Satukan Visi, Kampus Desa Gelar Ngopi (Ngobrol Pintar)

0
129
Ngopi (Ngobrol Pintar) Kampus Desa di Kediaman Alfin Mustikawan

Penguasaan terhadap digital literacy telah menjadi sebuah keharusan. Lembaga pendidikan seharusnya memiliki concern dalam hal ini. Di tengah dunia yang terus bergerak ke arah digitalisasi, kompetensi digital menjadi syarat bagi seseorang agar bisa ‘bicara banyak’ di kancah persaingan global. Menyadari hal itu, Kampus Desa siap menjadi media partner bagi lembaga pendidikan yang ingin mengembangkan digital literacy.

Kampusdesa.or.id–Sesekali gelak tawa pecah di ruang tamu Alfin Mustikawan, salah satu founder Kampus Desa. Malam itu (04/08), kediamannya menjadi lokasi Ngopi (Ngobrol Pintar) para penggerak Kampus Desa. Hadir dalam forum gayeng tersebut; Moh. Mahpur (Rektor Kampus Desa), Sigit Priatmoko (Admin Kampus Desa), dan Ahmad Sihabuddin (conten creator Tanah Alas).

Ditemani segelas Kopi Toraja mereka mematangkan persiapan kegiatan Bedah Website Kampus Desa yang akan diadakan di PKBM Bestari, Cetakgayam, Mojowarno, Jombang 10 sampai dengan 11 Agustus mendatang. Ngopi malam itu bertujuan utama untuk menyamakan visi dan persepsi terkait proses pelaksanaan dan hasil akhir (outcome) dari kegiatan tersebut.

Bedah Web Kampus Desa for Digital Literacy

“Jadi, besok itu, kita targetkan selesai kegiatan peserta harus bisa menulis, mengambil foto dan video lalu mengunggahnya ke media daring. Dalam hal ini kita arahkan ke website kita saja, atau bisa menggunakan teknik collaborator upload, sehingga masing-masing bisa saling membantu menjadi influencer. Bagi pemula, cara ini bisa membantu menaikkan rating jejak digitalnya. Di sinilah Kampus Desa, sebagai kampus yang mengutamakan literasi digital akan bisa membantu tipis-tipis. Daripada menunggu sempurna tetapi tidak bermanfaat, mending punya kemampuan biasa saja, tetapi dapat bermanfaat, siapa tahu menjadi luar biasa,” ujar Mohammad Mahpur diamini yang lain.

Jika tidak ditopang dengan kompetensi digital yang mapan, maka peserta didik ke depan akan mengalami kesulitan dalam persaingan

Menurut Mohammad Mahpur, kompetensi digital literacy hari ini merupakan kompetensi yang mendesak dikuasai oleh peserta didik. Hal ini tak lepas dari realitas keseharian di berbagai bidang kehidupan yang terus bergerak ke arah digitalisasi. Jika tidak ditopang dengan kompetensi digital yang mapan, maka peserta didik ke depan akan mengalami kesulitan dalam persaingan. Bahkan bisa diprediksi, pada percepatan teknologi informasi, generasi yang tidak melek digital, mereka akan menjadi generasi miskin, karena tidak bisa mengakses pasar yang sekarang didominasi oleh arus besar pemasaran digital (digital marketing). Jika kesenjangan melek digital ini masif, utamanya di desa, boleh jadi akan ada bom waktu kemiskinan masif hanya gara-gara tidak mampu mengunggah karya kreatif, hasil kerja kesehariannya, ke media daring. Miris kan.

“Besok kita arahkan para peserta agar bisa membuat konten-konten yang menarik Pak. Lalu, hasilnya kita upayakan diunggah di akun Kampus Desa dan diakun masing-masing peserta. Jika peserta sudah mempunyai akun, maka mereka kita bantu untuk memaksimalkan akun tersebut sehingga bisa meningkat ratingnya dan memiliki jejak digital yang bisa ditemukan bagi calon-calon konsumen ide, produk, atau inspiranya. Sudah saya siapkan aplikasi beserta langkah-langkah yang mudah diikuti,” ujar Ahmad Sihabuddin menambahi.

Banyak orang, menurut Sihab, yang belum bisa memaksimalkan akun media sosial yang dimiliki karena kurang memahami dan kurang bisa mengkreasikan konten-konten yang menarik. Padahal pundi-pundi rupiah bisa mengalir dari akun-akun media sosial. Ia kemudian mencontohkan salah satu rekannya yang dalam sebulan bisa menghasilkan income sekitar empat juta rupiah melalui You Tube.

“Tapi memang harus teratur, segar, dan kreatif isinya. Kalau tidak, income tersebut tidak akan bertahan lama. Makanya coba kita lihat, rata-rata channel You Tube dengan jumlah viewer ratusan ribu biasanya selalu konsisten mengunggah konten. Selalu segar dan menarik” tambahnya.

Sementara, menurut Alfin Mustikawan, dengan adanya kerjasama antara Kampus Desa dengan PKBM Bestari, diharapkan akan menjadi tonggak perubahan mindset dalam dunia pendidikan. Menurutnya, Pendidikan harus bisa menggali otensitas peserta didik dan merawatnya.

Pendidikan harus melahirkan manusia-manusia yang otentik dan bangga serta bisa mendayagunakan uniqueness yang dimiliki

“Otensitas itulah yang akan menjadi uniqueness mereka. Pendidikan sudah waktunya melahirkan manusia-manusia yang otentik dan bangga serta bisa mendayagunakan uniqueness yang dimiliki. Lha, selama ini, hal-hal seperti itu kan tidak diperhatikan oleh sistem pendidikan kita. Kampus Desa harus mengawali itu. Kalau ini berjalan baik, bukan tidak mungkin kita bisa menggeser persepsi masyarakat tentang PKBM. Nantinya, PKBM bisa menjadi solusi dan alternatif bagi proses pendidikan masyarakat. Lah, nantinya justru para pembelajar kreatif akan berbondong-bondong ke PKBM dan meninggalkan sekolah, jikalau sekolah formal itu pada akhirnya bergerak semakin melemahkan kreatifitas pembelajar,” lanjutnya.

Selain membahas agenda di PKBM Bestari, kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk membahas beberapa agenda besar lain dari Kampus Desa. Beberapa di antaranya adalah kaderisasi pemuda desa, pelatihan literasi digital, bedah buku, launching logo baru, dan lain  sebagainya. Ngopi malam itu diakhiri sekitar pukul 23.30 (SP).