Lidah Itu Tajam, Ustadz

0
125

Perkataan seseorang adalah perwujudan dari apa yang ada di dalam batinnya. Dalam banyak hal, seseorang berhadapan dengan konsekuensi tertentu bermula dari perkataannya. Lisan yang baik tentu akan memberikan harmoni yang baik pula bagi orang yang ada di sekitarnya. Namun sebaliknya, apa yang terjadi jika lisan justru menebarkan hal-hal yang tidak semestinya diucapkan?

KampusDesa–Salah satu pepatah Jawa yang sering kita dengar adalah “ajining raga saka busana; ajining diri saka lati”. Artinya bebasnya adalah sebagai berikut: Nilai tubuh diukur dari pakaian yang membungkusnya, sedang nilai diri atau pribadi seseorang ditentukan bagaimana ia menjaga lisannya.

Kualitas diri seseorang ditentukan bagaimana seseorang menjaga perkataannya.

Pepatah di atas bisa dimaknai dengan cara sederhana, bahwa kemenarikan penampilan fisik seseorang salah satunya ditentukan dari pakaian yang dikenakannya. Jika kebagusan penampilan fisik bisa dilihat dari busana dan segala aksesoris yang yang melekat padanya, lalu bagaimana cara menilai kualitas pribadi seseorang. Orang Jawa menyatakan bahwa kualitas diri seseorang bisa dilihat dari apa yang keluar dari mulutnya. Kualitas diri seseorang ditentukan bagaimana seseorang menjaga perkataannya.

Bahkan dari perkataan, seseorang bisa menciptakan surga dunia atau perang yang sangat mematikan.

Sepenting apakah menjaga mulut itu sehingga orang Jawa melekatkan harga diri kepadanya? Perkataan seseorang adalah perwujudan dari apa yang ada di dalam batinnya. Dalam banyak hal, seseorang berhadapan dengan konsekuensi tertentu bermula dari perkataannya. Seseorang dipercaya atau tidak dipercaya orang lain salah satunya karena apa yang dikatakannya. Bahkan dari perkataan, seseorang bisa menciptakan surga dunia atau perang yang sangat mematikan.

Merenungi filosofi masyarakat Jawa tentang nilai tubuh dan diri di atas, adalah menarik mengamati fenomena banyaknya orang yang dilabeli ustadz (biasanya berjubah, bersorban, dan beberapa embel-embel aksesoris lain) berkata ngawur dan dusta di depan umat yang memercayainya. Misalnya, ada seorang ustadz yang ke sana-kemari menyebarkan tuduhan bahwa RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual) adalah upaya legalisasi perzinahan. Ada juga seorang ustadz yang berapi-api menyatakan bahwa kematian anggota KPPS adalah karena diracun. Dan, masih banyak contoh-contoh kebohongan dan kedustaan lain yang semua itu keluar dari lisan orang yang selama ini dipanggil ustadz.

Lisan yang berdusta, menabar fitnah, dan mengobarkan permusuhan, memiliki daya rusak yang sangat dalam.

Setelah kebohongannya terbongkar, mereka dengan entengnya meminta maaf. Permintaan maaf, bagaimanapun juga, adalah sikap yang mulia. Namun, sadarkah para ustadz itu bahwa lisan yang berdusta, menabar fitnah, dan mengobarkan permusuhan, memiliki daya rusak yang sangat dalam. Daya rusak dusta seorang ustadz bahkan jauh lebih mematikan daripada kebohongan orang biasa karena yang pertama dianggap oleh umatnya sebagai manusia suci-panutan yang semua perkataannya merepresentasikan kebenaran titah Tuhan.

Inilah bahayanya jika kualitas seorang ustadz ditentukan dari penampilan fisiknya, bukan kualitas pribadinya. Fenomena “mendadak ustadz” ini mengkhawatirkan persis karena tingginya gairah orang beragama namun justru yang ditemukan adalah orang-orang yang hanya berbusana jubah dan surban tanpa diikuti dengan kualitas keilmuan yang mumpuni dan kepribadian yang mulia.

Sebegitu pentingnya sebuah perkataan hingga Nabi Muhammad dengan tegas bersabda: “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yaqul khairan a liyasmuth” (Barang siapa berimana kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik, atau diamlah!).

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah