Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 85

Politik Perlu Berlajar dari Sepakbola

0

Gaduh politik seperti gejala sindrom kuasa. Tidak hanya mencuri start. Para politisi mengoyak batin masyarakat untuk menciptakan kelatahan kuasa. Hasrat diri dicemarkan menjadi virus komunal dan dijadikam sebagai tontonan publik. Di sinilah politik tidak ada seni. Belajarlah dari sepakbola, mereka bertarung dalam sportifitas. Kebencian yang mengancam orang lain harus disingkirkan dan tidak ada yang melawan kecuali tetap pada koridor hukum.

SAYA pernah (dan selalu) berharap bahwa sepakbola akan menjadi alternatif bahan obrolan yang menarik ketika politik kita sudah sedemikian memuakkan. Sepakbola dengan jargon sportifitas dan segala proses depolitisasi-nya bisa menghindarkan kita dari pertengkaran sebab membahas perkara yang sensitif.

Jadi ketika melakukan obrolan tentang sepakbola, cukup membahas bagaimana Ronaldo melakukan tendangan salto ketika melawan Juventus, Arsenal yang menampilkan permainan malas-malasan di Liga Inggris dan bagaimana rotasi permainan serta strategi yang dilakukan Zidane selama melatih Real Madrid berhasil mengantarnya meraih juara Liga Champion dua kali berturut-turut.

Sepakbola juga menarik sebab berani melakukan depolitisasi atau melakukan penghilangan kegiatan politik di dalamnya. Mengutip artikel Zen RS dalam media online Detik.com, Giorgios Katidis pemain muda klub AEK Athens dan timnas Yunani harus menerima hukuman yaitu selamanya dilarang bemain di timnas Yunani. Hukuman ini dijatuhkan oleh federasi sepakbola Yunani menyusul selebrasi Katidis dengan mengangkat tangan kanannya ke arah suporter, seakan memberikan salut yang sering diperlihatkan Adolf Hitler saat memimpin Nazi.

Federasi sepakbola Yunani pun harus menghukumnya. Katidis kemudian dilarang bertanding membela timnas selamanya. Tingkah lakunya dianggap tak sensitif, melukai perasaan banyak korban Nazi, dan tak sesuai dengan “semangat” dan “karakter” permainan sepakbola.

Hukuman serupa juga pernah diterima oleh Striker Sevilla, Frederic Kanoute. Dia pernah membayar denda sebesar 4 ribu dolar saat dia menunjukkan dukungannya terhadap Palestina dengan menggunakan media kaos bertuliskan “Palestina” di balik jersey bolanya. Nicolas Bendtner pun harus merogoh kocek membayar denda, setelah memperlihatkan tulisan “Paddy Power” di pakaian dalamnya.

Masih mengutip artikel Zen RS, tindakan FIFA dan beberapa asosiasi sepakbola negara-negara terkait ini โ€˜didasari oleh keinginan agar sepakbola (semakin) diterima sebagai permainan global di seluruh dunia. Netralitas pun akhirnya digunakan sebagai tameng untuk mengatasi batasan-batasan politis. FIFA memiliki 200 negara sebagai anggotanya dan masing-masing memiliki isu politik dan sosial tersendiri; hari bersejarah, persaingan dengan negara tetangga, serta simbol politis masing-masing.โ€™

Menjelang Pemilu tahun depan, semakin konyol saja perilaku yang ditampilkan pendukung kubu-kubu calon presiden

Netralitas dan otoritas pemberi sanksi ini yang belum secara maksimal kita jumpai dalam dunia politik kita. Menjelang Pemilu tahun depan, semakin konyol saja perilaku yang ditampilkan pendukung kubu-kubu calon presiden. Polarisasi yang sedemikian kuat muncul di media sosial akhirnya menemui momentumnya di dunia nyata.

Minggu kemarin beredar video seorang perempuan dengan anaknya tengah jadi bahan โ€˜bercandaanโ€™ sekelompok orang di CFD. Sambil memegang tangan anaknya yang menangis sebab diintimidasi beberapa oknum dari sebuah kelompok dengan melakukan gestur memberikan โ€˜saweranโ€™ atau memukul-mukulkan uang kertas yang mereka pegang kepada ibu dan anaknya. Sepanjang jalan perempuan dan anaknya dikerubungi dan diolok-olok. Dan tau apa masalahnya? Cuma beda kaos. Perempuan tersebut memakai kaos putih dengan tagar #DiaSibukKerja sementara gerombolan orang yang mengintimidasinya memakai kaos hitam dengan tagar #2019GantiPresiden.

Terlepas dari apa maksud framing atau pembingkaian penyebar potongan video tersebut, yang jelas insiden kecil itu memberikan pelajaran kepada masyarakat di tempat lain untuk bersikap lebih sadar dan wajar. Bahwa apapun dan siapapun yang anda dukung dalam pemilu, bukan menjadi alasan untuk melakukan perilaku diluar etika dan kewajaran. .

Apapun dan siapapun yang anda dukung dalam pemilu, bukan menjadi alasan untuk melakukan perilaku diluar etika dan kewajaran.

Toh apakah jika calon yang kita pimpin menang, bakal banyak perubahan selain kepuasan sebagai masing-masing golongan bisa menempatkan bagian dari kelompoknya di posisi tertinggi.? Jika mengutip artikel โ€˜Bonek, Keruntuhan Keadaban Publikโ€™ oleh M. Akung (2010), akademisi Fakultas Psikologi Undip, maka apa yang tengah kita saksikan โ€˜sesungguhnya adalah perang kecil antarsesama anak bangsa yang sejatinya memalukan. Keadaban kita sebagai makhluk berakal budi nampaknya mulai runtuh.โ€™

Regulasi dalam sepakbola mengajarkan, bahwa apapun agama dan afiliasi politikmu, diatas segalanya adalah sepakbola. Ketegasan pemegang regulasi dalam pemilu, Bawaslu dan kepolisian misalnya, terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam kontestasi politik juga masih belum tampak baik. Disamping kesadaran masyarakat kita untuk menempatkan politiks secara wajar saja sebagaiamana yang diajarkan Gus Dur juga masih belum terwujud.

Gus Dur ingin mengajak ditengah ketat dan tingginya potensi konflik sebab beda pilihan politik, tidak ada satu alasan-pun yang membenarkan kita untuk merendahkan martabat orang lain sebagai manusia.

Gus Dur dalam satu kutipan terkenalnya pernah menyatakan: โ€˜yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaanโ€™. Jika ditafsirkan, Gus Dur ingin mengajak ditengah ketat dan tingginya potensi konflik sebab beda pilihan politik, tidak ada satu alasan-pun yang membenarkan kita untuk merendahkan martabat orang lain sebagai manusia.

Lebih jauh, Gus Dur mengajak untuk saling terbuka dan menghindari perilaku intimidatif. Menurut Greg Barton (2003) dalam Biografi Gus Dur; The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Gus Dur percaya bahwa untuk menjadikan Indonesia dapat memperoleh kematangan sebagai suatu bangsa, ia harus berani menghadapi musuh-musuh imajiner dan mengganti kecurigaan dengan persahabatan serta dialog.

