Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 34

S.E.L.A.K.S.A  D.O.A

0

Serpihan kata bermunajat anarkis
Ekliptik bermuara pada jingga nan sore
Labirin tercipta pada genahar sintal
Abadikan mimpi dalam barisan kata
Kabar dalam debar manja berkelepak
Siratkan segala harap dalam cemas
Abstraksi menumpas habis nyata dilema
 
Derap-derap rindu memisah abjad
Obsesi terdampar penuhi seantero
Absah meminta berkah semesta

Lamongan, 27 April 2020

Puasa dan Pengembangan Diri (2)

0

Puasa Ramadan jika kita renungkan mampu menjadi sarana pengembangan diri yang efektif. Tuntutan untuk menahan dan mengendalikan diri kita butuhkan sebagai sarana melatih dan menumbuhkebangkan berbagai daya yang dianugerahkan Allah SWT.


Kampusdesa.or.id-Dalam setahun kita biasanya akan melewati tiga buah momentum spritual. Ketiga momentum spritual itu adalah training di bulan Ramadan selama 30 hari kedepan penuh. Mari kita kembali kepada fitrah kita. Rasulullah bersabda:

“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, bersih dari segala dosa.” Jadi yang dimaksud dengan back to basic adalah back to fitrah, kembali kepada fitrah kita sebagai manusia pada saat dilahirkan.

“Nabi Muhammad Saw memberikan gambaran bahwa orang yang berhasil dalam training di bulan Ramadhan tidak bisa diukur pada saat bulan Ramadannya, tapi lihat pada saat on the job training.”

Nabi Muhammad Saw memberikan gambaran bahwa orang yang berhasil dalam training di bulan Ramadhan tidak bisa diukur pada saat bulan Ramadannya, tapi lihat pada saat on the job training. Dalam kesempatan ini penulis mencoba menyampaikan empat poin yang sangat urgen sekali dalam menghadapi masa-masa training Ramadan yang sebentar lagi akan kita laksanakan yang penulis sebut dengan istilah PASH.

Baca Juga: Mengalahkan Setan dengan Iman

Pertama, P. Singkatan dari parsistence, yaitu tahan banting, tahan uji, tidak pernah menyerah, dan tidak mudah putus asa. Tadi malam saya kedatangan salah satu puteri seorang tokoh agama di Prajekan sharing tentang masa depan pesantrennya,

“Ust, saya sudah merasa tidak kuat, pasalnya dalam 15 hari saya mengalami tragedi besar, pertama suami saya meninggal, dapat empat hari, bapak saya meninggal dan hari ketujuh ibu kandung saya meninggal.” kisahnya sambil menangis sedih meratapi masa depan pesantrennya. “Ibu, Tuhan tidak akan pernah memberikan beban di luar batas kemampuan hamba-Nya, bersyukurlah ibu sudah dipercaya Tuhan untuk menerima beban ini, berarti ibu orang KUAT dan HEBAT.” jawab penulis sambil memberikan semangat hidup.

Baca Juga: Ramadhan di Pesantren dan Implementasinya di Masa Kini

Kedua, A nya singkatan dari anticipative. Orang yang tidak mempunyai sifat anticipative biasanya mengelola hidupnya berdasarkan sebuah kejadian. Dia menunggu kejadian baru bertindak. Seperti halnya yang dialami Negara Italia, masyarakatnya banyak menjadi korban Covid-19 karena abai terhadap virus Corona, pemerintahnya bertindak saat wabah tersebut sudah menjalar ke seluruh negaranya. Semoga Indonesia banyak mengambil ibrah dari kejadian di Italia.

Ketiga, S nya singkatan dari Set Sincerity artinya ketulusan. Untuk menggapai ibadah puasa yang sukses dimata manusia dan Tuhan keyword-nya adalah ketulusan. Do it and forget it, kerjakan dan lupakan.

Keempat, H nya singkatan dari honesty artinya adalah kejujuran. Dalam training Ramadan ini semoga kita bisa jujur kepada diri kita, keluarga, orang lain lebih-lebih jujur kepada Tuhan. Alhamdulillah, pemerintah sudah memberikan kebijakan berupa pemberian bantuan daerah terdampak Covid-19, semoga training Ramadan yang akan datang ini, pemengang kebijakan dan regulasi distributor bantuan jujur dalam mengemban amanahnya.

Puasa dan Pengembangan Diri (1)

0

Salah satu hikmah disyariatkannya ibadah puasa di bulan Ramadan adalah supaya manusia mampu meningkatkan kualitas dirinya menjadi pribadi yang muttaqin. Pribadi yang mampu menjadi sebenar-benar hamba dengan menjalankan segenap perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Puasa menjadi media yang efektif bagi manusia untuk mengembangkan dirinya.

kampusdesa.or.id-Nelson Mandela pejuang hebat dari Afrika Selatan menulis, “Education is the great engine to personal development.” Artinya, pendidikan adalah mesin besar untuk pengembangan personal. Pada tataran seorang hamba Tuhan, dalam menjalani ibadah puasa Ramadan, mesin besar penggeraknya adalah proses untuk menjadikan proses belajar, sebagai bagian dari proses pendidikan keagamaan atau non keagamaan, agar terus tumbuh dan berkembang.

“Muhasabah Ramadan merupakan tanggung jawab pribadi untuk belajar melalui proses asesmen, refleksi, dan action”

Setiap hari kita sebagai hamba-Nya harus terus berusaha memperkuat volume silinder tenaga kuda (horse power) mesin diri untuk meraih rida-Nya. Salah satu caranya adalah dengan istikamah melakukan muhasabah di bulan puasa ini. Muhasabah Ramadan merupakan tanggung jawab pribadi untuk belajar melalui proses asesmen, refleksi, dan action. Pertama, untuk secara kontinyu melakukan pemutakhiran skills selama Ramadan. Kedua, menentukan arah skilsl dalam menyongsong masa depan.

Lalu, bagaimana caranya?

Pertama, paper and pencil career tests, setiap hari harus mengikuti program komputer untuk menganalis skills jurnalistik kita.

Kedua, log artinya selama bulan Ramadan seyogyanya kita memelihara arsip literasi (maintain a learning log or diary)

Ketiga, develop a personal development, mengidentifikasi kebutuhan belajar selama bulan Ramadan.

Baca Juga: Peluang Ramadan di Saat Corona Melanda

Keempat, career direction adalah mencari mentor dan tempat sharing dalam mengembangkan dirinya selama bulan Ramadhan.

Kelima, become involved in professional organization adalah melibatkan diri dalam keorganisasian bulan Ramadhan sehingga menjadi hamba yang unggul.

Keenam, reading the professional journals and educational magazines, adalah memperkaya literasi dengan membaca jurnal profesional dan majalah pendidikan yang ada korelasinya dengan pendidikan bulan suci Ramadhan.

Oleh sebab itu, jangan sampai puasa bulan suci Ramadan ini dijadikan alasan untuk tidak mengembangkan diri. Sebab, sejatinya bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh barokah dan muhasabah.

Relasi Orang Tua dan Seni Mendidik Anak Milenial

0

Tiap keluarga pasti memiliki pengalaman unik dan menarik bagaimana mendidik anak, apalagi anak milenial, lebih-lebih di era disrupsi dan kebutuhan akan gadget tak bisa dihindarkan. Banyak teori menjelaskan bagaimana karakter anak milenial dan cara berkomunikasi dengan mereka. Namun, adanya #stayathome memberikan pelajaran banyak hal bahwa relasi orang tua dan anak tak semudah yang diteorikan. Hal tersebut harus dialami. Tak bisa hanya dibayangkan atau dikatakan. Experience is the best teacher, begitu kata pepatah.

Kampusdesa.or.id–Relasi orang tua dan anak zaman sekarang atau milenial memang unik, bahkan kerap menggelikan. Seringkali diwarnai prasangka dan ketidaktahuan. Tapi tak jarang pula mengasyikkan dan mengagetkan. Tak terduga, tiba-tiba menyebalkan. Kala waktu begitu akrab, tetiba saja berlangsung perang urat syaraf. Nyebelin (menyebalkan) tapi sekaligus ngangeni (membuat kangen). Cuek tingkat dewa, tapi kadang makan saja minta disuapi. Ketergantungannya pada gawai membuat orang tuanya jantungan. Ketika dilarang, malah marah, dibiarin tak tau kalau dicuekin. Mager (malas gerak)nya gak ketulungan, hanya berkutat dari kamar ke ruang tamu dengan nenteng HP. Apalagi relasi lain diantara keduanya?

Itu seni cinta orang tua dan anak milenial.

Kalau Anda punya anak yang menginjak remaja dan masuk kategori milenial, camkan kata-kata saya soal relasi diatas. Bila Anda manggut-manggut, itu pertanda setuju. Jika senyam-senyum berarti Anda pernah mengalami.

Selama menjalani #WorkFromHome yang sudah sebulan lebih, banyak kenangan betapa dinamisnya hubungan orang tua dan anak milenial.

Selama menjalani #WorkFromHome yang sudah sebulan lebih, banyak kenangan betapa dinamisnya hubungan orang tua dan anak milenial. Berdiam diri begitu lama #DiRumahSaja pastilah membosankan alias bete. Butuh cadangan kesabaran berlipat. Kalo tidak, emosi mudah tersulut. Salah menjelaskan sesuatu bisa berantem mulut. Gegara makanan saja bisa selebor dan bersungut-sungut. Suasana yang hening bisa meletus cekcok seperti sinetron sedang dalam kemelut.

Anak sekarang (milenial) maunya kalau makan serba instan. Pengen cepat dalam membuatnya maupun memperolehnya. Asal tersedia mie plus telor di kulkas, selesai urusan. Mau makan kapan saja, menyalakan kompor lalu menyeduhnya. Kalo tak pengen ribet, apalagi ngebet makanan enak, pesan via GoFood atau GrabFood. Beres. Apa saja yang diinginkan asal masih ada saldo di Dana, Gopay atau Ovo, makanan datang sendiri dalam waktu tak lama. Praktis.

Giliran orang tuanya, terutama ibunya, yang ngomel dan baper. Sudah masak dan menyiapkan makanan di meja, dengan niat menyenangkan anaknya yang tak mesti setiap hari ada di rumah, eh… malah pesan GoFood. Cemilan kesukaannya yang dulu sering dibuat, tidak dilirik. Capek-capek di dapur malah gak dihargai. Ujung-ujungnya keluarlah kata-kata pamungkas: sakjane arek iki piye to karepe? (Yang tidak faham bahasa Jawa jangan minta diterjemahkan ya, hehe).

Begitu giliran makanan terhidang di meja makan, si anak dipanggil tiga-empat kali tak juga bergabung. Ibunya nyerocos lagi. Kalaupun sudah bergabung dan siap makan bersama, malah dapat ‘ceramah sebelum makan’. “Ya sudah”, kata anaknya, “makan di kamar aja”.

