Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 87

Bakar Motivasi Mahasiswa, PGMI UNISDA Lamongan Adakan Studi Observasi Ke Madrasah Inklusi

0

Selalu ada perjuangan dalam sebuah pencapaian terbaik di hari ini. Begitu juga dengan MI Terpadu Ar-Roihan, Lawang, Kabupaten Malang. Bermula hanya sebuah madrasah diniyah dengan santri satu orang, dengan ketekunan dan berprinsip pada semangat melayani, Lailil Qomariyah, akhirnya berhasil mendirikan MI percontohan.

Rabu, 4 April menjadi hari spesial bagi para dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah (PGMI) Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan. Pasalnya, pada hari itu mereka berkesempatan menimba ilmu tentang berbagai hal terkait pendidikan inklusi di madrasah ibtida’iyah langsung dari sumbernya. Lebih spesialnya lagi, MI yang dirujuk pada kegiatan ini adalah MI Terpadu Ar-Roihan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang yang merupakan MI inklusi percontohan Kementerian Agama.

Kegiatan yang diinisiasi oleh salah satu tim dosen PGMI, Adhita Dwi Handayani, ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan motivasi mahasiswa Prodi PGMI tentang pengelolaan MI inklusi. “Supaya mereka memiliki wawasan luas tentang pengelolaan MI yang baik dan motivasi untuk menjadi guru profesional semakin meningkat,” Ujar Adhita di sela-sela kegiatan.

Rombongan studi tour ini terdiri dari 9 orang dosen dan 35 mahasiswa. Mereka berangkat dari UNISDA pukul 04.00 WIB dan sampai di lokasi pada pukul 07.30 WIB. Rombongan disambut langsung oleh Kepala Madrasah MIT Ar-Roihan, Lailil Qomariyah, M.Pd beserta jajaran dewan guru.

Kegiatan dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama adalah pembukaan. Kedua adalah observasi keliling ke kelas-kelas. Ketiga tanya jawab dan sekaligus penutup. Pada sesi pembukaan Lailil Qomariyah selaku tuan rumah dalam sambutannya berusaha membakar semangat dan rasa penasaran rombongan. Ia menceritakan awal mula perjuangannya dalam mendirikan dan mengembangkan MIT Ar-Roihan.

Lailil menuturkan, bahwa untuk menjadi guru dibutuhkan totalitas dan integritas. Orientasinya adalah harus benar-benar mengabdi dan memberkan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada peserta didik bagaimanapun kondisinya.

Lailil menuturkan, bahwa untuk menjadi guru dibutuhkan totalitas dan integritas. Orientasinya adalah harus benar-benar mengabdi dan memberkan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada peserta didik bagaimanapun kondisinya. “Pada awalnya, madrasah ini adalah madrasah diniyah. Waktu itu murid saya hanya satu orang. Meskipun begitu, tetap saya perlakukan secara profesional. Saya buatkan jadwal, buku penghubung dengan orangtua, kurikulum, walaupun hanya satu orang. Berkat layanan profesional yang saya berikan. Lama-lama kepercayaan masyarakat meningkat. Karena rumah saya sudah tidak bisa menampung santri lagi, akhirnya pekarangan belakang rumah saya dirikan gedung untuk menampung. Semakin tahun semakin bertambah sampai akhirnya para wali santri sepakat meminta agar saya mendirikan madrasah,” kenangnya.

Lailil menambahkan, bahwa sejak berdiri MIT Ar-Roihan menerima semua calon peserta didik yang mendaftar meskipun memiliki kebutuhan khusus. MIT Ar-Roihan juga tidak mengadakan tes masuk. Peserta didik dites justru setelah resmi menjadi siswa. “Kami menerapkan model pendidikan berbasis multiple intelegences, jadi siswa kami kelompokkan berdasarkan kecerdasan yang dimiliki. Bagi kami tidak ada siswa bodoh. Semua cerdas dan memiliki potensi khas masing-masing. Tugas kita sebagai pendidik adalah memfasilitasi dan mendukungnya. Strategi ini cukup efektif. Siswa kami selalu berhasil menjurai berbagai event lomba. Bahkan sampai ke Singapura.”

Usai acara seremonial, rombongan diajak berkeliling melihat proses pembelajaran di kelas-kelas. “Di sini total ada 60 siswa ABK (anak berkebutuhan khusus), setiap anak ABK didampingi oleh satu guru pendamping. Jadi di dalam kelas ada dua guru” ujar Redite Kurniawan, guru mata pelajaran Bahasa Inggris MIT Ar-Roihan.

Puas berkeliling, rombongan diajak menikmati coffe break sejenak. Acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Tidak hanya mahasiswa, namun para dosen juga antusias bertanya. Berbagai pertanyaan dilontarkan. Satu di antaranya adalah Lindra Nur Khanifah yang menanyakan mengapa siswa di sini sangat betah dan senang di sekolahan.

Kami buat sistem lesehan supaya mereka bisa bebas bermain dan bersosialisasi. Dunia mereka ada dunia bermain. Jangan rebut itu dari mereka

“Jadi di madrasah ini kami usahakan meminimalisir kesan-kesan formal. Bu Lindra dan adik- adik mahsiswa bisa saksikan sendiri tadi di kelas. Pada waktu guru menjelaskan, susunan meja tidak berbaris seperti pada umumnya, tetapi berkolompok. Bahkan ada juga beberapa siswa yang sambil tiduran mendengarkan penjelasan guru. Misalnya juga di kelas satu, “kami buat sistem lesehan supaya mereka bisa bebas bermain dan bersosialisasi. Dunia mereka ada dunia bermain. Jangan rebut itu dari mereka,” papar Lailil Qomariyah.

Kegiatan diakhiri dengan ramah tamah yang sebelumnya didahului dengan penyerahan sertifikat dan cindera mata serta swafoto bersama. Tepat pukul 12.00 rombongan Prodi PGMI UNISDA Lamongan meninggalkan MIT Ar-Roihan (SP).

EDITOR : MOHAMMAD MAHPUR

Mencium Anak, Tanda Sebuah Kasih Sayang Orang Tua

APAKAH MENCIUM ANAK SAAT MASIH ANAK-ANAK BERDAMPAK SECARA MENTAL PADA PERKEMBANGAN ANAK ? HUBUNGAN YANG LEKAT PADA ANAK MENJAMIN KEAMANAN MENTAL BAGI ANAK-ANAK YANG SEDANG MEMBUTUHKAN GARANSI EMOSIONAL DARI ORANG-ORANG DEWASA. MAKA EKSPRESI KEDEKATAN MENJADI BERARTI PADA ANAK. EKSPRESI ITU SEPERTI MENCIUMNYA.

