Jumat, Mei 1, 2026
Beranda blog Halaman 104

Membincang Pendidikan Kita, Antara FDS vs Madrasah Diniyah

0

Sebentar dulu ya, kok tambah melebar dalam menanggapi FDS (Full Day School). Awalnya menolak FDS karena alasan anak akan menghabiskan waktu di luar rumah dan memisahkannya dari meso-sistem (lingkungan luar rumah anak) selain sekolah adalah masyarakat yang awalnya diragukan. Anak yang banyak bergaul di luar sekolah dan juga di luar rumah, sementara tidak ada orang tua yang mengawasi karena menurut orang-orang kota, para orang tua lebih banyak waktunya dihabiskan untuk bekerja sehingga anak-anak tidak terawat dengan baik di rumah. Jadi FDS-lah jawabannya. FDS juga jawaban pendidikan karakter yang disodorkan pemerintah melalu Kemendikbud Muhajjir.

Sekolah akan menggaransi lebih lama anak tinggal di sekolah, itu berarti karakternya justru semakin baik. Harapan itu ya memang ideal bagi semua warga negara ini. Memang sekolah jadi bengkel manusia Indonesia untuk berkembang lebih baik. Semua orang berharap begitu ? Intinya ini tentang membentuk karakter anak ? Lalu jawabannya adalah anak diminta lebih lama di sekolah sehingga mereka terpantau dengan baik ?

Belum jelas pencarian formulasi bagaimana membangun karakter anak tuntas, FDS sebagian sudah diterapkan dan diujicoba di beberapa kota besar, termasuk Malang (informasi viral media sosial yang berkembang), padahal Presiden sudah mengingatkan Menteri untuk menunda keberlakuan FDS dan kebijakan itu bersifat lokalistik, tergantung kesiapan dan kebutuhan suatu wilayah. Masalah menjadi semakin santer ditambah munculkan penolakan FDS dari kalangan organisasi kemasyarakatan yang menaungi Madrasah Diniyah (Madin) karena anak-anak yang sore hari biasanya mengikuti pendidikan keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat, tidak lagi pergi ke Madin.

Debatnya beralih dari FDS vs Madin. Lantas menyeruak klise media sosial. Ini sekularisasi, ini tentang Menteri Muhajir yang Muhammadiyah dan Madin yang kebanyakan dimiliki oleh masyarakat Nahdliyin.

Isu FD tidak lagi substansial tentang apakah sekolah telah menjadi pembentuk karakter yang baik ? Apakah jam sekolah yang ditambah-pun juga menjadi jaminan sekolah adalah garansi karakter anak bangsa sedangkan problematika mendasar bukan tentang berapa lama anak-anak tinggal di sekolah, tetapi bagaimana sebenarnya karakter anak dibentuk ? Lalu tugas orang tua seperti apa yang katanya Kak Seto, pendidik dan guru yang sebenarnya itu ya orang tua ?

Ok.. kalau bingung, kami mengundang Anda untuk hadir menjadi panelis untuk mendiskusikan tentang masalah sebenarnya yang perlu dicari jalan keluarnya bagi pendidikan dan karakter anak bangsa ada di mana ?

Lebih lengkap lihat di poster ya… atau hubungin nara-hubung di kegiatan ini

Yth. Bapak/Ibu/Saudara/i yang berminat Jagongan dengan Para Pakar

Menghadapi isu terakhir terkait pendidikan, terutama tentang Full Day School dan benturan dengan Madrasah Diniyah, sepertinya banyak yang masih melupakan masalah sebenarnya pendidikan itu di mana ? Alih-alih sudah menemukan solusi atas berbagai kronik pendidikan hari ini, benturan FDS dan Madin nampaknya akan semakin menambah runyam ke mana arah sebenarnya pendidikan kita itu dibenahi.

Oleh karena itu, kami mewakili dari IKAPMII Kota Malang, Pesantren Rakyat, Gusdurian Malang dan http://kampusdesa.or.id mengajak Bapak/Ibu untuk berkenan menghadiri jagongan para pakar dengan tema Membincang Masalah Pendidikan Kita, Antara FDS versus Madin pada ;

Hari | Senin, 21 Agustus 2017 | Pukul 18.30 | Tempat di Jagong Maton Caffe Jl. Joyo Suko IV, Merjosari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang.

