Selasa, Agustus 25, 2026
Beranda blog Halaman 104

Desa dan Komunikasi

0

Komunikasi sangat penting … Diajak komunikasi yang intensif itu saja sudah membuat orang berbahagia. Merasa diajak ngomong saja orang sudah senang. Apalagi didengarkan pendapat dan curhatnya. Komunikasi berupa penyampaian pesan yang merupakan keinginan yang ingin dipenuhipun akan membuat si penyampai pesan akan bahagia bila ditanggapi—meskipun belum bisa dipenuhi keinginannya.

Rakyat butuh jalan, karena jalannya rusak itu iya. Tapi sudahkah rakyat menyampaikan keinginannya? Ataukah hanya “nggrundel” saja. Tiadanya komunikasi antara rakyat yang ingin dengan pihak yang diharap bisa menyelesaikan masalah, kadang juga menghasilkan suasana psikis tersendiri. Bisa salah paham, bisa marah dari jauh pada hal tak pernah mendapatkan informasi yang valid tentang kenapa sesuatu terjadi atau tidak terjadi dan kenapa suatu keinginan tidak tersampaikan.

Pemimpin seperti kepala desa, segenap perangkatnya, sebaiknya sering melakukan komunikasi terhadap masyarakat bawah. Karena tugas pemimpin dan pemerintah itu pada dasarnya adalah mendidik dan memintarkan rakyatnya. “Mencerdaskan kehidupan bangsa”—sebagaimana dalam preambule konstitusi kita yang dibacakan anak sekolah setiap hari senin itu harus menjadi tugas pemerintah (negara). Negara, salah satu tugasnya, adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pemimpin sebagai representasi negara harus hadir dalam bidang ini. Kepala desa, misalnya, harus aktif komunikasi dengan siapa saja. Tanpa membeda-bedakan masyarakatnya baik tempatnya atau kedudukannya. Tak harus berkomunikasi saja dengan elit atas atau sesama elit tingkat kabupaten, kecamatan, atau tingkat desa saja. Dusun dan dukuh, juga di bawahnya RW dan RT, adalah teritori tempat masyarakat bawah berada.

Masyarakat bawah inilah yang harus dididik, diberi informasi, diajak bicara, didengar keluhan-keluhannya, didengar permintaannya. Jika permintaan tidak bisa dipenuhi, ya tinggal dijelaskan. Siapapun pasti paham kenapa sesuatu bisa dipenuhi dan kenapa tidak. Dengan dasar hukum dan analisa terhadap situasi dan kondisi yang ada (termasuk kemampuan ekonomi dan kapasitas kekuasaan pemerintah desa), tentu masyarakat akan paham.

Masalahnya adalah jika masyarakat tak pernah didekati dan diajak bicara. Maka lahirlah ketidakpuasan yang sering tak tidak njalur. Karena prasangka saja yang dikembangkan. Karena tak ada isian dari proses komunikasi yang menjembatani antara dua pihak yang seharusnya berkomunikasi. Saat jalan rusak sekian lama, dan tak punya penjelasan, yang muncul kadang hanya prasangka. Apalagi untuk dusun atau dukuh yang memang masyarakatnya masih tertinggal dan terpencil.

Jalinan komunikasi di desa, terutama antara pemimpin dan pemerintah desa, dengan rakyatnya ini amat penting. Untuk menghasilkan situasi yang kondusif bersama, untuk pembangunan demokrasi dan kebersamaan—bahkan juga situasi keamanan. Sudahkah jalinan komunikasi ini dipikirkan oleh pemerintah?

Undang-Undang tentang Desa menginginkan partisipasi masyarakat, juga transparansi. Ini sebenarnya adalah bidang kegiatan komunikasi. Bagaimana informasi dibuka dan muncul interaksi antara komunikator (penyampai pesan) dan komunikan (penerima pesan) itu dikelola dengan baik, sesungguhnya hal itu akan memberi kontribusi pada kemajuan.

Jamaknya yang paling mudah adalah strategi menghidupkan lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi pada tingkat desa. Tetapi organisasi ini juga harus hidup, tidak hanya ada di atas kertas yang namanya muncul saat menyusun pertanggungjawaban (SPJ). Organisasi-organisasi ini harus mewadahi banyak orang. Semakin banyak komunitas dan organisasi yang tumbuh dan dekat dengan pemerintahan desa, maka desa akan maju. Misal, karangtaruna—tempat berkumpulnya anak-anak muda dalam kegiatan-kegiatan. Yang sebenarnya juga bukan sekedar kegiatan seni dan olahraga saja, tapi juga mekanisme organisasi yang sehat (tidak elitis, demokratis, partisipatif, dan punya daya untuk mengembangkan diri tiap anggotanya dalam berbagai bidang).

Selain itu juga ada forum tradisional semacam yasinan yang seharusnya bisa dimanfaatkan. Forum-forum seperti ini hanya jadi tempat rutin yang sejak jaman dulu sampai sekarang hanya jadi ajang ritual tanpa menumbuhkan kesadaran maju dan partisipasi. Kenapa? Sebab di dalamnya tak ada isian. Misalkan pemerintah desa mau masuk ke kelompok-kelompok yasinan ini, minimal sebulan sekali, digilir antar dusun atau RT/RW, tampaknya akan bisa menjadi wadah yang edukatif, informatif, dan tercipta respon-respon untuk mengetahui isu-isu apa yang terjadi di masyarakat bawah.

