Kembang Api dan Hawa Nafsu

0
183

0Shares
0

Seperti kembang api yang membahayakan diri dan orang lain, begitulah hawa nafsu yang ada dalam diri kita. Hawa nafsu selalu mengajak kita untuk berbuat yang tidak baik yang melanggar ketentuan Allah SWT. Ajakan hawa nafsu umumnya adalah sesuatu yang kita senangi atau mendatangkan kesenangan. Walaupun sesuatu itu bisa merugikan atau membahayakan.

Kampusdesa.or.id-Kemarin, anak saya yang kecil, usia 3 tahun, merengek-rengek minta dibelikan petasan kembang api. Karena Maghrib kurang 10 menit, saya merasa enggan untuk membelikannya. Saya “semayani” (janji) belikan sesudah buka puasa. Tapi dia tetap tidak mau. Karena anak saya terus merengek, bahkan hampir menangis, lagian dia kurang enak badan, terpaksa penulis turuti beli ke toko yang agak jauh.

Selesai membeli dan sesampai di rumah, anak saya meminta saya “nyumet” (menyulut dengan api) kembang api itu. Saya “semayani” lagi kalau suasana sudah gelap agar tampak indah. Eh… Tetap ngotot karena katanya sudah gelap. Akhirnya, saya turuti juga keinginan anak saya. Kalah dengan anak kecil…

Setelah kejadian itu saya jadi ingat dulu masa kanak-kanak. Ternyata dulu juga senang mainan kembang api. Kawat yang panjangnya kisaran 25 cm, separuhnya dibalut dengan bahan kembang api bulat melingkar. Jika disulut, maka akan terbakar dan memercikkan api kecil-kecil.

Seingat saya, dulu kembang api tidak seperti saat ini. Sekarang yang panjang-panjang dan besar. Kalau disulut terbang keatas lalu memancarkan percikan api seperti bunga dan meletus. Kalau dulu, bentuknya hanya seperti yang kemarin dibeli anak saya. Setelah disulut dipegang sambil dibawa lari-lari. Saya masih ingat, dulu berlari-lari di halaman atau berangkat tarawih menyulut kembang api. Agar lebih indah lagi, pangkalnya di bengkokkan lalu dilempar ke atas pohon sehingga tersangkut di ranting pohon. Saya juga ingat di depan rumah ada pohon jeruk “keprok” yang sering saya gunakan tempat melempar kembang api itu.

Adapun yang paling saya ingat adalah setelah kawat disulut, percikan api berhenti, ujung kawat saya pegang. Aduhhhh… ternyata masih panas… Yaa Allah… Dasar anak kecil, mungkin karena tidak tahu, sesuatu yang membahayakan malah dibuat mainan. Akhirnya telapak tangan saya melepuh…

Baca Juga: Ora Poso, Ora Oleh Riyoyo

Dari sekilas kisah ini, terkait dengan puasa, ada satu pelajaran yang bisa kita petik. Anak kecil itu kalau meminta sesuatu pasti getol sekali dan inginnya dituruti terus. Kalau tidak dituruti dia punya senjata, menangis, ngambek, “golong-golong” dan sebagainya. Anak kecil kadang juga “sembrono” (gegabah), tidak mempertimbangkan akibat dari keinginannya. Walaupun itu merugikan bahkan membahayakan, maunya semuanya dituruti dan dia merasa senang.

“Ajakan hawa nafsu umumnya adalah sesuatu yang kita senangi atau mendatangkan kesenangan. Walaupun sesuatu itu bisa merugikan atau membahayakan”

Manusia, termasuk kita, punya musuh dalam diri kita yaitu hawa nafsu. Hawa nafsu selalu mengajak kita untuk berbuat yang tidak baik yang melanggar ketentuan Allah SWT. Ajakan hawa nafsu umumnya adalah sesuatu yang kita senangi atau mendatangkan kesenangan. Walaupun sesuatu itu bisa merugikan atau membahayakan. Seperti kembang api yang membahayakan diri dan orang lain.

Terhadap ajakan hawa nafsu ini, Imam Ghozali menganjurkan kita untuk berhati-hati. Caranya adalah “tidak menuruti” keinginan hawa nafsu. Sebab jika hawa nafsu dituruti, maka ia akan terus menjerumuskan kita kepada hal yang lebih buruk. Al-Imam mengibaratkan hawa nafsu itu seperti anak kecil (bayi). Anak kecil diajak masuk toko, apalagi toko mainan, pasti semua keinginannya diminta. Kalau permintaannya selalu dituruti, maka dia tidak akan ada puasnya. Seperti anak saya, beli kembang api dituruti, menyulutnya dituruti, dia akan terus minta yang lain.

Baca Juga: Tiga Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

Termasuk bayi itu kalau dituruti menetek ibunya, sampai besar akan terus menetek. Namun ketika oleh orang tuanya disapih, maka bayi akan berhenti. Menyapihpun biasanya tidak mudah, butuh perjuangan berat. Dalam Sholawat Burdah disyairkan :

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

“Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap suka menyusu.
Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri”,

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ  ۞  إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ

“Maka palingkanlah nafsumu, takutlah jangan sampai ia menguasai-nya
Sesungguhnya nafsu, jikalau berkuasa maka akan membunuhmu dan membuatmu tercela”.

Puasa adalah salah satu metode “Training” dari Allah untuk mengendalikan hawa nafsu itu. Dalam keadaan puasa kita berlatih mengendalikan segala keinginan hawa nafsu. Nafsu makan dan minum, nafsu syahwat dan sebagainya. Dengan Training ini harapannya selepas Ramadan hawa nafsu kita sudah terkendali sehingga kita bisa sesuai dengan kehendak Allah SWT dalam setiap langkah dan perbuatan kita. Wallahu a’lam bish-showaab.

Mudah-mudahan kisah kenangan pada kembang api ini membawa hikmah dan manfaat. Semoga kita mampu mengendalikan hawa nafsu kita selamanya. Aamiiiin.