AKTIFITAS yang setiap hari saya lakukan pada kelima anak saya sebagai bentuk ekspresi sayang kepada anak-anak adalah mencium mereka. Percaya atau tidak, setidaknya minimal enam kali dalam sehari saya mencium ke-limanya. Mencium pipi kanan, pipi kiri dan dahi mereka di pagi hari dan di saat menjelang mereka tidur di malam hari.

Saya sangat menyayangi mereka, sehingga apapun akan saya lakukan untuk memberikan yang terbaik kepada mereka, termasuk diantaranya pemenuhan gizi dalam makanannya untuk tumbuh kembang fisiknya. Saya alokasikan dana khusus yang tidak sedikit untuk hal ini, diantaranya dengan memberikan tambahan susu formula setiap hari kepada mereka.

Kebutuhan psikis dan ruhaninya, selain mendoakan dan mengirimi bacaan Surat Al-Fatihah setiap hari, saya pun menyekolahkan mereka di sekolah yang terbaik,

Sedangkan untuk kebutuhan psikis dan ruhaninya, selain mendoakan dan mengirimi bacaan Surat Al-Fatihah setiap hari, saya pun menyekolahkan mereka di sekolah yang terbaik, yang tentunya juga dengan konsekuensi biaya yang dikeluarkan lebih banyak untuk pendidikan mereka dari pada bersekolah di sekolah yang biasa.

Apa yang saya lakukan, semata-mata adalah ‘investasi” untuk masa depan yang lebih baik untuk mereka. Saya berharap mereka bisa bertumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang baik sampai kelak mereka dewasa, baik fisik maupun psikisnya, jasad maupun ruhaninya, raga dan jiwanya. Saya berharap agar di masa depan, mereka bermanfaat bagi agama dan masyarakat, juga menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Aaamiin.

ABD. AZIS TATA PANGARSA. SEORANG DOKTOR DAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH MIFTAHUL ABROR KEC. KARANGPLOSO KAB. MALANG. PENULIS JUGA BERKECIMPUNG SEBAGAI SALAH SATU ANGGOTA GERAKAN GURU MENULIS. SEBUAH GROUP YANG NASIONAL MEWADAHI SEMANGAT UNTUK SELALU MENDORONG PARA GURU BERGIAT LITERASI.
[BUTTON COLOR=”” SIZE=”” TYPE=”SQUARE” TARGET=”” LINK=””]EDITOR : FAATIHATUL GHAYBIYYAH[/BUTTON]

Terapi Gratis dengan Air Laut untuk Berbagai Kesehatan Tubuh

0

Kurang lebih bumi ini dibagi menjadi dua. Jika dibandingkan luasannya tujuh puluhan persen terdiri dari lautan dan sisanya adalah daratan. Ini menunjukkan betapa pentingnya lautan untuk kehidupan. Sudah dari jaman dulu nenek moyang memanfaatkan laut untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya. Termasuk untuk memulihkan dan menjaga kesehatan tubuh.
Kita mengenal terapi air laut, terapi berendam air laut. Dari dulu berendam dalam air laut dipercaya dapat mengatasi berbagai macam penyakit. Berendam dalam air laut secara rutin dipercaya dapat menjaga kesehatan tubuh.
Penggunaan air laut sebagai obat sudah mulai dilakukan sejak 4 abad Sebelum Masehi. Air laut memiliki berbagai kandungan penting, dimana kandungan yang ada dalam air laut juga ditemukan dalam tubuh manusia, termasuk di antaranya vitamin, garam mineral dan asam amino.
Air laut juga kaya akan mikroorganisme yang sangat bermanfaat, diantaranya dapat menghasilkan antibiotik, antimicrobial dan antibacteria. Tubuh manusia memiliki kemampuan alami untuk menyerap elemen-elemen tersebut.
Air laut memiliki manfaat bagi kesehatan kulit. Banyak tempat-tempat spa di seluruh dunia menggunakan garam laut dalam pelayanan perawatan kulit. Garam pada air laut membantu melepaskan racun dari kulit dan berfungsi sebagai pengelupas alami yang melepaskan sel-sel kulit mati serta merangsang pertumbuhan sel-sel baru.
Air laut juga mengandung banyak mineral, terutama magnesium yang membantu meningkatkan kelembapan pada permukaan kulit.
Air laut juga mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan penyakit atau iritasi pada kulit Mulai dari peradangan, psoriasis termasuk luka ringan karena kandungan garam dan potasium klorida didalamnya.
Secara umum berendam dalam air laut dapat memberi manfaat sebagai berikut, melancarkan sirkulasi darah, memperkuat otot jantung, melenturkan atau merelaksasi otot sehingga tubuh terasa segar, melancarkan sistem pernapasan, meningkatkan produksi sel darah merah, menormalkan tekanan darah, menyeimbangkan keasaman dalam darah, mencegah keropos tulang dan osteoporosis, meringankan sakit pinggang, wasir dan rematik, mengatasi kulit kering dan pecah-pecah pada kulit kaki, menyehatkan dan menutrisi kulit tubuh, meningkatkan gairah seks, mencegah penyakit kencing manis dan lain sebagainya.
Eksperimen kami dengan memanfaatkan air laut dan daun azadirachta (daun mimba) yang tersebar luas daerah situbondo.
Dengan menggunakan komposisi yang terinspirasi dari AlQur’an bahwa kata “lautan” disebutkan sebanyak 32 kali (71,11%), sementara kata “darat” disebutkan 13 kali (28,89%).
Formulasi ini yang kemudian kami gunakan. Kami membuat campuran air laut dan daun mimba sebanyak 2000 gr. Kami mengambil air laut sebanyak 1422 gr (71,11%) dan daun mimba sebanyak 578 gr (28,89%). Kemudian daun mimba kami tumbuk sampai halus dan lumat dan dicampurkan dengan air laut, kemudian disaring.
Campuran air laut dan daun mimba inilah yang kemudian digunakan untuk merendam kaki selama 30 menit sampai 1 jam.
Inilah terapi gratis yang bisa dicoba sendiri dirumahnya masing masing. Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam
Situbondo 3 Juli 2018
Tulisan ini dipos ulang dari pemilik akun facebook penulis.

Tips Mengajar agar Murid Tetap Semangat Belajar di Siang Hari

0

Waktu belajar membawa caranya sendiri mengajar. Guru tidak boleh buta-tuli terhadap kondisi siswa, apalagi ketika mengajar di siang hari, pasti musuh utama adalah menguap da mengantuk. Mengajak tidur anak di sekolah saat jam siang hari justru meremajakan otak anak dan menimbulkan efek kecerdasan anak pulih atau bahkan melejit.

