Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 40

Bio Hand Sanitizer Herbal dengan Bahan Alami

0

Kampusdesa, Bangkalan–Dosen dan Peneliti Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang terdiri dari Dr. Mohammad Fuad FM, STP., M.Si, Khoirul Hidayat, ST., MT., IPM, Miftakhul Efendi, STP., Safina Istighfarin, ST, Firman Arief Soejana, ST, dan Nadya Ulfa, ST memproduksi Bio Hand Sanitizer  berbahan baku tumbuhan, diantaranya mimba, kemangi, dan lerak.

Bahan-bahan tumbuhan menjadi pilihan karena mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Selain itu daun mimba (Azadirachta indica A. Juss) mengandung senyawa β-sitosterol, hyperoside, nimbolide, quercetin, quercitrin, rutin, azadirachtin, dan nimbine. Daun mimba juga di gunakan sebagai repelan, obat penyakit kulit, hipertensi, diabetes, anthelmintika, ulkus peptik, dan antifungsi. Selain itu bersifat antibakteri dan antiviral.

Kemudian daun kemangi (Ocimum xcitriodorum) memiliki kandungan antibakteri dan dapat menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri, di antaranya Listeria monocytogenes, Staphylococcus aureus, Escherecia Coli, Pseudomonas aeruginosa.

Buah lerak mengandung saponin yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci.

Dari tiga bahan baku tersebut, mampu menghasilkan cairan antiseptik pembunuh bakteri di tangan. Pengembangan cairan antiseptik ini, guna mengatasi kelangkaan di pasaran karena merebaknya wabah Virus Corona (Covid-19).

Untuk sementara waktu, tingkat produksi masih skala laboratorium. Secara ilmiah Bio Hand Sanitizer sudah diuji di laboratorium. Hasilnya, produk ini sudah memenuhi standart medis karena mampu membunuh bakteri. Namun, belum bisa diproduksi massal karena terkendala perizinan dan terbatasnya perlatan yang dimiliki.

Proses pembuatan bio hand sanitizer dimulai dari proses penyortiran daun mimba, daun kemangi dan buah lerak yang masih segar. Penyortiran berfungsi untuk memisahkan daun yang kualitasnya baik dan kualitasnya buruk.

Selanjutnya dilakukan proses pencucian menggunakan air bersih. Pencucian berfungsi untuk menghilangkan kotoran yang terdapat pada bahan baku. Daun mimba dan kemangi yang sudah dicuci, kemudian dilakukan proses penimbangan dan dilanjutkan proses pencampuran. Dilanjutkan proses penghalusan dengan penambahan air.

Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura sedang memraktikan pembuatan Hand Sanitizer herbal di laboratorium Teknologi Hasil PertanianProses filtrasi atau penyaringan dilakukan untuk memisahkan zat padat dari cairannya dengan menggunakan alat berpori (penyaring). Alat filtrasi yang digunakan yaitu pompa vakum yang berfungsi sebagai gaya pendorong agar proses filtrasi menjadi lebih cepat.

Baca juga:

Begini Cara Dosen FKIK Unismuh Makassar Peduli Corona
Memerbanyak Hand Sanitizer untuk Cegah Covid 19
Mengenal lebih jauh virus Corona dan pola inveksinya, bersama Alissa Wahid (2)

Hasil filtrasi daun kemangi dan daun mimba ditambahkan dengan cairan lerak. Setelah semua tercampur, selanjutnya dilakukan proses pengemasan pada ruangan khusus yang bersih menggunakan sinar UV. Pengemasan dengan bantuan sinar UV berfungsi untuk meminimalisir kontaminasi mikroba pada produk akhir.

Setelah semua dilakukan dengan baik, jadilah Bio Hand Sanitizer tersebut dan siap digunakan.

Sejumlah manfaat produk bio hand sanitizer antara lain dapat digunakan untuk beberapa fungsi:

Dapat membunuh kuman dengan cepat, termasuk kuman E. Coli dan S. Aureus.
Mengandung Vitamin E yang berfungsi untuk melembabkan kulit
Mengandung antioksidan yang dapat digunakan untuk menghindari paparan sinar matahari.
Mengandung saponin sebagai emulsifier untuk meluluhkan kotoran
Demikian tulisan ini dibuat dari hasil penelitian dari sejumlah dosen dan tim dari Universitas Trunojoyo
Khoirul Hidayat dan Tim. Peneliti dari Program Studi Teknologi Industri Universitas Trunojoyo Madura

I’M COVID-19 (Indonesia Menulis COVID-19): Membasmi Pandemi Melalui Publikasi

0

kampusdesa.or.id-Penyebaran Virus Corona yang begitu cepat, disertai terus bertambahnya korban jiwa cukup menjadi faktor pemicu kepanikan global. Ditambah lagi, jika menilik sejarah pandemi yang pernah melanda dunia, misalnya spanish flu yang menyebabkan jutaan nyawa melayang. Sejumlah kebijakan reaktif dan preventif diluncurkan oleh berbagai negara sebagai langkah perlawanan terhadap virus ini. Salah satunya adalah instruksi Work From Home (WFH) sebagai dampak dari kebijakan karantina wilayah. Dunia kemudian bahu-membahu melawan pandemi virus ini melalui saling berkirim bantuan dan berbagi metode penanganan yang efektif dan efisien.

Namun, di balik kehebohan dan kepanikan massal akibat Corona ini, muncul banyak fenomena yang menarik untuk dikaji secara mendalam. Misalnya kegagapan dunia pendidikan kita saat dipaksa melakukan pembelajaran daring, dampak luas kebijakan karantina wilayah terhadap kehidupan sosial-ekonomi, masih adanya sikap apatis masyarakat, hingga munculnya para “pakar” dadakan di media sosial yang aktif membagikan data dan argumen terkait Virus Corona. Sehingga menyebabkan kepanikan semakin “menggila” karena dibumbui hoaks.

