Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 74

Etika “Diam Itu Emas” dalam Politik Praktis

Sebagai wakil rakyat, politisi tidak hanya menyuguhkan kebisuan ketika isu gonjang-ganjing yang membutuhkan reaksi dari mereka. Atau barangkali memang hubungan rakyat dan wakilnya tidak lagi penuh kepercayaan. Para politisi semestinya tidak diam tetapi mereka selalu menjadi juru bicara rakyatnya. Sebelum semua masyarakat menjadi lebih kurang percaya kepada para politisi.

Semua orang pasti mengerti dan paham tentang istilah diam itu emas. Secara umum istilah diam dimaknai sebagai proses berpikir, diam dalam mencari makna, diam bukan berarti bodoh, diam adalah ibadah, diam sedang menyerap ilmu, diam sedang menahan amarah dan istilah lain yang familiar sehingga diam itu adalah emas. Emas diibaratkan sebagai perhiasan paling berharga di dunia yang tidak semua orang bisa memiliki, namun saking istimewanya makna diam maka emas pun tak cukup untuk mewakilinya karena diamnya seseorang mengandung

nilai ibadah karena memiliki kekuatan luar biasa ketika harus menahan diri dari segala amarah, nafsu, kejahatan dan perbuatan buruk lainnya.

Diam itu emas merupakan lawan dari air beriak tanda tak dalam. Mengapa majas hiperbola “emas” menjadi kontras ketika harus disandingkan dengan peribahasa air beriak tanda tak dalam? Jawabannya sederhana yaitu perbahan makna secara drastis. Air beriak memiliki ciri atau sifat selalu bersuara atau mengeluarkan suara yang keras dan berisik sedangkan tanda tak dalam memiliki ciri batas dataran yang rendah, apabila dataran tersebut digali terus maka akan cepat habis volume atau isi di dalam daratan tersebut. Sama halnya jika seseorang terlalu vokal dalam mengeluarkan pendapat atau terlalu berlebihan dalam menyatakan pendapat maka sesuatu yang diucapkannya memiliki sedikit kebaikan dan lebih banyak keburukannya. Dalam arti yang lebih luas, pembicaraan yang kurang memberikan manfaat bagi orang lain akan diisi dengan ego, sikap riya dan provokatif.

Jika kita hidup dalam rezim teknologi yang konon katanya industri 4.0 maka media elektronik berperan besar dalam menciptakan ruang hibridisasi antara diam emas dengan air beriak. Namun ironis, ketika media elektronik sebut saja media sosial atau semacamnya, diisi penuh dengan sikap emosi dan menjelek terlebih lagi dengan berita hoax (palsu). Kita sebenarnya diam di mulut tapi keras bersuara dalam dunia maya. Perlu diketahui perasaan seseorang ketika membaca lebih emosional ketika sekedar mendengarkan pembicaraan, karena dalam membaca kita melakukan proses berpikir hingga proses menentukan tindakan setelah membaca. Saat-saat fitnah, rasa benci, saling menjatuhkan sesama makhluk bertebaran di media sosial kita mencermati dengan seksama bahwa kabar-kabar miring tersebut muncul saat kontestasi pemilu akan dan sedang berjalan.

Kontestasi tersebut dibentuk berdasarkan rasa benci terhadap kandidat lainnya. Dapat dilihat ketika salah satu tim sukses melakukan manuver dengan mencoba membongkar aib lawannya, maka secara otomatis pihak yang merasa diserang langsung membalas dengan aib kebencian juga. Lebih parah lagi jika masyarakat umum terlanjur mengkonsumsi kabar-kabar yang provokatif. Etika menjadi relevan saat ini dan akan selalu relevan karena kehidupan manusia terus menerus ditandai oleh pertarungan (konflik) antar kekuatan baik (good) dan kekuatan jahat (evil).

Etika politik mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia dan bukan sebagai warga negara terhadap negara, terhadap hukum yang berlaku dan lain sebagainya.

Lalu bagaimakah etika yang seharusnya dibentuk dalam politik praktis? Etika politik termasuk dalam kelompok etika sosial yakni yang membahas norma-norma moral yang seharusnya menimbulkan sikap dan tindakan antar manusia, karena dia merupakan makhluk sosial.  Etika bersifat reflektif yakni memberikan sumbangan pemikiran tentang bagaimana masalah-masalah kehidupan dapat dihadapi, tetapi tidak menawarkan tentang bagaimana cara memecahkannya. Dengan demikian etika politik mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia dan bukan sebagai warga negara terhadap negara, terhadap hukum yang berlaku dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, tulisan ini diharapkan mampu menyampaikan pesan moral sebagai dasar etika politik bagi individu dan masyarakat pada umumnya. Diam emas adalah kunci dalam etika politik karena tidak pantas kita menyebarluaskan berita-berita buruk yang kita tidak tahu akar permasalahannya (menjadi sok tahu). Hal ini sama saja jika kita meneruskan berita-berita tersebut, justru kita sendiri termasuk penyebab konflik. Jika kita tidak terima paslon jagoan kita dihina maka tahanlah emosi dan tidak menghina lawan politik maka diam itu emas!

Manusia sejati adalah makhluk yang kompleks dan ambivalen dapat mempergunakan kekuasaan dengan baik atau buruk, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kancah politik.

Terdapat tiga golongan dalam political zoon yaitu kaum optimis dan liberalis naif (politik sebagai kemajuan), kaum pesimis dan kritikus ideologi (politik identik dengan korup) dan kaum realis sejati. Sebagai manusia modern kita hendaknya berpikir realis sejati bagi kita yang jauh dari lingkar kekuasaan, politik merupakan perpaduan antara baik dan buruk manusia. Jika pada dasarnya manusia adalah jahat, maka tak mungkin ada politik (pemerintahan). Kemudian, jika semua manusia adalah baik, maka tak perlu ada politik (pemerintahan). Jadi harus diakui bahwa manusia sejati adalah makhluk yang kompleks dan ambivalen dapat mempergunakan kekuasaan dengan baik atau buruk, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kancah politik.

Kritik justru kita sampaikan pada mereka yang berada pada lingkar kekuasaan semestinya memahami, diam tak selalu emas. Diam bahkan bisa berubah menjadi dosa. Dosa karena tak berbuat apa-apa ketika tahu akar kebenaran dari suatu masalah (pengabaian janji kampanye). Tak selamanya diam itu emas karena bicaralah untuk sebuah pembelaan akan kebaikan (membela kepentingan masyarakat). Diam itu bukan emas, ketika negara dan bangsa kita sedang difitnah ataupun dihujat. Bicaralah untuk membawa perbaikan bangsa dan negara, jangan hanya berbicara dan berjanji tanpa aksi.

Terapi Menulis Quantum, Harapan Menjadi Baik Dibalik Bui Itu Terbuka

0

Menulis mampu mengurai masalah. Menulis juga menata harapan yang rumit menjadi lebih jelas disistematisasi. Menulis meletakkan hasrat mencapai mimpi tanpa obsesi membabi buta tanpa tahu bagaimana menata jalan pasti dengan cara sistematis, mantab dan lebih teratur. Menulis bisa menjadi medan doa ketika dihayati dalam sebuah kekuatan hingga terhubung dengan yang Kuasa. Menulis mampu melejitkan harapan untuk bisa segera tergapai. Bahkan merupakan jalan baik bagi orang-orang yang sedang dalam bui.

