Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 41

Hidupku adalah Membersamai Virus dan Kuman

0

Setiap orang bisa menjadikan virus sebagai teman hidup atau bahkan merasuki tubuh dan pikirannya. Tentu yang sedang aku bicarakan ini bukan Virus Covid-19 yang sekarang sedang membuat masyarakat panik, tapi sejarah singkat tentang pengalaman hidupku dalam berjuang melawan virus yang pernah singgah dalam tubuhku. Tidak mudah memang menghadapinya, namun aku selalu yakin Tuhan selalu mencintai lebih dari yang ku tahu.

Kampusdesa.or.id–Hidup sebagai kalangan bawah seperti saya, tentu kuman dan virus adalah makhluk yang selalu membersamai. Masa kecil tinggal di rumah berlantai tanah. Bermain di lumpur dan air, di sungai dan sawah. Bahkan bermain di samping rumah dan belakang rumah, kadang juga kaki terperosok di peceren.

Situasi kamar kos yang akan selalu aku ingat, yang dari perspektif kesehatan amat tak layak.

Hingga masa kuliah, kostpun juga hanya bisa tinggal di kamar yang murah. Bahkan pernah satu tahun saat ekonomi sedang sulit dan sumbangan dari kakak-kakak sempat macet, tinggal di kamar kos super sempit. Kamar itu amat lembab, karena belakang tembok adalah sumur dan kamar mandi. Saat hujan, air merembes dan lantai basah. Situasi kamar kos yang akan selalu aku ingat, yang dari perspektif kesehatan amat tak layak.

Virus ganas juga menyerang di pertengahan kuliah. Hingga aku harus ‘ngamar’ di pusat kesehatan masyarakat selama sebelas hari. Habis 9 infus. Keluar dari opnamepun masih belum bisa berdiri. Kaki lumpuh, tubuh masih lemas. Rambut rontok. Tubuh kering. Tidak masuk kuliah selama hampir satu semester. Lalu belajar berdiri dan berjalan hingga bisa agak normal. Konsekuensinya nilai satu semester E semua untuk semua mata kuliah yang telah kususun di KRS.

Ya jelas saja aku mengalami isolasi. Ya karena hanya bisa terbaring dan lalu hanya latihan berjalan di sekitar rumah. Selama lima bulan tak bertemu teman-teman kuliah dan teman-teman organisasi. Toh mereka di Jember (tempat kuliahku), dan aku di Trenggalek. Waktu itu belum ada media sosial. Tidak bisa komunikasi lewat WA, belum ada. FB juga belum ada. Tahun 2000, yang bahkan HP “cekitet” pun masih satu dua mahasiswa yang punya.

Kepercayaan diri bahwa bisa sembuh adalah modal yang besar dan energi yang kuat.

Isolasi dan “social distancing” berlaku otomatis karena saat sakit itu aku tak bisa ke mana-mana. Hanya orang dalam rumah dan tetangga atau saudara yang berkunjung saja yang bisa dijumpai. Hiburan-hiburan adalah buku dan motivasi ibu dan saudara bahwa sakit itu pasti sembuh. Kepercayaan diri bahwa bisa sembuh adalah modal yang besar dan energi yang kuat.

Selama hampir satu semester, praktis hiburanku yang paling menarik adalah buku.

Selebihnya adalah adaptasi dengan keadaan. Pikiran dan keinginan mencari sandaran, yaitu BUKU. Pada fase inilah aku membersamai dan virus yang ada di tubuh dengan banyak membaca buku. Seorang teman yang baik hati dari Jember mengirimi buku-buku. Buku-buku tergolong berat yang aku bawa pulang juga membersamai. Di momen inilah aku terkena VIRUS yang ganas, virus yang menggerakkanku membaca buku. Selama hampir satu semester, praktis hiburanku yang paling menarik adalah buku.

Virus yang merasuki tubuh dan pikiranku inilah yang ternyata banyak membentuk diriku di masa berikutnya. Penyakit yang dibawanya inilah yang membuatku masih belum bisa sembuh hingga sekarang—mungkin sedang pada tahap penyembuhan.

Sejak kembali ke kampus, omonganku adalah omongan buku. Inilah yang membuat sebagian orang bahkan tidak suka pada penyakitku ini. Seorang mahasiswi yang ku-PDKT bahkan lari dariku karena saat aku mendekatinya, yang kuomongkan adalah bahasa-bahasa buku. Bukannya diajak nonton dan belanja, malah diajak diskusi bahasa-bahasa buku.

Bukannya diajak rekreasi sebagaimana mahasiswa-mahasiswi lainnya, malah diajak diskusi. Bahkan seorang memberitahuku bahwa pernah ada mahasiswi yang pernah bergosip tentang aku dengan berkata: “Hati-hati lho didekati sama Mas itu, nanti kamu dipropaganda teori yang berat-berat!”.

Mahasiswa-mahasiswi yang bersenang-senang dengan budaya hedon mulai ku serang.

Bahkan beberapa teman sekelas juga tampaknya jijik sama aku yang membawa virus. Aku dikenal mulai menyebarkan virus secara agresif. Mahasiswa-mahasiswi yang bersenang-senang dengan budaya hedon mulai ku serang. Mahasiswa dan mahasiswi yang tak mau ikut aksi ku serang bersama teman-teman yang membawa virus sejenisku. Bahkan pada suatu aksi menolak kenaikan BBM kami membubarkan perkuliahan. Aku orasi masuk kelas dan kuajak yang kuliah untuk ikut terjun ke lapangan kampus bikin pernyataan sikap.

Akhirnya pada puncaknya, aku dan teman-temanku yang ketularan virus itu mulai diawasi oleh pihak tertentu yang menganggap dirinya mengamankan situasi negara. Belasan dan puluhan mahasiswa mungkin juga sudah terkena virus yang kubawa. Sebagian yang tidak kena memang sudah waspada. Biasanya kami datang ke kosnya. Membawakan buku dan bacaan yang sering dianggap penyakit—atau “bacaan terlarang”.

Tentu saja aku dan teman-temanku mendiskusikan sudah memahami apakah virus ini negatif atau positif bagi pikiran dan tubuh kami. Kami berkesimpulan bahwa ini adalah virus yang positif tetap juga bisa membawa kami bisa berbuat negatif—termasuk ketika ada gejala kesurupan.

Yang penting kita harus tetap waspada dan sadar akan bahaya virus yang bisa menghancurkan peradaban.

