Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 42

Masalah, Semakin Sukses Pertanda Teruji Sebagai Pemecah Masalah

0


Semakin sukses seseorang, tentu aneka pengalaman menghadapi masalah semakin kompleks. Pengalaman demikian tentu dihadapi oleh banyak orang. Tetapi ada yang terus menggerutu sehingga terbayang hidupnya penuh dengan masalah. Bagaimana menikmat masalah sebagai karunia dan kemudian dapat menyukurinya melampaui gerutu, mengeluh, dan caciian diri seolah tak pernah terpenuhi harapan kita.

Kampusdesa.or.id–Siapa sih di dalam hidup ini yang tidak pernah menghadapi masalah? Pasti setiap manusia pernah, sedang dan akan terus menghadapi masalah selama ia hidup di dunia. Setiap manusia pun dalam menghadapi masalah tentu berbeda-beda, sesuai dengan kapasitas kemampuannya. Bukankah, kata Allah, ‘Aku tidak akan menguji hambaKu melebihi kemampuannya’?

Perjalanan umur saya yang sudah 36 tahun ini, paling tidak sedikit membuktikan, berbagai masalah telah saya hadapi.

Jikalau saya ditanya, ‘Apakah Pak Azis pernah menghadapi masalah?’ Daripada tanya seperti itu, tanyakan saja umur saya sekarang, karena perjalanan umur saya yang sudah 36 tahun ini, paling tidak sedikit membuktikan, berbagai masalah telah saya hadapi. Bisa juga bertanya tentang gelar saya yang saya raih, itu setidaknya juga dapat membuktikan berbagai masalah yang pernah saya hadapi dan telah saya selesaikan.

Ada lagi pertanyaan, ‘Apakah masalah Pak Azis banyak?’, tidak usah ditanya begitu, tanyakan saja berapa jumlah anak saya. Yaa.., anak saya lima, sebanyak itulah masalah saya, bahkan lebih.

Saya berkeyakinan, setiap masalah pasti ada solusi dan penyelesaiannya. Karena itu, tidak perlu takut dalam menghadapi masalah, jika ia datang. Namun kalau ia tidak datang, juga tidak perlu mencari-cari masalah. Tetapi kebanyakan orang sebaliknya. Ketika ada masalah, bingung dan takut. Ketika tidak ada masalah, malah mencari-cari masalah dengan berbuat sesuatu hal yang menimbulkan masalah.

Karena itu, semestinya kita berhati-hati dalam hidup. Tidak ada ruginya berhati-hati. Ibarat berjalan di pinggir jalan raya, mesti waspada terhadap berbagai kemungkinan terjadi masalah, misalnya terpeleset, tersandung batu, terperosok jalan berlubang, terjatuh, terserempet, tertabrak dan lain sebagainya. Dalam kehidupan nyata pun begitu, jikalau kita tidak hati-hati, bisa saja terjadi hal buruk pada diri kita, yaitu ketika kita ditimpa masalah yang dapat membuat pikiran dan hati kita susah.

Semakin banyak masalah yang kita hadapi, sejatinya itu menunjukkan bahwasanya kita itu manusia yang kuat, karena tidak mungkin manusia yang lemah diberi masalah yang banyak.

Semakin besar masalah yang kita hadapi, itu hakikatnya menunjukkan bahwa level kita memang besar dan mesti diberi tantangan yang besar pula. Juga semakin banyak masalah yang kita hadapi, sejatinya itu menunjukkan bahwasanya kita itu manusia yang kuat, karena tidak mungkin manusia yang lemah diberi masalah yang banyak.

Andaikan saat ini kita sedang dihadapkan pada masalah yang dalam pandangan pikir kita tidak ada jalan keluarnya, entah itu masalah hukum, ekonomi, keluarga, teman, jodoh, pendidikan, anak, orang tua, penyakit, dan lain sebagainya, satu hal yang mesti kita ingat, ‘innallaha ma’asshoobirin’, Allah bersama orang-orang yang sabar. Bersabarlah, jangan putus asa. Pasrah dan terus berdoa kepada Tuhan, kalau perlu ditingkatkan ibadah sunnahnya, bisa membaca al-Qur’an, sholat dhuha, tahajud, hajat, witir, puasa dan lain-lain, agar diberi kemudahan dan solusi dari permasalahan yang kita hadapi.

Kita semestinya menyadari, ketika masalah datang. Misalnya kita terkena penyakit yang parah, hakikatnya adalah Allah sengaja menguji atau menghukum kita. Makanan yang lezat, keindahan dunia, kepuasan bercinta, kemewahan, kekayaan, jabatan yang mungkin kita miliki dan nikmati selama ini tak ada gunanya lagi, karena kita tak bisa menikmatinya.

Seharusnya membuat kita sadar, bahwa semua yang ada di dunia ini tidaklah kekal, semuanya akan lepas dan berpisah seiring perjalanan waktu. Agar kita bisa mengambil hikmah dengan masalah yang menimpa kita, menjadi arif, bijaksana dan dewasa dalam menyikapi kehidupan. Insyaallah.

Bisnis Gagasan, Tak Harus Kampusnya Bergedung

0

Sebuah surat elektronik melayang di email kami. Mereka akan datang mengunjungi Kampus Desa Indonesia. Apa yang kira-kira terbayang dibenak kita. Saya sendiri membayangkan mereka akan melihat proses pembelajaran di sebuah kampus, atau sistem yang dikembangkan di kampus desa seperti apa. Padahal kampus desa adalah kampus yang tanpa bangunan. Lalu apa yang bisa diperoleh dari kampus ini?