SERINGKAH ketika anda mengajar namun murid seperti melakukan kegiatan sendiri atau bahkan ada yang tertidur secara diam-diam. Hal ini tentu bukan yang baru di kalangan pelajar, tidak hanya anak SD, SMP,SMA bahkan mahasiswapun juga mengalami ini. Apalagi ketika memasuki jam pelajaran di siang hari yang semakin membuat anak-anak terlelap.

Ketika ingin memarahi, menjewer atau memberikan hukuman pada siswa yang tidur saat pelajaran namun harus mengingat kode etik guru yang harus dilaksanakan, akan tetapi ketika guru harus memilih membiarkan siswa tertidur saat jam pelajaran, pun bukan hal yang baik bagi siswa.

Lalu bagaimanakah menjaga mood siswa untuk tetap bersemangat ketika jam siang masih dengan beragam matapelajaran? Apalagi dengan matapelajaran yang sudah tidak dapat lagi diserap oleh mereka.

Aktivitas sekolah yang sangat padat mulai dari pagi sampai siang bahkan sore yang hanya dilakukan di kelas tentu saja membuat bosan para siswa. Tidak hanya siswa yang memang terkenal sulit diatur, siswa yang rajin pun bisa jadi merasakan kejenuhan yang sama. Apalagi metode belajar mereka yang tergolong sama yang hanya mendengarkan guru berceramah mengenai sejarah berdirinya Indonesia, mengenai apa rumus yang tepat mereka gunakan untuk mengukur debit air atau bahkan untuk menganalisis cuaca yang sedang terjadi saat itu juga, yang harus mereka terima dengan duduk manis di bangku pojokan kelas.

Tentu minat untuk belajar mereka menurun. Apalagi anak zaman now yang kebutuhan geraknya sangat luar biasa. Mereka yang tidak sanggup lagi untuk dibantah dan sulit sekali untuk dikondisikan.

Bukan salah kurikulum juga yang menuntut siswa untuk paham dengan sendirinya, atau bukan salah guru juga ketika beliau harus berceramah panjang untuk menuntaskan rancangan pembelajaran yang telah dibuatnya.

Otak memiliki ritmenya tersendiri, waktu siang bukanlah hal yang baik untuk otak jika dipaksa untuk berfikir.

Waktu siang memang bukan lagi saatnya anak mampu berkonsentrasi lebih  pada mata pelajaran. Disinilah tugas yang berat bagi para guru ketika mata pelajaran mereka diletakkan di waktu siang hari, kadang seperti terlihat mendongeng pengantar mereka untuk tidur. Otak memiliki ritmenya tersendiri, waktu siang bukanlah hal yang baik untuk otak jika dipaksa untuk berfikir. Inilah yang menyebabkan anak-anak mulai mengantuk di jam-jam siang, namun guru masih harus mengajar mereka.

Lalu bagaimana guru tetap dapat menyampaikan materi dan murid tetap  bersemangat untuk mendengarkannya?

Tidak hanya pada murid saja,  ketika sudah masuk jam siang, gurupun juga merasakan hal yang sama. Memaksakan anak-anak untuk tetap fokus di jam siang bukanlah hal yang baik. Perlu adanya teknis khusus agar materi tetap tersampaikan dengan baik pula.

Tidur siang memang sangat baik untuk mencerdaskan otak, namun bukan tidur yang terlalu lama, 10-15 menit saja. Hal ini dipercaya, karena penelitian yang dilakukan oleh City University of New York mengatakan bahwa orang yang biasa tidur siang 10-15 menit memiliki daya ingat yang lebih tajam dibandingkan yang tidak biasa melakukannya.

Salah satunya adalah memberikan waktu istirahat sejenak siswa untuk tidur siang, bukan berarti hal ini mendukung mereka untuk tidur saat jam pelajaran. Berikan waktu 10 menit di awal untuk sejenak memejamkan mata, tidak terlalu lama, hal ini akan membuat siswa menemukan semangatnya kembali. Tidur siang memang sangat baik untuk mencerdaskan otak, namun bukan tidur yang terlalu lama, 10-15 menit saja. Hal ini dipercaya, karena penelitian yang dilakukan oleh City University of New York mengatakan bahwa orang yang biasa tidur siang 10-15 menit memiliki daya ingat yang lebih tajam dibandingkan yang tidak biasa melakukannya.

Kemudian atur ulanglah letak mata pelajaran dengan sesuai. Letakkan mata pelajaran yang tidak terlalu berat diterima oleh siswa pada jam siang, dengan kondisi otak yang menurun ketika diberi pelajaran yang sulit diterima oleh mereka, hal ini malah akan membuat siswa menjadi semakin mengantuk untuk mengikutinya. Namun ketika hal ini terjadi, lakukan metode yang berbeda pada pembelajaran yang diterima sebelumnya, dengan membuat games atau quiz yang tentunya membuat mereka tetap enjoy dan santai. Games yang dilakukan saat pembelajaran sangat membantu mereka dalam memahami materi, anak-anak lebih senang untuk mempraktekkan dibandingkan duduk diam mendengarkan. Lalu bagaimana membuat games yang dapat membuat mereka enjoy namun tetap dapat menuntaskan materi yang ada? Ini yang perlu dipelajarai lebih oleh guru, membuat media pembelajaan yang santai namun fokus.

Games yang dilakukan saat pembelajaran sangat membantu mereka dalam memahami materi, anak-anak lebih senang untuk mempraktekkan dibandingkan duduk diam mendengarkan.

Selanjutnya, tidak melakukan metode ceramah pada jam siang, tidak meminta anak-anak untuk membaca materi di jam-jam siang  dan tidak memberikan tugas yang terlalu berat untuk diselesaikan namun berikan tantangan menyenangkan yang dapat memunculkan semangat mereka lagi. Misalkan membuat kelompok diskusi ketika kelompok dapat menyelesaikan 3 soal dengan baik dengan waktu yang telah ditentukan maka akan mendapat reward yang telah disediakan.

Banyak hal lain yang tetap dapat memunculkan semangat belajar meskipun di siang hari. Bukan karena salah metode belajar ataupun salah guru yang mengajar, namun banyak media yang dapat digunakan untuk memperbaiki metode pengajaran yang kurang menyenangkan bagi anak-anak.

