Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 52

Efek Gelembung Bagi Ojek Online

0

Bagi Anda pengguna telepon pintar, pasti tak asing dengan layanan daring (online). Layanan ini memungkinkan apa yang kita mau bisa secepat mungkin diperoleh. Mau makan, tinggal sentuh jari di layar. Pilih makanan yang diinginkan, lalu pesan. Tak lama, ada yang bersedia mengantar makanan itu tepat di depan pintu rumah kita. Asal, jangan lupa membayar makanan yang telah kita pesan tersebut.

Kampusdesa.or.id- Setelah makan, ingin beli baju? Sangat mudah. Pilih saja baju yang diinginkan. Konfirmasi alamat kita dan metode pembayarannya. Lantas, apa selanjutnya? Tinggal tunggu baju yang kita pesan sampai pada tujuan. Semudah itu. Yang sulit, mungkin mendapatkan kepastian dari pujaan hati. Hehehe.

Dari beragam kemudahan itu, rasanya mustahil bila tidak ada pihak pendukung. Siapa pihak pendukung itu? Tentu tidak lain adalah petugas pengantar. Ia bisa siapa saja, mulai berupa ojek online atau petugas dari BUMN. Mereka juga biasanya memakai metode pengantaran yang beragam. Ada yang memakai sepeda motor, ada yang memakai mobil. Bahkan, di negara maju, mereka memakai drone sebagai pengantar barang.

Ojek itu bisa berupa pengendara motor atau mobil. Mereka siap mengantar Anda kemana saja Anda ingin pergi.

Nah, salah satu layanan yang saat ini sedang digandrungi adalah ojek online. Ojek itu bisa berupa pengendara motor atau mobil. Mereka siap mengantar Anda kemana saja Anda ingin pergi. Dan, tetap jangan lupa membayar bila selesai menggunakan jasa mereka.

Mengapa layanan ini begitu marak? Banyak pendapat tentang hal itu. Bagi pengguna ojek motor, tentu mereka tak repot lagi untuk parkir kendaraan. Terkena macet? Motor bisa saja melalui sela-sela kecil kendaraan di sampingnya. Lalu, bagi ojek mobil, tentu mereka bebas panas dan hujan, selain tak ribet parkir kendaraan juga. Seperti yang ditawarkan penyedia jasa ojek online itu, bebas macet dan tak pusing parkir kendaraan.

Dibalik itu semua, minat pengguna jasa ojek online selaras dengan minat pendaftar ojek online. Dalam sehari, antrian pendaftar ojek online bisa menyentuh ratusan orang. Apa pasal? Tak lain adalah harapan akan mudahnya mendapat uang. Tinggal pencet, antarkan orang atau barang, uang akan masuk ke dompet mereka. Apalagi didukung dengan mudahnya cara mendaftar sebagai ojek online. Cukup siapkan berkas yang dibutuhkan, dalam sehari saja, Anda sudah aktif menjadi ojek online.

Membludaknya pendaftar ojek itu ternyata mengingatkan kita akan sebuah gelembung. Gelembung itu awalnya kita tiup perlahan. Awalnya memang kecil, namun perlahan ia menjadi besar. Semakin kita tiup, ia akan semakin membesar berkali lipat dari sebelumnya. Lantas, saat sudah sangat besar, apa yang terjadi? Iya, meletus. Dan hilanglah gelembung yang sudah ditiup itu.

Fenomena itu tampaknya bisa saja terjadi pada layanan ojek online. Hari ke hari pendaftar ojek online seakan tidak ada habisnya. Bila dalam satu hari saja antrian pendaftar ojek online bisa menyentuh ratusan orang.

Fenomena itu tampaknya bisa saja terjadi pada layanan ojek online. Hari ke hari pendaftar ojek online seakan tidak ada habisnya. Bila dalam satu hari saja antrian pendaftar ojek online bisa menyentuh ratusan orang, lantas ada berapa ojek online yang aktif dalam satu kota?

Mengapa bisa demikian? Penelusuran dari salah satu petugas ojek mungkin bisa jadi alasan. Bulan-bulan sebelumnya, dia bisa mendapat banyak orderan dalam beberapa jam saja. Namun belakangan, jumlah order yang dia dapat tak seperti dulu. Padahal dia sudah berusaha menjaga performa. Kebersihan kendaraan, sikapnya pada penumpang, sudah diupayakan semaksimal mungkin. Tapi tak jua banjir order seperti yang dialami sebelumnya.

Keluhan diatas mungkin saja ada benarnya. Dengan menerima pendaftaran setiap hari, tentu semakin banyak ojek online yang aktif. Dengan arti, semakin banyak membuat orang beker;ja. Namun bila tidak ada peningkatan dalam hal pengguna, tentu berimbas pada order yang diterima ojek online.

