Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 71

Berbagi Inspirasi Bersama Kelas Inspirasi

0

Malino, KampusDesa.or.id– Dengan mengusung tema “Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi”, sekitar 80 relawan pengajar dan dokumentator laksanakan Kelas Inspirasi Gowa (13/10/2018). Sekolah yang disasar pada Tahun ke 5 pelaksanaan di Kabupaten Gowa ini adalah Sekolah Dasar yang berada di Kecamatan Tinggimoncong. SD tempat menyalurkan inspirasi pada tahun ini berjumlah 10 sekolah, salah satunya adalah SDN 2 Malino.

Relawan Pengajar

Beberapa relawan pengajar yang terpilih yakni Basmawati Haris (pustakawan), Andi Adli Mappudji (Instruktur Komputer), Muhammad Ismail (Desain Grafis), Nur Aslam [asisten manager di perbankan), Agusdiwana Suarni (Kaprodi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar), Satriani Tarang (kontraktor di proyek pembangunan), A Nurfadhil Muhyiddin [Duta Wisata Gowa), Makbul (Fotografer), Dito Anurogo (dosen FK Unismuh, dokter literasi digital, penulis). Adapun relawan dokumentator yang terpilih adalah Muh. Patekkai dan Muh. Khaidir Usman. Bertindak selaku fasilitator adalah Ainun, Dian, dan Heri. Kesemuanya ini bergabung di dalam tim 6 alias Tim Tech-Marry.

Sebutan ini diusulkan oleh Dito Anurogo. ‘’Tech Marry itu memiliki filosofi mendalam. Berasal dari gabungan technology, Malino, dan strawberi. Relawan pengajar, dokumentator, dan fasilitator menggunakan teknologi di dalam mematangkan konsep dan sistem pengajarannya. Tim 6 berkunjung ke SD Negeri 2 Malino. Malino merupakan daerah penghasil strawberi,’’ ujarnya. Sayangnya, dosen produktif penulis lebih dari 20 buku itu berhalangan hadir karena kompleksitas problematika serta padatnya jadwal kegiatan. Padahal ia telah diberi surat tugas bernomor 353/05/A.4-VIII/X/40/2018 dari dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar untuk mengemban amanah sebagai relawan pengajar kelas Inspirasi Gowa.

Kelas Inspirasi

Sekadar diketahui, kelas Inspirasi merupakan program yang dicanangkan oleh Indonesia Mengajar. Kelas inspirasi pertama kali diselenggarakan 25 April 2012 di 25 SD di wilayah DKI Jakarta. Kelas Inspirasi menanamkan empat nilai moral, yakni kejujuran, kemandirian, kerja keras, dan pantang menyerah. Adapun para pegiat kelas Inspirasi memiliki tujuh sikap dasar, yaitu sukarela, bebas kepentingan, tanpa biaya, siap belajar, terjun langsung, siap bersilaturahmi, dan tulus.

Profil Sekolah

Meskipun terletak di kota, namun masih tak banyak orang yang mengetahui keberadaan SD Negeri 2 Malino yang beralamat di JL. S. Dg. Jarung ini. Bertindak selaku kepala sekolah adalah Rosmiati. SD yang memiliki enam ruangan kelas ini, memiliki 140 siswa. Jumlah murid per kelasnya bervariasi. Kelas 1 memiliki 25 siswa. Kelas 2 memiliki 29 siswa. Kelas 3 memiliki 26 siswa. Kelas 4 memiliki 16 siswa. Kelas 5 memiliki 18 siswa. Kelas 6 memiliki 26 siswa.

Foto bareng tim Inspirator dan Guru-Murid SD Negeri 2 Malino

SD ini tidak menetapkan jam masuk pagi dan siang. Yang ada hanya kelas pagi, yakni dari jam 07.30 hingga 12.40 WITA. Hal ini berlaku untuk semua siswa dari kelas satu hingga kelas enam.

Fasilitas, sarana, dan prasarana di SD ini terbilang lumayan. Ada perpustakaan, listrik di setiap kelas, WC umum, dan kantin.

Jalanan menuju SD Negeri 2 Malino terbilang bagus. Mobil dan motor dapat melewatinya karena sudah beraspal.

Berlangsung Ceria

Siswa beserta guru SDN 2 Malino sangat antusias menyambut para relawan di sekolah mereka. Pembukaan yang di mulai pada pukul 7.30 ini diawali oleh tarian Gendrang Bulo serta diakhiri kata sambutan oleh Kepala Sekolah sebelum memasuki kelas inspirasi.

Kelas inspirasi yang diberikan berlangsung ceria dan membuat para siswa bersemangat dalam menyimak para relawan, yang diwakili oleh Ibu Satri (Insinyur) dan Bapak Andi (Instruktur Komputer).

‘’Dengan adanya Kelas Inspirasi ini diharapkan seluruh siswa dapat mengetahui profesi lain di luar sana yang masih jarang diketahui, serta dapat memberikan motivasi kepada mereka semua agar terus dapat melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya demi meraih cita cita yang mereka impikan, ujar Rosmiati, kepala SD Negeri 2 Malino.

