Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 100

Masihkah Kurikulum Dibutuhkan Oleh Anak-anak ?

0

Begini ya, saya ingin memantik diskusi tentang kurikulum dan perkembangan anak-anak yang sedang belajar di kelas. Sedikit saya kutip beberapa definisi atau istilah kurikulum itu apa dulu dan akan saya sajikan sedikit tentang kejadian-kejadian spesifik mengenai kehidupan manusia. Saya mencoba membuka http://edglossary.org/curriculum/ yang mendefinisikan kurikulum itu sebuah muatan belajar dan akademik yang diajarkan di sebuah sekolah atau sebuah program kursus tertentu. Muatan tersebut mencakup pengetahuan dan ketrampilan siswa yang dicapai melalui belajar. Ada tiga kategori dalam kurikulum, yakni adanya standar belajar/tujuan belajar yang mencakup sarana dan prasarana, dan biasanya memiliki cara penilaian untuk melihat hasilnya.

Saat bicara standar belajar, kurikulum tercemar oleh kepentingan politik karena ia akan melibatkan tujuan pendidikan dan hubungannya dengan kebutuhan pemilik kebijakan. Namun, ketika mengacu pada pengertian dasar kurikulum, maka acuan yang termaktub adalah fokus pada apa yang ingin dimiliki siswa, seperti pengetahuan dan ketrampilan. Kalau demikian, kurikulum itu secara teknis bukan komoditas pemerintah tetapi tentang manusianya, yakni kemauan anak untuk belajar apa. Yah, lebih luwesnya, anak mau dibimbing menjadi apa ?

Kalau yang ini, disebut dalam edglossary tersebut dengan istilah autenthic learning (pembelajaran otentik).  Kurikulum dalam spektrum pembelajaran otentik bermuara pada kepentingan pelajar, bukan kepentingan lain. Kepentingan tersebut menjawab keinginan anak, profesi yang dicita-citakan,  atau serangkaian tujuan yang memang sejalan dengan kebutuhan dunia nyata bagi anak-anak.  Pembelajaran otentik tidak memisahkan antara proses yang terjadi di kelas/sekolah dengan situasi nyata di luar kelas.

Tulisan yang saya baca dari Lombardi (2007),  pembelajarannya mengutamakan doing (nglakoni) daripada listening (ngrungokno).  Kegiatan belajar mengutamakan proses yang terhubung dengan dunia nyata, teknik-teknik latihan memecahkan masalah secara langsung, mengutamakan partisipasi praktis, bukan didasari oleh acuan buku teks yang diujikan karena kekuatan belajarnya syarat dengan pengalaman yang sesuai dengan konteks kehidupan langsung (Lombardi, 2007; Rule, 2006; http://edglossary.org).

Jika mengandalkan pendekatan humanistik, maka yang paling mendekati kepentingan siswa ya belajar secara otentik. Artinya, kurikulum didefinisikan dekat dengan anak dan jawaban proses belajarnya tidak lain adalah pembelajaran otentik. Oleh karena itu, pembelajaran otentik adalah berbuah perubahan-perubahan potensial yang melekat dalam pengalaman hidup anak-anak.

Anak-anak yang tidak terakomodasi dalam sekolah, kadang justru menjadi anak-anak yang kemudian sukses. Sukses yang bukan didasari oleh semata-mata ukuran akademis. Kadang mereka lebih dapat mengubah tujuan hidupnya dan cepat mendapatkan capaian kesuksesan. Ada beberapa contoh anak yang tidak sukses di sekolah, justru di suatu hari dia berkembang pesat di luar sekolah. Mereka tidak selalu dianggap anak yang tidak cerdas. Ruang kecerdasan mereka berbeda kebutuhan dan ekspresi sehingga kecerdasan mereka lebih cepat memperoleh kemerdakaannya di luar kelas.

Kajian ini bukan menafikan sekolah tetapi seharusnya guru memahami keanekaragaman fakta perbedaan anak.

Kalau kemudian kurikulum didasari bukan oleh kepentingan anak-anak sendiri, maka ia masuk kurikulum yang berlawanan dan menggambarkan kepentingan orang lain (pemerintah). Hari ini, kita berada dalam arus-utama kurikulum yang berorientasi pada kepentingan kekuasaan dan artinya, dia mengingkari kepentingan anak. Oleh karena itu, tinggal kita memilih saja, sekolah itu kepentingan siapa. Jika itu adalah kepentingan pemerintah, apalagi guru untuk menuntaskan tanggungjawab pekerjaan, yah, kurikulum itu sebenarnya tidak dibutuhkan anak untuk menjawab hidupnya yang bersifat otentik.

Apakah kemudian tetap saja kita ngotot mengubah di sana sini mengenai kebijakan kurikulum yang karena dalih-dalih tersebut, perubahan kebijakan kurikulum tidak pernah menyentuh suara anak ? ini lah yo dehumanisasi  ?

Saya menjadi ingat kitab washoya, saat kita merenggut hak orang lain, atau tidak memenuhinya, maka kewajiban kita untuk mengembalikannya. Walah, terus bagaimana pendidikan yang sudah kadung panjang urusane .

Oke silahkan hadir di acara Jagongan Para Pakar sebagaimana yang ada dipamflet tersebut. Mari mendengarkan dan turut berkonstribusi untuk perubahan pendidikan Indonesia. Silahkan bergabung dengan menguak lebih dalam apa itu Sekolah Garasi dan ketidaktakutan pengelola Sekolah Garasi untuk berbeda dari sekolah lainnya. Sekolah yang standar nilainya nyata, tidak direkayasan dengan pengatrolan di sana sini.

Mari kita lakukan terobosan dan praktis pada Minggu, 08 Oktober 2017 nanti.

Jika Anda bingung, silahkan mengakses goolge map Sekolah Garasi.

Asri Wijayanti; Mengenal Nulikan Hidup Srikandi Hukum Penuh Prestasi

0

Kampus Desa-Seluruh jenjang kuliahnya, S-1, S-2 dan S-3 diperoleh melalui beasiswa. Bahkan ditambah Sandwich (beasiswa musiman di Wollongong University Australia). Perempuan yang telah menulis 24 artikel ilmiah, 14 publikasi pada pertemuan ilmiah dan 5 buku di seputar hukum ini dapat dijadikan teladan perempuan berprestasi. Perempuan yang sekarang menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum di Universitas Muhammadiyah Surabaya Jawa Timur dan Pimpinan Redaksi Jurnal Yustitia akan membagikan pengalaman dan sudut pandang kehidupannya untuk terus menjadi sosok terbaik. Meskipun bapaknya seorang sopir truk, semangatnya menembus batas. Berikut nukilan kisah hidupnya yang disarikan dari hasil wawancara oleh dr. Dito Anurogo, M. Sc, Dokter Rakyat dari Kampus Desa.

Apakah menjadi doktor di bidang hukum merupakan cita-cita sejak kecil? Bila tidak, apa cita-cita Anda sebenarnya ?

Tidak. Saat SD saya bercita-cita menjadi Polwan atau tentara. Keinginan menjadi seorang doktor baru tahun 2004, ketika saya bertemu dengan seorang teman S2 yang hampir menyelesaikan studi S3-nya.