Kampusdesa.or.id–Sebuah surat elektronik melayang di email Kampus Desa. Surat itu berisi keinginan kunjungan (04 Maaret 2020) dari sebuah sekolah di Jember, Jawa Timur bernama Ar – Rahman Indonesia ke Kampus Desa. Para founder terhentak. Kami jelas tidak punya gedung dan kampus bergengsi. Apalagi akan ada psrjamuan layaknya sebuah studi banding di kampus mentereng yang dibayangkan mereka.

Kami ini bisnis gagasan. Menebar gagasan perubahan yang didasari oleh semangat autentik (asli/orisinil). Aneka sistem pendidikan yang berjalan lebih membelenggu daripada memerdekakan pembelajar. Oleh karena itu, Kampus Desa ada bukan bertumpu pada idealisme gedung menjulang yang menjadi pembatas belajar. Kampus Desa hadir dari sebuah gerakan belajar autentik. Proses belajarnya bukan dimulai dari sebuah sistem, tetapi dari kesadaran. Sistem mengikuti kesadaran, bukan sebaliknya. Buat apa bikin gedung jika kemudian hanya melahirkan pembatas dan pengisolasian manusia.

Kampus Desa ada bukan bertumpu pada idealisme gedung menjulang yang menjadi pembatas belajar. Kampus Desa hadir dari sebuah gerakan belajar autentik. Proses belajarnya bukan dimulai dari sebuah sistem, tetapi dari kesadaran. Sistem mengikuti kesadaran, bukan sebaliknya. Buat apa bikin gedung jika kemudian hanya melahirkan pembatas dan pengisolasian manusia.
Nah, mendapat kunjungan ini pun meski kami agak grogi dan galau, bukan mengenai tempat atau unjuk gedung megah, tetapi mengenai ekspektasi mereka yang perlu ditekuk menjadi kesadaran autentik. Jika urusan tempat menjamu mereka, di Malang banyak tempat co-working. Kami bisa gunakan sesuai selera. Tapi sebuah cara pandang bagaimana orang yang studi banding ini menjadi sekumpulan pelaku menejemen menjadi bisa terbuka dalam kesadaran baru. Termasuk dunia pendidikan sekalipun.

Kami pastikan, bahwa Kampus Desa adalah bisnis gagasan yang bersifat kewirausahawanan sosial. Gagasannya ada di transformasi. Kami memiliki beberapa ahli dengan latar-belakang profesi yang berbeda. Ada edukator, ilmuan psikologi, praktisi, pebakat, inisiator, bahkan orang yang ingin meniti perubahan. Ruang belajar dalam setumpuk pengalaman baiklah yang kami transformasikan sehingga yang utama adalah perjumpaan yang saling terbuka untuk menginspirasi. Rekaman baik yang kami distribusikan ke orang lain di seputar pendidikan autentik bisa kami narasikan menjadi inspirasi perubahan. Kami tidak akan membuat tempat kulian calon sarjana pendidikan yang terlalu berpaku pada sistem kaku pendidikan. Kami justru memberikan pengalaman baik pendidikan alternatif yang memanusiakan.

Rombongan Yayasan Ar-Rahman Indonesia besama founder Kampus Desa Indonesia. Lokasi: Sarijan Caffe
Toh, banyak sarjana pendidikan yang diluluskan, pun tidak mengubah pendidikan itu sendiri. Buktinya Nadiem Makarim telah banyak mengajukan aneka perubahan mendasar tentang pendidikan. Sedangkan guru masih kebingungan merancang gagasan merdeka belajar. Padahal sarjana pendidikan yang jadi guru melimpah. Maka, kami tidak akan menyuguhkan sejumlah sistem penyelenggaraan pendidikan yang mapan. Namun, kami akan memberikan ide dan pengalaman baik itu menjadi inspirasi perubahan.

Di sinilah Kampus Desa kemudian menyuguhkan kepada para orang yang ingin menemui kami (stakeholder) dengan gagasan inspiratif tersebut. So, kunjungan mereka mirip seperti diskusi interaktif menemukan pencerahan bersama. Kita pada akhirnya saling menemukan kesadaran baru tentang autentisitas. Selama ini, para pemangku pendidikan Al-Rahman Indonesia seperti merasa bersalah yang dilakukan karena kita tak membelajari berdasarkan fitrah anak (potensi kuat anak). Ini terbukti anak-anak yang masuk jurusan di SMK tidak selamanya mereka menjiwai jurusannya. Sekolah ternyata abai. Padahal anak-anak yang memiliki keragaman bakat, tidak harus diseragamkan. Mereka dapat dibangkitkan minat belajarnya dari keinginan kuatnya. Setiap anak adalah emas dan punya jalan untuk mencapai keemasan. Itulah sekelimut pencerahan pertemuan kami.

Kami percaya, jika para pemangku sekolah ini terinspirasi dan berani melakukan perubahan, niscaya sistem akan mengikuti manusianya. Mereka adalah tonggak dari keberanian untuk mengubah sistem.
Pencerahan singkatnya, pertemuan ini menginspirasi para penyokong utama sekolah ini. Kebutuhan pelatihan dan lain-lain tidak dibutuhkan saat ini. Kami percaya, jika para pemangku sekolah ini terinspirasi dan berani melakukan perubahan, niscaya sistem akan mengikuti manusianya. Mereka adalah tonggak dari keberanian untuk mengubah sistem. Banyak orang tercerahkan tetapi tidak didukung oleh keramahan sistem, akahirnya tak banyak mengubah pendidikan.

