Beragama Tekstual dan Taqlid Buta, Mahasiswa Beresiko Terpapar Radikalisme

0
278
Peneliti radikalisme. Dari kiri, Fathul Lubabin Nuqul, Mohammad Mahpur

Radikalisme kampus marak. Ada yang latah sedemikian menjadi banyak yang cemas. Sajian riset psikologi berikut ini lebih komplit dalam melihat potensi radikalisme di kampus, tidak hanya parsial, tetapi melibatkan dinamika psikologis skema keberagamaan. Ternyata, resiko radikalisme ada di cara meyakini teks dan guru, dosen, atau ustadznya yang dominan membentuk mereka radikal, toleran, pluralis, atau Pancasilais

kampusdesa.or.id — Sejumlah riset mahasiswa yang terpapar radikalisme sudah lumayan banyak dihadirkan. Bahkan bisa dibilang riset jenuh dan bahkan latah karena sudah sering viral. Kegetiran ini menjadikan kami mencoba untuk melihat lebih lengkap dalam peta sumberdaya keagamaan mahasiswa. Kebetulan kami diberi akses untuk melihat seberapa mahasiswa baru di sebuah Universitas Keagamaan di Malang rentan terpapar radikalisme. Kami mencoba melihat dengan pendekatan psikologi yang sangat jarang digunakan dalam berbagai penelitian yang tersebar viral di lini media sosial tentang radikalisme mahasiswa.

Lantas kami laksanakan survey menggunakan parameter psikologi dengan memodifikasi alat ukur skema keberagamaan dari Streib, Hood, dan Klein, 2010). Pengunaan pendekatan psikologi menjadi tidak latah karena yang dilihat dengan kacamata dinamis pada pribadi seseorang, bukan per-pertanyaan yang dicari presentasinya lalu diambil kesimpulan secara parsial. Pendekatan psikologi lebih berbobot karena penilaian potensi radikalisme ditimbang dari kesalingkaitan antar dimensi yang mempengaruhi kecenderungan dominan setelah dimensi itu diambil proporsinya dari dimensi yang lain sehingga antardimensi itu saling mengendalikan, lantas kesimpulan dominan diputuskan seberapa potensi radikalisme itu ada.

Contohnya, setiap orang itu berpotensi ada hal yang tidak baik. Tetapi ketika yang tidak baik itu dipengaruhi oleh yang baik dan lebih kuat, potensi berbuat baiknya akan lebih tinggi. Nah, ketika mahasiswa menjawab sepakat penyesatan, maka tidak bisa jawaban itu langsung diambil kesimpulan bahwa mahasiswa berpotensi suka menyesatkan perbedaan pendapat. Itu parsial. Tapi perlu kondisi itu juga harus dibanding apakah ketika dimensi positifnya dihadirkan, maka apakah potensi penyesatan itu dominan atau positifnya yang dominanlah yang bisa menentukan penilaian akhirnya. Meski seseorang ada yang sependapat penyesatan tetapi kendali positifnya lebih dominan, maka dia tetap lebih dominan positifnya.

Begitulah cara kerja pendekatan psikologisnya sehingga konfirmasi antara yang tidak mendukung dan mendukung sudah terkonfirmasi secara berimbang. Dasar ini akan lebih berbobot untuk membuat kesimpulan psikologis tentang potensi radikalisme.

Apa hasilnya? Setelah kami (saya sendiri, Fathul Lubabin Nuqul, Yusuf Ratu Agung, dan Isroqunnajah), membaca kesimpulan survey dengan menggunakan pengukuran Skema Keberagamaan Streib, dkk pada 2644 mahasiswa baru di sebuah universitas tahun 2018 lalu secara ringkas dapat kami sajikan temuannya sebagai berikut.

Waspada terpapar radikalisme

Secara keseluruhan, Maba sangat kecil terpapar radikalisme keberagamaan yakni 1 persenan, mereka dominan adalah mahasiswa beresiko intoleran dan lebih kuat menolah keragaman agama, dan bahkan Pancasila yang berbhineka. 1 persenan itu kira-kira 32 mahasiswa yang dominan mudah dan terpapar radikalisme. Mereka lebih banyak tersebar di fakultas eksakta dan sebagian ada yang di fakultas yang dekat dengan kajian keagamaan. Namun, mereka masih maba lo. Jadi, kecenderungan mereka terpapar radikalisme didasari oleh latar-belakang bawaan, belum mendapat wawasan keagamaan yang lebih lengkap di kampus.

