Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 99

Bismillahirohmanirrohim dan Visi Otentik Perguruan Tinggi

0

Dalam sebuah organisasi, keberadaan visi merupakan aspek yang sangat fundamental. Visi memegang peranan utama sebagai penunjuk arah organisasi dalam menjalankan proses manajemen dan visi merupakan seperangkat pernyataan yang menggambarkan capaian organisasi dalam spesifikasi, waktu, dan  degree tertentu. Perguruan tinggi sebagai sebuah organisasi yang memegang amanah dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi berupa pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat tentunya juga perlu menetapkan visi yang sesuai dengan profil organisasi masing-masing.

Pernyataan visi dalam perguruan tinggi biasanya ditulis dalam dokumen induk perguruan tinggi seperti statuta, renstra ataupun dokumen lainnya, selain itu untuk melakukan sosialisasi visi biasanya kita bisa menemukan pernyataan visi di dalam website, leaflet, nameboard, atau bahkan pada tembok bangunan gedung perguruan tinggi.

Apabila kita amati dengan seksama, pernyataan visi yang ditulis oleh manajemen perguruan tinggi selalu saja membuat kita terhenyak dan kagum, namun tidak jarang nalar kritis kita juga dibuat bertanya-tanya dengan pernyataan visi tersebut yang terkesan begitu fantastis akan tetapi tidak sesuai dengan profil organisasi perguruan tinggi, dan begitu lihat reputasi dan rekognisi perguruan tinggi tersebut biasanya terkesan kedodoran dan jauh sekali dari pernyataan visi yang dibuatnya.

Dalam bahasa agama mungkin padanan kata yang tepat untuk  visi adalah nawaitu atau niat, dan agama mengajarkan atau bahkan mewajibkan kepada kita semua untuk membaca Bismillahirohmanirrohim sebelum kita membaca niat, lalu apa relevansinya dengan pengelolaan manajemen mutu perguruan tinggi?.

Bismillahirohmanirrohim dan Visi Otentik

Sebagai lembaga pendidikan dengan amanah yang begitu mulia serta strategis, manajemen perguruan tinggi dalam menyusun dan membuat visi seyogyanya juga memulainya dengan Bismillahirohmanirrohim atau bahkan mungkin wajib bagi perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI).  Sangat indah rasanya apabila dalam pernyataan visi sebuah perguruan tinggi selain memuat pernyataan komitmen tentang implementasi Tridharma perguruan tinggi juga dilandasi dengan nilai-nilai Arrahman dan Arrahim yang jujur dan otentik.

Dari sekitar 4000 lebih perguruan tinggi yang berada di Indonesia, setelah penulis teliti secara acak melalui internet, tidak banyak ditemukan visi perguruan tinggi yang membumi sesuai dengan profil lembaganya, dan hampir rata-rata visi yang dibuat memang monumental secara pernyataan, akan tetapi bila dilihat capaiannya maka masih jauh panggang daripada api. Indikator capaian sederhana untuk mengetahui kinerja perguruan tinggi adalah rangking akreditasi badan akreditasi nasional pendidikan tinggi (BANPT). Universitas Gadjah Mada sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia, dalam penyataan visi perguruan tingginya menyebut “UGM sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila”(ugm.ac.id). dengan reputasi yang begitu luar biasa UGM mengemas pernyataan visi dengan begitu otentik dan original serta menekankan khidmah kepada negara kesatuan pancasila.

BAN-PT menempatkan Visi pada standar yang pertama, dengan dibarengi dengan misi, tujuan dan sasaran perguruan tinggi. Penempatan visi pada standar pertama dikarenakan standar visi merupakan kiblat untuk penilaian kinerja perguruan tinggi dihubungkan standar lainnya, semakin otentik visi sebuah perguruan tinggi maka akan semakin otentik pula kinerja perguruan tinggi dalam memenuhi standar lain.

Paparan diatas secara eksplisit menekankan begitu pentingnya keberadan visi bagi perguruan tinggi sebagai sebuah nawaitu dalam menjalankan khidmah atau layanan pendidikan tinggi bagi warga negara Republik Indonesia. Karena begitu penting perannya, maka otensitasnya pun harus dijamin dan dijaga  dengan serius pula.