Banyak urusan sepele yang menjadi titik tengkar gegara perbedaan kebiasaan orang tua dan anaknya.

Belum cukup drama relasi orang tua dan anak zaman now. Banyak urusan sepele yang menjadi titik tengkar gegara perbedaan kebiasaan orang tua dan anaknya. Misalnya meletakkan sampah bekas snack sembarangan, lebih asyik mendengarkan lagu-lagu terkini ketimbang mengaji, tak cepat membersihkan rumah yang kotor, mager (malas gerak) gegara main games; hingga cuek-bebek kalau diajak bicara. Itu diantara poin yang menjengkelkan orang tua era kolonial dengan anaknya yang hidup di zaman milenial. Beda banget nilai yang dianut, prinsip yang dipegang, kebiasaan yang diikuti, dan cara belajar yang khas-unik.

Tiap keluarga pasti memiliki pengalaman unik dan menarik bagaimana mendidik anak, apalagi anak milenial, lebih-lebih di era disrupsi dan kebutuhan akan gadget tak bisa dihindarkan. Banyak teori menjelaskan bagaimana karakter anak milenial dan cara berkomunikasi dengan mereka. Namun, adanya #stayathome mengajari banyak hal bahwa relasi orang tua dan anak tak semudah diteorikan. Ia harus dialami. Tak bisa hanya dibayangkan atau dikatakan. Experience is the best teacher, begitu kata pepatah.

Pengalaman yang saya peroleh selama berinteraksi dengan anak remaja milenial (saya memiliki dua anak, si sulung berjenis kelamin laki-laki sudah lulus S1 dan bekerja; adiknya perempuan sudah gadis, sedang kuliah semester pertama) membuka mata bahwa anak memiliki dunianya sendiri yang harus dimengerti dan difahami. Mereka berpikir dengan pikirannya sendiri. Mereka bertindak dengan insting dan pertimbangan yang dimiliki. Tapi yakinlah bahwa tindakan dan pikiran mereka tak selalu absurd. Mencoba memahami pikiran-tindakan mereka jauh lebih baik dan mengena ketimbang mencap (apalagi menuduh) mereka tak disiplin, tak patuh, dan kalimat negatif lainnya. Pikiran negatif akan mengarahkan pada tindakan negatif, demikian petuah lama kita kenali.

Namun sebaliknya, berkah berada di rumah dalam jangka waktu lama dan super-intensif (jika tepat mengisi #stayathome), anak juga belajar memahami psikologi dan world-view orang tuanya yang barangkali menurut mereka jadul. Perbedaan persepsi terhadap suatu obyek yang sama, bisa jadi cara pandang orang tuanya berbeda dengan mereka. Sigap membereskan barang-barang sisa makanan bagi orang tua sangat penting. Tapi bagi anak dianggap “nanti kan bisa”. Peduli terhadap lingkungan sekitar (air kran yang bocor, taman yang kotor, lampu teras masih hidup di siang hari, dan sebagainya) yang kerap minus alias defisit di anak remaja, kerap membuat bersitegang orang tua. Sekali lagi, mempertemukan cara pandang dan nilai-nilai yang diadopsi sebelumnya (previously adopted values) oleh orang tua dan anak milenial adalah kesempatan yang harus dialami bersama (must be experienced together), tak bisa hanya teori.

Berkah berkumpul keluarga di rumah selama karantina sosial (PSBB) adalah saling belajar dan memahami. Menerima dan memberi. Berpikir dari sudut pandang mereka, bukan ‘pokok’e alias terpusat pada sudut pandang orang tua. Ini penting dan bisa mejadi lesson learned (pelajaran berharga) untuk membangun relasi orang tua-anak yang setara dan adil.

Sarjana Kembali ke Desa

0

setelah hampir sepuluh bulan begitu hangatnya menyelimuti bumi, sejak beberapa hari ini matahari terlihat malu-malu mengintip dari balik mendung kelabu yang berduyun-duyun mengantri untuk menumpahkan tetes-tetes hujan di seluruh penjuru bumi. Jika kerontang sebelumnya menguasai tanah-tanah yang pecah-pecah kini tanah-tanah itu bergelung dalam dingin hujan yang menggemburkan. Tak lagi keras, hujan melembutkan semua.

Para petani bergembira musim tanah tiba meski sempat tertunda. Lahan-lahan kerontang mulai digarap bersamaan. Bibit-bibit padi ditanam menggunakan mesin penanam benih padi bantuan pemerintah yang masuk ke desa-desa. Memusnahkan lapangan kerja para buruh tani yang lesu memikirkan bagaimana mendapatkan sedikit uang untuk bertahan hidup bersama keluarga. Beruntunglah mereka yang memiliki skill dan memanfaatkannya untuk mencari nafkah. Mereka yang hanya bergantung pada lahan sawah sebagai lapangan pekerjaan terpaksa gigit jari.

Pohon-pohon jati mulai menggeliat menumbuhkan tunas-tunas baru menyambut musim penghujan yang mencumbu. Hijau sepanjang persawahan membuat indah dipandang. Tapi terjadi tak lebih hanya sepekan. Daun-daun jati itu seketika habis tinggal urat-urat daun yang berusaha tetap bertahan diserang gempuran ulat jati yang berpesta pora menyambut panen makanan musim kali ini.