Memang hal ini masih terlalu dini. Toh, buktinya pendaftar ojek online masih banyak. Namun saat kita tak waspada akan adanya kemungkinan atau ancaman seperti diatas, kiranya konflik atau gesekan antara perusahaan dan ojek online bisa diatasi. Wallahu a’lam.

Editor: Fathan Faris Saputro

Lorong Gelap Itu Bernama Autis (Bagian 3)

0

Memiliki anugerah anak istimewa memang merupakan kenikmatan hidup tersendiri. Banyak hikmah hidup yang Allah ajarkan kepada kami. Kini buah hati kami telah tumbuh dewasa, ia telah keluar dari lorong gelap yang bernama autis itu. Proses panjang nan pahit yang kami lalui untuk merawat dan mendidiknya, kini telah berbuah manis.

Kampusdesa.or.id—Bagaimana dengan program terapi perilaku dan biomedis? Program terapi perilaku dilakukan sebanyak dua kali seminggu dengan durasi 2 jam persesi. Karena hanya itulah kemampuanku membayar biaya terapi. Sebagai gantinya aku memperhatikan bagaimana Bu Erna memberikan terapi ke Wildan, bagaimana caranya berkomunikasi, bagaimana cara mengajarinya keterampilan semacam menggunting, mencocok dan bantu diri, serta bagaimana cara mengajarinya calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Untuk terapi biomedis ke dokter Sasanti tidak begitu lancar karena faktor biaya dan tenaga. Untuk faktor biaya dan suplemen yang diberikan sebenarnya masih terjangkau, tapi karena saraf rasa sakit Wildan tidak bekerja sebagaimana mestinya maka dia seringkali baru ketahuan kalau sakit saat penyakitnya sudah parah. Ke luar masuk rumah sakit sudah menjadi hal biasa.

“Di sekolah aku beberapa kali dilabrak oleh ibu-ibu wali siswa karena anakku dianggap tidak sopan dan mengganggu. Padahal Wildan tidak agresif asal tidak diganggu atau digoda”

Alhamdulillah perkembangan Wildan cukup bagus. Pada saat masuk ke RA, Wildan baru menjalani terapi selama 6 minggu. Di dalam kelas, dia tidak bisa duduk lama dan selalu bergerak ke sana kemari. Gurunya yang kebetulan adik kelas dan teman sekamar waktu sekolah di Kediri sangat sabar. Aku sering bertanya dan memberi masukan bila gurunya mengalami kesulitan. Aku betul-betul memantau perkembangannya: seberapa lama durasi konsentrasinya dan seberapa banyak perkembangan perbendaharaan kosa katanya. Di sekolah aku beberapa kali dilabrak oleh ibu-ibu wali siswa karena anakku dianggap tidak sopan dan mengganggu. Padahal Wildan tidak agresif asal tidak diganggu atau digoda.

Tahun 2005 Wildan masuk Madrasah Ibtidaiyah pada saat aku baru melahirkan anak ketiga. Aku tidak bisa mendampinginya di hari pertama masuk. Untungnya RA dan MI berada dalam satu lokasi sehingga guru-guru MI pun sudah tahu keadaan Wildan. Wildan digabungkan dengan teman-temannya di kelas yang jumlah muridnya sedikit sehingga sangat membantunya berkembang. Karena waktu itu terapisnya sudah membuka tempat terapi di Gogorante, Kediri maka Wildan harus ke sana untuk terapi. Terapi tetap dilakukan dua kali seminggu pada hari minggu dan hari lain menyesuaikan keadaan, maka dalam seminggu selalu ada bolos satu hari untuk menjalani terapi.

Puji syukur, semakin bertambah usia kemandiriannya juga semakin meningkat. Kelas dua Wildan sudah mampu sekolah sendiri dengan naik mobil jemputan sekolah. Suatu hari saat kelas 4 dia menyerahkan sebuah surat pemberitahuan,”Buk, jemputannya naik, aku sekarang naik sepeda saja biar irit”. Meski aku sangat kuatir karena jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh sekitar 3 KM, aku meluluskan keinginannya. Beruntungnya Wildan memdapatkan perlakuan yang baik dari teman-temannya. Guru-gurunya juga komunikatif, bila ada masalah aku selalu diberitahu. Wildan juga beberapa kali diikutkan kegiatan memperingati kemerdekaan atau dipilih mengikuti upacara memperingati Hari Pramuka di tingkat kecamatan.

