Rabu, Agustus 26, 2026
Beranda blog Halaman 99

Testimoni Santri, The Origin of Santri Unique on the Wall in Facebook Status

0

SEJUMLAH STATUS DI FACEBOOK ALUMNI SANTRI MENARIK DIMUAT KEMBALI DI SINI. KITA BISA MENGETAHUI BAGAIMANA MEMORI TENTANG MASA LALU SANTRI BEGITU MENGGEMASKAN. ADA YANG LUCU, ADA YANG SERIUS DAN ADA YANG DIHUKUM INI DAN ITU. SEBAGAI KENANGAN YANG INDAH, DI SINI, KAMPUS DESA MENCOBA UNTUK MELAKUKAN PENAYANGAN ULANG STATUS FACEBOOK TERSEBUT AGAR LEBIH MUDAH DIBACA. SEMOGA BISA MENJADI BACAAN MENGHIBUR MEMPERINGATI HARI SANTRI, 22 OKTOBER 2017 YANG TELAH LALU. TERBUKA BAGI PEMBACA YANG PINGIN MENULIS SEPUTAR KEHIDUPAN PESANTREN DAN PENGALAMAN MENJADI SANTRI. SILAHKAN HUBUNGI ADMIN DI FOOTER WEB INI. BERIKUT SEJUMLAH PETIKAN-PETIKAN STATUS FACEBOOK DARI TEMAN-TEMAN SANTRI, TETAPI SUDAH MENJADI ORANG-ORANG SUKSES.
AAN ANSHORI | KETIKA SANTRI NOT-NOW BERTEMU KIDS ZAMAN NOW

“Kak Aan pengen tahu siapa yang bisa doa sebelum makan. Ngacung dong,” saya bertanya pada puluhan kids Islam-Kristen zaman now yang berkumpul di Joglo Sinau milik Gereja Bethany Gudo Jombang, malam ini. Banyak sekali tangan diacungkan.

Saya senang melihat mereka bermain tanpa melihat latarbelakang agama. Acara ini digagas oleh PDM Petra dan alumni training penggerak perdamaian, Vivi.

“Kami selalu dicurigai akan melakukan kristenisasi, Mas. Padahal kami tulus lho,” kata Petra. Saya tertawa saja sembari terus memotivasinya agar tidak patah semangat mengajarkan kebhinnekaan di kampungnya.

Begitu saya diperkenalkan dan maju ke forum, orang tua yang muslim serentak ikut mendekat –sebelumnya mereka hanya mengawasi anak-anak mereka dari jauh.

“Kenalkan, saya Kak Aan, santri dari Jombang. Kalian senang nggak main di sini? Punya banyak kawan kan? Oh ya, meski Muslim, teman Kak Aan beragam lho. Ada yg Kristen, Katolik, Buddha, Khonghucu. Yang Tionghoa juga banyak. Punya banyak kawan enak lho seperti kalian saat ini,” saya nyerocos, mati-matian bergaya guru PAUD .

ROY MURTADHO | MODYAR DITAKZIR 2 JUZ DIULANG SAMPAI SUBUH

Hari santri. Dulu jaman masih ngafalin Qur’an dan nadzam Imrithi, dan Alfiyah. Sering tidur di makbarah Hadratus SyaiHasyim Asy’ari. Atau kalau enggak ya di makam Mbah Asy’ari di Keras. Namun sekarang sudah tidak bisa, sebab yang ziarah sudah buanyakkkk…

Nah, waktu di Krapyak yang paling ingat sering kena razia subuh Kiai Najib. Di kejar-kejar sampai masuk WC, Sebab malamnya begadang di masjid Krapyak, diskusi ngalor ngidul nggak jelas. Tapi kalau kena takzir ringan banget cuman disuruh nyapu tiap pagi di ndalem dan pelataran kompleks. Yang paling berat kalau dihukum setoran 2 juz dan diulang-ulang sampai subuh. Modyar tenan. Anak-anak yang lain sudah pada keluar. Tapi saya dibiarin, ngaji mulai jam 10 malam sampai jam 3 pagi. Udah gitu besoknya dibilangin Kiai: “kalau Ndak begitu kapan nderese. Mosok nderese novel tok…” Hehe

Nah kalau sudah pengen cari ketenangan larinya ke makam Dongkelan. Di sana sepi. Tapi bukannya ngaji malah ngatamin novelnya Mangun, “Burung-Burung Manyar” Hahaha…

Yang paling lucu salah kasih amplop ke pak Kiai, yang akhirnya dibalikin sama beliau. Isin puolll… Terakhir kami ngopi bareng di Tebuireng. Beliau bilang, “sing penting aja lali ngaji lan sholat”.

Soal gudiken di pondok? Ya mesti lah! Hukumnya wajib

Mufid Ibnu Rowi | Santri dan pohon Mangga muda

Siang itu, pondok Asy Syafiiyah Babat sedang sepi, sebagian santri pulang kampung. Beberapa santri yang masih di pondok ingin memanjat pohon mangga yang ada di dalam pondok. Maklumlah buat “camilan”. Sementara buahnya masih muda belum layak di panen. Biasanya pohon ini dipanen santri saat sudah masak.

