Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 39

Menakar Leadership Crisis dalam Menghadapi Wabah Pandemi

0

Harapannya tidak ada blunder dan kebijakan-kebijakan yang kurang tepat. Apalagi menyampaikan statement tidak pada semestinya dan bahkan cenderung ngawur, seperti halnya yang tengah ramai jadi bahan pembicaraan publik baru-baru ini. Sehingga krisis kepemimpinan (leadership crisis) di Indonesia tidak semakin menular. Rakyat Indonesia butuh kebijakan yang tepat dan serius dalam menangani wabah Covid-19 ini.

“Pemimpin mencapai suksesnya melalui pelayanan kepada orang lain, bukan dengan mengorbankan orang lain.”

-H. Jackson Brown, Jr. (New York Times #1 bestselling author)

Kampusdesa.or.id–Akibat wabah virus corona dan ada himbauan work at home, belakangan ini banyak organisasi mengadakan seminar online (webinar). Saya beberapa kali mengikuti baik dari WHO, Jaringan Gusdurian, dan PPI Dunia. Tidak hanya itu, acara diskusi di televisi meskipun tanpa penonton di studio tidak mau kalah untuk membahas terkait virus corona. Karena selama wabah virus corona ini belum menurun atau bahkan belum hilang sama sekali, topik ini pasti masih dibahas banyak orang dengan perspektif multidisplin ilmunya masing-masing. Beberapa bahasan cukup beragam mulai dari pemaparan data jumlah kasus terkini, proses penanganan, langkah lockdown maupun physical distancing, tersedianya alat pelindung diri (APD), dana untuk penanggulangan wabah, dan kebijak-kebijakan pemerintah.

Di samping itu sebenarnya saat mengikuti webinar mengenai virus corona, hal-hal yang sedikit julid dan majelis ghibah (rasan-rasan) pemerintah ini rasanya tidak pernah ketinggalan. Mengingat kebijakan yang tidak tepat sasaran dan pernyataan yang disampaikan ke publik tidak begitu menunjukan sosok pemimpin yang ideal.

Dunia pun menyorot dan membanding bandingan kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia. Di mana Indonesia menjadi salah satu negara yang dinilai penanganannya masih gagap. Sehingga saat kali pertama kasus ini resmi diumumkan di Indonesia, akhirnya mencuat di berbagai media dan menimbulkan banyak warga panik atau ketakutan. Panic buying terjadi di mana-mana dan tidak manusiawi. Banyak warga yang pergi ke pasar dan supermarket guna memborong sembako. Masker mulai langkah. Jika ada pun itu harganya sangat jauh dari kata normal.

Upaya Penanganan Virus Corona di Indonesia

Ekonom senior Universitas Indonesia Faisal Basri seperti yang dikutip di dalam akun Instagram Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Jumat (27/3) mendesak pemerintah pusat untuk memutuskan agar segera melakukan lockdown terutama Jakarta yang menjadi episentrum pandemi Corona atau COVID-19 di Indonesia, sebelum korban berjatuhan semakin bertambah.

Terkait upaya lockdown, di Indonesia memang tdak mengambil upaya itu. Pemerintah pusat belajar dari negara-negara lain bagaimana dampaknya terhadap ekonomi Inodonesia setelah melakukan lockdown negara. Senada dengan pendapat Piter Abdullah yang dilansir Kompas.com (16/03), ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia ini berpendapat apabila Indonesia menerapkan lockdown, maka dampaknya akan buruk bagi perekonomian. Terkhusus pada sektor internal yang berpotensi kehilangan penghasilan, juga pada sektor produksi yang akan terganggu karena pasokan produk yang berkurang.

Saya paham bagaimana gejolak masyarakat yang tidak sejalan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo. Apalagi terjadinya tekanan yang lebih menghujam setelah negara jiran Malaysia memutuskan untuk isolasi secara nasional pada tanggal 18 hingga 31 Maret 2010. Otoritas Malaysia secara resmi memberlakukan perintah pengendalian pergerakan atau movement control order (MCO).

Indonesia sendiri hingga hari ini masih belum memberikan pengumuman terkait bakal dilakukannya karantina nasional beralasan sudah dikaji dan diperhitungkan dengan melibatkan para pakar. Dengan dalih dalam konsep penanganan bencana, kebijakan untuk penyelesaian bencana harus hati-hati jangan sampai malah menimbulkan masalah baru.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo menyatakan saat ini pemerintah masih mempertimbangkan berbagai aspek dalam upaya pengendalian pandemi virus corona. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan pemerintah adalah pengalaman sejumlah negara yang menerapkan karantina wilayah maupun lockdown untuk mengendalikan penyebaran virus corona (Tirto, 30/03)

Leadership Crisis dalam Menghadapi Wabah

Selain presiden selaku pemerintah pusat, di wabah pandemi ini dr. Terawan Menteri Kesehatan di era kabinet era Jokowi jilid dua ini juga diuji kinerjanya. Kebijakan yang absurd dan unfaedah sehingga banyak menuai kritik yang pertama adalah diangkatnya 188 Warga Negara Indonesia (WNI) Anak Buah Kapal (ABK) World Dream yang tiba di Tanjung Priok, Jakarta Utara (14/3/2020) sebagai “Duta Imunitas Corona”.

Saya pribadi sampai saat ini belum ngeh apa tujuan beliau.  Mungkin, ini bukan hanya masalah gagalnya komunikasi, tapi juga kegagalan kepemimpinan Kementerian Kesehatan. Tidak heran juga saat Menkes Terawan mengklaim bahwa yang paling penting adalah penanganan kesehatan pasien Corona yang sudah mengikuti standar World Health Organization (WHO). Dia tidak mau bersikap berlebihan untuk masalah penanggulangan karena menurutnya, wabah Corona adalah termasuk “penyakit yang bisa sembuh sendiri.”

Lantas kenapa tidak lebih fokus pada upaca penanganan dan pencegahan seperti penyediaan stock alat pelindung diri (APD) dan aat kesehatan untuk menanggulangi nanti di saat jumlah kasus bertambah, masker dan hand sanitizer pasti ludes seketika. Belum lagi rumah sakit rujukan di ndonesia juga dapat dikatakan fasilitas kesehatannya masih kurang memadahi. Bagaimana poin-poin strategi kesehatan masyarakat lebih menjadi prioritas saat ini. Bukan malah menunjukan ketidak siapan dan lebih kepada mencoba mengurangi kepanikan warga serta berusaha meyakinkan bahwa Covid-19 ini hanyalah wabah biasa.

Ketika melihat fakta di lapangan sekarang banyak pasien menumpuk, rumah sakit rujukan overload, sudah delapan tenaga media gugur, para relawan mencari bantuan donasi karena kekurangan APD untuk tenaga medis dalam menangani pasien terinfeksi Covid-19. Sampai-sampai jika krisis in semakin menjadi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan sejumlah organisasi profesi tenaga medis lainnya menyatakan merasa perlu untuk menyampaikan protes secara terbuka. Tidak sekadar memprotes, mereka juga mengancam akan melakukan aksi mogok jika pemerintahan tidak memenuhi APD yang dibutuhkan. Kalau ini benar-benar terjadi, siapa yang akan membantu pemerintah untuk menangani pasien.

Jangan lupa bahwa tenaga medis juga manusia yang tentu bisa berpotensi tertular. Apa jadinya jika malah terjadi nosocomial infection.

Selain itu, ada lagi yang menjadi kejanggalan. Dalam hal penerapan protokol standar misalnya. Menkes Terawan dianggap tidak bisa mengadasi krisis wabah Covid-19 dengan baik. Dengan gaya komunikasinya yang santuy dan percaya diri namun lebih terlihat gegabah dan sembrono serta sering mengabaikan protokol standar dalam penanganan krisis membuat masyarakat semakin panik.