Disepahami dalam diskusi tersebut, kalau inspirasi dan semangat sudah menjadi mental potensial, maka akan ada saja jalan yang bisa ditempuh untuk melakukan perubahan. Seorang dari tamu yang mempunyai wewenang bertanggungjawab atas masa depan sekolah langsung menyahut, “setelah ini kita butuh mengubah visi dan misi sekolah.”

Kami pun saling bersemangat sembari mengakhiri diskusi dengan saling tercetahkan dan tumbuh semangat baru. Bisnis gagasan Kampus Desa adalah cara menemukan antara pengalaman baik yang kami himpun dari banyak jaringan, lalu kita masukkan ke semangat perubahan dan inspirasi bagi orang lain untuk ditiru dan disebarluaskan.

Apakah Anda rombongan berikutnya, silahkan kontak admin kami.

Geregetan

0


Bro, pimpinanmu tak menganggap saranmu baik. Alih-alih mendengarkan saran atau mendiskusikan, dikau justru dihujat dengan penuh curiga. Ruang dialog menjadi cercaan dan kecurigaan. Pernah bro, mengalami situasi seperti itu. Ini nasihat bijak yang butuh sekilas dibaca.

Kampusdesa.or.id–Sahabatku yang pertama sudah dapat pekerjaan baru, namun dia ada sedikit masalah dengan Pimpinannya.

“Sumpah aku geregetan Mas Broo, gara-gara Pimpinanku bicara yang tidak-tidak dan sangat menyakitkan hatiku. Padahal niatku itu baik, yaitu usul agar lembaga ini bisa lebih baik lagi di masa mendatang. Eehh malah Pimpinanku salah paham dan mencurigaiku yang tidak-tidak,” keluh sahabatku yang pertama kepada sahabatku yang kedua.

Sahabatku yang kedua menjawab, “Sabarlah Broo…, gak usah diambil hati, nanti malah membuatmu sumpek sendiri.”

Sahabatku yang pertama menanggapi, “Pokoknya mulai sekarang aku gak peduli lagi. Biarin saja lembaga ini rusak ya rusak saja. Saya usul dengan niat baik agar lembaga ini tidak rusak kok malah dikata-katain jelek. Yaa sudah, yang penting aku menjalankan tugasku saja dengan baik, diam saja dan pasif. Dan kalau ada apa-apa dengan lembaga ini, jangan salahkan saya. Saya sudah memperingatkan sebelumnya, bukannya malah senang saya bantu, justru malah menjelekkan saya.”

Sahabatku yang kedua menjelaskan, “Jangan bersikap begitu Broo, andaikan lembagamu rusak, sesungguhnya sampean juga akan terkena imbasnya juga. Sampean akan ikut rusak juga. Karena sampean bekerja di situ. Ibarat melihat bara api yang sedang menyala, sampean tidak berusaha memadamkan malah tak peduli, suatu ketika sampean ikut terbakar juga jika api itu membesar.

Diam saja, gak usah berdebat dan melawan dengan Pimpinan, itu lebih baik buat sampean. Duduk manis dan diam lalu lakukan tugasmu sebaik mungkin. Namun sampean mesti tetap menjaga dan berbuat sesuatu yang terbaik agar lembaga ini tidak sampai hancur

Diam saja, gak usah berdebat dan melawan dengan Pimpinan, itu lebih baik buat sampean. Duduk manis dan diam lalu lakukan tugasmu sebaik mungkin. Namun sampean mesti tetap menjaga dan berbuat sesuatu yang terbaik agar lembaga ini tidak sampai hancur dan rusak, meski itu bukan kewajiban utama sampean. Tak usah banyak bicara namun lakukan saja hal-hal yang baik itu secara diam-diam. Diketahui atau tidak, dihargai atau justru malah dimusuhi tak perlu sampean risau.

Yakinlah, setiap perbuatan sekecil apa pun pasti ada balasannya. Dan hilangkan rasa geregetan di hatimu dengan merubahnya menjadi rasa woles aja. Jangan mudah baper deh. Hari gini masih suka baper…, mending sampean resign aja dari pekerjaan, menyepi di tengah hutan. Tak usah bersosialisasi dengan manusia, pasti gak ada yang bikin geregetan.”

Sahabatku yang pertama menjawab, “Siap Mas Bro, terimakasih saran-sarannya.”

Total Quality Management

0

Kata manajemen dalam TQM berlaku bagi setiap orang, sebab setiap orang dalam sebuah institusi pendidikan, apapun status, posisi, jabatan dan kedudukannya adalah manajer bagi tanggung jawabnya masing-masing, termasuk petugas security sekali pun. Untuk menerapkan TQM, setidaknya harus konsisten melaksanakan lima prinsip.

Kampusdesa.or.id–Total Quality Management (Manajemen Mutu Terpadu) merupakan suatu keinginan untuk selalu mencoba mengerjakan sesuatu dengan baik sejak awal. Kata total (terpadu) dalam TQM menegaskan bahwa setiap orang yang berada dalam lingkungan sekolah atau civitas akademika harus terlibat dalam upaya melakukan peningkatan dan pengembangan institusinya secara berkala.

Kata manajemen dalam TQM berlaku bagi setiap orang, sebab setiap orang dalam sebuah institusi pendidikan, apapun status, posisi, jabatan dan kedudukannya adalah manajer bagi tanggung jawabnya masing-masing, termasuk petugas security sekali pun.

Ada lima prinsip yang harus konsisten diwujudkan dalam TQM, yaitu:

Pertama, continuous improvement.

