Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 73

Cemorokandang; Geliat Literasi Menuju Desa Belajar untuk Mandiri Wisata

0

KampusDesa, Malang–Pada hari Jumat tanggal 14 September 2018 dengan seizin Bapak Lurah Cemorokandang, Yayasan Samudera menyelenggarakan 2 (dua) jenis kegiatan mulai pukul 07.00 wib hingga 19.30 wib yaitu,

Kompetisi Duta Literasi Anak (KDLA) Tingkat Kelurahan 2018

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Literasi Anak TINTA MULIA yang berada di bawah naungan Yayasan Samudera. Diharapkan kegiatan KDLA ini akan menjadi agenda tetap Tinta Mulia setiap tahun, bersamaan dengan peringatan Hari Aksara Internasional 8 September dan Hari Kunjung Perpustakaan tanggal 14 September.

Pada penyelenggaraan perdana kemarin diikuti sebanyak 20 orang anak mulai kelas 3 hingga 6 MI/SD dari 6 sekolah tingkat dasar yang ada di desa Cemorokandang, yaitu SDN CEMOROKANDANG 1, 3, dan 4 serta MI CEMOROKANDANG dan Sekolah Alam Nur Hikmah Cemorokandang.

Ada pun pemenangnya adalah sebagai berikut;

Juara Harapan 1. Safaatul Laili NA, kelas 4 SDN Cemorokandang 1.
Juara Harapan 2. Maharani Nurita, kelas 4 SDN Cemorokandang 4.
Juara 1 Kaysa Mumtaz Tsabita Mahrus, kelas 5 SDN Cemorokandang 4.
Juara 2 Adnia Putri Eldystie, kelas 5 SDN Cemorokandang 1.
Juara 3. Nur Maulidia Izmadina, kelas 3 MI Cemorokandang.

Perlu kami sampaikan ada hal yang sangat membanggakan pada kompetisi kemarin. Hal ini berkaitan dengan Piala Tetap dari Bapak Lurah Cemorokandang yang menjadi hak bagi sekolah dengan pemenang terbanyak.

Berdasarkan penilaian di lapangan, seluruh perwakilan peserta dari Sekolah Alam Nur Hikmah (Sanhikmah) hasil karyanya ternyata telah bisa dikatakan melampaui level rata-rata peserta dari sekolah lainnya. Baik dari segi pemilihan kata, alur bahasa dan logika, ide cerita mau pun kandungan hikmah.

Untuk pertimbangan tercapainya visi misi ke depan yang lebih kondusif, maka Tinta Mulia memutuskan untuk menambah lagi satu kategori grup pemenang yaitu level menengah yang diisi oleh delegasi Sanhikmah. Kategori ini di luar para pemenang yang telah disebutkan di atas. Demi keadilan maka pada penyelenggaraan KDLA yang pertama ini Sanhikmah berhak menerima Piala Bapak Lurah Cemorokandang.

Kompetisi ini dimulai pukul 08.00 pagi dan berakhir lebih awal dari yang diagendakan yaitu pukul 11.15 dengan tertib dan lancar.

Workshop Desa Belajar bersama Kampus Desa

Acara ini merupakan acara lanjutan pertemuan rekan-rekan pegiat literasi dan pejuang kemajuan desa di Oasis Cafe Mertojoyo 2 minggu sebelumnya.

Acara workshop yang digawangi oleh Kampus Desa ini dihadiri perwakilan oleh beragam komunitas seperti TBM (Taman Belajar Masyarakat), Gubuk Tulis, Guru Menulis, dan sebagainya. Seluruh peserta bertemu untuk saling berdiskusi dan berbagi ilmu tentang literasi untuk kemajuan desa.

Presentasi Rintisan Narasi Desa Sains oleh Nurl Qomariyah

Pada sesi inti diskusi, peserta dibagi menjadi kelompok dengan cluster pembahasan masing-masing. Berkaitan dengan desa Cemorokandang, diskusi mengarah pada cluster Desa Wisata dengan hasil pembahasan terlampir.

Kegiatan ini diikuti lebih kurang 30 beserta dimulai tepat pukul 02.00 siang dan berakhir menjelang pukul 08.00 malam. Seluruh kelompok peserta telah merumuskan hal-hal yang akan dijadikan acuan untuk aksi perjuangan berikutnya, yang memang telah bulat memutuskan untuk menjadikan desa Cemorokandang sebagai target binaan dengan ikon Desa Wisata Pendidikan Keluarga (Dewi Pelaga) dengan dimotori oleh Yayasan Samudera. Diharapkan pergerakan ini mampu mendukung terwujudnya Dewi Pelaga dalam hal strategi digitalisasi marketing.

Kegiatan diakhiri dengan do’a akhir majelis. Seluruh peserta bahu-membahu untuk membersihkan sampah dan merapikan Gedung Pertemuan Kelurahan Cemorokandang hingga kembali bersih seperti sedia kala.

Rasa Terima kasih yang tiada terhingga kami sampaikan kepada Bapak Lurah Cemorokandang beserta seluruh staff yang telah memfasilitasi kegiatan hari ini. Semoga berkah dan bermanfaat untuk semuanya. Aamiin.

OTT; Musibah Terdahsyat Lombok Paska Gempa

0

Rasanya duka kemanusiaan gempa Lombok, belum terobati. Tidak disangka, proses rehabilitasi yang seharusnya bertujuan untuk memulihkan derita masyarakat Lombok diliputi oleh pengorbanan yang tidak kenal lelah. Namun, nampaknya situasi empati yang selalu didukung total oleh seluruh bangsa ini, tiba-tiba ada perilaku biadab yang mencoba mengambil untung dibalik musibah. Seperti menolong orang kecelakaan tetapi sibuk menemukan isi dompet korban untuk di-entit. Ya. Pejabat negeri ini mengemplang dana rehabilitasi. Naudzubillah.

REPAN PURBA*

Hari ini, Jum’at 14 September 2018, Lombok kembali diguncang musibah, bahkan lebih dahsyat dari musibah gempa sebelumnya. Maaf, info ini bukan hoax, tapi kenyataan. Sebelum anda bertanya-tanya karena mungkin anda tidak mendapatkan info sebelumnya musibah itu, lebih baiknya info ini dibaca sampai selesai.

Hampir dua bulan ini, energi kemanusiaan kita, bangsa Indonesia, lebih sering tertuju kepada saudara kita yang terkena musibah di Lombok. Sejak 29 Juli 2018, gempa bumi terus mengguncang Bumi Nusa Tenggara dan sekitarnya. Berkali-kali gempa dengan getaran antara 4 – 7 scala righter terjadi. Puluhan bahkan ratusan getaran susulan seringkali terjadi mengiringi gempa utama.

