Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 51

Tips Membuang Sedih Saat Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

0

Pernah jatuh cinta tetapi bertepuk sebelah tangan? Ya, barangkali yang membaca artikel ini bisa mendapat obat jiwa saat patah hati. Atau, sebelum patah hati terjadi, ada baiknya Anda perlu mengaca pada diri sendiri sehingga tidak terjebak pada cinta bertepuk sebelah tangan. Bolehlah jatuh cinta, sekali saja dan tak perlu pula patah hati karena cintamu bertepuk sebelah tangan. Timbang, ukur, dan pastikan Anda mencintai orang yang juga sama menyintai.

Kampusdesa.or.id–Dalam pergaulan di komunitas manapun, apapun bisa terjadi, termasuk tertarik dan jatuh cinta dengan lawan jenis. Alamiah, karena manusia jenis makhluk hidup yang dikaruniai rasa dan pada jangka panjangnya merupakan tahapan sebagai makhluk yang dapat mengembangkan keturunan alias berkembang biak.

Menempatkan ketertarikan atau jatuh cinta tetaplah perlu memperhatikan aturan aturan yang berlaku di masyarakat, seperti etika moral dan susila serta norma agama.

Belum tentu yang seseorang yang dicintai punya rasa yang sama, alias cinta bertepuk sebelah tangan.

Dalam batas-batas norma yang sudah ditaati, yang perlu dipertimbangkan pula adalah tertarik dan jatuh cinta kepada lawan jenis itu pada umumnya ingin dibalas, namun belum tentu yang seseorang yang dicintai punya rasa yang sama, alias cinta bertepuk sebelah tangan.

Saat cinta tidak berbalas maka kemungkinan akan sakit hati. Bagaimana agar sakit hati tidak berkepanjangan dan menimbulkan prilaku negatif semisal malas melakukan aktivitas hidup lagi bahkan sampai bunuh diri?

Psikologi Patah Hati

“Patah hati itu, yang menyakitkan bukan karena ia kehilangan yang ia cintai, tapi harga diri, serasa tidak dihormati lagi, ada perasaan malu….”

Cuplikan kajian tesebut dapat diambil analisa bahwa bagaimana agar seseorang yang patah hati tetap merasa percaya diri dan tidak merasa harga dirinya jatuh.

Sakit hati, yang sakit adalah hatinya, tak seorangpun mengetahuinya, bedakan dengan sakit pilek, sakit gigi dam sakit -sakit fisik lainnya. Artinya, karena yang sakit tidak diketahui orang lain, maka hanya manajemen hatilah yang bisa menyembuhkan.

Kalau jiwanya lemah, mudah putus asa dan cenderung melukai diri, akan meninggalkan kesan bahwa memang yang bersangkutan bukanlah pribadi yang layak dicintai dan dikagumi,

Perlu diingat, seseorang nampak terhormat dan memiliki pribadi yang memukau kalau ia memiliki jiwa yang tangguh dan bijak dalam menghadapi situasi yang tidak ia inginkan. Pola pikir inilah yang mestinya dipegang oleh pemilik hati yang sedang patah hati. Kalau jiwanya lemah, mudah putus asa dan cenderung melukai diri, akan meninggalkan kesan bahwa memang yang bersangkutan bukanlah pribadi yang layak dicintai dan dikagumi, walhasil ia semakin tidak punya nilai di mata orang yang ia kagumi.

Jadi, ubahlah mind-set dari hati yang luka, menjadi jiwa yang tangguh dan pandai mengolah rasa di saat cinta tak berbalas, di situ akan tetap terjaga harga diri yang layak diperjuangkan dan dikagumi.

Cinta Mendalam, Air Mata Menghujan

0

Seorang paeditrician, K.K. Choudhary, pernah mengatakan “Too much love, too much pain, too much sacrifice makes you cry like rain”. Artinya kurang lebih seperti ini “Terlalu cinta, terlalu duka, telalu berkorban akan membuatmu menangis sederas hujan”. Quote ini mungkin barangkali bisa menggabarkan kedukaan hati Virginia saat ini.

Kampusdesa.or.id- Seperti kebanyakan kanak-kanak yang jatuh cinta pada binatang piaraan, Virginia kecil tergila-gila dengan anak anjing. Hari-harinya dipenuhi mimpi bermain dengan anak anjing yang lucu atau berjalan menyusuri jalanan kompleks perumahan dengan anak anjing yang mengejarnya atau memutari kaki-kai kecilnya. Karena tradisi keluarga besar kami, mimpi itu tak mungkin kami penuhi.

Dia semakin tumbuh dan mengerti mengapa mimpi indah memiliki anak anjing lucu tak bisa terwujud. Tapi cintanya kepada binatang peliharaan tak pernah mati. Dia menawar. “Berikan aku seekor anak kucing,” rengeknya. Bahkan memiliki seekor anak kucing di rumah pun tak semudah itu memenuhinya. Istriku bersikeras tak mau karena pasti dialah yang akan mengurusnya. Aku memahaminya. Tapi, Virginia?

Hingga suatu hari, ada seekor anak kucing liar-kampung yang terlunta-lunta di halaman rumah. Kami semua iba. Virginia melonjak kegirangan. Dia akan punya teman. Mimpi indahnya jadi kenyataan. Kami memungutnya. Memeliharanya. Membersihkannya. Menyayanginya. Menvaksinnya.

meski si kucing berkelamin betina. Kami semua memanggilnya Xavier. Saat kami terlalu sayang atau jengkel karena kenakalan-kenakalannya, kami akan memanggilnya “Sapi’i”.

Virginia menamainya Xavier, meski si kucing berkelamin betina. Kami semua memanggilnya Xavier. Saat kami terlalu sayang atau jengkel karena kenakalan-kenakalannya, kami akan memanggilnya “Sapi’i” (tentu saja dengan suara yang melengking girang). Xavier/Sapi’i telah menjadi bagian dari kebahagiaan kami. Virginia memiliki teman manis yang menemaninya saat dia pulang sekolah, ketika rumah tak ada siapa-siapa.

Dua minggu lalu, ada lagi seekor anak kucing kurus, terseok-seok, buluk, dan matanya berair, yang masuk ke halaman rumah.  Jelas, dia sedang sakit. Virginia jatuh iba sekaligus jatuh cinta. Dia bersikeras untuk memungutnya. Kami ogah. Dia terus memaksa. Akhirnya, malam-malam, saya dan istri mencarinya, dan ketemu. Sebagai doa dan harapan, kami menamainya Slamet Jaya Sakti, tapi panggilannya Metti karena ia kucing betina. Tapi dua hari kemudian, si Metti mati di klinik dokter hewan. Karena kematian ini, Virginia perlu waktu empat hari untuk mengeringkan matanya dari air mata kedukaan.

Lalu, tiga hari lalu, ada lagi seekor kucing betina yang melahirkan di ruang kerjaku yang tak sengaja terbuka. Si induk kucing ini begitu saja meninggalkan seekor orok kucing sebesar genggaman tangan Virginia. Tentu saja kami panik. Virginia terlanjur mencintainya. Akhirnya, kami bertekad merawatnya, apapun yang terjadi. Istriku dan Virginia bergantian meminuminya susu.

Virginia memberinya nama Nugget. Kemarin sore, pulang dari sekolah, tanpa melepas baju seragamnya, Virginia meminumi si Nugget susu. Tampak jelas si Nugget kecil sedang sakaratul maut. Virginia tahu itu, tapi dia tidak bisa menerima kenyataan. Dia tekan-tekan dada si Nugget seperti aktivis PMR yang sedang melakukan resusitasi jantung.

Menjelang maghrib, tepat sebelum masuk les, datang telepon dari rumah, memberi kabar duka: Nugget pergi menghadap Ilahi. Seketika jatuh air mata membasahi pipi Virginia. Tapi dia tetap harus masuk KUMON. Butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan soal-soal KUMON yang biasanya hanya butuh waktu satu sampai satu setengah jam.

Dia tahu dia tak lagi punya waktu. Tapi KUMON tak mungkin ditinggalkannya. Saat dia pulang pada pukul 20.30, si Nugget sudah dikubur. Tumpah ruah air matanya. Suara tangisnya melolong-lolong karena kehilangan cintanya.