Media juga penting, terutama untuk kalangan anak muda yang melek media sosial. Beberapa terobosan pemerintah desa untuk bikin website, facebook, misalnya, akan bisa efektif untuk menjadi ajang komunikasi. Tetapi tentu saja, kalau bicara media, kembali lagi pada banyak hal, baik konten (isinya) maupun kualitas-kualitas yang lainnya.

Banyak hal yang perlu diperbaiki di desa dalam hal komunikasi ini. Mulai cara pemimpin berkomunikasi hingga bagaimana menciptakan strategi-taktik penyampaian dan interaksi informasi. Bukankah harapan dari komunikasi adalah menjelaskan masalah dan membuat kedua belah pihak yang saling komunikasi sama-sama menjadi termanusiakan?

Ketika masyarakat di sebuah dusun atau dukuh, misalnya, mulai merasa diabaikan (tidak diperhatikan), maka mereka butuh diajak komunikasi. Ketika mulai ada suara-suara begini, “Dari dulu dukuh sini itu selalu dianaktirikan dan gak pernah diperhatikan”, sebenarnya pihak pemerintah desa atau pemimpin desa memang harus mulai banyak memberikan perhatian.

Komunikasi intensif dan efektif adalah kunci kesuksesan bersama!***

(Kaki Gunung Jabung, Subuh-hari, 2017)

Surga di Desa, Surga Tanpa Pesta Seks

0

Saya orang desa. Saya pernah dua tahun tinggal di ibu kota, akhirnya tak betah. Sebab, desa ternyata adalah tempat yang memiliki segalanya. Tapi sekota-kotanya Jakarta atau ibu kota propinsi di nusantara, saya pikir masih banyak tanaman dan pepohon yang bisa kita jumpai. Baik tanaman hias di sisi-sisi kantor dan gedung. Pohon-pohon besar di pinggir jalan. Hingga taman-taman kota yang punya banyak tumbuh-tumbuhan.

Di desa lebih menarik lagi. Hingga kaum Eropa menggambarkan nusantara adalah “Hindia yang molek” atau “Hindia yang indah”—atau yang sering disebut “Mooi Indie”. Keindahan alamnya yang luar biasa. Alamnya termasuk manusia, di antaranya (jika dipandang dari perspektif laki-laki) adalah perempuan-perempuan cantik di antara tumbuh-tumbuhan tempat mereka tinggal dan juga di antara mereka bekerja.

Situasi di mana ada seorang perempuan menanam atau panen padi. Situasi di mana ada perempun berjalan di ladang mengantarkan bekal makan di sela istirahat di sawah. Situasi di mana ada perempuan-perempuan mencuci pakaian di sungai yang airnya bening mengalir dengan batu-batu indah. Situasi di mana ada para perempuan cantik mandi di telaga. Situasi di mana ada perempuan ingin menyeberang di sungai yang airnya meluap dan dicegat oleh kepiting. Kisah ikan emas yang kerasan di danau. Narasi tentang Kancil mencuri Mentimun atau kisah tentang buah Semangka yang disembunyikan raksasa. Kisah tradisional di mana selalu ada hutan, direpresentasikan oleh Gunungan dalam wayang, misalnya. Dan ribuan kisah lainnya menunjukkan betapa kekayaan flora dan fauna di nusantara, terutama di desa tidak lagi terbantahkan.

Surga berupa keindahan nyata di desa-desa sudah menjadi keseharian. Kesuburan Padi dan pemujaan terhadap Dewi Sri, menjadikan perempuan diberi tempat terhormat dalam konsep dan narasi masyarakat tentang alam dan kemanusiaan. Senutan Ibu Pertiwi untuk menarasikan bagaimana alam ini adalah sosok perempuan yang menghidupi.

Berbeda sekali dengan konsep yang lahir dari masyarakat yang tanahnya gersang tanpa tumbuh-tumbuhan. Masyarakat yang sulit mendapatkan air mengalir di bawah tanah yang banyak tumbuh berbagai tanaman. Di msayarakat gurun pasir itu, masyarakatnya sangat mendambakan surga sebagai keindahan di mana ada “kebun indah di mana akan mengalir air di bawahnya”. Hal semacam itu bukan lagi khayalan di sini, di nusantara dengan desa-desa yang memang sudah banyak mengalir sungai, kebun-kebun dan ladang, hutan dengan berbagai tanaman.

Sedangkan di sini, perempuan dan laki-laki hidup berdampingan di antara keindahan alam. Tidak ada janji pada laki-laki tentang surga yang isinya perempuan seksi sebagai pemuas nafsu seks tanpa batas. Hal yang tidak dijanjikan pula pada perempuan—yang barangkali surga diangankan dari kepentingan laki-laki yang hanya membayangkan keindahan perempuan, seksi, dan melayani kebutuhan untuk kepuasan seksisme-patriarkal.

Di masyarakat gurun pasir sana, tidak ada keindahan alam seperti banyaknya tanaman dan buah-buahan. Sehingga, satu-satunya penyaluran nafsu adalah keindahan seksual, pesta seks dengan perempuan-perempuan. Menikahi banyak perempuan dan menjadikan perempuan sebagai budak nafsu adalah salah satu penyaluran nafsu. Sebab, tak ada keindahan lain selain itu. Alam tak menarik, pemandangan buruk, tanah gersang. Air sulit didapat.

