Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 50

Salafi Merajalela, Di Mana NU dan Muhammadiyah?

0

Citra media adalah pembius era digital. Ia menjadi medium pasar millenial. Agama tunduk pada kaidah pasar. Menampilkan agama dalam spektrum pasar digital, mau tidak mau ya masuk ke arus citra media. Ini memengaruhi beragama orang kota modern. Sarana ini rentan bagi mereka. Mereka akan mudah terpapar citra media dan berburu beragama instan. Saat citra media menjadi virus beragama instan, agama menjadi hitam putih. Apakah NU dan Muhammadiyah, mampu mencuri citra media atau mereka kalah dengan Salafi?

Kampusdesa.or.id–Anak muda itu bernama Dimas Wibisono. Bersama temannya, Hendra Bayu, dia mendirikan satu komunitas hijrah bernama “Terang Jakarta.” Siapakah Dimas Wibisono? Pemuda asal Surabaya yang tinggal di Jakarta ini adalah tipikal anak muda kota yang suka pesta dan hura-hura. Dia adalah salah seorang raver di Jakarta.

Raver adalah sebutan orang yang suka menghadiri rave party atau pesta rave. Rave (radical audio visual experience) adalah sebuah budaya pesta yang awalnya lahir di Chicagi, Amerika Serikat, era 1980-an. Rave party biasanya dilakukan semalam suntuk dengan iringan musik berirama cepat dan pertunjukan lampu. Pesta ini digolongkan sebagai pesta liar karena identik dengan seks bebas dan tindakan-tindakan kriminal lain. Biasanya, dekorasi pesta ditata ala teater Yunani Kuno lengkap dengan patung dewa-dewi dan altarnya.

Bayangkan, dalam suasana pesta gila seperti itu, salah seorang raver bernama Dimas Wibisono tiba-tiba merasakan kekosongan jiwa dan takut jika tiba-tiba kematian datang menghampirinya. Dari sini, dia memutuskan untuk bertaubat, mengisi kekosongan jiwanya dengan mendekat kepada Allah. Dia mulai mempelajari Islam.

Orang kota-modern yang terjebak dalam gemerlap pesta, memenuhi hari-harinya dengan kenikmatan duniawi, mengisi paru-parunya dengan udara modernitas, dan akhirnya menemukan hidupnya kosong tak bermakna. Perasaan kosong kemudian membawanya titik balik pertobatan. Sangat klise! Masalahnya adalah, jika sisi spiritualitas adalah kepingan yang hilang bagi orang-orang seperti Dimas, mengapa tasawuf yang selama ini menawarkan sisi spiritualitas tidak dilirik? Mengapa mereka justru masuk ke dalam aliran salafi?


Dia memperkenalkan diri bernama Dayat. Berusia 38 tahun. Dia tercatat sebagai salah satu ASN di lingkungan Pemkab Pamekasan, Madura., Jawa Timur. Sore itu, dia berdesak-desakan di tengah ratusan jamaah lain untuk mendapatkan shaf terdepan pada jamaah shalat maghrib di Masjid Nurul Iman yang terletak di rooftop Mal Blok M Square.

Apa yang membuatnya sangat antusias sore itu? Datang jauh-jauh dari Madura, dia ingin mengikuti pengajian daโ€™i salafi top saat ini, Khalid Basalamah, dari barisan yang paling depan. Dia ingin mendapatkan ilmu โ€˜Islam kaffahโ€™ secara langsung dari muballigh yang selama ini hanya bisa diikutinya lewat kanal Youtube. Dia merasa menemukan Islam yang sesungguhnya dari pada muballigh salafi ini karena ajaran-ajarannya langsung merujuk pada al-Qurโ€™an dan Hadits-hadits shahih.

Jika membicarakan Madura, masih kurangkah pesantren tempat untuk belajar agama Islam di sana? Kurangkah ilmu para kiai Madura dalam mehami al-Qurโ€™an dan Hadits sehingga orang seperti Dayat harus mengambil cuti dan datang ke Jakarta untuk mendengarkan kajian Islam Khalid Basalamah?


Apa yang sesungguhnya terjadi? Bagaimana kita memahami fenomena ini? Orang kota merasa hampa hatinya di tengah hingar-bingar kemegahan metropolitan, hendak mengisi sisi spiritualitasnya, bukannya ke tasawuf tapi lari ke salafi. Orang Madura ingin belajar Islam bukannya lari ke kiai, tapi malah berangkat ke Jakarta sekedar bisa mengikuti pengajian daโ€™i salafi.

Maraknya fenomena hijarah di kalangan para artis dan orang-orang kota yang selama ini hidup dalam gelimang kemewahan dan pesta adalah bangkitnya agama di tengah arus modernitas yang sejak awal menghalau agama dari kehidupan manusia.

Tahun 2017, Vakey Foundation dari Inggris mengadakan survei dan menemukan bahwa agama telah menjadi faktor utama bagi anak-anak muda di Indonesia untuk mencapai kebahagiaan. Temuan Vakey Foundation ini seakan mengkonfirmasi bantahan para pembela agama terhadap teori sekularisasi, bahwa modernitas bukan berakhir dengan matinya agama, tapi justru menguatnya kehidupan agama karena manusia modern pada akhirnya memerlukan spiritualitas untuk mengisi kekosongan jiwanya. Inilah situasi yang kita temui di Indonesia saat ini. Maraknya fenomena hijarah di kalangan para artis dan orang-orang kota yang selama ini hidup dalam gelimang kemewahan dan pesta adalah bangkitnya agama di tengah arus modernitas yang sejak awal menghalau agama dari kehidupan manusia.

Di tengah situasi ini, pertanyaan yang paling penting adalah di manakah NU dan Muhammadiyah? Mengapa dua organisasi ini terkesan kehilangan daya tariknya? Jika ada langkah-langkah yang dilakukan, mengapa kedua organisasi terkesan hanya bisa bertahan (membendung arus salafi dan mengamankan umat dari ekspansi agresif kaum salafi), sebuah sikap yang diam-diam sesungguhnya mengakui bahwa mereka memang kalah menarik?

Pada akhirnya, pemasaran agama juga tunduk pada hukum pasar. Sebagus apapun kualitas sebuah produk, jika tidak dikemas dan dipasarkan dengan baik, tidak akan ada yang membeli.

Pada akhirnya, pemasaran agama juga tunduk pada hukum pasar. Sebagus apapun kualitas sebuah produk, jika tidak dikemas dan dipasarkan dengan baik, tidak akan ada yang membeli. Sebiasa apapun sebuah produk, jika ia dikemas dengan cantik dan dipasarkan dengan cerdik, dia akan dibeli oleh konsumen. Sesederhana itulah rumusnya.

Jika yang dibutuhkan para pencari Islam baru ini adalah ulama yang mumpuni keilmuannya, kurang alim apa para kiai NU dan cendekiawan/ustadz Muhammadiyah? Jika yang dibutuhkan konsumen Islam kota adalah pemahaman atas al-Qurโ€™an dan Hadits, kurang dalam apa ilmu para kiai NU dan cendekiawan/ustadz Muhammadiyah dalam memahami dua sumber penting ajaran Islam itu? Jika yang dibutuhkan orang-orang kota adalah hukum-hukum agama yang bersifat solutif atas problem-problem kontemporer, kurang canggil apa penguasaan para kiai NU dan cendekiawan/ustadz Muhammadiyah terhadap ilmu fiqh? Tapi mengapa justru yang laku di perkotaan adalah Islam salafi? Sekali lagi, jawabannya adalah packaging dan strategi marketing.

Lihatlah Hanan Attaki! Sebagai muballigh yang menyasar konsumen muda, dia sadar betul bagaimana harus men-display dirinya di tengah anak-anak muda. Dia mengemas pesan-pesan dakwahnya dalam bahasa-bahasa yang bisa dimengerti anak muda. Ini bukan urusan benar-salah, bukan pula soal dalam atau dangkal, ini soal bagaimana cara menyampaikan pesan. Karena itu, media juga menjadi sangat penting.

Orang seperti Khalid Basalah memiliki kesadaran tentang ini. Saat banyak kiai NU dan ustadz Muhammadiyah bahkan masih gagap berceramah di depan kamera televisi, seorang Khalid Basalamah telah menyadari bahwa pemirsa televisi mulai menurun. Dia membuat kanal Youtube-nya sendiri untuk menyampaikan dakwah-dakwahnya. Didukung oleh tim profesional, tampilan dan pesan dikemas secara apik dan dipasarkan melalui kanal yang tepat. Saat ini, pelanggan kanal Youtube-nya menembus angka 867.572 subscriber, di mana video-video ceramahnya sudah ditonton lebih dari 50 juta kali.