Saya tahu , dia ingin segera pulang menemui si Nugget untuk terahir kali. Dia tahu dia tak lagi punya waktu. Tapi KUMON tak mungkin ditinggalkannya. Saat dia pulang pada pukul 20.30, si Nugget sudah dikubur. Tumpah ruah air matanya. Suara tangisnya melolong-lolong karena kehilangan cintanya. Bumi yang dipijaknya goyah, langit terasa runtuh. Dia tumpahkan air matanya di bantal. Hingga saat dia kelelahan dan tertidur menjelang tengah malam, dadanya masih naik turun menahan sisa-sisa tangis karena duka kehilangan cinta.

Bagi Virginia, Xavier, Metti, dan Nugget bukan sekedar kucing. Mereka adalah hidupnya, hatinya, cintanya, dunianya, yang akan diperjuangkan dengan seluruh pengorbanan yang ia bisa berikan. Kehilangan mereka berarti kedukaan yang mengucurkan air mata sederas hujan.

Sang Begawan Hematologi, Prof. dr. Abdul Salam M. Sofro Ph.D

0

Membaca kisah orang sukses memberikan spirit positif bagi siapa saja yang masih termotivasi untuk maju. Siapapun sosok itu, membaca kisah sukses menjadikan seseorang akan belajar mengukur kapasitas dirinya dan menambah semangat baru untuk melakukan perubahan. Prof. dr. Abdul Salam M. Sofro Ph. D, seorang begawan Hematologi, adalah sosok penting di dunia kedokteran yang layak disimak.Tidak ada salahnya, gantunglah cita-citamu setinggi langit.

Kampusdesa.or.id–Prof dr Abdul Salam M Sofro PhD, pria bersahaja nan rendah hati ini merupakan perintis sekaligus pelopor spesialis kedokteran transfusi darah di Indonesia. Tidaklah mengherankan bila ia dijuluki sebagai “sang Begawan” Hematologi, mengingat kredibilitas dan mahakaryanya di bidang transfusi darah telah mendapatkan pengakuan dunia internasional. Saat ini, pria bernama lengkap Abdul Salam Mudzakir Sofro ini membantu mengajar di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

Ia telah menghasilkan lebih dari 61 publikasi ilmiah dari tahun 1982 hingga 2017. Bahkan, thesis PhDnya berjudul Population Genetic Studies in Indonesia berhasil diselesaikan di Australian National University pada tahun 1982. Di tahun 2002, risetnya bersama tim berjudul The C677T mutation in the methylenetetrahydrofolate reductase gene among the Indonesian berhasil dimuat di jurnal bergengsi internasional di Kobe J Med Sci.

Guru besar kelahiran Pati, 22 Agustus 1949 ini pernah menjabat sebagai direktur Sekolah Pascasarjana di Universitas Yarsi, Jakarta. Ia juga pernah menjadi visiting Profesor di Universitas Kobe, Jepang di tahun 1994 dan Universitas Justus Liebig, Giessen, Jerman tahun 2001.

Di sela-sela kesibukannya, Prof Salam masih sempat berbagi ilmu. Salah satu caranya dengan menulis buku. Beberapa buku karyanya tersedia di toko buku Gramedia dan berbagai toko buku online. Misalnya: Keanekaragaman Genetik (1997), Imunokimia (1997), Darah (2011).

Pendidikan

Dikenal sebagai sosok yang amat mandiri, gigih, tekun, serba terencana dan disiplin terkait waktu, Salam juga amat peduli pada dunia pendidikan. Ia menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga doktoral dari tahun 1955 hingga 1983. Dimulai dari tingkat dasar, yakni SRL Kenaren di Pemalang dari tahun 1955 hingga 1961. Usai lulus, Salam segera melanjutkan studi ke SMP Negeri 1 di Pemalang, dari tahun 1961 sampai 1964. Berbekal tekad untuk selalu menimba ilmu, segera saja setelah lulus SMP, Salam menempuh jenjang pendidikan berikutnya, yakni SMA Negeri di Pemalang tahun 1964 hingga 1967.

Pria jenius nan religius ini memahami benar perintah Allah di dalam Alquran untuk selalu menimba ilmu. Oleh karena itulah, dengan semangat kuat dan doa restu kedua orangtua, dia menjalani kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) dari tahun 1968 hingga 1974. Gelar Drs Med diperolehnya di tahun 1972. Gelar dokter diperolehnya pada tahun 1974.

Dewi Fortuna rupanya masih bersamanya dalam hal pendidikan. Terbukti ia mendapatkan kesempatan emas untuk lanjut studi di bidang biokimia pada tahun 1979. Saat itu ia menempuhnya di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Adapun risetnya dilakukan di School of Biochemistry, University of New South Wales (UNSW).

Peluang emas memang terkadang terus berulang. Hal ini terbukti pada diri Salam pada bulan Desember 1979 hingga Mei 1983. Saat itu ia mendapatkan beasiswa PhD untuk menempuh studi di John Curtin School of Medical Research, Australian National University (ANU).

Beberapa pelatihan internasional telah diikuti. Mulai dari tahun 1977 hingga tahun 2000.  Sebagian dari pelatihan bereputasi Internasional yang pernah diikuti Prof Salam antara lain: Molecular and Cell Biology, National University of Singapore (NUS), Singapore tahun 1986, Molecular and Cell Biology, Osaka University, Jepang, tahun 1990, Molecular Haematology, Institute of Molecular Medicine, Oxford, University of Oxford, UK, tahun 1990, Molecular Haematology, Hammersmith Hospital, Imperial College, University of London, UK, tahun 1999.

Karir

Karir Prof Salam terus mengalami peningkatan. Dimulai dari dosen yunior Biokimia (1974 – 1979), dosen senior Biokimia (1979 – 1997), hingga menjadi Guru Besar di bidang biokimia (1997 – sekarang). Pada tahun 1987 hingga 1991, Salam menjabat sebagai kepala departemen Biokimia Fakultas Kedokteran UGM. Tahun 1991 hingga 1995, Salam menjabat sebagai wakil dekan bidang akademik. Tahun 1999 hingga 2001, Salam kembali memegang jabatan sebagai kepala departemen Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tahun 2001-2003, Salam menjabat sebagai Direktur Pusat Riset Bioteknologi UGM. Mengingat kinerjanya yang memuaskan dan kredibilitasnya yang mengagumkan, dia dipercaya menjabat sebagai ketua Institute for Research and Community Service, Universitas YARSI, Jakarta, periode 2003 – 2005. Puncak karirnya adalah saat Salam mengemban amanah sebagai Rektor Universitas YARSI, Jakarta dua periode, yakni tahun 2005 – 2009 dan 2009 – 2013. Usai mengemban jabatan sebagai Rektor, Salam diberi amanah sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana, Universitas YARSI, Jakarta dua periode, yakni tahun 2013-2017 dan 2017-2021.

Di tingkat nasional, Salam diamanahi sebagai asesor Higher Education Board of National Accreditation, tahun 2007 hingga sekarang. Ketua Sub-committe on Technical Management of Blood Transfusion, Committee on Blood Service, Kementerian Kesehatan tahun 2011 hingga 2015. Tim Review Rank Promotion, Directorate General of Higher Education, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2011 hingga 2017. Tim Review untuk Rank Promotion, Kopertis Wilayah III, di bulan Januari 2014 hingga sekarang.

Penjelajah Ilmiah di Berbagai Negara

Salam telah mengikuti lebih dari 40 workshop dan konferensi tingkat Internasional mulai tahun 1986 hingga 2016. Beberapa negara telah ia kunjungi untuk keperluan saintifik dan kolaborasi riset. Mulai dari National University of Singapore, Singapore (1986), University of Osaka, Jepang (1990), San Diego, California, Amerika Serikat (1990), Washington DC, Amerika Serikat (1991), San Francisco, Amerika Serikat (1992), Rockford, Ill., Amerika Serikat (1994), Los Angeles, California, Amerika Serikat (1995), Bangkok, Thailand, (1995, 2013, 2015), Tokyo, Jepang (1996), Orlando, Florida, Amerika Serikat (1996), Pusan, Korea Selatan (1997), Frankfurt, Jerman (1997), Oslo, Norwegia (1998), Brighton, Inggris (1999), Vancouver, Canada (2000), Singapura (2000), Kuala Lumpur, Malaysia (2001), Perth, Australia (2002), Thailand (2002), Dubai, UAE (2003 dan 2016), Edinburgh (2004), Australia (2004), Athena, Yunani (2005), Cape Town (2006), Madrid (2007), Malaysia (2007), Berlin (2010), Lisbon, Portugal (2011), Taipei Taiwan (2013), Kuala Lumpur, Malaysia (2013), Seoul, Korea Selatan (2014), UK, London (2015). Itu belum termasuk konferensi atau seminar tingkat nasional.