Pemantik diskusi akan diisi pembicara ;
Ilhammudin Nukman | Ilmuan Psikologi Industri/Organisasi UB Malang
Nuruddin (Gus Din) | Kritisi Pendidikan dari Aliansi Petani Indonesia
Abdullah Syam | Praktisi Pendidikan Pesantren Rakyat
Mohammad Mahpur | Pemerhati Pendidikan dari kampusdesa.or.id

Dihadiri oleh Para Panelis ;
1) Angga Teguh Prasetyo, M. Pd | PC LTNU/Dosen FITK
2) Evi Widiya Sukmawati, SE | Kepala PlayGroup OBAMA Malang
3) W Sanavero | Kelompok Liberasi “Musik-Literasi
4) Zidni Chaniago | Kelompok Liberasi “Musik-Literasi”
5) Dedy Kusbiyanto | Dosen Polinema
6) Ahmad Makki Hasan | Lakpesdam NU Kab. Malang, Dosen UIN Malang

Atas berkenannya untuk hadir, kami mengucapkan terima kasih

An. Panitia
Hasan Abdillah

Bagi yang tidak bisa hadir, akan ada livestreaming di media sosial seperti FB @mohammad mahpur

Korban Janji Kawin dan Integritas Tubuh Perempuan dalam Hukum

0

KampusDesa, Malang – Sore tadi (14/08/2017) warung kopi berbasis literasi ‘Oase’ mendadak ramai ngomongkan soal perempuan. Persoalan perlindungan hukum terhadap integritas perempuan menjadi pokok utama pembahasan di dalamnya. Pembahasan kali ini juga bertepatan dengan launching buku ‘Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Korban Janji Kawin’ karangan Dr. Lusiana Margareth, S.H,. M.H.

Menjadi pembahasan awal tentang eksistensi perempuan yang masih sering dipandang sebelah mata, terutama dalam sudut pandang mata ‘lelaki’. Banyak lelaki yang masih meletakkan kedudukan perempuan satu step dibawahnya. Sehingga tak jarang banyak orang mencoba memanfaatkan perempuan dalam situasi ini.

Seperti yang disampaikan Diana Manzila tentang banyaknya kasus pemberian ‘janji manis’ dari lelaki terhadap perempuan.

“Masih banyak orang memandang tubuh perempuan hanya sebagai pemanis belaka, sehingga konotasi negatife terhadap perempuan sangat melekat. Lelaki tak jarang sampai menjanjikan sesuatu, termasuk janji kawin,” ungkap Zila yang juga berperan sebagai moderator di kesempatan waktu itu.

Di lain sisi, memang tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan perempuan dari perlindungam hukum saat ini masih lemah. Banyaknya kasus yang menimpa kaum perempuan namun tak kunjung selesai penyelesaian hukumnya.

Pembanding : Mohammad Mahpur (Pakar Psikologi Sosial) | Lusiana Margaretha (Penulis Buku : Ahli Hukum)

Hal demikian dijelaskan Dr. Lusiana Margareth, “dari pengamatan saya, terkait kasus yang menimpa kaum perempuan dari pengentasan hukum tak ada yang selesai. Kondisi ini tentu semakin melemahkan keberadaan perempuan. Tak ada hukum kuat yang melindungi harkat dan martabat perempuan, termasuk integritas tubuh perempuan menjadi pertaruhannya,” tutur Lusiana sapaan akrabnya.

Seperti korban janji kawin, mengapa banyak terjadi? ini tentu harus menjadi koreksi bersama. Setiap perempuan pasti punya yang namanya konsep diri, kedaulatan diri. Hanya saja karena masih banyak yang menganggap (tubuh) perempuan hanya sebagai pemanis saja, sehingga kejadian korban janji kawin banyak terjadi.

Hal itu ditambahkan Lusiana, “bagi perempuan, pemberian janji kawin tentu sangat membius otak dan fikiran, apalagi jika dalam hatinya sudah merasakan kenyamanan terhadap sang lelaki. Hal ini tak boleh dibiarkan, adanya Komnas HAM juga belum dapat memberi rasa aman seutuhnya terhadap perempuan, harus ada kebijakan khusus yang mengatur tentang Hak Asasi Perempuan,” imbuh Perempuan Dosen Hukum Universitas Negeri Gorontalo ini.