Tahun 2011, saat Wildan duduk di MTs, aku mengirimkan rambutnya ke sebuah laboratorium di California untuk mengetahui kadar toksin dalam tubuhnya. Kenapa baru tahun 2011 tes toksinnya? Karena saat awal terapi biaya tes toksin sangat mahal. Sebenarnya yang mahal bukan biaya labnya tapi lebih ke biaya kirim sebab tidak ada barengannya. Pada tahun tersebut biayanya cuma $ 100 karena biaya kirim ditanggung banyak orang.  Ternyata hasil lab yang kami terima cocok dengan perkiraan dokter, Wildan keracunan lead (timbal hitam). Dan kadarnya sangat tinggi yaitu tiga kali lipat dari ambang batas maksimal yang diperbolehkan. Darimana lead itu bisa masuk ke dalam tubuhnya? Entahlah aku tidak tahu, bahkan dokter pun tidak bisa memprediksi apakah racun itu memapari tubuhnya saat masih di dalam kandungan atau ketika sudah lahir.

“Setelah melalui berbagai terapi, berbagai peristiwa yang mengharu biru, kami bisa sampai pada keadaan ini. Dan Wildan mulai mewujudkan cita-citanya yang lain daripada yang lain, menjadi supir truk”

Kini Wildan sudah berusia 21 tahun, sudah lulus aliyah dan sedang belajar bekerja. Dia sudah bisa menyetir truk meski belum berani di jalan raya yang lalu lintasnya sibuk. Dia sangat tertarik dengan mesin mobil. Jenis truk merupakan kendaraan yang disukainya untuk diutik-utik. Puji syukur, setelah melalui berbagai terapi, berbagai peristiwa yang mengharu biru, kami bisa sampai pada keadaan ini. Dan Wildan mulai mewujudkan cita-citanya yang lain daripada yang lain, menjadi supir truk. Sebuah cita-cita yang mungkin tidak pernah ada di benak siapapun karena supir truk itu bukanlah cita-cita yang bergengsi.

“Intervensi sedini mungkin sangat dibutuhkan agar anak bisa berkembang dengan baik. Aku juga berencana mendirikan tempat terapi yang dapat membantu anak kebutuhan khusus berkembang”

Setelah melalui lorong gelap penuh perjuangan baik fisik maupun psikis rasanya seperti sebuah mukjizat yang kami terima dari Allah SWT, yang selalu memberi kekuatan dan jalan di setiap halangan yang kami hadapi. Sebagai rasa syukur, aku selalu berusaha mensosialisasikan kepedulian terhadap tumbuh kembang anak agar bisa segera didiagnosa bila ada gejala-gejala yang mengindikasikan anak mengalami gangguan perkembangan. Intervensi sedini mungkin sangat dibutuhkan agar anak bisa berkembang dengan baik. Aku juga berencana mendirikan tempat terapi yang dapat membantu anak kebutuhan khusus berkembang. Syukur-syukur bisa bersekolah di sekolah reguler dan menjalani kehidupan seperti kehidupan orang-orang pada umumnya. Semoga aku mampu melewati lorong kedua ini. Aamiin.

Jadi Penulis itu Mudah, Tips Jitu Dr. Ngainun Naim

0

Banyak orang mengikuti berbagai pelatihan menulis, namun tak satupun buku dihasilkan. Penyebab utamanya tak lain karena sepulang dari pelatihan tersebut, tak ada tindak lanjut dari yang bersangkutan. Ilmu kepenulisan yang didapat selama pelatihan menguap dan hilang entah kemana. Bagaimana membongkar permasalahan laten ini?

Tak sedikit orang yang bertanya bagaimana tips dan trik menjadi penulis best seller yang karya-karyanya dibaca banyak orang. Tapi anehnya, begitu disodorkan tantangan untuk mulai menulis, mereka ogah-ogahan. Akibatnya, tetap saja tak ada satu karya pun yang dihasilkan. Menulis tetap menjadi hal yang sulit, bahkan mustahil bagi mereka.

Problem inilah yang hendak dibongkar Ngainun Naim pagi ini (Sabtu/31/08) di Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung Malang. Ketua LP2M IAIN Tulungagung ini mengajak para peserta Sekolah Jurnalistik terlebih dahulu untuk menyelesaikan permasalahan diri yang kerap menjadi hambatan dalam menulis.

Dengan diselingi guyonan khasnya, ia menuturkan bahwa ada 4 (empat) permasalahan pokok yang dihadapi oleh orang belajar menulis. Pertama, problem psikologis. Misalnya perasaan malu, takut, dan khawatir saat tulisan dibaca orang lain lalu mendapatkan ejekan, kritik, dan saran.

“Jangan mikir apa yang mau ditulis. Tapi tulislah apa yang ada di pikiran. Seharusnya jika kita berbicara lancar, maka menulis juga harus lancar”

Kedua, bingung mau nulis apa. Sebagian besar orang sibuk memikirkan ide dulu, baru setelah itu menulis. “Ini namanya kebalik. Jangan mikir apa yang mau ditulis. Tapi tulislah apa yang ada di pikiran. Seharusnya jika kita berbicara lancar, maka menulis juga harus lancar” papar doktor alumni UIN Yogyakarta ini.

Ketiga, mindset (setting pikiran). Misalnya anggapan menulis itu sulit. Maka, Anda akan menganggap bahwa menulis itu tidak mungkin untuk dilakukan.

“Umumnya orang berkata “Aku ra bakat nulis”. Menulis itu gampang. Yakinkan dalam diri, ubah pikiran negatif itu ke postif. Jika ada orang berkomentar jelek, yakinlah bahwa dia bukan penulis. Komentator itu cirinya kalau ngoncek’i, pinter tapi praktik sendiri nggak bisa.”

Keempat, jam terbang. Menulis itu keterampilan. Jika mau terampil, maka harus terus diasah melalui latihan.

“Mengapa menulis terasa sulit? Karena belum terbiasa, belum punya jam terbang. Semakin sering kamu menulis, maka akan semakin terampil”

“Mengapa supir bus bisa lihai? Karena jam terbangnya tinggi. Begitupun menulis. Mengapa menulis terasa sulit? Karena belum terbiasa, belum punya jam terbang. Semakin sering kamu menulis, maka akan semakin terampil. Menulis jangan seperti kerja rodi. Langsung 3 jam berturut-turut. Yang penting istikamah.”

Untuk mengatasi semua permasalahan tersebut, yang diperlukan adalah komitmen. Komitmen untuk terus belajar menulis. Selanjutnya, teman masa kecil dari Rektor Kampus Desa ini memberikan empat tips mudah menulis bagi pemula.

“Ketika menulis, tulis saja jangan dibaca, tulis terus apa yang ada di pikiran. Setelah itu diamkan. Jangan menulis sambil ngedit. Jangan menulis sambil dibaca. Nulis adalah nulis”

“Pertama, carilah ide yang menarik di pikiran Anda. Biasanya, setiap disuruh menulis, orang selalu muncul pertanyaan; menulis apa? Ya apa-apa bisa ditulis. Teman sekitar, sekolah, tugas, dan sebagainya. Kedua, ikat ide itu. Buatlah catatan tentang ide yang muncul. Ide itu kuncinya segera ditulis, jangan dibiarkan, nanti hilang. Kalau mau menulis, modalnya rajin mencatat apapun. Jangan berpikir soal uang. Yang penting punya tulisan dulu, terkenal itu mengikuti. Ketiga, hilangkan rasa takut, malu, atau khawatir tidak sesuai ejaan. Ketika menulis, tulis saja jangan dibaca, tulis terus apa yang ada di pikiran. Setelah itu diamkan. Jangan menulis sambil ngedit. Jangan menulis sambil dibaca. Nulis adalah nulis. Keempat, edit tulisan itu. Kapan ngeditnya? Tidak harus seketika itu. Ngedit itu waktunya harus terpisah dengan menulis” paparnya.

Peserta kemudian diberi tugas menuliskan tentang Pesantren Rakyat Al-Amin sesuai dengan ide yang ada di dalam otak masing-masing. Tulisan peserta akan dicetak ke dalam buku antologi. Kegiatan yang diikuti 25 orang dari berbagai latar belakang ini akan berlanjut hingga besok (Minggu/1/09).

Opsi Pinjaman Untuk Mahasiswa, Bisakah Mengatasi UKT Mahal?

0

Bulan Agustus ini sepertinya jadi bulan yang cukup ramai. Tidak hanya soal peringatan kemerdekaan negara, hal lain yang bikin ramai adalah soal pendidikan tinggi. Khususnya soal besaran biaya kuliah. Istilah yang dipakai sekarang adalah UKT.  Kenapa soal UKT jadi ramai saat ini?

Kampusdesa.or.id- Soal UKT menjadi polemik karena banyak pihak menganggap besarannya semakin tinggi. Sebagian pihak orang tua mahasiswa merasa terbebani. Banyak pihak merasa besaran UKT yang wajib dibayar tak sesuai dengan penghasilan yang diperoleh. Apalagi beberapa kampus belum menerapkan proses wawancara dan survei langsung ke rumah mahasiswa bersangkutan.

Nampaknya ide itu kurang lebih sama dengan program yang ada di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan daratan Eropa. Bahkan negara tetangga seperti Singapura punya program seperti itu. Merry Riana adalah contohnya.

