Muslim Indonesia di Hari Natal

0
Kampusdesa.or.id–Sejak menginisiasi perjumpaan Natal damai di tahun 2017 bersama Gusdurian Malang, kehadiran saya di gereja seperti rumah baru bagi ke-Indonesiaan saya. Setelah kunjungan Natal damai tempo itu, ketakutan saya dan sak-wasangka tentang kristen tidak ada lagi. Keimanan tanpa rasa takut menjadi momen baru. Gereja tidak lagi berjarak bagi saya. Meskipun saya muslim, tidak ada perasaan curiga dan friksi batin yang sudah biasa menjadi hoaks keimanan, manakala banyak orang muslim yang masih berjibaku dengan metanarasi prasangka, minorisasi iman dengan cara pandang melainkan. Kristen bagi saya adalah bagian dari suara yang dapat saya maklumi bahwa setiap manusia selalu punya cara beriman dengan horison kehidupannya. Dengan demikian bagi saya gereja adalah rumah kehidupan bagi orang-orang yang meyakini bahwa ketuhanan adalah jalan dan pilihan tanpa penyeragaman. Rasa takut dengan konstruksi iman yang melainkan menjadi pupus bagi cara pandang saya. Di situ saya merasa lebih dewasa dalam melihat gereja dan keindonesiaan saya. Sudah sekian kali saya menerima undangan dalam perhelatan perayaan Natal di gereja. Temasuk Natal di tahun 2025 ini. Saya menerima secara resmi di dua gereja. Gereja Kristen Jawi Wetan di Lawang dan Kedungkandang. Karena waktunya berbarengan, saya memilih hadir di perayaan Natal GKJW Lawang. Sudah kesekian kalinya saya hadir di jemaat Lawang. Bagi mereka kehadiran saya yang muslim dan kebetulan saya juga mereka anggap bagian dari Nahdlatul Ulama Kota Malang, mereka merasa kehadiran ini melengkapi sudut pandang mereka untuk menciptakan representasi toleransi beragama tidak saja sebagai pribadi. Mereka menjadikan perspektif keterwakilan bahwa orang-orang NU adalah pribadi yang mampu mewakili warna yang menerima keberagaman sebagai entitas keindonesiaan. Ketika kami saling hadir, identitas agama adalah warna yang menyatu dalam memahami keniscayaan kami bahwa hubungan persaudaraan menjadi bagian dari perasaan gembira karena dapat saling menghadiri perayaan hari suci antara kita. Identitas kami tidak rapuh karena satu dengan yang lain dapat saling menghargai. Penghargaan ini tembus karena kami merasa terhubung dalam hubungan pertemaan dan persaudaraan melampaui batas eksklusif cara beriman.

Mudah Tapi Perlu Latihan

Alkisah, ada seorang sarjana pendidikan agama Islam dan sedang menempuh paska sarjana sedang melakukan riset tentang hubungan lintas agama pada Forum Komunikasi antarUmat Bergama (FKAUB) Malang Raya bertanya kepada saya. “Menurut bapak, bagaimana kita makan dari menu yang mereka sajikan ini?” Padahal dia sudah sering keluar masuk di lingkungan gereja Katolik karena sebagian besar rapat dan pertemuan FKAUB sering menggunakan ruang pertemuan di gereja tersebut. Sebelum acara atau setelah acara rapat, kami biasanya menikmati jamuan dari gereja. Saya terkejut dalam hati. Bagi saya, pikiran tersebut sudah tidak muncul. Apakah karena saya sering mengalami jamuan tersebut sehingga tidak berpikir dan khawatir. Namun, saya sudah pernah mendengar dari sebagian umat Konghucu dan yang lain, mereka mengatakan jamuan makan yang tersaji untuk lintas agama, mereka memahami batasan halal dan haram bagi kaum muslim. Suatu contoh di Klenteng, mereka memastikan ketika menjamu orang muslim, menunya seputar soto daging ayam atau sapi dan sajian yang umum boleh  (halal) bagi orang muslim. Pengalaman ini saya ceritakan ke si dia tadi bahwa bagi mereka sudah memahami batasan mengenai yang boleh dan tidak bagi orang muslim. Artinya, kisah tersebut mengandaikan proses dialog penting yang muncul secara informal mengenai batasan antara aku dan kamu dalam hubungan lintas agama.
Namun, saya sudah pernah mendengar dari sebagian umat Konghucu dan yang lain, mereka mengatakan jika jamuan makan yang disajikan untuk lintas agama, mereka memahami batasan halal dan haram bagi kaum muslim.
Baca juga: Menyaudara Melampaui Toleransi: Menggali Jejak Gus Dur di Malang Saya tidak lagi merisaukan hal demikian, tetapi bagi anak muda tersebut yang baru dan belum pernah mendapatkan dialog-dialog lintas batas tersebut, keragu-raguan menjadi awal dari mendapatkan jawaban tentang batas-batas yang diolah dalam kesadaran kritis. Hari ini, bagi saya hal demikian tidaklah menjadi kekhawatiran saya. Hal tersebut menjadi kesadaran baru saya bahwa keumuman tentang kekitaan sudah dipahami bagi agama-agama yang lain. Meski tidak lengkap, masing-masing dari kami dapat bisa saling mengonfirmasi untuk saling memahami dan memberitahu mengenai batasan praktik beragama diantara kami. Bahkan, saya sering meminta tempat sholat di lingkungan gereja tersebut ketika waktu maghrib atau waktu lain yang mengharuskan saya sholat. Hal ini saya lakukan karena saya yang butuh dan saya tidak menunggu pemakluman atas waktu sholat itu dari teman-teman agama lain. Saya harus asertif dan tetap berada dalam dialog interpersonal yang tidak berjarak. Keragu-raguan dapat teratasi.
Artinya kehadiran dalam hubungan lintas agama membutuhkan relasi dan komunikasi yang menuntut kedewasaan ini untuk melampaui identitas kedalam hubungan bebas konflik dan prasangka.
Saya perlu sampaikan lagi saat di sebuah pertemuan di lingkungan gereja Katolik, saya meminta seorang romo tempat sholat. Romo tersebut juga agak kebingungan. Saya segera menimpali, tunjukkan saya ruangan dan saya akan sholat di situ. Tentang ini dan itu menjadi urusan saya. Selesailah persoalan. Kadang saya juga sering prepare sajadah sebagai solusi. Hal demikian bagi saya sudah terbiasa. Jika saya tidak diperhatikan terkait dengan kepentingan sholat, maka saya harus punya solusi dan tidak menghakimi dalam berbagai prasangka yang mengerdilkan hubungan tersebut kedalam masa lalu cara pandang saya tentang aku dan yang lain. Ini adalah modal bagi saya untuk dapat menyelesaikan pokok iman saya dan tempat kehadiran saya dalam ruang perbedaan agama. Artinya kehadiran dalam hubungan lintas agama membutuhkan relasi dan komunikasi yang menuntut kedewasaan ini untuk melampaui identitas kedalam hubungan bebas konflik dan prasangka. Jika hal ini tidak diolah, kita belum cukup untuk dewasa atas nama perbedaan agama. Kesadaran ini sebenarnya mudah kalau pergaulan mendalam dapat dirajut dalam pengalaman yang mendalam juga dalam hubungan lintas-agama. Hal ini tidak juga mudah di kalangan orang-orang NU. Tidak semua dapat menerima keterbukaan tersebut, bahkan bagi sosok-sosok yang alim di NU. Saya pun tidak begitu banyak mendapat teman di NU yang turut hadir dalam perjumpaan dari dalam gereja tersebut. Bahkan saya cenderung masih seorang diri ketika mendapat undangan perayaan Natal tersebut. Hanya orang-orang NU khusus yang sudah punya pengalaman demikian yang bisa hadir dalam jamuan-jamuan hari Natal tersebut. Hanya teman-teman NU yang masuk dalam jejaring FKAUB dan lintas agama aktif, termasuk kalangan muda NU yang sering mengikuti kegiatan Gusdurianlah, teman GP Anshor, perwakilan UDARTA Pasuruan (Pondok Ngalah) yang seringkali saya temukan dan menjadi kebiasaan mereka dengan bebas friksilah yang dapat menerima pengalam tersebut. Artinya, pengalaman menjadi bagian penting untuk menerima sejenis kesanggupan hadir dalam jamuan-jamuan di tempat ibadah seperti hadir dalam perayaan Natal.

