Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 72

Mekanisme Sukses Otomatis dan Mekanisme Gagal Otomatis

0

Manusia memiliki sukses otomatis. Maksudnya setiap orang bisa memperoleh kesuksesannya tanpa harus menanggung kegagalan. Namun, bawah sadar seseorang lebih banyak dibentuk oleh cara yang dipenuhi mekanisme gagal. Itu yang salah kaprah sehingga selalu ada mekanisme gagal otomatis menghambat pencapaian sukses otomatis. 

Setiap makhluk di dunia diberi seperangkat alat yang disebut Mekanisme Sukses Otomatis. itu sebuah servomechanism seperti komputer di peluru kendali untuk mengejar sasarannya. Pada binatang, kebutuhannya hanyalah makan dan berkembang biak. Ikan Salmon pada usia 4-5 tahun, pada saat yang tepat akan berenang kembali ke tempat dilahirkan, di sana berpijak kemudian mati. Seekor tupai di Eropa yang lahir musim semi ini, secara otomatis menjelang musim dingin akan mengumpulkan biji bijian. padahal dia belum pernah mendapat contoh dari orang tuanya. Itu sudah tertanam di dalam dirinya.

Bagaimana dengan manusia ? Sama juga, manusia juga memiliki Mekanisme Sukses Otomatis di dalam dirinya, tertanam dalam perangkat yang kita sebut sebagai pikiran bawah sadar. Masalahnya, kebutuhan manusia itu bermacam macam, sasaran hidupnya juga bukan hanya berkembang biak meskipun itu masih menjadi hal yang utama. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, manusia diberi hak untuk memilih sendiri masa depannya.

Mekanisme Sukses Otomatisnya harus diberi sasaran lagi oleh si manusia itu sendiri. Jika tidak, maka akan mengambil yang default yaitu yang sudah ada sejak lahir sampai usia 7 tahun, saat dia belum bisa memilih. Akibatnya, kita akan terus terikat dengan sasaran sasaran yang sudah ada kecuali kita bisa memberi sasaran baru.

Sebagai contoh di bidang keuangan, sasaran default yang tertanam sejak kecil adalah bekerja keras mencari uang, bukan memiliki uang banyak. Sejak kecil kita diberi contoh-contoh bahwa bekerja keras itu terhormat, uang tidak dibawa mati, uang itu banyak menyebabkan masalah, orang kaya itu penindas, memanfaatkan orang miskin dan sebagainya. Karena sasarannya itu, maka mekanisme sukses otomatis kita akan terus mendorong agar kita tidak memiliki uang. Supaya kita giat bekerja mencari uang, kalau perlu sampai akhir hayat.

Jika kita memiliki uang, tiba tiba dimunculkan ide ide brilian untuk menghabiskan uang itu. Lantai tiba tiba nampak kusam dan perlu diganti, rumah tiba tiba terasa sempit dan perlu dibesarkan, tiba tiba merasa butuh mobil, mobil kedua, mobil ketiga dan seterusnya. Pokoknya uangnya harus habis habis dan habis. Mereka yang memiliki program itu akan jatuh dalam salah satu dari dua kondisi. Sudah bekerja keras bertahun-tahun penghasilannya segitu gitu saja (miskin tipe 1) , atau seperti saya dulu, sudah berpenghasilan besar bertahun-tahun, tabungannya segitu-gitu saja (miskin tipe 2). Semakin banyak kita mendapat uang, semakin besar hutangnya, tujuannya supaya kita terus bekerja keras.

Sampai kapan ? sampai Anda mengganti sasaran di pikiran bawah sadar Anda dengan program baru, yaitu hidup nyaman dengan memiliki uang banyak. Jika programnya tidak diganti, maka sampai akhir hayat kita akan terus seperti sekarang ini. Yang ambisinya rendah ya hidup tenang dalam kesederhanaan yang dipaksakan. Yang ambisinya tinggi, berusaha membangun bisnis ini bisnis itu, hidupnya akan seperti roller coaster.

Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, Tuhan memberi apa yang kita butuhkan. Sayangnya, kebutuhan Anda saat ini yang dibaca Tuhan adalah bekerja keras mencari uang. Sedang keinginan Anda adalah memiliki banyak uang.

Naik turun bikin mual penumpangnya yaitu anak dan isteri. Naik sedikit, diturunkan lagi oleh mekanisme gagal otomatis. Yang sebenarnya adalah mekanisme sukses otomatis yang mengejar sasaran yang berbeda dengan yang kita inginkan. Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, Tuhan memberi apa yang kita butuhkan. Sayangnya, kebutuhan Anda saat ini yang dibaca Tuhan adalah bekerja keras mencari uang. Sedang keinginan Anda adalah memiliki banyak uang.

Selamat mengubah sasaran default Anda

Polisi Tidur dan Sunnah Rasul, Layakkah Menjadi Juru Selamat

0

Menyingkirkan duri dari jalan itu bagian dari sunnah rasul. Cara ini menyelamatkan orang lain agar tidak terlukai ketika berjalan. Lalu dengan polisi tidur, ada beberapa orang terjatuh karena tidak tahu menahu kalau dia sedang melintasi polisi tidur. Tanpa polisi tidur, pun kadang orang juga ngebut. Bagaimana dilema ini ditempatkan ?

Saya masih teringat di masa kecil ketika ibu guru kelas 2 SD menanyakan tentang cita-citaku.

“Apa cita-citamu kelak, Nak?” Tanya Bu Guru.

“Polisi, Bu.” Jawabku singkat.

“Ya, bagus,” ucap Bu Guru. “Tapi syaratnya harus rajin belajar, jangan jadi polisi tidur lo!” Beliau melanjutkan.

Polisi Tidur. Ya, mengapa penulis mengangkat tema polisi tidur? Alasannya, pada sekitar minggu pertama di bulan September 2018 ini saya memiliki pengalaman khusus yang barangkali menjadi catatan episode agak pahit dalam kehidupan penulis. Ceritanya, jatuh sendiri, bangun sendiri, sebab ulah polisi tidur yang tanpa tanda dan rambu-rambu apapun. (Tak perlu kiranya bagaimana kronologi kejadiannya penulis paparkan dalam artikel ini)

Semestinya jalan dilengkapi dengan rambu-rambu pemberitahuan terlebih dahulu mengenai adanya polisi tidur, khususnya pada malam hari, yaitu polisi tidur dilengkapi marka jalan dengan garis serong berwarna putih atau kuning yang kotras sebagai pertanda bagi pengguna jalan.