Melihat gelagat yang demikian ramai, ada usulan menarik dari presiden Jokowi. Tahun kemarin, presiden mencoba untuk memberi ide pinjaman kepada mahasiswa. Beberapa media massa juga mengabarkan bahwa presiden mulai menghubungi pihak perbankan yang ada untuk mengkaji ide itu. Nampaknya ide itu kurang lebih sama dengan program yang ada di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan daratan Eropa. Bahkan negara tetangga seperti Singapura punya program seperti itu. Merry Riana adalah contohnya.

Program pinjaman ini, biasa disebut student loan, sepertinya bukan pertama kali ada di Indonesia. Keterangan dari dosen saya, beliau pernah mempunyai teman yang meminjam untuk keperluan perkuliahan. Pinjaman itu didapatkan pada masa Order Baru yang mempunyai nama program Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI). Mahasiswa bisa mencairkan pinjaman itu, dengan ganti ijazah ditahan begitu mereka selesai kuliah. Ijazah bisa diambil saat pinjaman mereka telah lunas.

Namun, program ini bukannya tak mempunyai kekurangan. Pasalnya, banyak peminjam yang belum bisa mengembalikan pinjamannya. Ada yang pekerjaannya belum cukup untuk melunasi pinjamannya. Ada pula yang sudah lama belum mempunyai pekerjaan. Hasilnya, pelunasan peminjaman menjadi semakin lama.

Program pinjaman seperti ini sebenarnya cukup bagus untuk mengatasi UKT yang semakin mahal. Mahasiswa bisa melatih diri bagaimana bertanggung jawab terhadap dana perkuliahan.

Program pinjaman seperti ini sebenarnya cukup bagus untuk mengatasi UKT yang semakin mahal. Mahasiswa bisa melatih diri bagaimana bertanggung jawab terhadap dana perkuliahan. Selain itu, mahasiwa bisa terlatih bagaimana cara bertahan hidup di tempat mereka belajar. Tentu mereka harus bertanggung jawab karena mendapat pinjaman.

Namun banyak pihak juga sepenuhnya menolak program ini. Alasannya, program ini adalah bentuk privatisasi pendidikan. Selain itu membuat mahasiwa jadi sapi perah. Mereka diperah sedemikian rupa demi berusaha mengembalikan pinjaman.

Perlu kajian mendalam soal program ini. Butuh sistem dan mekanisme yang jelas dan terarah. Banyak yang harus dilibatkan agar kedepannya tidak terjadi hal-hal yang buruk. Apalagi menyangkut nasib sekian banyak mahasiswa.

Tapi, dengan adanya program ini, setidaknya mahasiwa bisa mengelak dari pertanyaan kapan nikah. Boro-boro nikah dan punya rumah. Lulus kuliah saja masih berusaha lunasi utang di kampus.

Editor: Fathan Faris Saputro

Sarana Pendidikan yang Megah atau Nyaman untuk Anak?

0

Kemegahan gedung identik dengan mahalnya biaya sekolah. Namun, benarkah anak-anak menyukainya, atau sebenarnya anak tidak butuh gedung megah, tetapi tempat yang nyaman untuk belakar mengembangkan diri. Kalau gedung mewah hanya sebagai penjara anak-anak bahagia, lantas apa artinya biaya mahal tetapi anak-anak terhimpit kreatifitasnya.

Kampusdesa.or.id–Dalam merancang tempat belajar anak-anak, saya selalu ingin mereka bisa berkegiatan disuatu tempat nyaman, enak dan bisa tahan lama-lama dan menikmati prosesnya, maka saya tertarik tempat belajar yang serasa galery atau caffe yang tentu lebih akan beda saat mereka berproses bersama.

Ada banyak sekali sekarang hadir kemegahan bangunan bahkan melebihi mall, namun sayang di sana menjadi tempat yang lebih repot dengan penampilan, melupakan proses yang enjoy, penuh tekanan dan meremehkan isi yang akan diusung. Jeritan anak-anak yang hengkang dari sekolah mall tersebut. Bahkan mengumbar kebencian yang dalam dalam di hatinya, ungkapan sekolah sabagai tempat yang selalu mengada-adakan kegiatan, menarik biaya semaunya dengan program yang diada-adakan ” Itu sekolah hanya memeras ayah dan Ibu saya saja pak.” Wah, ungkapan emosional anak yang menyuarakan, beberapa temannya yang masih setia tinggal karena ketidakberdayaannya.

Sedih sekali.

Proses pendidikan yang mestinya mengedepankan silaturahim, menjunjung etika dilalap habis oleh ambisi dan malasnya berproses, potong kompas mengangkut guru dari sekolah A diiming-iming kesejahteraan lebih di sekolah B kerap terjadi, sabotase karyawan atau tenaga yang dulu saya alami di dunia kontraktor, sekarang menjadi biasa di Pendidikan, demi mudahnya dapat SDM.