Keseriusan itu ditunjukkan sebelum menuangkan nawaitu perguruan tinggi dalam pernyataan visi, manajemen perguruan tinggi melakukan need assessment yang serius dan jujur untuk mendapatkan existing condition perguruan tinggi yang akurat. Akurasi Hasil tersebutlah yang bisa mengarahkan manajemen dalam membuat visi yang otentik dan sesuai dengan profil perguruan tinggi. Untuk menghasilkan sebuah layan perguruan tinggi yang bermutu tidak hanya membutuhkan nawaitu yang baik saja, akan tetapi juga dibarengi dengan kerja keras serta keseriusan dan komitmen manajemen perguruan tinggi dalam merawat niat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam lafadl Bismillahirohmanirrohim.Wallahua’lam

Tiga Sikap yang Seharusnya Dilakukan Mukmin untuk Menangkal Hoax

0

(INGATLAH) DI WAKTU KAMU MENERIMA BERITA BOHONG ITU DARI MULUT KE MULUT DAN KAMU KATAKAN DENGAN MULUTMU APA YANG TIDAK KAMU KETAHUI SEDIKIT JUGA, DAN KAMU MENGANGGAPNYA SUATU YANG RINGAN SAJA. PADAHAL DIA PADA SISI ALLAH ADALAH BESAR. (QS. AN-NUR:15)

Zaman milenial, yang mana kecanggihan teknologi menembus jarak yang paling jauh sekalipun. Berita yang dahulu hanya bisa menghebohkan satu kampung, sekarang sangat memungkinkan untuk diketahui seluruh dunia. Namun, semakin ke sini, semakin berat juga menahan diri untuk tidak jatuh ke dalam kubangan penyebar atau penyalur berita hoax, meski bukan mustahil untuk menjauhinya.

Tepat tanggal 13 Oktober kemarin, ketika saya menghadiri majelis ilmu atau kami biasa menyebutnya Ma’dubatullah Learning Center di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mana di dalamnya menyelami tentang hikmah dan indahnya ayat-ayat Allah dengan pemateri luar biasa lulusan Jerman dan Australia, Bapak Mokhammad Yahya. Kebetulan hari itu kami membahas tentang surat An-Nur yang di dalamnya terdapat klarifikasi pembelaan Allah kepada istri tercinta Rasulullah, sayyidatina Aisyah RA serta teguran keras bagi yang menyebarkan Isu tidak benar dari mulut ke mulut.

Saya kira sangat relevan jika dikaitkan dengan zaman sekarang, zaman berita “hoax” yang semakin tidak terbendung dan begitu menjamur. Sedikitnya ada tiga hal yang seharusnya dilakukan ketika mendengar berita yang tidak tahu kebenarannya, Di antaranya:

Stop! Jangan semakin disebar luaskan

Sikap pertama kali yang harus dilakukan mukmin ketika mendengar berita hoax adalah “berhenti” menyebarluaskan. Yang namanya saudara, jelas tidak akan tega untuk saling mengumbar kesalahan (apalagi menyebarkan isu yang tidak jelas atau tidak benar). Kita diibaratkan seperti anggota tubuh, jika satu anggota merasa sakit, maka anggota yang lain juga ikut sakit. Maka benar jika disebutkan di dalam hadits bahwa yang dimaksud muslim sejati ialah orang yang selamat dari lisan dan tangannya (tidak menyakiti saudaranya). Karena lisan dan tangan inilah yang sangat berpotensi menyakiti baik fisik maupun batin.

Ucapkan “subhanak”

Langkah selanjutnya, ucapkan “subhanak” (Maha Suci Engkau ya Allah). Dalam artian bukan heran terhadap berita yang baru didengar, akan tetapi tasbih mengingat Allah sembari menyadari bahwa tidak ada hal yang dipastikan suci kecuali Allah. Manusia tentu memiliki aib masing-masing, maka jangan pernah mengumbar aib orang lain sebagaimana diri kita yang tidak ingin diketahui aibnya oleh orang lain. Jangan terlalu mengurusi personal lifenya seseorang, setiap orang memiliki ujian hidup masing-masing serta mencari solusi sesuai dengan kemampuan dirinya. Biarkan menjadi urusan dia dan Allah, kita tidak usah nyinyir atau memperkeruh suasana.

Segera bertaubat agar dijauhkan dari prasangka buruk terhadap saudara

Segeralah beristighfar atau bertaubat memohon ampun kepada Allah atas apa yang terlintas di otak dan hati kita (atas praduga buruk tak berdasar) terhadap saudara. Sesungguhnya manusia memang tempat salah dan dosa, namun selalu lah bertekad memperbaiki kualitas diri dari hari ke hari. Agar Allah sayang dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang beruntung yang mendapat rahmat-Nya.

Begitu indah, Allah begitu menjaga privasi dan urusan hamba-Nya. mungkin hal ini menjadi alarm bagi diri saya sendiri untuk senantiasa berpikiran positif dan tidak mudah negative thinking kepada orang lain. Terakhir, mohon perlindungan Allah dari segala bentuk fitnah dan petaka yang membuat luntur kepercayaan orang-orang yang menyayangi kita. Jangan takut untuk terus melangkah dalam kebenaran. Allah pasti menolong hamba-Nya yang yakin pertolongan-Nya. Say No to Hoax!

Atika Mustaghfiroh. Mahasiswa Penerima LPDP Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Relawan Masjid Sabilillah dan Pegiat Literasi Publik. Tulisannya anda bisa akses di web ini.

Reference

https://www.mutiarahadits.com/56/83/75/seorang-mukmin-adalah-orang-yang-kaum-muslimin-selamat-dari-lisan-dan-tangannya-htm

www.suara-islam.com/read/sirah/sirah-nabawiyah/8144/Haditsul-Ifki-Berita-Bohong

Jangan Sesekali Meremehkan Apresiasi

0

Manusia adalah makhluk yang sangat unik. Keunikan yang dimaksud disini bukan soal fisik, melainkan karakternya. Dalam diri dua manusia maka terdapat dua jenis karakter. Dalam diri dua ratus manusia maka terdapat dua ratus jenis karakter. Begitu seterusnya, setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Ada yang cenderung pemarah, penyayang, pemalu, dan berbagai jenis karakter lainnya yang akan membedakannya dengan orang lain.

Karena unik dan variatifnya karakter inilah sehingga menghadapi manusia menjadi hal yang tidak mudah. Kita harus benar-benar memperhatikan setiap sikap maupun ucapan dalam berinteraksi dengan manusia. Tujuannya adalah untuk menjaga hubungan baik dan menghindari konflik karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk hidup tenang dan damai.

Bagaimana kita ingin diperlakukan, seperti itu pula orang lain ingin diperlakukan. Bahasa sederhananya, cintailah orang lain sebagaimana kamu mencintai diri sendiri.

Ada satu hal yang sering dilupakan oleh banyak orang dalam berhubungan dengan orang lain yakni apresiasi atau penghargaan. Apresiasi tidak harus selalu dalam bentuk materi. Menanggapi pembicaraannya atau memuji usahanya juga merupakan bentuk apresiasi yang sangat berarti.

Sebagai contoh, ketika anak atau adik kita mendapat nilai baik disekolah dan menunjukkan hal itu pada kita, maka apresiasilah dengan memuji dan memotivasi. Karena jika diabaikan, bisa jadi akan menurunkan bahkan memghilangkan semangat belajar mereka. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. Contoh lain, ketika ada teman yang ingin bercerita tentang sesuatu maka tanggapilah. Perlakukan ia seperti seseorang yang sangat penting sehingga ia merasa keberadaannya dihargai.

Atau yang paling sederhana, ketika ada seseorang yang mau berbagi ilmu atau informasi penting di grup-grup diskusi online atau secara langsung maka sebisa mungkin tanggapilah. Agar ia merasa ada orang yang menganggap penting informasi yang dibagikannya sehingga ia akan terus termotivasi melakukannya. Dan masih banyak lagi contoh lainnya yang terjadi disekitar kita dimana hal tersebut sangat perlu untuk diapresiasi.

Apresiasi walau terlihat sepele sebenarnya memiliki pengaruh yang cukup bahkan sangat besar bagi sebagian orang. Jadi, mulai saat ini belajarlah mengapresiasi setiap usaha orang-orang disekitar kita.

Yuli. Mahasiswi di Universitas Halu Oleo, kota Kendari

Imunisasi, Perlukah Menimbang Halal atau Haramnya ?

0

Yogyakarta [14/10/2017] – Kontroversi imunisasi di dalam perspektif Islam menemukan titik terangnya di dalam Simposium dan Workshop Imunisasi [SWIM] 2017 yang diselenggarakan di lantai 4 Grand Ballroom Eastparc Hotel Yogyakarta oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia bekerjasama dengan IDI dan IMANI PROKAMI. Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat, SH, M.Hum. menjelaskan bahwa pada dasarnya para ulama memperbolehkan imunisasi. Hal ini berdasarkan fatwa MUI No. 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi.

Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat, SH, M.Hum saat menjelaskan materi

Di dalam putusan fatwa tersebut juga dijelaskan terminologi tentang imunisasi dan vaksin. Imunisasi adalah suatu proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu dengan cara memasukkan vaksin. Adapun vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme  yang sudah mati atau masih hidup tetapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lain, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Selanjutnya, ketua komisi fatwa MUI DIY menjelaskan beberapa ketentuan hukum terkait imunisasi. Pertama, imunisasi pada dasarnya dibolehkan [mubah] sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh [imunitas] dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. Kedua, vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Ketiga, penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis, hukumnya haram. Keempat, imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan kecuali digunakan pada kondisi al-dlarurat atau al-hajat, belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci, adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal. Kelima, dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib. Keenam, imunisasi tidak boleh dilakukan jika berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, menimbulkan dampak yang membahayakan [dlarar].

Guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut mengatakan bahwa ada beberapa kaidah tentang darurat dalam pengobatan. Pertama, darurat adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman. Kedua, darurat itu membolehkan suatu yang dilarang. Ketiga, jika ada dua mudharat [bahaya] saling berhadapan, maka diambil yang paling ringan.

Pemaparan materi oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]

Kontroversi lain terkait imunisasi dibahas secara mendalam oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]. Beliau mengemukakan beragam miskonsepsi [kesalahpahaman] dalam imunisasi dan peran komunikasi untuk mengubah miskonsepsi. Menurut CDC-WHO tahun 1996, ada enam miskonsepsi dalam imunisasi. Pertama, penyakit infeksi sudah menurun sebelum program imunisasi karena perbaikan higiene dan sanitasi, bukan karena imunisasi. Kedua, sebagian besar pasien tetap sakit setelah mendapat imunisasi; membuktikan vaksin tidak efektif. Ketiga, ada lot tertentu vaksin yang banyak menimbulkan KIPI [Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi]. Keempat, vaksin mengakibatkan efek samping berbahaya, sakit, dan kematian. Kelima, penyakit telah tereliminasi sehingga tidak perlu program imunisasi. Keenam, beberapa vaksin bila diberikan bersamaan meningkatkan risiko KIPI berbahaya dan beban sistem imun.

Sekjen PP IDAI ini juga menjelaskan perkembangan miskonsepsi imunisasi di Indonesia. Misalnya, imunisasi tidak bermanfaat karena seusai imunisasi masih bisa tertular penyakit; kejadian penyakit jarang, tidak berbahaya cukup dengan ASI dan herbal; kekebalan karena infeksi alamiah lebih baik daripada imunisasi; banyak imunisasi justru melemahkan kekebalan tubuh; anak yang tidak diimunisasi malah jarang sakit; vaksin berbahaya karena mengakibatkan kejang, lumpuh, merusak otak, menyebabkan autisme, kecacatan, dan kematian; vaksin mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, alumunium, formaldehid; vaksin haram karena mengandung lemak babi, terbuat dari janin abortus, darah, nanah, organ binatang dan manusia; vaksin menyebarkan virus AIDS dan hepatitis B, imunisasi cukup sampai sembilan bulan; imunisasi cukup lima dasar lengkap; imunisasi penting hanya sesuai jadwal pemerintah, di luar jadwal pemerintah tidak penting; kalau sudah lewat jadwal tidak boleh diimunisasi; batuk pilek tidak boleh diimunisasi; sakit-mati adalah cobaan Tuhan, vaksinasi  sama dengan tidak tawakal; program imunisasi adalah konspirasi Yahudi dan Amerika untuk melemahkan anak-anak muslim di seluruh dunia; penyakit sengaja disebarkan untuk kepentingan bisnis vaksin; pemerintah zalim memaksa semua bayi-balita diimunisasi; vaksin program imunisasi di Indonesia buatan Amerika untuk membuat anak muslim Indonesia bodoh; harga vaksin non-program mahal, menguntungkan konspirasi kapitalis; metode tahnik, bekam, herbal lebih murah dan efektif daripada imunisasi.

Penyebab semua miskonsepsi ini, menurut dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]., ada beberapa hal. Pertama, ketidaktahuan atau kekurangan informasi terkait berbagai aspek imunisasi, seperti bahaya penyakit, manfaat imunisasi, isi vaksin, jadwal imunisasi, risiko KIPI. Kedua, pengalaman atau berita berlebihan tentang KIPI. Ketiga, informasi tidak benar yang sengaja disebarluaskan kelompok antivaksin, terapi alternatif, dan herbalis. Keempat, keyakinan agama. Untuk mengubahnya, beberapa hal perlu dilakukan. Seperti melakukan upaya komunikasi informasi edukasi secara terus-menerus, tatap-muka [individu, kelompok], media massa, jejaring sosial, bekerjasama dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, organisasi wanita, LPA, KPAI, dan melibatkan para tokoh agama.