Gempa bumi di Lombok kali ini sepertinya merupakan gempa kategori besar dengan dampak terparah di negeri Indonesia tercinta. Ribuan orang harus mengungsi, ribuan rumah hancur, ribuan bangunan dan fasilitas umum rusak, jalanan banyak yang rusak, tanah pertanian dan perkebunan juga rusak, ribuan orang terluka bahkan lima ratus orang lebih wafat dalam tragedi ini.

Tragedi musibah besar ini sangat memilukan. Semua bangsa Indonesia merasa prihatin dan berduka cita. Tidak hanya bangsa Indonesia, namun penduduk duniapun turut berbelasungkawa. Banyak ragam cara dilakukan untuk memberikan perhatian pada para korban. Tetesan air mata, bantuan tenaga, bantuan makanan dan pakaian, batuan uang dan sebagainya. Itu semua dilakukan sebagai wujud keprihatinan, duka cita dan belasungkawa atas musibah besar ini.

Kini, semua sudah mulai bisa tersenyum. Sejak minggu terakhir Agustus gempa sudah reda. Darurat gempa telah berakhir dan kini sudah mulai dilaksanakan rehabilitasi. Infrastruktur, sarana dan prasarana, perumahan, fasilitas umum mulai diperbaiki baik oleh pemerintah, organisasi atau lembaga sosial maupun secara mandiri. Lombok kini telah bangkit.

Namun, ditengah suasana bangkit kembali itu, Lombok kembali dihantam musibah. Musibah susulan ini justru musibah yang lebih dahsyat. Walaupun intensitasnya sepertinya kecil namun sebenarnya justru musibah inilah yang terbesar. Dampaknya pun juga paling memilukan. Musibah inilah yang lebih layak untuk kita prihatini. Musibah inilah yang lebih pantas kita tangisi dan belasungkawai. Dengan musibah ini kita lebih berhak berduka cita.

Musibah terdahsyat ini terjadi hari Jum’at, 14 September 2018. Tepatnya di sebuah warung kopi (warkop) kecil di wilayah pinggiran Lombok. Apa yang terjadi?

Siang itu, petugas dari Kejaksaan dan polisi melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap setidaknya 3 orang pelaku saat melakukan transaksi suap atau pemerasan. Mereka adalah HM, politikus partai Golkar DPRD Mataram, memeras HS dan CT. Dalam operasi ini disita sedikitnya uang tunai 30 juta rupiah, beberapa hand phone, sepeda motor matix yang masih dibungkus plastik dan mobil pribadi yang masih baru. Penangkapan ini terkait dengan gratifikasi proyek rehabilitasi gedung sekolah senilai 4,5 Milyar. Adapun pelakunya terdiri dari seorang anggota DPRD, Kepala Dinas Pendidikan dan seorang kontraktor.

Apa kaitannya OTT dengan bencana terbesar bagi manusia? Ternyata kejadian OTT ini merupakan bagian dari bencana terbesar bagi manusia. Kok?

Menurut Syaikh Ibnu Athoillah As-Sakandari dalam kitab Bahjat Al-Nufus, orang yang mendapat musibah sejatinya bukanlah yang ditinggal mati keluarganya atau kehilangan harta dan kekasihnya. Tetapi, orang yang dihantam oleh dosa, diserang oleh syahwat dan ditimpuk oleh berbagai kesalahan. Ia habiskan umurnya untuk segala yang terlarang. Yang sebenarnya ditimpa musibah adalah mereka yang bermaksiat kepada Allah SWT dan tidak bertaubat dari dosa. Dan musibah terbesar manusia adalah ketika manusia kehilangan keimanan dan ketakwaannya.

Suap, korupsi dan gratifikasi serta pencucian uang termasuk suatu penyimpangan dan pelanggaran karena sama halnya dengan mencuri uang negara. Semua itu dilarang oleh pemerintah dan juga menjadi larangan agama.

Mengapa orang yang terkena OTT pemerasan tergolong terkena musibah terbesar? Maaf, kita semua tahu bahwa segala bentuk penyelewengan uang termasuk pelanggaran. Termasuk uang negara. Suap, korupsi dan gratifikasi serta pencucian uang termasuk suatu penyimpangan dan pelanggaran karena sama halnya dengan mencuri uang negara. Semua itu dilarang oleh pemerintah dan juga menjadi larangan agama. Pelakunya jelas sudah tergolong pelanggar hukum dan dalam agama dihukumi pelaku maksiyat dan dosa. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan bahwa seorang pencuri itu pada saat mencuri dia dalam keadaan tidak beriman, Naudzubillahi min dzaalik. Sebagaimana sabdanya :

لا يشرق الشارق حين يشرك وهو موءمن

“Tidaklah mencuri seorang pencuri kecuali saat itu dia sudah tidak beriman”.

Khusus kasus OTT di Lombok kali ini lebih parah lagi. Justru dana rehabilitasi gempa yang diperas. Dana untuk masyarakat yang tertimpa musibah, orang yang sangat-sangat membutuhkan, justru dirampas untuk kepentingan pribadi. Secara akal sehat saja hal ini sudah sangat keterlaluan. Sungguh sangat tidak berperikemanusiaan. Apalagi jika kita kaitkan dengan hukum agama. Pasti lebih besar lagi kedurhakaannya. Oleh karena itulah sangat tepat apabila dalam Undang-undang No 31 tahun 1999 pasal 2 ayat 2, hukuman bagi koruptor dana bencana ancamannya adalah hukuman mati.

Berdasarkan analisis Syaikh Ibnu Athoillah diatas, maka orang-orang yang melakukan pelanggaran hukum, melakukan maksiat, berbuat dosa dan hilang keimanan dan ketakwaannya lah yang lebih patut dibelasungkawai, ditangisi dan diratapi. Karena boleh jadi, orang yang tertimpa bencana, termasuk warga Lombok, rumah mereka roboh, tetapi iman mereka tetap kokoh. Harta benda mereka hancur, tetapi mereka masih mampu bersyukur. Mereka jasadnya terluka, namun iman tetap bersemayam dalam dada. Segala kesulitan hidup yang mereka alami, justru semakin membuat mereka dekat dengan Ilahi Robbi. Bahkan bagi yang telah wafat, mungkin ini jauh lebih baik bagi mereka untuk segera bisa bertemu dengan Sang Penguasa Akhirat.

