Petung Ulung.

Para praktisi yang ikut serta menghadiri kegiatan ini diantaranya adalah Bapak Totok Isnanto. Beliau dari BAN-PAUD Jawa Timur. Ulasan singkat penuh kebermanfaatan yang didapatkan dari beliau yaitu mengenai Pemahaman Akreditasi PAUD-PNF Berbasis Compliencen dan Performance. Uraian Beliau sangat berguna bagi para pengelola PAUD, sebab ketika menghadapi akreditasi mereka selalu dibingungkan dengan masalah administrasi.

Saat ini penilaian mengedepankan pada proses pembelajaran, bukan  pada sarana prasarana, sehingga dengan proses pembelajaran yang apik sang buah hati akan nyaman berkreasi sesuai kodrat masing masing. Penilaian tidak hanya berupa berkas, team asesor bisa mengambil foto, video dari proses awal masuk kelas sampai selesai. Sehingga asesor harus datang 30 menit sebelum proses pembelajaran dimulai.

Selain Pak Totok, turut hadir pula Ibu Bekti Yanti yang mengulas tentang “Gerakan Sekolah Ramah Anak”  dengan begitu anak menjadi senang, guru tenang, orang tua pun bahagia. Sekolah ramah anak yang dimaksudkan oleh para pemerhati pendidikan dan masyarakat adalah mengakui serta mengaplikasikan hak yang seharusnya ada di lingkungan sekolah, yakni hak hidup peserta didik, melalui kerja sama sekolah dan lembaga sekitar.

Misalnya memenuhi hak atas keselamatan yang bekerjasama dengan dinas perhubungan, Kemudian  hak anak atas rawan bencana serta bekerja sama dengan BPBD, dan tak lupa hak tumbuh kembang anak sebagai sarana memahami kodrat, kapasitas individu siswa, sehingga kehangatan dalam ruang pendidikan dapat dirasakan terpancar ke seluruh segmen masyarakat.

Mr. Nafik Palil Yuniro pun ikut serta urun hadir dalam menyempurnakan kehangatan dengan membawakan tema “Manajemen Lembaga Wow”, Peserta diminta langsung mempraktekkan apa yang ia sampaikan. Harapannya, agar ketika sampai di lembaga masing-masing mereka bisa langsung mengamalkan dan mengajarkannya kepada anggota yang lain. Sebagaimana ibu Syarifah dari Sumenep membawakan success story nya dalam mengelola lembaga “WOW” berbasis MLBS yang di dampingi oleh Mr. Nafik Palil saat Konvensi Pendidikan Indonesia ke VII di Jombang.

Salah satu moment yang sangat mengharukan ada pada sesi manajemen laporan siswa berbasis LSC ( Led Student Center). Dengan saling berpasangan, peserta bergantian bermain peran menjadi orang tua dan satu lainnya menjadi siswa, banyak yang meneteskan air mata penuh haru. Diluar dugaan, padahal ini masih diaplikasikan oleh sesama guru, bagaimana jika itu diterapkan oleh orangtua bersama putra-putrinya sendiri? sungguh luar biasa tentunya.

Astatik Bestari. Pemilik PKBM Berstari Mojowarno Jombang. Pendidikan tidak perlu dibatasi. Saat menyampaikamnsucces stories di konvensi pendidikan

Dengan demikian pendidikan yang memanusiakan manusia bisa diterapkan untuk dan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun baik di desa maupun di kota, di lembaga pendidikan formal maupun informal. Hal ini telah dibuktikan oleh Ibu Astatik Bestari Litbang PAUD Kecamatan Mojowarno Jombang, yang juga mengelola institusi berupa PKBM. Team PKBM Bestari mengajak anggota masyarakat untuk tetap belajar dengan berbagai permasalahan hidup mereka, sesuai jenjang yang belum mereka lalui dengan melakukan identifikasi peserta didik oleh team humas PKBM.