Dalam rangka memfasilitasi pengkajian terhadap fenomena beyond pandemi Corona ini, dan dalam rangka memerangi banjir hoaks Corona, Kampus Desa menawarkan I’M COVID-19 (Indonesia Menulis COVID-19), sebuah program yang digagas dr. Dito Anurogo, M.Sc. Melalui program ini, kami mengundang Anda untuk memperkaya literatur Corona dengan berbagi hasil kajian seputar problematika dan dinamika masyarakat Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Paling tidak ada 7 tujuan yang hendak dicapai program ini. Pertama, Membudayakan literasi dan publikasi bagi masyarakat Indonesia. Kedua, Mencerahkan negeri melalui literasi dan publikasi. Ketiga, Membumikan publikasi demi kejayaan negeri. Keempat, Melawan penyakit dan pandemi COVID-19 melalui publikasi yang berkualitas. Kelima, Menyebarluaskan informasi dan inspirasi yang bermanfaat bagi umat. Keenam, Sosialisasi informasi COVID-19 ke segenap masyarakat melalui publikasi. Ketujuh, Melalui kebijakan rektor, kegiatan ini dapat diberlakukan sebagai pengganti skripsi/KKN dan mahasiswa dapat diberi sertifikat pendamping ijazah, bila telah menghasilkan publikasi/karya ilmiah terkait COVID-19.

Kami tunggu partisipasi Anda untuk turut serta membasmi pandemi melalui publikasi.

Implikasi SE Mendikbud No 4 Tahun 2020 Terhadap Konten Materi Pelajaran Sekolah

0

Surat Edaran Mendikbud No. 4 Tahun 2020 agar sekolah diganti di rumah sebenarnya sangat fleksibel. Anak-anak tidak harus belajar tekstual sebagaimana yang sering kita lihat di beberapa informasi. Murid sebenarnya bebas melakukan kegiatan belajar di rumah, bersama orang-orang terdekatnya. Tidak juga wajib mengerjakan buku pelajar secara tekstual sebagaimana di sekolah karena penggantinya boleh belajar kecakapan hidup dan penilaiannya kualitatif. Sebenarnya memudahkan, bukan menyulitkan.

Kampusdesa.or.id–Menanggapi Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 4 Tahun 2O2O tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-1 9) point 2 yang berbunyi, proses belajar dari rumah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

Belajar dari Rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan;
Belajar dari Rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19;
Aktivitas dan tugas pembelajaran Belajar dari Rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/ fasilitas belajar di rumah;
Bukti atau produk aktivitas Belajar dari Rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/ nilai kuantitatif.

Maka seyogyanya para pendidik di seluruh negeri ini segera mengalihkan tujuan pembelajarannya, menyusun konten materi pelajaran yang bersesuaian dengan wawasan seputar Covid-19.

Pada mata pelajaran Bahasa Inggris misalnya bisa menyajikan procedure text bertopik how to wash your hands. Inipun bisa disajikan dalam bentuk video tutorial yang diambil dari YouTube atau membuat video sendiri. Jangan lupa tetap mempertimbangkan point 2c, video tidak terlalu memakan banyak paketan data, karena masa lockdown adalah masa sulit dalam banyak hal termasuk perolehan akses internet dari rumah tersebab dana terbatas kebutuhan jaringan internet bersamaan dalam satu keluarga.

Selain pelajaran Bahasa Inggris, pada madrasah yang pelajarannya banyak pelajaran agama dapat meyajikan materi fiqh tentang kaifiyah merawat jenazah korban Covid-19. Mata pelajaran fiqh ini juga bisa berkolaborasi dengan pelajaran geografi tentang serapan air tanah yang diharapakn tidak sampai terkontaminasi oleh cairan yang dibawah oleh jazad jenazah Covid-19 ini.ini juga menyangkut kesehatan masyarakat dan lingkungan sehingga masih memungkinkan pelajaran kesehatan masuk dan berkolaborasi bersama di tema pelajaran mengurus jenazah korban Covid-19 .

Adapun aturan tata cara pergaulan di masyarakat masa social distancing sebagai tindakan preventif menyebarnya Covid-19 ini bisa disajikan dalam pelajaran sosiologi, PKn, IPS.Kita sudah sangat paham dengan berbagai macam wawasan pengetahuan di yang bersumber dari perangkat digital kita. tak perlu kita berpusing-pusing foto buku cetakan di rumah kita atau LKS yang disediakan guru untuk dijadikan bahan belajar dalam home learning ini. kita bisa bahkan sangat bisa menuruti kemauan pemerintah untuk mengalihkan konten pelajaran sesuai kondisi kekinian yang benar-benar membutuhkan perhatian besar bangsa terkhusus dunia pendidikan juga punya peran melakukan kegiatan pembelajaran yang adaptif dengan kondisi saat ini.

Kembali pada gagasan tentang konten mata pelajaran yang harus disesuaikan dengan kondisi bangsa saat ini, istilah-istilah seputar wabah Covid-19 ini bisa saja masuk materi pelajaran Bahasa Indonesia. Apa itu social distancing, penerjemah secara kontekstual lockdown, siapa itu ODR (Orang Dalam Resiko), ODP (Orang Dalam Pengawasan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan).

Materi pendidikan jasmani dan olahraga bisa menayangkan cara tepat mendapatkan vitamin D sebagai salah satu vitamin yang dapat menjaga tubuh dari Covid-19. Memang guru olah raga tidak dapat bertemu muka dengan peserta didik untuk memberi contoh dalam bentuk gerak badan, tapi sekali lagi guru tingal cari di youtube browsing di google terkait hal ini, pasti ada.

Untuk materi SBK, peserta didik dimotivasi untuk bisa membuat masker sendiri dan hasilnya bisa dipakai sendiri, dipakai keluarga dan dijual ke orang lain. Nah, selain memberi materi pelajaran, peserta didik mulai juga diajari melakukan kegiatan yang memiliki manfaat secara financial. covid-19 tidak melumpuhkan daya kreatif kita, tetap produktif!

