Sarjana dan Phobia Kembali ke Desa

0
223
diambil dari http://saskarikatur2011.blogspot.co.id/2014/10/karikatur-wis-sudah-wisuda.html

Tidak usah mengumpat kenapa pendidikan formal setinggi apapun tidak pernah mencetak milyader meski pakar ekonom sekalipun. Mentok jadi mentri perekonomian itu pun jika lihai berpolitik. Tapi bukan tujuan materi dari pendidikan, lebih dari itu pendidikan menuntut kemaslahatan dan perubahan bagi setiap jiwa yang terdidik. (Hahaha ojo abot2 ah..).

Desa dalam kurun waktu cukup lama telah menjadi mitos bagi para terdidik. Terlampau banyak sarjana yang takut kembali ke desa dengan ribuan dalih menakutkan karir. Sedang mereka dikirim dari desa merantau ke kota dengan harapan dapat merubah tempat kelahiranya lebih beradab dan lain-lain. Sedang masyarakat menuntut jasa tidak perduli ijazah mereka. Keberanian kembali ke desa dari kalangan terdidik terlampau rendah membuat perkembangan dan pembangunan desa melambat. Desa dikuasai orang-orang lama dan kerap kali dicokoli penguasa lokal yang korup dan lalim karena menganggap warganya petani udik yang tidak terdidik awam perkara dana desa dan segala fasilitasnya.

Pendidikan universitas tidak mempersiapkan peserta didik untuk terampil mengabdi bagi daerah tertinggal. Nyatanya kampus hanya mempersiapkan calon buruh bagi perusahaan dan tenaga pengajar bagi sekolah-sekolah bergaji mahal. Walhasil, kota semakin sesak dan desa semakin sepi. Generasi petani muda kian berkurang, era import segera datang.

‘Kembali ke desa’, mindset tersebut yang harus ditanamkan pada setiap lembaga perguruan tinggi negara. Dengan harapan kesejahteraan, pembangunan, peradaban merata. Jika saja generasi android macam saya sadar dan berani berpikir ‘out of the box’ mungkin jokowi tidak usah terjun ke daerah tertinggal dan membagikan sepeda.

Refleksi hari jual-beli ijazah nasional.

Tulisan diposting ulang dari facebook penulis seijin penulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here