Setiap orang bisa menjadikan virus sebagai teman hidup atau bahkan merasuki tubuh dan pikirannya. Tentu yang sedang aku bicarakan ini bukan Virus Covid-19 yang sekarang sedang membuat masyarakat panik. Virus di dunia ini memang berlaksa jumlahnya. Tubuh kita tetap punya anti-bodi yang bisa menghadapi virus yang masuk. Yang penting kita harus tetap waspada dan sadar akan bahaya virus yang bisa menghancurkan peradaban. Selain virus Corona adalah Virus KEBODOHAN!***

Trenggalek, 24 Maret 2020

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Santai Saja Kalo UMM Terima Maba Lewat Jalur Influencer

0

Jalur penerimaan maba seperti ini bisa kasih keuntungan lho buat kampus. Influencer itu bisa diberdayakan sebagai cara promosi kampus agar semakin dikenal masyarakat. Lha wong presiden Jokowi saja berencana kasih dana miliaran buat influencer biar bisa promosikan pariwisata, kenapa kampus mesti keluarkan dana banyak buat cetak banner, pamflet, dan lainnya buat promosi.

Kampusdesa.or.id–Cerita ini berawal saat adik saya yang kelas 3 SMA bertanya soal penerimaan maba (mahasiswa baru) perguruan tinggi. Meski model penerimaan maba saat ini berbeda dengan yang saya alami dulu, saya usahakan semaksimal mungkin mencarikan informasi tersebut untuk adik saya. Nah, saya terhenti pada laman penerimaan maba sebuah kampus di Malang. Ada proses penerimaan maba lewat jalur influencer. Tepatnya kampus UMM. Benar, Anda tak salah baca. Jalur influencer.

Seperti saya duga sebelumnya, pasti ada tulisan soal penerimaan maba UMM lewat jalur influencer. Tema tulisan itu jelas menarik. Pasalnya, siapa sangka seorang influencer saat ini mendapat perhatian lebih? Apalagi ada jalur khusus buat diterima kuliah. Modal kuota internet, hape kamera ciamik cum tampang yang ‘menarik’, predikat influencer akan mudah didapat. Lagian, mana ada sih cewek cantik atau cowok cakep yang followernya sebanyak hitungan jari. Meski tak semudah itu juga sih. Heuheu.

Tapi, tidak semua influencer bisa diterima. Tentu ada syaratnya.

Kompas mewartakan soal diatas pada hari Sabtu, 21 Maret 2020. Kompas menerima konfirmasi dari Humas UMM bahwa berita soal penerimaan maba lewat jalur influencer itu benar. Tapi, tidak semua influencer bisa diterima. Tentu ada syaratnya. Seperti seberapa kreatif, positif, edukatif atau informatif konten yang dihasilkan influencer tersebut. Dan juga disediakan tim khusus untuk men-tracking kemungkinan adanya follower atau subscriber palsu.

Rasanya wajar saja kalo UMM membuka jalur seperti itu. Yhaa gimana, pendidikan itu hak setiap warga negara, jeh. Idealnya, tanpa terkecuali sih. Termasuk latar belakang warga negara tersebut. Mau dia tukang desain cover buku, mau tukang jual bakso, tukang jualan baju, mereka semua berhak mendapatkan pendidikan, bahkan bagi seorang influencer. Jadi, woles saja tho.

Jalur penerimaan maba seperti ini sebenarnya bisa kasih keuntungan lho buat kampus.

Jalur penerimaan maba seperti ini sebenarnya bisa kasih keuntungan lho buat kampus. Influencer itu bisa diberdayakan sebagai cara promosi kampus agar semakin dikenal masyarakat. Lha wong presiden Jokowi saja berencana kasih dana miliaran buat influencer biar bisa promosikan pariwisata, kenapa kampus mesti keluarkan dana banyak buat cetak banner, pamflet, dan lainnya buat promosi.

Lagian, jadi influencer itu juga gak mudah. Butuh kuota internet tanpa batas, tampang yang menarik, suara yang jernih didengar, dan masih banyak deh. Konten yang dibikin pun tak serampangan. Lha gimana bisa dapet banyak follower, kalo kontennya tutorial masak mie instan, atau cara menulis pake bolpoin. Sama lha kyak atlet atau hafidz Quran. Atlet perlu jaga stamina, jaga kesehatan, atau hafidz Quran yang perlu menjaga hafalannya.

Bagi saya pribadi, langkah UMM ini patut diacungi jempol. Artinya UMM mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman. Ia tidak hanya melihat pendidikan lewat jalur formal a.k.a tes tulis dan lainnya. Tapi, lebih jauh dari itu, pendidikan harus menembus sekat-sekat formal, jalur informal seperti influencer pun perlu mendapat sentuhan pendidikan. Lah, kok jadi serius amat kayak makalah gini yak? Wqwqwq.

Tapi, serius. Ini langkah yang saya yakin perlu ditiru kampus lain, atau kampus menerima maba lewat jalur lain yang tidak biasa. Lha wong bayar UKT aja udah bisa pake hape (bayar pake uang elektronik), masak nerima maba cuma pake jalur itu-itu aja sih? Ayo dong, ada gebrakan lha. Nerima maba lewat jalur hafidz Quran atau atlet olahraga, itu kan udah biasa. Coba, selain influencer, jalur apa lagi ya yang bisa memungkinkan seseorang buat diterima jadi mahasiswa?

Realita Sekolah Online dalam Masa Social Distancing

0

Pandemi Virus Corona (Covid-19) berdampak pada sistem belajar di sekolah. Siap atau tidak, bisa atau tidak, pembelajaran di sekolah dilaksanakan dengan online. Ini seperti pukulan telak semua harus berubah, jika tidak berubah, maka akan terjadi kekacauan. Sahdan, habitus pendidikan bertransformasi tanpa tawar memasuki dunia baru. Pembelajaran daring. Sepertinya ini pelajaran penting sebuah perubahan pendidikan bisa langsung melonjak, entah dengan kesiapan karena memang sudah biasa, atau tergopoh-gopoh harus menyesuaikan. Bagaimana kalau peristiwa ini terjadi untuk perubahan yang substansial di pendidikan kita?

Kampusdesa.or.id–Selama menjalani social distancing ikhtiar melakukan tindakan preventif penyebaran wabah Covid-19 hampir seminggu ini dunia pendidikan sibuk melaksanakan sekolah online (daring). Semua materi pelajaran disampaikan secara online.

Kalau hari belajarnya sepekan, maka peserta didik akan online selama sepekan pula. Jika jam belajar mulai jam 07.00 dan berakhir jam 13.00 maka bisa jadi mereka mengintai tempat belajarnya di android mereka selama itu pula.

Jika mereka memiliki saudara yang sama-sama belajar online dengan durasi belajar yang sama maka tinggal mengalikan kebutuhan kuota internet sebanyak penggunanya. Bagaimana dengan perangkat digital (android) ini penggunaannya join dengan anggota keluarganya? Berapa kali lipat paketan data yang dibutuhkan?

