Manajemen Pengajaran al-Qur’an : Best Practices (Seri 1)

0
345
gambar diambil dari http://lesprivat99.com/les-privat-mengaji-alquran/

Hakikat manajemen adalah mengelola hati dan pikiran manusia, maka kelolalah hati dan pikiranmu sebelum mengelola orang di sekelilingmu (Amka)


SUDAH saatnya lembaga Pendidikan Islam tidak berwacana lagi untuk mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen dengan baik. Bagi praktisi pendidik di pesantren atau madrasah, yang dibutuhkan sekarang adalah solusi mengejar ketertinggalan umatnya, harus ada inovasi di semua sektor kehidupan. Salah satunya ada bagaimana mengelola pengajaran di pondok atau madrasah.

Saya yakin para ustadz muda yang bergelut dibidang pendidikan harus memposisikan dirinya untuk betul-betul menjadi “Ulama’ Tarbiyah.” Ulama’ Tarbiyah adalah sebutan ustadz yang tidak hanya bisa membaca kitab kuning saja, akan tetapi bisa mengelola pengajarannya dengan baik. Nah, saatnya sekarang kita belajar ilmu manajemen. Era sekarang tidak seperti dulu, karena para kyai yang memiliki wibawa, hikmah yang tinggi mungkin sudah jarang kita jumpai. Kyai yang mampu mengajar dan membuka pintu hati santrinya mungkin sudah sangat jarang. Karenanya belajar ilmu manajemen dan bagaimana menerapkannya menjadi penting.

Istilah manajemen kerapkali kita dengar dan tidak asing bagi kita, akan tetapi tidak sedikit yang gagal memahami arti manajemen itu sendiri, atau ada yang memahami konsep manajemen akan tetapi ketika dipraktekan banyak juga yang akhirnya tidak mengikuti konsep manajemen yang dipahaminya. Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat dan profesi. Dikatakan sebagai ilmu oleh Luther Gulick karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerjasama. Dikatakan kiat oleh Follet karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan tugasnya. Dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai prestasi manajer, dan para profesional dituntun oleh suatu kode etik. Pada perkembangannya manajemen diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien (Fattah, 1999).

Jadi dalam istilah manajemen setidaknya ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, ketika kita akan menerapkannya. Pertama adalah manajemen sebagai ilmu yaitu pemahaman kita terhadap perilaku organisasi yang terdiri dari berbagai macam perspektif dan pandangan orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya karakter seseorang dalam berorganisasi, bagaimana seseorang berkomunikasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi tertentu. Kita turunkan lagi contoh itu kearah yang lebih aplikatif misalnya dalam kelas bagaimana karakter murid-murid ketika mereka menginginkan ketercapaian belajar pada mata pelajaran tertentu, tentusaja mereka akan bekerjasama, berkomunikasi dengan teman mereka, dengan guru mereka. Kerjasama mereka itu akan membentuk pola-pola tertentu yang harus dipahami oleh seseorang yang belajar manajemen sebagai ilmu.

Kedua adalah manajemen sebagai kiat dengan mengatur orang lain dalam menjalankan tugasnya. Ada beberapa hal yang penting dalam pengaturan ini yang pertama adalah pengaturan yang sifatnya proporsional. Misalnya bagaimana seorang guru al-Qur’an ketika mengatur kelasnya agar tujuan pembelajaran al-Qur’an itu bisa mencapai tujuan pembelajarannya. Ketika mengatur kelasnya, maka sudah barang tentu mengatur proporsi jumlah murid yang ideal untuk materi al-Qur’an yang sudah ditentukan dalam tujuan pembelajarannya. Dalam salah satu standar pembelajaran yang dituangkan dalam Bilqolam yang dikembangkan oleh Pesantren Ilmu al-Qur’an, bahwa rasio antara murid dan guru adalah 1: 20 untuk keberhasilan materi membaca dengan fasih dan kemampuan menulis dengan baik. Selain itu juga pengaturan komposisi tempat duduk yang ideal untuk pembelajaran mata pelajaran tertentu. Mata pelajaran al-Qur’an dengan model pembelajaran drill tentunya memiliki model tempat duduk yang memungkinkan interaksi langsung (musyafahah) antara guru dengan murid.

