Minggu, Agustus 30, 2026
Beranda blog Halaman 86

Rumah Koran dan Semangat Dosen Kedokteran Unismuh Menyapa Rakyat

0

Hubungan Dokter dengan masyarakat tidak selamanya ada di ruang pengobatan dan pemeriksaan. Mereka bisa mengambil hubungan lebih netral dan produktif melalui kegiatan di masyarakat untuk pendampingan komunitas. Dunia kedokteran dengan begitu tidak melulu mengobati, tetapi mengembangkan kelangsungan hidup masyarakat lebih sehat tanpa menunggu sakit.

MAKASAR-KAMPUSDESA – Sinergi dan kolaborasi adalah fundasi utama untuk membangun negeri. Hal itu telah ditunjukkan oleh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah [FEB Unismuh] Makassar, Agusdiwana Suarni, S.E., M.Acc. dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah [FK Unismuh] Makassar, dr. Dito Anurogo, M.Sc. Keduanya melakukan kunjungan ke kantor Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa pada hari Jumat, 20 April 2018, dalam rangka survei awal program kemitraan masyarakat bertajuk ‘’Melinesia 2018’’.

‘’Melinesia merupakan program-kegiatan komprehensif-kolaboratif di bidang medis, edukasi ekonomi, pemberdayaan [perempuan, anak-anak, komunitas, masyarakat, individu, manusia] dan sebagainya berbasis literasi-riset-teknologi-komunitas yang didanai dari hibah internal Unismuh, buah pemikiran original dari Dito Anurogo,’’ jelas Agusdiwana Suarni. Adapun kunjungan ke kantor Kecamatan Tombolopao ini sebagai tindak lanjut dari surat Ketua LP3M Unismuh Makassar dan surat dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Astan, selaku sekretaris Kecamatan Tombolopao, menerima kunjungan ini. Beliau hadir mewakili Camat Tombolopao, Baharuddin Lewa, S.E. Astan mengaku senang, mengapresiasi, serta mendukung penuh program Melinesia 2018 yang diajukan oleh dosen Unismuh. Dalam audiensi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, disepakati bahwa fokus utama program Melinesia 2018 adalah desa Kanreapia, dengan alasan tingkat kesehatan dan perekonomian di desa tersebut masih perlu dibina dan ditingkatkan lagi.

Desa Kanreapia memiliki luas area 25,83 Km persegi dengan beberapa batas wilayah. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Tonasa. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai. Di sebelah barat dan selatan berbatasan dengan Kecamatan Tinggimoncong.  Jarak Desa Kanreapia menuju Ibukota Kecamatan mencapai 12 Km, sedangkan jarak ke Ibukota Kabupaten dari Desa Kanreapia mencapai 84 Km.

Usai beraudiensi, dosen Unismuh segera mengunjungi Rumah Koran di Desa Kanreapia. Kedatangan dosen Unismuh disambut hangat oleh Jamaluddin, pendiri Rumah Koran. Jamaluddin menjelaskan tentang beberapa program yang dimiliki Rumah Koran, seperti Satu Dusun Satu Rumah Baca, Satu Dusun Satu Toko Tani Organik.

Kebun Markisa yang Terintegrasi dengan Literasi

Peraih penghargaan Pemuda Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2017 di Bidang Pendidikan dari Bupati Gowa itu juga mengajak dosen Unismuh mengunjungi kebun Markisa varietas Malino serta menjelaskan berbagai usaha dan fasilitas yang telah dirintisnya, berupa toko Tani Organik, Wisata Alam [agrowisata kebun Markisa, air terjun Liku Sassang, Gunung Bawakaraeng, Gunung Gundul], sayur organik [kentang, wortel, tomat, sawi, daun bawang, kol, labu siam], homestay, ruang pertemuan, lokasi perkemahan, perpustakaan.

Kunjungan menjadi semakin berkesan saat tuan rumah menyajikan teh hangat beserta kudapan ringan ala Desa Kanreapia, yakni Panada dan ubi goreng. Terlebih lagi saat itu kondisi berkabut dan udara dingin terasa menusuk tulang. Sinergitas yang dipadukan dengan nuansa lokalitas benar-benar menghasilkan mahakarya yang berkualitas

Ayah Memasak di Dapur dan Ibu Membaca Koran?

0

Kartini identik dengan perempuan. Apakah lomba di Hari Kartini justru tidak membebaskan perempuan dari peminggiran ? Atau Hari Kartini sebenarnya jauh memberikan kesadaran bahwa perempuan dan laki-laki perlu dibebaskan dari pembahasaan yang melekat pada alat-alat yang menunjang kehidupan ? Maka tidak ada masalah jika, “Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran kan ?” Tidak juga dianehkan jika terjadi pada pengalaman lain di luar itu, seperti Fatimah bermain bola dan Irsyad memasak rujak.

MASIHKAH ditemui sebuah latihan Calistung, ibu memasak di dapur dan ayah membaca koran? Apa ya kira-kira dasar pembuatan latihan membaca tersebut sehingga diwarisi terus-menerus yang konon, sisanya masih ditemukan di sejumlah mata pelajaran siswa-siswa Sekolah Dasar.

Dapur berkelamin perempuan adalah hasil kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, meskipun secara obyektif, seluruh peralatan dapur dan akses terhadap ruang dapur berpotensi nir-gender. Artinya dapur sebagai sebuah tempat menciptakan aneka hidangan dapat dijamah oleh tubuh perempuan dan juga tubuh laki-laki. Namun, karena budaya domestifikasi perempuan sudah menjadi kebiasaan yang sulit dibantah, secara tidak sengaja, pembuatan teks belajar menulis memunculkan semantik bias gender, bahwa dapur sebagai bagian dari ruang yang semakin dibatasi pada tubuh perempuan saja. Selebihnya, sepertinya akan sulit jika tubuh laki-laki pun juga memiliki akses yang sama dengan perempuan sehingga lahir contoh belajar menulis, ayah memasak di dapur.

Dapur berkelamin perempuan adalah hasil kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, meskipun secara obyektif, seluruh peralatan dapur dan akses terhadap ruang dapur berpotensi nir-gender. Artinya dapur sebagai sebuah tempat menciptakan aneka hidangan dapat dijamah oleh tubuh perempuan dan juga tubuh laki-laki.

Ayah sudah sangat nyaman dalam konstruksi sebagai pembaca koran dan ibu sebagai pemasak di dapur. Toh kalaupun dibalik saya sendiri masih merasa tidak nyaman. Padahal dibolak-balikpun tidak ada masalah. Tanpa bermaksud mengacaukan semantik dan tatanan budaya, lebih-lebih perasaan saya yang seolah aneh ketika membalik kalimat tersebut padahal tidak ada yang salah jikalau hari ini ibu tidak memasak karena sedang membaca koran sedangkan ayah tidak membaca koran karena sedang memasak.

Ketika dapur (kegiatan memasak) dijadikan aset sebuah bisnis, seperti restoran, malah perempuan tersingkir.

Kita banyak tahu juga jikalau juru masak hari ini justru didominasi oleh laki-laki. Tetapi lagi-lagi aneh juga, ketika dapur (kegiatan memasak) dijadikan aset sebuah bisnis, seperti restoran, malah perempuan tersingkir. Meskipun ditemukan juga para koki perempuan, tetapi kok saya memiliki kesan, para koki laki-laki itu seperti menguasai dapur-dapur restoran dengan topi putihnya. Untuk membuktikan, sebaiknya Anda meriset dan menulis hasilnya di kampusdesa.or.id. he he he.

Kesempatan berperan sebagai koki masih mengalami ketimpangan jenis kelamin ketika dapur berkembang menjadi kegiatan bisnis besar.  Ketimpangan yang dimaksud, peran laki-laki dalam dunia koki menjadi lebih besar, sedangkan perempuan belum sepenuhnya bisa merdeka untuk bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. Apakah ini disebabkan oleh pandangan yang kuat dan kebiasaan perempuan berada di dapur untuk melayani? Sementara ketika kegiatan seputar dapur menjadi kegiatan bisnis berskala besar seperti di restoran, atau hotel maka peran perempuan terpinggirkan. Bapak menjadi koki di restoran dan ibu memasak di dapur untuk melayani keluarga.

Keluar dari kungkungan bahasa

Zaman milenial dan anak-anak zaman now barangkali akan langka mendapatkan fakta ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur. Sebagian besar anak sudah sama-sama bisa mendapatkan figur yang bervariasi di jagat maya internet.  Mereka tidak lagi dibatasi oleh bahasa ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur. Meski demikian, figur peran yang ditunjukkan di kehidupan sehari-hari juga mempengaruhi apakah dapur dan dunia literasi (melek pengetahuan) tetap memiliki pengaruh apakah peran dapur masih melekat dalam jenis kelamin perempuan atau kesempatan mengambil peran di dapur terbuka baik pada laki-laki dan perempuan.

Saya akan ceritakan beberapa contoh. Salah satu official kesehatan club sepak bola liga Inggris, yaitu Chelsea, ada yang perempuan. Sepertinya aneh ketika perempuan berlari-lari di lapangan besar sepak bola tersebut. Tidak itu saja, ternyata Chelsea pun memiliki tim perempuan yang bernama Chelsea Ladies FC yang juga sebagai, termasuk club besar Inggris lain juga punya semisal Arsenal, Manchester City.

Fakta itu dapat dikatakan, sepak bola juga tidak lagi melekat dijeniskelamini laki-laki.

Begitu juga dengan anak saya yang menyukai bermain sepak bola. Ternyata dia juga sedikit menyukai kegiatan masak-memasak. Dia belajar dari sumber online seperti youtube. Dia tidak merasa risih menggunakan dapur sebagai tempat latihan memasak. Pengalaman ini menunjukkan bahasa “ibu memasak di dapur dan ayah membaca koran” secara praktik lebih tanpa dibeda-bedakan secara jenis kelamin. Anak laki-laki dan perempuan bisa mengakses informasi tanpa dibumbui penjeniskelaminan seperti ayah membaca koran. Begitu juga berlatih memasak tidak dihalangi oleh alasan bahwa yang memasak itu hanya ibu atau anak perempuan.

Kebiasaanlah yang menjadikan bola berjenis kelamin laki-laki dan perabot rumah tangga berjenis kelamin perempuan yang seharusnya tidak menjadi pengotak-ngotakan peran.

Dapur dan perabotnya tidak harus dijeniskelamini, apalagi diselaraskan dengan pembakuan peran ketika perabot dapur itu difungsikan. Memangnya siapa juga yang membakukan jika sotil, serok atau alat penggoreng lainnya itu mutlak berjenis kelamin perempuan. Alat-alat itu kan netral,  maka bahasa ibu memasak di dapur itulah yang selanjutnya menjadikan segala perabot dapur itu selalu melekat ke jenis kelamin ibu (perempuan). Begitu juga sepak bola. Siapa pula yang memberikan pembakuan bola berjenis kelamin laki-laki. Tidak ada kan. Sepak bola yang kebanyakan dimainkan oleh laki-laki pada akhirnya digebyah uyah seolah-olah sepak bola menjadi sejalan permainannya dengan pemain laki-laki. Tidak harus demikian kan. Kebiasaanlah yang menjadikan bola berjenis kelamin laki-laki dan perabot rumah tangga berjenis kelamin perempuan yang seharusnya tidak menjadi pengotak-ngotakan peran.

Nah, Hari Kartini, apakah juga mampu mengembalikan bahasa pada status yang positif dan tidak membakukan peran seorang ibu dengan fungsi terhadap alat-alat yang digunakan untuk menunjang kehidupannya. Begitu juga apakah Hari Kartini juga membebaskan alat-alat kehidupan yang biasa digunakan oleh laki-laki dibahasakan secara positif bagi perempuan. Suatu contoh begini, apakah lomba memasak rujak yang diikuti anak saya di sekolah sebatas proses menengok dapur dan menguji mereka dalam ruang keterasingan, yakni dia seperti diuji nyali saja pada tugas yang biasa dilakukan oleh perempuan ataukah lomba memasak bagi anak laki-laki adalah bahasa yang digunakan untuk membongkar pembakuan tentang penjeniskelaminan perempuan terhadap ruang dapur?

Lomba memasak bisa dijadikan sebagai membangun bahasa baru melalui pengalaman melintasi batas pembakuan peran tersebut dalam dunia memasak. Jadinya bisa seperti ini, “bapak dan ibu memasak di dapur untuk makan malam kami,” dan “bapak dan ibu mencari menu baru di youtube untuk makan malam kami.”

Dengan begitu, lomba memasak bisa dijadikan sebagai membangun bahasa baru melalui pengalaman melintasi batas pembakuan peran tersebut dalam dunia memasak. Jadinya bisa seperti ini, “bapak dan ibu memasak di dapur untuk makan malam kami,” dan “bapak dan ibu mencari menu baru di youtube untuk makan malam kami.” Semua memiliki kesempatan yang sama tanpa dibatasi oleh penjeniskelaminan yang baku. Toh, semua itu bisa saling dipertukarkan perannya.

Sepakat Mewajarkan Penyimpangan: Refleksi Pendidikan Nilai

0

Anak-anak, bahkan mahasiswa yang sedang menempuh pendidkan untuk menjadikan dia bermartabat, akhirnya berjuang hanya untuk mendapatkan nilai. Untuk itu, mereka akan mengejar nilai, bahkan dengan cara hedonis. Apa yang salah dalam pendidikan kita ?

SIANG ini (11/4), saya kembali berdecak heran, miris, sedih, sekaligus bercampur tergelitik dengan kelas yang saya ajar. Kelas ini beranggotakan 34 mahasiswa. Keheranan, kemirisan, kesedihan, dan ketergelitikan saya disebabkan oleh respon yang mereka berikan atas pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan.

Saya mengajukan beberapa pertanyaan dan meminta mereka menjawab dengan sejujur-jujurnya, tanpa berusaha menutup-nutupi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

  1. Siapa yang ketika mengerjakan UTS dan UAS browsing di internet?
  2. Siapa yang ketika mengerjakan UTS dan UAS melihat catatan?
  3. Siapa yang ketika mengerjakan UTS dan UAS melihat catatan teman?
  4. Siapa yang ketika mengerjakan UTS dan UAS bertanya kepada teman?

Serempak mereka semua mengangkat tangan untuk setiap pertanyaan saya. Kemudian saya ajukan lagi pertanyaan berikutnya, “Apakah Anda mengetahui dan sadar sepenuhnya bahwa apa yang Anda lakukan itu salah?” Serentak mereka menjawab “iya pak” sambil cengar-cengir. Sebagai pamungkas, saya ajukan pertanyaan terakhir, “kalau sudah tahu salah, kenapa masih dilakukan?” Mereka tambah cengar-cengir. Beragam alasan dan argumen mereka utarakan untuk menjawab pertanyaan terakhir saya ini. Jika dirangkum kurang lebih begini:

  • Untuk mendapatkan nilai yang bagus. Meski upaya-upaya yang dilakukan menyimpang, mereka tak ambil pusing, yang penting jawaban UTS dan UAS benar sehingga mereka bisa mendapatkan nilai yang bagus dan tidak perlu mengulang matakuliah yang sama.
  • Sudah terlanjur membudaya. Mencontek menurut mereka sudah biasa dan wajar sejak masih di bangku sekolah. Terutama jika pengawasnya tidak terlalu “killer”.
  • Terpepet waktu ujian. Sebagian dari mereka menyatakan di menit-menit awal mereka tidak mencontek, namun ketika memasuki menit-menit akhir dan masih ada soal yang belum terjawab, sementara mereka sendiri tidak mampu menjawab maka alternatifnya adalah mencontek.
  • Sungkan dengan teman. Ketika semua teman yang ada di kelas ramai-ramai mencontek, mereka merasa sungkan karena takut dikira sok pintar jika mengerjakan sendiri tanpa mencontek dan bertanya kepada teman.

Betapa perbuatan yang sekalipun salah, namun karena sudah membudaya dan dibiasakan secara tidak sadar dengan sendirinya dibenarkan dan dianggap wajar.

Bertolak dari sini, mari kita tarik kasus mahasiswa saya ini ke konteks kehidupan yang lebih luas. Betapa perbuatan yang sekalipun salah, namun karena sudah membudaya dan dibiasakan secara tidak sadar dengan sendirinya dibenarkan dan dianggap wajar. Ironisnya, tidak ada rasa malu akan hal ini karena memang telah menjadi kenyataan yang wajar. Hasilnya bisa kita saksikan, orang-orang yang berlaku culas, curang, korup, dan sebagainya di sekitar kita bukanlah orang-orang bodoh yang tidak paham dan mengerti bahwa perbuatan mereka salah dan merugikan orang lain. Mereka sadar sepenuhnya bahwa perbuatan mereka salah. Perntanyaannya sama, mengapa masih dilakukan jika tahu bahwa semua itu salah?.

Dari konteks ini dapat kita simpulkan bahwa, pendidikan nilai yang kita peroleh selama ini hanya berhenti pada pemahaman konsep. Nilai sama halnya dengan rumus fisika, kimia, konsep sejarah, serta berbagai konsep-konsep lainnya. Nilai hanyalah teori. Kita semua mengerti dan paham bahwa berbohong, curang, korupsi, iri, dengki dan sebagainya adalah perbuatan negatif dan tidak terpuji. Kita semua juga mengerti dan paham bahwa jujur, bertanggungjawab, berintegritas, dan sebagainya adalah perbuatan positif dan terpuji. Permasalahannya adalah bagaimana kita bersikap tehadap nilai-nilai tersebut.

Pendidikan nilai kita telah gagal menginternalisasikan dan mematrikan nilai-nilai positif ke dalam diri peserta didik.

Pendidikan nilai kita telah gagal menginternalisasikan dan mematrikan nilai-nilai positif ke dalam diri peserta didik. Ada aspek-aspek sentral yang belum terpenuhi dalam pendidikan nilai kita. Aspek-aspek tersebut adalah; pertama, keteladanan. Pendidikan nilai akan efektif apabila si pendidik juga memberikan teladan bagaimana menerapkan konsep nilai positif yang diajarkan. Perilaku pendidik selaras dengan nilai-nilai yang diajarkannya kepada peserta didik. Jangan sampai kita menyuruh siswa disiplin, datang tepat waktu, tetapi kita justru sering telat dan molor.

Kedua, habituasi atau pembiasaan. Karena keteladanan dari pendidik yang kurang maka berimbas pada tidak adanya proses habituasi nilai kepada peserta didik. Pendidikan nilai berhenti sampai di kelas saja. Keluar kelas, menguap begitu saja. Kesadaran pendidik akan posisinya sebagai scond parents, role model, hero, dan friends bagi siswa masih kurang.

Ketiga, fungsi dan hakikat evaluasi. Orientasi evaluasi kita sampai dengan saat ini masih terpaku pada deretan angka. Siswa dianggap pintar, cerdas, dan berbakat jika nilai akademiknya tinggi. Sehingga tolok ukur evaluasinya adalah serba angka. Bagaimana sikap mereka sehari-hari, tidak menjadi bahan acuan. Akibatnya, peserta didik berlomba-lomba mengejar nilai tinggi dan tak segan menempuh segala macam cara termasuk yang dilakukan mahasiswa saya di atas. Mereka menjadi pragmatis dan oportunis.

Keempat, sinergi antara sekolah dan keluarga. Sebagus apapun program penanaman nilai di sekolah jika tidak disambut hangat oleh keluarga maka tidak akan dapat berjalan optimal. Keluarga adalah lembaga pendidikan yang peranannya justru lebih besar dari sekolah dalam hal pendidikan niai.

Seyogyanya kita bisa belajar dari krisis moral yang sedang kita hadapi hari ini. Dengan jujur dan penuh kesadaran sebaiknya kita akui bahwa kebobrokan moral yang menjangkiti bangsa ini adalah buah dari pendidikan nilai kita yang belum berada pada track yang benar.

Kita tidak mencari tahu dan mempelajari nilai-nilai apa yang bisa membuat mereka sedemikian maju dari kita. Kita teralu terpaku pada keindahan rumah, tapi melupakan pondasi yang menyokongnya.

Kita juga belum belajar kepada bangsa-bangsa lain yang telah lebih maju dari kita. Yang kita lihat dari mereka hanyalah hingar bingar kemajuan perekonomian, teknologi, dan kesejahteraan ekonomi. Kita tidak mencari tahu dan mempelajari nilai-nilai apa yang bisa membuat mereka sedemikian maju dari kita. Kita teralu terpaku pada keindahan rumah, tapi melupakan pondasi yang menyokongnya.

Mengajarkan Hikmah kepada Murid Zaman Now, Mungkinkah?

Tuhan mengajarkan hikmah kepada manusia agar manusia bijaksana dalam bersikap dan mengambil keputusan (Amka)

HIKMAH adalah kemampuan memahami dan melaksanakan sesuatu yang benar, sesuai, wajar dan tepat berdasarkan prinsip-prinsip yang sistemik, universal, logis dan bermakna. Hikmah atau nilai kebijaksanaan (wisdom) sangatlah penting dalam pembelajaran di dalam kelas. Seorang guru yang ahli hikmah merupakan sosok guru yang sangat bijaksana, dia melihat murid dari berbagai aspek yang dimiliki oleh murid, dia akan mengukur kemampuan murid dengan caranya yang unik kadang tidak berhubungan dengan pelajaran, karena si murid harus melewati satu persyaratan dahulu sebelum mempelajari ilmu yang dimiliki oleh seorang guru.

Persyaratan-persyaratan untuk menempuh pelajaran tertentu sangat penting bagi seorang guru yang ahli hikmah, karena dia akan lebih memastikan bakat yang dimiliki murid. Persyaratan itu terkadang berupa ujian kesabaran dengan mengerjakan tugas yang bisa jadi tidak berkait dengan pelajaran. Murid akan menjalani tugas tersebut apakah dengan keikhlasan ataukah tidak, jika dia ikhlas mengerjakannya maka persyaratan untuk menempuh pelajaran akan dia dapatkan.

Di jaman now ini hikmah bisa diajarkan bahkan harus di desain oleh guru yang ingin mengajarkan suatu pelajaran tertentu. Guru yang akan mendesain hikmah dalam pelajarannya harus mengetahui dan menguasai tujuan akhir dari pelajarannya. Misalnya dalam satu pertemuan murid akan mampu menghafalkan 25 kosakata, menjelaskan prinsip-prinsip berkomunikasi dan lain sebagainya. Maka guru hendaknya tidak hanya mengetahui tujuan itu saja, akan tetapi setelah murid menghafalkan kosakata tersebut, murid akan menguasai apa sebenarnya. Guru harus menentukan tujuan akhir dari pelajaran yang dia inginkan misalkan setelah menghafalkan 25 kosakata di dalam kelas dan mampu menjelaskan prinsip-prinsip berkomunikasi maka di akhir semester murid akan mampu melakukan komunikasi dengan baik tentang kelas.

Selain mengetahui tujuan akhir, maka yang penting adalah guru harus menguasai persyaratan untuk mengikuti pelajaran tersebut. Misalnya pelajaran matematika memerlukan logika berfikir yang sangat kuat, logika berfikir bisa didapatkan dengan latihan dasar-dasar logika dengan mempelajari pola-pola tertentu. Bisa guru memberikan latihan dengan melihat fenomena alam atau yang lainnya, karena segala sesuatu yang ada di alam raya ini memiliki pola jadi mempelajari pola tidak harus di dalam kelas akan tetapi di luar kelas bisa dilakukan. Dari situ guru akan mengetahui gaya belajar murid mempelajari pola bisa dengan suara, bisa dengan gambar, bisa dengan merasakan, bisa dengan mencium atau dengan indera lainnya.

Bisa jadi persyaratan untuk mempelajari budi pekerti adalah dengan kesabaran, maka seorang guru memberikan latihan kesabaran dahulu sebelum mengajari budi pekerti,

Bisa jadi persyaratan untuk mempelajari budi pekerti adalah dengan kesabaran, maka seorang guru memberikan latihan kesabaran dahulu sebelum mengajari budi pekerti, karena pada hakikatnya mengajari budi pekerti itu bukan mengajari sebuah wawasan tentang budi pekerti, akan tetapi bagaimana murid bisa bersikap dengan baik. Guru bisa memberikan pelajaran melalui kebiasaan-kebiasaan baik selama di kelas atau bisa di luar kelas.

Guru juga harus mampu mengukur kemampuan murid dengan berbagai tipologi gaya belajarnya itu. Guru harus memastikan kemampuan murid di level yang mana, karenanya guru hendaknya membuat kategori kemampuan murid dalam mempelajari pelajaran yang dia ampu. Kemampuan seorang guru untuk mengkategorikan kemampuan murid ini menjadi penting untuk bisa meneruskan pada level kemampuan yang lebih tinggi. Tugas-tugas yang diberikan oleh seorang guru harus lebih substansi agar murid mempelajari hikmah yang akan mereka peroleh dari pelajaran tersebut.

Sistem mental yang terbentuk dari proses pembelajaran menjadikan murid bertindak secara terukur sesuai dengan kemampuan yang dia miliki.

Hikmah akan diperoleh oleh seorang murid, ketika dia memahami dan sadar betul kemampuan dirinya. Tentunya kesadaran si murid tidak serta merta didapatkan secara langsung ketika pelajaran masih berlangsung, akan tetapi bisa jadi ketika pelajaran telah selesai diajarkan oleh seorang guru yang ahli hikmah. Sistem mental yang terbentuk dari proses pembelajaran menjadikan murid bertindak secara terukur sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Murid mengetahui berada di level tertentu sesuai dengan emosi, motivasi yang ada di dalam dirinya, sehingga tindakannya selalu dikaitkan dengan emosi dan motivasi yang ada dalam dirinya. Wallahu_A’lam_bi _al – Sawab

19 April 2018 (3 Sya’ban 1439)

Berubahlah, Karena Menjadi Baik dan Tidak adalah Sebuah Pilihan

0

“Seseorang yang bisa mengendalikan orang lain adalah orang yang kuat. Seseorang yang bisa mengendalikan diri sendiri adalah orang yang hebat.” Lao-Zu (Filsuf dari Tiongkok, +/- 600 SM)

MEMBACA “biografi” Batman dan Joker, dua tokoh komik anak-anak yang saling bermusuhan. Keduanya adalah orang-orang yang pernah mengalami masa pahit di masa lalunya. Mereka juga banyak mengalami masalah kehidupan ketika kecil hingga dewasa. Bruce Wayne, adalah anak dari keluarga kaya raya, namun kedua orang tuanya tewas secara mengenaskan ketika gerombolan penjahat merampok lalu membunuh orang tua Bruce Wayne tepat di depan matanya.

Dari kejadian ini, Bruce Wayne terinspirasi untuk menjadi pahlawan pembasmi kejahatan, pembela kebenaran dengan menyamar menjadi Batman. Di sisi lain, Joker yang merupakan musuh Batman di masa lalunya adalah seorang karyawan di perusahaan kimia yang dipecat. Lalu dia pun bekerja menjadi seorang pelawak.

Namun pada akhirnya dia gagal jadi pelawak dan jatuh miskin. Di sisi lain istrinya kecelakaan dan meninggal. Pada saat yang bersamaan, Joker tidak sengaja terjatuh dalam genangan cairan kimia, yang membuat kulitnya rusak. Lengkap sudah penderitaan Joker. Kejadian ini pun membuat Joker putus asa, stres, tertekan dan menjadi gila. Dia pun bertekat untuk membalas dendam pada semua orang. Joker pun menjadi penjahat. Batman dan Joker mengalami masa lalu yang buruk dan kelam.

Namun keduanya menyikapi dengan cara yang berbeda. Batman menilai masa lalunya sebagai bahan pelajaran yang memotivasi dia untuk bangkit dan memegang prinsip kebenaran. Sementara, Joker menjadikan masa lalunya sebagai dendam, yang membuatnya menjadi jahat untuk melampiaskan dendamnya.

Orang yang hebat adalah orang yang mampu mengendalikan diri sendiri dari perbuatan yang tidak baik.

Senada dengan kata-kata mutiara dari Laou-Zu di atas, orang yang hebat adalah orang yang mampu mengendalikan diri sendiri dari perbuatan yang tidak baik. Seringkali beberapa orang memang terlihat hebat dan kuat dengan kekuatan dan amarahnya kepada orang lain, dengan mampu menguasai, mengintimidasi dan mengatur orang lain, seperti Joker yang saya ceritakan pada cerita di atas. Namun sesungguhnya orang seperti itu justru emosinya labil, mudah marah, mudah tersinggung dan mendendam dengan keadaan dirinya. Ini menandakan orang tersebut sebenarnya tidak mampu menguasai dan mengendalikan dirinya sendiri.

Kita tidak cukup hanya menjadi orang kuat, namun juga melengkapinya dengan menjadi orang hebat. Memaafkan masa lalu dan menjadikannya energi poritif untuk berbuat kebaikan di masa mendatang seperti tokoh Batman yang saya ceritakan di atas, bukan justru menjadi motivasi negatif untuk melakukan balas dendam terhadap keadaan diri.

Setiap manusia pasti punya masa lalu yang tidak semuanya indah. Namun semestinya kita mampu keluar dari bayang-bayang masa lalu yang tidak baik serta menjadikannya bahan pelajaran dan hikmah untuk bisa berbuat kebaikan dan membela kebenaran.

Setiap manusia pasti punya masa lalu yang tidak semuanya indah. Namun semestinya kita mampu keluar dari bayang-bayang masa lalu yang tidak baik serta menjadikannya bahan pelajaran dan hikmah untuk bisa berbuat kebaikan dan membela kebenaran. Mengerjakan kebaikan dan keburukan sama-sama melakukan sebuah kegiatan, lantas mengapa kita harus terkungkung dalam segala ketidakbaikan? Wallahu a’lam bis shawab.

EDITOR : FAATIHATUL GHAYBIYYAH

Darurat Kurikulum Pendidikan Tinggi

0

KLAIM TENTANG DARURAT KURIKULUM PENDIDIKAN TINGGI SECARA SEPINTAS MEMANGLAH BERLEBIHAN, NAMUN APABILA KITA KONDISI OBYEKTIF YANG TERJADI KLAIM TERSEBUT AMATLAH MASUK AKAL DAN MEMBUTUHKAN PENANGANAN YANG CEPAT DAN SERIUS. DAN KALAU TIDAK SEGERA DIPERBAIKI MAKA DIKUATIRKAN AKAN MENIMBULKAN MASALAH YANG LEBIH SERIUS LAGI.

KURIKULUM dalam lembaga pendidikan merupakan aspek mendasar yang menentukan jenis, tujuan, kekhasan dan capaian suatu lembaga pendidikan, termasuk juga pada pendidikan tinggi. Setelah dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012 Tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), perguruan tinggi di Indonesia seakan berlomba untuk melakukan revisi kurikulum untuk disesuaikan dengan level kualifikasi yang ditetapkan dalam peraturan presiden tersebut, dengan harapan akan mampu menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tantangan zamannya.

Setelah 6 tahun diluncurkannya Perpres No. 8 Tahun 2012  dan dilakukannya revisi kurikulum perguruan tinggi, pada kenyataannya lulusan perguruan tinggi masih dirasa belum bisa menjawab tantangan zaman now. Dan bahkan, perguruan tinggi mendapat sorotan paling tajam, karena dianggap lamban dan tidak jeli melihat perubahan zaman yang  sedemikian cepat. Sehingga terdapat klaim lulusan perguruan tinggi, bisa dikatakan malah menjadi penambah masalah yang terjadi dan tidak menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah yang ada.

Permasalahan diatas tentu menjadi hal yang sangat serius dalam konteks kurikulum pendidikan tinggi dan harus segera ditemukan formulasi pemecahannya. Mengingat peran kurikulum yang sedemikian fundamental dan strategis tersebut,  maka bisa dikatakan bahwa di Indonesia saat ini sedang terjadi darurat kurikulum pendidikan pendidikan tinggi. Klaim tentang darurat kurikulum pendidikan tinggi secara sepintas memanglah berlebihan, namun apabila kita kondisi obyektif yang terjadi klaim tersebut amatlah masuk akal dan membutuhkan penanganan yang cepat dan serius. Dan kalau tidak segera diperbaiki maka dikuatirkan akan menimbulkan masalah yang lebih serius lagi.

Kurikulum era Distrupsi

Dinamika yang terjadi pada era sekarang telah kita ketahui bersama berjalan sedemikian cepat, melejit tanpa sekat dan memiliki dampak ganda yang terkadang di luar nalar kita. Anomali seakan tidak mampu diprediksi lagi, kalau dulu dinamika berjalan dengan linear dan teratur akan tetapi saat ini  dinamika telah berjalan dengan begitu kompleks. Digitalisasi terjadi dalam segala aspek terjadi disekitar kita, bahkan terdapat pergeseran kebutuhan dasar manusia zaman now yaitu dari kebutuhan fisik ke kebutuhan komunikasi, sehingga battrei dan kuota internet menjadi sebuah kebutuhan dasar baru dalam era distrupsi teknologi atau revolusi industri 4.0 seperti yang terjadi saat ini.

Ramalan Peter Drucker (1997) tentang universitas akan mengalami krisis yang mendalam dan tidak bisa bertahan lagi karena tidak mampu memenuhi harapan penggunanya seakan menjadi kenyataan saat ini.

Kecepatan perubahan yang sedemikian itu tentu membawa dampak yang signifikan termasuk pada perguruan tinggi di Indonesia. Ramalan Peter Drucker (1997) tentang universitas akan mengalami krisis yang mendalam dan tidak bisa bertahan lagi karena tidak mampu memenuhi harapan penggunanya seakan menjadi kenyataan saat ini. Kecuali, perguruan tinggi yang mampu dan memiliki kecepatan untuk terus berubah dan berbenah dalam memberikan layanan pendidikan tinggi yang solutif dan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Fleksibilitas dalam penyusunan kurikulum bisa menggunakan KKNI sebagai sebuah metodologi desain kurikulum, akan tetapi secara substansi materi kurikulum, tentu perguruan tinggi harus lebih berani lagi untuk melakukan ijtihad dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan kekhasan perguruan tinggi masing-masing.

Era distrupsi menuntut fleksibilitas tingkat tinggi sebagai konsekuensi kecepatan perubahan yang terjadi di masyarakat. Fleksibilitas tersebut tentu harus dijadikan salah satu  pertimbangan utama dalam pembuatan kurikulum perguruan tinggi. Fleksibilitas dalam penyusunan kurikulum bisa menggunakan KKNI sebagai sebuah metodologi desain kurikulum, akan tetapi secara substansi materi kurikulum, tentu perguruan tinggi harus lebih berani lagi untuk melakukan ijtihad dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan kekhasan perguruan tinggi masing-masing.

Selain itu, perguruan tinggi juga perlu memberikan orientasi baru dalam kurikulum yang dibuat untuk penyiapan lulusan agar tidak hanya melek dengan literasi lama terkait dengan membaca, menulis dan berhitung. Akan tetapi dibutuhkan literasi baru seperti pendapat (Aoun, MIT, 2017), yaitu  menyangkut kemampuan untuk membaca, analisis dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital, lalu kemampuan untuk memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi seperti coding, artificial intelegence, & Engineering Principles (Literasi Teknologi) dan yang terakhir yaitu pemahaman tentang nilai-nilai humanities, komunikasi dan desain (Literasi Manusia).(Mustikawan, 2017). Perbaikan kurikulum merupakan salah satu wasilah (sarana) untuk mewujudkan ghoyah (tujuan) pendidikan tinggi yang bermutu dan mampu menjawab tantangan zaman. Mari kita mulai perbaikan itu mulai sekarang, dengan membaca Bismillahirohmanirrohim. Wallahua’lam

Segera Berhenti dengan Tepat sebelum Terlambat

0

Saatnya sekarang berhenti. Bersegeralah berhenti meskipun terasa berat. Saat yang lainnya tidak bisa berhenti karena sudah tergiur kenikmatan, sementara Anda bisa berhenti sekarang, maka keselamatan dan bahkan keberuntungan pun bisa Anda raih. Tidak perlu menunggu kita terjerumus baru sadar dan bertobat (menyesal)

ANDAIKAN saya bertanya, “siapakah diantara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa?” Saya yakin jawabannya adalah tidak seorang pun di dunia ini yang tak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Kita sendiri atau orang-orang yang kita lihat sehari-hari masih sehat dan selamat pada saat ini adalah sebenarnya orang-orang yang masih belum terkuak kesalahan dan dosa yang telah dan pernah dilakukan. Andai terbongkar aib itu, tamat sudah reputasinya, atau paling tidak akan menanggung malu. Semoga hal ini tidak terjadi pada diri kita.

Sudah banyak contoh kasus terbukanya rahasia dosa alias ketahuan dan tertangkap tangan, yang pernah dibuat oleh seseorang. Orang-orang yang melakukan perbuatan itu pun kebanyakan orang-orang yang terlihat baik dan terhormat. Entah itu kasus korupsi, mencuri, suap, manipulasi, mark-up, mencuri, berdusta, berzina, merusak, membunuh, memfitnah, kecanduan narkoba dan lain sebagainya. Perbuatan itu membuat pelakunya terhinakan dalam pandangan manusia awam, dengan sanksi moral yaitu jatuhnya kredibilitas nama baik, sanksi hukum dengan dipenjara bahkan hingga yang tersadis adalah berujung pada kematian yang sia-sia karena dihakimi massa.

Sudah banyak artis, politisi, pejabat, cendekiawan, penegak hukum dan orang awam sekalipun yang terkena kasus dan masalah yang rumit karena kepergok melakukan perbuatan-perbuatan tidak baik yang saya tuliskan di atas. Sesungguhnya semua manusia punya rahasia keburukan dan aib yang mesti ditutup rapat-rapat dan jangan sampai ketahuan.

Penting bagi kita yang masih selamat sampai saat ini mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan, karena masih diberi kesempatan untuk bebas dan menikmati kebahagiaan karena tidak terbuka kesalahannya. Lalu berhentilah melakukan kesalahan itu. Memang mungkin akan sulit dan tidak mudah, namun sadarilah dengan pepatah, serapat-rapatnya menyimpan bangkai, baunya akan ketahuan juga.

Kita lihat contoh baru-baru ini kasus korupsi pejabat Walikota dan sejumlah anggota DPRD, yang tertangkap setelah melakukan tindak pidana korupsi menyuap dan memberi suap untuk mengesahkan APBD. Saya punya keyakinan tindakan suap menyuap itu telah dilakukan untuk yang ke sekian kalinya, di tahun sebelum-sebelumnya atau sesudahnya karena merasa tidak ketahuan lalu diulangi lagi.

Kisah-kisah Menguntungkan

Jadi ingat kisah seorang yang di suatu malam menang berjudi bersama teman-temannya, karena kebelet buang air kecil, dia ijin pulang dengan membawa uang hasil kemenangannya. Beberapa saat kemudian ia kembali ke tempat dia berjudi. Ternyata tidak ada seorang pun temannya yang masih berjudi. Mereka lari karena ada operasi polisi untuk membubarkan dan menangkap orang-orang yang melakukan kegiatan perjudian. Keesokan harinya dia mendengar seluruh temannya telah mati karena tertembak peluru polisi akibat berusaha melarikan diri. Untung dia berhenti berjudi dan pulang. Andaikan tidak, pasti saat ini kemungkinan ia sudah tinggal nama saja.

Andaikan dia melakukan selingkuh sekali saja dan tidak ketahuan lalu  berhenti karena menyadari kekhilafannya, kemungkinan masih akan aman dan selamat, tapi sayangnya ia tergoda untuk melakukannya lagi.

Ada lagi kisah seorang yang ketahuan berselingkuh dan digrebek massa, dan kejadian perselingkuhan ternyata terjadi untuk ke sekian kalinya, sebelum akhirnya orang itu ketahuan. Andaikan dia melakukan selingkuh sekali saja dan tidak ketahuan lalu  berhenti karena menyadari kekhilafannya, kemungkinan masih akan aman dan selamat, tapi sayangnya ia tergoda untuk melakukannya lagi.

Kisah tetangga saya yang tertipu dengan menanam modal di perusahaan investasi pohon mas juga begitu. Tetangga saya di awal investasi merasa senang, karena mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dalam waktu sekejap dengan modal yang ia tanamkan di pohon mas. Ia pun tergiur lagi untuk menanam modal yang lebih besar, berharap mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Namun yang terjadi bukan untung, justru buntung karena pohon mas dinyatakan bangkrut dan pemiliknya ditangkap polisi, yang merupakan penipuan berkedok investasi. Andai saja tetangga saya sadar dan berhenti di awal ketika mendapatkan keuntungan, saya yakin tidak akan rugi dan menyesal.

Satu lagi contoh peristiwa, saya pernah menonton infotainment di TV tentang berita artis yang tertangkap polisi karena menyalahgunakan narkoba setelah menggunakan narkoba selama lebih dari lima tahun. Andaikan dia paham dan sadar waktu untuk berhenti menikmati narkoba, niscaya akan selamat dari jerat hukum, sayangnya sang artis sudah kadung merasa nyaman, aman dan kecanduan narkoba. Lalu mengulangi dan terus mengulangi perbuatannya mengkonsumsi narkoba, karena sulit berhenti dari ketergantungan pada narkoba sampai tiba hari naas, sang artis ditangkap polisi. Selesai sudah kesenangannya menikmati narkoba, yang ada adalah jerat hukum menantinya. Kerugian yang luar biasa pada hidup, karir dan kredibiltasnya, selain juga kerugian secara materi tentunya.

Itu semua hanya contoh kasus saja, bisa kita nisbatkan pada konteks diri kita pribadi dengan apapun profesi kita. Kekhilafan apapun yang pernah kita lakukan di masa lalu sudahlah berlalu. Kita syukuri tidak sampai membuat kehancuran pada diri kita. Kita sekali lagi bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak perlu dan jangan sampai diulangi lagi dikarenakan ingin merasakan lagi sensasi mendapatkan uang banyak, enak, nyaman, aman, senang dan tidak ketahuan. Karena sesungguhnya orang yang berhenti melakukan kesalahan di saat yang tepat adalah orang yang beruntung. Sebaliknya orang yang tidak tahu kapan ia berhenti dan terus mengulangi kesalahan yang sama, sesungguhnya ia adalah orang yang celaka dalam waktu cepat atau lambat.

Berhentilah sebelum terlambat. Ibarat menjalankan mobil, lepas pedal gas dan injak rem, lalu pelan-pelan minggir dan berhentilah di tempat yang aman, jangan sampai terjadi kecelakaan.

Secepatnya berhenti untuk tidak melakukan perbuatan khilaf, saya rasa adalah pilihan yang terbaik untuk menyelamatkan diri. Karena banyak orang yang melakukan kekhilafan, ketahuan di saat melakukan perbuatan itu berulang-ulang untuk ke sekian kalinya karena merasa aman.

Sekali lagi berhentilah sebelum terlambat. Ibarat menjalankan mobil, lepas pedal gas dan injak rem, lalu pelan-pelan minggir dan berhentilah di tempat yang aman, jangan sampai terjadi kecelakaan. Sudah cukup main kebut-kebutannya, menghindari resiko mobil yang kita kendarai, tertabrak, ditabrak atau menabrak kendaraan lain. Inilah yang saya sebut, berhenti di saat yang tepat atau bersegeralah sebelum semua terlambat.

Penulis Abd. Azis Tata Pangarsa*

EDITOR : MOHAMMAD MAHPUR

Empat Pilar Tentang Kesadaran Diri, Di Manakah Anda ?

0

Seolah-olah kita benar, tetapi mengapa kebenaran kita kemudian terbantahkan. Bahkan, selama ini kita sepertinya tidak pernah salah. Kita sadar saat tersandung masalah dan membuat kita seperti habis sudah perjuangan yang selama ini dilakukan. Kesadaran diri pada empat pilar bisa menjadi renungan kini agar kita tidak terjebak dalam kebenaran diri yang palsu.

MENGETAHUI akan diri sendiri sepertinya bukan perkara mudah. Seolah olah kita memang sudah sangat mengetahui bagaimana diri kita sepenuhnya, namun nyatanya masih banyak yang tidak kita ketahui. Tahu apa yang jadi mau diri kita, belum tentu kita mengetahui bagaimana caranya dalam meraih. Banyak sekali masalah yang menjadi hambatan karena kurang pahamnya seseorang pada diri sendiri. Kita tahu bukan hanya sekedar tahu identitas saja melainkan tahu apa dan bagaimana menjalani kehidupan dengan baik.

Fenomena yang sering muncul adalah individu tidak memahami dirinya secara baik sehingga banyak terjadi hambatan dalam menjalani kehidupannya. Seperti mengalami kesulitan untuk meraih prestasinya karena tidak tahu cara yang sesuai untuk meraihnya, kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain karena adanya ketidakpercayaan diri, adanya masalah dengan relasi pada teman atau keluarga, dan sebagainya.