Apakah orang tua akan ambyar memikirkan kebutuhan tersebut? Belum tentu. Mereka bisa jadi berpikir ini hanya sekedar konversi dari uang saku dan uang transport menuju sekolah menjadi pembelian paketan data internet. Selesai masalah.

Tapi bagi orang tua yang tidak bisa memikirkan hal ini karena memang uang saku anak minim dan tidak ada uang transport karena sekolah jaraknya dekat, bagaimana? Apalagi masa WFH tidak hanya dimaknai sebagai work from home, tapi juga work for home. Apakah denyut ekonomi keluarga mereka baik-baik saja?

Pada cyberschool (sekolah non-formal melalui jaringan internet) yang pernah saya ketahui mereka cuma belajar 2 jam dalam 5 hari. Mereka yang belajar di cyberschool rata-rata dari kalangan menengah ekonomi ke atas juga. Nah, saat ini kalangan ekonomi menengah ke atas dan ke bawah masuk kepada sistem cyberschool ini. Cyberschool sebagai bentuk homeschooling yang masuk ranah pendidikan non-formal tidak masalah dengan belajar tatap muka tidak 100% karena memang dibolehkan melakukan model pembelajaran maksimal 50% belajar mandiri, minimal 20% tatap muka, dan minimal 30% tutorial (Permendiknas No 3 tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan Kesetaraan).

Tetapi, sekolah formal seminggu penuh harus belajar tatap muka yang saat ini dialihkan ke tatap muka dalam jaringan internet. Kebutuhan biaya tiap peserta didik untuk membeli paketan data internet pasti lebih besar. Saya bisa menyimpulkan begini, sedikit banyak sudah menyaksikan keluhan orang tua tentang kebutuhan biaya sekolah dari rumah ini. Apakah mereka akan menyelesaikan tugas belajarnya melalui warnet-warnet terdekat? Tidak bolehkan? Kita masyarakat Indonesia dalam masa ‘wajib di rumah’.

WFH yang memaknai sebagai Work From Home saya kira hanya dilakukan oleh para pejabat, pemodal, pebisnis besar, dan semua pelaku usaha dalam volume pendapatan yang luar biasa besarnya. Bagaimana jika WFH ini bermakna Work For Home, mereka bekerja untuk menyambung hidup

Masa social distancing dan/atau di rumah saja ini tidak mudah dijalani oleh semua warga. WFH yang memaknai sebagai Work From Home saya kira hanya dilakukan oleh para pejabat, pemodal, pebisnis besar, dan semua pelaku usaha dalam volume pendapatan yang luar biasa besarnya. Bagaimana jika WFH ini bermakna Work For Home, mereka bekerja untuk menyambung hidup, volume pendapatan mereka perlu berjumpa dengan pelaku usaha dan pasar yang kini sedang dalam masa di rumah saja, prediksi kita perputaran uang mereka terganggu jugakan? Lalu, di antara mereka memiliki anak-anak yang harus menjalani sekolah online yang perlu biaya dan perangkat digital untuk mengakses materi pelajaran sekolah.

Saatnya sekolah menunjukkan simpatinya pada kondisi ini. Saatnya pula guru mengeluarkan semua kecerdasan dan kearifannya untuk membuat proses pembelajaran pelajaran yang mereka ampu dengan cara murah diakses, mudah dipelajari, enjoy diterima dan menjadi pengalaman berharga bagi peserta didik.

Idealitas pemenuhan target belajar sesuai kurikulum tetap diperhatikan, tinggal bagaimana guru menyampaikan kepada peserta didik. Saya kira guru hebat masa seperti ini adalah guru yang bisa menyampaikan pelajaran kepada peserta didik tidak menimbulkan beban stres karena semua guru mereka menugasi project dan tugas rumah.

Saatnya guru memperlakukan belajar dari rumah ini dapat memaksimalkan semua media dan sumber belajar digital. Sumber belajar dari media digital pun seyogyanya tidak memunculkan cost belanja paketan data internet lagi. Cukuplah aplikasi apa yang dimiliki peserta didik itulah yang dimaksimalkan pemanfaatannya. Masih ada peserta didik yang keberatan dengan memasang aplikasi anjuran gurunya untuk mengakses materi pelajaran selama masa social distancing ini.

Saatnya meninggalkan sejenak apa itu worksheet atau lembar kerja siswa, buku cetakan pegangan siswa dan lain-lain. Guru beralih metode dengan penyampaian belajar dengan video, adopsi materi belajar dari YouTube, menyusun konten belajar yang dapat diakses menarik dan menyenangkan bagi peserta didiknya dalam belajar secara online.

O ya, baru-baru ini KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) sudah menerima pengaduan orang tua berupa keluhan tugas guru yang banyak diberikan kepada anak-nak mereka (Tempo.co/18 Maret 2020). Kalau kita sebagai guru tidak suka hal yang monoton dan tak menarik, mengapa kita menyajikan materi pelajaran masih konvensional kepada peserta didik kita.

Semoga kita mampu bertransformasi dari mengajar hanya menulis di papan tulis dan memberi tugas di buku pegangan siswa, menuju mengajar tanpa papan tulis.

Jika mereka menaruh harapan besar akan keberhasilan masa depan mereka kepada kita, berarti mereka yakin kalau kita mampu melakukan itu. Semoga kita mampu bertransformasi dari mengajar hanya menulis di papan tulis dan memberi tugas di buku pegangan siswa, menuju mengajar tanpa papan tulis, mengajak peserta didik berselancar di YouTube, dan aplikasi digital yang dimiliki peserta didik.

Selamat menikmati merdeka belajar yang sesungguhnya!

Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Pola Infeksinya Bersama Alissa Wahid (2)

0

Salah satu keunikan sekaligus bahaya Virus Corona adalah suka numpang dan melompat-lompat dari orang sehat ke orang sehat hingga bertemu orang tidak sehat. Jika menular ke orang yang sehat ia tak menampakkan gejala apa-apa. Orang tersebut akan tetap beraktivitas seperti biasa dan berinteraksi dengan banyak orang karena tidak sadar sedang membawa Corona. Akibatnya, orang tersebut menulari banyak orang. Ia menjadi Super Spreader.

kampusdesa.or.id-Hal yang menarik dari infeksi Corona adalah jika orang yang terinfeksi dalam keadaan sehat, maka tidak berpengaruh. Seperti yang terjadi di Korea Selatan, justru para pemuda yang sehat yang menjadi pembawa virus. Mereka tidak sadar jika sudah tertular virus dan tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka lalu menulari orang yang sehat juga. Orang kedua lalu menulari orang yang kurang sehat. Nah, orang ketiga inilah yang fatal akibatnya. Dialah yang akan menderita Covid19.