Cespleng; Pentingnya Unggah-ungguh Basa dalam Bertutur Kata

0

Bahasa cermin diri. Tutur kata dalam berbahasa tidak semata dibatasi oleh nilai komunikasi dari satu orang ke orang lain, tetapi proses komunikasi tersebut mengandung semangat etik. Bobot bahasa dengan begitu dimaknai sebagai bagian dari penilaian pribadi dari penutur bahasa. Dengan begitu bahasa memiliki kekuatan budaya dan etika diri dalam setiap proses komunikasinya._

AJINING diri gumantung sangka lathi, ajining raga gumantung sangka busana. Pepatah ini sudah populer ditengah kehidupan masyarakat Jawa. Pepatah ini berarti bahwa tinggi rendahnya derajat diri manusia tergantung dari ucapannya dan pakaian yang dikenakannya. Oleh karena itu, berdasarkan pepatah ini manusia dianjurkan untuk selalu berhati-hati dalam setiap ucapannya. Ia harus selalu berucap yang baik dan dengan cara yang baik pula. Disamping itu, manusia juga harus selalu berpakaian yang baik dan sopan. Dalam setiap kunjungan sekolah, penulis selalu menanyakan kepada guru hal-hal yang mungkin menjadi kendala dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Seringkali guru menjawab tidak ada kendala. Tidak jarang pula guru menyampaikan masalah yang dihadapi di sekolah. Masalahpun beragam dan berbeda antara guru yang satu dengan yang lain.

Rabu (14/3/2018) penulis berkunjung ke salah satu sekolah dengan jumlah siswa lumayan banyak, diatas 200 siswa. Seperti biasanya, setelah selesai mengecek administrasi dan perangkat pembelajaran serta kegiatan pendidikan agama Islam di sekolah, penulis bertanya tentang kendala yang dihadapi guru. Secara spontan, Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI)  tersebut menjawab bahwa yang masih merisaukan beliau selama ini adalah rendahnya kemampuan siswa menggunakan tutur bahasa Jawa yang baik dan benar. Mayoritas siswa, bahkan siswa kelas besar, belum bisa menggunakan tata bahasa yang baik dan benar bahasa Jawa atau “krama Inggil” dalam keseharian mereka. Kepada gurupun juga demikian, siswa masih sering menggunakan bahasa kasar dalam berkomunikasi.

Mayoritas siswa, bahkan siswa kelas besar, belum bisa menggunakan tata bahasa yang baik dan benar bahasa Jawa atau “krama Inggil” dalam keseharian mereka.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam susunan tata bahasa Jawa dikenal dengan strata penggunaan bahasa atau “unggah-unggguh basa.” Secara garis besar susunan tata bahasa Jawa terbagi dua, yaitu ngoko dan krama. Ngoko terbagi dua yaitu ngoko lugu dan ngoko andhap. Sedangkan krama juga terbagi dua yaitu krama madya dan krama inggil. Tingkatan bahasa yang paling tinggi dari unggah-ungguh bahasa tersebut adalah krama inggil. Krama inggil adalah bahasa dimana susunan katanya semua menggunakan bahasa krama, utamanya krama inggil. Orang yang lebih muda seyogyanya menggunakan krama inggil jika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, rang yang terhormat atau punya jabatan. Termasuk siswa seharusnya juga menggunakan krama inggil jika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, utamanya guru.

Belum selesai berbincang tentang keprihatinan guru akan unggah-ungguh bahasa siswa, ternyata “cespleng,” langsung terbukti. Saat itu pula ada dua orang siswa mendekat pintu kantor dan salah satunya berteriak, “Pak, iko lho arek-arek rame ae, uncal-uncalan kapur dek kelas.” Melihat ungkapan siswa tersebut, sepertinya sudah kelas besar, namun belum menggunakan krama,  kami berdua saling pandang dan tersenyum.

Melihat kondisi tersebut kami berdua langsung diskusi upaya memperbaiki unggah-ungguh bahasa siswa tersebut. Beberapa saat kemudian Bapak kepala sekolah ikut berbincang. Dalam rembukan itu penulis menyampaikan “gerakan perbaikan bahasa krama” siswa. Dalam gerakan itu bisa dilakukan dengan beberapa langkah, pertama adalah menetapkan satu hari khusus di sekolah dimana seluruh warga sekolah wajib menggunakan basa krama kepada siapapun, di sekolah di luar jam pembelajaran. Bagi yang melanggar akan dikenakan sangsi.

Dalam gerakan itu bisa dilakukan dengan beberapa langkah, pertama adalah menetapkan satu hari khusus di sekolah dimana seluruh warga sekolah wajib menggunakan basa krama kepada siapapun, di sekolah di luar jam pembelajaran. Bagi yang melanggar akan dikenakan sangsi.

Langkah yang kedua adalah menjalin kerjasama dengan wali murid untuk membiasakan menggunakan basa krama di rumah. Sekarang ini disinyalir orang tua sudah jarang yang membiasakan anaknya basa krama. Termasuk para orang tua di masyarakat juga kurang memperhatikan masalah basa krama. Langkah selanjutnya adalah membiasakan siswa untuk saling menghormati dan menyayangi diantara siswa. Siswa yang lebih muda memanggil dengan sebutan “mas atau mbak” kepada teman yang lebih tua. Sebaliknya, siswa yang lebih tua memanggil “adik” kepada teman yang lebih muda.

Langkah keempat adalah menghafal kosakata basa krama dengan cara yang menyenangkan melalui syair lagu/ nadzom. Syair itu dibaca bersama dengan dilakukan dalam hari tertentu atau setiap hari secara bertahap. Penulis mempunyai kumpulan syair itu yang bisa dijadikan acuan hafalan siswa. Ketika siswa telah hafal maka mudah untuk mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah terakhir adalah membiasakan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah untuk menggunakan basa krama. Siswa kepada guru, guru kepada kepala sekolah. Sebaliknya, kepala sekolah kepada guru, kepala sekolah kepada murid, termasuk guru kepada murid. Semua menggunakan basa krama dalam rangka pembelajaran.

Demikian beberapa langkah sederhana perubahan unggah-ungguh basa bagi siswa. Kami sepakat untuk mengupayakan langkah tersebut. Dengan langkah tersebut diharapkan ada perubahan penggunaan tata bahasa Jawa di kalangan siswa. Jika siswa nantinya sudah terbiasa maka unggah-ungguh tersebut juga akan terpaut ketika siswa di rumah dan di masyarakat. Jika sudah tersebar di masyarakat, maka akan banyak berpengaruh kepada karakter masyarakat.

Bahasa merupakan masalah pokok dalam kehidupan, bahkan merupakan kebutuhan utama.

Masalah bahasa memang merupakan masalah yang penting. Bahasa merupakan masalah pokok dalam kehidupan, bahkan merupakan kebutuhan utama. Sebab setiap hari, setiap saat, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik kita membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu penggunaan bahasa harus menjadi perhatian kita.