Simposium yang dihadiri sekitar dua ratus peserta ini juga mendiskusikan beragam topik yang menarik dan menghadirkan para pakar di bidangnya. Seperti Dr. dr. Wikan Indrarto, Sp.A. yang menjelaskan tentang pengenalan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; dr. Nurcholid Umam, SpA yang menguraikan tentang imunisasi apa dan mengapa; dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A[K], Ph.D. yang membahas tentang jadwal imunisasi Kemenkes dan IDAI; dr. Erlina Marfianti, MSc., SpPD yang membahas tentang imunisasi tidak hanya untuk anak; dr. Yasmini Fitriyati, SpOG yang mengemukakan tentang pencegahan kelahiran cacat dengan imunisasi pada calon ibu.

‘’Tempat representatif, peserta antusias, pembicara memang pakar di bidangnya, panitia siip, makanan delicious,’’ ujar dr. Soeroyo Machfudz, MPH, SpA[K] saat dikonfirmasi melalui komunikasi pribadi. SWIM 2017 memang amat sayang untuk dilewatkan karena membahas imunisasi dari perspektif nan komprehensif. [Liputan oleh dr. Dito Anurogo, MSc.]

Salam sehat dan sukses selalu.

dr. Dito Anurogo, dokter digital/online di detik.com, penulis lebih dari 18 buku dan lebih dari 333 karya tulis terpublikasi, CEO/Founder Indonesia Literacy Fellowship dan Srikandi Forum Indonesia, S-2 IKD Biomedis FK UGM Yogyakarta. Email: dito.anurogo@mail.ugm.ac.id

CARA KONSULTASI : ANDA BISA KONSULTASI DENGAN MENGIRIM PERTANYAAN SEPUTAR KESEHATAN KE WA 081335729355 DENGAN CARA : KETIK DOKTERRAKYAT | TULISKAN PERTANYAAN SECARA JELAS. DIAKHIR KALIMAT TUTUP DENGAN FORMAT [KAMPUSDESA.OR.ID]

Kuliah Singkat Hasil Jagongan Para Pakar Tentang Pendidikan Kita

0

Jagongan para pakar pendidikan yang dilaksanakan di Sekolah Garasi Turen (Minggu, 08/10/2017), telah melahirkan beberapa kesimpulan pemikiran penting dalam dunia pendidikan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh kampusdesa bekerjasama dengan Pesantren Rakyat, Gusdurian Malang, Sekolah Garasi, Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Gubuk Tulis dan banyak pihak yang turut menyukseskan kegiatan ini. Berikut ini ringkasan yang dapat dijadikan sebagai bahan kuliah singkat. Ringkasan ini diperuntukkan agar pembaca mudah membaca dan menyerap sesuai kebutuhan ke mana informasi dituju untuk para pakarnya.

Limus Toenlie. Kurikulum itu semestinya menggambarkan sebuah kegiatan guru atau pelaku pendidikan yang disebut dengan literasi holistik. Kurikulum yang diejawantahkan baik KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan K-13 itu cacat fakta, cacat teori dan cacat filosofis. Pergantian kurikulum tidak selalu bongkar-muat yang membingungkan, tetapi bagaimana perubahan itu diutamakan untuk selalu meningkatkan kapasitas guru.

Kentar Budhojo. Pendidikan tidak bisa digebyah uyah. Caranya sama untuk semua anak bangsa yang berbeda. Pendidikan mampu mengutamakan anak sehingga anak merasa bebas serasa di rumah. Mendidik itu harus dengan hati, menuju pada hatinya murid, dilakukan dengan sepenuh hati, dengan hati-hati tetapi tidak usah makan hati. Belajar itu bisa di mana saja, kapan saja, tentang apa saja.

Hisbullah Huda. Pengawas Pendidikan Agama Islam. Setiap anak bisa menjadi istimewa, maka mendekati anak dengan keistimewaannya justru mampu menghidupkan anak padahal orang-orang menganggap anak bermasalah. Sumber belajar dan tempat belajar itu ada di sekitar kehidupan anak. Maka tidak perlu selalu mengacu pada sumber normatif tetapi mengembangksn sumber kreatif. Tujuan belajar bukan terakreditasi tetapi pengalaman anak di lapangan yang lebih penting untuk mrnunjukkan anak itu pintar, berkarakter dan berakhlak.