Jangankan fauna (hewan) yang juga banyak jenisnya (ratusan atau mungkin ribuan) seperti di nusantara. Di padang pasir itu, setahu saya dari cerita-cerita, hewan yang saya kenal hanyalah Unta dan Domba. Bandingkan dengan di sini. Dalam hal hewan sebagai lauk saja, jumlahnya di nusantara banyak sekali. Baik hewan yang hidup di air maupun di darat.

Dan bisa dibayangkan, terlalu banyak makan domba (kambing) juga akan membuat nafsu seks terus meninggi. Bagaimana kalau makanan tiap hari adalah daging semacam itu. Berarti nafsu seks orang-orang di sana memang amat besar. Nafsu seks itu, tak terbatahkan lagi, terproyeksikan dalam idealisme surga yang penuh adegan seks. Ya, PESTA SEKS. Kenapa bayangan tentang surga adalah pelayanan seks, pemuasan nafsu yang meledak-ledak? Ya karena itu adalah bayangan dari masyarakat yang nafsu seksnya besar. Ya karena situasi kehidupannya diwarnai keterbatasan tentang keindahan hidup selain seks. Pesta tubuh adalah hal yang terjadi ketika tumbuh-tumbuhan tak hidup. Keindahan pemandangan dengan tanaman-tanaman indah, terutama tanaman yang enak di makan untuk mengurangi nafsu.

Sementara masyarakat kita, yang secara kuliner tak banyak makan daging yang menyebabkan nafsu meningkat, yang dihiasi dengan keindahan tumbuh-tumbuhan, bukanlah masyarakat yang seksis pada awalnya. Perempuan memakai pakaian yang tak menutupi lengan dan leher adalah hal biasa. Tak akan terjadi agresi dan pemerkosaan. Karena laki-laki di nusantara juga punya adat yang mengontrol nafsu dan tingkahlaku.

Tapi orang-orang gurun pasir itu sebagian datang untuk merubah perilaku masyarakat nusantara. Mereka memaksa perempuan memenuhi seluruh tubuhnya. Pada hal laki-laki di sini bukan tipe laki-laki nafsuan. Masyarakat sini juga tak ada tradisi barbarisme. Apalagi sejak ada hukum modern, orang yang memerkosa akan dihukum. Orang-orang padang pasir ingin memaksakan cara berpikir, bahwa kalau ada perempuan di perkosa yang salah adalah perempuannya hanya gara gara tak memakai jilbab.

Di sini, laki-laki tidak seagresif di padang pasir yang konon juga suka perang dan berkelahi antar suku. Di sini, banyak orang-orang arif bijaksana yang tidak menyalahkan orang lain sebagai penyebab kejahatan yang ia lakukan. Di sini orang-orang dianggap punya sifat suci, bukan penyebab dosa. Kebaikan dianggap bisa muncul dari tiap manusia, bukan karena dipaksa oleh hukum-hukum keras. Di sini orang woles, ya karena kedamaian nusantara sudah dihadiahkan tuhan dan alam raya. Keindahan alam dan kecantikan pemandangan adalah hibah alam yang membuat nusantara menjadi masyarakat yang bisa menerima perbedaan.

Karena kami sudah terbiasa dengan perbedaan. Buah dan tanaman yang jenisnya berbeda-beda. Hitung jenisnya, puluhan atau mungkin ribuan. Selera masyarakat kami terhadap jenis buah dan makanan yang jumlahnya banyak juga membiasakan kami berbeda dengan rasa dan selera. Kami dikutuk alam raya dan Jagat Dewa Batara sebagai masyarakat yang bhineka. Sekuat apapun kalian kaum padang pasir mau memaksakan kami, kalian tak akan bisa!

Trenggalek, 19/07/2017

Membincang Pendidikan Kita, Antara FDS vs Madrasah Diniyah

0

Sebentar dulu ya, kok tambah melebar dalam menanggapi FDS (Full Day School). Awalnya menolak FDS karena alasan anak akan menghabiskan waktu di luar rumah dan memisahkannya dari meso-sistem (lingkungan luar rumah anak) selain sekolah adalah masyarakat yang awalnya diragukan. Anak yang banyak bergaul di luar sekolah dan juga di luar rumah, sementara tidak ada orang tua yang mengawasi karena menurut orang-orang kota, para orang tua lebih banyak waktunya dihabiskan untuk bekerja sehingga anak-anak tidak terawat dengan baik di rumah. Jadi FDS-lah jawabannya. FDS juga jawaban pendidikan karakter yang disodorkan pemerintah melalu Kemendikbud Muhajjir.

Sekolah akan menggaransi lebih lama anak tinggal di sekolah, itu berarti karakternya justru semakin baik. Harapan itu ya memang ideal bagi semua warga negara ini. Memang sekolah jadi bengkel manusia Indonesia untuk berkembang lebih baik. Semua orang berharap begitu ? Intinya ini tentang membentuk karakter anak ? Lalu jawabannya adalah anak diminta lebih lama di sekolah sehingga mereka terpantau dengan baik ?