Tidak berhenti di situ, sikap yang dimiliki PKBM Bestari yakni melakukan pendampingan belajar bagi peserta didik yang berfungsi untuk memotivasi, mengontrol keaktifan belajar. Peserta didik yang ikut serta di PKBM Bestari beraneka ragam, anak punk, anak jalanan, pecandu narkoba, ibu rumah tangga, anak putus sekolah, bahkan pedagang di pasar. Motivasi beliau menegakkan PKMB selama ini justru berangkat dari peserta didiknya. Pernah ada saat ujian, ada ibu yang membawa bayinya, bapak bapak membawa Rengkek/obrog, karena baru pulang berdagang. Melihat semangat belajar yang ada, ia menyimpulkan bahwa pendidikan tidak mengenal usia dan waktu, siapapun dan kapanpun bisa mengenyam pendidikan.

Pernah ada saat ujian, ada ibu yang membawa bayinya, bapak bapak membawa rengkek/obrog, karena baru pulang berdagang. Melihat semangat belajar yang ada, ia menyimpulkan bahwa pendidikan tidak mengenal usia dan waktu,  siapapun dan kapanpun bisa mengenyam pendidikan.

Beragamnya menu kudapan yang disajikan pada hari pertama membuat peserta Konvensi Pendidikan Indonesia VIII bak keluarga baru, damai saling menginspirasi. “Bahagia” itu yang terlukis dari senyum ceria para peserta, kembali pulang dengan membawa beragam oleh-oleh keilmuan. Workshop, seminar, dan pelatihan yang biasanya terselenggara di dalam ruangan tertutup dan mewah, kini berubah di hamparan sungai  tempat terbuka. Tempat Wisata yang biasanya sesak dipenuhi orang-orang yang hendak menghibur diri, hari ini berubah menjadi berwisata sambil belajar dengan sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Editor: Arif Maulana

Lorong Gelap Itu Bernama Autis (Bagian 1)

0

Semula, aku tak terlalu pandai memahami kode dari Tuhan perihal keistimewaan anakku. Sedikit demi sedikit aku berusaha menerjemahkan kode itu dengan lebih banyak belajar. Belajar bersabar, belajar ikhtiar, serta belajar mencintai putraku lebih dan lebih banyak lagi. Dalam setiap sujudku, aku merayu Tuhan agar mengabulkan segala do’aku.

KampusDesa–Ada sebuah perumpamaan “Life is like one big crazy roller coaster, starts slowly, takes you up, then sends you down quickly only to raise you up higher”. Memang begitulah hidup, bagai sebuah roller coaster raksasa yang berawal dengan pelan, lalu mengangkat kita tinggi, kemudian meluncur ke bawah dengan cepat hanya untuk menganggkat kita lebih tinggi dari sebelumnya.

Setelah mencapai usia satu tahun mulai ada hal-hal yang menurutku agak ganjil.

Kehidupanku dan suami di awal pernikahan memang penuh harapan akan masa depan yang cerah. Apalagi ketika kami dikaruniai seorang putra yang tampan di pertengan tahun 1998. Kami memberinya nama Wildan Fuadi. Dia tumbuh dengan sehat dan berkembang sesuai usianya di awal tahun kehidupannya. Namun setelah mencapai usia satu tahun mulai ada hal-hal yang menurutku agak ganjil. Wildan yang sudah bisa berdiri mulai tidak sabaran untuk belajar berjalan. Dia lebih suka merangkak karena dengan begitu dia bisa berjalan dengan cepat. Hal aneh berikutnya adalah kebiasaan dia menggigit saat merasa senang. Di usia dua tahun dia belum mau belajar berbicara, babling saja tidak mau. Selanjutnya dia tidak mau menoleh bila dipanggil, tidak ada kontak mata, suka berlari tak tentu arah, tak kenal bahaya, durasi tidur yang sangat pendek dibanding anak seusianya, suka barang-barang yang berputar dan tak mengenal rasa sakit.