Marilah kita membuat pengandaian. Ada seorang gadis yang dianugerahi Tuhan rupa yang menawan. Suatu hari datanglah dia di suah pesta dengan dandanan ala kadarnya, bahkan mungkin sama sekali tidak berdandan. Bisa dipastikan dia tidak akan menjadi pusat perhatian orang-orang yang hadir di pesta itu. Seandainya pun si gadis tadi berpakaian menarik, tapi dia hanya menyendiri di pojokan karena tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, dia mungkin akan disapa satu dua orang, tapi selebihnya dia hanya akan sendirian di pojokan. Pada saat yang sama, ada seorang gadis yang wajahnya biasa-biasa saja, tapi hadir dengan penampilan yang menarik dan memiliki keluwesan dalam berkomunikasi, pasti si gadis biasa-biasa saja ini akan jauh lebih bisa menarik perhatian tamu-tamu yang hadir. Seandainya si gadis cantik tadi berdandan dengan menarik dan mampu berkomunikasi dengan luwes, pasti dia akan menjadi bintang dalam pesta tersebut.

Sekali lagi, sejauh berbicara tentang pasar, agama juga tunduk dalam aturan mainnya, bahwa โ€œpackaging is everythingโ€ (kemasan adalah segala-galanya).[]

Tulisan ini sudah dimuat di islami.co

Menyikapi Suka Duka Merawat Orangtua

0

Di antara permasalahan sosial yang kerap membuat miris hati adalah nasib memprihatinkan para lansia. Alih-alih menikmati masa tua, banyak lansia yang hidupnya justru terlunta-lunta. Anak-anak yang mereka besarkan tak lagi mempedulikan. Sungguhpun secara norma maupun dalam syariat agama merawat mereka merupakan kewajiban anak. Nyatanya, masih banyak anak yang menelantarkan orangtuanya. Mengapa blessing in disguise ini terabaikan begitu saja?

kampusdesa.or.idโ€”Perawatan orangtua di berbagai negara mempunyai perbedaan satu sama lain. Di belahan bumi Eropa misalnya, pemerintah bertanggung jawab terhadap perawatan orangtua pasca produktif. Pemerintah, di bawah badan sosial yang mengurus para orangtua sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa-jasa mereka semasa masih produktif.

Selain itu pengaruh culture atau budaya membuat orangtua di negara-negara tersebut merasa malu untuk ngenger  (tinggal bersama anak dan menjadi tanggungannya). Maka tidak lazim kita temui ada orangtua yang dirawat anaknya. Biasanya para orangtua tinggal di rumahnya sendiri, di bawah pengawasan badan sosial atau tinggal di panti-panti yang khusus merawat orang-orang yang sudah sepuh atau lanjut usia (panti jompo).

“Dalam agama Islam berbuat baik kepada orang tua tingkatannya setelah beriman kepada Allah”

Berbeda dengan negara-negara Eropa, di Asia dan negara-negara Amerika Latin perawatan orangtua menjadi tanggung jawab anak-anaknya. Anak-anaklah yang sepenuhnya merawat dan membiayai perawatan orangtua. Anak adalah tumpuan harapan orang tua yang akan merawat ketika mereka berusia lanjut. Kewajiban ini juga diperkuat dengan aturan agama yang membebankan perawatan orangtua kepada anak. Bahkan dalam agama Islam berbuat baik kepada orangtua tingkatannya setelah beriman kepada Allah. Perilaku anak dan kata-kata yang tidak boleh diucapkan demi menjaga perasaan orang tua diatur sedemikian rupa. Tidak heran bila kemudian muncul cerita-cerita tentang akibat tidak berbakti kepada orang tua seperti โ€œMalin Kundangโ€, โ€œAtu Belahโ€ dan sejenisnya. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan mental anak dalam berperilaku yang sepatutnya terhadap orang tuanya.

Meski dalam aturan agama Islam perawatan orang tua itu menjadi tanggung jawab anak pertama laki-laki, tapi di masyarakat Jawa perawatan orang tua justru lebih banyak diambil alih oleh anak terakhir perempuan. Anak perempuan dianggap lebih sabar dan telaten merawat orang tua sehingga biasanya orang tua lebih nyaman bila dirawat anak perempuannya.

“Seringkali kritikan pedas dialamatkan kepada si anak dalam hal perawatan hingga menjadi ujian mental tersendiri baginya”

Di sisi lain, merawat orang tua bukanlah pekerjaan mudah. Butuh kesabaran ekstra, mengalokasikan waktu, dan biaya. Mengapa dikatakan kesabaran ekstra? Karena seiring bertambahnya usia, fungsi-fungsi tubuh manusia semakin berkurang kemampuannya sehingga mengganggu keleluasaan dalam beraktifitas maupun berfikir akibat penurunan daya kerja otak. Belum lagi bila disertai dengan gangguan penyakit semisal diabet, stroke, pikun dan lain-lain. Tentu perawatan semakin sulit karena membutuhkan biaya untuk pengobatan dan butuh waktu lebih untuk merawatnya.

Bukan hanya itu, seringkali kritikan pedas dialamatkan kepada si anak dalam hal perawatan hingga menjadi ujian mental tersendiri baginya. Alih-alih memberikan dukungan, seringkali komentar yang muncul justru lebih banyak cacian daripada pujian. Hal ini sering membuat si anak menjadi down.

โ€Seorang ibu bisa merawat sepuluh anak tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang ibuโ€

Ketika anak merasa down, tak jarang mereka menyerah. Ditambah lagi dengan sikap orangtua yang kembali seperti anak-anak, sulit diatur dan cenderung semaunya sendiri. Meski tidak semua orang tua begitu. Umumnya orangtua lebih suka tinggal di rumahnya sendiri dibanding tinggal di rumah anaknya, bagaimanapun keadaan rumahnya. Hal ini tentu menyulitkan anak dalam merawat orangtuanya sebab anak juga punya tanggung jawab terhadap keluarga dan pekerjaannya. Itulah mengapa sering menjadi sebab  saling iri antar anak dalam merawat orangtuanya. Maka yang terjadi kemudian orang tua seperti terabaikan, tidak terurus dengan baik. Tidak heran bila ada pepatah โ€seorang ibu bisa merawat sepuluh anak tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang ibuโ€.

“Tanggung jawab ini tidak hanya menyangkut pembiayaan, tapi juga perhatian dan kasih sayang. Jangan sampai anak yang secara materi berlebih hanya mengirimkan uang tanpa turun tangan merawatnya”

Melihat fenomena di atas, sudah sepatutnya ada kerja sama dan komunikasi yang bagus diantara anak. Perawatan orang  tua semestinya menjadi tanggung jawab semua anaknya. Tanggung jawab ini tidak hanya menyangkut pembiayaan, tapi juga perhatian dan kasih sayang. Jangan sampai anak yang secara materi berlebih hanya mengirimkan uang tanpa turun tangan merawatnya. Diperlukan pembagian tugas yang adil sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing anak. Komunikasi yang efektif antar anak sangat diperlukan sehingga terjalin kerjasama yang baik.

Lalu bagaimana dengan peran serta orang-orang di sekitarnya? Hindari โ€œnyinyirโ€. Kunjungi mereka, hiburlah dengan kata-kata yang menyejukan agar kesabarannya meningkat. Bila perlu bantulah sesuai kemampuan. Bantuan tidak harus berupa materi. Bisa juga dalam bentuk perhatian, seperti mendengarkan keluh kesah orang tua, mengingatkan apa-apa yang perlu dilakukan si anak semisal kapan harus ke Posyandu lansia, memberikan trik-trik khusus menghadapi masalah perawatan dan lain sebagainya.

Satu hal yang perlu diingat, jangan terlalu responsif terhadap keluhan-keluhan orang tua. Cukup dengarkan saja. Karena umumnya yang dikeluhkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan perawatan yang dilakukan anaknya, atau kadang orang tua menginginkan perhatian dari orang lain. Menjaga perasaan anak yang merawat pun juga sangat diperlukan.