Belum jelas pencarian formulasi bagaimana membangun karakter anak tuntas, FDS sebagian sudah diterapkan dan diujicoba di beberapa kota besar, termasuk Malang (informasi viral media sosial yang berkembang), padahal Presiden sudah mengingatkan Menteri untuk menunda keberlakuan FDS dan kebijakan itu bersifat lokalistik, tergantung kesiapan dan kebutuhan suatu wilayah. Masalah menjadi semakin santer ditambah munculkan penolakan FDS dari kalangan organisasi kemasyarakatan yang menaungi Madrasah Diniyah (Madin) karena anak-anak yang sore hari biasanya mengikuti pendidikan keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat, tidak lagi pergi ke Madin.

Debatnya beralih dari FDS vs Madin. Lantas menyeruak klise media sosial. Ini sekularisasi, ini tentang Menteri Muhajir yang Muhammadiyah dan Madin yang kebanyakan dimiliki oleh masyarakat Nahdliyin.

Isu FD tidak lagi substansial tentang apakah sekolah telah menjadi pembentuk karakter yang baik ? Apakah jam sekolah yang ditambah-pun juga menjadi jaminan sekolah adalah garansi karakter anak bangsa sedangkan problematika mendasar bukan tentang berapa lama anak-anak tinggal di sekolah, tetapi bagaimana sebenarnya karakter anak dibentuk ? Lalu tugas orang tua seperti apa yang katanya Kak Seto, pendidik dan guru yang sebenarnya itu ya orang tua ?

Ok.. kalau bingung, kami mengundang Anda untuk hadir menjadi panelis untuk mendiskusikan tentang masalah sebenarnya yang perlu dicari jalan keluarnya bagi pendidikan dan karakter anak bangsa ada di mana ?

Lebih lengkap lihat di poster ya… atau hubungin nara-hubung di kegiatan ini

Yth. Bapak/Ibu/Saudara/i yang berminat Jagongan dengan Para Pakar

Menghadapi isu terakhir terkait pendidikan, terutama tentang Full Day School dan benturan dengan Madrasah Diniyah, sepertinya banyak yang masih melupakan masalah sebenarnya pendidikan itu di mana ? Alih-alih sudah menemukan solusi atas berbagai kronik pendidikan hari ini, benturan FDS dan Madin nampaknya akan semakin menambah runyam ke mana arah sebenarnya pendidikan kita itu dibenahi.

Oleh karena itu, kami mewakili dari IKAPMII Kota Malang, Pesantren Rakyat, Gusdurian Malang dan http://kampusdesa.or.id mengajak Bapak/Ibu untuk berkenan menghadiri jagongan para pakar dengan tema Membincang Masalah Pendidikan Kita, Antara FDS versus Madin pada ;

Hari | Senin, 21 Agustus 2017 | Pukul 18.30 | Tempat di Jagong Maton Caffe Jl. Joyo Suko IV, Merjosari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang.

Pemantik diskusi akan diisi pembicara ;
Ilhammudin Nukman | Ilmuan Psikologi Industri/Organisasi UB Malang
Nuruddin (Gus Din) | Kritisi Pendidikan dari Aliansi Petani Indonesia
Abdullah Syam | Praktisi Pendidikan Pesantren Rakyat
Mohammad Mahpur | Pemerhati Pendidikan dari kampusdesa.or.id

Dihadiri oleh Para Panelis ;
1) Angga Teguh Prasetyo, M. Pd | PC LTNU/Dosen FITK
2) Evi Widiya Sukmawati, SE | Kepala PlayGroup OBAMA Malang
3) W Sanavero | Kelompok Liberasi “Musik-Literasi
4) Zidni Chaniago | Kelompok Liberasi “Musik-Literasi”
5) Dedy Kusbiyanto | Dosen Polinema
6) Ahmad Makki Hasan | Lakpesdam NU Kab. Malang, Dosen UIN Malang

Atas berkenannya untuk hadir, kami mengucapkan terima kasih

An. Panitia
Hasan Abdillah

Bagi yang tidak bisa hadir, akan ada livestreaming di media sosial seperti FB @mohammad mahpur

Korban Janji Kawin dan Integritas Tubuh Perempuan dalam Hukum

0

KampusDesa, Malang – Sore tadi (14/08/2017) warung kopi berbasis literasi ‘Oase’ mendadak ramai ngomongkan soal perempuan. Persoalan perlindungan hukum terhadap integritas perempuan menjadi pokok utama pembahasan di dalamnya. Pembahasan kali ini juga bertepatan dengan launching buku ‘Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Korban Janji Kawin’ karangan Dr. Lusiana Margareth, S.H,. M.H.

Menjadi pembahasan awal tentang eksistensi perempuan yang masih sering dipandang sebelah mata, terutama dalam sudut pandang mata ‘lelaki’. Banyak lelaki yang masih meletakkan kedudukan perempuan satu step dibawahnya. Sehingga tak jarang banyak orang mencoba memanfaatkan perempuan dalam situasi ini.

Seperti yang disampaikan Diana Manzila tentang banyaknya kasus pemberian ‘janji manis’ dari lelaki terhadap perempuan.

“Masih banyak orang memandang tubuh perempuan hanya sebagai pemanis belaka, sehingga konotasi negatife terhadap perempuan sangat melekat. Lelaki tak jarang sampai menjanjikan sesuatu, termasuk janji kawin,” ungkap Zila yang juga berperan sebagai moderator di kesempatan waktu itu.