Aku bisa membandingkannya dengan perkembangan keponakan-keponakanku dan anak-anak tetanggaku.

Meski aku baru pertama kali mempunyai anak tapi aku bisa merasakan ada masalah dengan tumbuh kembangan anakku. Aku bisa membandingkannya dengan perkembangan keponakan-keponakanku dan anak-anak tetanggaku. Aku mulai gelisah. Mengapa anakku begitu cuek? Mengapa dia tidak bisa bermain dengan temannya di usia yang mestinya sudah mulai bisa bersosialisasi? Tak ada orang yang sanggup menjaganya walau sebentar. Dia begitu banyak gerak dan kuat.

Ada berbagai upaya yang aku lakukan agar dia tidak banyak bergerak tanpa kendali dan mau bersosialisasi. Karena dia suka main mobil-mobilan terutama yang berjenis truk, maka aku membelikan mobil-mobilan yang ukurannya kecil sehingga tidak bisa dipasangi tali untuk ditarik sambil berjalan. Aku juga membelikan raket mainan agar dia mau bermain dengan temannya. Aku sering mengajak anak-anak tetangga yang seusia untuk bermain ke rumah. Aku belikan buku cerita bergambar dan majalah anak-anak. Aku sering membacakan cerita dan mereka biasanya mendengarkan dengan seksama dan sesekali bertanya tentang gamabar dan cerita yang aku bacakan. Tapi, Hai di mana Wildan? Oh dia jalan-jalan sendiri tak tentu arah, manjat kursi, meja, bahkan televisi pun dia panjat.

Wildan dan Kedua Adiknya (2013)

Hatiku sangat gusar karena si sulung tak jua bisa berbicara apalagi berkomunikasi. Namun orang-orang sekitar selalu bilang suatu saat dia akan bisa bicara. “Anak orang bisa ngomong pasti nanti juga bisa ngomong”, begitu selalu kata-kata mereka untuk meredam kekuatiranku. Tapi aku tidak puas. Aku mulai hunting tabloid-tabloid yang membahas tentang tumbuh kembang anak ke toko buku terdekat. Ke toko buku besar di kota macam Gramedia? Hmmm, aku tidak bisa membayangkan mengajak Wildan ke toko buku di kota. Bisa-bisa dia hilang mengikuti orang yang sedang berjalan yang tidak dikenalnya atau mungkin juga mengacak-acak buku-buku yang ada.

Mengapa anakku mempunyai ciri-ciri seperti anak autis?

Setiap kali aku membaca tabloid yang membahas tentang autis, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Mengapa anakku mempunyai ciri-ciri seperti anak autis? Benarkah anakku autis? Di mana aku bisa berkonsultasi dengan ahlinya? Oh tenyata ke dokter Melly Budiman ya. Halloow, dokter Melly itu tinggal di Jakarta lo.

Awal 2003 Wildan terserang muntaber dan harus opname delapan hari di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Saat itu aku sedang hamil anak kedua. Setiap kali dokter datang untuk mengecek penyakitnya, dia tak pernah menjawab bila ditanya Pak Dokter, padahal usianya sudah 4 tahun. Aku semakin gelisah apalagi anak yang sekamar dengannya usia satu setengah tahun sudah bisa mengungkapkan keinginannya. Tiga hari setelah pulang aku membawanya kontrol ke dokter spesialis anak yang biasa menanganinya. Aku ceritakan semua tentang Wildan yang berbeda dari anak-anak seusianya. Beliau menyarankan untuk membawanya ke seorang dokter di Surabaya. Aku disarankan untuk menelpon terlebih dahulu karena waiting list dokter tersebut bejibun. Dan benar ternyata, aku menelpon pada 15 Maret 2003 tapi diminta datang 15 April 2003.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Meski sedang hamil besar dan ada gangguan lutut tak membuatku surut untuk datang ke Surabaya naik bis. Dilanjutkan naik angkot menuju perumahan di jalan Ketintang Selatan. Hal yang sangat menyiksa adalah banyaknya polisi tidur disepanjang jalan yang kami lalui ketika naik angkot karena aku sedang hamil besar.

