The Power of Bismillah

0
324
bismillah, nuzulul quran
Kitab Suci al-Quran (sumber gambar: Tribunnews.com)

0Shares
0

Ada 114 “bismillah” di dalam kitab suci al-Qur’an. Nabi Muhammad menganjurkan kita sebagai umat muslim membaca di setiap sebelum melakukan aktifitas. Karena mengucapkan bismillah juga bisa dijadikan sebagai doa dan mengharap berkat, pembawa kebaikan, serta paspor menuju suksesnya apa yang kita kerjakan. Sering mendengar kata motivasi “bondo bismillah” yang entah kenapa ketika melakukan sesuatu dengan diawali kalimat “bismillah” jadi lebih yakin dan ada kepasrahan kepada Allah (lillah). Dengan membaca bismillah pula semua tercatat menjadi sebagai amalan ibadah. Semoga kita tidak pernah lupa sekalipun membaca bismallah setiap langkah kita. Agar Allah SWT menjadi satu-satunya tujuan hidup.

Kampusdesa.or.id–Al-Qur’an adalah kitab suci yang mulia diturunkan sebagai wahyu dari Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman seluruh umat Islam. Kitab mulia ini terdiri dari 114 surat, 30 juz, dan 6236 ayat. Terbagi lagi 14 pasang surat Madaniyyah (umumnya turun di kota Medinah) dan 43 pasang surat Makiyyah (turun di kota Mekkah). Kitab al-Qur’an berisi firman-firman Allah yang selain mudah dihafalkan, kitab ini juga dijaga langsung oleh-Nya sehingga tidak ada seorang pun yang mampu merubah isi ayat yang terkandung di dalam al-Qur’an. Tulisan pada al-Qur’an terlihat acak, sebenarnya tersusun rapih dengan bahasa indah. Maka dari itu al-Qur’an juga ada yang menyebut berima seperti syair atau sastra Arab. Walau al-Qur’an bukanlah karya sastra, karena ia adalah mukjizat yang tentu harus memiliki penguasaan bahasa Arab yang bagus untuk bisa memahami makna ayat-ayatnya.

Di malam nuzulul qur’an ini saya ingin merefleksikan dari 114 surat di dalam al-Qur’an ayat mana yang paling menggetarkan hati dan mengubah hidup. Jadi ingat mbah Sujiwo Tejo pernah mengungkap hal serupa. Pelakon seni dan penulis kondang ini pernah mengatakan kalau surat yang istimewa di dalam al-Qur’an adalah Surat al-Ikhlas karena tidak ada satupun ayatnya mengandung lafadz “ikhlas”. Rupanya mengambil dari betapa tinggi filosofinya sampai-sampai ia mengaku paling malu ketika membaca surat ini.

Adapun saya mengutip ulasan dari NU Online, yang menyebut bahwa membaca surat al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an itu diriwayatkan dalam hadist Shahih Bukhari. Sebab demikianlah banyak orang memberikan legitimasi bahwa surat al-Ikhlas adalah surat yang diistimewakan dalam al-Qur’an di samping surat-surat yang lain. Sehingga, banyak orang beranggapan bahwa dengan membaca surat al-Ikhlas sudah sebanding dengan sepertiga al-Qur’an, padahal dalam hadits yang lain dinyatakan bahwa membaca satu huruf al-Qur’an sebanding dengan sepuluh kebaikan. Jadi, jika dikalkulasi secara matematis tentu saja membaca sepuluh juz lebih banyak pahalanya daripada hanya satu Surat al-Ikhlas.

Entah apakah hadits itu benar-benar dipahami sebagai legitimasi mengistimewakan surat al-Ikhlas dibanding surat-surat yang lain. Apakah ada surat-surat yang diistimewakan dalam al-Qur’an dibandingkan surat-surat yang lain? Untuk menjawab pertanyaan di atas, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menyatakan tidak sebaiknya mengunggulkan sebagian ayat al-Qur’an atas ayat al-Qur’an yang lain atau surat al-Qur’an atas surat al-Qur’an yang lain.

Pendapat ini diwakili oleh Ibnu Abdil Bar (w. 463 H), Abul Hasan al-Asy’ari (w. 324 H), al-Qadi Abu Bakar (w. 402 H), Ibnu Hibban (w. 354 H) dan sekelompok para fuqaha. Dalam pertanyaannya mereka berpendapat bahwa tidak ada keunggulan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain, antara surat yang satu dengan yang lain. Sebab semuanya adalah kalam Allah yang Mahakuasa.