Natal Mereka adalah Muslim Saya

Saya memaknai kemampuan tersebut sebagai bagian penting pengalaman kemusliman saya. Ada ruang kesadaran antah-berantah yang memang terasa kontradiksi diantara kecemburuan, sak-wasangka, dan negasi keimanan yang tetap tersisa. Suatu contoh bahwa saya dimanfaatkan atau saling memanfaatkan. Kecurigaan di sana-sini yang menjadi narasi bagi orang muslim lain yang menganggap hal ini telah melampaui batas. Bahkan saya pun pernah ditegur dari kalangan orang NU terkait kegiatan kunjungan ke tempat-tempat ibadah di luar Islam sebagai kegiatan yang melampaui batas. Tetapi saya teringat selalu dengan Gus Dur yang sudah berani membebaskan diri dari kerancauan prasangka tersebut. Gus Dur menempatkan perbedaan tersebut dalam kerangka kewarganegaraan yang setiap orang wajib menghormati pilihan dan perbedaan. Gus Dur menghargai dalam kerangka konstitusional warga Indonesia. Justru hal ini memperkuat bahwa seorang muslim perlu belajar mendewasakan diri dalam mewarnai berbagai penghargaan sesama warga negara Indonesia. Baca juga: Barikan Anak Nusantara ke-3: Merajut Persaudaraan Sejati di Malang Ketika representasi muslim saya dilihat sebagai simbol bagi usaha merepresentasikan kemampuan hadir dalam cermin hubungan toleransi, maka undangan dari orang Kristen saya terima sebagai bagian dari menghargai kebutuhan saling merawat perbedaan. Saya menjadi muslim dengan kesadaran ke-Indonesiaan. Oleh karena itu saya membutuhkan perspektif yang lebih luas guna membuat identitas saya tidak saklek dan dibatasi dengan pembeda-pembeda agama. Cara demikian bagi saya memberikan pengalaman baru bahwa interaksi lintas agama tidak semata sebuah hubungan yang berjarak. Sebagai seorang muslim, gereja bukanlah tempat yang saya lihat dalam narasi yang berjarak, tetapi saya tempatkan sebagai bagian penting perkenalan saya tentang hakikat perbedaan. Saya menjadi tahu cara mereka beriman. Saya menjadi asertif atas apa yang mereka tidak tahu tentang kemusliman saya dan dengan tanpa jarak ini saya dapat menyampaikan iman yang berbeda sekaligus tanpa membeda-bedakan, apalagi menghakimi mereka dengan keimanan saya. Oleh karena itu, apapun yang disucikan mereka adalah buah dari pengetahuan saya tentang orang lain dalam kesatuan identitas keagamaannya. Inilah yang melengkapi kesadaran kritis saya dalam menerima perbedaan agama.
Saya menjadi asertif atas apa yang mereka tidak tahu tentang kemusliman saya dan dengan tanpa jarak ini saya dapat menyampaikan iman yang berbeda sekaligus tanpa membeda-bedakan, apalagi menghakimi mereka dengan keimanan saya.
Natal mereka adalah muslim saya bermakna perhatian dan kepedulian saya sebagai seorang muslim untuk menerima Natal sebagai penghargaan kesucian mereka. Termasuk bagian dari media orang lain yang beriman Kristiani untuk menjadikan hari Natal sebagai bagian dari cara mereka berbahagia dalam iman. Ini juga terjadi pada saya yang menjadikan hari raya idul fitri sebagai hari kegembiraan atas kemenangan diri menjadi manusia yang beriman. Natal mereka adalah muslim saya menjadi bagian dari upaya saya menjalin hubungan silaturahim dengan memberikan penghormatan atas kepentingan orang lain. Bukankah hal ini kita bangun untuk menjaga kohesi sosial dalam kehidupan yang beraneka ragam, bahkan hal ini juga menjadi cara kita berjuang untuk menjaga Indonesia. Bagi saya ini adalah ibadah. Sejauh neraca kebaikan adalah niat suci bagi masing-masing agama untuk mengundang dalam perayaan hari suci, maka sudah sepatutnya bingkai kohesi sosial menjadi bagian niat menjaga Indonesia. Baca juga: Balewiyata dan Gus Dur; Situs Toleransi Malang yang Perlu Dirawat

Nukilan Akhir

Natal mereka adalah muslim saya bergerak dalam kesadaran kebudayaan, melampaui dari entitas keagamaan semata. Sebagai seorang muslim Indonesia, saya belajar bahwa perayaan agama-agama bukan semata-mata tentang keimanan yang membatasi sekat-sekat identitas ekslusif. Sebagian ekspresi keagamaan mereka menyumbangkan bahasa kebudayaan dengan kepemilikan nilai bersama. Tidak hanya pada tingkat mengucapkan selamat hari raya Natal, dan lainnya, tetapi interaksi perjumpaan dalan berbagai ruang di latar tempat ibadah pun dapat kita tempatkan sebagai reproduksi hubungan kebudayaan baru di Indonesia. Inti suci dari interaksi ini merupakan kreasi budaya yang bernilai adiluhung. Tidak perlu ditafsirkan yang diframing dalam penajaman konflik. Kita membutuhkan pemankaan ulang bahwa perjumpaan Natal demikian adalah buah dari kesadaran kita untuk menjadikan hubungan lintas-agama ini sebagai parktik berbudaya yang tumbuh dalam kesadaran kolektif. Dengan demikian, jamuan perayaan Natal yang mengundang berbagai perwakilan agama-agama selalu bisa kita tempatkan kedalam reproduksi kebudayaan bukan kedalam tafsir keimana eksklusif yang ujung-ujungnya bernada ekstrim gaya baru. Wallahu a’lam bi al-shawab Joyogrand Malang Minggu, 28 Desember 2025

UNICEF Dorong Penguatan Muatan Pemberdayaan dalam Pendidikan Kesetaraan Paket C

Kampusdesa.or.id–Pendidikan Kesetaraan Paket C merupakan jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan untuk memberikan layanan pembelajaran setara Sekolah Menengah Atas bagi masyarakat yang menempuh pendidikan di luar sistem formal. Keberadaan Paket C selama ini menjadi bagian penting dalam upaya memperluas akses pendidikan, khususnya bagi murid yang memiliki pengalaman belajar dan latar belakang sosial yang beragam. Dalam konteks tersebut, Pendidikan Kesetaraan tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh ijazah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang berperan dalam membangun kapasitas murid. Seiring dengan perkembangan kebijakan pendidikan, perhatian terhadap kualitas pembelajaran di Pendidikan Kesetaraan terus diperkuat. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah penguatan Muatan Pemberdayaan sebagai bagian dari kurikulum Paket C. Muatan ini diarahkan untuk mendukung murid dalam mengembangkan keterampilan, membangun kepercayaan diri, serta memahami peran mereka dalam kehidupan sosial. Pendekatan ini menempatkan pembelajaran tidak hanya sebagai proses akademik, tetapi juga sebagai proses pengembangan diri murid. Pendidikan Kesetaraan dan UNICEF Upaya penguatan Muatan Pemberdayaan tersebut mendapat dukungan dari United Nations Children’s Fund atau UNICEF Indonesia yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. UNICEF mendukung pengembangan dan penyempurnaan Modul Pemberdayaan Remaja untuk Pendidikan Kesetaraan Paket C sebagai bagian dari program peningkatan kualitas pendidikan nonformal. Dukungan ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan, salah satunya pelaksanaan lokakarya konsultatif untuk meninjau dan menyempurnakan modul pembelajaran. Sebagai bagian dari proses tersebut, UNICEF Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Konsultatif dan Uji Keterbacaan Modul Pemberdayaan Remaja untuk Pendidikan Kesetaraan Paket C pada 16 sampai 17 Desember 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di Swiss Belhotel Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Lokakarya ini melibatkan unsur pemerintah, akademisi, pendidik, serta perwakilan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan Sanggar Kegiatan Belajar dari berbagai wilayah. Baca juga: Pasar Ramadhan PKBM Bestari, Modal Memberdayakan Peserta Didik Dalam kerangka acuan kegiatan yang disusun UNICEF, Pendidikan Kesetaraan dipandang sebagai jalur pembelajaran yang dirancang fleksibel untuk menjangkau murid yang melanjutkan pendidikan di luar sistem formal. Murid Paket C memiliki latar belakang usia, pengalaman belajar, dan kondisi sosial yang berbeda. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang agar mudah dipahami, relevan dengan kehidupan sehari hari, serta dapat diterapkan dalam berbagai konteks pembelajaran pendidikan nonformal. Muatan Pemberdayaan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Melalui muatan ini, murid diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, mengekspresikan gagasan, serta terlibat dalam pembelajaran yang mendorong pemecahan masalah. Pembelajaran diarahkan agar murid tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar melalui diskusi, kerja kelompok, dan refleksi pengalaman. Pendekatan ini memberi ruang bagi murid untuk memahami diri dan lingkungannya.