Negeri kita sangat menjunjung norma atau sopan santun dalam bertutur kata, apalagi orang Jawa. Maka tidak heran jika orang Jawa mempunyai pedoman bahwa ‘derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari tutur bahasanya.’ Setinggi apapun pangkat seseorang, namun tidak mempunyai norma dalam berkata, maka dia akan rendah derajatnya. Sebanyak apapun ilmu atau gelar yang dimiliki seseorang, jika tidak sopan dalam berucap, maka ilmu dan gelarnya tiada guna. Sebanyak apapun harta yang dimiliki seseorang jika tidak mempunyai unggah-ungguh basa, maka dia tiada hormat sedikitpun baginya. Oleh karena itu penting sekali memperhatikan masalah unggah-ungguh basa. Terlebih bagi seluruh siswa yang masih dalam tahap pembelajaran. Maka semua itu merupakan salah satu tanggung jawab seorang guru atau kepala sekolah untuk melakukan pembinaan di sekolah.

Dari uraian di atas,  dapat kita telaah tentang betapa pentingnya masalah bahasa. Maka tepat bila ada suatu ungkapan, “bahasa adalah karakter yang utama.” Dari beberapa karakter baik yang perlu dimiliki seseorang, bahasa yang baik merupakan  karakter yang harus diutamakan. Bahkan dalam konteks agama, bahasa atau ucapan menjadi tolak ukur keimanan seseorang. Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad saw. dijelaskan bahwa “barang siapa mengaku beriman kepada Allah SWT. dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam”. Dalam Hadits ini dijelaskan bahwa perkataan yang baik merupakan ciri orang beriman. Perkataan baik di sini bisa berarti isinya baik, tata bahasanya baik dan cara penyampaiannya juga baik. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk selalu berkata yang baik.

Begitu pentingnya bahasa dalam kehidupan kita sehari-hari, juga dalam norma keindonesiaan serta dalam konteks keberagamaan. Semoga Allah selalu menjaga kita untuk senatiasa bertutur kata dengan baik. Sebagai orang tua, kita bisa membimbing dan memberi teladan ucapan yang baik bagi putra-putri kita tercinta. Sebagai guru, kita bisa mendidik dan melatih siswa untuk bertutur kata dengan baik. Semoga gerakan yang menjadi salah satu impian saya ini bisa segera terlaksana. Amin (Editor : Faatihatul Ghaybiyyah).

Ki Purbo. Sehari-hari berprofesi sebagai Pengawas Pendidikan Agama Islam wilayah Dampit dan Sumawe Kabupaten Malang. Pengawas Termuda Putra. Tinggal di Wirotaman Ampelgading Malang. Anggota Gerakan Guru Menulis Nusantara. Penulis bisa dihubungi melalui nomer WA 081216188185

Ladang Amal Di Akhirat, Sebuah Keistimewaan Seorang Guru

0

Diakui atau tidak, sejak tahun 1980, terhitung hampir tiga dekade, profesi guru dicap sebagai profesi kampungan. Waktu itu, SMA dikategorikan sebagai sekolah elit yang dapat menghasilkan orang-orang elit. SMA lebih favorit dibandingkan dengan SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Bagaimana guru masa kini menggeluti profesi dan kreasinya ? Apakah profesi guru masih seksi ? _______

BANYAK orang yang menyebutkan bahwa orang yang hebat dapat menghasilkan banyak karya yang bermutu, demikian juga orang yang hebat dicetak oleh guru yang hebat pula. Maka tidak heran jika cendekia-cendekia yang luar biasa juga ditempa oleh seorang guru yang luar biasa pula. Bukan hanya luar biasa, lebih tepatnya adalah nilai sebuah keberkahan yang menjadikan seorang guru mempunyai ladang amal di akhirat.

Adanya keragaman budaya dan tingginya peradaban manusia tidak terlepas dari bagaimana seorang guru memberikan motivasi dan memfasilitasi siswa untuk menggelorakan kreasinya yang didasari oleh minat dan bakat yang dimiliki. Secara kodrati manusia telah dilengkapi oleh Allah SWT dengan daya kreatif. Nah, di tangan gurulah kreativitas itu akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah sayap-sayap yang mampu melambungkan mimpi-mimpi sang murid ke angkasa raya.

Diakui atau tidak, sejak tahun 1980, terhitung hampir tiga dekade, profesi guru dicap sebagai profesi kampungan. Terbukti dengan banyaknya siswa lulusan SLTP tidak siap atau enggan untuk melanjutkan ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru) kala itu. Mereka lebih memilih masuk SMA. SMA dikategorikan sebagai sekolah elit yang dapat menghasilkan orang-orang elit. SMA lebih favorit dibandingkan dengan SPG. Ketika siswa ditanya oleh guru tentang cita-cita, maka siswa pun akan menjawabnya, jadi presiden, atau paling tidak jadi insinyur atau dokter. Sangat jarang sekali ditemukan siswa yang menjawabnya menjadi guru. Ada pula yang menjawab secara umum, mau jadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Namun sebaliknya, pada tahuan 2000-an, sekolah pendidikan guru tidak setara lagi dengan SMA, seseorang yang akan mencalonkan diri sebagai guru hendaknya lulusan diploma dua (D2) pendidikan guru. Gayung bersambut, lembaga pendidikan tinggi baik negeri maupun swasta bertumbuh bagai jamur dalam mengelola pendidikan guru setingkat diploma dua. Pertumbuhan ini seiring dengan tumbuhnya lembaga pendidikan kesehatan yang mengelola jurusan kebidanan dan keperawatan. Kedua lembaga ini menjadi ‘dagangan laris’ bagi siapa pun dan di mana pun.

Output yang lebih menjanjikan pada lowongan kerja membuat lembaga tersebut berkembang dengan pesat. Peminatanya pun tidak kalah banyak. Untuk dunia pendidikan sendiri dimulai dari tingkat PAUD hingga tingkat SLTA. Namun belakangan seiring dengan banyaknya pencari kerja dari lulusan kependidikan yang hampir semuanya berkeinginan untuk menjadi seorang PNS guru atau PNS tenaga kependidikan, maka seolah-olah pencari kerja menumpuk dengan menjadi tenaga honorer di setiap jenjang pendidikan. Pada periode berikutnya, mereka menuntut agar secepatnya diangkat sebagai seorang PNS semisal GTT kategori 2. Ribuan GTT K2 di Indonesia sudah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan per-Januari 2005 atau 13 tahun di tahun 2018 ini namun belum jelas nasibnya.

Hal demikian membuat banyak orang tua menginginkan putrinya mendapatkan jodoh seorang guru. Sungguh seorang guru kini menjadi trend dan keren bagi banyak kalangan masyarakat kita.