Bagaimana reaksi keluarga dan para sahabat, saat Anda memutuskan memilih bidang hukum sebagai pilihan hidup ?

Hukum sebenarnya bukan pilihan utama saya. Menjelang kelulusan SMA, tahun 1987, ada kegiatan untuk mengisi formulir PMDK. Pilihan pertama saya adalah Akuntansi Unair. Pilihan kedua, saya menuruti saran Bapak untuk menulis Fakultas Hukum Unair. Ternyata saya diterima. Reaksi keluarga saya sangat senang. Terutama Bapak.

Mengapa tertarik memilih bidang hukum perburuhan?

Sampai lulus S1 saya belum tertarik dengan hukum perburuhan. Skripi saya tentang hukum agraria. Pilihan hukum perburuhan baru saya ambil ketika saya menjadi dosen di FH Untag Surabaya melalui jalur beasiswa Tunjangan ikatan Dinas (TID). Pengalaman kerja 2 tahun sebagai personalia, menjadikan saya memilih bidang hukum perburuhan. Ada sesuatu yang salah telah terjadi di Indonesia. Timbul pertanyaan dalam benak saya, mengapa buruh yang sudah bekerja dengan maksimal, tetapi hasilnya masih hidup di bawah standar. Kejadian mogok kerja oleh dua ribuan buruh di tempat kerja saya waktu itu, sangat melekat di pikiran saya hingga saat ini. Saya berusaha mencari akar masalah terjadinya perselisihan perburuhan yang tak kunjung henti. Ada keinginan mempunyai andil untuk melakukan perubahan.

Bagaimana Anda menjalani kehidupan masa anak-anak, remaja, dan dewasa. Bolehkah cerita suka duka saat menjalani pendidikan di semua tingkatan yang sudah Anda lalui ?

Masa kanak-kanak yang melekat di hati adalah pengalaman saat saya masih duduk di kelas 3 SD Negeri Ngagel Rejo IV Nomor 399 Surabaya. Saat itu saya dimarahi bu guru karena tidak dapat mengerjakan soal cerita dalam mata pelajaran Matematika.

Tiga hari berturut-turut saya mendapat nilai nol. Saat dimarahi pada jam pelajaran tersebut, saya menangis dan berlari pulang. Kalimat yang terucap saya waktu itu, adalah “saya tidak mau sekolah.”  Kalimat itu saya ucapkan terus sampai saya tertidur. Seharian saya hanya menangis di atas tempat tidur, tidak makan, minum, dan mandi apalagi sholat 5 waktu.

Malam hari saya terbangun, (tetapi tetap di atas tempat tidur). Saat itu saya melihat ibu saya sedang sholat tahajud kemudian membaca al-qur’an lalu berdoa, “Ya Allah mudahkanlah anakku, Yanti untuk sekolah, amin”. Anehnya setelah itu saya tertidur lagi.

Keesokan harinya, ibu membujuk dan meyakinkan saya bahwa hari ini insya Allah saya bisa mengerjakan soal matematika, ibu berdoa untukmu. Nah anehnya hari itu juga ternyata saya dapat mengerjakan soal cerita matematika dengan sangat mudah dan dapat nilai 100. Hari itu sepertinya awal saya senang belajar.

Ketika di bangku kelas III SMP, ibu saya meninggal dunia karena tumor kandungan dan kanker otak.

Saat di bangku SMA, bapak saya sudah tidak bekerja lagi sebagai sopir truk. Dengan mengambil kredit mobil, bapak mengais rejeki sebagai sopir angkutan antar kota Surabaya-Porong. Uang saku saya waktu itu hanya nyaris untuk transport saja. Saya sering kelaparan. Sering saya minum air PDAM untuk mengisi perut kosong. Nah saat itu ada bu guru yang baik hati, sering membelikan saya nasi soto. Dia bu Hermin. Saya ingat terus jasanya. Saat ujian terbuka S3, Beliau saya undang, sebagai tanda ucapan terima kasih saya, atas budi baik beliau. Beliau sangat bangga dengan saya.

Saat mengambil S2, saya sudah memiliki seorang anak. Mungkin karena cemburu, anak saya pernah membuang buku kuliah saya di selokan. Di akhir studi S2 saya hamil anak kedua. Target saya waktu itu, saya harus menyelesaikan S2 sebelum anak kedua saya lahir. Selama masa kehamilan saya mengalami pendarahan sekitar 7 kali. Akibatnya saya mengerjakan konsep tesis di atas tempat tidur. Pengetikan saya serahkan ke rental. Alhamdulillah saya orang pertama di angkatan 1998 yang maju ujian tesis. Alhamdulillah, saya lulus S2 terlebih dahulu sebelum melahirkan anak kedua.

Duka ketika kuliah adalah saat mencari data untuk pembuatan skripsi, tesis dan disertasi. Saat mencari data skripsi di Pemda tingkat II Surabaya, saya terpaksa berbohong dengan mengaku keponakan dari pejabat yang akan saya hubungi ke sekretarisnya. Hal itu karena izin mencari data saya sudah tiga bulan belum juga diproses. Alhamdulillah dengan cara itu saya dapat menyelesaikan S1 selama 7 semester dengan nilai tertinggi kedua pada lulusan FH Unair saat itu.

Duka ini terulang lagi saat mencari data untuk tesis S2. Birokrasi yang belum terbuka menjadikan saya sulit untuk mendapatkan MOU Indonesia-Malaysia sebagai dasar hukum analisis tesis. Alhamdulillah setelah dilempar ke sana kemari oleh oknum pejabat depnaker di Jakarta, tanpa sengaja saya bertemu bapak Din Samsudin. Alhasil, oknum yang tadinya memperlakukan saya dengan tidak baik, atas perintah pak Din, keadaan menjadi berubah dan saya akhirnya mendapat bahan yang saya perlukan.

Duka mencari bahan terulang lagi di tahun 2007, saat saya mencari naskah akademis UU 25/1997, UU 21/2000, UU 13/2003 dan UU 2/2004 ke DPR-RI. Oknum staf DPR akan memeras saya dengan biaya tertentu untuk mendapatkan hanya copy CD berita acara rapat pembuatan UU tersebut. Untungnya saya tidak memiliki sejumlah uang yang diminta tersebut. Akhirnya dengan bantuan seorang cleaning service, saya berhasil mendapatkan foto copy dengan biaya yang wajar.

Keadaan itu sangat jauh dari kondisi di luar negeri. Ketika saya sandwich di University of Wollongong Australia. Informasi begitu terbuka. Para profesor sangat baik dan terbuka. Ketika berdiskusi mereka sangat menghargai perbedaan. Tidak pernah terucap “kamu salah”. Yang ada hanya pertanyaan mengapa kamu berpendapat seperti itu, coba jelaskan. Begitu pula seorang profesor dari University of Sidney (hanya dengan perkenalan melalui email) telah memberikan kemudahan akses jurnal bagi saya di sana. Saya dengan mudah mengakses peraturan, jurnal apapun dari negara manapun termasuk Indonesia sendiri.