“Alangkah tidak manusiawinya kita bila orang tua yang telah mencurahkan kasih sayang, perhatian, dan bekerja keras demi anak-anak serta berperan penting menyokong kemajuan masyarakat tersia-siakan di masa tuanya”

Kerja sama yang baik antar anak dan peran serta lingkungan sekitar atas perawatan orang tua diharapkan bisa menjadi pilar penguat sehingga perawatan orang lanjut usia dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Alangkah tidak manusiawinya kita bila orang tua yang telah mencurahkan kasih sayang, perhatian, dan bekerja keras demi anak-anak serta berperan penting menyokong kemajuan masyarakat tersia-siakan di masa tuanya.

Strategi Deschooling dalam Menghindari Dhurriyatan Dhi’afan

0

Mengapa mendapat ijazah menjadi tujuan utama pendidikan. Sejak kapan ijazah menjadi dewa dari legitimasi keahlian. Semua berburu ijazah. Lantas, ijazah itu sebuah identitas yang selalu sejalan dengan manusianya pun tidak jelas-jelas amat. Ijazah, mewakili orangnya atau sebuah kesaksian bahwa seseorang telah sekolah. Itu saja. Selebihnya, seorang bisa apa, ya diuji di lapangan. Ijazah tidak berarti mewakili manusianya.

Kampusdesa.or.idโ€“ Akhir-akhir ini saya membaca media online dan gagasan deschooling di WAG menjadi topik yang menarik untuk saya ikuti. Apakah ini gagasan baru di dunia pendidikan setelah berbagai ide terobosan di dunia penddidikan bermunculan? Lagi-lagi saya mencari tahu lebih banyak di google. Di situ saya membaca gagasan deschooling dalam wikipedia adalah wacana kritis tentang pendidikan sebagaimana dipraktikkan dalam ekonomi modern. Bahasan ini dimunculkan pertama kali pada tahun 1971 dalam buku Deschooling Society oleh Ivan Illich. Ia seorang filsuf Kroasia-Austria, pastor Katolik Roma, dan kritikus lembaga-lembaga budaya Barat modern, yang membahas praktik-praktik kontemporer dalam pendidikan, kedokteran, pekerjaan, penggunaan energi, transportasi, dan pembangunan ekonomi.

Sebagai pengelola layanan pendidikan nonformal dan informal dalam bentuk lembaga PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), diskusi dan sumber informasi lain tentang deschooling ini saya kira patut diikuti perkembangannya. Lagi-lagi agar lebih bisa mengaplikasikannya dengan tepat sebagai penyediaan layanan pendidikan yang “creating the need and provide it’, satu istilah penyemangat yang dilontarkan Pak Nafik ownernya The Naff School bagi pengelola PKBM dalam diskusi WAG Konvensi Pendidikan.

Tentang deschooling lagi, ini rupanya menjadi konsep bagi diberlakukan pembelajaran metode homeschooling. Salah satu semangat mengembalikan peran keluarga agar tidak tergantung kepada institusi pendidikan yang bernama ‘sekolah.’ Pernyataan ini tersirat disampaikan oleh Pak Lukman Hakim pengelola Sekolah Dolan Malang Jawa Timur dalam diskusi serupa dan dalam media WAG konvensi Pendidikan juga. Pernyataan-pernyataan beliau tentang peran keluarga dalam hal ini orang tua dalam memaksimalkan pendidikan anak sering pula saya baca dalam postingan sosial medianya.

Ketika membaca postingan seperti itu, sering muncul dalam benak saya, apakah peran orang tua dalam menentukan pola pendidikan anak ini mutlak tak tergantikan oleh sekolah? Bagaimana dengan orang tua yang minim wawasan pengetahuannya? Bagaimana orang tua yang sibuk bekerja bukan hanya karena demi karier tapi demi menyambung hidup?

Mungkinkah mereka ada waktu untuk hal ini sementara di luar disediakan sekolah untuk mewakili tanggungjawab orang tua ini? Belum lagi anak-anak yang tak tahu siapa orang tuanya bagi mereka yang ada di panti asuhan, hidup di jalanan dan rumah-rumah singgah. Baiklah, mungkin terlalu jauh saya menyangkutpautkan hal ini, tapi ketahuilah bahwa garapan layanan penddidikan di PKBM tak jauh dari realita ini. Kenyataan bahwa ada yang menyadari orang tua punya peran besar dalam hal pendidikan anaknya hingga masuklah si anak di model belajar homeschooling dalam lembaga PKBM.

Tak dapat dipungkiri ada pula orang tua juga masyarakat pada umumnya memandang PKBM sebagai tempat mendapatkan ijazah dengan proses yang bisa dinego bahkan dibeli.

Tak dapat dipungkiri ada pula orang tua juga masyarakat pada umumnya memandang PKBM sebagai tempat mendapatkan ijazah dengan proses yang bisa dinego bahkan dibeli. Untuk yang terakhir ini urgen mengubah mind-set demikian ketika PKBM ingin survive dalam melayani masyarakat yang semakin lama semakin paham bahwa kualitas layanan tidak saja bertumpu pada kecepatan mendapatkan ijazah.

Dalam kaitannya dengan konteks deschooling ini, saya mengajak para orangtua agar mempertimbangkan berbagai hal di mana ijazah tidak menjadi satu-satunya orientasi belajar. Bahkan sebaliknya, ada kecenderungan menomersekiankan keberadaannya, karena proses pembelajaran bertumpu pada kebebasan dalam mengembalikan kebutuhan belajar kepada siswanya, bukan ke kurikulum yang dirumuskan dari luar kemauan anak.

Mata pelajaran ditempatkan sebagai selera yang boleh jadi akan diperlukan oleh anak atau tidak. Semua bermuara pada proses anak mengetahui kesadaran kritisnya dengan dhurriyatan dhi’afaan (keturunan yang lemah)? Pendidikan sebagai salah satu hak azasi manusia, dalam lingkungan keluarga, orang tualah yang berkewajiban memenuhi hak memperoleh pendidikan bagi anak-anaknya.

Mengingat output sekolah itu ada tiga segmen yaitu akademis, profesional /skill, dan entrepreneur, maka anak yang memiliki potensi akademis mau tidak mau harus punya ijazah untuk jenjang karirnya. Namun untuk yang profesional dan enterpreuner tidak mutlak harus punya ijazah. Jaman sekarang sudah banyak lembaga yang mengeluarkan sertifikat keahlian dan itu lebih mahal harganya ketika melamar di perusahaan-perusahaan asing atau luar negeri. Ini Sebagaimana disampaikan oleh Pak Eko Suprihantomo dalam diskusi WAG yang sama, Konvensi Pendidikan Indonesia.
Berangkat dari tiga segmen output sekolah tersebut, jika anak atau orang tua memilihkan jalur deschooling untuk anaknya, tugas orang tua harus menyiapkan bekal skill dan membangun jiwa entrepreneurship anak. Jika belum siap keduanya, saya kira bijak tetaplah memprioritaskan membekali anak dengan ‘ijazah ‘ melalui proses yang sesuai dengan kebutuhan anak. Saya kira, di PKBM-lah model deschooling dengan membekali anak ijazah untuk menjalani masa depannya melalui proses belajar merdeka dan sesuai passionnya bisa dijalani.

Memoar Pesan Damai dan Cinta Seorang BJ. Habibie

0

Selamat jalan BJ. Habibie. Pesan-pesan yang engkau tinggalkan pada anak cucu bangsa Indonesia semoga selalu dapat kami ingat dan teladani. Tenanglah dalam kedamaian di sisi Allah SWT.

Kampusdesa.or.idโ€“Indonesia telah kehilangan seorang tokoh, bapak bangsa, dan juga cendekiawan hebat yang pernah dimiliki negara ini. Beliau adalah Prof. Dr.Ing H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FR.Eng. atau lebih akrab dipanggil BJ. Habibie. Presiden Indonesia ke-3 ini meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta pada pukul 18.05 Rabu (11/10).

Habibie merupakan peletak demokrasi moderen namun dalam kepakarannya sumbangsih terbesar diberikan pada teknologi pesawat terbang dunia lewat karya dan penemuannya. Salah satunya crack progression theory alias Teori Habibie. Teori ini memberi kontribusi besar di dunia penerbangan. Sehingga di dunia internasional, BJ. Habibie dikenal dengan julukan Mr. Crack.

