Siapa Romo Mangun-mu Sebagai Mentor Ideologis?

0
654
Buku Sekolah Apa Ini. Romo Mangunwijaya adalah isnpirator Salam yang luar biasa

Keberlanjutan sebuah lembaga pendidikan dan pesantren yang nyleneh (alternatif) didukung oleh tangan tak nyata dibalik setiap moncernya pendidikan. Tangan tak nyata ini lebih keren disebut mentor. Tapi juga tidak bisa begitu, wong kadang hadirnya hanya sekali sentuh dan setelah itu tidak nampak lagi. Tetapi nampak tangan tak nampak ini selalu ada pada lembaga yang inspiratif dan revolusioner. Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, ada Romo Mangunwijaya, Pesantren Rakyat ada Profesor Mufidah, Mohammad Mahpur dan Kampus Desa, dan sosok tak nampak lainnya, Pesantren Awang-Awang ada sosok relasional KH. Mansur dengan KH. Mustain Romly. Siapa Romo Mangunmu saat mau mendirikan lembaga atau saat lembagamu tidak moncer padahal sudah lama tetapi begitu-begitu saja?

Kampusdesa.or.id–Usai membaca buku “Sekolah Apa Ini?” saya tertarik membuat kesimpulan sendiri. Bahwa sekolah dikenal khalayak dengan kesan dianggap hebat, diakui sukses mencerdaskan bangsa, dinilai bagus prosesnya, ternyata tak lepas dari siapa yang berperan besar dalam membangun popularitas tersebut.

Saya itu tuman kalau membaca kisah perjuangan yang amazing, atau menyimak kisah serupa selalu mengambil password ke-amazing-annya. Dari membaca buku ini saya memiliki satu kesimpulan bahwa ada kekuatan hebat di belakang kiprah bagusnya Bu Wahya selaku founder SALAM sehingga SALAM dikenal masyarakat luas. Kekutaan itu berasal dari orang atau komunitas yang tidak banyak berperan di internal lembaga namun, memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan energi positif dari luar lembaga yang dampaknya sangat bisa dirasakan di dalam lembaga hingga lembaga tersebut sukses melejitkan visi-misi dan tujuan pendidikan.

Baca juga : Pendidikan yang Membebaskan Ternyata Ada di Indonesia

Saya masih menemukan ada 3 lembaga pendidikan yang termasuk SALAM ini, memiliki seseorang sebagai pengungkit kehebatan lembaga yang tak nampak di layar, alias kerja di belakang layar.

SALAM sendiri ada Bu Wahya yang nampak di depan layar. Di belakang Bu Wahya saya menilai Romo Mangun punya peran besar hingga SALAM menjadi dikenal. Romo Mangun datang berkunjung ke Lawen (lokasi cikal bakal SALAM) bersama kawannya dari Belanda. Menurut saya keren, cikal bakal sekolah sudah punya tamu asing. Entah apa saja yang bisa diberdayakan di situ, yang pasti membuat institutional branding jadi moncer. Tidak saja membawa tamu luar negeri, Romo Mangun juga memberi dukungan dengan mengirimi Bu Wahya rumah kayu, alat musik, sketsa rumah tinggal, bahan bacaan, dan alat peraga . Bahkan Romo Mangun membuat kejutan bersama aktivis LSM bernama Meth Kusumahadi berupa rekomendasi penerima beasiswa Fellow Ashoka untuk Bu Wahya. Tiga tahun kemudian beasiswa tersebut diterima dengan kategori pendidikan rakyat. Dari Romo Mangun lalu ada Meth Kusumahadi, dari Meth Kusumahadi SALAM dibawakan tamu yang nantinya menjadikan SALAM memiliki garapan pertanian. Nama tamu itu Stefanus, saya menduga berkebangsaan Kanada. Lagi-lagi institutional branding kena lagi.