Teman-teman bisa lihat di sini. Ini pemetaan dari Singapur. Ini adalah sebuah Gereja di Singapur, penularannya adalah pada saat Misa. Yang pertama di Gereja karena penularannya lewat misa. Kedua dari gym. Memang situasinya jadi sangat rumit karena penularannya sangat mudah. Kan konyol sekali satu orang bisa menulari banyak orang. Atau contoh tadi, yang naik pesawat berapa banyak yang akan positif corona. Ini yang disebut sebagai klaster dari satu orang nulari ke berapa orang.

Berkaitan dengan hal terssebut juga dikenal istilah Super Spreader. Super Spreader? Apa itu? Orang yang menulari sangat banyak ke orang lainnya. Misalnya, yang korea selatan
, pasien 31 itu dia tidak menulari 43 orang, dia menulari langsung mungkin 43 orang, tapi dia menyebabkan 80 persen kasus di korea selatan dari klaster dia saja. Makanya dia disebut super spreader. Ini ada orang sakit dia ke klinik, dokternya bilang periksa dia tidak mau malah dia pergi ke Gereja, setelah itu ke salon dan beberapa hari kemudian dia ke gereja lagi. Akhirnya dia menulari 80 orang lain.

Di Italia, pasien pertama berada di Lombardia, dia di rumah sakit dan menulari 10 orang. Yang menarik super spreader yang sekarang lagi heboh itu tabligh akbar di Malaysia. Tabligh akbar itu dihadiri 10 ribu orang dari berbagai negara, ini kumpulan jamaah tablig. Lalu orang-orang pada pulang, dan 5.000 datang dari Malaysia dan sisanya dari beberapa negara dan tidak ada apa-apa. Lalu di Brunei hasil tes nya positif, dia dilacak ke mana aja dan bilang kalau dari Malaysia. Pemerintah Brunei memberi tahu ke Malaysia, langsung pemerintah Malaysia melakukan testing, dari testing ditemukan banyak sekali orang yang tertutal dari tabligh akbar. Gara-gara tabligh akbar yang awalnya 200 orang melonjak menjadi 500 orang dalam waktu beberapa waktu di Malaysia. Akibatnya Malaysia sekarang ini lockdown.

Di Brunei, dari 85 orang yang ikut Tabligh akbar itu, sekitar 40 yang sudah terbukti positif tertular Corona. Di Singapura juga demikian, lockdown juga. Itu yang disebut super spreader. Itulah yang menyebabkan minggu lalu, saya berjibaku di PBNU agar bisa menunda munas alim ulama yang harusnya hari ini dilakukan di pesantren al-Anwar, Sarang Rembang. Namanya NU kumpul ada ribuan santri di situ dan ada kiai sepuh dan bunyai sepuh, yang mereka punya resiko tinggi. Saya waktu itu berharap PBNU mau menunda. Alhamdulillah mau menunda. Tapi konyolnya, masih banyak orang yang beranggapan “Enggak ini hanya flu biasa, nggak mungkin saya ketularan, atau saya ini punya amalan kan kita orang bertakwa jadi kita tidak boleh takut”

Di Malang ada dua kasus, satu radang, dan satu meninggal. Keduanya berinteraksi dengan orang yang meninggal tanggal 3 Maret. Dia berinteraksi dengan orang meninggal karena radang paru-paru tapi dia negative corona. Waktu itu dia masuk rumah sakit dalam kondisi radang paru-paru berat, tapi dites hasilnya negatif, maka rumah sakitnya slow saja. Maka yang ngurusin dia biasa aja. Apalagi meninggalnya tidak karena corona. Tapi kalau dia meninggal di tanggal 3 Maret di akhir minggu ketiga, jadi ketularannya kapan? kemungkinan di minggu kedua Februari, ibu ini yang kemarin meninggal berarti kira-kira kalau pakai standar normal, katakanlah meninggalnya positif corona tanggal 17 Maret, kalau kita tarik 3 minggu sebelumnya di akhir Februari sampai temennya meninggal dia masih merasa aman dan tidak menunjukkan gejala apa-apa masih bertemu banyak orang, dan barketemu. Kebayang nggak? Dari pertengahan Februari dari kasus 3 Maret, dia bertemu banyak orang.

“Sepanjang kita sehat kita tidak perlu khawatir. Insyaallah bisa 80% menang terhadap virusnya, nanti ada sisanya 15% yang gejala ringan 5% itulah yang fatal”

Kita tidak tahu apakah orang-orang di sekitar kita positif atau tidak. Sepanjang kita sehat kita tidak perlu khawatir. Insyaallah bisa 80% menang terhadap virusnya, nanti ada sisanya 15% yang gejala ringan 5% itulah yang fatal. Tetapi karena wataknya suka numpang, lompat-lompat dari orang sehat ke orang sehat sampai ke orang tidak sehat, maka kita memang harus hati-hati.

Kalau kita menjaga jarak dengan orang lain. Misalnya, kita punya beberapa teman dan dia misalnya positif Corona. Kalau kita menjaga jarak ke dia, maka tidak menular. Ataupun kita ketularan dan dia di rumah maka tidak menularkan. Itu yang bisa dilakukan. Jadi, itu sesuatu yang sifatnya personal, pada saat yang sama negara harus mengatur karena resiko sangat tinggi.

“Jangan sampai menjalani takdir, tapi takdir yang dia pilih takdir menularkan Corona ke orang lain seperti kasus 31 di Korea Selatan”

Di Indonesia masih banyak orang yang tidak peduli, tidak paham, masih banyak orang yang cara berpikirnya tawakkal kepada allah Swt. dan tidak berusaha. Padahal kalau mati sendiri tidak apa-apa, kalau menyebabkan wabah ke orang lain itu hal yang lain. Jangan sampai menjalani takdir, tapi takdir yang dia pilih takdir menularkan Corona ke orang lain seperti kasus 31 di Korea Selatan.[]

Disadur dari transkrip diskusi online Jaringan Gusdurian bersama Alissa Wahid, 18 Maret 2020

Ayo bantu masyarakat kecil yang terjangkit Corona dengan melakukan donasi melalui https://kitabisa.com/

Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Pola Infeksinya Bersama Alissa Wahid (1)

0

Kedahsyatan pandemi Virus Corona telah menggunjang dunia akhir-akhir ini. Banyak korban jiwa berjatuhan dan jumlah kasus baru terus bertambah. Penyebarannya juga begitu cepat dan sulit terdeteksi. Pemahaman mengenai karakteristik virus penyebab Covid-19 ini sangat penting agar kita mampu mengantisipasi penyebarannya. Alissa Wahid, National Coordinator GUSDURian Network Indonesia, akan membagikan informasi ini kepada kita.