Beliau mengatakan agar aku tidak kuatir, secepatnya dilakukan intervensi agar Wildan bisa berkembang dengan baik seperti anak seusianya.

Cukup lama kami menunggu antrian. Begitu banyak anak-anak yang akan dikonsultasikan ke dokter Sasanti Juniar, ada yang dari dalam kota Surabaya, Sidoarjo, Bondowoso, bahkan dari Banyuwangi. Ketika menunggu giliran, aku diberi beberapa lembar kertas untuk mengisi biodata dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar perkembangan Wildan sejak masih di dalam kandungan sampai usianya saat itu. Saat sesi konsultasi, Bu Dokter memeriksa hasil jawaban yang aku berikan dengan seksama, mengamati Wildan ketika diberi mainan dan segala tingkahnya. Lalu beliau memberi tahu kami bahwa ananda menderita autis. Aku melongo, tak tahu harus bertanya apa, antara shock dan begitu penuhnya otakku dengan berbagai pertanyaan yang justru malah membuat mulutku seperti terkunci. Rupanya Bu Dokter sudah biasa menghadapi reaksi orang tua saat pertama kali anaknya divonis menderita autis. Beliau mengatakan agar aku tidak kuatir, secepatnya dilakukan intervensi agar Wildan bisa berkembang dengan baik seperti anak seusianya. Beliau menjelaskan secara detail tentang terapi biomedis dan terapi perilaku, dan tak lupa memberi alamat tempat terapi terdekat dengan tempat tinggalku.

Bersambung>>>

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Zonasi, Lalu Redistribusi Guru Melalui Mutasi Akan Meningkatkan Motivasi atau Malah Frustasi

0

Adalah wajar bila pengambil kebijakan dan agen pembangunan masyarakat lebih suka membangun yang sudah maju karena lebih mudah diajak maju. Namun demikian, banyak anak dari kalangan koncomelarat yang memandang dengan ngiler terhadap fasilitas pendidikan yang ‘wah’ yang disediakan pemerintah tapi hanya bisa diakses oleh konglomerat.

KampusDesa.or.id—Kebijakan Zonasi adalah kebijakan yang menghebohkan, mulai dari anak-anak yang tidak dapat tempat sampai emak-emak yang teriak-teriak. Sebenarnya kebijakan zonasi adalah sebagai jawaban atas tanggung jawab pemerintah atas hak semua warga negara untuk mendapat layanan pendidikan yang layak yang selama ini dinafikan. Banyak anak dari kalangan koncomelarat yang memandang dengan ngiler terhadap fasilitas pendidikan yang ‘wah’ yang disediakan pemerintah tapi hanya bisa diakses oleh konglomerat.

Proses pembangunan kita, termasuk di dalamnya pembangunan pendidikan ikut mainstream pembangunan di negara-negara berkembang lainnya. Robert Chambers, seorang konsultan PBB untuk pembangunan di negara-negara berkembang di Afrika dan Asia mengkritisi arah pembangunan di negara-negara berkembang yang cenderung memajukan yang sudah maju dan meninggalkan yang tertinggal.