Singkat cerita, beberapa santri itu berdiskusi untuk memilih siapa yang bertugas memanjat dan menjaga di bawah pohon sambil melihat situasi kalau ada pengasuh dan Kyai yang lewat. Hehehe

Tibalah saatnya sang santri A memanjat pohon dan beberapa santri menunggu di bawah dengan tugasnya masing masing. Saat ambil beberapa buah mangga dan diterima santri yang di bawah, Tiba-tiba dan tidak disangka pengasuh keluar rumah yang berada di samping pondok dan menuju ke arah pondok. Santri yang bertugas mengawasi situasi segera memberi tahu, namun terlambat, pengasuh lebih dulu sudah masuk di dalam pondok. Para santri yang di bawah pohon berhamburan menuju kamar. Kemudian pengasuh berdiri tepat di bawah pohon mangga.

Santri yang di kamar mengintip temennya yang masih di atas pohon dan pengasuh yang cukup lama berdiri di bawah pohon. beliau sebenarnya tahu kalo ada santri di atas pohon. Lalu beliau senyum senyum dan memanggil santri. Keluarlah santri dari dalam kamar dengan perasaan dag dig dug, dengan wajah pucat dan beliau berkata:

“PELEM IKI WOHE AKEH ENAK DIPANGAN NEK WES MATENG (POHON MANGGA INI BUAHNYA BANYAK, ENAK DIMAKAN KALAU SUDAH MASAK).” SEREMPAK SANTRI MENJAWAB ” NGGIH MBAH”. PERASAAN MEREKA LEGA DAN GEMBIRA KARENA TERNYATA BELIAU TIDAK MARAH BAHKAN MENDAPAT SENYUMAN SANG PENGASUH.

Kemudian beliau pun pergi menuju rumah kediaman dengan senyum senyum, mungkin sudah cukup memberikan pelajaran santri A yang masih di atas pohon. Tak lama kemudian turunlah santri A dari atas pohon mangga dengan wajah pucat dan disambut dengan gelaktawa para santri yang lainnya.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini?

edesiharisantri2017

Tata Khoiriyah | Santri Nakal

Dulu ibu kekeuh sekali masukin saya dan adek-adek ke pesantren. Alasannya supaya bisa kecipratan barokah doanya kyai. Bukan cuma itu, mondok jadi tempat yang tepat untuk mendidik anak mandiri, dewasa, dan mampu bersosialisasi sekaligus. Kata ibu, senakal-nakalnya cah santri itu ndak bikin jantungan ketimbang nakalnya anak yg ndak masuk pondok. Pandangan ibu begini karena suka miris mendengar cerita anak kampung yg nakalnya bikin geleng-geleng atau ngelus dada.

Padahal, sejak MTs, SMA hingga kuliah saya termasuk santri ndableg. Gimana ndak ndableg, sukanya pulang terlambat, lebih memilih organisasi ketimbang kegiatan pondok, suka telat jamaah, apalan tasrifan, jurmiyah dan imriti cuma segitu-gitu aja, alias pas-pasan. Pas ngaji kitab suka ketiduran. Baca kitab, cuma mentok di arab pegon. Intinya ndak ada yg dibanggakan. Bahkan saya ini setiap minggu langganan dipanggil pengurus pondok karena kena takziran.

Takzirannya beragam, mulai dari nguras bak kamar mandi, baca sholawat setiap sore, ngepel musholla, disetrap ndak boleh keluar pondok kecuali sekolah, sampe diskors disuruh pulang ke rumah untuk merenung. Semua takziran gakk bikin kapok.

Tapi setelah melewati tahun-tahun diluar pesantren, hal yang bikin kangen dari pondok itu macam makan sistem kepungan, kerja bakti bersih-bersih pondok, senengnya kumpul-kumpul kalau dapat izin keluar, sampe rasa seneng tak terkira karena ngajinya khatam.

Alhasil, saya jadi kepengen kalau punya anak sekolahnya sambil mondok sajalah. Tentunya sekarang usaha dulu cari calon pasangan yang santri juga. Eh ….

Selamat hari santri …

IRHAM THORIQ ALY | DI PESANTREN

Di pesantren, masak mie rebus, terong bakar, dan sambal seadanya sudah nikmat.
Di pesantren, kita tidak diajari hidup enak. Kata embah saya; pesantren itu bukan tempat untuk hidup enak, meski kamu punya uang untuk memanjakan anakmu. Katanya, suatu ketika kepada ibu saya.

Ya, mungkin karena hidup enak itu tidak butuh dilatih, tapi hidup penuh kegetiran itu yang butuh dilatih. Berulang-ulang.

Sungguh, saya rindu pesantren, ketika definisi kebahagiaan hanya berupa masak bersama sampai larut malam. Memasak dengan kayu dan kompor seadanya, dinding-dinding dapur yang menghitam, hingga berjejal agar nasi lekas masak.

Di pesantren, ada kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sekarang tinggallah lelucon. Suatu hari, saya dan Rohim Warisi mancal ke Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Betapa konyolnya, ketika tiba di stadion, dia malah tidak berani nonton.”Ham, Ham, nanti masuk tv, kenak gundul nanti,” kira-kira seperti itulah ucapannya ketika itu. Saya tidak ingat persis, karena kejadian itu sudah berlalu sekitar 11 tahun silam.

Ya, hukuman bagi santri yang menonton Arema memang berat: digundul. Entah itu menonton di stadion atau menonton di televisi warga sekitar pesantren.
Karena ketakutan itu, kami akhirnya tidak jadi menonton Arema. Kami keluar Stadion, mengayuh sepeda, dan pergi ke rumah saudara. Lumayan, dikasih makan. Kira-kira, kalau ditotal, waktu itu kita mancal sekitar 15 kilometer. Kitapun pulang ke pesantren dengan selamat. Dalam hal melanggar aturan, saya termasuk orang yang beruntung tidak pernah ketahuan meski beberapa kali nonton Arema dan liga champions di televisi, maka selamatlah rambut saya…hehhee

Menjadi santri, sejatinya belajar tentang kehidupan. Mungkin karena itulah, santri tidak pernah takut miskin. Mereka selalu berani menikah meski tidak punya pekerjaan. Lalu, yang sarjana, menunda nikah karena belum mapan. Apa tidak malu?
Di pesantren, kini semuanya tinggal cerita…

Selamat hari santri…

Tidak Perlu Kagetan pada Penawaran Investasi yang Menggiurkan

0

Dalam sebuah percakapan di pesan whatsapp, ada seseorang yang bertanya,

Pertanyaan : “Lagi rame tracto Pak, Pendapat pak Sigit pripun, Jawab saya, “Saya memilih tidak berpendapat.”

Tugas saya membekali semua dengan pengetahuan tentang keuangan dan bisnis, pola pikir yang benar dan sebagainya. Supaya yang akan datang tidak terjebak investasi bodong atau money game yang dibungkus segala macam seperti MLM, saham, asuransi, tabungan dan sebagainya.

Anda harus bisa dengan cepat mengenali ini money game atau bukan ketika di tawari. Untuk itu lihat arah uangnya kemana, kemudian kalau ada keuntungan itu masuk akal apa tidak orangnya ajak ajak kita, memangnya dia malaikat ? (lihat e book Membangun Jaringan dan Sistem hal 29)

Kalau bisnis atau investasi yang sudah diikuti sekarang dan sepertinya bau money game ya sudahlah namanya sudah terlanjur. Didoakan saja Anda masih di level level atas yang masih akan dapat uangnya karena masih dibutuhkan untuk promo. Tapi kalau sudah dapat ya jangan dimasukkan lagi. Sebaiknya digunakan untuk hal-hal baik karena di sana banyak uangnya orang lain yang tertipu dan mungkin nanti tidak mendapat haknya kalau dianggap sudah waktunya untuk dibubarkan oleh penyelenggara.

Dari obrolan saya dengan banyak orang di luar sana, umumnya mereka ngotot bahwa “ini bukan money game.” Ya tidak apa apa karena waktu yang akan berbicara.

Money game terbesar di dunia dilakukan Bernard Maddof. Didirikan tahun 1960 dan baru terbongkar tahun 2008. Klien nya hanya 4800 orang milyuner, tapi kerugian yg ditimbulkan 50 milyar dollar atau 650 Trilyun. Rahasia bisa berlangsung selama itu karena dikelola dengan hati hati dan hanya melibatkan keluarga sendiri. Penawaran investasinya pun eksklusif hanya diantara para milyarder yang sudah freedom. Sehingga tidak ada orang yg ingin ambil investasinya di tengah jalan karena mereka sebenarnya dudah tidak butuh uang.

Baru terbongkar ketika si anak akan diwarisi perusahaan itu dan bapaknya mengatakan, ” Sebenarnya tidak ada investasi apa apa. Saya membayar hasil investasi ke orang itu ya dengan uang mereka sendiri ditambah uang orang lain yang baru masuk.”

Anaknya lapor ke polisi karena tidak mau diwarisi masalah. Di tahun 2009 Maddof dihukum 150 tahun dan denda 170 milyar dollar.

Anaknya langsung memutuskan hubungan secara hukum dengan ayahnya.

Bismillahirohmanirrohim dan Visi Otentik Perguruan Tinggi

0

Dalam sebuah organisasi, keberadaan visi merupakan aspek yang sangat fundamental. Visi memegang peranan utama sebagai penunjuk arah organisasi dalam menjalankan proses manajemen dan visi merupakan seperangkat pernyataan yang menggambarkan capaian organisasi dalam spesifikasi, waktu, dan  degree tertentu. Perguruan tinggi sebagai sebuah organisasi yang memegang amanah dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi berupa pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat tentunya juga perlu menetapkan visi yang sesuai dengan profil organisasi masing-masing.

Pernyataan visi dalam perguruan tinggi biasanya ditulis dalam dokumen induk perguruan tinggi seperti statuta, renstra ataupun dokumen lainnya, selain itu untuk melakukan sosialisasi visi biasanya kita bisa menemukan pernyataan visi di dalam website, leaflet, nameboard, atau bahkan pada tembok bangunan gedung perguruan tinggi.

Apabila kita amati dengan seksama, pernyataan visi yang ditulis oleh manajemen perguruan tinggi selalu saja membuat kita terhenyak dan kagum, namun tidak jarang nalar kritis kita juga dibuat bertanya-tanya dengan pernyataan visi tersebut yang terkesan begitu fantastis akan tetapi tidak sesuai dengan profil organisasi perguruan tinggi, dan begitu lihat reputasi dan rekognisi perguruan tinggi tersebut biasanya terkesan kedodoran dan jauh sekali dari pernyataan visi yang dibuatnya.