Tiada bencana terbesar dalam hidup ini, kecuali jika hidup kita telah jauh dari garis dan harapan Ilahi. Bencana gempa bumi di Lombok bukan kecil, namun masih ada bencana besar bagi kita ketika kita jauh dari tuntunan Allah SWT, Tuhan pencipta alam. Semoga kita senantiasa mendapat Rahmat, Taufik, Hidayah dan Inayah-Nya sehingga bisa selamat dari segala musibah. Aamiiiin. Walloohu a’lam bishshowaab.

Repan Purba. Anggota Gerakan Guru Menulis Malang. Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kec. Dampit dan Sumbermanjing Kab. Malang. Pegawai Kemenag Kab Malang.

Desa Wisata : Empat Potensi Desa yang Diunggulkan

0

enggagas desa wisata membutuhkan peta potensi. Saat peta potensi diperoleh, harapannya potensi itu menjadi kekuatan baru kelahiran desa wisata. Untuk itu, peta potensi kemudian menjadi pijakan memulai gerakan desa wisata. Melalui kegiatan Workshop Desa Belajar yang digagas oleh Kampus Desa pada Jumat, 14 September 2018 akhirnya menghasilkan lima narasi (kisah) kunci untuk merintis desa wisata. Salah satunya adalah narasi tentang Desa Digital Cemorokandang.

Untuk menghidupkan sebuah wilayah menjadi Desa Wisata, diperlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Menurut saya setidaknya ada 4 faktor yang saling berkaitan. Jika salah satu tidak dipenuhi maka kondisi ideal tidak akan tercapai alias tidak berjalan dengan semestinya. Keempatnya adalah :

Keindahan alam
Potensi desa (baik SDM maupun sistem-sistem yang ada di dalamnya)
Model marketing
Kesiapan masyarakat beserta aparat

Dalam kasus Desa Cemorokandang, unsur pertama dan kedua telah ada sejak lama. Alam pedesaan dengan hamparan sawah ladang menghijau, aliran sungai Amprong yang deras serta kontur tanah perbukitan yang eksotis memanjakan pandangan maupun pernafasan.

Potensi desa berasal dari keragaman produktivitas UKM serta para petani organik yang telah eksis. Sebut saja Vigur Organik. Kelompok petani organik yang satu ini telah memiliki nama di kancah nasional bahkan internasional. Apa saja yang ada di desa yang bisa dijual sebagai elemen-elemen wisata?

Potensi berbasis alam. Di Cemorokandang tersedia hiking/jogging track, kolam pemancingan, jalur balap sepeda atau kereta kelinci, kolam renang, wisata petik sayur atau pun outing block (wisata turun ke sawah atau empang).

Kreativitas, seni dan pendidikan. Tersedia pusat pengembangan literasi anak, rumah baca, Markaz Dolanan, klinik konsultasi keluarga, sentra daur ulang, BSM (bank sampah masyarakat), handycraft, konveksi dan batik.

Potensi olahraga. Ada olah raga berkuda, berenang serta panahan.

Potensi wisata kuliner. Ada bakery, cookies, snack, kerupuk, kue serta aneka makanan dan minuman tradisional.

Begitu banyak potensi namun masih berjalan sendiri-sendiri. Belum cukup kuat untuk bersatu mengangkat potensi desa secara keseluruhan dan merata. Ibarat roda-roda mobil dari sudut pandang kebersamaan, keempat roda penggerak itu masih tertidur, belum dalam kondisi menggelinding secara koordinatif lagi sinergis menuju target bersama.

Kelompok perumusan Desa Wisata

Narasi Desa Wisata dan Desa Digital
Demikianlah kelompok kami, mendefinisikan permasalahan di desa Cemorokandang dalam tinjauan langkah koheren menuju desa wisata. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan seluruh potensi yang berada dalam lingkup 4 faktor itu bekerja dan menguat bersama hingga mendatangkan arus pengunjung yang konsisten dan signifikan. Mestinya hal ini masih memiliki peluang besar, mengingat akses jalan di desa ini sudah sangat bagus. Sudah banyak pula warga desa yang berpendidikan lagi melek teknologi.

Hasil yang sangat penting dari adanya diskusi kelompok ini adalah telah didefinisikannya model marketing untuk memperkenalkan citra desa ini sebagai salah satu destinasi wisata di kota Malang, yaitu dengan model Paket Wisata by Order (alias pesanan dulu) dengan strategi digitalisasi serta adanya event tetap bulanan.

Dengan demikian, adanya sebuah event organizer tangguh yang berfungsi sebagai koordinator dan pengelola utama mutlak diperlukan. Demikian pula dengan tenaga-tenaga marketing handal serta para ahli di bidang pengelolaan web untuk mendukung marketing online maupun offline.

Sedangkan upaya pembenahan dan penambahan fasilitas untuk mempercantik desa sebagai pengungkit daya tarik terhadap pengunjung, bisa diagendakan berikutnya setelah semua kegiatan berjalan lancar sesuai konsep yang diajukan.

Cemorokandang, medio September 2018

Family Gathering ; Bersama Keluarga Membangun Ceria

0

kampusDesa, Malang–Family gathering para alumni Institute of Quantum Life (IQL) Malang pada tanggal 11 September 2018 ini sangat melebihi ekspektasi. Walau pun kegiatan ini merupakan penundaan dari rencana beberapa waktu sebelumnya, justru agendanya semakin kaya dan matang.

Alasannya hanya direncanakan sebagai pertemuan internal kecil-kecilan untuk latihan bersama memprogram pikiran anak-anak. Ternyata seiring waktu ada banyak masukan menarik.

Di antaranya adalah disisipkan nya beberapa permainan keluarga untuk lebih mengeratkan hati para alumni dan keluarganya. Walau waktunya terbatas karena mayoritas peserta datang agak siang sehingga mengurangi jatah waktu untuk permainannya, suasana tetap jadi lebih semarak dan bersemangat (Ssstt, ada korban lho, Bu Utami dan Bu Gen jatuh berdebum. Mirisnya, yang memandu permainan yaitu Mr. G ternyata ikut tumbang juga! Wkwkwkwekk).

Di samping itu, ada juga sharing dari Pak Komandan tentang hasil praktek ilmu Quantum beliau untuk mengatasi gangguan penyakit-penyakit ringan, terutama yang dialami oleh alat-alat panca indra (mata, hidung, mulut, telinga dan kulit). Dahsyatnya setelah praktek adalah pandangan mata terasa lebih terang, hidung mampet terasa plong, kulit terasa kencang dan yang di telinga saya nggak berani praktek di tempat! Soalnya takut terancam ada kotoran kuping longsor dari lubangnya.

