Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 105

Kelas Kopi Inovatif: Temukan Teman dan Pengetahuan Baru

0

KampusDesa News_Sarasehan Tani telah masuk pada hari kedua (29/7). Lebih dari 530 peserta telah mengikuti kegiatan kelas inovasi yang diselenggarakan pada hari ini. Sebagian besar dari mereka memberikan kesan baik pada kegiatan hari ini.

Dinda Karina Putri (20) salah satunya, gadis asal Desa Kalipucang Kab. Pasuruan ini menyatakan sangat senang dengan kegiatan hari kedua ini. Pasalnya dia mendapatkan banyak pengetahuan dan teman-teman baru, khususnya di bidang pertanian.

“Di acara ini saya mendapatkan banyak hal, seperti pengetahuan dan teman baru. Pengetahuan baru misalnya saya tau tentang cara olah kopi yang inovatif. Untuk teman, saya banyak kenal teman dari berbagai daerah yang bisa saling tukar informasi.” Ujar Mahasiswi Universitas Yudharta ini.

Tobib Ainun Najib (25) juga merasakan hal yang sama. Aktivis asal Malang ini menyatakan dia banyak mendapatkan pengetahuan baru, khususnya pada saat kegiatan kelas inovasi tentang pengembangan aset desa berbasis potensi.

“Di kelas pengembangan aset, saya dapat banyak hal mas. Seperti sudut pandang baru mengenai pengembangan aset desa yang berbasis pada potensi. Dulu, saya pikir potensi itu hanya nampak fisik seperti infrastruktur desa. Tapi setelah ikut materi saya menjadi tahu ternyata kebudayaan itu juga potensi, juga banyak yang lain.” Jelas Tobib.

Dinda dan Tobib juga memberikan apresiasi terhadap kinerja panitia dan sambutan masyakat. Bagi keduanya, panitia terlihat sangat profesional dan sambutan masyarakatnya sangat ramah.

Namun demikian, mereka juga memberikan kritik sebagai evaluasi terhadap acara Sarasehan. Tobib lebih menitikberatkan kritiknya pada  pengetahuan baru pada materi di salah satu kelas yang dirasa kurang. Ia juga menyatakan sesi tanya jawab juga kiranya perlu untuk ditambah.

Sedangkan Dinda menginginkan agar agenda yang bersifat fun lebih diperbanyak lagi. (HA)

Kembalikan Tujuan Belajar Pada Anak, Ciptakan Anak Berkarakter

0

Hari ini dunia pendidikan dasar dan menengah digemparkan oleh kebijakan tentang full day school.   Bersanding dengan itu, full day school didasari alasan untuk membangun pendidikan karakter anak.   Pertanyaannya adalah apakah pendidikan berkarakter itu lebih menekankan waktu lamanya anak tinggal di sekolah atau proses belajarnya ? Inilah yang mengherankan. Bahkan, jika ditinjau ulang, pendidikan yang terselenggara di negeri ini, boleh jadi masih banyak mengalami distorsi filosofis/paradigmatik dan terjebak dalam pragmatisme kepentingan di luar kepentingan anak-anak yang sedang belajar.

Saya pernah diceritai oleh saudara ipar tentang munculnya kesilangsengkarutan penentuan batasan Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KKM) dari sebuah sekolah.  Demi mencapai KKM tersebut, ada kegiatan terkordinir dan itu berarti dengan sengaja, para guru mengatur nilai hasil ujian agar mampu disetarakan dengan KKM sekolah. Usut punya usut, penyelarasan KKM dan nilai ujian akhir dari anak-anak yang belajar sangat menentukan prestise sekolah. Lebih dahsyat lagi, kegiatan semacam mark-up nilai juga didasarkan pada kepentingan mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah. Peristiwa ini tidak akan saya gebyak uyah (dipukul rata pada semua sekolahan).  Akan tetapi cerita ini ada di lingkungan sekolah negeri dan guru-guru yang bersertifikasi.