Muatan Pemberdayaan dan Kebijakan Nasional

Pengembangan Muatan Pemberdayaan selaras dengan kebijakan nasional sebagaimana tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Nomor 46 Tahun 2025. Dalam bagian Capaian Pembelajaran Muatan Pemberdayaan, Pendidikan Kesetaraan diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki kemampuan mengelola diri, bekerja sama, serta berperan dalam lingkungan sosial. Capaian pembelajaran tersebut menjadi rujukan dalam penyusunan modul dan pelaksanaan pembelajaran Paket C. Lokakarya Konsultatif dan Uji Keterbacaan yang difasilitasi UNICEF menjadi forum untuk menelaah kesesuaian Modul Pemberdayaan Remaja dengan capaian pembelajaran tersebut. Dalam kegiatan ini, peserta melakukan kajian terhadap struktur modul, alur pembelajaran, kegiatan inti, serta bentuk penilaian. Aspek keterbacaan bahasa dan kemudahan penggunaan juga menjadi perhatian agar modul dapat digunakan secara efektif oleh pendidik di lapangan. Selain itu, proses lokakarya juga menelaah kesesuaian modul dengan kerangka kurikulum Paket C serta kebutuhan murid Pendidikan Kesetaraan. Diskusi dilakukan untuk memastikan bahwa modul mampu mendukung pembelajaran yang inklusif dan dapat diakses oleh murid dengan latar belakang yang beragam. Dengan demikian, modul diharapkan dapat menjadi panduan pembelajaran yang aplikatif dan relevan. Baca juga: Menjaga Tradisi dan Budaya tanpa Melukai Keimanan Bagi pendidik, Modul Pemberdayaan Remaja berfungsi sebagai acuan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran Muatan Pemberdayaan. Modul ini membantu pendidik menyusun kegiatan belajar yang terarah, namun tetap memberi ruang penyesuaian sesuai dengan kondisi murid dan satuan pendidikan. Pendekatan ini mendukung pembelajaran yang partisipatif dan mendorong keterlibatan aktif murid. Penguatan Muatan Pemberdayaan juga mencerminkan upaya peningkatan kualitas Pendidikan Kesetaraan secara berkelanjutan. Pendidikan nonformal diposisikan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki peran penting dalam menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan formal. Oleh karena itu, peningkatan mutu pembelajaran menjadi perhatian dalam pengembangan Pendidikan Kesetaraan Paket C.
Paket C tidak hanya dipahami sebagai jalur alternatif untuk memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mendukung pengembangan kapasitas dan kemandirian murid.
Melalui dukungan UNICEF, Pendidikan Kesetaraan Paket C diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang relevan dan bermakna bagi murid. Paket C tidak hanya dipahami sebagai jalur alternatif untuk memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mendukung pengembangan kapasitas dan kemandirian murid. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat peran Pendidikan Kesetaraan dalam mendukung pembelajaran sepanjang hayat. Penyelenggaraan Lokakarya Konsultatif dan Uji Keterbacaan Modul Pemberdayaan Remaja menunjukkan komitmen bersama antara UNICEF dan pemerintah dalam memastikan kualitas pembelajaran pendidikan nonformal. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses ini menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi kebijakan di tingkat satuan pendidikan. Dengan penguatan Muatan Pemberdayaan, Pendidikan Kesetaraan Paket C diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga mendukung pengembangan diri murid. Pendekatan ini memperkaya makna belajar dan memperkuat posisi pendidikan nonformal sebagai bagian penting dalam pembangunan pendidikan nasional.

KATI; Eduwisata Berbasis Kecerdasan Alam di Malang

Kampusdesa.or.id–Semesta Mengabdi” DEMA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi aksi nyata gerakan mahasiswa sejak 17 Agustus 2025 di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Fiqhan, Menteri Desa dan Lingkungan Hidup DEMA menemukan tantangan sekaligus harta karun tersembunyi. Gerak ini melahirkan Kampus Alam Tegalsari Indonesia (KATI), semangat edukasi dan kolaborasi pembelajaran berbasis alam. Cara ini mengembalikan kecerdasan alam dan semangat konservasi orang desa yang mulai tergadaikan oleh cara hidup baru. Sidodadi adalah desa dengan kekayaan alam dan budaya yang kuat, namun menghadapi ancaman ekologis yang serius, seperti pendangkalan sungai, banjir tahunan, dan erosi. Alih-alih memilih jalan pintas melalui wisata massal yang berpotensi merusak lingkungan dan melemahkan peran masyarakat, tim pengabdian memilih pendekatan yang revolusioner.

Pendekatan Revolusioner: Eduwisata Berbasis Konservasi

Kami merancang program dengan menggunakan metode ABCD (Asset-Based Community Development), sebuah filosofi pengabdian yang berfokus pada penggalian potensi komunitas lokal. Fiqhan menegaskan, tujuannya bukan menjadikan masyarakat sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku utama dalam model eduwisata berbasis konservasi. Puncak dari rangkaian program Semesta Mengabdi ini adalah peresmian Kampus Alam Tegalsari Indonesia (KATI). Ini bukanlah kampus konvensional. KATI adalah kampus alam tanpa dinding yang menjadi manifestasi nyata dari tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian) yang sepenuhnya berorientasi pada konservasi. Baca juga: Anak-anak Dusun Sempu Belajar Budidaya Ikan Lele dari Galon Bekas Konsep KATI sangatlah radikal dan visioner, sebagaimana berikut ini yakni;
  • Alam sebagai ruang belajar: kami menggeser ruang kelas tradisional menjadikan kelas alam Sidodadi sebagai sumber kurikulum dan lokasi pembelajaran utama.
  • Masyarakat sebagai dosen: Kati mengakui pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat adalah guru, dosen, pengajar utama yang mereka juga memiliki kuasa mentransfer kecerdasan alam kepada generasi baru.
  • Aksi konservasi sebagai laboratorium ilmiah: Setiap kegiatan pelestarian dan penanaman langsung di lapangan berfungsi sebagai laboratorium nyata untuk penelitian dan pengujian ilmiah.

KATI dengan demikian dapat menjadi pusat riset lapangan, pengabdian jangka panjang, dan model kampus alternatif yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Kati memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengasah kecerdasan alam mereka. Kati menampung berbagai peran kolaborasi dari lembaga pendidikan lain, seperti sekolah, perguruan tinggi, atau para pegiat alam untuk menjadi mitra pembelajar.

Capaian dan Proyek Masa Depan KATI: Ruang Belajar Generasi Baru

Dalam kurun waktu empat bulan pengabdian, tim Semesta Mengabdi menghasilkan capaian konkret yang menjadi fondasi operasional KATI dan dampaknya di masyarakat. Capaian ini tidak hanya berbentuk konsep, tetapi aksi nyata berbasis data lapangan. Melalui program bidang pendidikan, seperti ekstrakurikuler konservasi alam di SMP PGRI 04 Gedangan, Kati mengajarkan dasar ekologi, pemetaan sungai, observasi lapangan, hingga pembuatan bank bibit mangrove di sekolah. Melalui KATI dan kecerdasan alam generasi muda Sidodadi melatih dirinya sendiri berkomunikasi secara global dan mengangkat sumber daya alam mereka. Cara belajar demikian menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan berbasis komoditas hayati—menjaga alam sambil membangun masa depan.
Ekstrakurikuler konservasi alam di SMP PGRI 04 Gedangan, diajarkan dasar ekologi, pemetaan sungai, observasi lapangan, hingga pembuatan bank bibit mangrove di sekolah

Visi Jangka Panjang: Dari Desa ke Laboratorium Nasional

Sebagaimana Mahpur, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggarisbawahi, KATI adalah wadah berdaya masyarakat dan dapat menjadi tempat Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) unggulan UIN Malang. Baca juga: SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk Di masa depan, KATI akan berkembang menjadi pusat konservasi dan pendidikan lingkungan jangka panjang. Fiqhan dan tim berkomitmen untuk mengembangkan kelas alam, laboratorium sungai, pelatihan riset desa, serta program eduwisata konservasi yang melibatkan masyarakat secara penuh. KATI adalah model kampus masa depan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi pada pengalaman nyata di alam. Peresmian KATI adalah puncak dari sebuah pengabdian dan awal dari komitmen baru untuk menjadikan Sidodadi sebagai desa konservasi yang mandiri dan berkelanjutan. Kunjungi dan jadilah bagian dari revolusi belajar tanpa dinding ini!