Berdasarkan fenomena yang ada, tentunya banyak sekali masalah-masalah yang dihadapi oleh setiap individu. Oleh karena itu, mengapa tahu dan paham pada diri sendiri menjadi hal penting untuk dipahami oleh anak muda? Hal ini dikarenakan akan membuat kita mudah dalam mengambil keputusan dengan bijaksana. Misalnya ketika seseorang memiliki permasalahan dengan orangtuanya karena kurang kasih sayang, anak yang punya pemikiran yang matang dan tahu apa konsekuensinya jika mencari jalan yang salah. Ketika dia tahu masalahnya penting untuk diselesaikan, maka dia akan berusaha dan sabar untuk menyadarkan orangtuanya bahwa dia membutuhkan kasih sayang lebih.

Kemudian kasih sayang ini justru diluapkan secara emosional melalui hubungan badan. Hal inilah yang seharusnya individu dapat pahami ketika masalah terberat dalam hidupnya terjadi, dia sadar pada kesekuensi-konsekuensi yang buruk jika mengambil keputusan yang salah.

Namun sebaliknya yang sangat sering terjadi yakni, anak mencari perhatian pada orang lain seperti mencari pacar. Kemudian kasih sayang ini justru diluapkan secara emosional melalui hubungan badan. Hal inilah yang seharusnya individu dapat pahami ketika masalah terberat dalam hidupnya terjadi, dia sadar pada kesekuensi-konsekuensi yang buruk jika mengambil keputusan yang salah.

Sama halnya dengan individu yang memiliki masalah pada stabilisasi emosinya. Segala sesuatu tentunya akan mempengaruhi emosionalnya. Individu yang dihadapkan pada persoalan salah satu keluarganya sakit, otomatis akan membuat emosinya sedih. Kondisi emosional tersebut bisa mempengaruhi pekerjaan lain atau aktivitas lainnya. Individu yang seperti ini akan sulit fokus pada pekerjaannya atau studinya karena banyak yang dipikirkan hingga dapat membuat individu tidak dapat berpikiran secara jernih. Akibatnya pekerjaannya terbengkalai.

Maka hal ini juga penting adanya untuk dipahami individu tersebut, bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak boleh menjadi suatu beban yang berakibat tanggungjawab lain terbengkalai. Bagaimana individu tersebut tahu cara mengatasi dengan baik ? Bagaimana mengontrol emosinya supaya tidak menjadi semakin buruk, akan tetapi menjadi semangat baru untuk menjadi individu yang lebih baik.

Berbagai pengalaman hidup tentunya membawa sejuta pelajaran untuk kita terapkan dalam kehidupan yang lebih baik.

Individu yang paham pada dirinya bukanlah larut dalam masalahnya, akan tetapi mencari tahu pada dirinya sendiri apa solusinya dan bagaimana cara menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya

Belajar untuk peka pada diri sendiri juga akan memudahkan kita peka pada orang lain. Seperti halnya ketika kita sedang berada pada keterpurukan karena masalah hidup yang bertubi-tubi, di sinilah kita akan belajar serta berusaha untuk bangkit lebih cepat kemudian menata setiap langkah-langkah selanjutnya untuk menghadapi hal hal baru. Individu yang paham pada dirinya bukanlah larut dalam masalahnya, akan tetapi mencari tahu pada dirinya sendiri apa solusinya dan bagaimana cara menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.

Ketika kita mau dan belajar sadar pada setiap yang terjadi pada diri sendiri di sanalah kita juga belajar sadar dengan segala aspek kehidupan yang sedang kita hadapi. Bijak pada diri sendiri merupakan upaya sadar atas dirinya, belajar pada setiap fenomena kehidupan yang mungkin bisa menjerumuskan diri kita pada kesalahan. Problematika kehidupan memang sangat kompleks, namun bukan berarti kita menjadi individu yang lalai untuk menjaga diri dari kemungkinan terburuk seperti masalah seksualitas yang marak terjadi.

Pergaulan bebas sejatinya terjadi bukan karena kesalahan orangtua saja melainkan individu yang tidak paham pada dirinya yang dapat dikatakan kesadaran dirinya lemah. Individu yang mengalami masalah pada tahap perkembangan psikoseksualnya dapat dikatakan mereka bermasalah pada kesadaran dirinya. Mereka sulit untuk mengontrol dorongan seksualnya yang didukung oleh rasa ingin tahunya tinggi.

Kesadaran diri itu meliputi banyak aspek yang akan menggambarkan masing-masing individu berbeda. Aspek tersebut meliputi private self, public self, blind self, dan undiscovered self. Apa yang dimaksud dari keempat aspek tersebut?

Public Self. Bagian dimana kita bisa nyaman dan lepas dalam berinteraksi dengan orang lain. Kita mau sharing dan lainnya dengan orang lain. Sesuatu yang bisa kita sebarkan ke orang lain. Pribadi yang dominan seperti ini adalah pribadi terbuka.

Private Self. Beberapa hal yang menjadi privasi dan tidak bisa kita sampaikan kepada orang lain. Pribadi seperti itu termasuk pribadi yang lugu.

Blind Self. Sesuatu yang menjadi penilaian berbeda antara penilaian diri kita dan penilaian dari orang lain. Contoh, kita menganggap diri kita penakut, namun orang lain menilai kita pemberani dan kuat. Pribadi seperti ini termasuk pribadi yang tertutup.

Undiscovered Self. Sesuatu yang hanya bisa dilihat dan dinilai oleh orang lain. Kita tidak bisa menilainya sendiri. Pribadi seperti ini termasuk pribadi yang misterius.

Berdasarkan aspek-aspek tersebut kita akan tahu diri kita berada di posisi yang mana. Jika keempat aspek tersebut sudah kita pahami maka dengan cara seperti apa yang harus kita lakukan dalam mengahadapi masalah jauh lebih mudah. Setiap orang tentunya memiliki caranya masing masing dan berbeda.

Ketika seseorang sudah bisa mengenali dirinya, tahu akan potensi yang dimiliki, serta tahu akan kekurangan yang dimiliki, maka akan mudah baginya untuk memilah dan memilih kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kualitas

Ketika seseorang sudah bisa mengenali dirinya, tahu akan potensi yang dimiliki, serta tahu akan kekurangan yang dimiliki, maka akan mudah baginya untuk memilah dan memilih kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kualitas dan juga akan mengurangi kualitas dirinya. Di sinilah pentingnya kita tahu akan diri kita sendiri.

Penulis : Tiassan Wulandari

EDITOR : MOHAMMAD MAHPUR