Nasib Dunia Pendidikan Dalam Debat Pilpres 2019

0
132
Debat Pilpres 2019 Ketiga - Kredit gambar: IDN Times

0Shares
0

Saya membayangkan suatu hari ke depan, wujud pendidikan Indonesia nanti lebih baik lagi. Bagaimana siswa maupun mahasiswa sudah bisa mandiri. Sekolah dan kampus sejalan dengan pemerintah dan industri. Bukan malah berjalan sendiri-sendiri.

Kampusdesa.or.id–Pada Minggu (17/3) malam dua calon wakil presiden yaitu Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno saling beradu pandangan dalam debat calon wakil presiden di Pilpres 2019. Jika di sesi debat sebelumnya mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme (debat pertama) serta tema Energi dan Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, dan Infrastuktur (debat kedua). Tema yang ditentukan dalam debat ketiga ini adalah tentang Pendidikan, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Sosial, dan Kebudayaan.

Dalam lima debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU), kali ini adalah satu-satunya debat yang hanya mempertemukan calon wakil presiden, yang digelar di Hotel Sultan Jakarta. Malam itu saya turut menyaksikan live streaming debat pilpres 2019 tahap ketiga ini. Cukup seru dan menarik.

Namun saya sebagai seorang akademisi yang pernah kerja di industri sebenarnya menanti gagasan baru terkait kebijakan untuk link dan match antara pendidikan dan dunia kerja. Berikut beberapa poin program kerja yang ditawarkan oleh kedua perwakilan paslon di bidang Pendidikan. Kubu Jokowi-Maruf Amin tampak memaparkan program-program yang sudah dijalankan presiden Jokowi di periode pertama. Program-program ini cenderung fokus lebih ke fisik bangunan (infrastruktur) seperti apa yang selama ini diprioritaskan Pak Jokowi.

Berikut program yang ditawarkan: 1. Kartu Indonesia Pindar (KIP) Kuliah; 2. Mempercepat pemerataan penyediaan sarana-prasarana pendidikan dan infrastruktur pendukungnya, termasuk untuk madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan; 3. Memepercepat pemerataan kualitas pendidikan dengan peningkatan standar pendidikan dan BOS berdasarkan kinerja; 4. Mempercepat gerakan literasi masyarakat dengan memperbanyak perpustakaan dan taman-taman baca serta pemberian intensif bagi industri perbukuan nasional; 5. Meneruskan revitalisasi pendidikan vokasi untuk peningkatan kualitas SDM dalam mengahdapi dunia kerja.

Dikarenakan background Maruf Amin adalah seorang Kyai, beliau tidak lupa memasukan poin konsentrasi ke lembaga pendidikan agama. Sedangkan untuk upaya integrasi dengan ranah dunia kerja, paslon 01 lebih memilih memperbaiki program pendidikan vokasi yang sudah ada di Indonesia. Jadi anak-anak sekolah dididik agar mampu dan terserap di dunia industri.

Adapun di kubu Prabowo-Sandiaga Uno disampaikan bahwa program-program kerja yang dapat ditawarkan nantinya jika terpilih di antaranya: 1. Meningkatkan kualitas dan kompentensi guru, diimbangi peningkatan kesejahteraan untuk guru; 2. Mengangkat status guru honorer menjadi pegawai tetap; 3. Pendidikan tidak sekedar mengejar prestasi, tapi berbasis peningkatan kecerdasaan dan karakter moral; 4. Mengintegrasikan sektor idustri dengan pendidikan SMK untuk menciptakan lapangan kerja baru; 5. Memberikan beasiswa untuk masyarakat kurang mampu seperti anak petani, bunuh, nelayan, guru, dan santri untuk pemerataan kualitas pendidikan.

Menurut saya program-program paslon 02 lebih ideal menjawab harapan dan problematika yang memang sekarang ada di lapangan. Tim BPN cukup jeli membaca kekurangan dari pemerintahan Presiden Jokowi di periode pertama. Atau mungkin karena menampung beberpa aspirasi masyarakat yang merasakan realitas  pendidikan dan dunia kerja di Indonesia.

Calon wakil presiden RI Sandiaga Uno juga menawarkan konsep yang selama ini menjadi usulan banyak akademisi yakni adanya penggabungan (merger) antara dunia pendidikan dan industri untuk mengentaskan persoalan pengangguran di Indonesia.

Namun di sisi lain, salah satu hal yang mereka tawarkan dalam konsep link and match, yang tujuannya untuk menyelaraskan dunia pendidikan dan industri malah dinilai oleh Dewan Pembina Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) Najeela Shihab sebagai solusi jangka pendek. Disebut solusi jangka pendek karena mereka hanya dilatih untuk menghadapi dunia industri saat ini, sementara perkembangan industri itu sendiri sangat dinamis.

“Karena dalam revolusi industri ini yang dibutuhkan bukan hanya keterampilan, tapi juga kemampuan beradaptasi, berpikir jitu, dan memahami informasi,” ujarnya seperti  dikutip oleh Tirto.id (19/03)

Najeela menilai pembahasan tema pendidikan oleh kedua cawapres hanya menyempitkan makna pendidikan itu sendiri. Meski begitu, pendiri Kampus Guru Cikal  ini memakluminya karena debat pilpres tak ubahnya semata-mata hanya kepentingan politik untuk menarik simpati pemilih saja. Jadi isu yang dibicarakan kurang adanya tawaran konsep berupa program pelatihan skill untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri itu lebih baik daripada dilatih untuk mencetak tenaga kerja-tenaga kerja baru.

Meski demikian saya selaku pemilih dari kalangan generasi muda, dengan harapan besar bahwa apa yang telah diutarakan dalam debat ini tidak hanya sekedar wacana belaka. Saya membayangkan suatu hari ke depan, wujud pendidikan Indonesia nanti lebih baik lagi. Bagaimana siswa maupun mahasiswa sudah bisa mandiri. Sekolah dan kampus sejalan dengan pemerintah dan industri. Bukan malah berjalan sendiri-sendiri. []