Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 30

Moving Class dan Outing Class: Alternatif Efektif Pembelajaran Aman Saat Belajar Bersama COVID-19

0

Belum kunjung meredanya pandemi COVID-19, membuat kita mau tidak mau harus beradaptasi. Kita harus mulai terbiasa hidup berdampingan dengan COVID-19. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Menyelenggarakan proses pembelajaran yang aman menjadi kebutuhan yang tak terelakkan saat-saat ini. Moving Class dan Outing Class laik untuk diketengahkan sebagai solusi. Sehingga, meski di tengah Corona, pembelajaran tetap tak kehilangan makna.

Kampus.or.id-Berdasarkan kajian ilmiah, tampaknya kita memang harus hidup berdampingan dengan COVID-19. Mahluk Allah yang satu ini memiliki sifat yang tidak dimiliki saudara-saudaranya di keluarga Virus, bahkan di keluarga kecilnya Virus Corona. Sebenarnya mortalitas akibat serangan ini akan kecil bila tubuh memiliki ketahanan tubuh dan imun yang tinggi. Bahkan, angka kesembuhan juga tinggi, banyak kasus tanpa diobatipun bisa sembuh sendiri bila ketahanan tubuh kita tinggi, baik dilihat dari ketahanan fisik maupun ketahanan kekebalan terhadap virus. Namun, daya sebarnya yang sangat cepat menjadikan serangan ini seperti tsunami yang meluluhlantakkan semua yang dilewati. Baru kali ini ada pageblug yang bisa menyerang 4 juta lebih penduduk dunia dan menyebabkan kematian ratusan ribu dalam jangka waktu hanya 4 bulan lebih beberapa, mulai awal Januari sampai Mei 2020.

Di sisi lain, dalam bidang pendidikan, telah kita alami bersama, bagaimanapun pembelajaran jarak jauh (distance learning) tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya pembelajaran tatap muka, khususnya untuk tingkat PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Hal ini diperparah dengan kondisi topografi geografi serta tingkat kemajuan yang beragam sehingga bila kita teruskan hanya belajar dari rumah maka pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif.

Atas dasar itulah maka Pemerintah berencana membuka kembali sekolah konvensional Juli mendatang. Pertanyaannya, sudah siapkah kita?

Kita harus merombak hidup dengan pola kehidupan baru, yang sama sekali berubah dibanding dengan pola kehidupan yang selama ini kita lakukan

Untuk bisa melaksanakan pembelajaran yang aman maka seperti yang diviralkan pemerintah dan ilmuwan, kita harus merombak hidup dengan pola kehidupan baru, yang sama sekali berubah dibanding dengan pola kehidupan yang selama ini kita lakukan, atau lebih dikenal dengan jargon “NEW NORMAL.”

Seperti yang sudah saya paparkan, syarat untuk bisa hidup berdampingan dengan COVID-19, pertama kita harus memiliki kesehatan yang prima. Kedua, kita harus menjaga jarak, dan ketiga kita berperilaku sehat.

Syarat ketiga, yaitu berperilaku sehat saya uraikan dulu karena ini yang paling mudah dilakukan. Menyediakan tempat cuci tangan dan memakai masker bisa dilakukan meski di daerah-daerah sulit air di musim kemarau yang diramalkan lebih kering di tahun 2020 ini menyediakan air cuci tangan di beberapa daerah akan menghadapi kesulitan. Ketentuan yang membolehkan penggunaan dana BOS untuk pengadaan sarana cuci tangan memudahkan sekolah untuk menyediakan sarana kebersihan ini seperti masker dan sarung tangan untuk anak, cairan hand sanitizer, lap bersih dan sabun disinfektan.

Sekolah harus menyiapkan kembali ruang UKS yang memenuhi standar untuk penanganan anak sakit, terutama COVID-19, termasuk juga APD saat melayani anak yang sakit. Gurupun harus dilatih untuk penanganan pertama COVID-19

Sekolah juga harus menyediakan temp-gun, alat untuk mengukur suhu tubuh yang harus dilakukan pada saat penyambutan anak di pagi hari dan kondisi situasional dimana ada anak yang paginya sehat siangnya suhu tubuhnya meningkat. Karena itu, sekolah harus menyiapkan kembali ruang UKS yang memenuhi standar untuk penanganan anak sakit, terutama COVID-19, termasuk juga APD saat melayani anak yang sakit. Gurupun harus dilatih untuk penanganan pertama COVID-19

Masalah menjaga agar anak-anak memiliki kesehatan yang prima ini, selain menyangkut masalah kemampuan ekonomi juga pola kebiasaan makan di keluarga anak. Di Sekolah Garasi, paguyuban wali siswa menyediakan snack sehat dan makan siang anak tidak menjadi masalah karena bisa dikelola secara sehat oleh wali siswa. Namun, untuk sekolah yang membiarkan anak-anak jajan sesukanya, akan kesulitan menyediakan makanan sehat untuk anak. Penyediaan makanan oleh kantin sekolah yang dikelola oleh paguyuban orangtua siswa merupakan jalan keluar yang baik.

Baca Juga:

Merdeka Belajar, Sudah Siapkah Guru Kita?
Belajar Merdeka: Belajar Penuh Makna
Merdeka Belajar: Model BCCT dalam Pengelolaan Sekolah (1)
Merdeka Belajar: Model BCCT dalam Pengelolaan Sekolah (2)

Masalah yang paling berat dalam menyelenggarakan pembelajaran yang aman adalah menjaga jarak fisik antar anak. Dalam pembelajaran konvensional, satu kelas biasanya terdiri dari sekitar 30 an anak dan duduk di kursi dan meja siswa yang tertata rapi dan rapat. Untuk menjaga jarak fisik anak dengan menyediakan ruang kelas baru dalam waktu ini adalah tidak mungkin.

Untuk memenuhi syarat menjaga jarak ini maka pola pembelajaran harus diubah dengan mengatur pola duduk anak. Pertanyaannya, untuk sekolah yang memiliki ruang terbatas bisakah dilakukan?Terutama untuk sekolah-sekolah dengan gedung bertingkat yang membuat space anak sangat terbatas.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Sekolah Garasi dari dulu sudah menerapkan Merdeka Belajar dengan konsep belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja

Insyaallah meski Sekolah Garasi memiliki keterbatasan “ruang kelas” tetapi tidak mengalami kesulitan, karena Sekolah Garasi dari dulu sudah menerapkan Merdeka Belajar dengan konsep belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja. Dengan saat ini memiliki 260 lebih siswa tahun ajaran depan, dengan 24 guru dan rombel yang fleksibel, tidak mengalami kesulitan, dengan melakukan kegiatan belajar secara moving class.

Sebagian anak belajar di ruangan dan sebagian di luar ruangan (outing class). Belajar di luar ruangan (outing class) bisa dilakukan di halaman, di bawah pohon, di obyek-obyek belajar di kampung dan lokasi-lokasi di mana anak bisa belajar secara aman dan nyaman. Dengan demikian, jarak antar anak saat pembelajaran bisa diatur sesuai SOP penanganan belajar bersama COVID, minimal jarak antar anak 1,5 – 2 meter.

Masalahnya, kebanyakan dari kita sudah terbiasa menerapkan pembelajaran dengan fixed class, bukan moving class yang anak bisa belajar di mana saja, sulit mengubah pola kebiasaan dengan merdeka belajar di mana saja. Inilah tantangan kita yang terberat di dunia pendidikan kita. Bila intensitas dan potensi serangan COVID-19 seperti saat ini, maka pembelajaran fixed class dengan tempat duduk yang rapat dan mengabaikan jaga jarak fisik, maka akan terjadi outbreak serangan COVID-19 di sekolah-sekolah kita.

Akahkah kita korbankan anak-anak kita? Mari, mumpung sekolah belum masuk, kita rancang pembelajaran yang aman, nyaman, dan efektif untuk anak-anak kita.

Moving Class dan Outing Class: Alternatif Efektif Pembelajaran Aman Saat Belajar Bersama COVID-19

0

Belum kunjung meredanya pandemi COVID-19, membuat kita mau tidak mau harus beradaptasi. Kita harus mulai terbiasa hidup berdampingan dengan COVID-19. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Menyelenggarakan proses pembelajaran yang aman menjadi kebutuhan yang tak terelakkan saat-saat ini. Moving Class dan Outing Class laik untuk diketengahkan sebagai solusi. Sehingga, meski di tengah Corona, pembelajaran tetap tak kehilangan makna.

Kampus.or.id-Berdasarkan kajian ilmiah, tampaknya kita memang harus hidup berdampingan dengan COVID-19. Mahluk Allah yang satu ini memiliki sifat yang tidak dimiliki saudara-saudaranya di keluarga Virus, bahkan di keluarga kecilnya Virus Corona. Sebenarnya mortalitas akibat serangan ini akan kecil bila tubuh memiliki ketahanan tubuh dan imun yang tinggi. Bahkan, angka kesembuhan juga tinggi, banyak kasus tanpa diobatipun bisa sembuh sendiri bila ketahanan tubuh kita tinggi, baik dilihat dari ketahanan fisik maupun ketahanan kekebalan terhadap virus. Namun, daya sebarnya yang sangat cepat menjadikan serangan ini seperti tsunami yang meluluhlantakkan semua yang dilewati. Baru kali ini ada pageblug yang bisa menyerang 4 juta lebih penduduk dunia dan menyebabkan kematian ratusan ribu dalam jangka waktu hanya 4 bulan lebih beberapa, mulai awal Januari sampai Mei 2020.

Di sisi lain, dalam bidang pendidikan, telah kita alami bersama, bagaimanapun pembelajaran jarak jauh (distance learning) tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya pembelajaran tatap muka, khususnya untuk tingkat PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Hal ini diperparah dengan kondisi topografi geografi serta tingkat kemajuan yang beragam sehingga bila kita teruskan hanya belajar dari rumah maka pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif.

Atas dasar itulah maka Pemerintah berencana membuka kembali sekolah konvensional Juli mendatang. Pertanyaannya, sudah siapkah kita?

Kita harus merombak hidup dengan pola kehidupan baru, yang sama sekali berubah dibanding dengan pola kehidupan yang selama ini kita lakukan

Untuk bisa melaksanakan pembelajaran yang aman maka seperti yang diviralkan pemerintah dan ilmuwan, kita harus merombak hidup dengan pola kehidupan baru, yang sama sekali berubah dibanding dengan pola kehidupan yang selama ini kita lakukan, atau lebih dikenal dengan jargon “NEW NORMAL.”

Seperti yang sudah saya paparkan, syarat untuk bisa hidup berdampingan dengan COVID-19, pertama kita harus memiliki kesehatan yang prima. Kedua, kita harus menjaga jarak, dan ketiga kita berperilaku sehat.

Syarat ketiga, yaitu berperilaku sehat saya uraikan dulu karena ini yang paling mudah dilakukan. Menyediakan tempat cuci tangan dan memakai masker bisa dilakukan meski di daerah-daerah sulit air di musim kemarau yang diramalkan lebih kering di tahun 2020 ini menyediakan air cuci tangan di beberapa daerah akan menghadapi kesulitan. Ketentuan yang membolehkan penggunaan dana BOS untuk pengadaan sarana cuci tangan memudahkan sekolah untuk menyediakan sarana kebersihan ini seperti masker dan sarung tangan untuk anak, cairan hand sanitizer, lap bersih dan sabun disinfektan.