Anak-anak Dusun Sempu Belajar Budidaya Ikan Lele dari Galon Bekas

Malang, 19 Oktober 2025 | Kampusdesa.or.id – Anak-anak Dusun Sempu latihan budidaya ikan lele melalui pendampingan dosen dan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tim Qoryah Toyyibah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menghadirkan inovasi pembelajaran kontekstual di SDN 03 Gadingkulon, Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Pada Minggu, 19 Oktober 2025, tim melaksanakan kegiatan pembelajaran budidaya ikan lele dengan memanfaatkan galon bekas, sebagai bentuk edukasi kreatif bagi anak-anak desa sekaligus langkah konkret pemberdayaan lingkungan sekolah yang telah lama terbengkalai. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut program revitalisasi aset publik yang telah berjalan sejak pertengahan tahun. Melalui kolaborasi dengan komunitas Pesona Anak Bangsa (PAB) dan Kementrian Desa dan Lingkungan DEMA UIN Maulana Malik Ibrahim MALANG serta dukungan penuh dari perangkat desa, pembelajaran berbasis praktik ini melibatkan tujuh anak dari tingkat SD dan SMP dengan suasana penuh semangat dan keceriaan. Baca juga: Semarak Kemerdekaan, Tim Qoryah Toyyibah UIN Malang Hidupkan Kembali SDN 03 Gadingkulon Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajarkan langkah-langkah sederhana membuat kolam mini dari galon air bekas. Mereka belajar melubangi galon untuk sirkulasi udara, mencuci wadah, mengisi air bersih, hingga menyiapkan tempat bagi bibit ikan lele yang baru datang dari peternak lokal.

Belajar Otentik, Bukunya Pengalaman Langsung

“Ide ini muncul karena ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tetapi juga mengajarkan anak-anak tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian melalui kegiatan nyata,” ujar Fiqhan Khoirul Álim, salah satu fasilitator kegiatan. Setiap anak mendapatkan satu galon berisi sekitar 50 bibit ikan lele yang menjadi tanggung jawab pribadi mereka. Mereka juga membuat jadwal harian pemberian pakan pagi dan sore yang akan mereka tandai sendiri di buku catatan.
Proses pembelajaran berlangsung interaktif. Anak-anak tidak hanya mempraktikkan teknik dasar budidaya, tetapi juga diajak memahami logika perhitungan matematis di balik pengukuran berat dan jumlah bibit ikan.
Proses pembelajaran berlangsung interaktif. Anak-anak tidak hanya mempraktikkan teknik dasar budidaya. Mereka juga memahami logika perhitungan matematis di balik pengukuran berat dan jumlah bibit ikan. Mereka tampak antusias, bahkan berlomba-lomba membantu teman yang kesulitan saat memindahkan bibit lele ke galon masing-masing. “Awalnya kami kira cuma belajar teori. Ternyata benar-benar langsung praktik, bahkan bisa pegang ikan lelenya,” ujar salah satu peserta dengan gembira. Ketua RT setempat turut yang membantu penyediaan bahan dan alat sederhana untuk melubangi galon. Ia mengapresiasi ide pembelajaran ini karena tidak hanya menghidupkan kembali aset sekolah. Pembelajaran ini mengajarkan anak-anak pentingnya memanfaatkan sumber daya sekitar secara bijak.

Membangun Ekosistem Edukatif, Melawan Kesepian

Selain memperkenalkan konsep urban farming, kegiatan ini juga menjadi langkah awal menuju terbentuknya ekosistem lingkungan edukatif di sekitar sekolah. Sebelumnya, area tersebut telah dimanfaatkan warga untuk menanam cabai, terong, dan bawang. Dengan hadirnya kolam lele mini, kawasan sekolah kini menjadi laboratorium kecil yang hidup dan bermanfaat.
Manyingarri Alfianoor Ibrahim, perintis yang menghidupkan SDN Gadingkulon 3 dari kematian
Setelah praktik selesai, anak-anak berdiskusi tentang cara merawat ikan, mengganti air, serta menjaga kebersihan kolam. Mereka juga belajar bahwa ikan lele membutuhkan perhatian dan kedisiplinan, karena jika lalai memberi makan, ikan dapat saling memangsa. Melalui pembelajaran sederhana ini, anak-anak Dusun Sempu tidak hanya belajar ilmu budidaya, tetapi juga nilai-nilai tanggung jawab, kerja sama, dan ketekunan. “Kami ingin kegiatan seperti ini berlanjut, agar sekolah benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak meski tidak lagi aktif secara formal,” tutur Menyingari Alfianoor Ibrahim, koordinator lapangan kegiatan. Program budidaya lele ini menjadi simbol kecil dari gerakan besar revitalisasi SDN 03 Gadingkulon—sebuah upaya nyata mengubah bangunan sepi menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pemberdayaan yang hidup kembali. Penulis: Fiqhan Khoirul Álim. Aktifis pemberdaya masyarakat sekaligus relawan penggerak Kampus Desa Indonesia. Alumni Fellowship Program For Indonesian Youth Villagers Kampus Desa Indonesia

SDN 3 Gadingkulon Bangkit Lewat Sinergi Deep Learning dan Pemberdayaan Masyarakat Desa

0
Kampusdesa.or.id–Malang, 3 Oktober 2025. Tim Pengabdian Qoryah Thoyyibah bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Kawah Chondrodimuko memprakarsai diskusi edukatif bertajuk Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka. Kegiatan ini digelar di SDN 3 Gadingkulon, Kabupaten Malang, sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali sekolah dasar yang sempat vakum kegiatan belajar mengajar selama beberapa tahun.

Atta Fauzi Azizi, salah satu narasumber diskusi, membuka sesi dengan pernyataan yang menggugah kesadaran peserta. “Diskusi ini menjadi ajang untuk tidak hanya memahami kebijakan kurikulum, tetapi juga meninjau bagaimana prinsip Deep Learning bisa diterapkan di konteks nyata. SDN 3 Gadingkulon adalah contoh yang tepat untuk menguji relevansi kurikulum baru dalam kondisi lapangan,” tegasnya.

Baca juga: Semarak Kemerdekaan, Tim Qoryah Toyyibah UIN Malang Hidupkan Kembali SDN 03 Gadingkulon

Pernyataan itu disambut antusias oleh para peserta yang terdiri dari mahasiswa, guru, serta perwakilan masyarakat sekitar. Mereka menilai bahwa konsep Deep Learning—pembelajaran mendalam yang menekankan pemahaman, refleksi, dan aplikasi—sangat relevan diterapkan di sekolah desa yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Deep Learning sebagai Prinsip Pembaruan Pendidikan di Desa

Diskusi kemudian berkembang menjadi ruang eksplorasi ide tentang bagaimana kurikulum baru dapat diadaptasi dalam konteks pendidikan desa. Peserta berpendapat bahwa Deep Learning bukan hanya metode pembelajaran berbasis teknologi, tetapi juga strategi berpikir yang menuntun siswa untuk memahami makna dari setiap proses belajar.

Tim Qoryah Thoyyibah menegaskan bahwa pendekatan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menempatkan murid sebagai subjek aktif dalam belajar. “Kami ingin menunjukkan bahwa sekolah desa pun bisa menjadi pusat inovasi, asal ada sinergi antara masyarakat, mahasiswa, dan pendidik,” jelas salah satu anggota tim.

Baca juga: SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk

PMII Rayon Kawah Chondrodimuko berperan aktif sebagai penggerak kegiatan. Anggota organisasi ini terlibat langsung dalam merancang materi diskusi, menyiapkan perangkat belajar, dan membangun komunikasi dengan warga. Kolaborasi lintas elemen ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan di desa bisa bangkit jika diiringi semangat gotong royong dan keterlibatan komunitas akademik.