Bagaimana dengan materi science? Tentu saja peserta didik bisa diberi penugasan membuat hand sanitizer yang terlebih dahulu disajikan video tutorial membuatnya.Andai video tutorial ini memakan banyak paketan data internet, baiklah dibuat saja catatan seputar pembuatan produk ini. kita tak perlu mengetik materi ini dalam bentuk words kemudian diubah ke bentuk PDF, terlalu rumit dan tidak efektif, waktu kita terus berjalan, mari bertindak lebih peka teknologi. Coba kita cari sumber bacaan di google, di situ pasti banyak link bacaan yang bisa kita share di kelas online peserta didik. Jika masih ada yang keberatan buka link tersebut, kalau mungkin di copy dan paste lalu disebutkan sumber adopsinya dari mana, amankan? beres sudah, materi tersampaikan kepada peserta didik nampak keren dan peka teknologi.

Baca juga: Memerbanyak hand sanitizer untuk cegah Covid 19

Materi ekonomi juga harus bekerja keras bagaimana pelajaran ini berkontribusi baik dalam memperhatikan dampak wabah Covid-19 ini. Diketahui dalam pemberitaan di media bahwa wabah Covid-19 ini telah membuat nilai tukar rupiah terhadap dollar anjlok. Disinyalir persis jaman krisis moneter tahun 1998, di mana masyakarat melakukan belanja borongan untuk membuat stock kebutuhan hidup tidak tergulung oleh harga yang semakin melonjak naik. Pengetahuan ini tentunya bisa masuk dalam materi pelajaran ekonomi. Jadi di sini peserta didik diajak berpikir holistik berbagai dampak wabah Covid-19 ini begitu luas, istilah kawan-kAwan kita di sosial media ambyar.

Konon, guru itu dalang yang tak kehabisan skenario, maka dalam masa seperti ini ditambah juga himbauan pemerintah agar penyajian materi pelajaran bersesuaian dengan wabah Covid-19, kita optimis bahwa para pendidik bisa melaksanakan harapan pemerintah ini. Meskipun guru bukan bagian dari generasi Z , tapi guru juga hidup di generasi Z juga sedikit banyak melalui aktivitas-aktivitas para generasi Z. Kalau cuma googling, menengok youtube laluu menyalin link untuk disampaikan kepada kelas online peserta didik, memakan waktu berapa lama, sebentar sekali. beda dengan mengetik ulang pelajaran lalu diposting di kelas online, bikin jari jemari kriting pula, karena capek. Atau sebaliknya peserta didik hanya diberi tugas dan tugas dengan konten perintah itu-itu saja, wow betapa tak berwarnanya kelas online mereka di saat Covid-19 sudah mejadi beban masalah yang menakutkan! Kondisi mental peserta didik meskipun tidak memikirkan pendapatan keluarga yang mungkin menurun, mereka juga tetap manusia yang berpikir bahwa suasana saat ini tidak nyaman, masa iya ditambah lagi ketidaknyamanannya dengan menyajikan materi pelajaran yang manfaatnya belum bisa digunakan hari ini,dalam bentuk perintah mengerjakan tugas ini itu. Mari move on, saya juga berikhtiar ke arah ini.

Jika semua materi pelajaran seputar kecakapan hidup bertema menghadapi Covid-19, lalu peserta didik bosan, maka pelajaran seni budaya ini tentunya memiliki cara menetralisir kebosanan. Tidak menutup kemungkinan semua mata pelajaranpun bisa membuat ice breaking dalam belajar onlinenya.Dunia sudah panik dengan covid-19, maka kelas online sekolah kita seyogyanya bisa mengesampingkan suasana ini dengan guru mata pelajaran membuat ice breaking di sesi belajar onlinenya.

Wabah Covid-19 ini tak layak menjadikan kita berhenti beraktivitas di segala bidang kehidupan. Terus bergerak produkrif, termasuk para guru agar membuat materi pelajaran yang menyumbang partisipasi besar dalam mengatasi wabah Covid-19.

Mari menikmati merdeka berkarya!

Mengapa Belajar di Rumah Malah Menimbulkan Masalah?

0

Heboh pandemi Corona memaksa dunia pendidikan kita untuk ‘melompat.’ Jika sebelumnya pembelajaran daring masih asing di telinga, kini dunia pendidikan kita tidak hanya dipaksa untuk mengenal dan memahami, tapi langsung menerapkannya. Kegagapanpun marak terjadi di sana-sini. Banyak keluhan muncul dari berbagai elemen, mulai dari guru, peserta didik, hingga orangtua. Akhirnya, belajar di rumah bukannya lebih mudah, tapi justru menimbulkan berbagai masalah.

kampusdesa.or.id-Sejak instruksi WFH (Work From Home) diterbitkan, mayoritas instansi dan juga lembaga swasta menginstruksikan pegawai dan karyawannya untuk bekerja dari rumah. Pekerjaan yang semula harus dikerjakan di kantor, kini harus dikerjakan di rumah. Tak terkecuali lembaga pendidikan, baik itu sekolah maupun perguruan tinggi (PT). Sudah hampir dua pekan ini para pendidik bekerja dari rumah. Mereka memberikan pembelajaran melalui situs daring (online). Di kampus saya, rekan-rekan menggunakan berbagai platform belajar online, mulai dari elearning yang dikebangkan kampus sendiri, Edmodo, Webex, Google Classroom, hingga Zoom. Mendadak serasa terjadi lompatan dalam sistem pembelajaran kita.

“Tak heran jika terjadi semacam shock habit di dunia pendidikan kita. Terjadi kesalahpahaman massif terkait bagaimana melaksanakan pembelajaran daring”

Jika sebelum ada kehebohan pandemi Corona, belajar daring masih jarang dilakukan, kini hampir dua pekan telah dijalankan serempak, mulai dari tingkat MI/SD hingga PT. Tak heran jika terjadi semacam shock habit di dunia pendidikan kita. Termasuk terjadi kesalahpahaman massif terkait bagaimana melaksanakan pembelajaran daring. Akibatnya, muncul berbagai keluhan di sana-sini. Keluhan itu tidak hanya datang dari pendidik, tapi juga peserta didik dan juga orangtuanya. Mengapa begitu?