Atau jika tetap ingin menyampaikan pesan agama dalam pertarungan politik, saran saya coba meniru apa yang dilakukan oleh pemain Liverpool Mo Salah atau juga pemain Arsenal, Mesut Ozil. Tentunya dengan performa permainan terbaik, keterbukaan dan kemampuan bekerjasama dengan rekan tim yang berbeda-beda latar belakang, pesan religiusitas dan identitas Islam Ozil dengan doa โ€˜mengangkat tanganโ€™ setiap menjelang pertandingan dan selebrasi โ€˜sujud syukurโ€™ Mo Salah bisa lebih mudah diterima.

Tidak perlu mati-matian memenangkan calon yang anda dukung, toh jika kita sadar, menjadi presiden di Indonesia pasca kemerdekaan sangat jauh lebih mudah dibandingkan di negara-negara lain. Tuhan memberikan keberkahan negeri ini dengan segala sumberdaya dan ekosistem bagi manusia yang ada diatas buminya untuk bertahan hidup.

Menjadi presiden di Indonesia, anda tidak perlu berpikir keras untuk melakukan proses industrialisasi sebagaimana negara-negara Eropa, sebab mereka tidak memiliki sumberdaya untuk diolah dan tanah yang subur untuk ditanami bahan makanan. Presiden di Indonesia juag tidak perlu mempersiapkan armada perang untuk menjajah negara lain sebab kekurangan rempah-rempah, kopi dan minyak bumi. Maka jika sekedar gara-gara pemilu dan anda musti merendahkan kelompok lain supaya bisa menang, itu kelewatan.

Maka sambil bersama-sama refleksi, siapkan kopi terbaik untuk begadang, menyaksikan Zidane mengatar timnya maju selangkah meraih trofi Liga Champion Eropa untuk ketiga kalinya.

Semarang, 30 April 2018

Luthfi Hamdani
Lahir 1995. Enam tahun di Kediri, empat setengah tahun di Malang, sekarang di Semarang

Politik Perlu Berlajar dari Sepakbola

0

Gaduh politik seperti gejala sindrom kuasa. Tidak hanya mencuri start. Para politisi mengoyak batin masyarakat untuk menciptakan kelatahan kuasa. Hasrat diri dicemarkan menjadi virus komunal dan dijadikam sebagai tontonan publik. Di sinilah politik tidak ada seni. Belajarlah dari sepakbola, mereka bertarung dalam sportifitas. Kebencian yang mengancam orang lain harus disingkirkan dan tidak ada yang melawan kecuali tetap pada koridor hukum.

SAYA pernah (dan selalu) berharap bahwa sepakbola akan menjadi alternatif bahan obrolan yang menarik ketika politik kita sudah sedemikian memuakkan. Sepakbola dengan jargon sportifitas dan segala proses depolitisasi-nya bisa menghindarkan kita dari pertengkaran sebab membahas perkara yang sensitif.

Jadi ketika melakukan obrolan tentang sepakbola, cukup membahas bagaimana Ronaldo melakukan tendangan salto ketika melawan Juventus, Arsenal yang menampilkan permainan malas-malasan di Liga Inggris dan bagaimana rotasi permainan serta strategi yang dilakukan Zidane selama melatih Real Madrid berhasil mengantarnya meraih juara Liga Champion dua kali berturut-turut.

Sepakbola juga menarik sebab berani melakukan depolitisasi atau melakukan penghilangan kegiatan politik di dalamnya. Mengutip artikel Zen RS dalam media online Detik.com, Giorgios Katidis pemain muda klub AEK Athens dan timnas Yunani harus menerima hukuman yaitu selamanya dilarang bemain di timnas Yunani. Hukuman ini dijatuhkan oleh federasi sepakbola Yunani menyusul selebrasi Katidis dengan mengangkat tangan kanannya ke arah suporter, seakan memberikan salut yang sering diperlihatkan Adolf Hitler saat memimpin Nazi.

Federasi sepakbola Yunani pun harus menghukumnya. Katidis kemudian dilarang bertanding membela timnas selamanya. Tingkah lakunya dianggap tak sensitif, melukai perasaan banyak korban Nazi, dan tak sesuai dengan “semangat” dan “karakter” permainan sepakbola.

Hukuman serupa juga pernah diterima oleh Striker Sevilla, Frederic Kanoute. Dia pernah membayar denda sebesar 4 ribu dolar saat dia menunjukkan dukungannya terhadap Palestina dengan menggunakan media kaos bertuliskan “Palestina” di balik jersey bolanya. Nicolas Bendtner pun harus merogoh kocek membayar denda, setelah memperlihatkan tulisan “Paddy Power” di pakaian dalamnya.

Masih mengutip artikel Zen RS, tindakan FIFA dan beberapa asosiasi sepakbola negara-negara terkait ini โ€˜didasari oleh keinginan agar sepakbola (semakin) diterima sebagai permainan global di seluruh dunia. Netralitas pun akhirnya digunakan sebagai tameng untuk mengatasi batasan-batasan politis. FIFA memiliki 200 negara sebagai anggotanya dan masing-masing memiliki isu politik dan sosial tersendiri; hari bersejarah, persaingan dengan negara tetangga, serta simbol politis masing-masing.โ€™

Menjelang Pemilu tahun depan, semakin konyol saja perilaku yang ditampilkan pendukung kubu-kubu calon presiden

Netralitas dan otoritas pemberi sanksi ini yang belum secara maksimal kita jumpai dalam dunia politik kita. Menjelang Pemilu tahun depan, semakin konyol saja perilaku yang ditampilkan pendukung kubu-kubu calon presiden. Polarisasi yang sedemikian kuat muncul di media sosial akhirnya menemui momentumnya di dunia nyata.

Minggu kemarin beredar video seorang perempuan dengan anaknya tengah jadi bahan โ€˜bercandaanโ€™ sekelompok orang di CFD. Sambil memegang tangan anaknya yang menangis sebab diintimidasi beberapa oknum dari sebuah kelompok dengan melakukan gestur memberikan โ€˜saweranโ€™ atau memukul-mukulkan uang kertas yang mereka pegang kepada ibu dan anaknya. Sepanjang jalan perempuan dan anaknya dikerubungi dan diolok-olok. Dan tau apa masalahnya? Cuma beda kaos. Perempuan tersebut memakai kaos putih dengan tagar #DiaSibukKerja sementara gerombolan orang yang mengintimidasinya memakai kaos hitam dengan tagar #2019GantiPresiden.

Terlepas dari apa maksud framing atau pembingkaian penyebar potongan video tersebut, yang jelas insiden kecil itu memberikan pelajaran kepada masyarakat di tempat lain untuk bersikap lebih sadar dan wajar. Bahwa apapun dan siapapun yang anda dukung dalam pemilu, bukan menjadi alasan untuk melakukan perilaku diluar etika dan kewajaran. .

Apapun dan siapapun yang anda dukung dalam pemilu, bukan menjadi alasan untuk melakukan perilaku diluar etika dan kewajaran.

Toh apakah jika calon yang kita pimpin menang, bakal banyak perubahan selain kepuasan sebagai masing-masing golongan bisa menempatkan bagian dari kelompoknya di posisi tertinggi.? Jika mengutip artikel โ€˜Bonek, Keruntuhan Keadaban Publikโ€™ oleh M. Akung (2010), akademisi Fakultas Psikologi Undip, maka apa yang tengah kita saksikan โ€˜sesungguhnya adalah perang kecil antarsesama anak bangsa yang sejatinya memalukan. Keadaban kita sebagai makhluk berakal budi nampaknya mulai runtuh.โ€™

Regulasi dalam sepakbola mengajarkan, bahwa apapun agama dan afiliasi politikmu, diatas segalanya adalah sepakbola. Ketegasan pemegang regulasi dalam pemilu, Bawaslu dan kepolisian misalnya, terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam kontestasi politik juga masih belum tampak baik. Disamping kesadaran masyarakat kita untuk menempatkan politiks secara wajar saja sebagaiamana yang diajarkan Gus Dur juga masih belum terwujud.

Gus Dur ingin mengajak ditengah ketat dan tingginya potensi konflik sebab beda pilihan politik, tidak ada satu alasan-pun yang membenarkan kita untuk merendahkan martabat orang lain sebagai manusia.

Gus Dur dalam satu kutipan terkenalnya pernah menyatakan: โ€˜yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaanโ€™. Jika ditafsirkan, Gus Dur ingin mengajak ditengah ketat dan tingginya potensi konflik sebab beda pilihan politik, tidak ada satu alasan-pun yang membenarkan kita untuk merendahkan martabat orang lain sebagai manusia.

Lebih jauh, Gus Dur mengajak untuk saling terbuka dan menghindari perilaku intimidatif. Menurut Greg Barton (2003) dalam Biografi Gus Dur; The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Gus Dur percaya bahwa untuk menjadikan Indonesia dapat memperoleh kematangan sebagai suatu bangsa, ia harus berani menghadapi musuh-musuh imajiner dan mengganti kecurigaan dengan persahabatan serta dialog.

Atau jika tetap ingin menyampaikan pesan agama dalam pertarungan politik, saran saya coba meniru apa yang dilakukan oleh pemain Liverpool Mo Salah atau juga pemain Arsenal, Mesut Ozil. Tentunya dengan performa permainan terbaik, keterbukaan dan kemampuan bekerjasama dengan rekan tim yang berbeda-beda latar belakang, pesan religiusitas dan identitas Islam Ozil dengan doa โ€˜mengangkat tanganโ€™ setiap menjelang pertandingan dan selebrasi โ€˜sujud syukurโ€™ Mo Salah bisa lebih mudah diterima.

Tidak perlu mati-matian memenangkan calon yang anda dukung, toh jika kita sadar, menjadi presiden di Indonesia pasca kemerdekaan sangat jauh lebih mudah dibandingkan di negara-negara lain. Tuhan memberikan keberkahan negeri ini dengan segala sumberdaya dan ekosistem bagi manusia yang ada diatas buminya untuk bertahan hidup.

Menjadi presiden di Indonesia, anda tidak perlu berpikir keras untuk melakukan proses industrialisasi sebagaimana negara-negara Eropa, sebab mereka tidak memiliki sumberdaya untuk diolah dan tanah yang subur untuk ditanami bahan makanan. Presiden di Indonesia juag tidak perlu mempersiapkan armada perang untuk menjajah negara lain sebab kekurangan rempah-rempah, kopi dan minyak bumi. Maka jika sekedar gara-gara pemilu dan anda musti merendahkan kelompok lain supaya bisa menang, itu kelewatan.

Maka sambil bersama-sama refleksi, siapkan kopi terbaik untuk begadang, menyaksikan Zidane mengatar timnya maju selangkah meraih trofi Liga Champion Eropa untuk ketiga kalinya.

Semarang, 30 April 2018

Luthfi Hamdani
Lahir 1995. Enam tahun di Kediri, empat setengah tahun di Malang, sekarang di Semarang

Melintasi Indonesia; Pengalaman Prestisius Menjadi Guru Madrasah di Perbatasan

0

Dipercaya oleh Kementerian Agama untuk menjadi trainer di perbatasan Indonesia akan terkesan sangat istimewa, apalagi amanat itu dipercayakan seorang guru Madrasah di Kabupaten Malang. Rasa gembira dan semangat inspirasi menjadi satu keajaiban bagi orang-orang yang terus berusaha menjadi terbaik, meskipun itu seorang guru sekalipun.

SAYA sangat berbangga hati ketika Bapak Kasubag TU Direktorat GTK Madrasah Kementerian Agama RI, Pak Haji Sidik Sisdiyanto menugaskan saya bersama rekan saya Bu Najmah untuk menjadi pemateri dalam Program Visiting Guru Madrasah daerah perbatasan. Seminggu sebelum kegiatan tersebut Pak Haji (sapaan akrab saya kepada Pak Sidik Sisdiyanto), menghubungi saya lewat pesan WA, agar menyiapkan materi bagi guru madrasah di Tarakan, Kalimantan Utara. Saya pun menyatakan siap dalam melaksanakan tugas yang diperintahkan. Agenda pada hari Selasa-Kamis, 26-27 Desember 2017 saya cancel semua, demi tugas yang diberikan Pak Haji.

Namun saya yakin, Pak Haji menunjuk saya pasti dengan pertimbangan yang sangat matang sesuai dengan kapasitas dan potensi saya, meskipun sebagai manusia biasa di dalam hati ada perasaan sedikit minder. Saya pun menyiapkan materi presentasi slide power point dengan semangat, sambil membayangkan saya mempresentasikannya di depan para guru madrasah di Tarakan, Kalimantan Utara. Tentunya juga dengan doa-doa khusus agar materi presentasi saya bisa bermakna dan berguna.

Dua hari melembur setiap malam, akhirnya materi dengan 48 slide powerpoint selesai. Saya sangat puas dengan materi yang saya buat kali ini, karena sangat lengkap. Mulai dari pembukaan, kuis untuk peserta, ice breaker, materi inti, video motivasi dan diakhiri dengan lagu Hymne Guru.

Senin pagi saya memesan travel dari Malang menuju Bandara Juanda Surabaya. Alhamdulillah, keesokan harinya Selasa, 26 Desember 2017 pukul 03.10, mobil travel saya menjemput. Meski agak terlambat menjemput saya, hingga membuat hati saya sedikit was-was, takut tidak dijemput dan pada akhirnya terlambat sampai Bandara Juanda. Untung itu semua tidak terjadi. Setelah berpamitan pada istri dan membelai ke-empat anak saya, saya pun naik mobil travel. Perjalanan sekitar 1,5 jam menuju Bandara Juanda tak terasa bagi saya, karena disambi dengan ngobrol bersama Pak Sopir travel yang baik.