Pertama, continuous improvement, artinya prinsip perbaikan secara terus menerus. Institusi pendidikan akan berjalan baik manakala ada perbaikan dan pengembangan dari semua lini dan unsur, tidak hanya terpaku pada satu elemen saja. Misalnya, hanya guru dan dosen yang senantiasa mendapatkan perhatian penuh sementara elemen lainnya kurang mendapatkan perhatian yang pada akhirnya mereka tidak maksimal menjalankan tugas pokok dan fungsinya karena kurang diperhatikan.

Kedua, quality assurance.

Kedua, quality assurance, artinya konsep menentukan standar mutu. Institusi pendidikan harus punya standar mutu lulusan yang akan dicapai, misalnya target lulusannya mampu menembus lapangan pekerjaan tingkat nasional bahkan internasional.

Ketiga, change of culture.

Ketiga, change of culture, artinya mempunyai konsep membentuk budaya organisasi yang menghargai mutu dan menjadikan mutu sebagai orientasi semua komponen organisasi. Tidak sedikit, keluarga besar pendidikan dan civitas akademika kurang memperhatikan mutu lulusannya. Prinsipnya, yang penting mereka bekerja tanpa memperhatikan mutu lulusannya.

Keempat, upside-down organization.

Keempat, upside-down organization, artinya mempunyai prinsip perubahan organisasi. Visi misinya barangkali sudah lawas yang perlu ada perubahan karena kurang relevan terhadap perkembangan pendidikan saat ini. Misalnya tidak sedikit pesantren yang tidak mau mengubah visi misinya, nyaris gulung tikar, hingga pengasuhnya turba (turun ke bawah) menemui alumninya, meminta putra-putrinya untuk dimondokkan di pesantrennya karena santrinya hanya tinggal beberapa santri saja, padahal pesantren tersebut terbilang pesantren besar dan mempunyai ribuan santri.

Kelima, keeping dose to the customer.

Kelima, keeping dose to the customer, artinya mempunyai prinsip mempertahankan hubungan dengan pelanggan. Institusi pendidikan baik pesantren ataupun perguruan tinggi menghendaki kepuasan pelanggan, maka penting kiranya menjaga dan memelihara hubungan dengan para pelanggan pendidikan. Beberapa pondok pesantren ternama mempunyai jaringan alumni pesantren misalnya Sidogiri ada IASS, Sukorejo ada IKSASS, Lirboyo ada HIMASAL, Beddian ada ISBAD. Semua itu, tujuan utamanya menjaga dan mengikat jalinan dengan para pelanggan pendidikan agar tidak jatuh hati pada ‘pedagang’ pendidikan lainnya.

Jika kelima prinsip dalam TQM tersebut dihubungkan antara satu dan lainnya, maka akan terlihat, bahwa di dalam TQM ini terkandung misi besar untuk memusatkan manajemen pada upaya menggerakkan para stakeholder agar memberikan pelayanan prima kepada para pelanggan pendidikan dalam hal ini santri, siswa, mahasiswa dan walinya.

Salam.

Dr. Saeful Kurniawan, M.Pd.I.

Belajar dari Konflik Islam dan Hindu di India

0

Tindak kekerasan dan communal violence yang terjadi di India tentu tidak bisa dijadikan alasan sebagai pembenar tindakan aksi membakar bendera negara lain, sweeping, maupun memutus hubungan diplomatik. Lantas apa bedanya? Jika kita juga ikut menyikapi atau menanggapi peristiwa itu dengan tindakan serupa ekstrimisme pula, bukannya menyelesaikan masalah, namun mengkloningnya menjadi permasalahan baru.

Kampusdesa.or.id–Sekitar tiga minggu yang lalu, saya mendapat kiriman tautan video Youtube dari kawan asal Pakistan terkait kasus penyerangan terhadap seorang pemuda Muslim India bernama Mohammad Zubair (37) sepulang dari masjid. Tak hanya itu, saya juga mendapat kiriman video lain, mulai bentrokan massa hingga pembakaran masjid-masjid. Sikap saya tentu tidak langsung percaya begitu saja. Hal-hal semacam ini cukup sensitif, maka perlu sikap hati-hati dalam mendiskusikannya di ruang publik. Karena saya punya teman sekampus dari berbagai latar belakang agama yang berbeda. Pun pula, di kampus tempat saya belajar, saya cukup akrab dengan beberapa mahasiswa dari luar negeri, khususnya India.

Saya mencoba ber-tabayyun kepada teman-teman yang aktif pada isu-isu kemanusiaan serta teman saya yang sedang belajar di India. Hal itu pernah saya lakukan sebelumnya saat kawan saya menunjukkan video konflik Kashmir antara Pakistan dan India pertengahan tahun lalu. Rupanya video yang viral itu benar adanya. Penyerangan terhadap umat Islam di New Delhi merupakan rangkaian peristiwa bentrokan yang terjadi sejak Ahad (23/2/2020) di tiga area yang ditempati mayoritas masyarakat Muslim, berjarak sekitar 18 kilometer dari New Delhi.

Berbagai media memberitakan apa pemicu dari perselisihan tersebut. Ternyata bentrokan ini dipicu serangan terhadap kelompok Muslim yang menolak Undang-Undang Citizienship Amendment Bill (CAB) oleh kelompok Hindu pendukung UU tersebut di tengah kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bentrokan terjadi sepanjang tiga hari berturut-turut, menewaskan 45 orang dan sekitar 250 orang lainnya terluka dari kedua belah pihak maupun aparat keamanan–kebanyakan dari pihak Muslim.