“Sebagian besar pendidik masih memahami bahwa pembelajaran daring sebatas pada pemberian tugas melalui jaringan internet saja. Pokoknya online”

Pertama, kurangnya pemahaman tentang pembelajaran daring. Sebagian besar pendidik masih memahami bahwa pembelajaran daring sebatas pada pemberian tugas melalui jaringan internet saja. Pokoknya online. Dampaknya seperti dilansir www.republika.co.id, banyak guru memberikan tugas melalui Whatsapp (WA). Siswa disuruh mengerjakan lalu hasilnya difoto atau discan, kemudian dikirim kembali ke guru. Jika gurunya lebih melek IT, pemberian tugas dilakukan melalui platform pembelajaran daring semacam Edmodo, Webex, dan Google Classroom. Tapi tetap saja basisya tugas.

Pola pembelajaran daring demikian ini yang menimbulkan banyak keluhan, baik dari peserta didik sendiri maupun orangtua. Padahal orangtua juga harus tetap bekerja dari rumah, tapi diharuskan mendampingi anak mereka mengerjakan tugas yang kian menggunung. Bayangkan jika dalam sehari ada 3 atau 4 mata pelajaran (mapel) berbeda, dan tiap mapel tersebut ada tugas yang harus dikumpulkan hari itu juga. Keluhan ini saya temukan juga di kalangan mahasiswa yang kewalahan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen mereka.

Pembelajaran daring pada hakikatnya hampir sama dengan pembelajaran tatap muka, hanya saja tatap mukanya dilakukan via internet dengan memanfaatkan platform-platform pembelajaran daring tertentu. Jika memang tidak memungkinkan tatap muka daring, guru dapat menggunakan video. Lalu memberikan pertanyaan yang diatur setiap selesai menjawab, peserta didik tidak dapat mengulanginya lagi. Sehingga mereka menaruh perhatian penuh pada pemaparan materi dalam video.

“spirit pedagogi digital sesungguhnya tidaklah content oriented. Bukan membelajarkan “apa” karena sudah dengan mudah diakses sendiri oleh peserta didik via search engine”

Selain itu, spirit pedagogi digital sesungguhnya tidaklah content oriented. Bukan membelajarkan “apa” karena sudah dengan mudah diakses sendiri oleh peserta didik via search engine. Namun, yang perlu dimaksimalkan adalah “bagaimana dan mengapa.” Jadi, dalam pembelajaran daring, guru dan orangtua bekerja sama membuat anak produktif dan kreatif, dengan cara merangsang pikirian kritis mereka, bukan mematikan gerak melaui tumpukan tugas.

Kedua, keterbatasan sarana dan prasarana. Pembelajaran daring akan efektif jika didukung jaringan internet yang kuat dan gawai yang memadai. Lha, apa kabar dengan sekolah yang ada di pelosok desa, yang guru, peserta didik, dan orangtuanya belum akrab dengan internet dan gawai? Tentu akan sangat berbeda dengan sekolah yang berlokasi di kota besar. Sungguh pun jika mereka sehari-hari sudah akrab dengan internet dan gawai, tapi mereka juga tetap harus membeli paket data. Silakan dibayangkan berapa giga byte kuota yang dibutuhkan untuk belajar daring selama dua pekan ini.

Ketiga, kurangnya sinergi dan komunikasi. Kurang efektifnya pembelajaran daring akibat Corona ini disebabkan oleh terjadinya miskomunikasi antara guru dan orangtua. Sinergi keduanya belum sampai pada taraf kolaboratif. Padahal, selaras dengan spirit pedagogi digital di atas, pembelajaran daring semestinya dilaksanakan dengan dukungan sinergi dan komunikasi yang kuat antara guru dan orangtua. Keduanya dalam pembelajaran era 4.0 lebih berperan sebagai pendamping.

“Tatap muka cukup beberapa menit saja, lalu disambung tugas atau pertanyaan menggelitik yang mendorong peserta didik menelusuri sendiri jawabannya”

Guru dan orangtua dapat mengatur jam pembelajaran lebih fleksibel menyesuaikan kesibukan orangtua. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran daring tidak harus saklek sama persis dengan jam pelajaran di sekolah. Tatap muka cukup beberapa menit saja, lalu disambung tugas atau pertanyaan menggelitik yang mendorong peserta didik menelusuri sendiri jawabannya. Orangtua mengontrol dan mendampingi lalu melaporkan perkembangan anaknya kepada guru.

Sinergi dan komunikasi juga harus ada di antara guru atau dosen. Sehingga pemberian tugas bisa diatur supaya tidak menumpuk. Bila memungkinkan pemberian tugas diintegrasikan. Sehingga satu tugas bisa digunakan sebagai instrument penilaian dua mata pelajaran atau mata kuliah. Dengan demikian anggaran untuk membeli paket data juga tidak membuat dompet jebol. Bukankah pembelajaran online harusnya bisa lebih fleksibel dan paktis daripada pembelajaran offline?

Tidak Ada Kata Terlambat

0


Bagaimana jika ternyata yang menyebabkan kita gagal atau terlambat adalah diri kita sendiri? Bayangkan betapa sayangnya itu. Kesempatan yang datang tidak kita gunakan dengan baik. Kita tenggelam dalam bayang-bayang dan ketakutan tak berdasar yang kita buat sendiri. Akhirnya, kita tak pernah mencoba untuk berusaha. Kita kalah sebelum perang.

kampusdesa.or.id-Pernahkah kita mengharapkan sesuatu, namun dalam pikiran kita mengatakan, “Aah sudah terlambat…?” Atau kita merencanakan sesuatu pekerjaan, namun dibayangi rasa ketidakmampuan dalam mengerjakan pekerjaan tersebut, lalu pada akhirnya berhenti dan menyerah?