Pukul 04.40 saya sampai Bandara Juanda dan bertemu Bu Najmah. Menyempatkan sholat Shubuh dan langsung chek-in. Penerbangan kami pukul 05.45 menuju Balikpapan. Kami sengaja transit di Balikpapan, untuk sekedar ingin melihat suasana di Balikpapan. Kami sempat mampir ke Pantai Kemala. Pada sore harinya kami pun terbang menuju Tarakan. Sesampai di Bandara Tarakan, kami sudah dijemput oleh Pak Kasi Pendidikan Madrasah, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara dan diantar menuju Hotel Royal Tarakan.

Pada Rabu, 27 Desember 2017 saya sudah bersiap rapi dan cakep, untuk menuju Kantor Kementerian Agama Kota Tarakan, tempat acara visiting guru madrasah di daerah perbatasan. Setelah dibuka oleh Bapak Kabid Pendidikan Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, saya pun mulai menyapa dan memberikan materi kepada peserta guru madrasah dengan penuh percaya diri dan semangat.

Di awal memberikan materi motivasi, saya mengajak para peserta untuk meluruskan niat bahwasanya, kegiatan hari ini jangan dijadikan sebagai sebuah beban, namun kita niatkan sebagai ibadah. Niat tholabul โ€˜ilmi, agar yang kita kerjakan hari ini bernilai manfaat, ibadah dan pahala di sisi Allah SWT. Selain itu saya juga menytakan pada peserta, bahwa kita ini adalah orang-orang yang beruntung dan terpilih, karena saat kebanyakan orang-orang atau guru-guru lain liburan, justru kita berada di sini untuk belajar. Setelah itu, saya memberikan kuis, dengan hadiah buku saya senilai 50 ribu, bagi peserta yang bisa menjawab dengan tujuan memberi stimulus agar para peserta lebih semangat dalam mengikuti kegiatan.

Namun sayangnya di sekitar 30 menit saya memberikan materi, tiba-tiba ada pemadaman listrik, padahal materi yang saya berikan belum selesai. Saya pun mempersilahkan rekan saya, Bu Najmah untuk melanjutkan memberikan motivasi tentang kepemimpinan efektif di madrasah sesuai kapasitas beliau, sambil menunggu listrik menyala kembali.

Alhamdulillah, listrik kembali menyala, setelah 1 jam padam. Saya mempersiapkan kembali materi presentasi dan melanjutkan menyampaikannya kepada para peserta. Saya melihat para peserta sangat antusias sekali. Waktu 3 jam tidak terasa telah kami lewati bersama peserta guru madrasah. Saya dikode panitia agar menyelesaikan materi karena Bapak Kakanwil Kemenag Kaltara sudah datang untuk menutup kegiatan, dan syukur bertepatan materi yang saya sampaikan selesai semua.

Di slide terakhir presentasi yang saya buat ada lagu Hymne Guru. Saya pun mempersilahkan para peserta berdiri dan menyanyikan bersama-sama, sekaligus menyambut kedatangan Bapak Kakanwil Kemenag Kaltara. Beliau masuk dan ikut menyanyikan lagu Hymne Guru. Setelah selesai bernyanyi bersama, saya mempersilahkan para peserta duduk kembali dan mengucapkan Assalamualaikum. Presentasi pun saya akhiri.

Bapak Kakanwil Kemenag Kaltara dalam sambutan penutupannya menyatakan bahwa guru harus seperti yang ada di dalam lirik lagu Hymne Guru. Yang pertama guru harus menjadi โ€˜pelita dalam kegelapanโ€™, yang bermakna bahwa guru memberikan pencerahan ilmu bagi siapa saja, orang-orang di sekitarnya, tentu khususnya adalah para peserta didiknya. Yang kedua, guru harus menjadi โ€˜embun penyejukโ€™, yang bermakna guru bisa mendamaikan, merukunkan dan menginspirasi dengan perkataan dan perbuatannya. Yang ketiga adalah, guru harus menjadi โ€˜patriot pahlawan bangsaโ€™, yang bermakna guru bertanggungjawab pada bangsa dan negara dalam bidang pendidikan, yaitu mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.

Sungguh saya sangat bahagia dan berbangga hati, karena materi yang saya sampaikan di hadapan peserta diterima dengan baik, terlebih lagi di presentasi saya terakhir saya punya ide menyanyikan lagu Hymne Guru, membuat Bapak Kakanwil terinspirasi dalam sambutan penutupan beliau. Kegiatan visitasi pun ditutup beliau dengan pukulan meja tiga kali. Sesi terakhir kegiatan, kami pun melakukan foto bersama, karena hari gini tidak afdhol jika tidak melakukan dokumentasi berfoto bersama. Betul tidak? Hehehehe.

Saya berharap, ini bukanlah akhir namun justru adalah awal untuk saya bisa terus berbagi kepada guru-guru di daerah perbatasan yang lain atau di tempat-tempat yang lain. Karena this is my passion, saya melakukan tugas yang diberikan kepada saya ini bukanlah dengan keterpaksaan, namun justru dengan hati gembira, karena saya diberikan kesempatan berbagi, memberi inspirasi dan motivasi sebagai wadah aktualisasi dan kebahagiaan diri

Selanjutnya juga saya pun memberikan kesempatan tandatangan pada buku saya bagi peserta yang mendapatkan buku dari kuis-kuis selama sesi kegiatan.

Saya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Bapak Menteri Agama RI, melalui Direktorat GTK Madrasah yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memberikan materi visiting guru madrasah di daerah perbatasan. Saya berharap, ini bukanlah akhir namun justru adalah awal untuk saya bisa terus berbagi kepada guru-guru di daerah perbatasan yang lain atau di tempat-tempat yang lain. Karena this is my passion, saya melakukan tugas yang diberikan kepada saya ini bukanlah dengan keterpaksaan, namun justru dengan hati gembira, karena saya diberikan kesempatan berbagi, memberi inspirasi dan motivasi sebagai wadah aktualisasi dan kebahagiaan diri, bukan sekedar mencari materi. Alhamdulillah, saya pun bisa menyatakan bahwa the mission is finish with happy ending.

EDITOR : FAATIHATUL GHAYBIYYAH

UNBK: Ujian Nasional Berbasis Keadilan

0

Ujian nasional menggunakanย Higer Order Thinking Skill (HOTs)ย sementara di kelas tidak disiapkan menggunakan model pembelajaran tersebut merupakan pelanggaran terhadap prinsip evaluasi pembelajaran, yakni keadilan. Sebegitu runyamkah pendidikan kita hari ini ?

UJIAN nasional merupakan hajat tahunan kementrian pendidikan dan kebudayaan yang selalu menarik perhatian siapa saja di Indonesia. Ujian nasional merupakan evaluasi puncak yang harus dilalui oleh peserta didik mulai dari jenjang sekolah dasar hingga menengah. Dari tahun ke tahun sejak diluncurkannya, program ujian nasional selalu saja memunculkan polemik yang menarik perhatian berbagai macam kalangan untuk berkomentar.