Sepeninggal beliau, saya ingin mencoba menuliskan pesan-pesan sebagai memoar semasa beliau masih hidup. Pesan-pesan yang saya pilih adalah pesan damai dan pesan cinta. Karena keduanya saling berdekatan. Ketika ada kedamaian di situ pasti ada cinta dan begitu pula sebaliknya.

Pesan Damai

Selain jenius, Bacharuddin Jusuf Habibie benar-benar seorang negarawan. Bagaimana tidak, di saat kondisi beliau sedang sakit pun masih mengingat bangsa Indonesia. Ada beberapa pesan damai yang beliau sampaikan kepada para pendidik di Indonesia.

Saya membaca sebuah cerita dari salah seorang pakar pendidikan Arief Rachman di portal berita CNN Indonesia (11/9), yang menyebut bahwa mendiang BJ. Habibie sempat menitipkan pesan kepadanya sebelum meninggal dunia. Arief menyebut hingga detik-detik terakhir hidupnya, BJ. Habibie tetap peduli dengan pendidikan Indonesia.

Habibie meminta agar tenaga pendidik tak hanya mengajar, tetapi juga mempertahankan Indonesia dengan pendidikan yang baik agar bangsa tak tercerai berai. Tak hanya itu, BJ. Habibie juga berpesan agar tak ada yang melupakan Pancasila sebagai tioggak kehidupan bangsa Indonesia.

Di samping itu BJ. Habibie juga pernah menitipkan pesan damai terkait dengan pilpres 2019 kepada seluruh warga Indonesia. โ€œSaya pesan, siapapun nanti yang dipilih, siapapun, dia adalah pimpinan kita, pilihan rakyat. Yang bersangkutan harus 100 persen pro rakyat. Tidak memihak yang memilihnya. Kalau sudah selesai, kita bergandengan menyukseskan pembangunan dan kita menyusun bersama bagaimana pembangunan,โ€ kata BJ. Habibie dalam tayangan Fokus Pagi Indosiar, Sabtu (20/4).

Di lain kesempatan, semasa hidup Presiden ke-3 RI ini juga meminta semua pihak untuk berada dalam satu gelombang perdamaian yang sama demi mempertahankan keutuhan berbangsa dan tanah air.

Dalam hal ini kita sepakat bahwa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia serta stabilitas, proses pemerataan, dan masa depan bangsa Indonesa tidak ada tawar menawar. Itu kartu mati.

โ€œDalam hal ini kita sepakat bahwa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia serta stabilitas, proses pemerataan, dan masa depan bangsa Indonesa tidak ada tawar menawar. Itu kartu mati,โ€ kata BJ. Habibie saat melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta Jumโ€™at (24/5).

Pesan Cinta

Yang kedua yakni mengambil pelajaran dan pesan cinta dari kisah cinta B.J. Habibie dan sang istri Hasri Ainun Besari. Kisah keduanya menjadi salah satu kisah cinta abadi yang dikagumi banyak orang. Cinta Habibie pada Ainun jelas dibuktikan sepanjang keduanya hidup bersama. Lebih dari 40 tahun saling mendampingi, hingga kisah cinta keduanya pun kemudian ditulis dalam novel โ€œHabibie & Ainunโ€ (PT. THC Mandiri, 2010) dan diangkat menjadi film layar lebar tahun 2012.

Saya termasuk orang yang nonton flmnya, lalu mengkhatamkan (membaca) versi novelnya. Sungguh sangat inspiratif, banyak pelajaran yang diambil terutama terkait perjuangan, kesetian dan cinta. Apalagi di bagian terakhir saat menceritakan kepergian Hasri Ainun Besari. Saya baru tahu dan dapat merasakan betapa cinta dan terpukulnya hati BJ. Habibie saat kehilangan separuh jiwanya.

Perasaan itu dapat tergambar dalam sajak puisi yang beliau tulis. Berikut sepenggalan bait terakhir dari puisi yang ditulis oleh Eyang Habibie saat ditinggal Bu Ainun meninggal. Puisi ini membuktikkan kedalaman dan ketulusan cintanya kepada Ainun Habibie.

โ€ฆโ€ฆ Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini. Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada. Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku. -Bacharuddin Jusuf Habibie

Tak hanya itu, putra Presiden RI ke-3 BJ. Habibie, Ilham Akbar Habibie, mengenang ayahnya sebagai sosok yang penuh cinta. Habibie disebut menjadi teladan bagi keluarga tentang ketulusan cinta.

โ€œDan yang terakhir dari kacamata kami adalah memberikan contoh mengenai cinta. Cinta itu adalah cinta tentunya suami-istri, cinta kepada sanak saudara, kepada pekerjaan, negara dan bangsa, cinta kepada dunia ini, cinta seluas-luasnya. Itulah Bapak, Pak Habibie. Namanya adalah Habibie, yang mencintai yang dicintai,โ€ kata Ilham โ€“dikutip oleh Detik News (12/9)

Habibie semasa hidupnya punya jadwal rutin mengunjungi makam sang istri setiap hari Jumat. Sekali dalam sepekan, Habibie pasti menengok sang istri dan berdoa di dekatnya. Bunga di makam sang istri pun selalu diperbaharui dua kali dalam sepekan. Tak heran jika selalu ada bunga segar di sana.

Terakhir, saya ingin mengutip satu kalimat cinta dari BJ. Habibie yang sangat terkenal dan menyentuh hati, yaitu

Walaupun raga telah terpisahkan oleh kematian, namun cinta sejati tetap tersimpan abadi di relung hati.

Kini, BJ. Habibie telah menyusul sang istri tercinta pada Rabu (11/9). Setelah sembilan tahun terpisah, Habibie akan kembali ‘bersua’ dengan sang istri  dalam keabadian. Perjumpaan itu ada yang mengibaratkan seperti pengantin baru. Kisah cinta Habibie dan Ainun tak akan lagi terpisahkan, karena telah abadi di surga.

Selamat jalan BJ. Habibie. Pesan-pesan yang engkau tinggalkan pada anak cucu bangsa Indonesia semoga selalu dapat kami ingat dan teladani. Tenanglah dalam kedamaian di sisi Allah subhannallahu wa taโ€™ala. []

Mencegah ‘Depresi Kolektif’ dengan Menguatkan ‘Aspek Spiritual’ dalam Diri

0

Pandangan modern sudah memberikan pendapat baru tentang depresi sebagai suatu gejala mental yang terjadi karena ketidakstabilan kimia di otak, maka penyelesaiannya cukup berikan dia obat yang dapat menutupi ketidakstabilan itu. Hidup masyarakat modern tergangu karena adanya ketidakcocokan di tingkat evolusi antara lingkungan manusia di masa lalu dengan kehidupan modern. Lalu bagaimana solusinya?

Kampusdesa.or.id–Hari minggu kemarin, saya baru saja menamatkan buku berjudul โ€œStaying sane In a crazy worldโ€ dari duo Lazarus, buku ini berisi 101 strategi untuk tetap waras di dunia yang โ€˜kata mereka gilaโ€™ yang kemudian  memunculkan ketertarikan saya untuk mengetahui apa maksud dari penggunaaan kata โ€œdunia gilaโ€œ oleh dua ahli psikologis klinis itu untuk judul buku mereka.

Apakah benar dunia ini sudah gila?

Bukankah kita sudah modern dan modern identik dengan ketidakgilaan?

Dua pertanyaan itu menghantui pikiran saya sampai akhirnya saya menyadari ada gap antara harapan dan realitas abad modern yang sedang kita jalani saat ini, kita berharap abad modern mendorong masyarakat global ke arah kehidupan yang lebih positif, rasional, humanis, adil, dan bijaksana namun realitanya justru bergerak kearah yang semakin irrasional, aragon, egosentris, negatif, dan banal (dangkal dalam berpikir), bahkan ada teman saya yang berujar ada gejala dehumanisasi yang sedang terjadi.

Sebagai pembelajar di bidang psikologi, saya berpikir apakah ini ada hubungannya dengan depresi? Ya, depresi yang selama ini kita bicarakan sebagai gangguan mental di tingkat individual mungkinkah sudah bergerak hingga ke tingkat kolektif?

Kemudian saya sedikit menemukan jawaban pada buku kedua yang sedang saya baca, kali ini bukan dari seorang psikologis tetapi dari seorang antroplogis, Jared Diamonds, dalam bukunya berjudul โ€œThe world until yesterdayโ€ menceritakan pengalamannya di Papua Nugini yang dulunya dikenal sebagai negara dengan basis masyarakat paling tradisional di pasifik yang seketika berubah menjadi masyarakat modern. Dia menulis suatu quote yang menarik bagi  saya tentang sebuah fakta jika manusia pada dasarnya hidup dalam suasana tradisional yang lebih lama ketimbang modern.