Kemarin malam, karena masih mengaji sambil menggendong Adek Azra yang masih bayi selepas Maghrib sampai Isya’, ditambah lagi terdengar suara iqomah Isya’ di beberapa masjid dan musholla di sekitar rumah, saya berpikir, “Pasti saya terlambat jamaah sholat Isya, apa sholat di rumah saja ya..?” Namun saya memutuskan, segera berwudhu dan pergi ke musholla, yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah. “Biarlah terlambat, jadi makmum masbuk, ataupun sholat Isya’ sendiri, yang penting saya sholat di musholla” pikir saya.

Ternyata pikiran saya salah, saya belum terlambat sholat jamaah. Begitu sampai di musholla, ternyata belum iqomah. Saya pun segera menyuruh satu pemuda anak kos yang ada untuk segera iqomah, dan saya segera memimpin jadi imam jamaah sholat Isya’, karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.30, saya punya agenda setelah Isya’ untuk tahlilan.

Kejadian di atas hanya satu contoh kecil saja peristiwa yang menggambarkan antara pikiran dan realita tidak sama. Pikiran saya mengatakan terlambat, realitanya tidak.

Banyak saya temui, orang-orang yang berkata pada dirinya, bahwa ia sudah terlambat dalam mencapai sesuatu, entah terlambat kuliah, terlambat menikah, terlambat belajar, terlambat menjadi sukses, terlambat kaya dan terlambat-terlambat lainnya. Karena dalam pikirannya sudah mengatakan terlambat, mereka pun tidak mau berusaha untuk sekedar mencoba atau mengadu peruntungannya untuk meraih sesuatu yang diinginkannya. Dan saat itu, bisa dipastikan mereka sudah benar-benar terlambat dan gagal.

“Cobalah dulu, berusaha dulu. Bersemangatlah untuk mencapai sesuatu yang diharapkan. Niati belajar dan beribadah. Siapa tahu bisa berhasil”

Cobalah dulu, berusaha dulu. Bersemangatlah untuk mencapai sesuatu yang diharapkan. Niati belajar dan beribadah. Siapa tahu bisa berhasil. Kalaupun gagal, ya dicoba lagi, gagal lagi dicoba lagi, sampai berhasil. Tapi ternyata tetap gagal, ya bolehlah pada akhirnya kita menyerah. Namun, pastinya gagal setelah mencoba lebih baik daripada gagal karena tidak pernah mencoba. Kalau berhasil, pasti akan lebih bangga dan bahagia, setelah melalui proses perjuangan yang tidak mudah. Banyak hikmah dan pengalaman yang tersirat, jika kita mampu memaknainya.

Sesungguhnya, tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau mencoba dan berusaha. Terlambat dan gagal, hanya ada bagi orang yang menyerah dan berputus asa.

“Andaikan saat ini kamu belum juga menemukan jodoh, cobalah cari dan klasifikasi siapa-siapa saja yang sekiranya cocok denganmu”

Andaikan saat ini kamu belum juga menemukan jodoh, cobalah cari dan klasifikasi siapa-siapa saja yang sekiranya cocok denganmu. Kemudian, dekati mana yang paling nyaman di hati, dan diistikhorohi. Ingat, tidak ada manusia yang sempurna. Jangan mencari kesempurnaan pada orang yang ingin kamu nikahi. Tidak akan mungkin ada yang seideal pikiranmu. Semua ada kelebihan dan kekurangannya.

Pun jika saat ini kamu ingin belajar sesuatu hal. Lakukan saja, cari informasi yang sangat banyak bertebaran di dunia maya. Misalnya ingin belajar memasak kue, bisnis, desain baju, desain rumah, menjahit, melukis, pembawa acara, menyanyi, Bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Pelajari saja otodidak dengan nonton youtube-nya.

Atau saat ini kamu pengen kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, Bismillah coba saja. Tidak punya biaya? Ya bekerja atau cari beasiswa, bisa juga cari hutangan, boleh juga mendekati siapa saja yang mau membantu menyumbang. Yang penting, bagaimana caranya kita bisa mencapai keinginan kita.

Pasti ada jalan bagi siapa saja yang mau berusaha. Cobalah, jangan malu, takut dan ragu. Insyaallah kamu belum terlambat.

Jangan Takut Kehilangan

0

Meskipun sering kita alami, kehilangan selalu menyisakan rasa sakit dan getir yang menyayat. Akal kerap sulit menerima kenyataan jika apa yang kita miliki pada hakikatnya bukanlah milik kita. Namun, miliki Sang Pencipta alam raya. Rasa memiliki inilah yang membuat kita susah untuk move on.

kampusdesa.or.id-Siapa sih di antara kita ini yang tidak pernah kehilangan? Pasti semua orang pernah kehilangan. Sudah lazimnya ketika kehilangan sesuatu, tentu kita bersedih hati. Entah itu kehilangan dalam bentuk materi, seperti kehilangan uang, dompet, surat penting, perhiasan kendaraan, rumah dan lain sebagainya. Bisa juga kehilangan dalam bentuk non materi, misalnya kehilangan teman, kepercayaan, waktu, kebebasan, keberanian, kebahagiaan dan seterusnya.

“Sesungguhnya setelah kehilangan akan kita temukan sesuatu yang hilang itu sebagai pengganti sesuatu yang telah hilang dari diri kita”

Boleh kita bersedih hati, namun cukup sesaat saja, karena pada hakikatnya, sesungguhnya setelah kehilangan akan kita temukan sesuatu yang hilang itu sebagai pengganti sesuatu yang telah hilang dari diri kita. Bisa jadi penggantinya akan lebih baik, daripada sesuatu yang telah hilang dari diri kita.

Saya pribadi punya banyak cerita terkait kehilangan sesuatu. Saya pernah kehilangan dompet berisi uang dan surat-surat penting (KTP, STNK, SIM A dan SIM C, Kartu NPWP, ATM, Kartu Mahasiswa). Sedih sekali ketika sadar dompet itu hilang tak tahu rimbanya. Terbayang, bagaimana mesti ribet mengurus surat-surat penting itu juga terbayang betapa eman sejumlah uang yang ada di dompet itu telah hilang.