Kampusdesa.or.id-Virus corona hari ini telah berada di 166 negara. Terinveksinya 166 negara ini dikarenakan dampak dari globalisasi, yang memudahkan perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain. Sebagai gambaran: hari ini di Ibu Kota Australia ditemukan 3 orang positif Corona. Orang ini di Canberra naik bus kemudian dilacak dan sebelum ini ngapain? Ternyata dia baru datang dari Sydney kota terbesar di Australia, lalu dari Sydney ke Jakarta, dan dari Jakarta ke Sydney dia pakai pesawat Garuda. Itu salah satu contohnya, jadi selama di pesawat berpotensi menularkan virus. Memang, berdasarkan riset terakhir, jika kita berada di ruangan kecil, hanya butuh dua jam untuk bisa tertular virus corona.

Kita bisa tertular novel virus corona tapi tidak sampai disease. Misalnya, Si A tertular virus tapi dia tidak sakit, maka si A tidak disebut sebagai Covid. Tapi ada orang yang terinveksi Corona dan dia sakit dan ada gejalanya dia disebut Covid-19. Virus influenza, Sars, itu semuanya Corona Virus, yang (sekarang) ini jenis ke 7. Corona yang ke 7 ini karena masih baru, belum ada vaksinnya sampai sekarang. Maka berkembang rumor konspirasi bahwa ini buatan Amerika, Rusia, Cina atau yang lainnya. Atau yang kedua, perusahaan farmasi yang berkembang. Dan juga berkembang (rumor) di WhatshAp grup, bahwa ini virus yang dilepas oleh Bill Gates.

Tapi kalau melihat perkembangan virus itu sendiri, saya lebih percaya kalau Corona Virus ini lebih mirip wabah 1918 atau flu Spanyol. Flu Spanyol waktu itu mematikan sekali, penyebarannya juga global, dan menyebabkan 10% orang meninggal termasuk di Indonesia. Di Indonesia flu spanyol tahun 1918 sampai 1919. Indonesia saja korbannya dua juta pada saat itu. Dan itu menjadi batu pijakan perlawanan para petani di Banten karena wabah itu.

Saya lebih meyakini bahwa Corona Virus ini mirip seperti Spanish Flu. Dia memang natura. Orang tahunya corona virus ini munculnya di Wuhan, Cina dan dan provinsi Hobbay. Munculnya dari penyebaran yang ngeri banget itu dari sebuah pasar, di mana orang biasanya membeli makanan seperti ular, kelelawar, babi untuk dimakan. Karena itu, kemudian muncul pandangan bahwa penularannya melalui kelelawar saja, dan orang tidak begitu takut awal-awalnya. Tapi ternyata terus tidak terkendali.

“Saat ini kasus positif Virus Corona ada 204.000 di seluruh dunia. Kemudian yang meninggal 8.250 dan yang sembuh 82.866”

Saat ini kasus positif Virus Corona ada 204.000 di seluruh dunia. Kemudian yang meninggal 8.250 dan yang sembuh 82.866. Teman-teman bisa lihat, dalam jangka waktu yang sangat pendek dari 22 Januari sampai bulan 16 Maret peningkatannya seperti itu. Yang mengerikan tajam sekali peningkatan kematiannya. Pada hari Jumat kemarin 170. Pada hari Jumat waktu saya menulis untuk Kompas baru 158 negara, tapi hari ini 170 padahal jaraknya berapa hari.

Banyak masyarakat kecil dan pekerja informal yang rentan terkena wabah Corona, mari lindungi mereka dengan berdonasi, dengan klik kitabisa.com sebuah komitmen bantuan yang diinisiasi oleh Sekretaris Nasional Gusdurian yang merupakan jejaring Kampus Desa Indonesia. Mari donasikan sebagian rizki Anda.

Corona virus ini mudah menular, bahkan dari ludah yang muncrat. Misalnya ludah yang mengandung Coroa jatuh ke hanphone, dia bisa bertahan 72 jam/tiga hari. Kalau hari ini melihat handphone teman-teman ada ludah 3 hari yang lalu, ia bisa bertahan selama tiga hari dan masih hidup. Kalau ada orang yang memegang benda yang ada dropack itu mudah bagi si virus ini masuk. Makanya kita tidak boleh pegang hidung, pegang mata dan pegang mulut. Cara itu paling mudah, walaupun penelitian terbaru hari ini dan WHO mengumumkan ternyata virusnya terindikasi dapat menyebar lewat udara. Makanya kenapa kita berada dalam satu ruangan yang kecil bersama penderita itu bisa ketularan walaupun kita tidak berhadap-hadapan, karena ada indikasi virusnya hidup di udara.

“Virus Corona tidak berbahaya bagi orang yang sehat. Tetapi tidak demikian bagi kita yang punya riwayat sakit, entah karena daya tubuhnya, karena lansia, atau karena dia punya riwayat  hepatitis B”

Corona ini virusnya tidak terlalu berbahaya. Jika kondisi tubuh kita sehat, kita bisa melawan dan kita bisa tidak apa-apa. Jadi virus corona tidak berbahaya bagi orang yang sehat. Tetapi tidak demikian bagi kita yang punya riwayat sakit, entah karena daya tubuhnya, karena lansia, atau karena dia punya riwayat  hepatitis B. Hipatitis B tidak sama dengan hepatitis A yang bisa sembuh. Kalau hepatitis B virusnya masih ada, tapi bahaya kalau saya terlalu kecapekan. Dia bisa menghebat dan dia merusak hati. Kalau orang seperti saya daya tubuhnya rendah daripada orang yang tidak memiliki riwayat seperti saya.

Orang-orang yang punya riwayat seperti ini, begitu kena Virus Corona ada dua kemungkinan, satu karena daya tubuhnya lebih lemah, maka si Virus Corona langsung terjun ke paru-paru. Tidak ada yang melawan. Karena itu, dia menyebabkan gejala, bakteri numoria bebas merdeka merusak paru-paru. Kedua, untuk orang yang punya riwayat, dia bisa kumat penyakit lamanya. Kenapa? Karena Corona bisa merusak daya tahan tubuhnya. Sehingga penyakit lama bisa kumat lagi. Misalnya pak Budi Karya, dia punya asma, karena itu misal ada konferensi pers dan ada wartawan yang merokok nafasnya sesak. Orang seperti ini kalau kena Corona Virus problemnya bisa dari asmanya tersebut. Satu, dia terserang numenia berat, dan keuda penyakit lamanya bisa kumat.