Rupanya Indonesia sebagai bangsa yang ramah saya rasakan sangat bertolak belakang atas fakta pencarian bahan penelitian itu. Semoga ke depan Indonesia menjadi lebih terbuka kepada akademisi.

Dapatkah Anda berbagi cerita tentang kehidupan “masa lalu” yang begitu menempa dan mendewasakan diri, sekaligus mengandung hikmah?

Pada awal saya menjadi dosen, saya sering tidak dipercaya oleh mahasiswa. Mungkin waktu itu saya masih terlihat seperti anak-anak. Bahkan pernah saya dikira anaknya bu Asri Wijayanti. Pernah sewaktu saya mengajar, mahasiswa laki-laki yang duduk di kursi belakang senyum-senyum sendiri. Setelah saya datangi ternyata dia sedang menggambar saya (saat itu saya sedang mengenakan span pendek, maklum saat itu saya belum berjilbab). Kejadian ini mulai memunculkan keinginan untuk berbusana muslim.

Ketika sedang studi S3, saya pernah sakit. Kelebihan valium yang disuntikkan oleh seorang dokter (di salah satu rumah sakit internasional di Surabaya) pada saat akan mengambil IUD, menyebabkan saya mengalami koma kurang lebih 4 jam. Karena keadaan saya, pengambilan IUD gagal. Akhirnya saya pindah dokter dan rumah sakit. Melihat riwayat tersebut, maka pengambilan IUD dilakukan di ruang operasi dengan kondisi (yang menakutkan seperti saat saya akan operasi caesar melahirkan).

Pasca kejadian itu hampir seluruh waktu saya pakai untuk tidur. Sempat saya tidak dapat membaca rangkaian huruf. Saya dapat merasakan lambatnya perintah dari otak ke anggota tubuh untuk bergerak. Saat itu yang terpikir oleh saya adalah “hari ini adalah hari terakhir saya melihat suami dan anak-anak saya).

Perlu perjuangan yang sangat dalam untuk dapat membaca, menggerakkan tangan dan anggota tubuh serta bekerjanya otak. Saya yakin ada dosa besar yang telah saya lakukan sehingga Allah menjadikan sakit saya sebagai pelebur dosa.

Mungkin saya telah sombong, merasa semua kelebihan saya hanya semata-mata karena kelebihan dan saya sendiri yang melakukan. Saya lupa bahwa saya bukan apa-apa. Semua yang ada pada diri saya hanyalah milik dan atas kehendak Allah.

Disitulah saya mulai belajar bahwa saya harus menekankan dalam hati atas semua tindakan yang akan saya lakukan dengan lafadz “Lahaula wala quwatta illa billahil aliyil adzim”. Saya bersyukur telah diberi suami yang baik. Selama saya sakit dari A-Z suami sayalah yang melakukan itu. Sementara saya hanya dapat tidur saja. Berbagai cara saya lakukan agar saya pulih kembali mulai berobat alternatif dengan pijat tusuk jari sampai bercanda dengan daun.

Anehnya di tengah kondisi tersebut ada waktu yang membuat saya mampu menulis sebuah buku. Buku itu judulnya “Pergeseran konsep hubungan kerja, hak pekerja yang terhempas” dan berhasil mendapat insentif buku ajar Dikti tahun 2008.

Keluarga Asri Wijayanti

Ibu termasuk aktif sebagai wanita karir, terbukti dari banyaknya berbagai pengalaman di dunia kerja. Boleh berbagi tentang pengalaman dan hikmah apa saja yang telah Ibu dapatkan?

Sebagai personalia, ketika saya belum menikah. Pekerjaan itu tidak cocok dengan hati nurani saya. Tetapi telah meletakkan dasar pengalaman untuk mengakaji lebih jauh tentang hukum perburuhan. Sebagai dosen saya sangat menikmati. Setiap selesai mengajar (atau menulis) saya merasa badan saya lebih sehat, meski hampir sebelum melakukan saya sering merasakan sakit.

Sebagai dosen saya harus profesional. Saya berusaha menyiapkan materi perkuliahan sebelum mengajar. Ketika saya di luar rumah, saya harus benar-benar untuk bekerja. Jika tidak ada yang saya kerjakan di kampus saya lebih senang untuk memilih di rumah. Saya merasa lebih produktif apabila saya menulis di rumah. Izin suami mutlak harus saya miliki jika saya akan ke luar rumah untuk bekerja.

Boleh tahu formula sukses Ibu? Bagaimana pula Ibu memaknai kesuksesan ini?

Sukses apabila apa yang kita kerjakan tidak merugikan orang lain dan selalu memberikan kemanfaatan pada orang lain. Sukses apabila kita sudah dapat memberi sesuatu yang bermanfaat pada orang lain.

Menurut Ibu, apa saja “top ten issues” yang sering dijumpai di dalam praktek/kehidupan sehari-hari terkait bidang hukum perburuhan?

Outsourcing,
Upah murah,
TKI,
PHK,
hak berserikat,
pekerja anak,
kerja paksa,
jaminan sosial,
hukum sebagai produk politik, dan
peradilan yang adil.

Secara umum, bagaimana strategi menangani “top ten issues” tersebut?

Harus ada kejujuran dalam proses pembentukan aturan hukum dan kebijakan serta kejujuran dalam penegakan hukum.

Bagaimana Ibu menanggapi maraknya outsourcing atau sistem kontrak yang bahkan juga dialami oleh tenaga medis (dokter, perawat, bidan)? Apa solusi nyata dari “tragedi kemanusiaan” ini?

Outsourcing, di Indonesia telah dikonsepkan yang salah. Berbeda dengan teori awal yaitu ekonomi yang meletakkan hanya outsourcing pekerjaan bukan outsourcing pekerja. UU 13/2003 bahkan putusan MK belum menghilangkan konsep outsourcing pekerja. Outsourcing juga berbeda dengan teori hukum, dimana pekerja (hanya sebagai subyek hukum) diperlakukan sebagai obyek hukum yang dapat diperdagangkan.

Outsourcing seolah dipisahkan dari hak-hak pekerja berdasar standart minimal kerja. Seolah pengusaha dengan bebas mengabaikan hak-hak itu.

Teori outsourcing  yang berasal dari management telah dialihkan menjadi alat politik perburuhan untuk mendapatkan upah murah. Seharusnya outsourcing tidak ada kaitannya dengan pemberian hak-hak pekerja berdasar standart minimal kerja. Hak-hak itu tetap harus diberikan kepada semua pekerja baik dengan sistim outsourcing atau insourcing / inhouse production.

Solusi mengatasi revisi aturan hukum yang berkaitan dengan outsourcing.  Mulai revisi pengertian hubungan kerja, pengusaha. Hapuskan outsourcing pekerja!!!

Banyak sekali tokoh bangsa yang memiliki ide brilian untuk membangun bangsa. Nah, sebagai seorang yang pakar di bidang hukum, bagaimana platform Ibu untuk memajukan bangsa yang heterogen dan majemuk ini? Bila berkenan, mohon sampaikan ide/pemikiran yang bersifat “thought provoking and worth spreading” dengan hypnotic-language.