Di lain sisi, memang tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan perempuan dari perlindungam hukum saat ini masih lemah. Banyaknya kasus yang menimpa kaum perempuan namun tak kunjung selesai penyelesaian hukumnya.

Pembanding : Mohammad Mahpur (Pakar Psikologi Sosial) | Lusiana Margaretha (Penulis Buku : Ahli Hukum)

Hal demikian dijelaskan Dr. Lusiana Margareth, “dari pengamatan saya, terkait kasus yang menimpa kaum perempuan dari pengentasan hukum tak ada yang selesai. Kondisi ini tentu semakin melemahkan keberadaan perempuan. Tak ada hukum kuat yang melindungi harkat dan martabat perempuan, termasuk integritas tubuh perempuan menjadi pertaruhannya,” tutur Lusiana sapaan akrabnya.

Seperti korban janji kawin, mengapa banyak terjadi? ini tentu harus menjadi koreksi bersama. Setiap perempuan pasti punya yang namanya konsep diri, kedaulatan diri. Hanya saja karena masih banyak yang menganggap (tubuh) perempuan hanya sebagai pemanis saja, sehingga kejadian korban janji kawin banyak terjadi.

Hal itu ditambahkan Lusiana, “bagi perempuan, pemberian janji kawin tentu sangat membius otak dan fikiran, apalagi jika dalam hatinya sudah merasakan kenyamanan terhadap sang lelaki. Hal ini tak boleh dibiarkan, adanya Komnas HAM juga belum dapat memberi rasa aman seutuhnya terhadap perempuan, harus ada kebijakan khusus yang mengatur tentang Hak Asasi Perempuan,” imbuh Perempuan Dosen Hukum Universitas Negeri Gorontalo ini.

Menanggapi hal itu, pakar psikologi Dr. Mohammad Mahpur, M.Si mencoba menyuarakan pendapatnya, bahwa keamanan terhadap perempuan memang terbilang minim. Pasalnya, tidak sedikit ditemukan kasus kekerasan yang menimpa perempuan, baik kekerasan batin maupun fisik, hal itu tentu tidak baik bagi integritas perempuan.

“Memang standar keamanan belum dapat menjamin kepada setiap orang, terkhusus pada perempuan. Sehingga menimbulkan stigma negatife tentang rendahnya integritas tubuh perempuan,” ungkap Mahpur.

Jika melihat kasus-kasus yang sudah pernah ada, aspek psikologis tentu menjadi ancaman nyata bagi yang pernah tertimpa kekerasan. Bahkan hal itu menjadi dampak yang paling berat dirasakan kaum perempuan.

Seperti yang ditambahkan Mahpur, Kasus-kasus kekerasan yang menimpa perempuan secara fisik mungkin tak begitu nampak, namun secara batin tentu menjadi pukulan keras terhadap psikisnya.

“Banyaknya macam dampak kekerasan, yang paling sulit disembuhkan itu dari aspek psikologisnya, susahnya minta ampun,” tambah Dosen Psikologi Sosial UIN Maliki Malang ini.

Sementara itu, di akhir sesi Lusiana menyampaikan keinginannya terhadap perempuan agar tidak dengan mudah memberikan kekayaan dirinya kepada bujuk rayu lelaki. Karangan bukunya yang sudah dilaunching menjadi wujud keseriusanya sebagai jawaban atas keprihatinannya selama ini.

“Perempuan harus teguh memegang konsep dirinya, tak mudah lentur dengan bujuk rayu orang lain. Melalui buku saya ini, saya mengajak kaum perempuan untuk mewujudkan hal itu semua,” pungkas perempuan asal Manado ini.

Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Kurban Janji Kawin

0

Ketika perempuan hamil di luar nikah, perlindungan saat hamil, apalagi setelah melahirkan, sepertinya tidak ada yang lebih penting daripada perempuan menanggung begitu banyak beban mental dan psiko-sosial ? Saat mereka menggugurkan bayi, resiko selalu ada di perempuan, bahkan kematian.

Selain itu, psikis perempuan juga rentan mengalamai degradasi eksistensi saat dirinya dikonstruksi sebagai the second sex, melayani, sudah konsekuensi perempuan mengandung dan melahirkan serta memelihara anak, sementara laki-laki bebas membebaskan diri dari semua itu, terutama saat mereka belum memiliki ikatan pernikahan.

Nah, bagaimana secara hukum dan psikologis, perempuan tersebut dibela ? Mari hadir di launching buku sebagaimana pada poster yang sudah terpasang di atas.

Seri Bisnis 2 : Langkah Jitu Merencanakan Bebas dari Hutang Piutang

0

Ada beberapa pertanyaan di grup, yaitu bagaimana mengatasi hutang. Yang menjadi masalah pada hutang piutang adalah perasaan dari pihak kreditur (pemberi hutang) yang takut tidak mendapat keadilan. Bisa saja itu berupa kurangnya niat baik untuk membayar atau cara membayarnya yang dianggap kurang adil. Pihak yang sana dibayar karena takut, yang sini tidak. Itulah yang menyebabkan mereka menyewa penagih dan sebagainya.