Makanya, banyak orang menduga angka kematian di Indonesia itu sebetulnya salah hitung karena ada orang-orang yang suspek corona tetapi dinyatakan negatif tapi meninggalnya karena penyakit yang lain. Itu yang dikhawatirkan orang yang bergerak dibidang kesehatan.

Indonesia masih jauh ‘kan? Indonesia tambah 55, bayangkan dalam satu hari kematiannya tambah 12. Padahal kemarin dua hari ada pertambahan kematiannya cuma dua. 55 tambahan dalam satu hari kemungkinan sudah diperbaiki cara mengidentifikasi pasiennya.

Disadur dari transkrip diskusi online Jaringan Gusdurian bersama Alissa Wahid, 18 Maret 2020

Menelisik Kejelasan Rapid Test di Indonesia

0

Saat ini Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor rapid test. Padahal saya yakin kapasitas sumberdaya manusia (SDM) di Indonesia ada banyak dan kapasitas alat maupun laborotorium juga cukup memadahi. Mungkin mempertimbangkan efektifitas dan urgensi. Lebih baik membeli yang sudah ada daripada mengembangkan sendiri dengan biaya penelitian dan produksi yang kurang lebih sama dengan biaya impor.

Kampusdesa.or.id–Jauh-jauh hari sebelum Indonesia, di Tiongkok sudah dikembangkan kit untuk deteksi penyakit virus corona (Covid-19) dari sampel serum darah pasien. Gagasan ini juga sudah saya ungkapkan melalui ulasan sederhana yang kali pertama tayang di Detik (19/03) seiring pemerintah mengumumkan akan dilakukan tes massal menggunakan metode rapid test (tes cepat). Meskipun sejauh ini untuk diagnosa awal pengganti RT-PCR baru dibuat alat IgG/IgM rapid test.

Contoh tes massal ini juga digelar di beberapa negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jerman, dan Uni Emirat Arab (Kompas, 19/03). Beberapa negara mencoba memakai alat ini sebenarnya hanya sebagai langkah skrining awal warganya untuk mengetahui mana yang berpotensi positif dan negatif dan dilanjut pengecekan ulang. Begitu halnya yang sedang ditempuh negara Indonesia. Melalui press-conference kepada awak media (20/03) Presiden Jokowi menyampaikan akan melakukan langkah ini.

Akan tetapi kurang ada kejelasan informasi mengani tes massal menggunakan kit rapit test ini. Ada beberapa media daring mengutip pernyataan juru bicara Penanganan Percepatan COVID-19 Achmad Yurianto yang mengatakan telah memesan sebanyak satu juta kit dan media lain mengutip 500 ribu unit. Sebagian media memberitakan bahwa pemerintah mengeklaim hasil tes bisa keluar hanya dalam waktu 2 menit saja. Sementara itu, sebagaimana yang saya ketahui hasil rapid test dengan memakai Lateral Flow Assay (LFA) akan keluar sekitar 15 menit baru bisa disimpulkan.

Kendati demikian, terpenting adalah pemerintah harus bijak dlam pemakaian alat rapid test ini. Apakah melalui beberapa rumah sakit rujukan yang nantinya didistribusikan ke seluruh Indonesia, atau pemerintah akan memetakan berdasarkan wilayah keparahan dari dampak wabah. Begitu juga harus diperjelas siapa yang mendapatkan privilege lebih prioritas dites pertama? Dalam hal ini hanya orang yang bisa bayar saja, orang sudah lansia, atau seperti apa mekanismenya?

Pasien yang dites adalah yang memiliki kemungkinan kontak dengan pasien positif Covid-19 dengan resiko tinggi.

Achmad Yurianto menyampaikan tahapan tes massal seperti yang dikutip di berbagai media pada hari Minggu (22/03) menjelaskan bahwa pasien yang dites adalah yang memiliki kemungkinan kontak dengan pasien positif Covid-19 dengan resiko tinggi. Jika setelah dilakukan tes darah dengan rapid test hasilnya negatif, maka tetap harus dilakukan follow up kerena tidak memberikan jaminan. Sehingga harus dites ulang lagi setelah 7 hari. Mengingat alat IgG/IgM rapid test basisnya adalah melihat respon serologi.

Sebagai catatan, hasil rapid test mendeteksi hanya bisa mendeteksi antibodi virus corona. Oleh karena itu akurasinya kurang dan tidak menjamin kesimpulan 100% valid. Tetap harus dicek dengan PCR sebgai satu-satunya “gold standard” dengan menggunakan teknologi molekuler yang memiliki tingkat sensitifitas jauh lebih tinggi dibanding rapid test. Meski demikian akhir-akhir ini sebelum ditemukan vaksin virus corona, banyak perusahaan media di luar negeri berlomba-lomba mengembangkan rapid test serupa dengan berbagai modifikasi dan berupaya meningkatkan sensitifitas dan selektifitasnya.

Lantas, apa langkah selanjutnya yang diambil pemerintah ketika setelah dilakukan pemeriksaan malah ditemukan banyak pasien positif Covid-19. Apakah fasilitas penanganan dan pengobabtan di Indonesia sudah cukup memadahi? Sebaiknya selain disediakan rumah sakit, layaknya pemerintah belajar dari Wuhan yang meyediakan gedung khusus sebagai tempat isolasi. Selain harus adanya pemantauan dan pemeriksaan secara berkala saat masa inkubasi. Sehingga dipisah anatar ODP, PDP, dan pasien dengan status suspect, atau yang sudah statusnya positif.

Takutnya jika dicampur di rumah sakit, kalau sama-sama belum tahu mana yang positif dan mana yang negatif pasti tidak akan aware. Bisa jadi rumah sakit yang seharusnya mengobati pasien kini menjadi sumber transmisi penyakit (virus corona). Tidak heran jika yang sehat secara tidak langsung malah dapat tertular dari yang sakit ketika berada dalam satu lokasi yang sama.

Untuk menutup tulisan ini, saya hanya ingin menambahkan bahwa saat ini Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor rapid test. Padahal saya yakin kapasitas sumberdaya manusia (SDM) di Indonesia ada banyak dan kapasitas alat maupun laborotorium juga cukup memadahi. Mungkin mempertimbangkan efektifitas dan urgensi. Lebih baik membeli yang sudah ada daripada mengembangkan sendiri dengan biaya penelitian dan produksi yang kurang lebih sama dengan biaya impor. Wallahua’lam

Begini Cara Dosen FKIK Unismuh Makassar Peduli Corona

0

KampusDesa, Makassar – Berdasarkan situs covid19.go.id (18 Maret 2020), penderita positif Corona di Indonesia 227 orang, sembuh 11 orang, meninggal dunia 19 orang. Sementara di dunia, COVID-19 telah menyebar hingga ke 159 negara, dengan kasus terkonfirmasi sejumlah 198.193 kasus, dinyatakan sembuh sebanyak 81.961 kasus, dan kematian 7954 orang.