Pak Komandan alias Paket juga berbaik hati membawa mesin energi untuk dicicipkan pada hampir semua peserta. Dengan telaten beliau pemandu para peserta yang sedang diterapi dengan mesin tersebut. Termasuk menyulut-nyulut bagian tubuh yang sakit dengan semacam tongkat logam (ihh ngerii). Beliau mengawal proses itu hingga tuntas. Per-orang memerlukan waktu 30 menit, jadi sore hari barulah selesai. Subhanallah Pak Komandan! Hanya Allah yang mampu memberi balasan terbaik.

Bagaimana dengan konsumsi dan akomodasi? Menurut saya di komunitas alumni IQL Malang ini begitu berkah dan sudah terotomatisasi. Sudah dari dulunya begitu!

Akhir-akhir ini di hampir 3 kegiatan gathering komunitas ketika Pak Komandan sedang berhalangan hadir, saya sebagai koordinator pengganti sengaja menutup area koordinasi tentang konsumsi. Paling-paling saya hanya ngobrol tentang ini dengan beberapa gelintir orang.  Tentu saja dengan resiko yang sudah saya kunci sendiri (artinya saya siap mengadakannya sendiri jika stok benar-benar kosong).

Apa yang terjadi? Mereka sudah pada bertanya-tanya dan punya inisiatif sendiri. Walau sudah saya cegah, mereka tetap berbondong-bondong membawa oleh-oleh semampunya. Sangat mengharukan! Alhasil, di setiap acara, makanan dan minuman yang ringan, maupun berat selalu tersedia berlimpah limpah. Berkah dan cukup, bahkan berlebih.

Bagaimana dengan jumlah peserta? Energi-energi positif yang bersatu itu menerangi dan menghangati, menjadi medan magnet yang sangat kuat bagi mereka yang sedang mencari pencerahan, membutuhkan solusi dari persoalan kehidupan atau pun hendak menuntut ilmu. Banyak sekali tamu-tamu baru yang berdatangan, membaur bersama para alumni yang sedang belajar dan berlatih bersama.

Sesi yang paling menggetarkan adalah saat terapis putri kita, Ibunda Luly memandu pemrograman pikiran anak dengan begitu tenang, lancar dan sangat piawai. Serasa menyentuh kebutuhan mendasar, yaitu mengatasi problem-problem di dalam pengasuhan anak untuk meningkatkan kualitas keluarga. Jelas semua orang membutuhkan ilmu dan kegiatan semacam ini.

Setelah sekian lama, jelas semakin terlihat, bahwa doa, bimbingan dan kerja keras Gurunda kian subur berbuah! Semoga semakin subur dan berbunga-bunga. Karena bejibun tugas telah menunggu kita di luar sana. Ayo terus berlatih dan berkarya! Kepedulian dan keringat kita pasti akan turut membawa perubahan positif untuk Indonesia. Mutiara amanah dari Gurunda selalu bersinar kebenarannya, karena bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Saw. Banyak hati dalam satu vibrasi positif yang saling beresonansi.  Kekompakan dan kemanfaatannya tidaklah bergerak hanya saat dihela oleh satu figur dan gebyar sesaat. Istiqomah kita, akan menarik semakin banyak orang untuk hijrah di dunia Quantum yang lebih berkualitas dan penuh makna.

MALANG, MEDIO SEPTEMBER 2018

Politik Birokasi dan Bencana Alam

0


Visi politik yang sejalan dengan kepentingan publik, utamanya terkait dengan responsibilitas tantangan Indonesia sebagai negara dengan tanah yang rentan bencana adalah tolak ukur bagi kualitas seorang representasi figur politik bertanggungjawab. Selain itu, modal individu yang bagus akan semakin bermartabat ketika para figur politik tersebut mampu mentransformasi kebijakannya relevan dengan Indonesia yang rentan bencana. Barangkali ini sekedar politik pencitraan tetapi kemauan figur politik untuk mentransformasi kekuasaannya menjadi bermanfaat bagi masyarakat, utamanya di prevensi dan rehabilitas paska bencana.

Tema yang ingin penulis sampaikan berkenaan dengan judul di atas adalah keterkaitan antara politik, birokrasi, dan bencana alam. Keterkaitan dua disiplin ilmu yakni politik dan Birokrasi merupakan upaya menciptakan struktur pemerintahan yang baik karena setiap kebijakan pada dasarnya merupakan produk politis dalam taraf formulasi hingga implementasi sehingga politik menjadi sebuah disiplin ilmu yang sangat kompleks.

Sedangkan birokrasi sendiri berasal dari disiplin ilmu Administrasi dengan salah satu pokok bahasan adalah Birokrasi (organisasi) pemerintahan dengan begitu keterkaitan antara politk dan administrasi sangatlah kental dalam urusan penyelenggaraan pemerintahan. Penyelenggaraan pemerintahan sudah semestinya menyediakan pelayanan maksimal untuk masyarakat sesuai tupoksi dari aspek sosial, ekonomi dan politik.

Penulis mengambil satu permasalahan publik yang dirasa masih minim perhatian yakni bencana alam. Salah satu yang mendasari penulisan ini yakni masih rendahnya kebijakan yang pro bencana yaitu tahap pencegahan, kesiapsiagaan dan mitigasi. Namun di sisi lain saat bencana alam datang (tanggap darurat) dan pasca bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi) memang menunjukkan kinerja yang optimal. Hal ini bisa dilihat pada kasus bencana tsunami aceh tahun 2004 silam, tanggap darurat gunung merapi (sinabung, merapi) serta gunung berapi dan bencana alam lainnya yang turut memakan korban dan masih berlangsung hingga saat ini.

Kesemuanya itu menurut penulis disinyalir karena program penanggulangan bencana belum menjadi prioritas pembangunan dan diperlukan kajian lebih dalam untuk menemukan solusi. Tulisan singkat ini membahas kaitan antara politik, dengan bencana alam serta birokrasi dan bencana alam, masing-masing dibagi dalam dua sesi pembahasan. Untuk sesi pertama akan dibahas kaitan politk dengan bencana alam.

Wajah politik di Indonesia memiliki corak prosedural (modernisasi politik) yang selalu berujung pada elektabilitas, pemenangan, kampanye, pembentukan parpol baru, dan lainya yang selalu menyedot perhatian publik karena semua perhatian tertuju calon pemimpin yang kelak akan dipilih.

Wajah politik di Indonesia seperti yang sudah penulis sampaikan pada tulisan sebelumnya memiliki corak prosedural (modernisasi politik) yang selalu berujung pada elektabilitas, pemenangan, kampanye, pembentukan parpol baru, dan lainya yang selalu menyedot perhatian publik karena semua perhatian tertuju calon pemimpin yang kelak akan dipilih. Calon pemimpin dituntut untuk selalu menawarkan visi, misi yang brilian untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat. Maka dari itu setiap calon harus merumuskan strategi berdasarkan kekuatan yang dimiliki dengan tidak mengabaikan kelemahan yang dimiliki. Serta melihat peluang dan ancaman yang memungkinkan visi dan misi tersebut bisa menyesuaikan dengan perkembangan terkini di masyarakat.

Publik selalu menanti kebijakan yang pro rakyat dengan berbagai solusi untuk mengatasi permasalahan  ekonomi maupun sosial.  Namun fenomena tahunan bencana alam bisa jadi merupakan penentuan keberhasilan setiap calon pemimpin. Hal tersebut didasarkan pada nasib masyarakat yang sedang dilanda cemas, rasa takut, khawatir karena bencana alam tengah mengepung mereka. Indonesia setiap akhir tahun seperti mendapat kutukan bencana alam.

Indonesia seperti negara yang terus diuji oleh Tuhan dengan berbagai permasalahan bencana alam mulai dari banjir hingga gunung meletus. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa indonesia terdiri dari pulau-pulau, berada pada patahan dan pertemuan sirkum Altantik dan Mediterania yang merupakan gugus pegunungan yang tingkat keaktifannya tinggi. Disamping itu, letak geografis Indonesia menimbulkan berbagai bencana alam badai, angin putting beliung, tanah longsor, ombak besar, gempa, dsb. Bencana alam tersebut berdampak langsung pada perekonomian masyarakat yang lumpuh seketika, terlebih lagi infrastruktur dan fasilitas umum seperti jalan, perumahan, sekolah, rumah sakit yang rusak akibat bencana harus segera diperbaiki demi berlangsungnya kehidupan sosial yang telah dibangun sebelumnya.

Kebutuhan akan manajemen bencana di Indonesia tergolong masih lemah. Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan, kita tengok beberapa contoh kasus bencana alam besar seperti tsunami Aceh tahun 2004, gempa bumi Yogyakarta tahun 2006, letusan Gunung Merapi tahun 2010 sistem penanganan masih mengalami kesulitan. Terlebih lagi masih banyak jenis bencana alam yang patut mendapat perhatian. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional tahun 2017 menunjukkan bahwa jenis bencana yang sering terjadi yakni banjir 645 kasus, disusul putting beliung 553 kasus dan tanah longsor 506 kasus.

Perlu dipahami bahwa bencana alam merupakan sebuah siklus dan bukan datang pada waktu-waktu tertentu saja. Prioritas program penanggulangan bencana perlu dipahami secara seksama dari pemerintah, masyarakat hingga swasta dimana program tersebut tidak terlepas dari pembangunan berkelanjutan. Upaya pembangunan berkelanjutan ini diperuntukkan untuk masa mendatang agar masyarakat mampu mengatasi permasalahan di lingkungannya secara mandiri berkaitan tentang bencana yaitu tahap mitigasi dan kesiapsiagaan, tahap tanggap darurat dan tahap pasca darurat.

Tentunya politik pencitraan saja tanpa realisasi sangat tidak disarankan karena penulis menilai pencitraan tanpa realisasi merupakan dosa besar untuk mereka yang sedang dilanda musibah dan seakan dipermainkan dengan janji-janji manis saat kampanye.

Kondisi tersebut bisa menjadikan peluang bagi calon pemimpin di masing-masing daerah untuk dijadikan program unggulan penanggulangan bencana pada visi misi yang ditawarkan. Peluang tersebut bukan dijadikan semata-mata untuk kepentingan sesaat. Akan tetapi program prioritas tersebut merupakan kesadaran dan upaya yang responsif terhadap situasi dan kondisi yang sedang dialami masyarakat. Sesuai teori politik bahwa perilaku, budaya dan kebutuhan di masyakat adalah cara terbaik dalam membuat keputusan politik. Tentunya politik pencitraan saja tanpa realisasi sangat tidak disarankan karena penulis menilai pencitraan tanpa realisasi merupakan dosa besar untuk mereka yang sedang dilanda musibah dan seakan dipermainkan dengan janji-janji manis saat kampanye.

Nampaknya para calon pemimpin di masa datang sudah cukup siap untuk penanganan bencana alam di Indonesia khususnya di daerah yang akan dipimpinnya. Pemahaman manajemen bencana sangat tekankan untuk pemerintah, masyarakat dan swasta sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Jurus sakti ini bisa dijadikan program unggulan dalam kontestasi pemilu baik tingkat nasional maupun tingkat daerah sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Komitmen yang tinggi dan iktikad baik sangat dibutuhkan dalam menempatkan penanggulangan bencana sebagai program prioritas.a

Mengenal Harga Diri Rendah

0

Harga diri rendah dimaksud adalah keadaan seseorang yang menganggap dirinya tidak mampu mengatasi kekurangannya, tidak ingin melakukan sesuatu, tidak berani mengambil resiko dan takut akan kegagalan.

Harga diri rendah dapat dijelaskan sebagai proses penilaian personal pada setiap individu terhadap dirinya sendiri, keberadaannya, yang diperoleh berdasarkan atas analisa perilaku memenuhi ideal dirinya, menyesuaikan dengan standar dirinya dan bagaimana ia membandingkan dengan orang lain.

Harga diri rendah dimaksud adalah keadaan seseorang yang menganggap dirinya tidak mampu mengatasi kekurangannya, tidak ingin melakukan sesuatu, tidak berani mengambil resiko dan takut akan kegagalan.

Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis, tuntutan peran kerja, harapan peran kultural, ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya dan perubahan dalam struktur sosial.

Adapun mekanisme koping (penyelesaian), termasuk pertahanan koping jangka pendek dan jangka panjang serta pertahanan ego akibat harga diri rendah dapat dijabarkan sebagai berikut ;

  1. Pertahanan jangka pendek, tetapi biasanya ada yang terjebak kedalam seperti; konser musik, bekerja keras, menonton televisi secara obsesif. Ikut serta dalam aktivitas sosial, agama, klub politik, kelompok atau geng. Penyalahgunaan obat-obat terlarang. Olahraga yang kompetitif, pencapaian akademik, kontak untuk mendapatkan popularitas.
  2. Pertahanan jangka panjang, sebagai berikut; penutupan identitas, adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh orang yang penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi dan potensi diri individu tersebut. Identitas negatif, asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh nilai dan harapan masyarakat.
  3. Pertahanan ego termasuk penggunaan fantasi, disosiasi, isolasi, proyeksi, pergeseran (displacement), peretakan (splitting), berbalik marah pada diri sendiri dan amuk.