Memasuki area Lapas Wanita Malang untuk pertama kalinya membuatku takjub. Besar, bagus, bersih dan nyaman. Bukan seperti penjara yang seram. Lebih mirip sebuah kampus pendidikan yang ramah.

Kedatangan saya dan tim adalah dalam rangka Baksos Sosialisasi dan Sarasehan tentang manfaat Menulis. Banyak surprise yang kutemui. Sampai di dalam, salah satu petugas yang mengawal kami ternyata adalah anggota Grup WA Berbagi Ilmu dari Buku yang kukelola. Baru kali ini kami bertemu. Di grup kami juga tidak pernah berinteraksi karena beliaunya silent reader. Yang sering menulis baru admin dan satu dua orang yang memang suka menulis saja. Itung-itung kopdar jadinya.

Kejutan paling seru adalah dari Kasi Binadiknya sendiri, Ibu Wahyu. Subhanallah! Ternyata beliau adalah penulis dan pecinta grafologi. Orangnya ramah dan renyah, langsung nyambung frekuensi obrolan kami!

Yang mengharukan, background ruang ternyata sudah terpampang dengan cantik dan rapi dengan tulisan putih dan latar merah. Hasil karya mbak-mbak binaan Bu Wahyu. Jadi tidak masalah banner jumbo tidak kami bawa.

Tentang air minum dan kertas untuk praktek yang rencananya kami usahakan sendiri dengan membelinya di koperasi Lapas juga sudah disediakan oleh para petugas. Hal ini sungguh sangat membantu, karena ketika sudah memikirkan tentang materi dan prosedur acara yang protokoler untuk pertama kalinya seperti ini saja sudah membuat kami sangat nervous. Alhamdulillah, Allah membuatNya sangat mudah dan lancar (LoA yang saya tulis tentang pelaksanaan baksos dikabulkanNya oi. Subhanallah) !

Besar harapan saya Terapi Ganda dalam Menulis yang diusung oleh Tinta Mulia yang bersinergi dengan dahsyatnya ilmu Quantum dari Institute of Quantum Life (IQL) bisa teraplikasi dengan baik dan menjangkau keseluruhan peserta saat Baksos berlangsung. Untuk turut mewarnai dan mencerahkan harapan para penghuni Lapas ini.
Terapi ganda dalam menulis itu nyaman bagi para pasien maupun terapisnya. Tidak butuh waktu terlalu lama, penanganannya bisa dilakukan secara massal dengan rasa personal.

Konon kapasitas buat penghuni Lapas ini sebenarnya hanya sekitar 150-an orang saja. Namun saat ini jumlah penghuninya berada di kisaran 600-an orang. Bisa dibayangkan bagaimana ngoyonya para pengurus dan petugas dalam mengasuh, mendidik, mengawal dan mengontrol orang-orang binaan itu. Bagi para penghuni sendiri, walau suasana lingkungan sangat nyaman, dengan kapasitas overloaded seperti itu pasti memunculkan kegalauan dan antrean tersendiri bagi mereka untuk memperoleh bimbingan khusus. Jika mengandalkan psikolog atau psikiater saja, pastinya penanganannya secara individual. Dari sudut pandang di atas, betapa besarnya peluang para quantumer untuk beramal sholih di medan jihad sektor ini.

Menulis membantu menata file pikiran kita agar tidak bertumpang-tindih antara harapan kebaikan dan luapan emosional.

Menulis itu menata dan mengingatkan. Menata pikiran kita agar tidak semrawut seperti lemari baru dibongkar. Manusia memang banyak tahu. Hanya tidak jelas apa maunya. Katanya ingin menyelesaikan persoalannya. Tapi masih terus menginventarisir kesalahan orang lain. Bukan meletakkan egonya dalam genggaman Tuhan, malah terus mendikte Tuhan untuk menaklukkan lawan. Menulis membantu menata file pikiran kita agar tidak bertumpang-tindih antara harapan kebaikan dan luapan emosional.

Menulis juga sangat membantu mengingatkan kita saat faktor penentu dikabulkanNya doa-doa kita malah terdepak entah ke mana. Sudah tahu bahwa energi Quantum baru akan bekerja optimal saat kita berada pada frekuensi cinta kasih yang tulus. Eh bisa-bisanya kita berteriak meminta tolong pada Allah dengan penuh kejengkelan pada orang lain.

Menulis membantu kita keluar dari zona pribadi untuk mengamati pikiran dan perkataan kita sendiri secara obyektif.

Menulis membantu kita keluar dari zona pribadi untuk mengamati pikiran dan perkataan kita sendiri secara obyektif. Misalnya, saat kita menuliskan kemarahan kita pada orang lain, tanpa sadar file pikiran kita juga akan menyorongkan sisi-sisi kebaikan yang pernah kita temui padanya.

Mana ada sih manusia berada 100% dalam sisi kegelapan? Lalu kita segera tersadar bahwa pikiran kita sudah didominasi oleh emosi yang menyesatkan. Perlahan kita beringsut ke zona netral, istighfar, kembali pada tuntunan. Tanpa menulis, jalan pikiran kita sering tidak sistematis dan anarkhis. Melupakan tuntunan, sibuk dengan tuntutan. Pantas kan selalu terjebak kebuntuan?

Nah itulah yang dilakukan metode Terapi Ganda dalam Menulis. Pada Baksos di Lapas itu Terapi Ganda dalam Menulis berperan menguras emosi negatif , lalu mengarahkan dan menguatkan vibrasi peserta pada hal-hal positif. Tanpa mengorek-ngorek masalah yang bersangkutan dengan baper dan melelahkan. Tuh…di sini tuh titik temunya dengan ilmu quantum, khususnya Quantum Emotional Healing!

Quantum: Senjata dan Kendaraan Canggih

Seseorang tidak akan pernah bisa hijrah ke dunia Quantum yang indah, nyaman dan penuh peluang sementara sebelah kaki dan tangannya masih lengket dengan masa lalu yang kelam. Kita harus membimbingnya untuk menjadi tegas realistis dengan masa depannya.

Menulis membantu seseorang membaca medan situasi dan menemukan arah tujuan.

Menulis membantu seseorang membaca medan situasi dan menemukan arah tujuan. Lha kendaraannya apa? Senjata yang akan membantunya mengatasi gangguan sepanjang jalan? Ilmu Quantum namanya.

Jadi sesi Afirmasi dan LoA kemarin itu bukan sekedar hiasan, melainkan kekuatan presentasi yang diletakkan sebagai penutup. Sebagai penawar kepahitan. Ketapel canggih yang akan melesatkan harapan-impian peserta jauh tinggi ke angkasa. Agar segera direspon alam semesta! Bukankah Allah menciptakan alam semesta dan seisinya untuk melayani manusia?

Group “Onjangan” dalam Persimpangan Budaya

0

Pesta pernikahan bergeser dari waktu ke waktu. Cara ini mengikuti trend yang menjadi budaya baru di beberapa lokasi. Madura, memiliki tradisi yang unik. Onjongan. Onjongan adalah group yang menjadi sarana komunikasi untuk sebuah undangan pesta pernikahan. Bahkan ini menjadi penting karena pesta pernikahan atau hajatan tertentu menjadi medium menarik uang atau memberi piutang. Kok bisa ?