Proses belajar siswa telah direbut dari tujuan siswa menjadi tujuan sekolah dan kepentingan guru. Melihat kenyataan tersebut, peningkatan gaji guru tidak serta merta meningkatkan kesadaran terhadap tugas guru. Oleh karena itu, realitas yang ada mengharuskan pendidikan karakter tidak sebatas pada lamanya anak-anak  ada di sekolah tetapi bagaimana proses belajar dan melayani manusia yang sangat beragam ditempatkan dalam kerangka kebutuhan siswa. Selain itu, filosofi pendidikan yang bergeser ke arena kompetisi  menuju keunggulan potensial yang didasari oleh kompetensi, bukan kompetisi yang banyak  mengambil jalur-lajur instans dan borjuasi. Ada cerita juga  di sebuah sekolah ternama, proses penguasaan belajar sering dilimpah ke siswa sehingga mereka lebih banyak meluangkan waktu dengan guru kursusnya daripada guru mata pelajaran di sekolah.

Pendidikan berkarakter salah-satunya adalah berpijak dari bagaimana merumuskan tujuan belajar dari obsesi, tujuan dan cita-cita hidup siswa. Cara perumusan ini sejalan dengan kemanusiaan anak. Inilah menurut saya bisa menjadi salah satu  bagian dari pendidikan berkarakter. Sebuah pendidikan yang tujuan belajarnya kembali ke siswa bukan dirumuskan oleh guru sehingga siswa tinggal mengikuti tujuan guru yang dirumuskan sebelum belajar.

Anak dengan begitu diarahkan menjadi pribadi otonom dan terbimbing untuk mengelola tujuan dirinya dengan tujuan belajarnya. Dengan demikian kelas adalah tempat menempa diri. Guru ditempatkan sebagai fasilitator yang mendampingi anak-anak mencapai obsesi, tujuan dan cita-cita hidupnya. Guru dapat mengedit tujuan siswa ketika tidak sejalan dengan visi dan nilai ideal hidup.

Dengan begitu, sudah saatnya anak dilatih untuk mengungkapkan tujuan dan cita-cita hidupnya lalu kompilasi tujuan tersebut dapat dirangkai kedalam tujuan-tujuan belajar. Bukankah cita-cita anak itu begitu futuristik dan menarik ketika anak-anak masih kecil. Kita selaku orang tua selalu bangga ketika cita-cita itu dituturkan anak-anak ketika kita menanyainya. Bahkan, kadang di kelas-kelas, anak-anak selalu ditanya tentang apa masa depan yang diinginkan. Guratan kisah dan imajinasi masa depan tentang cita-cita dan tujuan hidup tersebut dapat dijadikan sebagai reorientasi tujuan belajar. Bahan-bahan tersebut dapat dikompilasi guru kedalam tujuan-tujuan belajar di kelas. Guru bertugas mendialogkan antara tema-tema belajar dengan tujuan hidup anak-anak.

Saya sendiri punya pengalaman, bahwa tujuan tersebut dapat diintegrasikan dengan sebuah mata kuliah tertentu sehingga sekumpulan mahasiswa yang memiliki tujuan yang kira-kira sejenis dapat dikumpulkan menjadi kelompok. Mereka kemudian melakukan perencanaan belajar dari mata kuliah tertentu tetapi tema-tema matakuliah yang diambil sejalan dengan tujuan mereka. Misalnya, mereka sekelompok memiliki tujuan ingin menjadi pengusaha setelah lulus. Nah, mata kuliah yang saya ampu (waktu itu psikologi sosial) mereka kembangkan untuk tujuan-tujuan yang selaras dengan latihan wirausaha.

Mereka kemudian membuat produk-produk sangat kreatif. Dorongan internal sebagai semangat belajar bangkit dari dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak hanya mengejar nilai buta, tetapi mereka mengejar apa yang mereka inginkan. Jadi, jika diakhir belajar mereka dapat nilai baik, sejatinya mereka juga telah berproses menjadi pewirausaha yang baik karena mereka mengejar tujuan internal dirinya bukan mengejar nilai yang diberikan guru atau dosen. Nilai hasil akhir dengan demikian adalah nilai yang selaras dengan tujuan hidup anak. Dengan demikian pengetahuan anak pun akan dapat dijadikan sebagai bekal mengelola kehidupannya.

Mengembalikan tujuan belajar pada anak adalah bagian dari proses pendidikan karakter. Ia tentu tidak didikte oleh kepentingan KKM tetapi dikembalikan pada kepentingan pembelajar. Tugas guru adalah mengompilasi keragaman tujuan anak-anak dalam menata masa depannya.

Anak-anak yang lahir dari miniatur pendidikan seperti ini, dia akan semakin tahu manfaat pengetahuan yang dibelajarinya terhadap hidupnya. Mereka menjadi anak-anak yang mampu mengolah dirinya menggunakan pengetahuan yang langsung dia dapatkan di kelas. Selain itu, anak-anak akan terlatih sebagai pribadi otonom dengan pengetahuannya. Mereka akan mereproduksi hidupnya menjadi lebih baik dan guru bisa membimbing langsung. Pengetahuan dengan begitu selalu sejalan dan kontekstual dengan pengalaman hidup anak.

Anak-anak tak hanya sebagai subyek diberi, pasif dalam hidupnya, tetapi sebagai subyek aktif yang membentuk hidupnya. Mereka akan kreatif mengelola pengetahuan dan kehidupannya. Jika ini dapat dipertajam lagi, maka pendidikan karakter dapat merasuk kedalam dimensi pengetahuan dan pengalaman hidup anak-anak sehingga mereka akan dilatih maju dan mandiri, bukan subyek yang menunggu dan kemudian di kemudian hari akan lebih suka dipekerjakan, didikte oleh karena mereka di kelas dibiasakan menerima dan memenuhi target-target majikan, yakni si guru, bukan anak adalah majikan dan dia sendiri yang akan mencapai tujuan-tujuan majikan atas dirinya sendiri.

Semoga bisa menjadi salah satu pemantik bahwa pendidikan karakter bukan sebatas jam sekolah tetapi bagaimana anak belajar menjadi manusia.

Tulisan ini sudah dimuat di Koran Inspirasi Pendidikan Edisi XX Minggu II/24 Juli – 5 Agustus 2017

Jangan Malu Unggah Foto Produk Bisnis Anda ke Internet, Siapa Tahu Nasib Anda Melebih Bayangan Anda

0

Ini pengalaman unik. Kami rajin mengunggah produk kami di internet dalam jangka waktu yang memang tidak dibilang tidak asal2an, tapi kami menyukai saja main foto lalu diupload di FB, Twitter, Internet dan Instagram.

Kami tidak tahu, beberapa kali dihubungi seseorang utk membeli sambel. Kami heran, tahu dari mana mereka. Katanya dari internet melalui google. Mereka ingat tetapi lupa kemana mencari sambel tersebut. Lantas mereka pergi ke google.com dan diketik sambel bledeg mbak atik. Mereka menceritakan jika tahu dan menemukan sambel tersebut dari internet.

Kami merasa penasaran membaca informasi pembeli. Lantas kamipun mencoba googling dan mengetik “Sambel Bledeg Mbak Atik,” Lah kok muncul link yang mengindex (mengumpulkan berbagai gambar yang pernah kami unggah) di suatu link tertentu.

Ternyata, dan dengan demikian memang ada kegiatan seseorang yang sukanya mengindex apa yang kira-kira banyak atau mungkin sering dicari orang di internet. Mereka sepertinya perlu agar situs mereka banyak dikunjungi dan menggunakan barang kita dipasang di sana agar terbantu dikunjungi orang.

Mereka lantas mengambil foto-foto itu (mungkin otomatis) sehingga ketika ada yang mencari barang tersebut, seorang pengguna internet akan diarahkan ke situs mereka. Mereka dapat untung karena barang yang dipasang dicari orang.

Pemilik situs untung dan kita yang punya barang juga untung.

Darimana untungnya pemiliki situs ? Dari banyaknya kunjungan. Mereka biasanya kalau semakin banyak pengunjung akan berpeluang mendapat uang. Begitu biasanya cara mencari uang di internet.

Jadi, Zaman sudah berubah. Hanya dengan jari kita saja, dunia bisa kita ambil, pembeli bisa kita undang datang.