Ketiga, pengaturan yang sifatnya kompetensi yaitu mengatur kompetensi sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan organisasi. Misalnya kompetensi guru al-Qur’an bagaimana kriteria guru al-Qur’an yang diinginkan agar pembelajarannnya bisa berhasil. Setidaknya ada lima jenis karakter kompetensi yaitu antara lain: (a) pengetahuan, misalnya pengetahuan seorang guru al-Qur’an tentang hukum-hukum bacaan al-Qur’an, (b) keterampilan, misalnya keahlian guru al-Qur’an dalam membaca fasih dan tartil dengan benar (c) konsep diri dan nilai-nilai, misalnya kepercayaan diri guru al-Qur’an bahwa dia akan berhasil mengajar muridnya dengan baik, (d) karakteristik pribadi, misalnya bagaimana penglihatan guru al-Qur’an, kemampuan untuk tetap tenang dibawah tekanan, (e) motif, motif merupakan emosi, hasrat, kebutuhan psikologis, atau dorongan-dorongan lain yang memicu tindakan. (Palan, 2007)

Keempat, pengaturan yang berorientasi pada bahan materi. Bahan atau materi ini sangatlah penting untuk diorganisiri dengan baik, karena bahan yang diorganisir akan mampu memudahkan pekerjaan organisasi secara efektif dan efisien. Misalnya bahan pembelajaran al-Qur’an yang akan disajikan didalam kelas, tentunya harus dilakukan pengelompokkan bahan terlebih dahulu, dari yang paling mudah sampai dengan yang tersulit. Bagaimana menentukan bahwa bahan itu mudah atau sulit?? Tentunya dengan dilakukan beberapa uji coba pada kelompok-kelompok kecil atau bisa juga berasal dari pengalaman dan pandangan pakar dibidangnya. Pemilihan bahan, berdasarkan tujuan yang ingin dicapai juga harus dilakukan oleh seorang guru dalam mengatur bahan yang akan disajikan didalam kelas.

Kelima, pengaturan yang berorientasi pada efektivitas dan efisiensi. Dua istilah ini sangat populer dalam penerapan manajemen. Efektif merupakan patokan keberhasilan yang dihasilkan dari ketercapaian tujuan tertentu dengan indikator yang ditetapkan. Misalnya pembelajaran al-Qur’an dikatakan efektif, jika tujuan pembelajarannya berhasil sesuai dengan indikator yang ditetapkan seorang guru yaitu murid bisa menterjemakan ayat-ayat pendek dengan skor rentangan keberhasilannya adalah 80 s/d 100. Ketika murid tadi mampu memenuhi standar kriteria seorang guru tadi, maka pembelajarannya dikatakan efektif. Sedangkan efisien adalah patokan keberhasilan yang dihasilkan dari pemberdayaan segala sesuatu yang ada agar berhasil guna, tepat atau sesuai dengan sasaran dengan tidak membuang waktu, tenaga dan biaya. (Phoenix, 2010).

Manajemen waktu sangat penting dilakukan bagi guru al-Qur’an untuk memastikan ketercapaian sesuai dengan target yang diharapkan. Seorang guru harus merencanakan rentangan waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran al-Qur’an dan target yang akan dicapai.

Dalam hal ini manajemen waktu sangat penting dilakukan bagi guru al-Qur’an untuk memastikan ketercapaian sesuai dengan target yang diharapkan. Seorang guru harus merencanakan rentangan waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran al-Qur’an dan target yang akan dicapai. Misalnya dalam satu jam yang terdiri dari 60 menit seorang guru harus sudah mampu memprediksi ketercapaian hasil belajar murid. Tentu pada akhirnya seorang guru al-Qur’an menghitung secara keseluruhan jumlah pertemuan dengan targetnya. Semakin padat dan pendek waktu yang diperlukan seorang guru al-Qur’an mengajarnya muridnya semakin baik, karenanya perangkat-perangkat yang diperlukan harus juga dipersiapkan seorang guru, misalnya media pembelajaran agar murid bisa belajar mandiri dan lain sebagainya.

Konsep manajemen di atas itu merupakan penerapan manajemen pada pembelajaran di kelas (classroom management) Penerapan manajemen tidak hanya diterapkan pada kelas, akan tetapi pada pengelolaan sekolah, madrasah, pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya, atau bahkan pada korporasi-korporasi tertentu. Selanjutnya bagaimana menerapkan konsep manajemen yang diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. Pada prinsipnya sama saja akan tetapi penting juga kita mengkajinya pada tulisan berikutnya insyaAllah. (semoga manfaat)

(لكل شيئ زكاة وزكاة العلم التعليم)

Bibliography
Fattah, N. (1999). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Palan, R. (2007). Competency Management. (O. M. Jalal, Trans.) Jakarta: PPM.
Phoenix, T. P. (2010). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kepustakaan Nasional. Jakarta: Pustaka Phoenix.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here