Jumat, Mei 1, 2026
Beranda blog Halaman 102

Tutur Desa: Menuturkan Potensi menuju Desa Berdikari

0

KampusDesa News_Kamis, 07 September 2017 Komunitas Kampus Desa melalui kegiatan Tutur Desa mengajak para cendekiawan dan juga peneliti untuk melakukan pre-report methodology dalam mempersiapkan kegiatan yang bertujuan untuk melakukan miniriset dengan pendekatan metode kualitatif etnografi serta membangun budaya publikasi yang mengutamakan keunggulan desa dengan segala keunikannya.

Dalam kegiatan ini, Ibu Ulfa sebagai narasumber diawali membuka forum dengan mengajak peserta untuk membangun sebuah perspektif dalam melihat sebuah fenomena. Perspektif yang dimaksud adalah untuk membekali peserta agar tidak ngglambyar dalam melihat fenomena yang disampaikan dalam tuturnya “ Sebenarnya kegiatan Tutur Desa ini juga untuk mendokumentasikan sumber daya yang ada pada desa terssebut, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang dimiliki desa tersebut, jadi sebelum mendokumentasikan potensi yang ada kalian harus memiliki perspektif yang akan menjadi fokus kalian masing-masing, tapi kegiatan ini dirancang dalam miniriset dan dipublikasikan secara nasional”. Dari pemaparan tutur beliau bisa di garis bawahi bahwa peserta mampu mengeksplorasi fenomena dengan sudut pandang yang fokus dan konsisten. Misalnya dalam melihat fenomena di sebuah desa, mana sudut pandang yang akan dipakai, apakah nilai-nilai kebudayaan, potensi alam, potensi SDM, atau yang lainnya. Perspektif sangat penting untuk dijadikan landasan, karena dari ini peserta/penulis bisa fokus dan mampu lebih dalam menyelami sebuah fenomena.

Selain itu, Koordinator kegiatan Tutur Desa yang bernama Agus sedikit memberi gambaran umum kepada peserta kegiatan yang sebagian besar belum memahami apa itu Tutur Desa maupun Kampus Desa ini bahwa mempunyai misi untuk menuturkan atau pun menginformasikan kepada masyarakat umum atas potensi yang dimiliki oleh desa tersebut dengan research, data dan juga studi literasi. Diharapkan dari kegiatan ini, peserta mampu memunculkan potensi-potensi desa yang tidak terlihat, tapi sebenarnya sangat terasa dan nyata, dimunculkan lewat tulisan biasa dan sederhana tapi sangat memperhatikan isi dan subtansi.

“Saya merasa sangat beruntung dapat bergabung dalam kegiatan ini, karena saya mendapatkan pandangan baru dalam melihat fenomena dengan persepektif yang jarang dipahami bahkan tidak disadari banyak orang” ungkap salah satu peserta yang bernama Ade mahasiswa dari Fakultas Psikologi UIN Malang. (Yuni Maratus Sholicha dan Ade Novit Rachmawan)

Tutur Desa; Menyebarluaskan Pitutur Orang Desa

0

Tutur Desa adalah kunjungan jurnalistik bernuansa miniriset dengan pendekatan metode kualitatif etnografi. Tujuannya adalah membangun budaya publikasi yang mengutamakan keunggulan desa dengan segala keunikannya.

Kemampuan mempublikasikan suara-suara desa akan membantu lahirnya ilmu pengetahuan lokal yang acapkali terpinggirkan dan membantu komoditas lokal dapat terpotret keluar.

Hasilnya akan dikompilasi menjadi rangkaian liputan jurnalistik dengan bahasa yang lugas dan dapat diakses secara luas.

Terima kasih kepada kandidat yang sudah berkenan meluangkan waktu berpartisipasi menjadi jurnalis, peran Anda sangat penting dalam rangka membantu suara-suara desa yang terkadang tidak pernah terdengar, padahal suara itu luar biasa, berisi ilmu pengetahuan yang perlu disebarluaskan dan bahkan bernilai sangat mahal karena komoditasnya sebenarnya kompetitif, akan tetapi tidak pernah ada teknologi yang membantu menyebarluaskan.

Bagi siapa saja yang belum sempat bergabung, silahkan mengikuti tutur desa berikutnya dengan tema dan sudut pandang yang menarik.

Atau jika desa anda ingin dituturkan agar lebih tersebar luas, sementara Anda merasa tidak punya sumberdaya manusia. Hubungi kami. Kami akan mencarikan sumberdaya yang ada untuk turun ke desa anda membantu melakukan profilisasi desa anda sehingga bisa membantu menyebarluaskan keunggulan desa anda.

Alex Ferguson MU dan Fasilitator Pendamping Desa

0

Bagi pencinta sepak bola, pasti sudah familiar dengan nama ini, Alex Ferguson yang kemudian mendapatkan gelar Sir dari kerajaan Inggris karena prestasinya mampu mengharumkan nama negara Inggris dalam hal persepakbolaan di dunia. Alex Ferguson di dunia sepak bola adalah jaminan kesuksesan. Dia menjadi kunci keberhasilan Manchester United yang menjelma menjadi klub raksasa dunia.

Ia (Alex Ferguson) menerapkan kedisiplinan luar biasa pada setiap punggawa United. Ia juga memposisikan sebagai mentor, motivator dan pembangun mental pemain-pemain muda United. Fergie (nama keren Alex Ferguson) juga memusnahkan budaya dan tradisi minum-minuman di Old Traford dengan mengeluarkan pemain-pemain yang sudah menjadi idola di United (Rose Kusuma, 2010. Alex Ferguson, Master of Old Trafford).