Di bidang hukum, harus ditanamkan pendidikan hukum pada mahasiswa yang berlandaskan keadilan hukum (substantive) bukan sekedar keadilan undang-undang. Hakim harus berani membuat hukum yang baru apabila ada aturan hukum yang beretentangan dengan rasa keadilan. Pemerintah harus terbuka dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan. Jangan dikonsepkan sebagai sebuah proyek yang dikerjakan oleh mereka yang bukan ahlinya. Keterbukaan informasi mulai dari proses pembentukan, pelaksanaan dan penegakan hukum.

Apa (saja) pesan dan kesan Ibu untuk generasi muda dan mahasiswa di bidang hukum?

Untuk generasi muda, lakukan perbaikan apapun juga yang dimulai dari diri sendiri. Untuk mahasiswa di bidang hukum, jangan serta merta menerapkan semua aturan hukum secara absolut. Kaji terlebih dahulu kesesuaian rumusan aturan hukum dengan teori hukum dan filsafat hukum. Hukum dibuat untuk melindungi. Hukum yang salah harus segera direvisi.

Apa pesan dan kesan Ibu untuk pemerintah?

Produk hukum harus dibuat melalui proses yang terbuka. Pemerintah harus memfasilitasi keterbukaan proses pembuatan, dan penegakan hukumnya. Diperlukan akses internet yang mudah atas semua aturan hukum, putusan hakim dan kebijakan hukum.

Demikian wawancara eksklusif ini, semoga bermanfaat dan mencerahkan kita semua.

Dokter Rakyat: Ini Dia Penyebab Cegukan

0

DokterRakyat [KampusDesa] Sahabatku semuanya se-bangsa se-tanah air yang dirahmati Allah SWT. semoga sahabatku semuanya sehat dan sejahtera selalu. Aamiin 3x.

Dalam kesempatan emas kali ini, izinkanlah saya sedikit berbagi tentang apa penyebab cegukan. Selamat membaca dan memahami.

Pusat cegukan [hiccup reflex arc] adalah di bagian atas urat saraf tulang belakang [upper spinal cord, C3-C5], di medulla oblongata, di dekat pusat pernapasan. Aktivasi persarafan recurrent laryngeal menutup glottis, memproduksi suara ”hiks” saat cegukan.

Cegukan yang berlangsung kurang dari 48 jam [2 hari], paling sering dipicu oleh meminum minuman berkarbon, minum terlalu banyak alkohol, makan terlalu banyak, rasa cemas atau ketakutan yang berlebihan dan/atau tidak masuk akal, stres emosional, rasa bahagia yang berlebihan [euforia], perubahan suhu yang mendadak, menelan udara sambil mengunyah permen karet atau menghisap permen.

[PARAGRAF BERSPONSOR] BELI SALAH SATU BUKU SI DOKTERRAKYAT BERJUDUL “THE ART OF MEDICINE, SENI MENDETEKSI, DAN MENYEMBUHKAN 88 PENYAKIT DAN GANGGUAN KESEHATAN. PENDAMPING SETIA SEBELUM KE DOKTER.” DITERBITKAN OLEH GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA JAKARTA TAHUN 2016. CUKUP BARU. BUKU INI SEOLAH MENCEGAH ANDA UNTUK TIDAK KE DOKTER. CUKUP MEMBACANYA MAKA ANDA BARANGKALI AKAN MENUNDA PERGI KE DOKTER KARENA MENDAPAT PANDUAN DARI BUKU INI. TETAPI TETAP JIKA ADA KELUHAN YANG TIDAK BISA DITANGANI SENDIRI, PERGI KE DOKTER ADALAH SEBUAH KEHARUSAN. TETAPI KEMAMPUAN MERAWAT KESEHATAN JUGA PENTING SEHINGGA MEMILIKI BUKU INI JUGA SAMA PENTINGNYA DENGAN ANDA MEMILIKI DOKTER RUMAH 24 JAM. BUKU INI DAPAT DIBELI MELALUI ONLINE DENGAN MENGUNJUNGI LINK BERIKUT >> GETSCOOP, AMAZON, GRAMEDIA [PARAGRAF BERSPONSOR]

Cegukan selama lebih dari dua hari disebabkan oleh berbagai faktor, seperti; iritasi atau kerusakan sistem persarafan, gangguan sistem saraf pusat dan tepi, gangguan metabolisme, infeksi [misal meningitis dan ensefalitis], mengonsumsi obat-obatan tertentu [seperti benzodiazepin, barbiturat aksi-pendek, donepezil, deksametason, alfa-metildopa, steroid, tranquilizers, dan sebagainya].

Demikian sedikit ilmu dari saya. Semoga bermanfaat.

Salam sehat dan sukses selalu.

dr. Dito Anurogo, dokter digital/online di detik.com, penulis lebih dari 18 buku dan lebih dari 333 karya tulis terpublikasi, CEO/Founder Indonesia Literacy Fellowship dan Srikandi Forum Indonesia, S-2 IKD Biomedis FK UGM Yogyakarta. Email: dito.anurogo@mail.ugm.ac.id

CARA KONSULTASI : ANDA BISA KONSULTASI DENGAN MENGIRIM PERTANYAAN SEPUTAR KESEHATAN KE WA 081335729355 DENGAN CARA : KETIK DOKTERRAKYAT | TULISKAN PERTANYAAN SECARA JELAS. DIAKHIR KALIMAT TUTUP DENGAN FORMAT [KAMPUSDESA.OR.ID]

Kampung Cabe, Kemandirian Pangan Melalui Ngaji Tani

0

Tak ada hal istimewa yang ditawarkan dari kampung ini kecuali semangat belajar petani yang tinggi dan para sahabat yang ingin berbagi. Berbagi pengalaman, ilmu dan juga jaringan.

Jangan dibayangkan bahwa tanaman cabe petani di kampung ini paling istimewa. Oh, tentu tidak begitu. Karena di luar sana banyak petani yang lebih pintar, keren atau bahkan lebih sukses dalam usaha taninya. Barangkali akan menjadi tidak pantas untuk dibandingkan apalagi di pertandingkan.

Bahkan di setiap forum NgajiTani sering saya sampaikan bahwa Kampung Cabe ini hanya pantas dikunjungi oleh para pegiat pertanian yang tidak pamrih, petugas dan atau aparat yang jelas dalam berpihak, akademisi yang peduli dan senang berbagi. Anak muda atau para sarjana yang ingin mengabdi. Pedagang yang tidak curang, politisi yang tidak memperalat petani serta bagi siapapun dan dari manapun.

Kenapa demikian ? Karena di kampung cabe inilah kita akan bersama belajar dan berproses bagaimana menuju kemandirian dalam bertani, menghargai kearifan lokal, menjaga harmoni lingkungan/alam dan sosial, memupuk gotong royong serta berusaha secara bersama-sama meningkatkan kesejahteraan.

Harus ditanamkan keyakinan sejak awal hingga nanti ke depan, bahwa Kampung Cabe ini benar-benar bisa menjadi kampung impian para generasi muda yang “CABE” alias Cakap Bertani. Fa insyaAllah!

