Didi Kempot dan Fenomena Ambyar

0
252
Didi Kempot (Sumber: https://seleb.tempo.co)

0Shares
0

Didi Kempot, Bapak Sobat Ambyar itu kini telah berpulang. Begitu banyak pesan positif yang ia tinggalkan sebelum kepergiannya. Di masa terakhirnya, ia tetap produktif sebagai seniman dengan menggubah lagu “Ojo Mudik” yang ia dedikasikan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia di tengah pandemi Corona. Tak hanya itu, ia juga melakukan konser amal untuk membantu masyarakat terdampak Corona. Selamat jalan Lord Didi, semoga mendapat tempat terindah di sisi-Nya.

Kampusdesa.or.id-Jagad maya kembali dihebohkan dengan berpulangnya Didik Prasetyo atau yang karib kita kenal dengan nama Didi Kempot. Penyanyi campursari legendaris ini meninggal kemarin pagi di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020) pukul 07.30 WIB, akibat serangan jantung.

Nama Didi Kempot kembali viral lantaran lagu-lagunya kembali menghiasai urutan teratas tangga lagu Indonesia. Meski lagu-lagunya menggunakan bahasa Jawa, tapi yang mendengarkan bukan saja masyarakat Jawa. Melainkan sudah seluruh Indonesia. Bahkan, masyarakat etnis Jawa yang menjadi warga negara Suriname juga merupakan penggemar beratnya.

Kembali viralnya lagu-lagu penyanyi kelahiran Surakarta ini karena dianggap mewakili perasaan kawula muda saat ini yang memang gampang “ambyar” seperti judul salah satu lagunya, yaitu Ambyar.

Sejak itulah, muncul tagar #SobatAmbyar di media sosial. Rata-rata yang menghadiri konser Didi Kempot bukan lagi generasi 80an, tapi anak-anak generasi akhir 90an dan awal 2000an yang usianya belasan dan awal duapuluhan tahun. Para penggemar itu menyebut diri mereka Sad boy untuk yang laki-laki dan Sad girl untuk yang perempuan.

Tak berhenti di situ, Didi Kempot kemudian mendapatkan predikat sebagai Godfather of Broken Heart. Hal ini bukan tanpa sebab, lihat saja lirik lagu-lagu Didi Kempot memang kebanyakan tentang patah hati. Yang, lagi-lagi, khas anak muda.

Sebagaimana dikutip Kompas, ia pernah menyatakan,“Kayaknya kalau ngambil lagu tema-tema semacam gitu, itu untuk booming-nya lebih cepat karena banyak yang mengalami patah hati daripada yang tidak.”

Memang benar apa yang dinyatakan Didi Kempot tersebut. Lagu-lagu dengan lirik yang menyayat nyatanya memang cepat viral di kalangan penikmat musik Indonesia. Terutama kawula muda. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh makin rentannya para pemuda zaman sekarang mengalami guncangan kejiwaan. Terutama kesedihan akibat patah hati.

Tentu ada banyak hal yang menjadi penyebabnya. Seperti perundungan, narkoba, gaya hidup, pergaulan, percintaan, dan banjir informasi di media sosial. Tak jarang kita dengan berita remaja bunuh diri akibat putus cinta dengan pacar. Ada pula yang nekat membunuh orangtuanya sendiri lantaran tidak dibelikan motor.

Menurut para psikolog, remaja zaman sekarang memang kurang memiliki ketangguhan dalam menghadapi kemalangan. Hal ini berdampak ketika mereka dihadapkan dengan persoalan hidup yang agak rumit dan menyedihkan, mereka rentan putus asa dan depresi berlebihan. Pendidikan dan pola asuh tentu amat berperan di sini.

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie“Berkat kehadiran kembali Didi Kempot di pentas permusikan tanah air, lagu-lagu campursari yang kental nuansa Jawanya itu kembali mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia”

Berkat kehadiran kembali Didi Kempot di pentas permusikan tanah air, lagu-lagu campursari yang kental nuansa Jawanya itu kembali mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Genre campursari yang sudah lama tenggelam, kembali bertengger di tangga lagu favorit. Lagu-lagu Didi Kempot juga banyak di-cover para Youtuber generasi milenial. Kemudian muncul banyak penyanyi campursari milenial yang sering kita dengar sekarang.

Tentu hal ini merupakan fenomena positif yang patut dipertahankan dan dilestarikan. Perjuangan Didi Kempot melestarikan salah satu budaya Jawa ini perlu untuk disikapi serius untuk dikembangkan lebih lanjut. Sudah saatnya generasi muda mengambil peran dan tidak larut menggemari budaya luar, tapi abai terhadap budaya sendiri. Globalisasi dan digitalisasi sekarang ini, merupakan peluang sekaligus tantangan yang harus dimanfaat untuk terus menggenjot promosi budaya adiluhung negeri.

Berpulangnya Sang Maestro ini tentu menimbulkan duka mendalam tidak hanya bagi keluarganya. Tapi juga masyarakat Indonesia secara umum. Khususnya para penggemar karya-karyanya. Sosoknya akan terus tinggal di tengah-tengah kita, tapi lalu siapa kira-kira penggantinya? Siapa seniman Jawa yang tidak hanya berkarya menghibur para penikmat musik, tapi juga mau mendedikasikan dirinya melestarikan budaya?

Selamat jalan Didi Kempot, selamat berjmpa dengan Tuhan. Semoga mendapt tempat terindah di sisi-Nya. Semoga kami bisa melanjutkan perjuanganmu melestarikan budaya.