Di sini kemudian saya bertanya kembali apakah modernitas yang menyebabkan semua kegilaan ini terjadi atau kegilaan ini yang menyebabkan modernitas terjadi?

Pencarian saya kemudian mengantarkan saya pada sebuah penelitian menarik sekaligus menguatkan apa yang ditulis oleh Jared Diamond, yakni Brandon H. Hidaka dari University of Kansas Medical center yang melakukan penelitian dengan judul โ€œDepresi sebagai penyakit modern: sebuah penjelasan guna meningkatkan pravalensiโ€œ. Dia menjelaskan jika depresi adalah penyakit mental yang sering dialami masyarakat di era modern bahkan masyarakat sendiri pun terjebak pada penyakit depresi secara kolektif akibat tidak adanya keseimbangan antara kesejahteraan fisik dan psikis.

Menurut si peneliti, hidup masyarakat modern tergangu karena adanya ketidakcocokan di tingkat evolusi antara lingkungan manusia di masa lalu dengan kehidupan modern. Saat ini, akibatnya aspek sosial manusia mulai menurun sehingga mereka terjebak dalam lingkaran kesepian dan ketidaksetaraan. Di samping itu, jasmaniah mereka terjebak dalam pola hidup yang tidak sehat dan harus tinggal di lingkungan yang juga tidak sehat, akibat mulai terpisahnya manusia secara perlahan dari lingkungan alam.

Depresi bisa dirasakan secara kolektif dan banyak berkontribusi terhadap depresi di tingkat individual.

Dari penelitian itu, saya semakin yakin jika depresi bisa dirasakan secara kolektif dan banyak berkontribusi terhadap depresi di tingkat individual, kita harus menyadari bahwa tidak setiap depresi yang terjadi akibat dari internal manusia tetapi juga yang terjadi akibat dari faktor lingkungan, bayangkan kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang juga depresi maka besar kemungkinan kita pun akan terpengaruh oleh depresi kolektif dari masyarakat.

Modernitas memegang peranan kunci terhadap peningkatan epidemi depresi.

Lalu pertanyaan selanjutnya, kenapa itu bisa terjadi dan bagaimana upaya mengatasinya?

Pada dasarnya, pandangan modern sudah memberikan pendapat baru tentang depresi sebagai suatu gejala mental yang terjadi karena ketidakstabilan kimia di otak, maka penyelesaiannya cukup berikan dia obat yang dapat menutupi ketidakstabilan itu.

Namun jika kita bicara pada tingkatan makro, maka depresi tidak bisa diatasi dengan cara membagi-bagikan obat karena tidak lagi menyangkut ketidakstabilan kimia tetapi karena adanya parade horor tiada henti yang mencakup segala macam penderitaan yang kita lihat, dengar, bahkan rasakan baik oleh diri kita, masyarakat kita, maupun masyarakat global.

Berbagai parade horor akhirnya menciptakan keterancaman bagi kita semua baik itu sifatnya agresif, keterikatan, atau lain sebagainya. Bahkan yang negatif dan lebih jauh daripada itu parade horor ini membentuk keseragaman cara kita berpikir dan bertindak terhadap segala sesuatu yang kita terima dan inginkan dari kehidupan.

Depresi kolektif terjadi karena kita lupa terhadap aspek spiritual.

Jika kita ingin menghentikan depresi kolektif maka sudah selayaknya kita memutus mata rantai parade horor dengan melibatkan aspek spiritual yang menjadi ciri manusia. Menurut saya, depresi kolektif terjadi karena kita lupa terhadap aspek spiritual, akibatnya kita gagal berdamai dengan dunia sosial apalagi dunia ekologis, khususnya terhadap ekologis ini saya mendapatkan fakta betapa mudahnya manusia modern merusak alam, mereka sulit untuk berpikir dunia tempatnya berpijak adalah satu kesatuan dengan dirinya.

Di sini aspek spiritual bisa kita hidupkan dengan cara kembali menggali nilai-nilai kearifan lokal kita dan ajaran agama ataupun filosofi yang kita yakini. Di sini, spiritualitas tidak cukup hanya dengan mengidentifikasikan diri kita sebagai penganut agama atau aliran tertentu, tetapi harus mengimplementasikan apa yang diajarkan oleh agama dan aliran  yang kita anut, di sinilah letak tantangannya karena sudah menyangkut proses internalisasi nilai-nilai ke dalam diri untuk melekat dalam setiap tindakan.

Ketika aspek spiritual itu hidup maka kita akan mudah menerima apapun yang diberikan kehidupan sembari merawat kehidupan itu sendiri, dan yang lebih penting spiritualitas yang hidup menciptakan adanya kebahagiaan dan harmonisasi. Ini tentu tidak mudah, butuh tindakan dari lingkup terkecil, baik dalam bentuk dialog maupun dalam bentuk aksi dengan ekspresi yang beragam dari kita semua sebagai serpihan yang tak berarti di alam semesta.

Editor: Haniffa Aulia

Optimalisasi Dana Desa untuk Mewujudkan Desa Mandiri dan Sejahtera

0

Kampusdesa.or.id–Lamongan (14/09), berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat 83.931 wilayah administrasi setingkat desa di Indonesia pada 2018. Jumlah tersebut terdiri atas 75.436 desa (74.517 desa dan 919 nagari di Sumatera Barat), kemudian 8.444 kelurahan serta 51 Unit Permukiman Transmigrasi (UPT)/Satuan Permukiman Transmigrasi (SPT). Provinsi yang memiliki wilayah setingkat desa terbanyak adalah Jawa Tengah, yakni 8.559 desa/kelurahan. Kemudian diikuti Jawa Timur 8.496 desa/kelurahan di urutan kedua (katadata.co.id).

Untuk mendorong desa menjadi desa sejahtera dengan kekuatan swadaya, pemerintah lantas mengucurkan dana desa dengan jumlah besaran yang terus bertambah tiap tahunnya dan memberikan kewenangan penuh pada desa dalam hal pengelolaan dana desanya itu. Dana desa adalah dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui anggaran belanja daerah kabupaten/kota. Alokasi dana desa diperoleh dari hasil bagi hasil pajak daerah dan bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota untuk desa yang dibagikan secara proporsional. Dana ini digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat desa (bulelengkab.go.id). Kekuatan desa ini berpayung pada UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa hasil Dana Desa yang dikucurkan sejak tahun 2015 telah merealisasikan jalan desa sepanjang 191 ribu kilometer, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebanyak 24.000, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sejumlah 50.000, 8.900 pasar desa, 58.000 saluran Irigasi dan 4.100 Embung (kemenkeu.go.id). pemerintah sudah mengucurkan Dana Desa sebesar Rp. 187 triliun sejak 2015 lalu. Tahun 2015 sebesar Rp. 20,7 triliun, tahun 2016 menjadi Rp. 47 triliun, tahun 2017 menjadi Rp. 50 triliun, tahun 2018 naik menjadi Rp. 60 triliun, dan tahun 2019 ini Dana Desa naik menjadi Rp. 73 triliun.

Tahun 2020 ditargetkan tiap desa mendapakan dana Rp. 1 miliar. Besaran anggaran Dana desa yang terus bertambah tiap tahunnya menjadi isu nasional yang banyak diperbincangkan. Kondisi ini dipicu oleh beberapa temuan di lapangan bahwa penyelenggaraan Dana Desa masih menemui beberapa isu, diantaranya: Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum menunjukkan kesiapan, administrasi yang dinilai masih terlalu rumit, kasus korupsi, proyek pesanan, dan perencanaan desa dalam memanfaatkan Dana Desa tersebut. Hal ini nampaknya perlu menjadi perhatian, mengingat Dana Desa merupakan potensi yang sangat strategis dalam mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan desa.

