Kualitas, Keterpercayaan, dan Kekuasaan

0
75

0Shares
0

Semakin besar kepercayaan para pengikut atau bawahan maka akan meningkatkan kekuasaan pemimpin dalam organisasi. Gambaran terhadap organisasi ini juga memiliki banyak kesamaan dengan kehidupan secara individual. Oleh karenanya jika seseorang ingin menjadi pemimpin dengan reputasi yang baik maka mulailah dari mempertinggi selera terhadap kualitas.

Kampusdesa.or.id–Sesungguhnya tidak ada satu organisasi pun di dunia ini yang tidak mengarah kepada pencapaian kualitas, atau dengan kata lain semua organisasi selalu berupaya untuk lebih berkualitas dalam kehidupannya pada masa yang akan datang. Demikian pula kehidupan manusia baik secara individu maupun dalam keluarga selalu berupaya agar kehidupannya menjadi lebih baik di kemudian hari. Organisasi selalu menginginkan bahwa akan ada kehidupan yang lebih baik nantinya, organisasi dalam bidang laba akan mentargetkan laba yang lebih besar pada tahun-tahun yang akan datang, sehingga dapat memberikan kesejahteraan yang lebih baik pada karyawannya, dan juga dapat memperbarui dan meningkatkan sumber daya yang ada di organisasi tersebut.

Organisasi-organisasi nir laba berupaya meningkatkan kepercayaan publik untuk menjadi donasi, sehingga lebih banyak orang yang dapat disejahterahkan dan lebih banyak masalah hal yang bisa diselesaikan organisasi. Orang-orang dalam keluarga juga berupaya untuk meningkatkan taraf kehidupannya, mulai dari taraf ekonomi sampai dengan taraf sosial, sehingga kemudian mampu hidup secara mandiri, baik, dan memiliki reputasi di masyarakat. Sebagai individu, seseorang juga berupaya untuk selalu berkembang lebih baik, sehingga kemudian mampu mengikuti perkembangan zaman, karir yang lebih baik, penghasilan yang lebih baik, dan hidup yang lebih berbahagia. Demikianlah semua individu, dan organisasi selalu menginginkan kehidupan yang berkualitas.

Jika menilik dari paparan di atas, kualitas lebih dimaknai sebagai perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Organisasi disebut berkualitas jika organisasi tersebut mampu merubah dirinya menjadi lebih baik dari kondisi pada awalnya, demikian juga pada individu. Namun demikian, untuk berubah menjadi lebih baik tersebut, kemudian diperlukan mampu memenuhi kualitas dalam bentuk-bentuk yang lebih spesifik. Untuk dapat menuju kearah perubahan yang direncanakan maka organisasi perlu menentukan visi dan mampu mengarahkan semua orang menuju visi tersebut.

Untuk dapat berubah menjadi organisasi yang lebih baik, maka organisasi harus mampu memuaskan pelanggan, mampu membuat-produk-produk atau layanan yang memiliki nilai, sehingga apa yang diberikan oleh organisasi dapat bermanfaat bagi pelanggan, dan pelanggan juga akan selalu mencari produk dan layanan dari organisasi tersebut. Disisi lain, untuk mampu menumbuhkan kepuasan pelanggan, maka organisasi harus mampu meberikan layanan atau menghasilkan produk yang terstandar sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan, dengan produk yang terstandar tersebut diharapkan pelanggan memiliki kepastian terhadap produk dan layanan yang didapatnya dengan kompensasi yang telah dikeluarkannya. Bahkan jika perlu pelanggan mendapatkan “kejutan” yang lebih baik dari yang diharapkan oleh pelanggan.

Itulah sebabnya pembahasan tentang kualitas selalu seiring dengan manajemen perubahan, karena kualitas tidak pernah dapat dicapai kalau perubahan tidak dilakukan. Pengembangan tidak akan terjadi jika organisasi selalu berperilaku sama dari tahun ke tahun. Sedangkan perubahan ke arah yang lebih baik hingga terwujudnya kualitas hanya dapat direalisasikan jika pemimpin mampu mendorong kearah perubahan tersebut.

Itulah sebabnya pembahasan tentang kualitas selalu seiring dengan manajemen perubahan, karena kualitas tidak pernah dapat dicapai kalau perubahan tidak dilakukan. Pengembangan tidak akan terjadi jika organisasi selalu berperilaku sama dari tahun ke tahun. Sedangkan perubahan ke arah yang lebih baik hingga terwujudnya kualitas hanya dapat direalisasikan jika pemimpin mampu mendorong kearah perubahan tersebut.

Tetapi melaksanakan perubahan bukanlah pekerjaan mudah bagi semua orang yang ada di organisasi, khususnya pemimpin. Perubahan memiliki resiko yang tidak kecil, baik itu berkaitan dengan resiko ekonomi, sosial, bahkan juga psikologis. Dari sisi psikologis perubahan selalu mengandung unsur paksaan kepada setiap orang yang ada di dalam organisasi. Tentu saja karena mengandung unsur paksaan maka tentu akan ada resistensi atau daya tolak terhadap paksaan tersebut. Jika unsur paksaan untuk berubah lebih kecil dari unsur resistensi maka perubahan dapat mengalami kegagalan, dan hal tersebut tentu akan berdampak pada kepemimpinan.