Pelaksanaan Ujian Nasional ditahun 2018 ini juga diwarnai polemik yang tak kalah seru bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Telah menjadi viral di media sosial, komplain peserta ujian nasional yang mengeluhkan sulitnya soal ujian nasional pada tahun ini, bahkan ada beberapa soal yang dikeluhkan tidak tercantum pada kisi-kisi soal yang diberikan kepada peserta didik dan ada juga yang protes bahwa soal ujian nasional ternyata tidak sesuai dengan materi yang diajarkan, dan masih banyak lainnya.

Menteri pendidikan dan kebudayaan, Muhadjir Efendi  memberikan keterangan melalui konferensi pers, bahwa ujian nasional pada tahun ini memang lebih sulit bila dibandingkan dengan ujian nasional sebelumnya karena sudah menggunakan soal berbasis higher order thinking skill (HOTs). Namun, yang menjadi persoalan adalah apakah pembelajaran di kelas sudah menerapkan HOTs?. Jawabannya ternyata belum. Realitas tersebut merupakan pelanggaran terhadap prinsip evaluasi pembelajaran yaitu prinsip keadilan (fairness). Statemen Mendikbud tersebut bisa diartikan bahwa pelaksanaan ujian nasional 2018 memanglah akan menimbulkan kesulitan tersendiri bagi peserta didik.

Tyler (Fernandes, 1984: 1) memberikan definisi evaluasi pendidikan, yaitu โ€œ The process of determining to what extent the educational objectives are being realized,โ€ definisi tersebut menegaskan bahwa evaluasi merupakan proses untuk menentukan sejauhmana tujuan pendidikan itu dapat dicapai. Tujuan pendidikan pendidikan direpresentasikan oleh kurikulum. Untuk bisa mencapai tujuan pendidikan dibutuhkan sebuah upaya atau proses pembelajaran di kelas, dan untuk mengetahui capaian dari proses pembelajaran tersebut harus dilakukan evaluasi pembelajaran dalam konteks ini yaitu ujian nasional.

Kurikulum, proses pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran merupakan tiga bagian yang harus menyatu dan terhubung. Masalah yang terjadi dalam konteks ujian nasional pada saat ini adalah ketiganya ternyata tidak menyatu dan terhubung. Untuk bisa menguji peserta didik dengan soal yang membutuhkan penalaran tinggi (HOTs) maka proses pembelajaran dikelas juga harus dilakukan dengan bahan, model dan strategi pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk menguasai materi dengan penalaran tingkat tinggi pula.

Pemberlakuan ujian nasional berbasis komputer pada tahun 2018 ini, menyulut rasa tidak adil pada sebagian kalangan peserta didik.

Selain itu, pemberlakuan ujian nasional berbasis komputer pada tahun 2018 ini, menyulut rasa tidak adil pada sebagian kalangan peserta didik. Sebagian peserta didik di Indonesia memang belumlah familiar dengan komputer dalam pembelajaran sehari-hari. Sehingga dengan ujian nasional berbasis komputer bukanlah perkara mudah bagi mereka.

Kurikulum tahun 2013 memang secara tegas menyebutkan bahwa untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan oleh pemerintah dibutuhkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Pendekatan pembelajaran tersebut memang mengarahkan peserta didik untuk bisa berpikir tingkat tinggi atau dalam taksonomy bloom diharapkan peserta didik sudah terbiasa dengan level kompetensi C4 ke atas. Akan tetapi pada prakteknya, ternyata masih sangat jauh dari cita-cita yang diharapkan tersebut, yang menjadi penyebabnya adalah belum meratanya infrastruktur maupun suprastruk pendidikan di Indonesia pada saat ini. Kondisi tersebut memanglah tidak boleh secara terus menerus diratapi atau dijadikan alasan untuk memaklumi ketertinggalan, akan tetapi dibutuhkan langkah strategis dan serius yang adil, efektif dan efisien untuk terus melakukan perbaikan pendidikan di Indonesia termasuk ujian nasional.

Model ujian nasional yang ideal untuk dilakukan di Indonesia haruslah adil bagi untuk semua anak bangsa. Manajemen pengujian yang berbasis komputer memanglah efektif dan efisien dalam beberapa hal. Akan tetapi kalau malah meninggalkan tujuan awal dari ujian nasional, maka perlu dipikirkan kembali implementasinya.

Model ujian nasional yang ideal untuk dilakukan di Indonesia haruslah adil bagi untuk semua anak bangsa. Manajemen pengujian yang berbasis komputer memanglah efektif dan efisien dalam beberapa hal. Akan tetapi kalau malah meninggalkan tujuan awal dari ujian nasional, maka perlu dipikirkan kembali implementasinya. Selain itu, tim pembuat soal ujian nasioal tentu juga harus mempertimbangkan kondisi riil di lapangan dalam menentukan bobot soal yang akan diberikan kepada peserta didik. Dengan begitu aspek keadilan akan dirasakan untuk  semuanya. Ujian nasional berbasis keadilan merupakan keniscayaan yang harus diperhatikan dan dilaksanakan untuk mendapatkan hasil ujian nasional yang akurat untuk perbaikan pendidikan nasional. Wallahuaโ€™lam. (Artikel juga dimuat dalam koran Inspirasi Pendidikan edisi April 2018)

Waspada Narkoba Remaja, Ortu Wajib Peka

0

SEBENARNYA, ANAK-ANAK SEUSIA SMP SAJA, MEREKA SANGAT RENTAN TERPAPAR NARKOBA SECARA TERBUKA ATAU TERANG-TERANGAN. DI RUANG-RUANG PUBLIK KAMPONG, BIASANYA MEREKA MENGENAL NARKOBA SECARA LEBIH TERBUKA, UTAMANYA KARENA PENGARUH TEMAN. BAHKAN ADA YANG TELAH MENJADI KEBIASAAN KOMUNITAS. SEBEGITU SERAMKAH ATAU TOLERANSI PADA ANAK-ANAK SECARA SUB-KULTUR MEMBERI RUANG BAGI PERTUKARAN NARKOBA DI SUDUT-SUDUT KAMPONG.

NONGKRONG di warung langganan atau di kafe favorit adalah hal yang lumrah bagi anak remaja hingga dewasa, entah itu pelajar sekolah, karyawan dan mahasiswa. Sebab kongkow-kongkow (nongkrong) merupakan suatu trend modernisasi yang digandrungi oleh anak yang tinggal di Kota begitu juga anak yang tinggal di Desa Semi kota. Hal ini merupakan simbol kebebasan bagi mereka karena di dalam kongkow-kongkow mereka bebas membahas apa saja, melakukan apa saja, sama rasa, sama rata dan itu yang kita sebut dengan budaya arek.

โ€œLebih banyak kemudhorotan daripada manfaat yang diperoleh  bagi pelajar SMP atau SMA yang nongkrong di warung, interaksi sosial dan kelompok sosial (nongkrong) yang terbentuk sangat bisa mempengaruhi gaya hidup Remaja. Buruknya, hal itu merupakan celah dalam penyalahgunaan narkobaโ€.