Pernyataan ini diperkuat oleh ungkapan Imam Yahya bin Yahya (w. 234 H) yang mengatakan bahwa mengunggulkan sebagian ayat al-Qur’an atas ayat al-Qur’an yang lain adalah sebuah kesalahan. قَالَ يَحْيَى بْنُ يَحْيَى: تَفْضِيلُ بَعْضِ الْقُرْآنِ عَلَى بَعْضٍ خَطَأٌ، Artinya: “Mengunggulkan sebagian al-Qur’an atas al-Qur’an yang lain adalah salah.”

Untuk memperkuat pendapatnya ini, mereka berdalih bahwa jika ada ayat atau surat yang diunggulkan tentu saja ada ayat atau surat yang tidak diunggulkan, sebab adanya sesuatu yang unggul menunjukkan adanya kekurangan pada yang tidak diunggulkan. Sementara Kalam Allah merupakan satu realitas dan esensi yang tidak memiliki kekurangan (Imam al-Qurtubi, Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 1: 109)

Ibnu Abdil Bar (w. 463 H) menyatakan bahwa makna hadits dari “membaca satu kali surat al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an” adalah sebanding dalam soal pahala, tapi bukan berarti apa yang Allah berikan pahala kepadanya atas perbuatannya itu sendiri namun itu tidak lain adalah karunia yang Allah berikan kepada setiap hamba yang dikehendaki-Nya (Abdul Azizi al-Muzaini, Mabahits fi Ilmi al-Qir’at/250).

Senada dengan Ibnu Abdil Bar, Ibnu Hibban (w. 354 H) memberikan pemaknaan yang sangat bagus dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab (w. 30 H): مَا فِي التَّوْرَاةِ، وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ، مِثْلُ أُمِّ الْقُرْآنِ

Dalam hadits di atas dinyatakan bahwa tidak ada dalam kitab Taurat dan juga di kitab Injil seperti Ummul Qur’an (al-Fatihah). Menurut Ibnu Hibban (w. 354 H), Allah tidak memberi pahala kepada pembaca kitab Taurat dan juga Injil seperti pahala yang diberikan kepada pembaca Ummul Qur’an (al-Fatihah), sebab Allah mengunggulkan umat ini (Nabi Muhammad) daripada umat yang lain (Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban/1/ 54).
Dari sekian argumentasi teks-teks hadits yang diutarakan di atas menunjukkan adanya keistimewaan ayat atau surat dalam al-Qur’an. Dengan demikian, argumentasi di atas secara otomatis meruntuhkan pendapat yang menyatakan bahwa Kalam Allah tidak ada yang lebih istimewa, semuanya sama dari hakikat yang sama.

Untuk itu, jika ditelisik lebih mendalam, maka akan dijumpai bahwa Kalam Allah itu sudah berbentuk (setelah diturunkan ke muka bumi) potongan ayat dan parsial (berjuz-juz, bersurat-surat). Maka jika dilihat dari sisi yang menurunkan Kalam itu, yaitu Allah, tentu saja tidak ada perbedaan, semuanya sepakat tidak yang lebih diunggulkan dan diistimewakan. Tapi jika dilihat dari sisi pemaknaan yang terkandung dalam sebuah ayat maupun surat, maka dalam hal ini tentu berbeda.

Kalam Allah yang menyinggung tentang ketauhidan dan ajakan untuk beribadah kepada-Nya tentu saja lebih istimewa dibandingkan Kalam Allah yang sekadar mengutarakan tentang hukum pidana dan jinayat. Kalam Allah yang menjelaskan tentang kekuasan-Nya dan sifat-sifat-Nya tentu saja lebih istimewa dan unggul dibandingkan Kalam Allah yang sekadar menceritakan tentang makhluk-Nya.

Meski sebagian ulama memberi keterangan (berdasarkan beberapa hadits nabi) jika ada beberapa surat yang jika dibaca memiliki faedah tertentu. Seperti surat al muawidatain (al-Falaq dan an-Naas), al-Kahfi, al-Mulk, Waqi’ah, Yaa-sin, ayat kursi, dan sebagainya. Namun versi saya lain. Saya sebenarnya lebih setuju jika semua ayat dan surat di dalam al-Qur’an itu sama kedudukannya, tidak ada yang paling diistimewakan.

Justru dalam kaitan ayat istimewa, saya lebih simpel memilih bacaan “basmalah” adalah menjadi spesial bagi saya di antara ayat-ayat lain yang terkandung di dalam al-Qur’an. Ada yang beranggapan jika ummul quran adalah al-Faatihah jika diperas intinya ada di ayat pertama yaitu lafadz bismillahirrahmanirrahiiim. Bahkan bacaan faatihah tidak bakal utuh jika ayat pertama tidak ada dan bacaan al-faatihah menjadi salah satu rukun wajib dibaca ketika shalat.