Salam #NgajiTani
Dusun Daleman, Kadur, Pamekasan
23 September 2017

Abdus Salim. Founder Komunitas NgajiTani dan Inisiator dan Pembakti Kampung Cabe. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang

Peta Jalan SMART untuk Perekonomian Desa

0

Mengapa harus ekonomi desa yang harus mendapatkan perhatian khusus, sehinga harus digerakkan ? Apakah masyarakat yang berdomisili di desa memiliki kerentanan? Apakah memang masyarakat yang ada di desa sebagian besar miskin?  Penulis yang aslinya juga berasal dari desa dan juga masih berada di desa, merasakan bagaimana jerihpayahnya masyarakat yang berdomisili di desa. Perputaran uang tidak sebegitu banyak selayaknya di perkotaan sehingga jangan heran apabila Buruh Migran Indonesia (BMI) mayoritas berasal dari desa, jangan heran pula kota-kota besar disesaki oleh  orang-orang dari desa, karena dengan menjadi BMI, dengan berada di kota besar diharapkan akan mampu untuk meningkatkan taraf hidup dan gaya hidup yang akan lebih baik lagi. Begitu kira-kira harapan mereka ketika memutuskan untuk menjadi BMI dan urban (pergi ke kota besar).

Pada bulan Maret 2017,  jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen), bertambah sebesar 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen). Komposisi kota dan desa masih ada kesenjangan yang tinggi. Posisi September 2016, persentase penduduk miskin keseluruhan 10,70%. Di kota 7,73% dan di desa 13,96%. Hampir dua kali lipat angka tersebut mencerminkan masalah besar yang sampai sekarang tidak berubah. Persoalan itu tidak lain yakni perbedaan tinggi antara penduduk miskin di kota dan desa (BPS, 2017).

Maka sebenarnya, salah satu tujuan adanya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa salah satunya untuk menjawab permasalahan tersebut. Bagaimana agar tidak terjadi disparitas antara desa dengan kota. Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa setiap desa akan mendapatkan kucuran dana sebesar 10% dari APBN. Undang-undang desa tersebut juga merupakan salah satu komitmen besar untuk mendorong perluasan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk menyejahterkan rakyat Indonesia diperlukan pembangunan sampai ke desa-desa. Jadi memang diharapkan tidak ada lagi desa yang akan tertinggal.  Undang-Undang desa dapat menjadi salah satu komitmen program yang berpihak pada rakyat sebagai wujud keberpihakan kepada kelompok masyarakat akar rumput yang dalam piramida kependudukan berada yang paling bawah.

Peluang regulasi ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi masyarakat desa, jangan sampai tidak terkelola dengan baik sehingga mengakibatkan peluang yang terkandung dalam regulasi tersebut tidak membawa manfaat bahkan malapetaka bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam urusan Desa.

Dana desa dan alokasinya mulai dikucurkan tahun 2015.
Pada tahapan awal, jumlah yang disalurkan sebesar Rp 20,77 triliun. Tahun 2016 alokasinya meningkat tajam, yaitu mencapai Rp 46,98 triliun. Tahun ini angkanya kembali naik hingga Rp 60 triliun. Tidak tertutup kemungkinan, pada 2018 alokasi dana desa ini akan ditingkatkan. Dengan total sebesar Rp 60 triliun pada tahun ini, setiap desa berhak mendapat jatah sebesar Rp 800 juta dalam setahun untuk membangun desa, meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya, dan menanggulangi kemiskinan. Tujuannya, tidak ada lagi wilayah di Indonesia yang menyandang predikat daerah tertinggal atau daerah sangat tertinggal. Namun, sayangnya, jumlah daerah tertinggal atau daerah sangat tertinggal tidak juga menurun.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, tingkat ketertinggalan daerah selain di Jawa dan Bali masih di atas 50 persen dari jumlah desa yang ada di pulau tersebut. Papua (97 persen), Maluku (85 persen), dan Kalimantan (84,8 persen) memegang peringkat tertinggi untuk jumlah desa yang masih tertinggal (kompas,22/9/17).

Komitmen pemerintah pusat harus sejalan dengan komitmen pemerintah desa, tentunya dengan adanya dukungan para pihak yang memiliki kepentingan terhadap kemajuan masyarakat yang ada di desa, apakah itu akademisi, aktifis desa, pendamping desa dari Kementerian Desa dan PDTT, tokoh masyarakat, perusahaan dengan CSR (Corporate Social Responsibility)nya atau juga NGO/LSM. Saya yakin, bahwa para pihak memiliki niat mulia dalam bagaimana desa bisa mandiri. Bahwa desa bisa membawa kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya, maka perlu adanya road map yang jelas dan terukur untuk menwujudkan hal tersebut, tidak terjadi berjalan sendiri-sendiri prakarsa yang dimiliki oleh parapihak dan paramitra tersebut.

Road Map Desa yang SMART
Road map atau peta jalan adalah alat untuk mewujudkan cita-cita atas visi yang dibuat oleh desa dan harus dimiliki oleh desa secara sadar dan tanpa ada nuansa hanya sekedar dari formalitas untuk memenuhi kebutuhan administrasi desa dalam rangka untuk mencairkan dana desa ataupun alokasi dana desa. Peta jalan tersebut sebagai pijakan para pihak. Mau dibawa kemana desa tersebut, yang tentunya peta jalan itu suatu kebijakan yang berbasiskan atas kebutuhan masyarakat. Kebutuhan masyarakat yang terumuskan dalam peta jalan tersebut dapat diperoleh dengan berbagai metodologi, apakah dengan melakukan survei, Rembug warga, penilaian, PRA (Participatory Rural Appraissal).

Peta jalan desa SMART itu kepanjangan dari S nya adalah ‘specific.’ Artinya, sasaran atas desa harus jelas. Sulit mengambil langkah-langkah praktis bila tujuan pengembangan desa tidak jelas. Semisal suatu contoh ialah menumbuhkan kewirausahaan baru, Saran ini tidak spesifik, sehingga tidak akan tepat start yang akan kita lakukan. Yang spesifik itu seperti dengan menumbuhkan kewirausahaan baru dalam bidang kue kering berbahan singkong pada dusun A dengan 30 peserta masyarakat usia 15-30 tahun yang berpendidikan lulusan SMK. Dengan hal yang spesifik itu, tentunya akan lebih mempermudahkan dalam menentukan sasaran seperti apa yang kita inginkan sesuai dengan visi atas desa yang ada.

[Paragraf Sponsor] Batok kelapa dapat didaurulang menjadi komoditas kreatif. Seninya dapat dikembangkan menjadi daya tarik dan gaya hidup baru. Senyampang produk ini dihargai, nilai ekonominya mampu menjangkau komoditas desa lebih kompetitif di pasaran. Tantangannya adalah, seberapa produk ini dapat menjadi gaya hidup bagi para penikmat kreatif dan masyarakat umum dengan gaya hidup baru di hamparan gaya hidup kaum desa yang mengota. Produk ini dinamai SELEMPANG SWEET AND GIRL, atau boso jowone tas teko batok. Informasi selengkapnya silahkan klik di anekadodolan.com atau hubungi nomer berikut +62 813-5916-8875. Jika ada yang berminat memasang produknya di kampusdesa, silahkan hubungi admin. Untuk sementara bisa lihat produk kampusdesa [Paragraf Bersponsor].