Seputar bulan Syawal, Zulqa’dah, dan Dzulhijjah (nama bulan Hijriyah) bagi sebagian kalangan masyarakat Madura (mungkin juga di luar Madura) menjadi moment spesial. Menjadi spesial sebab hampir tiada hari yang tertanggalkan untuk pelaksanaan hajatan, khususnya _walimatun nikah. Ketiga bulan itu termasuk bulan yang direkomendasikan oleh Nabiyyuna Muhammad SAW. Sebagaimana Siti Saudah binti Zam’ah dan Siti Aisyah binti Abu Bakar yang dikawin oleh Rasulullah pada bulan Syawal.

Sebagian dari sunnah dalam pernikahan, setelah prosesi akad nikah dilangsungkan pula walimatun nikah yaitu mengundang para kerabat, tetangga dekat, dan para sahabat. Biasanya acara itu diisi dengan lantunan solawat dan ramah tamah (menjamu para undangan dengan menu makanan yang berbeda dengan keseharian). Tuan rumah beserta para undangan, terutama kedua mempelai akan sangat merasakan sebuah nilai keindahan, momen keutamaan yang sakral.

Dalam perjalanan waktu, awalnya walimatun nikah menjadi suatu kegiatan yang bersifat ubudiyah, sekaligus sebagai momen pengenalan diri kedua mempelai pada warga masyarakat, utamanya kepada kerabat dan sahabat. Pada saat itu pula sebagai wujud keseriusan rasa syukur kepada Allah SWT atas bertambahnya jumlah keluarga kedua mempelai yang disandingkan dalam sebuah pelaminan dengan rias pengantin. Momen tersebut bertajuk resepsi pernikahan.

Resepsi pernikahan biasanya diselenggarakan di rumah pengantin wanita atau ditempatkan di sebuah gedung yang memang menyediakan fasilitas untuk kepentingan hajatan dimaksud. Bilamana ditempatkan di rumah pengantin laki-laki biasa dikenal dengan istilah ngunduh mantu. Kedua event tersebut sebenarnya hampir sama maksud dan tujuannya yaitu memperkenalkan kedua calon mempelai kepada warga masyarakat sekitar.

Berbeda dengan yang notabene di daerah pedesaan, waktu resepsi pernikahan yang biasanya hanya berlangsung sekitar 2 sampai 3 jam, kemudian diperpanjang dengan durasi waktu satu hari. Para undangan yang hadir disuguhkan dengan tontonan berupa tayuban. Yaitu sejenis tarian yang dipentaskan oleh satu atau dua orang sinden dengan diiringi irama gamelan. Penari laki-laki adalah seorang tamu undangan atau perwakilan tuan rumah yang diberi sampur oleh juru selendang atau gelandang. Sebelum tarian itu dimulai terlebih dahulu harus memberikan pundi-pundi amal berupa uang seribuan sehingga puluh ribuan kepada penari putri juga penabuh gamelan, disertai dengan permintaan lagu yang akan dikidungkan.

Seorang sinden selain memberikan hiburan berupa nyinden, juga diberikan tugas salah satunya untuk menerima tanda restu (berupa uang) dari para undangan kepada tuan rumah sebelum uang itu tercatat secara khusus pada buku yang sudah dipersiapkan secara baik.

Bila sedikit membuka memori pada sekitar tahun 70 sehingga 80-an, seorang sinden selain memberikan hiburan berupa nyinden, juga diberikan tugas salah satunya untuk menerima tanda restu (berupa uang) dari para undangan kepada tuan rumah sebelum uang itu tercatat secara khusus pada buku yang sudah dipersiapkan secara baik. Pada tahun 90-an sehingga sekarang peran ganda itu tidak lagi dilakukan oleh penari atau sinden. Artinya sinden hanya mempunyai kewajiban untuk menghibur para undangan.

Berbeda dengan resepsi ala gedung, yang barangkali sebuah tanda restu terukur berdasarkan suasana atau kondisi saat itu yang tidak harus menjadi hutang piutang pada suatu waktu. Di pedesaan pundi-pundi tanda restu kemudian menjadi tradisi yang mengikat yang dimulai dari proses undangan sehingga pencatatan pada buku khusus tentang terundang dan besarannya.

Besaran itu berikutnya didasarkan pada nilai beli sebuah barang baik berupa harga rokok, gula, beras yang di rupiahkan. Pada gilirannya sewaktu-waktu terundang juga mengundang, maka secara mutlak harus mengembalikan dana sebesar harga barang yang menjadi ukuran pada saat lalu (dengan harga barang saat ini seolah-olah tidak ada yang merasa dirugikan).

Tradisi undang-mengundang yang bersifat mengikat demikian dinamis, terus berkembang. Pada saat kini, selain tertulis pada buku khusus catatan undangan masih harus menyiapkan kuitansi yang diberikan kepada undangan. Pada kuitansi itulah diterakan besaran atau nominal uang yang “dihutangkan” lengkap dengan jenis barang yang suatu waktu wajib hukumnya untuk dikembalikan.

Grup itu dibentuk untuk mempermudah silaturahim, khusus undangan resepsi pernikahan (sehari) atau Remo (yaitu sebuah hajatan dengan tanpa sebab pernikahan atau lainnya, melainkan hanya untuk menarik kembali dana titipan pada orang-orang tertentu sesuai dengan undangan sebelumnya).

Dalam dinamika budaya formula dan pola penyebaran undangan semakin milenial. Yaitu hampir di setiap dusun dari sebuah desa berdiri grup undangan dengan identitas atau nama grup yang keren. Sebut saja misalnya grup Ababil di Ambunten Tengah atau grup Putra Mellas di Pasongsongan. Grup itu dibentuk untuk mempermudah silaturahim, khusus undangan resepsi pernikahan (sehari) atau Remo (yaitu sebuah hajatan dengan tanpa sebab pernikahan atau lainnya, melainkan hanya untuk menarik kembali dana titipan pada orang-orang tertentu sesuai dengan undangan sebelumnya). Dengan adanya grup yang terstruktur kemudian mempermudah pengedaran undangan yang sudah dirupakan sebungkus sabun atau rokok. Demikian undangan sejenis ini mengalir antar grup bahkan melintasi kabupaten di Madura, bukan hanya lintas kecamatan saja. Wow…

Adapun aturan main dalam perkembangan tradisi dan budaya undangan yang mengikat menyesuaikan dengan situasi kondisi yang berkembang. Namun pastinya kegiatan itu sudah bersifat mutlak mengikat secara hukum Samawi.

Grup “onjangan” (Madura) menjadi alat atau media mengorganisir anggota demi keberlangsungan tradisi silaturahim dapat berkembang di pulau Madura. Karena hal ini lebih merupakan tradisi budaya, maka dalam proses perkembangannya tentu akan mengalami perubahan-perubahan yang mestinya dapat diterima oleh berbagai pihak. Dan diharapkan tidak ada pergeseran nilai manusiawi yang bertentangan dengan prinsip muamalah / sosial yang pada akhirnya hanya akan memberatkan pada suatu waktu.

SUMENEP, 04 09 2018

Sunday Syndrome Muncul Sebagai Gejala Psikologis Pada Penyintas Gempa di Lombok

0

Sunday Syndrome, sebuah gejala emosi unik yang terjadi temporer. Hanya di menjelang hari Minggu saja gejala emosi itu melingkupi para penyintas gempa Lombok. Gejala ini merupakan jenis emosi kedua, yakni perasaan takut yang muncul bukan karena alamiah, tetapi gejala yang muncul akibat tanggapan atas asosiasi yang muncul di benak seseorang.

Sunday Syndrome, apa pula ini? Apa kaitannya dengan hari Minggu? Seperti apa gejala-gejalanya?

Manusia adalah makhluk yang seringkali membangun asosiasi di antara peristiwa yang dialaminya. Gempa di Lombok lebih dari dua kali. Hari apa terjadinya? Minggu. Sebuah fenomena psikologis saya dapatkan dari peristiwa mendampingi para penyintas gempa lombok. Fenomena itu unik dan menarik dari segi psikologi. Tidak biasanya. Begini kisahnya.

Seorang penyintas menuturkan, “mendekati hari Minggu, saya mudah cemas,” kata pak Abdul. “Dada saya terasa sesak, jadi tiba-tiba ingin nangis bila hari Minggu (Sunday) tiba, khususnya saat adzan maghrib usai,” kata Inaq Sobariah, seorang penyintas yang lainnya.

Apa yang dirasakan Pak Abdul dan Inaq Sobariah hampir dihayati oleh sebagian penyintas Gempa di Sambelia, Lombok Timur. Gangguan emosi muncul dalam batas sangat spesifik, yakni hanya dibatasi oleh momen hari Minggu (Sunday).

Kejadian gempa yang ditanggapi dengan intensitas emosi tinggi (takut, khawatir, cemas, sedih, pilu, tak berdaya) dan terjadi dua kali pada hari yang sama, Minggu, membuat seluruh pengalaman yang terkait gempa terasosiasi dengan hari Minggu.

Suday Syndrome bisa dijelas menurut Greenberger, kondisi ini sebagai emosi jenis kedua dari empat jenis emosi. Emosi takut bukan respon alamiah dan tepat atas stimulus, tetapi lebih ke tanggapan atas asosiasi yg terjadi didalam benak seseorang.

Bila saat gempa seseorang mengalami ketakutan yang sangat, saat dia menyadari bahwa hari yang dialaminya adalah hari Minggu, otomatis kesadaran itu memicu ketakutannya. Leslie Greenberger menyatakan, kondisi ini sebagai emosi jenis kedua dari empat jenis emosi. Emosi takut bukan respon alamiah dan tepat atas stimulus, tetapi lebih ke tanggapan atas asosiasi yg terjadi didalam benak seseorang.

Sunday Syndrome saat ini masih merupakan gejala yang umum dialami oleh warga Sambelia. Syndrome ini masih bagian dari stress akibat gempa. Semoga warga semakin berdaya sehingga mereka mampu mengatasi keadaan ini.

Tim dukungan psikologis Dompet Dhuafa yang dimotori Maya Sita Darlina Psikolog, didukung oleh Leguminosa Akbar, Ani Khairani, Evangeline Dzulfadli, Asep Haerul Gani mendapatkan Sunday Syndrome ini saat melakukan assessment pemetaan psikososial pada diri penyintas di Sambelia, Lombok Timur, Sabtu 1 September 2018.

Gejala Sunday Syndrome yang ditemukan menjadikan salah satu temuan yang bisa ditindaklanjuti untuk melakukan sejumlah pilihan penanganan terhadap para penyintas gempa Lombok dengan berbagai peluang untuk survive (berdaya) secara mental.

Asep Haerul Ghani, Psikolog, Pengurus Pusat Asosiasi Psikologi Islam, Trainer Senior, Ahli Hipnoterpi, NLP dan Ericsonian Psychotherapy

[BUTTON COLOR=”” SIZE=”” TYPE=”3D” TARGET=”” LINK=””]JIKA ADA TULISAN DI SEPUTAR PENGALAMAN MENDAMPINGI PENYINTAS GEMPA LOMBOK, KAMI SIAP BERKOLABORASI MEMBANTU PUBLIKASI CATATAN KECIL ANDA DI LAPANGAN. KESEMPATAN INI UNTUK BERSINERGI AGAR PENGALAMAN POSITIF DI LAPANGAN DAPAT DIREKAM, DISIMPAN DAN BISA DIBAGIKAN KE KHALAYAK UNTUK MENJADI INSPIRASI LANJUTAN PENANGANAN MASALAH PSIKOLOGIS BAGI PENYINTAS. SILAHKAN DIKIRIM KE EMAIL KAMPUSDESA.INDONESIA@GMAIL.COM (REDAKSI).[/BUTTON]

Memaknai Kemerdekaan: Problem Kebijakan Untuk Kesejahteraan Rakyat

Perayaan kemerdekaan hampir selalu masif digeliatkan oleh masyarakat Indonesia. Masa ini menjadi momentum mengengok kembali peran negara dalam mewudukan substansi kemerdekaan itu, yang antara lain mengenai implementasi kebijakan untuk mencapai negara kesejahteraan. Kemerdekaan pun semestinya dimaknai sebagai spirit untuk melahirkan percepatan peningkatan kesejahteraan rakyat. Merdeka !

Masa sulit saat penjajahan telah dilalui negeri ini, berbagai cara ditempuh untuk mengusir penjajah hingga akhirnya berhasil memerdekaan diri yang diakui secara internasional, memiliki sendiri wilayah, serta memiliki pemerintahan dalam mengatur urusan negeri sendiri. Ketiga unsur tersebut merupakan syarat mutlak jika sebuah negara mendeklarasikan sebagai negara yang merdeka.

Sejenak kita renungkan bahwa usaha merdeka tidak hanya sekedar memenuhi ketiga unsur tersebut melainkan menjaga keberlanjutan proses kehidupan berbangsa dan bernegara jauh lebih fundamental dan teramat penting. Keberlanjutan tersebut menurut penulis adalah segala usaha negara (pemerintah) dalam mensejahterakan rakyat agar tujuan pembangunan nasional dapat dicapai.

Menurut Dye, tindakan yang dilakukan maupun yang tidak dilakukan oleh pemerintah disebut sebagai kebijakan. Karena tindakan tersebut berkaitan dengan rakyat (publik) maka sering kita dengan istilah kebijakan publik. Oleh karena itu penting untuk memperhatikan masalah-masalah publik yang menjadi tanggungjawab pemerintah dalam rangka mewujudkan kehidupan yang sejahtera untuk rakyat sebagaimana amanat dari konstitusi dan falsafah negara.

Kebijakan publik untuk kesejahteraan rakyat harus disertai dengan political will dan political action. Hal ini penting karena Indonesia merupakan negara dengan karakteristik majemuk. Kemajemukan ini dicirikan secara horizontal meliputi kesatuan sosial dalam perbedaan budaya, suku, bahasa, etnik, adat, agama dan perbedaan antar daerah serta majemuk secara vertikal meliputi gap yang cukup jauh antara masyarakat atas (elit) dengan masyarakat lapisan bawah. Sedangkan kemajemukan struktur di masyarakat sebagai jalinan kesatuan terjadi karena adanya kelompok masyarakat, kebudayaan, lembaga masyarakat, stratifikasi, kekuasaan dan wewenang dalam masyarakat.

Negara kesejahteraan sedapat mungkin menyelenggarakan jaringan pelayanan yang mampu memelihara dan meningkatkan kesejahteraan hidup minimum warga negara  secara adil dan berkelanjutan.

