Menengok Desa, Mengikat Keluarga

0
111

Orisinalitas desa akan selalu menceritakan kisah agung dalam memori kita. Apalagi ketika desa menjadi kenangan saat kita menjadi kaum urban. Desa menceritakan kedamaian, harmoni, alam yang menyokong kehidupan kita dengan dengan amat murah. Ekosistem berjalan amat dekat tanpa diganti dengan alat ganti berupa uang karena semua tidak harus membeli. Stok makanan cukup tersedia di sekitar rumah. Hubungan antar-orang juga lebih longgar dan bebas transaksi. Interaksi antar orang dan tetangga terjalin dengan sangat melimpah. Bagaimana dengan kenangan anda ?

Hari Keluarga Nasional (Harganas)  jatuh  setiap tanggal 29 Juli. Tahun ini gebyar puncak peringatannya ditetapkan oleh Pemerintah Pusat pada tanggal 7 Juli 2018 di Kota Menado dengan tema “Hari Keluarga, Hari Kita Semua”.

Bukan karena gaung penyelenggaraannya yang tidak sampai ke tengah keluarga saya yang tinggal di desa pinggiran kota Malang. Bukan karena keluarga kami tidak punya televisi. Namun tema penyelenggaraannya itulah yang membuat saya tercenung. Memang benar,  setiap orang perlu diingatkan tentang pentingnya sebuah hari untuk keluarga bagi seluruh anggotanya. Sebab hari spesial untuk keluarga saat ini sudah terasa hambar, seolah tidak dibutuhkan lagi.

Dulu setiap orang selalu mengutamakan waktu kebersamaan setiap hari. Setelah masing-masing sibuk seharian di luar rumah waktu kebersamaan menjadi sangat berharga dan dirindukan. Ada tatap kangen di antara suami istri, ada rengekan  manja anak-anak yang direspon dengan godaan nakal orang tuanya. Ada diskusi seru. Juga curhat berkepanjangan. Ditutup dengan wejangan hangat orangtua dan serangkaian pesanan anak yang merajuk untuk dipenuhi berbagai keinginannya.  Sekarang pada kemana suasana seperti itu?

Pertemuan jadi minim dialog, semua sibuk dengan dunia mayanya yang diakses dari alat persegi berukuran sekian inchi. Alat inilah yang sanggup memalingkan semuanya dari kebutuhan akan hangatnya kebersamaan. Adakah yang sanggup menolak sihir pesonanya?

Memang sudah mulai tumbuh kesadaran banyak orang untuk keluar dari jerat situasi yang  merapuhkan kebersamaan  itu. Dengan cara sejenak meletakkan gawai mereka lalu bepergian bersama seluruh anggota keluarga. Khusus meluangkan waktu untuk saling berinteraksi. Mencari hiburan bersama di mall, rumah makan, pujasera, tempat karaoke, playground atau bioskop. Sepertinya sedikit bereaksi. Jadi ada tegur sapa dan interaksi. Tapi seberapa lama semua itu bisa mengalihkan perhatian setiap orang dari gawai mereka? Suasana rekayasa dan imitasi yang glamour itu  penuh konsumerisme dan  kebisingan. Cepat membosankan. Selain ongkosnya mahal, di mana-mana ada sinyal dan pemandangan yang memicu orang untuk segera rindu meraih gawainya. Cepat  suntuk lagi…  Jadi bertanya-tanya tentang alternatif tempat untuk kegiatan kebersamaan dengan keluarga.

Pernah terpikirkan tentang desa? Kalau tidak itu wajar, orang-orang  desanya saja justru bangga ngelayap cari hiburan di kota. Padahal pada suasana desalah ada lem perekat yang bagus untuk kebersamaan yang berkualitas bagi keluarga di momen-momen spesial. Mengapa? Setidaknya ada 5 pertimbangan:

  1. Desa itu, bening dan teduh alami
  2. Hening dan hijau
  3. Murah dan ramah
  4. Sederhana tapi kaya
  5. Mengingatkan masa lalu, menginspirasi masa depan.