Hujan ternyata tak mau memulai dengan rintik-rintik. Deras menghujam seluruh penghujung negeri. Banjir dimana-mana termasuk di ibukota yang dilanda banjir besar tepat di awal tahun yang seharusnya dipenuhi euforia selepas perayaan malam tahun baru. Mungkin Tuhan murka karena manusia begitu pongah dan tak tahu malu. Diantara meluapnya air itu ditemukan banyak kondom bekas pakai mengapung mengalir seiring banjir. Mempertontonkan dosa manusia yang semakin lama semakin tak nampak bercela.

Kami di desa tak luput dari bencana. Meski banjir tak bertandang di wilayah kami karena masih banyaknya pepohonan dan lahan terbuka untuk menyerap air hujan agar tak meluap, atau angin kencang yang berhasil ditahan oleh barisan pohon bambu yang ditanam mengelilingi batas desa, tetap saja kami dilanda bencana. Bibit padi yang telah ditanam dipastikan gagal tumbuh, terendam air yang menggenangi persawahan akibat derasnya hujan. Terpaksa para petani mengatur rencana baru. Membuat tampekan yang menghasilkan wineh, bibit padi yang siap tanam berumur sekitar dua minggu. Akibatnya mereka harus merogoh kocek lebih di awal musim tanam ini. Tak tahu apakah cuaca akan bersahabat dan menghasilkan gabah-gabah berkualitas saat panen atau serbuan hama akan menghabiskan sisa-sisa perjuangan para petani.

Aku yang memutuskan untuk menetap di desa selepas menyelesaikan kuliah karena ingin menemani ibu yang sudah beranjak tua dan hidup sendiri setelah kepergian bapak tak luput menjadi korban. Untung saja lahan peninggalan bapak bukan sawah tapi tegalan yang lebih tinggi dari lahan sawah. Meski lolos dari genangan air aku pun harus merubah rencana jika hujan turun semakin deras. Awalnya aku ingin menanam cabe dan tomat secara berseling. Urung. Hujan yang turun sore hingga malam akan membuat buah cabe terkena patet, penyakit yang menyebabkan buah cabe busuk berwarna kehitaman. Kalau saja hujan turun siang hari cabe akan berbuah dengan baik dan ranum.

Aku bertahan dengan 30 petak yang kutanami sayuran bertahap, sehingga bisa kupanen tiap hari. Sebedeng tambak berisi lele dan usaha baru pembuatan bibit tanaman yang kutekuni untuk menutup kebutuhan petani saat musim tanam. Mengisi pematang sawah agar tak kosong dan tetap menghasilkan. Cabe, tomat, bunga kol, terong, aku buatkan semua. Termasuk menjanjikan di desa yang mayoritas penduduknya petani seperti di sini. Meski kecil tapi terus memberikan pemasukan. Ibu pun senang karena ada kegiatan meski sekedar menyiram tanaman atau membantuku memasukkan tanah gembur ke kantong plastik kecil yang nanti kupotong-potong sebagai media tanam.

Menyikapi ulat jati yang berpesta pora aku sedikit merasa cemas. Biasanya saat ulat jati muncul di awal musim hujan bisa dipastikan bahwa hujan hanya akan sekejap mencumbu bumi. Kemarau akan panjang seperti tahun lalu. Berarti bisa dipastikan musim tanam tak bisa diprediksi seperti biasanya. Aku pun harus pintar mengolah lahan peninggalan bapak agar masih bisa bertahan dan menghasilkan. Nanti harus dipikirkan matang-matang apa yang harus kutanam dan bisa bertahan dalam cuaca yang absurd ini.

Di pagi mendung gerimis aku hanya menghabiskan waktu duduk di bale bambu depan rumah ditemani kopi dan singkong rebus. Ibu keluar tak lama kemudian ikut duduk di sampingku. Jemarinya terampil menjahit celanaku yang bolong-bolong.

“Kamu ndak pengen ke kota cari kerja Le”.

Aku tatap wajah di depanku yang masih asik menekuri jarum jahitnya. Mungkin dia resah dengan nasibku jika masih di desa. Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti ini hampir mustahil menggantungkan nasib pada sawah dan tambak. Tapi terus terang aku tak tega meninggalkannya sendiri di sini. Ibu pun tak akan mau kalau aku ajak ke kota menemaniku.

“Mengko yen bapakmu teka mundak nggoleki”.

Begitu jawabannya jika aku mengajaknya pergi. Entah bagaimana pikiran orang tua. Bapak jelas-jelas sudah pergi dan tak mungkin kembali. Tapi memang kepercayaan mereka yang sudah tua, terkadang arwah orang yang sudah meninggal kadang masih sering datang menemui mereka yang ditinggalkan. Aku sendiri antara percaya tak percaya, meski sangat ingin bertemu bapak tapi sampai sekarang belum pernah menjumpai arwah bapak datang.

“Mboten Buk, kula ten ndeso mawon ngancani njenengan”.

Aku punya keinginan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan masyarakat desa. Menggalakkan ide-ide yang sebenarnya banyak mereka punya tapi karena keterbatasan pengetahuan hanya sampai di angan-angan saja. Memanfaatkan tenaga ibu-iburumah tangga yang sehari-hari hanya diam di rumah. Mereka pasti senang jika bisa menghasilkan uang sendiri meski hanya kecil. Paling tidak bisa membantu suami menyokong kebutuhan rumah tangga yang semakin membelit dengan naiknya harga secara simultan untu hampir semua kebutuhan.