Terus apakah orang tua pembelajar bisa maklum akan hal ini ?

Apakah mereka bisa cuek dengan adab yang seperti ini dan memasrahkan anak-anaknya masuk dalam lingkaran sistem dan pendidikan yang dimulai dengan “aib” kekonyolan proses.

Semoga orang tua, akan semakin sadar, jangan hanya melihat kemewahan yang ada, namun teliti dan cari tahu lebih jauh,

Semoga orang tua, akan semakin sadar, jangan hanya melihat kemewahan yang ada, namun teliti dan cari tahu lebih jauh, dan cecar banyak pertanyaan yang bisa menjadi MOU atau akad yang kolaborasi yang baik, saat anak Anda menjadi mitra didik mereka.

Semoga hanya tidak akan banyak lagi tangisan orang tua, tangisan dan teriakan anak-anak yang haknya terampas, bahkan tertipu oleh jebakan pendidikan yang mengesampingkan peran keluarga.

Selamat pagi.

Semoga hari minggu ini membuat kita makin sadar dan semangat dalam mengawal buah hati kita menjadi pribadi yang bermanfaat kelak

aamiin

Pasukan Gus Dur Jaga Keamanan Asrama Mahasiswa

0

kampusdesa.or.id–Saat banyak pihak yang kesulitan berkomunikasi dengan mahasiswa Papua penghuni Asrama Mahasiswa Papua di Jl. Kalasan Surabaya pasca-bentrok terkait insiden patahnya tiang bendera, pihak Banser Surabaya berhasil berkomunikasi dengan penghuni asrama. Bahkan, saat ini, pihak Banser menjaga asrama tersebut. Berdasarkan pengakuan Ketua Ansor Cabang Surabaya, Gus Faridz Afif, Banser dianggap oleh penghuni asrama Kalasan sebagai pasukan Gus Dur.

Gus Afif menyatakan, “bagi kami mahasiswa dan warga Papua adalah saudara se bangsa dan se-tanah air. Siapapun yang menganggu mereka, berarti mengganggu kita. Siapapun yang menyakiti mereka, berarti menyakit kita.”

Lebih lanjut Gus Afif menyatakan bahwa Ansor Banser Surabaya tidak terlibat pada aksi saat di asrama Mahasiswa. “Itu bertentangan dengan prinsip dan ajaran kami sebagai santrinya Gus Dur. Beliau mengajarkan kepada kami semua untuk selalu melakukan pendekatan kemanusiaan dalam menyelesaikan konflik apapapun.”

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Yaqut Cholil Qoumas mengaku telah menginstruksikan seluruh kader Barisan Serbaguna (Banser) untuk mengamankan dan menjaga asrama mahasiswa Papuadi seluruh Indonesia.

Hal itu menyusul adanya insiden pengepungan yang dilakukan pihak tertentu di asrama mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu sehingga bedampak pada kerusuhan yang meluas di Papua (AZH).

Berkata Positif Pada Anak

0

Menyusun kalimat positif menjadi senjata pengasuhan anak akan menjadi kebiasaan jika kita menyadari bahwa kata-kata negatif telah menciptakan jejak mental yang tidak baik pada anak. Namun, kata negatif itu seperti tak banyak direfleksikan sebagai bahaya karena kita menganggap baik ketika diukur dari kepentingan orang tua. Nah, kata positif hanya dapat menjadi tabungan masa depan jika orang tua sadar diri, bahwa kata negatif yang dianggap baik, telah melahirkan kepatuhan tetapi meninggalkan luka. Bagaimana dengan Anda.

kampusdesa.or.id–Siapa bilang jadi orang tua itu susah? Di dunia ini tidak ada yang sulit jika dijalani dengan ikhlas begitu pun dalam hal mewujudkan keluarga hebat. Keluarga hebat? Seperti apa sih?

Beberapa keluarga, khususnya kepala keluarga atau sosok ayah, ada yang hanya memiliki pemikiran, “yang penting bisa memenuhi kebutuhan anak istri dan orang tua.” Namun tidak sedikit orang tua yang berpikir,“ anakku harus lebih hebat dariku, harus lebih sukses.”

Kecenderungan yang ke dua lebih kental ada di kehidupan masyarakat modern dan asing. Bagaimana bisa?

Perhatikan hal-hal remeh berikut:

“Nak, kok nilai matematika kamu enam puluh. Jangan kalah dong sama bla bla bla …,”

“Ayo main mobil-mobilan, masa’ kalah sama anak itu, dia kecil loh …,”

“Jangan mainan itu ya, nanti baju kamu kotor semua …,”

Saya curiga, ukuran “normal” hanya sebagai standar yang diciptakan manusia atas asas mayoritas.

