Siapa Guru Anakku?

0
189
sumber gambar: pesantrenrakyat.com

0Shares
0

Tidak semua keluarga menerapkan family time yang mana di sana adalah forum diskusi keluarga saling bercerita dan support. Oleh karenanya, dengan pandemi COVID-19 ini sudah selayaknya para orangtua kembali pada fitrahnya untuk menjadi fasilitator anak dalam menemukan kekuatannya. Berdiskusi dan saling bekerjasama dengan guru di sekolah. Dengan harapan anak-anak pun juga tetap bersemangat ketika sekolah di rumah dan ibu pun juga bahagia dengan aktifitasnya.

Kampusdesa.or.id–Berbagai peristiwa nyata terjadi menghadapi situasi belajar di rumah bagi sebagian besar anak-anak dalam keluarga. Reaksi muncul menjadi turunan pandemi, khususnya di dunia pendidikan.

“Bagaimana ini cara mengerjakannya?”
“Kenapa kamu susah diatur, ayo belajar!”
“Enak jadi gurunya, tinggal minta setor tugas saja!”

Banyak terdengar suara atau lebih tepatnya keluhan dari para orangtua diawal-awal pandemi COVID-19 ini. Bagaimana tidak, Secara mendadak semua orang harus berdiam diri di rumah untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Tak elak banyak orangtua yang dibuat shock dengan keadaan yang serba dadakan ini.

Anak-anak yang biasa dengan rutinitas sekolah dari pagi sampai siang atau bahkan sampai sore berada di sekolah, sekarang harus 24 jam berada di rumah. Para ibu yang biasanya melakukan pekerjaan domestik atau sekedar me time dengan aman sekarang harus ikhlas merubah semua rutinitas dan tak khayal banyak diantaranya merasa stress. Tantangan luarbiasa pula untuk para ibu pekerja. Diawal-awal sekolah dliburkan harus membagi fokus antara pekerjaan domestik dengan pekerjaan publiknya secara bersamaan.

Tidak ada satupun yang menginginkan kejadiannya ini. Karena semua pasti berdampak. Tidak hanya dalam segi berubahnya rutinitas para ibu namun juga berdampak yang paling dominan adalah segi ekonomi. Seorang ibu harus bisa mensiasati kapan harus bergerak dengan aktifitas domestiknya serta, kapan bersama pekerjaan publiknya bagi yang bekerja serta mendampingi anak-anak mereka yang mendadak SEKOLAH DI RUMAH. Dan bukankah IBU ADALAH SEKOLAH PERTAMA untuk anaknya?

Menjadi menarik pula akhir-akhir ini adalah banyak anak pula yang protes, ibuku bukan guru sekolahku. Kenapa demikian? Dan bagaimana ini bisa terjadi? Anak-anak merasa ibunya berubah jadi hantu tatkala mendapati dia belum bisa menuntaskan ide bermain dari guru, atau tugas dari sekolahnya. Sedangkan anak-anak pun merasa menjadi semakin longgar dalam kedisiplinan ketika proses sekolah di rumah.

 

Menjadi menarik pula akhir-akhir ini adalah banyak anak pula yang protes, IBUKU bukan GURU SEKOLAHKU. Kenapa demikian? Dan bagaimana ini bisa terjadi? Anak-anak merasa ibunya berubah jadi hantu tatkala mendapati dia belum bisa menuntaskan ide bermain dari guru, atau tugas dari sekolahnya. Sedangkan anak-anak pun merasa menjadi semakin longgar dalam kedisiplinan ketika proses sekolah di rumah. Tak elak hal ini menjadi geram para ibu kepada anaknya. Dan yang pasti kegeraman ibu inilah yang menjadikan anak merasa lebih baik di sekolah. Bermain bersama teman dan belajar dengan guru. Ibu pun merasa tidak cukup kemampuan untuk mendampingi anak-anak mereka di rumah

Selayaknya orang dewasa pada umumnya, anak-anak pun juga ingin dimengerti. Dalam arti bagaimana peran orangtua dalam memahami dan mengerti kebutuhan anak itu membedakan antara orangtua dan guru. Di sekolah guru dituntut tahu hal-hal apa saja yang anak tahu, hal-hal apa saja yang anak bisa dan hal-hal apa saja yang menjadi kebiasaan. Sehingga guru di tuntut untuk mengarahkan anak sesuai minat berdasarkan kekuatannya. Sadarlah para orangtua, anak-anak bukan makhluk sempurna dalam versi anda. Begitupula para guru memperlakukan murid-muridnya di sekolah.

Baca juga:

Tidak semua keluarga menerapkan family time yang mana di sana adalah forum diskusi keluarga saling bercerita dan support. Oleh karenanya, dengan pandemi COVID-19 ini sudah selayaknya para orangtua kembali pada fitrahnya untuk menjadi fasilitator anak dalam menemukan kekuatannya. Berdiskusi dan saling bekerjasama dengan guru di sekolah. Dengan harapan anak-anak pun juga tetap bersemangat ketika SEKOLAH DI RUMAH dan ibu pun juga bahagia dengan aktifitasnya.

Kegagalan dalam mengerjakan soal bukan jaminan kesuksesan mereka. So, daripada merusak semangat mereka dengan kegeraman, lebih baik ubah mindset turunkan standar anda, terima kekuatan anak anda serta support mereka dengan pujian yang membangun.