Dalam bahasa agama mungkin padanan kata yang tepat untuk  visi adalah nawaitu atau niat, dan agama mengajarkan atau bahkan mewajibkan kepada kita semua untuk membaca Bismillahirohmanirrohim sebelum kita membaca niat, lalu apa relevansinya dengan pengelolaan manajemen mutu perguruan tinggi?.

Bismillahirohmanirrohim dan Visi Otentik

Sebagai lembaga pendidikan dengan amanah yang begitu mulia serta strategis, manajemen perguruan tinggi dalam menyusun dan membuat visi seyogyanya juga memulainya dengan Bismillahirohmanirrohim atau bahkan mungkin wajib bagi perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI).  Sangat indah rasanya apabila dalam pernyataan visi sebuah perguruan tinggi selain memuat pernyataan komitmen tentang implementasi Tridharma perguruan tinggi juga dilandasi dengan nilai-nilai Arrahman dan Arrahim yang jujur dan otentik.

Dari sekitar 4000 lebih perguruan tinggi yang berada di Indonesia, setelah penulis teliti secara acak melalui internet, tidak banyak ditemukan visi perguruan tinggi yang membumi sesuai dengan profil lembaganya, dan hampir rata-rata visi yang dibuat memang monumental secara pernyataan, akan tetapi bila dilihat capaiannya maka masih jauh panggang daripada api. Indikator capaian sederhana untuk mengetahui kinerja perguruan tinggi adalah rangking akreditasi badan akreditasi nasional pendidikan tinggi (BANPT). Universitas Gadjah Mada sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia, dalam penyataan visi perguruan tingginya menyebut “UGM sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila”(ugm.ac.id). dengan reputasi yang begitu luar biasa UGM mengemas pernyataan visi dengan begitu otentik dan original serta menekankan khidmah kepada negara kesatuan pancasila.

BAN-PT menempatkan Visi pada standar yang pertama, dengan dibarengi dengan misi, tujuan dan sasaran perguruan tinggi. Penempatan visi pada standar pertama dikarenakan standar visi merupakan kiblat untuk penilaian kinerja perguruan tinggi dihubungkan standar lainnya, semakin otentik visi sebuah perguruan tinggi maka akan semakin otentik pula kinerja perguruan tinggi dalam memenuhi standar lain.

Paparan diatas secara eksplisit menekankan begitu pentingnya keberadan visi bagi perguruan tinggi sebagai sebuah nawaitu dalam menjalankan khidmah atau layanan pendidikan tinggi bagi warga negara Republik Indonesia. Karena begitu penting perannya, maka otensitasnya pun harus dijamin dan dijaga  dengan serius pula.

Keseriusan itu ditunjukkan sebelum menuangkan nawaitu perguruan tinggi dalam pernyataan visi, manajemen perguruan tinggi melakukan need assessment yang serius dan jujur untuk mendapatkan existing condition perguruan tinggi yang akurat. Akurasi Hasil tersebutlah yang bisa mengarahkan manajemen dalam membuat visi yang otentik dan sesuai dengan profil perguruan tinggi. Untuk menghasilkan sebuah layan perguruan tinggi yang bermutu tidak hanya membutuhkan nawaitu yang baik saja, akan tetapi juga dibarengi dengan kerja keras serta keseriusan dan komitmen manajemen perguruan tinggi dalam merawat niat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam lafadl Bismillahirohmanirrohim.Wallahua’lam

Tiga Sikap yang Seharusnya Dilakukan Mukmin untuk Menangkal Hoax

0

(INGATLAH) DI WAKTU KAMU MENERIMA BERITA BOHONG ITU DARI MULUT KE MULUT DAN KAMU KATAKAN DENGAN MULUTMU APA YANG TIDAK KAMU KETAHUI SEDIKIT JUGA, DAN KAMU MENGANGGAPNYA SUATU YANG RINGAN SAJA. PADAHAL DIA PADA SISI ALLAH ADALAH BESAR. (QS. AN-NUR:15)

Zaman milenial, yang mana kecanggihan teknologi menembus jarak yang paling jauh sekalipun. Berita yang dahulu hanya bisa menghebohkan satu kampung, sekarang sangat memungkinkan untuk diketahui seluruh dunia. Namun, semakin ke sini, semakin berat juga menahan diri untuk tidak jatuh ke dalam kubangan penyebar atau penyalur berita hoax, meski bukan mustahil untuk menjauhinya.

Tepat tanggal 13 Oktober kemarin, ketika saya menghadiri majelis ilmu atau kami biasa menyebutnya Ma’dubatullah Learning Center di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mana di dalamnya menyelami tentang hikmah dan indahnya ayat-ayat Allah dengan pemateri luar biasa lulusan Jerman dan Australia, Bapak Mokhammad Yahya. Kebetulan hari itu kami membahas tentang surat An-Nur yang di dalamnya terdapat klarifikasi pembelaan Allah kepada istri tercinta Rasulullah, sayyidatina Aisyah RA serta teguran keras bagi yang menyebarkan Isu tidak benar dari mulut ke mulut.