Keteladanan

Beberapa orang telah merasakan keteladanan nyata. Bukan hanya dari pemikiran, perkataan, melainkan juga dari perbuatan Prof Salam. Keteladanan dari seorang Prof Salam dirasakan oleh putra pertamanya, yakni Dr Muhammad Ardiansyah Adi Nugraha MKes SpS. Menurut dosen FK UMY, papanya seorang yang amat disiplin, hemat, dan murah senyum.

Menurut saya, Papa itu orang yang berani mencanangkan cita-cita tinggi, dan senantiasa berjuang keras untuk mewujudkan cita-cita tersebut.”

Keteladan seorang ayah juga dirasakan oleh Muhammad Aditya Arief Nugraha ST MBA. Putra kedua Prof Salam yang juga seorang direktur Utama PT Gamatechno Indonesia ini bertutur, “Menurut saya, Papa itu orang yang berani mencanangkan cita-cita tinggi, dan senantiasa berjuang keras untuk mewujudkan cita-cita tersebut.” Ia juga menceritakan bahwa papanya memandang kerja sebagai ibadah, jabatan merupakan amanah, dan selalu berdedikasi tinggi terhadap profesi.

Adik kesembilan, Dr dr Zainal Muttaqien yang juga dosen FK UGM, secara terbuka menyatakan bahwa Prof Salam seorang yang sangat ulet, fokus, terencana dalam meniti kariernya, dengan ikhlas berbagi ilmu yang dikuasainya. Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang amat ramah. Sifat rendah hatinya menjadikan orang yang mengenal beliau tentu merasa dekat dan nyaman.

“Senyumnya yang teduh menjadikan kami nyaman jika bertemu.”

Lain lagi kesan dari Dr Muchlis Achsan Udji Sofro SpPD KPTI FINASIM. Kepala Bagian Penyakit Dalam RS Kariadi Semarang, sekaligus adik ke-11 dari Prof Salam ini amat terkesan dengan ketulusan senyum sang Kakak. “Senyumnya yang teduh menjadikan kami nyaman jika bertemu.” (Dinaratifkan oleh dr Dito Anurogo MSc, dosen FKIK Unismuh Makassar).

Nulis Lagi dan Ngomongin MABA Rantau

0

Menjadi mahasiswa baru di rantau, akan ada rasa home sick, culture shock, dan gejala menjadi orang asing di tempat PTN jauh dari rumah menjadi gejala yang tidak nyaman. Semua terasa tidak karuan, apalagi yang jarang bepergian jauh dan lama. Tak usak patak arang, toh setelah nyemplung di PTN, hati kolaps kangen rumah itu mesti. Obatnya ya ngumpul dengan organisasi daerah. Obat kangen rumah pun jalan bagi mahasiswa rantau

Kampusdesa.or.id–Anak freshgraduate SMA dari pedesaan di bulan-bulan ini sibuknya minta ampun. Gak jauh berbeda dengan aku tahun lalu. Sebenarnya, awal tahun sudah mulai sibuk isi berkas pendaftaran ini itu. Mengingat tiap tahun mekanisme pendaftaran jalur-jalur masuk perguruan tinggi berubah-ubah, pun dengan kriteria dan standar supaya lolos seleksi sampai benar-benar positif Maba (Mahasiswa Baru).

Next time, mungkin gaya nulisku pengen lebih santai supaya ide yang dituliskan lebih bisa masuk buat kutulis dan kalian baca.

Dari opening pendek di atas, akhirnya tanganku membawa jari-jari buat ngetik lagi di Kampus Desa, hehe. Puasa nulis yang lama banget. Udah niat buat bikin satu dua tulisan selama liburan kemarin, tapi masih belum bisa dapat mood yang bagus buat nulis. Ditambah mikir-mikir, kok gaya tulisanku kemarin-kemarin enggak banget. Karena murni report dari kegiatan-kegiatan yang aku ikuti. Next time, mungkin gaya nulisku pengen lebih santai supaya ide yang dituliskan lebih bisa masuk buat kutulis dan kalian baca. Anyway, selamat menikmati tulisanku selanjutnya, yang pengennya nulis sebulan sekali, supaya produktif dan konsisten, sayang banget Kampus Desa udah kasih ruang buat nulis tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Semoga mestakung deh! Tugas kuliah, baiklah kepadaku, hehe.

Kembali lagi ke urusan per-Maba-an. Asam asin Maba rantau. Kurasa setiap orang punya versi cerita mereka sendiri-sendiri mengenai bagaimana mereka survive ditanah rantau dalam usia yang masih sangat muda, lulusan SMA. Pun ada yang bilang “biasa aja”, tetap santuy karena mereka enjoy untuk bagaimana mereka beradaptasi dengan tanah rantau. Tapi aku percaya, tipe-tipe santuy seperti mereka sedikit banyak pasti masih home sick. Secara umum saja, dimulai dari proses seleksi perguruan tinggi.

SBM-PTN membutuhkan usaha yang dibelan-belani rino wengi ora turu (dibela-belain nggak tidur siang malam) untuk bisa goal, SBM-PTN memang harus sengotot itu.

Dari berbagai jenis jalur masuk yang undangan maupun yang bukan undangan alias tes, persaingan ketat sudah harus dihadapi para calon Maba. Belakangan ini, pemerintah mulai melakukan pemerataan, kuambil contoh pada jalur masuk PBSB (Beasiswa Santri). Pemerataan dijalur ini terasa sekali, banyak pendaftar yang berasal dari luar jawa yang berhasil lolos seleksi sehingga membuat pendaftar dari pulau jawa yang lolos pun berkurang, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Belum lagi SNM-PTN yang peliknya minta ampun. Pelik dimana? Makin tidak bisa diprediksi, makin sulit menentukan strategi. Banyak orang memutuskan untuk memprioritaskan SBM-PTN kemudian sebagai plan A, sebab di SNM-PTN pun “Nothing to lose, lah!” SBM-PTN membutuhkan usaha yang dibelan-belani rino wengi ora turu (dibela-belain nggak tidur siang malam) untuk bisa goal, SBM-PTN memang harus sengotot itu. PBSB pun hanya untuk sekolah dibawah naungan pondok pesantren sebab beasiswa PBSB berasal dari KEMENAG. Ada lagi SPAN-PTKIN dan UM-PTKIN yang tak jauh beda dengan SNM-PTN dan SBM-PTN, hanya saja khusus untuk PTIN (Perguruan Tinggi Islam Negeri). Mereka yang kurang hoki di semua jalur tersebut, tapi tetep pengen keluar kandang memutuskan usaha lebih di tes jalur mandiri baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Siapapun, dimanapun, semoga kesuksesan Bersama mereka. Aamin.

Dibikin “Alhamdulillah, udah masuk” saja ya? Supaya bisa ngomongin yang lain. Sampai ditanah baru, lalu apa? Tentunya akan riweh dengan ini itu seperti cari kos-kosan, daftar ulang, dan yang nggak kalah penting adalah ‘ngenakin diri’, istilah yang aku pilih untuk adaptasi. Home sick alias kangen rumah dan Culture Shock yang ternyata tidak hanya dirasakan anak rantau lintas negara tapi juga lintas kota serta provinsi. Dengan segala upayah sampai yang berbau mitos pun ditempuh supaya betah ditanah rantau. Pernah dengar cerita mengenai tanah kampung halaman? Konon katanya jika membawa segenggam tanah dari kampung halaman ke tanah rantau maka akan mudah beradaptasi alias betah ditanah rantau.