Polisi Tidur berfungsi sebagai alat pembatas kecepatan atau markah kejut, yaitu bagian jalan yang ditinggikan berupa tambahan aspal atau semen yang dipasang melintang di jalan untuk pertanda memperlambat laju / kecepatan kendaraan. Maksudnya untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan bagi pengguna jalan. Sebab itu bentuk dan ketinggiannya harus diatur. Dan semestinya jalan dilengkapi dengan rambu-rambu pemberitahuan terlebih dahulu mengenai adanya polisi tidur, khususnya pada malam hari, yaitu polisi tidur dilengkapi marka jalan dengan garis serong berwarna putih atau kuning yang kotras sebagai pertanda bagi pengguna jalan.

Akan tetapi polisi tidur yang umumnya ada di jalan-jalan perkampungan/pedesaan, demikian juga pada jalan-jalan padat rumah di perkotaan lebih banyak yang bertentangan dengan desain polisi tidur yang diatur berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994. Hal yang demikian itu yang dapat meminta korban atau membahayakan keamanan dan kesehatan para pemakai jalan (termasuk yang dialami penulis).

Memasang alat pembatas jalan berupa polisi tidur itu tidak dilarang, hanya saja ada aturan yang wajib dipatuhi oleh pemasang. Artinya memasang polisi tidur jangan asal-asalan, gagah-gagahan, tidak sekedar ingin agar si pemasang menjadi lebih terhormat dan selamat sanak keluarganya karena setiap kendaraan akan menurunkan kecepatan berkendaranya. Ada hal lain yang harus terpikirkan bahwa kenyamanan dan keselamatan pengendara pun harus menjadi bagian dari perhatiannya.

Pada Bab II pasal 6 Kepmenhub di atas disebutkan bahwa alat ini (baca polisi tidur) maksimum tingginya dibangun 12 cm dengan kedua sisi miringnya mempunyai kelandaian yang sama maksimum 15 persen. Adapun lebarnya dibangun minimal 15 cm, apabila lebih lebar sangat dibolehkan.

Pada Bab II pasal 6 Kepmenhub di atas disebutkan bahwa alat ini (baca polisi tidur) maksimum tingginya dibangun 12 cm dengan kedua sisi miringnya mempunyai kelandaian yang sama maksimum 15 persen. Adapun lebarnya dibangun minimal 15 cm, apabila lebih lebar sangat dibolehkan. Demikian juga pasal 7 disebutkan bahwa bahan yang digunakan dapat berupa semen dan pasir, aspal, karet, atau bahan lainnya yang sesuai dengan badan jalan.

Hal lainnya bahwa sebelum memasang alat pembatas, pihak yang akan membangun itu terlebih dahulu harus mendapat izin dinas perhubungan setempat atau paling tidak harus ada kesepakatan dari pemerintah setempat (kelurahan/kepala desa). Hal ini dilakukan guna mengetahui tata cara bagaimana pemasangan alat pembatas dan melihat kondisi lingkungan.

Agar alat ini tidak membahayakan pengendara khususnya kendaraan motor, harus dilakukan pemasangan rambu-rambu lalu lintas

Agar alat ini tidak membahayakan pengendara khususnya kendaraan motor, harus dilakukan pemasangan rambu-rambu lalu lintas, jika berapa meter kemudian akan ada lintangan alat pembatas kecepatan. Polisi tidur juga harus dicat hitam dan putih/kuning agar mudah diketahui saat dilintasi pada malam hari.

Alat pembatas kecepatan dapat dipasang pada jalan lingkungan permukiman atau jalan lokal dengan kelas jalan III c atau pada jalan-jalan yang sedang dilakukan pengerjaan konstruksi.

Jika saja, ada pihak yang tidak mendapatkan izin dari Dinas Perhubungan, hal itu pasti dianggap ilegal dan semestinya dikenakan sanksi pidana sebab jelas membahayakan keselamatan dan nyawa orang lain.

Oleh karenanya semua pemasangan jenis perlengkapan jalan termasuk alat pembatas kecepatan harus dikoordinasikan dengan instansi yang bertanggung jawab pada sarana dan prasarana LLAJ.

Jelaslah bahwa jikalau polisi tidur itu diatur oleh negara. Lalu bagaimana dengan konsekwensi agama (khususnya Islam)

Ada sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Abu Hurairah bahwa seseorang melewati dahan pohon yang ada di atas jalan, maka ia berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan menyingkirkan dahan ini dari jalan kaum muslimin agar tidak mengganggu mereka.” Orang ini pun dimasukkan ke dalam surga.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Majah bahwa sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat bermanfaat bagiku! Beliau menjawab, “Singkirkanlah gangguan dari jalan-jalan kaum muslimin!”

Bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dalam hadits lain mencela dan memperingatkan dengan keras bagi orang-orang yang mengganggu jalan-jalan kaum muslimin sehingga mereka terancam keselamatan dan kesehatannya.

Sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa mengganggu kaum muslimin di jalan-jalan mereka wajib atasnya laknat mereka.”

Atas dasar petunjuk Rasulullah dan terlebih kita menyatakan sebagai umatnya, maka hal polisi tidur yang dipasang dengan mengabaikan aturan yang ada masih layakkah apabila disebut sebagai demi kenyamanan dan keselamatan untuk semua ? Padahal itu sudah nyata akan mengganggu pengguna jalan dan bahkan membahayakan keselamatan jiwanya.

Renungkanlah ! Bahwa polisi tidur yang dengan sengaja dipasang tanpa mengikuti aturan dan prosedur yang ada secara hukum negara termasuk pelanggaran yang dapat dipidanakan. Dan dari sisi agama jelas apabila dikatakan dia akan menutup kelapangan jalannya sendiri dalam menuju surga Allah, karena tak terbayangkan seberapa banyak orang yang merasakan terganggu karenanya dan pasti akan mengumpat dan melaknatnya. Na’udzu billahi min dzalika.

Marilah kita berdoa semoga kita termasuk dalam golongan orabg-orang yang mau dan dapat menebar sebesar-besar manfaat kepada sesama. Tidak sebaliknya, yaitu tidak memberikan kemudharatan bagi orang lain. Aamiin..

Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat mengetuk hati siapapun pembaca yang budiman…

SUMENEP, 26092018

“Udun Mledos,” Rekruitmen CPNS yang Menyisakan Pilu Guru Honorer

0

Masalah guru hononer masih menyisakan pilu. Puluhan tahun mengabdi tidak serta merta menjadikan mereka terjamin menjadi CPNS. Problem ini terus menerus menjadi dilema. Mengangkat dengen rekuitmen CPNS sehingga lebih berkualitas atau menjadikan guru honorer yang sudah lama mengabdi dan berpengalaman menjadi CPNS. Persoalan ini juga terus menghadang musim rekuitmen CPNS 2018.

Beberapa hari terakhir ini ada sebuah pemandangan yang tidak seperti biasanya di beberapa sekolah. Siswa sering kali nampak hanya duduk atau bergerombol di luar kelas sambil bermain-main. Mereka tidak mendapatkan pembelajaran dari guru.