Pihak yang berhutang juga sering membuat kesalahan gali lubang tutup lubang, ingin lari dari kenyataan dan berharap bersama waktu masalah akan hilang. Yang terjadi hanya penundaan saja, sedang masalahnya semakin besar.

Cara mengatasi hal ini adalah diawali dengan bersikap jujur dan mengakui pada diri sendiri ada kesalahan dalam pengelolaan keuangan. Jika sudah punya anak yang dewasa, ajak juga bicara. Setelah itu buat rincian hutang kepada siapa saja, dan jumlahnya berapa ? Misal hutangnya 200 juta, ke A 60 juta, B 40 juta, C 800 juta, D 10 juta, E 10 juta. Berarti A 30%, B 20%, C 40%, D dan E masing masing 5%. Harta yang masih dimiliki apa saja, nilai perkiraan berapa. Kemudian bawa data itu ke para kreditur. Katakan kepada mereka hutang anda secara jujur berapa dan harta Anda berapa. Mana yang berupa beban yang perlu dijual (rumah, mobil, tanah kosong dsb) dan mana yang bersifat produktif untuk menunjang bisnis Anda yang perlu dipertahankan untuk bisa menghasilkan uang lebih banyak.

Kemudian katakan bahwa Anda akan membayar mereka dari hasil penjualan secara adil sesuai komposisi hutang Anda. Selanjutnya Anda berjanji akan bekerja keras mendapatkan uang, dan setiap uang kelebihan dari KEBUTUHAN DASAR, akan Anda serahkan ke mereka untuk cicilan. Jika hari itu dapat 100 ribu, langsung berikan ke A 30 ribu, B 20 ribu dan seterusnya. Setiap hari lakukan tanpa menunda pembayaran.

Sementara itu, kita harus benar benar hidup di dasar. Sekolah favorit hilang, kendaraan hilang, perhiasan hilang, makan ke warung hilang. Belanja di supermarket ataupun main kemana juga dihilangkan

Jika itu Anda lakukan, insyaallah tidak ada lagi yang merecoki dan membuat kita tenang serta rejeki kembali datang. Jika kita terus memikirkan hutang, maka hutanglah yang akan datang ke kita. Jadi lakukan pembayaran otomatis utk hutangnya, dan kita memikirkan kemakmuran saja. Jangan pikirkan yang lain.

Alhamdulillah, Saya Terlahir di Desa

0

Di sekitar tahun 90-an, ketika sekolah masih mengandalkan papan tulis hitam, dan kapur gamping sebagai alat tulis penunjang belajar di kelas, kala itu juga setiap satu minggu sekali ada jadwal setoran hafalan Matematika “Pipo Londo” (Ping, Poro, Lan, Sudo) yang berarti perkalian, pembagian, penambahan, Pengurangan.

Juga setiap senin pagi guna mengawali kegiatan pembelajaran di sekolah ada apel pagi upacara bendera dengan membaca Pembukaan UUD ’45 dan Pancasila secara berjamaah. Meskipun tidak sedikit yang pingsan karena tak tahan berlama-lama berdiri di bawah terik matahari, apalagi jika belum sarapan pula. Para korban berjatuhan seperti pohon pisang yang rubuh oleh hempasan benda berat atau tiupan angin yang mobat-mabit.

Di dalam proses pembelajaran-pengajaran yang serba manual itu, guru menulis di papan tulis, murid mencatat di buku tulis secara balap, cepat. Seperti berpacu dalam perlombaan. Terkadang guru memberi motivasi menulis cepat dengan berkata begini: “Nak, jika kalian bercita-cita tinggi ingin kuliah, percepat cara menulis kalian. Karena nanti saat kuliah harus pintar mencatat dan menulis”. Saya masih ingat pesan tersebut. Karena papan tulis terbatas dan guru harus segera menyelesaikan halaman buku yang lain. Setelah selesai menuliskan dan menjelaskan semua materi, guru memberi waktu kepada murid untuk membacanya.

Lima belas menit sebelum lonceng besi dibunyikan sebagai penanda waktu istirahat/pulang guru memberi “kuis pelajaran”. Saya tidak tahu apakah sejak dulu kala sudah ada istilah kuis di sekolah, atau hanya ikut-ikutan TV, karena setiap hari yang paling digemari untuk ditonton adalah sinetron Tersanjung yang entah sampai berapa episode karena bertahun-tahun, dan Kuis Famili 100 yang dipandu oleh Sony Tulung. Saat guru memberi kuis jika ada yang bisa menjawab akan diberi apresiasi oleh guru, yang paling sering apresiasinya berbentuk pembolehan pulang paling awal atau istirahat lebih dulu,  jika salah menjawab maka penghapus papan tulis yangg ngethel, penuh dengan debu kapur itu diusapkan oleh sang guru kepada muridnya. Alangkah nelangsanya murid tersebut. Setiap istirahat atau pulang sekolah pipinya selalu putih seperti menor bersolek bedak.