Oleh karena itu, Diaspora Muda Lamongan bermaksud untuk menyelenggarakan Webinar vol.02 dengan tema โ€œoptimalisasi Dana Desa untuk mewujudkan inovasi dan kemandirian desaโ€. Webinar ini akan membahas dari sisi kesiapan desa-desa di Lamongan dalam menyambut program pemerintah, baik dari perencanaan alokasi anggaran, program kreatif, dan pengenalan potensi desa yang dapat dioptimalkan melalui suntikan Dana Desa. Harapannya webinar ini dapat menjawab isu tersebut dan mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam mengawal program pemerintah ini dalam rangka merealisasikan tujuan awal program, yakni mewujudkan desa sejahtera dan mandiri. Sebab, pembangunan nasional tidak selalu harus diinisiasi dari tingkat pusat, melainkan dapat dimulai dari satuan wilayah administratif terkecilnya, yaitu desa.

Sehingga dalam kesempatan ini, Webinar Kali ini dibimbing oleh Pemateri yang handal yaitu bapak Ahmad Zainuddin, M.Fil.I sebagai Tenaga Ahli Kabupaten Lamongan untuk Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa RI dan dimoderatori oleh Nur Faโ€™izah, dari Divisi Kajian Strategis Diaspora Muda Lamongan.

Baca Juga: Peran BUMDes Sebagai Sarana Kemandirian Ekonomi Desa

Poin-Poin Pembahasan

Adapun poin-poin pembahasan yang diperoleh adalah sebagai berikut: Pertama, Positioning Desa Baru dalam perspektif Undang-Undang Desa. Dalam hal ini desa memiliki dua asas yaitu yang pertama, memberikan pengakuan pada desa sebagai satuan pemerintah dengan segala kewenangan lokal yang dimiliki dan didalamnya juga adat istiadat yang telah berkembang dan bahkan jadi sistem yang mengatur cara hidup masyarakat desa. Kedua, asas subsidiaritas yang dimana memberi kepastian hukum pada desa untuk menentukan kewennagan lokal yang dimiliki serta mengaturnya untuk kepentingan kemajuan masyarakat dan desa

Kedua, Dana Desa sebagai hak budgeting desa dan suplemen peningkatan pendaptan asli desa, dan potret realisasinya di Kabupaten Lamongan. Dana desa hadir sebagai implementasi dari asas subsidiaritas yang diatas, untuk menjadi terkelolanya kewenangan dan potensi desa untuk pembangunan desa. Lamongan, memiliki 462 desa di 27 kecamatan dan ini merupakan kabupaten dengan jumlah desa terbesar di Jawa Timur dan disusul Kabupaten Bojonegoro.

Ketiga, Merencanakan desa secara sustainable berbasis data Indeks Desa Membangun (IDM), dan status desa di Lamongan dalam indeks. Dalam hal ini IDM merupakan Alat ukur tersebut juga membantu desa untuk merencanakan pembangunan di desa agar sustainable dan terukur. Tetapi, banyak desa yang belum mau menjadikan data IDM. Sebagai basis perencanaan di desanya. Sehingga kecendrunganya masih belum bagus. IDM ini dapat dilihat dalam data jumlah capaian pada masing-masing bidang. Kemendesa juga mengguakan alat ukur Indeks Desa Membangun (IDM) untuk megukut perkembangan desa dalam 5 kategori status desa. Mandiri, Maju, Berkembang, Tertinggi dan sangat tertinggal. Data tersebut akan memotret dalam 3 dimensi indeks yakni ketabahan sosial, ekonomi dan lingkungan. Gerakan Inovasi Desa, one village one innovation

Keempat, isu-isu strategis dalam menjawab percepatan pembangunan di desa menuju desa mandiri. Berapa catatan kritis terhadap perkmebangan desa dan kebutuhan perempatan kemandirian desa adalah:

1) Lamongan telah menjadikan inovasi sebagai pendekatan baru dalam perencanaan di desa dengan tagline “one village one innovation”. Melalui Bursa Inovasi Desa di beberapa kecamatan, desa mendapatkan literasi inovasi yang cukup sebagai bahan pengembangan potensi di desanya. Selain itu yang belum terberdayakan adalah sistem dokumentasi inovasi daerah, sebagai media dan kanal informasi atas hasil-hasil inovasi di desa yang telah ter-capture agar mudah diakses oleh desa2 lain baik Lamongan maupun kabupaten lain.

2) Sistem informasi desa belum baanvak diamanfaatkan oleh desa, hanya 2-10 desa yang telah menggunakan SID sebagai basis pengelolaan data dan penunjang layanan sosial masyarakat.

3) Dua tahun ini Lamongan sedang dalam kondisi darurat stunting. Sebuah dampak klinis akibat gizi bayi sehingga tumbuh dengan ukuran yang kecil tdk normal seusianya. Lamongan adalah 1 dari 10 kabupaten di Jatim dengan data stunting yang cukup tinggi.

4) Pengawas partisipatif. Pengelolaan dana desa sangat mutlak memerlukan pengawas partisipatif dari seluruh pihak. meski semua desa telah mepublikasikan APBDESnya melalui banner, namun tidak banyak yang mampu membaca data untuk jadi bahan pengawasan.

WEBINAR Kali ini berjalan aktif dan dengan dibuktikannya jumlah peseta yang antusias bertanya selama sesi tanya jawab Serta kepatuhan peserta terhadap peraturan yang berlaku selama WEBINAR berlangsung. Selanjutnya, tentu diharapkan WEBINAR ke depan dapat Lebih baik dan bermanfaat (Yzd/Faiz/Aisy).

*Berita ini juga ditayangkan di halaman facebook Diaspora Muda Lamongan dengan judul Cerita Panjang Webinar Vol. 02 Diaspora Muda Lamongan.

Memahami penyebab Konflik Wali Murid dan Guru

0

Konflik batin diantara keduanya akan berdampak pada efisiensi   belajar mengajar di sekolah. Terlebih konflik fisik, dapat meruntuhkan citra pendidikan bangsa ini. Demi meningkatkan motivasi belajar siswa, sangat diharapkan Guru dan wali murid bergandeng tangan saling menyempurnakan.

Kampusdesa.or.id-Kesalah pahaman fatal dalam dunia pendidikan hari ini ditandai ketika wali murid merasa dia lah yang menggaji guru dan guru berikir bukan wali murid lah yang memberi bayaran tehadap mereka. Gede rasa atau terlalu menjunjung harga diri menjadikan alot bagi kedua pihak untuk saling memahami. Maka tensi harga diri perlu diturunkan sedikit supaya sekat antara guru dan wali murid bisa sejalan demi kebaikan putra putri di sekolah.

Gede rasa atau terlalu menjunjung harga diri menjadikan alot bagi kedua pihak untuk saling memahami.

Orangtua siswa pasti berfikir seribu kali untuk memilihkan sekolah yang tepat untuk anak. Survey harga, survey qualitas, survey lulusan merupakan sorotan orangtua dalam menilai sekolah. Expektasi tinggi orangtua terhadap keberhasilan sekolah dalam mendidik anak membuat mereka memperhitungkan segala sesuatu dengan rinci. Masalahnya memperhitungkan itu sangat dekat sekali dengan hitung hitungan yang berkonotasi apa yang sudah sekolah berikan untuk anak. Sehingga sekolah tak ubahnya seperti bengkel motor. Maka perlu digaris bawahi bahwa sekolah tidak menjamin anak menjadi kaya dan juara namun sekolah merupakan fasilitator supaya anak mendapat pendidikan yang layak sesuai tahap perkembangannya.

Sekolah tidak menjamin anak menjadi kaya dan juara namun sekolah merupakan fasilitator supaya anak mendapat pendidikan yang layak sesuai tahap perkembangannya.

Perbedaan latar belakang wali murid mempengaruhi karakteristik pola pikir mereka terhadap guru. Gelagat orang tua dapat dilihat dari segi ekonomi, tingkat pendidikan, budaya dan status sosial. Dalam hal ini status sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku orangtua. Paradigma bahwa guru berada dalam posisi standar bawah dibanding jabatan pemerintahan, aparat negara, dan pengusaha sehingga wali murid bisa semena  mena terhadap guru merupakan pandangan yang salah. Inilah yang disebut krisis identitas wali murid. Efeknya kita dapati berita berita penganiayaan terhadap guru bahkan hingga berakhir dalam delik pidana.

Paradigma bahwa guru berada dalam posisi standar bawah dibanding jabatan pemerintahan, aparat negara, dan pengusaha sehingga wali murid bisa semene mena terhadap guru merupakan pandangan yang salah. Inilah yang disebut krisis identitas wali murid.