M adalah singkatan dari measurable. Artinya, sasaran pembangunan desa harus terukur. Ada yang membuat ukuran berupa waktu, kualitas, uang, dan ukuran lainnya sesuai dengan kebutuhan. Mengambil contoh sebelumnya,menumbuhkan kewirausahaan baru dalam bidang kue kering berbahan singkong pada dusun A dengan 30 peserta masyarakat usia 15-30 tahun yang berpendidikan lulusan SMK dengan laba bersih Rp 200ribu perbulan

A adalah singkatan dari agresif. Artinya, tujuan Anda cukup menantang dan ada perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, menumbuhkan kewirausahaan baru dalam bidang kue kering berbahan singkong pada dusun A dengan 30 peserta masyarakat usia 15-30 tahun yang berpendidikan lulusan SMK pada kurun waktu enam bulan, selama sebulan ada 8 orang yang bisa berwirausaha, ataukah tidak mungkin menumbuhkan wirausaha dengan laba bersih Rp 200 ribu semisal.

R adalah singkatan dari realistis. Artinya, desa memiliki sumberdaya ataukah tidak untuk dalam waktu sebulan menumbuhkan 8 orang wirausaha. Apabila tidak dimungkinkan, maka sasaran tersebut perlu untuk di evaluasi kembali.

T adalah singkatan dari time-bound. Artinya, tujuan Anda akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, menumbuhkan kewirausahaan baru dalam bidang kue kering berbahan singkong pada dusun A dengan 30 peserta masyarakat usia 15-30 tahun yang berpendidikan lulusan SMK dengan laba bersih Rp 200ribu perbulan dalam jangka waktu delapan bulan.

Peta jalan yang termaktub dalam RPJMDes dan dijabarkan dalam Rentetan dan Renja perlu untuk dirasionalisasi secara komprehensif sehingga menghasilkan peta jalan yang benar-benar aplikatif

Ide Kreatif Mengemas Potensi untuk
Salah satu Kepala Desa Sendang di Kabupaten Kediri yang juga sahabat penulis saat berjumpa, mengungkapkan bahwa desanya tidak ada sumber daya alam yang bisa dibuat untuk tujuan wisata,dengan harapan ketika ada potensi wisata maka akan banyak dikunjungi wisatawan dan selanjutnya efek domino akan terjadi pada desanya. “Atas usul dari pemuda desa yang tergabung dalam karangtaruna, Pemerintah Desa akan membuat night market (pasar malam).

Night market ini sebagai wadah bagi karya entrepreneur masyarakat desa dan tetangga desa untuk memasarkan produknya. Akan ada beberapa kegiatan untuk mendukung kegiatan tersebut, yang akan kami publikasikan kesegenap penjuru Jawa Timur. Akses pengunjung juga akan kami koordinasikan dengan pemerintah kabupaten Kediri agar kegiatan ini memperoleh sinergi dengan institusi lain.” Agar pengunjung tidak bosan dan tertarik hadir karena ada nuansa yang lain. Nuansa lain itu akan diisi dengan hal-hal yang telah dibuat bersama dengan pemuda desa. Salah satunya gagasan tersebut diperoleh saat melakukan kunjungan perangkat dan pemuda desa. Rupa ide atau model bisnis telah juga sedang disusun agar kami mengetahui detailnya bagaimana seandainya konsep ini kami implementasikan ungkap Bapak Kepala Desa Sendang, Muntaha Kamal, nama beliau.

Sekelumit cerita tersebut, saya ungkapkan sebagai contoh bahwa ada banyak peluang dan potensi yang bisa dibuat agar ada pergerakan ekonomi dalam kawasan desa tersebut. Pada dasarnya dana desa dan alokasi dana desa adalah sebagai instrumen untuk mengerakan agar perekonomian desa semakin menggeliat maju dan berkembang. Maka kepala desa yang bertemu dengan penulis membuat prespektif agar bagaimana ada pergerakan ekonomi di desanya. Maka menginventarisasi potensi dilakukan secara partisipatif bersama masyarakat desa, sehingga diharapkan akan mendapatkan dukungan yang masif juga.

Kepala desa Sendang Kabupaten Kediri ini sadar, bahwa di desanya tidak ada potensi alam selayaknya desa Pujon kidul dengan view pegunungan Dorowati yang dipoles sebagai tempat untuk menikmati pemandangan alam dengan konsep cafe sawah tersebut. Ketika sumberdaya alam tidak dimiliki, maka potensi sumberdaya manusia yang dipoles untuk membuat event yang mampu menggerakkan kunjungan wisata dan pada akhirnya mampu mendongkrak perekonomian masyarakat.

Maka, banyak hal gagasan kreatif yang bisa muncul dari basis potensi desa, kejelian dalam menangkap peluang yang bisa diperbuat oleh masyarakat desa, perlu ada gagasan kreatif yang perlu diolah, dikemas dan di marketing kan secara baik. Dengan demikian perlu ada kebijakan dari desa yang pro atas bagaimana agar desa mengeliat dalam menggerakkan perekonomiannya.

Ide kreatif bisa muncul sebagai refleksi atas apa yang ada, sehingga perlu sekiranya stakeholder untuk terus menerus mencari referensi unik dalam mengembangkan perekonomian desa.

Salam pecel

Mencintai Air (Tresno Banyu) Kampung Macari dalam Semangat 1 Muharram

0

KampusDesa [Batu]. Kemarin (20/09/2017), Dusun Macari membuat gebrakan baru dalam menyambut datangnya pergantian tahun baru Hijriyah. MI Darul Ulum bersama masyarakat sekitar dusun Macari selaku penyelenggara membuat sebuah acara yang jarang diadakan oleh masyarakat lainnya. Mereka mengambil kata ‘Tresno Banyu’ sebagai tema besarnya.

Sebelumnya, kata  Tresno Banyu bagj masyarakat yang tinggal dan lahir di Jawa tentu mudah mengartikannya. Namun bagi yang luar Jawa, atau tak pernah mengenyam Bahasa Jawa tentu asing baginya. Pendek kata, Tresno Banyu dari segi Bahasa Indonesia berarti ‘Cinta Air’.

Dalam hal ini, pengambilan kata tersebut bukan tanpa maksud. Diketahui bahwa sejak era lampau dahulu dusun Macari memiliki sebuah danau kecil, yang kemudian masyarakat setempat menyebutnya ‘Blumbang Macari’, blumbang jni dialiri oleh sumber mata air, dan terletak di tengah pemukiman hidup masyarakat setempat.

Konon dahulu, anak kecil era 90.an pasti area mainnya ke blumbang Macari, dan sudah terkenal di kalangan masyarakat Kota Batu. Bahkan tak jarang jika perluasan jaringan pertemenan anak dahulu bermuara dari pertemuannya di blumbang Macari.

Selain itu, dengan seringnya anak kecil berkunjung ke blumbang Macari, dapat mendukung percepatan anak untuk sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Sebab, di blumbang ini, melalui keanekaragaman hayati yang ada dapat bernilai edukasi lingkungan hidup yang sangat tinggi.