Lebih jauh lagi setelah saya melakukan penelusuran, saya menemukan video viral itu pertama kali diunggah oleh pegiat HAM India, Arjun Sethi di akun media sosial (Twitter) @arjunsethi18. Dalam sebuah video tersebut, seorang pemuda bahkan sempat mencabut simbol bulan bintang dari sebuah masjid. Bersamanya, seorang laki-laki mengibarkan bendera Saffron, lambang kelompok sayap kanan Hindu India.

Situs BBC melaporkan bahwa akibat berlakunya UU diatas, umat Muslim India wajib untuk membuktikan bahwa mereka memang warga negara India.

Situs BBC melaporkan bahwa akibat berlakunya UU diatas, umat Muslim India wajib untuk membuktikan bahwa mereka memang warga negara India. Sehingga ada kemungkinan warga Muslim India justru akan kehilangan kewarganegaraan tanpa alasan. Media Al Jazeera menulis, partai oposisi Kongres Nasional India berpendapat hukum ini sangat diskriminatif untuk umat Muslim, terlebih diberlakukan di negara sekuler dengan penduduk 1,3 miliar yang mana 14 persen (200 juta) diantaranya adalah masyarakat Islam. Yang dikritik dari UU CAB adalah langkah tersebut bagian dari agenda supremasi Hindu dibawah pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi yang berkuasa sejak 6 tahun lalu.

Kalau saya coba menganalisis, mungkin ini ada hubungannya dengan berita yang pernah saya baca di laman web foreignpolicy.com yang berisi konten-konten politik luar negeri bulan lalu (21/2/20). Berita ini terkait Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan (CAA) dan Daftar Warga Negara India (NRC) yang diusulkan seluruh India akan meminta warganya untuk membuktikan bahwa ia orang India. Jika tidak dapat membuat dokumen yang diperlukan, dia akan kehilangan kewarganegaraannya dan dinyatakan sebagai penyusup serta bisa dideportasi ke negara yang tidak pernah dikenalnya atau ditinggalkan tanpa kewarganegaraan.

Cukup pelik memang. Namun, yang menjadi pemicu konflik bahkan dikecam berbagai negara Muslim di dunia adalah adanya kebijakan yang dinilai diskriminatif terhadap warga India yang beragama Islam.

Cukup pelik memang. Namun, yang menjadi pemicu konflik bahkan dikecam berbagai negara Muslim di dunia adalah adanya kebijakan yang dinilai diskriminatif terhadap warga India yang beragama Islam. Sebagaimana berita dari The New York Time (28/2/20), hukum kewarganegaraan yang baru ini, diindikasi membuat lebih mudah bagi para migran dari setiap agama di Asia Selatan –yang penting kecuali Islam, untuk menjadi warga negara India. Hal ini yang menuai protes ratusan ribu Muslim India. Mereka bergabung dengan mahasiswa, akademisi, aktivis hak asasi manusia serta pihak-pihak yang kuatir tentang arah kebijakan baru negara itu. Banyak dari mereka mengatakan undang-undang baru ini merupakan ancaman besar bagi tradisi India sebagai negara sekuler dan inklusif.

Menanggapi kerusuhan di India, pengkhotbah asal India Zakir Naik ikut bekomentar. Ia meminta publik untuk menyuarakan perlawanan terhadap kekerasan yang terjadi di New Delhi. “Seruan tulus kepada para Muslim di seluruh dunia untuk berbicara menentang penganiayaan terhadap saudara-saudari Muslim kita di New Delhi, India,” tulis Zakir Naik di laman akun Facebooknya, Sabtu (29/2/2020).

Mungkin sejalan dengan itu, berbagai kalangan umat Islam “ekstrem” di Indonesia ikut andil bersuara. Saya baca berita di Line Today (6/3/20) kalau ada aksi massa gabungan dari Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) hingga Persaudaraan Alumni (PA) 212 dan beberapa simpatisan HTI menggelar aksi di depan kantor Kedubes India di Kuningan, Jakarta. Aksi tersebut katanya sebagai bentuk rasa solidaritas terhadap Muslim di India.

Anehnya, setelah saya baca berita yang dinaikkan oleh Tagar.id tersebut justru malah dihujani komentar pedas dari para netizen. Dikarenakan isi dari demo tersebut salah satunya disampaikan oleh Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Maarif. Ia mengancam bakal menutup usaha rumah produksi film milik Raam Punjabi, Multivision Plus, apabila yang bersangkutan tidak membuat pernyataan mengecam persekusi yang dialami umat Islam di India.

Dari sini bisa disimpulkan sendiri. Tindakan aksi turun ke jalan disertai ancaman sweeping atau boikot orang India yang ada di Indonesia, jelas tak relevan dan nirfaedah. Ditambah, aksi membakar bendera negara India oleh massa demostran dan orator lain sembari berkoar-koar di atas mobil komando meminta agar memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia. Saya rasa hal itu terlalu berlebihan dan jadi gagal paham atau malah kontraproduktif.

Tindak kekerasan dan communal violence yang terjadi di India tentu tidak bisa dijadikan alasan sebagai pembenar tindakan aksi membakar bendera negara lain, sweeping, maupun memutus hubungan diplomatik. Lantas apa bedanya? Jika kita juga ikut menyikapi atau menanggapi peristiwa itu dengan tindakan serupa ekstrimisme pula, bukannya menyelesaikan masalah, namun mengkloningnya menjadi permasalahan baru.