Rencananya aku akan memanfaatkan sisa panen untuk dibuat pakan ternak dan kerajinan. Sampah-sampah daun dan ranting untuk dibuat briket menggantikan bahan bakar fosil. Sampah-sampah plastik yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan yang bernilai jual dan banyak ide lain yang bisa aku terapkan. Untuk sekarang pendapatan dari tegal, tambak, dan pembuatan bibit masih berlebih dan bisa kutabung untuk modal usaha selanjutnya.

Harusnya para sarjana itu kembali ke desa dan memakmurkan desanya daripada hidup di kota dengan persaingan ketat dan polusi yang memenuhi atmosfer. Hidup di desa tidak akan menjadikan tertinggal jika mau kreatif dan aktif. Bahkan menjanjikan peluang usaha yang besar bagi mereka yang mau berusaha.

“Monggo buk diincipi”.

Kuulurkan sepotong singkong rebus pada ibu yang disambut senyuman. Aku tahu setiap orangtua lebih senang ditemani anaknya. Tapi mereka tidak akan bilang dan hanya diam. Sebagai anak aku belajar ini dari bapak kos dan ibu kos saat kuliah dulu yang hanya bisa memandang dengan tatapan syahdu ketika anak-anak mereka berpamitan satu persatu ketika liburan berakhir dan meninggalkan rumah lengang yang hanya berisi mereka berdua. Seketika senyum sirna di wajah keduanya.

Kutatap wajah ibu. Pelan kuulurkan tangan dan menggenggam jemarinya. Bersama kami nikmati pagi dengan mendung menggantung di langit dan senyum terukir di bibirku dan bibir ibuku..

**Naskah kiriman Marwita Oktaviana

Penulis lahir di Lamongan 34 tahun lalu. Saat ini mengajar di salah satu SMK di kabupaten Lamongan. Sangat suka membaca. Menulis adalah proses belajar baru untuk mengenal diri. Silahkan mampir di @marwita_oktaviana, fb: marwita oktaviana, atau www.witaoktavian.blogspot.com

Peluang Ramadan di Saat Corona Melanda

0

Yuk bersama melangitkan ikhtiar bumi walaupun #DiRumahAja. Karena sesungguhnya, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Ketika mampu memberdayakan keluarga, harapannya di lingkungan atau masyarakat, semua anggota keluarga ikut bermutu dan berdaya bersama-sama.

Kampusdesa.or.id–Nabi Muhammad saw bersabda di dalam hadistnya; Rajab bulannya Allah, Sya’ban bulanku (Nabi Muhammad), dan Ramadhan adalah bulan umatku.

Meskipun dunia dilanda pandemi corona, sebagai umat islam yang beriman paham betul apa yang seharusnya dilakukan. Bukan tanpa sebab perubahan Ramadan tahun ini dengan tahun lalu. Selain corona, adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di bulan Ramadan, membuat tahun ini benar-benar sangat berbeda. Jelas perubahan yang signifikan.

Namun, kesulitan bukanlah alasan kita sebagai hamba mengeluh apalagi menjadikan sebuah pembenaran. Masih banyak cara untuk tetap memuliakan bulan penuh berkah ini. Selain berpuasa pada siang hari, dapat berbuka puasa bersama dengan keluarga, bahkan shalat berjamaah 5 waktu dan sunnah lainnya. Sebagai ayah atau kepala keluarga tentu perannya dalam mengkondisikan anggota keluarga sangatlah penting, tidak hanya menjadi imam shalat, ayah atau kepala keluarga juga bisa berkesempatan berbagi ilmu lewat tausyiah, kultum atau kajian lima menit sebelum berbuka.

Baca juga: Belajar Bisnis Digital di Tengah Wabah Virus Corona

Lebih daripada itu, peran ibu yang selama ini dianggap biasa, dan cenderung tak ternilai. Ini peluang emas untuk membuktikan betapa pentingnya ibu dalam sebuah keluarga, tanpa ibu semua tak teratur. Itu sebabnya untuk para ibu jangan takut mencoba resep baru, karena varian menu terbaru dari masakanmu sangatlah dinantikan. Dan ketika semua telah mengambil bagian masing-masing, anak yang selama ini acuh mudah-mudahan hatinya terenyuh.

Ikut serta mengambil peranan yang dirasa mampu, tetapi jangan dulu ditentang. Biarkan saja dulu anak menyelesaikan tugas yang diambil dan dipilahnya, sambil terus dibimbing dan diajarkan.

Ikut serta mengambil peranan yang dirasa mampu, tetapi jangan dulu ditentang. Biarkan saja dulu anak menyelesaikan tugas yang diambil dan dipilahnya, sambil terus dibimbing dan diajarkan. Selain menguatkan bonding, anak akan belajar bagaimana bertanggung jawab dan bertanggung gugat pada setiap pekerjaannya, sehingga di kemudian hari anak akan tumbuh menjadi pribadi unggul yang percaya diri dan berprestasi.

Yuk bersama melangitkan ikhtiar bumi walaupun #DiRumahAja. Karena sesungguhnya, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Ketika mampu memberdayakan keluarga, harapannya di lingkungan atau masyarakat, semua anggota keluarga ikut bermutu dan berdaya bersama-sama.