Demikian pula dari sisi sosial, perubahan dapat berdampak pada gerakan-gerakan masal untuk mendorong terjadinya perubahan di satu sisi, dan gerakan melawan perubahan di sisi yang lain. Perubahan juga akan mempengaruhi iklim organisasi yang juga akan berpengaruh kepada semua pola hubungan antar manusia yang ada di dalam organisasi. Secara ekonomi perubahan juga memerlukan biaya yang seringkali tidak kecil, dan seringkali organisasi tidak memiliki anggaran sebesar yang diperlukan untuk melakukan perubahan tersebut, sehingga memaksa pemimpin untuk berjuang keras memiliki anggaran yang diperlukan untuk proses perubahan tersebut.

Resiko psikologis dapat diatasi jika pemimpin mampu menunjukkan harapan yang lebih baik dengan perubahan yang dilakukannya, itulah sebabnya diperlukan pemimpin yang memiliki kemampuan dalam membuat seseorang mampu melihat harapan dari perubahan yang dilakukannya. Seringkali para pemimpin perubahan membuat perubahan-perubahan kecil yang mengarah kepada perubahan besar untuk dapat menanggulangi permasalahan psikologis dari orang-orang yang ada di organisasi. Kesungguhan dan kepercayaan diri pemimpin juga akan mempengaruhi keyakinan seluruh komponen organisasi bahwa perubahan yang dilakukan akan menuju kearah yang lebih baik.

Apa yang dilakukan pemimpin tersebut pada dasarnya adalah membuat sebanyak mungkin orang memahami perubahan yang diinisiasi oleh pemimpin, sehingga pemimpin mampu mempersuasi sebanyak mungkin orang. Mungkin saja tidak semua orang dapat dipersuasi, tetapi jumlah orang yang mampu dipersuasi oleh pemimpin akan menjadi modal pemimpin untuk melakukan pemaksaan terhadap berbagai komponen yang sulit untuk memahami perubahan.

Apa yang dilakukan pemimpin tersebut pada dasarnya adalah membuat sebanyak mungkin orang memahami perubahan yang diinisiasi oleh pemimpin, sehingga pemimpin mampu mempersuasi sebanyak mungkin orang. Mungkin saja tidak semua orang dapat dipersuasi, tetapi jumlah orang yang mampu dipersuasi oleh pemimpin akan menjadi modal pemimpin untuk melakukan pemaksaan terhadap berbagai komponen yang sulit untuk memahami perubahan.

Disisi lain jumlah orang yang mampu dipahamkan oleh pemimpin terhadap perubahan akan berdampak pada aspek sosial pemimpin. Kelompok-kelompok informal dalam organisasi akan menjadi pendukung dalam perubahan. Iklim organisasi yang sangat dipengaruhi oleh aksi-aksi politik dari kelompok-kelompok informal akan menjadi lebih kondusif. Kondisi iklim yang kondusif ini akan memudahkan pemimpin untuk melaksanakan berbagai skema perubahan yang dilakukannya. Terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik akan memicu harapan dan kepercayaan orang-orang yang ada di dalam organisasi terhadap para pemimpinnya. Perubahan ke arah yang lebih baik tersebut juga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap organisasi, sehingga memberikan citra dan reputasi positif di masyarakat.

Peningkatan kepercayaan seluruh komponen organisasi terhadap pemimpin akan meningkatkan kekuasaan pemimpin. Kekuasaan (power) merupakan wewenang yang dimiliki oleh pemimpin untuk mengambil keputusan dan melaksanakan keputusan tersebut di organisasi. Kekuasaan juga berkaitan dengan wewenang yang dimiliki oleh pemimpin dalam penggunaan sumber daya organisasi. Secara gampang, kekuasaan dapat dilihat dari tingkat dianutnya pemimpin oleh para pengikutnya atau bawahannya di dalam organisasi dan kecepatan pengambilan keputusan oleh pemimpin. Kekuasaan menguat jika kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya juga meningkat, kepercayaan meningkat karena pemimpin mampu membawa para pengikutnya ke arah yang lebih baik. Kemampuan pemimpin membawa kearah yang lebih baik akan terjadi, jika pemimpin mampu mengatasi berbagai kendala ketika melakukan perubahan. Adanya perubahan karena pemimpin berfikir tentang pentingnya kualitas.

Itulah sebabnya para pemimpin yang memiliki selera terhadap kualitas dan memiliki keberanian yang cukup untuk mencapai kualitas tersebut, maka pemimpin tersebut akan berusaha untuk melaksanakan proses perubahan. Semakin fundamental kualitas yang diinginkan oleh pemimpin maka akan semakin fundamental perubahan yang harus dilakukan oleh pemimpin. Semakin fundamental perubahan yang dilakukan oleh pemimpin dan semakin besar hasil dari perubahan yang dilakukannya maka potensial dapat meningkatkan kepercayaan para pengikut atau bawahan. Semakin besar kepercayaan para pengikut atau bawahan maka akan meningkatkan kekuasaan pemimpin dalam organisasi. Gambaran terhadap organisasi ini juga memiliki banyak kesamaan dengan kehidupan secara individual. Oleh karenanya jika seseorang ingin menjadi pemimpin dengan reputasi yang baik maka mulailah dari mempertinggi selera terhadap kualitas.

Artikel ini pernah dimuat di website UIN Malang dengan judul yang sama. Klik di sini.