Jadi hallloooowwww…… Jikalau pingin jualan tidak harus punya toko. Cukup beli HP pintar. Mainkan jari anda, foto aktifitas atau barang anda, lalu unggah di media sosial facebook, twitter, instagram dan lain sebagainya.

Jangan lupa nama produk anda harus tetap sehingga semakin banyak anda mengetik kata-kata tersebut dan mengunggah gambar, kemungkinan anda ditemukan diinternet semakin besar.

Yuk sering-sering mengunggah produk-produk kita agar toko di dunia maya anda segera tercipta. Atau kita bantu profilisasi produk anda di sini, agar semakin membantu produk anda berjaya di internet. Semakin banyak cara mempublikasikan, semakin menambah poin lalu lintas barang anda di internet. Andapun bisa untung.

M. Irfan: Dari Meneropong Hingga Menyiapkan Peluang Petani di Masa Mendatang

0

KampusDesa News_Setelah resmi dibuka, agenda Sarasehan Tani dilanjutkan dengan  sesi pembahasan tentang pertanian. Kepentingan masa depan pertanian menjadi fokus utama pembahasan pada sesi pertama. Dalam sesi ini dibahas pula keterkaitannya dengan peluang-peluang petani akan datang.

Sesi yang bertajuk Sarasehan Nasional I ini dinarasumberi oleh M. Nuruddin selaku Sekretaris Jenderal API (Aliansi Petani Indonesia) dan M. Irfan selaku Asisten Bupati Bondowoso.

Di awal pembahasan, M. Irfan langsung menyampaikan tentang peluang dan ancaman pertanian akan datang. Kepintaran dalam membaca peluang produksi menjadi pokok pembahasannya. Ia mengambil contoh di daerahnya Bondowoso tentang keberhasilannya di sektor pertanian kopi.

“Kunci sukses untuk mencapai produksi yang maksimal harus pintar membaca peluang. Tahun 2011 Bondowoso mampu mengimpor kopi ke Negara Swis dengan nominal keuntungan 19 Milyar. Selain membaca peluang produksi, jaringan kerjasama dengan badan domestik atau badan non-pemerintah tak cukup, harus mulai berani keluar menjaring kerjasama berbasis Internasional,” Ujar Irfan.

Hal itu dikemukakan karena melihat kondisi pertanian beberapa tahun ke depan diprediksi akan mengalami kekrisisan, tentu menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi sektor pertanian khususnya petani kopi.

“Data dari kementrian perdagangan, pada tahun 2023 nanti Indonesia akan berada dalam keadaan darurat kopi Nasional, ini merupakan ancaman nyata kita ke depan. Maka dari itu, perlu ada upaya-upaya produksi kopi untuk terus meningkat,” Pungkas pria yang membidangi Ekonomi Pembangunan Bondowoso ini.

Sementara itu, untuk membaca peluang sektor produksi, baik sebelum atau sesudahnya, petani harus serempak bersatu, harus terorganisir. Hal itu disampaikan oleh M. Nuruddin dikesempatannya waktu memaparkan materi. Ia mencoba menjelaskan hal itu melalui organisasi API yang sedang digelutinya.

“Aliansi Petani Indonesia adalah organisasi petani intenasional yang berdiri sejak tahun 2003. Organisasi ini mencoba untuk memberi penghargaan dan perlindungan terhadap petani. Organisasi ini juga mencoba mengatasi problematika petani hari ini,” Ungkap Gus Din, sapaan akrabnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Gus Din mengungkapkan langkah petani yang bergerak sendiri-sendiri sangat tidak efisien, terutama dalam segi produksi dan ekonomi. Untuk itu harus terorganisir agar mempunyai daya tawar yang apik terhadap aktor produksi. (HA)

Pembukaan Sarasehan Tani, Bupati Pasuruan Berikan Apresiasi Tinggi

0

ew_Sarasehan Tani telah resmi malam ini (28/07/2017). Acara yang dibuka secara langsung oleh Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf, SE,. MMA ini berjalan sangat meriah. Berbagai penampilan dari warga setempat menjadi salah satu rangkaian acara pembukaan, seperti seni beladiri pencak silat dan atraksi obor. Hal ini menandakan bahwa Desa Jatiarjo memang pantas dijadikan sebagai tuan rumah bertemunya para stakeholder petani dari segala penjuru.