Seperti yang dimuat koran Tempo (07/03) berjudul “Blunder Tangani Corona”. Semestinya Indonesia paling tidak sudah memiliki protokol krisis dalam penanganan kejadian luar biasa semacam ini. Karena pernah punya pengalaman ketika menangani wabah sindrom pernafasan akut parah (SARS) dan flu burung beberapa waktu lalu. Jangan sampai lemahnya prosedur standar dan cenderung menyepelehkan dan menganggap enteng virus pandemi ini malah mengakibatkan masyarakat tambah was-was.

Begitu juga juru bicara Penanganan Percepatan COVID-19 Achmad Yurianto terkesan tidak hati-hati dalam memberikan pernyataan kepada publik pada Jumat (27/3). Dalam video yang beredar, Yuri sapaan akrabnya mengatakan agar si kaya dan si miskin saling bekerja sama agar tidak menularkan penyakit. “Kemudian yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar, dan yang miskin melindungi kaya agar tidak menularkan penyakitnya, ini menjadi kerja sama yang penting,” jelas Yuri.

Entah apa sebenarnya maksud kalimat menjanggal tersebut. Tapi jika dilihat klarifikasinya justru kemudian malah tidak menjelaskan dan tidak menjawab dari apa yang masyarakat tangkap. Sehingga tidak timbul kehebohan dan semakin memperkeruh suasana. Sebagaimana pendapat Muhammad Isnur, pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mengatakan bahwa pernyataan pejabat publik yang mempertentangkan antara kelas kaya dan kelas miskin dalam situasi krisis kesehatan, hanya akan memperburuk situasi. Sejauh ini, pernyataan yang dilontarkan Yurianto mencerminkan cara penyelenggara negara menangani Covid-19. Secara tidak langsung masyarakat sedang dipertontonkan diskriminasi dalam penanganan kesehatan.

Contohnya, cerita perlakuan berbeda yang dialami puluhan jurnalis dengan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju yang menjalani test Covid-19 di Jakarta, seperti ditulis Media Indonesia (15/03). Kemudian, berita rencana tes cepat Covid-19 untuk anggota DPR dan keluarganya. Meskipun, rencana ini ditentang sebagian masyarakat, membuat Presiden Jokowi menyatakan tes massal diprioritaskan untuk tenaga medis.

Hermawan Saputra, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Persatuan RS Seluruh Indonesia berpendapat  di awal yang dapat menjadi bencana saat yang menganggap remeh itu malah stakeholder (pemerintah). Ia juga meyakini jika Indonesia masih under reported. Boleh jadi ada terduga, orang yang sudah terinfeksi, cuma karena tidak pernah periksa.

Indonesia sekarang dengan jumlah kasus sebanyak 2092 adalah status siaga dan tingkat case fatality rate (CFR) sebesar 8.7% dengan kata lain menduduki posisi ke-2 negara tertinggi di dunia setelah Italia mendekati 10% (9.5%). Harapannya tidak ada blunder dan kebijakan-kebijakan yang kurang tepat. Apalagi menyampaikan statement tidak pada semestinya dan bahkan cenderung ngawur, seperti halnya yang tengah ramai jadi bahan pembicaraan publik baru-baru ini. Sebut saja Bapak LBP yang terhormat. Sehingga krisis kepemimpinan (leadership crisis) di Indonesia tidak semakin menular. Rakyat Indonesia butuh kebijakan yang tepat dan serius dalam menangani wabah Covid-19 ini.

Ramadhan di Pesantren dan Implementasinya di Masa Kini

0

Semoga tahun-tahun selanjutnya masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan ini dan saya sangat meyakini bahwa tiada setiap kejadian tanpa campurtangan Allah SWT yang sudah tertulis di lauhul mahfudz.

Kampusdesa.co.id--Ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan yang diagung-agungkan karena banyak keutamananya. Bulan Ramadhan merupakan bulan ampunan, penuh rahmat dan keberkahan serta segala amal ibadah dilipat gandakan. Bulan dimana diturunkan al-Quran (nuzulul qur’an) dan di dalamnya ada malam malam seribu bulan (lailatur qadar) ini selalu dinanti-nanti oleh semua umat muslim. Menurut Islam wajib puasa sehari dari terbit fajar (subuh) hingga terbenam matahari (maghrib) diperuntukkan bagi yang sudah baligh. Dalam kitab Safinatun Najah karangan Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dijelaskan bahwa tanda-tanda baligh itu ada tiga yakni, genap berusia 15 tahun bagi laki-laki maupun perempuan, mimpi basah, baik laki-laki maupun perempuan dan haid bagi perempuan yang telah berumur 9 tahun.

Anggap saja jika kita hitung, secara peribadi seingat saya mulai puasa Ramadhan sehari penuh tidak berbuka diwaktu dhuhur (Jawa: poso bedug) adalah ketika kelas empat SD. Yaa, sekitar berusia 10-11 tahunan. Maka di usia menginjak 27 tahun ini berarti sudah sekitar hampir 17 tahun berpuasa. Bagaimana dengan Anda? Pasti bisa menghitung sendiri sudah berapa lama menjalankan ibadah puasa. Menariknya, dalam kurun waktu itu ada momen di mana Allah SWT menakdirkan saya menjalankan puasa Ramadhan di pondok pesantren (Ponpes).

Sebenarnya bulan Ramadhan adalah masa yang paling menyenangkan jika bisa kumpul bersama keluarga. Tetapi sayangnya sedari kecil saya memang tidak pernah menikmati sebulan Ramadhan penuh bersama keluarga. Sejak  SD sampai SMP saya tinggal (ikut) bersama mbah. Ketika menginjak SMA saya sekolah di madrasah dan masuk pondok pesantren. Di pesantren inilah pertama kali Ramadhan berstatus sebagai santri. Mulai dari situ rasanya Ramadhan dari tahun ke tahun begitu berkesan, sehingga sampai sekarang menyisahkan kerinduan.

Banyak kisah yang pernah saya alami ketika bulan Ramadhan dari tahun ketahun. Akan tetapi menurut saya pengalaman saat menghabiskan bulan Ramadhan di pondok pesantren adalah sangat menyenangkan. Kenangan manis dan berharga itu tidak mungkin dapat saya lupakan. Cerita ketika menjadi santri tidak akan pernah ada habisnya. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, pasti ada kegiatan-kegiatan menarik yang gak mungkin dapat dirasakan oleh anak-anak lain di luar sana –yang tidak pernah nyantri.

Semangat-semangatnya ibadah ketika menjadi santri. Sebagai bekal untuk mereka di akhirat nanti. Begitu juga ketika bulan Ramadhan tiba, pengajian kitab rutin, salat berjamaah, tarawih, gerakan i’tikaf di masjid, hingga khataman al-Qur’an atau tadarus bergiliran dengan santri lainnya adalah rutinitas yang tidak pernah tergantikan dan selalu dirindukan. Ingin rasanya mengulang masa-masa selain itu. Masa di mana dapat merasakan indahnya buka bersama selepas ngaji sore, masak bareng-bareng dan makan sahur dalam satu wadah talam.

Momen yang tidak terlupakan adalah saat saya sempat mengikuti kegiatan pondok Ramadhan di Ponpes Langitan Tuban. Bagi masyarkat Jawa Timur, Ponpes Langitan yang berdiri sejak 1852 ini merupakan salah satu pusat pendidikan agama Islam (diniyah) terbesar di Indonesia. Puluhan ribu santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, datang ke Ponpes yang lebih dikenal dengan pola pendidikan salaf untuk belajar dan mendalami agama Islam. Bulan Ramadan di pesantren salaf tidak hanya khataman al-Qur’an, melainkan waktunya khataman kitab-kitab kuning juga. Kitabnya pun beragam, semisalnya kitab ihya’ ulumuddin, tafsir jalalain, bidayatul hidayah, uqudulujain, dan lainnya. Nantinya, para santri boleh memilih pengajian apa saja yang akan diikuti dan berlangsung di kompleks yang berbeda. Akan tetapi, biasanya untuk ngaji umum dilaksanakan di masjid utama secara serentak diisi oleh pengasuh.

Alhamdulillah, saya pernah ngaji kitab ihya’ disampaikan langsung oleh Almaghfurlah KH. Abdullah Faqih (Kyai Khos). Sewaktu Ramadhan seperti ini, di Langitan tidak hanya santri yang mukim di sana. Banyak masyarakat umum juga ikut ngaji kilatan ini. Sistem pengajian dilakukan dengan metode bandongan. Kyai membaca kitab beserta maknanya, dan para santri akan menulis makna pada kitab masing-masing. Target selesai dalam kurun waktu satu bulan menjadikan memaknai kitab lebih cepat. Sampai-sampai tangan rasanya malah tambah lancar menulis Arab pego.

Semua kenangan tersebut sangat membekas hingga kini. Setelah lulus dari pesantren, saya tidak pernah melewatkan Ramadhan sama seperti itu. Waktu kuliah S1 dulu pun ngajinya juga cuma pengajian ala kajian mahasiswa sebelum maghrib (buka puasa) dan setelah Subuh. Apalagi sekarang Allah SWT menakdirkan jalan lain. Sejak memperoleh beasiswa kuliah S2 dan menyelesaikan proyek riset di KMUTT Bangkok mengharuskan saya menjalankan puasa Ramdhan sudah kali ke empat ini di Thailand. Negara di mana agama mayoritas penduduknya adalah Budha. Kebanyakan komunitas muslim tinggal di wilayah Thailand Selatan yang lebih dekat dengan Malaysia. Barangkali kalau saya tinggal di sana, pendidikan semacam pondok pesantren pasti masih bisa saya temukan. Syukur-syukur apabila bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Melayu.

Lain halnya di Bangkok, mungkin dapat dibilang sangat jarang ditemukan pesantren di sini. Saya pernah sekali menjumpai lembaga pendidikan semacam pesantren (mereka menyebut dengan Islamic college) pun full pakai bahasa Thailand. Sedangkan saya di sini masih dungu berbahasa Thai. Ada pepatah yang mengatakan, “man ‘arafa lughota qoumin amina min makrihim” (Barang siapa yang mengetahui bahasa suatu kaum, ia akan aman dari tipu daya kaum tersebut).

Tapi di lain sisi memang rasanya seakan-akan hampa. Semua kenangan di pesantren jadi benar-benar dirindukan. Tak hanya merindukan momennya, saya juga merindukan para kyai, ustadz-ustadz, teman-teman sekamar dan satu komplek. Semoga mereka semua dikaruniai kesehatan dan umur yang panjang oleh Allah SWT. Kalau ada kesempatan, rasanya ingin kembali menjalani Ramadan di pesantren salaf lagi. Istilahnya dulu begini “mondok sampek rabi, ngaji sampek mati”. Betapa bahagianya saya jika suatu saat nanti dapat menjalankan ibadah di bulan yang istimewa ini bersama para santri seperti dulu.

Terakhir sebagai catatan dan koreksi pribadi. Seharusnya segala kegiatan di bulan suci ini harus pula sama semangatnya saat bulan-bulan biasa. Tidak hanya giat pada saat bulan Ramadhan saja. Lebih parahnya lagi cuma sekedar bersifat seremonial dan rutinitas belaka. Harapannya tidak cukup di situ, namun ilmu agama tetap selalu ditambah, iman terus dijaga, dan ibadah semakin baik setiap harinya. Maka suatu kelak ilmu agama yang sudah kita dapatkan di pondok pesantren menjadi bermanfaat. Selain diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, juga dapat diajarkan kepada masyarakat dan maslahah untuk umat. Sehingga apa yang telah kita peroleh tidak sekedar diingat sebagai kenangan dan sebatas dapat dicatat sebagai sejarah. Akan tetapi ilmu kita tidak hanya menguap begitu saja seiring kesibukan-kesibukan duniawi yang silih berganti datang.

Semoga tahun-tahun selanjutnya masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan ini. Meskipun selalu bertepatan dengan kegiatan dan sikon yang tidak mendukung, sehingga mengharuskan tidak bisa pulang. Tapi saya sangat meyakini bahwa tiada setiap kejadian tanpa campurtangan Allah SWT yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Wallahua’lam bishowwab. [ ]

Perawat; Dari Ancaman Paparan Corona, Pisah Ranjang, hingga Perceraian

0

Petugas kesehatan, utamanya perawat, bak buah simalakama menghadapi pandemi Corona. Tidak bisa menghindar dari tugas, resiko tertular virus tinggi, dan bahaya lain yang tentu membikin tugas mulianya penuh ancaman. Di rumah, mereka pun dihantui penyingkiran oleh suami, pisah ranjang, bahkan anjuran mertua menceraikan si perawat. Hantu itu menjadi masif setelah beredar surat Gubernur DKI yang hoaks mengenai petugas kesehatan yang tidak boleh berhubungan suami istri sampai batas waktu tak tentu. Ruang-ruang privat pun terjarah.

Kampusdesa.or.id–Menjadi perawat bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi di tengah wabah seperti ini. Mungkin ini bukan yang pertama, masih banyak jejeran penyakit lainnya yang pernah menjadi nomor satu di dunia. Bahkan saat ini, bukan hanya corona yang sedang naik daun. Tetapi, DBD juga. Hanya saja itu penyakit lama yang biasa berulang sehingga meskipun kematian karena DBD dianggap biasa. Sedangkan corona ini penyakit baru dan belum banyak yang terbiasa dengan virus ini, sehingga banyak sekali dampak yang dirasakan bagi manusia di dunia, khususnya perawat. Apa saja dampak yang mereka rasakan? Yuk simak!

Pasangan tidak mau satu selimut

Semenjak berita Corona merajalela, sebagian manusia di bumi mulai mengikuti beberapa cara pencegahannya. Mulai dari menyetok hand sanitizer sampai menimbun masker sehingga tatkala permintaan meningkat, harga pun melambung tinggi 10 kali lipat. Bahkan beberapa tips yang tidak disarankan seperti menimbun makanan pun dilakukan oleh sebagian manusia.

Lebih parahnya lagi beredar surat edaran dari Gubernur DKI Jakarta untuk tidak melakukan hubungan suami istri bagi pasutri, yang ternyata hoaks pun tetap menebar efek kepada keluarga perawat. Imbasnya, beberapa pasangan (perawat) mengalami harga diri rendah lantaran pasangannya menghindari. Tidak hanya rasa tersinggung dan rendah diri, rasa kecewa, dan merasa diabaikan pun bermunculan.

Dikucilkan oleh tetangga

Sudah begitu banyak berita dimana seorang perawat diusir dari kostan hanya karena pemilik takut tertular corona. Virus corona bukan hanya merusak sistem pernapasan, bahkan virus ini mampu mengikis keimanan seseorang. Pun kini para perawat mulai curhat karena setiap ia lewat, semua orang langsung menghindarinya. Padahal hanya lewat, tidak mengusik apalagi melakukan perbuatan keji.

Mengisolasi diri

Tentu sudah sering sekali membaca atau menonton berita gugurnya seorang medis dan paramedis yang gugur di medan perang. Demi kalian kami tetap bekerja dan melakukan pelayanan tanpa membedakan. Sampai takdir berkata kamilah selanjutnya, lalu kami mulai mengalami tanda gejala yang serupa.

Kami mengisolasi diri sendiri tanpa keluarga yang menemani. Sebab kami paham betul bagaimana resikonya bila dipaksakan.

Setelah itu, surat dari direktur atau management rumah sakit memberikan perintah untuk istirahat di rumah selama 14 hari. Bukan tanpa alasan, demi orang yang kami sayangi di rumah agar tidak tertular. Kami mengisolasi diri sendiri tanpa keluarga yang menemani. Sebab kami paham betul bagaimana resikonya bila dipaksakan.

Orang tua/ pasangan meminta untuk resign

Kedengarannya sepele, bukan hal yang sulit. Tetapi, corona menyebabkan krisis menoter yang susahnya melebihi tahun 98. Bukan maksud hati ingin sok paling jago bertahan dengan karir ini. Hanya saja kami sudah terlanjur bersumpah, sumpah profesi perawat. Dimana kami akan berusaha keras dan mengeluarkan seluruh energi untuk semua demi melawan virus corona.

Bukan maksud hati ingin sok paling jago bertahan dengan karir ini. Hanya saja kami sudah terlanjur bersumpah, sumpah profesi perawat.

Meskipun ada 1 atau 3 orang yang akhirnya tetap memilih resign ketika terpilih menjadi tim covid-19. Sekali lagi, bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah teman sejawat kami yang dimana istrinya tengah mengandung anak pertamanya. Kami hanya bisa mendoakan semoga pilihanmu yang terbaik untuk keluarga, khususnya istri dan anak yang dikandungnya.

Mertua nyuruh pisah

Poin ini sama seperti poin kedua, hanya yang membedakan pelakunya. Sangat tidak manusiawi, bukan? Sungguh ini perbuatan yang paling keji untuk ditiru. Tak layak diceritakan, tapi beginilah keadaan kami di sini. Pasangan mana yang sebelum menikah bercita-cita untuk cerai atau berpisah? Pasangan mana yang memimpikan mendapatkan orang tua atau mertua yang sehina itu?

Tak pernah menyangka dan tak terbayang sama sekali. Tetapi, sungguh ini murni dan ceritanya fakta. Kami yang mampu mendoakan, semoga dikuatkan, ditegarkan, dibantuin, dan diridhoi Allah. Semoga kedepannya kau mampu mendapatkan pasangan dan keluarga baru yang mampu menerimamu dengan utuh dan penuh kasih sayang, serta keimanan yang jauh lebih baik lagi. Aamiin Allahumma Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah.

Percayalah, dunia ini tidak pernah sama. Selalu dan akan terus bergulir seiring berjalannya waktu. Wabah virus corona ini semoga secepatnya lenyap dari muka bumi ini, khususnya bumi pertiwi.

Alhamdulillah, Ada Ujian COVID-19

0

Betapa keburukan atau musibah yang dulu pernah kita anggap merugikan akhirnya kita sekarang tahu bahwa sebenarnya menguntungkan kita. Pun dengan adanya Covid-19 ini. Banyak orang yang stres berat menghadapi virus ini karena memandangnya sebagai sesuatu yang merugikan, namun sudahkah kita pandai menelaah apa yang terjadi saat ini?

Kampusdesa.or.id–Banyak orang memandang bahwa pageblug Covid 19 adalah musibah yang merugikan. Banyak orang yang stres berat menghadapinya karena memandang bahwa Covid 19 adalah merugikan. Pemilik warung dan kafe mengeluh karena sepi pelanggan, baru ada dua tiga pengunjung sudah diusir oleh aparat keamanan. Pemilik pabrik merasa rugi karena pemasaran produknya macet. Driver taksi, angkutan umum dan ojol (ojek online) mengeluh panjang pendek karena jarangnya orang berpegian. Pemain perdagangan uang di bursa saham stres berat ketika harga sahamnya terjun bebas bersama-sama nilai tukar rupiah. Hampir semua yang menganggap sebagai musibah dan mengalami kerugian bertanya setengah protes pada Tuhan: “Why me my God?”

Marilah kita ubah mindset kita. Karena kalau kita menganggap itu musibah yang merugikan maka kerugianlah yang sebenar-benarnya diperoleh, baik secara matematis finansial bisnis maupun kondisi kesehatan fisik dan psikis. Kondisi psikis yang stress berat tentu akan berpengaruh pada kesehatan fisik. Tekanan darah naik, makan tidak teratur, tidak bisa tidur karena memikirkan kerugian dst yang akan menyebabkan sakit secara fisik.

Kenapa kok kita tidak berpikir positif?

Berpikir positif? Lha wong sudah jelas rugi mana ada positifnya?

Jangan asbun, iya kamu bisa bicara begitu karena kamu gak merasakan betapa uang saya ratusan juta lenyap dalam sekejab. Iya kamu pensiunan, setiap bulan ada pensiun, la saya makan hari ini saya juga harus cari hari ini!

Allah akan memperlakukan kita sebagaimana sangkaan kita kepadaNya.

Oke, langkah pertama marilah kita khusnudzon pada Sang Pengatur Kehidupan, karena Allah akan memperlakukan kita sebagaimana sangkaan kita kepadaNya. Marilah kita berprasangka baik, bahwa pasti ada hikmah di balik musibah yang menimpa kita.

Hikmah pertama, ini adalah ujian yang memberikan peluang pada kita untuk naik kelas. Naik kelas? Seperti anak sekolah saja, aku ini udah bukan anak sekolah lagi tahu?

Bukan hanya anak sekolah saja yang mengalami ujian, bahkan dalam kehidupan kita setiap detiknya kita mengalami ujian, sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Ankabut ayat 2, bahwa setiap orang yang menyatakan dirinya beriman masih perlu diuji oleh Allah keimanannya tersebut, apakah omdo atau diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan?

Allah akan memberikan kegembiraan bagi mereka yang lulus ujian yang dijelaskan dalam Al Baqarah ayat 155, dan ujian itu hanya “sedikit” ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Bukankah saat ini kita ketakutan akan virus Covid-19 baik secara langsung berupa penyakitnya maupun yang tidak langsung berupa resesi ekonomi? Bukanlah kalau kita melakukan social distancing, tidak keluar dari rumah lalu kita akan dapat makan darimana?

Seberapa kelaparankah kita? Pernahkah kita mengganjal perut kita dengan 3 buah batu agar tidak terasa lapar sebagaimana yang dilakukan Rasulullah?

Bagaimana dengan kerugian saya? Tidak bisa keluar rumah? Nilai saham saya yang terjun bebas? Percayalah matematikanya Gusti Allah berbeda dengan matematika finansial bisnis neraca rugi laba. Berniaga dengan Allah dijamin pasti beruntung.

Hikmah kedua, apapun yang terjadi marilah kita syukuri. Dengan bersyukur, secara fisik dari ilmu kesehatan akan menurunkan tensi darah, akan meredakan ketegangan, tidak memicu hormon ketegangan, tidak memicu produksi asam lambung. Apablia “benar-benar” ada kerugian, baik dalam hitungan rupiah, waktu atau tenaga, marilah kita niatkan sebagai amal ibadah kita, dan kita percaya bahwa semua yang kita amalkan dalam ibadah maka Allah akan menggantinya berlipat ganda. Jangan bandingkan “kerugian” yang kita alami dengan rezeki yang kita peroleh secara apple to apple, rugi sekian rupiah akan mendapat ganti sekian rupiah, tetapi rezeki berupa sehat, keluarga yang sakinah mawadah warahmah itu juga rezeki yang tiada bisa terhitung nilainya.

Kita syukuri apapun yang terjadi, meskipun itu menurut “kacamata” kita merugikan. Jangan-jangan seandainya tidak rugi, melainkan untung berupa rupiah, keuntungan itu malah membuat kita berbuat maksiat dan dosa.

Marilah kita ubah mindset kita tentang harta yang kita miliki. Pandangan kita bahwa deretan angka yang ada dalam rekening kita adalah milik kita adalah salah, karena ketika kita mati, tidak kita bawa dan tidak bermanfaat dalam kehidupan di akhirat. Tidak ada pertanyaan di akhirat berapa banyak deretan angka dalam rekeningmu, melainkan yang ditanyakan adalah dari mana hartamu itu dan kau gunakan untuk apa. Dengan demikian maka yang menjadi harta kita yang sebenarnya adalah harta yang sudah kita amalkan di jalan Allah.

Hikmah ketiga, yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah karena Allahlah yang Maha Tahu. Sering kita frustasi karena doa memohon sesuatu yang terbaik menurut kita tidak dikabulkan, malah yang terjadi bertentangan dengan yang kita kehendaki. Seperti contoh ysng saya ungkit di atas, jangan memandang kerugian yang terjadi itu menghilangkan uang kita, namun hendaklah dipandang, seandainya keuntungan yang saya peroleh maka tidak menutup kemungkinan saya akan berbuat maksiyat.

Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita, betapa keburukan atau musibah yang dulu pernah kita anggap merugikan akhirnya kita sekarang tahu bahwa sebenarnya menguntungkan kita. Sebagai manusia biasa, saya pun pernah punya perasaan itu dulu sekali. Ketika putus dengan pacar, kita menganggap sebagai musibah. Saya pun malah pernah protes sama Gusti Allah, why me Gusti Allah? Mengapa Engkau putuskan ikatan suci batin ini? Bahkan saya pernah merasa dunia ini kiamat akibat keadaan yang membuat putus hubungan.

Ingat itu saya jadi malu pada Allah dan sangat bersyukur.

Setelah beberapa puluh tahun kemudian, saya benar-benar merasa bahwa istri saya sekarang inilah yang terbaik menurut saya. Ternyata yang sangat saya kasihi dan paling saya harapkan menjadi pendamping saya itu sudah mendahului saya hampir 20 tahun lalu. Jathuko (seandainya)? Ingat itu saya jadi malu pada Allah dan sangat bersyukur saya dijodohkan dengan wanita yang memberikan segalanya selama hampir 50 tahun pernikahan kami.

Karena itu, sahabatku, marilah kita move-on atau hijrah dari rasa menyesal, marah, putus asa ke rasa bersyukur kita diberi ujian Covid-19 ini karena kita bisa naik kelas menjadi lebih beriman dan bisa mensyukuri apapun yang terjadi karena yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah SWT

Turen, hari pertama Sya’ban 1441 H

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Pasar Krempyeng, Pembelajaran Pemberdayaan PKBM Bestari

0

Jombang, Kampusdesa.or.id–Pada tanggal 14 Maret 2020 lalu, jam 08.00-14.00 PKBM BESTARI menyelenggarakan tiga kegiatan dalam satu hari tersebut. Hadir dalam kegiatan ini Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Dikmas, penilik PAUD dan Dikmas Korwil Mojowarno, dan pendidik PAUD se Kecamatan Mojowarno serta Pendidik PAUD di luar kecamatan Mojowarno. Kegiatan ini dimeriahkan pula pameran produk peserta didik Paket A, Paket B, dan Paket C PKBM BESTARI

Salah satu kegiatan yang ada di dalam lokasi PKBM BESTARI adalah workshop Pembuatan Media Pembelajaran ABK. Pematerinya Dr Vendyah Trisnaningtyas selaku konsultan ABK Surabaya dan Kak Rubi dari Rumah Kreasi Rubi Bojonegoro. Bertepatan dengan itu, seluruh wali murid siswa-siswi KB Bestari berpartisipasi dalam kegiatan tersebut juga. Mereka menampilkan karya literasi parenting.

Saya selaku siswa Paket C kelas 12 dituntut untuk membuat laporan hasil kegiatan pasar krempyeng. Kegiatan pasar krempyeng ini bertujuan untuk memeriahkan kegiatan workshop pembuatan media pembelajaran bagi ABK. Selain pameran pendidikan, kami sebagai warga belajar kesetaraan di PKBM BESTARI berpartisipasi dalam kegiatan kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada seluruh siswa-siswi pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C.

Manfaat yang dapat saya peroleh adalah dapat mengetahui sulitnya menjadi pengusaha yang handal. Hal ini dipengaruhi oleh sulitnya untuk mencari dana, mengatur keuangan, mengatur harga, dan mengatur perhitungan untung dan ruginya. Dari kegiatan ini kami dilatih untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang tertanam di dalam diri kami.

Dalam kegiatan pasar krempyeng ini, stand kami menjual beberapa produk diantaranya produk kuliner berupa ayam geprek tanpa nasi, sate usus, ayam bakar, kolak durian, durian, aneka jamu, cilok, nasi bakar, aneka kue dan pop-corn.

Adapun produk fashion teman-teman saya menjual jilbab, tas, dompet, aneka sandal, gamis. Ada pula yang menjual peralatan dapur cobek dan perlengkapannya. Selain itu pula dijual produk kecantikan. Dalam produksi barang yang kami pasarkan sebagian besar jenis barangnya kami produksi sendiri.

Dari segi promosi atau pemasarannya, beberapa hari sebelum pasar krempyeng dimulai, kami telah melakukan sosialisasi di sosial media, masyakarat dekat PKBM BESTARI dan ke teman-teman yang lain.

Nina Wahyuni, Peserta Belajar Kejar Paket C PKBM Bestari Cetakgayam Mojoagung Jombang

Seputar Virus Corona dalam Kacamata Sains-Agama

0

Dalam situasi-kondisi genting dan darurat seperti ini, selaku manusia normal dan beragama tentu harus ada upaya dari diri kita. Tidak hanya pasrah terhadap takdir saja. Justru ketika kita sudah nyata-nyata tahu ada wabah atau bencana, tidak menghiraukan dan malah melawannya, maka yang terjadi akan mati sia-sia.

Kampusdesa.or.id–Virus corona, benda berukuran 120-150 nanometer ini menjadi terkenal seantero dunia. Tidak kasat mata tapi mematikan. Jika ditinjau dari sudut pandang Sains, dalam hal ini adalah ilmu Bologi atau lebih spesifik lagi virologi. Virus tergolong makhluk peralihan antara benda mati dan makhluk hidup. Dikatakan benda mati karena virus itu dapat dikristalkan, sedangkan dikatakan makhluk hidup karena virus memliki asam nukleat (DNA atau RNA) serta dapat berkembang biak dalam sel hidup. Virus tidak mempunyai perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Sehingga tidak akan bisa hidup kalau tidak ketemu dengan inangnya yang cocok.

Peneliti senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof. David H Muljono, PhD menjelaskan bhawa ketika virus tidak berada di dalam sel atau tidak dalam proses menginfeksi sel, virus berada dalam bentuk partikel independen yang disebut virion. Virion terdiri atas materi genetik berupa asam nukleat (DNA atau RNA) yang diselubungi lapisan protein yang disebut kapsid.

Virus corona ini dulunya berasal dari hewan dan bisa cocok pindah ke manusia. Dengan kata lain virus menular dari hewan ke manusia atau istilahnya zoonosis, dan sekarang tentu lebih mudah menular dari manusia ke manusaia yang lainnya. Tidak hanya COVID-19 yang asalanya dari hewan, seperti halnya SARS, MERS, flu burung (H5N1), demam berdarah (DBD), rabies, HIV/AIDS, dan ebola.

Sehingga social distancing di sini sangat diperlukan. Bukan anjuran yang tanpa dasar, maka jangalah diabaikan. Kalau yang terinveksi menjauh jaga jarak, maka jika membawa virus tidak menginfeksi yang lainnya. Perlu adanya edukasi dan kampanye cara pencegahan virus ini agar jumlah kematian tidak semakin bertambah.

Data terakhr di kompas (22/03) tingkat kematian pasien virus corona di Indonensia adalah tertinggi se ASEAN. Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah esktra. Selain tes massal, himbauan social distancing, warga saling mengingatkan satu sama lain. Kampanye degan hashtag #kawalcovid19 #salingjaga #jagajarak #dirumahaja #stayhome #workfromhome di berbagai media sosial.

Mengingat Indonesia adalah negara mayoritas muslim. Maka dari itu, pemerintah mengelurkan aturan ketat terkait polemik ibadah, seperti fatwa lockdown masjid, peniadaan Jumatan, tidak ada jabat tangan, shalat jamaah dengan model social distancing, dan dilarangnya segala aktivitas perkumpulan massa meskipun itu pengajian atau tabligh akbar dan adanya acara resepsi pernikahan.

Sayangnya masih ada beberapa kelompok yang tidak peduli dan acuh terhadap anjuran dan peraturan pemerintah. Keegoisan sebagian masyarakat Indonesia seperti ini yang harus diperangi. Dalam artian diberi pemahaman dan pengetahuan baik secara perspektif sains dan agama.

Karena kebanyakan berdalih atas dasar agama. Golongan yang mabok agama, hanya memahami tekstualnya saja tanpa memperhatikan secara kontekstual, seketika itu golongan mereka seperti merasa paling tauhid dengan mengatakan “Kenapa kita takut virus corona, kita harus takut hanya kepada Allah. Mari kita perangi virus corona. Umat Muslim akan menang!”