Terlebih sejak diberlakukannya UU tentang guru dan dosen No.14/ 2005, maka dunia kependidikan menjadi lebih diminati. Bahkan ada sebuah penelitian tentang “Dampak Tunjangan Profesi Guru terhadap Tingginya Angka Perceraian Seorang PNS Guru.” Hal demikian membuat banyak orang tua menginginkan putrinya mendapatkan jodoh seorang guru. Sungguh seorang guru kini menjadi trend dan keren bagi banyak kalangan masyarakat kita.

Demikian juga sejak diberlakukannya implementasi kurikulum 2013 yang sekaligus secara finansial dapat mengangkat perolehan tambahan mata pencaharian guru dari mengikuti diklat atau menjadi seorang narasumber diklat, baik tingkat kabupaten hingga tingkat pusat. Pendidikan dan pelatihan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru di samping kegiatan lainnya.

Guru yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan dengan guru lainnya bisa meng-upgrade kompetensinya menjadi sumber finansial.

Guru yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan dengan guru lainnya bisa meng-upgrade kompetensinya menjadi sumber finansial. Ada diantara mereka yang bergabung dalam lembaga pendidikan dan pelatihan sebagai fasilitator, sebagai narasumber atau bahkan sebagai motivator. Dari tugas tambahan tersebut, selain mendapatkan dana finansial diklat, mereka juga dapat memperoleh banyak pengalaman sekaligus rekreatif yang bisa me-refresh kembali ide-ide luar biasa mereka.

Selain itu, ada pula guru yang menggiatkan diri bahkan menjadi seorang penulis. Walaupun kompetensi ini tidak sepenuhnya dimiliki oleh semua guru, namun sejatinya belajar menulis dapat dimulai ketika seorang guru bertutur di depan kelas. Nah, apabila seorang guru mampu menjadikan dirinya kreatif dan profesional dalam menulis tentu akan dapat mendulang dana finansial/ royalti dari hasil kreativitas menulisnya tersebut. Kebermanfaatan bisa dalam berbagai cara. Baik dikirim maupun dimuat di media cetak, atau bahkan dicetak menjadi sebuah buku yang bermanfaat untuk para pembacanya. Dengan bakat kreatif menulis, tentunya seorang guru dapat menularkan bakatnya kepada siswa. Artinya seorang guru dapat menciptakan iklim menulis yang menjadi bagian kegiatan literasi yang dapat dilakukan secara efektif.

Dengan bakat kreatif menulis, tentunya seorang guru dapat menularkan bakatnya kepada siswa. Artinya seorang guru dapat menciptakan iklim menulis yang menjadi bagian kegiatan literasi yang dapat dilakukan secara efektif.

Hakikatnya, seorang guru mempunyai ladang amal yang begitu besar di akhirat kelak.  Selain menyebarkan ajaran kebaikan yang dapat dipetik hasilnya, tentunya seorang guru juga memberikan nilai keselamatan dalam kehidupan yang kekal di akhirat, sebagaimana hadits Rasulullah Muhammad saw., bahwa di antara amalan manusia yang tidak akan pernah putus di dunia hingga di akhirat kelak adalah berasal dari ilmu yang ditransformasikan kepada orang lain dan memberikan manfaat yang besar, baik kepada dirinya ataupun orang lain. Ilmu yang demikian dikenal dengan ilmu yang berkah. Artinya ilmu yang selalu bertambah dan berkembang sekaligus bermanfaat ila yaumil akhirah. Dengan demikian “amalan” itu tentu hanya dimiliki oleh seorang guru atau ustadz. Jadi jelaslah, selain seorang guru mendapatkan pahala derajat yang berlimpah ruah, mereka juga mendapatkan dana finansial yang keren dari profesi yang dahsyat yaitu sebagai seorang guru (Editor : Faatihatul Ghaybiyyah/Ifa).

Menjadi Teman Anak : Penyuluhan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Remaja

0

Narkoba adalah musuh yang sulit dilawan dan bagian dari imperialism yang menyerang tanpa senjata. Efek serangnya langsung merusak mentalitas. Para pecandu dibikin seolah berdaya tetapi pada kenyataannya lumpuh.

ANCAMAN peredaran narkoba  layaknya siluman, ada namun tak terlihat. Pada tahun 2016 Kota Malang menduduki peringkat ke 3 daerah rawan penyalah gunaan narkoba Sejawa Timur , hal ini merupakan konsekuensi  Bagi Kota apel , Ketenaran Pariwisata mengundang  wisatawan asing atau lokal untuk singgah di Kota malang dan sekitarnya,  hal tersebut dapat membuka celah bagi orang yang tidak bertangung jawab untuk menjadikan Kota Malang  sebagai pasar pengedaran Narkoba.

Sasaran penyalah gunaan narkoba salah satunya adalah Pelajar karena mereka belum memiliki konsep dan kontrol diri yang matang, dorongan rasa ingin tahu yang besar membuat pelajar kerap kali mudah tergiur kenikmatan semu narkoba

Masa perkembangan remaja selalu diwarnai dengan pencarian jati diri dengan cara bermacam macam. Pada masa Remaja Awal, anak akan cenderung lebih dekat dengan teman-temannya sehingga baik buruk seorang teman sangat mempengaruhi perilaku anak. Lingkar persahabatan yang solid sepertni ini kerap kali menjadi incaran strategi pasar barang haram yang kita sebut “narkoba” (Narkotika, Psikotoprika dan zat adiktif lainnya).

Hal semacam itu tidak bisa kita limpahkan semua kepada pengawasan sekolah dan orang tua, sebab kemampuan mereka terbatas. Maka kami team KOMANDO (Komunitas Mahasiswa Anti Narkotika dan Obat Obatan Terlarang Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang) membidik hal tersebut sebagai hal yang perlu kita kuatkan baik dengan penyuluhan atau pendekatan yang kekinian sehingga bisa mewakili dunia remaja dari bahaya narkoba.

Usia anak Sekolah Menengah Pertama berkisar antara umur 12-15 tahun. Usia tersebut menurut Hurlock termasuk dalam tahap perkembangan Remaja. Dilihat dari perkembangan psikososial Erickson, masa remaja mengalami kebingungan identitas dan kebingungan peran. Selain itu dalam perkembangan remaja juga terdapat proses individuasi yaitu remaja yang berusia 12-14 tahun masuk ke dalam tahap diferentiation. Remaja menyadari bahwa dia berbeda secara psikologis terhadap orangtuanya.