Eyang Wiwik. Anak itu sudah pandai sejak lahir, dengan kepandaiannya maka seorang guru tidak tepat kalau diseragamkan sedemikian rupa. Demgan melayani yang baik maka anak-anak akan menjadi pembelajar yang baik. Kemampuan afektif dapat menjadi bagian dari kemampuan akademik. Maka rapotnya akan berbeda-beda yang menjadikam kemampuan seni misalnya juga menjadi kemampuam akademik. Oleh karena itu pendidikan itu juga harus dimulai dengan menghidupkan afeksi (kesenangan/rasa suka).

Alfin Mustikawan. Pendidikan memiliki karakteristik yang mengakar pada custom masyarakat. Sebagaimana Walisongo sebenarnya mengembangkan agama menggunakan kurikulum yang mengakar kepada lanskap masyarakat lokal. Masing-masing Walisongo memili kekhasannya sendiri karena menyesuaikan dengan karakter dan kepentingan perubahan berdasarkan kekhasannya masyarakat sekitar tempat tinggal.

Lukman Hakim. Pemilik Sekolah Dolan. Sudah meluluskan 700 siswa. Anak-anak yang terusir dari sekolah dapat dibantu belajar dengan cara melibatkan anak dan orang tuanya dalam memfasilitasi belajarnya. Anak-anak itu dapat merdeka belajar. Bagaimana dalam belajar ini, hak anak diwadahi sehingga yang penting anaknya menjadi senang. Mereka diajak melakukan perencanaan belajar dengan segala konsekuensinya. Akreditasi disandarkan kepada pengakuan masyarakat.

Najmah Natsir. Kepala MTs NU Pakis. Setiap yang datang kita layani sehingga anak-anak yang datang itu menjadi lebih baik. Sekolah MTs memfokuskan 70 persen melayani anak dan 30 persen mengerjakan administrasi. Kelebihan anak yang kita pertajam bukan kelemahan anak yang kita vonis. Kurikulum tetap perlu tetapi kurikulum yang melayani dan anak-anak itu memiliki harapan. Dengan ini pendidikan dapat menemukan sejak awal potensi atau keunggulan anak.

Hadi. Pengelola anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan memulai dengan kehidupannya sendiri. Anak harus memiliki peran sosial juga sehingga anak-anak siap bertempur dengan sesuai kemampuannya sendiri. Anak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Sumber belajar dapat ditulis kulakan di kehidupan nyata di sekitar rumah atau lingkungan sekitar sehingga dapat dijadikan bahan pengetahuan di kelas.

Kurikulum Pendidikan, Kemerdekaan Guru dan Anak Menjadi Utama

0

Asik juga, njagong membincang soal pendidikan bersama orang-orang pemerhati pendidikan yang anti mainstrem.

Dalam kesempatan Jagongan Para Pakar Part II kemarin (08/10/2017), yang diadakan di Sekolah Garasi, Turen, Dr. Anselmus JE Toenlioe, M.Pd begitu menggelora menyampaikan kegundahanya, terutama melihat kondisi pendidikan saat ini, lebih spesifiknya tentang kurikulum pendidikan di Indonesia.

“Ayo kurikulum apalagi, KTSP? Apalagi K-13, kurikulum yang cacat faktual, cacat teori, cacat filosofis itu mau diandalkan. Seharusnya bukan kurikulumnya yang diganti, namun kapasitas pelaku pendidikan, terutama guru itu yang perlu ditingkatkan kapasitasnya, termasuk pemangku kebijakan itu juga!” ungkap Toenlieo orang kelahiran Timor beragama kristiani ini.

Sementara itu, founder Sekolah Garasi, Kentar Budhojo juga turut geram melihat situasi pendidikan, lebih khusus soal implementasi dari kurikulum di Indoensia.

“Kurikulum kita ini, masih saja menganggap kapasitas kemampuan anak didik kita sama, wong kemampuan dan kapasitas setiap anak itu kan berbeda. Makanya Sekolah Garasi ini saya terapkan tanpa memakai kurikulum pendidikan di Indonesia, seperti kurikulum yang dipakai di sekolah-sekolah formal pada umumnya. Ya belajar, ya ngaji, ya implementasi, itu prinsip di Sekolah kami,” begitu tandas Kentar pensiunan dari dosen Universitas Negeri Malang ini.

Memang ya, kalau dirasakan penerapan kurikulum di negara kita, seakan pendidikan menjadi tempat berlaga. Bersaing siapa yang pintar, dia yang lancar. Sedang yang gak pintar, dipaksa sedemikian rupa mengikuti intervensi kurikulum. Jika begitu, sama halnya mematikan karakter serta potensi alami yang dimiliki setiap anak didik.

Bahkan sampai Alfin Mustikawan, salah seorang inisiator Kampus Desa juga menampakkan kegeramannya menanggapi hal tersebut.

“Terlalu banyak sistem, juga panjang prosesnya, sedangkan implementasinya di lapangan minim. Pembelajaran mestinya diberikan sesuai dengan kapasitas masing-masing anak didik, dan tidak melulu konsen di dalam kelas. Makanya, mereka para pemangku kebijakan, perlu belajar lagi tentang kisah perjuangan para wali kita dulu, bagaimana setiap perjalanan ‘wali songo’ telah memberikan kita sebuah landscape pengetahuan yang utuh,” tutur Alfin kandidat doktor ahli evaluasi pendidikan ini.

Jika sudah begitu, sepertinya memang sudah waktunya ada revolusi pendidikan, serta rekronstruksi sistem pendidikan [mha].

Kantor Batu Cycling
09 Oktober 2017

Menggagas Perguruan Tinggi Alternatif Berbasis Desa

0

Berbagai peristiwa yang dimuat dalam media massa akhir-akhir ini sungguh sangat membuat prihatin kita semua, berbagai masalah yang diekspos seolah tanpa ujung dan tidak bisa diselesaikan untuk diperbaiki, mulai dari korupsi yang kian merajalela, tingkat kemiskinan yang terus naik, kenakalan remaja yang tak terkendali, peredaran narkoba yang semakin dekat dengan lingkungan keluarga, penegakan hukum yang tidak serius sehingga terkesan seperti drama opera sabun, daya saing bangsa yang semakin melemah bila dibandngkan dengan negara lain salam kawasan regional maupun internasional  dan masih masih banyak lagi masalah lainnya. Salah satu pangkal yang seringkali disebut sebagai penyebab terjadinya berbagai macam masalah tersebut diatas adalah rendahnya kualitas pendidikan Indonesia dan terlebih yang sering disorot adalah kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

Berdasarkan data yang dirilis Pusat Data dan Informasi Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), di Indonesia saat ini terdapat  4536 perguruan tinggi dengan berbagai macam bentuk mulai dari universitas, institut hingga akademi dan memiliki 25023 Program Studi. Dengan banyaknya perguruan tingggi serta program studi tersebut amat disayangkan belum mampu menyeselesaikan berbagai macam permasalahan yang ada di Indonesia, karena manajemen perguruan tinggi yang semakin terfokus pada masalah capaian reputasi berbasis administrasi dan nihil substansi keilmuan di sana sini. Hal tersebutlah yang menjadi penyebab para lulusan perguruan tinggi gamang untuk bisa berkiprah di masyarakat maupun dunia kerja setelah lulus dari dari perguruan tinggi. Mempertimbangkan berbagai hal tersebut, menurut hemat penulis perlu dipikirkan model pendidikan tinggi alternatif yang berakar pada karakter khas Bangsa Indonesia.

Pendidikan Tinggi Alternatif

Indonesia merupakan negara yang sangat besar, hal tersebut ditunjukkan dengan jumlah penduduk yang mencapai 250 Juta, memiliki puluhan ribu suku, ribuan bahasa dan banyak agama maupun aliran kepercayaan, sehingga Indonesia bisa dikategorikan negara yang paling plural diantara negara-negara di dunia. Jumlah penduduk yang seperempat milyar tersebut menempati desa atau kelurahan di Indonesia yang berjumlah 83184 berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 56 Tahun 2015.  Mengingat banyaknya jumlah desa tersebut sangatlah memungkinkan bahwa sebagain besar permasalahan terjadi di desa dan membutuhkan penyelesaian dengan sentuhan ala pendidikan tinggi. Sehingga perlunya pendidikan alternatif yang menjadikan desa sebagai orientasi utamanya.

Perguruan tinggi pada dasarnya memiliki 3 fungsi atau yang biasa disebut sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat seperti yang diatur dalam Permenristekdikti No.44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Permenristekdikti tersebut dibuat dengan maksud untuk mendapatkan capaian yang terstandar dalam pengelolaan pendidikan tinggi, namun nalam pelaksanaannya, Permenristekdikti tersebut terkesan hanya dijadikan target capaian formal administratif secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga hasil luaran implementasinya masih jauh panggang daripada api serta mengahsilkan lulusan yang bukan bisa untuk menyelesaikan permasalahan bangsa akan tetapi menambah masalah bangsa.