Saya kira permasalahan minoritas dan rasisme sampai kapanpun akan terus terjadi dimana-mana. Kita harus bisa memahami dari segi sosio kultur dan sudut pandang historisnya. Perlu dipelajari bagaimana konflik itu terjadi, apakah ada perbedaan ideolog politik di negara tersebut dengan negara kita. Sehingga kita tidak bisa seenaknya memukul rata begitu saja. Toh, jika kita tidak menyukai agama atau golongan kita diusik, maka janganlah mengusik yang lain. Di situlah kita belajar arti dari toleransi sesungguhnya. Wallahua’lam.

Corona dan Dilema Bola Italia

0

Akibat virus Corona pula, nun jauh di sana, negara Italia telah memberlakukan langkah ekstrem. Bila Arab Saudi menunda akses masuk jamaah umroh, Italia memberlakukan lockdown terhadap seluruh wilayahnya. Aturan ini berarti tidak adanya pertemuan yang terjadi di ruang publik hingga anjuran untuk menjaga jarak dengan orang sekitar, bahkan ketika beribadah.

Kampusdesa.or.id– Sejak presiden Jokowi mengumumkan bahwa 2 warga Indonesia positif terjangkit virus Corona, semakin hari jumlah pengidap virus tersebut di Indonesia kian bertambah. Dilansir dari laman kawalcovid19.id yang digawangi oleh Ainun Nadjib, inisiator situs kawalpemilu.org, jumlah pengidap virus Corona terkonfirmasi berjumlah 27 orang. Semakin bertambahnya pengidap virus Corona, mau tidak mau, membuat warga dunia makin waspada untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan.

Akibat virus Corona pula, nun jauh di sana, negara Italia telah memberlakukan langkah ekstrem. Bila Arab Saudi menunda akses masuk jamaah umroh, Italia memberlakukan lockdown terhadap seluruh wilayahnya. Aturan ini berarti tidak adanya pertemuan yang terjadi di ruang publik hingga anjuran untuk menjaga jarak dengan orang sekitar, bahkan ketika beribadah.

Dilansir dari Kompas, aturan ini diberlakukan oleh PM Italia Giuseppe Conte hingga 3 April mendatang. Keputusan ini terpaksa diambil setelah Italia mengalami lonjakan jumlah pengidap virus Corona, dimana 9.172 orang telah terinfeksi. Jumlah ini membuat Italia berada di urutan kedua terjangkit virus Corona setelah Tiongkok, disusul Korea Selatan, Iran, Perancis, Spanyol dan Jerman.

Akibat dari adanya lockdown tentu memberi efek yang tidak sepele. Banyak sendi kehidupan manusia akan terganggu. Salah satunya sepak bola. Maklum, Italia punya sejarah bagus dalam dunia sepak bola. Italia pernah jadi kiblat dunia sepak bola di era 1990-an. Klub-klub asal Italia begitu mendominasi gelaran sepak bola level Eropa macam piala UEFA serta Liga Champions. Sejak periode 1989 hingga 2007, tercatat klub Italia melenggang hinga fase final sebanyak 11 kali.

Kini, sepak bola Italia harus menghadapi dilema baru.

Kini, sepak bola Italia harus menghadapi dilema baru. Italia yang sedang berusaha memperbaiki wajah sepak bolanya akibat skandal pengaturan skor (Calciopoli), harus menghadapi kemungkinan tidak adanya juara liga pada tahun ini. Hal ini dikarenakan kompetisi Serie A resmi ditangguhkan hingga 3 April nanti.

Ditangguhkannya kompetisi Serie A menuntut para pengurus FIGC (federasi sepak bola Italia) segera mengambil sikap. Bila FIGC ingin mengakhiri kompetisi ini, langkah paling masuk akal adalah memberikan gelar juara pada Juventus, yang saat ini sedang memimpin klasemen sementara Serie A, terpaut 2 poin dari Lazio di urutan kedua. Hal ini menjadi opsi karena akan sangat sulit mengatur ulang jadwal pertandingan setelah jeda selama sebulan.

Selain itu, Italia juga termasuk negara penyelenggara piala Eropa 2020. Tidak seperti piala Eropa edisi sebelumnya, piala Eropa tahun ini diselenggarakan di beberapa negara, yaitu Belgia, Denmark, Republik Irlandia, Belanda, Rumania, Skotlandia dan Spanyol untuk babak 16 besar. Sedangkan negara Rusia, Italia, Jerman dan Azerbaijan kebagian menjadi tuan rumah fase grup dan perempat final. Sedangkan Inggris menjadi tuan rumah untuk partai puncak.

Tidak hanya Serie A, FIGC perlu segera mengambil sikap untuk level lainnya seperti Serie B dan Serie C. Sepertinya akan ada kemungkinan, peserta Serie A musim depan akan mendapat tambahan 3 tim teratas dari Serie B. Sebagai gantinya, 3 tim terbawah Serie A otomastis terdegradasi menuju Serie B, seperti tahun-tahun sebelumnya. Atau, tidak ada sistem degradasi pada tahun ini, penyematan gelar juara pada masing-masing Serie mengacu pada urutan klasemen yang sudah ada. Bila opsi kedua diambil untuk musim depan, maka masing-masing tim dari tiap Serie akan menjalani lebih banyak pertandingan daripada musim sebelumnya.

Dengan demikian, semua harus menerima segala kemungkinan. Termasuk dalam hal ini, sepak bola. Tentu tidak semua orang menginginkan adanya situasi runyam ini. Sepak bola (harus) ikut legawa dengan keputusan apapun yang menyertainya.