Apa relevansinya Sir Alex Ferguson dengan pendamping desa? Relevansinya adalah bagaimana pendamping desa yang mampu namanya menjadi jaminan keberhasilan suatu desa. Suatu desa akan mendapatkan manfaat secara bertahap naik atas pendampingan yang telah dilakukan dalam berbagai sisi. Komunitas/intitusi memiliki keyakinan bahwa pendamping desa yang ditempatkan memiliki kapasitas dan profesional dalam melakukan kerja pemberdayaan. Pendamping desa mampu untuk mengorganisir dan memoles kader desa untuk menjadi penggerak yang ada di desa,serta ada kemenangan kecil di desa, yang mampu menjadikan desa dampinganya bisa menjadi referensi desa lain dalam mewujudkan kemandirian desa. Kemenangan kecil bagi pendamping desa bisa seperti meningkatkannya jumlah usaha mikro menjadi kecil semisal, atau meningkatnya omset BUMDes.

Telaah Biografi Alex Ferguson

Merujuk biografi Alex Ferguson di buku Rose Kusuma, ada beberapa hal yang bisa dipetik dari membangun kesuksesan dalam karir dan hal ini menurut saya bisa di implementasikan dalam menssuport kualitas pendamping desa. Bukan saya menjustifikasi bahwa pendamping desa tidak berkualitas, akan tetapi bagaimana mereka juga menjadi bagian dari definisi keberhasilan dalam melakukan kerja pendamping desa.

“Istri saya selalu menyuruh keluar rumah sebelum jam 7 ( ke Old Trafford, markas Mu),” ungkap Alex Ferguson. Statement tersebut merupakan wujud dari dukungan keluarga Alex Ferguson dalam bekerja menangani club MU. Dukungan keluarga juga sangat penting bagi kita yang memposisikan diri pada bidang apapun, tak terkecuali pendamping desa. Spiritual keluarga sangat penting untuk membangun semangat dalam kerja pendamping desa. Tidak hanya bekerja secara passion saja, tetapi juga ada spiritual keluarga yang juga perlu untuk di “suntik” kan dalam setiap sentuhan dengan para pihak.

Selain dukungan keluarga yang memunculkan spiritual dalam bekerja,Alex Ferguson juga mampu mentransfer nilai-nilai positif dalam intitusi maupun tim MU. Terkesan otoriter akan tetapi juga demokratis. Menerapkan peraturan yang tidak konstruktif dan positif dalam komunitas. Dugem dan mabuk-mabukan di era Alex tidak ada, cangkrukan selepas latihan rutin untuk membangun chemistry pun menjadi rutinitas. Sehingga dengan demikian dengan pendamping desa, nilai-nilai positif dan konstruktif harus mampu untuk ditransfer dalam komunitas atau institusi. Memang tidak mudah menerapkan nilai-nilai baru pada situasi yang baru. Dengan komunikasi yang baik, komunikasi yang mampu memotivasi dan memberikan sudut pandang yang lebih luas spektrumnya, sehingga mampu menumbuhkan keyakinan akan suatu masa yang lebih baik.

Alex Ferguson sebelum menjadi pelatih MU, juga menjadi pemain sepakbola pada sebuah club di Scotlandia. Klub amatir Queens Park merupakan awal karir Alex Ferguson yang Sir ini. Ayr United adalah club terakhir yang di bela Alex Ferguson sebelum “menggantungkan” sepatunya. Jadi sangat benar apabila saat perekrutan pendamping desa dan tenaga ahli oleh Kementerian Desa PDTT menyertakan persyaratan bahwa pelamar harus telah melakukan kerja-kerja pemberdayaan. Dan tidak semua orang bisa untuk memoles potensi diri yang ada, seperti Alex Ferguson tersebut. Nah, ini yang sekiranya perlu di “sentuh” oleh tim dari kementerian desa PDTT agar muncul fasilitator yang lebih hebat. Hal itu mungkin perlu dilakukan penguatan kapasitas bagi pendamping, baik penguatan kapasitas bagaimana menjadi motivator yang baik, fasilitator yang baik ataupun menjadi character building.

Membangun mimpi

Sebelum menjadi pelatih, Alex Ferguson adalah manajer paruh waktu untuk club East Stirlingshire. Disinilah awal titik balik dari bagaimana Alex Ferguson merumuskan bagaimana dalam menciptakan tim hebat yang itu dibuktikan dengan St. Mirren berlangsung gemilang, selama 4 musim menangani klub tersebut (1974-1978). Pengalaman saat di lapangan dan menjadi pelatih paruh waktu, dijadikan referensi kebijakan dalam mengelola tim. Disinilah bagaimana mimpi-mimpi Alex Ferguson di implementasikan dengan referensi yang dimiliki saat menjadi pemain dan manajer pelatih paruh waktu.

Dalam melatih st. Mirren, Ferguson mengangkat klub kecil yang tadinya hanya ditonton oleh 1000 orang dalam pertandingan kandanganya itu menjadi juara Liga Skotlandia pada musim 1977 dengan permainan menyerangnya. Selain itu ia berjasa dalam menemukan bakat-bakat muda (Wikipedia.org). Maka jangan heran, saat si MU pemain yang menjadi bintang di MU dilepaskan, walaupun publik skeptis dan nyinyir dengan kebijakan tersebut, tapi Ferguson bergeming. Pemain-pemain bintang muda pun bermunculan tidak hanya didominasi oleh itu-itu saja. Inilah pentingnya kaderisasi dalam entitas, sehingga entitas tersebut mampu menghasilkan produksi kader yang hebat dan luar biasa.