Namun, pelan tapi pasti, saya mulai move on. Alhamdulillah, setelah bisa merasa ikhlas, seluruh surat penting sudah bisa dicetak kembali, tentu dengan mengikuti proses aturan yang ribet, tidak mudah dan butuh waktu. Uang yang ada di dompet pun saya niatkan untuk sedekah. Rejeki-rejeki yang tidak terduga pun saya dapatkan, lebih daripada uang yang telah hilang.

Pernah juga saya kehilangan teman dan saudara yang selama ini selalu bersama saya. Begitu saja diputuskan. Sakit dan sedih sekali perasaan. Namun ketika pola pikir saya rubah, saya pun kembali move on. Alhamdulillah, justru malah dapat teman dan saudara yang baru dan baik sekali dengan saya.

Beberapa saat yang lalu, ada teman saya yang rumahnya kebakaran. Seluruh harta bendanya ludes terbakar, hanya baju yang menempel di tubuhnya yang tersisa. Mungkin ia sedih ketika itu, namun alhamdulillah kini ia sudah move on, justru rumahnya yang sekarang lebih bagus daripada rumahnya yang dahulu dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.

Masih banyak contoh-contoh cerita tentang kehilangan yang lain. Intinya jangan terlalu disesali, apa yang telah hilang dan mungkin akan hilang dari kita suatu ketika, karena Insyaallah itu cara Allah untuk menggantikan sesuatu yang hilang dari diri kita menjadi sesuatu yang lebih baik.

“Boleh bersedih hati dan menangis menyesali, namun cukup sebentar saja, setelah itu kita harus ikhlaskan yang telah hilang itu”

Boleh bersedih hati dan menangis menyesali, namun cukup sebentar saja, setelah itu kita harus ikhlaskan yang telah hilang itu. Lalu move on, menatap masa depan. Karena pada hakikatnya, apapun yang kita miliki sekarang, bukanlah milik kita. Semuanya hanya titipan dari Tuhan, termasuk istri atau suami kita, bahkan nyawa kita sekalipun. Jadi, ketika sewaktu-waktu hilang, ya memang sudah saatnya hilang, karena diambil pemilik-Nya.

“Yang membuat sedih itu adalah rasa memiliki terhadap sesuatu. Sehingga ketika sesuatu itu hilang dan pergi, akan susah move on “

Yang membuat sedih itu adalah rasa memiliki terhadap sesuatu. Sehingga ketika sesuatu itu hilang dan pergi, akan susah move on. Tentu bukan berarti kita tidak berusaha untuk menjaga dan merawat sesuatu itu ketika menjadi milik kita.

Yang hilang dan akan hilang biarlah hilang, yang pergi dan ingin pergi biarlah pergi. Tak perlu disesali hilangnya dan tak perlu dicegah kepergiannya. Ikhlaskan saja.

Memerbanyak Hand Sanitizer untuk Cegah Covid 19

0

Kampusdesa.or.id–Di sebuah grup whatsapp Gusdurian Malang muncul inisiatif dari Mas Anom dari Universitas Ma Chung untuk membuat gerakan terbatas merespon pandemi Covid 19. Mewakili tetua Gusdurian dari kalangan Kristen, dia melempar ide untuk membuat hand sanitizer bareng untuk memudahkan mendapatkan pencegah virus ini berkembang biak.

Dia kemudian menghubungi Dosen Farmasi dari Universitas Ma Chung, pak Harianto dan Guru Biologi dari SMAK Frateran Malang disapa bu Denis. Kami secara terbatas akhirnya bertemu di Balewiyoto Malang (Jumat, 20 Maret 2020, pukul 17.00 s/d 19:00 WIB) untuk praktik meracik komposisi hand sanitizer dengan dua pendekatan. Pertama pendekatan kimia murni dan kedua dari pendekatan campuran bahan alami. Mereka berbagi bersama untuk memroduksi hand sanitizer yang semakin langka di pasaran.

Racikan Kimia Murni

Pada racikan kimia murni, Pak Harianto menyampaikan, inti dasar dari hand sanitizer tak lain hanya pada kebutuhan alkohol saja. Berhubung alkohol murni tidak ramah terhadap kulit, maka percampuran dilakukan agar kulit manusia lebih aman dan menghindari berbagai efek iritasi. Apa racikan yang dibutuhkan khusu untuk campuran kimia ini, berikut bahan dasarnya untuk komposisi satu resep;

  • Alkohol 70 persen 1200 ml. Jika tidak tersedia, bisa diganti etanol.
  • Glycerin 5 ml.
  • Carbomer 10 gr.
  • Tea 5 ml
  • Aquades 100cc (bukan aquades air mineral, tapi bahan kimia)

Peralatan yang dibutuhkan untuk mengolah antara lain;

  • Mixer.
  • Gelas takar.
  • Teko kecil untuk adonan.
  • Botol untuk menyimpan hasil.

Cara penyampuran sebagai berikut;

  • Tuangkan Aquades 100 cc kedalam teko kecil/wadah untuk adonan,
  • Tambahkan alkohol 70 persen sebanyak 400 ml ke teko/adonan tadi
  • Tambahkan carbomer 10 gr
  • Tambahkan tea 5 ml
  • Tambahkan glycerin 5 ml
  • Setelah itu dimixer sampai semua bahan tadi tercampur dengan sempurna.
  • Tambahkan lagi 400 ml alkohol dan mixer lagi sampai tercampur sempurna.
  • Tambahkan lagi 400 ml alkohol.


Setelah semua dilakukan dengan baik, jadilah hand sanitizer tersebut dan siap digunakan. Cairan hand sanitizer tersebut seperti jeli. Memang begitu, tidak usah bingung. Cobalah sendiri di tangan akan terasa seperti jeli sedikit kenyal di tangan. Gunakan sebagaimana panduang menggunakan hand sanitizer di berbagai sumber online.