LIPUTAN OLEH MUH. KHAIDIR USMAN, DITO ANUROGO, DAN TIM TECH-MARRY KELAS INSPIRASI 5 GOWA

Gelar Konser Kemanusiaan untuk Palu, 60 Plus Hadirkan The Virgin dan Ices Triad

0

Makassar, KampusDesa.or.id– Komunitas 60 Plus Sulawesi Selatan akan menggelar Konser Kemanusian sekaligus pengalangan dana untuk korban gempa tsunami Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya.

Konser Kemanusian ini menghadirikan Artis The Virgin dan Ices Triad yang akan dilaksanakan di Kampung Popsa, Makassar, Selasa (16/10/2018) sore.

Ketua Panitia Konser Kemanusian Bangs mengatakan, “kegiatan ini sebagai wujud perhatian kami terhadap saudara kita yang tertimpa musibah gempa di Sulteng.”

“Ini kami kemas dalam konser kemanusiaan sekaligus ingin mengajak masyarakat untuk mendonasikan bantuannya mendatang,” ungkap Bangs saat dihubungi, Jumat (12/10/2018).

Dengan demikian, dia berharap kepada masyarakat Sulsel untuk hadir bersama nantinya.

Kegiatan ini pula akan dirangkaikan dengan Talkshow Kemanusian dengan menghadirkan narsumber dr Hisbullah dan dr Fadli Ananda.

 Reporter Oleh Irwan Ashari. Dosen, Dokter dan Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Unismuh Makassar

Karantina Hewan, Biogas dan Kemaslahatan Umat

0

Masalah menjadi peluang. Masalah menumpuknya kotoran sapi di Karantina Hewan di pelabuhan Kalbut, Situbondo, Jawa Timur, berbuah manis setelah kotoran tersebut diambil energinya melalui optimalisasi reaktor biogas. Al-hasil, reaktor biogas dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Jadilah biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor.

Setiap hari kamis sore, puluhan sapi, kerbau, kambing datang dari pulau Sepudi lewat pelabuhan Kalbut, Situbondo, Jawa Timur. Sapi-sapi tersebut transit di karantina hewan yang letaknya persis sebelahan rumah kami. Hanya dibatasi dengan pagar pendek.

Sapi sapi tersebut kemudian didistribusikan ke beberapa tempat dalam beberapa hari. Tentunya selama penampungan di sini, sapi-sapi itu keluar masuk untuk di kirim ke berbagai lokasi.

Hari Kamis sore, datang lagi puluhan sapi, kerbau dan kambing. Begitu seterusnya. Karena saking banyaknya distribusi tersebut, tempat ini seperti penampungan sapi yang menyisakan berbagai sampah yang tentunya menggangu. Termasuk kotoran sapi.

Kotoran sapi begitu menumpuk. Dibiarkan mengering. Selanjutnya dibakar oleh petugas karantina. Begitulah rutinitas yang dilakukan oleh petugas. Kotoran dianggap mengganggu dan pada akhirnya ditempatkan kedalam persepsi sebagai obyek persampahan. Yah, di lokalisir, ditimbun lalu di bakar.

Namun, ketika hal-hal yang dianggap sampah dan mengganggu, ternyata seluruh kotoran sapi tersebut bisa lo diambil manfaat. Wah, keren kan kalau kita bisa memanfaatkan kembali sesuatu yang kita sampahkan menjadi tidak lagi dianggap sampah. So pasti. Apalagi pengubahan manfaat itu bisa untuk orang banyak, bahkan mampu membantu menekan biaya pengeluaran. Ini akan hebat sekali.

Baca juga : Terapi Gratis dengan Air Laut untuk Berbagai Kesehatan Tubuh

Nah, kotoran sapi yang awalnya hanya dibakar dan menambah polusi, lalu dicoba dimanfaatkan dengan baik. Potensi menarik dari kotoran sapi tersebut yakni dimanfaatkan untuk biogas atau juga untuk pupuk organik.

Disinilah kemudian kami membuat sendiri reaktor biogas skala rumah tangga guna memanfaatkan kotoran sapi yang sangat melimpah. Perlahan, kotoran sapi mulai jadi barang yang berguna, dari semula hanya sebatas sampah belaka menjadi barang yang bernilai tinggi dan bermanfaat bagi siapapun.

Setelah berbagai pendukung berhasil dirakit, instalasi reaktor biogas berhasil terwujud di area sekitar karantina hewan di Kalbut, Situbondo. Sebuah keajaiban yang luar biasa. Dengan adanya reaktor biogas ini, beberapa orang pada akhirnya bisa menggunakannya untuk bahan bakar kompor-gas. Dengan demikian, beberapa orang yang mengambil manfaat dari situ mereka sudah tidak perlu lagi membeli gas untuk menyalakan kompor.

Dan yang lebih penting lagi, reaktor biogas yang kami buat bisa dilihat dan kemudian dicontoh oleh para peternak sapi di sekitar tempat kami. Hampir setiap rumah rata rata memelihara dua sapi ssehingga berikutnya tidak tergantung lagi pada tabung tabung gas melon yang kadang kadang langka dipasaran.

Memberi contoh lebih dahulu untuk hal-hal perubahan masyarakat jauh lebih penting daripada mengajak masyarakat. Apalagi masyarakat yang sudah terbiasa dengan perilaku yang menetap atau sama sekali baru. Sangat sulit dan butuh banyak waktu untuk menumbuhkan kesadaran baru, seperti pembuatan olahan biogas dari kotoran sapi ini.