Kesadaran ini sering membuat anak menolak nasihat nasihat orangtuanya. Kemudian remaja yang berusia 14-15 tahun masuk ke dalam tahap practice. Pada tahap ini remaja percaya bahwa mereka tahu segalanya dan dapat melakukan sesuatu tanpa membuat kesalahan. Remaja menyangkal akan kebutuhan peringatan atau nasehat dan menantang orangtua dalam setiap kesempatan. Di sisi lain, komitmen terhadap teman sebaya semakin bertambah.

Di saat hubungan emosional remaja sangat dekat dengan teman sebayanya, ada baiknya jika kita turut memposisikan diri sebagai teman mereka juga. Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, remaja sedang asyik dengan dunia persahabatan mereka. Hal itulah yang kami lakukan di SMP Maarif Batu.

Setiap dua minggu sekali kami melakukan pencegahan primer yaitu mengunjungi siswa dan siswi yang tergabung dalam Satgas SMP Maarif Kota Batu. Kami memberikan game edukatif dan materi bahaya penyalahgunaan narkoba.

Perlu diingat, penyajian materi disampaikan sesuai gaya dan bahasa anak-anak pada umumnya sehingga pendekatan kami dapat diterima dengan antusias oleh siswa. Tujuannya adalah membentuk rasa nyaman pada anak. Ketika mereka sudah merasa aman dan percaya pada kita, mereka akan bercerita panjang lebar mengenai dunianya termasuk juga mengenai hal hal sensitif tentang narkoba.

Dunia Remaja adalah milik mereka. Hak mereka untuk mengekspreiskan dirinya, namun kita bertanggung jawab mengarahkan remaja menuju pilihan hidup yang baik karena esensi dari tumbuh kembang manusia adalah kebermanfaatan untuk sesame (Editor : Mohammad Mahpur).

Daftar Pustaka.

Endang Sutarti, SE. 2016. Strategi sederhana pencegahan penggunaan narkoba melalui keluarga. www.bkkbn.go.id. Diakses 30/30/18 20:39

Kampus Desa Medayoh; Menemukan Spirit Tanpa Batas

0

Memulai gerakan sebaiknya mengedepankan harapan (pingin opo) dan potensi (duwe opo) daripada menguraikan masalah-masalah yang selama ini dihadapi. Pingin opo melekat sebagai motivasi, dorongan, pemantik dan duwe opo adalah bahwa diyakini setiap orang pasti punya selera, kegemaran dan ajimat. Daripada muter-muter mencari masalah, lebih ringan dan optimis duwe opo dan lantas dikembangkan dengan menghubungkan duwe opo – duwe opo yang lainnya. 

KAMPUS DESA Medayoh ke-2 ada di desa Pringgondani, Bantur Kabupaten Malang. Kami disambut dengan optimis oleh Ikatan Pemuda Desa Pringgondani (IKPDP). Kata Sulhan, IPDP belum lama berdiri. 40an hari IPDP muncul dan bergerak untuk Pringgondani. Tetapi hubungan dengan pihak lain sudah terjalin meskipun baru berdiri di Pringgondani.  Desa Pringgondani ada di kecamantan Bantur. Dalam dunia pewayangan, Pringgondani itu nama lain dari Gatutkaca.

Para rektor kampusdesa medayoh untuk menginspirasi, bukan membawa bantuan sembako, apalagi untuk alasan proyek dengan seambrek bantuan cash. Sebutan rektor biasa dikenakan dari setiap orang, terutama punggawa kampusdesa.

Nah, perjalanan ini tidak lain berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam membangun perubahan diri. Jika kedatangan kami diperlukan, ya proses komunikasi akan dilanjutkan. Sebaliknya, jika kedatangan kami tidak begitu dianggap penting, ya kami mencoba untuk melakukan penguatan pada kancah belajar, atau menggali narasi lokal yang dapat dijadikan sebagai ide penemuan atau pengembangan ilmu pengetahuan. Semacam ngluruk keunggulan-keunggulan naratif orang-orang desa begitu.

Sekilas saja. Ternyata nama Pringgondani merupakan methapor (bahasa kiasan) yang acuannya pada seorang sosok hebat dalam pewayangan, yakni Gatutkaca. Sosok yang bersenjata Kuku. Ini menjadikan kami sedikit takjub dan agak-agak mistik memaknai perjumpaan ini. Apakah Pringgondani menjadi pintu isyarat bagi sebuah kebesaran-kebesaran di kemudian hari. Entah kampusdesa atau masyarakatnya sendiri. Setidaknya narasi daerah Pringgondani sedikit tergengam. Siapa tahu di kemudian hari bernilai tinggi. Apalagi ditemukan juga mereka pun mempunyai tradisi makan jagung dan tiwul karena kami dijamu dengan makan nasi campur empog dan tiwul.

PBNU ala Pesantren Rakyat sebagai Pengingat Masyarakat

Selain narasi tentang varians nasi, ditemukan juga kekhasan kopi Pringgondani. Menurut Binar (salah satu relawan kampusdesa), sajian kopi menunjukkan aroma yang khas dan tidak jauh beda dengan komoditas yang sudah masif. Bahkan, sudah terbersit mengembangkan pertanian kopi di Pringgondani karena rasa kopi orisinalnya setara dengan kopi-kopi yang dijajakan di caffe kota Malang. Sayang, kopi di Pringgondani seperti tumbuh tidak semasif di perkebunan kopi, padahal kualitas rasanya aduhai.

Semangat Otodidak Menjadi Penari Internasional

Meski di desa biasanya serba terbatas, tetapi anak-anak Pringgondani seperti tidak mengenal itu. Sulhan, salah satu penggerak di sini menceritakan, pertunjukkan tari sebagai pembukan kuliah di desa disajikan dari anak-anak perempuan sendiri. Mereka  tidak mempunyai guru tari, tetapi semangat ingin unjuk kebolehan melampaui keterbatasannya. Mereka belajar sendiri dari sumber-sumber internet. Jadilah tarian yang juga Indah. Bahkan, mereka terobsesi ingin menjadi penari internasional.  Al-hasil, mereka menyanggupi akan membuat pertunjukkan di penampilan berikutnya dengan tarian berirama internasional, termasuk kombinasi dengan teater sehingga mereka harus belajar menggunakan bahasa Inggris. Saya kasih tahu, mereka itu masih madrasah tsanawiyah kelas dua tetapi sudah berani menghadapi tantangan belajar go international.