Rentang respon (cara mencari jalan keluar) konsep diri (Keliat, 1998) terbagi menjadi dua; adaptif dan maladaptif. Respons adaptif yaitu respons dimana klien menghadapi suatu masalah yang dia sendiri dapat memecahkan masalah tersebut. Sedangkan respons maladaptif yaitu respons dimana seseorang dengan harga diri rendah ketika menghadapi masalah maka mereka dapat memecahkan masalah tersebut dan akan menjadikan masalah tersebut sebagai beban.

Siapapun yang Anda temui di lingkungan sekitar, jika didapati seperti di atas, segeralah lakukan tindakan. Bina hubungan saling percaya, perluas kesadarannya, berikan pekerjaan padanya sesuai dengan tingkat kemampuannya, bantu memaksimalkan perannya, dukung eksplorasi dirinya, bantu dirinya menerima perasaan dan segala pikirannya.

Siapapun yang Anda temui di lingkungan sekitar, jika didapati seperti di atas, segeralah lakukan tindakan. Bina hubungan saling percaya, perluas kesadarannya, berikan pekerjaan padanya sesuai dengan tingkat kemampuannya, bantu memaksimalkan perannya, dukung eksplorasi dirinya, bantu dirinya menerima perasaan dan segala pikirannya.

Bantu mengklarifikasi konsep diri dan hubungan dengan orang lain melalui keterbukaan, berikan respon empati bukan simpati dan tekankan bahwa kekuatan untuk berubah ada pada dirinya, merumuskan perencanaan yang realistis, bantu mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah, bantu mengkonseptualkan tujuan yang realistis, berikan pujian yang wajar terhadap keberhasilannya.

DAFTAR PUSTAKA
KELIAT, B.A. 2006. PROSES KEPERAWATAN JIWA. JAKARTA: PENERBIT BUKU KEDOKTERAN EGC NURJANAH, INTANSARI. 2004. PEDOMAN PENANGANAN PADA GANGGUAN JIWA. YOGYAKARTA: MOMEDIA.

Politik “Pemuda” di Tengah Derasnya Arus Perubahan Sosial

0

“Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Demikian nasihat Gus Dur kepada siapapun yang sedang berkuasa dan akan berebut kekuasaan di tahun politik dewasa ini.

Jika tidak demikian, sikap sinisme politik akan semakin pekat menyelimuti kehidupan perpolitikan. Dinamika telah berkembang amat pesat menyebabkan pro kontra yang sangat signifikan. Hal ini menyebabkan sikap anti-politik dan cinta akan politik menjadi rivalitas yang begitu menohok dalam dunia perpolitikan. Kehidupan politik sebenarnya sebagai proses perwujudan perubahan yang cepat. Bagaimana tidak, politik adalah senjata yang tepat untuk menghancurkan kemiskinan dan ketimpangan. Seperti pernyataan Ambrose Bierce (2002), politik sendiri melibatkan suatu pertemuan antara kepentingan-kepentingan dan asas-asas yang berkonflik.

Kelompok-kelompok terorganisir tawar-menawar berkompromi untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan mereka. Digerakkan oleh keinginan pragmatik untuk sukses, para politisi bisa melanggar asas-asas moral dalam pengejaran kepentingan-kepentingan mereka. Oleh karenanya semakin banyak kelompok yang berkonflik dalam hal meraih kepentingan kelompok, maka semakin banyak keuntungan yang didapat. Karena konflik tersebut akan melahirkan kesepakatan-kepakatan yang saling menguntungkan masing-masing kelompok dan juga masyarakat.

Melansir dinamika politik yang ada di Indonesia, yang mana perpolitikan di negeri ini ditandai dengan adanya pemilihan umum (pemilu) secara langsung. Konflik yang berkepanjangan melibatkan beberapa organisasi partai dalam proses merebut kekuasan, dijadikan sebagai bahan tolok ukur untuk menandakan bahwa politik saat itu sedang di puncaknya atau tidak diminati sama sekali. Timbulnya konflik dalam medan peperangan disebabkan oleh adanya tujuan-tujuan dan kepentingan kelompok yang berbeda. Kekuasaan yang diraih tentu akan memberikan dampak yang sangat menguntungkan bagi pemenang, mengingat kekayaan sumber daya alam yang melimpah, proyek-proyek pembangunan, dan juga bantuan-bantuan sosial terhadap masyarakat berada di tangan sang pemilik kekuasaan.

Oleh karenanya, tidak heran jika dalam prosesnya hal-hal menyimpang kerap dilakukan demi kekuasaan, politik yang didalihkan sebagai “win-win solution” menjadi politik yang menghalakan segala cara. Walaupun begitu, setelah mendapatkan kekuasaan tampak sebagian juga tetap mengutamakan kepentingan rakyat. Namun sebagaimana mengutip pernyataan Thommas Hobbes –seorang filsuf Inggris yang memiliki pandangan tentang hubungan manusia dengan sistem negara. Politik sehat, cerdas, dan berintegritas merupakan hal yang harus diterapkan oleh para politisi, karena sesuatu hal dimulai dengan cara yang baik, akan menghasilkan hal-hal yang baik juga.

Politik sendiri bukan hanya berkaitan dengan kepentingan pribadi dan kekuasaan, melainkan asas-asas moral dengan nilai-nilai yang abstrak seperti kepentingan nasional, kesejahteraan umum, kemaslahatan bersama, kehendak umum, dan kehormatan sosial.

Kehidupan politik sendiri terbagi atas beberapa sub-sub yang di dalamnya tersirat kiat untuk menciptakan perubahan sosial dengan skala yang cepat berdasarkan pembangunan, pengalokasian anggaran yang tepat sasaran. Politik sendiri bukan hanya berkaitan dengan kepentingan pribadi dan kekuasaan, melainkan asas-asas moral dengan nilai-nilai yang abstrak seperti kepentingan nasional, kesejahteraan umum, kemaslahatan bersama, kehendak umum, dan kehormatan sosial. Proses lobbying dan perdebatan kesepakatan merupakan langkah untuk terciptanya kemaslahatan bersama, dan celakanya hal ini dikatakan sebagai kepentingan pribadi oleh publik.