Baca juga: Bismillahirohmanirrohim dan Visi Otentik Perguruan Tinggi

Kata-kata bismillahirrahmaanirrahim memang sekilas sederhana dan mudah untuk diucapkan tetapi maknanya sangat dalam hingga 1000 malaikat memuliakannya karena kalimat “bismillah” mempunyai khasiat yang luar biasa untuk mewujudkan keinginan seseorang yang berdasarkan kebaikan dan kebenaran. Bahkan keampuhan kalimat ini disabdakan oleh Rosulullah SAW, yang berbunyi:

Jika seseorang tidak menyebut nama Allah sewaktu hendak makan, maka setan berkata; Kalian bisa menginap dan makan malam.” (H.R. Muslim No. 3762, Abu Daud No. 3263)

Oleh karena itu, ketika makan atau minum membaca bismillah insyaallah mudah kenyang dan membawa berkah pada makanan dengan membaca bismillah di awal. Bagaimana andaikan kita lupa mengucapkannya, maka dijelaskan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah SAW bersabda:

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih).

Pun anjuran ini berlaku saat kita menyembelih hewan, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Jundab bin Sufyan Al-Bajaly, bahwasanya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat, maka hendaklah ia menyembelih qurban yang lain sebagai gantinya. Dan barangsiapa yang belum menyembelih sampai kami melakukan shalat, maka hendaklah dia menyembelih dengan menyebut nama Allah.” Menyebut nama Allah di sini maksudnya adalah membaca bismillah dengan niat menyembelih karena Allah (lillahi), karena huruf “ba” pada lafadz bismillah mengandung arti “dengan/atas nama Allah. Tidak mempersekutukan dengan Tuhan yang lain selain Allah.

Sehingga Nabi Muhammad menganjurkan kita sebagai umat muslim membaca di setiap sebelum melakukan aktifitas. Karena mengucapkan bismillah juga bisa dijadikan sebagai doa dan mengharap berkat, pembawa kebaikan, serta paspor menuju suksesnya apa yang kita kerjakan. Sering mendengar kata motivasi “bondo bismillah” yang entah kenapa ketika melakukan sesuatu dengan diawali kalimat “bismillah” jadi lebih yakin dan ada kepasrahan kepada Allah (lillah). Dengan membaca bismillah pula semua tercatat menjadi sebagai amalan ibadah.

Menariknya selain bismallah terdapat di dalam ayat pertama al-Faatihah, ternyata ada juga di dalam QS. an-Naml ayat 30

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Surat ini salah satunya berisi mengisahkan antara Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis. Tatkala sang ratu menjelaskan isi surat itu dengan berkata, “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya ia dibuka dengan tulisan “Bismillahirrahmanirrahim”. Dan kalau tidak salah ketika dulu pas nyantri salah satu ustadz saya memberikan ijazah jika ayat tersebut dilanjut dengan ayat berikutnya (ayat ke 31), maka bisa dibuat sebagai do’a pengasihan (menundukkan hati wanita yang disukai). Heuheu~

Di samping itu, salah satu alasan ada dua “bismallah” di surat an-Naml, dari perspektif struktur, pada surat at-Taubah (Baro’ah) tidak ditemukan kalimat “bismallah” pun sebagai pembuka. Dengan demikian, seluruh kalimat “bismallah” di dalam al-Qur’an ada 114 sesuai jumlah surat kitab mulia ini. Menariknya lagi adalah jumlah surat al-Qur’an mulai dari at-Taubah sampai dengan surat an-Naml tepat 19 surat. Angka 19 adalah kode utama pada al-Qur’an, merupakan bilangan prima. Berfungsi sebagai verifikasi, proteksi dan otentifikasi. Dan bukanlah merupakan suatu kebetulan, kalimat bismallah-pun terdiri dari 19 abjad Arab.

Terakhir, sungguh ayat ini memang ibarat magic sekali. Dulu saat memaknai kitab paling suka saat mendengar arti jawa pegon “bismallah” sebagai pembuka mengaji kitab kuning. “Bismillahi kelawan nyebut asma Allah, Arrohmani kang welas asih ingdalem donyo lan akherat, Arrohimi kang welas asih ingdalem akhirat beloko.” Semoga kita tidak pernah lupa sekalipun membaca bismallah setiap langkah kita. Agar Allah SWT menjadi satu-satunya tujuan hidup. Wallahu a’lam bish shawab. []