Selain membahas teori, peserta juga meninjau langsung kondisi fisik SDN 3 Gadingkulon. Gedung sekolah yang sebelumnya sepi kini mulai berdenyut kembali. Halaman yang sempat ditumbuhi rumput liar kini dibersihkan dan diatur menjadi area belajar terbuka. “Kami ingin menjadikan sekolah ini sebagai ruang kajian, ruang belajar, sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat desa,” kata Atta Fauzi menegaskan arah gerak tim.

Sekolah Desa Sebagai Ruang Pemberdayaan

Kegiatan ini menandai langkah awal dalam menjadikan SDN 3 Gadingkulon sebagai laboratorium sosial pendidikan. Konsep ini tidak hanya menghidupkan kegiatan belajar untuk anak-anak, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan bagi masyarakat sekitar.

Warga desa dapat memanfaatkan ruang sekolah sebagai tempat pelatihan keterampilan, literasi digital, hingga forum musyawarah pembangunan. Tim Qoryah Thoyyibah berkomitmen mendampingi proses ini agar sekolah benar-benar menjadi pusat pengembangan potensi desa.

Baca juga: Hidupkan Aset Komunitas Terbengkalai Melalui Qoryah Toyyibah

“Sekolah ini harus menjadi simbol hidupnya kembali semangat belajar dan gotong royong masyarakat. Pendidikan bukan hanya urusan guru dan siswa, tapi juga seluruh warga desa,” ujar salah satu anggota PMII dengan penuh semangat.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi model nasional bagi revitalisasi sekolah desa. Dengan dukungan kampus, organisasi mahasiswa, dan masyarakat, SDN 3 Gadingkulon diharapkan tumbuh menjadi ruang inovatif yang memadukan pendidikan, riset, dan pemberdayaan.

Melalui kegiatan ini, Tim Qoryah Thoyyibah menunjukkan bahwa Deep Learning tidak hanya berlaku dalam ruang kelas modern, tetapi juga dapat hidup dalam realitas sosial desa. Proses belajar yang mengakar pada kehidupan masyarakat justru menghadirkan pengalaman mendalam—sebuah bentuk nyata dari education for empowerment.

Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan Deep Learning, SDN 3 Gadingkulon kini menapaki babak baru. Sekolah ini tidak lagi sekadar tempat belajar, melainkan simbol kebangkitan pengetahuan di akar rumput yang berdaya, inklusif, dan berkelanjutan.

Penulis: Fiqhan Khoirul Álim

Semarak Kemerdekaan, Tim Qoryah Toyyibah UIN Malang Hidupkan Kembali SDN 03 Gadingkulon

KampusDesa.or.id-Malang, 18 Agustus 2025. Nuansa kemerdekaan 17 Agustus tahun ini terasa berbeda bagi warga Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Sebuah sekolah yang lama terbengkalai, SDN 03 Gadingkulon, kembali hidup dengan tawa anak-anak, antusiasme ibu-ibu, dan semangat kolaborasi lintas komunitas melalui acara Semarak Kemerdekaan 2025. Kegiatan ini digagas oleh Tim Pengabdian Qoryah Toyyibah UIN Malang bersama Kementerian Desa dan Lingkungan Hidup DEMA UIN Malang, dengan dukungan berbagai komunitas sosial. Berlangsung pada 16 Agustus 2025, sehari sebelum upacara kemerdekaan di desa, acara ini menjadi momentum penting untuk menjadikan kembali gedung SDN 03 sebagai pusat kegiatan masyarakat.

Dari Bangunan Sunyi Menjadi Ruang Ekspresi

Sejak resmi ditutup pada 2023 karena kekurangan murid, SDN 03 Gadingkulon lebih sering sunyi dan terbengkalai. Namun, melalui acara Semarak Agustusan, bangunan tua itu mendadak penuh aktivitas. Berbagai stand edukasi dan hiburan digelar, mulai dari ruang cerita, ruang baca, healing art, cek kesehatan gratis, hingga terapi tradisional Bali dan kartu tarot Nusantara.
Iqbal. Anak-anak Gadingkulon diajak bermain cerita ular tangga oleh Mahasiswa Psikologi UIN Maliki Malang
Anak-anak tampak larut dalam kegiatan menggambar bebas di stand healing art dan membaca buku di ruang baca. “Rasanya senang, seperti sekolah lagi tapi lebih seru,” ungkap salah seorang anak desa dengan wajah ceria. Sementara itu, stand kesehatan gratis menjadi daya tarik tersendiri bagi para lansia. Panitia bahkan menjemput warga untuk memastikan mereka bisa mendapat layanan pemeriksaan kesehatan. Baca juga: SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk Meski sempat terkendala karena bertepatan dengan lomba gerak jalan tingkat kecamatan, acara ini tetap berlangsung meriah. Berawal dari anak-anak yang datang, informasi pun menyebar dari mulut ke mulut, membuat jumlah pengunjung semakin ramai menjelang siang dan sore. Ibu-ibu desa menjadi peserta paling antusias ketika senam berhadiah digelar. “Alhamdulillah acaranya seru dan ramai. Sekolah ini adalah sekolah masa kecil kami. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa sering diadakan, agar sekolah ini kembali hidup walau hanya setiap minggu,” tutur salah satu warga penuh harap.

Simbol Kebangkitan Aset Publik

Bagi Tim Qoryah Toyyibah, Semarak Agustusan tidak sekadar perayaan kemerdekaan, tetapi juga simbol kebangkitan aset publik yang lama terbengkalai. Pak Mahpur, ketua tim penabdian  menegaskan bahwa kegiatan ini adalah langkah nyata untuk menghidupkan kembali potensi SDN 03 Gadingkulon. “Sekolah ini berada di lokasi strategis. Sayang jika hanya dibiarkan kosong. Melalui acara ini, kami ingin menunjukkan bahwa aset lama bisa bernyawa kembali bila diisi dengan kegiatan positif,” ujarnya.
Cek kesehatan gratis. Usaha memanfaatkan aset komunitas bermanfaat
Harapan serupa datang dari pemuda desa. Mereka menilai perayaan tahun ini lebih meriah dibanding sebelumnya karena sekolah menjadi tempat pelaksanaannya. Untuk pertama kalinya, warga Dusun Sempu menggelar upacara bendera 17 Agustus di halaman SDN 03 Gadingkulon, sehingga memperkuat simbol bahwa gedung ini mulai hidup kembali dan digunakan untuk berbagai kegiatan yang bermanfaat. Baca juga: Hidupkan Aset Komunitas Terbengkalai Melalui Qoryah Toyyibah “Kami berharap Semarak Agustusan ini menjadi pintu pembuka. Selanjutnya, program-program berbasis pendidikan, literasi, hingga pemberdayaan ekonomi akan terus dilaksanakan di sini,” tutur Alfin Mustikawan. Dengan semangat kebersamaan, acara Semarak Agustusan 2025 berhasil membuktikan bahwa gedung sekolah yang lama sunyi dapat kembali menjadi pusat kehidupan desa. SDN 03 Gadingkulon kini tidak hanya menyimpan kenangan masa lalu, tetapi juga harapan baru bagi warga Dusun Sempu.
Penulis: Fiqhan Khoirul Álim

SDN Terbengkalai Di Tengah Masyarakat Petani Jeruk

KampusDesa.or.id–Malang, 8 Juli2025. Setelah melaksanakan observasi awal terhadap aset terbengkalai berupa SDN 03 Gadingkulon, tim pengabdian masyarakat Qoryah Toyyibah UIN Malang melanjutkan kegiatan dengan pemetaan potensi desa. Program ini dilaksanakan di Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Lingkungan Hidup DEMA UIN Maliki Malang melalui agenda DEMA Mengabdi. Kegiatan pemetaan berlangsung selama 8 hari penuh, mulai 30 Juni hingga 7 Juli 2025, dengan melibatkan 10 orang relawan mahasiswa. Seluruh tim menetap langsung di bangunan SDN 03 Gadingkulon, yang kini sudah tidak beroperasi sejak ditutup tahun 2021. Kehadiran mahasiswa selama sepekan lebih ini memungkinkan mereka untuk berinteraksi intensif dengan warga, mengidentifikasi persoalan, sekaligus menggali potensi lokal yang bisa dikembangkan.