Namun bukan kesalahan juga jika banyaknya pernyataan-pernyataan buruk tentang semua kegiatan politik. Bagi politisi hal itu merupakan bahagian dari strategi untuk mendapatkan kesepakatan yang sesuai dengan yang diharapkan, proses perdebatan menyebabkan para politisi harus pandai berdalih dan memainkan logika yang dicampuri dengan pernyataan yang terkadang bertolak belakang dengan fakta, hanya untuk tercapainya tujuan utama. Karena dengan begitu, harapan-harapan yang sudah terpeta dalam benak pikiran terkait kepentingan publik, akan terwujud jika kekuasaan sudah di tangan. Oleh karenanya, kecerdasan dan kemantapan talenta politisi dibutuhkan dalam hal ini.

Tidak hanya di Amerika misalnya yang menjadi contoh praktis dalam menyikapi kehidupan politik sebagai proses terciptanya perubahan sosial dengan cepat. Politik bagi banyak orang di Indonesia pun merupakan persaingan asas (gagasan) yang berganti menjadi persaingan yang bersifat transendental (politik SARA), setiap individu berupaya untuk mencerdaskan diri dalam bidang politik, bersaing dengan kompetitif dan sportif merupakan hal konkret yang dilakukan oleh setiap individual-individual yang ingin berkontestasi. Karena bagi banyak orang masih mempercayai bahwa kehidupan politik termasuk hal final yang akan menetukan baik buruknya kehidupan di masa yang akan datang, dan dunia politik harus dipenuhi oleh orang-orang yang cerdas dan berintegritas.

Karena dalam prosesnya dinamika politik akan berdampak baik jika politisi tersebut dibekali dengan hal-hal seperti pandai dalam berbicara, sigap dan tanggap dalam kondisi yang memprihatinkan, peka terhadap lingkungan sosial, bijak dalam mengambil keputusan, memiliki strategi yang melimpah untuk pembangunan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kegigihan, dan keadilan. Begitu juga dengan sebaliknya, jika kehidupan politik dipenuhi oleh orang-orang yang tidak dibekali secara mendasar dengan ilmu-ilmu perpolitikan, maka bersiaplah menjadi publik yang mengidamkan pembangunan hanya sebatas angan-angan. Meminjam istilah dari Walt Whitman (dalam buku Leaves of Grass: 1856) “Bagaikan marmut yang berlari di roda yang berputar, merasa sudah berlari dengan sangat jauh padahal masih di tempat yang sama.”

Lantas apa sebenarnya yang menyebabkan ada masyarakat dengan perasaan anti-politik? Dan kenapa politik selalu dianggap buruk oleh masyarakat? Bahkan sebaik apapun kegiatan politik, cenderung tetap buruk di mata masyarakat.

Kenyataan yang terjadi saat ini adalah kaderisasi politik tidak berjalan dengan baik dan jarang sekali menggunakan sistem rekruitmen dan kaderisasi yang matang, akibatnya rekruitmen politik dilakukan atas dasar pemilikan uang, dinasti, dan popularitas.

Berkaitan dengan hal di atas, tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataan yang terjadi saat ini adalah kaderisasi politik tidak berjalan dengan baik dan jarang sekali menggunakan sistem rekruitmen dan kaderisasi yang matang, akibatnya rekruitmen politik dilakukan atas dasar pemilikan uang, dinasti, dan popularitas. Selain itu, rakyat tidak diajari menjadi partisipan politik sukarela melainkan dimobilisasi dengan cara cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi salah satu diantaranya adalah dengan politik uang. Sehingga pandangan negatif pemuda terhadap politik bisa dibuktikan dalam partisipasi mereka dalam dunia politik.

Saat ini di parlemen tercatat bahwa proporsi anggota DPR masih terbilang lemah, tercermin dari data yang dimiliki Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi). Dari 560 legislatif DPR RI periode 2014-2019, hanya ada 2,7% anggota dewan yang berusia 20-30 tahun dan 14,5%  untuk anggota dewan yang berusia  31-40 tahun. Melalui data tersebut dapat diperkirakan dari rentang usia 31-40 tahun, masih lebih banyak anggota DPR yang berusia 35 tahun ke atas.

Berdasarkan persentase ini kita dapat melihat bahwa partisipasi pemuda dalam politik masih sangat rendah. Padahal peran pemuda dalam politik sangat diperlukan demi melahirkan pemimpin pemimpin yang berkompeten, cerdas, berpengalaman dan berintegritas. Maka pemuda harus bisa keluar dari pola pikir negatif tentang politik, lalu mengembangkan isu-isu positif tentang pentingnya politik didalam masayarakat, agar kita mampu untuk menghalau oknum oknum politik yang hanya memperjuangkan kepentingan pribadi untuk mendapat kekuasaan.

Untuk mengubah pandangan anak anak muda terhadap stigma negatif politik bukanlah hal yang mudah, dan diperlukan langkah langkah strategis dan efektif. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah media sosial, karena di era globalisasi saat ini media sosial menjadi sebuah fenomena baru dalam berkomunikasi dan berinteraksi khususnya bagi para pemuda. Seorang anak muda bisa menghabiskan waktu sekitar delapan jam per hari demi mengakses media media social. Oleh karena itu media sosial bisa menjadi media yang efektif dan evisien dalam rangka mensosialisasikan nilai-nilai positif dan tujuan penting dari politik.

Generasi muda harus bangkit dan keluar dari pola pikir negatif terhadap politik. Di media sosial biasanya para pemuda bisa lebih interaktif dan kritis, jadi akan lebih mudah untuk menyusun strategi dan isu-isu yang tepat sasaran agar pemuda bisa memahami secara baik dan benar tentang dunia politik yang sesungguhnya. Apabila pihak-pihak terkait mampu untuk mengelola penggunaan media sosial sebagai sarana untuk memperbaiki pandangan masyarakat khususnya pemuda tentang politik. Maka kita akan melihat pemuda-pemuda Indonesia berperan aktif dalam dunia politik demi kemajuan bangsa dan negara. Asalkan tidak ikut-ikutan menyebarkan berita hoax dan menyebarkan ujaran-ujaran kebencian yang malah justru menjelekkan citra politik itu sendiri.

Sudah seharusnya pemuda berani melakukan kampanye media sosial dengan bijak dan baik serta mampu menggiring opini negatif dengan lebih banyak menciptakan framing berita-berita yang positif.