Infinity Education: Wajah Baru Pendidikan di Era 4.0

0

Revolusi industri yang berdampak multidimensi pada kehidupan perlu mendapat perhatian serius dari lembaga pendidikan. Pengabaian terhadapnya akan membuat lembaga pendidikan tercerabut dari ruang kontekstual yang justru menjadi garapannya. Lembaga pendidikan mau tidak mau harus mengelaborasi secara kreatif fenomena yang berciri utama kemudahan, kecepatan, dan keluwesan ini. Dengan kata lain, lembaga pendidikan hari ini harus mau mendisrupsi diri dan menembus batasnya sendiri.

Kampusdesa.or.id-Perkembangan teknologi dewasa ini telah terjadi dengan begitu cepat. Hal tersebut bisa kita lihat dalam berbagai bidang, dalam industri otomotif misalnya, seiring dengan maraknya kampanye teknologi ramah lingkungan hampir semua perusahaan otomotif berusaha mendesain kendaraan yang berbahan bakar energi matahari yang dipelopori oleh peruhaan dari Amerika yaitu Tesla.

Inovasi lainnya juga terjadi pada telepon seluler, bisa kita saksikan di layar televisi atau media lainnya, hampir setiap minggu bahkan mungkin setiap hari, perusahaan telepon seluler mengiklankan produk-produk barunya dengan tawaran fitur yang lebih canggih dan merangsang konsumen untuk selalu membelinya.

Kecepatan yang dahsyat juga terjadi pada perkembangan software aplikasi yang menjadi penopang perkembangan hardware seperti yang diceritakan dalam paragraf sebelumnya. Cara sederhana untuk mengetahui kecepatan perkembangan tersebut, marilah kita sama-sama sekarang membuka fitur Playstore atau IOS pada smartphone kita masing-masing. Di sana bisa kita saksikan beraneka ragam aplikasi dengan berbagai macam kegunaan yang menjadi kebutuhan kita atau bahkan tidak pernah sempat kita pikirkan kegunaannya. Ketika aplikasi tersebut sudah diinstal pada maka kita bisa melakukan apa saja yang menjadi keinginan atau kebutuhan kita dengan jari pada layar smartphone.

“Dengan hanya menekan aplikasi pada layar smartphone, maka makanan yang kita inginkan akan hadir ke hadapan kita dengan bantuan ojek online”

Perkembangan teknologi telah mendisrupsi kehidupan manusia sekarang. Dahulu, ketika kita mau membeli makanan, maka kita harus keluar rumah dan pergi ke warung untuk mendapatkan makanan yang kita inginkan. Akan tetapi hal tersebut tidak terjadi sekarang, dengan hanya menekan aplikasi pada layar smartphone maka makanan yang kita inginkan akan hadir ke hadapan kita dengan bantuan ojek online.

Dahulu, untuk mendapatkan berita kita yang terjadi pada hari ini, kita harus masih menunggu besok hari untuk bisa membaca berita tersebut pada surat kabar, atau minimal menunggu tayangan pada layar televisi. Akan tetapi, sekarang dengan menginstall aplikasi kanal berita tertentu pada smartphone, kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat dari berbagai kanal berita yang ada sesuai selera.

“Setiap orang bisa mengakses apapun yang dinginkan, melakukan apapun sesuai selera dengan gawai yang mereka punya”

Kehidupan sekarang menjadi semakin simpel, cepat dan tidak terbatas. Setiap orang bisa mengakses apapun yang dinginkan, melakukan apapun sesuai selera dengan gawai yang mereka punya. Perubahan yang sedemikian cepat tersebut tentu memiliki dampak baik langsung maupun tidak langsung yang bersifat positif maupun tidak langsung pada masyarakat kita. Lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat strategis untuk bisa meminimalisir atau bahkan mencegah dampak negatif dari penggunaan teknologi pada masyarakat.

Institusi Pendidikan 4.0

Lembaga pendidikan memiliki peran yang tidak ringan dan sangat strategis dalam situasi dan kondisi terkini. Memasuki tahun politik 2019 seringkali kita jumpai berita, kabar dan informasi yang tidak benar (Hoax) yang menjadi viral di media sosial berupa isu keagamaan, sosial dan lain sebagainya. Disitulah letak kerentanan terjadinya salah faham bahkan konflik sosial apabila tidak ada penyeimbang yang memiliki penguasaan konten serta yang familiar dengan teknologi.

“Lembaga pendidikan harus didesain sedemikian rupa agar memiliki akselerasi yang cepat serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman”

Dengan asumsi yang terbangun diatas, menjadi sebuah keniscayaan lembaga pendidikan harus berbenah secepatnya dalam beberapa aspek. Pertama, penguatan kelembagaan, hal tersebut merupakan aspek yang fundamental untuk menjadikan lembaga sehat secara institusional. Lembaga pendidikan harus didesain sedemikian rupa agar memiliki akselerasi yang cepat serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Kurikulum juga penting harus terfokus pada kondisi peserta didik yang dinamis dan memiliki konten yang relevan dengan kebutuhan pengguna”

Kedua, reorientasi kurikulum, kurikulum lembaga pendidikan harus didesain untuk bisa berkembang dan fleksibel dan membuka peluang seluasnya-luasnya untuk setiap saat dilakukan perubahan sesuai perkembangan zaman. Selain itu, kurikulum juga penting harus terfokus pada kondisi peserta didik yang dinamis dan memiliki konten yang relevan dengan kebutuhan pengguna.

Ketiga, melek literasi, menghadapi revolusi industri 4.0 agar lulusan bisa kompetitif perlu penyiapan agar lulusan tidak hanya melek dengan literasi lama terkait dengan membaca, menulis dan berhitung. Akan tetapi dibutuhkan literasi baru (Aoun, MIT, 2017) menyangkut kemampuan untuk membaca, analisis dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital, lalu kemampuan untuk memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi seperti coding, artificial intelegence, & Engineering Principles (Literasi Teknologi) dan yang terakhir yaitu pemahaman tentang nilai-nilai humanities, komunikasi dan desain (Literasi Manusia).