Apa itu krisis identitas? Krisis identitas merupakan kebingungan individu dalam menemukan perannya sehingga kerap kali mencoba memenuhi perannya dalam ranah sosial namun jalannya salah. Misalnya, seorang wali murid ingin menjadi orangtua yang berani menegur kekurangan guru namun dengan cara tidak sopan dan aniaya, itulah krisis identitas menggunakan cara yang salah.

Beberapa hal yang kerap kali diributkan wali murid terhadap sekolah diantaranya adalah kelayakan fasilitas, Jadwal pelajaran, keamanan sekolah, kenakalan diantara murid dan tata tertib siswa.  Sebenarnya sekolah itu sudah by design, sudah dirancang oleh internal sekolah supaya proses belajar mengajar berjalan tertib, rancangan itu disebut tata tertib guru, tata tertib siswa dan tata tertib wali murid. Jika tata tertib dijalankan dengan penuh kooperatif maka bisa dibilang problem akan mencapai nol persen. Meskipun hal tersebut tidak mungkin terjadi karena ke khilafan manusia, alangkah baiknya jika wali murid tidak menuntut perfect pihak sekolah sebagaimana manusia yang memiliki keterbatasan.

Sebenarnya sekolah itu sudah by design, sudah dirancang oleh internal sekolah supaya proses belajar mengajar berjalan tertib, rancangan itu disebut tata tertib guru, tata tertib siswa dan tata tertib wali murid.

Kemudian, kemajuan teknologi informasi juga perlu diawasi.  Hampir semua wali murid memiliki smartphone dimana kehadirannya memicu efek negatif pola asuh orangtua terhadap anak.  Dampak buruk lain yang ditimbulkan oleh screen teknologi  ialah perasaan โ€œ tidak butuh guruโ€ sebab semua jenis ilmu sudah bisa diakses melalui kotak kecil bernama smartphone.

Merasa lebih pintar dan mengetahui segalanya berkat smartphone  dapat mengurangi sikap respect wali murid terhadap Guru. Sebab melalui telepon pintar, orangtua bisa membanding banding sekolah A dengan sekolah B, Kebijakan Guru C dan Guru D. Masalahnya generasi orangtua saat ini berfikir kritisnya masih kurang, sehingga beragam informasi profokatif  ditelan mentah-mentah dan melabilkan emosi mereka.

Evaluasi bagi guru tidak kalah penting, karena bagaimanapun beliau merupakan penanggung jawab pendidikan di sekolah. Dua hal yang perlu diperhatikan pihak sekolah, yaitu SDM guru yang belum mencapai kriteria kompeten dan Kecerdasan komunikasi guru yang lemah. Sejak di Universitas seharusnya para calon guru sudah disadarkan bahwa โ€œ mengajar itu adalah seni โ€. Sehingga sudah sepantasnya guru guru di abad ini memainkan peran otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berisi pengetahuan untuk diajarkan dan otak kanan bertugas menjalin hubungan yang komunikatif nan kreatif  antara guru, murid dan wali murid. Untuk guru, silahkan anda sebutkan nama nama wali murid dan profesinya di kelas anda mengajar, hafalkah? Jika tidak bisa, bisa diasumsikan ada sekat diantara anda dan wali murid!.

Dua hal yang perlu diperhatikan pihak sekolah, yaitu SDM guru yang belum mencapai kriteria kompeten dan Kecerdasan komunikasi guru yang lemah.

Kesimpulannya, guru sebagai pilar bangsa juga memiliki keterbatasan. Sementara orangtua siswa sangat menginginkan anaknya sukses melalui tangan tangan emas sang guru. Alangkah  damainya kedua belah pihak dapat duduk bersama, saling mendukung penuh kepercayaan.  Tidak ada guru yang sengaja membiarkan muridnya lemah tanpa ilmu dan tidak ada orangtua yang sanggup melihat buah hatinya terpelosok dalam kubangan kebodohan. Untuk masa depan anak, mari saling mengerti.

Mengurai Paradoks Digitalisme

0

Tom Nicholas di buku The death of expertise, mengingatkan zaman digital menjadikan orang tidak lagi sarujuk dengan para ahli. Ini tidak bisa dielakkan memang, hampir semua keinginan orang yang mahir berselancar di internet dapat terpenuhi dengan mudah. Namun, ketidakmendalaman ilmu pengetahuan menjadikan kebanggaan karena euforia atas sesuatu yang baru didapat dari internet. Orang bangga dengan ketidaktahuan. Bahkan mengkomodifikasikan dan menyebarkan ketidaktahuan ini.

Kampusdesa.or.id–Pada kondisi zaman global seperti saat ini, kehidupan manusia dilengkapi dengan tools untuk mempermudah sendi-sendi kehidupan dalam bentuk digitalisasi, adanya digitalisasi adalah puncak dari revolusi sains umat manusia sebagaimana dikatakan yuval noah harari dalam bukunya Homo sapiens, yang membagi revolusi peradaban manusia kedalam tiga kelompok yaitu revolusi kognitif, pertanian, dan science.

Karena digitalisasi yang pesat maka hampir setiap aspek kehidupan akhirnya berubah tidak terkecuali dengan tatakelola pemerintahan yang sudah harus berbasis pada digitalisasi sebagai upaya adaptasi terhadap perkembangan global, seperti misalnya Indonesia melalui Pertaturan Presiden No. 95 Tahun 2018 Tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. Tentu ini menjadi indikator untuk publik bahwa kondisi memang sudah jauh berubah dan didalamnya ada komitment pemerintah yang mampu menunjang pembangunan suatu Negara.

Kalau kita mengacu pada pada data terakhir dari Sekjen APJII, Henri Kasyfi mengemukakan bahwa pengguna internet pada tahun 2019 memperoleh angka 171,17 juta jiwa dari total populasi 264 juta penduduk, atau dengan persentase 64,8% sudah terhubung ke internet, demgan presentase yang hampir separu masyarakat Indonesia tentunya menghandle agar digitalisasi bergerak kearah yang baik bukan hal yang mudah untuk itu kita perlu mengetahui sisi negative dan positif sebagai bahan diskursus dan batu loncatan untuk membenahi diri secara bersama.

Arah Positif Digitalisasi

Digitalisasi yang kita nikmati pada saat ini mengandung nilai positif yang begitu besar. Di mana kita harus memetik hadiah yang terkandung didalamnya, semisalnya menjadi sarana literasi, komunikasi, diplomasi, informasi dan bahkan mampu menunjang perekonomian nasional. Sebab dengan digitalisasi semua manusia di dunia sudah saling terhubung, tidak lagi ada batasan.

Sarana literasi melalui digital harus dibentuk sebagai kawah penggemblengan diri agar kualitas sumber daya manusia meningkat dan memiliki daya saing global.  Sebab, literature dari berbagai universitas ternama di dunia sudah bisa diakses dan belajar langsung tanpa harus kesana, misalnya kuliah umum yang dilakukan oleh universitas ternama pun bisa diakses dan diikuti hanya lewat aplikasi seperti coursera dan edx bahkan ceramah yang berkualitas pun bisa kita dengar secara gratis lewat tedx talk.

Begitu juga dengan sarana komunikasi dan diplomasi, via online sudah memfasilitasinya dengan amat baik, apakah itu melalui FB, IG, WA, E-Mail, dan masih banyak media yang bisa digunakan. Apakah itu untuk menjalin silaturahmi maupun belajar sekaligus praktik bahasa asing, bahkan sampai kepada seminar online dan pengorganisasian massa-pun dapat kita lakukan via aplikasi chat di manapun dan kapanpun dengan jumlah massa yang melampaui saat kita beragitasi dan berpropaganda offline.

Sebagai contoh sekaligus perbandingan aplikasi seperti telegram saja bisa menampung sebanyak 5000 orang lebih dalam sebuah grup yang mereka sebut sebagai super-group artinya seminar online di grup seperti telegram memiliki kekuatan jangkauan massa yang sama besarnya bahkan mungkin melampaui seminar offline yang terkadang persertanya di batasi oleh kuota, waktu, dan geografis.

