Filosofi Memanah

0
81

Pelajaran hidup bisa kita petik dari mana saja. Tergantung bagaimana kita memposisikan diri dan mau atau tidak membuka diri untuk perubahan. Bahkan aktivitas memanah pun bisa kita jadikan sumber hikmah kehidupan jika kita mau sejenak merenungkannya. Apa saja filosofi kehidupan dalam memanah?

Memanah, apa itu memanah? Memanah adalah sebuah kata yang tersusun dari kata dasar “panah” dan diberi awalan “me”. Memanah adalah sebuah olahraga cabang atletik yang menggunakan busur sebagai pelontar dan anak panah sebagai pelurunya.

Prinsip kerja panah ini sama seperti pistol yang digunakan oleh aparat penegak hukum. Dimana ada pelontar dan peluru, hanya saja bentuknya saja yang berbeda.

Panah ini merupakan sebuah senjata yang efektif digunakan ketika perang jaman dulu. Dulu, sekarang alat ini sudah tidak efektif lagi. Karena proses penggunaannya lama. belum lagi harus membidik sekaligus menahan anak panah pada pelontarnya yang berat sekali.

Kalau saya disuruh memilih antara belajar memanah atau belajar menembak, tentu saya akan memilih untuk belajar menembak.

Karena apa, menembak itu lebih praktis dari pada memanah. Tapi kenapa ilmu memanah masih dipelajari hingga saat ini. Padahal dalam situasi perang, panah sudah tak ada gunanya.

Ternyata di balik kegiatan panah memanah terkandung sebuah filosofi yang luar biasa. Filosofi tentang tujuan hidup ada dalam kegiatan panah-memanah ini.

Ternyata di balik kegiatan panah memanah terkandung sebuah filosofi yang luar biasa. Filosofi tentang tujuan hidup ada dalam kegiatan panah-memanah ini.

Ada tiga proses yang dilakukan ketika ingin memanah : membidik, menarik, dan melepaskan.

Membidik, harus dengan tingkat konsentrasi tinggi. Mata dan organ tubuh lainnya dituntut untuk fokus pada satu titik. Itu sama halnya dengan menentukan niat. Niat untuk apa kita hidup di dunia ini? Tujuan apa yang ingin kita capai. Jika sudah menentukan niat dan tujuan kita, berikutnya adalah

Menarik. Menarik anak panah ke belakang dengan sekuat tenaga, kemudian menahannya sesaat. Dan hal itu adalah usaha kita untuk mencapai tujuan yang sudah kita tentukan terlebih dahulu. Atau dalam istilah lainnya adalah ikhtiar.

Apakah tujuan kita akan tercapai jika kita hanya menentukan dan berusaha saja? Tidak. Seperti panah tadi, apakah untuk memastikan bidikan kita tepat sasaran atau tidak hanya cukup dengan membidik dan menarik anak panah? Tidak kan?

Dan inilah yang paling menentukan. Melepaskan anak panah dari busurnya, biarkan dia melesat sesuai apa yang telah kita arahkan sebelumnya. Kita harus merelakan usaha kita, berpasrah dan bertawakal. Jika kita sudah punya niat dan usaha, selebihnya bukan urusan kita lagi. Itu sudah menjadi urusan Allah swt.

Membidik, menarik, melepaskan sama dengan niat, usaha, tawakkal.

Semoga bermanfaat…

Semarang, 24 Juli 2018

Mas Ar. Lahir di Bojonegoro, 11 September 1999. Anggota aktif di komunitas menulis KBM Bojonegoro, Mahasiswa Desain Grafis di STEKOM Ungaran, Semarang. Santri Madrasah Diniyah Darussalam Jatitengah, Pejok, Kepohbaru, Bojonegoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here