Seperti yang dikemukakan Kepala Desa Jatiarjo Sareh Rudianto, dalam sambutannya Sareh menyampaikan Sarasehan tani dilakukan di jatiarjo karena mengacu kepada sumberdaya manusia dan letak geografis di Jatiarjo yang di anggap strategis.

“Acara ini merupakan gebrakan baru untuk menghadirkan inovasi-inovasi progesif guna mengentaskan problematika pertanian. Semakin menyempitnya lahan pertanian merupakan problematika pertanian saat ini, selain labilnya harga pasar dari hasil panen tani. Saya berharap, dengan bertemunya para pemerhati pertanian di Desa kami, dapat memberikan dampak baik terhadap perkembangan pertanian ke depan,” Ungkap Sareh.

Sementara itu, Komuitas Averroes sebagai penyelenggara acara Sarasehan Tani, diwakili Soetomo, M.Sos dalam kesempatan sambutannya turut menyampaikan keprihatainnanya terhadap sektor pertanian.

“Sektor pertanian kini mengalami penurunan yang luar biasa dalam hal produktivitas, diperparah lagi dengan jumlah lahan yang semakin berkurang. Dengan terlaksananya sarasehan tani ini saya berharap para stakeholder, pelaku pertanian dan seluruh masyarakat lainnya dapat bersinergi untuk menjawab segala problematika pertanian yang ada,” Ucap Soetomo selaku Direktur Komunitas Averroes.

Kegiatan Sarasehan Tani ini memang disinyalir dapat melahirkan gagasan-gagasan baru tentang pertanian. Pasalnya, bertemunya para stakeholder pertanian di Desa Jatiarjo merupakan hal yang tepat. Berkat usaha keras Komunitas Averroes untuk mengadakan acara ini, Desa Jatiarjo mampu mengoptimalkan segala potensi alamnya, serta memberdayakan sumber daya manusia yang ada. Hal itu seperti yang disampaikan Irsyad Yusuf, SE,. MMA dalam sambutan penutupnya.

“Desa Jatiarjo juga sebagai salah satu desa yang selalu saya banggakan dengan berbagai inovasinya. Salah satunya melihat masyarakat desa sini yang mampu memaksimalkan potensi alam dan juga potensi masyarakatnya untuk menyelenggarakan acara ini. Saya juga menaruh apresiasi penuh kepada Averroes yang telah berhasil mempertemukan berbagai stakeholder pertanian di Desa ini, “Tutur pria yang akrab disapa Gus Irsyad ini. (HA)

Gus Din: Sinergitas Aktor Kepentingan, Kunci Memajukan Pertanian

0

KampusDesa News_Permasalahan pertanian di Indonesia semakin pelik, mulai dari krisis generasi muda, hingga tergerusnya lahan pertanian di pedesaan yang diakibatkan oleh faktor alam dan non faktor alam. dalam persoalan ini, Sekertaris Jenderal Asosiasi Petani Indonesia (API), Muhammad Nurudin merespon secara kritis bagaimana petani bisa bangkit dari persoalan tersebut.

Menurutnya, tantangan besar yang perlu dihadapi oleh bangsa ini adalah menyiapkan generasi muda untuk ikut terjun dalam membangun perdesaan dan pertanian. Baginya, perlu sinergitas empat aktor dalam membenahi persoalan ini. Yaitu; pemerintah, pengusaha pertanian, petani dan lembaga keuangan.

Baginya, pemerintah sebagai pemangku kebijakan perlu membuat kebijakan yang bersifat pemberdayaan dan perlindungan. Pemberdayaan semisal pendampingan petani dalam pengolahan dan perlindungan terhadap hal-hal yang tidak bisa dihadapi oleh petani, seperti perubahan iklm dan tekanan ekonomi politik internasional dengan maraknya sembako impor.

“Hal ini bisa kita lihat di Jawa Timur dengan banyaknya beras impor dengan harga murah yang membuat petani tidak kompetitif.” Ungkap pria yang akrab disapa Gus Din ini.