Baca juga : Revolusi Kecerdasan Digital, Meningkatkan Branding Ala Kampus Desa

Jika dunia pendidikan akhirnya maju karena internet begitupun juga ekonomi nasional, layaknya perekonomian India yang membaik melalui ekonomi digital dan china yang menjadi raksasa karena dunia digital. Demikian juga dengan Indonesia, pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi berasal dari penggunaan digital sebagai titik permulaan penetrasi penggunaan digital di Indonesia. Bahkan pertemuan KTT G-20 yang diadakan di Jepang beberapa bulan yang lalu pemerintah Indonesia melalui Presiden Joko Widodo mengiktikadkan menjadi ekonomi digital terbesar di Asia-Pasifik. Apakah itu melalui unicorn maupun desain fitur digital (kebijakan) seperti yang dilakukan pemerintahan India menggunakan kartu Biometrik untuk program pembangunannya sekaligus memangkas penggelembungan birokrasi dan menutup ruang korupsi, kolusi dan nepotisme atau melaui reformasi dan revolusi bonus demografi besar-besar ala china .

Kita perlu ingat ada tiga perusahaan internet raksasa yang agresif dengan kekuatan globalnya yang luar biasa berasal dari negeri berjuluk tirau bambu ini ada Trio Baidu, Alibaba, dan Tencent, atau BAT yang dikelola secara inovatif yang berhasil menciptakan ekosistem digital multi industri yang menyentuh banyak aspek kehidupan.

Satu lagi tidak lupa China yang bisa kita contoh dalam proses meningkatkan perekonomian nasional mereka dengan digitalisasi, memasuki era revolusi 4.0 china keluar sebagai investor dan pengadopsi teknologi digital terbesar di dunia, dan merupakan rumah bagi sepertiga dari unicorn dunia. China memiliki kekuatan untuk mendorong komersialisasi yang sangat cepat dalam bidang bisnis digital, terlebih lagi negeri ini memiliki bonus demografi yang besar yang sebagai besar dari bonus demografi mereka tertarik untuk terus-menerus meningkatkan kualitas digitalisasi di setiap aspek kehidupan. Kita perlu ingat ada tiga perusahaan internet raksasa yang agresif dengan kekuatan globalnya yang luar biasa berasal dari negeri berjuluk tirau bambu ini ada Trio Baidu, Alibaba, dan Tencent, atau BAT yang dikelola secara inovatif yang berhasil menciptakan ekosistem digital multi industri yang menyentuh banyak aspek kehidupan.

Negativisme Digital

Ibarat dua sisi mata pisau, dunia digital bisa mempersatukan kita sebagai sesama anak bangsa namun juga bisa merusak persatuan kita, harus kita akui tidak setiap tindakan kita di dunia digital berdampak baik bagi kelanjutan persatuan bangsa justru lebih banyak riak-riak konflik yang kita ciptakan ketika garis batas antara kita sudah menghilang, sejak dahulu bangsa kita memamg selalu bermasalah jika dihadapkan pada masalah perbedaan untungnya masih ada batasan dalam hal komunikasi sehingga api tidak cepat meluas sementara di saat ini kita disaat ada ketidakterbasatasan itu yang bertemu dengan ketidakdewasaan, api dengan cepat melebar dan akhirnya kita perlahan memasuki zona disintegrasi senyap.

Disintegrasi senyap bagi saya adalah negativisme yang  pertama dari dunia digital di mana ini terjadi dalam skala sosial yang akan menciptakan sebuah kondisi perpecahaan yang timbul secara perlahan di ruang-ruang media dalam bentuk pertarungan opini yang berisi konten yang memancing emosi ketimbang meluruskan suatu informasi ada tiga peristiwa yang membuat saya yakin adanya disintegasi senyap ini pertama demonstrasi besar-besaran bela agama yang berlangsung berjilid-jilid, kedua demonstrasi hasil Pilpres, dan ketiga demonstrasi aksi tolak rasisme.

Di tiga demonstrasi ini peran dari โ€œthe power of netizenโ€œ sangat besar dalam membuat publik terdikhotomi dalam dua kelompok pro dan kontra yang saling bertarung satu-sama lain jauh setelah permasalahan utama diselesaikan sehingga hasilnya ketiga demonstrasi tersebut justru tidak fokus untuk tetap mengawal tuntutan yang sebenarnya namun meluas hingga ke persoalan isu soal ras, suku, dan agama.

Istilah ini merujuk pada suatu wilayah di benua Eropa yang bernama semenanjung Balkan yang harus hancur menjadi banyak negara pasca keruntuhan kesultanan turki dan kemudian hancur kembali pasca keruntuhan Yugoslavia.

Hal ini jika diteruskan dan tidak dipikirkan bersama hasilnya akan membuat Indonesia memasuki zona balkanisasi, sebuah titik di mana terjadinya perpecahan di wilayah yang memiliki keberagaman suku, ras, dan agama kedalam negeriโ€“negeri kecil. Istilah ini merujuk pada suatu wilayah di benua Eropa yang bernama semenanjung Balkan yang harus hancur menjadi banyak negara pasca keruntuhan kesultanan turki dan kemudian hancur kembali pasca keruntuhan Yugoslavia.

Fenomena balkanisasi ini sudah memasuki ranah digital dalam bentuk cyberbalkanisasi, yaitu pemisahan yang nampak di dunia internet kedalam banyak kelompok-kelompok kecil yang lebih ekslusif, di sini terjadi sebuah paradoks di mana dunia digital yang seharusnya untuk memperluas diskusi dan meningkatkan pertukaran informasi justru mendorong diskriminasi dan intoleransi.

Dalam tingkat individual, dunia digital ternyata perlahan mematikan kepakaran kita, dengan mudahnya kita sekarang ini menjauhi pendapat para pakar untuk mendekati dan percaya dengan mereka yang bukan pakar dan masing-masing dari kita pun mengklaim diri sendiri sebagai pakar akibatnya kita menciptakan dan mempercayai sebuah informasi bukan dari sudut kebenarannya akibatnya lingkaran kebencian tetap pada tempatnya dan semakin mengurung kita dalam suasana ketidapercayaan terhadap sesama anak bangsa.

Tom Nicholas dalam bukunya The death of expertise, dia menulis di zaman ini kita memasuki masa-masa yang paling berbahaya di mana tidak pernah ada banyak orang yang memiliki begitu banyak akses ke pengetahuan, namun di sisi lain belum begitu tahan untuk belajar apa pun secara mendalam. Akibatnya orang bangga dengan ketidaktahuan dan bahkan mengkomodifikasikan dan menyebarkan ketidaktahuan ini.

Matinya kepakaran ini dijelaskan secara apik oleh Tom Nicholas dalam bukunya The death of expertise, dia menulis di zaman ini kita memasuki masa-masa yang paling berbahaya di mana tidak pernah ada begitu banyak orang yang memiliki begitu banyak akses ke begitu banyak pengetahuan namun di sisi lain belum begitu tahan untuk belajar apa pun secara mendalam, akibatnya orang bangga dengan ketidaktahuan dan bahkan mengkomodifikasikan dan menyebarkan ketidaktahuan ini.

Maka tidak salah jika akhirnya kita memasuki era post-truth, sebuah era di mana kebenaran hanya tinggal nama karena isi dari kebenaran itu sendiri tidak pernah nampak tertimbun oleh banyak informasi yang seolah-olah benar namun nyatanya tidak, apa yang kita sebut sebagai hoax adalah produk utama era post-truth ini.

Kalau sudah begini solusi yang bisa kita lakukan baik di ranah sosial maupun individual adalah memperkuat dialog baik kedalam diri kita (deliberasi) maupun keluar diri kita dalam bentuk diskusi.

Kalau sudah begini solusi yang bisa kita lakukan baik di ranah sosial maupun individual adalah memperkuat dialog baik kedalam diri kita (deliberasi) maupun keluar diri kita dalam bentuk diskusi. Keseimbangan antara deliberasi dan diskusi harus kita dorong sebagai upaya pertama menanggulangi negativism digital karena melalui keseimbangan keduanya upaya mengeser masyarakat menjadi lebih dangkal dalam pikir sedikit demi sedikit akan gagal.

Dan yang selanjutnya adalah penguatan literasi dan tindakan terhadap segala bentuk penyalahgunaan dunia digital dengan kolaborasi dari atas dan bawah yang berkelanjutan dan tidak terjebak pada seremonial semata, kasus-kasus disintegrasi senyap yang mengarah pada cyberbalkanisasi di tingkat sosial dan gejala matinya kepakaran di tingkat individual harus diatasi dengan program yang sistematis yang memetakan setiap peluang kesalahan untuk kemudian menindaknya secara tegas tanpa pandang bulu disamping juga harus menguatkan sisi intelektualitas lewat literasi digital dengan materi yang komprehensif, sistematis, dan teukur dampaknya.

EDITOR : MOHAMMAD MAHPUR