Ikhtiar untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang ideal seperti yang digambarkan di atas, tentu membutuhkan kerja keras, fokus, fikiran terbuka dan istiqomah berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemangku kebijakan pendidikan, pengajar, peserta didik serta masyarakat pengguna lulusan. Dengan begitu lembaga pendidikan akan memiliki peran optimal dan mampu menembus batas (infinix) di era revolusi industri 4.0. Wallahua’lam

Ini Lima Sikap Orangtua yang Menentukan Tumbuhkembang Anak Autisnya

0

Tumbuhkembang seorang anak amat dipengaruhi oleh sikap dan pengetahuan orangtuanya. Utamanya anak-anak dengan gangguan tumbuhkembang seperti autis. Progres tumbuhkembang mereka akan baik, manakala orangtuanya peduli dan terlibat. Sebaliknya, jika orangtuanya apatis, tumbuhkembang mereka akan stagnan. Autisi menjadi terdiskriminasi dan termarjinalkan oleh orangtuanya sendiri.

Kampusdesa.or.id-Setiap orang tua tentu mengharapkan anaknya akan lahir sempurna, sehat, dan cerdas. Aku yakin tidak ada orang tua yang berharap akan mempunyai anak autis, bahkan membayangkannya pun tidak. Bukankah kita selalu berdoa yang baik-baik saat anak kita masih dalam kandungan? Namun kadang kenyataan berkata lain, tuhan menitipkan anak autis kepada orang tua yang dikehendakinya. Sikap orang tua menghadapi kenyataan ini pun berbeda-beda.

“Mereka aktif  mencari informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan atau seminar, dan berusaha melanjutkan apa yang sudah terapis/guru ajarkan pada buah hatinya di rumah”

Setidaknya ada 5 sikap orang tua berkenaan dengan pendidikan atau terapi anak autisnya. Sikap pertama adalah peduli dan terlibat, yaitu orang tua yang begitu antusias dan bersemangat mengikuti alur dan perkembangan yang dialami sang anak serta berusaha menambah ilmu untuk membantu agar putra/putrinya terus progres. Para orang tua tipe ini umumnya sangat rasional dan pantang menyerah. Mereka aktif  mencari informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan atau seminar, dan berusaha melanjutkan apa yang sudah terapis/guru ajarkan pada buah hatinya di rumah.

Sikap kedua adalah peduli, dimana orang tua mendukung  perkembangan si buah hati dengan memberikan segala fasilitas yang dibutuhkan, namun menyerahkan semuanya kepada dokter, guru atau terapisnya. Baginya tidak masalah mengeluarkan biaya banyak yang penting anaknya suatu saat bisa tumbuh dan berkembang seperti anak umumnya. Keterlibatan mereka untuk membersamai proses perkembangan sang anak sangat rendah. Bagi  orang tua tipe ini,  toh anaknya sudah ditangani oleh ahlinya.

Sikap ketiga yaitu agak peduli, dimana orang tua mendukung dan memberikan fasilitas namun hanya setengah-setengah. Saran dan anjuran dokter dan terapis atau gurunya tidak dilakukan sepenuhnya. Misalkan dianjurkan untuk diet demi menormalkan sistem metabolisme tubuh putranya tapi tidak dilakukan secara konsisten. Maka, ketika sang putra tidak ada perkembangan sesuai dengan apa yang diharapkan, mereka menyalahkan dokter dan terapis/gurunya. “Anakku ditangani dokter A kok tidak ada perubahan ya?” atau “Anakku, aku terapikan di Y kok tidak ada perkembangan?”. Padahal perkembangan autis memerlukan kerjasama antara orang tua, dokter, dan guru/terapis.

“Autisi/anak autis yang mempunyai tipe orang tua seperti ini sudah tentu sulit progres”

Sikap selanjutnya adalah sedikit peduli. Mereka  memberikan fasilitas kepada buah hatinya tetapi tidak menjadikannya sebagai prioritas utama. Mereka akan lebih mendahulukan hal-hal yang dianggapnya lebih penting. Artinya, progres anak kurang mendapatkan perhatian, sehingga autisi/anak autis yang mempunyai tipe orang tua seperti ini sudah tentu sulit progres. Kalaupun ada perkembangan pasti sangat minimal.

Sikap terakhir adalah orang tua yang hopeless alias tidak mempunyai harapan terhadap anak autisnya. Baginya semua sudah tidak ada yang pelu dilakukan lagi, lebih baik fokus terhadap pendidkan  anak yang menurutnya “normal” karena harapannya lebih besar. Orang tua tipe ini sebenarnya egois, melakukan diskriminasi terhadap anaknya yang berkebutuhan khusus. Padahal sudah tentu tidak ada anak yang mengharapkan dirinya terlahir autis.

“Diperlukan orang tua yang pembelajar dan penuh semangat menjalani proses tumbuh kembang anak autisnya”

Dari kelima sikap orang tua tersebut, hanya sikap pertama yang ideal dalam menyikapi pendidikan anak autis. Diperlukan orang tua yang pembelajar dan penuh semangat menjalani proses tumbuh kembang anak autisnya. Antara orang tua, dokter, dan terapis/guru harus bersinergi agar anak autis bisa progres semaksimal mungkin. Kalau anda, termasuk tipe yang manakah dalam menghadapi penanganan anak autis anda?