Tidakkah para orang tua sering kecewa dan berkata demikian kepada anak-anaknya? Padahal tiap anak memiliki kemampuan yang berbeda, hobi yang berbeda, keinginan yang berbeda, tidak berdasarkan ukuran normalnya atau wajarnya. Saya curiga, ukuran “normal” hanya sebagai standar yang diciptakan manusia atas asas mayoritas. Baiklah, mungkin ini PR besar untuk orang tua agar tidak menanggap anak tidak normal ketika tidak melakukan hal seperti anak-anak lainnya.

Jika demikian, hal seperti apa yang seharusnya diucapkan kepada anak? Sangat mungkin bagi orang tua mengganti beberapa kalimat di atas dengan kalimat yang memberi penghargaan kepada anak.

“Nanti belajar lagi ya, pasti bisa. Adik kan cerdas. Oke, Sayang?”

“Mau main mobil-mobilan? Adik kan pemberani, nanti ayah temani ya?”

“Suka mainan ini ya? Setelah main dibersihkan ya, Adik kan bertanggung jawab.”

Nah, para orang tua yang sangat saya banggakan. Tidak mudah memang berlaku demikian. Tetapi itulah konsekuensi sebagai orang tua. Bukan men-judge anak, tetapi memotivasi anak.

Bandingkan kalimat di atas dengan seksama dan pikirkan respon anak. Tiga kalimat pertama memberikan respon negatif kepada anak. Dia akan berpikir “yah, aku dimarahin, aku dibanding-bandingin, aku dibatasin.” Ini adalah salah satu penghambat tumbuh kembang psikologis anak.

Namun, di tiga kalimat berikutnya, respon anak pasti positif. “Ya, kata ayah aku cerdas, aku kan pemberani, aku kan bertanggung jawab, aku pasti bisa.”

Jika memang ingin meluruskan kesalahan anak, biarkan ia tenang terlebih dahulu, baru bicara baik, sampaikan hal positif apa-apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Saya mengamati beberapa orang tua yang sedang di tempat umum bersama anaknya. Terkadang orang tua akan marah ketika anaknya tidak mau menurut. Ini tidak sedikit terjadi. Salah satu kebiasaan orang tua adalah menasihati anaknya setelah memarahinya. Ini benar, tetapi jangan menitikberatkan pada amarah. Sebagian besar anak tampaknya akan mendengar nasihat orang tua. Tetapi sebenarnya ia hanya takut karena dimarahi. Jika memang ingin meluruskan kesalahan anak, biarkan ia tenang terlebih dahulu, baru bicara baik, sampaikan hal positif apa-apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Pada dasarnya hubungan orang tua dan anak harus interaktif dan hangat. Salah satu penyebab buruknya hubungan anak dengan orang tua ketika dewasa adalah orang tua yang sejak kecil suka membandingkan anak-anaknya dengan saudara sendiri atau bahkan orang lain. Jadi, selalu berkata positif pada anak sejak dini menjadi hal yang penting.

Suara Seorang Mahasiswi Baru UNAIR Surabaya tentang “Gemetaran Memandang Salib”

0

Saya percaya bahwa perjumpaan dengan orang lain adalah pelajaran yang sangat berharga. Seringkali kebencian lahir dari ketidaktahuan. Ada orang yang begitu saja membenci orang Cina, padahal seumur-umur tidak pernah bersentuhan dengan orang Cina. Ada orang yang sangat membenci orang Nasrani padahal seumur hidupnya bahkan tidak pernah berkenalan dengan satu pun orang Nasrani (Katolik ataupun Protestan).

Kampusdesa.or.id- Dari mana kebencian ini lahir? Tidak ada kebencian terhadap kelompok tertentu yang merupakan bawaan lahir. Anak kecil akan berteman dengan siapa saja di sekitarnya. Ketika dia beranjak dewasa dan tiba-tiba memiliki kebencian pada kelompok tertentu, jelas itu karena hasil didikan yang dia terima. Anak kulit putih bisa bermain dengan anak berkulit hitam. Tapi mengapa saat dewasa mereka menjadi rasis? Anak dari keluarga Muslim bisa bermain-main dengan anak dari keluarga non-Muslim, lalu mengapa saat dewasa tiba-tiba saling membenci dan melukai?