Saya kira sangat relevan jika dikaitkan dengan zaman sekarang, zaman berita “hoax” yang semakin tidak terbendung dan begitu menjamur. Sedikitnya ada tiga hal yang seharusnya dilakukan ketika mendengar berita yang tidak tahu kebenarannya, Di antaranya:

Stop! Jangan semakin disebar luaskan

Sikap pertama kali yang harus dilakukan mukmin ketika mendengar berita hoax adalah “berhenti” menyebarluaskan. Yang namanya saudara, jelas tidak akan tega untuk saling mengumbar kesalahan (apalagi menyebarkan isu yang tidak jelas atau tidak benar). Kita diibaratkan seperti anggota tubuh, jika satu anggota merasa sakit, maka anggota yang lain juga ikut sakit. Maka benar jika disebutkan di dalam hadits bahwa yang dimaksud muslim sejati ialah orang yang selamat dari lisan dan tangannya (tidak menyakiti saudaranya). Karena lisan dan tangan inilah yang sangat berpotensi menyakiti baik fisik maupun batin.

Ucapkan “subhanak”

Langkah selanjutnya, ucapkan “subhanak” (Maha Suci Engkau ya Allah). Dalam artian bukan heran terhadap berita yang baru didengar, akan tetapi tasbih mengingat Allah sembari menyadari bahwa tidak ada hal yang dipastikan suci kecuali Allah. Manusia tentu memiliki aib masing-masing, maka jangan pernah mengumbar aib orang lain sebagaimana diri kita yang tidak ingin diketahui aibnya oleh orang lain. Jangan terlalu mengurusi personal lifenya seseorang, setiap orang memiliki ujian hidup masing-masing serta mencari solusi sesuai dengan kemampuan dirinya. Biarkan menjadi urusan dia dan Allah, kita tidak usah nyinyir atau memperkeruh suasana.

Segera bertaubat agar dijauhkan dari prasangka buruk terhadap saudara

Segeralah beristighfar atau bertaubat memohon ampun kepada Allah atas apa yang terlintas di otak dan hati kita (atas praduga buruk tak berdasar) terhadap saudara. Sesungguhnya manusia memang tempat salah dan dosa, namun selalu lah bertekad memperbaiki kualitas diri dari hari ke hari. Agar Allah sayang dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang beruntung yang mendapat rahmat-Nya.

Begitu indah, Allah begitu menjaga privasi dan urusan hamba-Nya. mungkin hal ini menjadi alarm bagi diri saya sendiri untuk senantiasa berpikiran positif dan tidak mudah negative thinking kepada orang lain. Terakhir, mohon perlindungan Allah dari segala bentuk fitnah dan petaka yang membuat luntur kepercayaan orang-orang yang menyayangi kita. Jangan takut untuk terus melangkah dalam kebenaran. Allah pasti menolong hamba-Nya yang yakin pertolongan-Nya. Say No to Hoax!

Atika Mustaghfiroh. Mahasiswa Penerima LPDP Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Relawan Masjid Sabilillah dan Pegiat Literasi Publik. Tulisannya anda bisa akses di web ini.

Reference

https://www.mutiarahadits.com/56/83/75/seorang-mukmin-adalah-orang-yang-kaum-muslimin-selamat-dari-lisan-dan-tangannya-htm

www.suara-islam.com/read/sirah/sirah-nabawiyah/8144/Haditsul-Ifki-Berita-Bohong

Jangan Sesekali Meremehkan Apresiasi

0

Manusia adalah makhluk yang sangat unik. Keunikan yang dimaksud disini bukan soal fisik, melainkan karakternya. Dalam diri dua manusia maka terdapat dua jenis karakter. Dalam diri dua ratus manusia maka terdapat dua ratus jenis karakter. Begitu seterusnya, setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Ada yang cenderung pemarah, penyayang, pemalu, dan berbagai jenis karakter lainnya yang akan membedakannya dengan orang lain.

Karena unik dan variatifnya karakter inilah sehingga menghadapi manusia menjadi hal yang tidak mudah. Kita harus benar-benar memperhatikan setiap sikap maupun ucapan dalam berinteraksi dengan manusia. Tujuannya adalah untuk menjaga hubungan baik dan menghindari konflik karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk hidup tenang dan damai.

Bagaimana kita ingin diperlakukan, seperti itu pula orang lain ingin diperlakukan. Bahasa sederhananya, cintailah orang lain sebagaimana kamu mencintai diri sendiri.

Ada satu hal yang sering dilupakan oleh banyak orang dalam berhubungan dengan orang lain yakni apresiasi atau penghargaan. Apresiasi tidak harus selalu dalam bentuk materi. Menanggapi pembicaraannya atau memuji usahanya juga merupakan bentuk apresiasi yang sangat berarti.

Sebagai contoh, ketika anak atau adik kita mendapat nilai baik disekolah dan menunjukkan hal itu pada kita, maka apresiasilah dengan memuji dan memotivasi. Karena jika diabaikan, bisa jadi akan menurunkan bahkan memghilangkan semangat belajar mereka. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. Contoh lain, ketika ada teman yang ingin bercerita tentang sesuatu maka tanggapilah. Perlakukan ia seperti seseorang yang sangat penting sehingga ia merasa keberadaannya dihargai.

Atau yang paling sederhana, ketika ada seseorang yang mau berbagi ilmu atau informasi penting di grup-grup diskusi online atau secara langsung maka sebisa mungkin tanggapilah. Agar ia merasa ada orang yang menganggap penting informasi yang dibagikannya sehingga ia akan terus termotivasi melakukannya. Dan masih banyak lagi contoh lainnya yang terjadi disekitar kita dimana hal tersebut sangat perlu untuk diapresiasi.