Teori negara kesejahteraan (welfare state) oleh Spicker dalam Suharto (2005) mendefinisikan negara kesejahteraan sebagai sebuah sistem kesejahteraan sosial dengan negara (pemerintah) sebagai peran utama untuk mengalokasikan dana publik demi menjamin kebutuhan dasar warganya. Negara kesejahteraan sedapat mungkin menyelenggarakan jaringan pelayanan yang mampu memelihara dan meningkatkan kesejahteraan hidup minimum warga negara  secara adil dan berkelanjutan.

Konsep negara kesejahteraan berhubungan erat dengan kebijakan sosial mencakup strategi pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan warganya terutama melalui perlindungan sosial. Menurut Spicker, sekurang-kurangnya ada lima bidang utama dalam kebijakan sosial yakni bidang kesehatan, pendidikan, jaminan sosial, perumahan dan pekerjaan sosial. Kelima bidang tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam program atau pelayanan untuk mengatasi masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, keterlantaran, ketidakberfungsian fisik dan psikis, tuna sosial, tuna susila, dan kenakalan remaja hingga pada akhirnya tujuan kebijakan sosial ini adalah untuk mengatasi Human Development Index berupa tingkat harapan hidup, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan yang masih rendah.

Masalah yang belum kunjung usai dari dulu hingga sekarang khususnya bagi Indonesia antara lain kemiskinan, pengangguran , kesenjangan sosial, keterbelakangan, kelangkaan pelayanan sosial. Masalah tersebut bahkan cenderung mengalami penurunan standar kehidupan karena berbagai perubahan sosial sejalan dengan proses transisi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Terlebih lagi masalah-masalah sosial kontemporer, seperti perdagangan manusia, pengangguran, perilaku menyimpang, kenakalan remaja, dan eksploitasi terhadap anak kian muncul mewarnai fenomena kehidupan masyarakat modern.

Khusus mengenai kebijakan publik yang bertujuan mencapai kesejahteraan rakyat, maka terdapat dua pengertian pokok, yaitu memecahkan masalah kesejahteraan rakyat dan memenuhi kebutuhan sosialnya dengan alur: identifikasi tujuan, pemecahan masalah, merumuskan kebijakan publik dan memenuhi kebutuhan sosial rakyat.

Lebih rincinya, menurut Suryono (2017), tujuan-tujuan kebijakan publik yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat adalah: (1) Mengantisipasi, mengurangi, atau mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat. (2)  Memenuhi kebutuhan secara kolektif  bagi  individu, keluarga, kelompok atau masyarakat karena pihak-pihak tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhannya secara mandiri (3) Meningkatkan hubungan intrasosial manusia dengan mengurangi kedisfungsian sosial individu atau kelompok yang disebabkan oleh faktor  internal-personal maupun faktor eksternal-struktural. (4) Meningkatkan lingkungan sosial-ekonomi yang kondusif bagi upaya pelaksanaan program-program sosial dan pencapaian kebutuhan masyarakat sesuai dengan hak, harkat, dan martabat. (5) Menggali, mengalokasikan dan mengembangkan sumber-sumber kemasyarakatan demi tercapainya kesejahteraan dan keadilan sosial.

Memaknai kemerdekaan adalah persoalan upaya pemerintah dalam mensejahterakan rakyat baik individu maupun kelompok melalui sistem kebijakan pemerintah yang terorganisasi dari pelayanan-pelayanan dan lembaga-lembaga sosial, agar dapat mencapai tingkat hidup dan kesehatan yang memuaskan serta mampu memberikan kesempatan kepada individu-individu untuk mengembangkan kemampuan mereka dan meningkatkan kesejahteraan mereka sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan oleh rakyat.

Untuk itu pengidentifikasian tiga elemen pokok dalam kesejahteraan rakyat dapat dilihat dari: (1) seberapa jauh masalah-masalah sosial  diatur; (2) seberapa jauh kebutuhan-kebutuhan dipenuhi, dan; (3) seberapa jauh kesempatan dan peluang untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dapat disediakan atau difasilitasi. Dengan demikian, kebijakan publik untuk kesejahteraan rakyat bermuara pada sila kelima Pancasila sebagai landasan ideologi Indonesia, yaitu: menciptakan Keadilan Sosial baik dari aspek nilai, norma dan aturan hukum dan pertimbangan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ini Cara Unismuh Makassar untuk Go Internasional

0

KampusDesa, Makassar (30/08/18)–Sebagai universitas Islami terkemuka dan terdepan di Indonesia bagian timur, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dan kapasitas intelektual bagi civitas akademika di dalamnya. Salah satunya adalah dengan mengadakan kuliah tamu dengan mengundang berbagai professor dari luar negeri dan kampus ternama dunia. Salah satunya adalah Profesor Yashushi Maruyama, Ph.D. Beliau adalah vice president Universitas Hiroshima bidang kerjasama Internasional. Ia memiliki lebih dari 19 paper akademik, 11 publikasi, 5 presentasi ilmiah (invited lecturer, oral-poster presentations).

‘’Rektor Universitas Hiroshima Jepang mengutus saya mengunjungi Unismuh Makassar untuk menjajaki peluang kerjasama, kolaborasi, dan sinergitas lintas-sektoral dan multidisipliner yang sustainable di masa mendatang,’’ ujar Profesor Yashushi Maruyama, Ph.D. Hal itu dikatakannya dalam pertemuan resmi di lantai 17, ruang rektor, gedung Menara Iqra. Pertemuan internal nan eksklusif antara Prof. Yashushi Maruyama, PhD dan Dr. H. Abdul Rahman Rahim, S.E., M.M (rektor Unismuh) itu dihadiri oleh Dr. H.A. Sukri Syamsuri, M.Hum. (wakil rektor II Unismuh), dr. Andi Wenri Sompa, SpS, M.Kes. (Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Unismuh), Juliani Ibrahim PhD (dosen Fakultas Kedokteran Unismuh, selaku penerjemah bahasa Jepang dan pembawa acara kuliah umum), Profesor Husni Tanra (ambassador Universitas Hiroshima Jepang), dr. Dito Anurogo MSc (dosen tetap Fakultas Kedokteran Unismuh, dokter literasi digital, penulis 20 buku, selaku penerjemah bahasa Inggris).

Sebagai vice president Universitas Hiroshima Jepang, beliau memang bertugas menjalin kerjasama Internasional dengan universitas di seluruh dunia, termasuk Unismuh Makassar. Beliau tertarik mengunjungi Unismuh Makassar karena kedekatan hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia dalam banyak hal. Terlebih lagi, Muhammadiyah dikenal memiliki banyak perguruan tinggi dan sekolah di Indonesia.

Dalam kunjungan keduanya ke Makassar ini, profesor alumnus Florida State University ini menjelaskan segala hal tentang destinasi wisata yang dapat dikunjungi di kota Hiroshima, sejarah Universitas Hiroshima Jepang, berbagai potensi dan peluang di berbagai bidang yang mungkin dikerjasamakan dalam jangka panjang antara Universitas Hiroshima Jepang dan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Berbicara saat memberikan perkuliahan umum di lantai 2 Menara Iqra Unismuh, guru besar di bidang filosofi dan etika edukasi ini menjelaskan secara detail tentang kehidupan masa kecilnya yang penuh perjuangan di Kure, Hiroshima. Kota kecil itu melejit berkat film animasi ‘’In the corner of the world’’.

Prinsip perdamaian ini pula yang mendasari pemberian gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Hiroshima kepada Wakil Presiden Republik Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla, pada 21 Februari 2018.