Berkumpul bersama para anggota organisasi primordial kupandang sebagai terapi paling halus untuk Home Sick, dekat dengan teman satu kampung halaman membuat rumah tidak terasa jauh.

Untunglah dengan rahmat Tuhan yang Maha Esa, organisasi primordial memberikan banyak bantuan untuk para Maba rantau. Berkumpul bersama para anggota organisasi primordial kupandang sebagai terapi paling halus untuk Home Sick, dekat dengan teman satu kampung halaman membuat rumah tidak terasa jauh. Berbagi percakapan soal bagaimana cara bertahan hidup, atau lebih dari itu yaitu bersaing ditanah rantau dan menemui sukses. Tidak mudah, anak rantau harus usaha ekstra. Organisasi primordial, dimanapun ada. Mereka melabeli diri dengan nama-nama yang berbeda. Kumpulan Anak Rantau, Forum Mahasiswa Rantau, Ikatan Alumni, dan banyak lagi yang tentu saja dibelakangnya diakhiri dengan nama  asal mereka masing-masing. Yang intinya mereka adalah orang-orang dengan latar belakang asal yang sama. Ngumpul supaya kangennya bisa dibagi-bagi.

Organisasi primordial bak toko serba ada yang menyediakan hampir berbagai hal yang Maba butuhkan. Rekomendasi kos-kosan yang cocok, denah warteg yang ramah harga, cara daftar ulang sampai ngurus UKT kampus, dan banyak lagi.

Organisasi primordial atmosfirnya selalu akrab, tidak pernah kaku. Selalu murah tangan dan merias diri sebagai miniatur rumah, dalam perkumpulannya memang seakan benar-benar sedang dirumah, ngobrol dengan Bahasa daerah dan suasananya hangat, mau cak cuk pun oke oke saja. Organisasi primordial bak toko serba ada yang menyediakan hampir berbagai hal yang Maba butuhkan. Rekomendasi kos-kosan yang cocok, denah warteg yang ramah harga, cara daftar ulang sampai ngurus UKT kampus, dan banyak lagi. Organisasi primordial semakin cocok karena menawarkan bukan hanya suasana, tapi ikatan. Membentuk persaudaraan yang solid sehingga yang baru bisa disambut dengan ramah dan yang lama enggan lupa untuk sekedar bertanya “Nambah berapa anggota baru tahun ini?”. Persaudaraan itu yang membuat Maba tidak merasa sendiri dan lebih berani untuk mencoba banyak hal baru ditempat tinggal baru.

Akhir kalimat, selamat datang para Maba. Peluk hangat dari sesama perantau.

Kisah Cinta yang Tak Biasa dalam Bumi Manusia

0

Bumi Manusia adalah cinta dan jejak kolonialisme. Novel dan filmnya tak semata berurusan dengan asmara antar orang. Cinta sejatinya tidak lain dari bertemunya mental imperial dan terjajah. Namun, balutan cinta menjadikan tubuh dalam identitas penjajah-terjajah kabur ditutupi oleh gelora hasrat.

Kampusdesa.or.id–Jean Marais, pelukis berdarah Prancis itu, turut meyakinkan Minke tentang suatu arti kisah cinta yang universal tanpa terbatasi ras dan warna kulit. Kita melihat dalam adegan film: di sebuah tempat yang indah dihiasi pohon-pohon, lelaki bernama Jean Marais itu sedang membuat sketsa lukisan, sedang anak perempuan bermain sendiri bersama alam yang indah di sana.

Minke menemui lelaki itu untuk dimintai pendapat. Dialog tentang cinta yang tidak kacangan terjadi dalam adegan ini. Jean adalah seorang humanis yang telah membawa anak perempuan itu, May, karena ibunya meninggal. Latarbelakang Jean dan anak itu dalam novelnya memang lebih jauh digambarkan daripada filmnya: Jean Marais berlatarbelakang seorang serdadu.

Perempuan pribumi Aceh itu terjamah oleh seorang laki-laki serdadu dari Eropa yang tentu dianggap masyarakat Aceh sebagai Kafir.

Sedang ibu May adalah seorang perempuan Aceh kelahiran pantai yang dihamili seorang Kompeni di area tangsi tentara. Perempuan pribumi Aceh itu terjamah oleh seorang laki-laki serdadu dari Eropa yang tentu dianggap masyarakat Aceh sebagai Kafir. Adik laki-lakinya dengan cara menyusup ke dalam tangsi tentara kafir dan menikamkan rencong beracun dari samping dan perempuan itu mati seketika. Lelaki anti-kafir ini lalu bunuh diri sambil berteriak pada adik perempuan yang baru dibantainya: “Mampus Kafir!! Mampus Pengikut Kafir!”

Dari alur dialog dalam novel Bumi Manusia, kita bisa menduga Jean Marais adalah yang menghamili perempuan itu. Jean mengambil anak itu dan merawatnya. Sebuah cinta yang tidak muncul mendadak, cinta yang merupakan “anak kebudayaan, bukan batu dari langit”. Kata Jean: “Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.”

Novel ‘Bumi Manusia’ juga menceritakan bagaimana sejarahnya hingga seniman humanis itu bisa masuk barisan Kompeni. Di masa belianya Jean pernah kuliah di Sorbonne, tetapi karena tak puas dengan perkuliahan akhirnya ia keluar dan belajar seni lukis. Lalu ia menjajakan lukisannya di tempat-tempat umum. Lima tahun kemudian ia bosan dengan hal itu dan ingin mengisi kekosongan hidupnya dengan berkeliling ke negara-negara Afrika, lalu yang terakhir di Hindia. Di wilayah inilah ia kehabisan uang dan akhirnya terpaksa daftar menjadi Kompeni untuk menyelamatkan hidupnya. Salah satu medan tempurnya sebagai pasukan penjajah adalah di daerah Aceh.

Ia bertekad, saat menjalani tugas sebagai serdadu ia juga akan melukis. Dalam perjalanannya sebagai Kompeni, ia mendapatkan banyak pelajaran hidup. Salah satunya adalah bahwa orang pribumi punya kekuatan jiwa yang hebat dalam berperang—juga kehebatan lain yang tak dimiliki Eropa. Iapun mulai mencintai dan menyukai orang-orang pribumi Hindia. Salah satunya adalah perempuan yang menjadi Ibu May, anak perempuan itu.

Minke menemui Jean untuk memperjelas definisi perasaan dalam dirinya dan minta pendapat tentang perjumpaannya dengan Annelis dan Nyai. Jean berkata pada Minke: “darah mudamu ingin memiliki dia [Annelis] untuk dirimu sendiri, dan kau takut pada pendapat umum.” Jean menambahkan: “pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan?”

Maka kita pada sebuah kalimat Pram melalui mulut Marais yang menurut saya adalah kata-kata yang layak didengar oleh kita semua—terutama orang yang terpelajar, “seorang pelajar juga harus belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.”

Di film, kutipan-kutipan kata makjleb dari novel itu juga dihadirkan—bersama kutipan-kutipan kalimat lainnya yang membuat kita mendapatkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Di film, kutipan-kutipan kata makjleb dari novel itu juga dihadirkan—bersama kutipan-kutipan kalimat lainnya yang membuat kita mendapatkan nilai-nilai kemanusiaan universal. Minke tumbuh dengan itu, sebagaimana kita umumnya tumbuh dari perjumpaan dengan orang-orang dan realitas baru yang merubah pikiran kita.

Itulah yang membuatnya berani keluar dari pendapat umum masyarakat feodal Jawa yang hanya semangat dalam hal rasan-rasan. Masyarakat feodal Jawa beda dengan masyarakat Barat yang suka mencari bukti sebagai pilar tradisi maju berbasis ilmu pengetahuan. Cinta harus berpilar pada tindakan mengetahui dan memahami, tidak terbatasi oleh persepsi umum tentang cinta itu. Realitas tentang orang dan keberadaan orang yang kita cintai tentunya harus didekati.

Maka, setelah perjumpaan pertama dengan Annelis dan Nyai, Minke harus mengetahui lebih jauh sebenarnya bagaimana kehidupan Nyai. Minke tak percaya bahwa perasaan yang dialaminya adalah akibat Sihir dari Nyai—sebagaimana dipersepsikan selama ini bahwa seorang Nyai selalu punya ilmu guna-guna.