Apresiasi walau terlihat sepele sebenarnya memiliki pengaruh yang cukup bahkan sangat besar bagi sebagian orang. Jadi, mulai saat ini belajarlah mengapresiasi setiap usaha orang-orang disekitar kita.

Yuli. Mahasiswi di Universitas Halu Oleo, kota Kendari

Imunisasi, Perlukah Menimbang Halal atau Haramnya ?

0

Yogyakarta [14/10/2017] – Kontroversi imunisasi di dalam perspektif Islam menemukan titik terangnya di dalam Simposium dan Workshop Imunisasi [SWIM] 2017 yang diselenggarakan di lantai 4 Grand Ballroom Eastparc Hotel Yogyakarta oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia bekerjasama dengan IDI dan IMANI PROKAMI. Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat, SH, M.Hum. menjelaskan bahwa pada dasarnya para ulama memperbolehkan imunisasi. Hal ini berdasarkan fatwa MUI No. 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi.

Prof. Dr. Drs. Makhrus Munajat, SH, M.Hum saat menjelaskan materi

Di dalam putusan fatwa tersebut juga dijelaskan terminologi tentang imunisasi dan vaksin. Imunisasi adalah suatu proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu dengan cara memasukkan vaksin. Adapun vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme  yang sudah mati atau masih hidup tetapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lain, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Selanjutnya, ketua komisi fatwa MUI DIY menjelaskan beberapa ketentuan hukum terkait imunisasi. Pertama, imunisasi pada dasarnya dibolehkan [mubah] sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh [imunitas] dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. Kedua, vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Ketiga, penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis, hukumnya haram. Keempat, imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan kecuali digunakan pada kondisi al-dlarurat atau al-hajat, belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci, adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal. Kelima, dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib. Keenam, imunisasi tidak boleh dilakukan jika berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, menimbulkan dampak yang membahayakan [dlarar].

Guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut mengatakan bahwa ada beberapa kaidah tentang darurat dalam pengobatan. Pertama, darurat adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman. Kedua, darurat itu membolehkan suatu yang dilarang. Ketiga, jika ada dua mudharat [bahaya] saling berhadapan, maka diambil yang paling ringan.

Pemaparan materi oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]

Kontroversi lain terkait imunisasi dibahas secara mendalam oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]. Beliau mengemukakan beragam miskonsepsi [kesalahpahaman] dalam imunisasi dan peran komunikasi untuk mengubah miskonsepsi. Menurut CDC-WHO tahun 1996, ada enam miskonsepsi dalam imunisasi. Pertama, penyakit infeksi sudah menurun sebelum program imunisasi karena perbaikan higiene dan sanitasi, bukan karena imunisasi. Kedua, sebagian besar pasien tetap sakit setelah mendapat imunisasi; membuktikan vaksin tidak efektif. Ketiga, ada lot tertentu vaksin yang banyak menimbulkan KIPI [Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi]. Keempat, vaksin mengakibatkan efek samping berbahaya, sakit, dan kematian. Kelima, penyakit telah tereliminasi sehingga tidak perlu program imunisasi. Keenam, beberapa vaksin bila diberikan bersamaan meningkatkan risiko KIPI berbahaya dan beban sistem imun.

Sekjen PP IDAI ini juga menjelaskan perkembangan miskonsepsi imunisasi di Indonesia. Misalnya, imunisasi tidak bermanfaat karena seusai imunisasi masih bisa tertular penyakit; kejadian penyakit jarang, tidak berbahaya cukup dengan ASI dan herbal; kekebalan karena infeksi alamiah lebih baik daripada imunisasi; banyak imunisasi justru melemahkan kekebalan tubuh; anak yang tidak diimunisasi malah jarang sakit; vaksin berbahaya karena mengakibatkan kejang, lumpuh, merusak otak, menyebabkan autisme, kecacatan, dan kematian; vaksin mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, alumunium, formaldehid; vaksin haram karena mengandung lemak babi, terbuat dari janin abortus, darah, nanah, organ binatang dan manusia; vaksin menyebarkan virus AIDS dan hepatitis B, imunisasi cukup sampai sembilan bulan; imunisasi cukup lima dasar lengkap; imunisasi penting hanya sesuai jadwal pemerintah, di luar jadwal pemerintah tidak penting; kalau sudah lewat jadwal tidak boleh diimunisasi; batuk pilek tidak boleh diimunisasi; sakit-mati adalah cobaan Tuhan, vaksinasi  sama dengan tidak tawakal; program imunisasi adalah konspirasi Yahudi dan Amerika untuk melemahkan anak-anak muslim di seluruh dunia; penyakit sengaja disebarkan untuk kepentingan bisnis vaksin; pemerintah zalim memaksa semua bayi-balita diimunisasi; vaksin program imunisasi di Indonesia buatan Amerika untuk membuat anak muslim Indonesia bodoh; harga vaksin non-program mahal, menguntungkan konspirasi kapitalis; metode tahnik, bekam, herbal lebih murah dan efektif daripada imunisasi.