Pergaulan remaja saat ini sangat dekat hubungannya dengan modernisasi yaitu  kemajuan teknologi, ekonomi dan perkembangan budaya. Karakterisitk remaja yang sedang mencari jati diri sangat mudah terpengaruh oleh iklan suatu produk dan serampangan dalam mengkonsumsinya, termasuk obat obatan. Contohnya adalah rokok, iklan rokok yang sangat persuasif menjadi trend dalam pergaulan remaja sehingga melahirkan anggapan โ€œtidak gaul jika tidak merokokโ€.

Iklan yang paling massive dan berkesan dalam perilaku nongkrong adalah iklan pengalaman. Sebagian besar isi dari sebuah tongkrongan adalah saling berbagi informasi dan mengiklankan pengalaman masing masing kepada kelompok tersebut. Jika kelompok tersebut tersisipi oleh seseorang yang mempunyai pengalaman buruk, bisa jadi remaja akan penasaran dan mencoba untuk membuktikannya, bayangkan jika iklan pengalaman tersebut adalah narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya?

Kelompok nongkrong memang bersifat sementara namun selalu memilik tujuan yang sama. Ketika sekelompok orang  bertemu untuk melakukan trial dan eror terhadap pelampiasan emosinya dan menyalurkannya lewat penyahgunaan narkoba maka kelompok itu bisa disebut immortal crowded.

Perilaku yang terjadi dalam kelompok nongkrong tidak bisa diprediksi, yang jelas warung atau kafe merupakan tempat umum, di mana tiap kelompok nongkrong yang terbentuk bisa memiliki karakter tertentu, misalnya dari sisi hukum ada yang disebut immortal crowded yaitu kelompok yang keberadannya melanggar hukum. Kelompok nongkrong memang bersifat sementara namun selalu memilik tujuan yang sama. Ketika sekelompok orang  bertemu untuk melakukan trial dan eror terhadap pelampiasan emosinya dan menyalurkannya lewat penyahgunaan narkoba maka kelompok itu bisa disebut immortal crowded.

โ€œSudah menjadi pengetahuan umum, bahwa pelajar menggunakan kreatifitasnya untuk mengoplos (mencampur) beberapa jenis obat atau minuman (yang terjual bebas)  dengan dosis yang salah (tidak sesuai dengan resep dokter) untuk diminum bersama kelompoknya,  efek dari oplosan obat obatan tersebut adalah gejala stimulan  dan depresan ,inilah yang disebut dengan penyalahgunaan obat obatan terlarang โ€œ

Sikap orangtua yang membolehkan putra putrinya berinteraksi sosial dalam bentuk nongkrong tidak sepenuhnya tepat, apalagi jauh dari pengawasan orangtua.

Sikap orangtua yang membolehkan putra putrinya berinteraksi sosial dalam bentuk nongkrong tidak sepenuhnya tepat, apalagi jauh dari pengawasan orangtua. Maka, tidak ada kebebasan mutlak bagi remaja, karena mereka memiliki kemampuan untuk berbohong yang rasional dan menutupi pengalamannya dari orang tua. Setidaknya orang tua harus mengenali siapa teman dekat anak dan perkumpulan apa yang disukai anak. Jika perkumpulan tersebut dirasa memiliki dampak negatif tentu dengan tegas kita harus berkata โ€˜tidakโ€™ pada remaja. 

EDITOR : FAATIHATUL GHAYBIYYAH

Waspada Narkoba Remaja, Ortu Wajib Peka

0
Sebenarnya, anak-anak seusia SMP saja, mereka sangat rentan terpapar narkoba secara terbuka atau terang-terangan. Di ruang-ruang publik kampong, biasanya mereka mengenal narkoba secara lebih terbuka, utamanya karena pengaruh teman. Bahkan ada yang telah menjadi kebiasaan komunitas. Sebegitu seramkah atau toleransi pada anak-anak secara sub-kultur memberi ruang bagi pertukaran narkoba di sudut-sudut kampong.

NONGKRONG di warung langganan atau di kafe favorit adalah hal yang lumrah bagi anak remaja hingga dewasa, entah itu pelajar sekolah, karyawan dan mahasiswa. Sebab kongkow-kongkow (nongkrong) merupakan suatu trend modernisasi yang digandrungi oleh anak yang tinggal di Kota begitu juga anak yang tinggal di Desa Semi kota. Hal ini merupakan simbol kebebasan bagi mereka karena di dalam kongkow-kongkow mereka bebas membahas apa saja, melakukan apa saja, sama rasa, sama rata dan itu yang kita sebut dengan budaya arek.

โ€œLebih banyak kemudhorotan daripada manfaat yang diperoleh  bagi pelajar SMP atau SMA yang nongkrong di warung, interaksi sosial dan kelompok sosial (nongkrong) yang terbentuk sangat bisa mempengaruhi gaya hidup Remaja. Buruknya, hal itu merupakan celah dalam penyalahgunaan narkobaโ€.

Pergaulan remaja saat ini sangat dekat hubungannya dengan modernisasi yaitu  kemajuan teknologi, ekonomi dan perkembangan budaya. Karakterisitk remaja yang sedang mencari jati diri sangat mudah terpengaruh oleh iklan suatu produk dan serampangan dalam mengkonsumsinya, termasuk obat obatan. Contohnya adalah rokok, iklan rokok yang sangat persuasif menjadi trend dalam pergaulan remaja sehingga melahirkan anggapan โ€œtidak gaul jika tidak merokokโ€.

Iklan yang paling massive dan berkesan dalam perilaku nongkrong adalah iklan pengalaman. Sebagian besar isi dari sebuah tongkrongan adalah saling berbagi informasi dan mengiklankan pengalaman masing masing kepada kelompok tersebut. Jika kelompok tersebut tersisipi oleh seseorang yang mempunyai pengalaman buruk, bisa jadi remaja akan penasaran dan mencoba untuk membuktikannya, bayangkan jika iklan pengalaman tersebut adalah narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya?

Kelompok nongkrong memang bersifat sementara namun selalu memilik tujuan yang sama. Ketika sekelompok orang  bertemu untuk melakukan trial dan eror terhadap pelampiasan emosinya dan menyalurkannya lewat penyahgunaan narkoba maka kelompok itu bisa disebut immortal crowded.

Perilaku yang terjadi dalam kelompok nongkrong tidak bisa diprediksi, yang jelas warung atau kafe merupakan tempat umum, di mana tiap kelompok nongkrong yang terbentuk bisa memiliki karakter tertentu, misalnya dari sisi hukum ada yang disebut immortal crowded yaitu kelompok yang keberadannya melanggar hukum. Kelompok nongkrong memang bersifat sementara namun selalu memilik tujuan yang sama. Ketika sekelompok orang  bertemu untuk melakukan trial dan eror terhadap pelampiasan emosinya dan menyalurkannya lewat penyahgunaan narkoba maka kelompok itu bisa disebut immortal crowded.

โ€œSudah menjadi pengetahuan umum, bahwa pelajar menggunakan kreatifitasnya untuk mengoplos (mencampur) beberapa jenis obat atau minuman (yang terjual bebas)  dengan dosis yang salah (tidak sesuai dengan resep dokter) untuk diminum bersama kelompoknya,  efek dari oplosan obat obatan tersebut adalah gejala stimulan  dan depresan ,inilah yang disebut dengan penyalahgunaan obat obatan terlarang โ€œ

Sikap orangtua yang membolehkan putra putrinya berinteraksi sosial dalam bentuk nongkrong tidak sepenuhnya tepat, apalagi jauh dari pengawasan orangtua.