Sesuai amanah yang tertuang dalam Surat Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/MLM/I.0/H/2020 tentang Wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), maka ada kewajiban moral bagi dosen, terutama dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah (FKIK Unismuh) Makassar, untuk peduli terhadap problematika umat. Peluang emas itu rupanya ditangkap baik oleh seorang dosen bernama dr Dito Anurogo MSc.

Berbekal surat dengan Nomor: 89/WK/INF3/1419035/2020 tentang permintaan narasumber sosialisasi virus Corona, dokter literasi digital yang suka puisi dan hobiis filateli dan numismatik itu dengan penuh kesadaran berbagi informasi tentang tanda, gejala, pencegahan, berita hoaks seputar virus Corona yang mencapai 217 saat dirilis tanggal 15 Maret 2020.

Dokter yang juga penulis produktif bersertifikasi BNSP itu menjelaskan beberapa gejala klinis utama yang muncul, antara lain: demam (suhu lebih dari 38 derajat Celcius), batuk kering (sebagian kecil berdahak) atau pilek atau nyeri tenggorokan, sulit bernapas, sesak memberat, fatigue (kelelahan yang amat) dan mialgia (nyeri sendi), gejala gastrointestinal (gangguan di perut, lambung, dan saluran pencernaan, misalnya diare), gelaja saluran napas. Gejala tambahan nyeri kepala, nyeri otot, lemas, diare, batuk darah.

“Pasien dewasa jarang mengalami demam. Namun, gejala awal yang sering dijumpai pada pasien dewasa adalah batuk dan sesak napas,” jelasnya ramah.

Alumnus S-2 Universitas Gadjah Mada ini juga menjelaskan pemeriksaan penunjang bagi pasien terduga infeksi virus Corona. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan penderita suspek (dicurigai) COVID-19 antara lain: pemeriksaan radiologi (berupa foto toraks, CT-scan toraks, USG toraks), pemeriksaan spesimen saluran napas atas dan bawah, bronkoskopi, pungsi pleura sesuai kondisi, pemeriksaan kimia darah, biakan mikroorganisme dan uji kepekaan dari bahan saluran napas (sputum, bilasan bronkus, cairan pleura) dan darah, pemeriksaan feses (tinja) dan urin (air seni).

Penulis buku The Art of Medicine (Gramedia, 2016) itu juga tampak bersemangat saat menjelaskan strategi pencegahan COVID-19 di depan sekitar 40 peserta. Pertama, cuci tangan. Cuci tangan Anda dengan sabun dan air minimal selama 20 detik. Gunakan hand sanitizer berbasis alkohol yang setidaknya mengandung alkohol 60% bila tidak tersedia air dan sabun. Kedua, hindari dan jangan sentuh. Maksudnya, hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dicuci. Hindari kontak dengan orang yang sedang sakit. Ketiga, pakai masker bila sakit. Saat Anda sakit, gunakanlah masker medis. Tetaplah beristirahat di rumah saat Anda sakit atau segera ke fasilitas kesehatan yang sesuai. Hindari banyak beraktivitas di luar rumah. Keempat, etika batuk dan bersin. Penjelasannya, tutupi mulut dan hidung Anda saat batuk atau bersin dengan tisu. Buanglah tisu langsung di tempat sampah. Kelima, disinfeksi. Lakukan disinfeksi secara rutin.

Untuk Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) dan Protokol isolasi diri sendiri dalam penanganan Coronavirus Disease (COVID-19), maka dipersilakan mengunduh surat edaran Nomor HK.02.01/MENKES/202/2020 di situs resmi Kementerian Kesehatan.

Kegiatan yang dilakukan di PT Waskita Karya (Persero) Tbk pada tanggal 16 Maret 2020 selama sekitar tiga jam ini berlangsung tertib. Para peserta tampak bersemangat mengikuti pre test, materi, dan post test. Pada saat berdiskusi, beberapa peserta secara aktif berkonsultasi tentang kesehatan dan problematika, terutama terkait COVID-19.

Penyuluhan kesehatan yang berlangsung di ruang rapat Kantor Proyek Makassar Sewerage B2 JL Singa No 50 (depan SDN Mamajang II) Kecamatan Mamajang, Kota Makassar ini mendapatkan apresiasi dari pejabat di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah (FKIK Unismuh) Makassar.

“Sosialisasi tentang COVID-19 ini sangat penting karena merupakan upaya preventif penularan virus Corona. Dengan adanya sosialisasi, diharapkan para peserta mampu menerapkan prinsip-prinsip hidup bersih sehat (PHBS), dan mengikuti himbauan pemerintah agar melakukan social distancing demi memutuskan mata rantai penularan Corona, ” dr Andi Weri Sompa SpS MKes, neurolog di RS Pelamonia Makassar, Wakil Dekan bidang akademik FKIK Unismuh Makassar.

Refleksi Kenangan Bersama Mr. Vicky

0


Innalillahi wainna ilaihi raji’un, pada hari Kamis malam, 05 Maret 2020 Dr. KH.vM Taufiqi, SP, M.Pd atau biasa disapa dengan sapaan akrab Mr. Vicky menghadap ilahi. Saya bersaksi bahwasanya beliau yang juga Ketua Lakspedam Kabupaten Malang ini adalah orang baik. Semoga segala amal pahalanya diterima dan segala kekhilafan beliau diampuni oleh Allah Swt, serta ditempatkan di Surga-Nya. Al Faatihah.

Kampusdesa.or.id–Kemarin malam hari Kamis, 05 Maret 2020 saya mendapatkan informasi dari Prof. Dr. H. Imam Suprayogo di WA Grup Sahabat Pena Kita, bahwasanya Dr. KH.vM Taufiqi, SP, M.Pd atau biasa disapa dengan sapaan akrab Mr. Vicky ini sedang dirawat di RSU Syaiful Anwar, kamar Dahlia, Nomor 238. Spontan saja begitu mendapatkan kepastian tempat Mr. Vicky dirawat saya pun bicara ke istri untuk segera besok hari Jum’at mengagendakan menjenguk Mr. Vicky di rumah sakit.

Selama ini saya mengetahui beliau sedang sakit parah (gagal ginjal), namun saya tidak tahu kepastian beliau dirawat dimana. Saya mendapatkan info bahwa beliau sakit dari manajernya (Mas Zain) sekitar bulan September 2019, saat saya diminta Direktur Bravo VIEC tersebut untuk menggantikan beliau mengisi seminar yang sudah teragendakan di beberapa kota di Jawa Timur.