Kedengarannya sih benar tapi tampak sisi kesalahannya, yakni malah menjadi Jabariyah yang mana tidak mengakui adanya usaha manusia. Tulisan saya sebelumnya dengan judul “Jangan Menuhankan Corona”, lebih lengkapnya mengulas bahwa kita tidak boleh panik dan takut berlebihan, harus tetap berdoa disertai melakukan usaha pencegahan. Karena qada’ dari Allah bisa diubah kalau kita ikhtiar dan tawakal. Karena sesungguhnya tawakal tanpa disertai ikhtiar adalah kejahilan dan ikhtiar tanpa tawakal adalah kesombongan.

Ditinjau dari sudut pandang agama,  dalam menghadapi virus corona ini bisa mengikuti sebuah kaidah fiqih yang berbunyi

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

 “Menghilangkan/mencegah mafsadat lebih didahulukan daripada mengambil manfaat”.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau pemerintah untuk mengeluarkan pelarangan atau aturan terkait beribadah di masjid. Karena, menurut Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri Muhyiddin Junaidi, MUI berpatokan langsung kepada negara-negara islam terkait pelarangan shalat berjamaah di masjid untuk pencegahan virus corona atau Covid-19. Muhyiddin mengatakan, negara Iran sudah mulai memberlakukan larangan untuk shalat berjamaah di masjid. Selain itu, untuk negara Arab Saudi juga mulai membuat aturan untuk shalat jumat. Jamaah diminta melonggarkan shaft dan mempercepat waktu shalat Jum’at.

Namun, di Indonesia keputusan ini melahirkan polarisasi dan pro kontra di tengah-tengah masyarakat. Pertanyaanya aturan ini berlaku untuk semua daerah atau hanya bagian yang terdampak saja? Karena di kalangan tokoh Islam terdapat perbedaan pendapat. Gus Nadhirsyah Hossen setuju terhadap penerapan ini sedangkan Gus Najih Maimoen cenderung tidak setuju dengan alasan virus corona belum menjangkiti seluruh penduduk Indonesia.

Jika mengaca pada sejarah, sebenarnya pandemi bukanlah hal yang baru dan pertentangan ini sudah pernah dibahas oleh ulama’ terdahulu. Yang mana mayoritas negara-negara Islam melakukan upaya pencegahan yang sama. Dikutip dari Visualizing the History of Pandemics (14/03), ternyata pandemi bukan hal baru dalam sejarah umat manusia. Sejak dahulu kala dunia sudah berulang kali dilanda pandemi. Sejarah niscaya mencatat tragedi kemanusiaan lainnya yang diakibatkan wabah mematikan, termasuk yang terjadi di Indonesia.

Pandemi terbesar yang terekam dalam sejarah umat manusia terjadi sejak abad 6 M. Ada wabah pandemi yang tingkat mematikannya mencapai 70 hingga 100 persen. Michael W. Dols (1974), dalam artikelnya “Plague in Early Islamic History”, mengulas tiga pandemi besar yang menimpa umat manusia, yakni: Wabah Yustinianus (Plague of Justinian) (541-542 M), Maut Hitam (Black Death) (1347-1351), dan Wabah Bombay (Bombay Plague) (1896-1897).

Ini bukan berarti tidak ada lagi pandemi atau epidemi lainnya. Tak mudah mengetahui pasti seberapa mematikannya wabah di ketiga situasi pandemi di atas. Yang jelas, jumlah penduduk dunia menurun drastis setelah itu; pola kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi pun berubah. Dalam situasi-kondisi genting dan darurat seperti ini, selaku manusia normal dan beragama tentu harus ada upaya dari diri kita. Tidak hanya pasrah terhadap takdir saja. Justru ketika kita sudah nyata-nyata tahu ada wabah atau bencana, tidak menghiraukan dan malah melawannya, maka yang terjadi akan mati sia-sia. []

Solusi Tepat Menghindari Kesalahan Hasil Pada Rapid Test

0

Keakuratan deteksi cepat virus corona sangat diperlukan untuk identifikasi awal pasien yang terinfeksi. Dengan harapan dapat segera melakukan penanggulangan dan wabah tidak terus menyebar mengakibatkan jumlah pasien meningkat drastis melebihi sejarah wabah pandemi virus SARS, ebola, MERS, flu babi, dan flu burung.

Kampusdesa.or.id–Tiga bulan belakangan ini pandemi virus corona jenis baru (SARS CoV-2) banyak menyita dunia, termasuk di Indonesia. Data warga negara Indonesia positif Virus Corona atau Covid-19 seperti yang dilaporkan Tirto.id (19/03) dari tanggal 18 ke 19 Maret mengalami kenaikan tajam, yakni dari 227 kasus ke 308 kasus. Pada hari yang sama, presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan laporan tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam kesempatan itu, presiden jokowi menginstruksikan agar segera melakukan test massal (massive screening) kepada seorang yang terpapar Covid-19.

Seperti dikutip di berbagai media, sehari setelahnya (20/03) Presiden Jokowi mengumumkan tes cepat (rapid test) Covid-19 mulai dilakukan. Uji pertama tes secara massal ini dilakukan di Jakarta Selatan. Dengan alasan kawasan ini kali pertama ditemukan pasien positif Covid-19 seperti yang resmi dilaporkan ke publik pada tanggal 02 Maret 2020 lalu.

Upaya dari pemerintah semacam ini bagus dan penting dilakukan karena bertujuan untuk mengetahui data secara kolektif guna menganalisis tren penularan, penyebaran penyakit hingga faktor penyebabnya. Dari data tersebut, pemerintah dapat menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan rencana kebijakan penanggulangan Covid-19. Termasuk, menakar kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dikaitkan dengan estimasi pasien secara cepat dan masif.

Metode pemeriksaan rapid test untuk menemukan kasus Covid-19 ini kabarnya telah diimpor dari Tiongkok sebanyak 500 ribu sampai sejuta unit test kit, yang akan dikirim secara bertahap. Nantinya, alat tersebut akan didistribusikan ke Rumah Sakit-Rumah Sakit Rujukan Penanganan Covid-19 di Indonesia. Namun, seperti dugaan saya bahwa tes massal ini baru tahap penapisan (skrining) saja. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Juru Bicara Penanganan Percepatan Covid-19 Achmad Yurianto kepada Health Liputan6.com (20/3) bahwa alat rapid test ini bukan untuk deteksi atau diagnosis orang yang bersangkutan positif atau negatif Covid-19 dengan pasti.

Tingkat Keakuratan

Rapid test ini dilakukan bertujuan untuk menangani laju perkembangan wabah virus corona agar tidak meningkat tajam secara eksponensial. Namun sebenarnya seberapa sih tingkat keakuratan nya?

Seperti yang dilansir oleh website Jurnal Nature tingkat keakuratan berdasarkan waktu/periode virus dalam tubuh pasien. Mengingat di atas paparan 10 hari ketika tubuh sudah menunjukan respon atas imunoglobin IgG/IgM, rapid test baru bisa mendeteksi lebih akurat (di atas 90%). Saat pengambilan sampel di masa inkubasi, belum terbentuk antibodi atau immunocompromised. Jika masih kurang dari 10-14 hari, tidak hanya mempengaruhi sensitifitas bisa rendah, juga rentan menghasilkan false negative (negatif yang salah). Seharusnya sampel positif tapi hasilnya negatif. Apabila ditemukan hasil negatif maka harus dilakukan pengambilan sampel ulang 7-10 hari kemudian.

Di samping itu, rapid test juga bisa berpotensi false positive seumpama pasien memiliki riwayat atau mengidap komplikasi penyakit lain semisal dengue atau pernah terjangkin virus corona jenis lama. Karena bisa jadi sampel darah yang dites mengandung antibodi tertentu hasil respon imun dalam tubuh. Sehingga mengakibatkan hasil positif yang salah. Dengan kata lain tingkat spesifitas rapid test tergolong rendah atau memungkinkan adanya cross reactivity. Itu sebabnya kondisi tersebut menyulitkan interpretasi.