Penyebab semua miskonsepsi ini, menurut dr. Piprim B. Yanuarso, SpA[K]., ada beberapa hal. Pertama, ketidaktahuan atau kekurangan informasi terkait berbagai aspek imunisasi, seperti bahaya penyakit, manfaat imunisasi, isi vaksin, jadwal imunisasi, risiko KIPI. Kedua, pengalaman atau berita berlebihan tentang KIPI. Ketiga, informasi tidak benar yang sengaja disebarluaskan kelompok antivaksin, terapi alternatif, dan herbalis. Keempat, keyakinan agama. Untuk mengubahnya, beberapa hal perlu dilakukan. Seperti melakukan upaya komunikasi informasi edukasi secara terus-menerus, tatap-muka [individu, kelompok], media massa, jejaring sosial, bekerjasama dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, organisasi wanita, LPA, KPAI, dan melibatkan para tokoh agama.

Simposium yang dihadiri sekitar dua ratus peserta ini juga mendiskusikan beragam topik yang menarik dan menghadirkan para pakar di bidangnya. Seperti Dr. dr. Wikan Indrarto, Sp.A. yang menjelaskan tentang pengenalan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; dr. Nurcholid Umam, SpA yang menguraikan tentang imunisasi apa dan mengapa; dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A[K], Ph.D. yang membahas tentang jadwal imunisasi Kemenkes dan IDAI; dr. Erlina Marfianti, MSc., SpPD yang membahas tentang imunisasi tidak hanya untuk anak; dr. Yasmini Fitriyati, SpOG yang mengemukakan tentang pencegahan kelahiran cacat dengan imunisasi pada calon ibu.

‘’Tempat representatif, peserta antusias, pembicara memang pakar di bidangnya, panitia siip, makanan delicious,’’ ujar dr. Soeroyo Machfudz, MPH, SpA[K] saat dikonfirmasi melalui komunikasi pribadi. SWIM 2017 memang amat sayang untuk dilewatkan karena membahas imunisasi dari perspektif nan komprehensif. [Liputan oleh dr. Dito Anurogo, MSc.]

Salam sehat dan sukses selalu.

dr. Dito Anurogo, dokter digital/online di detik.com, penulis lebih dari 18 buku dan lebih dari 333 karya tulis terpublikasi, CEO/Founder Indonesia Literacy Fellowship dan Srikandi Forum Indonesia, S-2 IKD Biomedis FK UGM Yogyakarta. Email: dito.anurogo@mail.ugm.ac.id

CARA KONSULTASI : ANDA BISA KONSULTASI DENGAN MENGIRIM PERTANYAAN SEPUTAR KESEHATAN KE WA 081335729355 DENGAN CARA : KETIK DOKTERRAKYAT | TULISKAN PERTANYAAN SECARA JELAS. DIAKHIR KALIMAT TUTUP DENGAN FORMAT [KAMPUSDESA.OR.ID]

Kuliah Singkat Hasil Jagongan Para Pakar Tentang Pendidikan Kita

0

Jagongan para pakar pendidikan yang dilaksanakan di Sekolah Garasi Turen (Minggu, 08/10/2017), telah melahirkan beberapa kesimpulan pemikiran penting dalam dunia pendidikan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh kampusdesa bekerjasama dengan Pesantren Rakyat, Gusdurian Malang, Sekolah Garasi, Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Gubuk Tulis dan banyak pihak yang turut menyukseskan kegiatan ini. Berikut ini ringkasan yang dapat dijadikan sebagai bahan kuliah singkat. Ringkasan ini diperuntukkan agar pembaca mudah membaca dan menyerap sesuai kebutuhan ke mana informasi dituju untuk para pakarnya.

Limus Toenlie. Kurikulum itu semestinya menggambarkan sebuah kegiatan guru atau pelaku pendidikan yang disebut dengan literasi holistik. Kurikulum yang diejawantahkan baik KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan K-13 itu cacat fakta, cacat teori dan cacat filosofis. Pergantian kurikulum tidak selalu bongkar-muat yang membingungkan, tetapi bagaimana perubahan itu diutamakan untuk selalu meningkatkan kapasitas guru.

Kentar Budhojo. Pendidikan tidak bisa digebyah uyah. Caranya sama untuk semua anak bangsa yang berbeda. Pendidikan mampu mengutamakan anak sehingga anak merasa bebas serasa di rumah. Mendidik itu harus dengan hati, menuju pada hatinya murid, dilakukan dengan sepenuh hati, dengan hati-hati tetapi tidak usah makan hati. Belajar itu bisa di mana saja, kapan saja, tentang apa saja.

Hisbullah Huda. Pengawas Pendidikan Agama Islam. Setiap anak bisa menjadi istimewa, maka mendekati anak dengan keistimewaannya justru mampu menghidupkan anak padahal orang-orang menganggap anak bermasalah. Sumber belajar dan tempat belajar itu ada di sekitar kehidupan anak. Maka tidak perlu selalu mengacu pada sumber normatif tetapi mengembangksn sumber kreatif. Tujuan belajar bukan terakreditasi tetapi pengalaman anak di lapangan yang lebih penting untuk mrnunjukkan anak itu pintar, berkarakter dan berakhlak.