Lapisan bawah, cenderung sulit menerima perubahan karena pendidikan yang rendah,

Adalah wajar bila pengambil kebijakan dan agen pembangunan masyarakat lebih suka membangun yang sudah maju karena lebih mudah diajak maju. Ditinjau dari kajian difusi  inovasi, segmen sasaran masyarakat yang sudah maju ini mudah diajak maju. Tingkat pendidikan, terpaan informasi dan kosmopolitansi yang lebih tinggi dan didukung oleh kemampuan ekonomi yang cukup menjadikan mereka lebih mudah menerima perubahan kemajuan, dalam difusi inovasi mereka ini adalah early majority bahkan sebagai inovator. Sebaliknya lapisan bawah, cenderung sulit menerima perubahan karena pendidikan yang rendah, terpaan informasi yang rendah, tidak didukung oleh kemampuan ekonomi untuk melakukan melakukan perubahan, dan mereka termasuk lagard, orang yang mbeguguk mutawaton, nggugu sak karepe dewe dan menentang perubahan.

Hal tersebut juga terjadi dalam pembangunan dan pengembangan pendidikan. Sekolah-sekolah yang maju akan difasilitasi untuk; lebih maju lagi, sementara sekoah biasa-biasa dan sekolah yang hidup segan mati tak hendak cenderung ditinggalkan. Akibatnya jurang pemisah antara sekolah maju yang kemudian menjadi sekolah favorit masyarakat dengan sekolah yang tertinggal akan semakin menganga.

Guru-guru yang berprestasi cenderung mendapat rewards berupa kenaikan pangkat dan mutasi ke sekolah yang lebih baik yang berada di area yang lebih “kota” dan nyaman, ke sekolah-sekolah yang maju dan favorit.

Temasuk dalam hal ini adalah arah kebijakan pengelolaan sumberdaya manusia, dalam hal ini guru-guru. Guru-guru yang berprestasi cenderung mendapat rewards berupa kenaikan pangkat dan mutasi ke sekolah yang lebih baik yang berada di area yang lebih “kota” dan nyaman, ke sekolah-sekolah yang maju dan favorit. Sebaliknya guru-guru yang biasa-biasa dan guru yang malas cenderung ditugaskan di sekolah tertinggal, juga sebagai hukuman guru-guru yang malas dan nakal. Dampaknya adalah semakin terjadi akselerasi peningkatan mutu yang semakin cepat di sekolah di sekolah-sekolah elit, dan sebaliknya di sekolah-sekolah biasa dan tertinggal justru terjadi stagnasi atau bahkan pelambatan perubahan peningkatan mutu.

Sebagai seorang doktor di bidang sosiologi, Mendikbud pastilah sangat paham bukunya Robert Chambers apalagi magister beliau adalah Kebijakan Publik, sehingga tidak mengherankan bila beliau membuat kebijakan zonasi dan kemudian “akan” diikuti oleh redistribusi melalui mutasi tenaga guru, sekolah-sekolah tertinggal juga mendapat guru-guru bagus dan berprestasi dari sekolah favorit sehingga akan terjadi pemerataan kualitas guru.

Pertanyaannya, efektifkah kebijakan redistribusi melalui mutasi guru-guru itu untuk meningkatkan kualitas sekolah yang tertinggal?

Bagaimana perasaan dan motivasi guru setelah dipindah ke tempat dari yang nyaman ke tempat yang tidak nyaman? Bahkan dari guru-guru sekolah favorit seandainya tidak di pindah saat ini sudah mengeluh karena enrolment siswanya juga menampung anak biasa-biasa saja, bahkan anak lambat belajar yang tentu saja lebih sulit menangani pembelajarannya?

Adalah salah satu sifat manusiawi yang suka akan zona nyaman dan aman. Pada dasarnya setiap perubahan akan membawa dampak perasaan tidak nyaman dan tidak aman. Bayangkan dari sekolah favorit di daerah elit dengan sarpras dan fasilitas melimpah di pindah ke sekolah pinggiran, dengan segala keterbatasannya. Banyak sahabat saya yang menyatakan itu sudah resiko ASN harus mau ditempatkan di mana saja, namun jujur seandainya sahabatku yang mengalami demikian, bisakah menghilangkan perasaan tidak nyaman dan kecewa dari mutasi yang dianggap demosi itu?