Pendapat Jean Marais tentang guna-guna sudah cukup membuat Minke memiliki kesadaran baru dan meninggalkan kesadaran lama, “aku tak percaya guna-guna. Barangkali memang ada, tapi aku tak perlu mempercayainya, karena itu hanya berlaku dalam kehidupan yang masih terlalu sederhana tingkat peradabannya. Apalagi kau sudah bilang, Nyai melakukan segala pekerjaan kantor. Orang begitu tak akan bermain guna-guna. Dia akan lebih percaya pada kekuatan pribadi. Hanya orang tidak berpribadi bermain sihir, bermain dukun” (hlm. 56).

Mencintai Annelis dan Nyai adalah kisah cinta, tapi dalam film ini—sebagaimana novelnya—juga ada sihir nilai-nilai kemodernan dengan nilai ilmu pengetahuan dan pemaknaan terhadap relasi antar sesama manusia.

Singkatnya, “Bumi Manusia” memang kisah (per)cinta(an). Lantas di mana salahnya film yang berkisah tentang percintaan? Ia mengisahkan seorang anak elit feodal yang tersihir oleh kecantikan perempuan Indo yang cantik, juga sihir ibunya yang seorang Nyai. Sihir cinta terhadap lawan jenis ini sekaligus menumbuhkan sihir terhadap nilai-nilai hidup yang baru. Mencintai Annelis dan Nyai adalah kisah cinta, tapi dalam film ini—sebagaimana novelnya—juga ada sihir nilai-nilai kemodernan dengan nilai ilmu pengetahuan dan pemaknaan terhadap relasi antar sesama manusia.

Di “Bumi Manusia” ini, karena Minke tumbuh bersama perjumpaan dan hubungan, maka ia juga tumbuh bersama sekolah formal di HBS, dari membaca, dan menulis. Kenyataan hidup yang dijumpai adalah bahan mentah, berupa kontradiksi hidup yang harus dihadapi. Mulanya dipikirkan dan merubah pikirannya. Lalu ia tulis dan ia jalani sebagai taktik untuk menghadapi masalah-masalah yang ia jumpai, juga masalah dari orang yang dicintainya. Kebencian dan perlakuan kakak Annelis padanya—pun pada Annelis sendiri yang melakukan kebejadan sebagai kakak kandung yang menggagahi adhiknya sendiri.

Ada pula masalah hukum kolonial yang harus dihadapi oleh seorang Gundik pribumi, yang bagaimanapun ikut melibatkan Minke untuk berpikir dan berhadapan dengan masalah itu. Minke yang melakukan perjuangan menulis untuk melawan hukum itu. Yang juga melawan kondisi sakit kekasih dan istrinya, yang berujung pada perpisahan. Juga menghadapi fakta bahwa perusahaan Nyai terancam akan disita oleh anak sah dari Herman Melema yang tinggal di Belanda dan datang ke Hindia sebagai ancaman terhadap Nyai. Dan Annelis pun harus dibawa ke Eropa, dengan akibat perpisahan yang menyedihkan—yang dirasakan Minke dan Nyai.

Dan film “Bumi Manusia” tidak memerosotkan pesan Pram tentang Cinta dan Kemanusiaan. Pun juga tidak mereduksi karakter Nyai Ontosoroh. Dalam film ini, kita tetap bisa menikmati sosok Nyai yang modern dan kuat—yang memang mengenyahkan persepsi masyarakat tentang Nyai, yaitu—yang oleh Pram dalam ‘Bumi Manusia’ disebut sebagai sosok yang “rendah, jorok, tanpa kebudayaan, perhatiannya hanya pada soal-soal birahi semata” (hlm. 50).

Makanya, terasa agak menggelikan jika ada yang mengatakan bahwa film ‘Bumi Manusia’ mereduksi pesan Pram karena filmnya hanya dominan urusan percintaan. Pendapat ini sangat lucu, menurut saya, karena dua hal. Pertama, ya karena novel ‘Bumi Manusia’ itu memanglah kisah percintaan sebagaimana juga diangkat dalam film. Artinya, kalau film ‘Bumi Manusia’ dituduh sebagai film yang mereduksi kisah ke melulu kisah percintaan berarti sebutan ini tidak ada gunanya sama sekali atau bukanlah suatu kritik.

Kedua, kisah cinta yang disuguhkan tetaplah membawa pesan-pesan baik tak langsung maupun langsung diucapkan oleh karakter-karakter dalam film tersebut—sebagaimana juga kutipan-kutipan kalimat kuat dan penuh inspirasi menguatkan jiwa yang ada dalam novel juga muncul dalam filmnya. Bahkan kutipan-kutipan itu muncul dalam dialog film sama persis dengan tulisan dalam novelnya.

Evolusi sejarah dari feodalisme ke kapitalisme merupakan topik utama bagi para penulis Humanis Kiri.

Perlu diketahui, Pram adalah humanis yang menganut filsafat dialetika historis. Filsafat itu mendasari analisa terhadap perubahan sejarah manusia sesuai dengan gerak material relasi-relasi produksi. Perubahan masyarakat feodal ke arah modern yang kapitalistik. Evolusi sejarah dari feodalisme ke kapitalisme merupakan topik utama bagi para penulis Humanis Kiri. “Manusia Baru” dengan hasil lompatan kesadaran dari manusia feodal yang berpikir klenik dan irasional menjadi manusia modern yang berpikiran ilmiah, kritis, dan rasional mewarnai kisah ‘Bumi Manusia’—terutama pada sosok Nyai Ontosoroh (dari Sanikem) dan Minke (dari anak elit feodal Jawa).

Film itu sudah lumayan bagus dalam mempertahankan gesekan-gesekan batin tokoh tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh akibat kenyataan hidup yang dinamis pula, juga karena adanya interaksi antara modernisasi Eropa dengan masyarakat Jawa akibat kolonialisme yang merupakan salah satu fase sejarah munculnya modernisasi Jawa yang ternyata hingga kini belum matang dan belum mampu menuntaskan fase feodalnya.

TRENGGALEK, 24/08/2019

Memaknai Sosok Warok Dalam Perayaan Hari Besar Kemerdekaan

0

Reog Ponorogo adalah salah satu kekayaan bangsa Indonesia. Di mana-mana kita bisa menjumpai pertunjukkan seni budaya Reog dengan gagah. Reog sebenarnya menjelmakan suatu kearifan lokal tentang wewarah. Wewarah tidak lain merupakan petuah kebajikan yang selalu dibutuhkan oleh orang lain. Inilah substansi arti dari Warok. 

Kampusdesa.or.id–Perayaan tahunan dalam rangka Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menjadi perayaan tahunan yang begitu meriah di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan beragam ide, kreasi dan inovasi peragaan yang ditampilkan sebagai ajang perlombaan. Berbagai macam jenis perlombaan menjadi kewajiban sebagai keikutsertaan dalam memeriahkan kegiatan. Sudah barang tentu perayaan  diikuti oleh beberapa lembaga pendidikan mulai dari tingkat PAUD hingga tingkat SLTA, serta instansi-instansi lain hingga perwakilan antar desa yang masuk kategori umum.

Antusiasme masyarakat setiap tahunnya bisa dipastikan mengalami peningkatan. Gagasan-gagasan kreatif selalu muncul guna terciptanya semangat nasionalisme kebangsaan yang membara, tentu saja dalam rangka meningkatkan rasa kecintaan dan kepemilikan terhadap bangsa. Keberagaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia mampu direproduksi dalam memaknai Indonesia. Tidak terkecuali dengan antusiasme seluruh warga SMK Negeri 1 Panggul.

Sekolah yang berjalan baru hampir 2 tahun ini ikut memeriahkan perayaan kembali, setelah tahun 2018 lalu keikutsertaannya tercatat dalam pawai seni di kecamatan Panggul. Terlebih dalam ajang baris-berbaris atau istilahnya lebih populer dengan sebutan Gerak Jalan. Meskipun termasuk sekolah rintisan yang belum berusia lama, tidak lantas membuat seluruh warganya menjadi ciut nyali.