Menanggapi hal itu, pakar psikologi Dr. Mohammad Mahpur, M.Si mencoba menyuarakan pendapatnya, bahwa keamanan terhadap perempuan memang terbilang minim. Pasalnya, tidak sedikit ditemukan kasus kekerasan yang menimpa perempuan, baik kekerasan batin maupun fisik, hal itu tentu tidak baik bagi integritas perempuan.

“Memang standar keamanan belum dapat menjamin kepada setiap orang, terkhusus pada perempuan. Sehingga menimbulkan stigma negatife tentang rendahnya integritas tubuh perempuan,” ungkap Mahpur.

Jika melihat kasus-kasus yang sudah pernah ada, aspek psikologis tentu menjadi ancaman nyata bagi yang pernah tertimpa kekerasan. Bahkan hal itu menjadi dampak yang paling berat dirasakan kaum perempuan.

Seperti yang ditambahkan Mahpur, Kasus-kasus kekerasan yang menimpa perempuan secara fisik mungkin tak begitu nampak, namun secara batin tentu menjadi pukulan keras terhadap psikisnya.

“Banyaknya macam dampak kekerasan, yang paling sulit disembuhkan itu dari aspek psikologisnya, susahnya minta ampun,” tambah Dosen Psikologi Sosial UIN Maliki Malang ini.

Sementara itu, di akhir sesi Lusiana menyampaikan keinginannya terhadap perempuan agar tidak dengan mudah memberikan kekayaan dirinya kepada bujuk rayu lelaki. Karangan bukunya yang sudah dilaunching menjadi wujud keseriusanya sebagai jawaban atas keprihatinannya selama ini.

“Perempuan harus teguh memegang konsep dirinya, tak mudah lentur dengan bujuk rayu orang lain. Melalui buku saya ini, saya mengajak kaum perempuan untuk mewujudkan hal itu semua,” pungkas perempuan asal Manado ini.

Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Kurban Janji Kawin

0

Ketika perempuan hamil di luar nikah, perlindungan saat hamil, apalagi setelah melahirkan, sepertinya tidak ada yang lebih penting daripada perempuan menanggung begitu banyak beban mental dan psiko-sosial ? Saat mereka menggugurkan bayi, resiko selalu ada di perempuan, bahkan kematian.

Selain itu, psikis perempuan juga rentan mengalamai degradasi eksistensi saat dirinya dikonstruksi sebagai the second sex, melayani, sudah konsekuensi perempuan mengandung dan melahirkan serta memelihara anak, sementara laki-laki bebas membebaskan diri dari semua itu, terutama saat mereka belum memiliki ikatan pernikahan.

Nah, bagaimana secara hukum dan psikologis, perempuan tersebut dibela ? Mari hadir di launching buku sebagaimana pada poster yang sudah terpasang di atas.

Seri Bisnis 2 : Langkah Jitu Merencanakan Bebas dari Hutang Piutang

0

Ada beberapa pertanyaan di grup, yaitu bagaimana mengatasi hutang. Yang menjadi masalah pada hutang piutang adalah perasaan dari pihak kreditur (pemberi hutang) yang takut tidak mendapat keadilan. Bisa saja itu berupa kurangnya niat baik untuk membayar atau cara membayarnya yang dianggap kurang adil. Pihak yang sana dibayar karena takut, yang sini tidak. Itulah yang menyebabkan mereka menyewa penagih dan sebagainya.

Pihak yang berhutang juga sering membuat kesalahan gali lubang tutup lubang, ingin lari dari kenyataan dan berharap bersama waktu masalah akan hilang. Yang terjadi hanya penundaan saja, sedang masalahnya semakin besar.