Di depan para sivitas akademik pemangku kebijakan kampus

Mengapa waspada terpapar radikalisme? Kita tahu bahwa pinangan calon anggota radikalis tidak membutuhkan pasukan yang banyak. Sedikit tetapi militans sudah cukup sebagai pengantin radikalis dan teroris. Cukuplah kiranya 1 persenan tersebut mensuplay para kelompok radikalis. Nah, kewaspdaan ini kami sampaikan kepada para pejabat yang memiliki wewenang untuk melakukan prevensi terhadap mahasiswa baru, termasuk pejabat yang membidani pembinaan kemahasisswaan, para dekan, dan mundhir ma’had.

Bentuk radikalisme yang kami ukur antara lain, bahwa mahasiswa yang 1 persenan tersebut tidak berpikir rasional untuk menerima perbedaan dan cenderung memiliki dinamika psikologis intolerans. Selain itu, mereka akan cenderung kurang bisa membangun perjumpaan dengan agama lain sebagai bagian dari semangat pluralisme. Bahkan cenderung lemah dalam mengembangkan kebijaksanaan untuk mengapresiasi secara kreatif perjumpaan-perjumpaan lintas iman. Kami tambahkan juga pengukuran mengenai sensitifas kebhinekaan pun juga sama. Sangat kecil mahasiswa yang tidak mengakui bahwa nilai-nilai agama yang selaras dengan Pancasila, keragaman dan inklusifisme keberagamaan sebagai bagian dari kehidupan berbhineka.

Nah, 1 %-an ini jika disisir dan ditemukan oleh kelompok radikalis yang ada di kampus UIN, maka mereka yang beresiko radikalisme yang menjadi sumberdaya potensial bagi calon-calon anggota keagamaan tersebut. Oleh karena itu, para pejabat kami sarankan untuk waspada dan tetap membangun prevensi sejak dini karena tema riset kami deteksi dini. Deteksi dini berarti menemukan sampai ke akar resiko mahasiswa yang potensial terpapar radikalisme.

Tekstual dan taqlid, potensi radikalisme yang patut diwaspadai

Menarik menyimak khusus data deskriptif mengenai keyakinan mahasiswa terhadap kebenaran teks dan gurunya. Studi kami menemukan, keberagamaan mahasiswa yang tekstualis dan taqlid terhadap guru atau ustadz lebih bervariasi nilai ukur psikologisnya. Temuan ini berbeda dengan yang 1 persenan tadi. Bahkan, mahasiswa baru ditemukan masih berada dalam cara keberagamaan tekstualis dan taqlid buta pada guru. Hasilnya mencengangkan. Mahasiswa baru yang cenderung tekstualis dan taqlid buta mencapai 32% cenderung tinggi dan 37% tinggi. Artinya, mereka adalah mahasiswa yang tekstualis dan taqlidnya bisa dikatakan buta.

Mahasiswa yang lebih terbuka, yakni mahasiswa yang juga mengakses teks dan pengajaran dari guru sekaligus memiliki wawasan yang luas dalam mencerna pemahaman keagamaan lebih rendah yakni 6% dan 7% (lebih terbuka dan berwawasan ilmiah).

Lebih mengerikan, secara faktual di pengukuran tekstualis dan taqlid ini, kami sodorkan dua pertanyaan ambigu, memerangi orang kafir itu jalan puncak mencapai surga dan kita sandingkan dengan, Alquran dan Hadits dapat dijelaskan dengan menggunakan keilmuan modern dan kekinian, tidak hanya ilmu terhadulu saja, maka mahasiswa tersebut hampir 18* (475 mahasiswa). Sedangkan mahasiswa yang lebih terbuka, yakni mahasiswa yang juga mengakses teks dan pengajaran dari guru sekaligus memiliki wawasan yang luas dalam mencerna pemahaman keagamaan lebih rendah yakni 6% dan 7% (lebih terbuka dan berwawasan ilmiah).

Apa implikasi sebaran data tersebut. Ketika mereka lebih tekstualis dan taqlid, maka mahasiswa akan mudah terpapar informasi teks dan pengaruh orang lain lebih berpeluang sehingga mereka akan cenderung tergoda oleh hoaks dan pengaruh doktrinasi dari pemahaman kelompok radikalis. Resiko ini menjadi tantangan serius di era post-truth, era media sosial yang lebih mencairnya, bahkan tiada batas jelas (semu) antara yang benar dan yang salah.

Dinamika Psikologis Islam Toleran ala Maba

Menariknya lagi saat kami melakukan skematisasi interaksi antardimensi skema keberagamaan ala Streib tersebut. Kami temukan, tidak seluruh komponen di dalam pribadi mahasiswa sifatnya saling menguatkan antara keyakinan terhadap teks dan guru agamanya, toleransi, perjumpaan lintas iman, dan kebhinekaan (Pancasila). Ternyata semua tersebut tidak saling memperkuat pada pribadi mahasiswa baru. Interaksi yang paling nampak hanya keyakinan terhadap teks dan guru agama dengan perjumpaan lintas iman. Sementara tidak ada interaksi komponen personal mahasiswa pada komitmen toleransi, dan kebhinekaannya.

Dinamika internal skema keberagamaan dengan demikian menunjukkan bahwa keyakinan kebenaran teks dan pada guru hanya menguat secara negatif dengan dinamika perjumpaan lintas iman. Mahasiswa baru saling terbangun keberagamaannya dibentuk berdasarkan keyakinan terhadap teks dan gurunya dengan xenos (pemahaman mengapresiasi keragaman dan penerimaan perjumpaan lintas iman). Dua kecenderungan ini saling membentuk keberagamaan mahasiswa baru, meskipun dinamika kesalingterpautan keduanya hanya 4,2 %. Dengan begitu, keberagamaan Maba yang mampu mengapresiasi secara pluralisme keberagamaan dibangun bersamaan dengan model keyakinan Maba terhadap teks dan gurunya, begitu sebaliknya, bahwa pluralisme pun akan bersamaan berkembang dengan cara Maba memahami agamanya apakah secara tekstual dan takliq atau tidak (menggunakan basis pengetahuan keagamaan yang lebih luas dan rasional).

Toleransi, pluralisme, dan kebhinekaan merupakan dinamika lain yang tidak memiliki keterpautan internal dengan keyakinan mahasiswa baru terhadap cara pemahaman keagamaannya atas teks dan gurunya.

Adapun, toleransi, pluralisme, dan kebhinekaan merupakan dinamika lain yang tidak memiliki keterpautan internal dengan keyakinan mahasiswa baru terhadap cara pemahaman keagamaannya atas teks dan gurunya. Jadi, ketiganya bisa dikatakan adalah hal lain yang tidak serta merta ditentukan oleh keyakinan teks dan guru. Implikasinya adalah, ketika mahasiswa baru dibangun dengan mempengaruhi cara menerima teks-teks keagamaan dan oleh orang-orang yang mampu meyakinkan cara beragamanya seperti apa, maka toleransi, pluralisme, dan kebhinekaannya (Pancasilanya) dapat bisa dilemahkan sehingga justru potensi radikalisme Maba akan menjadi lebih rentan.

Dengan demikian, patut menjadi perhatian semua sivitas di kampus ini, bahwa kerentanan radikalisme dapat terbentuk tergantung pada kapasitas pembentukan keyakinan atas cara baca terhadap teks agama, buku bacaannya, lini media sosial yang dibacanya, dan seperti apa dosen, ustadz, teman, atau organisasi keagamaan mereka mempengaruhi pikiran keberagamaannya. Ini penting karena potensi itulah pijakan utama yang membentuk skema keberagamaan mahasiswa baru apakah akan dibentuk menjadi agamawan radikalis, fundamentalis, berpandangan politik kanan, atau calon ilmuan yang memiliki skema keberagamaan yang tolerans, pluralis, dan mampu menyelaraskan antara nilai-nilai agama dengan Pancasila.

Publikasi artikel ini dilakukan pada kerjasama literasi psikologi dua media daring, kampusdesa.or.id dan sukma.co.

Profil Peneliti :

Mohammad Mahpur, Doktor Psikologi Sosial, Founder Kampus Desa Indonesia dan Penasihat Gusdurian Malang.
Fathul Lubabin Nuqul, Doktor Psikologi Sosial, Psikolog, dan Ketua Bagian Riset dan Pengembangan Keilmuan Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia
Yusuf Ratu Agung, Magister Psikologi Sosial dan Pegiat Senam Radiasi Tenaga Dalam (RTD) dan Cosmic Link Malang, serta Komunitas Devine Cigarrete

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here