Sementara itu, melihat perkembangan zaman saat ini, khususnya di Kota Batu yang sudah mulai rimbun dengan bangunan-bangunan, apalagi didukung dengan mudahnya pemangku kebijakan memberikan izin terhadap aliansi atau group investor wisata, seperti contoh Penting Oleh Duek Group, Jawa Setengah Timur Group, dan group-group lainnya yang sebenarnya sudah banyak memiliki wisata tapi masih belum merasa puas juga. Hanya contoh loh ya, hehe…

Bagi masyarakat pribumi pasti tahu, hal demikian menjadikan blumbang Macari sudah mulai tersisihkan kepopulerannya. Anak kecil sudah jarang yang mengenal apa dan dimana itu blumbang Macari, bagaimana proses kealamiannya dapat bermanfaat bagi rantai makanan yang hidup disekitarnya. Bukan hanya blumbang Macari sebenarnya, kawasan lain yang memiliki potensi alam dan memiliki banyak nilai edukasi, juga hampir bernasib sama dengan blumbang Macari.

Contoh kawasan Griya Wisata Herbal, sebuah tempat yang keseluruhan sajianya memanfaatkan potensi alam daun-daunan herbal, konsep nuansa tradisional, dan tempat yang amat ramah lingkungan. Tempat yang beberapa kali mendapatkan penghargaan ini bagi beberapa masyarakat luar sudah ternama, namun bagi warga sekitar sendiri belum banyak yang tau jika di Batu ternyata memiliki sebuah tempat yang penuh akan nilai edukasinya.

Barangkali karena sebab itu, masyarakat Macari mengambil kata ‘Tresno Banyu’ sebagai wujud kegelisahannya melihat situasi yang terdapat di Kota Batu saat ini. Bahwa kecintaannya terhadap lingkungan hidup kian tak mendapatkan perhatian.

Contoh kecil dahulu di Batu memiliki ratusan sumber mata air, kini hanya tinggal puluhan mata air, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi satuan mata air jika kesadaran seluruh elemen masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan hidup tak kunjung mereda.

Untuk menjadi jawaban atas kegelisahan itu, jika menengok konten acara yang diadakan dalam kegiatan menyambut datangnya bulan Muharram 1439 H, konten acara yang dirancang menampakkan bahwa masih ada kesempatan untuk berjuang menyelamatkan kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati yang dimiliki.

Konten acara terdapat diantaranya; sebar benih ikan wader ke beberapa titik aliran sungai di Kota Batu, tari tradisi jawa, ritual ujub selamatan banyu, tari Samanan, sarasehan lingkungan hidup oleh beberapa kelompok masyarakat dan aktivis pegiat lingkungan, pertunjukan seni hadrah ISHARI dan ngaji lingkungan.

Tebar Ikan Wader | Edukasi pada anak-anak sekolah

Hal menarik dari acara yang dihelat dari pagi hingga malam ini adalah komitmennya dalam berjuang soal lingkungan hidup. Apalagi dengan dilibatkannya murid-murid dari perwakilan madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar negeri, menjadi simbol bahwa anak-anak kecil era sekarang perlu dikenalkan secara langsung terhadap lingkungan hidup yang ada disekitarnya.

Sempat pula disampaikan dalam forum sarasehan lingkungan hidup, bahwa hari ini pelajaran lingkungan hidup (PLH) yang terdapat di madrasah, kurikulum materinya tidak sesuai sama sekali dengan kondisi real yang terdapat di lapangan. Miris bukan? Sudah lahan kelestarian alam semakin sempit akibat bangunan-bangunan wisata dan ‘tetek bengeknya, malah edukasi formal yang didapatkan tidak sesuai dengan lingkungan yang ada.

Pada akhirnya, penting kiranya acara-acara seperti ini diadakan berkelanjutan, terlebih jika setiap kampung yang memiliki potensi alam. Sebab, melalui perjuangan yang seperti ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap pola maindset yang berkembang di masyarakat, agar lebih mencintai dan menjaga alam yang notebene tercipta dari tanah dan air.

Sebagai tambahan informasi, agenda ‘Tresno Banyu’ kali ini dihadiri berbagai elemen kelompok masyarakat yang turut berperanserta mensukseskan acara. Diantaranya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) se-Kota Batu, Karang Taruna se-Kota Batu, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Batu, Batu Creative Hub, Pusaka Foundation dan berbagai kelompok masyarakat lainnya

Dokter Rakyat: Betulkah Selfie Termasuk Gangguan Mental Narsisisme

0

DokterRakyat [KampusDesa]

Tragedi selfie selalu saja memakan korban.
Ini mengingatkan kita akan bahaya narsisisme. Waspadalah!

Hobi berfoto selfie seringkali dikaitkan masyarakat awam dengan narsisisme. Padahal, terminologi “narsis” dalam pandangan umum amat jauh berbeda dengan perspektif kedokteran. Referensi medis cenderung menghubungkan narsisisme dengan gangguan kepribadian narsisistik (GKN).

Menurut DSM-IV, GKN adalah gangguan personaliti dengan perasaan kebesaran/kebanggaan pada diri sendiri (yang berlebihan) dan merasa dirinya sangat hebat/superior. Singkatnya, GKN bercirikan: perilaku bangga/takjub pada diri-sendiri, egosentris, agresi, dan kurang empati.

Penyebab

Tumpang-tindih antara GKN, psikopati, dan gangguan kepribadian antisosial menyebabkan berkembangnya riset psikofisiologis yang memunculkan beragam teori/mekanisme penyebab.Teori psikodinamika menyarankan bahwa periode konstruksi-rekonstruksi ego penting untuk memelajari perkembangan GKN.

Literatur lain menyebutkan; ada interaksi antara harga diri dan GKN karena teori-teori klinis dan riset empiris telah membuktikan ada berbagai jenis penderita GKN yang berbeda tingkat harga dirinya. Penderita GKN tipe covert/vulnerable; memiliki harga diri rendah, dimana di dalam kehidupan sosial, ia cenderung malu dan introvert. Sebaliknya, ada penderita GKN tipe overt/grandiose; memiliki harga diri tinggi, dimana ia ekstravert dan memiliki orientasi interpersonal yang dominan.

Terganggunya empati juga berperan dalam mekanisme GKN. Dari perspektif psikobiologis, empati adalah proses kompleks, meliputi: faktor lingkungan, biologis, persarafan. Semua ini mengaktivasi otak bagian korteks temporal superior.

Pola pengasuhan yang salah, dimana orangtua selalu memanjakan atau terlalu banyak mengkritik anak, juga berpotensi memunculkan GKN saat ia tumbuh dewasa.

Beragam teori tentang GKN terus bermunculan, namun penyebab pasti belum diketahui.

Klasifikasi

Gradasi narsisisme ada beberapa tingkat. Narsisisme normal/sehat, masih peduli dan menerima kekuatan-kelemahan diri/seseorang, bisa merasakan kepuasan saat bekerja, berekspresi kreatif, tanpa muncul kecemasan dan konflik, alias hidup di dalam harmoni dan keselarasan nilai-nilai moral. Hal ini dapat diketahui dari kuesioner Narcissistic Personality Inventory (NPI), yang terdiri dari 16-40 pertanyaan.