Cara mengatasi hal ini adalah diawali dengan bersikap jujur dan mengakui pada diri sendiri ada kesalahan dalam pengelolaan keuangan. Jika sudah punya anak yang dewasa, ajak juga bicara. Setelah itu buat rincian hutang kepada siapa saja, dan jumlahnya berapa ? Misal hutangnya 200 juta, ke A 60 juta, B 40 juta, C 800 juta, D 10 juta, E 10 juta. Berarti A 30%, B 20%, C 40%, D dan E masing masing 5%. Harta yang masih dimiliki apa saja, nilai perkiraan berapa. Kemudian bawa data itu ke para kreditur. Katakan kepada mereka hutang anda secara jujur berapa dan harta Anda berapa. Mana yang berupa beban yang perlu dijual (rumah, mobil, tanah kosong dsb) dan mana yang bersifat produktif untuk menunjang bisnis Anda yang perlu dipertahankan untuk bisa menghasilkan uang lebih banyak.

Kemudian katakan bahwa Anda akan membayar mereka dari hasil penjualan secara adil sesuai komposisi hutang Anda. Selanjutnya Anda berjanji akan bekerja keras mendapatkan uang, dan setiap uang kelebihan dari KEBUTUHAN DASAR, akan Anda serahkan ke mereka untuk cicilan. Jika hari itu dapat 100 ribu, langsung berikan ke A 30 ribu, B 20 ribu dan seterusnya. Setiap hari lakukan tanpa menunda pembayaran.

Sementara itu, kita harus benar benar hidup di dasar. Sekolah favorit hilang, kendaraan hilang, perhiasan hilang, makan ke warung hilang. Belanja di supermarket ataupun main kemana juga dihilangkan

Jika itu Anda lakukan, insyaallah tidak ada lagi yang merecoki dan membuat kita tenang serta rejeki kembali datang. Jika kita terus memikirkan hutang, maka hutanglah yang akan datang ke kita. Jadi lakukan pembayaran otomatis utk hutangnya, dan kita memikirkan kemakmuran saja. Jangan pikirkan yang lain.

Alhamdulillah, Saya Terlahir di Desa

0

Di sekitar tahun 90-an, ketika sekolah masih mengandalkan papan tulis hitam, dan kapur gamping sebagai alat tulis penunjang belajar di kelas, kala itu juga setiap satu minggu sekali ada jadwal setoran hafalan Matematika “Pipo Londo” (Ping, Poro, Lan, Sudo) yang berarti perkalian, pembagian, penambahan, Pengurangan.

Juga setiap senin pagi guna mengawali kegiatan pembelajaran di sekolah ada apel pagi upacara bendera dengan membaca Pembukaan UUD ’45 dan Pancasila secara berjamaah. Meskipun tidak sedikit yang pingsan karena tak tahan berlama-lama berdiri di bawah terik matahari, apalagi jika belum sarapan pula. Para korban berjatuhan seperti pohon pisang yang rubuh oleh hempasan benda berat atau tiupan angin yang mobat-mabit.

Di dalam proses pembelajaran-pengajaran yang serba manual itu, guru menulis di papan tulis, murid mencatat di buku tulis secara balap, cepat. Seperti berpacu dalam perlombaan. Terkadang guru memberi motivasi menulis cepat dengan berkata begini: “Nak, jika kalian bercita-cita tinggi ingin kuliah, percepat cara menulis kalian. Karena nanti saat kuliah harus pintar mencatat dan menulis”. Saya masih ingat pesan tersebut. Karena papan tulis terbatas dan guru harus segera menyelesaikan halaman buku yang lain. Setelah selesai menuliskan dan menjelaskan semua materi, guru memberi waktu kepada murid untuk membacanya.

Lima belas menit sebelum lonceng besi dibunyikan sebagai penanda waktu istirahat/pulang guru memberi “kuis pelajaran”. Saya tidak tahu apakah sejak dulu kala sudah ada istilah kuis di sekolah, atau hanya ikut-ikutan TV, karena setiap hari yang paling digemari untuk ditonton adalah sinetron Tersanjung yang entah sampai berapa episode karena bertahun-tahun, dan Kuis Famili 100 yang dipandu oleh Sony Tulung. Saat guru memberi kuis jika ada yang bisa menjawab akan diberi apresiasi oleh guru, yang paling sering apresiasinya berbentuk pembolehan pulang paling awal atau istirahat lebih dulu,  jika salah menjawab maka penghapus papan tulis yangg ngethel, penuh dengan debu kapur itu diusapkan oleh sang guru kepada muridnya. Alangkah nelangsanya murid tersebut. Setiap istirahat atau pulang sekolah pipinya selalu putih seperti menor bersolek bedak.