Kebencian yang ada pada diri seorang anak adalah akibat didikan yang ditanam oleh lingkungannya. Seorang anak yang dibesarkan dan dididik dalam suasana kebencian, akan tumbuh di dalam dadanya perasaan benci. Seorang anak yang terus-menerus mendengar khutbah kebencian kepada suatu kelompok, dia akan tumbuh dengan kebencian itu kepada kelompok tertentu. Tak peduli apakah dia sungguh-sungguh tahu tentang kelompok tersebut atau tidak.

Bayangkan, ada seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tapi sangat membenci romo atau pendeta. Dari manakah perasaan benci itu lahir? Bisa dipastikan karena kebencian itu ditanamkan ke dalam dirinya oleh orang-orang di sekitarnya, mungkin orang tua atau gurunya. Ketika dia beranjak dewasa, dia akan menyimpan kebencian itu terus-menerus. Jika dia tetap berada di lingkungan yang sama, dia bahkan akan merawat kebencian itu sampai mati, tanpa alasan sedikit pun.

Di saat hampir semua lembaga riset memberi warning terkait fenomena radikalisasi di perguruan tinggi (yang paling mengejutkan banyak pihak adalah saat BNPT di tahun 2018 mengeluarkan data tentang radikalisasi di sepuluh perguruan tinggi negeri top di Indonesia, salah satunya UNAIR Surabaya), suara seorang mahasiswi baru Universitas Airlangga Surabaya sungguh seperti tetesan embun. Di saat banyak pihak yang menilai bahwa generasi milenial hanya tahu hura-hura dan pemikiran yang dangkal, suara si mahasiswi ini seperti membalik cibiran itu.

Dia berkisah bahwa dia terlahir dari keluarga yang sangat santri. Sekalipun demikian, sejak kecil dia sudah dibiasakan berjumpa dengan keragaman. Dia bahkan mengaku pernah didoakan seorang romo, teman ayahnya, agar menjadi anak shalihah. Rupanya pengalaman perjumpaan ini membuat dia tumbuh menjadi remaja yang tidak bisa menerima ada seorang ustadz yang ceramahnya begitu merendahkan keyakinan orang lain.

Saya salinkan apa adanya statusnya di akun instagramnya di sini:

“Papa saya Islam. Saya Islam, dan keluarga besar saya semua Islam. Papa dari keluarga kyai. Tapi papa sering mendapat panggilan mengajar di Gereja untuk memberi seminar, mengajar Romo-Romo baru, dan lain-lain. Sering juga saya bersama keluarga diajak ke Gereja untuk refreshing dan melihat-lihat seperti apa aktivitas orang-orang non-Muslim di gereja. Berkenalan dengan para Romo, didoakan untuk segera mengkhatamkan bacaan al-Qur’an dan bisa menjadi anak sholehah dan sukses membuat saya menjadi pribadi yang sangat menjunjung tinggi toleransi yang ada di Indonesia. Lihatlah bagaimana menerima kami yang bahkan bukan dari keyakinan yang sama. Apakah susah untuk hidup berdampingan bersama orang lain dengan latar belakang berbeda?

Islam tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap pemeluk agama yang lain. Islam tidak pernah memiliki ajaran mencela pemeluk agama lain.

Islam tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap pemeluk agama yang lain. Islam tidak pernah memiliki ajaran mencela pemeluk agama lain. Kalau memang melihat salib membuat orang menggigil karena ada setan yang ada di sana, saya bersama keluarga saya sudah dari kesurupan sambil kejang2 ga berhenti2 sampai sekarang.

Menjadikan Indonesia menjadi negara Islam. Dengan berkedok “Islam” kamu merasa semua hal buruk halal kau lakukan. Menjadi iblis paling kejam dengan menganggap dirimu paling suci.

Indonesia adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan semua sila-sila Pancasila lainnya. Memiliki hak-hak masing-masing tanpa perlu menyentil kenyamanan satu sama lain. Apakah harus mencuci orak orang-orang yang bahkan pemeluk agama yang sama untuk menjilati ambisimu sendiri, yaitu menjadikan Indonesia menjadi negara Islam. Dengan berkedok “Islam” kamu merasa semua hal buruk halal kau lakukan. Menjadi iblis paling kejam dengan menganggap dirimu paling suci. Kalau memang anda merasa seperti itu, hentikan aktivitas ibadahmu, segera pergi ke surga yg kau anggap punyamu sendiri”

Jadi, tak perlu terlalu khawatir tentang masa depan Indonesia. Masih ada pribadi-pribadi bersih dari kalangan anak muda yang sanggup berpikir jernih. Refleksi di atas hanyalah sebuah status di akun instagram. Bukan sebuah artikel ilmiah. Bukan pula ditulis oleh seorang dosen. Dia hanya refleksi kritis dari seorang mahasiswi baru Universitas Airlangga Surabaya.[]