Tidak mudah memang, mengamati, mendidik dan memberikan peran pada kader, selayaknya Alex Ferguson. Akan tetapi dengan kerja keras dia mampu memoles David Beckham, Cristiano Ronaldo, Ronie, Ibrahimovic, Van Persie dan lain sebagainya. Banyak sekali yang diciptakan oleh Alex Ferguson dalam memenuhi kebutuhan tim dan merekrut pemain yang biasa-biasa saja dan dijadikan luar biasa.

Ada transformasi di situ, yang di-delivery sangat baik sehingga apa yang dikader mampu menjalankan seperti apa yang diskenariokan oleh mentor.

Evaluasi dalam mewujudkan visi

Dalam mengontrol perkembangan tim serta untuk mengetahui jalan apa yang harus dilakukan agar kemampuan kemajuan menjadi lebih baik, selalu dilakukan oleh Alex Ferguson bersama asisten dan pelatih fisik, pelatih teknik dan lain sebagainya. Disinilah akan terpenuhi gambaran tim secara utuh, sehingga dalam mengambil keputusan berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan, keputusan yang diambil tentunya merujuk atas mimpi apa yang ingin dibangun. Catatan yang berisi target, indikator keberhasilan, keberhasilan (kemenangan) yang merupakan guideline dalam mencapai visi sangat penting untuk selalu dievaluasi, sehingga semua bisa diukur, sejauh mana keberhasilan dan tantangan yang harus dihadapi oleh tim atau entitas tersebut.

Tidak kalah penting adalah, bagaimana mendelevery kebijakan yang jangan sampai kebijakan tersebut dimaknai lain, yang pada akhirnya akan menciptakan disorientasi pada sasaran yang akan di “intervensi’. Teknik komunikasi, dimana komunikasi yang memanusiakan manusia, bahwa suatu entitas tersebut terdiri dari manusia, inilah yang perlu untuk dilatih. Karena menyentuh secara filosofis atas entitas dalam konteks manusia sangat diperlukan latihan dan pemahaman yang komprehensif manusia.

Hal inilah menurut saya, bagaimana pendamping desa memiliki cara untuk memotret manusia dalam entitas yang ada untuk selanjutnya dirumuskan dalam konsep yang kompleks sehingga diharapkan mampu menjadi kader yang unggul dalam menggerakkan pemberdayaan masyarakat (manusia).

Salam Pecel!

Gelas dan Teko Bambu

0

Kerajinan bambu diproduksi oleh warga masyarakat di Kampung Bambu di sebuah desa di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Meski masih terbatas dalam proses produksi, karena hanya mengandalkan kemampuan tenaga manusia, produk Gelas dan Teko Bambu kabarnya sudah dilirik untuk komoditas ekspor. Mari ikut membeli produk lokal dan membantu mendorong percepatan pasar usaha masyarakat.

Informasi selengkapnya silahkan hubungi sendiri melalui nomer handphone +6281216959161. Jika Anda agak kesulitan menghubungi, bersabarlah. Maklum, desa tempat berproduksi sangat pelosok sehingga kadang pancaran sinyal agak susah.

Lihat produk lain di anekadodolan.com

MEMBANGUN GERAKAN LITERASI DESA; Catatan dari Trenggalek

0

Ketika “kepala suku” Mojok.Co mengajak membangun—apa yang ia istilahkan—“Literasi Berbasis Kampung”, saat ia berdiskusi dengan kami di salah satu komunitas di Desa Gayam Kecamatan Panggul, ia mencontohkan bagaimana anak-anak sekarang tidak tahu nama-nama yang berbau lokal. Misal kita tanya saja anak-anak sekarang, termasuk kita sendiri, tentang nama-nama pisang dengan merujuk pada bentuk dan ukuran pisang. Atau nama-nama tanaman dan hal-hal yang bersifat lokal. Dijamin semakin banyak dari kita yang semakin tidak hafal nama-nama benda-benda apa saja yang ada di lingkungan kita sendiri.

Yang saya tangkap kemudian adalah bahwa Mas Puthut sedang mengajak kami untuk menulis hal-hal yang berbau lokal. Mari kita buat tulisan yang mengangkat tema-tema lokal, agar narasi kita yang kita sebarkan ke pembaca akan membuat nama-nama lokal itu akan terus terngiang di masyarakat. Tapi bukan itu saja. Juga harus dibuat kegiatan-kegiatan kebudayaan yang mengangkat dan membangkitkan kembali hal-hal yang bermuatan lokal.

Lalu diskusi yang memang tidak terstruktur malam itu banyak bercerita tentang konservasi air setelah beberapa orang menguraikan situasi kekinian di mana ancaman terhadap kelangkaan air ada di depan mata. Kami diskusi tentang hilangnya banyak ‘mason’. Tentang banyaknya pohon kelapa sawit yang mulai tumbuh di tanah-tanah desa Trenggalek terutama di wilayah pegunungan dan efek kerakusan tanaman itu terhadap air.

Diskusi tentang literasi dan seputar dunia tulis-menulispun semakin redup dan menghilang. Tapi tidak mengapa, karena inti literasi adalah membuat kita semua melek terhadap informasi dan tercerahkan, atau sekedar mengingat kembali info-info yang sudah pernah kami dengar dan diingatkan kembali oleh diskusi.

Sayapun tahu sejak awal bahwa gerakan literasi bukan hanya sekedar bisa membaca dan menulis, tetapi juga menggunakan kemampuan itu untuk meningkatkan wawasan dan mendorong kita berpartisipasi aktif untuk menyikapi persoalan-persoalan kita sendiri. Sebagaimana kalau kita membaca definisi UNESCO tentang literasi juga menyebutkan bahwa gerakan ini harus mendorong orang untuk “fully participate” atau berpartisipasi aktif.

Sebagaimana yang saya pahami dari definisi UNESCO, maka saya beranggapan bahwa gerakan literasi adalah sebuah proses juga, bukan sekedar tujuan akhir. Gerakan literasi adalah gerakan pemberdayaan melalui kemampuan berliterasi. Dalam bahasa sederhananya sebagaimana yang sering kami kampanyekan adalah soal budaya baca sebagai basis kegiatan menggapai pengetahuan, terciptanya nalar kritis, imajinasi kreatif. Asumsinya adalah bahwa dengan semakin terbuka imajinasi untuk memahami dunia dengan dialektikanya, dengan relasi-relasi antar bagian-bagiannya.

Berhadapan dengan hal-hal yang rumit dan tak terjelaskan, setelah banyak memiliki pengetahuan dan nalar imajinatif, orang bisa mengurai hubungan-hubungan yang ada dalam hidupnya. Dengan pemahaman tentang hubungan-hubungan antar suatu hal dengan pemahaman baru, orang yang terliterasikan akan menemukan dunianya yang baru. Dunia yang kian mudah untuk dihadapi dengan pikiran dan kemudian dengan sikap dan tindakan. Orang yang terliterasikan kemudian akan mudah untuk berperan mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan membantu mengatasi masalah orang lain.

Di sini, pada awalnya gerakan literasi adalah gerakan membuat semakin banyak orang membaca dan menulis. Membaca sebagai budaya akan membantu imajinasi kreatif. Sedang ikutannya adalah budaya menulis dan bicara yang membuat orang bisa menyampaikan pesan, informasi, persuasi atau berkomunikasi untuk mengatasi masalahnya. Dari kemampuan memahami menjadi kemampuan berkomunikasi dan berpartisipasi aktif inilah sebenarnya jantung dari gerakan literasi itu.

Maka kemudian, saya menceritakan pada malam itu bahwa ajakan Mas Puthut untuk mengangkat narasi-narasi lokal sebenarnya sudah mulai berjalan di Trenggalek. Saya menceritakan apa yang sudah kami pikirkan dan diskusikan, sebagian juga sudah kami lakukan. Juga dilakukan oleh orang-orang Trenggalek lain. Pertama, baru saja kami menerbitkan buku kumpulan cerita pendek yang berbasis cerita lokal. Di dalamnya mengangkat kisah manusia di desa-desa Trenggalek. Tentang bencana alam, tentang manusia yang sulit menghadapi kehidupan. Juga tentang potensi-potensi budaya lokal. Nama-nama lokal seperti “balung kuwuk”, “gaplek”, “ramban”, dan seting tempat lokal juga menjadi latarbelakang narasi yang digarap para penulisnya.

Kedua, saya juga sering mendiskusikan dengan teman-teman literasi baik dalam bentuk tulisan maupun obrolan lisan tentang keharusan untuk mendata potensi lokal yang ada. Bahkan dari sisi seni-budaya kami bersama teman-teman literasi sudah mendata dan mendokumentasikan kekayaan seni-budaya Trenggalek di desa-desa dan kecamatan-kecamatan. Buku “Peta Budaya Trenggalek 2016” adalah bukti nyata tentang hal itu.

Saya juga pernah menulis tentang upaya melakukan ketahanan pangan dengan cara mendata tanaman apa saja yang sebenarnya enak di makan yang ada di Trenggalek, dan gagasan untuk mendokumentasikan kuliner dan olahan tradisional khas Trenggalek sebenarnya sudah saya lontarkan jauh-jauh hari. Bahkan ketika sebagai ketua Karangtaruna di Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, kami juga mengadakan kegiatan Pesta Rakyat Desa yang salah satu acaranya adalah mendatangkan para pengolah kuliner lokal untuk menyajikan makanan tradisional seperti Kicak, Cenil, Sompil, Gethuk, Gatot, dan lain-lain. Seingat saya itu terjadi pada tahun 2009.

Waktu itu, para peserta dipersilahkan makan sajian kuliner gratis. Kami membiayai pembuatannya oleh ibu-ibu produsen dan penjual kuliner lokal. Selain sajian seni Tiban, Pencak Silat, Perform menganyam Jala dari desa kami. Meski acara waktu itu hanya berjalan sehari, setidaknya momentum bersejarah itu seingat saya adalah yang pertama yang saya lihat. Meskpun acara diinterupsi sebentar oleh seremonial, di mana waktu itu Ketua Karangtaruna Kabupaten dan seorang perwakilan dari Dinas Sosial Propinsi memberikan sambutan.

Gagasan untuk membuat buku “Peta Kuliner Trenggalek” juga sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Meski belum terealisasikan, tentunya hal ini akan terus berusaha diupayakan untuk digarap. Dan misal ide ini dieksekusi oleh orang atau komunitas lainpun, tidak menjadi masalah. Karena pada dasarnya gagasan kreatif itu harus disebarkan dan siapapun boleh mengeksekusinya karena pada dasarnya tujuan dan manfaatnya adalah untuk banyak orang.

Ketiga, pihak lain di luar komunitas masyarakat, khususnya pemerintah juga pernah mengadakan “Lomba Menulis Sejarah Desa” yang dilakukan dua tahun lalu. Dengan peserta ratusan mulai anak SD, SMP, dan SMA kegiatan ini juga cukup bermanfaat karena anak-anak selaku penulis diminta untuk mendapatkan data dari sumber-sumber sejarah, baik sejarah ilmiah maupun mitos. Setidaknya sudah ada ide untuk menyadari pentingnya sejarah lokal—yang juga disinggung oleh Mas Puthut tentang sejarah desa dan sudah dilakukan.

Ada lagi kegiatan literasi berbasis desa, yang digagas oleh Mas Bonari Nabonenar, yang dilakukan di Desa Cakul Kecamatan Dongko pada tahun 2009. Namanya adalah Festival Sastra Jawa dan Desa. Skala kegiatannya lebih luas karena mengundang banyak aktivis budaya dari berbagai kota, di antaranya adalah sastrawan yang namanya cukup populer, ada aktivis lingkungan dan pegiat pertanian organik dari Yogyakarta yang mengisi workshop dan diskusi.

Kegiatan dan ide-ide tentang literasi berbasis kampung, jika dilihat dari apa yang pernah ada, dan sedang digagas, bukan hal baru untuk Trenggalek. Ide-ide selalu muncul, meskipun pada tataran eksekusi kegiatan dan konsistensi gerakan bisa dikatakan naik turun, serta pengaruhnya belum maksimal.

Saya pikir, poin ini adalah terkait dengan diskusi tentang eksistensi dan pengaruh sebuah gerakan. Sejauh mana pengaruh sebuah gerakan bagi kesadaran massa (pengaruh keluar) dan bagi perubahan tingkahlaku berbagai jenis sasaran yang diharapkan berubah tingkahlakunya perlu dianalisa lebih jauh. Tetapi efek dari gerakan literasi yang lahir normal tanpa bedah cesar sejak tahun 2010, lewat arisan sastra-budaya, saya kira bisa dilacak jejak-jejaknya. Keberadaan komunitas literasi dengan berbagai varian model geraknya, di beberapa titik dan “kantong” di Trenggalek saya kira dengan mudah dilacak dari masa lalu.

Sejarah kadang berjalan tanpa kita sadari. Dialektikanya terus berjalan. Semua berkait-kaitan antara satu peristiwa budaya dengan efek penyadarannya yang bersemai di berbagai tempat yang kemudian tak kelihatan. Hingga kita tiba di era di mana Desa menjadi buah bibir karena dianggap berpotensi untuk menggerakkan literasi untuk mendorong pembangunan. Ada yang mulai menyadari pembangunan taman bacaan. Ada yang menyadari perlunya partisipasi aktif rakyat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan berbasis dana desa dan dana lainnya. Ada gerakan lingkungan hidup, dan berbagai gairah meliterasikan desa-desa dengan berbagai cara.

Saya pikir, kita tidak boleh puas. Kita justru harus merasa belum puas karena ide-ide yang kita gagas belum banyak yang terealiasikan. Gerakan intelektual untuk menyemaikan ide tak boleh berhenti, tapi yang terpenting adalah gerakan meliterasikan rakyat dan kaum muda untuk mau berpartisipasi aktif membangun desanya masing-masing.***

START-UP Lawan Dana Desa, Bisnis Desa di Era Digital

0

Kampusdesa.or.id–JD.com milik Ricard Liu investor asal China menyuntikkan dana sekitar US$ 100 juta setara dengan Rp 1,34 Triliun ke Go-Jek (US$ 1=Rp 13.400). Go-jek juga mendapatkan investasi dari Ma Huateng US$ 100 juta-150 juta. JD.com bersama expedia ini,east Ventura, hilhouse capital group dan sequoia capital) juga menguyur Traveloka sebesar US$ 500 juta. Jack Ma dengan alibaba.com nya juga mengelontorkan US$ 1,1 milliar ke Tokopedia. Jack Ma juga melakukan aksi patungan alias join Ventura bersama PT Elang Mahkota Teknologi tbk untuk mendirikan star up platform pembayaran mobile dengan dana investasi sebesar US$ 46,8 milliar (kontan,26/8/17).

Saya agak lebay ketika merinding membaca berita tersebut, sangat luar biasa investasi yang dilakukan investor pada start-up yang ada di Indonesia. Dimana pemodal Tiongkok sangat tergiur dengan potensi pasar lokal (Indonesia) sehingga seolah-olah mereka jorjoran menebar duit ke e-commerce Indonesia. Hal ini tentunya tidak boleh di biarkan, harus ada langkah-langkah untuk meniru ide-ide kreatif untuk membuat start up yang mampu mengait investasi masuk ke Indonesia. Tidak harus investor luar, mungkin investor dari dalam negeri mungkin juga masih menjanjikan apabila diorganisir.

Apakah dengan membuat start-up akan mendapatkan investasi seperti pada tulisan di atas, TIDAK. Tidak semua menuai sukses, tidak semua start-up mampu menjawab kebutuhan pasar, tidak semua startup direspon oleh masyarakat, tidak semua start-up mampu bertahan lama. Memang dalam menumbuhkan ide-ide bisnis yang kreatif membutuhkan entitas dan jiwa-jiwa kreatif. Tidak semua orang bisa demikian tetapi bisa diedukasi agar ide kreatif itu muncul serta memiliki mindset kreatif. Tidak ada yang tidak mungkin dalam membuat ide-ide kreatif dan kemudian disusun dalam bussines plan.

Dialog dengan para pihak terkait untuk menciptakan entitas kreatif dengan saling menganalisis best practice keberhasilan bisnis start-up merupakan salah satu dari bagaimana menumbuhkan gagasan kreatif. Kemampuan melakukan analisis pasar untuk memberikan tawaran konsep bisnis, juga merupakan salah satu cara bagaimana menemukan ide bisnis baru untuk ditawarkan kepada pasar. kemudian ide bisnis kreatif tersebut dibuatkan konsep bisnis nya dan dieksekusi.

Konsep ATM (Amati Tiru dan Modifikasi) walaupun sudah usang, tetapi masih memiliki keampuhan. Coba kita amati keberhasilan Traveloka dalam mengorganisir hotel, coba kita tiru dengan mengorganisir villa-villa yang ditawarkan banyak di Kota Batu dan dengan sedikit modifikasi, akan ada start-up lokal yang menyediakan fasilitas bagi wisatawan luar Batu untuk memilih berbagai villa yang ditawarkan oleh masyarakat. Selama ini dalam pengamatan saya, masyarakat luar kota Batu, mencari referensi hotel dan villa berselancar di media sosial, bertanya temen (beberapa kali saya di inbox di medsos saya @onradsun) bertanya dimana villa yang dekat dengan tempat wisata. Hal ini tidak akan terjadi apabila ada penyedia jasa start up yang melakukan langkah tersebut.

Sepertinya bisa untuk dialokasikan Dana Desa (DD) untuk juga melakukan pengembangan dalam bisnis start-up tersebut. Semisal seperti yang saya contohkan di atas tersebut mengorganisir villa-villa dan hotel di Kota Batu (walaupun Kota tetapi ada desanya yang memperoleh Dana Desa). Bisa juga membuat data base kebutuhan kamar mandi dan dapur warganya. apabila kebutuhan kamar mandi semisal di buatkan data base (Sabun mandi, sabun cuci, shampo, odol/pasta gigi, sikat gigi dan lain-lain) dan kemudian terketahui seberapa banyak kebutuhan kamar mandi warga se desa.

Baca juga ;
Kementerian Pariwisata “Pilih” Bumiaji Sebagai Desa Wisata
BUMDesa (Membangun)kan Ekonomi Perdesaan?

Konsep ini sudah bisa dikapitalisasi oleh desa, serta mungkin penyediaannya adalah koperasi milik desa. Koperasi desa tersebut akan mengetahui, seberapa banyak kebutuhan untuk kamar mandi dalam entitas desa dalam satu Minggu, dengan disediakan kebutuhan tersebut oleh koperasi dan masyarakat desa mengambilnya di koperasi tersebut akan ada diskon 2% semisal. Dan ketika hal tersebut di buatkan aplikasi start-up, mungkin koperasi tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di desa tersebut tetapi juga antara desa dalam kota ataupun antardesa antarkota bahkan antardesa, antarkota dan antarprovinsi.

Kira-kira demikian gagasan sederhananya, memang dalam memulai akan banyak rintangan dan hambatan, dengan dukungan Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi yang didukung dengan pendamping desa, yang tentunya juga memiliki gagasan kreatif, saya rasa tidak ada yang tidak mungkin.

Salam pecel!

Bahasa Ibu dan Pengayaan Perkembangan Anak yang Sehat

0

Pertemuan saya dengan seorang perempuan bernama Wardani, di rumah susun para “imigran tanpa dokumen” di sekitar Klang Selangor Malaysia menemukan klausul penting dalam menangani anak-anak yang berkembang dengan masalah kompleks (moral, religi, ekonomi, sosial budaya, kompetensi, akademi, keluarga dan stigmatisasi identitas), wis pokoke okeh banget lah, di negara orang lain. Sebutan orang tanpa dokumen menjadi salah satu kata-kata menyayat hati, bahkan dapat menjadi pemantik perkelahian saat-saat ada situasi konflik ketika sudah menyinggung/melumat harga diri seseorang.

Wardani, perempuan paruh baya ini adalah perempuan ketiga yang menurut saya punya kepedulian dan sosok pantang menyerah yang menginspirasi hidup saya. Perempuan asal Sidoarjo ini, memutuskan tetap tinggal di Malaysia demi sebuah niat mulia, menjadi guru bagi anak-anak “tanpa dokumen.” Satu dari sekian problem anak-anak imigran Indonesia di Malaysia.

Wardani, mau tidak mau akhirnya merelakan diri tidak pulang bersama suaminya ke Indonesia untuk mengabdikan hidupnya agar anak-anak yang tidak bisa mengakses pendidikan memiliki kesempatan yang sama mengeyam pendidikan sebagaimana anak-anak Indonesia. Jika suatu waktu mereka pulang ke Indonesia, mereka tidak lagi kehilangan hak melanjutkan pendidikan.

Sudah lima tahun Wardani berada di Klang. Selama itu dia berjuang sendiri mengelola pendidikan di blok. Apalagi blok tersebut terkenal dengan orang-orang pemalak dan perilaku lain yang ekstrem. Anak-anak dibesarkan dengan lingkungan bebas dan penuh kekerasan. Begitu cerita sekilas yang terekam saat saya mulai menjadi dosen pembimbing lapangan mahasiswa PKL Psikologi. Gambaran yang miris sebagaimana diinformasikan oleh Ulfì,

“SEKEDAR CERITA PAK. MALAM INI KAMI MENDENGAR SUARA ANAK LAKI LAKI MENANGIS KENCANG. SEPERTINYA DARI BLOK K, BLOK KAMI PADAHAL BLOK J DAN KAMI MASIH DENGAR. IA MENANGIS BERTERIAK ‘SAKIT’ BERULANG KALI. DISUSUL SUARA ADIK PEREMPUANNYA YANG TERIAK ‘ABANG’ YANG SAMA MENANGISNYA. DAN SUARA ROTAN YG MEMUKUL TUBUH SI ANAK. MIRIS PAK. DAN INI GAK PERTAMA KALINYA. KAMI HANYA MENDENGAR PAK. YANG AWALNYA KAMI GUYON LANGSUNG TERDIAM DAN SIBUK DENGAN PIKIRAN MASING”.

Bagaimana hati kami tahan” ???

Bisa membayangkan bagaimana kondisi tersebut? Wardani, bahkan juga sering menghadapi serangan-serangan dari penghuni karena suatu hal yang menyebabkan munculnya ancaman-ancaman nyawa. Tapi sosok perempuan yang perawakannya mungil ini tak gentar.

Lingkungan itu juga menggambarkan seperti apa perilaku anak-anak saat sekolah. Yah, sulit dikendalikan, Bagi Wardani pun tentu bukan hal mudah, apalagi dia awalnya hanya seorang diri mengajar yang tenaganya harus dia bagi ke berbagai kelas. Tentu saja emosi dan amarah akan selalu menghantui.

Begitu juga teknik mengajarnya. Jika harus berpaku pada kurikulum, pasti tidak jalan. Apalagi jika hanya berpaku pada teori-teori semata-mata, nyaris anak-anak tidak akan bisa memahaminya.

Wardani mengatakan, untuk menghadapi perilaku anak-anak agar mereka menjadi semakin baik dan punya pengetahuan, dia mengatakan tidak semata-mata menggunakan bahasa-bahasa instruksional, tetapi kembalikan peran menghadapi anak-anak itu sebagai ibu. Dari sini pulalah Wardani, sang perempuan pemberani itu, mulai dengan segala peluang dan tantangan membesarkan anak-anak sekolah karena alasan peduli, bukan lagi bekerja sebagai guru yang digaji oleh KBRI.

Di saat mereka hanya punya ibu biologis, Wardani hadir sebagai ibu psikis bagi anak-anak di sekolah. Bahasa dan pendekatan keibuan menjadi spirit mempengaruhi anak-anak agar bisa berpengetahuan, berakhlak dan beragama.

Bahasa Ibu dan Perkembangan Jiwa Sehat Anak

Pengubahan perilaku mensyaratkan tidak hanya tuntutan hitam-putih bagi anak. Apalagi menggunakan paksaan sampai dengan jalan kekerasan. Anak-anak tidak tahu dengan akal sehatnya mengenai apa yang baik dan buruk. Biasanya anak-anak masih didominasi oleh dorongan mencari kepuasan dan kesenangan. Oleh karena itu, instruksi-instruksi dan panduan baku tidak mudah diterapkan, apalagi anak-anak yang hidup dalam lingkungan penuh kekerasan. Mereka bisa disebut anak yang “banyak tingkah dan liar,” kalau boleh menyebutnya demikian.

Wardani harus mengubah pendekatan dan perannya dari semata sebagai guru mengajar ke peran ibu. Langkah ini adalah mindset baru bagi Wardani yang harus dicamkan bagi dirinya. Titik ini saya bisa menyebut bahwa Wardani telah mendedikasikan guru tidak semata sebagai profesi tetapi sosok yang hadir dalam jiwa yang meng-indah-kan hidupnya untuk memerankan apa yang sebenarnya hilang bagi anak-anak.

Apa yang hilang itu ?. Kasih sayang dan anek bahasa tutur yang lemah lembut penuh belaian dalam mengajarkan pengetahuan dan kehidupan yang baik bagi anak. Wardani telah menjadikan profesi gurunya sebagai seni membimbing anak. Sekolah adalah ladang menebarkan ibu non-biologis yang hilang pada anak-anak sekolah.

Kualitas kedekatan juga dibangun agar anak-anak mendapatkan kenyamanan sehingga belajar mereka tidak terbebani. Atau setidaknya tuntutan belajar yang membutuhkan konsentrasi dan daya tahan dapat dilalui karena ada kenyamanan belajar dan bukan ancaman yang berujung cambukan rotan. Perhatian diberikan. Kadang pangkuan dan sentuhan fisik juga dibutuhkan untuk memberikan stimulasi kedamaian bagi anak.

Jika semuanya terpenuhi, maka anak mampu dibangun orientasi pikiran, perilaku atau dorongan positif dalam mencapai kualitas perkembangan diri. Pemenuhan tersebut dapat diciptakan melalui redistribusi peran-peran keibuan yang hilang. Misalnya saja, kedekatan yang baik dan penuh kasih menjembatani emosi-emosi positif anak sehingga mereka dapat diterima ketika anak-anak bermain. Bahkan kadang mereka dimaklumi ketika dirasa anak-anak belum tahu dampak negatif atas perilakunya. Dengan penuh kasih dan bahasa halus, ibu biasanya memberikan nasihat-nasihat kecil yang indah dengan berbagai perumpamaan, bahkan dengan mengelola bahasa yang manja. Ibu tidak menggunakan bahasa-bahasa yang menegangkan. Telinga anak menjadi akrab dan secara tidak langsung anak akan mengikuti petuah yang kadang lucu bagi anak. Pengulangan petuah tidak menyakitkan tetapi membimbing anak setahap demi setahap.

Kita juga bisa melihat  aneka lelucon yang bisa  kita temukan saat  orang tua mencoba menggoda atau membuat jok-jok pada anak-anak. Hubungan yang penuh bahagia, jok  lucu menjadi salah satu bagian dari proses menjalin hubungan yang saling ingin membentuk kebahagiaan.  Lelucon ini juga bisa berbentuk   latihan berbahasa melalui timangan, latihan berjalan dan berbagai latihan-latihan pertumbuhan  bagi anak akan selalu memunculkan aneka hubungan harmoni dan membimbing.

Melalui bahasa ibu, hubungan kedekatan merasakan anak selalu aman dan nyaman bersama dengan ibu. Anak selalu memiliki limpahan kasih sayang dan perhatian serta jaminan perlindungan dari proses bertumbuh. Bahasa ibu adalah bahasa yang digunakan membesarkan anak secara alamiah, tanpa tekanan meskipun tujuannya pasti, menjadi anak lebih baik dengan bimbingan yang penuh kesabaran.

Disinilah maksud bahasa ibu. Penggunaan bahasa ibu  yang sempurna akan sangat membantu anak berkembang dengan jiwa yang sehat. Bahasa ibu, tidak berarti bahasa verbal, tetapi ketrampilan alamiah yang melekat pada ibu ketika mereka mengasuh anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan penuh ketelatenan.

Di sinilah bahasa ibu mempunyai  peranan penting sebagai basis semangat menghadapi anak-anak imigran tanpa dokumen dengan cara alamiah. Mereka harus ditemani dengan sabar. Ketika bahasa guru yang dikuasai oleh struktur kurikulum, memang menurut Wardani tidak akan mempan menghadapi anak-anak di lokasi tersebut, karena anak terbiasa berkembang di rumah tanpa pengawasan, sedangkan kemampuan untuk menyesuaikan terhadap capaian-capaian belajar pun butuh perjuangan.

Epilog

Pendidikan menggunakan pendekatan bahasa ibu adalah pendidikan yang memanusiakan. Anak dihargai sebagai entitas manusia. Biasanya anak selalu dianggap istimewa dan selalu saja ibu memuji kelebihan anak, entah dari hal terkecil atau yang besar/teristimewa. Tidak ada kata-kata nakal, bodoh, dan penilaian negatif. Anak-anak selalu diistimewakan dan orang tua selalu menemukan kelebihannya.

Bahasa ibu adalah teknik mengasuh anak dengan pendekatan growing, bukan semata evaluasi dan penilaian. Setiap etape perkembangan dihargai sebagai proses yang kontinu. Ibu selalu hadir dalam situasi penuh pencapaian yang baik atau sebaliknya dalam proses yang sulit dan butuh bimbingan.

Kelas yang dikelola dengan bahasa ibu adalah kelas perkembangan yang ramah bagi anak. Anak diliputi penuh kasih sayang dan layanan yang baik untuk berkembang secara ramah bagi anak-anak.

Racauan Sarjana: Setelah Wisuda Mau Kemana?

0

Sudah sarjana tapi belum tau mau berkaya apa
Sudah wisuda tapi belum tau mau melakukan apa 

Miris.

Pun demikian yang terjadi dengan beberapa mahasiswa yang lulus belakangan, tidak terkecuali saya. Sebuah statement yang saya kira cukup bisa dibenarkan. Di hari seseorang resmi jadi sarjana, satu pengangguran resmi tercetak pula untuk keesokan harinya.

Lulus menurut saya bukan hanya tentang sebuah kelegaan. 

Memang benar secara moral beban kita kepada orang tua sedikit berkurang. Setidaknya yang masih dibiayai. Karena jujur meminta biaya kembali untuk memperpanjang semester dalam perkuliahan itu sedikit menyesakkan. Tapi pertanyaannya adalah sebenarnya sudah siapkan benar benar lulus dan keluar dari rutinitas kampus?

Seharusnya 4 tahun adalah waktu yang cukup untuk membekali diri. Namun tidak banyak yang bisa mempersiapkan hal itu, termasuk saya. Sebuah pertanyaan yang memang selalu saya pikirkan menjelang detik detik wisuda adalah siapkan saya melangkah. Sudah matangkah apa yang akan saya lakukan. Sudah jelaskah saya mau melakukan apa. Sudah matang kah persiapan saya.

Ketika sudah wisuda, lantas mau jadi apa ? 

Sedikit malu ketika seharusnya 4 tahun kebelakang bisa digunakan semaksimal mungkin untuk menyiapkan segalanya. Baik hard skill atausoft skill. Tapi ya kembali lagi, penyesalan selalu ada di akhir, kalau di depan namanya persiapan.

Jadi yang bisa dilakukan adalah di waktu yang sesingkat ini, di masa yang sepertinya mepet ini saya coba pikirkan lagi apa yang bisa saya lakukan ke depan. Saya harus sudah tau mau melakukan apa? Mau berkarya apa. Karena seperti lirik lagu zona nyaman fourtwnty.

“Kita ini insan bukan seekor sapi” Gimana kita bisa berkarya dari hati ? Bukan cuma ikut ikutan generasi hedon penuh obsesi. Itu yang sangat ditakutkan.

Maka dari itu di waktu yang singkat ini. Berfikir dan membuka kembali file file memori atas apa passion bisa sangat berguna menurut saya. Fase kebingungan mau jadi apa pasti dirasakan setiap mahasiswa. Tapi bagaimana melakukan strategi dalam fase kehidupan selanjutnya adalah pertanyaan semua orang dan tidak semua nya menemukan jawabannya seketika. Butuh proses dan pemikiran panjang.

Siap siap diri, jangan mudah terintervensi. 

Pikirkan baik baik apa kelebihan dan kekurangan diri. Semangat berkarya dari hati, bukan cuma untuk diri sendiri tapi juga bangsa dan negeri.

Malang 23 Agustus 2017
Dimuat ulang dari facebook @dianasaadah seijin pemilik akun