Yashushi Maruyama juga menceritakan tentang sejarah Universitas Hiroshima yang didirikan oleh Dr. Tatsuo Morito. Filosofi dari pendiri universitas, yakni ‘’a single unified university, free, and pursuing peace’’ inilah yang mendasari berdirinya Universitas Hiroshima. Dari filosofi ini pula dikembangkan lima prinsip utama, yaitu perdamaian (pursuit of peace), pengembangan inovasi (creation of new ideas), pengembangan bakat berbasis karakter (foster talents with enriched human nature), kolaborasi dengan komunitas regional-internasional (collaboration with regional and International communities), pengembangan diri yang berkesinambungan (continuous self development). Prinsip perdamaian ini pula yang mendasari pemberian gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Hiroshima kepada Wakil Presiden Republik Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla, pada 21 Februari 2018. Beliau dinilai oleh tim Universitas Hiroshima telah melakukan berbagai upaya perdamaian saat terjadi konflik di Poso, Ambon, Rohingya, dan sebagainya.

Rektor dan sebagian Civitas Akademika Unismuh Makassar

Yashushi Maruyama juga menjelaskan logo Universitas Hiroshima berupa daun pohon Phoenix yang merupakan simbol hope of reborn. Profesor yang belum genap berusia 40 tahun ini juga menjelaskan adanya event pertukaran budaya. Saat Idul Fitri, Universitas Hiroshima menyelenggarakan Halal Okonomiyaki Tasting Party. Pesta ini menyajikan kue lezat khas Jepang, yakni Okonomiyaki. Okonomiyaki (martabak Jepang) dinikmati bersama tidak hanya oleh mahasiswa dan peneliti muslim, tetapi juga staf yang beragama non Islam.

Kunjungan dan kuliah umum selama 200 menit ini berdampak positif dan membawa berkah bagi semuanya, terutama Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (FK Unismuh) Makassar. Menurut Wakil Dekan I FK Unismuh Makassar, dr. Andi Weri Sompa, M.Kes., SpS., ‘’ Profesor Yashushi Maruyama menyambut baik tawaran kerjasama dengan FK Unismuh Makassar, terutama untuk pertukaran mahasiswa, dosen, dan kerjasama riset. Sinergitas dan kolaborasi antara FK Unismuh dan Universitas Hiroshima ini perlu segera ditindaklanjuti agar FK Unismuh menjadi FK terkemuka di Indonesia Timur.’’

Rektor Unismuh, Abdul Rahman Rahim, menyatakan hal serupa. Ia berharap bahwa kunjungan ini merupakan silaturahmi awal dan mengawali sinergitas yang berkesinambungan antara kedua belah pihak. Ini tentunya sejalan dengan visi Unismuh, yaitu menjadi perguruan tinggi Islam terkemuka, unggul, terpercaya, dan mandiri pada tahun 2024.

Antusiasme peserta kuliah umum terlihat tinggi. Puluhan hadirin yang merupakan civitas akademika dari lintasfakultas terlihat serius mengikuti kegiatan hingga usai. Usai memberikan perkuliahan umum, beberapa peserta tampak bergegas menyalami dan berswafoto bersama Profesor Yashushi Maruyama, Ph.D. Rupanya hanya kumandang azan maghrib  yang mampu membuat kuliah umum ini benar-benar berakhir.

Menengok Desa, Mengikat Keluarga

0

Orisinalitas desa akan selalu menceritakan kisah agung dalam memori kita. Apalagi ketika desa menjadi kenangan saat kita menjadi kaum urban. Desa menceritakan kedamaian, harmoni, alam yang menyokong kehidupan kita dengan dengan amat murah. Ekosistem berjalan amat dekat tanpa diganti dengan alat ganti berupa uang karena semua tidak harus membeli. Stok makanan cukup tersedia di sekitar rumah. Hubungan antar-orang juga lebih longgar dan bebas transaksi. Interaksi antar orang dan tetangga terjalin dengan sangat melimpah. Bagaimana dengan kenangan anda ?

Hari Keluarga Nasional (Harganas)  jatuh  setiap tanggal 29 Juli. Tahun ini gebyar puncak peringatannya ditetapkan oleh Pemerintah Pusat pada tanggal 7 Juli 2018 di Kota Menado dengan tema “Hari Keluarga, Hari Kita Semua”.

Bukan karena gaung penyelenggaraannya yang tidak sampai ke tengah keluarga saya yang tinggal di desa pinggiran kota Malang. Bukan karena keluarga kami tidak punya televisi. Namun tema penyelenggaraannya itulah yang membuat saya tercenung. Memang benar,  setiap orang perlu diingatkan tentang pentingnya sebuah hari untuk keluarga bagi seluruh anggotanya. Sebab hari spesial untuk keluarga saat ini sudah terasa hambar, seolah tidak dibutuhkan lagi.

Dulu setiap orang selalu mengutamakan waktu kebersamaan setiap hari. Setelah masing-masing sibuk seharian di luar rumah waktu kebersamaan menjadi sangat berharga dan dirindukan. Ada tatap kangen di antara suami istri, ada rengekan  manja anak-anak yang direspon dengan godaan nakal orang tuanya. Ada diskusi seru. Juga curhat berkepanjangan. Ditutup dengan wejangan hangat orangtua dan serangkaian pesanan anak yang merajuk untuk dipenuhi berbagai keinginannya.  Sekarang pada kemana suasana seperti itu?

Pertemuan jadi minim dialog, semua sibuk dengan dunia mayanya yang diakses dari alat persegi berukuran sekian inchi. Alat inilah yang sanggup memalingkan semuanya dari kebutuhan akan hangatnya kebersamaan. Adakah yang sanggup menolak sihir pesonanya?

Memang sudah mulai tumbuh kesadaran banyak orang untuk keluar dari jerat situasi yang  merapuhkan kebersamaan  itu. Dengan cara sejenak meletakkan gawai mereka lalu bepergian bersama seluruh anggota keluarga. Khusus meluangkan waktu untuk saling berinteraksi. Mencari hiburan bersama di mall, rumah makan, pujasera, tempat karaoke, playground atau bioskop. Sepertinya sedikit bereaksi. Jadi ada tegur sapa dan interaksi. Tapi seberapa lama semua itu bisa mengalihkan perhatian setiap orang dari gawai mereka? Suasana rekayasa dan imitasi yang glamour itu  penuh konsumerisme dan  kebisingan. Cepat membosankan. Selain ongkosnya mahal, di mana-mana ada sinyal dan pemandangan yang memicu orang untuk segera rindu meraih gawainya. Cepat  suntuk lagi…  Jadi bertanya-tanya tentang alternatif tempat untuk kegiatan kebersamaan dengan keluarga.

Pernah terpikirkan tentang desa? Kalau tidak itu wajar, orang-orang  desanya saja justru bangga ngelayap cari hiburan di kota. Padahal pada suasana desalah ada lem perekat yang bagus untuk kebersamaan yang berkualitas bagi keluarga di momen-momen spesial. Mengapa? Setidaknya ada 5 pertimbangan:

Desa itu, bening dan teduh alami
Hening dan hijau
Murah dan ramah
Sederhana tapi kaya
Mengingatkan masa lalu, menginspirasi masa depan.