Jam istirahat atau jam pulang sekolah selalu terlewati dengan canda tawa teman sebaya. Saat jam tidur siang seringkali saya dan teman-teman pergi ngeluyur di siang bolong, bermain sesuai musim. Jika musim angin yang stabil berarti kami bermain layang-layang. Jika air sungai mengalir deras jadwal mandi di sungai menjadi pilihan. Jika musim jagung atau menjelang tanam kami berburu jangkrik. Pun dengan benda-benda mati kami juga memanfaatkan untuk dijadikan permainan, mulai bungkus rokok yang ditumpuk dan dilempari dengan batu kali yang disebut Ciwuk atau Benthek Ganco, kelereng yang digiring ke lobang di tanah memakai jari disebut Gendhiran, karet gelang yang ditembakkan ke kayu di tanah disebut Jepretan, kayu berjodoh atau sering disebut Enthik, batang bambu yang dijadikan Egrang. Gobak sodor, Jumpritan petak umpet, Sentrengan, dll. Sangat kreatif dan kaya imajinasi.

Kemanakah kalian yang dulu sepertemanan denganku? Dua diantara sekian teman karib sekaligus tetanggaku sudah mendahului pergi menghadap yang maha kuasa. Semoga Allah merahmati mereka. Bukan hanya saat bermain saja kami bersama-sama, tapi saat hari raya Idul Fitri pun kami keliling bersama, biasanya disebut “Ba’dan” Anjangsana Lebaran, baik bersepeda maupun berjalan kaki, sowan ke tetangga, guru-guru, kiai-kiai, dan sesepuh desa.  Uang angpau lebaran kita kumpulkan untuk beli majalah/buku.

Sekarang mungkin anak seumuran 6-7 tahun sudah sangat asing mendengar nama-nama permainan di atas. Lebih akrab dengan permainan elektronik, dunia maya, medsos, game online dll. Apalagi anak di perkotaan, jangankan anjangsana lebaran, bermain bersama dengan teman sebaya pun sulit ditemui. Dulu “Majalah Bobo” adalah bacaan tren kami di tahun 90 an. Atau buku “Siksa Neraka”, hehehe… Terbitan CV. Pustaka Agung Harapan Surabaya. Sekarang apa yang dibaca oleh  anak-anak?

Saya masih ingat bahwa setiap sore kami berbondong-bondong pergi ke “Sekolah Sore”, kalau sekarang TPQ. Kami belajar membaca Al-Qur’an melaui Iqra’ dan kemudian buku “Jilid”, ya kami familiar dengan nama buku jilid yang di sampulnya tertulis “Cara Belajar Santri Aktif, CBSA”. Jika ada seorang santri yang lumayan pintar dan lancar baca tulis hijaiyahnya bisa langsung naik kelas tanpa menunggu pergantian tahun. Untuk mengkhatamkan seluruh jilid itu harus dilalui sampai 6 tahapan atau sekitar 5-6 tahun. Jika jilid 6 sudah khatam maka naik menuju kelas 1 diniyah, yang diajarkan di kelas diniyah adalah kitab-kitab akhlak, aqidah dan mufrodat ; Ala laa, Aqidatul Awwam, Ngudi Susilo, Akhlak lil Banin_Banat, Fasholatan, Ra’sun Sirah, dll.

Hal yang paling berkesan saat “Sekolah Sore” adalah ketika berangkat dan pulangnya, karena kami pasti balapan sepeda. Sampai di rumah pasti bercucuran keringat. Sepeda BMX adalah yang paling digemari oleh para bocah rider. Kalau untuk anak yang kurang gaul biasanya pakai sepeda Federal, yang lumayan ngetren di kalangan cewek-cewek adalah sepeda Mini, mereknya Phoenix tapi lebih familiar disebut Mini.

Saat matahari menuju peraduan, bersiap tenggelam bersama hilangnya cerah awan, para bocah bersiap berangkat menuju langgar. Entah magnet  apa yang membuat kami sangat erat dan lekat dengan langgar. Karena hampir semua anak sebaya kami waktu itu, baik yang rajin sekolah maupun nakal gak ketulungan, kami semua sangat semangat jika mau ke langgar. Setelah shalat maghrib kami sorogan; Yang sudah bisa baca Al-Qur’an setoran baca Al-Qur’an per ‘Ain, maksudnya dimulai dari kode huruf ‘ain di pinggir sampai di ‘ain berikutnya.

Bagi yang belum lancar baca Al-Qur’an masuk kelas ngaji Turutan  atau metode Al-Baghdadiyah, semacam cara belajar membaca mengeja huruf-huruf Al-Qur’an lengkap dengan cara baca, tajwid dan makhrajnya, terdapat Juz Amma juga di dalam Turutan tersebut. Generasi Turutan adalah santri di era 80 dan 90 an. Generasi Turutan adalah generasi santri yang tau cara membaca Al-Qur’an dengan baik, baik segi makhraj maupun tajwidnya. Karena bagi Generasi Turutan  membaca Al-Qur’an bukan seperti membaca koran atupun Novel.

Sambil menunggu adzan isya’ bagi yang sudah selesai mengaji langsung membuka buku-buku pelajaran sekolahnya. Jika ada PR yang tidak paham cara pengerjaannya bisa langsung bertanya ke kakak kelas atau mas-mas di langgar. Setelah shalat isya’ ada ngaji diniyah diperuntukkan bagi yang sudah khatam setoran bacaan 30 juz Al-Qur’an. Dan ngajinya sampai larut malam. Untuk yang tidak ngaji diniyah, biasanya bermain, ada juga yang belajar. Jika lelah langsung tidur, berjajar seperti ikan pindang yang baru selesai digarami.