Sikap orangtua yang membolehkan putra putrinya berinteraksi sosial dalam bentuk nongkrong tidak sepenuhnya tepat, apalagi jauh dari pengawasan orangtua. Maka, tidak ada kebebasan mutlak bagi remaja, karena mereka memiliki kemampuan untuk berbohong yang rasional dan menutupi pengalamannya dari orang tua. Setidaknya orang tua harus mengenali siapa teman dekat anak dan perkumpulan apa yang disukai anak. Jika perkumpulan tersebut dirasa memiliki dampak negatif tentu dengan tegas kita harus berkata โ€˜tidakโ€™ pada remaja. 

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Rumah Koran dan Semangat Dosen Kedokteran Unismuh Menyapa Rakyat

0

Hubungan Dokter dengan masyarakat tidak selamanya ada di ruang pengobatan dan pemeriksaan. Mereka bisa mengambil hubungan lebih netral dan produktif melalui kegiatan di masyarakat untuk pendampingan komunitas. Dunia kedokteran dengan begitu tidak melulu mengobati, tetapi mengembangkan kelangsungan hidup masyarakat lebih sehat tanpa menunggu sakit.

MAKASAR-KAMPUSDESA – Sinergi dan kolaborasi adalah fundasi utama untuk membangun negeri. Hal itu telah ditunjukkan oleh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah [FEB Unismuh] Makassar, Agusdiwana Suarni, S.E., M.Acc. dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah [FK Unismuh] Makassar, dr. Dito Anurogo, M.Sc. Keduanya melakukan kunjungan ke kantor Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa pada hari Jumat, 20 April 2018, dalam rangka survei awal program kemitraan masyarakat bertajuk โ€˜โ€™Melinesia 2018โ€™โ€™.

โ€˜โ€™Melinesia merupakan program-kegiatan komprehensif-kolaboratif di bidang medis, edukasi ekonomi, pemberdayaan [perempuan, anak-anak, komunitas, masyarakat, individu, manusia] dan sebagainya berbasis literasi-riset-teknologi-komunitas yang didanai dari hibah internal Unismuh, buah pemikiran original dari Dito Anurogo,โ€™โ€™ jelas Agusdiwana Suarni. Adapun kunjungan ke kantor Kecamatan Tombolopao ini sebagai tindak lanjut dari surat Ketua LP3M Unismuh Makassar dan surat dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Astan, selaku sekretaris Kecamatan Tombolopao, menerima kunjungan ini. Beliau hadir mewakili Camat Tombolopao, Baharuddin Lewa, S.E. Astan mengaku senang, mengapresiasi, serta mendukung penuh program Melinesia 2018 yang diajukan oleh dosen Unismuh. Dalam audiensi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, disepakati bahwa fokus utama program Melinesia 2018 adalah desa Kanreapia, dengan alasan tingkat kesehatan dan perekonomian di desa tersebut masih perlu dibina dan ditingkatkan lagi.

Desa Kanreapia memiliki luas area 25,83 Km persegi dengan beberapa batas wilayah. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Tonasa. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai. Di sebelah barat dan selatan berbatasan dengan Kecamatan Tinggimoncong.  Jarak Desa Kanreapia menuju Ibukota Kecamatan mencapai 12 Km, sedangkan jarak ke Ibukota Kabupaten dari Desa Kanreapia mencapai 84 Km.

Usai beraudiensi, dosen Unismuh segera mengunjungi Rumah Koran di Desa Kanreapia. Kedatangan dosen Unismuh disambut hangat oleh Jamaluddin, pendiri Rumah Koran. Jamaluddin menjelaskan tentang beberapa program yang dimiliki Rumah Koran, seperti Satu Dusun Satu Rumah Baca, Satu Dusun Satu Toko Tani Organik.

Kebun Markisa yang Terintegrasi dengan Literasi

Peraih penghargaan Pemuda Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2017 di Bidang Pendidikan dari Bupati Gowa itu juga mengajak dosen Unismuh mengunjungi kebun Markisa varietas Malino serta menjelaskan berbagai usaha dan fasilitas yang telah dirintisnya, berupa toko Tani Organik, Wisata Alam [agrowisata kebun Markisa, air terjun Liku Sassang, Gunung Bawakaraeng, Gunung Gundul], sayur organik [kentang, wortel, tomat, sawi, daun bawang, kol, labu siam], homestay, ruang pertemuan, lokasi perkemahan, perpustakaan.

Kunjungan menjadi semakin berkesan saat tuan rumah menyajikan teh hangat beserta kudapan ringan ala Desa Kanreapia, yakni Panada dan ubi goreng. Terlebih lagi saat itu kondisi berkabut dan udara dingin terasa menusuk tulang. Sinergitas yang dipadukan dengan nuansa lokalitas benar-benar menghasilkan mahakarya yang berkualitas

Ayah Memasak di Dapur dan Ibu Membaca Koran?

0

Kartini identik dengan perempuan. Apakah lomba di Hari Kartini justru tidak membebaskan perempuan dari peminggiran ? Atau Hari Kartini sebenarnya jauh memberikan kesadaran bahwa perempuan dan laki-laki perlu dibebaskan dari pembahasaan yang melekat pada alat-alat yang menunjang kehidupan ? Maka tidak ada masalah jika, “Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran kan ?” Tidak juga dianehkan jika terjadi pada pengalaman lain di luar itu, seperti Fatimah bermain bola dan Irsyad memasak rujak.

MASIHKAH ditemui sebuah latihan Calistung, ibu memasak di dapur dan ayah membaca koran? Apa ya kira-kira dasar pembuatan latihan membaca tersebut sehingga diwarisi terus-menerus yang konon, sisanya masih ditemukan di sejumlah mata pelajaran siswa-siswa Sekolah Dasar.

Dapur berkelamin perempuan adalah hasil kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, meskipun secara obyektif, seluruh peralatan dapur dan akses terhadap ruang dapur berpotensi nir-gender. Artinya dapur sebagai sebuah tempat menciptakan aneka hidangan dapat dijamah oleh tubuh perempuan dan juga tubuh laki-laki. Namun, karena budaya domestifikasi perempuan sudah menjadi kebiasaan yang sulit dibantah, secara tidak sengaja, pembuatan teks belajar menulis memunculkan semantik bias gender, bahwa dapur sebagai bagian dari ruang yang semakin dibatasi pada tubuh perempuan saja. Selebihnya, sepertinya akan sulit jika tubuh laki-laki pun juga memiliki akses yang sama dengan perempuan sehingga lahir contoh belajar menulis, ayah memasak di dapur.

Dapur berkelamin perempuan adalah hasil kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, meskipun secara obyektif, seluruh peralatan dapur dan akses terhadap ruang dapur berpotensi nir-gender. Artinya dapur sebagai sebuah tempat menciptakan aneka hidangan dapat dijamah oleh tubuh perempuan dan juga tubuh laki-laki.