Desa Jeruk dengan Dinamika Sosial yang Khas

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa mayoritas warga Dusun Sempu adalah petani jeruk. Varietas yang banyak ditanam meliputi jeruk siam, keprok, peras, hingga lemon. Sistem pupuk yang digunakan dominan berbasis kimia dengan tambahan rabuk dari kotoran sapi dan sekam. Namun, dinamika harga jeruk seringkali membuat petani rugi. Saat panen raya dengan permintaan rendah, harga bahkan bisa jatuh hingga Rp2.000/kg, membuat sebagian hasil panen dibiarkan membusuk di pohon. Baca juga: Hidupkan Aset Komunitas Terbengkalai Melalui Qoryah Toyyibah Potensi pascapanen sebenarnya sudah beberapa kali disentuh melalui pelatihan olahan jeruk, seperti keripik jeruk. Namun, inovasi itu tidak berlanjut karena dirasa rumit dan kurang diminati. Mayoritas ibu rumah tangga di dusun ini juga terlibat membantu di kebun, sementara anak-anak lebih banyak memilih sekolah swasta, khususnya MI Wahid Hasyim 2. Kondisi ini turut menjadi faktor tutupnya SDN 03 Gadingkulon karena minim murid.
Tim mahasiswa Dema Mengabdi, yang merupakan kolaborator Qoryah Toyyibah sedang berbincang dengan Ketua RT

Potret Kehidupan Sosial dan Keagamaan

Dusun Sempu memiliki kehidupan sosial yang harmonis. Tradisi tahlilan keliling setiap malam Jumat masih terjaga, demikian pula tasyakuran tahunan di tiga lokasi punden yang diyakini sebagai sumber air utama warga. Kegiatan masjid juga rutin, seperti pengajian kitab Riyadhus Shalihin dan istighosah setiap Jumat malam.
Keberagaman tetap hadir dengan sebagian kecil pemeluk Kristen dan Buddha. Masyarakat cenderung terbuka terhadap kegiatan pendatang, meski sempat ada trauma akibat kasus terorisme beberapa tahun lalu.
Meski mayoritas Muslim, keberagaman tetap hadir dengan sebagian kecil pemeluk Kristen dan Buddha. Masyarakat cenderung terbuka terhadap kegiatan pendatang, meski sempat ada trauma akibat kasus terorisme beberapa tahun lalu. Kini, kepercayaan mulai pulih dan interaksi lebih cair.

Pemetaan Lapangan: Dari Rembuk Warga hingga Aksi Bersih Sekolah

Selama delapan hari, tim pengabdian tidak hanya melakukan wawancara dan observasi, tetapi juga tinggal bersama warga, rembuk desa, hingga aksi nyata membersihkan sekolah terbengkalai. Diskusi intensif dilakukan dengan tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga pengurus RT untuk menggali aspirasi warga terkait pemanfaatan gedung sekolah. “Kami berusaha menangkap kebutuhan nyata warga. Rata-rata mereka berharap ada program yang tidak hanya seremonial, tapi berkelanjutan dan bisa memberi dampak ekonomi,” ungkap Menyingari Alfianoor Ibrahim, salah satu anggota tim.
Para aktifis DEMA U UIN Maliki Malang, membahas rintisan merawat SDN Gadingkulon
Pak RT juga menympaikan bahawa harapannya sekolah tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal. Bukan hanya oleh warga saja, namun apabila ada kegiatan yang mengarah pada Pendidikan, kami sangat terbuka sekali untuk adanya hal tersebut. Selain itu, keterlibatan mahasiswa DEMA UIN Malang melalui program DEMA Mengabdi memperkuat kolaborasi. Kementerian Desa dan Lingkungan Hidup DEMA turut berperan dalam menyusun agenda bersama, sehingga program tidak berjalan sendiri, melainkan sinergis antara akademisi dan organisasi mahasiswa kampus.

Harapan Baru dari Aset Lama

Bangunan SDN 03 Gadingkulon kini memang sudah tidak berfungsi sebagai sekolah formal. Namun, gedung ini mulai dimanfaatkan untuk kegiatan bimbingan belajar gratis oleh komunitas Pesona anak bangsa  yang dinisiasi oleh Ibrahim serta ruang bermain anak-anak. Dengan adanya pemetaan potensi, gedung tersebut berpeluang diperluas fungsinya menjadi pusat kegiatan berbasis pendidikan, pemberdayaan, maupun sosial kemasyarakatan. “Warga terbuka terhadap gagasan kami. Asal kegiatan berbasis pendidikan dan tidak mengganggu, mereka siap mendukung. Itu yang membuat kami optimis,” jelas Fiqhan  koordinator lapangan tim pengabdian.

Menuju Program Berkelanjutan

Pemetaan ini menjadi fondasi untuk tahap lanjutan, yakni merancang program pengabdian yang sesuai kebutuhan. Beberapa potensi yang mulai dirancang antara lain: penguatan literasi anak-anak desa, pelatihan ekonomi kreatif berbasis jeruk, serta revitalisasi fungsi sosial gedung sekolah.
Dusun Sempu bisa menjadi laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar sekaligus berkontribusi nyata.
“Harapan kami, Dusun Sempu bisa menjadi laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar sekaligus berkontribusi nyata. Tidak berhenti pada observasi, tapi terus berkembang menjadi program yang memberi manfaat jangka panjang,” tutup Alfin Mustikawan. Dengan selesainya tahapan observasi dan pemetaan, kolaborasi antara Tim Qoryah Toyyibah dan DEMA UIN Malang membuka jalan bagi lahirnya inovasi pengabdian berbasis desa. SDN 03 Gadingkulon yang lama terbengkalai kini diharapkan menjadi pusat kehidupan baru, simbol kebangkitan aset publik, dan ruang kolaborasi antara kampus dengan masyarakat.
Penulis: Fiqhan Khoirul Álim

Sekolah dan Desa di era Antroposen

Kampusdesa.or.id–Ini bukan lagi tentang esok, tapi ini adalah realitas dan bukan lagi soal anak cucu, tapi napas kita sendiri. Tentu kita semua merasakan bahwa akhir-akhir ini hujan yang makin tak menentu, terik matahari yang kian menyengat, kota Malang yang dulu dingin karena dikelilingi pegunungan sekarang sudah menghangat bahkan panas. Antroposen, begitulah para pakar memberi nama situasi dan kondisi yang terjadi hari ini. Sebuah era di mana kerusakan bumi bukan lagi ulah alam, melainkan jejak nyata tangan kita. Kita telah menjadi kekuatan geologis baru, pengubah wajah planet ini, dan sayangnya, bukan ke arah yang lebih baik. Lalu, di tengah semua ini, di antara kepungan masalah yang terasa begitu besar dan jauh, kita sering bertanya, “Dari mana kita harus memulai?” Apakah harus menunggu undang-undang baru yang rumit lahir dari gedung-gedung tinggi, di tengah perdebatan panjang para birokrat? Ataukah kita mesti menanti hasil riset terbaru yang dibahas di meja-meja bundar seminar internasional yang mewah, di mana kata-kata indah seringkali tak berbuah aksi nyata? Tidakkah kita merasa ada sesuatu yang lebih mendasar, lebih jujur, yang berbisik dalam hati kita? Jawaban itu, yang selama ini mungkin kita cari di tempat-tempat jauh, ternyata ada di sini, dekat sekali. Ia ada di senyum polos anak-anak kita yang belajar mengeja huruf di bangku-bangku sekolah sederhana, di tangan-tangan perkasa para petani yang setiap hari menggenggam tanah dan merasakan denyut kehidupan. Di sanalah, di kesederhanaan sekolah dan ketulusan desa, benih kesadaran itu bisa kita tanam, kita sirami, dan kita saksikan tumbuh menjadi hutan aksi nyata. Sebab, jika bukan dari akar rumput, dari mana lagi perubahan sejati akan bermula? Baca juga: Generasi Indonesia atau Generasi Setengah Indonesia Masa depan bumi ini bukan lagi ada di tangan para pemimpin besar saja, melainkan di setiap langkah kecil kita, di setiap sudut kampung halaman, di setiap kelas yang mengajarkan arti sebuah kepedulian. Seperti yang pernah diampaikan Bung Hatta Proklamator kita, Indonesia tidak akan bisa bersinar terang karena mercusuar yang ada di Jakarta, tapi karena cahaya lilin-lilin di desa-desa.
Indonesia tidak akan bisa bersinar terang karena mercusuar yang ada di Jakarta, tapi karena cahaya lilin-lilin di desa-desa
Sekolah, Harapan Masa Depan Pernahkah kita berhenti sejenak dan benar-benar melihat sekolah? Bukan hanya gedung, bukan hanya barisan meja dan kursi. Sekolah adalah rahim tempat tunas-tunas masa depan kita dibentuk. Di sanalah, setiap pagi, mata-mata mungil itu berbinar, siap menyerap apa pun yang kita ajarkan. Jika kita bicara tentang menyelamatkan bumi dari cengkeraman Antroposen, dari mana lagi kita harus mulai menanamkan kesadaran selain di tempat paling awal dan paling suci: bangku-bangku sekolah? Anak-anak kita, mereka bukan hanya sekadar murid; mereka adalah pewaris tunggal bumi ini, arsitek peradaban yang akan datang. Kita harus pupuk kesadaran itu dalam jiwa mereka, tidak hanya agar lestari hari ini, tapi juga berbuah manis hingga berpuluh-puluh tahun ke depan. Bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan pendidikan jika kita menggunakannya untuk menumbuhkan kepedulian yang tulus. Bukan sekadar hafalan teori tentang ekosistem, tapi pengalaman nyata yang menggugah jiwa. Pelajaran sains bisa membuka mata mereka pada fakta-fakta mengerikan: gunung es yang mencair, hutan yang merana, spesies yang punah. Sementara itu, pelajaran etika atau budi pekerti akan melunakkan hati mereka, menanamkan rasa hormat yang mendalam pada setiap bentuk kehidupan. Dari kisah-kisah luhur berbagai budaya, entah itu tentang kearifan menjaga hutan, sungai yang disucikan, atau hewan yang dihormati, kita bisa tunjukkan bahwa menghargai alam bukanlah sekadar tugas, melainkan bagian dari kemanusiaan kita yang paling dalam. Sekolah bisa menjadi panggung di mana inspirasi semacam itu tak hanya dibaca, tapi juga dihidupi dan diwujudkan.