Apa yang sedang terjadi?  Rupanya beberapa hari terakhir ini banyak wilayah yang guru wiyata bhaktinya (GTT) mogok mengajar. Di tempat tinggal penulis, menurut informasi orang terdekat juga sedang mogok. Di dua kecamatan wilayah kepengawasan penulis juga sama kondisinya, GTT juga mogok.

Ada informasi di salah satu group, seorang Kepala Sekolah harus mengajar di tiga kelas karena gurunya tidak hadir. Adapula seorang guru binaan penulis yang juga menyampaikan informasi bahwa saat ini sedang mengajar kelas dobel-dobel karena gurunya yang masih GTT juga tidak masuk. Bahkan di salah satu kecamatan binaan penulis semua GTT beraudiensi dengan pengurus PGRI dan Koordinator Wilayah (Korwil) Dinas Pendidikan Kecamatan setempat.

Termasuk hari ini, ketika penulis melakukan perjalanan takziyah salah satu guru binaan penulis, melintasi dua kabupaten, di sepanjang jalan juga banyak penulis saksikan banyak siswa di beberapa sekolah berada di luar kelas. Tidak sedikit pula penulis temui beberapa orang guru, berseragam PGRI, berboncengan sepeda motor di jalan raya. Ada pula yang rombongan menggunakan bis mini. Sepertinya mereka menuju suatu tempat.

Bahkan yang jelas sekali adalah ketika penulis hampir melewati kantor Bupati salah satu kabupaten, kendaraan yang penulis tumpangi berpapasan dengan banyak kendaraan beriringan yang dikawal mobil polisi. Sebagian membawa bendera merah putih yang diikat di kendaraan dan mereka mayoritas berseragam PGRI. Ternyata iringan kendaraan itu masuk komplek kantor bupati. Dari kejauhan di sekitar kantor itu juga sudah banyak rekan mereka yang sudah menunggu. Sepertinya mereka hendak beraudiensi dengan bupati.

Rupanya sekarang inilah meletusnya bom waktu masa penantian para guru wiyata bhakti atau guru yang belum PNS, sering pula disebut GTT (Guru Tidak Tetap). Orang Jawa menyebutnya seperti “udun bledos.” Udun adalah benjolan penyakit berdarah karena adanya darah kotor. Biasanya disebut bisul. Setelah sekian lama penyakit benjolan berdarah itu tertahan dengan rasa sakit yang tiada terkira, karena sudah masak darahnya dan si sakit sudah tiada tahan lagi, akhirnya bisul itu meletus.

Setelah penyakit itu meletus akhirnya darah keluar semua. Namun, bisul itu akan kambuh lagi selama “akar penyakit” belum diambil. Orang Jawa sering menyebut “Moto Udun.” Biasanya akar bisul itu berupa gumpalan kecil darah yang kenyal. Jika akar itu sudah di cabut, maka penyakit tidak akan kambuh lagi. Maka biasanya orang yang kena bisul akan berupaya mencabut akar penyakit itu walaupun sakitnya bukan main.

Sudah banyak perbaikan kebijakan untuk guru atas dasar perjuangan PGRI itu. Namun sekian lama perbaikan itu, masih jauh dari harapan utama tuntunan GTT. Tuntutan GTT, utamanya K2 dan yang sudah mengabdi belasan tahun bahkan diatas 20 tahun, yang paling utama adalah status kepegawaian mereka. Mereka menghendaki segera diangkat sebagai PNS.

Kejadian di dunia pendidikan saat ini sepertinya seperti udun mbledos. Selama ini para GTT masih setia menunggu kebijakan pemerintah yang berpihak pada mereka. Bertahun-tahun, belasan tahun mereka sabar dengan nasib mereka. Sangat jarang sekali terdengar para guru atau GTT melakukan tuntutan secara frontal melalui mogok atau demonstrasi. Kalaupun ada biasanya intensitasnya kecil saja. Segala tuntutan biasanya dilakukan oleh PGRI sebagai organisasi profesi guru. Sudah banyak perbaikan kebijakan untuk guru atas dasar perjuangan PGRI itu. Namun sekian lama perbaikan itu, masih jauh dari harapan utama tuntunan GTT. Tuntutan GTT, utamanya K2 dan yang sudah mengabdi belasan tahun bahkan diatas 20 tahun, yang paling utama adalah status kepegawaian mereka. Mereka menghendaki segera diangkat sebagai PNS.

Setelah sekian lama tidak ada pengangkatan PNS bagi guru, padahal mayoritas sekolah saat ini gurunya adalah GTT, ketika keluar keputusan Menpan RB akhir Agustus lalu, karena tidak sesuai harapan, meluaplah kegelisahan mereka. Yang sudah K2 sepertinya nasibnya juga belum jelas. Semua calon PNS harus masih melewati seleksi. Apalagi dibatasi bagi yang usia diatas 35 tahun tidak bisa mendaftar. Kuotapun juga masih sangat terbatas.

Itulah yang menyebabkan kegundahan GTT meletus akhir-akhir ini di sebagian besar wilayah negeri ini. Akhirnya mereka saat ini secara terorganisir melakukan aksi tuntutan sendiri. Bahkan mereka sampai men “tega” kan diri meninggalkan anak didik mereka dengan mogok mengajar. Sebenarnya mereka tidak sampai hati untuk meninggalkan anak didik mereka, namun karena pemerintah masih belum sepenuh hati memperhatikan nasib mereka, mereka dengan terpaksa melakukannya. Penulis yakin, jika akar masalahnya telah diatasi pemerintah, mereka akan kembali ke sekolah.

Semoga “Udon Mbledos” nya GTT yang sudah menasional ini dilihat oleh pihak terkait, pemberi kebijakan, sehingga tuntunan utama mereka segera mendapatkan perhatian. Ibarat bisul, pemerintah mampu mencabut “moto udun” sehingga selesailah masalah. Aamiiin

26 SEPTEMBER 2018

Literasi, Taufiq Ismail dan Musik Sebagai Produk Kebudayaan

0

Literasi masyarakat menunjukkan semangat berbudaya. Jika Taufiq Ismail menemukan masyarakat Indonesia nol buku, seperti apa budaya kita. Bahkan apakah juga budaya kita bisa dilihat dari pangggung musik yang mampu merangkai sebuah keunggulan ? Budaya akan berada dalam dinamika literasi, buku dan musik.

Pada setiap seksi workshop literasi yang dihadiri anak-anak muda dan remaja, saya selalu tanya: Sudah baca buku? Sudah baca novel? Sudah berapa novel yang dibaca? Apa judulnya?

Bukan hanya di acara literasi seperti workshop menulis. Bahkan di acara-acara LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) dan Jambore Pemuda yang beberapa tahun ini saya selalu dimintai jadi pemantik diskusi, juga acara Forum Anak di mana pesertanya ada anak-anak SD/MI, SLTP, dan SLTA, saya juga bertanya hal yang sama pada mereka.

Saya ingin menguji lagi apa yang pernah dilakukan Taufiq Ismail untuk mengetahui budaya baca anak SMA, terutama budaya membaca novel. Pada tahun 1996, majalah sastra “Horison” (yang sudah gulung tikar) menerbitkan penelitian tentang budaya baca. Melalui sebuah esai yang ditulis Taufiq Ismail, dipaparkan perbandingan budaya baca antara remaja di Barat dengan remaja di Indonesia.

Penelitian Taufiq Ismail berangkat dari pertanyaan berapa novel yang dibaca siswa SMU di Negara-negara luar dan bagaimana dengan Indonesia? Hasilnya adalah, ternyata pada setiap SMU di negara luar, pelajaran sastra mewajibkan siswa membaca sejumlah buku sastra, untuk selanjutnya dibicarakan dan didiskusikan di kelas dengan bimbingan guru secara intensif.

Dibandingkan dengan tradisi membaca negara-negara Barat itu, remaja Indonesia membaca “NOL BUKU.” Inilah yang disebut oleh Taufiq Ismail sebagai “kerabunan membaca dan kelumpuhan menulis”

SMU Amerika Serikat 32 judul. Kanada 13 judul. Jerman 22 judul; Swiss 15 judul; Rusia 12 judul; Perancis 20-30 judul; Belanda 20 judul. Bagaimana budaya baca novel di Indonesia? Dibandingkan dengan tradisi membaca negara-negara Barat itu, remaja Indonesia membaca “NOL BUKU.” Inilah yang disebut oleh Taufiq Ismail sebagai “kerabunan membaca dan kelumpuhan menulis.”

Dan hasil dari pertanyaan-pertanyaan saya pada para remaja itu juga sama. Ada beberapa remaja yang sudah membaca novel, ada yang satu, ada yang dua, dan ada yang beberapa. Saya mendapatkan fakta bahwa yang sudah baca beberapa novel ini ternyata berasal dari sekolah yang berpusat di kota. Di mana sekolahnya memang membangun tradisi membaca dan sekolah ini juga dekat dengan perpustakaan daerah dan satu persewaan buku yang terletak di timur Perpus daerah Trenggalek itu. Secara umum, budaya baca kita memprihatinkan.

Membandingkan negara-negara maju (Barat) dengan Indonesia harus kita lakukan pada majunya kebudayaan yang lain. Makanya, saya sering membicarakan musik dan lagu juga. Budaya baca dan budaya menonton atau mendengarkan adalah bagian dari budaya masyarakat. Saya sering menunjukkan bagaimana lagu-lagu yang tercipta dan tersebar di Indonesia, terutama masyarakat kita yang terletak di pedesaan seperti Trenggalek.

Majunya masyarakat memang berhubungan dengan produk-produk seni-budayanya. Budaya maju melahirkan tradisi mencipta yang lebih baik, sebaliknya karya cipta juga ikut membantu memajukan cara berpikir dan merasa pada masyarakatnya. Masyarakat yang decekoki dengan produksi ideologis yang memundurkan cara berpikirnya akan beda dengan masyarakat yang menyerap karya-karya yang berkualitas.

Saya sudah sering menunjukkan bagaimana acara TV yang “nyampah” dan lirik lagu yang “berkualitas rendah” mencerminkan cara berpikir dan budaya masyarakat yang rendah—masyarakat yang jauh tertinggal dari masyarakat lainnya yang maju. Produksi budaya yang membuat orang berkarakter tidak produktif, yang bahkan melenakan diri mereka sehingga kondisinya tetap mandeg atau mundur. Yang bahkan kalau dilihat dari kacamata moralis juga jauh amat tertinggal. Musik berlirik seksis dan bertema ‘cinta-cinta melulu”—begitu band Indie ERK menyebutnya. Ya, itulah salah satu ciri musik kita.

Selanjutnya adalah cara menikmati suatu karya dan produksi budaya. Tawuran, perkelahian antar kelompok perguruan ketika ada konser musik, dan efek menonton suatu produksi atau tampilan budaya, juga semakin menunjukkan budaya masyarakat yang tak beradab (terbelakang). Setiap peristiwa budaya, termasuk suatu konser musik, pasti membawa dampak emosi dan eksistensi bagi penikmatnya. Tapi emosi yang bagaimana yang didapat, yang memajukan eksistensi yang mendukung tradisi pembudayaan masyarakat—atau malah tradisi yang memundurkan kemanusiaannya.

Berikutnya adalah soal daya tarik masyarakat terhadap seni itu sendiri. Minat pada seni, misalnya. Kita jelas jauh tertinggal. Karena menikmati seni-budaya itu butuh waktu luang. Dan waktu luang itu juga muncul ketika orang masih sibuk dengan hal-hal yang lainnya. Mungkin waktu luang masyarakat kita, terutama kalangan yang sudah berusia tua, seperti ibu-ibu rumahtangga, hanya akan banyak dimanfaatkan untuk menikmati seni berupa tayangan di “prime-time” yang acaranya seperti audisi dangdut, sinetron, atau waktu siangnya gosip selebritis. Sebuah menikmati budaya secara pasif.

Bagaimana dengan langsung menonton konser musik. Tentu jarang sekali. Adanya juga hanya musik elekton, kebanyakan di acara kondangan ketika “tetabuhan” yang hanya memerlukan kemampuan bermusik minimal itu “ditanggap” oleh yang punya hajat. Orang yang terbiasa main musik dengan lagu-lagu yang rumit dan berlirik puitis tentu bisa memahami sejauh mana kerumitan elekton. Yang lagu-lagunya, sekali lagi (maaf), berisi “cinta-cinta melulu”, ratapan, pujaan terhadap kekasih, dan sebagian besar adalah reproduksi lagu-lagu lama—bahkan lagu pop dan rock juga dijadikan musik koplo.

Lalu bandingkan konser musik di masyarakat kita dengan di Barat. Pertama kita akan tahu bahwa di Barat pentas musik dihadiri oleh penonton yang jumlahnya tak akan tertandingi jika kita membandingkannya di Indonesia. Dalam sejarah, kehidupan budaya dalam bentuk musik konser jauh sekali melampaui yang ada di Indonesia.

Ditonton oleh 3,5 juta, tentu ini adalah konser musik yang tak pernah terjadi di Indonesia. Tapi itulah konser Rod Stewart pada malam tahun baru, 31 Desember 1993. Konser Monsters of Rock di Moscow 1991 jumlah penontonnya 1,6 Juta. Ini adalah konser tahunan di mana musisi dan grup rock tampil, di antaranya Guns n Roses, Bon Jovy, Metallica, AC/DC, dan lain-lain. Sudah lama musik menjadi wujud budaya yang menunjukkan bagaimana masyarakat barat memang bergerak dengan denyut budayanya yang jauh meninggalkan kita.

Di kita, pentas musik yang jamak kini adalah lagu koplo dengan penyanyi seksi dan penontonnya tak seberapa banyak. Agak banyak saja aparat kepolisian sudah “ketar-ketir” dan selalu saja ketakutan akan tawuran terjadi, hingga beberapa kali aparat kepolisian mencegah (menggagalkan) akan diadakannya pentas musik. Hanya karena tidak percaya bahwa penonton akan tertib, acara konser gagal.

Psikologi penonton konser musik di Barat dan di Indonesia amat jauh berbeda. Ini adalah suatu fakta yang penting yang membedakan antara kedua peradaban ini, peradaban maju dan peradaban yang masih “nyungsep”. Konser musik di kita adalah monoton, di mana yang nonton adalah anak-anak muda yang berdiri di depan panggung dan bergerak-gerak, yang ditakutkan akan tawuran. Dan nyatanya tawuran selalu terjadi.

Di barat sebenarnya juga ada gerak penonton di depan panggung. Gerak-geraknya, bahkan menggerakkan rambut gondrong pada konser musik metal (headbang), atau gerak dan tarian lain (pogo, moshing, dll). Atau kostum penonton yang aneh-aneh dan jauh dari kesan “menjaga aurat”—penonton laki-laki perempuan yang campur. Tapi jarang sekali tawuran terjadi. Memang pernah terjadi tawuran di beberapa konser musik, sejak pertengahan abah ke 20 hingga abad 21 sekarang. Tapi jumlahnya bisa dihitung.

Lagian, konsernya terlalu banyak, tidak monoton. Dan kalau kita ingin melihat bagaimana penonton bisa begitu mengkhidmati sebuah konser musik, di mana penonton bukanlah selalu anak-anak muda, tetapi juga banyak orang tua, sepasang suami istri yang sudah berusia. Maka nontonlah konser Adele, di Youtube. Di situ kita bisa melihat bagaimana sebuah lagu puitis berkualitas tinggi dinikmati oleh penonton konser dengan begitu berwibawanya. Khidmat dan menjiwai sekali mereka menikmati konser musik. Sebuah konser seperti itu di Barat banyak sekali.

Di kita ada juga sich. Tapi tak banyak. Lihatlah di Youtube konser musiknya “Payung Teduh”, di mana lagu-lagu puitiknya, yang jauh dari kesan lirik norak disajikan dalam alunan musik berkualitas tinggi, dan di mana penontonnya menikmati sajian dengan suasana yang membuat kita yang menonton (lewat Youtube) bisa melihat bagaimana keberadaban sebuah kebudayaan tinggi. Sayang, peristiwa budaya seperti ini tak banyak di kita.***

Mahasiswa Baru FK Unismuh Bersemangat Pelajari Literasi Digital

0

Makassar, kampusdesa.or.id– ”Wahai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (FK Unismuh) Makassar. Jadilah pembelajar tangguh dengan visi kebangsaan yang kuat dan penguasaan literasi digital yang hebat memasuki revolusi industri 4.0 untuk kemandirian dan kedaulatan bangsa Indonesia yang kita cintai.” Untaian nasihat ini disampaikan oleh Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., PhD. melalui jejaring media sosial, kepada Dito Anurogo untuk disampaikan kepada mahasiswa baru FK Unismuh Makassar pada kegiatan literasi digital calon dokter pada 21 September 2018

Senada dengan Rektor UGM, Prof. Dr. Suyanto Pawiroharsono, DEA., profesor riset di lingkungan BPPT, berpesan kepada mahasiswa baru FK Unismuh Makassar bahwa sebagai kader pengemban program pembangunan perekonomian, khususnya dalam Making Indonesia 4.0 dengan aspirasi Indonesia menjadi Top 10 Ekonomi Dunia tahun 2030, mahasiswa baru dituntut menjadi agen perubahan yang selalu kreatif dan mampu secara konsisten melaksanakan tugas riset untuk menghasilkan penemuan atau invensi dan produk inovatif berbasis sumber daya lokal yang berdaya saing tinggi.

Dokter Literasi Digital

Salah seorang pemateri yang juga merangkap panitia divisi orientasi, dr. Dito Anurogo, M.Sc., menyampaikan presentasi tentang Dokter Literasi Digital, Jumat, 21/09/2018. Presentasi tersebut meliputi speed reading, dokter cahaya, optogenetik, kiat meresensi buku, dan jurus pamungkas taklukkan media. Semua softcopy materi telah diberikan dalam satu folder sehari sebelumnya untuk dibaca dan dipahami oleh mahasiswa baru.

Dalam presentasi dan diskusi sekitar seratus menit bertajuk ”Dokter Literasi Digital”, penulis lebih dari 20 buku ini mengemukakan istilah dokter 4.0 sebagai dokter yang berkarakteristik futuristik, berpikir komprehensif, dapat diterima oleh siapapun, memiliki jiwa kepemimpinan yang diterima baik oleh multi/lintassektoral. Dokter literasi digital juga perlu melakukan upaya sinergis dan kolaboratif dengan semua pihak, terutama di dalam upaya menghadapi era digital yang dipenuhi perang bintang, dimana tsunami informasi berpotensi menjadi perang berita, perang opini, perang wacana, yang berujung pada perang pemikiran. Semua tipe ”perang” ini berpotensi memecah belah bangsa, sehingga perlu dilakukan langkah preventif dan antisipatif.

“Medan perang digital inilah awal mulanya muncul berita hoaks, kabar yang masih dipertanyakan kebenarannya,” ujar Dito dihadapan sekitar 60an mahasiswa baru. Untuk mengantisipasi berita hoaks, pria berkacamata minus ini mengemukakan berbagai strategi efektif menilai berita. Literasi digital perlu berpedoman kepada kebenaran, sehingga menyehatkan netizen. Inilah konsep awal dari internet sehat dan literasi sehat.

Prinsip Internet Sehat

Berbicara internet sehat, dokter yang penyuka filateli, sastra, numismatik, dan jelajah alam ini mengemukakan lima prinsip dasar. “Pertama, bertanya pada ahlinya. Kedua, membaca secara kritis. Ketiga, waspada. Keempat, perbanyak sahabat. Kelima, perkaya informasi.” Hal lain sebagai pondasi dasar atau fundamental literasi digital adalah paremioliterasi. Paremioliterasi merupakan literasi yang bersumber dari peribahasa daerah sebagai sumber kearifan lokal.

Hal lain yang menarik dibahas adalah konsep ”Dokter Cahaya” yang berbasis prinsip ABC, yakni Agama-Akal, Budaya-Bisnis, dan Cinta. Adapun tentang membaca cepat atau speed reading, dokter penulis The Art of Medicine ini mengajarkan sekilas kiat membaca cepat berpedomankan Speed Reading for Beginners karya Muhammad Noer dan The Complete Idiot’s Guide to Speed Reading karya Abby Marks Beale dan Pam Mullan.

Dokter literasi digital juga perlu melek teknologi terkini. Oleh karena itulah, konsep optogenetik juga diperkenalkan. Dengan teknik optogenetik, peneliti dapat memodulasi aktivitas sistem persarafan tertarget menggunakan cahaya gelombang tertentu.

Seputar LS-IT

Kegiatan bertajuk Ta’aruf, Learning Skill, and Information Technology (LS-IT) 2018 ini diselenggarakan di FK Unismuh Makassar dari tanggal 14-22 September 2018. Panitia terdiri dari 30 orang. Dokter Muh. Ihsan Kitta, M.Kes., SpOT., sebagai ketua, dr. M. Akbar Yunus (sekretaris), Rosdiana, St, MM (wakil sekretaris), Nurlina, S.E., M.M. (bendahara), Eka Muftihaturrahma, S.E. (wakil bendahara), delapan orang sebagai divisi orientasi, enam orang sebagai divisi learning skill/IT, tiga orang sebagai divisi administrasi dan persuratan, empat orang sebagai divisi konsumsi, empat orang sebagai divisi dan perlengkapan.

Kegiatan LS-IT berlangsung dengan lancar. Para pemateri dan moderator datang tepat waktu. Para mahasiswa baru sangat kooperatif dan menikmati rangkaian kegiatan dengan bersemangat dan antusias.

“Alhamdulillah, kegiatan LS-IT berjalan dengan baik. Semoga acara ini dapat memberikan gambaran tentang bagaimana proses pembelajaran di FK Unismuh Makassar,” tutur dr. Ami Febriza Achmad, M.Kes. selaku kaprodi FK Unismuh.

Komentar Konstruktif

Beragam komentar dan saran datang dari mahasiswa baru. ‘’Secara keseluruhan semuanya sudah sangat bagus, dok. Sangat inspiratif. Kalau boleh saran dok, penjelasannya bisa lebih rinci lagi dan sedikit lebih pelan agar lebih mudah dipahami,’’ tulis Sagena Nurul Carisma di lembar evaluasi.

Mahasiswa F Kedokteran tekun mengikuti bimbingan dokter Dito Anurogo (Batik) dalam kegiatan literasi digital di Unismuh Makassar

Sedikit berbeda, Annisa Jusuf berpesan, ‘’Ke depannya saya sangat mengharapkan dokter bisa menjelaskan tentang tips belajar nyaman di Fakultas Kedokteran dengan waktu yang singkat dan tidak mengantuk pada saat belajar.’’

Saran konstruktif datang dari Nur Fitriani. Ia menuliskan, ‘’Jika bisa dok memberikan materi tentang globalisasi dunia. Peran dokter menghadapi globalisasi.’’ Khairil Arif Rahman rupanya tertarik membuat buku. Ia berpesan, ‘’… Jika membawakan materi lagi, ada bagusnya untuk menceritakan lagi lebih spesifik tentang buku yang Anda buat, dok, dan juga bisa mengajari kami sebagai maba FK untuk membuat buku.’’

Dukungan inspiratif datang dari Wardatul Jannah Yunus. Ia menuliskan, ‘’Ditunggu buku-buku, penelitian yang luar biasa Dokter. Semoga semakin sukses dan tetap menjadi inspiratif Dokter.’’ Hal ini senada dengan Ainy Salshabilla Gella. Ia menuliskan saran konstruktif, ‘’Tetap berkarya di masa yang akan datang yaa dok..’’. Ainy termasuk mahasiswa baru yang paling rajin di antara semua temannya, karena hanya ia yang mengerjakan tugas membaca cepat secara mandiri. Skor yang diperolehnya 315.

Dalam lembar evaluasi, beberapa mahasiswa menyarankan agar presentasi disampaikan secara perlahan, jangan terlalu cepat. Dari survei tingkat kepuasan, dari rentang skor 20-100, mahasiswa baru memberi skor berkisar 86 hingga 100 untuk pemateri.

Apresiasi positif datang dari Prof. Dr. H. Achmad Syahrani, Apt., MS, dari Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga (FF UNAIR). Dalam komunikasi melalui jejaring media sosial, pemateri menyampaikan salam sinergis-kolaboratif dari mahasiswa baru FK Unismuh Makassar. Beliau menjawab, ‘’Semoga mereka terinspirasi Dr. Dito, sehingga bisa sukses seperti Dr Dito.’’

Mahasiswa baru begitu antusias terhadap semua materi yang disampaikan secara interaktif dan inovatif, terutama saat menyanyi Anging Mamiri di awal materi dan Kokoro no Tomo di akhir presentasi. Beberapa mahasiswi ada yang melambai-lambaikan tangan. Sebagian mahasiswa ada yang bertepuk tangan sambil bernyanyi. Suasana begitu hidup dan meriah, hingga saat terakhir saat foto bersama, semua mahasiswa baru bersemangat berpose di depan kamera.

Antusiasme mahasiswa di dalam mengerjakan tugas yang diberikan pemateri juga patut diapresiasi. M Abiyudo Nugroho, sampai berkirim pesan melalui salah satu media sosial. Ia menuliskan,

‘’…TABE’ DOK. PERTAMA-TAMA SAYA MEWAKILI KELOMPOK SAYA MEMINTA MAAF ATAS KETERLAMBATAN KAMI MENGIRIM TUGAS KAMI DOK. TABE’ DOK SAYA MAU KONFIRMASI BAHWA TUGASNYA SUDAH SAYA KIRIM SAAT JAM 00.21 DOK. TABE’ DOK TERIMAKASIH SEBELUMNYA DOK. MAAF SUDAH MENGGANGGU DOK.’’

Benar-benar mahasiswa era digital yang bersemangat mencari ilmu pengetahuan dan memperjuangkan kebenaran. Semoga idealisme ini selamanya ada, bukan sementara saja.  (dr. Dito Anurogo, MSc, dosen FK Unimuh Makassar)

Akademisi Militan, Menguji Konsistensi Kebenaran

0

Akademisi Militan, Menguji Konsistensi Kebenaran
Apakah yang anda ketahui tentang akademisi militan? Apakah ada akademisi yang tak punya militansi. Dan apakah anda bisa membedakan bagaimana akademisi militan dengan akademisi pesanan. Yang pasti akademisi militan itu bukan tentang wajah yang etis, bukan pula wajah yang sopan, apalagi wajah plonga-plongo. Akademisi yang militan itu independen, berintegritas dan etis ketika menganalisa dan mengkritik. Itu artinya, ia dapat dipercaya. Akademisi militan adalah kemampuan berada dalam teruji secara konsisten terhadap kebenaran yang dimiliki.

Misalnya saja, kini Capres dan Cawapres-nya sudah ada. Sebagai akademisi maka ujilah mereka. Bila perlu, kritiklah mereka dengan sepuas-puasnya, kritiklah setajam-tajamnya. Tapi ingat harus dengan argumen bukan karena sentimen. Karena benci itu artinya bukan tidak memahami, tapi tak mau mengerti. Dan ingat, masa depan tidak bisa datang hanya dengan mencari-cari kesalahan orang di masa lalu. Karena ia bisa tiba, apabila sudah ditemukan kemungkinan-kemungkinan jalan yang bisa di buka untuk di tempuh. Begitulah semestinya watak akademisi yang berpihak pada akal sehat. Yakni, jeli melihat argumen yang keliru supaya diganti dengan argumen yang bermutu.

Jadi kritik dia, maki dia, debat isi kepalanya, meski ia dari kalangan santri. Telanjangi argumentnya, nyiyiri terus Caper-nya, (sekali lagi) Caper bukan Capres. Ajuhkan dalil dan prasangka meski dari kalangan anak muda melenial. Karena akademisi yang cuma bisa memuji-muji dan mau menjadi buzzer saja, kalau tidak bisa di sebut; akal sesat karena fanatik, maka bisa juga di sebut penghiyanat akal sehat.

Negeri ini didirikan dengan akal sehat, bukan dengan plonga-plongo. Tapi politik hari ini justru membuat masyarakat menjadi dongok dan lekas marah-marah tanpa arah. IQ nasional jongkok. Dan tambah diperparah dengan Akademisi pesanan dari penguasa. Bisa diskon 50% pula. Seharusnya akademisi tidak begitu. Seharusnya mereka hanya loyal pada kemanusiaan. Karena itu mereka melakukan analisa dan kritik. Dan bukannya malah seperti kakak kandung melindungi adiknya dengan membawa senjata power-point tentang elektabilitas murahan, penjelasannya panjang. Artinya untuk menipu rakyat. Bersorak-sorak “kerja, kerja, kerja” membantu rakyat, Sambil ceramah hoax dan kesalahan-kesalahan masalalu. Itu sama saja seperti memperlihatkan bahwa adik kandung yang sedang dibela itu tidak bisa jawab sendiri, karena akalnya tak ada isi. Pendek kata, Seakan-akan akademisi itu adalah kakak dari pemerintahan yang plonga-plongo, dan tidak punya integritas. Seakan-akan akademisi itu anjing pelacak, pihak oposisi, yang gonggongkan sentiment bukan argument.

Akademisi yang militan, tidak akan lebih memilih minum cemara beracun daripada menjual integritasnya pada kekuasaan. Adalah Socrates, sebagai seorang akademisi, ia dikenal karena pikiran-pikiran cerdas dan kejenakaannya. Sebagian besar yang bisa kita ketahui tentang Socrates berasal dari Dialog karya Plato, muridnya, dimana percakapan di antara guru dan murid ini mengenai subyek Filsafat telah di catat.

Socrates berkeyakinan bahwa manusia itu ada untuk suatu tujuan, dan bahwa benar dan salah itu memainkan peran penting dalam menentukan relasi seseorang dengan lingkungan hidupnya dan dengan orang lain. Bahkan Socrates juga berkeyakinan bahwa kebaikan itu berasal dari pemahaman diri, bahwa orang pada dasarnya jujur, dan bahwa kejahatan adalah usaha yang menyimpang untuk memperkaya kondisi pribadi. Kita berkali-kali dengar Semboyan socrates, “kenalilah dirimu sendiri.”

Socrates berkeyakinan bahwa Pemerintahan Ideal itu melibatkan orang bijaksana (akademisi), disiapakan secara semestinya, dan memimpin demi kebaikan masyarakat.

Socrates berkeyakinan bahwa Pemerintahan Ideal itu melibatkan orang bijaksana (akademisi), disiapakan secara semestinya, dan memimpin demi kebaikan masyarakat. Ia juga percaya pada ide kekuatan tunggal yang terfokus dan kekuatan transenden tersembunyi di balik dunia alam, sebuah pendapat yang bertentangan dengan keyakinan konvensional terhadap dewa-dewa pantheon. Hal itulah akhirnya mengarah pada penahanannya dengan tuduhan merusak kaum muda Athena.

Pengadilan terhadap Socrates dikisahkan oleh Plato dalam karya Apology dan phadeo, yang telah menjelaskan percakapan socrates bersama para siswanya saat ia sedang berada di dalam penjara. Setelah pengakuannya, ia diperbolehkan untuk melakukan bunuh diri dengan meminum hemlock (cemara beracun).

Maka Seharusnya para Akademisi militant itu seperti itu. Meski karya Socrates sebenarnya langka, namun karena militansinya, karyanya dan hidupnya tetap bertahan sepanjang masa tertuang dalam tulisan-tulisan Plato dan Xenophon, kurang-lebih sejak 430-357 SM.

Rifki Rahman Taufik. Pendiri Progresif institut

Kampoeng Dolanan Ajak Disabilitas Bermain Permainan Tradisional, Salah Satunya Sepak Bola Api

0

Lawang, kampusdesa.or.idAkhirnya, impian tersebut tercapai, mengajak disabilitas untuk bermain permainan tradisional. Kejadian ini dilakukan kemarin mulai 21-23 September 2018 di Pondok Darussalam, Kecamatan Lawang, Malang. Di tempat ini kampoeng dolanan sukses mengajak para disabilitas bermain permainan tradisional. Salah satu yang menarik adalah bermain Sepak Bola Ap

Diikuti oleh 130 orang dengan peserta tunarungu, tunawicara, tunadaksa dan tunagrahita yang isinya slow learner dan down syndrowm. Sangat menyenangkan bermain bersama mereka, tak ada lelah dan selalu penuh semangat dalam bermain.

Ada sepak bola api, dakon, bekel, SOS, hulahop, tarik tambang, balap karung, lompat tali, engkle pesawat, engkle gunung dan permainan yang lainnya telah dicoba oleh mereka. Untuk teman-teman tunarungu/tunawicara diberikan penjelasan permainan dengan menggunakan bahasa isyarat yang melibatkan translator dari guru SLB. Sedangkan tunagrahita dijelaskannya perlahan-lahan agar mereka dapat menyerap informasi dari trainer dengan baik dan benar.

Para fasilitator dari Kampoeng Dolanan sedang menyiapkan aneka permainan tradisional yang akan dimainkan oleh para disabilitas di Aula Pondok Pesantren Darussalam Lawang Malang, 21-23 September 2018

Rangkaian kegiatannya sungguh menarik. Di hari pertama para pembina pramuka dari masing-masing sekolah mendapatkan kesempatan untuk jelajah malam dan membuat tenda. Di hari kedua, semua peserta didik dan pembina pramuka luar biasa berolahraga, mendirikan tenda, latihan baris-berbaris, bermain permainan tradisional dan pentas seni. Sedangkan di hari yang ketiga, kegiatannya berupa karnaval dengan atribut karnaval yang bagus dan meriah yang sudah disiapkan oleh masing-masing SLB Kota Surabaya.

Akhirnya, para disabilitas merasakan permainan tradisional. Ada satu hal yang menarik dari perjalanan kemarin bahwa setiap anak jika diberi kesempatan bermain permainan tradisional dia merasakan feel kebahagiaannya dan mampu berinteraksi dengan teman-temannya.

Kenalkan – mainkan – lestarikan dan semua disabilitas masuk dalam skema tersebut. Syukur alhamdulillah, kampoeng dolanan diberi kesempatan untuk mengenalkan permainantradisional kepada tunarungu-tunawicara dan tuna grahita. Pada tahun 2017 juga telah bermain dengan tunanetra dan tunadaksa.

Terima kasih STO, 10 SLB Se-Kota Surabaya, AID dan relawan kampoeng dolanan atas interaksi yang interaktif ketika bermain permainan tradisional. Kegiatan ini melahirkan kebahagiaan bersama. Para disabilitas terfasilitasi bermain permainan tradisional, diantaranya bermain Sepak Bola Api.

Menjadi Pendidik Kekinian di Era Digital

0

Bergulirnya revolusi industri 4.0 tidak hanya berdampak pada dunia industri dan ekonomi, namun juga pada dunia pendidikan. Output pendidikan mendapatkan tuntutan lebih dari user. Akibatnya, pendidik di era ini dituntut pula untuk menyesuaikan diri dengan digitalisasi yang telah menjadi konteks kehidupan peserta didik. Lalu, bagaimana menjadi pendidik yang kekinian agar tak ketinggalan zaman? 

Sebagai sarana menyemai benih generasi masa depan, pendidikan senantiasa dihadapkan pada tantangan yang selalu berubah sesuai dengan zaman. Karenanya, sistem dan desain pendidikan haruslah lentur, adaptif, dan akomodatif terhadap dinamika perubahan kehidupan.

Di era 4.0 yang serba digital ini, pendidikan dihadapkan dengan tantangan baru yang sama sekali berbeda dengan era sebelumnya. Ciri utama era ini adalah kecepatan dan keterbukaan akses informasi. Peserta didik bisa dengan mudah mengakses informasi apapun di mana pun dan kapan pun. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan serius bagi para pendidik.

Keterbukaan dan kecepatan akses informasi ibarat pisau. Jika tidak dimanfaatkan dengan bijak justru akan merugikan diri sendiri. Dua hal yang menjadi ciri utama globalisasi ini dengan mudah dapat menjebak peserta didik ke dalam perilaku negatif. Berita hoaxs, pornografi, hate speech, game online, dan sederet efek samping globalisasi lainnya telah mengintai mereka.

Orang kreatif adalah mereka yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Meski demikian, tidak lantas pendidik harus bersikap apatis terhadap digitalisasi. Justru, digitalisasi haruslah menjadi peluang untuk memberikan pelayanan pendidikan yang kekinian kepada peserta didik. Sebagaimana ungkapan bijak yang sering kita dengar, orang kreatif adalah mereka yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Lantas, bagaimana menjadi pendidik yang kekinian?

Pertama, tentu saja harus bersedia mentransformasi diri. Meminjam istilah Rheinald Kasali, para pendidik harus legowo untuk mendisrupsi diri. Pendidik harus menyesuaikan diri dengan konteks kehidupan peserta didiknya. Contoh sederhana adalah dengan tidak gagap teknologi (gaptek). Bukankah akan lucu jika kita kalah cerdas dengan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi informasi? Lalu kita menyalahkan keadaan atas hal ini.

Di era 4.0, peserta didik dapat dengan mudah mengakses informasi yang jauh lebih lengkap dibandingkan yang dimiliki pendidik. Oleh karena itu, paradigma mendidik yang semula sarat dengan know-what harus digeser menjadi know-how dan know-why.

Kedua, mengubah paradigma dalam mendidik. Pendidik hari ini bukan lagi the only one sumber belajar di kelas. Ia hanya fasilitator dan motivator. Di era 4.0, peserta didik dapat dengan mudah mengakses informasi yang jauh lebih lengkap dibandingkan yang dimiliki pendidik. Oleh karena itu, paradigma mendidik yang semula sarat dengan know-what harus digeser menjadi know-how dan know-why.

Ketiga, menggeser orientasi mendidik. Mindset yang sampai sekrang masih kokoh terbangun di masyarakat adalah bahwa nilai akademik merupakan segalanya dalam pendidikan. Anak disebut pandai dan cerdas bila mendapatkan ranking satu. Sementara anak yang jauh dari ranking satu dianggap “kurang cerdas dan pandai.” Padahal jika mau jujur, capaian akademik tidak menjamin kesuksesan masa depan anak. Stok pengetahuan yang berlimpah akan percuma jika tidak diimbangi dengan hard skills dan soft skills. Oleh karena itu, pendidikan di era 4.0 harus menitikberatkan pada pengasahan skill yang akan menopang karir peserta didik di masa mendatang.

Keempat, profesional dan berintegritas. Dua hal ini menjadi syarat utama jika pendidik ingin sukses menjalankan tugasnya. Perlu diingat bahwa profesi pendidik tidak sama dengan akuntan, arsitek, pedagang, dan yang lain. Profesi ini membutuhkan keteguhan dan ketulusan hati serta panggilan jiwa. Hal ini tak lepas dari tanggungjawab ganda yang diemban pendidik. Ia tidak hanya bertanggungjawab mengantarkan anak didiknya sukses dalam hal akademik dan kehidupan, namun bertanggungjawab pula mengantarkan anak didiknya menjadi hamba Tuhan yang sebenarnya.

Sebagai ujung tombak pendidikan, para pendidik menjadi tumpuan harapan untuk menyongsong generasi emas masa depan. Tuntutan tentu semakin berat diemban. Namun, tentu saja hal ini bukan semata tugas dan tanggungjawab pendidik. Pemerintah dan masyarakat juga merupakan pihak yang berkepentingan di sini. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi kuat antara ketiga komponen ini untuk mewujudkan sistem pendidikan yang kekinian dan ramah masa depan.