Mengembangkan Pendidikan Segar Rasa

0
65
Inklusif. Pemandangan di MI Amanah, Sekolah Garasi Turen Malang. Makna inklusi adalah proses terlibat orang tua, guru, dan murid, menyambut hari pertama sekolah penuh rasa pertemanan (inklusif), tak membeda-bedakan

Hari pertama sekolah mewujudkan karakter inklusif. Sekolah bukan “dokter,” yang menjadi momok saat anak dianggap nakal, anak ditakut-takuti akan disuntik “dokter.” Hari pertama sekolah adalah ujian bagi semua (guru, orang tua, dan murid) untuk menciptakan sekolah yang saling bersahaja, menjadi tempat bagi semuanya untuk udar rasa. Kangen dengan teman, guru, dan lingkungan sekolah yang seharusnya mengasyikkan. Semuanya berpaku pada segar rasa. Sebuah zona kehidupan yang meremajakan perkawanan sekaligus kebersahajaan emosional, bukan momok bagi setiap insan yang hendak kembali ke sekolah.

kampusdesa.or.id15 Juli adalah hari pertama masuk sekolah. Mungkin bagi anak yang sudah masuk SMP atau SMA sudah nerupakan hari yang biasa-biasa saja karena mereka sudah biasa bersekolah bertahun-tahun, tapi bagi sebagian besar anak SD dan PAUD, hari ini merupakan hari yang menegangkan, seperti saat mau dibawa ke dokter saja.

Kita tentu masih ingat gebrakan pertama mas Menteri Anies Baswedan yang mengharapkan orangtua mengantar anaknya yang baru masuk sekolah, sampai beliau menyurati kepada semua dinas dan instansi yang bukan saja jajaran Depdikbud namun juga semua dinas dan instansi, bahkan lembaga-lembaga yang lain untuk memberikan izin bagi karyawannya untuk mengantarkan anaknya pada hari pertama sekolah.

Tindakan mas Menteri yang humanis ini tentu sangat bermakna bagi kehidupan anak di hari pertamanya ke sekolah, meski oleh penganut behaviorisme langkah ini tidak memiliki arti karena kalau anak tidak mau ya bisa dipaksa, dan memang benar, anak juga bisa belajar dengan dipaksa. Namun dampaknya bila paksaan itu hilang maka anak tidak akan belajar dengan motivasi instriksinya

Suatu iklan Deodoran yang saya kutip di atas, menekankan pentingnya kesan pertama karena kesan-kesan berikutnya sangat diwarnai oleh kesan pertama. Bila anak di hari pertama sudah diantar oleh orangtuanya, namun sambutan sekolah menimbulkan kesan yang negatif juga percuma saja. Minggu lalu saya mendapat kunjungan kerabat yang putranya kalau mau berangkat ke sekolah itu pasti perutnya sakit dan ogah-ogahan, padahal anak itu sudah kelas 2 dan tahun ini naik ke kelas 3. Ternyata di sekolahnya anak ini dan teman-temannya banyak yang dibully oleh kakak-kakak kelasnya, selain kekerasan fisik juga dipalak uang jajan. Sudah diadukan ke sekolah dan wali kelasnya namun tidak mendapat sambutan yang positif.

Menciptakan suasana menyenangkan di sekolah sangat penting, tidak hanya di hari pertama namun juga di hari-hari berikutnya

Karena itu, menciptakan suasana menyenangkan di sekolah sangat penting, tidak hanya di hari pertama namun juga di hari-hari berikutnya dan tidak saja oleh siswa lain tapi juga oleh gurunya.

Sumber Ketidakramahan Anak

Ada dua sumber ketidakramahan sekolah, pertama adalah dari antar teman dari kedua, dari guru. Biasanya dari kakak kelas ke adik kelas seperti yang menimpa putra kerabat saya di atas, atau oleh anak-anak penjajah yang merasa dirinya superior kepada anak-anak yang inferior. Anak-anak pelaku bullying ini merasa dirinya memiliki kelebihan sehingga bisa memaksa anak lain, kelebihan ini misalkan kelebihan fisik dengan memiliki tubuh yang lebih besar atau memiliki kekuatan nonfisik atau latar belakang pola asuh dalam keluarga anak tersebut.

Rasa sahabat dan saudara antar teman

Sumber perundungan dari anak akan semakin banyak bila sekolah membiarkan anak-anak yang dominan melakukan tindakannya membullying temannya. Karena itu sekolah harus menciptakan suasana pergaulan sesama siswa yang menyenangkan. Sekolah Garasi melakukan beberapa kebijakan untuk membuat zero bullying ini. Pertama adalah merancang pola pergaulan antar anak yang saling menyayangi dan mengasihi. Kebutuhan ini sangat dirasakan karena Sekolah Garasi adalah Sekolah Inklusif yang mendidik anak dengan segala kemampuannya, mulai dari yang cepat sampai yang lambat belajar. Tanpa rekasaya pola pergaulan maka potensi dan peluang terjadinya perundungan di sekolah inklusif menjadi lebih terbuka

Pertama adalah membentuk tim penyambut

Agar terjadi hubungan yang harmonis antara siswa yang senior terhadap adik-adiknya maka sekolah membentuk tim penyambutan yang terdiri siswa-siswa senior kelas tinggi, kelas 4, 5 dan 6 untuk menyambut dan melepas adik-adiknya saat datang dan pulang. Tim penyambutan ini terdiri dari 4 – 6 siswa yang bertugas membantu teman-temannya terutama pada adik kelasnya dengan memberinya salam dan bila ada yang kesulitan turun dari sepeda motor atau mobil, dan atau menyeberang jalan maka tim ini akan membantunya.

Tim penyambutan ini terdiri dari 4 – 6 siswa yang bertugas membantu teman-temannya terutama pada adik kelasnya dengan memberinya salam

Dengan pola pergaulan yang membantu teman terutama adik kelasnya maka tercipta rasa kasih sayang di antara siswa dan kebiasaan membantu temannya bila ada yang mengalami kesulitan.

Tentu saja dalam penyambutan selamat datang maupun saat pulang ini guru juga harus ikut menyambut anak-anak, bukan seperti kebiasaan yang terjadi, guru begitu datang parkir kendaraan lalu masuk kantor menyiapkan materi hari ini, namun gur bersama kepala sekolah wajib menyambut anak-anak yang datang, bukan hanya anak-anak kelas 1 yang baru tapi menyambut semua anak. dengan demikian kesan hari itu akan nyaman di sekolah sudah diperoleh semua siswa dengan sambutan yang penuh senyum ramah dari guru dan teman-temannya

Kedua adalah pola pergaulan yang inklusif

Keberagaman anak dalam sekolah inklusif yang tinggi memiliki peluang adanya dominasi anak yang kuat terhadap yang lemah. Karena itu penangangan anak-anak disablilitas tidak terpisah. Memang ada saatnya kelas khusus bagi anak-anak disabilitas yang kematangan kemandirian dan sosialnya belum tercapai.

Bagi anak-anak yang sudah mencapai kematangan kemandirian dan sosialnya maka pembelajarannya dicampur ke kelas normal, meski dengan materi yang berbeda. Ada kecenderungan anak-anak disabilitas ini untuk lebih dekat ke guru tertentu, sehingga bila anak-anak ini sudah bisa mandiri dan kematangan sosialnya tercapai maka anak ini diikutkan guru yang disenangi tadi, tidak masalah guru tadi mengajar di kelas berapa. Guru yang juga berfungsi sebagai Guru Pendamping Khusus ini pada dasarnya mendidik dua kelas, yang satu anak-anak normal sekelas dan kedua mengajar anak disabilitas dengan kurikulum dan materi belajar khusus untuk anak disabilitas yang ikut dengannya

Turen, 14 Juli 2019
Sehari sebelum hari pertama sekolah

Editor : Mohammad Mahpur