Tak lupa pasti ada cerita-cerita sebelum tidur. Bagi yang sudah senior pasti punya banyak perbendaharaan cerita, baik humor maupun horor. Jika cerita humor yang sedang disampaikan, pasti gelak tawa selalu menggema. Jika cerita horor yg disampaikan, sarung jadi pelampiasan. Dan mata langsung terpejam. Begitu fajar datang. Shalat shubuh telah ditunaikan kami semua bergegas pulang ke rumah. Inilah  hari-hari kami.

Begitulah masa kecil saya di Blitar, daerah kecil yang tak begitu menghiraukan pembangunan dan modernisasi. Desa adalah kekuatan, inspirasi, pondasi, dan perwatakan.

Masyarakat Desa Kaum Sadar Alas

0

Sadar Alas. Apa yang terbesit dalam fikiran anda ketika mendengar kata itu? Barangkali nampak asing, apalagi dalam pendengaran telinga orang yang hidupnya habis di perkotaan.

Alas, identik dengan makna konotasi dari hutan. Letaknya banyak berada di bawah kawasan pegunungan, dan pasti memiliki banyak potensi alam yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar.

Kali ini, tim jelajah kampung kembali menelusuri eksotiknya kehidupan orang di perkampungan. Ada kampung yang letaknya berada di kawasan lereng gunung Panderman, kampung Padas tepatnya di Dusun Srebet Barat Desa Pesanggrahan Kota Batu.

Kampung ini, memiliki alas yang banyak akan potensi sumber daya alam, masyarakat setempat menyebutnya Alas Kasinan. Kemudian, mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan peternak. Lazim adanya, jika kemudian keberlangsungan profesi mereka tergantung terhadap kelestarian alas yang dimilikinya.

Konon katanya, kabar dari masyarakat sekitar, Alas yang katanya masuk kawasan pengelolaan Pemerintah Perhutani ini sekarang semakin hari semakin nampak tak terawat. Riuh, rusak dan tak tertata. Kondisi itu, ditaksir dapat berdampak kepada sumber mata air yang ada di Alas Kasinan. Sedikit demi sedikit jumlah debit air mulai berkurang jumlahnya, yang pada akhirnya nanti, tak ada lagi kelestarian di dalamnya.

Sementara itu, dari data penduduk yang ada, hampir keseluruhan masyarakat yang tinggal di sekitaran Alas Kasinan, konsumsi air minum dan kebutuhan MCK mereka bertumpu pada sumber mata air dari Alas Kasinan. Begitu juga para petani dan peternak, mereka tak akan bekerja jika tanpa mata air dari Alas Kasinan. Boleh dikata, jika semakin dibiarkan, ancaman kerusakan alam ini nyata adanya bilamana tak ada kesadaran dari pengelola alas tersebut untuk kembali melestarikan dan menjaganya.

Menanggapi hal itu, ternyata memantik reaksi masyarakat sekitar yang hidupnya di kawasan Alas Kasinan, khususnya para kaum muda. Mereka tak ingin tinggal diam melihat Alas Kasinan yang sudah nampak hilang kelestariannya. Apalagi melihat banyaknya penduduk sekitar yang memanfaatkan potensi sumber daya alam yang dimilikinya.

Kemarin malam (31/07/2017), sekumpulan anak muda di Dusun Srebet mengadakan musyawarah, bertempat dirumah salah satu warga Dusun Srebet Barat.

Dalam musyawarah, sekumpulan anak muda ini sepakat utk mendirikan kelompok sebagai simbol kesatuan mereka merawat dan menjaga alas. Mereka memberi nama kelompok itu ‘Kaum Sadar Alas’.

Dicetuskan dalam musyawarah, tujuan mendirikan kelompok ini adalah pertama, mengajak seluruh masyarakat untuk sadar akan pentingnya alas tetap lestari. Kedua, untuk mengorganisir masyarakat agar turut berperanserta merawat dan melestarikan alas yg dimilikinya, dalam hal ini adalah alas kasinan.

Selanjutnya, Kaum Sadar Alas merencanakan akan mengkonservasikan Alas Kasinan menjadi Wisata Alam berbasis masyarakat desa, yang nantinya wisata tersebut akan dikelola sendiri oleh masyarakat desa. Rencana ini diorientasikan selain nantinya alas akan kembali terlestarikan, juga dapat mengembangkan kreasi dan inovasi masyarakat melalui media Wisata Alam Berbasis Masyarakat Desa.

Selanjutnya juga telah disepakati dalam musyawarah, Kaum Sadar Alas nantinya akan menamakan wisata ini “Kampung Wisata Srebet”.

Kemudian, agar rencana tersebut dapat tercapai dengan baik, Kaum Sadar Alas mengagendakan setiap Hari jum’at (ba’da sholat jumat) dan hari Minggu (dimulai jam 09.00 – selesai) untuk mulai kerjabakti babat Alas Kasinan.

Kaum Sadar Alas menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat, baik muda atau tua yg memiliki kepedulian merawat alam agar turut berpartisipasi menyukseskan rencana mulia ini.

Di akhir musyawarah, disampaikan semboyan semangat mereka “Yok, susah di awal bareng-bareng, babat alas bareng-bareng, onok apik e alhamdulillah, mben lek onok ramene pengunjung ben podo ngrasakno enak. Lestari Alame, Sejahtera Masyarakate.”