Hand Sanitizer Semi Herbal

Pada sesi kedua didemokan praktik meracik hand sanitizer dengan bahan dasar semi herbal, yakni dari bahan dasar lidah buaya (Aluevera) yang dilatih oleh bu Denis dari SMAK Freteran Malang. Denis menyampaikan sebenarnya kita bisa membuat yang semi herbal agar kulit kita tidak hanya terangsang alkohol dan kimia saja. Pada prinsipnya memang yang dibutuhkan hanya alkohol, sementara bahan lain digunakan untuk melindungi kulit agar tidak iritasi atau agar kulit kita terasa lebih lembut. Denis kemudian menunjukkan resep dengan mengubah selain alkohol tadi dengan lidah buaya, vitamin E, dan baha pengharum esense. Adapun takaran bahannya per-resep dibutuhkan sebagai berikut;

  • Alkohol 70 persen 1000 ml.
  • Aluevera 250 ml (serata 3 batangan Aluevera).
  • Vitamin E
  • Esense (pengharum)

Untuk mengolahnya ditunjang peralatan sebagaimana yang di atas.

Cara meraciknya sebagai berikut,

  • Kita siapkan dulu lidah buaya. Ambil secukupnya dan potong di pangkalnya lalu tiris (jawa:ditus) selama dua jam, lalu lihat ada cairan kuning. Daun lidah buaya bisa dimiringkan atau diberdirikan terbalik. Ujungnya di atas dan bonggolnya di bawah. Cairan itu harus bersih agar tidak menimbulkan gatal di kulit.
  • Setelah selesai ditus, kupas dan potong-potong kecil sehingga cukup mudah untuk diblender. Bersihkan dengan air mengalir. Siapkan blender dan masukkan potongan lidah buaya. Tidak perlu diberi air ya. Lalu lidah buaya siap diblender sampai berair.
  • Saring airnya dengan penyaring yang super lembut. Anda bisa gunakan kaos dalaman yang bersih untuk menyaringnya. Ohya, ampas sisanya bisa tetap disimpan lo. Bisa diolah dengan nutrijel akan bisa menambah kesibukan selama dia di rumah.
  • Masa penyediaan cairan dari lidah buaya butuh waktu 24 jam, jadi tidak bisa langsung dipakai. Jika cairan lidah buaya tadi sudah jadi, campur vitamin E satu kapsul dan simpan di lemari es selama 24 jam.
  • Lalu campur lidah buaya tersebut dengan alkohol tadi, tidak perlu dimixer ya, cukup diaduk saja secukupnya.
  • Setelah itu tambahkan pengharum atau aroma dari esense sesuai aroma pilihan atau kesukaan anda.

Hand Sanitizer semi herbal telah berhasil diracik dan siap dibagikan
Jadilah hand sanitizer ini dan siap anda gunakan. Ohya, kalau mencoba, waktu usapannya coba hitung 20 detik. Jika 20 detik itu masih terasa cairannya berarti hand sanitizer itu sukses dibuat.

Pada pertemuan pertama ini, kami mendapatkan sedikit sekali hasilnya karena bahannya masih sampel ujicoba. Pada pertemuan berikutnya, kami kemudian melakukan pertemuan terbatas dengan bahan yang kami bawa sendiri-sendiri sehingga kami bisa lebih siap dengan volume hand sanitizer lebih banyak. Pada Minggu, 22 Maret 2020 kami melanjutkan pertemuan terbatas di GKJW Gadang. Di situ kami melakukan peracikan mandiri tanpa panduan dari Pak Hari dan Bu Denis. Kami hanya mengacu dari catatan pertemuan pertama.

Ta ta, kami pun berhasil membuat hand sanitizer dari lidah buaya yang sudah kami siapkan masing-masing. Hasilnya lebih banyak. sebagian hasilnya dibagikan ke musholla terdekat untuk digunakan jamaah musholla di sekitar gereja.

Kata kang Anom, ini gerakan lintas agama yang menarik karena kita bergerak tidak pada level diskusi saja. Kita bergerak karena kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat yang dirasa mengalami kesulitan pengadaan seperti hand sanitizer. Di sini kami patungan untuk pengadaan bahan seikhlasnya. Semua kemudian sepakat membikin group yang nantinya akan menjadi jalur komunikasi untuk kegiatan lain yang sifatnya ketanggapdaruratan lainnya.

Keren rek.