Jam istirahat atau jam pulang sekolah selalu terlewati dengan canda tawa teman sebaya. Saat jam tidur siang seringkali saya dan teman-teman pergi ngeluyur di siang bolong, bermain sesuai musim. Jika musim angin yang stabil berarti kami bermain layang-layang. Jika air sungai mengalir deras jadwal mandi di sungai menjadi pilihan. Jika musim jagung atau menjelang tanam kami berburu jangkrik. Pun dengan benda-benda mati kami juga memanfaatkan untuk dijadikan permainan, mulai bungkus rokok yang ditumpuk dan dilempari dengan batu kali yang disebut Ciwuk atau Benthek Ganco, kelereng yang digiring ke lobang di tanah memakai jari disebut Gendhiran, karet gelang yang ditembakkan ke kayu di tanah disebut Jepretan, kayu berjodoh atau sering disebut Enthik, batang bambu yang dijadikan Egrang. Gobak sodor, Jumpritan petak umpet, Sentrengan, dll. Sangat kreatif dan kaya imajinasi.

Kemanakah kalian yang dulu sepertemanan denganku? Dua diantara sekian teman karib sekaligus tetanggaku sudah mendahului pergi menghadap yang maha kuasa. Semoga Allah merahmati mereka. Bukan hanya saat bermain saja kami bersama-sama, tapi saat hari raya Idul Fitri pun kami keliling bersama, biasanya disebut “Ba’dan” Anjangsana Lebaran, baik bersepeda maupun berjalan kaki, sowan ke tetangga, guru-guru, kiai-kiai, dan sesepuh desa.  Uang angpau lebaran kita kumpulkan untuk beli majalah/buku.

Sekarang mungkin anak seumuran 6-7 tahun sudah sangat asing mendengar nama-nama permainan di atas. Lebih akrab dengan permainan elektronik, dunia maya, medsos, game online dll. Apalagi anak di perkotaan, jangankan anjangsana lebaran, bermain bersama dengan teman sebaya pun sulit ditemui. Dulu “Majalah Bobo” adalah bacaan tren kami di tahun 90 an. Atau buku “Siksa Neraka”, hehehe… Terbitan CV. Pustaka Agung Harapan Surabaya. Sekarang apa yang dibaca oleh  anak-anak?

Saya masih ingat bahwa setiap sore kami berbondong-bondong pergi ke “Sekolah Sore”, kalau sekarang TPQ. Kami belajar membaca Al-Qur’an melaui Iqra’ dan kemudian buku “Jilid”, ya kami familiar dengan nama buku jilid yang di sampulnya tertulis “Cara Belajar Santri Aktif, CBSA”. Jika ada seorang santri yang lumayan pintar dan lancar baca tulis hijaiyahnya bisa langsung naik kelas tanpa menunggu pergantian tahun. Untuk mengkhatamkan seluruh jilid itu harus dilalui sampai 6 tahapan atau sekitar 5-6 tahun. Jika jilid 6 sudah khatam maka naik menuju kelas 1 diniyah, yang diajarkan di kelas diniyah adalah kitab-kitab akhlak, aqidah dan mufrodat ; Ala laa, Aqidatul Awwam, Ngudi Susilo, Akhlak lil Banin_Banat, Fasholatan, Ra’sun Sirah, dll.

Hal yang paling berkesan saat “Sekolah Sore” adalah ketika berangkat dan pulangnya, karena kami pasti balapan sepeda. Sampai di rumah pasti bercucuran keringat. Sepeda BMX adalah yang paling digemari oleh para bocah rider. Kalau untuk anak yang kurang gaul biasanya pakai sepeda Federal, yang lumayan ngetren di kalangan cewek-cewek adalah sepeda Mini, mereknya Phoenix tapi lebih familiar disebut Mini.

Saat matahari menuju peraduan, bersiap tenggelam bersama hilangnya cerah awan, para bocah bersiap berangkat menuju langgar. Entah magnet  apa yang membuat kami sangat erat dan lekat dengan langgar. Karena hampir semua anak sebaya kami waktu itu, baik yang rajin sekolah maupun nakal gak ketulungan, kami semua sangat semangat jika mau ke langgar. Setelah shalat maghrib kami sorogan; Yang sudah bisa baca Al-Qur’an setoran baca Al-Qur’an per ‘Ain, maksudnya dimulai dari kode huruf ‘ain di pinggir sampai di ‘ain berikutnya.