Hipokrisi dalam Penanganan Covid-19

0

Pandemi Covid-19 ternyata mampu memunculkan sisi gelap manusia Indonesia, seperti yang pernah disinggung Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat, yaitu hipokrit atau munafik. Manusia Indonesia yang terkenal berjiwa gotong-royong dan memiliki keterikatan sosial yang tinggi, di tengah krisis sekarang ini justru menampilkan diri sebagai makhluk yang mementingkan diri dan kelompoknya dibanding kepentingan umum.

Kampusdesa.or.id-Akhir-akhir ini jagad maya kembali dihebohkan dengan adanya penolakan sejumlah masyarakat terhadap pemakaman jenazah para korban Covid-19 dan juga penolakan terhadap tempat observasi dan penampungan sementara pemudik yang ada di daerahnya. Ketika saya memaklumkan bahwa Aula Sekolah Garasi siap dijadikan lokasi observasi saudara kita yang mudik dan pulkam (pulang kampung), timbul kegemparan laten atau tersembunyi dari masyarakat sekitar, dari wali siswa dan beberapa guru yang menentang.

Apalagi ketika ada tim survei dari gugus tugas kecamatan. Namun subhanallah walhamdulillah Gusti Allah menolong saya. Tim desa memilih lokasi lain yaitu di polindes, yang ada di kompleks balai desa, sehingga lebih mudah pengawasannya dan ya Allah, ada yang menyatakan jangan di sekolah saya, kasihan nanti akan mempengaruhi PPDB sekolah saya.

“Dengan berlindung di balik kontroversi semantik kata Mudik dan Pulang Kampung, masyarakat masih berduyun-duyun dari daerah satu ke daerah lain”

Kedua, kita bisa amati meskipun masyarakat tahu bahwa kunci penularan Covid-19 itu adalah human to human, karenanya pemutusan rantai penularan hanya bisa dicegah dengan pembatasan gerak individu dalam masyarakat. Pemerintah pusat maupun daerah telah sepakat menjalankan PSBB, namun bisa kita saksikan, dengan berlindung di balik kontroversi semantik kata Mudik dan Pulang Kampung, masyarakat masih berduyun-duyun dari daerah satu ke daerah lain, apakah itu namanya mudik, pulang kampung, kaum S3 (Setiap Sabtu Setor), mesti tahu bahwa hal itu berpotensi tinggi menularkan atau ditulari virus.

Saya lalu teringat semasa masih aktif sebagai peneliti, belum terlibat banyak kegiatan dan belum jadi anggota PLO. Sedikit banyak saya terengaruh pemikiran Prof. Sayogyo dan Prof. Mubyarto tentang sosiologi pedesaan. Pada akhir tahun 1980an saya meneliti tentang komitmen masyarakat terhadap gotong royong, dan hasilnya masyarakat terikat pada komitmen kesetiakawanan (loyalitas) yang tinggi terhadap masyarakat di sekitarnya, terutama di daerah pedesaan, baik di daerah Mataraman maupun daerah di daerah Maduran baik di pulau Madura maupun daerah tapal kuda di Jawa Timur.

Setelah itu saya meneliti gejala ini di tahun 1990an dari sisi yang berbeda, kesediaan untuk berbagi peran sosial. Saat itu saya tertarik bukunya Mochtar Lubis, Manusia Indonesia dan bukunya Koentjaraningrat tentang Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, yang memuat ciri-ciri manusia Indonesia. Salah satu ciri tersebut adalah hipokrit, alias munafiq dan suka menerabas.

Baca Juga: Seputar Virus Corona dalam Kacamata Sains-Agama

Saya dalam hal ini lebih suka menggunakan kata hipokrit sehingga kata itu saya gunakan dalam judul tulisan saya ini. Manusia Indonesia yang terkenal berjiwa gotong-royong dan memiliki keterikatan sosial yang tinggi, kok memiliki sikap yang mementingkan diri dan kelompoknya dibanding kepentingan umum, dalam hal ini menentang lokasi pemakaman dan penampungan penderita Covid-19 serta mengabaikan larangan pemerintah untuk eksodus dari satu daerah ke daerah lain. Saya lebih suka menggunakan kata eksodus atau ramai-ramai pindah dari satu tempat ke tempat lain, daripada istilah mudik atau pulkam, karena eksodus sudah menyangkut keduanya.

Saya saat itu meneliti isu kesetaraan gender yang sedang hangat diperbincangkan di awal tahun 1990an. Subyek penelitian kualitatif ini pria dewasa yang sudah kawin. Kesetaraan gender adalah hak wanita mulai dari memenuhi kebutuhan dasar sebagai wanita, hak untuk bekerja di sektor publik dan hak untuk menjadi pimpinan. Semua pendapat pria benar-benar 99% mendukung kesetaraan gender, namun dengan Kata-kata Kunci yang mengejutkan: “Asal_bukan_keluarga_saya.” Selama itu menyangkut wanita di luar keluarganya, hampir seluruh responden terbuka mendukung konsep kesetaraan gender. Tapi ketika itu menyangkut wanita dalam keluarganya, terutama istrinya maka jawabannya: “No Way”.

Lebih dari 80% responden tidak bisa menerima isterinya menempuh karir setinggi-tingginya di bidang pekerjaannya, terlalu banyak berada di luar rumah, apalagi menjadi pimpinan di tempat kerja suaminya dan memimpin dirinya. Dalam pengambilan keputusan keluarga juga hampir 80% tidak bisa menerima istri lebih banyak menentukan keputusan dalam kehidupan keluarganya. Dari hasil ini tampak ada hipokrisi sikap, secara normatif setuju, namun bila menyangkut kepentingan dirinya, maka tidak setuju.