Humor, Cara Tetap Bahagia di Tengah Virus Corona

0

Joke (humor) adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Dengan joke, orang ingin mempertahankan situasi ketenangan dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Joke menjaga agar kebahagiaan itu tidak pergi darinya. Ketika kebahagiaan menjadi mimpi semua orang, baik kaum ateis maupun teis, joke sesungguhnya adalah ungkapan tak langsung dari mimpi kebahagiaan yang terlelap di bawah sadar semua orang. Dengan joke, kita berharap tetap bisa bahagia di tengah kepedihan hidup dan kecemasan akan virus corona.  Kampusdesa.or.id–Jika kita mengikuti berita persebaran virus Corona atau Covid-19 terutama di media sosial, kita akan menemukan informasi yang sangat beragam. Mulai dari informasi yang berisi manual perlindungan diri dari infeksi virus hingga beragam hoaks dan fakes news yang disebar untuk menciptakan kepanikan publik. Di antara deretan informasi ini, kita juga menemukan berbagai joke (gurauan), baik berupa meme maupun teks non-gambar. Misalnya, joke tentang peliburan WA group selama empat belas hari karena virus Corona, atau meme yang menggambarkan dua orang tua yang sedang ngobrol di mana salah satunya mengatakan bahwa Covid-19 adalah grup band pecahan Dewa 19. Rasanya, kreator humor tengah berlomba menciptakan materi stand up comedy.
Atau, mereka sesungguhnya menyadari, tapi tidak peduli. Kepedulian biasanya baru akan muncul saat dirinya betul-betul merasa terancam. Kepedulian biasanya baru akan muncul saat dirinya betul-betul merasa terancam.
Fenomena joke pandemi Corona ini bisa dipahami dari beberapa sudut pandang. Mungkin saja ada sebagian kelompok masyarakat yang sungguh-sungguh tidak menyadari situasi berbahaya dari wabah ini. Atau, mereka sesungguhnya menyadari, tapi tidak peduli. Kepedulian biasanya baru akan muncul saat dirinya betul-betul merasa terancam. Misalnya, dia atau orang dekatnya menjadi korban keganasan virus yang muncul pertama kali di China tersebut.
Ada juga orang yang mengerti ancaman pandemi ini, tapi karena cara berpikirnya yang fatalistik membuatnya tidak peduli dengan bahaya kematian akibat virus ini. Cara pandang ini banyak ditemukan di kalangan orang beragama yang meyakini bahwa semua kejadian di dunia ini telah digariskan oleh Tuhan. Karena itu, hanya Tuhanlah yang bisa menghentikan pagebluk ini. Sekeras apapun kita berusaha, jika Tuhan menakdirkan kita terkena virus dan mati, maka kita akan tetap sakit dan mati. Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah beribadah dengan giat dan berpasrah kepada Tuhan.
Ketiga jenis orang di atas cenderung menjadikan isu Corona sebagai bahan lelucon, baik lelucon berkarakter sekuler maupun religius. Lelucon sekuler seperti yang saya contohkan di awal tulisan ini. Sedang lelucon religius bisanya muncul dalam omongan seperti ini: “Takut kok sama Corona, takut itu ya sama pembuat Corona dong. Takut saja kok salah alamat.”
Lelucon itu bisa jadi muncul dari rasa sumpek terhadap situasi, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Joke bisa menjadi kanalisasi dari perasaan tertekan.
Tapi, lelucon-lelucon tentang wabah Corona itu tidak selalu lahir dari ketidaktahuan atau kecuekan atau sikap fatalistik dalam beragama. Lelucon itu bisa jadi muncul dari rasa sumpek terhadap situasi, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Joke bisa menjadi kanalisasi dari perasaan tertekan.
Seorang psikoanalis dari Amerika, Roberta Satow, menyatakan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menangani kecemasan dan rasa sakit. Joke adalah salah satu mekanisme pertahanan diri dari perasaan cemas dan sakit itu. Joke dapat melindungi seseorang dari kecemasan menghadapi kegagalan dan perasaan tak berdaya. Orang yang bersembunyi di balik humor bisa jadi adalah sedang berjuang untuk menjaga perasaan gelisahnya.
Bahkan, joke atau humor secara umum, juga bisa menjadi mekanisme untuk sublimasi diri. Sublimasi berarti mengarahkan dorongan naluriah yang tidak dapat diterima ke saluran yang dapat diterima secara personal dan sosial. Menghadapi persoalan yang tidak tertanggungkan dan kecemasan yang mendera, orang mungkin akan mengumpat atau bertindak agresif. Joke bisa menjadi mekanisme sublimasi diri untuk menyalurkan dorongan agresif tersebut menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh norma-norma sosial. Ini seperti pengalihan dorongan amarah yang intens dalam bentuk olahraga tinju, gulat, karate atau olahraga-olahraga lain yang berkarater “peperangan”.
Mungkin ada beberapa orang yang merasa terganggu dengan berbagai joke di seputar wabah Corona. Bagi orang ini, joke Corona terkesan mengentengkan atau bahkan menertawankan wabah yang telah banyak memakan korban. Tapi, sejujurnya, siapa sih yang saat ini tidak gelisah. Kegelisahan terhadap pagebluk Corona saat ini, di mana tidak ada lagi kastil atau istana yang tidak bersentuhan dengan dunia luar, adalah kegelisahan yang melanda nyaris semua orang.
Semua orang merasa kebahagiaan dan ketenangan hidupnya tiba-tiba terrenggut dari dirinya. Tidak ada orang yang bisa lolos, bahkan para pejabat tinggi negara. Ketika semua berita menyajikan ganasnya wabah ini, apalagi tidak jarang dibumbui dengan informasi-informasi yang berlebihan, kepanikan menyapu nyaris semua kalangan.
Bagi orang bawah yang hidupnya pas-pasan, kondisi sehat itu sendiri adalah ketenangan dan kebahagiaan yang tak terperikan. Lalu, kemewahan satu-satunya itu kini harus direnggut dari hidupannya. Mereka dihadapkan pada situasi di mana setiap saat mungkin mereka akan ditetapkan terinfeksi corona dan harus diisolasi. Jika itu terjadi, hidup berarti tangisan demi tangisan. Bagi orang yang hidupnya dan kehidupan keluarganya ditentukan dari penghasilan kerja harian, infeksi Corona berarti tidak bekerja, dan itu adalah kematian. Kecemasan apalagi yang bisa menandingi kecemasan akan kematian.
Dalam situasi seperti ini, joke adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Dengan joke, orang ingin mempertahankan situasi ketenangan dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Joke menjaga agar kebahagiaan itu tidak pergi darinya. Ketika kebahagiaan menjadi mimpi semua orang, baik kaum ateis maupun teis, joke sesungguhnya adalah ungkapan tak langsung dari mimpi kebahagiaan yang terlelap di bawah sadar semua orang. Inilah yang dikatakan Bapak Psikoanalisis, Sigmud Freud, di awal abad ke-20, bahwa kegemaran kita terhadap joke sesungguhnya bertalian dengan apa yang terpendam dalam alam ketidaksadaran kita.
Joke, doa maupun hand sanitizer memiliki posisi yang sama, yaitu upaya untuk mempertahankan bahagia. Semua orang ingin selamat dan bahagia.
Dengan joke, kita berharap tetap bisa bahagia di tengah kepedihan hidup dan kecemasan akan virus corona. Dalam pengertian ini, baik joke, doa maupun hand sanitizer memiliki posisi yang sama, yaitu upaya untuk mempertahankan bahagia. Semua orang ingin selamat dan bahagia. Yang membedakan adalah cara meraihnya, dan tentu saja juga hasilnya.
Dimuat ulang dari situs alif.id atas seijin penulis.