Meski demikian, pemeriksaan rapid test dengan metode serologi ini masih dipakai karena lebih murah dan didapatkan hasil dengan cepat. Karena, pemeriksaan ini hanya membutuhkan sampel darah pasien dan dapat dianalisis dalam waktu kurang lebih 15 menit.

Namun, dengan catatan kalau ditemukan hasil positif harus dilakukan swab (apusan) tenggorok dan dibaca menggunakan metode molekuler real time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) di 10 Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) yang tersebar di seluruh indonesia. Tahap ini hanya berlaku untuk pasien dinyatakan positif Covid-19 sebagai konfirmasi dan validasi, yang mana mesin PCR dapat memberikan hasil yang lebih akurat.

Jadi perlu diingat bahwa melalui langkah uji rapid test difungsikan untuk deteksi dini atas indikasi awal seseorang menderita Covid-19. Data yang didapat sebagai pertimbangan untuk menunjukkan paparan infeksi. Selanjutnya dapat digunakan untuk surveilans atau studi epidemiologi lebih lanjut. Oleh karena itu jangan sampai gagal paham dengan apa yang menjadi kebijakan pemerintah saat ini.

Tawaran Solusi Pengganti Rapid Test IgG/IgM Antibody

Mayoritas ahli virologi dan ilmuwan merekomendasikan tes menggunakan metode RT-PCR untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab Covid-19. Kemudian, tes dilanjutkan dengan sequencing untuk mengkonfirmasi diagnosis infeksi Corona. Mereka mengatakan rapid test hanya mengukur antibodi seseorang. Di mana antibodi tak langsung terbentuk ketika virus masuk ke dalam tubuh. Ada waktu tunggu sampai antibodi terbentuk.

Di sisi lain, belum ada penjelasan atau referensi berapa lama terbentuknya antibodi virus corona jenis baru ini di dalam tubuh. Serta berbagai rapid test tersebut belum diketahui validitasnya, antigen, dan prinsip pemeriksaan yang digunakan, variasi waktu pengambilan spesimen, limit deteksi masing-masing rapid test, interferens, berbagai kondisi yang dapat menyebabkan hasil false positive dan false negative.

Sependapat dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik yang menuturkan bahwa urutan tingkat kepercayaan untuk deteksi berbagai patogen dari yang tertinggi ke terendah adalah metode kultur, molekular (DNA atau RNA), antigen, dan yang terakhir antibodi (IgM/IgG/IgA anti patogen tersebut).

Berdasarkan hal tersebut saya mencoba melakukan kajian literasi yang didukung dengan pengalaman empiris, sebenarnya apa saja cara atau metode yang dapat mengindari rapid test salah uji atau kemungkinan muncul hasil false positive dan false negative. Di ranah dunia riset medis internasional termasuk di laboratorium teknologi sensor tempat saya bekerja, jenis-jenis POCT (point of care technology) ini sudah ada dan beberapa juga sedang dikerjakan. Adapun opsi solusi tepatnya adalah sebagai berikut:

Pertama, mendeteksi protein virus yang berikatan dengan RNA-aptamer. Seperti yang pernah dikembangkan oleh Dae-Gyun Ahn, dan kawan-kawan dari Department of Biotechnology, Yonsei University, Seoul, Republic of Korea. Pada tahun 2009 mereka menemukan deteksi “protein N” oleh chip aptamer nanoarray dengan tingkat kesensitifan 2 pg/mL.

Selain itu, tahun lalu para ilmuwan memakai aptamer rapid test untuk mendeteksi virus flu burung (H5N1) dan HIV-1. Tentu tehnik ini juga dapat diterapkan dalam pembuatan rapid test virus corona (SARS-CoV-2). Menurut Jurnal of Frontiers Microbiology (2019) Vol. 10, No. 1462 mengungkap bahwa dibandingkan dengan metode deteksi lainnya, aptasensor ini cepat, akurat, dan juga portabel, meskipun sensitivitasnya tetap lebih rendah daripada metode PCR.

Kedua, mendesain strain DNA virus corona atau Covid-19 primers dan difabrikasi di dalam strip Lateral-Flow Assay (LFA) dengan konsep Recombinase Polimerase Amplification (RPA). Kalangan peneliti menyebutnya LFA-RPA atau ada juga yang dibalik menjadi RPA-LFA. Teknologi ini pada dasarnya serupa RT-PCR konvensional dan real-time kuantitatif (q) PCR, tapi semua reaksi dikondisikan dalam bentuk strip.

Primer RPA dan probe LF dirancang dengan menargetkan gen spesifik, lalu produk amplifikasi dapat divisualisasikan pada LFA. Biasanya reaksi amplifikasi dilakukan pada 38 °C selama 20 menit dan waktu inkubasi LFA dalam 5 menit. RPA yang dikombinasikan dengan uji LFA ini barangkali memberikan alternatif rapid test lain yang cepat dan sensitif untuk diagnosis wabah infeksi virus corona. Sampai saat ini teknologi rapid test RPA-LFA sudah dikembangkan untuk mendeteksi bovine ephemeral fever virus (BEFV), hepatitis, demam berdarah, dan malaria.

Ketiga, menggunakan teknologi terkini yaitu CRISPR (clustered regularly interspaced short palindromic repeats). CRISPR memperoleh popularitas sebagai alat pengeditan genom setelah kemunculannya pada tahun 2015, tetapi para peneliti akhir-akhir ini baru menyadari potensinya dalam diagnostik penyakit. Mekanisme CRISPR bergantung pada panduan RNA yang menemukan urutan target pelengkap dan Cas9 yang biasa digunakan memotong di lokasi yang tepat. Menariknya, berkat penelitian tentang nukleasi Cas alternatif, fungsionalitas CRISPR sebagai pencari lokasi, dan bukan alat pembelahan khusus lokasi, telah muncul dalam beberapa tahun terakhir.

Di dunia ini ada dua perusahan bernama Sherlock Biosciences dan Mammoth Biosciences, yang masing-masing dirintis oleh Feng Zhang dan Jennifer Doudna. Keduanya adalah pelopor teknologi pengeditan CRISPR-Cas yang sekarang tengah mengembangkan ke arah rapid test POC SARS-CoV-2.

Pada tahun 2017, Feng Zhang bersama kelompok risetnya pertama kali melaporkan teknik deteksi asam nukleat berbasis CRISPR yang disebut SHERLOCK (Specific High sensitivity Enzymatic Reporter unLOCKing). Setelah menyempurnakannya selama bertahun-tahun, mereka menerbitkan protokol untuk menggunakan SHERLOCK untuk deteksi sensitif asam nukleat pada tahun 2019. Dalam protokol terbaru yang telah dimuat di Journal Nature, Zhang dan tim menargetkan dua gen di antaranya adalah gen S dan Orf1ab dari genom Covid-19. Meskipun dalam tes pembuktian prinsip ini, mereka baru menggunakan fragmen RNA virus Covid-19 sintetis.

Sedangkan di tahun 2018, pendiri Mammoth Biosciences Jennifer Doudna melaporkan metode baru bernama DETECTR (DNA endonuclease-targeted CRISPR trans reporter), untuk mendeteksi DNA secara sensitif menggunakan Cas12a. Bulan Februari 2019, Mammoth Biosciences menerbitkan laporan tentang bagaimana platform DETECTR dapat diadaptasi untuk mendeteksi SARS-CoV-2 RNA dalam waktu sekitar lebih cepat 30 menit dibanding SHERLOCK dengan hasil yang akurat.

Sembari tahap pengembangan tes menggunakan platform SHERLOCK dan DETECTR, kedua perusahaan perlu mengakses sampel asli virus corona dan menemukan mitra yang tepat untuk mendapatkan izin dari FDA tahun ini. Tahap selanjutnya, mereka akan merancang tes COVID-19 berdasarkan urutan virus yang sudah dipublikasikan.