Melihat antusiasme bapak/ibu guru beserta staf karyawan SMKN 1 Panggul tahun kemarin dengan berani mengambil tema pakaian adat jawa ‘Surjan’ beserta dengan aba-aba yang memakai bahasa jawa, kali ini mereka dengan berani kembali menampilkan hal yang tidak biasa dengan mengambil tema pakaian yang berbeda. Bersama dengan gerakan uniknya, keluarga besar SMKN 1 Panggul ini mengambil tema pakaian salah satu kesenian rakyat dengan tokoh bernama Warok yang tidak lain adalah sosok yang terdapat dalam tarian khas Reog Ponorogo lengkap dengan aba-aba berbahasa jawa.

Menurut beberapa sumber, munculnya sosok warok tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kerajaan Majapahit abad ke-15. Sebut saja Ki Ageng Kutu yang kala itu menjadi penguasa Wengker dan mendirikan padepokan yang mengajarkan ilmu kanuragan. Tujuan dari pendirian padepokan tersebut tidak lain untuk mencetak pemuda-pemuda sakti mandraguna. Namun ketika Ki Ageng Kutu dikalahkan oleh utusan Majapahit, kemudian muncul tokoh bernama Raden Bathoro Katong yang menjabat sebagai Bupati pertama Ponorogo di kemudian hari. Sehingga, beberapa bekas murid Ki Ageng Kutu yang telah menyerah dihimpun menjadi manggala (atau istilah lain yaitu prajurit) negeri. Para prajurit inilah yang kemudian disebut dengan warok dan didaulat untuk mempertahankan Ponorogo.

Istilah warok sendiri berasal dari bahasa jawa wewarah yang artinya mampu memberi tuntunan dan ajaran perihal kehidupan. Terkadang ia diterjemahkan sebagai sosok yang dikenal sebagai seseorang yang ‘menguasai ilmu’,

Istilah warok sendiri berasal dari bahasa jawa wewarah yang artinya mampu memberi tuntunan dan ajaran perihal kehidupan. Terkadang ia diterjemahkan sebagai sosok yang dikenal sebagai seseorang yang ‘menguasai ilmu’, atau dalam istilah kejawen disebut dengan ngelmu. Selain itu, warok juga dikenal memiliki sifat ksatria di antaranya berbudi luhur, jujur, bertanggungjawab, rela berkorban untuk kepentingan orang lain, bekerja keras tanpa pamrih, adil dan tegas, dan tentu saja sakti madraguna.

Begitulah kiranya tujuan bapak/ibu guru beserta staf karyawan SMKN 1 Panggul pada kesempatan perayaan PHBN ke-74 tahun ini mengambil sosok warok sebagai salah satu atribut dalam kegiatan Gerak Jalan. Selain sifat-sifat ksatria yang dimiliki warok yang secara tidak langsung mencerminkan sosok pendidik dan tenaga kependidikan yang tidak boleh lelah belajar dan harus terus belajar, hal ini juga sebagai wujud cinta, menjaga serta merawat budaya Nusantara yaitu warok yang merupakan salah satu tokoh dalam tarian Reog Ponorogo.

Gus Dur yang menyebutkan bahwasannya kebudayaan bukan dianggap sebagai produk, melainkan suatu proses negosiasi yang continue dalam berbagai kekuatan yang terus hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Lagi-lagi mengambil narasi Gus Dur yang menyebutkan bahwasannya kebudayaan bukan dianggap sebagai produk, melainkan suatu proses negosiasi yang continue dalam berbagai kekuatan yang terus hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sehingga bisa diterjemahkan bahwa strategi pengenalan kebudayaan sama sekali tidak bertujuan merekayasa atau bahkan mengatur kebudayaan, akan tetapi untuk saling memberi ruang berdialog serta interaksi antar kebudayaan. Dengan demikian, eksistensi masing-masing budaya akan terus terjaga dan berkembang, karena pada dasarnya kebudayaan tidak statis melainkan dinamis.

Di samping pernyataan di atas, Gus Dur juga menyatakan bahwa ‘keseimbangan kekuatan Negara dan masyarakat untuk melahirkan bangsa yang berbudaya mutlak harus diupayakan, dan keseimbangan itu barulah tercipta ketika Negara telah benar-benar meletakkan tanggungjawab dan wewenang kebudayaan di atas pundak masyarakat sendiri’. Maksud dari pernyataan tersebut tidak lain untuk menegaskan bahwa sekali lagi Negara tidak lagi boleh mengklaim mempunyai wewenang mengatur kebudayaan, terlebih agama-agama resmi yang sering mempergunakan otoritas kesuciannya, para kapitalisme yang ingin mengkomodifikasi, hingga para akademisi yang suka berbangga melalui konstruks-konstruks sepihaknya.

Gus Dur mengajukan bahwa proses berkebudayaan yang paling strategis dan mutlak harus dilakukan dengan cara mengembalikan kebudayaan ke pundak dan tanggungjawab warga masyarakat.

Berdasarkan konteks ke-Indonesia-an, benar kiranya jika Gus Dur mengajukan bahwa proses berkebudayaan yang paling strategis dan mutlak harus dilakukan dengan cara mengembalikan kebudayaan ke pundak dan tanggungjawab warga masyarakat. Sehingga dengan begitu maka keseimbangan antara negara dan kekuatan-kekuatan dominan lain dengan masyarakat dapat tercipta. Hal ini selaras dengan tulisan Gus Dur yang termuat di Jawa Pos (November 1992) dengan judul Mendesentralisasi Kebudayaan Bangsa. Wallahu a’lam

Pendidikan yang Membebaskan Ternyata Ada di Indonesia

1

Merdeka belajar berorientasi pada siswa. Guru menjadi fasilitator. Makanya SALAM meniadakan guru karena mindset guru selalu terjebak dalam sistem mengajar. Buku Sekolah Apa Ini merupakan proses rancang bangun bagaimana tujuan belajar adalah hak penuh anak, demikian juga mata pelajaran, tidak lain pelajaran yang memang berguna bagi anak. Pelajaran tak pernah dihafalkan, tetapi diselesaikan untuk memecahkan teka-teki proyek.

Kampusdesa.or.id–Di saat mengenali buku Paulo Freire, yang sudah lama diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Pendidikan Kaum Tertindas (LP3ES, 1985), rasanya waktu tahun 1998an, sepertinya hanya memantik semangat idealis sebagai aktifis belaka. Buku itu mampu menyulut semangat tetapi sepertinya masih dalam taraf mengembangkan semangat berwacana, latihan membuat antitesis terhadap kemapanan, belajar menginternalisasi demokratisasi, dan bahan untuk cas-cis-cus dalam berbagai kesempatan diskusi kelompok di kalangan aktifis. Lucu juga, saking semangatnya, saya mungkin tidak tahu seperti apa sih formula Pendidikan Kaum Tertindas itu menjadi bagian dari praktik-praktik pendidikan yang akhirnya menjadi salah satu jalan tepat bagi upaya pembebasan, utamanya ketika buku itu ditarik nilai relevansinya dalam dunia pendidikan.

Baca juga : Siapa Romo Mangun-mu Sebagai Mentor Ideologis?

Nah, ketika saya diminta membedah buku Sekolah Apa Ini, yang ditulis oleh Pendiri Salam (Sanggar Anak Alam), satu fasilitator, dan satu orang tua, dan diikuti oleh penulis-penulis pendukung yang turut memberikan pengamatan dan testimoni dalam proses belajar di Salam, rasanya kelatahan masa lalu mengenai kritis terhadap pendidikan tidak sekedar kritik, tetapi saya seperti menyaksikan sendiri sebuah proses pendidikan yang membebaskan. Pendidikan yang dibangun dari kesadaran siswa dalam membangun pengetahuannya. Buku Sekolah Apa Ini memang merupakan jalan alternatif ketika kritik terhadap dunia pendidikan tidak kunjung mengubah proses belajar. Pergeseran dari waktu ke waktu mengenai perubahan kebijakan pendidikan, utama mengenai kurikulum selalu berhenti kepada praktik-praktik pengadministrasian kurikulum sehingga tidak sampai menyentuh siswa itu sendiri.