Narsisisme di tingkat neurotik; bercirikan individu ini menunjukkan kebutuhan yang berlebihan untuk dipuji orang lain, sangat (mudah merasa) cemburu, kurang berempati kepada orang lain, cenderung menyalahgunakan kebaikan orang lain demi kepentingan pribadinya. Individu di tingkat ini menunjukkan adaptasi yang baik meskipun superfisial, sedangkan pengalaman subjektifnya berkisar dari menipis (deplesi) hingga meninggi (riang-gembira). Ia sulit menjalin relasi interpersonal yang akrab dalam jangka waktu lama, sulit merasa puas atas prestasi yang telah dicapainya, disebabkan karena tidak adanya apresiasi (terutama berupa pujian) dari orang lain.

[Paragraf Bersponsor] Beli salah satu buku si DokterRakyat berjudul “The Art of Medicine, Seni mendeteksi, dan menyembuhkan 88 penyakit dan gangguan kesehatan. Pendamping setia sebelum ke dokter.” Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama Jakarta Tahun 2016. Cukup baru. Buku ini seolah mencegah anda untuk tidak ke dokter. Cukup membacanya maka anda barangkali akan menunda pergi ke dokter karena mendapat panduan dari buku ini. Tetapi tetap jika ada keluhan yang tidak bisa ditangani sendiri, pergi ke dokter adalah sebuah keharusan. Tetapi kemampuan merawat kesehatan juga penting sehingga memiliki buku ini juga sama pentingnya dengan anda memiliki dokter rumah 24 jam. Buku ini dapat dibeli melalui online dengan mengunjungi link berikut >> getscoop, amazon, gramedia [Paragraf Bersponsor]

Narsisisme di tingkat ambang-batas (borderline); misalnya individu dengan GKN, bercirikan: kurang dapat menoleransi kecemasan, kurangnya pengendalian gerak hati, kegagalan di dalam mempertahankan kemesraan di dalam hubungan cintakasih, hampir selalu gagal menunjukkan prestasi yang baik di setiap bekerja. Hal ini dikarenakan adanya konsep diri ideal-diri lemah yang terpecah.

Solusi
Untuk mengatasi GKN dikembangkan model psikoterapeutik integratif, yang secara sistematis memadukan elemen-elemen gestalt, relasi objek, psikoterapi psikodinamik, perilaku kognitif, terapi berfokus emosi menjadi model konseptual yang komprehensif. Pendekatan ini disebut terapi skema, dikembangkan oleh Jeffrey Young dkk. Terapi skema telah diadopsi oleh lebih dari 40 negara di dunia.

Pendekatan lain yang dipakai untuk mengatasi GKN adalah terapi perilaku dialektik. Rumitnya terapi GKN ini salah satunya disebabkan karena GKN tumpang-tindih dengan gangguan kepribadian borderline.

Hingga kini memang belum ada cara efektif untuk mencegah GKN, mengingat GKN belum diketahui pasti penyebabnya dan sering tumpang-tindih dengan gangguan lainnya. Meskipun demikian, bahaya GKN perlu diwaspadai sejak dini dan ditanggulangi dengan komunikasi dari hati ke hati.

dr. Dito Anurogo, dokter digital/online di detik.com, penulis lebih dari 18 buku dan lebih dari 333 karya tulis terpublikasi, CEO/Founder Indonesia Literacy Fellowship dan Srikandi Forum Indonesia, S-2 IKD Biomedis FK UGM Yogyakarta. Email: dito.anurogo@mail.ugm.ac.id

CARA KONSULTASI : ANDA BISA KONSULTASI DENGAN MENGIRIM PERTANYAAN SEPUTAR KESEHATAN KE WA 081335729355 DENGAN CARA : KETIK DOKTERRAKYAT | TULISKAN PERTANYAAN SECARA JELAS. DIAKHIR KALIMAT TUTUP DENGAN FORMAT [KAMPUSDESA.OR.ID]

Regulasi Emosi Korban Perselingkuhan

0

“Membersamai orang yang kita sayang dan percayai adalah sebuah keinginan semua orang. Berakhir bahagia dan selalu ada adalah yang diinginkan setiap manusia. Tapi apa daya jika ada hati yang coba bermain dibelakang sebuah janji yang dibangun bersama? Ibarat nasi jadi bubur diaduk aduk dan dikasih kotoran manusia.”

Belakangan ini beredar banyak kisah yang saya pikir amat memilukan dan merugikan perempuan. Saya tahu tidak semua perempuan setia, ada beberapa diantara mereka yang juga pernah nakal dan berselingkuh. Tapi disini fenomena yang saya sorot adalah mengenai kasus perselingkuhan menggunakan kedok poligami.

Sungguh miris apa yang terjadi. Perselingkuhan yang mengatasnamakan nama Tuhan bahkan agama hanya untuk kepentingan nafsu belaka. No deffense, saya tahu poligami memang tidak dilarang agama, Rasul pun melakukannya, namun semakin kesini banyak kasus poligami yang jelas menyakiti istri. Mengatasnamakan agama, tidak memahami esensi yang seharusnya dipahami sebelum melakukannya.

Miris.

Saya tahu tidak semua laki laki menjadikan piligami sebagai kedok perselingkuhan, banyak yang mampu bersikap adil.

Tapi, akhir akhir ini cerita yang saya terima adalah kebalikannya. Tentang kisah tragis istri yang merasa bahwa poligami adalah kedok untuk perselingkuhan yang dilakukan suami yang amat dicintainya. Bukan agama yang salah, agama sudah benar dan jelas mengaturnya, manusia nya saja yang tak faham dan fasik terhadap yang diajarkan.

Kadang manusia sering sok tau .dan membenarkan semuanya untuk kepentingan pribadinya.

Ibarat nasi sudah jadi bubur, istri tiba tiba tahu bahwa suaminya punya istri lain yang sudah dinikahini. Tanpa meminta izin dan persetujuan. Apalagi suami telah menjalin hubungan dengan wanita itu dan menikahinya tanpa memberitahu istri yang lebih dulu ada.

Tega.

Sungguh dibohongi itu rasanya sakit luar biasa.

Perih rasanya saya mendengar kisah perempuan yang kuasa melihat suaminya main api dengan perempuan lain. Atas nama cinta meteka merelakan apa apa yang seharusnya bisa lebih baik. Saya akui perempuan memang lemah jika sudah jatuh cinta.

Jika disakiti, yang bisa.dilakukan hanya menangis dan meronta. Menuju proses pasrah dan ikhlas adalah perihal yang jelas sulit dilakukan. Bukan tidak mungkin, tapi memang susah dilakukan.

Bukan yang diselingkuhi yang salah saya kira. Yang jelas salah adalah pelaku selingkuh yang jelas tak punya hati dan tak bermoral. Menjaga istri adalah sebuah kehormatan luar biasa. Janji suci agama yang dipertanggungjawabkan di akhirat.

Untuk yang berniat main api dan selingkuhi istri. Coba dipikir lagi. Menyakiti istri dan anak perempuan ibarat membunuh generasi dan penzoliman sampai titik nadi.

DIAMBIL DAN DIPOSTING ULANG DARI FACEBOOK @DIANASAADAH TERTANGGAL, MALANG 12 SEPTEMBER 2017