Sepengamatannya, piramida petani di Jawa Timur lebih bayak berusia tua, yang berusia 50-60 tahun sebanyak 50 persen, petani dengan usia 30-40 berjumlah 30 persen dan yang berusia 20-30 tahun sebanyak 20 persen.

Untuk aktor yang bergerak di rantai produksi, perlu membangun kerjasama yang inklusif, serta harus melibatkan kelompok-kelompok petani yang terorganisir. Hal ini dilakukan untuk memberikan peluang akses pasar dengan mengurangi biaya produksi dan transportasi.

Terkait aktor petani, Gus Din menilai bahwa kalangan petani umumnya bergerak sendir-sendiri. Menurutnya, petani harus bersatu dan bergerak bersama agar mengangkat daya tawarnya terhadap aktor produksi.

“karena langkah petani yang bergerak sendiri-sendiri tersebut sangat tidak efisien dalam segi ekonomi, untuk itu harus terorganisi agar mempunyai daya tawar terhadap aktor produksi,” Tuturnya.

Selain itu, lembaga keuangan harus lebih berperan dalam memudahkan modal petani dengan memberi insentif dengan memberi kredit lunak dan jangka panjang.(HA)

Sumber: http://sarasehantani.com/gus-din-memajukan-pertanian-perlu-sinergitas-aktor-kepentingan/

Pembukaan Sarasehan Tani, Bupati Pasuruan Berikan Apresiasi Tinggi

0

KampusDesa New_Sarasehan Tani telah resmi malam ini (28/07/2017). Acara yang dibuka secara langsung oleh Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf, SE,. MMA ini berjalan sangat meriah. Berbagai penampilan dari warga setempat menjadi salah satu rangkaian acara pembukaan, seperti seni beladiri pencak silat dan atraksi obor. Hal ini menandakan bahwa Desa Jatiarjo memang pantas dijadikan sebagai tuan rumah bertemunya para stakeholder petani dari segala penjuru.

Seperti yang dikemukakan Kepala Desa Jatiarjo Sareh Rudianto, dalam sambutannya Sareh menyampaikan Sarasehan tani dilakukan di jatiarjo karena mengacu kepada sumberdaya manusia dan letak geografis di Jatiarjo yang di anggap strategis.

“Acara ini merupakan gebrakan baru untuk menghadirkan inovasi-inovasi progesif guna mengentaskan problematika pertanian. Semakin menyempitnya lahan pertanian merupakan problematika pertanian saat ini, selain labilnya harga pasar dari hasil panen tani. Saya berharap, dengan bertemunya para pemerhati pertanian di Desa kami, dapat memberikan dampak baik terhadap perkembangan pertanian ke depan,” Ungkap Sareh.

Sementara itu, Komuitas Averroes sebagai penyelenggara acara Sarasehan Tani, diwakili Soetomo, M.Sos dalam kesempatan sambutannya turut menyampaikan keprihatainnanya terhadap sektor pertanian.

“Sektor pertanian kini mengalami penurunan yang luar biasa dalam hal produktivitas, diperparah lagi dengan jumlah lahan yang semakin berkurang. Dengan terlaksananya sarasehan tani ini saya berharap para stakeholder, pelaku pertanian dan seluruh masyarakat lainnya dapat bersinergi untuk menjawab segala problematika pertanian yang ada,” Ucap Soetomo selaku Direktur Komunitas Averroes.

Kegiatan Sarasehan Tani ini memang disinyalir dapat melahirkan gagasan-gagasan baru tentang pertanian. Pasalnya, bertemunya para stakeholder pertanian di Desa Jatiarjo merupakan hal yang tepat. Berkat usaha keras Komunitas Averroes untuk mengadakan acara ini, Desa Jatiarjo mampu mengoptimalkan segala potensi alamnya, serta memberdayakan sumber daya manusia yang ada. Hal itu seperti yang disampaikan Irsyad Yusuf, SE,. MMA dalam sambutan penutupnya.

