Rabu, Agustus 26, 2026
Beranda blog Halaman 102

Gerakan Menanam: Menjadi Warga Desa Sesungguhnya

0

Kampus Desa News-Bangsa ini sangatlh kaya akan keaneragaman pangan, namun kekayaan alam tersebut seakan-akan tercerabut dari akar bangsa ini. Mayarakat lebih memilih untuk mendapatkan pangan secara instan, dengan membeli tanpa kemudian mau melestarikan dan membudidayakan pangan tersebut. Hal inilah yang menjadi kegelisahan Abdullah Sam, penggagas dan penggerak Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung Kabupaten Malang.

“Kalau mau sekarang ayok! Kita bisa manen terong atau bayam di belakang sana” Cak Dul menunjuk area belakang gedung PAUD pesantren rakyat. “kita bahkan bisa manen sampai satu kilo.” Ajaknya kepada peserta Tutut Desa (08/09).

Tim tutur desa yang sebagian besar mahasiswa, duduk melingkar bersama Cak Dul mendengarkan ceritanya: sayur-sayur di kebun boleh diambil semua warga yang membutuhkan. Gratis, agar warga tidak perlu risau hanya untuk makan harian.

“warga itu sebenarnya bisa mandiri, makanan nggak usah import! Meski tida memiliki lahan luas, kita bisa menggunakan polybag yang bisa kita letakkan di teras-teras rumah atau tempat sempit lainnya.” Suara Cak Dul terdengar jelas dan tegas. Menurutnya, menanam sayuran secara mandiri dapat membantu mengurangi jumlah uang belanja harian yang dikeluarkan oleh warga. Mereka bisa memasak terong, setelah mengambilnya dari polybag depan rumah yang sudah mereka rawat.

Cerita Cak Dul membawa saya mengingat beberapa bulan yang lalu, saat harga cabe dan sayuran melonjak naik. Saya yang kala itu masih mahasiswa, harus berpikir dua kali untuk mengonsumsi cabe, dengan uang lima ribu rupiah saya hanya bisa mendapatkan sekitar 15 butir cabe. Saya juga harus menghitung dengan cermat sayur apa saja yang harus saya beli, agar tidak menguras uang bulanan. Sarapan anak kos di kota begitu penuh perhitungan. Barangkali saya hidup di sini, di desa yang dikelola oleh orang-orang yang sadar bahwa kita bisa memproduksi makanan sendiri, mungkin sarapan saya akan menjadi mudah. Lebih mudah hidup di desa, dibanding di kota.

Beberapa teman saya mungkin lebih suka makanan instan seperti mi setan dibanding nasi campur. Lebih suka makan pitza dan kfc dibanding sayur. Tapi itu bukan karena mereka butuh, melainkan pengaruh kata “hits” dan gengsi yang membelit. Pada akhirnya, tiap akhir bulan, di mana dompet menjadi semakin tipis, anak-anak kos yang sebagian besar mahasiswa itu kembali ke warung. Menyapa ibu warung dengan ramah dan memesan tempe mendol atau sayur tewel.

Kami, para anak kos yang hidup di perkotaan sana benar-benar harus kembali menjadi orang desa. Hidup sederhana dengan kemampuan sendiri, bukan sok mewah mengikuti iklan-iklan tapi di waktu yang sama harus sakit kepala untuk sarapan saja. Menanam sendiri apa yang hendak kita makan, bukan membelinya di gerai-gerai modern milik perusahaan. (uus)

Abdullah Sam: Dari Sesrawungan Sampai Teror Psikologi

0

Abdullah Sam: Dari Sesrawungan Sampai Teror Psikologi

KampusDesa News_ Jum’at, 08 September 2017. Pesantren rakyat yang berada di Desa Sumberpucung Kabupaten Malang ini sudah tidak lagi asing bagi masyarakat, khususnya masyarakat Kota dan Kabupaten Malang. Abdullah Sam yang akrab dipanggil Kang Dullah inilah yang menggagas ide awal yang di anggap konyol bagi sebagian orang dalam mendirikan pesantren rakyat ini.

Dalam penyampaiannya kepada peserta Tutur Desa, Kang Dullah mengatakan bahwa ide konyol tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap pendidikan yang sangat mahal dan keadaan masyarakat yang telah mengalamai kerusakan moral. Hal tersebut dapat diketahui karena melihat latar belakang desa Sumberpucung ini yang merupakan salah satu daerah prosritusi terbesar di kabupaten Malang.