Salam kemudian melakukan perlawanan dengan meniadakan mata pelajaran. Peniadaan ini menurut saya beralasan untuk mengembalikan kebutuhan belajar kepada siswanya, bukan ke kurikulum yang dirumuskan dari luar suara anak.

Pada praktiknya, tetap saja siswa menjadi percobaan orang lain (guru dengan segala perangkat birokrasi pendidikannya), bukan siswa yang diberi ruang percobaan. Wahyaningsih (pendiri Salam dan penulis buku ini), menyebut sebagai pendidikan yang berideologi birokrasi. Buku ini menyuarakan, bahwa pendiri Salam sadar betul, anak-anak membutuhkan kemerdekaan untuk menyadari betapa pentingnya manfaat ilmu pengetahuan sebagai cara mereka memahami dunianya bukan manusia yang hanya patuh terhadap apa yang dikehendaki orang lain. Apalagi sosok yang harus patuh diberondong oleh aneka mata-pelajaran yang anak sendiri justru terhenti kesadaran kritisnya untuk tahu (curiocity). Oleh karena praktik mata-pelajaran yang sudah tercemar akut oleh ideologi birokrasi dan memangkas rasa ingin tahu anak, karena bergaya bank, Salam kemudian melakukan perlawanan dengan meniadakan mata pelajaran. Peniadaan ini menurut saya beralasan untuk mengembalikan kebutuhan belajar kepada siswanya, bukan ke kurikulum yang dirumuskan dari luar suara anak. Mata pelajaran ditempatkan sebagai selera yang boleh jadi akan diperlukan oleh anak atau tidak. Semua bermuara pada proses anak mengetahui kesadaran kritisnya.

Buku Sekolah Apa Ini. Romo Mangunwijaya adalah isnpirator Salam yang luar biasa

Kurikulum pendidikan di Salam menjadi proses rancang bangun yang justru melekat pada anak itu sendiri, bukan rancangan guru, apalagi tujuan-tujuan belajarnya dirumuskan dibalik tembok yang kental dengan kaidah administratif. Suara anak dipelihara sebagai suara tertinggi dalam merancang pilihan dan arah belajar. Anak-anak ini difasilitasi rasa ingin tahunya dan anak dibantu agar mampu memperkaya rasa ingin tahunya itu menjadi jejak-jejak ilmu pengetahuan. Anak yang sedang belajar tidak diajar dan didril dengan aneka teori yang out of context, tetapi diinspirasi, dimotivasi, dan diberi stimulus yang memperkaya rasa ingin tahunya. Seluruh proses tersebut kemudian dikompilasi menjadi serpihan-serpihan ajaib ilmu pengetahuan, tentunya selaras dengan usia perkembangan anak itu sendiri.

Keluar dari Keraguan Salam vs Sekolah Formal

Jika tanpa mata pelajaran, apa keuntungannya cara belajar seperti ini? Anak berkembang rasa ingin tahunya. Dia dibiasakan mengenali potensinya dan anak akan bergerak untuk menjawab rasa ingin tahunya. Model belajar ini membantu tumbuhnya motivasi terdalam anak. Anak bergerak aktif dan progresif. Motivasi ini disebut sebagai motivasi internal. Anak yang terasah motivasi internalnya, mereka akan bergerak dengan dasar kemauannya sendiri. Guru bertugas memfasilitasi kemauannya menjadi tertata dan menghasilkan sejumlah hasil belajar. Kita bisa membayangkan, jikalau kita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, penasaran amat sangat, maka kita biasanya selalu mengejar rasa penasaran itu hingga mendapatkan hasil yang memuaskan. Begitulah kira-kira cara belajar Salam. Anak diungkit rasa penasaran melalui berbagai macam pertanyaan yang otomatis terbangun dari kesadaran dirinya. Jawaban yang dicari dan ditemukan menjadi semangat menjalani proses belajar sampai mereka menghasilkan pengetahuan baru yang mencerahkan dirinya.

Tidak heran, jika anak-anak Salam tidak belajar sebagaimana anak-anak sekolah formal yang berbasis pada teks dan kurang relevan dengan pengalaman hidupnya, apalagi kebutuhan hidupnya. Anak-anak yang terlatih belajar berdasarkan kebutuhan hidupnya dan mampu menjawab pertanyaan kritis, mereka akan lebih mudah menghadapi hidupnya, terlatih mengambil keputusan, memiliki penyelesaian masalah (solutif), dan berani mengambil resiko. Piranti tersebut sangat penting dalam memandu anak-anak dalam meraih kesuksesan. Jadi, jika disandingkan dengan kompetensi sekolah formal, para orang tua khususnya, mungkin memang tidak sebanding karena sekolah formal didominasi oleh nalar menghafal dan penguasaan teks. Anak-anak sekolah formal akan menguasai ilmu-ilmu tekstual dan bahkan dengan kuasa menghafal, tetapi mereka akan butuh waktu lagi untuk belajar menghadapi kehidupan. Ini bisa dirujuk pada mengapa lulusan sekolah formal (SMK dan Perguruan Tinggi) justru lebih banyak menyumbangkan pengangguran. Mereka memang lebih banyak beban menyelesaikan pengetahuan kognitifnya, daripada menyelesaikan proyek yang relevan dengan minta hidupnya. Inilah kerugian sekolah formal dan memang tidak terlalu dipilih oleh Salam.

Mereka memperlakukan mata pelajaran bukan untuk dihafalkan guna menjawab tes formatif (skolastik) di bangku ujian semester, tetapi anak-anak memperlakukan mata pelajaran berdasarkan tema-tema yang dibutuhkan untuk menuntaskan eksplorasi proyeknya.

Keberpihakan Salam pada belajar hidup menggunakan cara belajar riset sejak dini meniscayakan anak-anak Salam langsung terhubung dengan kehidupannya. Anak-anak diajari memilih kegemarannya. Dia mulai diajak berpikir dan merevolusi pikirannya. Mereka didampingi untuk mengeksplorasi fakta-fakta, menyusun kata-kata, dan merumuskan menjadi suatu produk tertentu yang praktis dan realistik. Mata pelajarannya boleh jadi Zigzag. ManaMata pelajaran yang relevan diambil menurut tema-tema tertentu, lalu digunakan sebagai bahasa untuk menemukan dan menjelaskan eksplorasinya. Mereka kemudian mampu menggerakkan daya cipta dalam bentuk material atau ilmu pengetahuan. Mereka memperlakukan mata pelajaran bukan untuk dihafalkan guna menjawab tes formatif (skolastik) di bangku ujian semester, tetapi anak-anak memperlakukan mata pelajaran berdasarkan tema-tema yang dibutuhkan untuk menuntaskan eksplorasi proyeknya. Di sinilah anak-anak dipandu membangun ilmu pengetahuan yang relevan dengan kehidupannya. Mereka belajar di atas kebutuhan hidupnya, dan sangat membantu proses mencapai sukses sejak dini.

Bedah Buku bersama para penulis. Tengah Sri Wahyaningsih (Pemilik Salam)

Ujiannya adalah presentasi proyek hasil belajar. Semangat ini sudah sejak dini diterapkan di Salam dengan menyesuaikan kemampuan perkembangan naratif (bertutur) anak-anak. Secara pribadi, saya menyukai cara belajar seperti ini. Anak-anak mampu dibebaskan dari budaya pendidikan bisu menuju pendidikan yang membebaskan. Ketika saya mencobakan di bangku-bangku kuliah dengan metode yang hampir mirip, mahasiswa mampu berkarya memenuhi bakat dan minatnya. Mereka seperti tersadar bahwa ilmu pengetahuan mereka dapat selaras dengan tujuan hidup yang diimpikan. Bahkan mereka mampu menghasilkan miniatur sukses secara finansial, sekaligus mampu secara merdeka menciptakan bangunan ilmu pengetahuan dari proyek-proyek percobaannya.

Buku ini sangat relevan untuk membuka cakrawala perubahan pendidikan ditengah aneka diskusi perubahan pendidikan yang masih berkutat di kebijakan dan politik birokrasi. Buku Sekolah Apa Ini, seperti tidak hirau dengan percaturan politik tersebut dan menyajikan bahwa kita bisa melakukan perubahan itu.