Selain SALAM ada Pesantren Rakyat Al- Amin Kabupaten Malang. Saya belum membaca bukunya, tapi setelah mengintip website dan halaman facebooknya saya menyimpulkan “Romo Mangun”nya Pesantren Rakyat itu Prof. Dr. Mufidah, M. Ag, dan Dr. Mohammad Mahpur, M.Si dengan tim Kampusdesa, dan tentu tangan tak tampak lainnya yang saya sendiri tidak cukup tahu. Tetapi pastinya, tangan tak tampak itu menjadi imajinasi ideologis yang menjadikan perintisan lembaga itu menjadi moncer.

Karena saya masih belum baca buku kisah proses suksesnya, saya belum bisa menulis banyak. Tapi setahu saya parfumnya Pesantren Rakyat yang pegang ya ketiga komponen tersebut. Kegiatan apa saja yang dikenal orang, di situ nampak setidaknya ada Pak Dr. Mahpur dan tim Kampusdesa.or.id.

Lembaga pendidikan ketiga ini adalah Pesantren yang terletak di desa Awang-Awang Mojosari Mojokerto Jawa Timur. Menurut kisah yang saya dengar, saya lupa siapa yang mengisahkan, bahwa pesantren tersebut berkembang pesat nampak dari fasilitas transportasi antar jemput siswa berupa armada bus (5-10 unit). Saya lupa jumlahnya karena realisasi bantuan bus tersebut ketika saya masih seusia SD. Itu bus besar, bukan bus mini. Entahlah totalnya berapa.

Nah, siapa yang punya peran besar menghadirkan bus-bus tersebut? Proposal? Iya mungkin. Tapi sungguh saya meyakini ada “Romo Mangun ” di lembaga itu. Bus tersebut bantuan Golkar. Saat itu tidak ada embel-embel partainya dan saat itu pula tabu di kalangan pesantren berafiliasi politik kepada Golkar. Mestinya ke partai Ka’bah (Partai Persatuan Pembangunan). Tapi pengasuh pesantren Awang-Awang ini gandengan dengan Golkar.

Kini saya baru mengetahui mengapa beliau berdua mendekati Golkar yang kala itu sebagai partainya pemerintah, rupanya demi membesarkan misi-misi perjuangan pendidikan yang dikelolanya dengan berpolitik anti mainstream dengan kalangan pesantren.

Apakah Golkar ini jelmaan “Romo Mangun”nya pesantren Awang-Awang? Bukan. Almarhum KH Mansur selaku pengasuh pesantren itu srawung dengan pendiri Universitas Darul Ulum Jombang yaitu Dr. KH Mustain Romly. Istri pertama pengasuh pesantren Awang-Awang ini memang ada pertalian darah dengan istri KH Romly Tamim (ayah dari Dr. KH Mustain Romly). Nah, dari sinilah rupanya KH Mansur dikenal Golkar. Apa hubungannya? Dr. KH Mustain Romly anggota MPR-DPR RI tahun 1983 sampai wafat (biografi KH. Mustain Romly oleh Eko Dalono). Beliau juga sempat menjadi perbincangan umat karena “konco” Golkar. “Kyai kok milih Golkar,” dan bla bla lainnya. Kini saya baru mengetahui mengapa beliau berdua mendekati Golkar yang kala itu sebagai partainya pemerintah, rupanya demi membesarkan misi-misi perjuangan pendidikan yang dikelolanya dengan berpolitik anti mainstream dengan kalangan pesantren.

Sepertinya dari sinilah Pak Suharto terkesan, hingga armada bus digelontorkan ke Pondok Awang-Awang. Bayangkan, Kyai Tain seorang anggota dewan RI bisa tawadhu dengan KH Mansur, saking apane ngunu iku?

Saya samar-samar ingat ceritanya bagaimana Kyai Tain (panggilan akrab Dr. KH Mustain Romly) ketika mem-branding KH Mansur. Di depannya Presiden Suharto, Kyai Tain betul-betul menghormati KH. Mansur, seolah beliau muridnya KH Mansur. Sepertinya dari sinilah Pak Suharto terkesan, hingga armada bus digelontorkan ke Pondok Awang-Awang. Bayangkan, Kyai Tain seorang anggota dewan RI bisa tawadhu dengan KH Mansur, saking apane ngunu iku?

Kepada para pengelola layanan pendidikan, bolehkah saya tahu “siapa “Romo Mangunmu”?