Tak Butuh Hashtag, Tapi Aksi Nyata

0
101
http://www.beringkas.com/10-tahun-hashtag/

Ramadhan menjadi momentum berbagi. Bulan yang hikmahnya mengingatkan kita pada batas kepemilikan dan kepedulian. Apakah semua orang mau peduli dan melakukan aksi nyata, atau sebatas menyiapkan quote dan membuat hastag #kamipeduli ?


Kampus Desa Indonesia — Lamongan. Kepekaan sosial telah menjadi barang langka dan hampir punah hari ini. Dalam kehidupan sehari-hari jamak kita jumpai berbagai tindakan dan sikap yang mencerminkan hal ini. Contoh kecil, ketika ada orang yang hendak menyeberang jalan, banyak di antara pengendara kendaraan bermotor yang justru cuek dan tidak peduli, hanya sedikit yang mau meluangkan waktu, berhenti sejenak memberikan kesempatan kepada si penyeberang jalan. Contoh lain misalnya membuang sampah sembarangan,  merokok di sembarang tempat, enggan membantu sesama, dan sebagainya. Akselerasi globalisasi dan modernisasi menjadi bidan dari lahirnya fenomena ini.

Pergeseran pola pikir dan gaya hidup yang semakin egosentris, konsumtif, dan hedonis, membuat laju lunturnya kepekaan sosial di tengah masyarakat semakin cepat. Kondisi ini terutama dialami oleh generasi milenial dan generasi Z, yang hidupnya berbasis gawai.

Pergeseran pola pikir dan gaya hidup yang semakin egosentris, konsumtif, dan hedonis, membuat laju lunturnya kepekaan sosial di tengah masyarakat semakin cepat. Kondisi ini terutama dialami oleh generasi milenial dan generasi Z, yang hidupnya berbasis gawai. Dalam berbagai kegiatan sehari-harinya, tak sedetikpun mereka terpisah dari gawainya. Sehingga tidak heran jika kita jumpai di kafe, warung kopi, taman, atau tempat-tempat nongkrong lainnya, ketika sedang berkumpul, mereka justru asyik dengan gawainya masing-masing. Sehingga bisa dikatakan, hari ini bertemu saudara, teman atau sahabat hanyalah formalitas belaka. Bahkan dalam kegiatan sosial, hashtag dan swafoto yang mereka utamakan.

LAM (Lembaga Abdi Masyarakat). Organisasi yang baru berdiri tiga bulan yang lalu ini mempunyai tujuan utama untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan mengembalikan kepekaan sosial yang hari ini mulai luntur, terutama di kalangan generasi muda.

Kondisi inilah yang menjadi keprihatinan sejumlah kaum muda di Kabupaten Lamongan yang tergabung dalam sebuah organisasi sosial-kemasyarakatan, LAM (Lembaga Abdi Masyarakat). Organisasi yang baru berdiri tiga bulan yang lalu ini mempunyai tujuan utama untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan mengembalikan kepekaan sosial yang hari ini mulai luntur, terutama di kalangan generasi muda.

“Organisasi ini dibentuk untuk membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan dengan aksi yang nyata, bukan sekedar hashtag di media sosial. Karena yang saudara-saudara kita butuhkan bukanlah itu, tetapi aksi nyata dari orang-orang yang mampu, seperti kita” ujar Ahmad Rofiq, Ketua LAM, di sela-sela rapat rutin.

Meski baru terbentuk dan belum memiliki legalitas formal-administratif, namun organisasi yang diisi oleh anak-anak muda (siswa SMA dan mahasiswa) ini telah melakukan aksi nyata yang menjadi visi mereka. Seperti pada Minggu, 13 Mei 2018 lalu, mereka mengumpulkan dana dari kantong masing-masing untuk melakukan bakti sosial di masyarakat. Bakti sosial ini mengambil lokasi di Kecamatan Tikung. Mereka membagikan sembako kepada sepuluh orang miskin di lokasi tersebut.

Melalui bakti sosial ini, mereka berharap orang-orang dengan perekonomian yang memprihatinkan memiliki bekal untuk Bulan Ramadhan. Tidak hanya di bidang sosial, organisasi ini juga memfokuskan diri pada bidang-bidang lain. Terdapat tiga bidang yang menjadi titik fokus organisasi ini, bidang sosial (pendidikan dan kemiskinan), bidang tanggap bencana, dan bidang kesehatan. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here