Ayah sudah sangat nyaman dalam konstruksi sebagai pembaca koran dan ibu sebagai pemasak di dapur. Toh kalaupun dibalik saya sendiri masih merasa tidak nyaman. Padahal dibolak-balikpun tidak ada masalah. Tanpa bermaksud mengacaukan semantik dan tatanan budaya, lebih-lebih perasaan saya yang seolah aneh ketika membalik kalimat tersebut padahal tidak ada yang salah jikalau hari ini ibu tidak memasak karena sedang membaca koran sedangkan ayah tidak membaca koran karena sedang memasak.

Ketika dapur (kegiatan memasak) dijadikan aset sebuah bisnis, seperti restoran, malah perempuan tersingkir.

Kita banyak tahu juga jikalau juru masak hari ini justru didominasi oleh laki-laki. Tetapi lagi-lagi aneh juga, ketika dapur (kegiatan memasak) dijadikan aset sebuah bisnis, seperti restoran, malah perempuan tersingkir. Meskipun ditemukan juga para koki perempuan, tetapi kok saya memiliki kesan, para koki laki-laki itu seperti menguasai dapur-dapur restoran dengan topi putihnya. Untuk membuktikan, sebaiknya Anda meriset dan menulis hasilnya di kampusdesa.or.id. he he he.

Kesempatan berperan sebagai koki masih mengalami ketimpangan jenis kelamin ketika dapur berkembang menjadi kegiatan bisnis besar.  Ketimpangan yang dimaksud, peran laki-laki dalam dunia koki menjadi lebih besar, sedangkan perempuan belum sepenuhnya bisa merdeka untuk bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. Apakah ini disebabkan oleh pandangan yang kuat dan kebiasaan perempuan berada di dapur untuk melayani? Sementara ketika kegiatan seputar dapur menjadi kegiatan bisnis berskala besar seperti di restoran, atau hotel maka peran perempuan terpinggirkan. Bapak menjadi koki di restoran dan ibu memasak di dapur untuk melayani keluarga.

Keluar dari kungkungan bahasa

Zaman milenial dan anak-anak zaman now barangkali akan langka mendapatkan fakta ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur. Sebagian besar anak sudah sama-sama bisa mendapatkan figur yang bervariasi di jagat maya internet.  Mereka tidak lagi dibatasi oleh bahasa ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur. Meski demikian, figur peran yang ditunjukkan di kehidupan sehari-hari juga mempengaruhi apakah dapur dan dunia literasi (melek pengetahuan) tetap memiliki pengaruh apakah peran dapur masih melekat dalam jenis kelamin perempuan atau kesempatan mengambil peran di dapur terbuka baik pada laki-laki dan perempuan.

Saya akan ceritakan beberapa contoh. Salah satu official kesehatan club sepak bola liga Inggris, yaitu Chelsea, ada yang perempuan. Sepertinya aneh ketika perempuan berlari-lari di lapangan besar sepak bola tersebut. Tidak itu saja, ternyata Chelsea pun memiliki tim perempuan yang bernama Chelsea Ladies FC yang juga sebagai, termasuk club besar Inggris lain juga punya semisal Arsenal, Manchester City.

Fakta itu dapat dikatakan, sepak bola juga tidak lagi melekat dijeniskelamini laki-laki.

Begitu juga dengan anak saya yang menyukai bermain sepak bola. Ternyata dia juga sedikit menyukai kegiatan masak-memasak. Dia belajar dari sumber online seperti youtube. Dia tidak merasa risih menggunakan dapur sebagai tempat latihan memasak. Pengalaman ini menunjukkan bahasa โ€œibu memasak di dapur dan ayah membaca koranโ€ secara praktik lebih tanpa dibeda-bedakan secara jenis kelamin. Anak laki-laki dan perempuan bisa mengakses informasi tanpa dibumbui penjeniskelaminan seperti ayah membaca koran. Begitu juga berlatih memasak tidak dihalangi oleh alasan bahwa yang memasak itu hanya ibu atau anak perempuan.

Kebiasaanlah yang menjadikan bola berjenis kelamin laki-laki dan perabot rumah tangga berjenis kelamin perempuan yang seharusnya tidak menjadi pengotak-ngotakan peran.

Dapur dan perabotnya tidak harus dijeniskelamini, apalagi diselaraskan dengan pembakuan peran ketika perabot dapur itu difungsikan. Memangnya siapa juga yang membakukan jika sotil, serok atau alat penggoreng lainnya itu mutlak berjenis kelamin perempuan. Alat-alat itu kan netral,  maka bahasa ibu memasak di dapur itulah yang selanjutnya menjadikan segala perabot dapur itu selalu melekat ke jenis kelamin ibu (perempuan). Begitu juga sepak bola. Siapa pula yang memberikan pembakuan bola berjenis kelamin laki-laki. Tidak ada kan. Sepak bola yang kebanyakan dimainkan oleh laki-laki pada akhirnya digebyah uyah seolah-olah sepak bola menjadi sejalan permainannya dengan pemain laki-laki. Tidak harus demikian kan. Kebiasaanlah yang menjadikan bola berjenis kelamin laki-laki dan perabot rumah tangga berjenis kelamin perempuan yang seharusnya tidak menjadi pengotak-ngotakan peran.

Nah, Hari Kartini, apakah juga mampu mengembalikan bahasa pada status yang positif dan tidak membakukan peran seorang ibu dengan fungsi terhadap alat-alat yang digunakan untuk menunjang kehidupannya. Begitu juga apakah Hari Kartini juga membebaskan alat-alat kehidupan yang biasa digunakan oleh laki-laki dibahasakan secara positif bagi perempuan. Suatu contoh begini, apakah lomba memasak rujak yang diikuti anak saya di sekolah sebatas proses menengok dapur dan menguji mereka dalam ruang keterasingan, yakni dia seperti diuji nyali saja pada tugas yang biasa dilakukan oleh perempuan ataukah lomba memasak bagi anak laki-laki adalah bahasa yang digunakan untuk membongkar pembakuan tentang penjeniskelaminan perempuan terhadap ruang dapur?

Lomba memasak bisa dijadikan sebagai membangun bahasa baru melalui pengalaman melintasi batas pembakuan peran tersebut dalam dunia memasak. Jadinya bisa seperti ini, โ€œbapak dan ibu memasak di dapur untuk makan malam kami,โ€ dan โ€œbapak dan ibu mencari menu baru di youtube untuk makan malam kami.โ€

Dengan begitu, lomba memasak bisa dijadikan sebagai membangun bahasa baru melalui pengalaman melintasi batas pembakuan peran tersebut dalam dunia memasak. Jadinya bisa seperti ini, โ€œbapak dan ibu memasak di dapur untuk makan malam kami,โ€ dan โ€œbapak dan ibu mencari menu baru di youtube untuk makan malam kami.โ€ Semua memiliki kesempatan yang sama tanpa dibatasi oleh penjeniskelaminan yang baku. Toh, semua itu bisa saling dipertukarkan perannya.