Dari kisah-kisah luhur berbagai budaya, entah itu tentang kearifan menjaga hutan, sungai yang disucikan, atau hewan yang dihormati, kita bisa tunjukkan bahwa menghargai alam bukanlah sekadar tugas, melainkan bagian dari kemanusiaan kita yang paling dalam.

Lebih dari sekadar tempat belajar, sekolah harus menjelma menjadi laboratorium hidup untuk keberlanjutan. Di sanalah, teori berubah dan diterjemahkan menjadi praktik, janji menjadi aksi. anak-anak dengan riang memilah sampah, bukan karena dipaksa, tapi karena mereka mengerti bahwa sisa makanan mereka akan menjadi nutrisi bagi kebun sekolah yang subur. Botol-botol plastik bekas tidak lagi berakhir di tempat sampah, melainkan di tangan-tangan kreatif mereka, disulap menjadi kerajinan yang indah. Setiap lampu yang dimatikan saat tidak diperlukan, setiap keran air yang ditutup rapat, adalah pelajaran tak ternilai yang tertanam dalam kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini, yang terangkai dari ribuan siswa di seluruh penjuru negeri, akan menjadi gelombang perubahan yang tak terbendung. Baca juga: Perempuan dan Kerja Toleransi Namun, semua ini adalah mimpi belaka tanpa peran seorang guru. Guru adalah jantung dari setiap perubahan. Mereka bukan hanya pengajar yang menyampaikan materi, tetapi juga teladan hidup yang menginspirasi. Jika seorang guru menunjukkan kepedulian tulus pada sehelai daun atau setetes air, murid akan meniru. Lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan hemat energi bukanlah sekadar fasilitas, melainkan cerminan peradaban yang kita impikan peradaban yang harmonis dengan alam.

Desa Nafas Kehidupan

Jika sekolah adalah tempat kita menanam benih harapan, maka desa adalah ladang luas yang menguji apakah benih itu benar-benar bisa tumbuh dan berbuah. Di sanalah, di kampung-kampung yang seringkali luput dari perhatian gemerlap kota, kita merasakan langsung betapa rapuhnya keseimbangan alam. Pikirkanlah sejenak: ketika hujan tak lagi turun sesuai musimnya, siapa yang pertama kali merasakan kekeringan pahit di sumur-sumur? Ketika sungai meluap tanpa ampun, siapa yang kehilangan rumah dan mata pencarian? Atau saat tanah longsor menelan pekarangan, siapa yang kehilangan pijakan? Desa-desa kita, sayangnya, seringkali menjadi garda terdepan yang paling perih merasakan akibat dari Antroposen ini. Namun, di balik kepedihan itu, desa menyimpan harta karun yang luar biasa yaitu kearifan dan kekuatan kebersamaan yang tak lekang oleh waktu. Di relung-relung desa, masih banyak “bisikan” leluhur yang tak lekang dimakan zaman. Ada tradisi yang mengajarkan kita untuk bersyukur atas setiap bulir padi, setiap tetes air, dan menjaga kesuburan tanah seolah itu adalah titipan paling berharga. Ada pula kebiasaan untuk tidak sembarangan menebang pohon atau mencemari sumber air, bukan karena takhayul, tapi karena pemahaman mendalam akan pentingnya harmoni dengan alam demi kelangsungan hidup bersama. Ini adalah panduan hidup yang abadi, melampaui sekat keyakinan atau zaman. Sudah saatnya kita tidak hanya mengenangnya, tetapi menghidupkan kembali kearifan ini, menjadikannya lentera di tengah kegelapan krisis modern.
Ada pula kebiasaan untuk tidak sembarangan menebang pohon atau mencemari sumber air, bukan karena takhayul, tapi karena pemahaman mendalam akan pentingnya harmoni dengan alam demi kelangsungan hidup bersama.
Bagaimana desa bisa menjadi cahaya harapan? Dimulai dari sesuatu yang mungkin terlihat sepele remeh temeh yaitu sampah. Bayangkan jika setiap rumah tangga di desa mulai memilah sampahnya, bukan lagi dibakar atau dibuang sembarangan. Sampah yang tadinya musuh, bisa berubah menjadi rupiah yang mengalir ke kas desa atau saku warga. Sisa makanan bisa diubah menjadi pupuk kompos subur untuk kebun sayur kita. Lingkungan bersih, ekonomi berputar, bukankah itu keberkahan yang nyata bagi semua, tanpa memandang siapa pun kita? Lalu, lihatlah tanah kita, sumber kehidupan kita. Dulu, mungkin kita tergiur memakai pupuk kimia yang cepat, tapi perlahan membunuh kesuburan tanah. Sekarang, saatnya kita kembali ke pertanian yang bersahabat dengan bumi, dengan pupuk kompos dari sampah dapur kita sendiri, biarkan tanah bernafas, berikan nutrisi alami. Hasilnya? Pangan yang lebih sehat, tanah yang lestari, dan bahkan peluang pasar baru untuk produk “organik” yang diminati. Ini bukan hanya tentang panen, ini tentang kedaulatan pangan dan kesehatan seluruh keluarga kita di desa.

Sinergi Tiada Henti Sekolah dan Desa

Sekolah dan desa bukanlah dua dunia yang terpisah. Mereka adalah denyut nadi yang sama, saling membutuhkan, saling melengkapi. Bayangkan sebuah pemandangan indah: anak-anak sekolah, dengan mata berbinar dan semangat membara, membawa pulang ilmu tentang merawat bumi ke desa mereka. Mereka mengajak bersama semua orang tua cara mengolah sampah jadi pupuk, menyapa tetangga untuk menanam bibit, atau bahkan menjadi duta kecil yang mengingatkan untuk mengurangi plastik. Di saat yang sama, kearifan nenek moyang di desa, tentang bagaimana menghormati tanah dan air, akan mengalir kembali ke sekolah, menjadi pelajaran hidup yang tak ternilai, jauh lebih berharga dari sekadar teori di buku. Ini bukan lagi soal “mereka” dan “kita”, tapi tentang “kita semua”, sebuah orkestra harmonis yang bersinergi demi satu tujuan: merawat rumah kita bersama.

