Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Pola Infeksinya Bersama Alissa Wahid (1)

0
263

0Shares
0

Kedahsyatan pandemi Virus Corona telah menggunjang dunia akhir-akhir ini. Banyak korban jiwa berjatuhan dan jumlah kasus baru terus bertambah. Penyebarannya juga begitu cepat dan sulit terdeteksi. Pemahaman mengenai karakteristik virus penyebab Covid-19 ini sangat penting agar kita mampu mengantisipasi penyebarannya. Alissa Wahid, National Coordinator GUSDURian Network Indonesia, akan membagikan informasi ini kepada kita.

Kampusdesa.or.id-Virus corona hari ini telah berada di 166 negara. Terinveksinya 166 negara ini dikarenakan dampak dari globalisasi, yang memudahkan perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain. Sebagai gambaran: hari ini di Ibu Kota Australia ditemukan 3 orang positif Corona. Orang ini di Canberra naik bus kemudian dilacak dan sebelum ini ngapain? Ternyata dia baru datang dari Sydney kota terbesar di Australia, lalu dari Sydney ke Jakarta, dan dari Jakarta ke Sydney dia pakai pesawat Garuda. Itu salah satu contohnya, jadi selama di pesawat berpotensi menularkan virus. Memang, berdasarkan riset terakhir, jika kita berada di ruangan kecil, hanya butuh dua jam untuk bisa tertular virus corona.

Kita bisa tertular novel virus corona tapi tidak sampai disease. Misalnya, Si A tertular virus tapi dia tidak sakit, maka si A tidak disebut sebagai Covid. Tapi ada orang yang terinveksi Corona dan dia sakit dan ada gejalanya dia disebut Covid-19. Virus influenza, Sars, itu semuanya Corona Virus, yang (sekarang) ini jenis ke 7. Corona yang ke 7 ini karena masih baru, belum ada vaksinnya sampai sekarang. Maka berkembang rumor konspirasi bahwa ini buatan Amerika, Rusia, Cina atau yang lainnya. Atau yang kedua, perusahaan farmasi yang berkembang. Dan juga berkembang (rumor) di WhatshAp grup, bahwa ini virus yang dilepas oleh Bill Gates.

Tapi kalau melihat perkembangan virus itu sendiri, saya lebih percaya kalau Corona Virus ini lebih mirip wabah 1918 atau flu Spanyol. Flu Spanyol waktu itu mematikan sekali, penyebarannya juga global, dan menyebabkan 10% orang meninggal termasuk di Indonesia. Di Indonesia flu spanyol tahun 1918 sampai 1919. Indonesia saja korbannya dua juta pada saat itu. Dan itu menjadi batu pijakan perlawanan para petani di Banten karena wabah itu.

Saya lebih meyakini bahwa Corona Virus ini mirip seperti Spanish Flu. Dia memang natura. Orang tahunya corona virus ini munculnya di Wuhan, Cina dan dan provinsi Hobbay. Munculnya dari penyebaran yang ngeri banget itu dari sebuah pasar, di mana orang biasanya membeli makanan seperti ular, kelelawar, babi untuk dimakan. Karena itu, kemudian muncul pandangan bahwa penularannya melalui kelelawar saja, dan orang tidak begitu takut awal-awalnya. Tapi ternyata terus tidak terkendali.

“Saat ini kasus positif Virus Corona ada 204.000 di seluruh dunia. Kemudian yang meninggal 8.250 dan yang sembuh 82.866”

Saat ini kasus positif Virus Corona ada 204.000 di seluruh dunia. Kemudian yang meninggal 8.250 dan yang sembuh 82.866. Teman-teman bisa lihat, dalam jangka waktu yang sangat pendek dari 22 Januari sampai bulan 16 Maret peningkatannya seperti itu. Yang mengerikan tajam sekali peningkatan kematiannya. Pada hari Jumat kemarin 170. Pada hari Jumat waktu saya menulis untuk Kompas baru 158 negara, tapi hari ini 170 padahal jaraknya berapa hari.