Meskipun saya tidak melanjutkan studi secara longitudional tentang sikap masyarakat ini, jelas dengan gelaja-gejala yang saya kemukakan di awal tulisan ini; diam saat jenazah korban Covid-19 dimakamkan atau lokasi penampungan ada di daerah lain, dan bersuara lantang saat berkaitan langsung dengan kepentingan dirinya, tampaknya hipokrisi masyarakat ini semakin kuat.

“Manusia adalah mahluk yang unik. Ia adalah mahluk individual, mahluk sosial dan juga mahluk religius. Titik temu kordinat tiga aspek itulah yang menentukan kepribadian individu”

Manusia adalah mahluk yang unik. Ia adalah mahluk individual, mahluk sosial dan juga mahluk religius. Titik temu kordinat tiga aspek itulah yang menentukan kepribadian individu. Ada yang ketiga aspek itu seimbang, atau ekstrem ke salah satu titik kordinat saja, Namun yang benar-benar seimbang atau akstrem hanya mengarah ke salah satu dari tiga aspek juga jarang. Yang terbanyak punya kecenderungan ke arah salah satu saja.

Baca Juga: Pandemi Corona dan Teologi Fatalistik yang Fatal

Orang-orang yang lebih cenderung sebagai mahluk individual. Cenderung menolak pemakaman jenazah atau penggunaan daerahnya sebagai lokasi penampungan dengan berbagai alasan yang sering tidak masuk akal, meski sudah dijelaskan seilmiah, serasional dan seobyektif mungkin.

Kita juga bisa menyaksikan betapa Bunda Theresa menerjunkan dirinya di tengah masyarakat papa di India, yang berpenyakitan, bahkan banyak yang kritis menunggu ajal tiba tanpa takut dirinya tertular. Di negara kita, kita juga bisa melihat betapa Romo Mangun membina masyarakat Girli di Kali Code dengan melepas semua kepentingan pribadinya. Ini adalah contoh pribadi yang ekstrem sebagai mahluk sosial dan atau sekaligus mahluk religius. Juga ada pejuang-pejuang kemanusiaan dan kelestarian alam yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dana, bahkan sering juga nyawanya dalam membela hak-hak azasi manusia.

Kebanyakan orang menyimpan kecenderungan yang ada pada dirinya. Pernah dalam kuliah pada mahasiswa saya beri rambutan Binjai asli Blitar. Ada dua perilaku berbeda dari mereka. Saat rambutan itu dibagikan ramai-ramai, maka setiap individu itu akan cenderung mengambil dan memakan rambutan yang paling merah sementara kalau diberikan per mahasiswa sudah dalam paket sendiri-sendiri ada kecenderungan mereka memakan yang kurang baik lebih dulu dan yang terbaik akan dimakan terakhir, sebagai gong kata mereka.

“Sebenarnya dalam diri sebagian besar manusia itu cenderung sebagai mahluk individual yang lebih mementingkan dirinya sendiri”

Jadi, sebenarnya dalam diri sebagian besar manusia itu cenderung sebagai mahluk individual yang lebih mementingkan dirinya sendiri. Dalam situasi yang memungkinkan merangsang sikap egois itu muncul, maka akan mudah diletupkan dengan suatu tindakan provokatif. Itulah mengapa ada demo menentang lokasi pemakaman dan penampungan korban Covid-19.

Sebagian besar mereka sebenarnya tidak begitu paham tentang dampak Covid secara ilmiah, obyektif dan rasional. Namun begitu kepentingan-kepentingan mereka ini dipicu dan dipacu oleh provokator yang berkepentingan dengan isu itu, mereka mudah digerakkan. Itu hasil kuliah Psikologi Sosial yang dibina oleh dosen saya Eyang Mulyadi Guntur Waseso yang paling saya ingat.

Tentu saja sikap hipokrisi menyulitkan negara dan para pakar untuk menangani pemutusan mata rantai penularan Covid-19, meski telah dijelaskan secara gamblang, ilmiah dan rasional setiap hari di madia massa. Arus ke daerah lain dengan berlindung di balik berbagai nama masih berlangsung, warung-warung dan tempat berkumpulnya warga masyarakat masih dibuka dan petugas harus kucing-kucingan untuk mengatasinya.

Tindakan represif yang mengandung pemaksaan tidak akan efektif, selain semakin memenuhkan ruang penjara dan tahanan, terapi ini hanya menyentuh kulit-kulitnya, bukan pada core problem masalahnya. Perlu ada rekayasa sosial (social engineering) namun pertanyaanya, siapa yang bisa melakukannya?.

Teringat saat sekelompok tikus ketakutan menghadapi seekor kucing. Ada seekor tikus yang cerdas dan kreatif mengusulkan pemasangan giring-giring (klintingan) sebagai kalung di leher si kucing sehingga kedatangan si kucing bisa diketahui dari jauh. Semua setuju ide itu, namun masalahnya, tikus mana yang bersedia memasang kalung berkelintingan itu di leher kucing, karena semua tikus merasa ide itu baik, tapi jangan saya yang memasangnya.