Eyang Wiwik. Anak itu sudah pandai sejak lahir, dengan kepandaiannya maka seorang guru tidak tepat kalau diseragamkan sedemikian rupa. Demgan melayani yang baik maka anak-anak akan menjadi pembelajar yang baik. Kemampuan afektif dapat menjadi bagian dari kemampuan akademik. Maka rapotnya akan berbeda-beda yang menjadikam kemampuan seni misalnya juga menjadi kemampuam akademik. Oleh karena itu pendidikan itu juga harus dimulai dengan menghidupkan afeksi (kesenangan/rasa suka).

Alfin Mustikawan. Pendidikan memiliki karakteristik yang mengakar pada custom masyarakat. Sebagaimana Walisongo sebenarnya mengembangkan agama menggunakan kurikulum yang mengakar kepada lanskap masyarakat lokal. Masing-masing Walisongo memili kekhasannya sendiri karena menyesuaikan dengan karakter dan kepentingan perubahan berdasarkan kekhasannya masyarakat sekitar tempat tinggal.

Lukman Hakim. Pemilik Sekolah Dolan. Sudah meluluskan 700 siswa. Anak-anak yang terusir dari sekolah dapat dibantu belajar dengan cara melibatkan anak dan orang tuanya dalam memfasilitasi belajarnya. Anak-anak itu dapat merdeka belajar. Bagaimana dalam belajar ini, hak anak diwadahi sehingga yang penting anaknya menjadi senang. Mereka diajak melakukan perencanaan belajar dengan segala konsekuensinya. Akreditasi disandarkan kepada pengakuan masyarakat.

Najmah Natsir. Kepala MTs NU Pakis. Setiap yang datang kita layani sehingga anak-anak yang datang itu menjadi lebih baik. Sekolah MTs memfokuskan 70 persen melayani anak dan 30 persen mengerjakan administrasi. Kelebihan anak yang kita pertajam bukan kelemahan anak yang kita vonis. Kurikulum tetap perlu tetapi kurikulum yang melayani dan anak-anak itu memiliki harapan. Dengan ini pendidikan dapat menemukan sejak awal potensi atau keunggulan anak.

Hadi. Pengelola anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan memulai dengan kehidupannya sendiri. Anak harus memiliki peran sosial juga sehingga anak-anak siap bertempur dengan sesuai kemampuannya sendiri. Anak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Sumber belajar dapat ditulis kulakan di kehidupan nyata di sekitar rumah atau lingkungan sekitar sehingga dapat dijadikan bahan pengetahuan di kelas.

Kurikulum Pendidikan, Kemerdekaan Guru dan Anak Menjadi Utama

0

Asik juga, njagong membincang soal pendidikan bersama orang-orang pemerhati pendidikan yang anti mainstrem.

Dalam kesempatan Jagongan Para Pakar Part II kemarin (08/10/2017), yang diadakan di Sekolah Garasi, Turen, Dr. Anselmus JE Toenlioe, M.Pd begitu menggelora menyampaikan kegundahanya, terutama melihat kondisi pendidikan saat ini, lebih spesifiknya tentang kurikulum pendidikan di Indonesia.

“Ayo kurikulum apalagi, KTSP? Apalagi K-13, kurikulum yang cacat faktual, cacat teori, cacat filosofis itu mau diandalkan. Seharusnya bukan kurikulumnya yang diganti, namun kapasitas pelaku pendidikan, terutama guru itu yang perlu ditingkatkan kapasitasnya, termasuk pemangku kebijakan itu juga!” ungkap Toenlieo orang kelahiran Timor beragama kristiani ini.

Sementara itu, founder Sekolah Garasi, Kentar Budhojo juga turut geram melihat situasi pendidikan, lebih khusus soal implementasi dari kurikulum di Indoensia.

“Kurikulum kita ini, masih saja menganggap kapasitas kemampuan anak didik kita sama, wong kemampuan dan kapasitas setiap anak itu kan berbeda. Makanya Sekolah Garasi ini saya terapkan tanpa memakai kurikulum pendidikan di Indonesia, seperti kurikulum yang dipakai di sekolah-sekolah formal pada umumnya. Ya belajar, ya ngaji, ya implementasi, itu prinsip di Sekolah kami,” begitu tandas Kentar pensiunan dari dosen Universitas Negeri Malang ini.

Memang ya, kalau dirasakan penerapan kurikulum di negara kita, seakan pendidikan menjadi tempat berlaga. Bersaing siapa yang pintar, dia yang lancar. Sedang yang gak pintar, dipaksa sedemikian rupa mengikuti intervensi kurikulum. Jika begitu, sama halnya mematikan karakter serta potensi alami yang dimiliki setiap anak didik.

Bahkan sampai Alfin Mustikawan, salah seorang inisiator Kampus Desa juga menampakkan kegeramannya menanggapi hal tersebut.

“Terlalu banyak sistem, juga panjang prosesnya, sedangkan implementasinya di lapangan minim. Pembelajaran mestinya diberikan sesuai dengan kapasitas masing-masing anak didik, dan tidak melulu konsen di dalam kelas. Makanya, mereka para pemangku kebijakan, perlu belajar lagi tentang kisah perjuangan para wali kita dulu, bagaimana setiap perjalanan ‘wali songo’ telah memberikan kita sebuah landscape pengetahuan yang utuh,” tutur Alfin kandidat doktor ahli evaluasi pendidikan ini.

Jika sudah begitu, sepertinya memang sudah waktunya ada revolusi pendidikan, serta rekronstruksi sistem pendidikan [mha].

Kantor Batu Cycling
09 Oktober 2017