Beningnya desa terkesan dari beningnya mata air yang menyembul dan mengalir secara alami dari dalam tanah. Dengan mudah kita meraupnya untuk membasuh kaki dan wajah kita yang letih. Sementara sepanjang alirannya rembesan air itu menumbuhkan banyak pepohonan yang meneduhkan lingkungan dan menyuplai udara segar. Sensasi bening dan teduhnya memberi efek yang bersahabat pun  berjangka lama untuk rasa dan memori manusia.

Ketenangan desa membuat  suara alam lebih jelas dan nyaring terdengar. Desau angin di dedaunan, ceruitan burung-burung dan binatang peliharaan penduduk. Sementara telinga nyaman, penglihatan pun dimanjakan dengan nuansa hijau asri yang dominan

Suasana desa relatif lebih hening karena masih jarang transportasi dan hingar-bingar dentumanan suara memekakkan telinga dari peralatan musik modern. Ketenangan desa membuat  suara alam lebih jelas dan nyaring terdengar. Desau angin di dedaunan, ceruitan burung-burung dan binatang peliharaan penduduk. Sementara telinga nyaman, penglihatan pun dimanjakan dengan nuansa hijau asri yang dominan. Tua atau pun muda akan mudah terhipnotis oleh 2 keindahan ini. Memudahkan setiap keluarga untuk berkontemplasi dan saling merefleksikan diri.

Orangtua bisa mengajarkan banyak hal pada anaknya tentang penghematan dan keberkahan. Dan sikap para penduduk desa yang selalu lugu dan ramah akan mereduksi kecanggungan dan keegoisan anak-anak dalam bersosialisasi.

Sudah jelas harga barang-barang atau kebutuhan pokok di desa jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan di kota. Orangtua bisa mengajarkan banyak hal pada anaknya tentang penghematan dan keberkahan. Dan sikap para penduduk desa yang selalu lugu dan ramah akan mereduksi kecanggungan dan keegoisan anak-anak dalam bersosialisasi. Dengan demikian orangtua bisa menyiapkan paket liburan yang lebih lama dan bervariasi di sini.

Di desa anak-anak bisa belajar mendapatkan makanan dan minuman dari produsen pertamanya, yaitu hewan dan tumbuhan. Dari sinilah terhampar kesempatan luas untuk mempelajari banyak urutan proses dan pemahaman baru  langsung dari alam sebagai sumber ilmu ilmu pengetahuan paling kaya.

Di desa memang masih jarang peralatan kehidupan yang modern dan canggih. Banyak hal masih dilakukan secara manual. Justru kesederhanaan itu memungkinkan kita untuk belajar melakukan sendiri berbagai hal. Hanya di desa kita bisa menunjukkan pada anak-anak kita ketergantungan pengusaha makanan pada matahari karena harus menjemur produk-produknya secara alami. Di desa anak-anak bisa belajar mendapatkan makanan dan minuman dari produsen pertamanya, yaitu hewan dan tumbuhan. Dari sinilah terhampar kesempatan luas untuk mempelajari banyak urutan proses dan pemahaman baru  langsung dari alam sebagai sumber ilmu ilmu pengetahuan paling kaya.

Alur kehidupan desa yang tenang dan indah selalu mengingatkan orang tentang masa lalunya. Memori kebersamaan keluarga di tengah suasana desa yang eksotis dan sederhana, entah kenapa lebih terekam dengan baik di benak anak-anak. Mungkin karena cerita kebersamaan lebih banyak tereksplorasi dibandingkan tertingkahi oleh hal-hal imitasi yang memecah konsentrasi. Dahsyatnya, murni dan cantiknya suasana pedesaan justru sangat mendukung energi kebersamaan untuk menentukan gambaran dan destinasi masa depan keluarga.

CEMOROKANDANG, 30 AGUSTUS 2018.

Seni Budaya Pedesaan di Era Milenial

0

Desa pada masa lalu kaya dengan aneka suguhan kesenian lokal. Seni ini akan ramai dan terbuka ditonton orang. Kehadiran telivisi semakin menjadikan seni lokal surut, dan gempuran kepunahan barangkali akan semakin terjal saat sajian seni sudah sangat privat dinikmati. Melalui gengaman tangan, setiap orang bisa menikmati produk kesenian tanpa membeli tiket. Cukup mempunyai paket data dan wifi, setiap orang lebih leluasa mengakses pertunjukan seni. Lalu, bagaimana nasib kesenian desa ?

Seni-budaya kerakyatan!”—begitu kami menyebutnya. Ialah budaya yang partisipatif. Salah satu karakternya adalah rakyat banyak terdiri dari pribadi-pribadi yang kreatif dan suka mencipta, bukan hanya penikmat atau ‘consumer’ semata. Rakyat banyak menciptakan karyanya, berkarya, tampil, dengan produk-produk seninya, lagu, puisi, gerak tari, karya indah lainnya.

Cita-cita itu selama ini masih jauh panggang dari api. Selama ini rakyat banyak hanya mendengarkan dan melihat. Seni-budaya hanya sebagai hiburan di mana rakyat banyak yang hanya sebagai penonton dan penikmat itu dilenakan dengan ideologi seni yang membuat mereka tidak bisa bangun untuk merubah nasibnya, dan bahkan justru berada sebagai korban yang terlena, terhibur, terhipnotis, hingga keadaannya yang tertindas dan tak terberdayakan terus stagnan.

Rakyat pedesaan yang berada dalam situasi terdominasi seni-budaya borjuis dengan pelaku utama (artis) adalah kaum selebritis itu selama ini menjadi korban dari situasi kemuduran dan keterbelakangan budaya. Rakyat pedesaan hanya menjadi penikmat produksi kesenian dari kota (metropolis) karena media dan alat produksi kebudayaan memang telah dikuasai oleh kaum modal di kota.

Rumah-rumah produksi yang berada di kota (Jakarta) menyerang rakyat desa dengan acara-acara sinetron. Dan kita tahu kenapa ibu-ibu di desa rajin duduk di depan TV sehabis magrib, acara yang paling disukai adalah sinetron dan audisi dangdut. Pernahkah kamu mencari tahu kenapa sinetron adalah acara yang paling membuat mereka sulit bergeser dari depan TV? Selain itu adalah cerita seri (bersambung) yang membuat ia akan kehilangan cerita jika tak mengikuti seri berikutnya, kira-kira apa sebabnya?

Apa sisi baik kisah-kisah sinetron? Apa sisi buruk kisah-kisah sinetron? Oh, saya mau komentar, tapi kok hampir tak pernah melihat sinetron akhir-akhir ini. Bahkan judul sinetron yang akhir-akhir ini tayang, saya kok gak tahu. Terakhir, mungkin tahun lalu atau tahun sebelumnya, judul yang pernah saya dengar adalah “ANAK JALANAN” atau “GANTENG-GANTENG SRIGALA”.

Tentu saja masa kecil saya (sebagai orang desa) menjadikan sinetron sebagai tontonan utama juga. Sebab waktu itu keluarga saya belum punya TV dan ketika sudah punya TV saya sudah sekolah di luar kecamatan, lalu keluar kota. Waktu itu, kami nonton TV di rumah tetangga yang juga saudara. Semua orang, sehabis magrib, ngantri nonton TV, sinetron yang tak berhenti kami ikuti adalah BELLA VISTA, lalu TERSANJUNG.