Hidupkan Aset Komunitas Terbengkalai Melalui Qoryah Toyyibah

KampusDesa.or.id–Malang, 18 Mei 2025 – Tim pengabdian masyarakat Qoryah Toyyibah UIN Malang yang terdiri dari Moh Mahpur, Sugeng Listyo P, Alfin Mustikawan, Fiqhan Khoirul Álim, dan Menyingari Alfianoor Ibrahim melakukan observasi awal di Dusun Sempu, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Observasi ini menjadi langkah pertama dalam rangkaian program pengabdian untuk mengoptimalkan aset publik yang selama ini terbengkalai. Baca juga: Magang Digital Marketing Mengesankan; Belajar Pengembangan Bisnis UMKM KDI Salah satu temuan penting adalah kondisi SDN 03 Gadingkulon, sebuah lembaga pendidikan yang resmi ditutup sejak tahun 2021 karena tidak lagi memiliki murid. Sejak saat itu, bangunan sekolah yang dulunyamenjadi pusat pendidikan dasar masyarakat setempat, kini terbengkalai tanpa pemanfaatan yang jelas.
Diskusi memetakan penggunaan aset komunitas untuk kemanfaatan bersama
Tim Qoryah Toyyibah menilai bahwa aset tersebut masih memiliki potensi besar. Dari hasil pengamatan di lapangan, lokasi sekolah cukup strategis dan memiliki nilai yang dapat dikembangkan kembali untuk kepentingan masyarakat. Selain bangunan fisik yang masih berdiri kokoh, lingkungan sekitar juga mendukung untuk dijadikan pusat kegiatan baru, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun pemberdayaan ekonomi.

Jadikan Aset Komunitas

“Kami melihat bahwa aset yang terbengkalai ini sayang jika dibiarkan begitu saja. Melalui program pengabdian ini, kami ingin menghadirkan gagasan baru agar bangunan sekolah bisa kembali hidup dan bermanfaat bagi masyarakat Dusun Sempu,” jelas Pak Mahpur sebagai ketua tim pengabdian. Observasi ini menjadi pijakan awal untuk merumuskan arah program selanjutnya. Tim akan melakukan pemetaan potensi, diskusi dengan masyarakat, serta penyusunan model pemanfaatan aset agar keberadaannya mampu mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan. Dengan langkah awal ini, diharapkan SDN 03 Gadingkulon tidak lagi sekadar menjadi bangunan kosong, melainkan bertransformasi menjadi pusat aktivitas produktif yang menghadirkan nilai bagi masyarakat sekitar.
Penulis: Fiqhan Khoirul Álim

Magang Digital Marketing Mengesankan; Belajar Pengembangan Bisnis UMKM KDI

Kampusdesa.or.id–Magang di Kampus Desa Indonesia bagi kami selaku mahasiswa STIE Malangkucecwara, merupakan sebuah pengalaman yang mengesankan. Para mentor dari Kampus Desa Indonesia mendapingi kami dengan baik dan ramah. Situasi tersebut menciptakan kenyamanan bagi kami untuk melakukan aktivitas magang di Kampus Desa Indonesia. Kami belajar banyak hal, seperti cara memasarkan produk khususnya di Digital Marketing, sesuai dengan jurusan dan peminatan kami di kampus. Kegiatan magang yang kita lakukan di Kampus Desa Indonesia seperti pengenalan produk, konten produk, dan proses pemasaran secara digital. Dari kegiatan tersebut memberikan pengalaman bagi kami bahwa kerja sama tim adalah hal yang sangat penting. Kita saling membantu satu sama lain untuk menciptakan kreatifitas dalam mempromosikan produk. Dengan demikian kami punya kemampuan mengenalkan produk yang disukai oleh konsumen.

Analisis Pasar dan Ngonten untuk Pemasaran

Selain itu, selama magang di Kampus Desa Indonesia, kami juga belajar bagaimana menganalisis pasar dan memahami kebutuhan konsumen agar strategi pemasaran yang kami terapkan lebih efektif. Kami langsung mengelola akun media sosial, merancang strategi konten, dan mengoptimalkan iklan digital agar produk yang kami pasarkan menjangkau lebih banyak orang. Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan Tidak hanya itu, interaksi dengan para pelaku UMKM di Kampus Desa Indonesia juga membuka wawasan kami tentang tantangan yang mereka hadapi dalam mengembangkan usaha. Kami menerapkan teori yang dipelajari di perkuliahan untuk memberikan solusi, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi dan negosiasi dalam dunia bisnis. Take video. Suasana pengambilan konten di arena kampus STIE Malangkucecwara Pengalaman ini menjadi momen berharga yang memperkaya wawasan dan membangun kepercayaan diri kami dalam menghadapi dunia kerja nyata. Melalui magang di Kampus Desa Indonesia, kami tidak hanya memahami praktik pemasaran digital, tetapi juga menyadari pentingnya strategi yang tepat. Lebih dari itu, kami merasakan betapa kerja sama tim, inovasi, dan semangat untuk terus belajar menjadi kunci keberhasilan. Semua itu membentuk kami menjadi pribadi yang lebih adaptif dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Pengalaman ini sangat berharga bagi kami. Tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga membangun rasa percaya diri dalam menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.

Social Media Analyst

Sebagai social media analyst, kami belajar cara menganalisis performa konten memakai berbagai tools digital. Pada dasarnya kami sudah mempelajarinya di perkuliahan, sehingga kami bisa mengimplementasikan di magang Lembaga Kampus Desa Indonesia. Kami mulai paham bagaimana cara membaca data, mengukur engagement, dan menentukan strategi konten yang lebih efektif berdasarkan insight dari audiens. Ternyata, dunia media sosial tidak hanya soal membuat postingan keren, tapi juga butuh analisis supaya konten yang telah kita buat bisa maksimal. Baca juga: Tuntas; Tiga Puluh Pemuda Desa Dilatih Bermental Wirausaha Kami memilih fokus pada media sosial TikTok karena platform ini sangat digemari oleh Gen-Z dan lintas generasi lainnya. Popularitas TikTok memberikan kemudahan bagi kami untuk memahami strategi promosi yang relevan dan kekinian. Melalui konten yang kreatif dan fitur jual beli yang tersedia, kami mampu menarik pelanggan baru secara lebih efektif. TikTok bukan hanya media hiburan, tetapi juga ruang strategis untuk membangun koneksi pasar dan memperluas jangkauan produk secara dinamis.

Menuai Pengalaman Berharga

Sebulan magang di Kampus Desa Indonesia tidak hanya ngajarin soal digital marketing dan social media analysist, tapi juga melatih skill komunikasi, teamwork, dan problem-solving. Pengalaman ini membuka wawasan kami tentang industri fashion muslim dan bagaimana digital marketing berperan penting dalam keberhasilan suatu brand. Kami merasa lebih siap untuk terjun ke dunia profesional setelah pengalaman magang ini.

Kami belajar bagaimana mengelola media sosial, menganalisis pasar, serta menciptakan strategi pemasaran yang efektif berdasarkan data dan tren yang ada.

Jadi magang di Kampus Desa Indonesia memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga bagi kami, baik dari segi ilmu pemasaran digital maupun pengembangan keterampilan profesional. Kami belajar bagaimana mengelola media sosial, menganalisis pasar, serta menciptakan strategi pemasaran yang efektif berdasarkan data dan tren yang ada. Selain itu, kami juga mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pelaku UMKM dan memahami tantangan yang mereka hadapi dalam mengembangkan bisnis mereka.

Lebih Siap Kerja

Secara keseluruhan, magang ini membuat kami merasa lebih siap untuk terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya. Kami semakin memahami bahwa keberhasilan dalam pemasaran digital tidak hanya bergantung pada strategi yang tepat, tetapi juga kerja sama tim, inovasi, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di industri. Magang di Kampus Desa Indonesia benar-benar menjadi pengalaman yang berharga dan tak terlupakan bagi kami. Kami mahasiswa STIE Malangkucecwara mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada Kampus Desa Indonesia yang telah memberikan kami kesempatan untuk bekerja sama dan berkembang bersama di Kampus Desa Indonesia, dan kita juga berterimakasih kepada mentor mentor yang telah membimbing kita selama satu bulan ini. Semoga ilmu yang telah kita dapat selama magang di Kampus Desa Indonesia ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Kampus Desa Indonesia juga dapat berkembang lebih baik dan lebih luas dan dapat berbagi ilmu kepada semua orang (Afiffa Nadine, dkk).