“Desa Jatiarjo juga sebagai salah satu desa yang selalu saya banggakan dengan berbagai inovasinya. Salah satunya melihat masyarakat desa sini yang mampu memaksimalkan potensi alam dan juga potensi masyarakatnya untuk menyelenggarakan acara ini. Saya juga menaruh apresiasi penuh kepada Averroes yang telah berhasil mempertemukan berbagai stakeholder pertanian di Desa ini, “Tutur pria yang akrab disapa Gus Irsyad ini. (HA)

Sarasehan Tani: Membangun Sinergi Menguatkan Petani

Sektor pertanian kini sedang berada di persimpangan jalan. Sebagai penopang hajat hidup sebagian besar penduduk Indonesia, sudah semestinya pertanian menjadi sektor yang kokoh dan tumbuh dengan pesat. Juga wajar kiranya jika pertanian menjadi pintu masuk dalam pengentasan kemiskinan. Sejarah telah mencatat bahwa Indonesia pernah berjaya dengan sektor pertanian sebagai penopang kesejahteraan masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, prestasi cemerlang di bidang pertanian akhirnya lepas dari tangan. Lahan pertanian semakin menyempit, minat penduduk untuk bertani semakin menurun, ditambah dengan sulitnya mendapatkan sarana produksi dan pupuk pertanian menjadikan petani Indonesia berangsur semakin miskin.

Pada tahun 2016, 27,7 juta jiwa penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Dari angka tersebut, 17,2 juta jiwa berada di wilayah pedesaan. Hal ini menunjukkan petani yang hidup di pedesaan Indonesia belum sejahtera. Di tengah keterpurukan petani, ketergantungan impor tanaman pangan Indonesia mencapai 74% dari total impor yang dilakukan pemerintah. Sedangkan impor peternakan, holtikultura, dan perkebunan sebesar 8-9%. Di sisi lain, sebagian besar tanaman perkebunan berhasil diekspor oleh Indonesia. Sayangnya produk perkebunan tersebut diekspor dalam bentuk bahan mentah. Impor dilakukan sebagian besar untuk konsumsi, bukan untuk proses produksi. Hal ini menunjukkan sangat tergantungnya pemenuhan konsumsi domestik terhadap impor berbagai komoditas pertanian.

Selain masalah kemiskinan dan banjir impor komoditas pertanian, turunnya minat generasi petani turut menambah rentetan permasalahan pertanian. Grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan terus menerus pada rumah tangga usaha pertanian dari tahun 2003 hingga 2013. Hal ini dapat disimpulkan bahwa minat usia produktif pada sektor pertanian kian berkurang. Mereka lebih tertarik bekerja pada sektor non-pertanian. Jika sektor pertanian menjadi kurang menarik bagi usia produktif, maka 10 tahun lagi, sektor pertanian Indonesia akan semakin terpuruk.

Tentu permasalahan-permasalahan di atas bukan menjadi beban pemerintah semata. Para petani, aktivis lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi dan pihak-pihak lainnya juga patut untuk turut memikirkan keberlanjutan kedaulatan pertanian Indonesia. Atas landasan tersebut, akan dilaksanakan Sarasehan Tani dengan Tema “Membangun Sinergi, Menguatkan Petani”. Forum ini akan mempertemukan berbagai stakeholder untuk saling bertukar pengalaman gagasan dan ilmu pengetahuan demi menciptakan perbaikan kondisi pertanian Indonesia.

Koordinasi dan sinergi antar aktor pembangunan pertanian penting dilakukan untuk menciptakan integrasi visi dan program pembangunan sektor pertanian. Untuk mewujudkan pertanian yang baik, sebenarnya masih banyak stakeholder yang peduli terhadap isu ini, namun demikian belum ada sinergi dan kesamaan visi. Untuk itu, sarasehan ini menjadi penting untuk mengawali munculnya penyamaan visi dan program dalam membangun sektor pertanian.

Dalam forum ini, petani menjadi perhatian dan fokus utama. Para petani perlu ikut ambil bagian dalam menyatakan gagasan, peluang dan tantangan yang dihadapi selama bergelut pada sektor pertanian. Aktor aktor yang lain kemudian dapat melakukan refleksi dan penyamaan frekuensi gerakan dan program sesuai dengan apa yang disampaikan oleh para petani.

Sumber: http://sarasehantani.com/