Mengelola Harapan Melepaskan Belenggu, Sebuah Pendekatan Apresiatif

Kuliah dimulai dengan sedikit perkenalan. Saat mencoba memfasilitasi, awalnya langsung dipancing dengan pertanyaan, masalah apa yang sedang dihadapi oleh teman-teman yang kuliah bareng ini. Satu per-satu masalah ditemukan, namun semakin banyak identifikasi masalah, maka semakin terasa beban untuk maju menjadi lebih besar sehingga saya sendiri merasa jauh lebih sulit. Nah, setelah identifikasi masalah secara sekilas selesai, maka dilanjutkan sesi itu dengan membangun keinginan atau kemauan berdasarkan tiga pertanyaan,

  • Pingin opo (Apa yang diinginkan oleh para pembelajar)
  • Duwi opo (Apa saja yang kita miliki untuk mencapai keinginan itu), dan
  • Langkahe opo (Apa cara yang digunakan untuk mencapai keinginan itu berdasarkan apa yang dimiliki)

Mereka dikelompokan menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok disarankan untuk mengidentifikasi keinginannya secara bersama. Sementara bagi kelompok dewasa, mereka diminta menuliskan harapan kelompok dan harapan individu. Bermula dari sini, beban masalah disingkirkan terlebih dahulu sehingga mereka tidak diajak untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi karena nampaknya menemukan solusi atas masalah yang dihadapi lebih condong memberikan beban berlipat daripada mengembangkan sumberdaya yang sudah dimiliki untuk didorong berkembang secara bertahap.

Asal kemauan itu kuat, maka setiap orang akan selalu menemukan cara belajarnya dengan baik. Ini adalah awal dari fondasi mental yang harus dikuatkan untuk membangun desa

Kemauan atau harapan yang ada dikuatkan dan sumber kekuatan yang dimiliki diidentifikasi. Suatu contoh yang sudah ada adalah kemauan untuk menari. Kemauan ini dikuatkan. Ketika sudah kuat ternyata para anak-anak gadis desa tersebut bisa belajar sendiri tanpa adanya guru tari. Mereka memanfaatkan sumber belajar dari youtub dan didukung oleh orang lain untuk melengkapi kebutuhan menarinya. Dengan begitu kemauan yang tinggi akan melahirkan cara belajar otodidak. Asal kemauan itu kuat, maka setiap orang akan selalu menemukan cara belajarnya dengan baik. Ini adalah awal dari fondasi mental yang harus dikuatkan untuk membangun desa, utamanya bagi anak-anak muda desa untuk selalu berkembang positif. Ketika seseorang memiliki harapan tinggi, dia akan menemukan kekuatannya dan dariNYA langkah-langkah dapat disusun secara bersama-sama. Pendekatan mengapresiasi melalui mimpi (harapan) menjadikan mereka lebih optimis daripada mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya. Harapan-harapan (pingin opo), ketersediaan sumberdaya (duwe opo) dan langkah yang ada (langkahe opo) pada akhirnya juga mengarah ke penemuan solusi dari masalah yang sudah teridentifikasi, tetapi lebih ke semangat positif daripada mengidentifikasi masalah. Perlahan-lahan mereka mulai bisa menemukan gambaran realistik untuk melangkah maju.

Mempertemukan Duwe Opo

Ada contoh lagi yang menarik, ketika beberapa pemuda ditanya mengenai masalah, mereka mengatakan, ada masalah mengenai pengangguran. Namun, saat ditanya mereka ingin apa, jawabnya ingin memiliki pekerjaan. Lantas mereka ditanya, duwe opo (punya apa), awalnya memang mereka diam dan bingung karena merasa tidak punya apa-apa. Pertanyaan dilanjut, apakah punya teman, punya kegemaran dan beberapa kemungkinan lain yang dipunya. Pemuda tersebut menjawab, punya kenalan yang hobinya membuat kue pisang.  Dia katakan juga sudah sering latihan mengolah pisang dengan berbagai cara tapi masih belum tepat komposisinya sehingga hasilnya kadang kenyal, kadang lembek. Selain itu, dia juga suka jualan, alias punya kegemaran marketing.

“Pemberdayaan masyarakat bukan tentang bagaimana menyelesaikan masalah, tetapi menggerakkan potensi untuk saling pengaruh mempengaruhi membentuk keuntungan bersama.”

Nah, di sebelahnya, ada seorang perempuan yang sudah lumayan berpengalaman dalam dunia jahit menjahit.  Cuma, dia merasa malu jika berurusan dengan jual-menjual, alias marketing. Saling gayung bersambut. Seorang ternyata gemar berjualan dan satunya sulit berjualan tetapi memiliki keahlian menjahit dan sudah dipesan ke beberapa tempat. Menganalisis dan memetakan duwene opo dapat memberikan pijakan jikalau komunitas sebenarnya memiliki kekuatan, namun ketika basis analisisnya masalah, niscaya akan jauh lebih sulit untuk memecahkan masalah itu karena berpikir cara didasari oleh kebiasan menciptakan atau menemukan solusi. Sementara, jikalau duwene opo, tinggal mengikatkan antar-kegemaran menjadi jalur baru. Jadi, di sini ditemukan, “pemberdayaan masyarakat bukan tentang bagaimana menyelesaikan masalah, tetapi menggerakkan potensi untuk saling pengaruh mempengaruhi membentuk keuntungan bersama.”

Pekerjaan Rumah IPDP

Kuliah ngopi bareng diakhiri dengan pekerjaan rumah,

  • Membuat pertunjukan international dancing yang diciptakan sendiri dari dalam komunitas Pringgondani dari gadis remaja Pringgondani yang menyukai kegiatan menari dan senam
  • Bagi yang dewasa, ada beberapa pilihan. Pilihan kelompok disepakati untuk mencari inovasi produk tebu sebagai produk olahan rumah tangga alternatif (pilihan selain disetor ke pabrik). Ada juga proyek individu yang suka membuat kue berbahan dasar dari pisang, pada pertemuan selanjutnya akan mempresentasikan hasil olahan kue pisang. Jika ada yang lain punya kegemaran lain, maka mereka dapat membawa produk-produknya untuk dipresentasikan di pertemuan berikutnya.

Dibutuhkan Relawan Pengajar Kampus Desa

Pertemuan ini menyentak kami, bahwa ketika proses belajar masyarakat diwadahi atau diakui, mereka akan menemukan potensi hebatnya dan melalui keterbukaan sumberdaya, mereka dapat menemukan caranya untuk berkembang. Jika anda berminat menjadi Relawan Mengajar Kampus Desa untuk Wilayah Desa Pringgondani Bantur Kabupaten Malang untuk bidang 1) Marketing dan 2) Olahan alternatif sumberdaya pertanian lokal (tebu, pisang dan kopi) silahkan menghubungi Alfin Mustikawan atau Binar di nomer admin web di bawah (header halaman muka web kampusdesa). 

Joyogrand Malang, 30 Maret 2018