Tulisan ini dimuat di portal SALAM (Sanggar Anak Alam) Yogyakarta

Siapa Romo Mangun-mu Sebagai Mentor Ideologis?

0

Keberlanjutan sebuah lembaga pendidikan dan pesantren yang nyleneh (alternatif) didukung oleh tangan tak nyata dibalik setiap moncernya pendidikan. Tangan tak nyata ini lebih keren disebut mentor. Tapi juga tidak bisa begitu, wong kadang hadirnya hanya sekali sentuh dan setelah itu tidak nampak lagi. Tetapi nampak tangan tak nampak ini selalu ada pada lembaga yang inspiratif dan revolusioner. Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, ada Romo Mangunwijaya, Pesantren Rakyat ada Profesor Mufidah, Mohammad Mahpur dan Kampus Desa, dan sosok tak nampak lainnya, Pesantren Awang-Awang ada sosok relasional KH. Mansur dengan KH. Mustain Romly. Siapa Romo Mangunmu saat mau mendirikan lembaga atau saat lembagamu tidak moncer padahal sudah lama tetapi begitu-begitu saja?

Kampusdesa.or.id–Usai membaca buku “Sekolah Apa Ini?” saya tertarik membuat kesimpulan sendiri. Bahwa sekolah dikenal khalayak dengan kesan dianggap hebat, diakui sukses mencerdaskan bangsa, dinilai bagus prosesnya, ternyata tak lepas dari siapa yang berperan besar dalam membangun popularitas tersebut.

Saya itu tuman kalau membaca kisah perjuangan yang amazing, atau menyimak kisah serupa selalu mengambil password ke-amazing-annya. Dari membaca buku ini saya memiliki satu kesimpulan bahwa ada kekuatan hebat di belakang kiprah bagusnya Bu Wahya selaku founder SALAM sehingga SALAM dikenal masyarakat luas. Kekutaan itu berasal dari orang atau komunitas yang tidak banyak berperan di internal lembaga namun, memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan energi positif dari luar lembaga yang dampaknya sangat bisa dirasakan di dalam lembaga hingga lembaga tersebut sukses melejitkan visi-misi dan tujuan pendidikan.

Baca juga : Pendidikan yang Membebaskan Ternyata Ada di Indonesia

Saya masih menemukan ada 3 lembaga pendidikan yang termasuk SALAM ini, memiliki seseorang sebagai pengungkit kehebatan lembaga yang tak nampak di layar, alias kerja di belakang layar.

SALAM sendiri ada Bu Wahya yang nampak di depan layar. Di belakang Bu Wahya saya menilai Romo Mangun punya peran besar hingga SALAM menjadi dikenal. Romo Mangun datang berkunjung ke Lawen (lokasi cikal bakal SALAM) bersama kawannya dari Belanda. Menurut saya keren, cikal bakal sekolah sudah punya tamu asing. Entah apa saja yang bisa diberdayakan di situ, yang pasti membuat institutional branding jadi moncer. Tidak saja membawa tamu luar negeri, Romo Mangun juga memberi dukungan dengan mengirimi Bu Wahya rumah kayu, alat musik, sketsa rumah tinggal, bahan bacaan, dan alat peraga . Bahkan Romo Mangun membuat kejutan bersama aktivis LSM bernama Meth Kusumahadi berupa rekomendasi penerima beasiswa Fellow Ashoka untuk Bu Wahya. Tiga tahun kemudian beasiswa tersebut diterima dengan kategori pendidikan rakyat. Dari Romo Mangun lalu ada Meth Kusumahadi, dari Meth Kusumahadi SALAM dibawakan tamu yang nantinya menjadikan SALAM memiliki garapan pertanian. Nama tamu itu Stefanus, saya menduga berkebangsaan Kanada. Lagi-lagi institutional branding kena lagi.

Selain SALAM ada Pesantren Rakyat Al- Amin Kabupaten Malang. Saya belum membaca bukunya, tapi setelah mengintip website dan halaman facebooknya saya menyimpulkan “Romo Mangun”nya Pesantren Rakyat itu Prof. Dr. Mufidah, M. Ag, dan Dr. Mohammad Mahpur, M.Si dengan tim Kampusdesa, dan tentu tangan tak tampak lainnya yang saya sendiri tidak cukup tahu. Tetapi pastinya, tangan tak tampak itu menjadi imajinasi ideologis yang menjadikan perintisan lembaga itu menjadi moncer.

Karena saya masih belum baca buku kisah proses suksesnya, saya belum bisa menulis banyak. Tapi setahu saya parfumnya Pesantren Rakyat yang pegang ya ketiga komponen tersebut. Kegiatan apa saja yang dikenal orang, di situ nampak setidaknya ada Pak Dr. Mahpur dan tim Kampusdesa.or.id.

Lembaga pendidikan ketiga ini adalah Pesantren yang terletak di desa Awang-Awang Mojosari Mojokerto Jawa Timur. Menurut kisah yang saya dengar, saya lupa siapa yang mengisahkan, bahwa pesantren tersebut berkembang pesat nampak dari fasilitas transportasi antar jemput siswa berupa armada bus (5-10 unit). Saya lupa jumlahnya karena realisasi bantuan bus tersebut ketika saya masih seusia SD. Itu bus besar, bukan bus mini. Entahlah totalnya berapa.

Nah, siapa yang punya peran besar menghadirkan bus-bus tersebut? Proposal? Iya mungkin. Tapi sungguh saya meyakini ada “Romo Mangun ” di lembaga itu. Bus tersebut bantuan Golkar. Saat itu tidak ada embel-embel partainya dan saat itu pula tabu di kalangan pesantren berafiliasi politik kepada Golkar. Mestinya ke partai Ka’bah (Partai Persatuan Pembangunan). Tapi pengasuh pesantren Awang-Awang ini gandengan dengan Golkar.

Kini saya baru mengetahui mengapa beliau berdua mendekati Golkar yang kala itu sebagai partainya pemerintah, rupanya demi membesarkan misi-misi perjuangan pendidikan yang dikelolanya dengan berpolitik anti mainstream dengan kalangan pesantren.

Apakah Golkar ini jelmaan “Romo Mangun”nya pesantren Awang-Awang? Bukan. Almarhum KH Mansur selaku pengasuh pesantren itu srawung dengan pendiri Universitas Darul Ulum Jombang yaitu Dr. KH Mustain Romly. Istri pertama pengasuh pesantren Awang-Awang ini memang ada pertalian darah dengan istri KH Romly Tamim (ayah dari Dr. KH Mustain Romly). Nah, dari sinilah rupanya KH Mansur dikenal Golkar. Apa hubungannya? Dr. KH Mustain Romly anggota MPR-DPR RI tahun 1983 sampai wafat (biografi KH. Mustain Romly oleh Eko Dalono). Beliau juga sempat menjadi perbincangan umat karena “konco” Golkar. “Kyai kok milih Golkar,” dan bla bla lainnya. Kini saya baru mengetahui mengapa beliau berdua mendekati Golkar yang kala itu sebagai partainya pemerintah, rupanya demi membesarkan misi-misi perjuangan pendidikan yang dikelolanya dengan berpolitik anti mainstream dengan kalangan pesantren.

Sepertinya dari sinilah Pak Suharto terkesan, hingga armada bus digelontorkan ke Pondok Awang-Awang. Bayangkan, Kyai Tain seorang anggota dewan RI bisa tawadhu dengan KH Mansur, saking apane ngunu iku?

Saya samar-samar ingat ceritanya bagaimana Kyai Tain (panggilan akrab Dr. KH Mustain Romly) ketika mem-branding KH Mansur. Di depannya Presiden Suharto, Kyai Tain betul-betul menghormati KH. Mansur, seolah beliau muridnya KH Mansur. Sepertinya dari sinilah Pak Suharto terkesan, hingga armada bus digelontorkan ke Pondok Awang-Awang. Bayangkan, Kyai Tain seorang anggota dewan RI bisa tawadhu dengan KH Mansur, saking apane ngunu iku?

Kepada para pengelola layanan pendidikan, bolehkah saya tahu “siapa “Romo Mangunmu”?