Banyak masyarakat kecil dan pekerja informal yang rentan terkena wabah Corona, mari lindungi mereka dengan berdonasi, dengan klik kitabisa.com sebuah komitmen bantuan yang diinisiasi oleh Sekretaris Nasional Gusdurian yang merupakan jejaring Kampus Desa Indonesia. Mari donasikan sebagian rizki Anda.


Corona virus ini mudah menular, bahkan dari ludah yang muncrat. Misalnya ludah yang mengandung Coroa jatuh ke hanphone, dia bisa bertahan 72 jam/tiga hari. Kalau hari ini melihat handphone teman-teman ada ludah 3 hari yang lalu, ia bisa bertahan selama tiga hari dan masih hidup. Kalau ada orang yang memegang benda yang ada dropack itu mudah bagi si virus ini masuk. Makanya kita tidak boleh pegang hidung, pegang mata dan pegang mulut. Cara itu paling mudah, walaupun penelitian terbaru hari ini dan WHO mengumumkan ternyata virusnya terindikasi dapat menyebar lewat udara. Makanya kenapa kita berada dalam satu ruangan yang kecil bersama penderita itu bisa ketularan walaupun kita tidak berhadap-hadapan, karena ada indikasi virusnya hidup di udara.

“Virus Corona tidak berbahaya bagi orang yang sehat. Tetapi tidak demikian bagi kita yang punya riwayat sakit, entah karena daya tubuhnya, karena lansia, atau karena dia punya riwayat  hepatitis B”

Corona ini virusnya tidak terlalu berbahaya. Jika kondisi tubuh kita sehat, kita bisa melawan dan kita bisa tidak apa-apa. Jadi virus corona tidak berbahaya bagi orang yang sehat. Tetapi tidak demikian bagi kita yang punya riwayat sakit, entah karena daya tubuhnya, karena lansia, atau karena dia punya riwayat  hepatitis B. Hipatitis B tidak sama dengan hepatitis A yang bisa sembuh. Kalau hepatitis B virusnya masih ada, tapi bahaya kalau saya terlalu kecapekan. Dia bisa menghebat dan dia merusak hati. Kalau orang seperti saya daya tubuhnya rendah daripada orang yang tidak memiliki riwayat seperti saya.

Orang-orang yang punya riwayat seperti ini, begitu kena Virus Corona ada dua kemungkinan, satu karena daya tubuhnya lebih lemah, maka si Virus Corona langsung terjun ke paru-paru. Tidak ada yang melawan. Karena itu, dia menyebabkan gejala, bakteri numoria bebas merdeka merusak paru-paru. Kedua, untuk orang yang punya riwayat, dia bisa kumat penyakit lamanya. Kenapa? Karena Corona bisa merusak daya tahan tubuhnya. Sehingga penyakit lama bisa kumat lagi. Misalnya pak Budi Karya, dia punya asma, karena itu misal ada konferensi pers dan ada wartawan yang merokok nafasnya sesak. Orang seperti ini kalau kena Corona Virus problemnya bisa dari asmanya tersebut. Satu, dia terserang numenia berat, dan keuda penyakit lamanya bisa kumat.

Makanya, banyak orang menduga angka kematian di Indonesia itu sebetulnya salah hitung karena ada orang-orang yang suspek corona tetapi dinyatakan negatif tapi meninggalnya karena penyakit yang lain. Itu yang dikhawatirkan orang yang bergerak dibidang kesehatan.

Indonesia masih jauh ‘kan? Indonesia tambah 55, bayangkan dalam satu hari kematiannya tambah 12. Padahal kemarin dua hari ada pertambahan kematiannya cuma dua. 55 tambahan dalam satu hari kemungkinan sudah diperbaiki cara mengidentifikasi pasiennya.

Disadur dari transkrip diskusi online Jaringan Gusdurian bersama Alissa Wahid, 18 Maret 2020