Keunggulan dibanding rapid test yang menggunakan antibody, tentu selain sensitifitas dan keakuratan yang lebih tinggi, yang paling penting adalah metode yang saya tawarkan di atas dapat menghindari hasil dengan false positive maupun false negative, lebih selektif serta tidak teinterferensi oleh target lain (cross reactivity). Sehingga pasti akan lebih hemat biaya dan efisiensi waktu karena kemungkinan kecil dilakukan tes kembali.

Dalam metode ini, sampel pasien yang dipakai sebagai bahan uji tes molekuler ini didapatkankan dari swab hidung (nasal) dan tenggorokan (faring) yang sebelumnya diberikan perlakuan (pre-tretment) khusus. Keakuratan deteksi cepat virus corona sangat diperlukan untuk identifikasi awal pasien yang terinfeksi. Dengan harapan dapat segera melakukan penanggulangan dan wabah tidak terus menyebar mengakibatkan jumlah pasien meningkat drastis melebihi sejarah wabah pandemi virus SARS, ebola, MERS, flu babi, dan flu burung.

Lekaslah sehat wahai bumiku. Semua akan segera usai!

Menimbang Pentingnya Jaga Jarak di Tengah Wabah Pandemi

0

Pentingnya jaga jarak fisik dari orang lain bertujuan untuk mencegah virus agar tidak berpindah dari satu inang ke inang yang lain. Langkah ini menjadi hal sangat penting agar menghambat peluang menginfeksi banyak orang secara cepat. Perlu diketahui penerapan phsycal distancing ini tidak berarti bahwa secara sosial harus memutuskan hubungan dari orang yang dicintai atau dari keluarga. Setiap orang tetap dapat terkoneksi dengan online atau dalam jaringan (daring).

Kampusdesa.or.id–Wabah virus corona di dunia grafiknya masih naik dan kurvanya pun tambah lebar setiap hari. Akibatnya virus corona menjadi pandemi dunia. Indonesia termasuk salah satu negara yang terdampak virus corona. Data per tanggal 27 Maret 2020, jumlah warga Indonesia terkena kasus positif Covid-19 tembus angka 1000 pasien.

Untuk mencegah penyebaran virus ini beberapa negara menerapkan hal yang berbeda. Ada pemerintah yang mengambil langkah lockdown, seperti Tiongkok, Italia, Irlandia, Denmark, Spanyol, Perancis, Malaysia, India, sebagian deaerah di Amerika dan Indonesia serta ada pula yang mengambil langkah social distancing atau physical distancing.

Bagi yang belum tahu apa sih bedanya lockdown dan social distancing? Di sini saya ulas kembali mengingat beberapa masih bingung membedakan dan informasi yang sampai di tengah masyarakat sedikit rantau. Tidak heran jika sebagian masih tampak kurang paham.

Secara harfiah, lockdown berarti mengunci. Dalam praktiknya, lockdown dilakukan atas kebijakan pemerintah pusat untuk mengkarantina suatu wilayah, serta membatasi bahkan bisa melarang keluar masuk manusia ke dalam area tertentu. Hal ini seperti yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok untuk Kota Wuhan. Saat sebuah kota dinyatakan lockdown, maka pergerakan masyarakat akan sangat terbatas. Bahkan, tidak ada aktivitas bisnis yang berjalan kecuali tempat-tempat krusial seperti supermarket, apotek, rumah sakit, SPBU, bank, dan layanan lainnya yang sangat dibutuhkan.

Tujuan utama dari lockdown adalah untuk mencegah penyebaran penyakit ke wilayah di luar kota tersebut. Namun beberapa pengamat ekonomi menilai, Jakarta tidak siap untuk menetapkan lockdown karena Jakarta masih menjadi pusat perekonomian Indonesia. Meski demikian beberapa kota di Indonesia pemerintah daerah nya memberlakukan local lockdown Diantaranya Tegal, Tasikmalaya, Papua, Bandung, dan beberapa kota kecuali berada di daerah yang tidak termasuk zona merah di Indonesia.

Lantas banyak yang mendesak pemerintah Indonesia agar segera menrapkan lockdown sebelum terlambat. Akan tetapi pemerintah pusat tidak menerapkan lockdown. Presiden Jokowi mengaku sudah mempelajari dan memiliki analisis dampak dari lockdown setiap negara, hasilnya Indonesia tidak perlu menerapkan hal yang sama. Sehingga lebih memilih menerapkan social distancing (menjaga jarak) dan work from home (kerja dari rumah).

Sedangkan social distancing adalah pembatasan jarak dan meminimalisir kontak dengan orang lain agar terhindar dari penularan virus dari dan ke satu sama lain. Belakangan ini istilah social distancing diubah oleh WHO menjadi physical distancing, yaitu tetap boleh melakukan aktivitas namun dalam kondisi terbatas.

Sejak Jumat (20/3/2020) WHO resmi mengganti frasa social distancing menjadi physical distancing. Alasannya, penggantian frasa ini untuk mengklarifikasi bahwa terdapat perintah tetap tinggal di rumah guna mencegah penyebaran virus corona. Kendati begitu, hal ini tidak berarti bahwa seseorang memutus kontak dengan orang lain secara sosial. Penggunaan frasa physical distancing diharapkan dapat memperjelas imbauan WHO, yaitu lebih kepada menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit tidak menyebar.

Lalu seberapa penting langkah jaga jarak fisik (physical distancing) ini? Masih ingatkah dua Minggu lalu, beredar video animasi hasil saduran dari sebuah artikel The Washington Post yang dinarasikan oleh Edward Suhadi di Instagram @Ceritera_id. Dalam video tersebut menggambarkan perubahan kurva naik dan menurun dipengaruhi oleh virus tidak menemukan inangnya tatkala manusia melakukan jaga jarak (istilah di video tersebut masih memakai istilah social distancing). Itu adalah cara wabah penyakit bisa berhenti sehingga kurva nya menjadi landau tidak ada peningkatan.

Gerakan stay home adalah menjadi salah satu langkah menjaga agar kita dan orang lain tidak tertular. Jika tidak ada keperluan penting dan mendesak tidak usah keluar rumah apalgi mendatangi kerumunan.

Sederhananya kita bisa membuat rentetan batang korek api, ketika satu terbakar pasti akan membakar korek api lain yang berada didekatnya. Kecuali ada satu korek api yang kita jauhkan dari barisan pasti nyala api tidak bisa terus menyambar yang lainnya. Dia akan berhenti di korek api yang terakhir. Begitu juga filosofi permainan menata domino. Ketika satu ditumbangkan akan jatuh menyambung ke domino lain yang berada di dekatnya.

Contoh lain penyebaran virus corona ini yaitu seperti zombie. Jika pernah melihat film zobie, perhatikan mekanismenya penularannya. Semula hanya ada satu zombie, kemudian berubah menjadi banyak ketika virusnya saling mengenfeksi kepada orang normal.  Virus akan menginfeksi dan mereplikasi (memperbanyak diri) begitu seterusnya ketika menemukan tempat hidup yang baru.

Pentingnya jaga jarak fisik dari orang lain bertujuan untuk mencegah virus agar tidak berpindah dari satu inang ke inang yang lain. Langkah ini menjadi hal sangat penting agar menghambat peluang menginfeksi banyak orang secara cepat. Perlu diketahui penerapan phsycal distancing ini tidak berarti bahwa secara sosial harus memutuskan hubungan dari orang yang dicintai atau dari keluarga. Setiap orang tetap dapat terkoneksi dengan online atau dalam jaringan (daring).

Jangan khawatir, selain media sosial, sekarang sangat banyak aplikasi penunjang untuk bekerja dari rumah, seperti rapat online pakai Zoom, Google Hangout, Webex, Skype, dan lain sebagainya.  Bagi pelajar dan mahasiswa bisa memakai aplikasi Ruangguru, Zenius, Sekolahmu, Quipper, dan Edmodo. Semua fasilitas tersebut bisa diakses secara mudah dan gratis. Dengan demikian, segala kegiatan bisa dikerjakan dari rumah dan tidak ada yang terganggu meskipun dilanda wabah virus corona.

Selamat #WFH!