Dari kegelisahan itu Kang Dullah juga menuturkann bahwa Pesantren Rakyat akan mewujudkan masyarakat Indonesia yang tidak lagi bergantung pada bangsa. Artinya, dari pesantren rakyat ini akan membantu dan memberdayakan masyarakat dalam segala aspek. Baik dalam aspek pendidikan, ekonomi, maupun sosial. Sehingga akan mewujudkan masyarakat bangsa yang mandiri. “Sebenarnya dalam menggagas pesantren rakyat ini telah melewati beberapa batu loncatan yang menghalanginya, namun saya tetap teguh atas keinginan mulia untuk mewujudkannya, dengan pegangan yang sangat sederhana yaitu serawung dan teror psikologi sebagai penguat terhadap masyarakat” tutur laki-laki unik yang memiliki sejuta sebutan itu.

Dalam tambahannya beliau juga menuturkan bahwa pembelajaran dan kurikulum yang digunakan di Pesantren Rakyat ini semuanya ala rakyat. Dengan tujuan agar segala kalangan rakyat dapat belajar dan dapat diterima oleh rakyat. Selain itu, Pesantren Rakyat juga memiliki panca rukun Pesantren Rakyat. Panca rukun tersebut yaitu ; jagong maton, lumbung pesantren rakyat, celengan, ngaji ngluruk, dan juga fatihahan.

Nilai-nilai aspek keislaman, keIndonesiaan dan juga kemanusiaan inilah yang sangat melekat pada diri Pesantren Rakyat sejak didirikannya pada 25 Juni 2008. Kang Dullah pun mengutarakan bahwa “Pesantren Rakyat ini ibaratnya bambu, saya mengibaratkan bambu karena meskipun kencangnya angin yang menerpa maka bambu tetap menikuti rah dan spesialnya pangkal bambu itu tidak akan goyah bahkan pangkal itu akan terus membuat jaringn-jaringan yang menguatkan serta bambu tidak akan mudah patah dan sangat kuat dimanapun bambu diletakkn” hal itulah yang membuat Pesantren Rakyat bisa sukses dan dikenal banyak orang seperti yang kita ketahui saat ini.

Perjuangan laki-laki unik yang memiliki sejuta sebutan dan juga berkharismatik dalam menggerakkan dan meyakinkan adanya Pesantren Rakyat kepada masyarakat ini dapat dikatakan sebagai perjuagan yang diluar batas manusia pada umumnya. Lagi-lagi Kang Dullah pun memiliki sejuta misi untuk sampai pada visi yang akan dicapai. Jika misi satu tidak lagi dapat diterima masyarakat, maka Kang Dullah pun menggunakan misi lain akan tetapi tetap satu tujuan yaitu untuk mewujudkan desa berdikari bagi masyarakat.

Prestasi yang dimiliki oleh Pesantren Rakyat pun sudah bukan lagi tingkat regional namun telah mmencapai tingkat nasional. Selain itu, sampai saat ini telah berdiri 130 pesantren rakyat di Indonesia yang akan bersama-sama bergerak untuk masyarakat Indonesia yang lebih baik. “Impian saya memiliki minimal 10.000 Pesantren Rakyat di seluruh penjuru nusantara”singkat kang Dullah mengakhiri diskusi ringan bersama peserta Tutur Desa. (YMS).

Tutur Desa: Menuturkan Potensi menuju Desa Berdikari

0

KampusDesa News_Kamis, 07 September 2017 Komunitas Kampus Desa melalui kegiatan Tutur Desa mengajak para cendekiawan dan juga peneliti untuk melakukan pre-report methodology dalam mempersiapkan kegiatan yang bertujuan untuk melakukan miniriset dengan pendekatan metode kualitatif etnografi serta membangun budaya publikasi yang mengutamakan keunggulan desa dengan segala keunikannya.

Dalam kegiatan ini, Ibu Ulfa sebagai narasumber diawali membuka forum dengan mengajak peserta untuk membangun sebuah perspektif dalam melihat sebuah fenomena. Perspektif yang dimaksud adalah untuk membekali peserta agar tidak ngglambyar dalam melihat fenomena yang disampaikan dalam tuturnya “ Sebenarnya kegiatan Tutur Desa ini juga untuk mendokumentasikan sumber daya yang ada pada desa terssebut, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang dimiliki desa tersebut, jadi sebelum mendokumentasikan potensi yang ada kalian harus memiliki perspektif yang akan menjadi fokus kalian masing-masing, tapi kegiatan ini dirancang dalam miniriset dan dipublikasikan secara nasional”. Dari pemaparan tutur beliau bisa di garis bawahi bahwa peserta mampu mengeksplorasi fenomena dengan sudut pandang yang fokus dan konsisten. Misalnya dalam melihat fenomena di sebuah desa, mana sudut pandang yang akan dipakai, apakah nilai-nilai kebudayaan, potensi alam, potensi SDM, atau yang lainnya. Perspektif sangat penting untuk dijadikan landasan, karena dari ini peserta/penulis bisa fokus dan mampu lebih dalam menyelami sebuah fenomena.

Selain itu, Koordinator kegiatan Tutur Desa yang bernama Agus sedikit memberi gambaran umum kepada peserta kegiatan yang sebagian besar belum memahami apa itu Tutur Desa maupun Kampus Desa ini bahwa mempunyai misi untuk menuturkan atau pun menginformasikan kepada masyarakat umum atas potensi yang dimiliki oleh desa tersebut dengan research, data dan juga studi literasi. Diharapkan dari kegiatan ini, peserta mampu memunculkan potensi-potensi desa yang tidak terlihat, tapi sebenarnya sangat terasa dan nyata, dimunculkan lewat tulisan biasa dan sederhana tapi sangat memperhatikan isi dan subtansi.

“Saya merasa sangat beruntung dapat bergabung dalam kegiatan ini, karena saya mendapatkan pandangan baru dalam melihat fenomena dengan persepektif yang jarang dipahami bahkan tidak disadari banyak orang” ungkap salah satu peserta yang bernama Ade mahasiswa dari Fakultas Psikologi UIN Malang. (Yuni Maratus Sholicha dan Ade Novit Rachmawan)

Tutur Desa; Menyebarluaskan Pitutur Orang Desa

0

Tutur Desa adalah kunjungan jurnalistik bernuansa miniriset dengan pendekatan metode kualitatif etnografi. Tujuannya adalah membangun budaya publikasi yang mengutamakan keunggulan desa dengan segala keunikannya.

Kemampuan mempublikasikan suara-suara desa akan membantu lahirnya ilmu pengetahuan lokal yang acapkali terpinggirkan dan membantu komoditas lokal dapat terpotret keluar.

Hasilnya akan dikompilasi menjadi rangkaian liputan jurnalistik dengan bahasa yang lugas dan dapat diakses secara luas.

Terima kasih kepada kandidat yang sudah berkenan meluangkan waktu berpartisipasi menjadi jurnalis, peran Anda sangat penting dalam rangka membantu suara-suara desa yang terkadang tidak pernah terdengar, padahal suara itu luar biasa, berisi ilmu pengetahuan yang perlu disebarluaskan dan bahkan bernilai sangat mahal karena komoditasnya sebenarnya kompetitif, akan tetapi tidak pernah ada teknologi yang membantu menyebarluaskan.

Bagi siapa saja yang belum sempat bergabung, silahkan mengikuti tutur desa berikutnya dengan tema dan sudut pandang yang menarik.

Atau jika desa anda ingin dituturkan agar lebih tersebar luas, sementara Anda merasa tidak punya sumberdaya manusia. Hubungi kami. Kami akan mencarikan sumberdaya yang ada untuk turun ke desa anda membantu melakukan profilisasi desa anda sehingga bisa membantu menyebarluaskan keunggulan desa anda.

Alex Ferguson MU dan Fasilitator Pendamping Desa

0

Bagi pencinta sepak bola, pasti sudah familiar dengan nama ini, Alex Ferguson yang kemudian mendapatkan gelar Sir dari kerajaan Inggris karena prestasinya mampu mengharumkan nama negara Inggris dalam hal persepakbolaan di dunia. Alex Ferguson di dunia sepak bola adalah jaminan kesuksesan. Dia menjadi kunci keberhasilan Manchester United yang menjelma menjadi klub raksasa dunia.

Ia (Alex Ferguson) menerapkan kedisiplinan luar biasa pada setiap punggawa United. Ia juga memposisikan sebagai mentor, motivator dan pembangun mental pemain-pemain muda United. Fergie (nama keren Alex Ferguson) juga memusnahkan budaya dan tradisi minum-minuman di Old Traford dengan mengeluarkan pemain-pemain yang sudah menjadi idola di United (Rose Kusuma, 2010. Alex Ferguson, Master of Old Trafford).

Apa relevansinya Sir Alex Ferguson dengan pendamping desa? Relevansinya adalah bagaimana pendamping desa yang mampu namanya menjadi jaminan keberhasilan suatu desa. Suatu desa akan mendapatkan manfaat secara bertahap naik atas pendampingan yang telah dilakukan dalam berbagai sisi. Komunitas/intitusi memiliki keyakinan bahwa pendamping desa yang ditempatkan memiliki kapasitas dan profesional dalam melakukan kerja pemberdayaan. Pendamping desa mampu untuk mengorganisir dan memoles kader desa untuk menjadi penggerak yang ada di desa,serta ada kemenangan kecil di desa, yang mampu menjadikan desa dampinganya bisa menjadi referensi desa lain dalam mewujudkan kemandirian desa. Kemenangan kecil bagi pendamping desa bisa seperti meningkatkannya jumlah usaha mikro menjadi kecil semisal, atau meningkatnya omset BUMDes.

Telaah Biografi Alex Ferguson

Merujuk biografi Alex Ferguson di buku Rose Kusuma, ada beberapa hal yang bisa dipetik dari membangun kesuksesan dalam karir dan hal ini menurut saya bisa di implementasikan dalam menssuport kualitas pendamping desa. Bukan saya menjustifikasi bahwa pendamping desa tidak berkualitas, akan tetapi bagaimana mereka juga menjadi bagian dari definisi keberhasilan dalam melakukan kerja pendamping desa.

“Istri saya selalu menyuruh keluar rumah sebelum jam 7 ( ke Old Trafford, markas Mu),” ungkap Alex Ferguson. Statement tersebut merupakan wujud dari dukungan keluarga Alex Ferguson dalam bekerja menangani club MU. Dukungan keluarga juga sangat penting bagi kita yang memposisikan diri pada bidang apapun, tak terkecuali pendamping desa. Spiritual keluarga sangat penting untuk membangun semangat dalam kerja pendamping desa. Tidak hanya bekerja secara passion saja, tetapi juga ada spiritual keluarga yang juga perlu untuk di “suntik” kan dalam setiap sentuhan dengan para pihak.

Selain dukungan keluarga yang memunculkan spiritual dalam bekerja,Alex Ferguson juga mampu mentransfer nilai-nilai positif dalam intitusi maupun tim MU. Terkesan otoriter akan tetapi juga demokratis. Menerapkan peraturan yang tidak konstruktif dan positif dalam komunitas. Dugem dan mabuk-mabukan di era Alex tidak ada, cangkrukan selepas latihan rutin untuk membangun chemistry pun menjadi rutinitas. Sehingga dengan demikian dengan pendamping desa, nilai-nilai positif dan konstruktif harus mampu untuk ditransfer dalam komunitas atau institusi. Memang tidak mudah menerapkan nilai-nilai baru pada situasi yang baru. Dengan komunikasi yang baik, komunikasi yang mampu memotivasi dan memberikan sudut pandang yang lebih luas spektrumnya, sehingga mampu menumbuhkan keyakinan akan suatu masa yang lebih baik.

Alex Ferguson sebelum menjadi pelatih MU, juga menjadi pemain sepakbola pada sebuah club di Scotlandia. Klub amatir Queens Park merupakan awal karir Alex Ferguson yang Sir ini. Ayr United adalah club terakhir yang di bela Alex Ferguson sebelum “menggantungkan” sepatunya. Jadi sangat benar apabila saat perekrutan pendamping desa dan tenaga ahli oleh Kementerian Desa PDTT menyertakan persyaratan bahwa pelamar harus telah melakukan kerja-kerja pemberdayaan. Dan tidak semua orang bisa untuk memoles potensi diri yang ada, seperti Alex Ferguson tersebut. Nah, ini yang sekiranya perlu di “sentuh” oleh tim dari kementerian desa PDTT agar muncul fasilitator yang lebih hebat. Hal itu mungkin perlu dilakukan penguatan kapasitas bagi pendamping, baik penguatan kapasitas bagaimana menjadi motivator yang baik, fasilitator yang baik ataupun menjadi character building.

Membangun mimpi

Sebelum menjadi pelatih, Alex Ferguson adalah manajer paruh waktu untuk club East Stirlingshire. Disinilah awal titik balik dari bagaimana Alex Ferguson merumuskan bagaimana dalam menciptakan tim hebat yang itu dibuktikan dengan St. Mirren berlangsung gemilang, selama 4 musim menangani klub tersebut (1974-1978). Pengalaman saat di lapangan dan menjadi pelatih paruh waktu, dijadikan referensi kebijakan dalam mengelola tim. Disinilah bagaimana mimpi-mimpi Alex Ferguson di implementasikan dengan referensi yang dimiliki saat menjadi pemain dan manajer pelatih paruh waktu.

Dalam melatih st. Mirren, Ferguson mengangkat klub kecil yang tadinya hanya ditonton oleh 1000 orang dalam pertandingan kandanganya itu menjadi juara Liga Skotlandia pada musim 1977 dengan permainan menyerangnya. Selain itu ia berjasa dalam menemukan bakat-bakat muda (Wikipedia.org). Maka jangan heran, saat si MU pemain yang menjadi bintang di MU dilepaskan, walaupun publik skeptis dan nyinyir dengan kebijakan tersebut, tapi Ferguson bergeming. Pemain-pemain bintang muda pun bermunculan tidak hanya didominasi oleh itu-itu saja. Inilah pentingnya kaderisasi dalam entitas, sehingga entitas tersebut mampu menghasilkan produksi kader yang hebat dan luar biasa.

Tidak mudah memang, mengamati, mendidik dan memberikan peran pada kader, selayaknya Alex Ferguson. Akan tetapi dengan kerja keras dia mampu memoles David Beckham, Cristiano Ronaldo, Ronie, Ibrahimovic, Van Persie dan lain sebagainya. Banyak sekali yang diciptakan oleh Alex Ferguson dalam memenuhi kebutuhan tim dan merekrut pemain yang biasa-biasa saja dan dijadikan luar biasa.

Ada transformasi di situ, yang di-delivery sangat baik sehingga apa yang dikader mampu menjalankan seperti apa yang diskenariokan oleh mentor.

Evaluasi dalam mewujudkan visi

Dalam mengontrol perkembangan tim serta untuk mengetahui jalan apa yang harus dilakukan agar kemampuan kemajuan menjadi lebih baik, selalu dilakukan oleh Alex Ferguson bersama asisten dan pelatih fisik, pelatih teknik dan lain sebagainya. Disinilah akan terpenuhi gambaran tim secara utuh, sehingga dalam mengambil keputusan berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan, keputusan yang diambil tentunya merujuk atas mimpi apa yang ingin dibangun. Catatan yang berisi target, indikator keberhasilan, keberhasilan (kemenangan) yang merupakan guideline dalam mencapai visi sangat penting untuk selalu dievaluasi, sehingga semua bisa diukur, sejauh mana keberhasilan dan tantangan yang harus dihadapi oleh tim atau entitas tersebut.

Tidak kalah penting adalah, bagaimana mendelevery kebijakan yang jangan sampai kebijakan tersebut dimaknai lain, yang pada akhirnya akan menciptakan disorientasi pada sasaran yang akan di “intervensi’. Teknik komunikasi, dimana komunikasi yang memanusiakan manusia, bahwa suatu entitas tersebut terdiri dari manusia, inilah yang perlu untuk dilatih. Karena menyentuh secara filosofis atas entitas dalam konteks manusia sangat diperlukan latihan dan pemahaman yang komprehensif manusia.

Hal inilah menurut saya, bagaimana pendamping desa memiliki cara untuk memotret manusia dalam entitas yang ada untuk selanjutnya dirumuskan dalam konsep yang kompleks sehingga diharapkan mampu menjadi kader yang unggul dalam menggerakkan pemberdayaan masyarakat (manusia).

Salam Pecel!

Gelas dan Teko Bambu

0

Kerajinan bambu diproduksi oleh warga masyarakat di Kampung Bambu di sebuah desa di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Meski masih terbatas dalam proses produksi, karena hanya mengandalkan kemampuan tenaga manusia, produk Gelas dan Teko Bambu kabarnya sudah dilirik untuk komoditas ekspor. Mari ikut membeli produk lokal dan membantu mendorong percepatan pasar usaha masyarakat.

Informasi selengkapnya silahkan hubungi sendiri melalui nomer handphone +6281216959161. Jika Anda agak kesulitan menghubungi, bersabarlah. Maklum, desa tempat berproduksi sangat pelosok sehingga kadang pancaran sinyal agak susah.

Lihat produk lain di anekadodolan.com

MEMBANGUN GERAKAN LITERASI DESA; Catatan dari Trenggalek

0

Ketika “kepala suku” Mojok.Co mengajak membangun—apa yang ia istilahkan—“Literasi Berbasis Kampung”, saat ia berdiskusi dengan kami di salah satu komunitas di Desa Gayam Kecamatan Panggul, ia mencontohkan bagaimana anak-anak sekarang tidak tahu nama-nama yang berbau lokal. Misal kita tanya saja anak-anak sekarang, termasuk kita sendiri, tentang nama-nama pisang dengan merujuk pada bentuk dan ukuran pisang. Atau nama-nama tanaman dan hal-hal yang bersifat lokal. Dijamin semakin banyak dari kita yang semakin tidak hafal nama-nama benda-benda apa saja yang ada di lingkungan kita sendiri.

Yang saya tangkap kemudian adalah bahwa Mas Puthut sedang mengajak kami untuk menulis hal-hal yang berbau lokal. Mari kita buat tulisan yang mengangkat tema-tema lokal, agar narasi kita yang kita sebarkan ke pembaca akan membuat nama-nama lokal itu akan terus terngiang di masyarakat. Tapi bukan itu saja. Juga harus dibuat kegiatan-kegiatan kebudayaan yang mengangkat dan membangkitkan kembali hal-hal yang bermuatan lokal.

Lalu diskusi yang memang tidak terstruktur malam itu banyak bercerita tentang konservasi air setelah beberapa orang menguraikan situasi kekinian di mana ancaman terhadap kelangkaan air ada di depan mata. Kami diskusi tentang hilangnya banyak ‘mason’. Tentang banyaknya pohon kelapa sawit yang mulai tumbuh di tanah-tanah desa Trenggalek terutama di wilayah pegunungan dan efek kerakusan tanaman itu terhadap air.

Diskusi tentang literasi dan seputar dunia tulis-menulispun semakin redup dan menghilang. Tapi tidak mengapa, karena inti literasi adalah membuat kita semua melek terhadap informasi dan tercerahkan, atau sekedar mengingat kembali info-info yang sudah pernah kami dengar dan diingatkan kembali oleh diskusi.

Sayapun tahu sejak awal bahwa gerakan literasi bukan hanya sekedar bisa membaca dan menulis, tetapi juga menggunakan kemampuan itu untuk meningkatkan wawasan dan mendorong kita berpartisipasi aktif untuk menyikapi persoalan-persoalan kita sendiri. Sebagaimana kalau kita membaca definisi UNESCO tentang literasi juga menyebutkan bahwa gerakan ini harus mendorong orang untuk “fully participate” atau berpartisipasi aktif.

Sebagaimana yang saya pahami dari definisi UNESCO, maka saya beranggapan bahwa gerakan literasi adalah sebuah proses juga, bukan sekedar tujuan akhir. Gerakan literasi adalah gerakan pemberdayaan melalui kemampuan berliterasi. Dalam bahasa sederhananya sebagaimana yang sering kami kampanyekan adalah soal budaya baca sebagai basis kegiatan menggapai pengetahuan, terciptanya nalar kritis, imajinasi kreatif. Asumsinya adalah bahwa dengan semakin terbuka imajinasi untuk memahami dunia dengan dialektikanya, dengan relasi-relasi antar bagian-bagiannya.

Berhadapan dengan hal-hal yang rumit dan tak terjelaskan, setelah banyak memiliki pengetahuan dan nalar imajinatif, orang bisa mengurai hubungan-hubungan yang ada dalam hidupnya. Dengan pemahaman tentang hubungan-hubungan antar suatu hal dengan pemahaman baru, orang yang terliterasikan akan menemukan dunianya yang baru. Dunia yang kian mudah untuk dihadapi dengan pikiran dan kemudian dengan sikap dan tindakan. Orang yang terliterasikan kemudian akan mudah untuk berperan mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan membantu mengatasi masalah orang lain.

Di sini, pada awalnya gerakan literasi adalah gerakan membuat semakin banyak orang membaca dan menulis. Membaca sebagai budaya akan membantu imajinasi kreatif. Sedang ikutannya adalah budaya menulis dan bicara yang membuat orang bisa menyampaikan pesan, informasi, persuasi atau berkomunikasi untuk mengatasi masalahnya. Dari kemampuan memahami menjadi kemampuan berkomunikasi dan berpartisipasi aktif inilah sebenarnya jantung dari gerakan literasi itu.

Maka kemudian, saya menceritakan pada malam itu bahwa ajakan Mas Puthut untuk mengangkat narasi-narasi lokal sebenarnya sudah mulai berjalan di Trenggalek. Saya menceritakan apa yang sudah kami pikirkan dan diskusikan, sebagian juga sudah kami lakukan. Juga dilakukan oleh orang-orang Trenggalek lain. Pertama, baru saja kami menerbitkan buku kumpulan cerita pendek yang berbasis cerita lokal. Di dalamnya mengangkat kisah manusia di desa-desa Trenggalek. Tentang bencana alam, tentang manusia yang sulit menghadapi kehidupan. Juga tentang potensi-potensi budaya lokal. Nama-nama lokal seperti “balung kuwuk”, “gaplek”, “ramban”, dan seting tempat lokal juga menjadi latarbelakang narasi yang digarap para penulisnya.

Kedua, saya juga sering mendiskusikan dengan teman-teman literasi baik dalam bentuk tulisan maupun obrolan lisan tentang keharusan untuk mendata potensi lokal yang ada. Bahkan dari sisi seni-budaya kami bersama teman-teman literasi sudah mendata dan mendokumentasikan kekayaan seni-budaya Trenggalek di desa-desa dan kecamatan-kecamatan. Buku “Peta Budaya Trenggalek 2016” adalah bukti nyata tentang hal itu.

Saya juga pernah menulis tentang upaya melakukan ketahanan pangan dengan cara mendata tanaman apa saja yang sebenarnya enak di makan yang ada di Trenggalek, dan gagasan untuk mendokumentasikan kuliner dan olahan tradisional khas Trenggalek sebenarnya sudah saya lontarkan jauh-jauh hari. Bahkan ketika sebagai ketua Karangtaruna di Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, kami juga mengadakan kegiatan Pesta Rakyat Desa yang salah satu acaranya adalah mendatangkan para pengolah kuliner lokal untuk menyajikan makanan tradisional seperti Kicak, Cenil, Sompil, Gethuk, Gatot, dan lain-lain. Seingat saya itu terjadi pada tahun 2009.

Waktu itu, para peserta dipersilahkan makan sajian kuliner gratis. Kami membiayai pembuatannya oleh ibu-ibu produsen dan penjual kuliner lokal. Selain sajian seni Tiban, Pencak Silat, Perform menganyam Jala dari desa kami. Meski acara waktu itu hanya berjalan sehari, setidaknya momentum bersejarah itu seingat saya adalah yang pertama yang saya lihat. Meskpun acara diinterupsi sebentar oleh seremonial, di mana waktu itu Ketua Karangtaruna Kabupaten dan seorang perwakilan dari Dinas Sosial Propinsi memberikan sambutan.

Gagasan untuk membuat buku “Peta Kuliner Trenggalek” juga sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Meski belum terealisasikan, tentunya hal ini akan terus berusaha diupayakan untuk digarap. Dan misal ide ini dieksekusi oleh orang atau komunitas lainpun, tidak menjadi masalah. Karena pada dasarnya gagasan kreatif itu harus disebarkan dan siapapun boleh mengeksekusinya karena pada dasarnya tujuan dan manfaatnya adalah untuk banyak orang.

Ketiga, pihak lain di luar komunitas masyarakat, khususnya pemerintah juga pernah mengadakan “Lomba Menulis Sejarah Desa” yang dilakukan dua tahun lalu. Dengan peserta ratusan mulai anak SD, SMP, dan SMA kegiatan ini juga cukup bermanfaat karena anak-anak selaku penulis diminta untuk mendapatkan data dari sumber-sumber sejarah, baik sejarah ilmiah maupun mitos. Setidaknya sudah ada ide untuk menyadari pentingnya sejarah lokal—yang juga disinggung oleh Mas Puthut tentang sejarah desa dan sudah dilakukan.

Ada lagi kegiatan literasi berbasis desa, yang digagas oleh Mas Bonari Nabonenar, yang dilakukan di Desa Cakul Kecamatan Dongko pada tahun 2009. Namanya adalah Festival Sastra Jawa dan Desa. Skala kegiatannya lebih luas karena mengundang banyak aktivis budaya dari berbagai kota, di antaranya adalah sastrawan yang namanya cukup populer, ada aktivis lingkungan dan pegiat pertanian organik dari Yogyakarta yang mengisi workshop dan diskusi.

Kegiatan dan ide-ide tentang literasi berbasis kampung, jika dilihat dari apa yang pernah ada, dan sedang digagas, bukan hal baru untuk Trenggalek. Ide-ide selalu muncul, meskipun pada tataran eksekusi kegiatan dan konsistensi gerakan bisa dikatakan naik turun, serta pengaruhnya belum maksimal.

Saya pikir, poin ini adalah terkait dengan diskusi tentang eksistensi dan pengaruh sebuah gerakan. Sejauh mana pengaruh sebuah gerakan bagi kesadaran massa (pengaruh keluar) dan bagi perubahan tingkahlaku berbagai jenis sasaran yang diharapkan berubah tingkahlakunya perlu dianalisa lebih jauh. Tetapi efek dari gerakan literasi yang lahir normal tanpa bedah cesar sejak tahun 2010, lewat arisan sastra-budaya, saya kira bisa dilacak jejak-jejaknya. Keberadaan komunitas literasi dengan berbagai varian model geraknya, di beberapa titik dan “kantong” di Trenggalek saya kira dengan mudah dilacak dari masa lalu.

Sejarah kadang berjalan tanpa kita sadari. Dialektikanya terus berjalan. Semua berkait-kaitan antara satu peristiwa budaya dengan efek penyadarannya yang bersemai di berbagai tempat yang kemudian tak kelihatan. Hingga kita tiba di era di mana Desa menjadi buah bibir karena dianggap berpotensi untuk menggerakkan literasi untuk mendorong pembangunan. Ada yang mulai menyadari pembangunan taman bacaan. Ada yang menyadari perlunya partisipasi aktif rakyat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan berbasis dana desa dan dana lainnya. Ada gerakan lingkungan hidup, dan berbagai gairah meliterasikan desa-desa dengan berbagai cara.

Saya pikir, kita tidak boleh puas. Kita justru harus merasa belum puas karena ide-ide yang kita gagas belum banyak yang terealiasikan. Gerakan intelektual untuk menyemaikan ide tak boleh berhenti, tapi yang terpenting adalah gerakan meliterasikan rakyat dan kaum muda untuk mau berpartisipasi aktif membangun desanya masing-masing.***

START-UP Lawan Dana Desa, Bisnis Desa di Era Digital

0

Kampusdesa.or.id–JD.com milik Ricard Liu investor asal China menyuntikkan dana sekitar US$ 100 juta setara dengan Rp 1,34 Triliun ke Go-Jek (US$ 1=Rp 13.400). Go-jek juga mendapatkan investasi dari Ma Huateng US$ 100 juta-150 juta. JD.com bersama expedia ini,east Ventura, hilhouse capital group dan sequoia capital) juga menguyur Traveloka sebesar US$ 500 juta. Jack Ma dengan alibaba.com nya juga mengelontorkan US$ 1,1 milliar ke Tokopedia. Jack Ma juga melakukan aksi patungan alias join Ventura bersama PT Elang Mahkota Teknologi tbk untuk mendirikan star up platform pembayaran mobile dengan dana investasi sebesar US$ 46,8 milliar (kontan,26/8/17).

Saya agak lebay ketika merinding membaca berita tersebut, sangat luar biasa investasi yang dilakukan investor pada start-up yang ada di Indonesia. Dimana pemodal Tiongkok sangat tergiur dengan potensi pasar lokal (Indonesia) sehingga seolah-olah mereka jorjoran menebar duit ke e-commerce Indonesia. Hal ini tentunya tidak boleh di biarkan, harus ada langkah-langkah untuk meniru ide-ide kreatif untuk membuat start up yang mampu mengait investasi masuk ke Indonesia. Tidak harus investor luar, mungkin investor dari dalam negeri mungkin juga masih menjanjikan apabila diorganisir.

Apakah dengan membuat start-up akan mendapatkan investasi seperti pada tulisan di atas, TIDAK. Tidak semua menuai sukses, tidak semua start-up mampu menjawab kebutuhan pasar, tidak semua startup direspon oleh masyarakat, tidak semua start-up mampu bertahan lama. Memang dalam menumbuhkan ide-ide bisnis yang kreatif membutuhkan entitas dan jiwa-jiwa kreatif. Tidak semua orang bisa demikian tetapi bisa diedukasi agar ide kreatif itu muncul serta memiliki mindset kreatif. Tidak ada yang tidak mungkin dalam membuat ide-ide kreatif dan kemudian disusun dalam bussines plan.

Dialog dengan para pihak terkait untuk menciptakan entitas kreatif dengan saling menganalisis best practice keberhasilan bisnis start-up merupakan salah satu dari bagaimana menumbuhkan gagasan kreatif. Kemampuan melakukan analisis pasar untuk memberikan tawaran konsep bisnis, juga merupakan salah satu cara bagaimana menemukan ide bisnis baru untuk ditawarkan kepada pasar. kemudian ide bisnis kreatif tersebut dibuatkan konsep bisnis nya dan dieksekusi.

Konsep ATM (Amati Tiru dan Modifikasi) walaupun sudah usang, tetapi masih memiliki keampuhan. Coba kita amati keberhasilan Traveloka dalam mengorganisir hotel, coba kita tiru dengan mengorganisir villa-villa yang ditawarkan banyak di Kota Batu dan dengan sedikit modifikasi, akan ada start-up lokal yang menyediakan fasilitas bagi wisatawan luar Batu untuk memilih berbagai villa yang ditawarkan oleh masyarakat. Selama ini dalam pengamatan saya, masyarakat luar kota Batu, mencari referensi hotel dan villa berselancar di media sosial, bertanya temen (beberapa kali saya di inbox di medsos saya @onradsun) bertanya dimana villa yang dekat dengan tempat wisata. Hal ini tidak akan terjadi apabila ada penyedia jasa start up yang melakukan langkah tersebut.

Sepertinya bisa untuk dialokasikan Dana Desa (DD) untuk juga melakukan pengembangan dalam bisnis start-up tersebut. Semisal seperti yang saya contohkan di atas tersebut mengorganisir villa-villa dan hotel di Kota Batu (walaupun Kota tetapi ada desanya yang memperoleh Dana Desa). Bisa juga membuat data base kebutuhan kamar mandi dan dapur warganya. apabila kebutuhan kamar mandi semisal di buatkan data base (Sabun mandi, sabun cuci, shampo, odol/pasta gigi, sikat gigi dan lain-lain) dan kemudian terketahui seberapa banyak kebutuhan kamar mandi warga se desa.

Baca juga ;
Kementerian Pariwisata “Pilih” Bumiaji Sebagai Desa Wisata
BUMDesa (Membangun)kan Ekonomi Perdesaan?

Konsep ini sudah bisa dikapitalisasi oleh desa, serta mungkin penyediaannya adalah koperasi milik desa. Koperasi desa tersebut akan mengetahui, seberapa banyak kebutuhan untuk kamar mandi dalam entitas desa dalam satu Minggu, dengan disediakan kebutuhan tersebut oleh koperasi dan masyarakat desa mengambilnya di koperasi tersebut akan ada diskon 2% semisal. Dan ketika hal tersebut di buatkan aplikasi start-up, mungkin koperasi tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di desa tersebut tetapi juga antara desa dalam kota ataupun antardesa antarkota bahkan antardesa, antarkota dan antarprovinsi.

Kira-kira demikian gagasan sederhananya, memang dalam memulai akan banyak rintangan dan hambatan, dengan dukungan Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi yang didukung dengan pendamping desa, yang tentunya juga memiliki gagasan kreatif, saya rasa tidak ada yang tidak mungkin.

Salam pecel!