Kehadiran TV itulah yang membuat kami sebagai orang desa kemudian dijajah oleh artis-selebritis dari ibu kota. Gaya glamour para selebritis yang dilihat rakyat desa adalah salah satu gambaran yang menunjukkan bahwa segala sesuatu nampak sebagai keindahan hidup, meskipun rakyat tak mampu melakukan gaya hidup yang sama

Kehadiran TV itulah yang membuat kami sebagai orang desa kemudian dijajah oleh artis-selebritis dari ibu kota. Gaya glamour para selebritis yang dilihat rakyat desa adalah salah satu gambaran yang menunjukkan bahwa segala sesuatu nampak sebagai keindahan hidup, meskipun rakyat tak mampu melakukan gaya hidup yang sama. Inilah yang disebut “estetisasi kehidupan sehari-hari”—suatu kondisi dimana seni terus-terusan hadir bersamaan dengan kepentingan modal yang menungganginya. Tetapi yang terjadi bukan demokratisasi seni-budaya. Sebab, posisi rakyat adalah terhipnotis oleh budaya massa berbasis kepentingan iklan kapitalis. Situasi ini mengingatkan kita pada apa yang dikatakan Jean Baudrillard dalam bukunya “Simulations” (1983: 151): “Kita hidup di mana saja selalu dalam halusinasi realitas yang bersifat estetis.”

Dalam budaya yang sifatnya kapitalistik, media-media kapitalis terus-menerus mem-propagandakan gaya hidup dan tampilan mewah, seakan-akan rakyat miskin menjadi bagian dari estetika budaya kemewahan itu. Dengan sekuat tenaga individu-individu dalam masyarakat (terutama remaja) berusaha meniru gaya hidup para artis-selebritis. Mereka merasa telah terlibat dalam dunia kemewahan yang estetik yang dipancarkan media yang dipenuhi cara pandang kelas borjuis dan kaum selebritis hanya dengan cara meniru ucapannya, tindakannya, tergantung pada kemampuannya untuk mengonsumsi (membeli dengan uang).

Kembali ke acara sinetron tadi. Jika saya mencoba membaca perasaan saya ketika nonton sinetron waktu itu, tentu ada semacam ilusi-ilusi atau obsesi-obsesi yang dibawa karena kisahnya. Lalu saya membayangkan bagaimana perasaan ibu-ibu pemuja sinetron. Apakah mereka menyesali masa-masa muda atau remajanya yang tak pernah pacaran, misal ibu yang sudah berumur 50 tahun ke atas.

Mereka pasti terbawa bayangan, dari kisah intrik meraih cinta. Pro pada seorang gadis yang dicintai laki-laki kaya, dan benci pada orang-orang yang menjahatinya. Bayangan ketika ia baik hati, pasrah, tidak jahat, beruntung, lalu lelaki kaya itu menolongnya. Sedangkan ada orang yang menjahatinya sedemikian dramatisnya…

Rumah-rumah mewah, kisah yang diperankan oleh perempuan yang cantik-cantik dan laki-laki yang tampan. Tentu adalah wajar jika semua orang ingin bisa hidup berkecukupan. Jika tidak, maka seharusnya ada satu atau orang yang baik hati yang mengangkat derajatnya. Salah satunya adalah ditolong laki-laki kaya. Kisah seperti ini bahkan yang paling obsesif bagi perempuan. Entahlah… Tentu tidak semua sinetron kisahnya seperti itu. Setidaknya ada wajah culas yang memerankan tokoh licik. Lalu ada si pasrah yang baik hati, yang biasanya pasti ada adegan sedang meratap berdoa pada Tuhan. Pasti tak ketinggalan adegan ini.

Si jahat dan si baik dibuat kontras, meski dalam kehidupan sehari-hari seringkali tak tampak seperti itu. Sebab dalam kehidupan nyata, semua orang merasa baik, dan tidak menyadari bahwa perilakunya menyakiti orang lain. Sedang dalam sinetron, kisah harus dramatis. Mikin, suara, efek narasi musik, maupun jeda iklan yang menghentikan adegannya sejenak. Perasaan penonton dipermainkan, penonton tidak kritis adalah sasaran bagi Ram Punjabi.

Sanggar Seni Budaya Desa

Saat ini, harus kita sadari sudah banyak yang berubah. Sebab TV bukan hanya satu-satunya media budaya di era milenial. Di dalam rumah saya sendiru, TV hanya bisa menayangkan Si Tayo, Legend Hero yang ganti Ultraman, Robocarpoli, dan lain-lain. Karena TV diputar menurut selera anak-anak (yang masih balita). Sisanya nonton Youtube!

Media sosial bisa menjadi ajang kontestasi budaya yang lebih demokratis, membuka ruang bagi banyak orang untuk menayangkan karyanya.

Media sosial datang. Praktis tak ada lagi dominasi kepemilikan media budaya yang didominasi modal besar. TV yang menjadi ruang eksistensi seniman selebritis tak lagi dominan juga. Media sosial bisa menjadi ajang kontestasi budaya yang lebih demokratis, membuka ruang bagi banyak orang untuk menayangkan karyanya. Orang cantik dan ganteng tak lagi bisa hanya dilihat di TV karena mereka selebritis. Siapapun bisa mengunggah fotonya, videonya, tulisannya, dan karya-karyanya.

Ketika peluang untuk mendapatkan akses ke media (sosial) kian besar, masalahnya sekarang adalah kemampuan memproduksi atau berkarya. Ini yang kemudian harus dijawab dengan membangun daya cipta (creative force) yang meluas di kalangan masyarakat pedesaan. Peluang berupa ruang untuk menyuguhkan karya secara luas lewat media sosial sudah terbuka. Jika masyarakat desa masih belum punya suatu karya cipta seni yang bisa ditampilkan, tetap saja nantinya akan tetap menjadi konsumen pasif.

Pemerintah desa dengan anggaran besar dari dana desa bisa “mengintervensi” upaya membangkitkan gairah berkesenian melalui sanggar-sanggar seni budaya. Balai desa dengan pendopo dan aula yang ada bisa menjadi tempat latihan menari, melukis, seni-sastra, lagu dan musik, tetembangan, dan berbagai bidang kesenian yang lain.

Membangun kemampuan mencipta butuh daya dorong yang serius. Ini harus disadari oleh para pimpinan di masyarakat pedesaan. Pemerintah desa dengan anggaran besar dari dana desa bisa “mengintervensi” upaya membangkitkan gairah berkesenian melalui sanggar-sanggar seni budaya. Balai desa dengan pendopo dan aula yang ada bisa menjadi tempat latihan menari, melukis, seni-sastra, lagu dan musik, tetembangan, dan berbagai bidang kesenian yang lain.

Menciptakan ruang-ruang untuk tampil seperti pentas seni desa, pameran karya warga desa, festival-festival seni-budaya desa, menjadi agenda yang harus rutin dilakukan. Workshop seni-budaya dan pemberian ruang untuk pentas adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Selanjutnya adalah mengemas karya seni-budaya dan menyambungkannya dalam “pasar budaya” yang menggunakan media sosial.

Hal itu harus disegerakan. Sebab pasar budaya di media sosial juga berjalan cepat. Tampilan dan karya dari berbagai belahan dunia bisa dikonsumsi lewat fasilitas internet. Harus digali hal-hal yang unik dari desa, untuk disuguhkan ke pasar kebudayaan yang ada. Maukah pemerintah desa dan semua tokoh, aktivis, dan para seniman-Budayawan yang ada di desa memulai hal ini? Entahlah…!!!*