Bagi yang belum lancar baca Al-Qur’an masuk kelas ngaji Turutan  atau metode Al-Baghdadiyah, semacam cara belajar membaca mengeja huruf-huruf Al-Qur’an lengkap dengan cara baca, tajwid dan makhrajnya, terdapat Juz Amma juga di dalam Turutan tersebut. Generasi Turutan adalah santri di era 80 dan 90 an. Generasi Turutan adalah generasi santri yang tau cara membaca Al-Qur’an dengan baik, baik segi makhraj maupun tajwidnya. Karena bagi Generasi Turutan  membaca Al-Qur’an bukan seperti membaca koran atupun Novel.

Sambil menunggu adzan isya’ bagi yang sudah selesai mengaji langsung membuka buku-buku pelajaran sekolahnya. Jika ada PR yang tidak paham cara pengerjaannya bisa langsung bertanya ke kakak kelas atau mas-mas di langgar. Setelah shalat isya’ ada ngaji diniyah diperuntukkan bagi yang sudah khatam setoran bacaan 30 juz Al-Qur’an. Dan ngajinya sampai larut malam. Untuk yang tidak ngaji diniyah, biasanya bermain, ada juga yang belajar. Jika lelah langsung tidur, berjajar seperti ikan pindang yang baru selesai digarami.

Tak lupa pasti ada cerita-cerita sebelum tidur. Bagi yang sudah senior pasti punya banyak perbendaharaan cerita, baik humor maupun horor. Jika cerita humor yang sedang disampaikan, pasti gelak tawa selalu menggema. Jika cerita horor yg disampaikan, sarung jadi pelampiasan. Dan mata langsung terpejam. Begitu fajar datang. Shalat shubuh telah ditunaikan kami semua bergegas pulang ke rumah. Inilah  hari-hari kami.

Begitulah masa kecil saya di Blitar, daerah kecil yang tak begitu menghiraukan pembangunan dan modernisasi. Desa adalah kekuatan, inspirasi, pondasi, dan perwatakan.

Masyarakat Desa Kaum Sadar Alas

0

Sadar Alas. Apa yang terbesit dalam fikiran anda ketika mendengar kata itu? Barangkali nampak asing, apalagi dalam pendengaran telinga orang yang hidupnya habis di perkotaan.

Alas, identik dengan makna konotasi dari hutan. Letaknya banyak berada di bawah kawasan pegunungan, dan pasti memiliki banyak potensi alam yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar.

Kali ini, tim jelajah kampung kembali menelusuri eksotiknya kehidupan orang di perkampungan. Ada kampung yang letaknya berada di kawasan lereng gunung Panderman, kampung Padas tepatnya di Dusun Srebet Barat Desa Pesanggrahan Kota Batu.

Kampung ini, memiliki alas yang banyak akan potensi sumber daya alam, masyarakat setempat menyebutnya Alas Kasinan. Kemudian, mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan peternak. Lazim adanya, jika kemudian keberlangsungan profesi mereka tergantung terhadap kelestarian alas yang dimilikinya.

Konon katanya, kabar dari masyarakat sekitar, Alas yang katanya masuk kawasan pengelolaan Pemerintah Perhutani ini sekarang semakin hari semakin nampak tak terawat. Riuh, rusak dan tak tertata. Kondisi itu, ditaksir dapat berdampak kepada sumber mata air yang ada di Alas Kasinan. Sedikit demi sedikit jumlah debit air mulai berkurang jumlahnya, yang pada akhirnya nanti, tak ada lagi kelestarian di dalamnya.

Sementara itu, dari data penduduk yang ada, hampir keseluruhan masyarakat yang tinggal di sekitaran Alas Kasinan, konsumsi air minum dan kebutuhan MCK mereka bertumpu pada sumber mata air dari Alas Kasinan. Begitu juga para petani dan peternak, mereka tak akan bekerja jika tanpa mata air dari Alas Kasinan. Boleh dikata, jika semakin dibiarkan, ancaman kerusakan alam ini nyata adanya bilamana tak ada kesadaran dari pengelola alas tersebut untuk kembali melestarikan dan menjaganya.