Performance guru sangat menentukan keberhasilan belajar yang dikelolanya.

Padahal performance guru sangat menentukan keberhasilan belajar yang dikelolanya. Apabila ada rasa kecewa di hati, bisakah mengajar dengan sepenuh hati dan motivasi yang tinggi. Pengalaman saya mengelola lembaga pendidikan tidak bisa semata-mata bersandar pada disiplin, SOP dan “pemaksaan” . Guru akan tetap hadir di depan kelas namun dengan hati kecewa cenderung just do it, pokoknya hadir dan mengajar, bukan mengajar dengan sepenuh hati dan do the best as her/ his can do it.

Yuk kita rembug bagaimana mutasi yang bisa meningkatkan motivasi di ajang FGD Kebijakan Pendidikan Konvensi Pendidikan VIII tanggal 6 dan 7 di Sekolah Rakyat 1 Petung Ulung Nganjuk

Sampai ketemu di FGD (bukan UGD lho) Sekolah Rakyat Petung Ulung Nganjuk.

Turen, 26 Juni 2019

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Pembinaan Kepegawaian oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep

0

Jum’at (28/06) telah dilaksanakan pembinaan kepegawaian yang dihadiri oleh para kepala sekolah SDN dan SMPN se-Kawedanan Barat Daya. Bambang Irianto selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep memberikan beberapa wejangan mengenai program baru yang hendak diterapkan, di antaranya adalah digital school dan smart school yang diharapkan mampu menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang ada di dunia pendidikan.
KampusDesa–Agenda anjangsana oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep yang baru, yaitu Bapak Drs. Bambang Irianto, M.Si. bersama dengan para Kepala Sekolah SDN dan SMPN se-Kawedanan Barat Daya meliputi: Kecamatan Ambunten, Rubaru, Dasuk dan Pasongsongan ditempatkan di aula SMPN 1 Ambunten.

Pak Bambang sapaan akrabnya, menuturkan baru sekitar dua bulan mengomandani Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Cipta Karya Kabupaten Sumenep. Acara tersebut berlangsung sekitar satu jam setengah yang diisi dengan temu-kenal sekaligus pembinaan kepegawaian. Kegiatan diselenggarakan pada ba’da Jumat, tepatnya jam dua sore, 28 Juni 2019.

Guru adalah salah satu komponen terselenggaranya pendidikan secara optimal.

Menurutnya, guru adalah salah satu komponen terselenggaranya pendidikan secara optimal. Guru ASN dalam fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat hendaknya bekerja secara lebih aktif, kreatif dan inovatif. Persoalan pendidikan adalah permasalahan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945. Sebab itu seluruh personalia yang terlibat dan stakeholder yang berkepentingan hendaknya saling bersinergi dalam membangun dunia pendidikan ke arah yang lebih maju.

Kedisiplinan dan tanggung jawab personalia, khususnya ASN harus lebih dimantapkan penerapannya. Perlu adanya koneksi keterlibatan dan tanggung jawab secara beranting antara guru dengan kepala sekolah, kepala sekolah dengan pengawas sekolah, demikian juga dengan jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep. PPDB tahun pelajaran 2019-2020 dengan sistem zonasi yang didasarkan atas Permendikbud Nomor 1 tahun 2019, yang kemudian secara teknis diperjelas dengan Peraturan Bupati Sumenep Nomor 25 tahun 2019. Bahwa persoalan yang mungkin mencuat harus sesegera dicarikan solusinya dengan bijaksana. Jikalau kemudian membuncah sudah tak terbendung, maka akan terasa negatifnya.

“Setelah melihat antusiasme kehadiran kepala sekolah merupakan fakta yang tampak luar menunjukkan adanya kekompakan serta mencerminkan kebaikan yang harus dipacu terus-menerus.” Jelas Bambang.

Digital School berisi media dan strategi pembelajaran secara full.