Rancangan Pendidikan Tinggi Berbasis Desa

Setiap desa memiliki potensi dan karakter uniknya masing-masing, oleh karena dalam merancang desain pendidikan tinggi alternatif berbasis desa wajib mempertimbangkan hal tersebut, sehingga secara kelembagaan desa diposisikan seperti program studi, sehingga semua business process terpusat di desa dengan mengedepankan prinsip dari desa, oleh desa dan untuk pengembangan desa.

Sebagai Pendidikan alternatif, tentu hal yang harus atau perlu ada pun tentu tidak serumit dengan pendidikan formal, proses perkuliahan akan dilaksanakan seperti penggunakan sistem blok, filosofi dari sistem blok ini adalah “apa yang dikatakan, langsung dikerjakan/dipraktekkan”, maksudnya adalah sistem ini harus tuntas dari mulai pembelajaran teori hingga dipraktekan secara tuntas. Sistem blok tidak mengenal teori saja tetapi teori tersebut harus diaplikasikan dalam praktik di lapangan. Model evaluasi dilakukan secara langsung ketika proses pembelajaran atau lebih diikenal istilah autentic assessment.

Tenaga pendidik atau mentor dalam perkuliahan direkrut berdasarkan keahlian yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan para peserta perkuliahan, syarat utama sebagai tenaga pendidik dalam perkuliahan haruslah orang yang ahli dalam pekerjaannya atau bidangnya, misalnya guru, Ustadz,  pemilik bengkel, petani, pedagang, tukang cat atau keahlian lainnya, dan tidak terdapat syarat wajib telah menempuh jenjang pendidikan tertentu. Apabila di desa belum tersedia tenaga pendidik yang dibutuhkan bisa dilakukan perekrutan relawan yang bersedia untuk mengajar sesuai dengan target pembelajaran yang telah ditetap.

Sebagai penciri bahwa perguruan tinggi alternatif berbasis desa memenuhi kualifikasi jenjang pendidikan tinggi, maka harus dipastikan bahwa dalam menentukan capaian pembelajaran telah sesuai minimal dengan level 6 kerangka kualifikasi nasional indonesia (KKNI). Dan akhirnya gagasan dilaksanakan perguruan tinggi alternatif berbasis desa merupakan tawaran solutif untuk membantu menyelesaikan kompleksnya permasalahan yang ada di negeri yang kita cintai ini melalui pendidikan tinggi alternatif yang sesuai dengan kearifan lokal dan mempersiapkan generasi bangsa berkiprah di kancah nasional dan internasional. Wallahua’lam Bisshowab

*Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Inisiator kampus desa Indonesia

Kata Itu Senjata; Kekuatan Dahsyat Tulisan

0

Kata itu senjata. Ibarat dua sisi koin yang berbeda. Di tangan orang jahat, kata-kata berpotensi merobek asa. Di tangan orang baik, kata-kata berkekuatan mengobati jiwa. Tiada yang melebihi keabadian kata-kata, bila telah tertulis. Tiada yang menghancurkan kemuliaan kata-kata, melainkan akhlak penulis. Itulah kuasa kata, terutama bila tertulis.

Seorang pemimpin seringkali takut kepada pena seorang jurnalis, lebih takut daripada demo ribuan rakyat yang mengatasnamakan sosialis, demokratis, agamis, atau komunis. Karena perkataan akan sirna, sedangkan tulisan itu abadi selamanya. Berhati-hatilah dengan kata-kata, apabila telah tertulis.

Tajamnya melebihi pedang. Tidak hanya dapat melukai seseorang, atau menggelapkan masa depan ribuan orang, kata-kata yang tertulis berpotensi membuat kekebasan terkekang, harapan gersang, harga menjulang, kehormatan terjengkang, silaturahmi renggang, rezim tumbang.

Kata itu senjata. Tertulis terpateri pena. Semesta peradaban berubah. Mampu mengubah sejarah. Tanpa pertumpahan darah. Waspadalah.

dr. Dito Anurogo, dokter digital/online di detik.com, penulis lebih dari 18 buku dan lebih dari 333 karya tulis terpublikasi, CEO/Founder Indonesia Literacy Fellowship dan Srikandi Forum Indonesia, S-2 IKD Biomedis FK UGM Yogyakarta. Email: dito.anurogo@mail.ugm.ac.id