Opsi Pinjaman Untuk Mahasiswa, Bisakah Mengatasi UKT Mahal?

Hanif Nanda Zakaria biasa disapa Hanif, saat ini baru saja menyelesaikan proses belajar di pasca sarjana UIN Malang. Aktifitas hariannya banyak dihabiskan di Mojokerto, sembari sesekali ikut program Reading Partner dari penerbit Bentang Pustaka.

0
183

Bulan Agustus ini sepertinya jadi bulan yang cukup ramai. Tidak hanya soal peringatan kemerdekaan negara, hal lain yang bikin ramai adalah soal pendidikan tinggi. Khususnya soal besaran biaya kuliah. Istilah yang dipakai sekarang adalah UKT.  Kenapa soal UKT jadi ramai saat ini?

Kampusdesa.or.id- Soal UKT menjadi polemik karena banyak pihak menganggap besarannya semakin tinggi. Sebagian pihak orang tua mahasiswa merasa terbebani. Banyak pihak merasa besaran UKT yang wajib dibayar tak sesuai dengan penghasilan yang diperoleh. Apalagi beberapa kampus belum menerapkan proses wawancara dan survei langsung ke rumah mahasiswa bersangkutan.

Nampaknya ide itu kurang lebih sama dengan program yang ada di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan daratan Eropa. Bahkan negara tetangga seperti Singapura punya program seperti itu. Merry Riana adalah contohnya.

Melihat gelagat yang demikian ramai, ada usulan menarik dari presiden Jokowi. Tahun kemarin, presiden mencoba untuk memberi ide pinjaman kepada mahasiswa. Beberapa media massa juga mengabarkan bahwa presiden mulai menghubungi pihak perbankan yang ada untuk mengkaji ide itu. Nampaknya ide itu kurang lebih sama dengan program yang ada di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan daratan Eropa. Bahkan negara tetangga seperti Singapura punya program seperti itu. Merry Riana adalah contohnya.

Program pinjaman ini, biasa disebut student loan, sepertinya bukan pertama kali ada di Indonesia. Keterangan dari dosen saya, beliau pernah mempunyai teman yang meminjam untuk keperluan perkuliahan. Pinjaman itu didapatkan pada masa Order Baru yang mempunyai nama program Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI). Mahasiswa bisa mencairkan pinjaman itu, dengan ganti ijazah ditahan begitu mereka selesai kuliah. Ijazah bisa diambil saat pinjaman mereka telah lunas.

Namun, program ini bukannya tak mempunyai kekurangan. Pasalnya, banyak peminjam yang belum bisa mengembalikan pinjamannya. Ada yang pekerjaannya belum cukup untuk melunasi pinjamannya. Ada pula yang sudah lama belum mempunyai pekerjaan. Hasilnya, pelunasan peminjaman menjadi semakin lama.

Program pinjaman seperti ini sebenarnya cukup bagus untuk mengatasi UKT yang semakin mahal. Mahasiswa bisa melatih diri bagaimana bertanggung jawab terhadap dana perkuliahan.

Program pinjaman seperti ini sebenarnya cukup bagus untuk mengatasi UKT yang semakin mahal. Mahasiswa bisa melatih diri bagaimana bertanggung jawab terhadap dana perkuliahan. Selain itu, mahasiwa bisa terlatih bagaimana cara bertahan hidup di tempat mereka belajar. Tentu mereka harus bertanggung jawab karena mendapat pinjaman.

Namun banyak pihak juga sepenuhnya menolak program ini. Alasannya, program ini adalah bentuk privatisasi pendidikan. Selain itu membuat mahasiwa jadi sapi perah. Mereka diperah sedemikian rupa demi berusaha mengembalikan pinjaman.

Perlu kajian mendalam soal program ini. Butuh sistem dan mekanisme yang jelas dan terarah. Banyak yang harus dilibatkan agar kedepannya tidak terjadi hal-hal yang buruk. Apalagi menyangkut nasib sekian banyak mahasiswa.

Tapi, dengan adanya program ini, setidaknya mahasiwa bisa mengelak dari pertanyaan kapan nikah. Boro-boro nikah dan punya rumah. Lulus kuliah saja masih berusaha lunasi utang di kampus.

Editor: Fathan Faris Saputro