Program Digital School yang digagas Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep merupakan bagian dari salah satu program inovasi pendidikan. Program tersebut menjadi jawaban terhadap efek keberterimaan globalisasi teknologi informasi. Yang pada gilirannya akan lebih memacu program literasi sekolah, di antaranya. Ketika program digital school berjalan dengan efektif, maka tentu akan menjadi identitas peningkatan mutu pendidikan. Menurutnya, dalam hal tersebut dibutuhkan kerjasama elemen sistem yaitu manusia dan sistem digital. Digital School berisi media dan strategi pembelajaran secara full. Termasuk di dalamnya strategi penilaian melalui pemanfaatan digital offline. Program ini tidak membutuhkan data internet, tapi dapat berkoneksi antara guru dengan siswa dan atau antar sekolah.

Smart School adalah program kedua dinas pendidikan dalam upaya menguatkan dan meningkatkan grade sekolah. Harapnya, sekolah negeri tidak boleh kalah dengan swasta yang sudah bersiap memanfaatkan android atau komputer dalam penilaian, salah satunya. Program lain yang mulai didesain yaitu Sekolah Unggulan. Untuk lembaga SMP, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep menunjuk SMPN 3 Sumenep sebagai pilot project sekolah unggulan. Desainnya mengacu pada Pesantrenisasi Sekolah atau Islamisasi Sekolah dengan format yang positif. Ada asrama, ada program tahfidzul Quran, dan kajian kitabiyah ala-ala pesantren.

Khusus pengelolaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) anggaran tahun 2020 akan ada perubahan pola, yaitu bagi sekolah yang lebih siap dalam penggunaan riil dan laporan pertanggungjawabannya akan dapat mencairkan dana BOS lebih awal. Sertifikasi guru, hendaknya terdapat kesesuaian dengan peningkatan mutu. Guru harus sudah melek IT. Sehingga ada kesesuaian dengan Program Dinas Pendidikan, khususnya inovasi pendidikan. Pada sesi tanya jawab, Bapak Bambang Irianto menanggapinya terhadap beberapa pertanyaan dari 3 penanya sebagai berikut. Bahwa masalah kekurangan PNS di banyak sekolah adalah masalah Dinas Pendidikan Kabupaten. Pemerintah daerah salah satunya menjawabnya dengan program kegiatan rekrutmen guru melalui jalur PPPK. Pemerataan guru mulai dilakukan dengan kegiatan mutasi guru dengan prinsip berkeadilan.
Tumbuhkan kepedulian masyarakat melalui program sekolah yang menyentuh masyarakat  sehingga tumbuh rasa cinta kepada sekolah.
Zonasi PPDB bermasalah lebih disebabkan keinginan wali murid untuk menyekolahkan putranya ke sekolah yang dianggapnya favorit. Oleh sebab itu penting dilakukan oleh sekolah untuk mengadakan pendekatan komunikasi yang persuasif dengan warga masyarakat. Tumbuhkan kepedulian masyarakat melalui program sekolah yang menyentuh masyarakat  sehingga tumbuh rasa cinta kepada sekolah. Ditanyakan tentang disinyalir adanya 2 sinar matahari di tubuh Dinas Pendidikan Kabupaten, menurutnya tetap akan memberlakukan kebijakan satu pintu sehingga program berjalan efektif.

Digital School untuk sementara diterapkan di sepuluh sekolah, khusus SMP. Sedangkan SD minimal satu sekolah akan ditunjuk sebagai sekolah rujukan. Program ini tidak membutuhkan media internet atau offline. Tujuannya untuk memproteksi pembelajaran dapat berlangsung efektif tanpa gangguan efek negatif internet. Dan hanya menggunakan 1 server sehingga mudah terpantau oleh Dinas Pendidikan Kabupaten. Yàng perkembangannya akan diuji kompetensi, apakah layak untuk dikembangkan pada seluruh sekolah pada tahun-tahun ke depan.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah