Revolusi Mengawal Generasi Millenial

0
73

KampusDesa, Kediri–Minggu, 05 Agustus Sasana Al-Muhajirin mengusung gelar wicara dengan tema ”Dahsyatnya Parenting Mengawal generasi Millenial.” Gelar wicara ini, merupakan salah satu pengembangan dan penerapan pendidikan berbasis masyarakat dan komunitas. Dengan adanya parenting ini diharapkan membantu untuk menghadapi segala perubahan dan tantangan di zaman modern nan serba canggih seperti saat ini, terutama ilmu pengetahuan dan teknologi di era revolusi 4.0. Kegiatan ini di fasilitatori oleh Eyang Wiwik Joewono dari Sanggar Cendekia Malang, Ns. Beni Dwi Wantoro, S.kep Ower Tradisional health & Education Center Treenggalek, Yuli Wusthol, M, Founder Sasana Al-Muhajirin dan Maya Lisna, Amd.Keb. C. PBL Owner Mysa Baby and Mommy Massage.

Informasi yang beredar dengan cepat dan ditunjang akan teknologi yang canggih mampu memberi perubahan terhadap perkembangan manusia secara cepat pula, baik perubahan kearah hal postif maupun hal negatif. Termasuk di dalamnya seperti mempercepat berubahnya nilai-nilai sosial dan memberi dampak signifikan pada manusia. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan guna perubahan karakteristik manusia ke arah yang lebih baik. Pengetahuan dan pemahaman orangtua dalam pola asuh terhadap anak sangat berpengaruh terhadap tumbuh perkembangan anak dan masa depannya. Maka dari itu orang tua perlu diberikan keterampilan dalam mendidik anak di dalam keluarga, pengetahuan mengasuh dan membimbing anak dan agar dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang.

Peran keluarga merupakan sebuah institusi yang paling penting dalam menciptakan dasar pendidikan dan perkembangan bagi anak. Karena pembentukan seorang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan terkecil yaitu keluarga dan yang paling pertama memberikan pengalaman bagi anak. Pengalaman yang dimiliki anak tersebut akan menentukan pola pikir, karakter dan sifat alami dari seorang anak, tutur eyang Wiwik Joewono dalam pola asuh dengan mengikuti metode Ki Hajar Dewantara yaitu among, ngemong dan momong. Dengan demikian pendidikan diperoleh bukan bagusnya bangunan, banyaknya fasilitas, namun syarat utama adanya lahan terbuka untuk memberikan kebebasan anak-anak tumbuh berkembang, selain itu membuat lingkungan keluarga dengan fasilitas olah gerak dan mimik raut muka sehingga rasa dan karsa dimiliki sejak dini. Dengan begitu peran keluarga, ayah bunda dalam rumah sangat berpengaruh besar dalam mengawal generasi emas di revolusi modern ini.

Banyak yang berdalih pendidikan Finlandia adalan pendidikan yang bagus bisa diterapkan di Indonesia. Bukankah barang tiruan itu pasti tidak sama dengan barang aslinya. Seperti batik cap, tentu batik cap tidak bisa menandingi kebagusan batik tulis. Begitu pula Pendidikan di Indonesia, manakala dikaji kembali Pendidikan Multiple Intelligences itu sama halnya dengan pendidikan yang berpedoman pada panca-darma Ki Hajar Dewantara. Dalam pengaplikasian Multiple Intelligences yang sepadan dengan panca-darma Yuli Wusthol memaparkan gambaran dan penerapannya.

Para peserta sedang berpose bersama

Pertama, kodrat alam. Sama halnya pada Multiple Intelligences dalam pengambilan peserta didik tidak melihat dan membeda-bedakan satu dengan yang lainnya sehingga dalam penerimaan peserta didik tidak menggunakan tes, namun berbasis kuota dengan dipetakan sesuai kecerdasan dengan MIR (Multiple Intelligences Research). Kedua, kemerdekaan selaras dengan konsep MI peserta didik diberikan kebebasan untuk memilih cara belajar, extra, dan materi yang paling dominan. Ketiga, kebangsaan selaras dengan memberikan tugas portofolio yang berkaitan di lingkungan, keluarga, dan negara. Keempat, kebudayaan selaras dengan kurikulum yang disesuaikan dengan daerah dan prospek kerja yang dominan di masing-masing kota peserta didik, Kelima, kemanusiaan, memberikan kesempatan kepada masing-masing pesera didik untuk tumbuh kembang sehingga pembelajaran dipetakan sesuai dengan kecerdasan dan cara belajar yang sudah dites dengan MIR. Dengan demikian, pendidikan yang dimiliki Ki Hajar Dewantara manakala dikaji dan diaplikasikan sebagaimana mestinya sudah pasti masih relevan dan sama dengan pendidikan yang ada di luar negeri saat ini.

Cara berkomunikasi kepada anak memiliki peran yang sangat kuat dalam megawal generasi milenial agar tidak terjadi kesalahan komunikasi. Komunikasi dengan hati merupakan salah satu bagian dari terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang memadukan suatu ketulusan, sentuhan hati dan perlakuan untuk memengaruhi dunia otak alam bawah sadar dan panca indra.

Di era revolusi 4.0 banyak yang mengeluh cara mengasuh anak di rasa sulit. Padahal anak merupakan tunas, potensi dan generasi penerus cita-cita bangsa yang memiliki peran penting dalam menjamin eksistensi bangsa dan negara di masa yang akan datang. Cara berkomunikasi kepada anak memiliki peran yang sangat kuat dalam megawal generasi milenial agar tidak terjadi kesalahan komunikasi. Komunikasi dengan hati merupakan salah satu bagian dari terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang memadukan suatu ketulusan, sentuhan hati dan perlakuan untuk memengaruhi dunia otak alam bawah sadar dan panca indra.

Kekuatan cinta dan kebaikan hati kita bisa dirasakan orang lain walau tanpa diutarakan, bisa menyembuhkan, dan melindungi, karena hati kita berbicara lebih keras dibandingkan kata-kata dan tindakan. Di awal sesion ini, para peserta diberi arahan oleh Ns. Beni Dwi Wantoro, S.Kep, CHt, CI. Mereka langsung mempraktikkan secara berpasangan untuk melatih teknik memberikan sentuhan dari pundak sampai tangan. Sentuhan yang dilakukan harus disertai ketulusan dan saling mendo’akan masing-masing pasangannya. Begitu pula di rumah ataupun di sekolah, rasa kasih sayang bisa diberikan lewat sentuhan tulus dari hati, kata, dan sikap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here