Sekolah harus menyiapkan kembali ruang UKS yang memenuhi standar untuk penanganan anak sakit, terutama COVID-19, termasuk juga APD saat melayani anak yang sakit. Gurupun harus dilatih untuk penanganan pertama COVID-19

Sekolah juga harus menyediakan temp-gun, alat untuk mengukur suhu tubuh yang harus dilakukan pada saat penyambutan anak di pagi hari dan kondisi situasional dimana ada anak yang paginya sehat siangnya suhu tubuhnya meningkat. Karena itu, sekolah harus menyiapkan kembali ruang UKS yang memenuhi standar untuk penanganan anak sakit, terutama COVID-19, termasuk juga APD saat melayani anak yang sakit. Gurupun harus dilatih untuk penanganan pertama COVID-19

Masalah menjaga agar anak-anak memiliki kesehatan yang prima ini, selain menyangkut masalah kemampuan ekonomi juga pola kebiasaan makan di keluarga anak. Di Sekolah Garasi, paguyuban wali siswa menyediakan snack sehat dan makan siang anak tidak menjadi masalah karena bisa dikelola secara sehat oleh wali siswa. Namun, untuk sekolah yang membiarkan anak-anak jajan sesukanya, akan kesulitan menyediakan makanan sehat untuk anak. Penyediaan makanan oleh kantin sekolah yang dikelola oleh paguyuban orangtua siswa merupakan jalan keluar yang baik.

Baca Juga:

Merdeka Belajar, Sudah Siapkah Guru Kita?
Belajar Merdeka: Belajar Penuh Makna
Merdeka Belajar: Model BCCT dalam Pengelolaan Sekolah (1)
Merdeka Belajar: Model BCCT dalam Pengelolaan Sekolah (2)

Masalah yang paling berat dalam menyelenggarakan pembelajaran yang aman adalah menjaga jarak fisik antar anak. Dalam pembelajaran konvensional, satu kelas biasanya terdiri dari sekitar 30 an anak dan duduk di kursi dan meja siswa yang tertata rapi dan rapat. Untuk menjaga jarak fisik anak dengan menyediakan ruang kelas baru dalam waktu ini adalah tidak mungkin.

Untuk memenuhi syarat menjaga jarak ini maka pola pembelajaran harus diubah dengan mengatur pola duduk anak. Pertanyaannya, untuk sekolah yang memiliki ruang terbatas bisakah dilakukan?Terutama untuk sekolah-sekolah dengan gedung bertingkat yang membuat space anak sangat terbatas.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Sekolah Garasi dari dulu sudah menerapkan Merdeka Belajar dengan konsep belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja

Insyaallah meski Sekolah Garasi memiliki keterbatasan “ruang kelas” tetapi tidak mengalami kesulitan, karena Sekolah Garasi dari dulu sudah menerapkan Merdeka Belajar dengan konsep belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja. Dengan saat ini memiliki 260 lebih siswa tahun ajaran depan, dengan 24 guru dan rombel yang fleksibel, tidak mengalami kesulitan, dengan melakukan kegiatan belajar secara moving class.

Sebagian anak belajar di ruangan dan sebagian di luar ruangan (outing class). Belajar di luar ruangan (outing class) bisa dilakukan di halaman, di bawah pohon, di obyek-obyek belajar di kampung dan lokasi-lokasi di mana anak bisa belajar secara aman dan nyaman. Dengan demikian, jarak antar anak saat pembelajaran bisa diatur sesuai SOP penanganan belajar bersama COVID, minimal jarak antar anak 1,5 – 2 meter.

Masalahnya, kebanyakan dari kita sudah terbiasa menerapkan pembelajaran dengan fixed class, bukan moving class yang anak bisa belajar di mana saja, sulit mengubah pola kebiasaan dengan merdeka belajar di mana saja. Inilah tantangan kita yang terberat di dunia pendidikan kita. Bila intensitas dan potensi serangan COVID-19 seperti saat ini, maka pembelajaran fixed class dengan tempat duduk yang rapat dan mengabaikan jaga jarak fisik, maka akan terjadi outbreak serangan COVID-19 di sekolah-sekolah kita.

Akahkah kita korbankan anak-anak kita? Mari, mumpung sekolah belum masuk, kita rancang pembelajaran yang aman, nyaman, dan efektif untuk anak-anak kita.

Harapan Bebas Pandemi COVID-19 Perspektif Kitab al-Hikam

0

Bangsa ini akan sukses melawan Pandemi mematikan ini sesuai ketaatan rakyatnya dalam menjalankan programnya, jika tidak? Itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. Suatu program baik dalam pencegahan virus Corona tidak akan berhasil manakala rakyatnya masih sibuk berdebat hukumnya dan tidak mengindahkan peraturan serta tidak merealisasikan dalam perbuatan atau amal perbuatan yang ia kehendaki.


Kampusdesa.or.id–Informasi terkini bahwa kasus baru virus Corona di ibu kota Jakarta sudah mulai surut, namun demikian justru penyebaran virus Corona di beberapa daerah semakin meningkat termasuk kabupaten Bondowoso yang saat ini yang positif terjangkit virus itu mencapai delapan orang.

Berbagai ragam cara dilakukan untuk menekan penyebarannya, ada yang melalui harapan doa, harapan istighasah, dan harapan khotmul Qur’an yang digagas oleh Gubernur Jatim diikuti oleh beberapa bupati yang ditutup dengan doa oleh KHR.Ahmad Azaim Ibrahimy di media sosial.

Namun, langkah mulia tersebut harus dibarengi dengan langkah-langkah konkrit dan realistis. Jika tidak, hal itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. Seperti yang disampaikan oleh asy-Syaikh Ibnu Athoillah as-Sakandari dalam kitab Hikamnya:

“Al-Rajaa-u maa qaaranahuu ‘amalun wa illaa fahuwa umniyatun”

Artinya, harapan adalah kehendak yang harus diikuti dengan amal perbuatan, kalau tidak demikian hanya angan-angan. Harapan adalah sifat mulia, dan termasuk sifat orang-orang yakin, tumbuh atas kesungguhan dan kesadaran.

Harapan itu sendiri adalah sifat yang menghiasi kita semua ketika berdoa dan beristighasah. Kita berharap lepas dari Pandemi Covid-19 sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw dimana harapan tersebut paralel dengan usaha maksimal . Berusaha optimal agar negeri ini segera reda dan bebas dari virus seyogyanya tidak berbenturan dengan sunah Rasulullah dan tidak ada kesenjangan antara harapan dan prakteknya.