Dengan demikian sudah seharusnya pemuda berani melakukan kampanye media sosial dengan bijak dan baik serta mampu menggiring opini negatif dengan lebih banyak menciptakan framing berita-berita yang positif. Sebagai penutup, jika kita ingin bangsa ini menjadi sejahtera maka kita sebagai anak anak muda harus berperan aktif dalam dunia politik serta bersikap kritis, cerdas, dan berintegritas dalam mendorong sistem politik yang berkeadilan bagi seluruh rakyat dan menghadirkan perubahan sosial masyarakat Indonesia yang lebih baik serta agar mempersempit ruang para politikus jahat atau pengkhianat bangsa seperti para koruptor untuk mendapat kekuasaan. Waalahua’lam []

Membumikan Budaya Litera(k)si, Sebuah Ikhtiar Mengentaskan Kemiskinan Mental

0

Jombang, KampusDesa–Sebuah harapan: Budaya literasi bukan sekadar wacana, tetapi menjadi aksi untuk merealisasikannya. Pembangunan tidak melulu soal peningkatan ekonomi. Perihal penting yang tak boleh dilupakan dari indikator kesejahteraan masyarakat yaitu pendidikan. Edukasi untuk mengentaskan kemiskinan mental.

Beberapa abad mendatang, negara Indonesia adalah buah dari perjuangan pemudanya saat ini: para pelajar dan akademisi. Perihal perjuangan yang dilakukan, adalah murni hak individu memilih jalan. Pejabat atau konglomerat, petani atau menteri, guru atau kuli batu, pengamen atau presiden. Apapun itu, jika mereka membaca, tidak akan ada gap keilmuan di antara mereka. Mengutip dari Mariah Evans (Profesor dari Universitas Nevada, AS.):

“Seorang anak bisa saja memiliki orang tua buta huruf, tetapi jika ia memiliki 500 buku di rumahnya, itu sama dengan ia memiliki orang tua terpelajar yang menempuh pendidikan terbaik selama 15 tahun.”

Buku menjadi hal sakral yang wajib dipunyai masyarakat. Kalaupun tidak memiliki buku, seyogyanya pemerintah memberikan layanan gratis untuk mencecap ilmu dari buku. Nah! Pemerintah telah tegas. Gerakan literasi semakin gencar disosialisasikan. Seperti Kemendikbud (sekarang menjadi Kemenristekdikti), yang menetapkan Jombang sebagai kabupaten literasi, April 2017 lalu.

Ihwal ini menjadi garis besar suatu pembangunan intrinsik di masa depan: lewat jalan literasi. Pembangunan kerapkali dimaknai sebatas infrastruktur di bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang sifatnya formal. Bahwa perihal formal, dimungkinkan tidak dapat dijangkau oleh kalangan bawah. PR besar pemerintah adalah bagaimana seluruh masyarakatnya dapat menikmati layanan pendidikan tanpa mementingkan strata sosial. Begitu seharusnya pengamalan nilai Pancasila sila ke lima, bukan? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Perpustakaan. Instrumen ini penting sebagai wadah informasi dan wahana ilmu pengetahuan untuk membentuk peradaban pada aspek intelektual. Intensitas kegiatan di kubu literasi dan budaya baca tentu berpengaruh besar pada masa depan individu khususnya dan masyarakat pada umumnya. Layaknya revolusi 4.0 yang marak diperbincangkan abad ini. Persiapan dalam menghadapi perkembangan teknologi pun harus digodok matang-matang agar tidak menyimpang dari hal yang seharusnya, khususnya pada lingkungan desa.

Desa adalah kelompok kecil yang paling akrab setelah keluarga. Jika menyatukan pendapat dalam keluarga merupakan perihal sulit, maka menyatukan pendapat dari satu desa akan lebih sulit. Maka, sekali lagi pengamalan nilai Pancasila harus tetap dijunjung tinggi.

Rumah Inspiratif

Fenomena baik saat ini adalah mekarnya aktivis-aktivis peduli literasi. Mereka berupaya meningkatkan minat baca masyarakat tanpa berharap uluran tangan atau sejenisnya, meski tinggal di desa-desa kecil. Belum banyak perhatian pemerintah kepada mereka, setelah tumbuh lebih besar. Merintis dari awal memang sulit. Tetapi mempertahankan untuk tetap aktif dalam kegiatan literasi, itu lebih sulit.

Pengakuan warga negara Indonesia terhadap Pancasila sebagai ideologi, mesti ada ikhtiar untuk mengimplementasikannya. Sila ke tiga, literasi dan budaya baca, massif digerakkan oleh pegiat literasi. Beberapa masyarakat kemudian mendirikan taman baca secara mandiri. Kemandirian masyarakat membuat gerakan literasi dimotori semangat “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Statistik menunjukkan tak kurang dari 6.000 titik taman baca masyarakat telah berdiri dari Sabang hingga Merauke.

Di desa Sumbersari kecamatan Megaluh kabupaten Jombang, seorang pemuda mendirikan taman baca masyarakat (TBM).

Kepedulian pendidikan oleh pegiat literasi tidak berhenti sampai di situ, beragam kegiatan juga dilakukan untuk mengedukasi anak-anak di lingkungan sekitar. TBM terbuka untuk umum dan gratis. Layaknya label di spanduk TBM yaitu “Moco Gratis, Sak Mblenger’e,” artinya membaca gratis, sepuasnya. Beragam kegiatan diselenggarakan guna membasmi hama bosan masyarakat untuk selalu mengunjungi taman baca. Pembelajaran aksara Jawa, huruf Jepang Katakana, bahasa Inggris hingga acara nonton bareng film edukasi juga diputarkan selepas maghrib di hari-hari tertentu. Workshop inspiratif juga diadakan untuk memacu kreatifitas masyarakat lingkungan sekitar. Ke depan, diharapkan semakin banyak pemuda yang sadar literasi di seperti ini.

Tidak ada bantuan dari dana desa, sama sekali. Padahal, anggaran dana yang diberikan kepada setiap desa, terdapat hak untuk peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan. Sebuah upaya yang patut diapresiasi saat presiden Jokowi menyanggupi, permasalahan anggaran desa untuk perpustakaan. Meski implementasinya belum jelas, diharapkan pernyataan bukan sekadar wacana pengantar tidur.

Setidaknya, upaya di bidang pendidikan didahulukan. Tak kurang dari 19.900 perpustakaan desa telah beroperasi secara prosedural di tahun 2011. Target pemerintah pada tahun 2016 adalah 75.000. Perpustakaan desa bisa kembali menjadi salah satu pusat literasi.Tetapi semua memang diserahkan pada kebijakan desa. Program prioritas tetap di utamakan.