Beningnya desa terkesan dari beningnya mata air yang menyembul dan mengalir secara alami dari dalam tanah. Dengan mudah kita meraupnya untuk membasuh kaki dan wajah kita yang letih. Sementara sepanjang alirannya rembesan air itu menumbuhkan banyak pepohonan yang meneduhkan lingkungan dan menyuplai udara segar. Sensasi bening dan teduhnya memberi efek yang bersahabat pun  berjangka lama untuk rasa dan memori manusia.

Ketenangan desa membuat  suara alam lebih jelas dan nyaring terdengar. Desau angin di dedaunan, ceruitan burung-burung dan binatang peliharaan penduduk. Sementara telinga nyaman, penglihatan pun dimanjakan dengan nuansa hijau asri yang dominan

Suasana desa relatif lebih hening karena masih jarang transportasi dan hingar-bingar dentumanan suara memekakkan telinga dari peralatan musik modern. Ketenangan desa membuat  suara alam lebih jelas dan nyaring terdengar. Desau angin di dedaunan, ceruitan burung-burung dan binatang peliharaan penduduk. Sementara telinga nyaman, penglihatan pun dimanjakan dengan nuansa hijau asri yang dominan. Tua atau pun muda akan mudah terhipnotis oleh 2 keindahan ini. Memudahkan setiap keluarga untuk berkontemplasi dan saling merefleksikan diri.

Orangtua bisa mengajarkan banyak hal pada anaknya tentang penghematan dan keberkahan. Dan sikap para penduduk desa yang selalu lugu dan ramah akan mereduksi kecanggungan dan keegoisan anak-anak dalam bersosialisasi.

Sudah jelas harga barang-barang atau kebutuhan pokok di desa jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan di kota. Orangtua bisa mengajarkan banyak hal pada anaknya tentang penghematan dan keberkahan. Dan sikap para penduduk desa yang selalu lugu dan ramah akan mereduksi kecanggungan dan keegoisan anak-anak dalam bersosialisasi. Dengan demikian orangtua bisa menyiapkan paket liburan yang lebih lama dan bervariasi di sini.

Di desa anak-anak bisa belajar mendapatkan makanan dan minuman dari produsen pertamanya, yaitu hewan dan tumbuhan. Dari sinilah terhampar kesempatan luas untuk mempelajari banyak urutan proses dan pemahaman baru  langsung dari alam sebagai sumber ilmu ilmu pengetahuan paling kaya.

Di desa memang masih jarang peralatan kehidupan yang modern dan canggih. Banyak hal masih dilakukan secara manual. Justru kesederhanaan itu memungkinkan kita untuk belajar melakukan sendiri berbagai hal. Hanya di desa kita bisa menunjukkan pada anak-anak kita ketergantungan pengusaha makanan pada matahari karena harus menjemur produk-produknya secara alami. Di desa anak-anak bisa belajar mendapatkan makanan dan minuman dari produsen pertamanya, yaitu hewan dan tumbuhan. Dari sinilah terhampar kesempatan luas untuk mempelajari banyak urutan proses dan pemahaman baru  langsung dari alam sebagai sumber ilmu ilmu pengetahuan paling kaya.

Alur kehidupan desa yang tenang dan indah selalu mengingatkan orang tentang masa lalunya. Memori kebersamaan keluarga di tengah suasana desa yang eksotis dan sederhana, entah kenapa lebih terekam dengan baik di benak anak-anak. Mungkin karena cerita kebersamaan lebih banyak tereksplorasi dibandingkan tertingkahi oleh hal-hal imitasi yang memecah konsentrasi. Dahsyatnya, murni dan cantiknya suasana pedesaan justru sangat mendukung energi kebersamaan untuk menentukan gambaran dan destinasi masa depan keluarga.

Cemorokandang, 30 Agustus 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here