Menanggapi hal itu, ternyata memantik reaksi masyarakat sekitar yang hidupnya di kawasan Alas Kasinan, khususnya para kaum muda. Mereka tak ingin tinggal diam melihat Alas Kasinan yang sudah nampak hilang kelestariannya. Apalagi melihat banyaknya penduduk sekitar yang memanfaatkan potensi sumber daya alam yang dimilikinya.

Kemarin malam (31/07/2017), sekumpulan anak muda di Dusun Srebet mengadakan musyawarah, bertempat dirumah salah satu warga Dusun Srebet Barat.

Dalam musyawarah, sekumpulan anak muda ini sepakat utk mendirikan kelompok sebagai simbol kesatuan mereka merawat dan menjaga alas. Mereka memberi nama kelompok itu ‘Kaum Sadar Alas’.

Dicetuskan dalam musyawarah, tujuan mendirikan kelompok ini adalah pertama, mengajak seluruh masyarakat untuk sadar akan pentingnya alas tetap lestari. Kedua, untuk mengorganisir masyarakat agar turut berperanserta merawat dan melestarikan alas yg dimilikinya, dalam hal ini adalah alas kasinan.

Selanjutnya, Kaum Sadar Alas merencanakan akan mengkonservasikan Alas Kasinan menjadi Wisata Alam berbasis masyarakat desa, yang nantinya wisata tersebut akan dikelola sendiri oleh masyarakat desa. Rencana ini diorientasikan selain nantinya alas akan kembali terlestarikan, juga dapat mengembangkan kreasi dan inovasi masyarakat melalui media Wisata Alam Berbasis Masyarakat Desa.

Selanjutnya juga telah disepakati dalam musyawarah, Kaum Sadar Alas nantinya akan menamakan wisata ini “Kampung Wisata Srebet”.

Kemudian, agar rencana tersebut dapat tercapai dengan baik, Kaum Sadar Alas mengagendakan setiap Hari jum’at (ba’da sholat jumat) dan hari Minggu (dimulai jam 09.00 – selesai) untuk mulai kerjabakti babat Alas Kasinan.

Kaum Sadar Alas menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat, baik muda atau tua yg memiliki kepedulian merawat alam agar turut berpartisipasi menyukseskan rencana mulia ini.

Di akhir musyawarah, disampaikan semboyan semangat mereka “Yok, susah di awal bareng-bareng, babat alas bareng-bareng, onok apik e alhamdulillah, mben lek onok ramene pengunjung ben podo ngrasakno enak. Lestari Alame, Sejahtera Masyarakate.”

Satu-Satunya di Jawa Timur: Dari Sarasehan Tani Sampai Festival Goreng Kopi

0

KampusDesa News_“Semangat kopi pagi” itulah kalimat yang pas untuk menggambarkan keriuhan sarasehan tani di hari ketiga (30/7). Pagi ini, sebanyak 30 ibu Desa Jatiarjo berkumpul di arena Sarasehan dengan membawa tungku, bara api, dan biji kopi. Mereka menggoreng, dan menumbuk kopi secara tradisional. Merekapun menamai kegiatan pagi ini dengan ‘Festival Nggoreng Kopi ala Jatiarjo’.

Festival ini menjadi ajang satu-satunya di Jawa Timur. Inilah yang menjadi semangat para warga dan peserta begitu antusias.

Warniti (30) penggoreng kopi asal Dusun Tonggowa mengatakan dirinya sangat bersemangat sekali dengan penggorengan kopi.

“Perasaan saya hari ini senang sekali. Karena ramai, jarang-jarang kedatangan orang banyak seperti ini. Kita juga bisa kasih pengetahuan tentang mengolah kopi secara manual,” Ujar warniti.

Ia menuturkan bahwa menggoreng kopi merupakan kegiatan kesehariannya. Paling tidak dua kali dalam seminggu untuk dikonsumsi secara pribadi.

Ibu berusia 30 tahun ini juga menuturkan bahwa kopi Jatiarjo adalah kopi dengan kualitas baik tanpa baham pengawet.