Dua hal ini sungguh sangat diperlukan dalam menekan penyebaran Pandemi covid-19 rajin berdoa dan disiplin melaksanakan kebijakan pemerintah seperti jaga jarak, tidak keluar rumah, pakai masker, dan menjaga kesehatan fisik dan psikis.

Ma’ruf al-Karakhiy berkata: “Menuntut Surga tidak dengan amal sama dengan berbuat dosa, mengharap syafaat tanpa sebab adalah tertipu, mengharap rahmat-Nya tanpa implimentasi adalah suatu kebodohan.

Memang benar, bahwasannya apapun yang kita harapkan dari pandemi Covid-19 ini tidak akan tercapai apabila harapan dan doa itu tidak dituangkan dalam amal perbuatan.


Memang benar, bahwasannya apapun yang kita harapkan dari pandemi Covid-19 ini tidak akan tercapai apabila harapan dan doa itu tidak dituangkan dalam amal perbuatan.

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Orang pandai adalah orang yang mengoreksi dirinya, dan beramal untuk menunggu mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah suka mengikuti hawa nafsunya dan mengharapkan bermacam angan-angan.

Imam al-Hasan berkata: “Ada orang yang tertipu oleh angan-angan menginginkan ampunan sehingga mereka keluar dari dunia sedangkan mereka belum membawa kebaikan amal, sembari beliau membaca QS.al-Fusshilat:23.

Demikian sedikit penjelasan masalah usaha maksimal untuk menekan penyebaran virus corona. Bangsa ini akan sukses melawan Pandemi mematikan ini sesuai ketaatan rakyatnya dalam menjalankan programnya, jika tidak? Itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. Suatu program baik dalam pencegahan virus Corona tidak akan berhasil manakala rakyatnya masih sibuk berdebat hukumnya dan tidak mengindahkan peraturan serta tidak merealisasikan dalam perbuatan atau amal perbuatan yang ia kehendaki. Wallahua’lam.

Indonesia Terserah, Pilu Sang Perawat

0

Bekerja sebagai perawat yang berjuang melawan Covid-19 menjadi pupus harapan setelah berbagai perubahan baru kebijakan di rumah saja seperti dihujami meriam setelah sejumlah transfortasi publik, seperti penerbangan dan darat di buka. Eskalasi gerak manusia mulai menggelembung, kerumunan mulai nampak. Peristiwa ini menampar perjuangan dan keputusasaan para petugas medis, salah satunya adalah perawat. #IndonesiaTerserah

Kampusdesa.or.id–Belum padam rasa jengkel netizen terhadap Youtuber Sampah yang kini meringkuk di balik jeruji besi, kini warga +62 kembali digegerkan tentang pasangan selebgram gila, sebut saja inisialnya UTAP dan INDIRA. Meskipun kedua pasangan selebgram gila itu telah meminta maaf. Namun luka yang tergores telah menganga, tak dapat disembuhkan dengan hanya kata maaf.

Kini, kembali Indonesia tercengang, luka di hati masih basah, akibat dibukanya kembali Bandara. Seolah perjuangan kami sebagai garda terdepan tak dihargai sama sekali, tak dipandang sebagai jiwa Pancasilais sebagai garda terdepan, andai seluruh Perawat di Indonesia resign karena corona. Dokter pun tak dapat memberikan advice medisnya, bisa dibilang mati kutu.

Bahkan, beberapa rekan sejawat kami yang bekerja di Rumah Sakit Swasta, ada yang dirumahkan tanpa pesangon dan biaya lainnya.

Sebab, rumah sakit adalah rumahnya Perawat. Namun, tetap saja bila ada komplainan dari pasien atau pengunjung rumah sakit, yang kena dampaknya kami, Perawat. Bahkan, beberapa rekan sejawat kami yang bekerja di Rumah Sakit Swasta, ada yang dirumahkan tanpa pesangon dan biaya lainnya. Pun nasib kami yang bekerja di pembangunan pemerintah, masih ada beberapa bulan ke belakang yang belum dibayarkan.

Sungguh teriris sekali hati ini mengingat Indonesia saat ini, tak dapat diprediksi bagaimana kedepan. Tak terbayangkan bagaimana pusingnya menjadi ‘Pembantu Rakyat Indonesia’ atau ‘Budak Rakyat Indonesia’, kami pun sebagai rakyat jelata tak mampu menemukan ‘benang merah’ untuk Negeri ini. Tetapi, kami masih punya doa. Doa pada Sang Khalik yang menjadi tempat berkeluh kesah dan berserah.

Cukup percaya bahwa, bumi pun enggan membiarkan orang-orang yang bertindak semena-mena tetap hidup, terlebih tanah yang muak untuk menerima jasad mereka.

Jadi biarlah rasa sakit ini dirasakan sendiri-sendiri dengan cara yang berbeda, toh Allah Maha Melihat dan Mendengar, biarlah ‘tangan-tangan’ Allah yang bekerja untuk memberikan balasan pada mereka yang masih membangkang. Kami cukup percaya bahwa, bumi pun enggan membiarkan orang-orang yang bertindak semena-mena tetap hidup, terlebih tanah yang muak untuk menerima jasad mereka.

#IndonesiaTerserah

Meninjau Makna Konversi Agama

0

Konversi agama perspektif Islamnya disebut sebagai “taubat”, di mana kata taubat dalam al-Quran diulang sampai enam kali. Taubat sebenarnya adalah penyesalan diri terhadap segala prilaku jahat yang telah dilakukan di masa lalu, hal ini diperkuat oleh firman Allah dalam al-Quran surat an-Nisa ayat 17. Oleh sebab itu, konversi agama bisa terjadi kepada siapa saja dan agama apa saja yang penting kita selalu berdoa agar senantiasa mendapatkan hidayah dan inayah-Nya.


Kampusdesa.or.id–Sekitar tahun 2013 silam saat saya masih kuliah magister di Universitas Ibrahimy Sukorejo, tiba-tiba handphone berdering setelah diangkat.

“Selamat siang mas, apa sekarang ada waktu luang? Saya undang untuk diskusi dengan Dr. Bambang Nurseha, MA Jakarta, saat ini beliau dirumah,” tanya salah seorang teman yang kuliah studi Islam Surabaya. “Siap. Tunggu sekitar dua jam lagi ya,” jawab saya sambil meluncur ke Bondowoso dengan jarak tempuh kurang lebih 75 km.

Pada pukul 15.00 WIB Alhamdulillah saya sampai dikediamannya soalnya kendaraan saya pacu lebih cepat lagi. Setelah beberapa saat kemudian, kita semua oleh tuan rumah diajak kerumah makan sate kambing Kadir utara Stasiun Bondowoso untuk sekedar makan siang sambil berdiskusi renyah dengan Dr. Bambang Nurseha, MA salah satu cendikiawan Kristen alumni Mesir.

“Mohon maaf, kalau boleh saya tahu apa pak Bambang memang dari keluarga besar Kristen?”tanya saya penasaran. “Tidak. Saya keturunan keluarga muslim. Bapak saya kejawen. Ibu dan saudara-saudara saya semua juga muslim,” jawabnya serius. “Mengapa njenengan Kristen,” tanya saya lanjut. “Karena pilihan hati,” jawabnya lagi enteng.

Artinya, seorang cendikiawan Kristen berlatarbelakang keluarga muslim, ia pindah agama atau konversi agama karena pilihan hati saja.

Kata konversi diartikan sebagai perubahan dari sistem pengetahuan kesistem pengetahuan yang lain. Perubahan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.

Sedangkan agama bisa diartikan sebagai suatu ketaatan atau penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi (ghaib) dari manusia, yang dipercaya mengatur dan mengontrol, mengatur alam dan kehidupan manusia.

Dalam bahasa Inggris “conversion” yang mengandung pengertian berubah dari satu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (change from state of from one religion to another).

Secara umum konversi agama itu berarti perpindahan agama. Heirich (1972) mendefinisikan konversi agama adalah prilaku seseorang yang berpindah dari suatu sistem kepercayaan dan agama sebelumnya. Thouless (2000), mengatakan konversi agama adalah proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan.


Secara umum konversi agama itu berarti perpindahan agama. Heirich (1972) mendefinisikan konversi agama adalah prilaku seseorang yang berpindah dari suatu sistem kepercayaan dan agama sebelumnya. Thouless (2000), mengatakan konversi agama adalah proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan.

Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat tinggal, yang memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri sebagai berikut:

Pertama, adanya perubahan arah pandang yang mendasar dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Kedua, perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan secara proses atau secara mendadak.

Ketiga, perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama lain, tetapi juga termasuk perubahan perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri. Misalnya, saat saya berdialog dengan kang Jalal panggilan dari Djaluddin Rahmat pada acara seminar Internasional di Islamic Center Jakarta pada tahun 2007:

“Bagaimana Kang Jalal menyikapi statemen Ulil Absar Abdalah?” tanya saya. “Biasa saja. Soalnya, ketika saya berkunjung kerumah beliau berbisik kepada saya: Kang Jalal, suatu saat saya akan kembali pada habitat semula,” jawabnya sambil tertawa ringan.

Ternyata betul sekali, tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal) Ulil Absar Abdala saat ini, statemennya tidak seaktraktif tahun-tahun sebelumnya bahkan beliau sekarang mengaji kitab Ihya Ulumuddin via online sesuai janjinya kepada Kang Jalal

Keempat, selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari Maha Kuasa.

Konversi agama perspektif Islamnya disebut sebagai “taubat”, di mana kata taubat dalam al-Quran diulang sampai enam kali. Taubat sebenarnya adalah penyesalan diri terhadap segala prilaku jahat yang telah dilakukan di masa lalu, hal ini diperkuat oleh firman Allah dalam al-Quran surat an-Nisa ayat 17.

Oleh sebab itu, konversi agama bisa terjadi kepada siapa saja dan agama apa saja yang penting kita selalu berdoa agar senantiasa mendapatkan hidayah dan inayah-Nya. Amiin

Lailatul Qadar

0

Oleh: Muhammad N. Hassan

Laila…
Malam ini kau begitu memesona
Cahyamu bak seribu candra purnama
Serangga malam tak lagi bersuara
Turut bersemedi hening dalam doa

Laila…
Aku malu, Islamku tidak kaffah katamu
Jika boleh aku ingin bertemu
Meski hanya sekejap
Malam ini saja

Laila…
Ini adalah momen paling tepat
Bertaubat dari segala maksiat
Agar syahadatku tak berkarat
Terkotori karna syahwat

Laila…
Aku yakin Sang Maha Pengampun
Memeluk siapa saja ketika minta ampun
Aku yakin Sang Maha Pengasih
Tak pernah lupa merahmati yang dikasih

*Sajak ini telah diremake di akun instagram @Dialektika.ID

Siapa Guru Anakku?

0

Tidak semua keluarga menerapkan family time yang mana di sana adalah forum diskusi keluarga saling bercerita dan support. Oleh karenanya, dengan pandemi COVID-19 ini sudah selayaknya para orangtua kembali pada fitrahnya untuk menjadi fasilitator anak dalam menemukan kekuatannya. Berdiskusi dan saling bekerjasama dengan guru di sekolah. Dengan harapan anak-anak pun juga tetap bersemangat ketika sekolah di rumah dan ibu pun juga bahagia dengan aktifitasnya.


Kampusdesa.or.id–Berbagai peristiwa nyata terjadi menghadapi situasi belajar di rumah bagi sebagian besar anak-anak dalam keluarga. Reaksi muncul menjadi turunan pandemi, khususnya di dunia pendidikan.

“Bagaimana ini cara mengerjakannya?”
“Kenapa kamu susah diatur, ayo belajar!”
“Enak jadi gurunya, tinggal minta setor tugas saja!”


Banyak terdengar suara atau lebih tepatnya keluhan dari para orangtua diawal-awal pandemi COVID-19 ini. Bagaimana tidak, Secara mendadak semua orang harus berdiam diri di rumah untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Tak elak banyak orangtua yang dibuat shock dengan keadaan yang serba dadakan ini.


Anak-anak yang biasa dengan rutinitas sekolah dari pagi sampai siang atau bahkan sampai sore berada di sekolah, sekarang harus 24 jam berada di rumah. Para ibu yang biasanya melakukan pekerjaan domestik atau sekedar me time dengan aman sekarang harus ikhlas merubah semua rutinitas dan tak khayal banyak diantaranya merasa stress. Tantangan luarbiasa pula untuk para ibu pekerja. Diawal-awal sekolah dliburkan harus membagi fokus antara pekerjaan domestik dengan pekerjaan publiknya secara bersamaan.


Tidak ada satupun yang menginginkan kejadiannya ini. Karena semua pasti berdampak. Tidak hanya dalam segi berubahnya rutinitas para ibu namun juga berdampak yang paling dominan adalah segi ekonomi. Seorang ibu harus bisa mensiasati kapan harus bergerak dengan aktifitas domestiknya serta, kapan bersama pekerjaan publiknya bagi yang bekerja serta mendampingi anak-anak mereka yang mendadak SEKOLAH DI RUMAH. Dan bukankah IBU ADALAH SEKOLAH PERTAMA untuk anaknya?

Menjadi menarik pula akhir-akhir ini adalah banyak anak pula yang protes, ibuku bukan guru sekolahku. Kenapa demikian? Dan bagaimana ini bisa terjadi? Anak-anak merasa ibunya berubah jadi hantu tatkala mendapati dia belum bisa menuntaskan ide bermain dari guru, atau tugas dari sekolahnya. Sedangkan anak-anak pun merasa menjadi semakin longgar dalam kedisiplinan ketika proses sekolah di rumah.


Menjadi menarik pula akhir-akhir ini adalah banyak anak pula yang protes, IBUKU bukan GURU SEKOLAHKU. Kenapa demikian? Dan bagaimana ini bisa terjadi? Anak-anak merasa ibunya berubah jadi hantu tatkala mendapati dia belum bisa menuntaskan ide bermain dari guru, atau tugas dari sekolahnya. Sedangkan anak-anak pun merasa menjadi semakin longgar dalam kedisiplinan ketika proses sekolah di rumah. Tak elak hal ini menjadi geram para ibu kepada anaknya. Dan yang pasti kegeraman ibu inilah yang menjadikan anak merasa lebih baik di sekolah. Bermain bersama teman dan belajar dengan guru. Ibu pun merasa tidak cukup kemampuan untuk mendampingi anak-anak mereka di rumah


Selayaknya orang dewasa pada umumnya, anak-anak pun juga ingin dimengerti. Dalam arti bagaimana peran orangtua dalam memahami dan mengerti kebutuhan anak itu membedakan antara orangtua dan guru. Di sekolah guru dituntut tahu hal-hal apa saja yang anak tahu, hal-hal apa saja yang anak bisa dan hal-hal apa saja yang menjadi kebiasaan. Sehingga guru di tuntut untuk mengarahkan anak sesuai minat berdasarkan kekuatannya. Sadarlah para orangtua, anak-anak bukan makhluk sempurna dalam versi anda. Begitupula para guru memperlakukan murid-muridnya di sekolah.

Baca juga:

Merumahkan Sekolah atau Sekolah Telah Mati

Rumahku Gua Hira-ku, Latihan Mindfulness di Rumah Saja

Mengapa Belajar di Rumah Malah Menimbulkan Masalah?

Realita Sekolah Online dalam Masa Social Distancing

Apa Kabar “Belajar dari Rumah” Setelah Tiga Pekan Berlangsung?

Tidak semua keluarga menerapkan family time yang mana di sana adalah forum diskusi keluarga saling bercerita dan support. Oleh karenanya, dengan pandemi COVID-19 ini sudah selayaknya para orangtua kembali pada fitrahnya untuk menjadi fasilitator anak dalam menemukan kekuatannya. Berdiskusi dan saling bekerjasama dengan guru di sekolah. Dengan harapan anak-anak pun juga tetap bersemangat ketika SEKOLAH DI RUMAH dan ibu pun juga bahagia dengan aktifitasnya.


Kegagalan dalam mengerjakan soal bukan jaminan kesuksesan mereka. So, daripada merusak semangat mereka dengan kegeraman, lebih baik ubah mindset turunkan standar anda, terima kekuatan anak anda serta support mereka dengan pujian yang membangun.

The Power of Bismillah

0

Ada 114 “bismillah” di dalam kitab suci al-Qur’an. Nabi Muhammad menganjurkan kita sebagai umat muslim membaca di setiap sebelum melakukan aktifitas. Karena mengucapkan bismillah juga bisa dijadikan sebagai doa dan mengharap berkat, pembawa kebaikan, serta paspor menuju suksesnya apa yang kita kerjakan. Sering mendengar kata motivasi “bondo bismillah” yang entah kenapa ketika melakukan sesuatu dengan diawali kalimat “bismillah” jadi lebih yakin dan ada kepasrahan kepada Allah (lillah). Dengan membaca bismillah pula semua tercatat menjadi sebagai amalan ibadah. Semoga kita tidak pernah lupa sekalipun membaca bismallah setiap langkah kita. Agar Allah SWT menjadi satu-satunya tujuan hidup.

Kampusdesa.or.id–Al-Qur’an adalah kitab suci yang mulia diturunkan sebagai wahyu dari Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman seluruh umat Islam. Kitab mulia ini terdiri dari 114 surat, 30 juz, dan 6236 ayat. Terbagi lagi 14 pasang surat Madaniyyah (umumnya turun di kota Medinah) dan 43 pasang surat Makiyyah (turun di kota Mekkah). Kitab al-Qur’an berisi firman-firman Allah yang selain mudah dihafalkan, kitab ini juga dijaga langsung oleh-Nya sehingga tidak ada seorang pun yang mampu merubah isi ayat yang terkandung di dalam al-Qur’an. Tulisan pada al-Qur’an terlihat acak, sebenarnya tersusun rapih dengan bahasa indah. Maka dari itu al-Qur’an juga ada yang menyebut berima seperti syair atau sastra Arab. Walau al-Qur’an bukanlah karya sastra, karena ia adalah mukjizat yang tentu harus memiliki penguasaan bahasa Arab yang bagus untuk bisa memahami makna ayat-ayatnya.

Di malam nuzulul qur’an ini saya ingin merefleksikan dari 114 surat di dalam al-Qur’an ayat mana yang paling menggetarkan hati dan mengubah hidup. Jadi ingat mbah Sujiwo Tejo pernah mengungkap hal serupa. Pelakon seni dan penulis kondang ini pernah mengatakan kalau surat yang istimewa di dalam al-Qur’an adalah Surat al-Ikhlas karena tidak ada satupun ayatnya mengandung lafadz “ikhlas”. Rupanya mengambil dari betapa tinggi filosofinya sampai-sampai ia mengaku paling malu ketika membaca surat ini.

Adapun saya mengutip ulasan dari NU Online, yang menyebut bahwa membaca surat al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an itu diriwayatkan dalam hadist Shahih Bukhari. Sebab demikianlah banyak orang memberikan legitimasi bahwa surat al-Ikhlas adalah surat yang diistimewakan dalam al-Qur’an di samping surat-surat yang lain. Sehingga, banyak orang beranggapan bahwa dengan membaca surat al-Ikhlas sudah sebanding dengan sepertiga al-Qur’an, padahal dalam hadits yang lain dinyatakan bahwa membaca satu huruf al-Qur’an sebanding dengan sepuluh kebaikan. Jadi, jika dikalkulasi secara matematis tentu saja membaca sepuluh juz lebih banyak pahalanya daripada hanya satu Surat al-Ikhlas.

Entah apakah hadits itu benar-benar dipahami sebagai legitimasi mengistimewakan surat al-Ikhlas dibanding surat-surat yang lain. Apakah ada surat-surat yang diistimewakan dalam al-Qur’an dibandingkan surat-surat yang lain? Untuk menjawab pertanyaan di atas, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menyatakan tidak sebaiknya mengunggulkan sebagian ayat al-Qur’an atas ayat al-Qur’an yang lain atau surat al-Qur’an atas surat al-Qur’an yang lain.

Pendapat ini diwakili oleh Ibnu Abdil Bar (w. 463 H), Abul Hasan al-Asy’ari (w. 324 H), al-Qadi Abu Bakar (w. 402 H), Ibnu Hibban (w. 354 H) dan sekelompok para fuqaha. Dalam pertanyaannya mereka berpendapat bahwa tidak ada keunggulan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain, antara surat yang satu dengan yang lain. Sebab semuanya adalah kalam Allah yang Mahakuasa.

Pernyataan ini diperkuat oleh ungkapan Imam Yahya bin Yahya (w. 234 H) yang mengatakan bahwa mengunggulkan sebagian ayat al-Qur’an atas ayat al-Qur’an yang lain adalah sebuah kesalahan. قَالَ يَحْيَى بْنُ يَحْيَى: تَفْضِيلُ بَعْضِ الْقُرْآنِ عَلَى بَعْضٍ خَطَأٌ، Artinya: “Mengunggulkan sebagian al-Qur’an atas al-Qur’an yang lain adalah salah.”

Untuk memperkuat pendapatnya ini, mereka berdalih bahwa jika ada ayat atau surat yang diunggulkan tentu saja ada ayat atau surat yang tidak diunggulkan, sebab adanya sesuatu yang unggul menunjukkan adanya kekurangan pada yang tidak diunggulkan. Sementara Kalam Allah merupakan satu realitas dan esensi yang tidak memiliki kekurangan (Imam al-Qurtubi, Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 1: 109)

Ibnu Abdil Bar (w. 463 H) menyatakan bahwa makna hadits dari “membaca satu kali surat al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an” adalah sebanding dalam soal pahala, tapi bukan berarti apa yang Allah berikan pahala kepadanya atas perbuatannya itu sendiri namun itu tidak lain adalah karunia yang Allah berikan kepada setiap hamba yang dikehendaki-Nya (Abdul Azizi al-Muzaini, Mabahits fi Ilmi al-Qir’at/250).

Senada dengan Ibnu Abdil Bar, Ibnu Hibban (w. 354 H) memberikan pemaknaan yang sangat bagus dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab (w. 30 H): مَا فِي التَّوْرَاةِ، وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ، مِثْلُ أُمِّ الْقُرْآنِ

Dalam hadits di atas dinyatakan bahwa tidak ada dalam kitab Taurat dan juga di kitab Injil seperti Ummul Qur’an (al-Fatihah). Menurut Ibnu Hibban (w. 354 H), Allah tidak memberi pahala kepada pembaca kitab Taurat dan juga Injil seperti pahala yang diberikan kepada pembaca Ummul Qur’an (al-Fatihah), sebab Allah mengunggulkan umat ini (Nabi Muhammad) daripada umat yang lain (Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban/1/ 54).
Dari sekian argumentasi teks-teks hadits yang diutarakan di atas menunjukkan adanya keistimewaan ayat atau surat dalam al-Qur’an. Dengan demikian, argumentasi di atas secara otomatis meruntuhkan pendapat yang menyatakan bahwa Kalam Allah tidak ada yang lebih istimewa, semuanya sama dari hakikat yang sama.

Untuk itu, jika ditelisik lebih mendalam, maka akan dijumpai bahwa Kalam Allah itu sudah berbentuk (setelah diturunkan ke muka bumi) potongan ayat dan parsial (berjuz-juz, bersurat-surat). Maka jika dilihat dari sisi yang menurunkan Kalam itu, yaitu Allah, tentu saja tidak ada perbedaan, semuanya sepakat tidak yang lebih diunggulkan dan diistimewakan. Tapi jika dilihat dari sisi pemaknaan yang terkandung dalam sebuah ayat maupun surat, maka dalam hal ini tentu berbeda.

Kalam Allah yang menyinggung tentang ketauhidan dan ajakan untuk beribadah kepada-Nya tentu saja lebih istimewa dibandingkan Kalam Allah yang sekadar mengutarakan tentang hukum pidana dan jinayat. Kalam Allah yang menjelaskan tentang kekuasan-Nya dan sifat-sifat-Nya tentu saja lebih istimewa dan unggul dibandingkan Kalam Allah yang sekadar menceritakan tentang makhluk-Nya.

Meski sebagian ulama memberi keterangan (berdasarkan beberapa hadits nabi) jika ada beberapa surat yang jika dibaca memiliki faedah tertentu. Seperti surat al muawidatain (al-Falaq dan an-Naas), al-Kahfi, al-Mulk, Waqi’ah, Yaa-sin, ayat kursi, dan sebagainya. Namun versi saya lain. Saya sebenarnya lebih setuju jika semua ayat dan surat di dalam al-Qur’an itu sama kedudukannya, tidak ada yang paling diistimewakan.

Justru dalam kaitan ayat istimewa, saya lebih simpel memilih bacaan “basmalah” adalah menjadi spesial bagi saya di antara ayat-ayat lain yang terkandung di dalam al-Qur’an. Ada yang beranggapan jika ummul quran adalah al-Faatihah jika diperas intinya ada di ayat pertama yaitu lafadz bismillahirrahmanirrahiiim. Bahkan bacaan faatihah tidak bakal utuh jika ayat pertama tidak ada dan bacaan al-faatihah menjadi salah satu rukun wajib dibaca ketika shalat.

Baca juga: Bismillahirohmanirrohim dan Visi Otentik Perguruan Tinggi

Kata-kata bismillahirrahmaanirrahim memang sekilas sederhana dan mudah untuk diucapkan tetapi maknanya sangat dalam hingga 1000 malaikat memuliakannya karena kalimat “bismillah” mempunyai khasiat yang luar biasa untuk mewujudkan keinginan seseorang yang berdasarkan kebaikan dan kebenaran. Bahkan keampuhan kalimat ini disabdakan oleh Rosulullah SAW, yang berbunyi:

“Jika seseorang tidak menyebut nama Allah sewaktu hendak makan, maka setan berkata; Kalian bisa menginap dan makan malam.” (H.R. Muslim No. 3762, Abu Daud No. 3263)

Oleh karena itu, ketika makan atau minum membaca bismillah insyaallah mudah kenyang dan membawa berkah pada makanan dengan membaca bismillah di awal. Bagaimana andaikan kita lupa mengucapkannya, maka dijelaskan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih).

Pun anjuran ini berlaku saat kita menyembelih hewan, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Jundab bin Sufyan Al-Bajaly, bahwasanya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat, maka hendaklah ia menyembelih qurban yang lain sebagai gantinya. Dan barangsiapa yang belum menyembelih sampai kami melakukan shalat, maka hendaklah dia menyembelih dengan menyebut nama Allah.” Menyebut nama Allah di sini maksudnya adalah membaca bismillah dengan niat menyembelih karena Allah (lillahi), karena huruf “ba” pada lafadz bismillah mengandung arti “dengan/atas nama Allah. Tidak mempersekutukan dengan Tuhan yang lain selain Allah.

Sehingga Nabi Muhammad menganjurkan kita sebagai umat muslim membaca di setiap sebelum melakukan aktifitas. Karena mengucapkan bismillah juga bisa dijadikan sebagai doa dan mengharap berkat, pembawa kebaikan, serta paspor menuju suksesnya apa yang kita kerjakan. Sering mendengar kata motivasi “bondo bismillah” yang entah kenapa ketika melakukan sesuatu dengan diawali kalimat “bismillah” jadi lebih yakin dan ada kepasrahan kepada Allah (lillah). Dengan membaca bismillah pula semua tercatat menjadi sebagai amalan ibadah.

Menariknya selain bismallah terdapat di dalam ayat pertama al-Faatihah, ternyata ada juga di dalam QS. an-Naml ayat 30

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Surat ini salah satunya berisi mengisahkan antara Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis. Tatkala sang ratu menjelaskan isi surat itu dengan berkata, “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya ia dibuka dengan tulisan “Bismillahirrahmanirrahim”. Dan kalau tidak salah ketika dulu pas nyantri salah satu ustadz saya memberikan ijazah jika ayat tersebut dilanjut dengan ayat berikutnya (ayat ke 31), maka bisa dibuat sebagai do’a pengasihan (menundukkan hati wanita yang disukai). Heuheu~

Di samping itu, salah satu alasan ada dua “bismallah” di surat an-Naml, dari perspektif struktur, pada surat at-Taubah (Baro’ah) tidak ditemukan kalimat “bismallah” pun sebagai pembuka. Dengan demikian, seluruh kalimat “bismallah” di dalam al-Qur’an ada 114 sesuai jumlah surat kitab mulia ini. Menariknya lagi adalah jumlah surat al-Qur’an mulai dari at-Taubah sampai dengan surat an-Naml tepat 19 surat. Angka 19 adalah kode utama pada al-Qur’an, merupakan bilangan prima. Berfungsi sebagai verifikasi, proteksi dan otentifikasi. Dan bukanlah merupakan suatu kebetulan, kalimat bismallah-pun terdiri dari 19 abjad Arab.

Terakhir, sungguh ayat ini memang ibarat magic sekali. Dulu saat memaknai kitab paling suka saat mendengar arti jawa pegon “bismallah” sebagai pembuka mengaji kitab kuning. “Bismillahi kelawan nyebut asma Allah, Arrohmani kang welas asih ingdalem donyo lan akherat, Arrohimi kang welas asih ingdalem akhirat beloko.” Semoga kita tidak pernah lupa sekalipun membaca bismallah setiap langkah kita. Agar Allah SWT menjadi satu-satunya tujuan hidup. Wallahu a’lam bish shawab. []