Maka salah satu metode yang terbaik untuk mengawali perubahan perilaku positif dan produktif di masyarakat tidak lain adalah langsung memberi contoh. Proses ini di sebut sebagai modeling. Seseorang langsung ditunjukkan bukti riil dan manfaat riilnya.

Kita tidak perlu berceramah di sana sini. Ketika bukti itu dianggap menarik dan menjadi barang baru, maka orang-orang akan penasaran dan akhirnya mulai bertanya atau meniru.

Kita tidak perlu berceramah di sana sini. Ketika bukti itu dianggap menarik dan menjadi barang baru, maka orang-orang akan penasaran dan akhirnya mulai bertanya atau meniru. Nah, ketika peristiwa ini terjadi, maka momentum perubahan masyarakat akan bergerak dan menular. Di sini kita bisa langsung terlibat dalam proses-proses kreatif tersebut bersama masyarakat lain. Seperti inilah perubahan itu bisa dilakukan lebih mudah, tanpa riak-riak konflik pemahaman, apalagi konflik kepentingan. Kalau sudah tahu manfaatnya, jelas setiap orang akan berkepentingan atas manfaat biogas tersebut.

Itulah yang disebut sebagai inspirasi.

Dan kedepan, kampung kami bisa menjadi kampung mandiri energi karena banyak potensi yang bisa dimanfaatkan untuk energi alternatif.

Situbondo, 7 Oktober 2018

TULISAN DIEDIT-ULANG DAN DISEMPURNAKAN OLEH MOHAMMAD MAHPUR DARI AKUN INSTAGRAM AGUS MULYONO GM

Unismuh Dukung 652 Dosen Segera Menjadi Profesor

0

Makassar, KampusDesa.or.id.–“Karir dosen harus maksimal sampai puncak, menuju satu titik, yakni profesor,” ujar Abdul Rahman Rahim, rektor Unismuh, saat membuka Workshop Sosialisasi Pangkat dan BKD Dosen Unismuh Makassar di mini hall Fakultas Kedokteran lantai satu (6/10/2018). Saat ini Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memiliki 652 dosen, dengan rincian: 4 orang guru besar, 90 orang lektor kepala, 127 orang lektor, 179 asisten ahli, dan 252 tenaga pengajar.

Lebih lanjut Rektor Unismuh menyatakan bahwa kinerja dosen dinilai dari tiga hal, yakni pendidikan, pangkat akademik, dan sertifikasi. “Sebagai dosen, berpikir dan berupayalah segera menjadi profesor, pasti didukung. Kalau dosen hendaklah tidak berpikir menjadi rektor, selama masih ada rektor yang menjabat. Carilah pekerjaan yang tidak dipersoalkan,” ujarnya disambut tawa hadirin. Beberapa kali rektor berhasil mencairkan suasana dengan humornya yang cerdas.

“Laporan beban kerja dosen (BKD) harus dievaluasi berdasarkan hasil temuan tim inspektorat; bahwa laporan BKD belum sesuai dengan pelaksanaan Tri Dharma PT yang dilakukan dosen, serta jumlah SKS yang dilaporkan belum mengacu pada rubrik BKD. Laporan BKD menjadi acuan pembayaran tunjangan serdos di tahun berikutnya. Hal ini sesuai dengan pasal 8 ayat (1) PP. No. 37 Tahun 2009 tentang dosen,“ jelas Abdul Razak, salah seorang narasumber.

Peserta Workshop Dosen Unismuh

Selanjutnya, pemateri dari LLDIKTI Wilayah IX itu mengatakan bahwa tujuan BKD adalah meningkatkan profesionalisme dosen dalam menjalankan tugas, meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, meningkatkan akuntabilitas kinerja dosen, meningkatkan atmosfer akademik di perguruan tinggi, dan mempercepat terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Hal ini sesuai dengan UU No. 12 Tahun 2012.

Baca Juga : Kiprah Dosen Unismuh Mewujudkan Indonesia Jaya

Selain Abdul Razak, beberapa narasumber dari LLDIKTI Wilayah IX juga hadir, seperti: Bakri, M Yan Patarru, Muzakkir. Mereka menjelaskan beberapa hal yang penting diketahui dosen, seperti: evaluasi BKD, petunjuk teknis aplikasi BKD, petunjuk teknis penyusunan jabatan akademik dosen, penilaian asesor BKD individu.

Dijelaskan pula tentang loncat jabatan. Loncat jabatan dari tenaga pengajar ke lektor dimungkinkan sesuai dengan Permenpan dan RB No. 17 Tahun 2013 jo No. 46 Tahun 2013, dengan ketentuan memiliki 150 kum dan 10 kum di luar pendidikan, serta telah menempuh pendidikan S3.

Ketua panitia, Andi Sukri Syamsuri, mengatakan pihak Rektorat Unismuh Makassar telah  menyebarkan undangan dengan Nomor 1271/II.3.AU/F/2018 kepada 125 dosen dan pejabat terkait di Unismuh. Namun sebagian dosen berhalangan hadir karena ada kegiatan dan acara penting yang tidak dapat ditinggalkan. Panitia mencatat sekitar 57 dosen telah menandatangani daftar hadir.

Suasana workshop ini berlangsung dengan menyenangkan. Beberapa peserta tampak antusias bertanya saat dibuka kesempatan tanya-jawab.

Kaprodi Fakultas Kedokteran (FK) Unismuh Makassar, Ami Febriza Achmad, mengakui bahwa workshop BKD yang diselenggarakan memberikan informasi kepada dosen untuk mengurus jabatan fungsional. Workshop ini sangat diperlukan oleh dosen, terutama dosen Fakultas Kedokteran yang sebagian besar belum memiliki jabatan fungsional.

Nyamannya Menunda Pekerjaan Membuat Kecemasan Meningkat

0

Menunda pekerjaan saat di awal-awal, kita memang belum dihantam oleh kekacauan, bahkan kerugian. Saat semakin mendekati waktu berakhir, gejolak stress menyelimuti kita. Semakin dekat semakin galau. Tekanan tersebut bisa meningkatkan hormon kecemasan. Nah, menunda pekerjaan akan mudah membuat kecemasan meningkat.

Tidak ada yang paling sulit dari pekerjaan selain kita mencoba untuk memulainya. Ini yang mejadi tantangan berat bagi semua orang. Tentunya yang sedang ingin meraih impiannya. Memang banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk mendapatkannya, namun hal yang paling utama adalah berangkat dari diri sendiri.

Diri harus kita persiapkan sedemikian rupa agar nantinya tetap kokoh meskipun bisikan lembut menyerang. yaitu kata “Malas” yang menjadi problematika yang paling utama yang perlu diberatas. Sering kita mengatakan “nanti saja, besok saja, atau semacamnya, yang membuat kita semakin merasa cemas dan gelagapan ketika tiba waktunya pekerjaan harus dikumpulkan.

Biasa menunda juga merupakan salah satu faktor yang paling menghambat ketercapaian yang akan kita wujudkan. Kebanyakan orang meremehkan hal-hal kecil yang pada akhirnya dapat menghancurkan waktu mereka sendiri. Sibuk dengan rancangan pencapaian yang besar namun melupakan hal kecil yang perlu mereka dahulukan. Lalu bagaimana orang akan dapat membuat perubahan besar jika hal kecil tak mereka hiraukan? Seperti halnya menunda melakukan sesuatu.

Hanya satu kata “menunda” yang memunculkan cabang-cabang kemunduran dalam diri. dalam ilmu psikologi biasa kita kenal dengan prokrastinasi (procrastination). Pro yang berarti maju dan crastinus yang memiliki makna keputusan hari esok. Prokrastinasi diartikan sebagai menunda-menunda atau menanggguhkan sampai hari berikutnya.

Baca juga : Sekali Menunda, Anda Akan Mundur Satu Langkah

Ada perilaku ini dalam diri masing-masing orang, namun orang yang berhasil melangkah keluar dari penjara prokratinasi juga tidak banyak. Banyak hal yang membuat mereka mempertahankan sikap nyaman ini. Salah satunya karena pemikiran mereka yang dapat menyelesaikan dalam waktu singkat, lebih memilih bersantai-santai sebelum berfikir keras menyelesaikannya. Ketika terlena dengan santai akhirnya harus terpaksa menyelesaikan banyak pekerjaan dalam satu waktu.

Menunda satu pekerjaan ringan adalah awal dari tumpukan pekerjaan yang biasa kita keluhkan berat.

Karena kita sering menangguhkan pekerjaan sebelumnya, kalau orang yang terbiasa dengan padatnya aktivitas akan menjadi hal yang baik-baik saja, namun jika hal ini ternyata tidak terselesaikan menjadi efek buruk pada diri sendiri. Terutama memperburuk psikis kita, perasaan tidak tenang dan kelelahan yang semakin menumpuk. Menunda satu pekerjaan ringan adalah awal dari tumpukan pekerjaan yang biasa kita keluhkan berat.

Anak yang sering prokratinasi (prokrastinator) memiliki ciri-ciri tersendiri. Prokrastinator sebenarnya telah menyadari akan sikapnya yang menunda untuk menyelesaikan pekerjaan. Seringnya menunda membuatnya menjadi sulit dalam melakukan hal yang lain sesuai degan batas waktu yang ditentukan. Orang yang biasa menunda akan membentuk manajemen waktu yang buruk. Memerlukan waktu yang lama berbeda dengan waktu pada umumnya dalam mengerjakan pekerjaan maupun kegiatan.

Seorang prokrastinator lebih senang melakukan yang mendatangkan hiburan bagi dirinya dibandingkan hal yang membuatnya pusing. Kecemasan yang tinggi ditimbulkan dari sikap menunda yang terlalu sering

Seorang prokrastinator mempersiapkan diri secara berlebihan dalam hal-hal yang tidak dibutuhkan untuk penyelesaian pekerjaan yang pada dasarnya dapat dilakukan dengan segera tanpa berfikir lama. Seorang prokrastinator lebih senang melakukan yang mendatangkan hiburan bagi dirinya dibandingkan hal yang membuatnya pusing. Kecemasan yang tinggi ditimbulkan dari sikap menunda yang terlalu sering. Dampak buruknya, orang akan merasakan kenyamanan yang sesaat namun kepenatan yang lebih mendalam dari menunda-menunda pekerjaan.

Tingkat kecerdasan tidak mempengaruhi perilaku prokrastinasi, namun prokrastinasi lebih dipengaruhi oleh regulasi diri yang kurang baik

Prokrastinasi tidak muncul begitu saja dalam diri namun ada faktor yang mengawalinya. Selain lemahnya motivasi yang dimilikinya yaitu kondisi psikis dan fisik. Kondisi fisik yang lemah adalah pemicu. Apalagi anak yang memiliki semangat belajar yang rendah. Sedangkan dari kondisi psikis, tingkat kecerdasan tidak mempengaruhi perilaku prokrastinasi, namun prokrastinasi lebih dipengaruhi oleh regulasi diri yang kurang baik. Setinggi skor intellegensinya namun tidak memiliki self regulation yang baik juga menyebabkan perilaku ini terus menguasai diri.

Baca juga : Damai dengan Tumpukan Kesibukan

Selain faktor dari dalam juga terdapat faktor luar (eksternal) yang mempengaruhi, misalkan kondisi lingkungan yang tidak kondusif, lingkungan teman yang sama-sama kurang memiliki semangat yang tinggi, dan kurangnya pengawasan dari lingkungan.

Mencoba untuk membuat deadline penyelesaian dari tugas merupakan satu dari jutaan solusi untuk melemahkan perilaku prokrastinasi. Waktu yang menyenangkan dan hiburan memang diperlukan namun jika terlalu terlena dengan kenyamanan bukanlah kondisi yang akan berakhir baik nantinya.

Menjadi peribadi yang bermakna juga perlu diawali dengan kosistensi dan management waktu yang baik, kita selalu diingatkan dengan waktu dimanapun dan dalam kondisi apapun, waktu adalah hal yang paling berharga, bahkan ada yang mengatakan sedetik adalah nyawa. ketika kita dapat memaknai detik demi detik yang kita miliki akan menjadi kerugian yang luar biasa, namun jika kita mulai belajar untuk menata dan memperbaiki itu merupakan bekal pembentuk pribadi yang positif.

Memuja Kemandegan Desa

0

Eksotisme desa sangat dipuja. Mulai dari alam hingga kebudayaan. Desa diagungkan dalam berbagai kebanggaan orisinalitas. Tetapi situasi yang dipuja itu belum menjanjikan kecukupan ekonomi. Pemuda desa merantau adalah bukti desa tidak memiliki kebanggaan kecuali sebagai tempat kelahiran. Sudah selayaknya diciptakan desa yang tidak sekedar memuja kemandegan desa

Desa-desa yang dipuja itu adalah desa yang mandeg, tidak progresif. Desa yang memang masih kelihatan hijau, meskipun kontur tanahnya rapuh pada saat cuaca-cuaca tertentu menyerang. Banjir dan longsor sebagai bagian cerita ikutannya.

Tetapi ini bukan soal kemandegan alam. Yang namanya alam selalu progresif, mengikuti hukum gerak sebagaimana sabda Heraklitus, yang kemudian diteorikan oleh Engels dan bapaknya Eleanor (suaminya Bu Jenny). Engels dalam “Dialectic of Nature” jelas-jelas menguraikan banyak hal soal hukum gerak dan dialektika alam.

Para penulis, pelukis, dan narator keindahan desa akan berhenti sejenak memuja keindahan alam sesaat setelah terjadinya banjir bandang atau tanah longsor. Mereka melihat alam begitu ganasnya. Mereka juga ikut larut dalam lagu-lagu solidaritas yang mendengung setelah terjadinya bencana. Karena hanya bencana alamlah yang secara naluriah menagih perasaan untuk solider, yang tak jarang diungkapkan dengan cara berbagi.

Tetapi sudahkah para penulis dan kaum intelektual melihat kontradiksi yang kompleks dan dalam dalam relasi sosial-ekonomi di daerah pedesaan, selain menarasikan keindahan desa-desa dengan rasa takjub yang memesonakan sehingga lupa mengangkat jantung kontradiksi sebenarnya yang terjadi di desa dengan relasi-relasi produksinya yang masih eksploitatif?

Kemandegan
Saya kira salah satu ciri kehidupan di desa itu adalah seperti corak feodal pada umumnya. Pada awalnya, kemandegan terjadi karena mereka memperoleh sedikit untuk memenuhi hasil yang sedikit. Tetapi kemudian kerja keras secara fisik tak didukung manajerial pekerjaan (bertani), tanpa modal yang kuat, tanpa kekuasaan untuk mengatur pasar, dan ketidakseimbangan antara biaya produksi dengan harga hasil panen, menjadi penyebab kemandegan maupun keterhisapan.

Penghasilan yang terbatas dan corak produksi yang mandeg ini hanya membuat mereka terus tertekan karena keinginan untuk membeli dan bergaya hidup seperti orang kota tersangkal dengan kenyataan (hidup yang bagaimanapun serba kekurangan)

Bagi sebagian besar orang pedesaan, saat mereka hanya bisa menghasilkan sedikit untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar, kemudian iklan yang merayu mereka untuk membeli produk dari perkotaan yang dikendalikan oleh kaum kapitalis dan menggoda dengan gaya hidup perkotaan memicu keinginan-keinginan baru. Sementara penghasilan yang terbatas dan corak produksi yang mandeg ini hanya membuat mereka terus tertekan karena keinginan untuk membeli dan bergaya hidup seperti orang kota tersangkal dengan kenyataan (hidup yang bagaimanapun serba kekurangan).

Para pemuda desapun tidak sabar untuk mendapatkan uang (cash money) untuk bisa segera memenuhi kebutuhan konsumsi. Mereka tahu bahwa kalau hidup hanya mengandalkan pertanian (dan peternakan), maka ‘cash money’ akan terus jauh dari tangan mereka. Mereka ‘emoh’ bergelut dengan tanah dan apa-apa yang tumbuh untuk dimanfaatkan (termasuk pakan ternak). Mereka memilih mencari kerja di kota. Sebagian kecil sekali bisa ikut diterima sebagai buruh pabrik dengan gaji bulanan di daerah perkotaan (terutama kawasan industri). Sebagian lain bekerja sebaga kuli bangunan yang bersifat musiman.

Cerita tentang mencari sesuatu untuk bertahan hidup ini akan menyuguhkan kisah pilu, sekaligus rasa marah karena ternyata banyak bentuk-bentuk relasi yang mengenaskan. Ini yang tampaknya yang luput diangkat dalam narasi-narasi “Mooi Indiesme” yang hanya menyuguhkan keindahan desa-desa, pemandangan yang tampak hijau dan bentuk lekuk tanah yang indah dari cekungan dan gundukan bukit dan gunung serta apa-apa yang berada di antara benda-benda alam itu.

Menonjolkan alam yang indah itu punya efek nyata dalam hal lupa menguak kisah-kisah dari pengorbanan yang diderita—dan kesengsaraan yang nyata—dari manusia-manusia pedesaan. Secara psikologis kesengsaraan itu tak tampak. Kesedihan itu mudah dilipat dalam raut wajah yang terbiasa susah sejak desa-desa jaman feodal dan kolonial secara bergantian atau bersama menjadi objek terhisap para keluarga raja-raja dan tuan-tuan kolonial. Wajah sedih itu disembunyikan dalam ucapan doa-doa harian dan mingguan (baik yang dilakukan secara sendiri-sendiri maupun yang kolektif). Juga terhimpit di antara khayalan menonton TV dengan acara hiburan maupun iklan.

Efek psikologis itu tidak tampak bagi yang terbiasa menarasikan keindahan alamnya saja. Tapi kalau mau menelisik masalah-masalah yang terjadi, sungguh desa sebenarnya adalah tempat bagi jutaan masalah kemanusiaan yang terkumpul jadi satu. Desa telah menjadi mata rantai paling buntut dari penindasan kapitalisme. Bahan-bahan mentah dibeli dari desa secara murah, diolah di kota dan dikembalikan dalam bentuk produk yang dibuat untuk terus menambah keuntungan para elit kota.

Cara bertahan hidup di desa, yang dilakukan secara mati-matian, baik dengan hanya sekedar mempertahankan diri memanfaatkan lingkungan pedesaan atau yang menempuh bepergian (migrasi) baik dalam waktu sebentar atau lama, akan mengakibatkan pengorbanan yang efek dehumanisasinya lebih parah

Sedang cara bertahan hidup di desa, yang dilakukan secara mati-matian, baik dengan hanya sekedar mempertahankan diri memanfaatkan lingkungan pedesaan atau yang menempuh bepergian (migrasi) baik dalam waktu sebentar atau lama, akan mengakibatkan pengorbanan yang efek dehumanisasinya lebih parah. Anak-anak buruh migran yang terlantar dengan efek buruk pada perkembangan psikis karena pola asuh yang kacau. Dan bentuk-bentuk dari cara mengalihkan ketertekanan menjadi tingkahlaku dan karakter yang menunjukkan “keterbelakangan” kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.

Kemandegan ekonomi berakibat pada kemandegan perkembangan diri. Pertama, kemandegan terjadi karena ketiadaan potensi maupun aktualisasi ilmu dan pengetahuan yang mencerahkan maupun yang melahirkan kreativitas. Ilmu pengetahuan bahkan seakan dianggap tidak penting. Tapi sebenarnya juga ada aspek ketidakpercayaan pada pengetahuan formal (sekolah) yang juga menghasilkan pembiayaan tersendiri—menyedot penghasilan (pendapatan) dari aktivitas ekonomi yang terbatas.

Tulisan direpost dari facebook penulis Nurani Soyomukti

Dilema Konten dan Kemasan (1)

0

Bagi seorang yang belajar desain, visualisasi konten menjadi tantangan tersendiri. Apalagi peraga foto yang pas sesuai selera untuk sebuah kemasan brosur. Memang enak kalau bisa menggambar sendiri. Tapi begitulah, memadukan gambar dalam sebuah desain kadang perlu menyelaraskan antara peraga gambar dan konten sebuah kemasan brosur.

Saya tulis artikel ini dalam rangka mengenang kritikan salah seorang sahabat saya tentang ilustrasi yang saya gunakan dalam sebuah brosur kursus. Kursus saya bergerak seputar pengembangan literasi untuk anak. Kegiatan di dalamnya erat kaitannya dengan pembelajaran di alam, sambil menggunakan berbagai metode bermain.

Peran lingkungan dan orang tua sangat dilibatkan. Karena itu saat harus mencantumkan ilustrasi pastinya saya memilih gambar yang menunjukkan kegiatan orang tua dan anak yang sedang belajar atau bermain di tengah alam.

Saya ini orang Indonesia muslim. Yang terbayang saat mencari gambar semacam itu tentu saja adalah gambar orang-orang muslim dengan identitas busana muslimnya. Atau setidaknya orang-orang Indonesia dengan putra-putri mereka, dengan wajah dan postur khas Indonesia.

Tahukah apa yang terjadi kemudian? Saya menemui banyak kesulitan. Saya coba ketikkan beberapa kata kunci:

Orang tua dan anak bermain di alam
Ibu dan anak belajar di alam
Ayah dan anak bermain di alam

Hampir tidak ada gambar yang sesuai harapan. Kebanyakan gambar orang tua dan anak sedang belajar membaca atau menulis. Atau mengaji Al Qur’an.

Tidak adakah gambar orang tua dan anak yang sedang bermain dalam konteks belajar di alam? Ada beberapa. Tapi rata-rata orang bule. Atau orang Asia yang berkulit putih dan bermata sipit.  Gambarnya indah, isinya seru. Tentang ayah atau ibu bule atau Asia sipit yang sedang menemani anaknya bermain layang-layang, gelembung sabun, bahkan bercocok-tanam dengan alat mainan atau bermain celengan dan uang.

Karena penasaran, saya mengetikkan kata-kata kunci yang lebih spesifik:

Ayah dan anak muslim bermain layang-layang
Ibu dan anak muslim bermain bercocok-tanam
Ibu dan anak muslim bermain gelembung sabun
Ibu muslimah dan anak bermain finger painting
Orang-tua muslim bermain di alam
Orang tua muslim dan anak bermain pesawat-pesawatan

Nggak keluar juga gambar yang bersesuaian. Kalau ada, lingkupnya di sekolah. Jadi orang dewasanya pasti guru, bukan ayah atau ibu. Mayoritas gambar orang tua dan anak sedang baca buku atau Al Qur’an. Hmm… pada ke mana nih orang-tua muslim saat mendampingi putra-putrinya belajar? Hanya di ruangan dan berkutat dengan diktat-diktat saja? Ada satu ibu berjilbab berpose dengan anaknya, tapi sedang selfie, terlihat bukan sedang beraktivitas belajar. Wahh… Bisa-bisa saya tidak segera memperoleh ilustrasi yang cocok nih untuk brosur saya.

Kembali saya mengetik kata-kata kunci agak lebih umum:

Orang-tua dan anak bermain di alam
Ibu dan anak bermain gelembung
Ibu dan anak bermain cocok tanam
Ibu dan anak membaca di tengah alam
Ibu dan anak bermain pesawat-pesawatan
Ibu dan anak bermain boneka
Ibu dan anak bermain tali.

Berdasarkan pengalaman pribadi, saat orang tua nimbrung bermain boneka bersama anaknya, banyak sekali hal yang bisa diajarkan. Belajar kosakata baru, bermain peran sosial, ketrampilan motorik, afektif, dan sebagainya

Hasilnya tidak jauh-jauh amat dari yang tadi. Kalau tidak percaya pembaca boleh mengeceknya sendiri di internet. Yang muncul gambar-gambar yang sama. Untuk poin 6 hasilnya, hampir semua anak bermain boneka tanpa ibunya. Sayang sekali ya. Berdasarkan pengalaman pribadi, saat orang tua nimbrung bermain boneka bersama anaknya, banyak sekali hal yang bisa diajarkan. Belajar kosakata baru, bermain peran sosial, ketrampilan motorik, afektif, dan sebagainya. Alhamdulillah untuk poin 7 saya menemukan gambar seorang ibu dan anaknya yang sedang bermain lompat tali dengan pose sangat bagus dan ekspresif. Tapi ibunya pakai hotpants dan tidak berjilbab lho.

Karena dikejar deadline, saya harus segera memutuskan gambar yang harus dipilih. Terjadilah perang batin dan dilema berfikir. Mengedepankan konten atau kemasan konten? Maksud konten adalah nilai atau pesan yang tersampaikan dari sebuah gambar, terlepas dari penampilan atau cara berpakaian orang-orang di dalam gambar tersebut. Kalau kemasan konten berarti penampilan fisik termasuk model pakaian yang dikenakan oleh para model di dalam foto.

Gerakan literasi ala saya ini justru berupa himbauan kuat agar orang tua mengenalkan tentang ayat-ayat Qouniyah pada anaknya, yaitu ayat-ayat yang menunjukkan keagungan Allah sebagai pencipta di alam semesta.

Jika saya ngotot dengan ikon muslim saja, pesan yang hendak saya sampaikan tentang pelibatan orang tua di tengah kemerdekaan anak belajar di tengah alam akan tersisih. Yang tertangkap malah pembelajaran konvensional yang monoton dan itu-itu saja. Sama sekali bukan tidak pro dengan pelajaran membaca buku bacaan atau mengaji Al Qur’an. Namun gerakan literasi ala saya ini justru berupa himbauan kuat agar orang tua mengenalkan tentang ayat-ayat Qouniyah pada anaknya, yaitu ayat-ayat yang menunjukkan keagungan Allah sebagai pencipta di alam semesta.

Secara dilematis saya pilih beberapa gambar aktivitas ibu dan anak belajar dan bermain bersama di tengah alam dengan sangat indah dan ekspresif walau tanpa balutan busana muslim. Toh saya sudah capek berkutat dalam pencarian gambar selama berhari-hari. Ilmu pengetahuan itu bersifat universal, kok. Hibur saya pada diri sendiri. Ehh… waktu brosurnya sudah jadi dan saya tunjukkan pada salah seorang sahabat saya untuk mendapat masukan ternyata inti masukannya adalah Sudah bagus, tapi lebih bagus lagi kalau orang tua dan anaknya berbusana muslim! Oalaaah… Tanpa pikir panjang saya langsung membalas chat wa nya: tolong carikan dong!

Kemiri, Bahan Masakan Menyelamatkan Kehidupan

0

Internet sangat bermanfaat untuk meningkatkan taraf rakyat kecil. Bahkan mampu mengangkat derajat kemudahan hidup para orang miskin yang kesulitan memanfaatkan sumberdaya alam. Termasuk Yu Sinten. Melihat tetangganya kesulitan memecah Kemiri, bahan masakan yang terkenal ini, maka seorang yang peduli mencarikan cara di internet, maka cara ini menyelamatkan kehidupan Yu Sinten.

Yu Sinten seringkali gugup akhir-akhir ini. Uang belanja dari suaminya serasa mengkerut. Jika biasanya uang segitu bisa cukup untuk satu minggu, sekarang menjelang hari ke-4 sudah tambal sulam.

Yu Ten (panggilan sayangnya) tidak kenal inflasi. Hanya saja akhir-akhir ini keluarganya makin keranjingan terasi. Sambal terasi semakin terasa urgen kehadirannya ketika persediaan lauk-pauk sangat terbatas. Kalau ada sambal pedasnya, semua terasa nikmat! Jadi lupa lainnya…

Untung saja Yu Ten hidup di pedesaan yang gemah ripah loh jinawi. Lombok tomat pada berbuah, ranum merah mengkilat. Tidak bakalan kekurangan bahan baku utama sambal segala macam. Sayur-mayur tumbuh menyeruak bak semak di sekitar rumah. Empon-empon cukul (muncul bertunas) sendiri dari gundukan tanah. Perlu santan? Pohon kelapa berbuah lebat di pekarangan belakang.

Tidak cukup sampai di situ, Allah memanjakan Yu Ten dengan bumbu penyedap lain yang pohonnya tumbuh bercabang membesar, buahnya seukuran bola pingpong. Dari dalamnya terkandung biji-bijian yang dilapisi kulit sekeras batok kelapa. Buah kemiri namanya.

Hari Senin Yu Ten bikin penyet terong. Hari Selasa beliau memasak lodeh nangka muda. Jodohnya sambal terasi dan ikan asin. Awet sampai hari Rabu. Selanjutnya bikin soto, sambelnya pakai kemiri. Hari Kamis Yu Ten melirik jantung pisang. Ia pun bikin pecel jantung pisang. Kemiri berandil dalam bumbunya. Hari Jum’at ia masak kare tahu. Gurihnya kemiri dan santan dipadu sambal bawang bikin semua orang ketagihan. Hari Minggu suami Yu Ten bawa ikan wader banyak sekali dari Kali Amprong. Sebagian dipenyet sama sambal, sebagian digoreng dengan tepung bumbu kemiri. Temannya oseng-oseng pepaya muda hasil memetik di kebun. Seminggu full lidah sekeluarga dimanjakan dalam kesederhanaan. Sedap betul hidup di pedesaan.

Yu Ten amat mensyukuri sebatang pohon besar bercabang dua yang tumbuh di samping rumah. Saat terdengar isu inflasi pohon itu semakin rajin beraksi. Menggugurkan buah-buah keringnya yang berukuran sekepalan tangan anak kecil.

Yu Ten bukan asyik dengan buahnya, tapi sibuk mengamankan biji-bijinya. Dengan telaten ia menjemurnya di halaman depan. Setelah beberapa hari dan cukup kering, dipukul-pukulinya kulit biji yang sekeras batok kelapa. Hasilnya isi bijinya keluar berhamburan, jauh dari utuh.

Untunglah seorang tetangganya yang sedang lewat melihat hal itu, lalu mencarikannya info di internet. Ketemulah sebuah alat pemukul sederhana terbuat dari rotan dengan jaring-jaring kecil dari tali rafia. Suami Yu Ten meniru membuat alat tersebut.

Pagi ini Yu Ten tersenyum-senyum senang, melihat biji-bijian yang dipukulinya retak dan terbelah, lalu mengeluarkan isi yang masih utuh. Biji kemiri utuh. Kalau begini caranya, pasti harga jualnya ke melijo juga lebih baik. Dapur dan dompetnya sama-sama sedap

Tinta Mulia. #Dewipelaga