Sementara itu, Ida Bagus (61), peserta asal Purwosari, Kab. Pasuruan mengatakan bersemangat dan senang sekali mengikuti acara festival ini.

“Ini menambah pengalaman, nambah pengetahuan, karena ini budaya nenek moyang. Juga bisa nambah teman,” tutur Ida.

Ia berharap festival seperti ini juga diselenggarakan di desanya. Karena di desanya juga merupakan penghasil kopi.

Sementara itu, Wartini selaku warga desa dan penggoreng kopi mengharapkan agar setelah festival ini ibu-ibu dan para orang tua punya pekerjaan, yakni memproduksi kopi untuk dijual. Dengan pekerjaan tersebut setidaknya dapat bisa menambah ekonomi warga. (HA)

Madekhan: Tiga Kunci Pengelolaan Anggaran Desa

0

KampusDesa News_Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik telah sembilan tahun lalu diberlakukan. Namun, praktiknya tidak semua institusi publik mengindahkan produk hukum tersebut. Utamanya dari sektor pemerintahan yang tidak semua memberikan akses informasi umum kepada publik. Lebih spesifiknya, Kementerian Desa, Pemberdayaan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengintruksikan pada Pemerintah Desa (Pemdes) untuk membuka informasi publiknya terutama Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa pada masyarakat setempat. Sayangnya tidak sedikit Pemdes yang menghiraukan hal itu.

Menanggapi wacana tersebut, Sarasehan Tani mangadakan forum khusus Kelas Inovasi Tani membahas tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Keuangan Desa. Hadir sebagai narasumber pada kelas tersebut yaitu: Dr. Madekhan., M. Si sebagai praktisi anggaran dari Prakarsa Jawa Timur, Mujtabah Hamdi pegiat transparansi anggaran dari Media Link dan Hanik Dwi M sebagai Kepala Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Bagi Madekhan, agar desa terbebas dari persoalan  anggaran, setidaknya ada tiga disiplin aggaran yang harus dipatuhi, yaitu; transparansi, partisipasi dan akuntabilitas.  Prinsip transparansi sangat penting  dilaksanakan agar pengelolaan keuangan lebih terbuka  dan menghindari sikap suudzan masyarakat, sementara partisipasi dibutuhkan agar warga desa merasa dilibatkan dalam perencanaan pembangunan hingga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap desanya.

“Selain dua hal itu, akuntabilitas merupakan aspek yang tidak kalah penting, karena disini kita akan melihat sejauh mana profesionalisme Pemdes itu,” ungkap lelaki yang murah senyum itu.

Sementara Mujtabah Hamdi berpendapat bahwa sebenarnya tidak hanya tiga lembaga trias politika saja yang hatus mempertanggungjawabkan transparasi anggarannya, tapi juga lembaga lain yang mendapat anggaran dari pemerintah wajib untuk melaporkan pada publik. Terkait APBDesa yang tersandra oleh supra desa, ia menyatakan bahwa hal tersebut bisa dituntut ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Bagi Pemdes yang anggarannya ditangguhkan oleh kota atau kebupaten, maka bisa menuntut ke MK,  tapi masalahnya  Pemdesnya paham tidak regulasinya.” Ungkap pria berambut gondrong itu.

Sementara itu, Hanik yang merupakan kepala desa Tunjungtirto Singosari, lebih banyak menceritakan reformasi birokrasi dan capaian desa yang dipimpinnya. Ia menuturkan, untuk menciptakan reformasi birokrasi yang menyeluruh, Hanik sempat meliburkan perangkat desanya selama satu bulan bagi perangkat desa yang gagap teknologi. Selain itu, kendati strata pendidikan warganya secara umum kurang mapan, namun  para intelektual dan praktisi penduduk setempat berpartisipasi aktif dalam membangun tata pemerintahan desa itu.

“Di desa saya, tidak sedikit warga yang berprofesi sebagai dosen, politisi dan praktisi yang menjadi ketua Rukun Warga (RW), Jadi jika saya melakukan kebijakan yang tidak sesuai prosedur, banyak yang akan mengkoreksi.” Pungkas Kepala Desa Tunjungtirto perempuan  pertama tersebut. (HA)