Penghargaan yang setinggi-tingginya pada para pejuang pemberantas Covid-19, mulai dari sukwan, petugas keamanan, tenaga medis dan para medis yang lebih memenuhi panggilan jiwa daripada mementingkan diri sendiri, asal jangan saya.[]

Menakar Ulang Lulusan Program Prakerja

0

Legitimasi sertifikat lulusan Prakerja masih menuai pertanyaan. Pelatihan yang memperoleh sertifikat itu memang bisa menjadi nilai tambah bagi mereka yang melamar pekerjaan nanti. Tetapi bagaimana soal keabsahan sertifikatnya. Bagaimana soal standardisasi yang dipakai oleh platform penyedia pelatihan online. Standar apa yang mereka pakai dan seterusnya.

Kampusdesa.or.id–Program kartu Prakerja gelombang pertama resmi bergulir. Beberapa orang yang dinyatakan lolos saat ini dipastikan sedang sibuk menyelesaikan pelatihannya. Meski demikian nampaknya program tersebut tak lantas sepi untuk dibahas lebih lanjut.

Selain dinilai sarat konflik kepentingan, berseliweran banyak pemberitaan yang membahas program tersebut belum terlalu dibutuhkan masyarakat saat ini. Saat pandemi semacam ini, masyarakat lebih membutuhkan bantuan yang sifatnya riil dan bisa langsung digunakan seperti bantuan tunai, sembako atau bantuan pokok lainnya daripada mendapat pelatihan daring (online). Selain belum begitu diperlukan, lulusan program Prakerja perlu ditakar ulang lagi.

Seorang warganet Twitter bernama Bening Muhammad (@beningtirta) coba membahas program Prakerja lebih dalam. Mahasiswa Ph.D dari NTU Singapura itu memaparkan rangkuman diskusi alumni The University of Manchester ’15. Beberapa poin diskusinya yaitu mempertanyakan ulang urgensi Prakerja saat pandemi justru banyak membuat industri merumahkan karyawannya, soal akses internet stabil yang belum merata ke semua daerah di Indonesia, biaya paket pelatihan yang sebenarnya bisa diakses secara gratis lewat Youtube dan masih banyak lagi. Beberapa hal menarik dari pembahasan tersebut soal kualitas lulusan, legitimasi sertifikat pelatihan dan tingkat kemampuan (skill) penerima program Prakerja.

Bicara soal kualitas lulusan, banyak model manajemen yang bisa dijadikan bahan pendekatan. Salah satunya tentang model manajemen ISO 9001:2008. Model ini sudah banyak diadopsi oleh sekolah maupun perguruan tinggi di Indonesia.

Secara singkat, ISO 9001 mendasarkan pada pola Plan-Do-Check-Action (PDCA). Selain itu, ISO 9001 juga berpijak pada pendekatan proses, penekanan pada pelanggan, penekanan berkesinambungan (continual improvement) dan penekanan pada peranan serta tanggung jawab manajemen puncak terhadap sistem penjaminan mutu.

Bila lulusan Prakerja dihadapkan pada pendekatan diatas, misalnya penekanan berkesinambungan (continual improvement), apakah ada perbaikan yang berkesinambungan terhadap mutu lulusan Prakerja. Atau pada pijakan lain semisal peranan serta tanggung jawab manajemen puncak tentang program Prakerja. Masih belum ada titik jelas akan kemana lulusan Prakerja. Akankah mereka benar-benar diarahkan pada sektor pekerjaan bidang industri, menjadi pekerja informal seutuhnya, menjadi pengusaha secara kaffah, masih belum jelas terbaca arahnya.

Legitimasi sertifikat lulusan Prakerja masih menuai pertanyaan. Pelatihan yang memperoleh sertifikat itu memang bisa menjadi nilai tambah bagi mereka yang melamar pekerjaan nanti. Tetapi bagaimana soal keabsahan sertifikatnya. Bagaimana soal standardisasi yang dipakai oleh platform penyedia pelatihan online. Standar apa yang mereka pakai dan seterusnya.

Standardisasi diatas penting dibahas lebih lanjut karena akan memberi dampak kepada orang banyak. Dengan standardisasi yang jelas, minimal level kemampuan (skill) pengguna program Prakerja dapat diketahui. Nantinya standar tersebut dijadikan bahan penilaian oleh pemangku kebijakan, sektor industri hingga masyarakat tentang manfaat dari Prakerja. Standar yang jelas juga bisa dijadikan sarana untuk mencapai adanya kesamaan kualitas. Dengan adanya kesamaan kualitas, diharapkan tercipta persaingan yang sehat dan jujur.

Selain standardisasi, kemampuan (skill) lulusan program Prakerja juga perlu dipertanyakan. Seseorang dikatakan lulus dari program tersebut ketika dinyatakan selesai mengikuti pelatihan dari Mitra pelatihan yang telah ditunjuk. Belum ada kriteria atau indikator yang jelas tentang ukuran kemampuan lulusan, apakah lulusan tersebut berkemampuan dasar, menengah atau atas (ahli).

Ketidakjelasan diatas tentu membuat pusing bagian personalia sebuah perusahaan. Bila sebuah perusahaan membutuhkan karyawan berkemampuan menengah, lalu ternyata lulusan program Prakerja hanya berkemampuan dasar, hal ini menjadi buah simalakama. Di satu sisi, lulusan Prakerja ingin mendapat pekerjaan, namun di sisi lain, perusahaan membutuhkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Tersisanya ketidak jelasan diatas harusnya dijadikan pemerintah sebagai bahan evaluasi untuk menghasilkan kebijakan publik yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan. Bila tidak, dikuatirkan akan muncul kebijakan lain yang tetap saja tak tepat sasaran, tidak memperhatikan asas analisa kebutuhan, dan hanya bisa mengguncang kas negara.