Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 101

Visualisasi Gerakan Pesantren Rakyat Nasional Se-Tahun Ke Depan

0

Menjadi fasilitator pertemuan jaringan selalu menarik bagi saya sendiri. Apalagi pertemuan tersebut adalah pertemuan jaringan Pesantren Rakyat Nasional ke-3 di Sumberpucung Kabupaten Malang. Daerah yang dekat bendungan Sutami Karangkates.

Apa yang menarik di pertemuan tersebut ? Pesantren Rakyat berdiri di berbagai belahan kota, perlu memiliki prioritas. Pesantren Rakyat ada karena alasan yang mendasarinya bukan karena kebutuhan pendidikan agama semata-mata. Pesantren Rakyat bukan lembaga yang diperuntukkan semata-mata melakukan layanan pendidikan keagamaan. Berbeda dengan pendirian pesantren di beberapa tempat. Pendirian pesantren biasanya dilatarbelakangi oleh keinginan memberikan pelayanan pendidikan agama melalui pengajaran ala pesantren. Pesantren kemudian menunggu atau mencari santri untuk turut serta ambil bagian dalam proses pendidikan agama tersebut.

Mohammad Mahpur | Memberikan fasilitasi rencana tindak lanjut Pesantren Rakyat Nasional

Pesantren Rakyat berdiri atau ada bukan untuk tujuan itu. Pesantren dibangun bertujuan untuk mengembangkan komunitas dimana tempat tinggal dari seorang pengasuh tinggal. Pesantren hadir sebagai representasi desa atau komunitas, bukan representasi kyai dengan syarat mempunyai gedung atau situs pesantren yang lengkap. Pesantren rakyat boleh berdiri tanpa syarat memiliki gedung, tempat ibadah, ruang kelas untuk belajar atau lain sebagainya yang menjadi kekuatan prasarana sebuah pesantren.

Pesantren didirikan lebih mengutamakan proses interaksi antaranggota komunitas yang ingin maju. Seorang yang memiliki kemampuan menggerakkan dan memberdayakan orang-orang yang memiliki keinginan maju atau mendorong orang-orang di sekitar memiliki perubahan yang lebih baik, maka pesantren rakyat bisa berdiri.

Melihat kebutuhan tersebut, agama diposisikan tidak sebagai agama yang diajarkan, tetapi agama yang mampu didialogkan dengan warga atau komunitas. Pesantren rakyat dengan begitu merupakan ruh perubahan, bukan ruh pendidikan. Pendidikan tanpa perubahan melahirkan birokratisasi pendidikan dan masuk sebagai alat bisnis. Begitu juga agama. Jika hanya ditempatkan dalam lembaga, dia akan rawan dijadikan sebagai komoditas.

Pesantren Rakyat adalah cara menghidupkan kembali peran-peran agama yang mampu didialogkan dengan masyarakat sehingga membawa perubahan-perubahan yang sangat dibutuhkan bagi seluruh orang yang terhubung dengan pesantren. Pesantren rakyat adalah pesantren tanpa gedung. Pusat pembelajarannya ada di masyarakat. Oleh karena itu, sumberdaya komunitas dapat dijadikan sebagai sumber belajar, bukan semata sumber belajar dimiliki seluruhnya oleh seorang kyai yang menyediakan sumberdaya untuk santri. Sumberdaya belajar bisa dari dan untuk komunitas lokal.

Berdasarkan informasi sekilas Pesantren Rakyat, maka pengembangan pesantren rakyat agar bisa terhubung dengan spirit di atas dapat dijabarkan dari hasil diskusi kelompok berdasarkan kejeniusan lokal dari para penggerak. Pengembangan ini dirangkum dalam rencana tindak lanjut. Sedikit saya singgung di sini, bahwa rencana tindak lanjut dibangun dari yang sudah dimiliki oleh penggerak, baik sebagai individu atau yang sudah memiliki komunitas atau lembaga yang menjadi bagian dari ruh pesantren rakyat.

Semua orang menulis apa saja yang sudah dicapai dan mimpi apa yang diinginkan. Semua dikumpulkan menjadi satu dan kemudian disatukan menjadi gagasan besar yang segera harus diwujudkan di pesantren rakyat pada masing-masing jaringan. Setelah ketemu capaian dan mimpi, maka kelompok diminta membangun visualisasi simpul gerakan. Berdasarkan keseluruhan pendapat, maka terkumpul sejumlah simpul gerakan yang akan dipilih dan diterjemahkan dalam satu tahun ke depan.

Berikut penjabaran untuk visualisasi gerakan yang diklasifikasikan kedalam beberapa kegiatan yakni,

Gerakan Pesantren Peduli. Kegiatan atau visualisasi setahun kedepan para penggerak pesantren menguatkan kegiatan-kegiatan yang bernuansa kepedulian. Kepedulian ini dapat difungsikan sebagai bagian dari membebaskan berbagai bentuk ketidakberdayaan, membantu orang lain untuk berubah lebih baik, memperhatikan dan mendorong agar semua orang yang berada di sekitar pesantren rakyat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang semakin sejahtera.

Gubuk Qurani. Jikalau di pondok-pondok pesantren belajar Al-Quran mengutamakan belajar tartil, hafalan, mengaji tafsir dan beberapa kegiatan pengajian konvensional, maka pesantren rakyat mendorong agar mulai tahun ini mempunyai gerakan gubuk qurani. Gubuk itu kalau di desa adalah tempat-tempat yang ada di sawah atau tempat berteduh yang didirikan oleh masyarakat di sejumlah tempat. Bahkan gubuk ini menjadi tempat publik berkumpul atau beristirahat. Tempat saat istirahat, makan atau tidur-tiduran sementara di sawah, atau di tegal. Makna lebih praktisnya, al-quran yang dikembangkan oleh pesantren rakyat adalah al-quran yang mampu berdialog dengan realitas. Al-quran yang mampu menyapa di relung-relung kehidupan masyarakat. Maka, pada titik krusial al-quran harus dipelajari untuk menjawab kebutuhan dan kehidupan masyarakat. Jadi nantinya ada al-quran dengan tafsirnya tentang air, tentang pertanian, tumbuh-tumbuhan dan berbagai kebutuhan menghidupkan dialektika kearifan lokal. Boleh jadi disebut dengan istilah al-quran berkearifan lokal.

Pasar Rakyat. Setiap pesantren rakyat tidak boleh hanya berpangku tangan. Apalagi mengandalkan proposal. Jikalau mengandalkan proposal dan berharap pada pemberian orang, maka pesantren rakyat hanya melahirkan kader-kader pekerja, bukan pebisnis atau pewirausaha. Pesantren rakyat harus mandiri. Salah satunya wajib memiliki gerakan kewirausahaan. Maka sebaiknya ada gerakan merangsang tumbuhnya kegiatan-kegiatan ekonomi di masing-masing tempat yang ada pesantren rakyatnya dengan menciptakan pasar rakyat. Selain itu, para jiwa penggerak pesantren rakyat harus mandiri finansial. Syarat yang dibutuhkan adalah mengenali diri sendiri agar memiliki mindset (pola pikir) tanpa batas. Jadi mentalitasnya adalah mentalitas tanpa batas.

Personal Literacy. Mimpi memiliki kemampuan menciptakan media luar biasa. Bahkan harus punya media internasional. Mempunyai TV pun menjadi impian. Media literasi yang sudah dimiliki antara pesantren rakyat.com dan koran dwi-mingguan Inspirasi Pendidikan. Namun, penekanan yang paling penting adalah personal literasi. Apalagi pada zaman digital. Personal literasi dimaksud setiap anggota yang terhubung dengan Pesantren Rakyat wajib melek media dan menjadi pegiatnya, baik yang off-line atau online. Utamanya, untuk sekarang ini agar personal literacy dapat dikembangkan seperti citizen journalism menggunakan media sosial. Media sosial ini dapat digunakan dengan maksimal karena viturnya sudah dapat digunakan siaran langsung. Makanya setiap orang diharapkan selalu memosting status positif, berita atau gambar kegiatan dan lain sebagainya.

Pendidikan Impian. Pendidikan yang diselenggarakan oleh Pesantren Rakyat adalah pendidikan holistik (menyeluruh) dan mengutamakan perkembangan anak-anak si pembelajar. Pendidikan impian perlu mendobrak kebakuan. Bukan terpusat pada hegemoni/pengekangan kurikulum yang membuat anak tidak berkutik. Pendidikan itu tergantung pada kreasi gurunya. Sebagai lokomotif perubahan pendidikan, maka pusat pengembangan pendidikan impian ada di Pondok Hidayatul Muntolibin Ngadiluwih Kediri. Pendidikan yang berpusat pada sisiwa adalah pendidikan yang menghargai talenta dan menerapkan keragaman peserta didiik sebagai pusat pengembangan belajar. Setiap anak unggul dan keunggulan ini perlu dirangsang menggunakan pendidikan. Pendidikan impian juga menciptakan pembelejaran kemandirian finansial dan penghargaan terhadap murid dan guru.

SANGGAR SENI BUDAYA PESANTREN RAKYAT. Kedatangan Fahruddin dari Kademangan Blitar menambah heboh kekhasan Pesantren Rakyat. Fahrudin adalah seorang dalang muda berbakat. Bahkan dia sudah mempunyai sanggar seni budaya. Oleh karena itu, melalui rujukan potensial ini, maka setiap pesantren rakyat disarankan untuk mendirikan sanggar seni budaya. Sanggar ini bisa nunut (menumpang) di rumah-rumah warga. Mengapa sanggar seni penting. Seni memiliki harmoni dan menaungi asah kecerdasan para pelaku seni. Mereka mampu berkumpul dalam keragaman. Keragaman justru menjadi suara indah. Seni juga melatih emosi menjadi lebih matang. Oleh karena itu Sanggar seni budaya adalah varian yang perlu dikembangkan untuk merangsang pengakuan keragaman yang mencerdaskan emosional para warga.

Demikian catatan ini semoga menjadi pemantik dan perekat untuk satu tahun ke depan.

Liputan ini merupakan kegiatan TUTUR DESA dari kampusdesa.or.id bekerjasama dengan pesantrenrakyat.com | gusdurianmalang.net | kotatua | jelajahkampung.com | sambel bledeg mbak atik | caffe literasi oase

Selempang Batok Kelapa

0

Slempang ini terbuat dari batok kelapa. Kreasi orang desa yang patut diapresiasi. Batok kelapa adalah komoditas desa yang sangat melimpah dan menjadi limbah yang dapat dikembangkan menjadi aneka produk baru. Salah satunya adalah selempang. Produk ini kemudian disebut dengan brand Selempang Sweet and Girly.

Bagi anda peminat produk ini atau ingin melakukan pengembangan pasar terhadap produk ini, silahkan hubungi tautan atau telepon di bawah ini.

Informasi tentang produk, silahkan anda menghubungi +62 813-5916-8875 atau klik di Selempang Sweet and Girl yang memfasilitasi publikasi produk-produk andalan desa.

Layanan produk-produk desa juga bisa anda dapatkan di laman pengembangan produk-produk desa menuju produk berkualitas. Silahkan kunjungi di anekadodolan.com

Tangki Cinta, Jalan Merajut Kelanggengan Pasangan

0

Bulan kemarin ini banyak keponakan yg menikah. Jadi malam ini saya akan bicara sedikit tentang Bahasa Kasih.

Setiap orang memiliki tangki cinta dalam dirinya. Jika tangki cintanya penuh, dia akan merasa dicintai dan mudah pula memberikan cintanya kepada Anda. Sebaliknya pula yang akan terjadi jika tangki cintanya kosong. Dunia akan terasa gersang.

Menjadi kewajiban kita untuk tetap menjaga agar tangki cinta pasangan kita terus penuh. Kalau kita mengambil, maka kita harus segera mengisinya kembali.

Untuk bisa mengisi tangki cinta pasangan Anda, maka Anda perlu tahu dulu apa BAHASA KASIH pasangan Anda. Jika tidak tahu, maka maksud hati menunjukkan cinta atau mengisi tangki cinta, tetapi yang terjadi justru mengurasnya. Jika terus menerus terjadi, lama lama tangki cinta pasangan kita kosong dan kalau terjadi jalan buntu, pengadilan agama akan menjadi tempat kita menyelesaikan masalah.

Sebagian besar pasangan yang bercerai, karena tangki cintanya sudah kosong. Rumah tangga menjadi seperti neraka. Apalagi sudah tangkinya kosong, dompetnya juga kosong. Namanya neraka kuadrat.

Pesantren Rakyat: Jawaban Atas Keresahan Pendidikan

0

Rani Auliawati Rachman

(Peserta Tutur Desa Indonesia, Pegiat Pustaka Sumberpucung)

Hari kedua kegiatan lanjutan Tutur Desa yang dilaksanakan di Pesantren Rakyat di daerah Sumber Pucung, Malang Selatan. 1 jam sebelum acara pembukaan Pertemuan Nasional III Pesantren Rakyat, pserta Tutur Desa memiliki kesempatan untuk jagongan dengan Pak Abdullah Sam pendiri dari Pesantren Rakyat di Sumber Pucung.

Sekali lagi dalam dua minggu terahir ini bertemu dengan seseorang yang memiliki kerisauan dan kegelisahan dengan sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang seharusnya dapat diterimakan oleh semua rakyat Indonesia, kesamaan untuk mendapatkan hal pendidikan harus digelorakan oleh semua element bangsa. Hal ini segaris lurus bahwa dalam dataran ideal, sudah sejak lama diketahui bahwa lemah harus dibela, yang kuat harus dilawan; rakyat mesti diberitahu hak-haknya, penguasa mesti ditegur kesadarannya, kalau perlu dengan perjuangan dan perlawanan. Sayangnya, itu semua kerap hanya mengapung di ruang seminar, diskusi dan perkuliahan. Sementara rakyat, jangankan mampu memperoleh apa yang jadi haknya, bahwa sesungguhnya mereka punya hak pun mereka tidak pernah tahu. Yang mereka tahu hanyalah tunduk, manut, dan melawan berarti bunuh diri.

Keadaan ini memaksa insan akademis untuk menemukan terobosan baru guna memecah kebuntuan antara wacana yang melempem di wilayah praksis dengan realitas yang minim perencanaan. Salah satu terobosan itu adalah dengan ikut terlibat berlajar bersama rakyat untuk menentukan cita-cita bersama dan bagaimana meraihnya. Sehingga memutuskan untuk mendirikan sekolah yang bisa dikatakan sekolah informal dengan sistem pendidikan yang berbeda dengan pendidikan formal.

Sama-sama memiliki kesamaan bergerak di daerah pedesaan dan atau orang pinggiran untuk memberikan kehidupan yang lebih baik. Dan kali ini bertemu dengan Bapak Abdullah Sam pendiri Pesantren Rakyat di Sumberpucung, Malang yang juga memiliki kegelisahan terhadap pendidikan di Indonesia sehingga membangun pesantren Rakyat untuk memberikan pendidikan yang murah dan bisa dijaungkau oleh semua kalangan.

Ketika bertemu dengan mereka dan jagongan bersama saya menemukan kesamaan dari orang-orang ‘Kenthir’ ini, ‘Kenthir’ dalam hal ini bukanlah yang berkonotasi negatif tapi lebih kepada istilah plesetan yang bersifat positif, ‘khentir artinya dieperuntukan bagi orang-orang yang bekerja melebihi takaran (tidak hitung-hitungan), bahkan kepentingan pribadi tidak diutamakan, langkahnya bukan lagi bertujuan untuk mencari untung, tapi manfaat. Oleh karena itulah yang bagi beberapa orang lain orang-orang yang memilih jaan seperti ini dinilai ‘Kenthir’, tapi memiliki keasyikan tersendiri yang dinikmati dalam menjalani hidup, tidak umum berbeda dengan orang lainnya, menciptakan suau pembaruan, dan kebanyakan orang-orang ‘Kenthir’ ini melakukannya untuk kebutuhan jiwa dan rohani mereka.

Seperti yang dilakukan oleh Pak Abdullah Sam, yang menggunakan dana pribadinya untuk membangun dan memberikan pendidikan murah serta memberdayakan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Menyingkap dan menghilangkan sisi gelap yang sudah lama menyelubungi Sumberpucung dengan berbagai permasalahan seperti prostitusi, bandar narkoba, pemabuk dengan mendirikan Pesantren Rakyat sehingga membawa perubahan kepada masyarakat Sumberpucung.

Perjuangan Pak Abdullah untuk mendirikan Pesantren Rakyat tidaklah mudah dan mengalami penolakan yang cukup keras, dan banyak mendapatkan caci maki, tapi Pak Abdullah tidak menyerah dengan menggunakan pendekatan teror psikologis dan persuasif kepada masyarakat akhirnya lambat laun masyarakat mulai menerima dan mendukung kegiatan Pesantren Rakyat. Sebuah konsep pendekatan kepada masyarakat yang menggunakan ilmu yang telah dipelajari oleh pak Abdullah tentang ilmu psikologi.

Bantu Polisi, Pesantren Rakyat Kurangi Angka Kriminalisasi

0

Subtitle

KampusDesa News_Geliat pesentren rakyat semakin menyeruak ke publik. Tidak tanggung-tanggung, setelah pertemuan Nasional II pada 18 september 2016 di Rumah Singgah kampus UIN Malang tahun lalu, kali ini kembali hadir ditengah-tengah para penggiat, penggagas, dan penggerak pesantren rakyat yang ersebar di nusantara. Pertemuan Nasional III Pesantren Rakyat dilaksanakan di Pesantren Rakyat di Sumberpucung Kabupaten Malang, dengan mengangkat tema “Bersatu, Berdaya, Bertaqwa untuk Kita Indonesia Raya”.

Tepat pukul 20.15 WIB, MC mulai memandu pembukaan dan membacakan rundown acara pada malam hari ini. Kemudian pada pukul 20.20 WIB acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh ustaz Faisol Nur Mukhlis yang memenuhi seluruh ruangan dengan lantunan ayat suci Al-Quran  suaranya yang merdu menciptakan suasana yang syahdu di ruangan sederhana lanai atas bangunan Pesantren Rakyat.

Kemudian acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama-sama peserta. Tepat pada pukul 20.28 WIB MC mempersilahkan kepada bapak Abdullah Sam untuk memberikan kata sambutan yang pertama, dengan meminta peserta dan tamu undangan untuk ikut bernyanyi bersama pak Abdullah Sam mengawali kata sambutannya, sebuah lagu yang memiliki lirik yang lucu dan memotivasi.

Dari tamu undangan yang hadir, terlihat seorang wanita mengenakan seragam berwarna coklat yang identik dengan kepolisian yang kemudain menambahkan untuk memberikan kata sambutan ke dua yaitu Ibu Widya yang merupakan Ibu Kapolsek Sumber Pucung dan sering sekali datang mengunjungi Pesantren Rakyat dan sering membantu kegiatan dan program di Pesantren Rakyat. Terkadang suka memberikan beras dan juga hadiah bagi pesantren rakyat.

“Yang pertama saya ucapkan terima kasih kepada Pak Abdullah Sam yang mana selaku pendiri Pesantren Rakyat ini membantu tugas kepolisian”, kata Ibu Widya dalam mengawali kata sambutan di Acara Pertemuan Nasional III Pesantren Rakyat, di Pesantren Rakyat Sumberpucung, Malang Selatan. Jum’at (08/09/2017)

Ibu Widya juga mengungkapkan bahwa laporan dari bapak Abdullah Sam yang mana dulu bahwa wilayah di Sumberpucung sini banyak terjadi pendekar-pndekar, pendek kekar yang setiap hari tidak lepas dari air kata kata miras, kubam, dan sukanya ngesroh., “matur nuwon Pak” tambah Ibu Widya.

Ibu Widya juga menyampaikan laporan dari Bapak Abdullah Sam yang masih terkait bantuan yang telah diberikan oleh Pesantren Rakyat yaitu telah membina anak-anak punk yang ada di sumberpucung sini untuk mengajak mereka untuk menjadi lebih baik lagi, itu merpakan hal yang sangat membantu penugasan kepolisian tambah bu Widya, karena otomatis mengurangi angka kejahatan, baik yang punk jalanan ataupun yang di pemukiman.

Begitulah beberapa hal dan pencapain yang telah dilakukan oleh Pak Abdullah Sam dan pesantren rakyat yang telah sangat memberikan perubahan dan menjadikan Sumberpucung menjadi lebih baik dan juga lebih aman.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Bapak Dr. Muhammad Zein, M.Ag selaku Kemenag RI. Yang kemudian dilanjutkan dengan acara penutup yang ditutup dengan pembacaan doa kemudian para tamu undangan di suguhi coffe break dan berbincang ataupun berdiskusi santai sesuai budaya di Pesantren Rakyat yaitu Jagongan Maton. (rar)

PBNU ala Pesantren Rakyat sebagai Pengingat Masyarakat

0

KampusDesa News_Pertemuan Nasional yang diadakan oleh Pesantren Rakyat yang ke III ini berbeda dengan pertemuan nasional akhir tahun lalu yang diselenggarakan di rumah singgah gedung pasca sarjana UIN Malang. Seperti pada pertemuan nasional sebelumnya acara ini dihadiri oleh para pengasuh pesantren rakyat di Indonesia namun kali ini (8/9) pertemuan nasional dihadiri oleh Kasubdit P3M Diktis Kemenag RI, Dr. Muhammad Zain, M. Ag yang menjadikan apresiasi tertinggi juga bagi Kang Dullah sebagai penggagas Pesantren Rakyat.

Diawali dengan sapaan hangat dan menyanyikan lantunan lirik lagu PBNU ala pesantren rakyat cara Kang Dullah sapa para tamu undangan yang menghadiri acara Pertemuan Nasional III Pesantren Rakyat tersebut. PBNU yang dimaksudkan oleh penggagas Pesantren Rakyat ini bukan terfokuskan pada salah satu ormas Islam di Indonesia. Akan tetapi, PBNU yang dimaksudkan Kang Dullah adalah “Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI harga mati dan Undang-Undang Dasar 1945” istilah singkat tersebut merupakan empat pilar kebangsaan yang memiliki satu tujuan yaitu untuk kemakmuran bangsa dan negara Indonesia.

“Pancasila dasar negara, pancasila luar biasa. Siapa saja mengganggunya, pasti dia akan binasa. Bhinneka Tunggal Ika, menyatukan suku bangsa. Untuk itu harus kita jaga karena itu semboyan negara. NKRI harga mati, NKRI sudah diganti. Siapa saja yang mengkhianati, pasti dia akan mati. NKRI harga mati, NKRI sudah teruji 65 sudah di basmi, la kok sekarang muncul HTI. UUD 45 sumber hukum kita semua pancasila di dalamnya, ketuhanan Yang Maha Esa” lirik lagu penyemangat yang dilantunkan oleh Kang Dullah pada awal sambutannya sebagai pengingat bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang lemah dan masyarakatnya tidak harus berpangku tangan pada pemerintah.

Dalam sambungan sambutan yang disampaikan Kang Dullah, tokoh unik itu menuturkan “Apabila diseluruh Kabupaten di Indonesia ini berdiri Pesantren Rakyat di tengah-tengah masyarakatnya, maka saya yakin rakyat Indonesia tidak lagi bertanya kapan turunnya bantuan dari pemerintah lagi, itu semua karena masyarakat yang berada di lingkungan Pesantren Rakyat sudah mampu mandiri dan mewujudkan desa berdikari”. Dari ungkapan itu Kang Dullah menegaskan bahwa negara dan pemerintah memiliki keterbatasan dana dan tenaga, maka dari situ Pesantren rakyat yang telah memiliki panca rukun lah yang akan membantu permasalahan bangsa Indonesia.

Disisi lain, Dr. Muhammad Zain, M. Ag menguatkan akan peran pentingnya Pesantren Rakyat ini terhadap kekuatan bangsa dalam aspek pendidikan. Beliau menuturkan bahwa pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dalam melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Pesantren rakyat inilah yang menjadi tempat menempuh pendidikan yang berbeda dengan instansi pendidikan yang lainnya. Kurikulum ala rakyat yang menjadikan pendidikan di Pesantren Rakyat dengan mudahnya diterima oleh masyarakat dan juga tidak memiliki batas usia bagi siapapun yang ingin menimba ilmu serta dengan sistem 24 jam belajar yang benar-benar menjadikan Pesantren Rakyat penguat terlahirnya generasi bangs yang bermartabat dan berilmu tinggi.

Begitu juga dengan ungkapan Ibu Kapolsek Sumberpucung mengaku dengan gamblangnya mengucapkan terima kasih atas adanya Pesantren Rakyat yang sangat membantu kerja polisi sebagai pihak yang membantu keamanan bagi masyarakat. Dalam hal ini, pesantren rakyat yang dulunya merupakan lingkungan orang-orang yang bermoral kurang baik seperti perampok, judi, narkoba, bahkan prostitusi ini  dirubah menjadi wadah positif bagi masyarakat bahkan Pesantren Rakyat membuktikan bahwa wilayah Sumberpucung pada khususnya akan menjadi wilayah yang bernuansa positif dan menjadikan Indonesia yang lebih baik. (YMS)

Gerakan Menanam: Menjadi Warga Desa Sesungguhnya

0

Kampus Desa News-Bangsa ini sangatlh kaya akan keaneragaman pangan, namun kekayaan alam tersebut seakan-akan tercerabut dari akar bangsa ini. Mayarakat lebih memilih untuk mendapatkan pangan secara instan, dengan membeli tanpa kemudian mau melestarikan dan membudidayakan pangan tersebut. Hal inilah yang menjadi kegelisahan Abdullah Sam, penggagas dan penggerak Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung Kabupaten Malang.

“Kalau mau sekarang ayok! Kita bisa manen terong atau bayam di belakang sana” Cak Dul menunjuk area belakang gedung PAUD pesantren rakyat. “kita bahkan bisa manen sampai satu kilo.” Ajaknya kepada peserta Tutut Desa (08/09).

Tim tutur desa yang sebagian besar mahasiswa, duduk melingkar bersama Cak Dul mendengarkan ceritanya: sayur-sayur di kebun boleh diambil semua warga yang membutuhkan. Gratis, agar warga tidak perlu risau hanya untuk makan harian.

“warga itu sebenarnya bisa mandiri, makanan nggak usah import! Meski tida memiliki lahan luas, kita bisa menggunakan polybag yang bisa kita letakkan di teras-teras rumah atau tempat sempit lainnya.” Suara Cak Dul terdengar jelas dan tegas. Menurutnya, menanam sayuran secara mandiri dapat membantu mengurangi jumlah uang belanja harian yang dikeluarkan oleh warga. Mereka bisa memasak terong, setelah mengambilnya dari polybag depan rumah yang sudah mereka rawat.

Cerita Cak Dul membawa saya mengingat beberapa bulan yang lalu, saat harga cabe dan sayuran melonjak naik. Saya yang kala itu masih mahasiswa, harus berpikir dua kali untuk mengonsumsi cabe, dengan uang lima ribu rupiah saya hanya bisa mendapatkan sekitar 15 butir cabe. Saya juga harus menghitung dengan cermat sayur apa saja yang harus saya beli, agar tidak menguras uang bulanan. Sarapan anak kos di kota begitu penuh perhitungan. Barangkali saya hidup di sini, di desa yang dikelola oleh orang-orang yang sadar bahwa kita bisa memproduksi makanan sendiri, mungkin sarapan saya akan menjadi mudah. Lebih mudah hidup di desa, dibanding di kota.

Beberapa teman saya mungkin lebih suka makanan instan seperti mi setan dibanding nasi campur. Lebih suka makan pitza dan kfc dibanding sayur. Tapi itu bukan karena mereka butuh, melainkan pengaruh kata “hits” dan gengsi yang membelit. Pada akhirnya, tiap akhir bulan, di mana dompet menjadi semakin tipis, anak-anak kos yang sebagian besar mahasiswa itu kembali ke warung. Menyapa ibu warung dengan ramah dan memesan tempe mendol atau sayur tewel.

Kami, para anak kos yang hidup di perkotaan sana benar-benar harus kembali menjadi orang desa. Hidup sederhana dengan kemampuan sendiri, bukan sok mewah mengikuti iklan-iklan tapi di waktu yang sama harus sakit kepala untuk sarapan saja. Menanam sendiri apa yang hendak kita makan, bukan membelinya di gerai-gerai modern milik perusahaan. (uus)

Abdullah Sam: Dari Sesrawungan Sampai Teror Psikologi

0

Abdullah Sam: Dari Sesrawungan Sampai Teror Psikologi

KampusDesa News_ Jum’at, 08 September 2017. Pesantren rakyat yang berada di Desa Sumberpucung Kabupaten Malang ini sudah tidak lagi asing bagi masyarakat, khususnya masyarakat Kota dan Kabupaten Malang. Abdullah Sam yang akrab dipanggil Kang Dullah inilah yang menggagas ide awal yang di anggap konyol bagi sebagian orang dalam mendirikan pesantren rakyat ini.

Dalam penyampaiannya kepada peserta Tutur Desa, Kang Dullah mengatakan bahwa ide konyol tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap pendidikan yang sangat mahal dan keadaan masyarakat yang telah mengalamai kerusakan moral. Hal tersebut dapat diketahui karena melihat latar belakang desa Sumberpucung ini yang merupakan salah satu daerah prosritusi terbesar di kabupaten Malang.

Dari kegelisahan itu Kang Dullah juga menuturkann bahwa Pesantren Rakyat akan mewujudkan masyarakat Indonesia yang tidak lagi bergantung pada bangsa. Artinya, dari pesantren rakyat ini akan membantu dan memberdayakan masyarakat dalam segala aspek. Baik dalam aspek pendidikan, ekonomi, maupun sosial. Sehingga akan mewujudkan masyarakat bangsa yang mandiri. “Sebenarnya dalam menggagas pesantren rakyat ini telah melewati beberapa batu loncatan yang menghalanginya, namun saya tetap teguh atas keinginan mulia untuk mewujudkannya, dengan pegangan yang sangat sederhana yaitu serawung dan teror psikologi sebagai penguat terhadap masyarakat” tutur laki-laki unik yang memiliki sejuta sebutan itu.

Dalam tambahannya beliau juga menuturkan bahwa pembelajaran dan kurikulum yang digunakan di Pesantren Rakyat ini semuanya ala rakyat. Dengan tujuan agar segala kalangan rakyat dapat belajar dan dapat diterima oleh rakyat. Selain itu, Pesantren Rakyat juga memiliki panca rukun Pesantren Rakyat. Panca rukun tersebut yaitu ; jagong maton, lumbung pesantren rakyat, celengan, ngaji ngluruk, dan juga fatihahan.

Nilai-nilai aspek keislaman, keIndonesiaan dan juga kemanusiaan inilah yang sangat melekat pada diri Pesantren Rakyat sejak didirikannya pada 25 Juni 2008. Kang Dullah pun mengutarakan bahwa “Pesantren Rakyat ini ibaratnya bambu, saya mengibaratkan bambu karena meskipun kencangnya angin yang menerpa maka bambu tetap menikuti rah dan spesialnya pangkal bambu itu tidak akan goyah bahkan pangkal itu akan terus membuat jaringn-jaringan yang menguatkan serta bambu tidak akan mudah patah dan sangat kuat dimanapun bambu diletakkn” hal itulah yang membuat Pesantren Rakyat bisa sukses dan dikenal banyak orang seperti yang kita ketahui saat ini.

Perjuangan laki-laki unik yang memiliki sejuta sebutan dan juga berkharismatik dalam menggerakkan dan meyakinkan adanya Pesantren Rakyat kepada masyarakat ini dapat dikatakan sebagai perjuagan yang diluar batas manusia pada umumnya. Lagi-lagi Kang Dullah pun memiliki sejuta misi untuk sampai pada visi yang akan dicapai. Jika misi satu tidak lagi dapat diterima masyarakat, maka Kang Dullah pun menggunakan misi lain akan tetapi tetap satu tujuan yaitu untuk mewujudkan desa berdikari bagi masyarakat.

Prestasi yang dimiliki oleh Pesantren Rakyat pun sudah bukan lagi tingkat regional namun telah mmencapai tingkat nasional. Selain itu, sampai saat ini telah berdiri 130 pesantren rakyat di Indonesia yang akan bersama-sama bergerak untuk masyarakat Indonesia yang lebih baik. “Impian saya memiliki minimal 10.000 Pesantren Rakyat di seluruh penjuru nusantara”singkat kang Dullah mengakhiri diskusi ringan bersama peserta Tutur Desa. (YMS).