Masih dari Mas Zain, bahwasanya beliau sakit dikarenakan sering minum obat dan minuman penambah energi untuk menunjang aktivitasnya yang sangat sibuk. Memang Mr. Vicky sangat gila kerja, beliau seorang pekerja keras dan terbukti beliau menjadi orang sukses di usia muda.

Jum’at siang selepas sholat Jum’at saya sudah mengagendakan tiga kegiatan, pertama; ke kantor pajak untuk melaporkan SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) Pajak, kedua; menjenguk Mr. Vicky di RS Saifu Anwar dan yang ketiga; ke Pasar Besar Malang untuk membelikan mukena untuk anak saya di pondok Gontor.

Namun agenda kegiatan itu agak molor dikarenakan secara mendadak saya ditugaskan oleh Ketua PC LP Ma’arif NU Kabupaten Malang untuk mengikuti rapat Pengurus Ma’arif Malang Raya bersama ketau PWNU LP Ma’arif Jawa Timur, Gus Noor Shodiq Askandar di ruangan beliau Wakil Rektor 2 di Lantai 6 Gedung Umar Bin Khotob Unisma. Saya pun taat perintah Pimpinan, dikarenakan memang Ketua sedang ada kegiatan mengisi seminar di Kecamatan Jabung dan Pak Sekretaris juga ada kegiatan mengisi pengajian, akhirnya saya yang notabene-nya berdomisili dekat dengan kampus Unisma ketiban sampur. Saya laksanakan tugas dengan ikhlas dan tidak mengeluh. Rapat selesai tepat jam 3 sore, segera saya pulang untuk sholat Ashar dan berangkat ke kantor pajak.

Kantor pajak tepat di seberang RS saiful Anwar, saya pun mengajak istri untuk melanjutkan agenda saya yang kedua, yaitu menjenguk Mr. Vicky. Namun karena tadi terburu-buru, kami tidak sempat membawa dan membeli oleh-oleh untuk beliau. Akhirnya kami pun berputar-putar sekitar di jalan Jaksa agung Suprapto Kota Malang untuk sekedar membelikan buah untuk oleh-oleh, namun ketika saya melihat jam pukul 5 sore, saya memutuskan untuk besok saja menjenguk Mr. Vicky karena sudah terlalu sore.

Sesampai di rumah, setelah sholat Maghrib dan mengaji saya membuka HP dan mendapatkan informasi dari beberapa sahabat, baik japri maupun di grup WA bahwasanya Mr. Vicky meninggal dunia. Innalillahi wainnailaihi roojiun, sontak tubuh saya merinding menahan haru dan sedih yang luar biasa. Saya sangat menyesal tadi sore tidak jadi menjenguk Mr. Vicky. Seakan tidak percaya Mr. Vicky telah tiada.

Ingatan saya pun terbawa saat pertama kali bertemu dan mengenal Mr. Vicky pada tahun 2011 di kampus STAI Raden Rahmat. Ketika itu saya ikut membantu menjadi dosen di STAI Raden Rahmat Kepanjen yang kini berubah menjadi Universitas Islam Raden Rahmat (Unira). Kami sering diskusi mengenai sesuatu hal. Dari diskusi-diskusi tersebut saya dan Mr. Vicky semakin akrab. Jujur saja, Mr. Vicky-lah yang menjadi motivasi saya untuk melanjutkan kuliah S3.

“Mas Azis., nanti kalau sudah lulus S3, sampean akan saya ajak ikut seminar dan mengajar di Pascasarjana Unira”

Laki-laki muda energik yang juga Direktur Pascasarjana Unira tersebut berkata kepada saya, “Mas Azis., nanti kalau sudah lulus S3, sampean akan saya ajak ikut seminar dan mengajar di Pascasarjana Unira.”

Janji beliau benar-benar dipenuhinya, malah sebelum saya lulus S3 beberapa kali saya diajak oleh beliau untuk mengisi seminar bersama beliau. Saat beliau sakit, saya diminta beliau menggantikan mengisi seminar, khususnya materi tentang menulis best practice bagi guru. Buku saya yang pertama kali terbit pada tahun 2016, beliaulah yang memberi kata pengantarnya.

Pada tahun 2015 Mas Husnaini, Mr. Vicky, Mas syahrul, Mas Haidar, Mas Halim, Kyai Masruri, Pak Emcho, Prof. Chirzin, saya sendri dan beberapa teman yang lain menginisiasi berdirinya perkumpulan penulis-penulis yang tergabung di grup WA; Sahabat Pena Nusantara (SPN). Grup WA tersebut akhirnya berubah menjadi Sahabat Pena Kita (SPK) yang memiliki tradisi, setiap 6 bulan sekali melaksanakan kopdar, sekaligus launching buku antologi.

Sekitar tahun 2016 kami pernah semobil pulang pergi dari Malang menuju Pondok Pesantren Darul Istiqomah Bondowoso bersama Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag. Sempat malam-malam waktu itu mampir makan bersama di warung pinggir jalan di daerah Probolinggo, sungguh kenangan indah yang tak kan terlupakan.

Pada Desember 2019 saya dan Mr. Vicky bertemu untuk membahas tentang persiapan kopdar Grup WA Sahabat pena Kita (SPK) yang akan diadakan di UNISMA pada 25-26 Januari 2020. Pada waktu itu secara langsung Mr. Vicky berpamitan kepada saya, bahwa beliau tidak akan bisa ikut , dikarenakan akan istirahat total untuk perawatan sakit beliau. Saat itu saya sempat ditraktir makan di warung makan Ocean Garden di depan Stasiun Kota Malang oleh beliau. Tidak saya sangka itu adalah pertemuan terakhir saya dengan beliau.

“Saya bersaksi bahwasanya Mr. Vicky yang juga Ketua Lakspedam Kabupaten Malang ini adalah orang baik”

Saya bersaksi bahwasanya Mr. Vicky yang juga Ketua Lakspedam Kabupaten Malang ini adalah orang baik. Semoga segala amal pahalanya diterima dan segala kekhilafan beliau diampuni oleh Allah Swt, serta ditempatkan di Surga-Nya. Al Faatihah.

Terimakasih atas inspirasi, ilmu, motivasi, nasehat dan pengalaman yang Mr. Vicky berikan pada saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Meski sebenarnya masih banyak kenangan yang pernah terjadi, sekiranya saya cukupkan saja sampai di sini tulisan refleksi tentang Mr. Vicky. Mohon maaf.