Melanjutkan Asa dan Perjuangan Kartini

0
169

Peringatan hari Kartini merupakan bentuk ekspresi atas apresiasi dan kekaguman kita pada tokoh emansiapasi ini. Namun, sayangnya kita masih berhenti pada seremonial belaka. Banyak hal-hal substansial yang justru terlupa. Bagaimana semestinya?

Kampus Desa — Menyambut hari Kartini, kita selalu disuguhkan berbagai perayaan yang menakjubkan. Perayaan hari lahir tokoh emansipasi perempuan Indonesia ini dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Tidak hanya terbatas pada lembaga pendidikan, bahkan di tingkat masyarakat bawah pun tak mau kalah. Intinya, semua gegap gempita, berbahagia, bangga, haru, dan hormat atas perjuangan tokoh asal Jepara ini.

Namun, apakah cukup hanya begitu kita memperingati hari Kartini? Hanya seremonial dengan mengenakan kebaya, melakukan pawai, dan semacamnya? Apa yang sesungguhnya lebih esensial dan urgent dari peringatan hari Kartini? Terutama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara?

Apa yang selama ini kita lakukan setiap memperingati hari Kartini memang patut diapresiasi. Masyarakat, terutama kaum perempuan, begitu antusias menyambut hari istimewa ini. Semua pasti mengagumi sosok Kartini.

Namun sayangnya, peringatan hari Kartini masih berhenti pada upacara seremonial saja sebagaimana peringatan-peringatan hari besar lain yang kita lakukan. Kita masih saja berkutat pada level kulit. Belum menyentuh isi.

Jika kita renungkan sejenak, ada banyak substansi dari peringatan hari Kartini yang kerap kali kita lewatkan, salah satunya adalah semangat Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan.

Perempuan menjadi objek ketidakadilan, hak-haknya dikebiri, termarjinalkan, dan kedudukannya seperti barang

Zaman dimana Kartini hidup, perempuan diperlakukan tidak jauh beda dengan nasib perempuan di era pra Islam. Perempuan menjadi objek ketidakadilan, hak-haknya dikebiri, termarjinalkan, dan kedudukannya seperti barang.

Ketidakadilan inilah yang hendak didobrak oleh Kartini. Sebagai anak bangsawan, ia justru tak tertarik dengan glamornya kehidupan aristokrat. Alih-alih, ia justru prihatin dengan nasib rakyat yang kala itu menjadi korban biadabnya kolonialisme dan imperialisme. Terutama kaum perempuan.

Para penjajah waktu itu, bisa begitu leluasa menindas kaum perempuan pribumi. Berbalik 360 derajat dengan kemanusiaan yang mereka gaungkan di negeri asal mereka, Eropa.

Kesetaraan dan keadilan kian menjadi barang mahal di negeri ini. Padahal ia merupakan satu di antara tujuan utama berdirinya republik ini.

Semangat perjuangan ini yang masih absen dari kita. Kesetaraan dan keadilan kian menjadi barang mahal di negeri ini. Padahal ia merupakan satu di antara tujuan utama berdirinya republik ini. Bahkan, keduanya juga merupakan landasan atau dasar negara ini (baca sila kedua dan kelima Pancasila).

Berbagai ketimpangan dalam penegakan hukum yang sering kita saksikan di media massa, semakin memperkuat adagium hukum kita tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Penegakan hukum atas mereka juga terkesan sedemikian alot, rumit, dan berbelit-belit

Elit-elit politik yang korupsi milyaran masih dapat tersenyum manis dan say hello dengan bangganya kepada publik. Seolah apa yang dilakukannya bukanlah dosa. Penegakan hukum atas mereka juga terkesan sedemikian alot, rumit, dan berbeli-belit.Sementara jika rakyat kecil yang melakukan pelanggaran hukum, aparat begitu sigap dan tegas menindak.

Tidak hanya dalam hal penegakan hukum, dalam pergaulan sosial pun kita semakin menjauh dari semangat Kartini. Kentalnya politik identitas akhir-akhir ini semakin memupuk semangat ke-aku-an setiap orang. Pengistimewaan diri dan golongan semakin tampak dan marak.

Akibatnya, sekat-sekat antar etnis, suku, kelompok, agama, bahkan individu semakin menebal. Dampak nyatanya, kecurigaan tak berdasar mudah tersulut oleh isu-isu sensitif yang kerap dihembuskan pihak-pihak yang tak bertanggungjawab.

Dampak lainnya, semakin brutalnya masyarakat hina menghina satu sama lain. Apabila ada yang berbeda pendapat, mereka tak segan menghujat. Seolah yang benar hanyalah kelompok mereka sendiri. Yang lain yang berda dianggap salah, bahkan musuh.Toleransi kita kian menipis. Kesadaran akan pluralitas dalam kehidupan pun kian memudar dan meluruh.

Akhirnya, memperingati hari Kartini bukan semata tentang seberapa kagum kita pada sosok Kartini. Tapi, lebih pada seberapa jauh kita mampu meneruskan perjuangan Kartini dalam menegakkan kesetaraan dan keadilan di bumi pertiwi ini. Wallahu alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here